• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Pelayanan HCU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pedoman Pelayanan HCU"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A; Latar Belakang

Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 yang diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Peningkatan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) di Rumah Sakit secara terus menerus ditingkatkan sejlan dengankebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran. Pengembangan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit juga diarahkan guna meningkatkan mutu dan keselamatan pasien serta efisiensi biaya dan kemudahan akses segenap masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien yang memerlukan observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan diruang perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit kritis.

Pelayanan High Care Unit (HCU) di Rumah Sakit perlu ditingkatkan secara berkesinambungan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan pengobatan, perawatan dan pemantauan secara ketat yang semakin meningkat sebagai akibat penyakit menular maupun tidak menular seperti : diare, demam berdarah, penyakit jantung dll. HCU merupakan ruang perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien yang tingi. Tindakkan keperawatan yang cepat tepat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien. Pengambilan keputusan yang cepat ditunjang data yang merupakan hasil observasi dan monitoring yang kontinu oleh perawat.

Pelayanan HCU adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien dalam kondisi kritis diruang perawatan intensif, dilaksanakan secara terintegrasi oleh tim yang terlatih dan berpengalaman dibidang critical care dan ditunjang oleh peralatan

(2)

yang tidak ditemukan diruang rawat pada umummnya seperti bed side monitor, ventilator, infus pump dll.

Pedoman pelayanan ini sebagai acuan bagi Rumah Sakit dalam rangka penyelenggaraan pelayanan HCU yang berkualitas dan mengedepankan keselamatan pasien di Rumah Sakit serta dalam penyusunan standar prosedur operasional pelayanan HCU di Rumah Sakit

B; Tujuan Pedoman Tujuan Umum

 Standarisasi pelayanan HCU di RSKIA Wijayakusuma Tujuan Khusus

 Standarisasi ruang yang meliputi struktur, design, sarana dan prasarana ruangan HCU

 Standarisasi ketenagaan struktur, kebutuhan dan kualifikasi sumber daya manusia yang meliputi perhitungan kebutuhan, kualifikasi, kompetensi dan lain-lain

 Standarisasi standar mutu pelayanan, pemantauan dan pelaporan  Standarisasi sistem meliputi kebijakkan / SOP dan lain-lain

C; Ruang Lingkup Pelayanan

Pelayanan HCU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis stabil yang membutuhkan pelayanan, pengobatan dan pemantauan secara ketat tanpa penggunaan alat bantu (misalnya ventilator) dan terapi titrasi.

D; Batasan Operasional

1; High Care Unit (HCU) adalah unit pelayanan di Rumah Sakit bagi pasien dengan kondisi stabil dari fungsi respirasi, hemodinamik, dan kesadaran namun masih memerlukan pengobatan, perawatan dan pemantauan secara ketat. Tujuannya ialah agar bisa diketahui secara dini perubahan-perubahan yang membahayakan, sehingga bias dengan segera dipindah ke ICU untuk dikelola lebih baik lagi.

2; Pasien yang dimaksud pada point 1 tersebut adalah pasien yang memerlukan tingkat pelayanan yang berada diantara ICU dan ruang rawat inap biasa (artinya

(3)

tidak perlu perawatan ICU namun belum dapat dirawat di ruang rawat inap biasa karena masih memerlukan pemantauan yang ketat).

3; Waktu penyelenggaraan pelayanan HCU berlangsung selama 24 jam sehari 7 hari seminggu.

4; Ada 3 (tiga) tipe HCU, yaitu:

a; Separated/ conventional/ freestanding HCU adalah HCU yang berdiri sendiri (independent), terpisah dari ICU.

b; Integrated HCU adalah HCU yang menjadi satu dengan ICU.

c; Paralel HCU adalah HCU yang terletak berdekatan (bersebelahan) dengan ICU.

HCU Rumah Sakit Khusus Ibu Dan Anak Wijayakusuma termasuk yang Integrated HCU.

E; Landasan Hukum

1; Undang – Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);

2; Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

3; Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

4; Undang – Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153 Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

5; Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637);

6; Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);

(4)

7; Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ Menkes/ Per/ IV/ 2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran.

BAB II

(5)

A; Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Berikut ini adalah daftar kualifikasi SDM di unit kerja HCU, adapun daftar kulifikasi ketenagaan dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

B; Distribusi Ketenagaan

Pengaturan distribusi tenaga kerja di unit HCU Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Wiayakusuma berdasarkan shift. Tenaga kerja diunit HCU saat ini berjumlah 4 orang yang memegang tanggung jawab sebagai :

1; Dokter Ruangan : 1 orang 2; Kepala instalasi : 1 orang 3; Perawat Pelaksana : 3 orang C; Pengaturan Jaga

Pengaturan tenaga kerja di RS. berdasarkan shift dan non shift dapat dibawah ini : 1; Karyawan shift

Senin- Minggu Shift I : 07.00-14.00 Shift II : 14.00-20.00 Shift III : 20.00-07.00

2; Karyawan non shift

Senin- Sabtu: 07.00-15.30

3; Dokter spesialis Anestesiologi siap 24 jam menangani kasus kegawatan HCU 4; Dokter spesialis konsulen siap 24 jam menangani kasus kegawatan HCU 5; Tenaga perawat siap 24 melayani kasus kegawatan HCU (terlampir) 6; Adapun untuk tata tertib jam kerja adalah sebagai berikut :

a; Batas keterlambatan karyawan dalam satu bulan adalah 30 menit. b; Apabila keterlambatan melebihi batas toleransi yang diberkan maka

karyawan tersebut akan mendapatkan evaluasi keisiplinan dari atasan langsung.

c; Apabila terjadi keterlambatan selama 3 bulan dalam satu tahun karyawan akan diberikan surat peringatan.

d; Izin meninggalkan dinas maksimal adalha 3 jam dalam satu hari kerja dengan persyaratan mengisi fom izin meninggalkan dinas (IMD) yang

(6)

ditanda tangani oleh atasan langsung dan dapat dipertanggung jawabkan urgencynya.

BAB III

STANDAR FASILITAS

(7)

1; Lokasi

HCU satu komplek dengan kamar bedah. Berdekatan dan atau mempunyai akses yang mudah ke IGD, Laboratorium dan Radiologi

2; Desain

Desain HCU yaitu :

a; Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar

b; Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan dibatasi kaca- kaca.

c; Bangunan:

• Terisolasi dilengkapi dengan : ; Pasien monitor

; VentilatoR ; AC

; Exhouse fan untuk mengeluarkan udara, • Lantai mudah dibersihkan, keras dan rata,

• Tempat cuci tangan yang dapat dibuka dengan siku & tangan d; Area Pasien

 Unit Terbuka : 12- 16 M 2.  Unit Tertutup : 16-20 M 2  Jarak antara tempat tidur : 2 meter

 Outlet oksigen, : 1 untuk tiap tempat tidur  Stop Kontak : 2 / Tempat Tidur

e; Area Kerja

 Suhu ruangan diusahakan 22-25° C, nyaman , energi tidak banyak keluar.

 R.Dokter & R. Perawat  R.Tempat buang kotoran

 R. tempat penyimpanan barang & obat  R. tunggu keluarga pasien

(8)

 Sumber air, Sumber listrik cadangan/ generator, emergency lamp,

 Suction mobile

3; Almari obat, troli dan alat kesehatan,

4; Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus

5; Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan segala posisi. 6; Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga mudah untuk

mengobservasi pasien B; Standar Fasilitas

Ruang ICU di RSKIA Wijayakusuma Kebumen dengan kapasitas 3 tempat tidur

Fasilitas dan Alat yang ada di Ruang ICU a; Fasilitas

No Fasiliatas Jumlah

1. Bed pasien 3

2. Lemari 2

3. AC 2

4. Tempat cuci tangan 1

5. Baju penunggu 2

Alat di ruang ICU

No Alat Jumlah 1. Ventilator 1 2. Infus pump 1 3. Syring pump 1 4. Blood warmer 1 5. Monitor 1 6. Standar infus 2 7. Suction mobile 1 8. Gas O2 2

(9)

9. Regulator 2

10. EKG 1

b; Pemeliharaan dan Kalibrasi Alat

Setiap peralatan yang ada baik medis maupun non medis harus dilakukan pemeliharaan, pebaikan dan kalibrasi alat agar perlatan dapat tetap terpelihara dan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya.

; Tujuan

a; Agar peralatan yang ada dapat digunakan sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

b; Agar nilai yang dikeluarkan dari alat medis sesuai dengan nilai yang diinginkan

c; Agar pelalatan yang ada dapat tetap terpelihara dan siap digunakan. d; Sebagai bahan informasi untuk perencanaan peremajaan peralatan

medis yang diperlukan. ; Prosedur

a; Untuk perbaikan peralatan yang rusak ruang HCU, kepala ruangan harus membuat permintaan perbaikan di dalalam program RSKIA Wijayakusuma sebanyak 2 rangkap, dan diantar ke bagian sarana dan prasarana ( Sapra )

b; Pihak maintenance melihat alat yang rusak dan diperbaiki

c; Setelah alat selesai diperbaiki oleh teknisi, alat dikembalikan ke Ruang HCU

d; Bila alat tidak dapat diperbaiki oleh maintenance internal, maka alat diperbaiki oleh meinteneence luar ( melalui bagian Sapra ).

(10)

BAB IV

KEBIJAKAN PELAYANAN

A; Kebijakan

1; Pelayanan HCU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis stabil yang membutuhkan pelayanan, pengobatan, dan pemantauan secara ketat dalam penggunaan alat bantu (misalnya ventilator) dan terapi titrasi

2; Ruang lingkup pemantauan yang harus dilakukan antara lain :  Tingkat kesadaran

 Fungsi pernapasan dan sirkulasi dengan inteval waktu minimal 4 (empat) jam atau disesuaikan dengan keadaan pasien

(11)

 Oksigenasi dengan menggunakan oksimeter secara terus menerus

 Keseimbangan cairan dengan interval waktu minimal 8 jam atau disesuaikan dengan keadaan pasien

3; Penentuan indikasi pasien yang masuk ke HCU dan pasien yang tidak dianjurkan untuk dirawat di HCU kriteria sebagai berikut

a; Indikasi masuk

 Pasien gagal organ yang berpotensi mempunyai resiko tinggi untuk terjadi komplikasi dan tidak memerlukan monitor dan alat bantu invasif

 Pasien yang memerlukan perawatan dan pengawasan perioperatif

b; Indikasi keluar

 Pasien yang tidak lagi membutuhkan pemantauan yang ketat

 Pasien yang cenderung, memburuk, dan atau memerlukan pemantauan adan alat bantu invasif sehingga perlu pindah ke ICU

c; Yang tidak perlu masuk HCU

 Pasien dengan fase terminar sesuai penyakit (kanker stadium akhir)

 Pasien / keluarga menolak untuk dirawat di HCU (atas dasar informed conset)

(12)

BAB V

TATA LAKSANA PELAYANAN

Tata laksana pelayanan HCU 1; Kriteria masuk HCU

a. Pasien yang memerlukan pelayanan HCU sesuai indikasi adalah :  Pasien dari IGD

 Pasien dari Kamar Operasi atau kamar tindakan lain, seperti kamar bersalin, ruang endoskopi.

 Pasien dari bangsal ( Ruang Rawat Inap ) b. Indikasi Masuk

 Pasien gagal yang berpotensi mempunyai resiko tinggi untuk terjadi komplikasi dan tidak merlukan monitor dan alat bantu invasif.

 Pasien yang memerlukan perawatan dan pengawasan perioperatif.

(13)

 Dokter penanggung jawab pasien (DPJP) menginformasikan kepada penanggung jawab pasien terkait kondidi pasien untuk masuk HCU

 Dokter atau perawat mengonsulkan keadaan umum pasien ke dokter penanggung jawab HCU (dr. anastesi )

 Penangung jawab pasien di anjurkan untuk kebagian administrasi  Perawat ruang HCU diinformasikan oleh bagian admission terkait

dengan masuk pasien ke HCU  Memberikan pelayanan 2; Keluar HCU

a. Indikasi keluar

 Pasien yang tidak lagi membutuhkan pemantauan yang ketat  Pasien yang cenderung memburuk dan/atau memerlukan

pemantauan dan alat bantu invasife sehingga perlu pindah ke ICU b. Prosedur Keluar HCU

 Dokter penanggung jawab pasien (DPJP) menginformasikan kepada penanggung jawab pasien terkait kondisi pasien membaik dan layak pindah ruangan.

 Dokter atau perawat mengonsulkan keadaan umum pasien ke dokter penanggung jawab HCU (dr. anastesi ) bahwa indikasi pindah ruang

 Penangung jawab pasien di anjurkan untuk kebagian administrasi  Perawat ruang HCU diinformasikan oleh bagian admission terkait

dengan pindah kamar di rawat inap

 Memindahkan pasien dan Memberikan pelayanan di rawat inap. 3; Yang tidak perlu masuk HCU

 Pasienn dengan fase terminal suatu penyakit ( seperti : kanker stadium akhir )

 Pasien atau keluarga yang menolak untuk di rawat di HCU (atas dasar “informed consent” ).

(14)

BAB VI LOGISTIK

A; Alat Tulis Kantor

No Nama Barang Jumlah Barang Harga Satuan Harga Total

1 Bolpoint merah 2 Rp. 1.700,00 Rp. 3.400,00 2 Bolpoint hitam 2 Rp. 1.700,00 Rp.3.400,00 3 Pensil 1 Rp. 2.000,00 Rp. 2.000,00 4 Penggaris 30 cm 1 Rp. 2.500,00 Rp. 2.500,00 5 Tipe-x 1 Rp. 5.000,00 Rp. 5.000,00 6 Map Plastik 1 Rp. 2500,00 Rp. 2.500,00 B; Alat Kesehatan

No Nama Barang Jumlah Barang Harga Satuan Harga Total

1 Ventilator 1 Rp. 450.000.000 Rp. 450.000.000

(15)

3 Syring pump 1 Rp. 17.500.000 Rp 17.500.000 4 Monitor 1 Rp. 18.000.000 Rp. 18.000.000 5 Standar infus 2 Rp 400.000 Rp. 800.000 6 Ambubag 1 Rp. 2.500.000 Rp. 2.500.000 7 Laringoscope 1 Rp. 900.000 Rp. 900.000 8 Suction mobile 1 Rp. 3.500.000 Rp. 3.500.000 C; Barang Inventaris

No Nama Barang Jumlah Barang Harga satuan Harga Total

1 Meja perawat 1 Rp 350.000 Rp 350.000 2 Kursi Perawat 1 Rp 200.000 Rp 200.000 3 Lemari Obat 1 Rp 1.500.000 Rp 1.500.000 4 Troli 1 Rp 700.000 Rp.700.000 5 Al-Quran 1 Rp 45.000 Rp. 45.000 6 Injil 1 Rp. 60.000 Rp. 60.000 7 Kursi penunggu 3 Rp. 150.000 Rp. 450.000 8 Bed Pasien 3 Rp. 13.750.000 Rp.41.250.000 9 Kotak Sirkuit VEntilator 2 Rp. 35.000 Rp. 70.000 10 Tabung O2 4 Rp. 1.000.000 Rp. 4.000.000

(16)

BAB VII

KESELEMATAN PASIEN

(17)

Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.

B; Tujuan

Tujuan keselamtan pasien :

1; Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah

2; Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.

3; Menurunnya kejadian tidak diharapakan (KTD) di rumah sakit

4; Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan

C; Standar Pasien Saftey

Standar keselamatan pasien (patient safety) untuk pelayanan IRI / ICU adalah ketepatan :

1; Label identitas tidak tepat apabila : Tidak terpasang, salah pasang, salah penulisan nama, salah penulisan gelar (Ny/An), salah jenis kelamin

2; Terpasang gelang identitas pasien rawat inap: Pasien yang masuk ke rawat inap terpasang gelang identitas

3; Konsul ke dokter via telpon menggunakan metode SBAR 4; Medikasi ketepatan pemberian :

Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah obat, salah dosis, salah jenis, salah rute pemberian, salah identitas pada etiket, salah pasien.

5; Ketepatan Transfusi :

Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah identitas pada permintaan, salah tulis jenis produk darah, salah pasien

6; Pasien jatuh :

(18)

BAB VIII

KESELAMATAN KERJA

1; Pengertian

Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat kerja / aktifitas karyawan lebih aman. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun rumah sakit

2; Tujuan

 Terciptanya budaya keselamatan kerja di RS  Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja

 Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerja

(19)

 Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaanya menjadi bertambah

3; Tata laksana keselamatan Kerja

Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan infeksi yaitu :

1; Menganggap bahwa pasien HCU dapat menularkan

2; Menggunakan alat pelindung diri (APD) terutama bila terutama bila terdapat kontak dengan spesimen yaitu : urine, darah, muntah, sekret 3; Penggunaan APD saat tindakkan medis

4; Pelaksanaan hand hygien saat five moment

BAB IX

PENGENDALIAN MUTU

A; Standar Pelayanan Minimal

1; Pemberi Pelayanan Intensif

Judul Pemberian Pelayanan Intensif

Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas

Tujuan Kesiapan rumah sakit dalam menyediakan pelayanan intensif

Definisi Operasional Pemberi pelayanan intensif adalah dokter spesialis, dokter umum dan perawat yang mempunyai kompetensi sesuai yang dipersyaratkan dalam

(20)

persyaratan kelas rumah sakit Frekuensi Pengumpulan Data Tiga bulan sekali

Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator Jumlah tim yang tersedia

Denominator Tidak ada

Sumber data Unit pelayanan intensif

Standar Sesuai dengan ketentuan kelas rumah sakit Penanggung Jawab pengumpulan data Kepala instalsi Intensif

2; Ketersediaan Fasilitas dan Peralatan Ruang

Judul Ketersediaan Fasilitas dan peralatan Ruang

Dimensi Mutu Keselamatan dan efektifitas

Tujuan Kesiapan fasilitas dan peralatan rumah sakit untuk memberikan pelayanan intensif

Definisi Operasional Fasilitas dan peralatan pelayanan intensif adalah ruang, mesin, dan peralatan yang harus tersedia untuk pelayanan intensif baik sesuai dengan persayaratan kelas rumah sakit

Frekuensi Pengumpulan Data Tiga bulan sekali Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator Jenis dan jumlah fasilitas dan peralatan pelayanan intensif

Denominator Tidak ada

Sumber Data Inventaris ruangan

standar Sesuai dengan kelas rumah sakit Penanggung jawab pengumpulan data Kepala instalasi ruangan

(21)

Judul Ketersediaan tempat tidur dengan Monitoring dan ventilator

Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas

Tujuan Kesiapan fasilitas dan peralatan rumah sakit untuk memberikan pelayanan

Definisi Operasiinal Tempat tidur ruang intensif adalah tempat tidur yang dapat diubah posisi yang dilengkapi monitoring dan ventilator

Frekuensi Pengumpulan data Tiga bulan sekali Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator jumlah tempat tidur yang dilengkapi dengan peralatan monitoring dan ventilator

denominator Tidak ada

Sumber data Inventaris ruangan

Standar Sesuai dengan kelas rumah sakit Penanggung jawab pengumpulan data Kepala instalasi ruangan

4; Kepatuhan terhadap Hand Hygien

Judul Kepatuhan terhadap hand hygien

Dimensi mutu Keselamatan

Tujuan Menjamin hygien dalam melayani pasien diruang intensif

Definisi Operasional Hand hygien adalah prosedur cuci tangan sesuai dengan ketentuan

Frekuensi Pengumpulan Data Tiga bulan sekali Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator Jumlah perawat yang diamati dan memenuhi prosedur hand hygien

(22)

Denomiantor Jumlah seluruh perawat yang diamati

Sumber data 100%

Standar Sesuai dengan kelas rumah sakit Penanggung jawab pengumpul data Kepala instalasi

BAB X

PENUTUP

Petunjuk teknis penggunaan High Care Unit ini disusun dalam rangka memberikan acuan bagi Rumah Sakit Khusus Ibu Dan Anak Wijayakusuma dalam menyelenggarakan pelayanan yang bermutu, aman, efektif dan efisien dengan mengutamakan keselamatan pasien. Pedoman pelayanan ini mempunyai peranan yang penting sebagai pedoman, sehingga mutu pelayanan yang di berikan kepada pasien dapat terus meningkat.

Penyusunan Pedoman Pelayanan High Care Unit ini adalah suatu langkah awal kesuatu proses yang panjang, sehingga memerlukan dukungan dan kerjasama dari berbgai pihak dalam penerapannya untuk mencapai tujuan.

Referensi

Dokumen terkait

Prodia Diagnostic Line Epoxy Floor Coating 2019 Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk Gereja Regina Caeli Cat Dinding Exterior dan Cat Dinding Interior 2019 PT.. Indopoly

Asma akibat alergi bergantung kepada respons igE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B serta diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang

Cidurian di awal Abad XX telah menyebabkan pembentukan delta baru, dan mematikan delta lama; membalikkan kondisi pantai dari semula mengalami erosi menjadi sedimentasi, yaitu

SKPD Kabupaten Belitung Timur bidang kepariwisataan - Kementerian Pariwisata - SKPD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bidang kepariwisataan - Asosiasi-asosiasi

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti bermaksud untuk melakukan sebuah penelitian yang berjudul, Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Teknik

Terhambatnya pertumbuhan mikroba oleh ekstrak segar rimpang jahe-jahean (Z. officinale) dapat dilihat dari daerah bebas mikroba yang terbentuk disekitar kertas

Turbo Dryer adalah menara pengering dengan resirkulasi internal pemanas gas atau pengering yang paling umum digunakan untuk produk dengan jumlah yang tidak

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). Tujuan utama dari PTK adalah untuk memberdayakan