• Tidak ada hasil yang ditemukan

TELAGA BAHASA. Volume 4 No. 2 Desember 2016 Halaman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TELAGA BAHASA. Volume 4 No. 2 Desember 2016 Halaman"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

TELAGA BAHASA

Volume 4 No. 2 Desember 2016 Halaman 265-280

FUNGSI SASTRA LISAN MADIHIN DALAM MASYARAKAT BANJAR (The Function of Oral Literature of Madihin In Banjar Society)

Saefuddin

Balai Bahasa Kalimantan Selatan

Jalan Jenderal Ahmad Yani Km 32,2, Loktabat, Banjarbaru 70712 Kalimantan Selatan Telepon (0511) 4772641, Pos-el: [email protected]

Abstrak

Sastra lisan madihin ialah salah satu bentuk sastra lisan Banjar di Kalimantan Selatan yang keberadaannya dapat dikelompokkan ke dalam sastra lisan yang dapat bertahan, karena antara lain; masih memiliki proyeksi warna kedaerahan (lokal) dan tidak hanya berlindung pada suatu konsep tradisonal. Kajian ini membahas fungsi sastra lisan Madihin dalam masyarakat Banjar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif-kualitatif. Penelitian ini mengungkap enam fungsi madihin dalam sastra lisan Banjar, yakni fungsi; 1) hiburan, 2) pendidikan 3) kritik sosial, 4) media pembangunan, 5) media sponsor, dan 6) media persatuan.

Kata kunci: sastra lisan, madihin

Abstract

Madihin is one of Banjar oral literature in South Kalimantan that could be categorized in oral literature. This tradition could survive because it has projection abaut local culture, and it doesn’t hide in intraditional concept. This paper discusses the function of Madihin in Banjarnese society. The method used in the study is descriptive qualitative method. This study showed six functions of madihin in Banjar oral literature, those are; 1) entertainment, 2) education, 3) social criticism, 4) development media, 5) sponsor media, and 6) united media.

Keywords: ora; literature; madihin

PENDAHULUAN

Lahirnya suatu karya sastra pada hakikatnya merupakan hasil perenungan

pikiran pengarangnya. Selain itu, karya sastra lahir bukan saja dari kekosongan, melainkan lahir dari kegelisahan kondisi sosial

(2)

masyarakat yang sekaligus menggambarkan keadaan pengarang dan masyarakat yang menjadi objek dan ruang lingkup karyanya (Damono, 1984:43). Pengarang atau penciptanya mengekpresikannya melalui medium bahasa secara estetis dalam sebuah wujud karya sastra, termasuk sastra lisan Banjar yang mengangkat nilai-nilai lokal dan dan nilai-nilai nusantara (Sunarti, 1991:27). Perenungan pikiran atau pandangan hidup yang digali dari latar belakang sosial budaya masyarakat daerah itu akan menghasilkan bentuk-bentuk sastra yang bersifat kedaerahan (lokal). Kajian sastra daerah itu sudah tentu relevan dengan perkembangan sastra Indonesia, khususnya masalah kajian sastra nusantara yang menjadi bagian dari pemilik sastra daerah, di antaranya yaitu madihin sebagai milik masyarakat Banjar. Sastra lisan madihin keberadaannya dapat dianggap memiliki fungsi kontrol sosial dan hal demikian akan dapat menambah dan memperkaya khasanah nusantara (Baried, 1985:15).

Karakter seni sastra daerah yang mentradisi biasanya dalam pengungkapannya selalu ditunjang oleh instrumen. Oleh karena itu, dalam beberapa bentuk seni tradisional, seperti; lamut, kentrong, mundo diiringi oleh pukulan rebana (tarbang untuk konteks Banjar), panting, seruling, kecapi (untuk

masyarakat Jawa Barat), dan sebagainya (Rusyana, 1985:19).

Fungsi seni rakyat di setiap daerah dapat berbeda-beda atau dapat pula sama, antara daerah satu dengan daerah lainnya. Perbedaan dan persamaan itu berhubungan erat dengan sejarah munculnya bentuk kesenian rakyat yang dimaksud. Oleh karena itu, ada seni masyarakat yang peranan dan fungsinya bersifat profane dan magis atau sakral (suci) –contohnya tradisi bambu gila untuk masyarakat Sulawesi, adapula yang semata-mata bersifat menghibur, dan ada pula juga sebagai alat kontrol sosial (Soebadio, 1975:56). Hakikat seni seperti itu, sama-sama terkandung maksud (pesan) untuk disampaikan kepada masyarakat penikmat-nya. Pesan yang disampaikan ini dapat berwujud ajaran (tata nilai) kehidupan, kritik sosial, dan proses kehidupan atau pun puji-pujian (Damono, 1987:22).

Corak kesenian tradisional yang ada dan masih hidup di masyarakat kita masing-masing memunyai kekhususan sesuai dengan kondisi kelompok masyarakat pendukungnya, serta latar belakang timbulnya sastra lisan atau kesenian itu dalam masyarakat. Jika sastra lisan itu masih memungkinkan diperlukan oleh masyarakat pendukungnya, tidak menutup kemungkinan sastra lisan itu akan terus hidup sesuai dengan perkembangan zamannya

(3)

(Danandjaja, 1987:23). Pertunjukan demi pertunjukan akan terus berlangsung sesuai dengan keperluan hiburan masyarakat.

Salah satu sastra lisan daerah yang masih berlangsung atau hidup dalam masyarakat Banjar adalah madihin. Sastra lisan madihin dapat dikelompokkan ke dalam sastra lisan yang dapat bertahan, karena antara lain; selain masih memiliki proyeksi warna kedaerahan (lokal), juga karena sastra lisan madihin tidak hanya berlindung pada suatu konsep tradisional (kedaerahan) semata, namun, pelaku sastra lisan ini senantiasa berupaya untuk beradaptasi dalam siatuasi dan kondisi zaman yang menghimpitnya. Sastra lisan madihin memunyai watak untuk berperan sebagai kenyataan budaya etnik suku-suku di nusantara (Indonesia). Bentuk-bentuk sastra lisan yang ada di daerah ini telah mampu membimbing kita (masyarakat pendukungnya) ke arah aspirasi dan pemahaman gagasan berdasarkan praktik kehidupan sehari-hari, yang telah menjadi tradisi selama bertahun-tahun silam dan selalu beradaptasi pada kondisi kekinian (Sunarti, 1991:22). Kajian terhadap sastra lisan bukan hanya dapat mengetahui perkembangan sastra itu saja yang merupakan khasanah budaya daerah dan nusantara, tetapi sekaligus dapat mengetahui kedudukan, fungsi, dan keadaan masyarakat

sebagai pendukung sastra daerah atau sastra lisan tersebut (Danandjaja, 1984:22).

Sastra lisan madihin ialah salah satu bentuk sastra lisan Banjar di Kalimantan Selatan (Yustan, 1993:23). Senimannya disebut pemadihinan. Madihin dapat digelar sendiri atau berpasangan, yakni laki-laki dan perempuan. Pemadihinan tampil dengan sebuah rebana (tarbang) sejenis gendang berkulit sebelah. Tarbang ini dipalu dengan kedua telapak tangan menurut rampak irama tertentu, isinya; pembukaan dan pengiring suara ketika melagukan larik-larik pantun yang selalu bersajak pada setiap akhir kalimat (Yustan, 1993:88).

Pemadihinan menyampaikan topik-topik madihin sesuai dengan topik-topik yang disampaikan pada rampak pembukaan dan perkenalannya. Hal yang paling dominan dalam madihin, ialah berpantun. Pendengar dibawa oleh pemadihinan ke dalam berbagai suasana hati yang bervariasi. Pendengar dapat dibuat jadi terpukau, tergelitik, tersindir, tetapi kemudian tersenyum atau tertawa gelak, karena lucu dan menghibur (Yustan, 1993:24).

Beberapa puluh tahun yang silam, sastra lisan madihin masih dikenal populer di kalangan masyarakat Banjar. Namun, kini seni madihin tidak sepopuler dulu. Sastra lisan madihin saat ini secara perlahan-lahan mulai tergeser oleh adanya budaya modern,

(4)

terutama budaya yang datangnya dari luar (asing). Aktivitas madihin tampaknya saat ini tampil bukan lagi hadir dalam pertunjukkan hiburan masyarakat, tetapi lebih kepada bentuk pertunjukkan dalam festival-festival, sesekali tampil juga dalam pertunjukan hiburan masyarakat, seperti pada pernikahan dan hajatan sunatan (pertunjukannya mengikuti irama zaman yang berlangsung di masa sekarang).

Upaya untuk memperkenalkan sastra lisan madihin ke tengah masyarakat telah pula dilakukan. Pemadihinan tidak saja menggunakan bahasa Banjar dalam pergelarannya, tetapi juga dalam bahasa Indonesia. Beberapa di antara pelaku seni tradisi madihin yang melakukan itu, yaitu Jontralala dan Syahrani Madihin (pelaku madihin) telah memulai upaya itu, bahkan mereka telah memperkenalkannya pada masyarakat luar Banjar, seperti di beberapa media televisi yang berskala nasional di Jakarta.

TEORI

Sebagai bentuk puisi (pantun), sastra lisan madihin memiliki wujud komunikasi yang memiliki hubungan kausal antara pemadihinan dan pendengarnya. Sejalan dengan itu, hal-hal yang dapat diamati dalam sebuah pertunjukan rakyat, (1) lingkungan fisik suatu bentuk foklor yang dipertunjukan,

(2) lingkungan suatu bentuk foklor, (3) interaksi para peserta suatu pertunjukan bentuk foklor, (4) pertunjukan bentuk foklor itu sendiri, dan (5) masa pertunjukan (Danandjaja, 1984:190).

Dalam sastra lisan, menurut Teeuw, fungsi sastra dalam masyarakat sering masih lebih wajar dan langsung terbuka ruang untuk penelitian ilmiah. Khususnya masalah hubungan antarfungsi estetik dengan fungsi lain, seperti; agama dan masalah kritik sosial dalam variasi dan keragamannya dapat kita amati dari dekat dengan dominan tidaknya fungsi estetik. (Teeuw, 2013: 304).

Yang penting dalam sastra lisan, ialah isi karya sastra, tujuannya, serta hal-hal yang tersirat dalam sastra itu yang berkaitan dengan masyarakat. Selain itu, yang dipentingkan ialah dampak sosial karya sastra itu (Wellek, 1989:111). Finnegen (1979) menjelaskan bahwa hal yang penting dalam mengetahui tujuan dan fungsi karya sastra lisan, ialah hubungannya dengan kepercayaan, agama, pengalaman, dan lambang-lambang khusus yang bersifat lokal (Finnegen, 1979: 135—136 dalam Tutoli, 1990:307). Relevansi karya sastra dengan sosio-budaya akan berwujud dalam fungsi (1) afirmasi, menetapkan norma-norma sosio-budaya yang ada pada waktu tertentu; (2) restorasi, mengungkapkan keinginan dan kerinduan pada norma yang sudah lama

(5)

hilang atau tidak berlaku lagi; (3) negasi, memberontak atau mengubah norma yang berlaku (Teeuw, 1988:20).

Bertolak dari beberapa pendapat itu, sastra lisan madihin dapat dikelompokkan dalam bentuk pantun yang di dalamnya, ialah cara penyampaian yang lebih fungsional dalam kebudayaan lisan dari kebudayaan lain. Dalam kebudayaan lisan pengetahuan tidak diolah secara ilmiah dengan kategori-kategori abstrak. Masya-rakat dalam budaya lisan menggunakan teks-teks cerita, (seperti syair dan pantun) dari kegiatan manusia untuk menyimpan, menyusun, dan menyampaikan berbagai hal yang mereka ketahui kepada generasi berikutnya (Braginsky, 1993:24). Selain itu, secara khusus dalam kebudayaan lisan, cerita dapat menyimpan berbagai pesan tentang kebudayaan lisan dalam bentuk tahan lama (Ong, 1988:140—141 dalam Tutoli, 1990:308).

Sastra lisan madihin sebagai produk budaya lisan masyakakat masa lalu, madihin juga merupakan peninggalan nenek moyang masa lalu dan sebagai bagian karya sastra lama, baik lisan maupun yang berupa tulisan, sekaligus merupakan unggkapan ekpresi masyarakat lama. Karya sastra ini juga merupakan pancaran masyarakat (Alisyahbana 1984:4) karena karya sastra (madihin) menampil-kan berbagai gambaran

kehidupan manu-sia, termasuk ungkapan budaya. Damono (1991:1) mengemukakan bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarangnnya ialah untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Pengarang sebagai pencipta ialah anggota masyarakat yang terikat oleh status sosial tertentu, sastra menampilkan lukisan kehidupan itu sendiri, ialah bagian kenyataan sosial.

Pada umumnya, ungkapan budaya yang pernah berlangsung di dalam masyarakat masa lalu dapat disebut sebagai sastra lisan. Sastra lisan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, di mana masyarakat itu berada. Apabila dilihat dari sisi manfaatnya, paling tidak dapat dikaitkan dengan fungsi pemberi keindahan (Wellek dan Werren, 1989:25). Fungsi karya sastra, baik lisan maupun tulisan itu tercermin dalam kemerduan bunyi, keteraturan irama, serta gaya bahasa dan majas, penyajian yang memikat, menyejukkan perasaan dan menimbulkan rasa keindahan sehingga kenyataan hidup masyarakat yang penuh masalah dan kegalauan dapat terlupakan sesaat. Fungsi dan kegunaan sastra lisan madihin terwujud dalam isinya yang mengandung nilai pendidikan dan kritik sosial telah mampu mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih maju. Hal yang mengandung pendidikan dan kritik sosial

(6)

tersebut, yaitu mengenai pelajaran keteladanan, terutama tentang kearifan hidup, cara hidup ber-masyarakat yang lebih baik, berbudaya, dan kehidupan beragama (Sudjiman, 1985:15).

Fungsi sastra lisan madihin sebagai sebuah karya sastra seperti di atas, tumbuh dalam sastra daerah, yang tergambar dalam budaya masyarakat Banjar. Dalam pan-dangan Teeuw (1988:10) bahwa dari segi kuantitas dan kualitas sastra lisan nusantara termasuk sastra lisan yang ada di Banjar luar biasa kayanya dan aneka ragamnya. Dalam sastra nusantara atau daerah terungkap kreativitas bahwa yang luar biasa dan dalam hasil sastra itu manusia Indonesia berusaha mewujudkan hakikat dirinya sendiri sedemikian rupa, sehingga sampai sekarang pun untuk manusia modern, ciptaan itu tetap memunyai nilai dan fungsi --asal saja dia mau berusaha merebut maknanya bagi dia sebagai manusia modern yang berbudaya-- (Teeuw, 1988:10 dalam Tutoli, 1990:3).

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif-kualitatif. Metode ialah suatu prosedur untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan (Semi, 1990: 105). Metode deskriptif ialah suatu metode untuk memperoleh informasi tentang kondisi yang ada pada suatu

penelitian dan melukiskan “apa yang ada itu” (Furchan, 1982: 44).

Metode kualitatif memberi ruang kepada peneliti untuk terlibat langsung dengan objek yang diteliti sebagai pengamat dan pemberi interpretasi. Metode kualitatif mengutamakan kedalaman peng-hayatan terhadap interaksi antara konsep-konsep yang sedang diteliti. Dengan metode kualitatif ini nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung secara tersirat di dalam madihin.

Teknik yang yang dipakai dalam penelitian ialah studi pustaka. Data yang telah dikumpulkan terlebih dahulu dila-kukan klasifikasi, verifikasi, interpretasi data, dianalisis sampai pada pembahasan hingga diperoleh kesimpulan sementara atas jawaban-jawaban dari informan terhadap pertanyaan yang berdasarkan pada pedoman wawancara. Analisis mencakupi penafsiran mengenai fungsi-fungsi dalam madihin .

Analisis data dalam penelitian kualitatif berlangsung selama proses penelitian, karena setiap informasi yang akan dijadikan materi penulisan harus melalui suatu proses pertimbangan dan di dalamnya mengandung aktivitas analisis. Analisis deskriptif tersebut akan mengurai-kan serta menghubungkan antara hasil yang diperoleh dari data dan wawancara mendalam dengan catatan lapangan. Antara apa yang dilihat dan apa yang di dengar, diuraikan secara cermat

(7)

dalam kata-kata sehingga dapat membangun konsep yang lebih bermakna dalam mengkaji permasalahan penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Fungsi Sastra Lisan Madihin

Fungsi sastra lisan madihin berdasarkan perkembangannya hingga saat ini terasa amat berbeda. Madihin tradisional biasanya masih mempertahankan unsur esensialnya seperti improvisasi dan irama pukulan tarbang (rebana), sedangkan madihin yang sudah modern dalam arti sudah menyesuaikan dengan keadaan unsur-unsurnya pun sudah banyak mengalami kreasi. Perubahan ini antara lain terlihat, pada bahasa pengantar yang digunakan, termasuk juga fungsi yang semakin khusus cukup menonjol, misalnya pada saat-saat musim pemilihan kepala daerah (pilkada) pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan keinginan pasangan calon yang tujuannya agar masyarakat dapat memberikan suaranya ketika pemi-lihan berlangsung.

Kajian ini tidak membedakan madihin tradisional dan yang sudah modern, melainkan peneliti akan membahas enam fungsi sastra lisan madihin. Selanjutnya, uraian fungsi-fungsi itu dapat diperikan menjadi enam fungsi berikut ini.

a) Fungsi Hiburan (Humor)

Sebagai salah satu bentuk karya sastra lisan tradisional, madihin memunyai fungsi yang bersifat menghibur dalam penyajiannya. Fungsi hiburan atau unsur humor biasa disampaikan oleh pemadihinan dalam selingan secara spontan pemadihin yang bertujuan untuk menghi-bur penonton. Selain itu, agar suasana pertunjukan tidak dalam keadaan membosankan bagi pendengarnya, apalagi pertunjukannya sudah pada situasi yang kurang tepat waktu. Kenyataan ini terlihat dari penuturan atau pantun-pantun yang dibawakan si pencerita (pemadihinan), baik itu berupa lelucon (humor) maupun sifat-sifat kekonyolan yang dapat mengundang gelak tawa penontonnya. Untuk lebih jelasnya berikut ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(1) Banyak nang sugih banyak juga nang kaya

Kaya pang hati sugih harta barana Kaya urang Banjar musti lain maksudnya Banyak pang parnum artinya seribu makna

Kaya sebagai misal umpama Itu baarti kahada tahu dibawa Kaya raja baarti pahatnya

Kaya badut kahada pang sampuraka Kalu pang batamu kita harus waspada Kayanya urang Banjar itu berupa-rupa (2) Cuntuhnya ulun di antaranya satu

Panglihatan sudah jadi sabuku

Mun inya paham surungi pang ulun banyu

Mun kada jua barangsi gula-gula batu (3) Salawar nang dipakai beserta baju

Ulun mainjam lengkap lawan sapatu Kiranya perlu jua ulun dibantu

(8)

Gasan mambayar siwa baju sapatu Atawa jua bulik dibari sangu Barang haja sakadar maisi saku

Mun kawa jua ulahan pang rumah batu Sakalian langkap pasuruh atawa batu Amun babinian ulun paling katuju Kalu pang kada ulun ini dibantu

Timbai’i pang barang ulun sabilah ruku Dari beberapa contoh kutipan di atas, memberikan gambaran secara jelas bahwa seni pertunjukan madihin salah satu fungsinya yang cukup menonjol, ialah sebagai alat hiburan segar bagi penon-tonnya. Kutipan (1) di atas, mengandung makna humor yang di kedepankan pemadihinan bersifat kritik sosial yang ditujukan kepada seseorang yang mempunyai sifat seperti tidak memiliki kepedulian sosial, hanya mementingkan diri sendiri; dan termasuk pula, yaitu orang hidup berlagak sebagai pemimpin hanya karena ingin mendapatkan perhatian. Munculnya unsur humor dalam ungkapan spontan pemadihinan karena pemakaian kata kaya yang dalam bahasa Banjar bermakna ‘seperti’, bukan berarti memiliki harta. Di samping itu, adanya perbandingan sifat-sifat seseorang terhadap binatang semakin menambah nilai humoris yang ditimbulkan dalam cerita.

Demikian pula kutipan (2) dan (3), kesan kelucuan yang dimunculkan ialah adanya pernyataan dari pemadihinan yang sebenarnya merupakan permintaan atau permohonan secara halus yang diungkap-kan

secara apa adanya. Hal ini tampak jelas dalam kutipan (2) yaitu merupakan per-nyataan bahwa si pelantun pemadihinan merasa haus dan agar siapa saja terutama penyelenggara agar sesegara mungkin untuk memberikan air minum agar pemadihinan tidak kehausan dalam pertunjukan madihin, sedangkan kutipan (3) memberikan kesan si pemadihinan meminta sumbangan kepada para penon-ton. Adanya suasana humor atau kelucuan yang ditimbulkan karena cara pengung-kapannya yang sedikit bersifat menyindir dengan cara yang sangat halus. Biasanya, pertunjukan ini bertalian dengan acara amal (seperti mencari sumbangan amal untuk pembangunan mesjid), maka dengan sindiran melalui madihin peserta yang hadir bersegera menyumbangkan hartanya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Cara seperti ini sangat mudah dilakukan, segalanya tidak ada unsur paksaan untuk menyumbang dan bahkan penonton lebih banyak mendapatkan hiburan.

b) Fungsi Pendidikan

Madihin dalam pergelaranya selain bertujuan menghibur segar pendengarnya, juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang disajikan dalam cerita. Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud bukan dalam bentuk formal saja, melainkan juga mencakup informasi dan nonformal. Hal ini kadang-kadang

(9)

disampaikan oleh si penutur melalui ceritanya berupa pesan yang bersifat didaktis sebagai selingan yang menarik. Kutipan madihin sebagai berikut.

(1) Ading-ading nang hadir, ayu pang dangariakan

Ada sadikit pesanku nang kawa ikam amalakan

Gasan sangu hidup di dunia waktu bakukunjungan

Kawa sangu di akhirat waktu mahadap Tuhan

Sakira salamat manjalani kahidupan Kada banyak badosa mahadapi kamatian Dunia lawan akhirat kada bakakurangan (2) Jangan ditinggalakan sembahyang lima

waktu

Lima kali sahari mambasuh siku

Minta maaf minta ampun lawan nang satu

Batarima kasih lawan basyukur setiap waktu

Rajin balajar, rajin manuntut ilmu

Jangan lamah samangat, jangan lakas maraju

Insyaallah kita selalu mendapat restu Di dunia di akhirat kawa dijadikan sangu (3) Lawan kuitan kita harus babakti

Jangan marimba-rimbat janagan talalu wani

Urang alim, urang tuha musti kita hurmati

Dadangsanak, kakawalan disayangi dicintai

Urang sarik, urang marungut, baiklah kita lihumi

(4) Zaman pembangunan kita harus bagawi Wajib sakulah anak buah dipalajari Didik sakulah sambil mangaji

Rukun pengetahuan sambil-sambil dipela-jari

Dari kutipan yang dikemukakan di atas, semakin memperjelas bahwa seni pertunjukkan madihin mengandung nilai-nilai didaktis yang disampaikan dalam bentuk pesan. Kutipan (1) dan (2) menyam-paikan pesan keagamaan yang harus dijalankan demi keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Sebagai seorang hamba wajib bersyukur kepada Allah Swt yang dimanifestasikan dalam hidup dan kehidupan, seperti mengamalkan salat lima waktu secara terus menerus dan termasuk di dalamnya menuntut ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, kutipan (3) dan (4) merupakan pesan yang sangat berharga disampaikan oleh pencerita mengenai pentingnya pembentukkan mental kepada anak di dalam suatu keluarga. Jadi, di samping menuntut ilmu seorang anak wajib ditanamkan nilai-nilai etika dan estetika, sehingga nantinya dapat berbakti kepada orang tuanya dan pada akhirnya akan berguna bagi keluarga, masyarakat di lingkungannya, bangsa, dan negara.

c) Fungsi Kritik Sosial

Dalam fungsinya sebagai kritik sosial, keberadaan sastra lisan madihin di dalam masyarakat Banjar dapat dirasakan manfaatnya. Madihin tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat, tetapi lebih dari itu madihin juga dapat

(10)

membawa pesan-pesan yang bermakna dan termasuk di antaranya ialah sebagai alat kritik sosial yang cukup berkesan bagi pendengarnya. Oleh karena itu, madihin merupakan konsekuensi logis jika pembinaan dan pelestarian bentuk sastra tradisonal (madihin) ini tampaknya keberadaan patut terus dilestarikan. Untuk lebih jelasnya fungsi kritik sosial dalam teks madihin dapat dilihat pada teks berikut ini.

(1) Jangan balagak sombong, jangan para-ga harat

Marasa diri sugih, banyak baisi pangkat Sakahandak until kukuh kada mau rakat mufakat

Jangan katuju santai, katuju mangguliat Handak nyaman saurangan, biar urang lain malarat

Jangan pangoler janagan panjang balikat Urang lain nang bagawi, saurang haur rapat

Nyaman dalam dunia jadi punting neraka di akhirat

(2) Umpat manjaga umpat melestarikan Karena kesenian madihin katinggalan Kesan bahari pina handak dihilangkan Kesenian barat pina diagungkan

Kutipan teks di atas, memperlihat-kan adanya unsur-unsur kritik sosial yang menarik untuk diperhatikan di dalam sastra lisan madihin. Dalam kutipan teks (1) ber-isikan kritik sosial yang ditujukan kepada seseorang yang bersikap mementingkan diri sendiri tanpa ada rasa kepedulian sosial terhadap orang lain disebabkan memunyai status sosial yang terhormat atau tinggi.

Kemudian, kutipan (2) mengandung suatu kritik sosial yang halus ditujukan kepada masyarakat secara umum yang kurang menghargai bentuk-bentuk sastra tradisional (madihin) yang merupakan aset budaya sendiri atau budaya bangsa. Mereka lebih cenderung mengagung-agungkan kesenian yang datangnya dari Barat, karena dianggap lebih modern, sementara corak kesenian daerah (lokal) dianggap sudah tidak relevan atau ketinggalan zaman. Pada masa sekarang ‘terutama kalangan anak-anak muda’ lebih memilih budaya yang datangnya dari Barat daripada mengangkat budaya milik bangsa sendiri.

d) Fungsi Media Pembangunan

Selain madihin berfungsi sebagai alat kritik sosial, madihin juga dapat berfungsi sebagai media untuk pesan-pesan pembangunan bagi masyarakat (terutama untuk mendukung pembangunan yang menjadi program pemerintah) kepada para penonton yang terlibat di dalamnya. Pesan-pesan tersebut dikemukakan si penutur cerita (pemadihinan) melalui selingan-selingan dalam penuturan kisahan madihin dengan penuh semangat. Untuk lebih jelasnya fungsi media pembangunan dalam teks madihin berikut ini.

(1) Baik bakupiah batanda dasi

Supaya urang sadar lakunya pintar-pintar Selalu makan makanan nang bagizi

(11)

Supaya rakyat sehat Baguru tambah kuat Supaya rakyat sehat Negara tambah kuat

(2) Laksana GBHN agar pembangunan lancar

Janganlah ikam suka handak Agar tiada urang terlalu muyak Di Marabahan bias kami malawak (3) Bila membangun jangan handak

digam-pang

Jangan dibiarkan ada tanah lapang Bakarja tani basawah baladang Ini kurang tahan sakalian urang Manjadiakan mahal harganya barang (4) Bila mambangun bukan sadikit

Di mana gunung di salembah dan bukit Mamutung padi padi rakyat mamungut karet

Untuk mambantu rakyat nang sakit (5) Ayu ading-adingku nang muda ramaja

abalang nagara generasi harapan bangsa Calon pangganti para pamimpin lawan mambangun sakira kita kaya

Mulai wayah ini jua kita susun rancana Mahayati, maamalakan pancasila

Pingkuti pisit-pisit undang-undang dasar ampat lima

Pamimpin lawan ulama jadi panutan kita Kutipan teks di atas, berisi pesan-pesan pembangunan yang bersifat ajakan secara langsung ditujukan kepada masya-rakat (para penonton). Secara khusus kutipan (1) berkenaan dengan pem-bangunan di bidang kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak (terutama pemerintah), sedangkan (2), (3), (4), dan (5) merupkan anjuran agar masyarakat berpartisipasi dalam melak-sanakan program

pembangunan di ber-bagai bidang. Di samping itu, pancasila sebagai dasar negara hendaknya diamalkan sungguh-sungguh di dalam kehidupan sehari-hari, demi terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang utuh damai dan sejahtra.

e) Fungsi Media Sponsor

Sastra lisan Madihin dapat juga berfungsi sebagai media sponsor. Hal ini tampak dalam sajian-sajian kisahan cerita yang dituturkan oleh pemadihinan (pencerita pertunjukan) kepada para penontonnya. Pesan-pesan sponsor yang berkaitan dengan program pemeritah atau pesan calon-calon kepala daerah dalam pilkada, baik bupati, walikota maupun gubernur, terutama mengenai program-program yang akan dilaksanakan jika terpilih menjadi kepala daerah, biasanya hal-hal aktual yang menjadi perhatian masyarakat dan yang sering diulas oleh media (baik cetak maupun elektronik). Untuk lebih jelasnya, fungsi media pembangunan dalam teks madihin berikut ini.

(1) Namun lalaki saumpama ikam nyata Lakas dimasuki kaluarga barancana Ini pamarintah nang pa ai bijaksana Supaya masyarakat mancapai hidup bahagia

(2) Kaluarga barancana

Sampai masuk malam ini kutangakan Ingin masuk KB tidak ada tampat bayaran Tinggal di kampong saumpama di padisaan

(12)

Di pandang nang cucuk sagala nang maamalakan

Saumpama di kampong kita kampong halaman

Masuk KB jangan mamakai ilmu dangaran

Di mana pa ai batakun di kampong kediaman

Batakun lawan pambakal bujur-bujur ditanyakan

Lamun nang pambakal kurang jelas mamadahakan

Lalu pian maminta satitik buat jalan Lalu dibawa satumat ka kacamatan Lalu nang dipariksa badua lalaki babinian Nang mana cucuk pian mamakaiakan Antara pakai pil atawa undian

Supaya ibu-ibu di rumah mandapat nyaman

Mudahan bahagia di rumah balaibinian (3) Jalan-jalan ka Pelaihari

Banyak tempat rekreasi Bila Anda ingin ka mari Itulah kota nang basari

Kupas mangga buang kulitnya Buang kulitnya di titian Kalau Anda kurang teliti Datang saja ka Batakan

Dalam rangka ikut menyukseskan Parawisata itu di Kalimantan Selatan Kalau Anda ingin berkunjung datang Ingatlah itu si tukang gandang

Bilang kauuyuhan paluh jarujuhan Kalau Anda ingin pariwisata Di tanah laut Pelaihari itu namanya Handak ka Bajuin tasarah saja

Bila handak ka pantai Takisung tasarah saja

Bila handak baduit tolong kepada saya Antarkan saja ka rumahnya

Serahkan saja kepada panitia

Kutipan teks madihin di atas, menggambarkan bahwa melalui pergelaran sastra lisan tradisonal Banjar, madihin dapat

sponsor untuk masyarakat umum, khususnya yang berkaitan dengan prog-ram-program pembangunan. Dalam kutip-an (1) dan (2) yang dikemukakan oleh pemadihinan, yaitu perlunya mengikuti anjuran pemerintah, untuk memasuki program keluarga berencana demi kesejah-traan keluarga lestari, sedangkan kutipan (3) lebih menonjolkan pesan promosi pari-wisata yang termasuk salah satu program pemerintah daerah dalam upaya untuk memperkenalkan budaya bangsa sekaligus menambah devisa pendapatan daerah dan Negara.

f) Fungsi Media Persatuan

Di muka telah dikemukakan bahwa sastra lisan madihin bukan hanya sebagai salah satu bentuk karya sastra yang berfungsi untuk memberikan hiburan segar bagi masyarakat, tetapi lebih dari itu juga memiliki fungsi lain seperti; fungsi pendidikan, fungsi kritik sosial, fungsi media pembangunan, dan fungsi media sponsor.

Selain fungsi-fungsi itu, madihin pun dapat berfungsi sebagai media persatuan. Fungsi terakhir inilah yang tidak kalah pentingnya dalam kegiatan pergelar-an. Untuk lebih memperjelas fungsi madi-hin sebagai media persatuan, dalam teks madihin berikut ini.

(13)

(1) Sapuluh November sejarah hari pahlawan

Ampat uluh tahun, empat delapan sudah kita kelaluan

Kaka mangingat sejarah lagi bahari sepuluh tahun yang talalui

Waktu itu kaka ai di Surabaya Makin terbang kisahnya kapal udara Sepanjang malam tadi angadup jantung pertama

Ingat pertempuran maha dahsyatnya Waktu kuingat timbul di kalangan Kita mangakar menghiba lawan orang Pabila nagaran mu martabat kurang Kada bapaluru saganap latihan Medan magnit bermacam senjata Bambu runcing lambi-lambi

Rakyat manghamuk meghadap musuh-nya

Diproklamirkan saluruh dunia Hasil revolusi bubar bertahan

Saat yang balalu rakyat harus berjuang Satu hilang dua datang

Cita-cita kemerdekaan gilang-gemilang Gugur satu rakyat berganti dua

Berkobar semangat para wanita Kujunjung tinggi akan cita-cita Sekali merdeka tetap merdeka (2) Kubuka kuran barita pang dibawa

Ini pang kisah di nagara kita Indonesia itu pang ngarannya Andakannya mambujur khatulistiwa Di timur wan barat ada jua samudra Ada banua di selatan utara

Banyak pang pulau bahambur di nusantara

Sudah pang tantu banyak jua rakyatnya Baragam suku baragam jua bahasa (3) Sakarang sudah terlihat nyata

Pambangunan di nagara kita Nyata dilihat nyata jua dirasa Kamakmuran sudah hamper merata Di kota di kampong panjuru desa Palusuk nagari sampai ka ujung banua Potensi alam memang tiada tarhingga Sabagai puku sabagai mudal utama

Berdasarkan kutipan di atas, membuktikan bahwa fungsi madihin sebagai media persatuan tampak jelas cukup menonjol. Dalam kutipan (1) misalnya, menyoroti tentang semangat patriotisme di kalangan rakyat dalam mengusir bangsa penjajah di bumi pertiwi Indonesia demi kelangsungan hidup bangsa yang merdeka. Kutipan (2) berkenaan dengan kondisi latar belakang budaya yang beragam, jika dilihat dari sudut pandang; baik adat istiadat, suku, bahasa, maupun agama dan keper-cayaan. Namun, semua itu bukanlah merupakan perbedaan sebagai jurang pemisah, antarsuku, antarbudaya satu dengan budaya lainnya, tetapi justru menjadi kekayaan khasanah budaya yang dapat menyatukan semua perbedaan itu yang cukup potensial. Selanjutnya, kutipan (3) bertalian dengan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah sema-kin tampak hasilnya dan telah dirasakan rakyat dari berbagai lapisan. Pemerataan hasil pembangunan bukan hanya dapat dirasakan oleh masyarakat perkotaan, tetapi pembangunan itu kini sudah dirasakan oleh masyarakat yang ada di pedesaan atau daerah yang terisolasi sekali pun. Semua itu dimaksudkan untuk mewujudkan kesejahtraan bangsa secara merata.

(14)

Sastra lisan madihin hadir pada masyarakat pendukungnya bukan semata-mata sebagai sastra lisan yang ditujukan untuk hiburan masyarakat. Namun, sastra lisan madihin terkandung maksud (pesan) untuk disampaikan kepada masyarakat penikmatnya. Pesan yang disampaikan ini dapat berwujud ajaran (tata nilai) kehidup-an, kritik sosial, dan proses kehidupan atau pun puji-pujian.

Fungsi dan kegunaan sastra lisan madihin terwujud dalam isinya yang mengandung nilai pendidikan dan kritik sosial telah mampu mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih maju. Hal yang mengandung pendidikan dan kritik sosial tersebut, yaitu mengenai pelajaran keteladanan, terutama tentang kearifan hidup, cara hidup bermasyarakat yang lebih baik, berbudaya, dan termasuk dalam ruang lingkup kehidupan beragama.

Fungsi sastra lisan madihin sebagai sebuah karya sastra seperti di atas, tumbuh dalam sastra daerah yang tergambar dalam budaya masyarakat Banjar, bahwa dari segi kuantitas dan kualitas sastra lisan nusantara termasuk di Banjar luar biasa dan cukup beragam. Sastra nusantara atau daerah terungkap kreativitas yang luar biasa dan hasil sastra itu manusia Indonesia berusaha mewujudkan hakikat dirinya sendiri sedemikian rupa sehingga sampai sekarang

pun untuk manusia modern, ciptaan itu tetap memunyai nilai dan fungsi --asal saja masyarakat pemilik sastra daerah mau berupaya untuk merebut maknanya walau-pun dalam situasi dan kondisi zaman modern ini--.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, S. Takdir. 1985. Puisi Lama. Jakarta: Dian Rakyat.

Azidan, Yustan. 1993. “Madihin” dalam Palimatra. Banjarmasin: Tahun VII, No.18.

Baried, Siti Baroroh. 1985. Pengantar Teori Filologi. Cet. II Yogyakarta: Bada Penelitian dan Publikasi Fakultas seksi Filologi Fak. UGM.

Braginsky. V.I. 1993. Tasauf dan Sastera Melayu Kajian dan Teks-Teks. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Universitas Leiden.

Danandjaja, James. 1984. Foklor Indonesia. Jakarta: PT. Grafiti Press.

---. 1987. “Fungsi Teater Rakyat bagi Kehidupan Masyarakat Indonesia” dalam Seni Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

Damono, Sapardi Djoko. 1984 . Foklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti Pers.

---. 1987. Panji Citra Pahlawan Nusantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

---. 1991. Sastra Daerah di Sumatra: Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Finnegen, Rut. 1976. “Whot is the Oral Literatur Any Way? Comment in the Light of Some African on Onother Comparative Material” dalam Benjamin A. Stolz dan Richard S. Sannon.

Furchan, Arif . 1982. Pengantar Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Ong, Walter J. 1988. Orality and Literary: The Tecnologhizing of the Word. London dan New York. Metuen. Rusyana, Yus. 1985. Sastra Lisan Sunda.

Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sudjiman, Panuti & Aart Van Zoest.1985. Serba Serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.

Soebadio, Haryati. 1975. “Penelitian naskah Lama Indonesia” dalam Buletin Yapena. Tahun VII. Juni.

Semi, M. Atar. 1990. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

(16)

Sunarti dkk. 1991. Sastra Lisan Banjar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Teeuw, A. 1988. Khazanah Sastra

Indonesia: Beberapa Masalah Penelitian dan

Penyebarannya.Jakarta: PT. Gramedia.

---. 2013. Sastra dan Ilmu Sastra; Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Tutoli, Nani. 1990. Tanggomo Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Jakarta: Intermasa.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan

Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wellek, Rene dan Austin Werren dalam Melani Budianta (penerjemah). 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Referensi

Dokumen terkait

Keraton Surakarta, disebut Basa Bagongan, yaitu bahasa Jawa yang banyak mengambil bahasa Kawi. Bahasa Kawi adalah bahasa Jawa Kuna yang lazim dipakai pada

pembaca secara khusus pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) menambah wawasan pembaca dari hasil deskripsi dan penjelasan interferensi morfologi bahasa Manggarai

Salah satu kekuatan yang membuat novel ini layak untuk dibaca adalah faktor perjuangan hidup para tokoh dalam menghadapi segala keterbatasan dan kekurangan,

Konsonan rangkap homorgan BM (konsonan rangkap homorgan yang identik dan tidak identik) merupakan refleksi dari konsonan tunggal dan rangkap Proto Austronesia (yang

Gejala bahasa merupakan proses perubahan dalam sebuah bahasa. Proses perubahan bentuk ini sebagai akibat proses morfologis dan proses fonologis. Proses fonologis yang dimaksudkan

Tulisan ini membahas tentang paradigma ilmu pengetahuan yang digunakan Badudu dalam menyusun karya-karya ilmiah mengenai bahasa Indonesia.. Penelitian ini termasuk

Kedua banyaknya mata pelajaran yang sama penting dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang harus dipahami oleh siswa, dan yang ketiga siswa tidak memiliki

Kemampuan perawat/bidan untuk bersikap sopan santun 823 4.7 601 4.31 -0.39 Sedang Jumlah 6599 4.71 5655 4.18 -0.53 Sedang Dari tabel diatas terlihat bahwa secra