• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Ekskursi Lapangan Geotermal Kam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Ekskursi Lapangan Geotermal Kam"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN EKSKURSI

LAPORAN EKSKURSI

LAPANGAN GEOTERMAL KAMOJANG

LAPANGAN GEOTERMAL KAMOJANG

Oleh:

Oleh:

Extivonus Kiki Fransiskus

Extivonus Kiki Fransiskus

12012060

12012060

Makalah

Makalah ini adalah makalah referat yang bini adalah makalah referat yang bertujuan untuk memenuhi ertujuan untuk memenuhi tugas laporan ekskursitugas laporan ekskursi mata kuliah

mata kuliah

Eksplorasi dan Evaluasi Panasbumi TA4010 Eksplorasi dan Evaluasi Panasbumi TA4010

PROGRAM STUDI TEKNIK P

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

ERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2015

2015

(2)

KATA PENGANTAR  KATA PENGANTAR 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus,

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus, karena berkat karuniaNyakarena berkat karuniaNya  penulis dapat menyelesaikan laporan ekskursi kuliah lapangan Kam

 penulis dapat menyelesaikan laporan ekskursi kuliah lapangan Kamojang. Laporan ini disusunojang. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Eksplorasi dan Evaluasi Panasbumi TA4011. Selain itu untuk memenuhi tugas mata kuliah Eksplorasi dan Evaluasi Panasbumi TA4011. Selain itu laporan ini disusun berdasarkan keingintahuan penulis akan topik mineral ubahan dan juga laporan ini disusun berdasarkan keingintahuan penulis akan topik mineral ubahan dan juga  berdasarkan minat serta ketertarikan penulis pada bidang geotermal.

 berdasarkan minat serta ketertarikan penulis pada bidang geotermal. Dalam penulisan makalah referat ini

Dalam penulisan makalah referat ini  penulis  penulis banyak banyak sekali sekali menerima menerima bantuan bantuan daridari  berbagai

 berbagai pihak. pihak. Pada Pada kesempatan kesempatan ini ini penulis penulis ingin ingin mengucapkan tmengucapkan terima erima kasih kasih yang syang sebesar- ebesar- besarnya kepada :

 besarnya kepada : 1.

1. Tuhan Yesus, atas limpahan kasih dan karunia-Nya,Tuhan Yesus, atas limpahan kasih dan karunia-Nya, 2.

2. Rekan-rekan seperjuangan Eksplorasi Evaluasi Panasbumi, Opik, Mas boy,Rekan-rekan seperjuangan Eksplorasi Evaluasi Panasbumi, Opik, Mas boy, Irfan, Arij, dan Tyto.

Irfan, Arij, dan Tyto. 3.

3. Ir. Budi Sulistijo, MAppSc., Ph.DIr. Budi Sulistijo, MAppSc., Ph.D atas bantuannya dalam memberi pengetahuanatas bantuannya dalam memberi pengetahuan selama kuliah maupun di lapangan.

selama kuliah maupun di lapangan.

Penulis menyadari bahwa laporan ekskursi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena Penulis menyadari bahwa laporan ekskursi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sehingga itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sehingga laporan ini bisa disempurnakan. Akhir kata, penulis berharap laporan ini dapat memberikan laporan ini bisa disempurnakan. Akhir kata, penulis berharap laporan ini dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang geologi dan eksplorasi

sumbangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang geologi dan eksplorasi panasbumi.panasbumi. Penulis Penulis Bandung, 26 April 2015 Bandung, 26 April 2015

Extivonus Kiki Fransiskus Extivonus Kiki Fransiskus

(3)

KATA PENGANTAR  KATA PENGANTAR 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus,

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus, karena berkat karuniaNyakarena berkat karuniaNya  penulis dapat menyelesaikan laporan ekskursi kuliah lapangan Kam

 penulis dapat menyelesaikan laporan ekskursi kuliah lapangan Kamojang. Laporan ini disusunojang. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Eksplorasi dan Evaluasi Panasbumi TA4011. Selain itu untuk memenuhi tugas mata kuliah Eksplorasi dan Evaluasi Panasbumi TA4011. Selain itu laporan ini disusun berdasarkan keingintahuan penulis akan topik mineral ubahan dan juga laporan ini disusun berdasarkan keingintahuan penulis akan topik mineral ubahan dan juga  berdasarkan minat serta ketertarikan penulis pada bidang geotermal.

 berdasarkan minat serta ketertarikan penulis pada bidang geotermal. Dalam penulisan makalah referat ini

Dalam penulisan makalah referat ini  penulis  penulis banyak banyak sekali sekali menerima menerima bantuan bantuan daridari  berbagai

 berbagai pihak. pihak. Pada Pada kesempatan kesempatan ini ini penulis penulis ingin ingin mengucapkan tmengucapkan terima erima kasih kasih yang syang sebesar- ebesar- besarnya kepada :

 besarnya kepada : 1.

1. Tuhan Yesus, atas limpahan kasih dan karunia-Nya,Tuhan Yesus, atas limpahan kasih dan karunia-Nya, 2.

2. Rekan-rekan seperjuangan Eksplorasi Evaluasi Panasbumi, Opik, Mas boy,Rekan-rekan seperjuangan Eksplorasi Evaluasi Panasbumi, Opik, Mas boy, Irfan, Arij, dan Tyto.

Irfan, Arij, dan Tyto. 3.

3. Ir. Budi Sulistijo, MAppSc., Ph.DIr. Budi Sulistijo, MAppSc., Ph.D atas bantuannya dalam memberi pengetahuanatas bantuannya dalam memberi pengetahuan selama kuliah maupun di lapangan.

selama kuliah maupun di lapangan.

Penulis menyadari bahwa laporan ekskursi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena Penulis menyadari bahwa laporan ekskursi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sehingga itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sehingga laporan ini bisa disempurnakan. Akhir kata, penulis berharap laporan ini dapat memberikan laporan ini bisa disempurnakan. Akhir kata, penulis berharap laporan ini dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang geologi dan eksplorasi

sumbangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang geologi dan eksplorasi panasbumi.panasbumi. Penulis Penulis Bandung, 26 April 2015 Bandung, 26 April 2015

Extivonus Kiki Fransiskus Extivonus Kiki Fransiskus

(4)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

Lembar

Lembar Judul Judul ... Kata Pengantar Kata Pengantar ... ... ii Daftar Isi Daftar Isi ... ... iiii BAB I. PENDAHULUAN BAB I. PENDAHULUAN 1.1

1.1 Latar BLatar Beakang eakang ... ... 11 1.2

1.2 Rumusan MRumusan Masalah asalah ... ... 22 1.3

1.3 Ruang LRuang Lingkup ingkup Kajian Kajian ... .. 22 1.4

1.4 Tujuan Tujuan ... ... 22 1.5

1.5 Metode PengumMetode Pengumpulan Data pulan Data ... ... 33 1.6

1.6 Sistematika Sistematika Penulisan Penulisan ... ... 33 BAB II. GEOLOGI REGIONAL

BAB II. GEOLOGI REGIONAL 2.1

2.1 Fisiografi Fisiografi Daerah Daerah Penelitian...Penelitian... ... 44 2.2 Tatanan

2.2 Tatanan Tektonik Daerah Tektonik Daerah Penelitian Penelitian ... .... 44 2.3 Tatanan

2.3 Tatanan Stratigrafi Daerah Penelitian Stratigrafi Daerah Penelitian ... . 66 BAB III. LANDASAN TEORI

BAB III. LANDASAN TEORI 3.1

3.1 Sistem Panasbumi Sistem Panasbumi ... ... 99 3.2 Fluida Pan

(5)

BAB IV. PEMBAHASAN

4.1 Analisis Berdasarkan Litologi ... 19 4.2 Analisis Manifestasi Panasbumi` ... 21 BAB V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan ... 31 Daftar Pustaka ... 32

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejalan dengan perkembangan zaman kebutuhan masyarakat akan energi akan semakin meningkat. Taraf hidup yang meningkat diiringi dengan pertumbuhan penduduk mengakibatkan setiap tahunnya pemerintah menggelontorkan triliyunan APBN guna subsidi energi. Hal ini tidak diimbangi dengan pemasukan negara baik dari sektor migas dan pertambangan, terutama pada sektor migas sebagai komponen energi dominan Indonesia.

Posisi geologi Indonesia inilah membuat Indonesia mendapat sebutan  Ring of  Fire  akibat letak gunung apinya yang membentang sepanjang jalur pegunungan Sirkum

Pasifik. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri untuk Indonesia. Aktivitas magmatik yang tinggi juga menghasilkan zona mineralisasi di beberapa wilayah. Selain itu potensi sumber daya panas bumi yang besar dan didukung oleh kondisi iklim tropis yang memiliki curah hujan tinggi, menjadikan potensi panas bumi Indonesia cukup tinggi untuk dilakukan  pengembangan.

(7)

Geothermal Energy Kamojang sekitar 1100 ton/jam yang dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik sebesar 140 Mwe. Pemboran sumur panasbumi pada area Kamojang  pertama kali dilakukan pada tahun 1975 oleh pemerintah Selandia Baru, dan sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh PT.Pertamina Geothermal Energy Kamojang secara komersial sebagai penghasil energi uap. Jumlah cadangan diperkirakan dapat dimanfaatkan selama 25 tahun sejak tahun 1975, namun hingga saat ini pada tahun 2015 energi panasbumi di area Kamojang masih menyisakan sumber panas dan dapat dimanfaatkan sebagai penghasil energi panasbumi

Potensi panas bumi Indonesia yang besar harus didukung oleh upaya eksplorasi yang berkelanjutan. Dari upaya eksplorasi tersebut naninya dapat tercita lapangan-lapangan  panasbumi baru yang potensial dan ekonomis untuk dikembangkan. Salah satu metode  paling sederhana adalah dengan analisis geokimia dan pemetaan manifestasi panasbumi. Analisis geokimia yang digunakan dapat berupa geokimia air, geokimia gas, maupun geokimia soil. Analisis dan pemetaan manifestasi juga penting untuk mengetahui sebaran manifestasi panas bumi dan informasi yang terkandung dalam manifestasi tersebut untuk  pencarian reservoir panas bumi.

2.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, muncul  persoalan yaitu,

1. Apakah karakteristik geokimia dari lapangan panas bumi Kamojang?

2. Bagaimana aplikasi geokimia dan pemetaan daerah manifestasi lapangan panas  bumi Kamojang?

3.1 Ruang Lingkup Kajian

Kajian yang akan dibahas untuk menjawab rumusan masalah pada makalah ini melingkupi penjelasan mengenai geologi regional daerah Kamojang, prinsip kerja geokimia fluida, prosedur pengukuran dan pengolahan data, dan karakteristik lapangan  panas bumi Kamojang.

4.1 Tujuan

(8)

2. Memahami aplikasi geokimia dan pemetaan daerah manifestasi lapangan  panas bumi Kamojang?

5.1 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan untuk menyusun makalah ini adalah metode studi literatur, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari berbagai sumber tertulis. Selain itu penulis juga menggunakan data-data yang diperoleh melalui observasi dan akuisisi data di lapangan.

6.1 Sistematika Penulisan

Penulisan makalah ini terbagi menjadi lima bab dengan pembahasan seperti berikut : BAB I Bab ini menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, ruang lingkup

kajian, tujuan, metode pengumpulan data, dan sistematika pembahasan.

BAB II Bab ini memaparkan fisiografi daerah penelitian, tatanan tektonik daerah  penelitian, dan tatanan stratigrafi daerah penelitian

BAB II Bab ini menjelaskantentang sistem panasbumi, fluida panasbumi, dan manifestasi panasbumi di permukaan

BAB IV Bab ini merupakan analisis dan pembahasan terhadap data- data dan hasil  penelitian.

(9)

4

BAB II

GEOLOGI REGIONAL

2.1 Fisiografi Daerah Penelitian

Lokasi daerah penelitian terletak pada daerah Lapangan Panasbumi Kamojang di Desa Laksana dan sekitarnya yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat. Secara geografis, lapangan Kamojang terletak pada  posisi 1070 37,5’00” sampai 107 0 48’00” BT dan 70 5,5’00” sampai 70 16,5’00” LS. Lapangan  panasbumi Kamojang berada dalam wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lapangan ini  berjarak 17 km Baratlaut Garut atau pm 42 km Tenggara Bandung, dan berada pada ketinggian

1640 - 1750 m diatas permukaan laut.

2.2 Tatanan Tektonik Daerah Penelitian

Berdasarkan zona fisiografi oleh Van Bemmelen, 1949 maka Jawa ba rat terbagi menjadi 4 fisiografi yaitu, Zona Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, dan Zona Pegunungan Selatan. Daerah penelitian masuk kedalam zona fisiografi Zona Bandung bagian selatan yang dicirikan dengan adanya barisan gunungapi berumur Kuarter. Kamojang sendiri terletak pada

(10)

kelompok Garut (Garut section), dan merupakan bagian dari barisan gunungapi pemisah Garut dan dataran tinggi Bandung.

Pola struktur pada yang terdapat di Pulau Jawa menurut Pulunggono dan Martodjojo tahun 1994, terdiri dari tiga pola kelurusan yaitu Pola Meratus, Pola Sunda, dan Pola Jawa. Daerah  penelitian berdasarkan polaumum yang terlihat memperlihatkan Pola Jawa yang memiliki pola

yang berarah relatif Barat-Timur yang berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal.

Berdasarkan peta geologi Kamojang, serta tambahan peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa Barat oleh Alzwar dkk., 1992, sesar yang umum dijumpai pada daerah ini adalah sesar normal dan sesar geser. Sesar normal utama merupakan bagian unsur pembentukan depresi (Zona Bandung). Sesar yang berkembang saat Kuarter umumnya sebagai pengontrol tumbuhnya gunungapi muda, terutama sistem yang berarah ba rat daya- timurlaut yang memotong  bagian tengah dari daerah penelitian dan ditempati jajaran gunungapi, antara

Kendang-Pangkalan-Guntur-Mandalawangi.

Aktivitas tektonik pada daerah penelitian pada Zaman Tersier dipengaruhi oleh penujaman Lempeng Samudra Hindia ke bawah Lempeng Asia. Penujaman ini terbentuk pada Oligosen Akhir- Miosen Awal/Tengah dan menghasilkan kegiatan gunungapi yang tersusun atas andesit.

(11)

6

2.3 Tatanan Stratigrafi Daerah Penelitian

Daerah penelitian termasuk ke dalam area panasbumu Kamojang yang secara fisiografis  berada pada kelompok Garut seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yang terdiri dari endapan volkanik berumur Kuarter. Secara regional, tatanan stratigrafi daerah penelitian mengacu pad a peta geologi daerah Garut oleh Alzwar, dkk. Tahun 1992. Daerah yang menjadi tempat ekskursi berada  pada Satuan Gunungapi Kuarter Tua.

Satuan Gunungapi Kuarter Tua

Satuan ini terdiri dari produk gunungapi berumur Kuarter yang berasal dari beberapa sumber erupsi, yaitu Gunung Waringin-Bedil-Malabar Tua (Qwb), Guntur-Pangkalan-Kendang (Qko, Qgpk), Sangianjung (Qsu), Mandalawangi-Mandalagiri (Qmm), Malabar-Tilu (Qmt), Kancana-Huyung-Tilu (Qkl, Qhl,Qtl), Kracak-Puncakgede (Qkp), dan beberapa produk sekunder yang tak teruraikan berasal dari sumber erupsi gunungapi tua (Qopu). Produk gunungapi Kuarter tua terdiri dari produk primer berupa lava andesit (andesit piroksen, andesit hornblende) sampai  basalt, breksi tuff (dengan fragmen batuapung), tuff (tuff Kristal halus-kasar dasitan), dan produk

sekunder berupa breksi lahar ( yang mengandung batu apung dan lava andesit sampai basalt).

(12)

Keterangan Daerah Penelitian

Gambar 2.3 Peta Geologi lembar Garut dan Pameumpuek (Alzwar, dkk., 1992)

(13)

8

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Sistem Panasbumi

Penelitian tentang panas bumi di Indonesia telah dimulai sejak 150 tahun lalu oleh Junghun  pada 1854, pada penelitiannya terutama pada daerah vulkanik aktif. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Badan Survey Geologi Belanda sekitar tahun 1900 meliputi daerah di Jawa, Maluku, dan Sumatera. Penelitian berlanjut pasca kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu pada tahun 1960 dengan memetakan daerah dengan manifestasi sepanjang Jawa dan Bali dan bagian Indonesia lainnya. Total lapangan prospek panas bumi yang ditemukan mencapai 200 titik,

(14)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Sistem Panasbumi

Penelitian tentang panas bumi di Indonesia telah dimulai sejak 150 tahun lalu oleh Junghun  pada 1854, pada penelitiannya terutama pada daerah vulkanik aktif. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Badan Survey Geologi Belanda sekitar tahun 1900 meliputi daerah di Jawa, Maluku, dan Sumatera. Penelitian berlanjut pasca kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu pada tahun 1960 dengan memetakan daerah dengan manifestasi sepanjang Jawa dan Bali dan bagian Indonesia lainnya. Total lapangan prospek panas bumi yang ditemukan mencapai 200 titik,

Hampir seluruh dari prospek panas bumi Indonesia berasosiasi dengan manifestasi  permukaan yang berasal dari vulkanik kuarter aktif. Seluruh gunung api kuarter muda dapat  berasosiasi dengan magma yang membeku atau intrusi, yang menjadi sumber panas dari vulkanik aktif. Sistem panas bumi (hidotermal, ada hubungan dengan fluida) di Indonesia menurut Hochstein, 2000 terbagi menjadi 6 tipe sistem, yaitu:

1. Vapor -Dominated System  ( Sistem Panas Bumi Dominasi Uap)

Lapangan panas bumi yang memiliki sistem ini antara lain Kamojang dan Darajat. Reservoir lapangan Kamojang mencakup area seluas ± 14 km2 dengan daerah resestivitas rendah seluas 21 km2. Pemboran lapangan panas bumi ini pada tahun 1974 mencapai kedalaman 615 m, temperature maksimal saat itu adalah 239ºC, tekanan reservoir 35 bar, dengan kandungan uap berkisar 25 - 120 t/h. Lapangan Kamojang tertutupi oleh lapisan tebal yang jenuh oleh uap terkondensasi dan mengandung mineral lempung.

Prospek panas bumi dengan sistem dominasi uap yang kedua adalah Darajat. Karakteristik panas bumi pada prospek ini memiliki

(15)

10 14 km2  dengan temperature berkisar antara 243 º - 241º C dengan produksi uap kering rata-rata sebesar 81

 – 

 88 t/h. Intepretasi terkait sistem panad bumi di Darajat menunjukkan zona low-velocity tersebut menunjukkan daerah alterasi propilitik dengan cakupan wilayah 22 km2. Total heat loss dari semua manifestasi sekitar 100MW. Struktur-struknya hampir sama dengan Kamojang namun morfologi daerah Darajat lebih curam dengan akses lapangan yang sulit.

2. Vol cani c- Geotherm al System

Lapangan panas bumi yang memiliki sistem ini adalah lapangan Sikidang. Prospek Dieng-Sikidang tegolong cukup penuh resiko dengan adanya sejarah erupsi freatik dari daerah tersebut. Eksplorasi dilakukakan antara tahun 1970 hingga 1972 di kawasan gunung api kompleks Dieng yang melibatkan USGS, VSI, dan ITB dengan sokongan dana dari USAID. Dari hasil pemboran sumur  produksi yang dimulai tahun 1980-an pada areal 5 km2 dari kawah Sikidang, diketahui bahwa sumur merupakan dominasi-air pada bagian bawahnya, dengan brine terlarut (TDS antara 5-10 g/kg), kandungan boron yang tinggi ( lebih dari 10% TDS), dan perbedaan rasio Cl/B. Maksimum temperatur adalah 275º - 325ºC pada kedalaman <1500 m dan entalpi berkisar antara 1500-2600 kJ/kg, serta uap yang dihasilkan berkisar 0-90 t/h. Daerah Sikidang merupakan volkanik geothermal system dengan fluida yang tidak homogen, berasal dari uap magmatic plume.

3. Vapor L ayer System(Sistem Dominasi Uap Berlapis Dua Fasa)

Gunung Wayang dan Gunung Windu merupakan daerah panas bumi dengan sistem lapisan uap (produknya dominasi uap). Bentuk Gunung Wayang dan Gunung Windu adalah lava dome kecil yang tidak pernah mengalami erupsi. Aktivitas fumarole dengan alterasi asam ditemukan didekat Gunung Wayang, sedangkan  steam ground   ditemukan di Gunung Windu. Seluruh manifestasi tersebut berada pada luas area kurang dari 30 km2

(16)

Fase pertama eksplorasi ditemukan daerah dengan resistivity rendah yaitu ± 25 km2. Pada tahun 1991 pengeboran dengan kedalaman 1600m menghasilkan temperature 280ºC. Sumur tersebut menembus lapisan atas setebal 900 m dengan 350 m lapisan jenuh, uap mengalami kondensasi di bagian  bawah lapisan, di bagian bawahnya pada kedalaman 600 m berupa lapisan dominasi uap, akhirnya di dasar sumur terdapat lapisan jenuh fluida (20 g/kg TDS) sebagai reservoir. Pada prospek Wayang-Windu lapisan dominasi uap berada ditengah-tengah (seperti  sandwich) dengan bagian atas adalah fluida tersaturasi dan bagian bawah adalah brine yang tersaturasi.

4. Sistem Dominasi Uap Berlapis di daerah Vulkanik

Patuha merupakan prospek panas bumi yang  berasosiasi dengan (degassing) Gunung Patuha, dengan gas-gas magmatik berubah menjadi asam dan panas (Kawah Putih). Mata air panas yang asam dan netral terjadi pada sisi Gunung Patuha bersamaan dengan aktivitas fumarole kecil. Eksplorasi yang dilakukan Pertamina pada 1982-1989 dengan kedalaman 100-200 m sekitar fumarole, terlihat jenis fluida (Cl-SO4) dan pH

netral dari air bikarbonat. Daerah dengan resestivitas rendah membentang 18 km2 melingkupi Kawah Putih. Patuha memiliki sistem dominasi uap dua fasa pada reservoirnya (Lubis, 1986) yang ditusuk oleh dua cerobong vulkanik yang mengandung fluida magmatik. Model sistem memiliki kesamaan dengan sistem panas bumi volcanic (magmatic). Pengeboran pada tahun 1994 pada kedalaman 1350 m CBN-1 menghasilkan temperature dasar 235º C dengan produksi utama berupa uap.

(17)

12 5. L iqu id Domi nated System A ssociated wi th Tectoni c 

Silangkitang yang berada pada NE sesar  besar Sumatra memiliki manifestasi berupa air klorida mendidih dan mengeluarkan alkalin. Adanya fluida mendidih pada kedalaman dangkal memicu terjadinya erupsi hidrotermal. Hampir seluruh fumarole yang berasosiasi dengan sesar besar Sumatera memiliki jenis manifestasi asam dengan temperature diperkirakan 270ºC.

6. L iqu id Domi nated Parent System below M ountai nou s Terr ain

Prospek Lahendong pertama kali dieksplorasi secara mendalam pada 1983 dengan kedalaman  pemboran 2200 disekitar manifestasi permukaan asam dengan temperature 260ºC. Antara tahun 1983-1986 eksplorasi terus beranjut dengan lima sumur pemboran yang menghasilkan temperature rata-rata 350ºC dengan  produksi 125 t/h fluida klorida. Selain itu jenis sistem ini juga ditemukan di prospek Cisolok, Citaman, dan Bratan Kaldera Bali

Keterangan :

Pembagian sistem panas bumi Indonesia yang lain dilakukan oleh Kasbani, Badan Geologi Indonesia. Ia membagi sistem panas bumi Indonesia berdasarkan asosiasi lingkungan geologinya. Model konseptual yang menjadi acuan pembentukan sistem panas bumi ini adalah jalur gunung

(18)

api (ring of fire) di Indonesia dan aktivitas tektonik Indonesia. Kasbani mengelompokkan sistem  panas bumi Indonesia menjadi 3 jenis, yaitu : vulkanik, vulkano tektonik, dan non vulkanik.

1. Sistem Panas Bumi Vulkanik

Sistem panas bumi vulkanik adalah sistem panas bumi yang memiliki asosiasi dengan gunung api kuarter yang memanjang muai dari Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku dan Sulawesi. Sistem panas bumi ini dicirikan memiliki reservoir sekitar 1.5 km dengan temperature (250º-350ºC). Sistem vulkanik dapat dikelompokkan lagi menjadi  beberapa tipe, yaitu : sistem tubuh gunung api strato, sistem kaldera.

2. Sistem Panas Bumi Vulkano- Tektonik

Sistem panas bumi ini adalah sistem yang berasosiasi antara struktur graben dan kerucut vulkanik, umumnya ditemukan di jalur sesar besar Sumatera (Sesar Semangko)

3. Sistem Panas Bumi Non Vulkanik

Sistem panas bumi ini didefinisikan sebagai sistem panas bumi yang tidak berkaitan langsung dengan vulkanisme dan berada di luar jalur vulkanik kuarter, Contoh adalah di daerah lengan dan kaki Pulau Sulawesi.

Pengelompokan sistem panas bumi ini akan memberikan gambaran tentang estimasi dan  proyeksi cadangan panas bumi di Indonesia. Hal itu akan membantu menentukan prioritas dari  prospek yang akan kita bangun nantinya. Berikut adalah pembagian sistem panas bumi Indonesia

(19)

14

3.2 Fluida Panasbumi

Geokimia air panasbumi memiliki komposisi yang beragam dan komposisi tersebut mencerminkan kondisi geologi dan system panasbumi pada daerah tersebut. Analisis geokimia  perlu dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan jenis dari daerah panasbumi tersebut, sehingga

dapat mendukung tahap eksplorasi yang akan dilakukan.

Jenis-jenis fluida hidrotermal dapat diketahui dari sampling geokimia air dan di klasifikasikan berdasarkan komposisi anion. Beberapa jenis fluida panasbumi antara lain:

1. Air Klorida

Air klori da merupakan fluida yang  paling dominan pada kebanyakan lapangan  panasbumi. Air klorida bersifat netral atau dapat pula sedikit asam atau sedikit basa. Pada manifestasi permukaan dicirikan oleh kenampakannya yang jernih sering berasosiasi dengan endapan sinter silika. Air klorida di dekat permukaan sering mengandung CO2. H2S dan sulfat yang signifikan, sedangkan

di dalam reservoir perbandingan atau rasio Cl/SO4 tinggi.

2. Air Sulfat

Air sulfat memiliki kandungan klorida yang rendah, kandungan sulfat tinggi, Al dan Fe cukup tinggi (hasil pelarutan batuan). Air sulfat umumnya terdapat pada sistem  panasbumi di daerah vulkanik, dengan uap air  berkondensasi ke air tanah. Kandungan sulfat yang tinggi berasal dari oksidasi H2S pada zona vados. Karena terbentuk pada zona

vados maka air asam sulfat hanya dapat memberikan sangat sedikit informasi tentang  bagian dalam sistem panasbumi. Ciri fisik fluida jenis ini biasanya berwarna keruh

akibat pelarutan-pelarutan batuan samping oleh fluida yang reaktif, sering berasosiasi dengan kolam lumpur dan collapse creater .

(20)

3. Air Bikarbonat

Fluida jenis ini dicirikan dengan kandungan Cl yang rendah, kandungan sulfat juga rendah dan  bikarbonat (HCO3) sebagai anion utamanya. Pada

sistem yang berasosiasi dengan batuan vulkanik  biasanya air bikarbonat terbentuk pada bagian yang dangkal di tepi lapangan oleh konden sasi uap di  bawah muka airtanah. Pada sistem yang berasosiasi dengan batuan sedimen  pembentukan fluida jenis ini dikontrol oleh keberadaan batugamping. Air bikarbonat

cenderung sedikit asam bisa juga netral atau sedikit basa.

4. Air Meteorik

Airtanah biasanya mengandung Ca, Mg, Na, K, SO4, HCO3 dan Cl selain itu

terdapat pula Fe, SiO2  dan Al. Selain itu airtanah juga biasanya mengandung gas

terlarut berupa O2 dan N2. Air sungai mempunyai anion utama HCO3 dan kation utama

adalah Ca sedangkan air hujan mempunyai anion utama Cl dan kation utama Na

3.3 Manifestasi Panasbumi di Permukaan

1. H ot Steaming Groun d  (Tanah Beruap)

Batuan di dalam dapur magma atau aliran hidrotermal menyebabkan suatu sistem konduksi panas yang menjadi penyebab adanya tanah panas, tanah panas ini biasanya ditandai dengan hadirnya suatu mineral lempung hasil hidrotermal dan adanya daerah yang gundul diantara daerah yang di tumbuhi tanaman yang lebat. Uap panas naik ke sekitar permukaan tetapi tidak benar-benar habis. Uap panas yang keluar dari bawah tanah ini dapat menjadi indikasi bahwa keadaan bawah permukaan daerah tersebut sangat panas dan terdapat akifer sumber air tanah yang dapat dimanfaatkan

(21)

16 2. H ot Sprin gs (M ata Air Panas)

Batuan dalam dapur magma masih panas sampai ribuan tahun, air tanah yang turun dan bersentuhan dengan batuan panas, maka terpanaskan dan cenderung naik ke permukaan melalui rekahan-rekahan pada batuan yang membentuk sumber mata air  panas. Mata air panas merupakan salah satu petunjuk adanya sumber daya panasbumi di  bawah permukaan.

Bentuk dari mata air panas yang berada di permukaan juga memiliki berbagai macam jenis. Mata air panas yang muncul di kawasan gunungapi sering mengalami  pemanasan oleh magma, yang menyembur ke permukaan bumi karena adanya tekanan uap

di bawah permukaan, yang sering kita sebut sebagai Geyser.

Sifat kimia air dari mata air panas seringkali digunakan untuk mengetahui jenis reservoir di bawah permukaan. Pemanfaatan mata air panas sangat bervariasi. Selain dalam ekplorasi energi sumberdaya panasbumi, mata air panas juga dapat dimanfaatkan secara

(22)

17 langsung oleh manusia. Salah satu contohnya yaitu dengan adanya pemanfaatan mata air  panas sebagai sumber air pemandian air panas sebagai bagian dari pemanfaatan dari segi  pariwisata. Uap air yang dihasilkan dari mata air panas juga dapat dimanfaatkan sebagai  penggerak mesin turbin pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dari segi kesehatan, uap

air dari mata air panas juga sering dimanfaatkan sebagai spa.

3. Fumalora

 Fumarole  adalah lubang asap tempat keluarnya (dry steam) atau uap  panas yang dihasilkan oleh gunung api dengan kecepatan tinggi. Umumnya terletak di sekitar gunung api atau terobosan melalui rekahan-rekahan. Tingginya kecepatan dari fumarole sendiri seringkali menimbulkan suara bising. Tingginya tekanan sangat berpengaruh pada  bentuk manifestasi ini dari bellshape  –   v-shape (dari tekanan rendah - tinggi) serta

tingginya gas ini. Fumarole memiliki kandungan gas yang beraneka ragam. Apabila uap tersebut mengandung gas H2S maka manifestasi permukaan tersebut disebut  solfatar , sedangkan  fumarole  yang memancarkan uap dengan kandungan asam boric tinggi umumnya disebut soffioni.

4. Batuan A lterasi

Alterasi hidrothermal ialah sebuah  proses yang terjadi akibat adanya reaksi antara batuan asal dengan fluida  panasbumi. Batuan hasil alterasi hidrotermal ini sangat bergantung pada  beberapa faktor, tetapi yang utama adalah temperatur, tekanan, jenis batuan asal, komposisi fluida (hususnya pH) dan lamanya reaksi (Browne, 198 4).

(23)

18 Alterasi dapat menghasilkan mineral bijih beserta mineral penyerta ( gangue mineral ). Namun, tidak semua batuan yang mengalami alterasi hidrotermal dapat mengalami mineralisasi bijih. Tipe alterasi tertentu biasanya akan menunjukan suatu zona kumpulan mineral tertentu akibat ubahan oleh larutan hidrotermal yang melewati batuan sampingnya (Guilbert dan Park, 1986, Evans, 1993).

Sekumpulan mineral ubahan tersebut terbentuk bersamaan pada kondisi keseimbangan yang sama (aqulibrium assemblage). Mineral-mineral baru yang terbentuk, diendapkan mengisi rekahan-rekahan halus atau dengan proses penggantian (replacement ). Mineral-mineral baru ini dikenal sebagai mineral sekunder (Anonim, 1996).

5. M ud Pools (Kolam Lu mpur)

Mud pools merupakan  bagian dari mata air panas asam atau fumarole dengan air yang terbatas. Mud pools terbentuk ketika uap dan gas muncul dibawah kolam air hujan. Gas-gas tersebut bereaksi dengan batu untuk memproduksi tanah liat, yang membuat campuran lumpur di kolam. Ini biasanya membentuk genangan lumpur yang mendidih. Asam dan mikroorganisme mengurai sekeliling batu menjadi lempung dan lumpur. Lumpur pada mudpot membentuk sifat yang kental dan sering mendidih, maka dari itu sering disemprotkan dari mudpot tersebut. Lalu membentuk semacam gunung lumpur mini, bisa mencapai ketinggian 3-5 meter. Meskipun mudpots sering disebut "gunung lumpur". gunung lumpur yang sebenarnya sangat berbeda di alam. Lumpur mudpot yang umumnya  putih warna keabu-abuan, tapi kadang-kadang diwarnai dengan kemerahan atau bintik- bintik merah muda dari senyawa besi. Bentuk Mudpots dalam geotermal area dengan temperatur tinggi, dimana air dengan suplai pendek. Sedikit air yang naik ke permukaan di tempat dimana tanah kaya akan debu vulkanik, clay (lempung) dan partikel halus lainnya. Ketebalan dari lumpur biasanya berubah sepanjang musiman tabel air.

(24)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Berdasarkan Litologi

Satuan batuan yang dimiliki pada daerah penlitian merupakan Satuan Gunungapi Kuarter Tua yang terdiri dari produk gunungapi berumur Kuarter yang berasal dari beberapa sumber erupsi. Litologi pada daerah penelitian di dominasi oleh material piroklastik seperti tuff dan lapilli yang terubah dengan kuat. Sekuen dari singkapan menunjukan bahwa terjadi beberapa kali erupsi yang terjadi pada daerah Kamojang, ditandai dengan adanya paleosoil  dan adanya seri endapan  baru yang menumpuk pada endapan yang lebih awal. Hal ini menunjukkan bahwa daerah  penelitian merupakan daerah vulkanik aktif.

Kenampakan Paleosoil hasil pelapukan material piroklastik

Material piroklastik yang telah terubah Paleosoil

(25)

20 Pada daerah penelitian juga nampak beberapa singkapan batuan yang telah terubah dengan kuat. Ubahan nampak didominasi oleh mineral lempung dan terdapat beberapa mineral yang mengisi rekahan pada ubahan. Karakteristik ubahan yang nampak dipermukaan ini diintepretasikan sebagai zona ubahan Argilik (?) dengan dominasi mineral lempung yang berwarna  putih. Intensitas dari ubahan yang kuat menandakan aktivitas hidrotermal pada bawah permukaan yang cukup intensif dan dapat dijadikan salah satu indikasi potensi panasbumi. Litologi penyusun daerah Kamojang ini dapat diamati dari STOP 4.

Material piroklastik yang telah terubah

Ubahan kuat pada batuan sekitar pada daerah pengamatan,

nampak oksida besi (?) mengisi fracture pada gambar

(26)

4.2 Analisis Manifestasi Panasbumi

Manifestasi yang diamati pada daerah penelitian terletak pada wilayah wisata dari kawah Kamojang. Pengambilan dilakukan untuk melihat parameter-parameter yang dibutuhkan seperti temperatur, kecepatan uap, TDS, EC, pH, dll.

a. Steaming Ground

Tanah panas yang ada pada daerah penelitian dicirikan dengan adanya anomali dibandingkan dengan wilayah disekitarnya. Tanahnya tandus, tidak ada tanaman yang tumbuh dan apabila diamati dari citra satelit nampak gundul tanpa vegetasi. Luas daerah yang diamati kurang lebih 8x15m serta terdapat tanah yang telah mengalami ubahan disekitarnya. Pengukuran temperatur tanah untuk melihat perbedaan kontras antara suhu udara permukaan dengan suhu tanah hangat (warming ground)

x y T udara (ᵒC) T steaming ground alterasi (ᵒC) Elevasi (m) Radioaktif (cps) 809579 9209783 21.9 39.1 1672 243 STOP 4 menuju 5

Warm Ground yang terlihat pada

gambar. Sekitar tidak nampak ditumbuhi vegetasi

(27)

22  b. Pengamatan pada Lokasi 3

Daerah ini terletak pada bagian depan dari kawasan wisata sebelum menuju sumur dangkal Belanda. Pengamatan yang dilakukan pada bagian ini adalah mengamati manifestasi berupa sungai yang bertemperatur hangat. Pada bagian basal/dasar sungai memiliki warna kemerahan yang diintepretasikan sebagai oksida besi akibat pengaruh dari aktivitas hidrotermal. Bau belerang juga tercium namun tidak menyengat dengan lebar sungai berkisar 1-1.5m.

Pengamatan pada sungai menghasilkan temperature sungai yaitu 63.8ᵒC, Electric Conductivity (EC) 300 μs /cm, pH 3-3.4, dan TDS 150 mg/l. Dari data yang didapatkan dapat terlihat bahwa pelarutan yang terjadi akibat fluida yang meng alir pada sungai cukup

Pengukuran temperature dari tanah hangat

Endapan oksida besi (?) yang berwarna kemerahan yang menandakan adanya pelarutan kuat oleh pengaruh larutan hidrotermal

(28)

tinggi. Hal ini dapat terlihat dati TDS yang tinggi serta adanya endapan oksida besi pada dasar sungai.

Pada titik ini juga diamati adanya keluaran gas yang tertutupi oleh air meteorik. Hal ini dapat terlihat dari tidak adanya pertambahan dari air yang nampak meletup -letup, yang  berarti fenomena tersebut diakibatkan adanya tekanan dari dalam yang memiliki perbedaan dari luar sehingga gas mendesak keluar namun tertutupi oleh air meteorik, sehingga menghasilkan kenampakan letupan-letupan air. Dari hasil pengukuran didapatkan temperature air akibat keluaran gas sebesar 80.8ᵒC, temperature tanah sekitarnya cukup tinggi yaitu 92.8ᵒC, dan pengukuran pH dengan kertas lakmus berada pada kisaran 2.

x y T sungai (ᵒC) pH sungai pH air panas letupan T air (ᵒC) T steaming ground 1 (ᵒC) T steaming ground 2 (ᵒC) EC air sungai (μs / cm) TDS air sungai (mg/l) 809481 9209767 63.8 3 dan 3.4 2 80.8 92.8 56.7 300 150 STOP 3

Kolam lumpur yang mengeluarkan letupan letupan air

(29)

24 c. Sumur Dangkal Belanda

Sumur dangkal Belanda ini memiliki kolom semburan uap ±20m membumbung tinggi keatas dengan bentu “V”. Dari bentuk semburan dapat diperkirakan sumur memiliki tekanan yang tinggi dan menghasilkan kecepatan uap yang tinggi.

d. Pengamatan Lokasi sebelah utara dari Sumur dangkal Belanda

Pada lokasi ini dapat terlihat bentukan gua yang membentuk rongga dan tepat dibawahnya terdapat aktivitas manifestasi. Lubang tersebut merupakan akibat dari ubahan yang kuat dari manifestasi dan melapukkan batuan diatasnya dan timbul longsor akibat

Pengukuran temperature dari kolam lumpur

Bentuk Vshape dari sumur dangkal Belanda, mencirikan tekanan bawah permukaan yang tinggi

(30)

hilangnya kekuatan batuan. Demonstrasi ‘pemanggilan uap’ juga disimulasikan untuk membuktikan bahwa gas mengalir dari tekanan yang bertekanan tinggi ke tempat yang  bertekanan rendah. Selain itu pada daerah ini juga dilakukan pengukuran terhadap kecepatan uap manfestasi dan suhunya. Dari hasil pengukuran didapatkan hasil  pengukuran sebagai berikut

x y T udara (ᵒC) T steaming ground (ᵒC) V uap (m/s) T uap (ᵒC) Elevasi (m) Radioakti f (cps) 809659 9209826 21.5 57.3 0.4 42 1675 111 STOP 5

Lubang colaps akibat adanya alterasi yang mengakibatkan kekuatan batuan berkurang

Pengukuran suhu dan kecepatan dari fumarol

(31)

26 e. Geyser dan Uap panas

Pada lokasi ini akan dilakukan pengamatan terhadap geyser dan uap panas yang muncul. Geyser adalah salah satu menifestasi panas bumi berupa keluarnya ai r panas secara  periodik. Semburan air panas yang diamati memiliki panjang semburan ±1m dari lubang keluaran. Pada geyser dilakukan pengukuran pH dan juga temperatur dari semburan maupun tanah sekitar.

Dari nilai pengukuran EC dan TDS dapat terlihat bahwa lokasi ini membawa kelarutan ion-ion yang cukup tinggi. Terlihat dari adanya endapan oksida besi pada dasar sungai. pH dari geyser mati maupun sungai didapatkan pH yang relatif netral.

x y T udara (ᵒC) pH sungai pH Geyser T steaming ground (ᵒC) Elevasi (m) EC(μs / cm) TDS (mg/l) V air mengalir pada pancuran dengan menggunak an timba (L/s) V dengan Vnoch (L/s) 809732 9209902 21.5 6.4 6 57 1679 170 80 0.5 7.6 x (10^-2) STOP 6

Pengukuran debit dari pancuran air panas

Pengukuran debit menggunakan Vnoch

(32)

f. Kolam Lumpur Panas

Kolam lumpur terlihat menghampar luas. Selain itu terdapat kenampakan bercak dari semburan lumpur yang meletup. Diintepretasikan limpur merupakan hasil pelarutan  batuan oleh larutan yang memiliki pH rendah (asam) dan mengendapkan material hasil  pencucian dan pelarutan begitu terdapat celah atau fracture yang terbentuk.

g. Pengukuran pada sungai yang bertemu dengan air panas (Lokasi 8)

Pengamatan ini dilakukan ketika memasuki kawasan kawah Cibuliran dan menemukan aliran sungai yang bertemu dengan sumber air panas. Dilakukan pengukuran di aliran air sungai untuk mengetahui kandungan unsur terlarut, pH, dan temperatur sebelum adanya pengaruh dari air manifestasi

Kolam lumpur yang nampak meletup

(33)

28 Selain itu didapatkan hasil pengukuran dari air hujan yang telah ditampung sebelumnya. Dari data pengukuran didapatkan pH untuk air hujan adalah relatif asam yaitu 4.5 namun tidak diikuti oleh ion terlarut yang melimpah (jumlah pengukuran EC dan TDS kecil). Hai ini dapat mengindikasikan bahwa air meteoric dapat terpengaruh oleh aktivitas hidrotermal sehingga memiliki pH cenderung asam.

pH hujan EC(μs / cm) TDS (mg/l) 4.5 10 0

Hujan

Pengukuran EC, pH, TDS , dan debit dari sungai

(34)

29

(35)

30

Travers data ekskursi yang didapatkan dari citra Google Earth

BAB IV

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Analisis litologi yang didapatkan dari singkapan menunjukan bahwa terjadi beberapa kali erupsi yang terjadi pada daerah Kamojang, ditandai dengan adanya paleosoil   dan adanya seri endapan baru yang menumpuk pada endapan yang lebih awal. Hal ini menunjukkan bahwa dahulu daerah penelitian merupakan daerah vulkanik aktif. Pada daerah penelitian juga nampak beberapa singkapan batuan yang telah terubah dengan kuat, dicirikan dominasi mineral lempung yang  berwarna putih dan oksida besi.

(36)

BAB IV

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Analisis litologi yang didapatkan dari singkapan menunjukan bahwa terjadi beberapa kali erupsi yang terjadi pada daerah Kamojang, ditandai dengan adanya paleosoil   dan adanya seri endapan baru yang menumpuk pada endapan yang lebih awal. Hal ini menunjukkan bahwa dahulu daerah penelitian merupakan daerah vulkanik aktif. Pada daerah penelitian juga nampak beberapa singkapan batuan yang telah terubah dengan kuat, dicirikan dominasi mineral lempung yang  berwarna putih dan oksida besi.

Pada lokasi 3 pengukuran menghasilkan temperature sungai yaitu 63.8ᵒC,  Electric Conductivity (EC) 300 μs /cm, pH 3-3.4, dan TDS 150 mg/l. Dari data tersebut yang didapatkan  bahwa pelarutan yang terjadi akibat fluida yang mengalir pada sungai cukup tinggi, terlihat serta adanya endapan oksida besi pada dasar sungai. pH asam pada lokasi pengamatan bisa saja diakibatkan karena adanya air kondensat dari bawah permukaan karen a sangat kecil kemungkinan  pengaruh dari air magmatic.

Pengukuran dari air hujan lokal yang telah ditampung sebelumnya didapatkan pengukuran didapatkan pH untuk air hujan adalah relatif asam yaitu 4.5 namun tidak diikuti oleh ion terlarut yang melimpah (jumlah pengukuran EC dan TDS kecil. Hal ini menandakan bahwa air meteorik terpengaruh oleh aktivitas hidrotermal sehingga pH cenderung asam.

Berdasarkan analisis beberapa parameter manifestasi permukaan daerah Kamojang merupakan daerah prospek untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Dilihat dari temperature  permukaan yang cukup tinggi dan pH yang variatif, penyelidikan lebih lanjut dengan berbagai

Gambar

Gambar 1.1 Peta sebaran gunung api di Indonesia (USGS, 2001)
Gambar 2.1 Lokasi Ekskursi dan Penelitian (https://www.google.co.id/maps )
Gambar 2.2 Peta fisiografi Jawa Barat (van Bemmelen, 1949, op.cit Martodjojo, 2003)
Gambar 2.3 Korelasi satuan peta lembar Garut (Alzwar, dkk., 1992)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pada daerah Candi Umbul Telomoyo yang diperkirakan sebagai daerah prospek panas bumi adalah di bagian utara kerucut muda Gunung Telomoyo Anomali ini tersebar dari

Berdasarkan hasil penelitian keberadaan manifestasi panas bumi di kecamatan Air Hangat Timur, Kabupaten Kerinci yang berada di bawah kaki Gunung Api Lumut serta dipengaruhi oleh

Hasil penelitian dengan metode pemetaan kerapatan struktur menunjukkan bahwa daerah prospek panas bumi Candi Umbul-Telomoyo terletak di bagian utara kerucut muda Gunung Telomoyo

Manifestasi potensi geothermal yang ditunjukkan oleh spot panas dalam citra satelit hasil analisis distribusi temperatur permukaan bumi berada pada jalur patahan antara kaki

Manifestasi panas bumi di pada lapangan panas bumi adalah magma yang permukaan diperkirakan terjadi karena adanya berasal dari kedalaman 50-100 km, bergerak ke

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas gunung api atau

Semua batuan mulanya dari magma, magma keluar dari permukaan bumi antara lain melalui puncak gunung api, gunung api ada yang di daratan ada pula yang di lautan,magma yang sudah mencapai

Bentang alam vulkanik  Gunung api, terbentuk dari pergerakan magma dari dalam litosfera ke permukaan bumi  Kerucut debu atau kerucut cinder, terbentuk dari letusan lembut yang