• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

8 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Kualitas Produk

2.1.1.1 Pengertian Kualitas Produk

Kualitas yang baik dari suatu produk akan menghasilkan kepuasan pelanggan. Suatu produk dapat dikatakan berkualitas apabila produk tersebut dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan sesuai dengan yang diharapkan atau melebihi apa yang diinginkan pelanggan.

Menurut Tjiptono (2012:47), kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan. Kualitas suatu produk baik berupa barang atau jasa ditentukan melalui dimensi-dimensinya. Kualitas produk adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat (Kotler dan Keller, 2009: 143).

Kotler dan Armstrong (2012: 347) menyatakan kualitas produk adalah kemapuan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsi, kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki, dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan.

(2)

Menurut Assauri dalam Arumsari (2012:45), kualitas produk merupakan faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang atau hasil itu dimaksudkan. Sedangkan menurut Handoko dalam Prajati (2013:16), kualitas produk adalah suatu kondisi dari sebuah barang berdasarkan pada penilaian atas kesesuainnya dengan standar ukur yang telah ditetapkan. Semakin sesuai standar yang ditetapkan maka akan dinilai produk tersebut semakin berkualitas.

Berdasarkan levelnya, menurut Kotler dan Keller (2012: 326) produk dapat dibagi menjadi lima tingkatan, yaitu :

1. Produk inti yang menawarkan manfaat dan kegunaan utama yang dibutuhkan pelanggan

2. Produk dasar mencerminkan fungsi dasar dari suatu produk

3. Produk yang diharapkan merupakan sekumpulan atribut dan kondisi yang diharapkan pada saat pelanggan membeli

4. Produk yang di tingkatkan memberikan jasa dan manfaat tambahan sehingga membedakan penawaran perusahaan

5. Produk potensial yaitu segala tambahan dan transformasi pada produk yang mungkin akan dilakukan di masa yang akan datang.

Dari beberapa definisi diatas maka dapat dikatakan kualitas produk merupakan kemampuan suatu produk dalam memenuhi keinginan pelanggan. Keiginan pelanggan

(3)

tersebut diantaranya keawetan produk, keandalan produk, kemudahan pemakaian serta atribut bernilai lainnya yang bebas dari kekurangan dan kerusakan.

2.1.1.2 Perspektif terhadap Kualitas Produk

Menurut Garvin yang dikutip dalam Tjiptono (2011: 193), perspektif kualitas dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok sebagai berikut:

1. Transcendental approach

Kualitas dalam pendekatan ini dapat dirasakan atau diketahui tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalkan

2. Product-based approach

Pendekatan ini menganggap bahwa kualitas sebagai karakterisktik atau atribut yang dapat di kuantifikasikan dan dapat diukur

3. User-based approach

Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya, dan produk yang paling memuaskan referensi seseorang. Kepuasan seseorang tentu akan berbeda-beda pula, begitu juga dengan pandangan seseorag terhadap kualitas suatu produk pasti akan berbeda-beda pula pandangannya. Suatu produk yang dapat memenuhi keinginan dan kepuasan seseorang, belum tentu dapat memenuhi kepuasan orang lain

(4)

4. Manufacturing-based approach

Perspektif ini bersifat supply-based dan terutama memperhatikan praktik-praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai sama dengan persyaratannya. Jadi yang menentukan kualitas adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan, bukan konsumen yang menggunakannya

5. Value-based approach

Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga dengan mempertimbangkan trade-off antara kinerja dan harga. Kualitas dalam perspektif ini bernilai relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah produk atau jasa yang paling tepat dibeli.

2.1.1.3 Strategi Meningkatkan Kualitas Produk

Meningkatkan kualitas produk tidaklah semudah membalikkan telapak tangan atau menekan saklar lampu. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Upaya tersebut juga berdampak luas, yaitu terhadap budaya organisasi secara keseluruhan. Menurut Tjiptono (2012: 88) ada berbagai macam strategi yang dapat membantu meningakatkan kualitas produk, yaitu mengidentifikasi determinan utama kualitas produk, mengelola harapan pelanggan, mengelola bukti (evidence) kualitas produk, mendidik konsumen tentang produk, mengembangkan budaya kualitas, menciptakan

(5)

automating quality, menindaklanjuti produk, dan mengembangkan sistem informasi kualitas produk.

a. Mengidentifikasi Determinan Utama Kualitas Produk

Setiap perusahaan perlu berupaya memberikan kualitas yang terbaik kepada pelanggannya. Untuk itu dibutuhkan identifikasi determinan utama kualitas produk dari sudut pandang pelanggan. Oleh karena itu langkah pertama yang dilakukan adalah metakukan riset untuk mengideatifikasi determinan produk yang paling penting bagi pasar sasaran. Langkah berikutnya adalah memperkirakan penilaian yang diberikan pasar sasaran terhadap perusahaan dan pesaing berdasarkan determinan-determinan tersebut. Dengan demikian dapat diketahui posisi relatif perusahaan di mata pelanggan dibandingkan para pesaing sehingga perusahaan dapat memfokuskan upaya peningkatan kualitasnya pada determinan-determinan tersebut. Namun perusahaan perlu memantau setiap determinan sepanjang waktu, karena sangat mungkin prioritas pasar mengalami perubahan.

b. Mengelola Harapan Pelanggan

Tidak jarang suatu perusahaan berusaha melebih-lebihkan pesan komunikasinya kepada pelanggan dengan maksud agar mereka terpikat. Hal seperti itu dapat menjadi 'bumerang' bagi perusahaan. Semakin banyak janji yang diberikan, maka semakin besar pula harapan pelanggan (bahkan bisa menjurus menjadi tidak realistis) yang pada gilirannya akan menambah

(6)

peluang tidak dapat terpenuhinya harapan pelanggan oleh perusahaan. Untuk itu ada satu hal yang dapat dijadikan pedoman, yaitu "Jangan janjikan apa yang tidak bisa diberikan, tetapi berikan lebih dari yang dijanjikan".

c. Mengelola Bukti (Evidence) Kualitas Produk

Pengelolaan bukti kualitas produk bertujuan untuk memperkuat persepsi pelanggan selama dan sesudah produk diberikan. Oleh karena produk merupakan kinerja dan dapat dirasakan, maka pelanggan cenderung memperhatikan fakta-fakta tangibles yang berkaitan dengan produk sebagai bukti kualitas. Dari sudut pandang perusahaan, bukti kualitas meliputi segala sesuatu yang dipandang konsumen sebagai indikator “seperti apa produk yang akan diberikan” (preservice expectation) dan “seperti apa produk yang telah diterima” (post-service evaluation). Bukti-bukti kualitas produk bisa seperti testimonial produk ataupun logo perusahaan.

d. Mendidik Konsumen Tentang Produk

Membantu pelanggan dalam memahami suatu produk merupakan upaya yang sangat positif dalam rangka menyampaikan kualitas produk. Pelanggan yang lebih “terdidik” akan dapat mengambil keputusan secara lebih baik. Oleh karenanya kepuasan mereka dapat tercipta lebih tinggi.

e. Mengembangkan Budaya Kualitas

Budaya kualitas merupakan sistem nilai organisasi yang menghasilkan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan penyempurnaan kualitas

(7)

secara, terus-menerus. Budaya kualitas terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur dan harapan yang meningkatkan kualitas. Agar dapat tercipta budaya kualitas yang baik, dibutuhkan komitmen menyeluruh pada seluruh anggota organisasi.

f. Menindaklanjuti Produk

Hal ini dapat membantu memisahkan aspek-aspek jasa yang perlu ditingkatkan oleh perusahaan, guna meningkatkan kepuasan pelanggan. g. Mengembangkan Sistem Informasi Kualitas Produk

Merupakan suatu sistem yang menggunakan berbagai macam pendekatan riset secara sistematis untuk menyebarluaskan serta mengumpulkan informasi mengenai kualitas produk guna mendukung pengambilan keputusan.

2.1.1.4 Dimensi Kualitas Produk

Kualitas produk memiliki dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik dari suatu produk. Menurut Garvin dalam Tjiptono dan Diana (2016:134) kualitas produk memiliki delapan dimensi sebagai berikut:

1. Performance (kinerja)

Merupakan karakteristik operasi dan produk inti (core product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan dan kenyamanan dalam penggunaan.

(8)

2. Durability (daya tahan)

Daya tahan menunjukan usia produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk sebelum produk itu digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu semakin awet, produk yang awet akan dipersepsikan lebih berkualitas dibanding produk yang cepat habis atau cepat diganti.

3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi)

Kesesuaian yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya pengawasan kualitas dan desain, standar karakteristik operasional adalah kesesuaian kinerja produk dengan standar yang dinyatakan suatu produk. Ini semacam “janji” yang harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan standarnya.

4. Features (fitur)

Merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau option bagi konsumen. Fitur bisa meningkatkan kualitas produk jika kompetitor tidak memiliki fitur tersebut.

5. Reliability (relibilitas)

Kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal pakai. Misalnya pengawasan kualitas dan desain, standar karakteristik operasional kesesuaian dengan spesifikasi.

(9)

6. Aesthetics (estetika)

Daya tarik produk terhadap panca indera, misalkan bentuk fisik, model atau desain yang artistik, warna dan sebagainya.

7. Perceived quality (kesan kualitas)

Persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya.

8. Serviceability

Kualitas produk ditentukan atas dasar kemampuan diperbaiki: mudah, cepat, dan kompeten. Produk yang mampu diperbaiki tentu kualitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang tidak atau sulit diperbaiki.

2.1.2 Just in Time

2.1.2.1 Pengertian Just in Time

Just in Time adalah filosofi bisnis yang khusus membahas bagaimana mengurangi waktu produksi sekaligus mengurangi kegagalan produksi baik dalam proses manufaktur maupun proses non-manufaktur (Witjaksono, 2013: 221). JIT merupakan manufacturing philosophy yang mulai diterapkan di Jepang pada tahun tujuh puluhan dan mulai diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Amerika sejak dua

(10)

puluh tahun kemudian. Dengan filosofi ini perusahaan hanya memproduksi atas dasar pemintaan, tanpa memanfaatkan tersedianya persediaan tanpa menggunakan biaya persediaan, sehingga produksi tidak akan terjadi sebelum ada proses permintaan produksi (Mulyadi, 2009: 24).

Menurut Hansen dan Mowen (2013: 217) Just in Time adalah suatu sistem berdasarkan tarikan permintaan yang membutuhkan barang untuk ditarik melalui sistem oleh permintaan yang ada, bukan didorong ke dalam sistem pada waktu tertentu berdasarkan permintaan yang diantisipasi. Restoran cepat saji, seperti McDonald’s menggunakan sistem penarikan untuk mengendalikan persediaan barang jadi mereka, Saat pelanggan memesan maka barang akan diambil dari rak yang tersedia. Ketika barang menjadi terlalu sedikit, koki akan membuat barang yang baru.

Sistem tepat waktu Just in Time adalah sistem manajemen pabrikasi dan persediaan komprehensif di mana bahan baku dan berbagai suku cadang dibeli dan diproduksi pada saat diproduksi dan pada waktu akan digunakan dalam setiap tahap proses produksi atau pabrikasi (Simamora, 2012: 100).

Menurut Mursyidi (2010: 175) Just in Time adalah konsep yang memandang waktu dalam suatu proses produksi dapat diperpendek, ini dilakukan dengan mengalihkan sistem pemanufakturan dari push system (material ditarik ke dalam pabrik untuk diproduksi berdasarkan pesanan) ke pull system (material didorong keluar dari pabrik untuk diproduksi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan).

(11)

Menurut Samryn (2012: 14) mengemukakan bahwa Just in Time adalah suatu sistem produksi dimana bahan baku hanya dibeli sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pelanggan yang sesungguhnya. Heizer dan Render (2010: 314) menyatakan, sistem Just in Time merupakan suatu sistem yang memproduksi ketidakadanya permintaan dan dalam kegiatan produksinya menghilangkan adanya pemborosan dan memproduksi sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan cara seefisien mungkin.

Gagasan JIT telah berkembang untuk memenuhi keinginan perusahaan yaitu memproduksi sesuai kebutuhan. Ide dasar dibalik JIT, menurut Nahmias (2001: 358) meliputi:

1. Persediaan barang setengah jadi (WIP) dikurangi sampai mendekati minimum. Seberapa banyak jumlah barang setengah jadi yang diperbolehkan merupakan ukuran ketat sistem JIT tersebut dijalankan. Lebih sedikit barang setengah jadi yang ditetapkan dalam sistem, maka berbagai tahapan operasional akan bekerja lebih seimbang.

2. JIT adalah operasional dengan sistem permintaan tarik (demand pull system). Operasional pada tiap tahapan dilakukan hanya diminta. Arus informasi pada sistem JIT diteruskan secara berurutan dari suatu tahap ke tahap selanjutnya. 3. JIT meluas melebihi batasan pabrik manufaktur. Hubungan yang spesial dengan para pemasok harus dilakukan untuk menjamin pengiriman dilakukan

(12)

berdasarkan keperluan. Pemasok dan perusahaan harus mempunyai lokasi yang cukup berdekatan jika penerapan JIT mengikutsertakan pemasok 4. Keuntungan JIT meluas, melebihi penghematan pada persediaan dan biaya

yang terkain dengan persediaan. Perusahaan dapat berjalan dengan lebih efisien tanpa ada kekacauan yang disebabkan oleh persediaan bahan baku dan barang setengah jadi yang menghambat sistem dan proses operasional. Masalah yang berhubungan dengan kualitas dapat diidentifikasi. Pengerjaan ulang dan pemeriksaan kualitas dapat diminimalkan

5. Pendekatan JIT memerlukan komitmen yang serius dari manajemen tingkat atas dan para pekerjanya. Pekerja perlu memelihara kewaspadaan mereka terhadap sistem operasional, dan mereka juga perlu diberi kuasa untuk dapat menghentikan proses operasional jika mereka menyadari bahwa terdapat sesuatu yang salah. Manajemen harus memberikan fleksibilitas pada pekerjanya.

Fujio Cho dari Toyota dalam (Supardiyo, 2009) mendefinisikan pemborosan sebagai segala sesuatu yang berlebih, di luar kebutuhan minimum atas peralatan, bahan, komponen, tempat, dan waktu kerja yang mutlak diperlukan untuk proses nilai tambah suatu produk. Dalam bahasa sederhanya pengertian pemborosan adalah segala sesuatu tidak memberi nilai tambah. Ada 7 (tujuh) jenis pemborosan disebabkan karena:

(13)

1. Over produksi (Over Production) 2. Waktu menunggu (Waiting) 3. Transportasi (Transportation) 4. Pemrosesan (Process production)

5. Tingkat persediaan barang (Unnecessary Inventory) 6. Gerak (Unnecessary MotioFn)

7. Cacat produksi (Defects)

Berdasarkan beberapa pengertian terkait Just in Time yang telah dipaparkan sebelumnya, maka secara keseluruhan pengertian Just in Time adalah suatu sistem produksi tepat waktu dimana suatu produk hanya akan di produksi ketika ada permintaan.

2.1.2.2 Tujuan Just in Time

Menurut Hansen dan Mowen (2013: 217), Just in Time memiliki dua tujuan strategis meningkatkan laba dan memperbaiki posisi bersaing perusahaan. Kedua tujuan ini dicapai dengan mengendalikan biaya (yang memungkinkan persaingan harga yang lebih baik dan peningkatan laba), memperbaiki kinerja pengiriman, dan meningkatkan kualitas.

Garrison dan Noreen (2000: 14) manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan Just in Time adalah :

(14)

1. Modal kerja dapat ditunjang dengan adanya penghematan karena pengurangan biaya-biaya persediaan

2. Lokasi yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan persediaa dapat digunakan untuk aktivitas lain sehingga produktivitas meningkat

3. Waktu untuk melakukan aktivitas produksi berkurang, sehingga dapat menghasilkan jumlah produk lebih banyak dan lebih cepat merespon konsumen

4. Tingkat produksi cacat berkurang, mengakibatkan penghematan dan kepuasan konsumen meningkat

Garrison dan Noreen (2000: 14) selanjutnya menjelaskan bahwa karena keuntungan-keuntungan dengan menerapkan Just in Time yang sudah dicatat sebelumnya, semakin banyak perusahaan yang menggunakan JIT setiap tahunnya. Sebagian besar perusahaan menyimpulkan bahwa pengurangan jumlah persediaan sebenarnya belum mencukupi. Untuk tetap bertahan dalam persaingan yang semakin kuat dalam lingkungan bisnis yang selalu berubah, perusahaan harus mengusahakan untuk melakukan perbaikan terus menerus.

Sedangkan Menurut Riyanto (2010: 7) pada dasarnya, sistem produksi JIT mempunyai enam tujuan dasar, yaitu :

1. Mengintegrasikan dan mengoptimalkan setiap langkah dalam proses manufaktur

(15)

3. Menurunkan ongkos manufaktur secara terus menerus

4. Menghasilkan produk hanya berdasarkan permintaan pelanggan 5. Mengembangkan fleksibilitas manufaktur

6. Mempertahankan komitmen tinggi untuk berkerja sama dengan pemasok dan pelanggan

Krismiaji (2010: 125) mengungkapkan bahwa tujuan utama Just in Time adalah untuk menghasilkan produk hanya diperlukan dan hanya menghasilkan kuantitas produk sebanyak yang diminta pelanggan. Heizer dan Render (2010: 318) pokok dari Just in Time adalah suatu filosofi dari penyelesaian masalah yang selalu berkelanjutan dalam arti hanya membuat apa yang dibutuhkan.

Menurut Ristono (2010: 6) terdapat sasaran utama yang ingin dicapai dari sistem produksi JIT yaitu :

1. Mereduksi scrap dan rework

2. Meningkatkan jumlah pemasok yang ikut JIT

3. Meningkatkan kualitas proses industry (zero defect orientation) 4. Mengurangi inventory (zero inventory orientation)

5. Mereduksi penggunaan ruang pabrik.

6. Linearitas output pabrik (berproduksi pada tingkat konstan selama waktu tertentu)

7. Mereduksi overhead

(16)

Berdasarkan pemaparan yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa tujuan secara luas dari Just in Time adalah menghilangkan pemborosan melalui perbaikan terus menerus (continuous improvement) sehingga dapat meningkatkan profit perusahaan.

2.1.2.3 Manfaat Just in Time

Menurut Herjanto (2012: 262), penerapan dari sistem JIT dalam bidang persediaan akan memberikan manfaat utama sebagai berikut :

1. Berkurangnya Tingkat Persediaan

Dengan tingginya biaya penyimpanan, pengurangan tingkat persediaan dapat menjadi faktor penting dalam program pengurangan biaya. Pengurangan ini berarti berkurangnya modal yang tertanam dalam persediaan, kebutuhan tempat penyimpanan, dan kemungkinan kerusakan dari barang yang disimpan sebagai persediaan

2. Meningkatnya Pengendalian Mutu

Dengan rendahnya tingkat persediaan, barang yang dipasok harus benar-benar memenuhi kualitas dan kuantitas sesuai dengan yang dipersyaratkan. JIT mendorong pemasok untuk lebih memiliki kesadaran terhadap mutu, yang berarti pemasok harus mengirim barang yang mutunya semakin hari semakin baik.

(17)

Manfaat utama sistem Just in Time adalah akan mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan cost produk, menurunkan kebutuhan alokasi biaya tak langsung, mengubah perilaku dan kepentingan relatif biaya tenaga kerja langsung, dan mempengaruhi sistem penentuan kos pesanan dan kos proses (Suneth, 2016). Adapun menurut Mursyidi (2008: 182), manfaat Just in Time adalah :

1. Mengurangi biaya tenaga kerja langsung dan tidak langsung 2. Mengurangi ruangan atau gudang untuk menyimpan barang 3. Mengurangi waktu setup dan penundaan jadwal produksi

4. Mengurangi pemborosan barang rusak dan barang cacat dengan mendereksi kesalahan pada sumbernya

5. Mengurangi lead time karena ukuran lot yang kecil sehingga sel produksi memberikan feedback terhadap masalah kualitas

6. Penggunaan mesin dan fasilitas lebih baik, menciptakan hubungan yang lebih baik dengan pemasok

7. Intergrasi yang lebih baik antara fungsi-fungsi, seperti pemasaran, pembelian, dan diproduksi

8. Pengendalian kualitas dalam proses

Dengan demikian, dikatakan bahwa sistem JIT merupakan sistem produksi yang komperatif dan suatu pendekatan yang berusaha menghilangkan semua sumber pemborosan, sesuatu yang tidak menambah nilai di dalam kegiatan produksi dengan

(18)

menyuguhkan suku cadang atau bahan baku yang tepat pada tempat dan waktu yang tepat.

2.1.2.4 Strategi Just in Time

Stevenson dan Chuong (2014: 369) menambahkan pengembangan strategi untuk implementasi JIT juga harus didukung dengan pemeliharaan preventif, yaitu menekankan pemeliharaan perlengkapan dalam kondisi operasi yang baik dan menganti suku cadang yang mempunyai kecenderungan untuk rusak sebelum kerusakan terjadi. Perusahaan harus siap dan cepat dalam mengembalikan ke dalam kondisi kerja, karena pada Just in Time mempunyai persediaan dalam proses yang sedikit, kondisi kerusakan pada perlengkapan dapat sangat menganggu.

Ristono (2010: 7) menyatakan, dasar yang diperlukan unuk kesuksesan sistem Just In Time adalah :

1. Eliminasi segala pemborosan

2. Melibatkan tenaga kerja atau operator dalam pengambilan keputusan 3. Partisipasi supplier

4. Total Quality Control

Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat dikatakan bahwa beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk kesuksesan sistem JIT adalah terdapat komitmen untuk mengeliminasi segala pemborosan atau aktivitas yang tidak bernilai tambah dan menjaga kualitas produk yang akan dijual kepada konsumen. Menjaga

(19)

hubungan baik dengan pemasok pun sangat penting, karena hal ini menyangkut dengan ketepatan waktu datangnya bahan baku saat dibutuhkan untuk diproduksi.

2.1.2.5 Perbandingan Just in Time dengan Tradisional

Garrison dan Noreen (2000:38) menyatakan bahwa Pendekatan Just in time dapat digunakan baik untuk perusahaan perdagangan maupun manufaktur. Sistem Just In Time akan menimbulkan dampak yang signifikan pada operasi perusahaan manufaktur yang memiliki 3 kelas persediaan, yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Bahan baku adalah material atau bahan dasar yang digunakan untuk membuat suatu produk. Barang dalam proses merupakan persediaan barang yang proses produksinya baru diselesaikan sebagian dan masih membutuhkan proses yang lebih lanjut sebelum siap untuk dilempar ke konsumen. Sedangkan barang jadi adalah unit produk yang telah selesai diproses secara penuh, tetapi belum dijual kepada konsumen.

Menurut Hansen dan Mowen (2013: 222) perbedaan pemanukfaturan Just in Time (JIT) dengan tradisional yaitu :

Tabel 2.1

Perbandingan Just in Time dengan Tradisional

No Just in Time Tradisional

1. Sistem tarik Sistem dorong

2. Persediaan dalam jumlah kecil Persediaan dalam jumlah besar 3. Basis pemasok kecil Basis pemasok besar

(20)

No Just in Time Tradisional

4. Kontrak jangka panjang Kontrak jangka pendek 5. Struktur selular Struktur departemen

6. Tenaga kerja keahlian ganda Tenaga kerja terspesialiasasi 7. Keterlibatan karyawan tinggi Keterlibatan karyawan rendah 8. Manajemen mutu terpadu Tingkat mutu yang dapat diterima 9. Pasar Pembeli Pasar Penjual

10. Fokus rantai nilai Fokus nilai tambah Sumber : Hansen dan Mowen, Akuntansi Manajemen (2013: 222)

2.1.2.6 Karakteristik Just in Time

Simamora (2012: 106) menyatakan, elemen-elemen yang dapat menentukan keberhasilan Just in Time serta dapat mengurangi pemborosan yaitu, sebagai berikut :

1. Jumlah pemasok yang terbatas

Dalam sistem tepat waktu, pemasok diperlakukan sebagai mitra dan biasanya terkait kontrak jangka panjang dengan perusahaan. Para pemasok merupakan bagian vital sistem yang mengakibatkan JIT berjalan mulus, memastikan masukan bermutu dan pengiriman yang tepat waktu. Supaya aplikasi JIT berjalan dengan baik, perusahaan harus belajar bergantung pada segelintir pemasok yang bersedia melakukan pengiriman yang sering dalam jumlah yang kecil. Pada situasi tertentu, pemasok bahkan menempatkan fasilitas mereka di dekat perusahaan pabrikasi. Pemasok wajib mengirimkan bahan

(21)

baku dan suku cadang tertentu karena mereka langsung menuju ke tempat kerja di dalam pabrik pabrikasi.

2. Tingkat persediaan yang minimal

Berlawanan dengan lingkungan pabrikasi trasdisional, bahan baku, suku cadang, dan pasokan dibeli jauh hari sebelumnya dan disimpan di gudang sampai departemen produksi membutuhkannya. Dalam lingkungan JIT bahan baku dan suku cadang dibeli serta diterima hanya ketika dibutuhkan saja. Tujuan lingkungan JIT adalah untuk memastikan bahwa setiap stasiun kerja menghasilkan dan mengirimkan unsur-unsur yang tepat ke stasiun kerja berikutnya pada kuantitas yang tepat dan pada waktu yang tepat. Apabila tujuan ini dicapai, perusahaan tidak lagi membutuhkan persediaan.

3. Pembenahan tata letak pabrik

Perubahan besar yan dimulai oleh JIT adalah manajemen lingkungan pabrik dan restrukturisasi departemen produksi ke dalam sel kerja atau sel pabrikasi. Filosofi JIT mencari cara-cara praktis untuk menghilangkan kebutuhan akan persediaan. Untuk menerapkan JIT secara tepat, perusahaan perlu membenahi arus lini pabrikasi di dalam pabriknya. Arus lini (flow line) adalah jalur fisik yang dilewati oleh sebuah produk bergerak melalui proses pabrikasi dan penerimaan bahan baku sampai ke pengiriman barang jadi. Sistem JIT menggantikan tata letak pabrik tradisional dengan sebuah pola sel pabrikasi atau sel kerja. Sel pabrikasi berisi mesin-mesin yang dikelompokkan dalam

(22)

sebuah keluarga mesin, umumnya berbentuk setengah lingkaran. Setiap sel pabrikasi dibentuk untuk menghasilkan produk atau keluarga produk tertentu. Produk bergerak dari satu mesin ke mesin lainnya mulai dari awal hingga akhir. Para karyawan ditugaskan dalam setiap sel pabrikasi dan dilatih untuk mengoperasikan semua mesin di dalam sel pabrikasi.

4. Pengurangan masa pengesetan

Masa pengesetan (setup time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah perlengkapan, memindahkan bahan baku, dan mendapatkan formulir-formulir terkait dan bergerak cepat guna mengakomodasikan produksi jenis barang yang berbeda. Minimasi masa pengesatan mesin akan meningkatkan flesibilitas karena lebih mudah bagi perusahaan untuk mengganti produksi ke produk yang berbeda. Waktu yang tersita untuk mengeset mesin akan mengurangi waktu yang tersedia untuk menjalankan meisn, dan konsekuensinya akan memotong kapasitas produksi.

5. Kendali mutu terpadu

Aktivitas-aktivitas JIT menghasilkan produk bermutu tinggi karena produk memang diolah dari bahan baku bermutu tinggi dan inspeksi produk dilakukan pada seluruh proses produksi. Agar JIT berjalan dengan lancar, perusahaan perlu membangun sistem kendali mutu terpadu (total quality control, TQC) terhadap komponen-komponen dan bahan bakunya. TQC berarti bahwa perusahaan tidak membolehkan penerimaan komponen dan

(23)

bahan baku yang cacat dari para pemasok, pada barang dalam proses atau barang jadi.

6. Tenaga kerja yang fleksibel

Dalam lingkungan pabrikasi konvensional, tenaga kerjanya biasanya terspesialisasi. Para karyawan dilatih untuk menunaikan satu jenis tugas. Karena tata letak pabrik dalam lingkungan JIT berbeda dengan lingkungan pabrik konvensional, para karyawan harus menguasai berbagai keterampilan teknis. Di dalam lingkungan kerja JIT, seorang karyawan mungkin diminta mengoperasikan beberapa jenis mesin secara simultan. Oleh karena itu, dia harus mempelajari keterampilan operasi yang baru. Selain itu karena JIT mewajibkan para karyawan menghasilkan hanya dibutuhkan oleh stasiun kerja berikutnya, maka ketika kebutuhan tersebut telah terpenuhi, karyawan di dalam sel pabrikasi diharapkan melakukan reparasi kecil dan tugas perawatan terhadap perlengkapan mesin di sel pabrikasinya. Karyawan-karyawan dalam lingkungan JIT juga bertanggung jawab atas pelaksanaan inspeksi yang dibutuhkan atas keluaran mereka.

(24)

2.2 Penelitian Terdahulu Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti dan Tahun Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1 Kusumawati (2009) Studi Just in Time untuk Meningkatkan Kinerja Produktivitas Perusahaan Variabel Independen (X) dalam Penelitian ini yaitu : Just in Time, Variabel Dependen dalam penelitian ini yaitu : Meningkatkan Kinerja produktivitas

Menyatakan ada pengaruh positif antara JIT dengan kinerja produktivitas.

Hal ini berarti bahwa dengan penerapan JIT maka

 Produktivitas akan meningkat ini dibuktikan dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang meningkat produktivitasnya setelah menerapkan JIT.  Terdapat hubungan pengaruh positif antara pemasok dengan perusahaan

 Pengaruh positif antara sistem produksi dengan kinerja produktivitas  Pengaruh positif antara

JIT dengan kinerja produktivitas 2 Anggraeni (2017) Penerapan Sistem Persediaan Just in Time Terhadap Hasil Produksi Variabel Independen (X) dalam Penelitian ini yaitu : Just in Time, Variabel Dependen dalam penelitian ini : Hasil Produksi

Dari hasil analisis diketahui perusahaan telah memenuhi unsur dalam

 Just in Time secara efektif terbukti dengan memberikan jaminan mutu produk dengan kualitas yang baik dan mengurangi barang cacat.

(25)

No Nama Peneliti dan Tahun Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 3 Sukendar (2011) Penerapan Just in Time Dalam Sistem Pembelian dan Sistem Produksi Variabel Independen (X) dalam Penelitian ini yaitu : Just in Time Variabel Dependen dalam penelitian ini yaitu : Sistem Pembelian dan Sistem Produksi

Dengan penerapan Just in Time, masalah kerusakan barang jadi dapat diatasi.

Selain itu, Just in Time juga mengharuskan adanya perawatan berkala. Dengan perawatan berkala yang baik, risiko kebocoran oli tentu dapat ditekan sehingga

 Tingkat kerusakan barang jadi akibat kebocoran oli dapat diminimalkan. 4 Wardani (2006) Hubungan Tingkat Penerapan Sistem Tepat Waktu (Just in Time) pada Sistem Produksi dengan Kinerja Non Keuangan Variabel Independen (X) dalam Penelitian ini yaitu : Tingkat Penerapan Just in Time Variabel Dependen dalam penelitian ini yaitu : Sistem Produksi dengan Kinerja Non Keuangan

Kinerja non keuangan yang diteliti adalah mengenai kualitas produk, keefektifan pada saat produksi, dan efisiensi kerja mesin.

Tingkat penerapan Just In Time pada sistem produski mempunyai hubungan searah atau positif dengan kinerja non keuangan.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa dengan tingkat keyakinan 0,95 menggambarkan bahwa tingkat penerapan Just In Time pada sistem produksi memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja non keuangan sehingga hipotesis penelitian dapat diterima.

(26)

2.3 Kerangka Pemikiran

2.3.1 Penerapan Just in Time Dalam Meningkatkan Kualitas Produk

Kualitas produk perlu ditingkatkan, salah satu pendekatannya yang bisa digunakan dalam memperbaiki pengolahan usaha terhadap produk adalah dengan Just In Time (JIT). JIT dikenal sebagai suatu filosofi untuk menyelesaikan produk pada setiap tahap seketika dan dengan biaya yang minimum (Wilopo dan Purnamasari dalam Kusumawati, 2009).

Sasaran Just in Time menitik beratkan pada perbaikan berkesinambungan (continuos improvement) untuk mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi, kualitas dan reliabilitas produk yang lebih baik, biaya produksi yang rendah, memperbaiki waktu penyerahan produk akhir dan memperbaiki hubungan kerja antara pelanggan dengan pemasok (Diaz dan Retnani, 2015).

Penerapan JIT memberikan manfaat pengurangan inventory, meningkatnya produktivitas serta kualitas produk yang lebih baik. Penerapan Just In time dapat meningkatkan kualitas produk dan produktivitas dengan mengeliminasi pemborosan. Pemborosan ini dapat diartikan sebagai peralatan, bahan baku, dan pekerja (Hadioetomo, 2009).

Just in Time dan kualitas memiliki hubungan yang sangatlah kuat, JIT dapat memotong biaya untuk mendapatkan kualitas barang yang baik. JIT juga dapat meningkatkan kualitas, JIT menciptakan sistem peringatan dini untuk permasalahan

(27)

kualitas sehingga unt yang tidak baik diproduksi lebih sedikit dan segera mendapatkan umpan balik (Heizer dan Render, 2011: 335).

Garrison dan Noreen (2000: 14), menyatakan manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan Just in Time adalah dapat digunakan untuk aktivitas lain sehingga produktivitas meningkat, tingkat produksi cacat berkurang, mengakibatkan penghematan dan kepuasan konsumen meningkat.

Mengacu pada penelitian sebelumnya Kusumawati (2009) Studi Just in Time untuk meningkatkan kinerja produktivitas perusahaan, menyatakan ada pengaruh positif antara JIT dengan kinerja produktivitas. Hal ini berarti bahwa dengan penerapan JIT maka produktivitas akan meningkat ini dibuktikan dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang meningkat produktivitasnya setelah menerapkan JIT.

Anggraeni (2017) menyatakan bahwa dari hasil analisis diketahui perusahaan telah memenuhi unsur dalam Just in Time secara efektif terbukti dengan memberikan jaminan mutu produk dengan kualitas yang baik dan mengurangi barang cacat. Sukendar (2011) menyatakan dengan penerapan Just in Time, masalah kerusakan barang jadi dapat diatasi. Selain itu, Just in Time juga mengharuskan adanya perawatan berkala. Risiko kebocoran oli dapat ditekan sehingga tingkat kerusakan barang jadi akibat kebocoran oli dapat diminimalkan dengan perawatan berkala yang baik.

(28)

Gambar 2.1 Paradigma Pemikiran Kualitas Produk 1. Kinerja 2. Daya tahan 3. Kesesuaian dengan spesifikasi 4. Fitur 5. Reliabilitas 6. Estetika 7. Kesan kualitas 8. Serviceability

Tjiptono dan Diana (2016:134)

Just in Time

1. Jumlah pemasok yang terbatas

2. Tingkat persediaan yang minimal

3. Pembenahan tata letak pabrik 4. Pengurangan masa

pengesetan

5. Kendali mutu terpadu 6. Tenaga kerja yang fleksible

Gambar

Gambar 2.1  Paradigma Pemikiran Kualitas Produk  1.  Kinerja 2.  Daya tahan 3.  Kesesuaian dengan spesifikasi 4

Referensi

Dokumen terkait

Guru B mampu menyusun penilaian tes uraian sebesar 55% dan penilaian proyek dengan kemampuan penyusunan 25%, sedangkan penilaian yang belum mampu disusun dalam

Kritik terhadap Jung Penugasan mandiri merangkum, menyimpulkan, dan mengidentifi- kasi persoalan terkait pokok bahasan; Diskusi Kelompok dengan pembelajaran berbasis kasus

Tujuan rancang bangun trainer Yamaha Mio-J YMJet-FI ini adalah untuk mengetahui cara kerja sistem EFI Yamaha Mio-J, mengetahui komponen-komponen apa saja yang

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan tingkat kepuasan pasien dengan mengukur selisih antara harapan yang diinginkan pasien rawat jalan terhadap

Jenis data penelitian adalah data sekunder yang diperoleh dari Kantor Catatan Sipil, melalui dokumentasi, metode analisis dan pengembangan sistem yang digunkan adalah metode

Adapun hambatan-hambatan yang ditemui oleh Reserse Kriminal Polres Tulang Bawang dalam mengungkap tindak pidana pembunuhan : dapat ditinjau dari faktor subtansi

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang maha Esa karena atas nikmat-Nya penyusunan Laporan Kuliah Kerja Magang (KKM) STIE PGRI Dewantara Jombang dapat diselesaikan tepat

Salah satu unsur dari sapta pesoana diatas yaitu “kenangan” adalah menjadi salah satu unsur yang harus diwujudkan khususnya didalam usaha pemasaran produk- produk wisata