• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTICLE REVIEW OF HUMAN CAPITAL, ECONOMIC STRUCTURE AND GROWTH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARTICLE REVIEW OF HUMAN CAPITAL, ECONOMIC STRUCTURE AND GROWTH"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ARTICLE REVIEW OF HUMAN CAPITAL,

ECONOMIC STRUCTURE AND GROWTH

Mariyah dan Mumuh Mulyana

Universitas Mulawarman dan STIE Kesatuan

=========================================================

Judul Jurnal : Human Capital, Economic Structure and Growth

Penulis : Jan Cadil, Ludmila Petkokova, Dagmar Blatna

Sumber : Procedia Economics and Finance 12 (2014): 85-92

=========================================================

I. Ringkasan Jurnal

Pendahuluan

Modal manusia (human capital) merupakan pondasi dalam teori pertumbuhan endogenous (Endogenous growth theory). Modal manusia merupakan faktor penentu daya saing dan pertumbuhan ekonomi. Banyak penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan modal manusia, terutama berkaitan dengan peran modal manusia dalam adopsi teknologi dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Hasil studi empiris menunjukkan terdapat pro dan kontra berkaitan dengan dampak modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi. Beberapa studi seperti Arrow (1962), Uzawa (1965), Nelson dan Phelps (1966), Romer (1986), Barro (1991), Aghion dan Howitt (1998), Cheshire and Margini (2000) atau Di Liberto (2008) menyatakan bahwa modal manusia memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Disisi lain, terdapat beberapa studi yang kontra terhadap dampak positif modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi. Pendapat kontra ini berkaitan dengan struktur ekonomi sebagai faktor penentu dampak modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi. Beberapa studi seperti Faggian, McCann (2009), Krueger dan Lindahl (2001), Ramos dkk. (2009), López-Bazo dan Motelón (2012), dan

(2)

Cadil et al. (2013) menyatakan bahwa dampak modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi akan berbeda/bervariasi berdasarkan struktur ekonomi wilayah.

Berdasarkan perbedaan hasil studi empiris tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengangguran pada tingkat wilayah berdasarkan struktur ekonomi wilayah di Uni Eropa (NUTS 2).

Metodologi Penelitian

Data yang digunakan dalam tulisan ini adalah data time series dari EUROSTAT Tahun 2007-2010. Data terdiri atas data jumlah tingkat pengangguran, laju pertumbuhan ekonomi, dan jumlah tenaga kerja.

Model pendugaan yang digunakan terdiri atas 2 (dua), yaitu:

1. Model untuk menduga dampak modal manusia terhadap output tanpa efek spesifik regional yang menggunakan pendekatan Ramos et.al.(2009):

∆ ( ) = + ( ) + ( ) +

dimana:

∆ ln (yi) = laju pertumbuhan rata-rata GDP per kapita

yi0 = GDP per kapita pada Purchasing Power Standard (PPS) tahun dasar untuk

kontrol konvergensi antar wilayah

Hci0 = proksi sumberdaya modal manusia pada tahun dasar (rasio tenaga kerja

dengan pendidikan tinggi terhadap jumlah total tenaga kerja pada wilayah)

2. Model untuk menduga dampak modal manusia terhadap pengangguran:

∆ ( ) = + ( ) + ( ) + dimana:

∆ ln( ) = laju pertumbuhan tingkat pengangguran ui0 = tingkat pengangguran pada tahun dasar

Hci0 = proksi sumberdaya modal manusia pada tahun dasar ( rasio tenaga kerja

dengan pendidikan tinggi terhadap jumlah total tenaga kerja pada wilayah)

Tahapan yang dilakukan sebelum analisis data adalah dilakukan pembagian data menjadi tiga tahap yaitu masa sebelum krisis tahun 2007-2008, masa krisis tahun 2008-2009, dan masa setelah krisis (recovery) tahun 2009-2010. Kemudian dilakukan pengklasifikasian wilayah berdasarkan struktur ekonomi dengan menggunakan Location Quotient (LQ):

(3)

dimana:

Eij = jumlah tenaga kerja yang bekerja pada sektor j di wilayah i

Ei = jumlah tenaga kerja pada wilayah i

Ej = jumlah tenaga kerja yang bekerja pada sektor j

E = jumlah tenaga kerja

Jika LQ > 1 maka sektor tersebut merupakan sektor basis.

Data dianalisis dengan menggunakan Least Squares Regression (LS) dan Robust

Regression Model (RM). Software yang digunakan adalah SAS dan S-Plus.

Hasil dan Pembahasan

Identifikasi terhadap struktur ekonomi di NUTS 2 Uni Eropa menunjukkan bahwa wilayah terbagi atas 4 (empat) kluster yaitu kluster 1 (pertanian, industri, jasa), kluster 2 (pertanian), kluster 3 (industri, jasa, administras publik), dan kluster 4 (jasa, keuangan, dan administrasi publik). Tingkat pengangguran secara berturut-turut adalah 9,16%; 10,90%; 7,41%; dan 6,58%. Tingkat pengangguran tertinggi berada pada kluster 2 pada wilayah dengan basis pertanian.

Metode yang digunakan untuk melakukan estimasi pada masing-masing kluster adalah RM, kecuali pada kluster 2 yang menggunakan LS. Hasil analisis dampak modal manusia terhadap pertumbuhan menunjukkan bahwa periode 2007-2010 pada keseluruhan sampel, NUTS 2 cenderung divergen dan modal manusia memperlambat pertumbuhan. Kecenderungan serupa terjadi pada semua kluster yang menunjukkan bahwa divergensi terjadi pada semua kluster. Kluster 2 (agricultural regions) menunjukkan bahwa modal manusia mengurangi laju pertumbuhan ekonomi. Persamaan untuk menduga dampak modal manusia terhadap pertumbuhan memiliki nilai koefisien determinasi (R2) dibawah 0,40, kecuali pada kluster 2 bernilai 0,69.

Hasil analisis dampak modal manusia terhadap penggangguran menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara modal manusia dengan pengangguran. Rata-rata laju pertumbuhan pengangguran konvergen antar wilayah. Pada kluster pertanian menunjukkan bahwa modal manusia dengan tingkat yang lebih tinggi meningkatkan pengangguran akibat effect of over

(4)

education sebagaimana pendapat Ramos et.al (1999). Persamaan untuk menduga dampak

modal manusia terhadap pengangguran memiliki nilai R2 bernilai dibawah 0,30.

Dampak modal manusia terhadap pertumbuhan berdasarkan tahapan periode sebelum krisis 2008 dan masa pemulihan tahun 2010 menunjukkan bahwa modal manusia tidak berdampak pada pertumbuhan. Modal manusia berdampak positif terhadap pertumbuhan pada tahun 2009 hanya pada kluster 4. Persamaan memiliki nilai R2 berada dibawah 0,40 kecuali kluster 2 pada tahun 2010 sebesar 0,83. Dampak modal manusia terhadap pengangguran berdasarkan tahapan periode secara keseluruhan menunjukkan bahwa modal manusia tidak berdampak pada pengangguran kecuali pada tahun 2009 dan 2009 pada kluster 4 serta tahun 2010 pada kluster 2 modal manusia berdampak negatif terhadap pengangguran. Persamaan memiliki nilai R2 berada dibawah 0,40.

Kesimpulan

Tulisan ini menyimpulkan bahwa modal manusia tidak dapat diklaim sebagai faktor yang berpengaruh positif pada pertumbuhan di Uni Eropa pada periode yang dipilih. Modal manusia memiliki efek negatif pada pertumbuhan dan pengangguran di daerah yang berbasis pertanian.

II. Review Jurnal

Tulisan ini pada bagian pendahuluan sebagai bagian yang menjadi latar belakang dan permasalah penelitian kurang memberikan penjelasan yang mendasar terhadap permasalahan yang akan diteliti. Penulis hanya mengemukakan tentang studi-studi empiris terkait tetapi tidak menjelaskan tentang fenomena yang terjadi pada wilayah yang akan diteliti sehingga hal tersebut dapat dijadikan alasan mendasar mengapa studi ini perlu dilakukan. Hal ini menyebabkan permasalahan tidak dirumuskan dengan jelas, meskipun cukup memberi penjelasan terhadap topik yang diteliti jika dilihat dari judul tulisan yang sangat singkat dan langsung merujuk pada modal manusia, struktur ekonomi, dan pertumbuhan. Tulisan ini berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya berkaitan dengan dampak modal manusia terhadap pertumbuhan dan pengangguran karena membedakan struktur ekonomi wilayah untuk mengatasi divergensi wilayah. Tujuan penelitian sudah sesuai dengan permasalahan yang diajukan dalam tulisan ini.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti metode studi terdahulu yang pernah dilakukan. Model yang diajukan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tetapi

(5)

model yang digunakan sangat sederhana, dengan hanya memasukkan dua variabel penjelas dalam masing-masing persamaan baik persamaan pertumbuhan maupun pengangguran. Persamaan untuk menduga dampak modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi hanya memasukkan variabel GDP per kapita pada tahun dasar dan proksi modal manusia sebagai variabel penjelas. Persamaan untuk menduga dampak modal manusia terhadap pengangguran hanya memasukan variabel tingkat pengangguran pada tahun dasar dan proksi modal manusia sebagai variabel penjelas. Hal ini menyebabkan banyak faktor-faktor penjelas yang mempengaruhi pertumbuhan maupun pengangguran yang tidak masuk dalam model. Hal ini ditunjukkan dengan nilai R2 yang rendah pada persamaan yang digunakan untuk menduga dampak modal manusia terhadap pertumbuhan maupun pengangguran. Jika dibandingkan dengan studi empiris lain yang menggunakan banyak variabel penjelas dan metode yang berbeda dapat menunjukkan hasil dugaan yang lebih baik sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Mustafa (2012), Yussof (2013), Arabi dan Abdalla (2013), Gebrehiwot (2014).

Mustafa (2012) mengkaji tentang the impact of human capital and governance on

Average Labour Productivity (ALP) and Multi Factor Productivity (MFP) growth di 14

negara Asia periode 1966-2010. Hasil menunjukkan bahwa 1% kenaikan dalam agregat modal manusia berhubungan dengan kenaikan ALP dan MFP 0,4%.

Yussof (2013) mengkaji tentang dampak modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dinegara-negara Arab menggunakan data panel 1990-2010 menggunakan log-linearized Cobb-Douglas production function memasukkan variabel penjelas berupa stok kapital, angkatan kerja, dan tingkat pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Hasil menunjukkan bahwa pembangunan modal manusia melalui pendidikan menengah dan tinggi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ekonomi di negara Arab.

Arabi dan Abdalla (2013) menggunakan data panel 1982-2009 di Sudan dengan sistem persamaan simultan metode 3SLS (three stage least squares). Variabel penjelas yang dimasukkan dalam model antara lain: tingkat pendidikan yang dicapai, investasi pendidikan dan kesehatan, FDI (Foreign Direct Investment), dan HDI (Human Development Index). Hasil menunjukkan bahwa pembangunan modal manusia berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.

Gebrehiwot (2014) menggunakan PDB riil per kapita, sebagai proxy untuk pertumbuhan ekonomi) selama periode 1975-2011 dengan pendekatan ARDL Co-integrasi

(6)

dan Error Correction Model. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan jangka panjang yang stabil antara PDB riil per kapita, modal manusia pendidikan, modal manusia kesehatan, tenaga kerja, pembentukan modal bruto, pengeluaran pemerintah dan bantuan pembangunan. Temuan tersebut konsisten dengan teori pertumbuhan endogen yang berpendapat bahwa peningkatan modal manusia (pekerja terampil dan sehat) meningkatkan produktivitas.

Data yang digunakan dalam penelitian ini sangat pendek jangka waktunya dan variasi dari variabel yang dimasukkan dalam model sangat sedikit sudah dapat memberikan penjelasan untuk menjawab permasalahan yang diteliti tetapi memberikan hasil yang tidak konsisten dan cenderung bias. Hal ini terbukti pada metode yang digunakan adalah RM yang cenderung digunakan untuk mengatasi permasalahan outlier pada data. Data untuk wilayah yang diteliti pada NUTS 2 tidak disebutkan sehingga pembaca perlu mencari sumber lain untuk mengetahui wilayah mana saja yang masuk dalam NUTS 2 Uni Eropa.

Hasil pendugaan persamaan yang menunjukkan hasil yang tidak konsisten antar wilayah dan dampak modal manusia yang tidak jelas baik tanda (sign) maupun besarannya (magnitude) terhadap pertumbuhan maupun pengangguran. Krisis secara umum menyebabkan dampak perubahan perilaku pada variabel penjelas terhadap variabel pertumbuhan maupun pengangguran tetapi tidak jelas dampaknya pada masing-masing periode yang diteliti. Meskipun dampaknya positif tetapi pengaruhnya sangat kecil.

Pembahasan hasil dalam tulisan ini tidak memberikan penjelasan rinci terhadap hasil. Alasan rasional yang mendasari penjelasan sangat singkat dan studi empiris yang mendukung hasil penelitian hanya dikemukakan satu penelitian. Karakteristik masing-masing kluster tidak dibahas sehingga sangat sulit untuk diketahui apakah memang struktur ekonomi yang berbeda dapat memberikan dampak modal manusia yang berbeda terhadap pertumbuhan dan pengangguran di suatu wilayah.

Berdasarkan analisis dan hasil yang diperoleh, kesimpulan yang dibuat dalam tulisan ini belum memberikan kesimpulan yang jelas terkait dampak modal manusia terhadap pertumbuhan maupun pengangguran berdasarkan struktur ekonomi wilayah. Hal ini dikarenakan dampak yang tidak konsisten pada setiap persamaan pendugaan dan tahapan periode waktu yang dianalisis.

(7)

III. Implikasi di Indonesia

Kajian empiris mengenai dampak modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengangguran di Indonesia telah banyak dilakukan. Hanya saja kajian yang dilakukan secara parsial dan belum banyak yang mengkaitkan dengan struktur ekonomi wilayah. Salah satu kajian yang dilakukan oleh Leeuwen ( 2006) berjudul The role of human capital in

endogenous growth in India, Indonesia and Japan, 1890-2000 menunjukkan bahwa

Indonesia dan India mengalami pertumbuhan Lucas (Lucasian Growth) sedangkan Jepang mengalami pertumbuhan Lucas kemudian bertransisi ke pertumbuhan Romer. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memanfaatkan modal manusia sebagai faktor produksi dan belum memanfaatkan modal manusia sebagai input pada Research and development (R & D). Hal ini disebabkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Sistem pendidikan yang kurang terhubung dengan ekonomi sehingga kurang efisien 2. Kualitas sumber daya manusia yang diukur dengan jumlah pengeluaran pendidikan per

siswa menurun

3. Hambatan dalam teknologi antara lain: hambatan ekonomi (bias teknologi untuk pendidikan tinggi di negara-negara maju yang memiliki keunggulan komparatif ) dan hambatan politik ( lembaga dan kebijakan untuk modernisasi teknologi)

4. Teknologi di negara-negara berkembang bias terhadap faktor produksi yang langka

Jika dikaitkan dengan hasil kajian pada tulisan ini, maka Indonesia sebagai negara berbasis sektor pertanian perlu memperhatikan kebutuhan sumberdaya manusia pada masing-masing sektor ekonomi khususnya tenaga kerja pertanian. Karena jika tidak dipertimbangkan dalam perencanaan pembangunan maka peningkatan kualitas sumberdaya manusia bisa jadi menyebabkan peningkatan pengangguran dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi akibat overeducation sebagaimana pendapat Ramos, dkk (2009). Selain itu, pertanian sebagai sektor yang cukup stabil pada masa krisis ekonomi perlu dirancang strategi kedepan supaya peningkatan sumberdaya manusia di bidang pertanian meningkat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembangunan.

REFERENSI

Abbas, Q. 2001. Endogenous Growth and Human Capital: A Comparative Study of Pakistan and Sri Lanka. The Pakistan Development Review 40 (4): 987–1007.

Arabi, K.A.M. dan S.Z.S. Abdalla. 2013. The Impact of Human Capital on Economic Growth: Empirical Evidence from Sudan. Research in World Economy 2013 (4): 2.

(8)

Gebrehiwot,K.G. The Impact of Human Capital Development on Economic Growth in Ethiopia: Evidence from ARDL Approach to Co-Integration. International Journal of Humanities & Social Science: 64-88.

Leeuwen, B.V. 2006. The role of human capital in endogenous growth in India, Indonesia and Japan, 1890-2001. XIV International Economic History Congress, Helsinki.

Mustafa, G. 2012. Human Capital, Governance and Productivity in Asian Economies. Job Market paper 1-31.

Ramos, R., J.Surinach, dan M. Artist. 2009. Regional Economic Growth and Human Capital: The Role of Overeducation. Working Paper Research Institute of applied eonomics.

Referensi

Dokumen terkait

Peningkatan motivasi belajar IPS dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas IV D Negeri Sawunggaling Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo pada tahun

Untuk mencapai akurasi dan kecepatan optimal pengenalan citra tanda tangan menggunakan metode 2DPCA dan 2DLDA yaitu dengan menggunakan jumlah data training 160 dari 200 data

Kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan menyiapkan peserta didik untuk bekerja pada pekerjaan jasa perawatan dan perbaikan didunia usaha / industri. smk bisa,

Metode peramalan menghasilkan urutan pekerjaan dan memecahan atas pendekatan suatu masalah dalam peramalan; sehingga bila digunakan pendekatan yang sama pada proses peramalan,

Pelaksanaan strategi pertumbuhan yang memerlukan dana yang cukup besar seperti untuk investasi pembangunan pabrik, pembangunan gerai baru, dan pembelian mesin baru untuk

Membentuk unit Pelaksana Kegiatan (Project Implementation unit ) Dalam Rangka Kegiatan Peningkatan Kapasitas Berkelanjutan untuk Desentralisasi (Sustainable Capacity

(2000) melaporkan bahwa apabila pH urin lebih rendah dari 6.0, berarti ransum yang diberikan mengandung garam-garam anion yang berlebihan pada waktu melakukan penurunan

Penelitian yang dilakukan oleh Hendika Apriyanto tahun 2009 dengan judul “Kompetensi Profesional Guru Sosiologi Dalam Proses Pembelajaran di SMA Negeri 1 Kalasan” dengan