TINJAUAN PUSTAKA. Potensi Indigofera sp.sebagaipakan Ternak Ruminansia

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Potensi Indigofera sp.sebagaiPakan Ternak Ruminansia

Indigofera sp.adalah genus besar dari sekitar 700 jenis tanaman berbunga

milik keluarga Fabaceae (Schrire, 2005). Terdapat di seluruh daerah tropis dan subtropis di dunia, dari beberapa jenis mencapai zona di kawasan Timur Asia.

Indigofera sp.memberikan peluang yang menjanjikan dalam hal pemenuhan

kebutuhan ternak ruminansia terhadap penyediaan hijauan pakan. Menurut Hassen et

al., 2008 produksi bahan kering (BK) total Indigofera sp. adalah 21 ton/ha/tahun dan

produksi bahan kering daun 5 ton/ha/tahun. Indigofera sp. memiliki kandungan protein yang tinggi, toleran terhadap musim kering, genangan air, dan tahan terhadap salinitas. Tepung daun Indigofera sp.mengandung protein kasar (PK) 22,30-31,10%, NDF 18,90-50,40%, kecernaan in vitro bahan organik berkisar 55,80-71,70%, kandungan serat kasar sekitar 15,25%. Selain itu legum ini memiliki kandungan mineral yang cukup untuk pertumbuhan optimal ternak. Kandungan mineral yang terkandung, yaitu Ca 0,97-4,52%, P 0,19-0,33%, Mg 0,21-1,07%, Cu 9-15,30 ppm, Zn 27,20-50,20 ppm, dan Mn 137,40-281,30 ppm (Hassen et al., 2007) serta memiliki kandungan tanin sebanyak 9,35% (Ologhobo,2009).

Gambar1. Daun Indigofera sp.

Sumber : Fotopenelitian, 2011

Taksonomi tanaman Indigofera sp.sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae

(2)

4

Bangsa : Rosales

Suku : Leguminosae

Marga : Indigofera

Jenis : Indigofera arrecta L.

Ciri-ciri legum Indigofera sp.adalah tinggi kandungan protein dan toleran terhadap kekeringan dan salinitas menyebabkan sifat agronominya sangat diinginkan. Saat akar terdalamnya dapat tumbuh kemampuannya untuk merespon curah hujan yang kurang dan ketahanan terhadap herbivora merupakan potensi yang baik sebagaicover crop (tanaman penutup tanah) untuk daerah semi- kering dan daerah kering (Hassen et al., 2006). Interval defoliasi tanaman ini yaitu 60 hari dengan intensitas defoliasi 100 cm dari permukaan tanah pada batang utama dan 10 cm dari pangkal percabangan pada cabang tanaman (Suharlina, 2010).

Tabel1. Kandungan NutrientIndigofera sp.

Kandungan Nutrient Presentase (a) Presentase (b)

Bahan Kering (%) 21,97 93,21 Abu (% BK) 6,41 12,51 Protein Kasar (% BK) 24,17 27,88 Serat Kasar (% BK) 17,83 32,73 Lemak Kasar (% BK) 6,15 1,48 Beta-N (% BK) 38,65 25,39 NDF (%) 54,24 - ADF (%) 44,69 -

Keterangan: a) Kandungan nutrient Indigofera sp. sebagai pakan basal kambing boerka (Simanihuruk

et al., 2009), b) Kandungan nutrient Indigofera sp. ransum penelitian, Laboratorium

Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, 2011, NDF = Neutral Dietergent Fiber, ADF =

Acid Detergent Fiber.

Potensi Limbah Tauge sebagai Pakan Ternak Ruminansia

Limbah tauge adalah sisa dari produksi tauge yang terdiri dari kulit kacang hijau atau angkup tauge dan pecahan-pecahan tauge yang diperoleh pada saat pengayakan atau ketika pemisahan untuk mendapatkan tauge yang dapat dikonsumsi. Limbah tauge biasanya dibuang begitu saja di pasar atau oleh para pengrajin tauge, sehingga hal tersebut berpeluang untuk mencemari lingkungan. Potensi limbah tauge dalam sehari sangat banyak dilihat dari produksi tauge yang tidak mengenal musim

(3)

5

terutama untuk pengrajin tauge di daerah Bogor. Sebagai contoh, total produksi tauge di daerah Bogor sekitar 6,5 ton/hari (Rahayu et al., 2010). Limbah tauge dihasilkan dari kacang hijau yang mengalami perubahan fisik secara biologi dan kimia menjadi tauge, kemudian dilakukan pengayakan tauge di pasar sebelum dijual ke konsumen. Kacang hijau mempunyai kandungan protein yang tinggi dan susunan asam amino yang mirip dengan susunan asam amino kedelai. Salah satu kekurangan kacang hijau adalah adanya kandungan anti tripsin yang dapat menghambat penyerapan protein. Salah satu cara untuk mengurangi kandungan anti nutrisinya adalah dengan memberikan perlakuan pada kacang tersebut seperti perendaman, perkecambahan, dan pemanasan (Belinda, 2009).

Gambar2. Limbah taugekacang hijau Sumber : Foto Penelitian, 2011

Selama proses perkecambahan, beberapa kandungan pati diubah menjadi bagian yang lebih kecil dalam bentuk gula maltosa. Karbohidrat sebagai bahan persediaan makanan dirombak oleh enzim alfa amilase dan beta amilase yang bekerja saling mengisi. Alfa amilase mengubah pati menjadi dekstrin, sedangkan beta amilase memecah dekstrin menjadi maltosa. Molekul protein dipecah menjadi asam amino sehingga pada kecambah terjadi kenaikan konsentrasi asam amino yaitu lisin 24%, threonin 19%, alanin 29%, dan fenilalanin 7%. Lemak dihidrolisa menjadi asam lemak yang mudah dicerna. Beberapa mineral seperti Ca dan Fe yang biasa terikat erat dapat dilepaskan sehingga menjadi bentuk yang lebih bebas. Dalam setiap 100 gram tauge mengandung energi 50 kkal, kalsium 32 mg, potasium 235 mg, besi 897 mg, fosfor 75 mg, seng 960 mg, asam folat 160 mg, vitamin C 20 mg, dan vitamin B2 163 mg. Tauge mengandung nilai gizi tinggi, murah, dan mudah didapat.

(4)

6

Dalam bentuk tauge, kandungan vitaminnya lebih banyak daripada bentuk bijinya yaitu kacang hijau. Kadar vitamin B-nya meningkat 2,5-3 kali lipat, sedangkan vitamin C meningkat menjadi 20 mg/100gr. Berdasarkan berat kering, kandungan protein tauge juga meningkat 119% dari kandungan awalnya. Hal ini terutama dikarenakan terjadinya sintesa protein selama proses germinasi kecambah (Winarno, 1981). Limbah tauge memiliki kandungan nutrisi, kandungan airnya 63,35%, abu 7,35%, lemak 1,17%, protein 13,62%, serat kasar 49,44%, dan kandungan TDN adalah 64,65% (Rahayu et al., 2010).

Tabel 2. Kandungan Nutrient Limbah Tauge

Kandungan Nutrient Presentase (a) Presentase (b)

Bahan Kering (%) 44,62 87,94 Abu (% BK) 7,35 3,00 Protein Kasar (% BK) 13,63 16,40 Serat Kasar (% BK) 49,44 43,78 Lemak Kasar (% BK) 1,17 0,24 Beta-N (% BK) 28,42 36,58 TDN (%) 64,65 67,80

Keterangan : (a) Kandungan nutrient limbah tauge untuk ransum penggemukan domba UP3 jonggol (Wandito, 2011), (b) Kandungan nutrient limbah tauge ransum penelitian, hasil analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, 2011, TDN = Total

Digestibelity Nutrient.

RUSITEC (Rumen Simulation Technique)

Rusitec merupakan model yang dirancang untuk menyamakan kondisi yang mirip di dalam rumen. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar populasi mikroba di dalam rumen tetap normal dalam jangka waktu yang lama selama pemberian

treatmen (Koike et al., 2007).

Prinsip metode Rusitec menurut Czerkawski & Breckenridge (1977) adalah cairan rumen harus berada dalam kondisi 39oC dengan menggunakan pemanasan

wather bath. Volume tabung yang digunakan untuk proses fermentasi 1060 ml yang

didalamnya terdapat dua kantong nylon berisi padatan dan pakan perlakuan yang diinkubasikan selama 48 jam. Pada tabung fermentor terdapat cairan rumen sebagai inokulum dan larutan buffer sebanyak 620 ml/hari. Menurut para ahli metode ini dikenal sebagai sistem “Continous Flow Aparatus”atau Chemostat. Alat ini juga

(5)

7

merupakan pengukur fermentasi in vitro yang biasa dipakai untuk menentukan derajat penggunaan makanan (Johnson,1966).

Gambar3. Alat Rusitec dengan 8 vessel Sumber : Foto Penelitian, 2011

Cairan rumen sebagai sumber inokulum merupakan bagian yang penting untuk penyelidikan fermentasi in vitro. Menurut Johnson (1966) para ahli menyarankan pentingnya pemberian ransum yang sama dengan substrat yang akan diselidiki daya cerna pada hewan yang dijadikan sebagai induk semang mengingat banyak perbedaan dalam jenis jenis bakteri rumen yang kebutuhannya berbeda-beda. Tetapi dalam sistem RUSITEC, hal ini tidak diperlukan karena adanya masa “prelim” beberapa hari sebelum masa pengamatan.

Keasaman (pH), menurut Hungate (1966) keasaman dalam rumen berkisar antara 5,5-7,0, namun para peneliti berpendapat sekitar 6,9. Untuk memelihara kehidupan mikroba perlu keasaman mendekati netral. Dalam sistem RUSITEC pH fermentor mendekati normal karena dialirkan kedalamnya buffer McDougall sebagai saliva buatan. Pada RUSITEC di dalam rumen buatan, mikroorganisme dapat bertahan dengan memberi makan seperti ruminansia normal setiap hari dan memperhatikan kondisi fisiologis yang benar meliputi suhu, pH, dan saliva. (Dong Yet al., 1997).

Cairan Rumen

Cairan rumen dapat diambil dari limbah pemotongan ternak, dari tubuh ternak hidup dengan menggunakan stomach tube, atau dari ternak yang memiliki lubang fistula (Hungate, 1966). Cheng et al. (1980) menyatakan bahwa pada kondisi anaerob, asam lemak dan cairan rumen dapat dengan cepat menghancurkan plasmalema dan banyak struktur sitoplasma dari sel tanaman.

(6)

8

Penghuni terbesar dalam cairan rumen adalah bakteri yaitu 1010-1012/ml cairan rumen dan populasi terbesar kedua diduduki oleh protozoa yang dapat mencapai 105–106sel/ml cairan rumen, namun demikian karena ukuran tubuhnya lebih besar dari bakteri maka biomassanya ternyata cukup besar yakni mengandung lebih kurang 40% total nitrogen mikroba rumen (Hungate, 1966).

Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia

Mikroba rumen dan induk semang (ternak) hidup secara simbiosis. Secara umum terdapat empat jenis mikroorganisme rumen, yaitu bakteri (1010-105 zoospora/ml, mewakili 5 jenis), dan bakteriofag (108-109/ml). Bakteri mendegradasi selulosa, hemiselulosa, pati, protein, dan sangat sedikit jumlah minyak untuk menghasilkan VFA dan protein mikroba di dalam rumen. Protozoa mencerna karbohidrat dan protein. Fungi memiliki peran dalam fermentasi rumen yaitu sebagai pencerna pakan serat karena fungi membentuk koloni pada jaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding sel tanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen (Kamra, 2005).

Protozoa memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan bakteri, ukuran tubuh protozoa lebih besar sehingga total biomassanya hampir sama dengan bakteri (McDonaldet al., 2002). Protozoa bersifat fagosit aktif (pemangsa/predator) terhadap bakteri rumen terutama bakteri amilolitik. Bakteri amilolitik menempel granula pati dan sifat makan protozoa yang menelan partikel-partikel pati sehingga bakteri amilolitik ikut termakan bersama granula pati (Subrata et al., 2005). Sebanyak 70% dari total bakteri metanogen bersimbiosis dengan protozoa (Jouany, 1991). Produksi H2 dari hasil fermentasi akan dimanfaatkan oleh bakteri metanogen

untuk diubah menjadi gas metan (CH4). Hal ini akan merugikan karena pembentukan

metan merupakan proses pemborosan yang dapat mengurangi 6-10% gross energi (Jayanegara, 2008) yang seharusnya dapat dikonversi dalam pembentukan produk fermentasi.

Pencernaan merupakan perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan pakan dalam alat pencernaan. Proses pencernaan tersebut meliputi : (1) pencernaan mekanik, (2) pencernaan hidrolitik dan (3) pencernaan fermentatif. Pencernaan mekanik terjadi dimulut oleh gigi melalui proses mengunyah dengan tujuan untuk memperkecil ukuran, yang kemudian akan masuk ke dalam perut dan usus untuk

(7)

9

melalui pencernaan hidrolitik, dimana zat makanan akan diuraikan menjadi molekul-molekul sederhana oleh enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh hewan (Sutardi, 1980). Hasil pencernaan fermentatif berupa Volatile Fatty Acids (VFA), NH3, dan air diserap di sebagian rumen dan sebagian lagi di abomasum dan dicerna

secara hidrolitik oleh enzim enzim pencernaan sama seperti yang terjadi di hewan monogastrik. Pencernaan berlangsung dari suatu saluran yang terentang dari mulut ke anus (Fradson, 1996). Zat makanan tersebut dalam saluran pencernaan mengalami perombakan menjadi zat-zat yang siap untuk diserap tubuh hewan (Tilman et al., 1986).

Sistem pencernaan ruminansia sangat bergantung pada perkembangan populasi mikroba yang mendiami retikulorumen dalam mengolah setiap bahan pakan yang dikonsumsi. Mikroba tersebut berperan sebagai pencerna-pencerna serat dan sumber protein. Adanya mikroba yang berperan dalam pencernaan pakan di dalam rumen menyebabkan ternak ruminansia mampu mencerna pakan berserat yang berkualitas rendah, sehingga kebutuhan asam-asam amino untuk ternak tidak sepenuhnya tergantung pada protein pakan yang diberikan (Sutardi, 1980).

Pencernaan Fermentatif

Proses pencernaan pada ruminansia terjadi secara mekanis di dalam mulut, fermentatif oleh mikroba dalam rumen dan hidrolisis oleh enzim pencernaan ternak inang. Proses pencernaan fermentatif zat makanan dirombak oleh mikroba menjadi senyawa lain yang berbeda sifat kimianya sebagai zat intermediate. Produk dari hasil pencernaan fermentatif yaitu asam lemak terbang (VFA), NH3, sel mikroba, gas

metan, CO2 dan air. Gas metan akan dikeluarkan dengan cara eruktasi dan VFA

diserap melalui dinding rumen. Sekitar 75% dari total VFA yang diproduksi akan diserap langsung retikulo-rumen yang masuk ke darah, sekitar 20% diserap di abomasum dan omasum, dan sisanya sekitar 5% diserap usus halus (McDonald et al., 2002).

Peningkatan produksi VFA menunjukkan mudah atau tidaknya pakan tersebut didegradasi oleh mikroba rumen (Sakinah, 2005).Ransum yang diberikan kepada ternak ruminansia sebagian besar terdiri dari karbohidrat. Degradasi karbohidrat di dalam rumen dilakukan dengan dua tahapan yaitu 1) karbohidrat kompleks (polisakarida : selulosa, pati dan lain-lain) dihidrolisa menjadi gula

(8)

10

sederhana (monosakarida glukosa) oleh enzim-enzim mikroba rumen, 2) monosakarida menjadi piruvat yang selanjutnya akan diubah menjadi produk akhir yaitu VFA (asetat, propionat dan butirat) (McDonald et al., 2002).

Selulosa Pati Selobiosa Maltosa Glukosa 2 ATP 2 NAD+ 2 NADH

Piruvat 2 NADH 2 NAD+

CO2 CH4

Asam Laktat Asetil Co-A

4 NADH NADH

4 NAD NAD +

Propionat Asetat Butirat

Gambar4. Sintesis VFA oleh mikroorganisme di rumen Sumber : Damron (2006)

Menurut McDonald et al. (2002) proporsi molar dari VFA terdiri dari 65% asetat, 21% propionat, dan 14% butirat. Hal ini sangat dipengaruhi oleh jenis pakan yang dikonsumsi. Kecepatan produksi VFA dan sel bakteri berhubungan dengan konsumsi TDN(Arora, 1989). Karbohidrat seperti selulosa, hemiselulosa, pectin, pati, dan gula tercerna lainnya merupakan substrat utama dalam proses fermentasi. Karbohidrat ini didegradasi menjadi bentuk heksosa dan pentosa sebelum difermentasi menjadi VFA oleh piruvat (France dan Dijkstra, 2005).

Banyaknya VFA yang dihasilkan di dalam rumen sangat bervariasi tergantung pada jenis ransum yang dikonsumsi. Konsentrasi VFA total yang layak bagi kelangsungan hidup ternak 70-150 mM (McDonald et al., 2002) dengan titik optimumnya adalah 110 mN (Suryapratama, 1999).Menurut France dan Dijikstra (2005) konsentrasi VFA total dapat turun menjadi 30 mM atau meningkat sampai 200 mM, namun pada umumnya konsentrasi VFA berkisar antara 70-130 mM. Konsentrasi yang relatif tinggi atau rendah ini menunjukkan pola fermentasi, yang

(9)

11

terlihat jelas pada pakan hijauan tetapi kurang terlihat pada pakan konsentrat. Tinggi rendahnya konsentrasi VFA dipengaruhi oleh pakan basal, tipe karbohidrat pakan, bentuk fisik pakan, tingkat konsumsi, frekuensi pakan, dan penggunaan aditif kimia. Menurut Salawu et al. (1997) faktor yang mempengaruhi konsentrasi VFA adalah kandungan serat kasar dan unsur karbon yang terdapat dalam protein. Selain itu jenis dan jumlah mikroorganisme juga mempengaruhi konsentrasi VFA.

Berdasarkan penelitian Fitri (2010), produksi VFA total hasil fermentasi in

vitro empat jenis daun leguminosa pohon secara berurutan dari gamal, kaliandra,

kelor, dan lamtoro, yaitu 110,17 mM; 97,67 mM; 138,04 mM; dan 110,38 mM.Perbandingan antara asamlemak terbang yang dihasilkan tidak tetap, bergantungpada tipe makanan, pengolahan dan frekuensi pemberian makan (Soewardi,l974).Umumnya perbandingan VFA berkisar 65% asetat, 20% propionat, 10% butirat dan5% valerat (Sutardi, 1977). Ransum dari penguat akan rnenghasilkan perbandingan 45% asetat, 40% propionat, 5-10% butirat dan 2-8% valerat. Apabila konsentrat dalamransum meningkat, maka proporsi asetat menurun dan asam propionat meningkat(Ranjhan, 1980).

Ternak mengkonsumsi pakan yang cukup akan protein untuk memenuhi kebutuhan protein dalam tubuhnya. Protein dalam rumen mengalami proteolisis seperti halnya karbohidrat. Protein pakan di dalam rumen dipecah oleh mikroba menjadi peptida dan asam amino, beberapa asam amino dipecah lebih lanjut menjadi amonia. Amonia merupakan hasil metabolisme protein dan nitrogen bukan protein. Amonia dalam rumen adalah sumber nitrogen yang akan digunakan oleh mikroba rumen dalam pembentukan protein mikroba (McDonald et al., 2002).

Amonia dalam cairan rumen merupakan produk akhir dari proteolisis yang dirombak oleh populasi bakteri rumen. Amonia juga merupakan sumber nitrogen utama untuk sintesis protein oleh populasi bakteri rumen. Pada waktu tertentu, konsentrasi amonia dalam rumen tergantung pada laju relatif pelepasan dan pembentukan kembali amonia. Amonia dalam cairan rumen dibentuk ketika asam amonia berlebihan yang dimetabolisme ke dalam intraselular oleh berbagai macam mikroorganisme. Saat amonia dalam intraselular meningkat, amonia akan dikeluarkan sebagian dimana amonia ini tersedia dan akan dimanfaatkan oleh beberapa mikroorganisme selulotik (France dan Dijkstra, 2005).Konsentrasi amonia

(10)

12

optimum dalam cairan rumen berkisar antara 85 hingga lebih dari 300mg/l (McDonald., 2002).

Kadar amonia dalam rumen merupakan petunjuk antara proses degradasi dan proses sintesis protein oleh mikroba rumen. Ketika kandungan protein pakan tahan degradasi, maka konsentrasi amonia dalam rumen akan rendah dan pertumbuhan mikroba rumen akan lambat yang menyebabkan turunnya kecernaan pakan (McDonald et al., 2002). Amonia merupakan sumber nitrogen utama untuk sintesis protein mikroba, oleh karena itu konsentrasinya dalam rumen merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan.

Konsentrasi amonia harus dalam keadaan cukup untuk menunjang sintesis protein mikroba. Kekurangan amonia akan menyebabkan pertumbuhan bakteri yang lambat sehingga degradasi karbohidrat melambat. Kelebihan amonia akan menyebabkan amonia terakumulasi di rumen yang kemudian akan diserap oleh darah dan dibawa ke hati untuk dikonversi menjadi urea. Beberapa urea akan dikembalikan ke saliva dan ada yang langsung diekskresikan melalui urin (McDonaldet al., 2002) (Gambar5). Menurut Sutardi (1980) kadar amonia yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan mikroba rumen berkisar antara 4-12 mM yang setara dengan 5,6-16,8mg/100ml. McDonald et al. (2002) menjelaskan bahwa konsentrasi optimum NH3 di dalam rumen berkisar 85-300 mg/l yang setara dengan 6-21 mM.

Menurut McDonald et al. (2002) kisaran konsentrasi NH3 yang optimal untuk

sintesis protein oleh mikroba rumen adalah 6 - 21 mM. Konsentrasi nitrogen amonia sebesar 5% sudah mencukupi kebutuhan nitrogen mikroba. Faktor utama yang mempengaruhi penggunaan NH3 adalah ketersediaan karbohidrat dalam ransum yang

berfungsi sebagai sumber energi untuk pembentukan protein mikroba. Amonia dapat dimanfaatkan oleh mikroba dan penggunaannya perlu disertai dengan sumber energi yang mudah difermentasi, misalnya dedak padi. Berdasarkan penelitian Kasim (1994), rata-rata produksi amonia hasil fermentasi in vitro empat jenis daun leguminosa pohon secara berurutan dari angsana, kupu-kupu, sengon, dan lamtoro dalam keadaan segar yaitu 3,7 mM, 6,7 mM, 1,8 mM, dan 5,9 mM.

(11)

13

RUMEN

Gambar 5. Pencernaan dan metabolisme komponen nitrogen dalam rumen Sumber : (McDonald et al., 2002).

Pencernaan Hidrolisis

Sistem pencernaan adalah penghancuran bahan makanan (mekanis/enzimatis, kimia dan mikrobia) dari bentuk komplek (molekul besar) menjadi sederhana (bahan penyusun) dalam saluran cerna. Tujuan dari pencernaan itu sendiri adalah untuk mengubah bahan komplek menjadi sederhana. Proses utama dari pencernaan yaitu mekanik, enzimatik ataupun mikrobial. Proses mekanik terdiri atas mastikasi ataupun pengunyahan dalam mulut dan gerakan–gerakan saluran pencernaan yang dihasilkan oleh kontraksi-kontraksi otot sepanjang usus. Pencernaan secara enzimatik atau kimiawi dilakukan oleh enzim yang dihasilkan oleh sel–sel dalam tubuh hewan. Mikroorganisme hidup dalam beberapa bagian dari saluran pencernaan yang sangat

Pakan Kelenjar Ludah Non Protein N Protein Protein Terdegradasi Protein Tak Terdegradasi Peptida HATI Urea NH3 Amonia Asam amino GINJAL Protein Mikroba Dicerna diusus halus Diekskresi melalui Urin

(12)

14

penting dalam pencernaan ruminansia. Pencernaan oleh mikroorganisme ini juga dilakukan secara enzimatik yang enzimnya dihasilkan oleh sel–sel mikroorganisme (Tillman et al., 1991).

Kecernaan merupakan presentase pakan atau zat nutrisi tertentu dalam pakan yang larut dalam saluran pencernaan sehingga dapat diserap oleh dinding sel pencernaan. Kecernaan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : (1) adanya enzim yang mempengaruhi lingkungan fisiologis rumen, (2) komposisi nutrien bahan pakan dan antinutrisi yang terkandung dalam pakan, dan (3) kapasitas saluran pencernaan ternak (Church, 1979).

Menurut McDonald et al.(2002), kecernaan pakan dapat didefinisikan dengan cara menghitung bagian zat makanan yang tidak dikeluarkan melaui feses dengan asumsi zat makanan tersebut telah diserap oleh ternak. Pengukuran kecernaan dapat dilakukan dengan memberikan sejumlah pakan tertentu kepada ternak dan menghitung jumlah feses yang dikeluarkan oleh ternak. Pengukuran kecernaan sebaiknya dilakukan dengan lebih dari satu ternak. Selain itu, kecernaan pakan juga dapat dihitung cepat dilaboratorium yaitu dengan menggunakan cairan rumen. Kecernaan dapat dibedakan menjadi kecernaan bahan kering dan bahan organik. Faktor faktor yang mempengaruhi kecernaan yaitu komposisi bahan pakan, perbandingan komposisi antara bahan pakan satu dengan bahan pakan lainnya, perlakuan pakan, suplementasi enzim dalam pakan, ternak dan level pemberian pakan (McDonald et al., 2002). Berdasarkan penelitian Kasim (1994) kecernaan bahan kering hasil fermentasi in vitro empat jenis daun leguminosa pohon secara berurutan dari angsana, kupu-kupu, sengon, dan lamtoro dalam bentuk segar, yaitu 37,70%, 39,70%, 32,10%, dan 43,80%.

Kecernaan bahan organik merupakan faktor penting yang dapat menentukan nilai pakan (McDonald et al., 2002). Semakin tinggi bahan organik yang dikonsumsi akan menghasilkan nilai kecernaan bahan organik yang semakin tinggi pula (Resdiani, 2010). Sebagian besar komponen bahan kering terdiri dari bahan organik sehingga faktor faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) akan mempengaruhi juga tinggi rendahnya Koefisien Kecernaan Bahan Organik (KCBO) ransum. Semakin tinggi KCBK maka semakin tinggi pula peluang nutrien yang dimanfaatkan ternak untuk pertumbuhannya. Kecernaan bahan

(13)

15

organik menggambarkan senyawa protein, karbohidrat, lemak yang dapat dicerna oleh ternak (Menke et al., 1986).Berdasarkan penelitian Kasim (1994) kecernaan bahan organik hasil fermentasi in vitro empat jenis daun leguminosa pohon secara berurutan dari angsana, kupu-kupu, sengon, dan lamtoro dalam bentuk segar, yaitu 38,30%, 40,30%, 32,30%, dan 42,60%.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :