PERILAKU KECANDUAN INTERNET TERHADAP INTERAKSI SOSIAL PADA REMAJA DI LINGKUNGAN KOS
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I Pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi
Oleh :
ALIFFATULLAH ALYU RAJ F 100130179
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2017
iii
1
PERILAKU KECANDUAN INTERNET TERHADAP INTERAKSI SOSIAL PADA REMAJA DI LINGKUNGAN KOS
Abstraksi
Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendisripsikan dampak perilaku remaja yang mengalami kecanduan internet terhadap interaksi sosial di lingkungan kos. Penelitian ini menggunakan pendekatakan kualitatif. Informan dalam penelitian ini dipilih secara proportional purposive random sampling, subjek penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berjumlah 6 subjek terdiri dari 3 subjek berjenis kelamin laki-laki dan 3 subjek berjenis kelamin perempuan. Teknik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa kecanduan internet memberikan dampak yang positif maupun dampak negatif bagi interaksi sosial pada remaja. Di lihat dari dampak positifnya, kecanduan internet mampu memberikan banyak kemudahan bagi remaja seperti mempermudah saling berkomunikasi atau bertukar kabar ketika jarak mereka jauh, mempermudah dalam menyelesaikan tugas dan mempermudah dalam memperoleh banyak informasi terbaru. Di lihat dari dampak negatifnya, remaja cenderung masih mengedepankan aktivitas untuk mengakses internet dan lebih memilih untuk menunda aktivitas yang berhubungan dengan interaksi sosial secara langsung. Kecanduan internet selain berdampak pada interaksi sosial, ternyata juga memiliki dampak positif dan dampak negatif pada aspek lain seperti dampak klinis, akademis, agama, dan ekonomi.
Kata Kunci: Kecanduan internet, interaksi sosial, remaja
INTERNET ADDICTION BEHAVIOR TO SOCIAL INTERACTIONS IN ADOLESCENT IN A BOARDING HOUSE
Abstract
This study aims to understand and describe the impact of the behavior of adolescents who experience internet addiction toward social interaction in boarding halls. This research uses qualitative approach. Informants in this study selected with proportional purposive random sampling, the subject of this study were students of Muhammadiyah University of Surakarta, amounting to 6 subjects consist of 3 subjects of male and 3 subjects of female. Data collection techniques used in this study are interviews and observation. The results of the study illustrate that Internet addiction has a positive and negative impact on social interaction in adolescents. In viewed of the positive impact, internet addiction can provide many facilities for adolescents such as facilitate communication with each
2
other or exchange news when their distance away, facilitate the completion of tasks and simplify in obtaining a lot of the latest information. In viewed of the negative impact, adolescents tend to put forward activities to access the internet and prefer to delay activities related to direct social interaction. Beside impacting social interactions internet addiction also has a positive and negative impact on other aspects such as clinical, academic, religious, and economy.
Keywords : Internet addiction, social interaction, and adolescent.
1. PENDAHULUAN
Dewasa ini gadget addiction atau internet addiction merupakan sebuah ancaman bagi dunia dengan kemudahan akses internet (Fackler, 2007). Ahli sepakat bahwa hal tersebut layak untuk mendapatkan perhatian serius mengingat penggunaan internet berlebih dalam jangka panjang dapat mengakibatkan adanya gangguan mental seperti gangguan anti sosial, gangguan kecemasan, dan gangguan stress pada penderitanya (Taylor, 2009; Wee, dkk., 2014).
Kemajuan teknologi yang seiring berjalannya waktu semakin canggih membuat para remaja memanfaatkan fasilitas internet dengan berbagai pemenuhan kebutuhan. Berkat teknologi baru seperti internet segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi. Mulai dari kebutuhan untuk bersosialisasi, mengakses informasi sampai kepada pemenuhan kebutuhan hiburan. Kehadiran internet lebih dimanfaatkan sebagai media sosial oleh masyarakat karena dengan media sosial masyarakat bisa dengan bebas berbagi informasi dan berkomunikasi dengan orang banyak tanpa perlu memikirkan hambatan dalam hal biaya, jarak dan waktu (Soliha, 2015).
Di Indonesia, perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat juga telah dirasakan akibat masuknya pengaruh internet. Teknologi ini sudah dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. Remaja sebagai salah satu pengguna fasilitas internet belum mampu memilah aktivitas internet yang bermanfaat. Mereka juga cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu efek positif atau negatif yang akan diterima saat melakukan aktivitas internet (Ekasari & Dharmawan, 2012).
3
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat ke 4 sebagai negara dengan jumlah pengguna Facebook tebanyak didunia yaitu sejumlah 65 juta pengguna aktif setelah USA, Brazil, dan India. Indonesia menempati peringkat ke 5 sebagai negara dengan pengguna Twitter terbanyak didunia yaitu sejumlah 19,5 juta pengguna aktif setelah USA, Brazil, Jepang dan Inggris. Selain Facebook dan Twitter, jejaring sosial lain yang dikenal di Indonesia adalah Path dengan jumlah pengguna 700.000 di Indonesia. Line sebesar 10 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna dan Linkedlin 1 juta pengguna (Kemenkominfo, 2013).
Data dari statista salah satu lembaga survei statistik dunia di bidang industri, pasar, pemerintahan, dan internet per bulan Juni 2014 menunjukkan bahwa pengguna internet terbesar adalah remaja dengan rentang usia 15-24 tahun yang memiliki prosentase 26,7%. Hasil ini hanya berbeda 0,1% dengan mereka yang berusia 25-34 tahun dengan prosentase 26,6%. Kemudahan akses internet ini tidak selamanya berdampak positif. Sebuah penelitian yang diadakan oleh Kementrian Informasi dan Informatika (Kominfo), UNICEF, dan Harvard University mengambil sampel 400 remaja berusia 10-19 tahun yang tersebar di 11 provinsi Indonesia. Hasilnya didapatkan bahwa hampir 80% remaja di Indonesia kecanduan internet. Sebagian besar remaja menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak semestinya. 24% mengaku menggunakan internet untuk berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal, 14% mengakses konten pornografi, dan sisanya untuk game online dan kepentingan lainnya (Hapsari & Ariana, 2015).
Kecanduan internet dapat menyerang siapa saja terutama para remaja, Sarwono (2013) menyebutkan remaja berada pada tahap krisis identitas, cenderung mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, selalu ingin mencoba hal-hal baru, mudah terpengaruh dengan teman-teman sebayanya (peer groups). Menurut Widiana, Retnowati & Hidayat (2004) seorang pecandu internet tidak
4
merasa dirinya kecanduan internet bahkan tidak mau disebut pecandu internet karena tidak menyadari bahwa perilaku onlinenya berlebihan.
Remaja yang mengalami kecanduan internet lebih memilih media online untuk berinteraksi sosial, karena ia merasa kesulitan jika harus melakukan interaksi sosial secara tatap muka karena ketika remaja tersebut berinteraksi melalui media online remaja tersebut merasa memiliki kebebasan dalam berekspresi sedangkan jika berinteraksi secara langsung atau face to face remaja tersebut merasa gelisah apakah orang lain akan menerima atau menolak dirinya. Hal ini lah yang membuat remaja merasa kesulitan dalam pengungkapan dirinya atau self disclosure jika harus berinteraksi secara langsung, selain itu remaja memiih berinteraksi melalu media online karena ingin menghindari pengawasan atau kontrol yang ketat dari orang tua (Mesch, 2012).
Alasan lain individu yang mengalami kecanduan internet dikarenakan ia tidak memperoleh kepuasan diri ketika melakukan hubungan sosial secara langsung atau face to face maka dari itu individu tersebut harus bergantung pada komunikasi online untuk memenuhi kebutuhannya dalam berinteraksi secara sosial. Ketika online, individu merasa bergairah, senang, bebas, serta merasa dibutuhkan dan didukung, sebaliknya ketika offline individu merasa kesepian, cemas, tidak terpuaskan, bahkan frustasi (Neto dan Barros, 2000). Individu yang mengalami kegelisahan dalam berinteraksi secara sosial melihat interaksi secara online menjadi suatu cara yang aman untuk berinteraksi dibandingkan harus bertatap muka (Ybarra, Alexander & Mitchell, 2005).
2. METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, menurut Herdiansyah (2015) penelitian kualitatif yaitu suatu penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara ilmiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peniliti dengan fenomena yang diteliti.
5
Teknik pemilihan informan yang digunakan pada penelitian ini adalah Proportional Purposive Sampling, dimana pengambilan sampel didasarkan pada kriteria tertentu yang dibuat oleh peneliti. Pemilihan informan tersebut berdasarkan ciri-ciri yaitu merupakan remaja akhir yang berusia 18 tahun sampai 21 tahun, remaja yang memiliki smartphone atau PC yang tersambung oleh konektivitas internet, remaja yang mengakses internet dalam sehari minimal 1,5 jam, dan remaja yang sedang kos.
Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian maka yang dijadikan teknik untuk pengumpulan data adalah wawancara suatu interaksi yang melibatkan komunikasi dua arah diantara kedua kubu dan adanya tujuan yang akan dicapai melalui komunikasi tersebut (Herdiansyah, 2015). Selain itu dalam penelitian ini peneliti juga akan melakukan teknik pengumpulan data berupa observasi dengan tujuan untuk menunjang dan melengkapi hasil wawancara yang telah dilakukan. Observasi adalah suatu informasi yang didapatkan dengan menunjukkan gambaran realistik atau kejadian yang ada di lapangan (Rahmat, 2009).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan, rata-rata subjek mengakses internet lebih dari delapan jam per hari. Kehadiran internet memberikan dampak yang positif maupun dampak negatif bagi interaksi sosial khususnya di lingkungan kos pada remaja.
Dari keinginan untuk menggunakan internet secara terus menerus manfaat yang dirasakan oleh seluruh subjek diantaranya dengan internet dapat menambah wawasan dan pengetahuan secara luas, mempermudah dalam mengerjakan tugas, mempermudah untuk berkomunikasi dengan keluarga yang jauh, mempermudah dalam mendapatkan informasi, dan dengan internet bisa menambah banyak teman. Hal ini sesuai dengan temuan Balckburn dan Read (2005) yang menyebutkan bahwa internet memberikan banyak keuntungan secara sosial dan psikologis. Internet dapat menyediakan informasi dan kesempatan untuk
6
berinteraksi secara sosial bagi orang-orang yang memiliki hambatan jarak dan sesuai dengan temuan Malik dan Rafiq (2015) yang menyatakan bahwa dampak positif dari adanya internet adalah memperluas jaringan pertemanan, sebagai media penyebaran informasi, sarana untuk mengembangkan keterampilan, dan kesempatan untuk berinteraksi dengan kelompok-kelompok yang terisolasi secara sosial seperti orang yang menderita kecemasan sosial.
Dampak negatif dari kehadiran internet, dari kehadiran internet mengakibatkan subjek susah dalam memanajemen waktu, mengakibatkan subjek susah tidur atau insomnia, mengalami terganggunya interaksi sosial dilingkungan kosdan dari kehadiran internet akan berdampak pada penurunan prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan temuan Demetrovics, Szeredi, dan Rozsa (2008) yang menyebutkan bahwa penggunaan internet dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan seseorang mengabaikan kehidupan nyatanya yang disertai dengan (a) penurunan prestasi kerja; (b) waktu tidur yang tidak teratur; (c) nafsu makan yang menurun; (d) menurunnya rasa ketertarikan untuk berinteraksi dilingkungan sosial secara langsung dan sesuai dengan temuan Leung (2004) yang menyebutkan bahwa salah satu akibat dari kecanduan internet yaitu memiliki masalah dengan manajemen waktu.
Seluruh subjek lebih memilh untuk menunda kontak sosial secara langsung di saat sedang asyik bermain internet seperti saat teman-teman kos mengajak untuk berkumpul bersama membahas perihal jadwal piket harian. Hal ini sesuai dengan temuan Young (1998) yang menyebutkan bahwa pengguna internet berani mempertaruhkan atau berani mengambil resiko kehilangan hubungan yang signifikan dengan orang-orang terdekat atau orang lain.
Ketika sedang di ajak berbicara oleh teman kos di saat subjek sedang asyik bermain internet, subjek akan tetap merepon hanya saja terkadang responnya yang sedikit terlamabat atau tidak melihat siapa yang sedang mengajaknya berbicara dan bahkan sampai mencuekkan atau hanya akan menjawab singkat-singkat. Hal ini sesuai dengan temuan Demetrovics, Szeredi, dan Rozsa(2008) yang
7
menyebutkan bahwa penggunaan gadget dalam jangka panjang menyebabkan seseorang mengabaikan kehidupan nyatanya yang disertai dengan penurunan prestasi kerja, waktu tidur yang tidak teratur, nafsu makan yang menurun, dan menurunnya rasa ketertarikan untuk berinteraksi dilingkungan sosial secara langsung.
Ketika dihadapkan dengan keadaan khusus sebagai contoh ketika teman kos yang sedang sakit meminta diantarkan periksa ke dokter disaat dirinya sedang asyik bermain internet seluruh subjek lebih memilih untuk meninggalkan aktivitas berinternet dan memilih untuk langsung mengantarkan temannya yang sedang sakit tersebut. Hal ini sesuai dengan Iqbal (2013) yang menyebutkan bahwa seseorang lebih cenderung memberikan pertolongan ketika bantuan secara fisik benar-benar diperlukan dan terdapat faktor resiko dari kejadian tersebut.
4. PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa internet memberikan dampak yang positif maupun dampak negatif bagi interaksi sosial khususnya di lingkungan kos. Di lihat dari dampak postifnya, dari kehadiran internet remaja merasakan adanya kemudahan untuk berkomunikasi seperti untuk saling bertukar kabar di saat mereka sedang tidak berada di kos, mencari informasi terbaru dengan mudah dan cepat, untuk saling bertukar kabar mengenai informasi tentang tugas kuliah, mempermudah untuk mencari solusi dari masalah yang sedang di hadapi, dan menambah atau memperluas jaringan pertemanan. Dilihat dari dampak negatifnya, remaja cenderung masih mengedepankan aktivitas untuk mengakses internet dan lebih memilih untuk menunda aktivitas yang berhubungan dengan interaksi sosial secara langsung bersama dengan teman kos.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kehadiran internet selain berdampak pada interaksi sosial di lingkungan kos ternyata juga memiliki dampak positif dan dampak negaif lainnya seperti dampak klinis, akademis, agama dan ekonomi. Salah satu komunikasi tidak langsung yang sedang populer yang
8
menjadi aplikasi favorit di kalangan remaja adalah aplikasi instagram. Di lihat dari gender-nya, dampak positif maupun dampak negatif bagi interaksi sosial pada remaja laki-laki maupun perempuan di peroleh hasil yang tidak jauh berbeda dari kedua gender tersebut.
4.2 Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka saran yang perlu diperhatikan adalah:
a. Bagi Subjek
Subjek diharapkan mampu menggunakan dan memanfaatkan kehadiran internet dengan lebih bijaksana seperti hanya mengakses konten positif di internet dengan mengunjungi link jurnal ilmiah, mengunjungi situs-situs yang menyediakan informasi terkini, untuk menyelesaikan tugas dan tentunya harus membatasi penggunaan internet sesuai dengan kebutuhan saja agar terhindar dari hal-hal yang negatif dari kehadiran internet.
b. Bagi Peneliti
Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tema yang sama diharapkan untuk lebih memperdalam dampak positif dan dampak negatif dari kehadiran internet yang di alami oleh remaja secara luas lagi dan menambah kriteria subjek penelitian. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah pertemuan dan menambah durasi wawancara dengan subjek penelitian, karena dalam penelitian ini peneliti hanya melakukan satu kali pertemuan wawancara yang berdurasi kurang lebih satu jam dan di harapakan bagi peneliti selanjutnya agar lebih teliti lagi dalam membuat kategorisasi tema beserta kesimpulannya.
DAFTAR PUSTAKA
Demetrovics, Z., Szeredi, B., & Rózsa, S. (2008). The three-factor model of internet addiction: The development of the problematic internet use questionnaire. Behavior Research Methods, 40 (2), 563-574.
9
Ekasari, P., & Dharmawan, A. H. (2012). Dampak sosial-ekonomi masuknya pengaruh internet dalam kehidupan remaja di pedesaan. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB.
Fackler, M. (2007). Seoul opens ‘rescue camp’ for web addiction. International Herald Tribune, 1
Hapsari, A., & Ariana, A. D. (2015). Hubungan antara Kesepian dan Kecenderungan Kecanduan Internet pada Remaja. Jurnal klinis dan kesehatan mental, 164-171
Herdiansyah, H. (2015). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu psikologi . Jakarta: Salemba Humanika.
Iqbal, F. (2013). Prosocial Behavior in Different Situations among Men and Women. Journal Of Humanities And Social Science, 8 (6) 31-40.
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo). (2013). Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
Leung, L. (2004). Net- generation attributes and seductive properties of the internet predictors of online activities and internet addiction. Cyberpsychology & Behavior, 7 (3), 333-347.
Mesch, G. S. (2012). Technology and youth. New Directions for Youth Development, 2012(135), 97-105
Malik, A. U., & Rafiq, N. (2015). Exploring the relationship of personality, loneliness, and online social support with interned addiction and procrastination. Pakistan Journal of Psychological Research, 31 (1), 93-117.
Neto, F., & Barros, J. (2000). Psychosocial concomitants of loneliness among students of cape verde and Portugal. The Journal of Psychology, 503-514. Soliha, S. F. (2015). Tingkat ketergantungan pengguna media sosial dan
kecemasan sosial. Jurnal Interaksi, 1-10.
Sarwono, S. W. (2013). Psikologi Remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Taylor, L. (2009). The gadget addict generation. Daily Mail, 26.
Widiana, H. S., Retnowati, S., & Hidayat, R. (2004). Kontrol diri dan kecenderungan kecanduan internet. Humanitas : Indonesian Psychologycal Journal Vol.1 No. 1.
Wee, C., Zhao, Z., Yap, P., Wu, G., Shi, F., Price, T., Du, Y., Xu, J., Zhou, Y., & Shen, D. (2014). Disrupted brain functional network in internet addiction
10
disorder: A resting-state functional magnetic resonance imaging study. PloS One, 9(9), 107-306.
Young, K. S. (1998). Internet addiction: The emergence of a new clinical disorder. CyberPsychology, 1 (3), 237-244.
Ybarra, M., Alexander, C., & Mitchell, K. (2005). Depressive symptomatology, youth internet use, and online interactions: A national survey. Journal of AdolescentHealth, 36, 9–18.
11
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos
Perilaku Kecanduan Internet Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Kos