185
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Perencana kota harus memperhatikan upaya-upaya untuk membentuk citra kota dalam melakukan perencanaan dan penataan kota. Hal ini dikarenakan citra kota membentuk identitas dan jati diri kota. Selain itu, citra kota memberikan banyak hal penting bagi kota seperti memberikan kemampuan untuk berorientasi dengan mudah dan cepat bagi masyarakat, memperkuat keselarasan bagian-bagian wilayah kota, serta menjadi salah satu faktor penentu yang mempengaruhi eksistensi suatu kota.
Citra Koridor Jalan M.H. Thamrin adalah salah satu contoh bad practice dalam perencanaan suatu citra koridor. Koridor Jalan M.H. Thamrin yang merupakan landmark sekaligus image ibukota Jakarta justru tidak mempunyai rancangan desain (urban design guideliness) sebagai acuan untuk membentuk dan memperkuat citra kota. Hal ini sekaligus menunjukkan peran penting seorang perencana dalam membentuk citra suatu tempat. Citra Koridor Jalan M.H. Thamrin justru bukan dibentuk oleh perancang/arsitek kota melainkan oleh perencana kota melalui kebijkan penataan ruang. Dalam studi citra di Koridor Jalan M.H. Thamrin, arahan pembentukan citra koridor termuat dalam Rencana Tata Ruang DKI Jakarta 2030 yaitu sebagai Koridor Wisata bertaraf internasional. Berikut adalah hasil penelitian ini:
6.1.1 Persepsi masyarakat terhadap citra Koridor Jalan M.H. Thamrin A. Citra visual Koridor Jalan M.H. Thamrin
Citra visual koridor Jalan M.H. Thamrin berdasarkan analisis elemen pembentuk citra kota Lynch (1960), didominasi oleh gambaran/kesan/citra Bundaran Hotel Indonesia sebagai node yang kuat. Landmark dengan radius jangkauan yang luas menambah kesan citra yang kuat dengan didukung oleh batasan kawasan yang jelas. Jalur jalan yang luas dan jumlah landmark yang cukup banyak didominasi oleh gedung di sepanjang jalan menandakan koridor ini
186 memiliki kesan keterbukaan dengan jajaran gedung yang menjadi simbol modernitas, pusat ibukota DKI Jakarta.
Koridor Jalan M.H. Thamrin memiliki citra yang kuat yang mengidentifikasian tingkat orientasi masyarakat di dalam koridor sangat tinggi sehingga kemungkinan seseorang akan tersesat didalamnya sangat kecil. Penggambaran peta mental mengalami empat fase yaitu fase mengidentifikasi elemen fisik, fase mengidentifikasi rute perjalanan, fase menggabungkan rute dan tugu/penanda dalam satu jaringan jalan, dan yang terakhir fase representasonal dimana masyarakat dapat menangkap keseluruhan gambaran mental Jalan M.H. Thamrin yang membentuk suatu pola tertentu dalam struktur ruang wilayah yang lebih luas.
B. Citra kegiatan Koridor Jalan M.H. Thamrin
Citra kegiatan Koridor Jalan M.H. Thamrin berdasarkan persepsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh motivasi/kepentingan yang dilakukan oleh masyarakat dalam hal ini responden penelitian. Masyarakat yang bekerja dan melintas menilai koridor Jalan M.H. Thamrin merupakan pusat bisnis dengan kemudahan akses, sedangkan masyarakat yang berwisata menilai Koridor Jalan M.H. Thamrin yang mempunyai fungsi sebagai pusat bisnis menunjang kegiatan wisata dengan penyediaan akses (bus wisata), akomodasi (hotel), serta atraksi (event car free day, wisata belanja, dan wisata sight seeing). Maka berdasarkan dua citra yang ditangkap oleh masyarakat tersebut dirumuskan citra kegiatan Koridor Jalan M.H. Thamrin sebagai pusat bisnis yang menunjang wisata modern. Penelitian ini menemukan adanya elemen-elemen fisik di lapangan yang secara kuat mempengaruhi pembentukan citra koridor Jalan M.H. Thamrin menurut persepsi masyarakat. Elemen-elemen tersebut adalah kompleksitas bangunan, guna lahan, penanda, dan preservasi. Selain itu, berdasarkan gambar denah Jalan M.H. Thamrin yang digambarkan oleh responden dapat diketahui adanya perbedaan deliniasi ruang koridor Jalan M.H. Thamrin menurut masyarakat dengan kondisi nyata di lapangan. Masyarakat mendeliniasi Jalan M.H. Thamrin tidak pada keseluruhan koridor tetapi hanya dari Bundaran Air Mancur Bank Indonesia hingga Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel
187 Indonesia. Oleh karena itu, citra Jalan M.H. Thamrin sebagai pusat bisnis yang menunjang wisata modern hanya berlaku untuk penggal Jalan M.H.Thamrin dari Air Mancur Bank Indonesia hingga Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia.
6.1.2 Citra Koridor Jalan M.H. Thamrin berdasarkan elemen visual pembentuk citra
Koridor Jalan M.H. Thamrin mempunyai 8 elemen visual pembentuk citra diantaranya adalah guna lahan, kompleksitas bangunan, jalur pedestrian, penanda, ruang terbuka, sirkulasi dan parkir, aktivitas pendukung, dan preservasi. Berlandarkan pada teori Redstone (1976), Koridor Jalan M.H. Thamrin dapat digolongkan sebagai koridor dengan citra pusat bisnis. Hal ini dikarenakan Koridor Jalan M.H. Thamrin memenuhi indikator pembentukan citra pusat bisnis. Namun demikian, apabila ditinjau secara mikro koridor atau dalam skala penggal jalan, maka masing penggal jalan memiliki citra dan karakter masing-masing. Berikut ini adalah kesimpulan citra koridor Jalan M.H. Thamrin berdasarkan elemen visual pembentuk citra yang dirangkum dalam setiap penggal jalan :
PENGGAL 2
PENGGAL 3
PENGGAL 1
PENGGAL 4
CITRA TIAP PENGGAL JALAN KORIDOR JALAN M.H. THAMRIN BERDASARKAN KATEGORISASI ELEMEN-ELEMEN PEMBENTUK
GUNA LAHAN
Jl. Medan Merdeka Selatan perkantoran pemerintahan perbankan 2 perkantoran pemerintahan perbankan perhotelan perbelanjaan 3 perkantoran rumah tinggal perhotelan mix used 5 perkantoran pemerintahan perbankan perhotelan perbelanjaan mix used 5 KORIDOR JALAN M.H. THAMRINJalan K.H. Wahid Hasyim Jalan K.H. Wahid Hasyim
Jalan Sunda
Jalan Budi Kamulyaan Jl. Medan Merdeka Selatan
Jalan Kebon
Jalan Kebon Sirih Sirih
Jalan Sultan Syahrir Jalan Prof. Moh.
Yamin Jalan Imam Bonjol
Jalan Sumerep Jalan Pamekasan Jalan Purworwjo Jalan Blora Jalan Jalan Sudirman Jalan Teluk Betung Jalan Jalan Teluk Jalan Kebon Kacang Raya
Kendal
Jalan Blora
Betung
Baturaja
Jalan Kampung Lima
8
3
Jalan M.M Barat Jalan M.M BaratORIENTASI
BANGUNAN
BANGUNAN MENGHADAP TUGU SELAMAT DATANG
Pusat Orientasi Arah Orientasi KEMENTRIAN AGAMA RI
KOMPLEKSITAS
BANGUNAN
PI KEMENTRIAN AGAMA KEDUBES JEPANGKARAKTER DAN CITRA
PENGGAL JALAN
CITRA KORIDOR
JALAN M.H. THAMRIN
Berdasarkan teori Redstone (1976), dapat disimpulkan :
Koridor Jalan M.H. Thamrin Mempunyai Citra Sebagai Kawasan Pusat Bisnis.
Karena :
Mempunyai jalur pedestrian malls, bangunan mega struktur,
jalur-jalur pedestran sebagai penghubung antar massa atau kegiatan, sedang dalam tahap
pembangunan MRT, terdapat GI, PI, dan Sarinah sebagai plasa aktif dengan berbagai kegiatan (istirahat, festival, dan pakeran) bersifat mengundang sebagai magnet kawasan pusat bisnis, mempunyai Patung Jam
dan Patung Selamat Datang sebagai furniture yang khas, terhubung dengan kawasan-kawasan penting di Jakarta
karena merupakan Jalan protokol, serta mempunyai sistem pergerakan manusia dan
Kendaraan yang nyaman Penggal 1 Koridor Jalan M.H. Thamrin
mempunyai citra sebagai jalan yang mengalami transformasi spasial guna lahan dari Kawasan Pemerintahan di Medan Merdeka menuju ke kawasan pusat bisnis dengan ditandai adanya guna lahan
perkantoran. Adanya vegetasi berupa pohon kelapa mengarahkan orang yang melintas ke arah Air Mancur BI, Bunderan HI, maupun Bank Indonesia sebagai landmark penggal jalan ini
Penggal 2 Koridor Jalan M.H. Thamrin mempunyai mempunyai karakter pedestrian jalan yang lebar dan vegetasi dengan tajuk yang tidak transparan. Guna lahan dipenggal jalan ini sangat mix used, dapat ditemukan bangunan perkantoran, pemerintahan, perhotelan, dan komersial dengan ketinggian lebih dari 15 lantai. Oleh karena itu, penggal jalan ini memiliki derajat keterlingkupan bangunan yang tinggi, dan menggambarkan modernitas DKI Jakarta
Penggal 3 Koridor Jalan M.H. Thamrin adalah penggal jalan yang mempunyai citra paling kuat sebagai penggal pusat bisnis Thamrin. Hal ini ditandai dengan adanya Bundaran Hotel Indonesia sebagai node yang sangat kuat. Bangunan-bangunan
mempunyai orientasi terarahmenghadap ke Bundaran HI yang ditengahnya terdapat Tugu selamat datang yang menjadi landmark sekaligus bangunan preservasi berdasarkan sejarahnya. Selain itu, penggal jalan ini juga mempunyai landmark lain yang sangan
iconik , diantaranya adalah Sarinah, HI, GI,
dan PI. Pedestrian jalan yang lebar serta vegetasi yang mempunyai karakter sebagai penghias semakin menambah karakter visual penggal jalan ini menarik.
Penggal 4 Koridor Jalan M.H. Thamrin kurang mempunyai keutuhan apabila disejajarkan dengan penggal jalan yang lain. Pada bagian utara penggal jalan ini, kesan keterbukaan ruang sangat tinggi, akibatnya citra yang mendominasi adalah jalan protokol yang menghubungkan antara Tahamrin dengan Sudirman. Karakter fisik pembentuk citra yang sangatmendominasi penggal jalan ini adalah karater sirkulasi. Hal tersebut juga menjadi alasan pemilihan vegetasi di dalam pot yang cenderung memberikan keamanan pejalan kaki dari bahaya lalu lintas
kendaraan. Pedestrian di penggal jalan ini juga lebih sempit dibandingkan penggal jalan yang lain karena disepanjang jalan tidak terdapat jajaran gedung. Keberadaan rumah tinggal di penggal jalan ini juga semakin mengaburkan citra bisnis di penggal jalan ini
PRESERVASI BANK INDONESIA
JALUR PEDESTRIAN JALUR PEDESTRIAN JALUR PEDESTRIAN JALUR PEDESTRIAN PRESERVASI SARINAH
PRESERVASI DJAKARTA THEATRE
PRESERVASI HOTEL INDONESIA PRESERVASI PATUNG SELAMAT DATANG 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 Arah Sirkulasi Arah Sirkulasi Pohon Besar Pohon Besar Pohon Besar Pohon Besar Pohon Hias Pohon Hias Pohon Kecil Pohon Kecil
Pohon Dalam Pot
Pohon Dalam Pot Pohon Kecil
PRESERVASI BANK INDONESIA JALUR PEDESTRIAN JALUR PEDESTRIAN JALUR PEDESTRIAN JALUR PEDESTRIAN PRESERVASI SARINAH
PRESERVASI DJAKARTA THEATRE
PRESERVASI HOTEL INDONESIA PRESERVASI PATUNG SELAMAT DATANG 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1
Arah Sirkulasi Arah Sirkulasi Pohon Besar Pohon Besar Pohon Besar Pohon Besar Pohon Hias Pohon Hias Pohon Kecil Pohon Kecil
Pohon Dalam Pot
Pohon Dalam Pot Pohon Kecil
Berdasarkan teori Redstone (1976), dapat disimpulkan :
Koridor Jalan M.H. Thamrin Mempunyai Citra Sebagai Kawasan Pusat Bisnis.
Karena :
Mempunyai jalur pedestrian malls, bangunan mega struktur,
jalur-jalur pedestran sebagai penghubung antar massa atau
kegiatan, sedang dalam tahap pembangunan MRT, terdapat
GI, PI, dan Sarinah sebagai plasa aktif dengan berbagai kegiatan (istirahat, festival, dan pakeran) bersifat mengundang sebagai magnet kawasan pusat bisnis, mempunyai Patung Jam
dan Patung Selamat Datang sebagai furniture yang khas, terhubung dengan
kawasan-kawasan penting di Jakarta karena merupakan Jalan protokol, serta mempunyai sistem pergerakan manusia dan
Kendaraan yang nyaman
Penggal 1 Koridor Jalan M.H. Thamrin mempunyai citra sebagai jalan yang mengalami transformasi spasial guna lahan dari Kawasan Pemerintahan di Medan Merdeka menuju ke kawasan pusat bisnis dengan ditandai adanya guna lahan
perkantoran. Adanya vegetasi berupa pohon kelapa mengarahkan orang yang melintas ke arah Air Mancur BI, Bunderan HI, maupun Bank Indonesia sebagai landmark penggal jalan ini
Penggal 2 Koridor Jalan M.H. Thamrin mempunyai mempunyai karakter pedestrian jalan yang lebar dan vegetasi dengan tajuk yang tidak transparan. Guna lahan dipenggal jalan ini sangat mix used, dapat ditemukan bangunan perkantoran, pemerintahan, perhotelan, dan komersial dengan ketinggian lebih dari 15 lantai. Oleh karena itu, penggal jalan ini memiliki derajat keterlingkupan bangunan yang tinggi, dan menggambarkan modernitas DKI Jakarta
Penggal 3 Koridor Jalan M.H. Thamrin adalah penggal jalan yang mempunyai citra paling kuat sebagai penggal pusat bisnis Thamrin. Hal ini ditandai dengan adanya Bundaran Hotel Indonesia sebagai node yang sangat kuat. Bangunan-bangunan
mempunyai orientasi terarahmenghadap ke Bundaran HI yang ditengahnya terdapat Tugu selamat datang yang menjadi landmark sekaligus bangunan preservasi berdasarkan sejarahnya. Selain itu, penggal jalan ini juga mempunyai landmark lain yang sangan
iconik , diantaranya adalah Sarinah, HI, GI,
dan PI. Pedestrian jalan yang lebar serta vegetasi yang mempunyai karakter sebagai penghias semakin menambah karakter visual penggal jalan ini menarik.
Penggal 4 Koridor Jalan M.H. Thamrin kurang mempunyai keutuhan apabila disejajarkan dengan penggal jalan yang lain. Pada bagian utara penggal jalan ini, kesan keterbukaan ruang sangat tinggi, akibatnya citra yang mendominasi adalah jalan protokol yang menghubungkan antara Tahamrin dengan Sudirman. Karakter fisik pembentuk citra yang sangatmendominasi penggal jalan ini adalah karater sirkulasi. Hal tersebut juga menjadi alasan pemilihan vegetasi di dalam pot yang cenderung memberikan keamanan pejalan kaki dari bahaya lalu lintas
kendaraan. Pedestrian di penggal jalan ini juga lebih sempit dibandingkan penggal jalan yang lain karena disepanjang jalan tidak terdapat jajaran gedung. Keberadaan rumah tinggal di penggal jalan ini juga semakin mengaburkan citra bisnis di penggal jalan ini
Gambar 48 Citra Tiap Penggal Jalan M.H. Thamrin Sumber: Analisis Penulis, 2015
189 6.1.3 Kesesuaian citra yang terbentuk dengan kebijakan tata ruang DKI Jakarta
Elemen fisik pembentuk citra Koridor Jalan M.H. Thamrin terdiri dari delapan elemen diantaranya adalah guna lahan, kompleksitas bangunan, jalur pedestrian, penanda, ruang terbuka, sirkulasi dan parkir, aktivitas pendukung, dan preservasi. Jalan M.H. Thamrin tidak memenuhi kriteria pembentukan citra wisata yang direncanakan oleh pemerintah dimana mayoritas elemen masih memiliki kategori kurang sesuai dan tidak sesuai. Elemen-elemen yang membutuhkan penanganan tersebut diantaranya adalah penanda, vegetasi, preservasi, aktivitas pendukung, dan guna lahan. Ketiadaan penanda wisata di jalan ini serta tata guna lahan perkantoran yang lebih dominan menjadikan image Koridor Jalan M.H. Thamrin masih kental dengan citra sebagai pusat bisnis.
6.1.4 Keberhasilan Pembentukan Citra
Keberhasilan pembentukan citra di Koridor Jalan M.H. Thamrin ditentukan oleh 3 faktor utama yaitu kebijakan yang ditetapkan pemerintah, implementasi kebijakan di lapangan, dan persepsi masyarakat terhadap elemen-elemen fisik di lapangan yang merupakan implementasi kebijakan. Pembentukan citra Koridor Jalan M.H. Thamrin sebagai koridor wisata dinilai masih belum berhasil. Hal ini dikarenakan, pemerintah merencanakan citra wisata yang memasukkan fungsi pusat bisnis sebagai salah satu objek wisata sight seeing, elemen fisik pembentuk citra di lapangan menunjukkan terbentuknya citra pusat bisnis dan baru dalam tahapan awal pengimplementasian elemen fisik penunjang wisata, sementara masyarakat menangkap citra pusat bisnis yang menunjang wisata modern. Selain itu, citra Jalan M.H. Thamrin sebagai pusat bisnis hanya berhasil dibentuk pada penggal jalan 1-3 yaitu ruas jalan dari Bundaran Air Mancur Bank Indonesia sampai Bundaran Hotel Indonesia.
Maka, berdasarkan hasil penelitian Citra Koridor Jalan M.H. Thamrin didapatkan beberapa temuan penting yang dapat membantu perencana dalam merencanakan citra suatu tempat. Temuan temuan tersebut diantaranya adalah fase pembentukan peta mental dan prioritas elemen-elemen pembentuk citra dalam upaya perencanaan citra sebagai berikut :
190 6.1.5 Fase penggambaran peta mental
Fase pertama dalam pembentukan peta mental adalah fase identifikasi, dimana masyarakat mengidentifikasi batasan ruang jalan koridor dengan menandai node yang terletak wilayah terluar koridor untuk. Fase kedua adalah mengidentifikasi rute atau arah perjalanan yang sering di pakai/dilewati. Fase yang ketiga adalah menggabungkan node dan rute jalan yang sering dipakai kedalam satu jaringan jalan. Kemudian, fase yang terakhir adalah fase representasional, dimana masyarakat dapat menangkap keseluruhan gambaran mental koridor yang membentuk pola dalam struktur ruang wilayah.
6.1.6. Prioritas perencanaan elemen pembentuk citra
Prioritas elemen-elemen pembentuk citra yang harus direncanakan oleh perencana kota dalam merencanakan citra koridor didapatkan berdasarkan analisis dan dialog data peta mental, persepsi masyarakat, dan kondisi di lapangan elemen-elemen pembentuk citra Jalan M.H. Thamrin, nomor yang paling kecil mencerminkan prioritas yang paling tinggi (elemen yang harus direncanakan pada tahap awal pembentukan citra koridor).
Tabel 28 Prioritas Elemen Pembentuk Citra dalam Proses Perencanaan
TEORI Shirvani (1985) Lynch (1960) Alexander (1977) Smardon (1986) Temuan Prioritas Elemen Pembentuk Citra E le m en P em be n tuk C it ra Guna Lahan Kawasan (District) Pola Arsitektural (Number of Stories) Kompleksitas Bangunan -
(5)Guna Lahan
Bentuk dan Masa Bangunan Pola Arsitektur Derajat Keterlingkupan(6)Kompleksitas
Bangunan Jalur Pedestrian Jalur Jalan Pedestrian Jalan(3)Jalur Pedestrian
Sirkulasi dan Parkir Sirkulasi dan Parkir(2)Sirkulasi dan
ParkirPenanda Tetenger(Landmark) BangunanUtama -
(4)
PenandaRuang Terbuka
Simpul
(Node) Family of
Entrance Vegetasi jalan
(1)
Ruang Terbuka- Batas (Edge)
-Preservasi - - -
(8)
PreservasiAktivitas
Pendukung - - Pola Aktivitas
(7)
AktivitasPendukung
191
6.2 Saran
6.2.1 Saran untuk pemerintah
Pemerintah merupakan sektor publik yang mempunyai peran utama dalam poliltik perancangan kota. Hal ini dikarenakan pemerintah merupakan wakil dari masyarakat yang memiliki pandangan terhadap kota secara luas dan umum. Dalam membangun citra Koridor Jalan M.H. Thamrin sebagai koridor wisata bertaraf internasional, pemerintah harus memperhitungkan potensi pihak swasta untuk membentuk lingkungan wisata yang kondusif, menarik (menguntungkan dan bernilai ekonomi) bagi pihak swasta tetapi sesuai dengan rencana pemerintah (RDTR DKI Jakarta). Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya beberapa elemen yang tidak mendukung pembentukan citra koridor wisata. Elemen-elemen tersebut harus mendapat penanganan yang lebih agar citra yang direncanakan dapat terbentuk. Berikut adalah beberapa elemen pembentuk citra yang perlu mendapat penanganan lebih oleh pemerintah:
Tabel 29 Prioritas Penanganan Elemen Pembentuk Citra Jalan M.H. Thamin
Elemen Pembentuk Citra Prioritas Penanganan
Penanda 1 (perlu penanganan karena tidak sesuai) Vegetasi (Ruang Terbuka) 1 (perlu penanganan karena tidak sesuai) Preservasi 2 (perlu penanganan karena kurang sesuai) Aktivitas Pendukung 2 (perlu penanganan karena kurang sesuai) Guna Lahan 2 (perlu penanganan karena kurang sesuai) Sirkulasi dan Parkir 3 (sudah sesuai perlu ditingkatkan kualitasnya) Jalur Pedestrian 3 (sudah sesuai perlu ditingkatkan kualitasnya) Kompleksitas Bangunan 3 (sudah sesuai perlu ditingkatkan kualitasnya)
Sumber : Analisis Penulis, 2015
Salah satu elemen yang keberadaannya sangat mempengaruhi keberhasilan pembentukan citra Koridor Jalan M.H. Thamrin sebagai koridor wisata adalah penanda. Ketiadaan penanda wisata di Jalan M.H. Thamrin sangat mempengaruhi persepsi masyarakat baik yang sedang bekerja, melintas, maupun berwisata. Masyarakat telah menangkap fungsi wisatadi koridor jalan ini tetapi tidak
192 mengidentifikasikan Koridor Jalan M.H.Thamrin sebagai koridor wisata karena tidak ada penanda yang menunjukkan koridor jalan ini sebagai koridor wisata. Selain itu, ketiadaan penanda wisata juga mengakibatkan keberadaan bangunan preservasi menjadi tersamarkan. Oleh karena itu, pemerintah harus menyadiakan penanda wisata di koridor jalan ini. Peneliti mengusulkan adanya penanda wisata pada papan reklame elektronik yang terdapat di dinding-dinding pusat perbelanjaan, papan penanda bangunan bersejarah/bangunan cagar budaya pada gedung Hotel Indonesia, Sarinah, Djakarta Theatre, dan Gedung Bank Indonesia, serta peta wisata Koridor Jalan M.H. Thamrin yang terdiri dari wisata sight seeing (koridor pusat bisnis Indonesia), wisata event, wisata belanja, dan wisata bangunan bersejarah yang dapat diletakkan di halte pemberhentian bus Jakarta City Tour. Penanda-penanda bangunan cagar budaya tersebut dibentuk secara menarik dan disertai dengan sejarah bangunan.
Perletakan patung Muhammad Husni Thamrin yang justru terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan juga dirasa tidak tepat. Adanya patung tersebut bisa memperkuat image wisata di Koridor Jalan M.H. Thamrin apabila perletakannya tepat di salah satu penggal Jalan M.H. Thamrin karena merupakan salah satu bentuk penciptaan atraksi wisata melalui penambahan landmark. Oleh karena itu, peneliti mengusulkan pemindahan patung Muhammad Husni Thamrin. Penambahan tempat-tempat wisata juga dapat diwujudkan melalui penciptaan pocket park atau taman pada kapling bangunan yang berdekatan dengan jalur pedestrian. Namun demikian penciptaan taman ini harus melalui intervensi pemerintah melalui peraturan yang tegas mengingat harga lahan tinggi dan kepemilikannya ada di pihak swasta.
Saran yang keempat bagi pemerintah adalah peninjauan kebijakan pengoperasian bus wisata. Pengoperasian bus wisata pada hari libur hanya dapat menaik turunkan penumpang di satu halte yang sama. Kebijakan ini kurang mendukung minat wisatawan yang ingin berhenti di suatu tempat untuk melihat sekelilingmya lebih detail sebelum melanjutkan perjalanan wisatanya. Jumlah armada bus wisata keliling juga dirasa masih kurang. Saat ini bus wisata keliling yang beroperasi berjumlah 5 armada, dengan jumlah tersebut waktu tunggu
193 wisatawan untuk menaiki bus ini sekitar 15-30 menit. Seharusnya dengan penambahan armada waktu tunggu wisatawan dapat diminimalisir sehingga kepuasan wisatawan dalam mengakses fasilitas wisata semakin tinggi.
Penciptaan event-event penunjang wisata juga dapat menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendukung peningkatan atraksi wisata di sepanjang Koridor Jalan M.H. Thamrin. Salah satu event yang telah suskes mendukung aktivitas wisata adalah car free day. Pemerintah disarankan lebih membuka akses masyarakat menuju car free day di Jalan Thamrin dengan mengoperasikan busway Koridor Ragunan-Monas dan Koridor Pulo Gadung-Blok M, mengingat saat ini hanya busway Koridor I (Blok M-Kota) yang beroperasi pada saat car free day berlangsung. Selain itu juga terdapat konsep penciptaan atraksi wisata yang dapat diterapkan di Air Mancur Bundaran Hotel Indonesia mengingat air mancur ini merupakan pusat orientasi seluruh bangunan. Konsepnya adalah dengan membuat air mancur Bundaran Hotel Indonesia mengeluarkan nada sesuai pancuran airnya.
6.2.2 Saran untuk arsitek dan perencana kota sebagai akademisi
Pada sepanjang sisi jalan Koridor Jalan M.H. Thamrin masih dapat ditemui lahan-lahan kosong yang suatu saat nanti akan dibangun. Bangunan-bangunan yang akan dibangun tersebut diharapkan dapat mendukung citra Koridor Jalan M.H. Thamrin melalui kesesuaian guna lahan, dan kompleksitas bangunan (sesuai arahan RDTR DKI Jakarta). Sebagai upaya untuk menonjolkan citra wisata Jalan M.H. Thamrin, bangunan yang akan dibangun dapat didesain dengan bentuk karakter atap bangunan yang unik sehingga dapat menjadi landmark baru di Jalan M.H. Thamrin yang sekaligus menambeh keragaman wisata sight seeing berupa keragaman arsitektur bangunan di Jalan M.H. Thamrin. Penerapan kebijakan pembangunan MRT yang melewati Jalan M.H. Thamrin tentunya juga berpengaruh terhadap setting ruang dan aktivitas di sepanjang jalan. Selain itu, kebijakan larangan melintas bagi kendaraan roda dua juga menimbulkan dampak lain seperti ketidaksesuaian penggunaan pedestrian jalan serta memicu munculnya tempat park and ride. Perencana kota sebaiknya mulai memperkirakan kondisi-kondisi sejenis ini sebagai faktor x yang sangat
194 mempengaruhi pembentukan citra, pemanfaatan ruang, serta aktivitas yang terbentuk. Selain itu, evaluasi terhadap pelaksanaan suatu kegiatan diharapkan berlangsung secara berkala agar efektivitas kebijakan dapat dirasakan secara menerus dalam konteks positif mendukung kesejahteraan masyarakat.
6.2.3 Saran untuk penelitian selanjutnya
Keberhasilan pembentukan citra koridor Jalan M.H. Thamrin sangat dipengaruhi oleh peran pemerintah dalam membuat arahan kebijakan, implementasi kebijakan di lapangan, serta persepsi masyarakat terhadap elemen fisik di Jalan M.H. Thamrin. Dalam penelitian ini tidak diketahui seberapa besar pengaruh ketiga faktor tersebut. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan penelitian selanjutnya untuk dapat merumuskan seberapa besar pengaruh masing-masing faktor terhadap keberhasilan pembentukan citra suatu tempat. Selain itu, peneliti juga mengindikasikan adanya potensi integrasi yang saling melengkapi antara Koridor Jalan Medan Merdeka Barat, Koridor Jalan M.H. Thamrin, dan Koridor Jalan Jendral Sudirman. Namun demikian, masih perlu diadakan kajian lanjutan untuk membuktikan hipotesis diatas.