C. PRIMA TANI KABUPATEN TANAH DATAR
Berdasarkan hasil pembahasan Litbang Pertanian 2006, pelaksanaan Prima Tani di Sumatera Barat juga meningkat dari dua lokasi menjadi 10 lokasi (Kabupaten/Kota), salah satunya adalah di Kabupaten Tanah Datar. Dari hasil konsultasi dan koordinasi dengan pihak Pemda Sumatera Barat dan Pemda Tanah Datar yang dilakukan pada tahun 2006, telah disepakati bahwa Nagari Lawang Mandahiling merupakan lokasi kegiatan pengembangan model agribisnis pedesaan (PRIMA TANI) untuk Kabupaten Tanah Datar.
Hasil kegiatan PRA yang dilakukan pada tahun 2006, terungkap bahwa Nagari ini termasuk salah satu nagari di Tanah Datar dengan tingkat perekonomian yang belum menggembirakan (Ka Distan Tanah Datar, komunikasi pribadi). Menurut data BPP Salimpaung jumlah KK miskin di nagari ini adalah sekitar 20%, mayoritas terdapat di jorong Kandang Malabung (BPP Salimpaung, 2006, Pemerintahan Kec.Salimpaung,2006). Sebagian besar penduduk Nagari ini bergerak di bidang pertanian yakni; tanaman pangan dan hortikultura 83%, peternakan 10%, dan perkebunan 2% (BPP Salimpaung, 2006). Usaha pertanian yang dijalankan penduduk nagari ini belum dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Salimpaung. Hal ini memperlihatkan belum tangguhnya usaha tani tersebut. Salah satu penyebabnya adalah fluktuasi harga yang tajam dari komoditas yang dihasilkan.
Oleh karena itu sangat diperlukan usaha untuk membangun suatu model agribisnis yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peluang untuk membangun agribisnis yang tangguh di nagari ini cukup tinggi, karena faktor penunjang seperti ketersediaan sumber daya alam (lahan dan air yang cukup, prasarana (jalan, alat komunikasi, listrik) yang memadai, serta sumberdaya menusia yang cukup berpengalaman dan responsif. Di samping itu, dukungan pemda setempat (Kabupaten, Kecamatan, dan Nagari) terhadap program pembangunan pertanian cukup tinggi.
Tujuan Kegiatan
1. Merancang serta menfasilitasi penumbuhan pembinaan percontohan sistem dan usaha agribisnis berbasis pengetahuan dan teknologi inovatif.
2. Membangun pengadaan sistem teknologi dasar (spt. benih dasar dan prototipe).
3. Menyediakan informasi, konsultasi, dan sekolah lapang untuk pemecahan masalah
4. Memfasilitasi dan meningkatkan kemampuan masyarakat dan pemerintah setempat untuk melanjutkan pembinaan dan pengembangan secara mandiri.
5. Menghimpun umpan balik untuk perbaikan penyusunan program Badan Litbang Deptan.
Luaran Kegiatan Prima Tani
1. Sebagian besar produk yang dihasilkan memenuhi kriteria mutu secara konsisten dalam jumlah yang cukup.
2. Sebagian besar petani mengadopsi teknologi yang dicontohkan atau diterapkan
3. Sebagian besar petani menunjukkan perkembangan usaha, terlihat dari adanya penumpukan modal untuk operasional, tabungan dan investasi.
4. Sebagian besar petani mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah fluktuasi harga hasil usahatani.
5. Daya saing yang tinggi dari hasil pertanian, baik pada pasar lokal maupun regional.
Situasi Wilayah Nagari Lawang Mandahiling dan Komoditas Unggulan
Secara astronomis, Lokasi Lab. Agribisnis Kabupaten Tanah Datar berada pada 1o. 20’.00” - 10.21’.00” LS dan 1000.31’.30” – 1000.34’.00” BT, sedangkan secara administratif terletak pada Nagari Lawang Mandahiling, Kecamatan Salimpaung. Nagari ini merupakan dataran tinggi (993 - 1300 m dpl.) yang terletak sekitar 14 Km dari Ibu Kota Kabupaten Tanah Datar jarak tempuh sekitar 0,25 jam dengan kendaraan roda empat, sedangkan jarak ke Ibu Kota Provinsi sekitar 117 Km. Posisi Desa ini berada pada poros jalan Batu Sangkar - Bukit Tinggi/Payakumbuh sekitar 3,6 km. Nagari ini memiliki luas wilayah sekitar 15,5 Km2, dengan batas-batas sebagai berikut : (Pemerintahan Nagari Lawang Mandahiling, 2005)
Sebelah Utara : Nagari Tabek Patah Sebelah Selatan : Nagari Salimpaung Sebelah Barat : Gunung Marapi Sebelah Timur : Nagari Supayang
Nagari ini memiliki prasarana yang cukup memadai, terutama untuk transportasi dan komunikasi. Poros nagari ini dilalui jalan propinsi dengan kondisi baik sepanjang 4 km, di samping itu juga terdapat jalan kabupaten sepanjang 5 km (kondisi baik), dan jalan nagari sepanjang 30 km. Di samping ini juga terdapat jalan usahatani yang relatif dapat menjangkau daerah pertanian. Sarana komunikasi yang tersedia adalah telepon tetap dan mobile. Hampir seluruh kawasan di nagari ini terjangkau sinyal telepon mobile. Jaringan listrik dari PLN juga sudah menjangkau hampir semua daerah pemukiman dan hampir semua penduduk sudah meninkmati aliran listrik PLN. Di sini juga terdapat sarana kesehatan berupa Puskesmas Pembantu dan beberapa Posyandu.
Gambar C1. Lokasi Lab. Agribisnis Kab. Tanah Datar secara geografis (1). Sawah tadah hujan
Penyebaran sawah di Nagari Lawang Mandahiling menempati daerah lereng bawah dan daerah pelembahan dengan Keadaan sawah di daerah ini umumnya merupakan sawah tadah hujan dan hanya sebagian kecil berupa sawah irigasi sederhana. Pola tanam yang dilakukan di lahan sawah umumnya adalah padi – sayuran dan sebagian daerah yang cukup air adalah padi - padi. Penyebaran sawah tadah hujan di lokasi prima tani ini meliputi luas kurang lebih 267 ha.
Nagari Lawang Mandahiling termasuk daerah pola curah hujan IV2 yang memiliki curah hujan 2.000–3.000 mm/tahun dengan periode basah (>200 mm/bulan) terjadi mulai bulan Oktober-Januari dan Maret-April. Tabel C1. Curah hujan di Lokasi Prima Tani Nagari Lawang Mandahiling,
Tanah Datar Stasiun
Iklim J F M A M J J A S O N D Jumlah Oldeman
S & F Batu Sangkar 329 184 221 208 115 88 94 131 152 211 180 275 2188 C1 A Tabat Patah (1977-1982) 330 206 243 234 170 134 86 176 166 263 273 290 2571 C1 A
Kebutuhan air untuk usahatani di Nagari Lawang Mandahiling umumnya bergantung pada air hujan dan sungai. Nagari ini dilalui dua sungai kecil yakni Batang Hino dan dan sungai Malintang yang airnya mengalir sepanjang tahun. Kebutuhan air untuk rumah tangga berasal dari PAM, sumur, dan air hujan. Kebutuhan air untuk penanaman di lahan kering dari air hujan mencukupi, walaupun bulan kering (<100 mm/bulan) selama 1-2 bulan (Juni-Juli). Kebutuhan air untuk pertanaman padi sawah pada musim hujan juga mencukupi karena debit air sungai yang ada cukup besar.
Komoditas unggulan yang akan dikembangkan di lokasi Prima Tani adalah komoditas yang diperkirakan memiliki titik ungkit atau peluang terbesar dalam peningkatan pendapatan masyarkat. Peluang keberhasilan ditinjau dari dukungan potensi sumberdaya lahan, pengalaman petani, dan pemasaran produk. Pemilihan komoditas unggulan dilakukan melalui beberapa langkah. Langkah pertama adalah diskusi dengan petugas pertanian yang mengenal calon lokasi Prima Tani yakni pihak BPP dan PPL setempat. Selanjutnya, dilakukan peninjauan lokasi untuk melihat potensi sumberdaya lahan yang mendukung alternatif komoditas yang diinformasikan petugas. Alternatif komoditas unggulan ini kemudian di verifikasi apakah sesuai dengan pengalaman dan keinginan petani melalui kegiatan PRA. Pada PRA ini juga sekaligus diinventarisasi kendala pengembangannya.
Dari kegiatan di atas disimpulkan komoditas unggulan untuk dikembangkan di lokasi ini yakni cabai, kubis, kentang, dan ternak sapi. Hasil PRA selanjutnya dipaparkan pada Workshop Sosialisasi dan Sinkronisasi Program Mendukung Prima Tani di Bappeda Kabupaten yang dihadiri Kepala Bappeda dan Dinas Terkait beserta jajarannya.
C.1. Kinerja Inovasi Teknologi, Kelembagaan dan Diseminasi C.1.1. Inovasi Teknologi
Berdasarkan hasil identifikasi masalah agribisnis serta kondisi biofisik dan sosial ekonomis Nagari Lawang Mandahiling, maka model agribisnis yang potensial untuk dikembangkan adalah model pertanian terpadu secara fungsional antara tanaman sayuran (kentang dan kubis), buah (markisa manis) dengan ternak sapi/kambing.
C.1.1.1. Inovasi Teknologi untuk Kentang
Komoditas kentang adalah komoditas utama di lokasi ini sebelum petani beralih mengusahakan cabe/tomat. Bahkan, daerah ini pernah menjadi salah satu sentra produksi kentang di Sumatera Barat. Peralihan dari komoditas kentang ke komoditas cabe/tomat adalah karena tingkat produksi yang dicapai kurang menguntungkan. Berdasarkan data dari kecamatan, tingkat hasil kentang dewasa ini di bawah 10 t/ha, jauh di bawah potensi hasil komoditas ini yang dapat mencapai 25 t/ha.
(berulang-ulang). Penyebab lainnya diduga adalah tingkat kesuburan tanah yang sudah berkurang dan pemakaian pupuk kandang yang kurang sesuai.
Pada tanaman kentang inovasi yang didesiminasikan adalah penggunaan bibit bermutu varietas spesifik kentang daerah ini yakni varietas Cingkariang (dahulu Hitam Batang). Varietas ini merupakan varietas yang sudah beradaptasi baik di daerah ini, tingkat hasilnya sangat rendah karena mutu benih yang tidak baik. Kerjasama BPTP Sumbar dengan Balitsa th 2002 telah berhasil memurnikan dan membersihkan virus dari varietas ini (memproduksi G0), dan saat ini sudah diperbanyak sampai G3. Pada tahun 2008 diharapkan telah tersedia cukup bibit G4 untuk digunakan sebagai sumber benih unggul.
C.1.1.2. Inovasi Teknologi untuk Kubis
Komoditas kubis adalah komoditas alternatif yang diusahakan petani sebagai pengganti tomat/cabe yang terserang berat virus kuning. Pada awalnya, hanya beberapa petani yang mengusahakan tanaman kubis. Karena jumlah petani yang mengusahakan kubis terbatas, tingkat harga produksi yang diperoleh sangat menguntungkan sehingga petani-petani lainnya ramai-ramai membudidayakan komoditas ini. Akibatnya harga kubis menjadi sangat rendah dan merugikan. Bahkan sebagian besar petani tidak memanen kubisnya sama sekali. Jika kendala produksi cabe/tomat dapat dikendalikan, maka diharapkan penghasilan dari usahatani komoditas ini dapat kembali menjadi andalan petani. Namun demikian, ushatani kubis tidak perlu ditinggalkan samasekali karena telah terbukti bahwa agroekosistem di sini cocok untuk kubis dan petani sudah terampil membudidayakan komoditas ini. Yang perlu diperhatikan adalah pemecahan masalah utama pada budidaya kubis seperti terlihat pada gambar berikut ini.
MASALAH: Harga Rendah SUMBER MASALAH: 1. Produksi Melimpah
2. Posisi Tawar Petani Lemah AKAR MASALAH:
1. Belum ada pengaturan luas areal tanam 2. Belum ada pemasaran secara berkelompok
3. Terdapat praktek monopoli oleh pedagang setempat ANTISIPASI MASALAH:
1. Perlu pengaturan luas areal tanam atau waktu tanam 2. Diversifikasi komoditas
3. Pendirian Kelompok Pemasaran 4. Perlu campur tangan aparat desa
KEBUTUHAN INOVASI: 1. Teknologi Polatanam
2. Sistem/Kelembagaan pemasaran
3. Informasi areal tanam daerah kompetitor 4. Informasi harga dari berbagai pasar
SUMBER TEKNOLOGI: BALTSA, BPTP, KOPERINDAG
Gambar C2. Perumusan masalah pada usahatani kubis dan alternatif pemecahannya.
Gambar C3. Kendala utama pada komoditas sayuran; virus kuning pada cabai, oversupply pada kubis dan benih asalan pada kentang.
C.1.1.3. Inovasi Teknologi untuk Sapi
Sebagaimana disinggung di depan, pengembangan ternak sapi di lokasi ini sangat dibutuhkan sebagai usaha diversifikasi usaha dan sebagai penunjang usahatani sayuran yang membutuhkan pupuk organik/pupuk kandang. Pengembangan ternak sapi di lokasi ini memilki potensi yang cukup dari segi penyediaan pakan pokok (hijauan) yang tersedia sepanjang tahun, karena distribusi hujan yang cukup sepanjang tahun. Namun demikian pengembangan komoditas ini masih menghadapi beberapa kendala/permasalahan. Permasalah yang ditemui pada usaha pengembangan peternakan yang terungkap dari PRA dapat dilihat pada Gambar C4 berikut.
MASALAH
Populasi rendah Produktivitas belum optimal
SUMBER MASALAH
Kurang Modal 1. Pemberian pakan belum optimal 2. Serangan Hama/penyakit 3. Tingkat konsepsi rendah
AKAR MASALAH
Pendapatan petani rendah 1. Pengetahuan petani kurang 2. Akses terhadap inseminasi kurang
ANTISIPASI MASALAH 1. Mengundang investor 2. Peningkatan penumpukan modal 1. Mengadakan pelatihan 2. Mengkatkan frekuensi IB KEBUTUHAN INOVASI 1. Penumbuhan kelembagaan bagi hasil 2. Penumbuhan Koperasi
1. Teknologi pengelolaan ternak 2. Teknologi sinkronisasi
SUMBER TEKNOLOGI
1. Koperindag
2. BPTP 1. Balitnak 2. BPTP
Gambar C4. Perumusan masalah pada usaha ternak dan alternatif pemecahan-nya.
C.1.1.4. Inovasi Teknologi untuk Buah Markisa manis
Inovasi yang diintroduksikan adalah teknologi budidaya lengkap. Hal ini adalah karena petani di sini belum berpengalaman membudidayakan komoditas ini. Sistem pembudidayaan yang akan diintroduksikan adalah integrasi dengan tanaman sayuran (kentang dan kubis), serta ternak kambing.
C.2. Inovasi Kelembagaan
Pada tahun 2008 organisasi Gapoktan yang telah dibentuk pada tahun 2007 dan telah mulai menjalankan fungsinya terus dibina sehingga lembaga ini lebih berfungsi. Diharapkan, untuk selanjutnya organisasi ini akan berjalan secara mandiri dan berkesinambungan.
Penumbuhan kelembagaan petani dilakukan dengan pembentukan dan organisasi petani berupa Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) yang menghimpun kelompok-kelompok tani yang sudah ada (9 Poktan). Hasil yang dicapai pada kegiatan ini adalah tumbuhnya komitmen kelompok-kelompok tani untuk bergabung dalam satu Gapoktan, terbentuknya pengurus dan AD/ART, kelengkapan legalitas organisasi (SK Wali Nagari dan SK Bupati), penyediaan sarana dan prasarana Gapoktan (kantor dan peralatan), serta program kerja.
dan dilengkapi sarananya melalui kegiatan Prima Tani. Dari lima seksi yang ada pada Gapoktan, dua seksi yakni seksi Jasa Alsintan dan seksi Permodalan telah berjalan cukup baik. Pada tahun kedua Prima Tani, seksi Jasa Alsintan telah mengoperasikan dua traktor tangan dan delapan mesin potong rumput bantuan Pemda Tanah Datar. Kegiatan ini telah memberikan tambahan modal Bagi Gapoktan.
Gambar C5. Bangunan kantor Gapoktan Prima Kamala dan Surat Keputusan Wali Nagari dan Bupati sebagai kelengkapan legalitas organisasi
Seksi permodalan di Gapoktan ini dibentuk berupa LKMA (Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis). Seksi ini juga telah berjalan cukup lancar karena ditunjang oleh manajemen yang cukup baik yang terdiri dari tenaga-tenaga usia muda setempat dan adanya aturan main yang disepakati bersama. LKMA ini mengelola dana yang berasal dari “seed capital” dan program PUAP. Administrasi pengelolaan modal telah berjalan cukup lancar karena seksi ini telah dilengkapi satu perangkat komputer dan blanko-blanko keuangan yang mengikuti system perbankan.
Gambar C6. Kantor LKMA Prima Kamala (kiri) dan blanko keuangan simpan pinjam
Seksi pendidikan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota juga sudah memiliki sarana dan prasarana yang cukup untuk menjalankan fungsinya. Sarana dan prasarana tersebut adalah sebuah perpustakaan mini yang memiliki koleksi buku, buklet, dan leaflet yang berhubungan dengan bidang pertanian sebanyak 63 judul. Di samping sebagai perpustakaan bidang pertanian, perpustakaan Gapoktan ini juga sudah dipercaya oleh Pemerintahan Nagari sebagai perpustakaan nagari, sehingga buku-buku bantuan untuk nagari dari pihak luar seperti dari berbagau Universitas dan lembaga lainnya diserahkan ke perpustakaan Gapoktan ini.
Dengan kelengkapan fasilitas yang sudah tersedia dan kegiatan yang sudah berjalan, Gapoktan Prima Kamala yang ditumbuhkan Prima Tani ini menduduki peringkat kedua sebagai Gapoktan terbaik di Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2009.
Gambar C7. Ruang perpustakaan Gapoktan sebagai ruang baca dan tempat pelatihan petani.
C.3. Klinik Agribisnis
Klinik Agribisnis merupakan salah satu elemen lembaga yang telah dibangun dan dikembangkan dalam pelaksanaan Primatani LKDTIB DI Nagari Lawang Mandahiling pada tahun 2007. Pada tahun 2008 Klinik ini lebih difungsikan sesuai dengan tujuan pendiriannya. Klinik ini merupakan salah satu lembaga pelayanan jasa konsultasi, desiminasi dan informasi yang terkait dengan pengembangan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP), sehingga dapat berperan menjadi wadah untuk menampung permasalahan dan penyediaan informasi inovasi teknologi pertanian yang dibutuhkan oleh pelaku agribisnis/usahatani. Inovasi teknologi pertanian tersebut berupa inovasi teknologi produksi, panen dan pascapanen, kelembagaan mulai dari kelembagaan produksi sampai pada kelembagaan pemasaran. Inti dari peran klinik ini adalah lebih mendekatkan sumber-sumber teknologi pertanian kepada pengguna, khususnya petani, dan sekaligus menjadi media untuk menghimpun umpan balik bagi perbaikan atau peningkatan kualitas
Pelayanan informasi melalui kilinik agribisnis dilakukan melalui tiga kegiatan utama yaitu : 1) penyebaran informasi secara tertulis maupun lisan; 2) pemberian jasa konsultasi usahatani dan 3) pelayanan pemecahan masalah usahatani di lapangan. Untuk itu, pada tahun pertama penumbuhan klinik agribisnis perlu dirancang operasionalisasinya dengan memanfaatkan sumberdaya setempat seoptimal mungkin. Hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain: lokasi (bangunan) klinik, materi yang akan didiseminasikan, pengelola, peralatan, dan lahan sebagai tempat untuk mendemonstrasikan inovasi teknologi yang akan diterapkan (visitor plot). Materi yang akan didesiminasikan dirancang dan disusun secara jelas dan disesuaikan dengan kebutuhan petani.
Berdasarkan kegiatannya, maka klinik agribisnis dilengkapi dengan : 1) tenaga konsultan agribisnis, 2) peragaan inovasi pertanian dalam bentuk leaflet, warta, poster, dan media elektronik, 3) informasi agribisnis yang mencakup input- output (jenis komoditas, harga, kebutuhan pasar, permodalan dan kualitas). 4) Informasi inovasi teknologi budidaya, pascapanen, penyuluhan, dan pemasaran. 5) Informasi tentang managemen pengelolaan alat dan mesin pertanian ( Badan Litbang Pertanian, 2006). Kegiatan klinik agribisnis ditujukan untuk : 1) memecahkan permasalahan yang ada di lapangan, 2) memanfaatkan dan mengembangkan potensi dan peluang afribisnis yang tersedia, 3) memperbaiki teknologi eksisting dan inovasi teknologi sesuai kebutuhan lapangan, 4) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengelola usahataninya.
DAMPAK INOVASI TERHADAP PERILAKU MASYARAKAT MANDAHILING
Untuk tahun pertama ini belum terlihat dampak yang berarti dari kegiatan Prima Tani, terutama dari segi pendapatan mesyarakat. Namun, beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan menumbuhkan potensi untuk meningkatkan pendapatan, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Dari segi kelembagaan, dengan telah ditumbuhkannya Gapoktan. aktifitas berkelompok para petani, baik untuk tujuan produksi dan pembelajaran telah hidup kembali. Pelatihan-pelatihan teknis juga diharapkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Keberadaan Prima Tani telah berhasil memancing sharing program dari Pemda (seperti telah diuraikan di atas). Hasil sharing program pemda ini memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan pendapatan apabila dilanjutkan dengan kegiatan produktif lainnya. Prima Tani dengan klinik agribisnisnya dan kegiatan-kegiatannya telah berfungsi sebagai forum peneliti–penyuluh–petani. karena dalam setiap kegiatannya selalu melibatkan tiga pihak ini. Keterlibatan pemangku kepentingan lainnya seperti perguruan tinggi dan pengusaha belum terealisasi pada tahun ini. Hal ini adalah kerena belum dilakukannya sosialisasi dan kordinasi dengan pihak-pihak tersebut, masih sangat kecil.