5
Pendahuluan
Dalam proses penyusunan laporan keuangan praktik manajemen laba telah menjadi fenomena umun yang terjadi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Menurut Schipper (1989) manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan tujuan tertentu dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi perusahaan. Laba menjadi salah satu komponen utama laporan keuangan yang diperhatikan oleh para Stakeholder. Untuk pihak internal, laba dapat dijadikan gambaran kinerja perusahaan yang akan menjadi dasar penentuan kebijakan yang akan dilakukan perusahaan untuk kedepannya.
Sedangkan untuk investor, laba menjadi dasar pertimbangan untuk menentukan keputusan berinvestasi. Selain itu laba juga menjadi acuan bagi pemerintah untuk menghitung besar pajak yang akan dikenakan pada perusahaan. Laba yang didapatkan oleh perusahaan tidak selalu sesuai dengan target yang ditetapkan oleh perusahaan, sehinga kinerja manajemen akan terlihat buruk dan mengakibatkan menurunnya modal yang didapatkan perusahaan melalui investasi para investor. Untuk menghindari hal tersebut, manajemen perusahaan akan melakukan manajemen laba agar manejemen terlihat memiliki kinerja yang baik dan meningkatkan minat para investor untuk berinvestasi dalam perusahaan.
Untuk mencegah terjadinya manajemen laba yang berlebihan, diperlukan penerapan good corporate governace (Agustia, 2013). Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (2001) Corporate Governance adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungaan antara pemegang saham, pengurus perusahaan, karyawan, pihak kreditur, pemerintah, serta para pengampu kepentingan internal maupun eksternal lainnya yang berkaitan dengan kewajiban dan hak mereka dalam sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan penerapan Coorporate Governance adalah untuk meningkatkan kemakmuran dan akuntabilitas perusahaan agar dapat mewujudkan shareholder value. Salah satu upaya penerapan good corporate
6 governace yang dilakukan perusahaan adalah dengan membentuk komite audit.
Menurut Alzoubi and Selamat (2012), kemampuan dewan komisaris dan komite audit sangat diperlukan oleh para pemegang saham untuk dapat memantau kinerja manajemen. Oleh sebab itu, kualitas pelaporan keuangan sangat dipengaruhi oleh efektivitas peran dewan dan komite auditnya (Prastiti and Meiranto, 2013)
Berbagai penelitian terkait dengan penerapan manajemen laba telah dilakukan tetapi terdapat perbedaan dalam hasil penelitiannya , pada penelitian Marsheila Giovani (2017) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial dan ukuran dewan komisaris, menunjukan dampak negatif terhadap manajemen laba. Profitabilitas dan Leverage mempunyai dampak positif signifikan terhadap manajemen laba.
Kepemilikan institusional, dan ukuran komite audit tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Pada penelitian Palestin (2004) mengukapkan bahwa struktur kepemilikan, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan penelitian Siregar (2014) menyatakan bahwa struktur kepemilikan manajerial maupun institusional tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk mengetahui apakah sturktur kepemilikan, komite audit, profitabilitas dan leverage memiliki pengaruh dalam tindakan penerapan manajemen laba. Dengan penelitian ini penulis berharap penelitian ini dapat membantu investor untuk melihat apakah dalam laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan perusahaan tersebut melakukan manajemen laba, sehingga investor dapat memilih perusahaan terbaik untuk berinvestasi.
Tinjauan Pustaka
Manajemen Laba
Menurut Schipper (1989) manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan tujuan tertentu dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi perusahaan. Manajemen
7 laba dapat dilakukan manajer dengan memilih kebijakan akuntansi yang dapat memaksimalkan utilitas atau/dan nilai pasar dari perusahaan (Scott ,1997).
Manajemen laba juga dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan perusahaan dan komite audit perusahaan, jika kepemilikan manajerial ataupun kepemilikan institusional perusahaan dimiliki oleh anggota keluarga ataupun kerabat, besar kemungkinan perusahaan akan melakukan manajemen laba, dan jika komite audit yang dibentuk oleh perusahaan menjalankan fungsinya dengan efektif, besar kemungkinan tindakan manajemen laba akan semakin kecil. Pada dasarnya ada berbagi cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk melakukan manajemen laba, seperti mempercepat pengakuan penjualan maupun penundaan pengakuan penjualan.
Struktur Kepemilikan
Struktur kepemilikan adalah porsi atau persentase dari saham perusahaan yang dimiliki oleh orang dalam perusahaan atau manajemen terhadap total saham yang dikeluarkanoleh perusahaan (Rozeff, 1992). Struktur kepemilikan merupakan bentuk komitmen dari pemegang saham untuk mendelegasikan pengendalian dengan tingkat tertentu kepada para manajer. Struktur kepemilikan terbagi dalam 2 kategori yaitu, kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional.
Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah pihak manajemen perusahaan memiliki sejumlah saham dalam perusahaan sehingga pihak manajemen ikut secara aktif dalam pengambilan keputusan perusahaan (Machmud & Djakman, 2008). Jika pihak manajemen mempunyai kepemilikan saham maka pihak manajemen akan memiliki kepentingan yang sama dengan pemilik atau pemegang saham (Ujiyantho and Agus Pramuka, 2007). Sehingga pihak manajemen perusahaan akan menerapkan tindakan yang dapat meminimallisirkan kerugian perusahaan sehingga mengakibatkan turunnya nilai saham perusahaan, tetapi pihak manajemen akan menerapkan kebijakan manajemen laba yang akan menguntungkan perusahaan guna meningkatkan nilai saham perusahaan.
8 H1 : Kepemilikan manejerial berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah suatu kondisi dimana suatu institusi memiliki saham dalam sebuah perusahaan. Intitusi tersebut merupakan intitusi pemerintah, institusi swasta domestik maupun asing (Widarjo & Hartoko, 2010).
Menurut Jasen & Meckling (1976) kepemilikan institusional berperan besar dalam upaya mengurangi konfik keagenan antara pemegang saham dan manajer. Jika pihak kepemilikan institusional melakukan perannya dengan baik maka pihak institusi mampu mengatur pihak manajemen perusahaan dengan melakukan proses monitoring secara efektif sehingga dapat mencegah diterapkannya kebijakan manajemen laba.
H2 : Kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba
Komite Audit
Perusahaan membentuk komite audit untuk melakukan tindakan ketaan terhadap Peraturan Bapepam-LK No IX.I.5 dan pembentukan komite audit dalam keputusan Direksi Bursa Efek Jakarta No Kep-305/BEJ/07-2004 dan keputusan Ketua Bapepam No Kep-29/PM/2004 No Kep-643/BL/2012 tetang komite audit.
Komite audit berkewajiban menerapkan Good Corporate Governance dan memastikan bahwa sistem monitoring perusahaan berjalan dengan baik sehingga perusahaan dapat menjaga kredibilitas dalam penyusunan laporan keuangan. Kontrol terhadap perusahaan akan berjalan dengan baik apabila fungsi komite audit berjalan dengan semestinya, sehingga keinginan manajemen untuk mementingkan kepentingannya sendiri mampu ditekan (Andri & Hanung, 2007). Jika anggota komite audit merupakan seorang komisaris independen yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan pemilik manajerial maupun institusional maka fungsi
9 komite audit akan berjalan dengan semestinya untuk meminimalkan tindakan manajemen laba perusahaan.
H3 : Komite Audit berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba
Profitabilitas
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (Warren, 1999). Profitabilitas dapat diproyeksikan dengan Return on Asset (ROA).
Menurut Prastowo & Julianty (2008), Return on Asset (ROA) adalah rumus yang digunakan untuk menghitung kemampuan asset perusahaan untuk menghasilkan laba.
Dalam rumus ini akan memunculkan rasio yang menggambarkan tingkat pengembalian investasi perusahaan dengan memaksimalkan asset yang dimiliki oleh perusahaan. ROA berfungsi untuk menentukan keefektifan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan melalui asset yang dimiliki perusahaan, sehingga ROA dapat menjadi indikator untuk mengetahui apakah perusahaan melakukan manajemen laba. Makin tinggi ROA yang dimiliki perusahaan maka semakin efisien pemakaian asset yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dikatakan kinerja manajemen perusahaan cukup baik pada tahun tersebut karena semakin besarnya laba yang dihasilkan perusahaan, sehingga besar kemungkinan perusahaan melakukan manajemen laba jika ROA semakin tinggi.
H4 : Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba
Leverage
Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk menghitung banyaknya hutang perusahaan dalam membiayai asset yang dimiliki perusahaan. Leverage dapat dihitung dengan membagi total hutang perusahaan dengan total asset perusahaan.
Semakin tinggi rasio laverage maka jumlah hutang yang digunakan perusahaan
10 semakin besar dan semakin tinggi juga kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar hutangnya dan terancam default. Untuk mencegah terjadinya default, perusahaan akan menerapkan kebijakan yang akan meningkatkan pendapatan dan laba, salah satu kebijakan tersebut adalah manajemen laba. Dengan demikian leverage menjadi salah satu indikator untuk mengetahui apakah perusahaan
melakukan manajemen laba.
H5 : Leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Teknik sampling yang diterapkan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, dan pada penilitian ini hanya terdapat 45 sampel dari laporan keuangan 15 perusahaan yang terdaftar di BEI yang menjadi sample dalam penelitian ini, dan di dalam proses pemilihan sampel terdapat beberapa syarat dalam pemelihan sample penelitian, yaitu:
1. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2021.
2. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuanganya dalam Rupiah.
3. Perusahaan menerbitkan laporan keuangannya tiap tahun (2019-2021).
4. Perusahaan yang memiliki data lengkap terkait Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Ukuran komite Audit, Profitabilitas, dan Leverage selama periode 2019-2021.
Data penelitian ini di dapatkan dari laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di www.idx.co.id
Variabel dalam penelitian ini meliputi 5 variabel bebas dan 1 variabel terikat.
Manajemen laba menjadi variable terikat dalam penelitian ini. Discretionary Accruals menjadi dasar manajamen laba dan Modification Jones Model digunakan untuk
11 mencari dasar tersebut. Discretionary Accruals merupakan bagian akrual dari hasil rekayasa manajer dalam menggunakan standar akuntansi yang berlaku.
Untuk mengukur besar discretionary accruals, dilakukan perhitungan total akrual untuk tiap perusahaan i di tahun t dengan menggunakan modification jones model, yaitu :
1. Menghitung total akrual
TAC = Net Income – Cash Flow From Operations
2. Menghitung nilai accruals yang diestimasikan dengan menggunakan persamaan regresi OLS (Ordinary Least Square)
𝑇𝐴𝐶𝑡
𝑇𝐴𝑡−1
= 𝛽
1(
1𝑇𝐴𝑡−1
) + 𝛽
2(
∆𝑅𝐸𝑉𝑡𝑇𝐴𝑡−1
) + 𝛽
3(
𝑃𝑃𝐸𝑡𝑇𝐴𝑡−1
)
Keterangan:
𝛽1𝛽2𝛽3 = koefisien regresi
∆𝑅𝐸𝑉𝑡 = perubahan pendapatan antara periode t-1 dan t 𝑃𝑃𝐸𝑡 = asset tetap perusahaan pada periode t
3. Menghitung nilai non discretionary accruals 𝑁𝐷𝐴𝑡 = ∝1 ( 1
𝑇𝐴−1) +
∝
2(
∆𝑅𝐸𝑉𝑡−∆𝑅𝐸𝐶𝑡𝑇𝐴𝑡−1
)
+∝
3(
𝑃𝑃𝐸𝑡𝑇𝐴𝑡−1
)
∆𝑅𝐸𝐶𝑡 = perubahan piutang periode t-1 dan t 4. Menghitung discretionary accruals
𝐷𝐴𝐶𝑡 = 𝑇𝐴𝐶𝑡
𝑇𝐴𝑡−1
-
𝑁𝐷𝐴𝑡Keterangan:
12 𝐷𝐴𝐶𝑡 = discretionary accruals perusahaan periode t
𝑇𝐴𝐶𝑡 = total discretionary accruals perusahaan periode t 𝑇𝐴𝑡−1 = total asset perusahaan akhir periode t-1
𝑁𝐷𝐴𝑡 = non discretionary accruals perusahaan periode t Model Penelitian
Model penelitian tentang pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Ukuran Komite Audit, Return of Asset (ROA), Leverage terhadap Manajemen Laba ini menggunakan analisis linear berganda dengan model regresi:
𝐷𝐴𝐶 =
𝛽
0- 𝛽
1 KM -𝛽
2 KI -𝛽
3 UK +𝛽
4 PR +𝛽
5 LEVKeterangan:
DAC = discretionary accruals periode t KM = Kepemilikan Manajerial
KI = Kepemilikan Institusional UK = Ukuran Komite Audit PR = Profitabilitas (ROA) LEV = Leverage
Hasil dan Pembahasan
Statistik Deskriptif
Penelitian ini menggunakan data analisis sebanyak 45. Berdasarkan hasil dari statistik deskriptif table 4.1 nilai mean dari manajemen laba yang dihitung melalui discretionary accruals (DAC) dimana rata-ratanya sebesar -0,1250, semakin
13 tingginya DAC maka mengindikasikan semakin tingginya dilakukannya manajemen laba. Nilai standar deviasi DAC sebesar 0,19271. Nilai rata-rata lebih kecil dari nilai standar deviasinya sehingga data cenderung heterogen. Kepemilikan manajerial diukur dengan tingkat kepemilikan saham yang dimiliki manajemen perusahaan.
Nilai rata-rata kepemilikan manajerial adalah 7,7129 , sedangkan nilai standar deviasinya 20,04186. Nilai rata-rata lebih rendah dari pada nilai standar deviasinya sehingga data cenderung heterogen. Kepemilikan Institusional diukur melalui kepemilikan saham yang dimiliki oleh suatu institusi. Nilai rata-rata kepemilikan institusional adalah 61,2493, sedangkan nilai standar deviasinya 23,15018. Nilai rata- rata lebih besar dari pada nilai standar deviasinya sehingga data cenderung homogen.
Komite Audit diukur melalui jumlah komite audit yang dimiliki oleh perusahaan.
Nilai rata-rata ukuran audit adalah 2,8667, sedangkan nilai standar deviasinya 0,81464. Nilai rata-rata lebih besar dari pada nilai standar deviasinya sehingga data cenderung homogen. Profitabilitas perusahaan diukur menggunakan Return on Asset (ROA). Nilai rata-rata profitabilitas adalah 0,0777 yang artinya setiap Rp1 aset yang dimiliki perusahaan dapat menghasilkan Rp 0,0777 laba, sedangkan nilai standar deviasinya 0,12528. Nilai rata-rata lebih kecil dari nilai standar deviasinya sehingga data cenderung heterogen. Leverage perusahaan duiker menggunakan Debt to Equity Ratio (DER). Nilai rata-rata Leverage adalah 0,5311 yang artinya setiap Rp1 liabilitas yang dimiliki perusahaan dapat membiayai Rp 0,5311 aset perusahaan, sedangkan nilai standar deviasinya 0,29216. Nilai rata-rata lebih besar dari pada nilai standar deviasinya sehingga data cenderung homogen.
14 Tabel 4.1 Statitik Deskriptif
Descriptive Statistics
N Mean
Std.
Deviation Minimum Maximum
DAC 45 -0,1250 0,19271 -0,69 0,45
KM 45 7,7129 20,04186 0,00 73,93
KI 45 61,2493 23,15018 0,00 92,07
UA 45 2,8667 0,81464 0,00 4,00
PROFIT 45 0,0777 0,12528 0,00 0,61
LEV 45 0,5311 0,29216 0,20 1,89
Sumber : data diolah, 2022
Hasil Uji Hipotesis
Pengujian Hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji regresi berganda untuk mengetahui pengaruh variabel independen yaitu Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Ukuran Komite Audit, Profitabilitas, dan Leverage terhadap variabel dependen yaitu Manajemen Laba. Hasil Uji regresi sebagai berikut :
Tabel 4.2 Tabel Uji Hipotesis
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -0,298 0,319 -0,935 0,356
KM 0,000 0,004 -0,028 -0,071 0,943
KI 0,000 0,002 -0,024 -0,096 0,924
UA 0,031 0,069 0,132 0,455 0,652
PROFIT 0,742 0,234 0,483 3,166 0,003
LEV 0,077 0,108 0,116 0,711 0,481
a. Dependent Variable: DAC
Sumber : data diolah, 2022
15 Pengaruh Kepemilikan Manajemen terhadap Manajemen Laba
Hasil Kepemilikan Manajemen yang dapat diproyeksikan dengan tingkat kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, sehingga H1 ditolak. Hal ini dikarenakan besar atau kecilnya saham yang dimiliki oleh direksi ataupun dewan komisaris tidak menghalangi diterapkannya pratik manajemen laba oleh perusahaan.
Dengan adanya saham yang dimiliki oleh pihak manajemen maka manajemen dapat menyelaraskan kepentingannya dengan pemilik saham lain sehingga pihak manajemen akan bertindak sebagai investor pada umumnya dan tidak akan melakukan kebijakan manajemen laba agar dapat mengetahui keadaan perusahaan yang sebenarnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Agustia (2013), Desri dan Muslih (2019) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajemen tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Laba
Hasil Kepemilikan Institusional yang dapat diproyeksikan dengan tingkat kepemilikan saham yang dimiliki oleh suatu pihak institusi tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, sehingga H2 ditolak. Hal ini dikarenakan besar atau kecilnya saham yang dimiliki oleh suatu institusi tidak menghalangi diterapkannya praktik manajemen laba oleh perusahaan. Hal ini biasa terjadi dikarenakan investor institusi tidak melakukan perannya sebagai sophisticated investors yang mampu melakukan pengawasan terhadap manajemen perusahaan dalam pembuatan kebijakan perusahaan terkait manajemen laba. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Welvin dan Arleen (2010), Agustia (2013) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
16 Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Laba
Hasil Komite Audit yang dapat diproyeksikan dengan jumlah komite audit yang dimiliki oleh perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, sehingga H3 ditolak. Hal ini disebabkan komite audit yang dibuat oleh perusahaan hanya sebatas pemenuhan regulasi yang diterapkan oleh pemerintah.
Komite Audit yang ditunjuk suatu perusahaan masih dapat dipengaruh dan tunduk terhadap terhadap dewan komisaris perusahaan. Sehingga komite audit tidak dapat mempengaruhi kebijakan manajemen laba yg diterapkan oleh perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Marshelia (2017) yang menyatakan bahwa komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Pengaruh Profitabilitas terhadap Manajemen Laba
Hasil Profitabilitas yang dapat diproyeksikan melalui Return on Asset (ROA) yang dimiliki oleh perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, sehingga H4 diterima. Perusahaan akan mempertahankan labanya pada level tertentu agar dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi pada perusahaannya. Sehingga perusahaan akan menerapkan kebijakan manajemen laba untuk menghindari fluktuatifnya laba perusahaannya sehingga kepercayaan investor meningkat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Amertha (2013), dan Marshelia (2017) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba
.
17 Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba
Hasil Leverage yang dapat diproyeksikan melalui Debt to Asset yang dimiliki oleh perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, sehingga H5 ditolak. Hal ini dikarenakan perusahaan yang memiliki nilai hutang yang tinggi akan mendorong manajemen perusahaan untuk meningkatkan kinerja keuangannya.
Semakin tinggi leverage perusahaan akan mendorong manajemen perusahaan untuk melakukan manajemen laba. Namun pihak kreditur yang memberikan pinjaman besar terhadap perusahaan akan terus melakukan pemantauan secara langsung atau tidak langsung kepada manajemen perusahaan tersebut, sehingga manajemen perusahaan tidak dapat melakukan kebijakan manajemen laba. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Eva dan Maria (2021) yang menyatakan bahwa Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Simpulan
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen yaitu manajemen laba di perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2021. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Kepemilikan Manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
2. Kepemilikan Institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
3. Komite Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
4. Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
5. Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
18 Berdasarkan pada pengalaman peneliti dalam proses penelitian ini, ada keterbatasan yang dialami dan dapat menjadi beberapa faktor kedepannya yang bisa diperhatikan oleh peneliti-peneliti yang akan melakukan penelitian kedepannya, dimana dalam penelitian ini hanya terdapat 45 sampel dari laporan keuangan 15 perusahaan yang terdaftar di BEI yang menjadi sample dalam penelitian ini dikarenakan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti, sehingga penelitian ini tidak dapat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Untuk penelitian kedepannya sebaiknya untuk memfokuskan penelitian manajemen laba kepada perusahaan pada bidang usaha yang sama dan menabah jumlah dari sample penelitian sehingga data yang dapat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dan data yang didapatkan akan lebih terdistibusi secara normal. Untuk perusahaan, dalam penyusunan laporan keuangan sebaiknya sesuai dengan keadaan perusahaan yang sebenarnya tanpa menerapkan kebijakan yang akan mempengaruhi nilai dari laba perusahaan. Berdasarkan penelitian ini sebaiknya investor yang ingin memilih berinvestasi pada perusahaan melihat melalui asset yang dimiliki oleh perusahaan, karena berdasarkan penelitian ini profitabilitas yang diukur melalui Return on Asset berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.