• Tidak ada hasil yang ditemukan

Magister Pendidikan Bahasa Indonesia NOSI Volume 4, Nomor 3, Agustus 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Magister Pendidikan Bahasa Indonesia NOSI Volume 4, Nomor 3, Agustus 2016"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

INTERFERENSI GRAMATIKAL BAHASA MANGGARAI DIALEK SATARMESE TERHADAP BAHASA INDONESIA

LISAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 SATARMESE

Eduardus Mancu

Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

Abstrak: Bahasa Manggarai sering digunakan masyarakat Manggarai pada komunikasi lisan antara sesama masyarakat Manggarai yang berdialek Satarmese dalam kehidupan sehari-hari. Interferensi yang terdapat dalam penelitian ini, disebabkan adanya kebiasaan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese menggunakan bahasa Manggarai dialek Satarmese, sehingga mengakibatkan terjadinya interferensi gramatikal bahasa Manggarai dialek Sataremse terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada saat menceritakan pengalaman pribadi. Bahasa Indonesia bagi masyarakat Manggarai merupakan bahasa kedua. Artinya bahasa Indonesia menjadi bahasa target bagi kebanyakan masyarakat Manggarai. Hal ini disebabkan masyarakat Manggarai telah menguasai dan menggunakan bahasa Manggarai sebagai bahasa ibu.

Tujuan penelitian mendeskripsikan dan menjelaskan tentang: (1) interferensi morfologi bahasa Manggarai terhadap morfologi bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese dan (2) interferensi sintaksis bahasa Manggarai terhadap sintaksis bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif. Hal ini disebabkan data-data yang terkumpul, dianalisis, serta dipaparkan secara deskriptif berupa kata-kata tertulis hasil kegiatan menceritakan pengalaman pribadi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese. Penelitian ini ditemukan data inteferensi morfologi bahasa Manggarai dialek Satarmese tehadap morfologi bahasa Indonesia lisan, meliputi: prefiks {N}, prefiks {ke-}, sufiks {an}, dan konfiks {ke-an}. Sedangkan data yang ditemukan pada interferensi sintaksis bahasa Manggarai dialek Satarmese terhadap sintaksis bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, meliputi: akhiran {nya}, kata sapaan hubungan kekerabatan, dan pola penggunaan frasa. Data-data tersebut merupakan interferensi gramatikal bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada saat menceritakan pengalaman pribadi.

Kata-kata kunci : interferensi, morfologi, sintaksis, bahasa Manggarai, bahasa Indonesia

PENDAHULUAN

Bahasa Manggarai adalah bahasa yang digunakan suku Manggarai. Bahasa Manggarai (tombo Manggarai) adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia. Penutur bahasa Manggarai terletak di tiga kabupaten yang berbeda yaitu Manggarai, Manggarai Barat, dan

(2)

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudah kemerdekaan bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Bahasa Indonesia bagi masyarakat Manggarai merupakan bahasa kedua. Artinya bahasa Indonesia menjadi bahasa target bagi kebanyakan masyarakat Manggarai. Hal ini disebabkan masyarakat Manggarai telah menguasai dan menggunakan bahasa Manggarai sebagai bahasa ibu.

Terjadinya kontak bahasa yang merupakan gejala awal interferensi. Suwito (1983: 26-27) menyatakan “adanya penyimpangan-penyimpangan bukan berarti perusakan terhadap bahasa”. Interferensi merupakan fenomena penyimpangan kaidah kebahasaan yang terjadi akibat seseorang menguasai dua bahasa atau lebih. Suwito (1983: 54) berpendapat bahwa interferensi sebagai penyimpangan karena unsur-unsur yang diserap sebuah bahasa sudah ada padanannya dalam bahasa penyerap. Jadi, manifestasi penyebab terjadinya interferensi adalah kemampuan penutur dalam menggunakan bahasa tertentu.

Interferensi morfologi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan yaitu terdapat dalam pembentukan kata dengan afiks. Penggunaan bentuk-bentuk kata seperti ngantuk, kejepit, kejatuh, ketingglan, kelihatan, ketiduran, dan lain-lain. Bentuk yang baku adalah mengantuk, terjepit, terjatuh, tertinggal, terlihat,tertidur, dan lain-lain.

Interferensi sintaksis bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan terjadi karena struktur kalimat bahasa Manggarai berpengaruh terhadap struktur kalimat bahasa Indonesia. Suwito (1988: 56) mengatakan interferensi sintaksis terjadi karena di dalam diri penutur terjadi kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya

dengan bahasa lain yang juga dikuasainya (bahasa daerah atau bahasa asing). Dengan demikian, penyimpangan itu dapat dikembalikan pada bahasa sumber. Interferensi sintaksis dijumpai dalam struktur kalimat bahasa Indonesia. Oleh karena itu, interferensi ini dapat disebut dengan interferensi struktur (Mustakim, 1994: 70). Contoh: aku ke rumahnya Dimas untuk mengerjakan PR bahasa Indonesia (aku ngone mbarude Dimas kudut pande PR bahasa Indonesia).

MANFAAT PENELITIAN

(3)

pembaca secara khusus pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) menambah wawasan pembaca dari hasil deskripsi dan penjelasan interferensi morfologi bahasa Manggarai terhadap morfologi bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese dan (b) menambah wawasan pembaca dari hasil deskripsi dan penjelasan interferensi sintaksis bahasa Manggarai terhadap sintaksis bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese dan (2) manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah menjadi referensi bagi mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan inteferensi gramatikal bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia lisan. (a) bagi para guru. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan pembelajaran untuk memahami interferensi bahasa Manggarai dialek Satarmese terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, melalui kegiatan menceritakan pengalaman pribadi, (b) bagi siswa. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan bacaan pada proses pembelajaran bahasa dan dipraktikan pada penggunaan bahasa Indonesia lisan maupun tertulis, (c) bagi mahasiswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi untuk kegiatan penelitian yang berkaitan dengan interferensi bahasa dan dipraktikan secara benar pada saat melakukan komunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis, (d) bagi masyarakat umum. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bacaan yang dapat menambah pengetahuan berbahasa masyarakat, yang berkaitan dengan interferensi gramatikal bahasa Manggarai dialek Satarmese terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini

adalah deskriptif. Hal ini disebabkan data-data yang terkumpul, dianalisis, serta dipaparkan secara deskriptif berupa kata-kata tertulis.

Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 2 kecamatan Satarmese kabupaten Manggarai propinsi Nusa Tenggara Timur. Objek penelitian ini adalah interferensi gramatikal bahasa Manggarai dialek Satarmese terhadap bahasa Indonesia lisan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese. Dalam penelitian ini yang dijadikan instrumen adalah peneliti sendiri sebagai alat atau instrumen kuncinya. Peneliti melakukan serangkaian kegiatan mulai dari tahap pengumpulan data, dan tahap analisis data sampai pada tahap hasil penelitian.

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini meliputi: teknik observasi, teknik wawancara, teknik simak, teknik rekam, dan teknik catat. Teknik-teknik tersebut digunakan untuk menangkap fenomena khusus yang berkaitan langsung dengan masalah “Interferensi Gramatikal Bahasa Manggarai Dialek Satarmese terhadap Bahasa Indonesia Lisan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, melalui kegiatan menceritakan pengalaman pribadi.

(4)

menentukan kesalahan yang dibuat si terdidik terhadap bahasa yang sedang dipelajari atau bahasa kedua karena pengaruh bahasa pertama.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini akan disajikan hasil dan pembahasan penelitian. Uraiannya adalah sebagai berikut.

A. Interferensi Morfologi Bahasa Manggarai terhadap Morfologi Bahasa Indonesia Lisan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese Beberapa data yang diperoleh dalam penelitian ini, pada saat siswa menceritakan pengalaman pribadi. Hal ini dapat kita lihat dalam bahasa Manggarai ada prefiks {N-}, maka siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese sebagai penutur bahasa Manggarai menggunakannya dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, seperti kata nunggu, nyimpan, ngikut, nyentuh, ngumpul, nyari, nyapa, ngerti, nerima, nyetir, ngajak, ngantar, ngerem, nyeberang, niru, ngejar, nari, dan nangis. Chaer (2003: 123) mengemukakan bahwa bentuk-bentuk tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, sebab untuk membentuk prefiks {N-} tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku sudah ada padanan yang benar. Jadi seharusnya kata-kata tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku menjadi menunggu, menyimpan, mengikut, menyentuh, mengumpul, mencari, menyapa, mengerti, menerima, menyetir, mengajak, mengantar, mengerem, menyeberang, meniru, mengejar, menari , dan menangis. Adanya prefiks {N-} pada kata tunggu, simpan, ikut, sentuh, kumpul, cari, sapa, erti, terima, setir, ajak, antar, rem, seberang, tiru, kejar, tari, dan tangis tersebut merupakan interferensi morfologi karena prefiks {N-} dianggap sebagai afiksasi yang kurang tepat dalam kata tersebut.

Suwito (1988: 66) menyatakan bahwa “interferensi morfologi terjadi

apabila dalam pembentukan kata sesuatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain”. Inteferensi bidang morfologi terjadi pula dari afiks bahasa daerah.

Chaer (2003: 123)

mengemukakan sebagai berikut. Penggunaan bentuk-bentuk nunggu, nyimpan, ngikut, nyentuh, ngumpul, nyari, nyapa, ngerti, nerima, nyetir, ngajak, ngantar, ngerem, nyeberang, niru, ngejar, nari, dan nangis dalam bahasa Indonesia juga termasuk kasus interferensi, sebab prefiks yang digunakan tersebut berasal dari bahasa Manggarai dan dialek Satarmese. Bentuk yang baku adalah menunggu, menyimpan, mengikut, menyentuh, mengumpul, mencari, menyapa, mengerti, menerima, menyetir, mengajak, mengantar, mengerem, menyeberang, meniru,mengejar,menari, danmenangis.

Beberapa data yang diperoleh dalam penelitian ini, pada saat siswa menceritakan pengalaman pribadi. Hal ini dapat kita lihat dalam bahasa Manggarai ada prefiks {ke-}, maka siswa kelas VII SMP Negeri VII Satarmese sebagai penutur bahasa Manggarai menggunakannya dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, seperti kata keinjak, ketawa, dan kejatuh. Chaer (2003: 123) mengemukakan bahwa bentuk-bentuk tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, sebab untuk membentuk prefiks {ke-} tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku sudah ada padanan yang benar. Jadi seharusnya kata-kata tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku menjadi terinjak, tertawa, dan terjatuh. Adanya prefiks {ke-} pada kata injak, tawa, dan jatuh tersebut merupakan interferensi morfologi karena prefiks {ke-} dianggap sebagai afiksasi yang kurang tepat dalam kata tersebut.

(5)

bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain”. Inteferensi bidang morfologi terjadi pula dari afiks bahasa daerah. Chaer (2003: 123) mengemukakan sebagai berikut. Penggunaan bentuk-bentuk keinjak, ketawa, dan kejatuh dalam bahasa Indonesia juga termasuk kasus interferensi, sebab imbuhan yang digunakan tersebut berasal dari bahasa Manggarai dan dialek Satarmese. Bentuk yang baku adalah terinjak, tertawa, danterjatuh.

Beberapa data yang diperoleh dalam penelitian ini, pada saat siswa menceritakan pengalaman pribadi. Hal ini dapat kita lihat dalam bahasa Manggarai ada sufiks {-an}, maka siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese sebagai penutur bahasa Manggarai menggunakannya dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, seperti kata kantoran,kamaran,jalanan, sembilanan, dekatan, kelasan, boncengan, kelilingan, rumahan, sekolahan, emosian, siangan, lombaan, dan subuhan. Chaer (2003: 123) mengemukakan bahwa bentuk-bentuk tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, sebab untuk membentuk sufiks {-an} tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku sudah ada padanan yang benar. Jadi seharusnya kata-kata tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku menjadi kantor, kamar, jalan, sembilan, dekat, kelas, bonceng,keliling,rumah,sekolah,emosi, siang,lomba,dan subuh. Adanya prefiks {-an} pada kata kantor, kamar, jalan, sembilan, dekat,kelas,bonceng,keliling, rumah,sekolah,emosi,siang,lomba, dan subuh tersebut merupakan interferensi morfologi karena prefiks {-an} dianggap sebagai afiksasi yang kurang tepat dalam kata tersebut.

Suwito (1988: 66) menyatakan bahwa “interferensi morfologi terjadi apabila dalam pembentukan kata sesuatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain”. Inteferensi bidang morfologi terjadi pula dari afiks bahasa daerah.

Chaer (2003: 123) mengemukakan sebagai berikut. Penggunaan bentuk-bentuk kantoran, kamaran, jalanan, sembilanan,dekatan, kelasan,

boncengan, kelilingan, rumahan, sekolahan, emosian, siangan, lombaan, dan subuhan dalam bahasa Indonesia juga termasuk kasus interferensi, sebab imbuhan yang digunakan tersebut berasal dari bahasa Manggarai dan dialek Satarmese. Bentuk yang baku adalahkantor,kamar, jalan, Sembilan, dekat, kelas, bonceng, keliling, rumah, sekolah,emosi,siang, lomba, dan subuh.

Beberapa data yang diperoleh dalam penelitian ini, pada saat siswa menceritakan pengalaman pribadi. Hal ini dapat kita lihat dalam bahasa Manggarai ada konfiks {ke-/-an}, maka siswa kelas VII SMP Negeri VII Satarmese sebagai penutur bahasa Manggarai menggunakannya dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, seperti kata kajauhan dan kelihatan. Chaer (2003: 123) mengemukakan bahwa bentuk-bentuk tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, sebab untuk membentuk konfiks {ke-/-an} tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku sudah ada padanan yang benar. Jadi seharusnya kata-kata tersebut dalam bahasa Indonesia yang baku menjaditerjauhdan terlihat. Adanya prefiks {ke/-an} pada kata jauh dan lihat tersebut merupakan interferensi morfologi karena prefiks {-an} dianggap sebagai afiksasi yang kurang tepat dalam kata tersebut.

(6)

digunakan tersebut berasal dari bahasa Manggarai dan dialek Satarmese. Bentuk yang baku adalah terjauh dan terlihat.

B. Interferensi Sintaksis Bahasa Manggarai terhadap Sintaksis Bahasa Indonesia Lisan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese

Suwito (1988: 56)

mengemukakan bahwa “interferensi sintaksis terjadi karena di dalam diri penutur terjadi kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (B1) dengan bahasa lain yang juga dikuasainya (bahasa daerah atau bahasa asing)”. Interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: suatu hari Ibunya sayaketemu seekor bangke tikus di dekat kamar mandi. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalahca leson endede daku ita lawo mata one ruis palang cebong. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah suatu hari ibu saya menemukan seekor bangkai tikus di dekat kamar mandi. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: saat itu, Kakaknya saya juga belum pulang. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah du hitu ka’ede daku toe ding manga kolen. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saat itu, kakak saya juga belum pulang. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur

terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: saya sama teman-temannya saya liburan ke pante Cepi Watu untuk senang-senang di sana. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah aku agu haelabarde daku lako-lako ne pante Cepi Watu kudut teti nai awo hitu. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saya dengan teman-teman saya liburan ke pantai Cepi Watu untuk senang-senang di sana. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya:jarak antara pante dengan rumahnya kami tidak kejauhan, hanya berjarak 10 km saja. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah tadang one mai pante agu mbarude dami toe manga tadang bail, am tadang ne 10 km kaut. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah jarak antara pantai dengan rumah kami tidak terlalu jauh, hanya berjarak 10 km saja. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

(7)

Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: kaminya berangkat pukul sembilanan pagi dari salah satu rumahnya-temannya saya. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah amide lako du reme jam ciok gula one ma ca mbarude haelabarde daku. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami berangkat pukul sembilan pagi dari salah satu rumah teman saya. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: kaminya sengaja tidak bawakan bekal dari rumahnya kami. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah amide pande mole toe ba wuat one mai mbarude ami. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami sengaja tidak membawa bekal dari rumah kami. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: saya merasa sangat senang karena saya rasa stress yang ngumpul di kepalanya saya lenyap seketika. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah aku

rasan senang tuung ai aku rasan sangged beti sai ata kaeng one saide aku mora muing. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saya merasa sangat senang, karena saya merasa stres yang mengumpul di kepala saya lenyap seketika. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: kami pun nyari sebuah tempat yang teduh untuk istirahat-istirahat sejenak dan sambil nikmati makanannya kami. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah ami kole kawe ndei kudut leti cekoen agu mecuk hangde ami. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami pun mencari sebuah tempat yang teduh untuk beristirahat sejenak dan sambil menikmati makanan kami. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

(8)

struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: setelah sudah naik motor teman-temannya saya pun langsung pulang. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah poli leti montor haelabarde aku nggaruk kole. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah setelah selesai naik motor teman-teman saya pun langsung pulang. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: tiba-tiba ada polisi tidur di ujung jalanan, teman-temannya sayasemuanya ngerem mendadak. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah cai-cai manga pelisi toko one rahit salang, haelabarde aku sangged taung rem nggitu kaut. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah tiba-tiba ada polisi tidur di ujung jalan, teman-teman saya semua mengerem mendadak. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran

{-nya} dalam penelitian ini misalnya: pada hari Selasa saat pulang dari sekolahan saya dan kakakkakak kelasnya saya menuju halaman sekolahan. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah one leso Selasa du kole one mai sekolahan aku agu ka’e-ka’e kelasde aku ngo bolo mai sekolahan. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah pada hari Selasa saat pulang dari sekolah saya dan kakak–kakak kelas saya menuju halaman sekolah. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: saya dan teman-temannya saya sempat beberapa kali salah, yah maklum karena awalnya belum pernah nari. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah aku agu haelabarde aku manga pisa ngkalin sala, bae kaut ai du wangkan toe poli lomes. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saya dan teman-teman saya sempat beberapa kali salah, yah maklum karena awalnya belum pernah menari. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

(9)

unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah curu olo koso wae lu’u, aku ngo one haelabarde aku agu ami kole masuk ndei. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalahsambil menghapus air mata , saya ke teman-teman saya dan kami pun masuk panggung. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya: setelah makan saya keluar karena sudah di nunggu oleh teman-temannya saya. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalahdu poli hang aku ngo peang ai poli gereng le haelabarde aku. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah setelah makan saya keluar, karena sudah di tunggu teman-teman saya. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan akhiran {-nya} dalam penelitian ini misalnya:setelah belut yang digunakan untuk lombaan, belut-belut itu diolah oleh teman-temanya saya menjadi masakan yang sangat lezat. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah du poli tuna pake kudut rie, tuna-tuna situ teneng le haelabarde aku kudut pande hang mecik tuung. Padanan struktur

kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah setelah belut yang digunakan untuk berlomba, belut-belut itu diolah teman-teman saya menjadi masakan yang sangat lezat. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Suwito (1988: 56)

mengemukakan bahwa “interferensi sintaksis terjadi karena di dalam diri penutur terjadi kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (B1) dengan bahasa lain yang juga dikuasainya (bahasa daerah atau bahasa asing)”. Interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan kata sapaan hubungan kekerabatan dalam penelitian ini misalnya: saat kami jalan-jalan depan rumah yang ada dua anjing itu, salah satu kakak kelasnya saya bernama ka’e Sinta niru suaranya anjing. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah du ami lako-lako bolo mai mbaru ata manga sua acu nitu, manga ca ka’e kelas aku nitu ngasang na hia ka’e Sinta pande cama runningde acu. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saat kami berjalan depan rumah yang ada dua anjing itu, salah satu kakak kelas saya bernama kakak Sinta meniru suara anjing. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

(10)

jalan raya. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah du nitu wan manga ka’e Rini agu ka’e Elis ata nggaruk ngo one salang mese. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalahdi sana ada kakak Rini dan kakak Elis yang langsung lari menuju jalan raya. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan kata sapaan hubungan kekerabatan dalam penelitian ini misalnya: sedangkan saya dan ka’e Sinta menuju depannya sekolahan. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah du aku agu ka’e Sinta ngo bolo mai sekolahan. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah sedangkan saya dan kakak Sinta menuju depan sekolah. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan kata sapaan hubungan kekerabatan dalam penelitian ini misalnya: setelah ka’e Rini dan ka’e Elis lari sampai depannya sekolahan. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalahpoli ka’e Rini agu ka’e Elis losi sampe bolo mai sekolahan. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah setelah kakak Rini dan kakak Elis lari sampai depan sekolah. Adanya penyimpangan unsur

struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada penggunaan kata sapaan hubungan kekerabatan dalam penelitian ini misalnya: kami langsung teriakan ka’e Sinta karena dianya yang membuat ulah ini sambil ketawa–ketawa. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah ami nggaruk ciek ka’e Sinta ai hia ata pande da’at ne ngoon lampuk reges-reges. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami langsung berteriak kakak Sinta karena dia yang membuat ulah ini sambil tertawa. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Suwito (1988: 56)

(11)

kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada pola pembentukan frasa dalam penelitian ini misalnya: walaupun setiap harinya disiksasama kakak-kakak OSIS. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah maram leteng lesonde leci agu ka’e-ka’e OSIS. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah walaupun setiap hari disiksa oleh kakak-kakak OSIS. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

Bentuk interferensi bahasa Manggarai terhadap bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese, pada pola pembentukan frasa dalam penelitian ini misalnya:tapi asyik dan kami bisa kenalan sama teman-teman lain. Kalimat tersebut mengandung unsur kalimat atau tata kalimat bahasa Manggarai. Kalimat itu dalam bahasa Manggarai adalah landing di’an kole kamping ami nganceng bae agu haelabarde iwod. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah tapi asyik dan kami bisa berkenalan dengan teman-teman lain. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi, karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah.

SIMPULAN

Data interferensi morfologi bahasa Manggarai terhadap morfologi bahasa Indonesia lisan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Satarmese yang ditemukan dalam penelitian ini pada saat siswa yang menceritakan pengalaman

pribadi yaitu prefiks {N} pada kata nunggu, nyimpan, ngikut, nyentuh, ngumpul, nyari, nyapa, ngerti, nerima, nyetir, ngajak, ngantar, ngerem, nyeberang, niru, ngejar, nari, dan nangis. Sedangkan bahasa Indonesia baku menjadi menunggu, menyimpan, mengikut, menyentuh, mengumpul, mencari, menyapa, mengerti, menerima, menyetir, mengajak, mengantar, mengerem, menyeberang, meniru, mengejar,menari, danmenangis. Prefiks {ke} pada kata keinjak, ketawa, dan kejatuh. Sedangkan bahasa Indonesia baku menjadi terinjak, tertawa, dan terjatuh. Sufiks {an} pada kata kantoran,kamaran,jalanan, sembilanan, dekatan, kelasan, boncengan, kelilingan, rumahan, sekolahan, emosian, siangan, lombaan, dan subuhan. Sedangkan bahasa Indonesia baku menjadi kantor, kamar, jalan, sembilan, dekat, kelas, bonceng,keliling,rumah,sekolah,emosi, siang, lomba, dan subuh. Konfiks {ke-an} pada kata kajauhan dan kelihatan. Sedangkan bahasa Indonesia baku menjaditerjauhdanterlihat.

(12)

hanya berjarak 10 km saja. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah jarak antara pantai dengan rumah kami tidak terlalu jauh, hanya berjarak 10 km saja, (5) kaminya berangkat pukul sembilanan pagi dari salah satu rumahnya temannya saya. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami berangkat pukul sembilan pagi dari salah satu rumah teman saya, (6) kaminya sengaja tidak bawakan bekal dari rumahnya kami. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami sengaja tidak membawa bekal dari rumah kami, (7) saya merasa sangat senang karena saya rasa stres yang ngumpul di kepalanya saya lenyap seketika. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saya merasa sangat senang, karena saya merasa stres yang mengumpul di kepala saya lenyap seketika, (8) kami pun nyari sebuah tempat yang teduh untuk istirahat-istirahat sejenak dan sambil nikmati makanannya kami. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami pun mencari sebuah tempat yang teduh untuk beristirahat sejenak dan sambil menikmati makanan kami, (9) saya kenalan dengan dia di rumahnya pamannya saya. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saya berkenalan dengan dia di rumah paman saya, (10) setelah sudah naik motor teman-temannya saya pun langsung pulang. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalahsetelah selesai naik motor teman-teman saya pun langsung pulang, (11) tiba-tiba ada polisi tidur di ujung jalanan, teman-temannya saya semuanya ngerem mendadak. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalahtiba-tiba ada polisi tidur di ujung jalan, teman-teman saya semua mengerem mendadak, (12) pada hari Selasa saat pulang dari sekolahan saya dan kakak–kakak kelasnya saya menuju

(13)

struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah sedangkan saya dan kakak Sinta menuju depan sekolah, (4) setelah ka’e Rini dan ka’e Elis lari sampai depannya sekolahan. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah setelah kakak Rini dan kakak Elis lari sampai depan sekolah, (5) kami langsung teriakan ka’e Sinta karena dianya yang membuat ulah ini sambil ketawa–ketawa. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah kami langsung berteriak kakak Sinta karena dia yang membuat ulah ini sambil tertawa. Penggunaan frasa pada data (1)saya sama teman-temannya saya liburan ke pante Cepi Watu untuk senang-senang di sana. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah saya dengan teman-teman saya liburan ke pantai Cepi Watu untuk bersenang-senang di sana, (2) walaupun setiap harinya disiksa sama kakak-kakak OSIS. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalahwalaupun setiap hari disiksa oleh kakak-kakak OSIS, (3) tapi asyik dan kami bisa kenalan sama teman-teman lain. Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalahtapi asyik dan kami bisa berkenalan dengan teman-teman lain.

SARAN

Berdasarkan simpulan di atas dapat diajukan saran-saran sebagai berikut. (1) bagi siswa, diharapkan setelah membaca tesis ini dapat memahami interferensi bahasa, terutama yang berkaitan dengan interferensi, (2) bagi para guru, diharapkan memahami hasil penelitian ini dan dapat mempraktikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, (3) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan agar membaca dan memperdalam hasil tesis ini, kemudian diteliti lebih lanjut, dan (4) bagi masyarakat umum, diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan penggunaan bahasa daerah pada saat menggunakan bahasa Indonesia.

DAFTAR RUJUKAN

Aitchison, J. 1992. Teach Yourself Linguistics. London and Sydney: Hodder & Stoughton. Arifin, Zaenal dan Tasai, Amran.

1985. Cermat Berbasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Presindo.

Barnhart, Clarence, L. (ed). 1957. The American College Dictionary. New York: Harper & Brothers Publishers.

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. Diindonesiakan oleh Sutikno; I. 1995. Jakarta: PT. Gramedia. Brown. 1980. Principles Of Language

Learning And Teaching. New Jersey: Prentice Hall INCH. Chaedar, Alwasilah. 1985. Sosiologi

Bahasa. Bandung: Angkasa. Chaer, Abdul,2004. Linguistik Umum.

Jakarta: PT. Rineka Cipta. Chaer, Abdul. 1994.Linguistik Umum.

Jakarta: PT. Rineka Cipta. Chaer, A dan Agustina, L. 1995.

Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum.

Jakarta: PT. Rineka Cipta. Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie.

2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Fernandez, Inyo Yos. 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores:Kajian Historis

Komparatif terhadap Sembilan Bahasa di Flores. Ende: Nusa Indah.

Fishman 1976a. The Sociology of Language, an Interdiciplinary Sosial Science Approach to Language in Society. Dalam Fishman, J.A. (ed).Advances

in the Sociology of Language. Paris: Mouton The Hague Paris. Fishman 1976b. The Reletionsihih

(14)

Who Speaks What Language to Whom and When. Dalam Pride, J.B dan Holmes, J. (eds) Sosiolinguistics. Middlesex England: Pinguin Books, Ltd.

Halliday, M. A. K. 1968.The Context of Linguistics. Dalam Applied Linguistics Association of Australia (ALAA) Aims and Perspectives in Linguistics Occasional Papaers Number 1. Pp. 19031.

Hamied, Fuad Abdul. 1987. Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdiknas.

Hamid, Patilima. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Hasan, Alwi. 2003. Bahasa Indonesia -Tata Bahasa. Jakarta: Balai Pustaka.

Haugen, Einar. 1966. Language Conflict and Language Planning. The Case of Modern Norway. Cambridge, Mass: Harvard University Press.

Hudson, R.A. 1996. Sociolinguistics. Second Edition. Cambridge: Cambridge

Univercity Press.

Irwan. 2006. Karya Ilmiah: “Interferensi Bahasa Daerah terhadap Perkembangan Bahasa

Indonesia”. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Jendra, I Wayan. 1991. Dasar-Dasar Sosiolinguistik. Denpasar: Ikayana.

Keraf, Gorys. 1994. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia.

Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa.Yogyakarta:

Carasvatibooks.

Kridalakasana, Harimurti dan Moeliono, Anton (Ed). 1982. Pelangi Bahasa. Jakarta: Bhratara. Mackey, W.F. 1968. The Description of

Bilingualism. Dalam Joshua A. Fishman (ed) 1972. First printing 1968 in The Netherlands. Readings in the Sociology of Language. The Hauge Mouton; 554-584.

Maryam, Siti. 2011. Skripsi: “Interferensi Gramatikal Bahasa

Jawa dalam Bahasa

Indonesia pada Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UNY”. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Mustakim. 1994. Interferensi Bahasa

Jawa dalam Surat Kabar Berbahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nababan. P. W. J. 1984. Sosiolingustik. Jakarta: Gramedia.

Nababan, P. W. J. 1991. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Nuraeni. 2003. Skripsi: “Interferensi

Bahasa Bugis terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Berkomunikasi oleh Siswa SLTP Negeri 4 Kahu Kabupaten Bone”.

Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.

Parera, Jis Daniel. 1986. Linguistik Edukasional: Pendekatan Konsep dan Teori Pengajaran Bahasa. Jakarta: Erlangga. Poerwadarminta, W. J. S. 2006. Kamus

Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Poedjosoedarmo, Soepomo. 1989. Perkembangan Sosiolinguistik. Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa.

Pramudya, Mahar. 2006. Skripsi: “Interferensi Gramatikal Bahasa

(15)

Pemakaian Bahasa Indonesia: dengan Data Rubrik: “MAK PER

dan AKEK BUNENG”,

dalam Surat Kabar Bangka Pos”. Semarang: Universitas Diponegoro.

Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Prastowo, Andi. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.

Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Grasindo.

Rendi. 2011. Pentingnya Bahasa Indonesia dalam Komunikasi (Online),

(http://sirendi.blogspot.com/2011

/10/pentingnya-bahasa-indonesia- dalam.html), diakses 21 September 2012. Ridwan. 1998. Dasar-dasar Linguistik

Kontrastif. Medan: USU Press. Rismiyati. 2000. Skripsi: “Interferensi

Leksikal Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia Siswa Taman Kanak-kanak Budi Mulia Dua”. Samsuri. 1994. Analisis Bahasa. Jakarta:

Erlangga.

Setiyowati, Avid. 2008. Skripsi: “Interferensi Morfologi dan Sintaksis Bahasa Jawa dalam Bahasa Indonesia pada Kolom Piye ya? Harian Suara

Merdeka”. Semarang:

Universitas Diponegoro.

Simanjuntak, Mangantar. 1987. Pengantar Psikolinguistik Modern. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Soetomo, Istiati.1985. Telaah Sosial

Budaya terhadap Interferensi, Alih Kode, dan Tunggal Bahasa dalam Masyarakat Ganda Bahasa. Disertasi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sudaryanto, dkk. 1991. Metode Aneka Teknik Analisis Bahasa.

Yogyakarta: Duta Wacana University Perss.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Tehnik Analisis Bahasa (Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik). Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Suhardi dan Sembiring. 2005. Aspek sosial bahasa. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Sumarsono dan Partana. P. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta. Sabda.

Sutikno, 1995. Geomorfologi dan Prospeknya di Indonesia:Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.

Suwito. 1982. Pengantar Awal Sosiolinguistik: Teori dan Problem. Surakarta: Henary Offset.

Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Praktik. Surakarta: Henary Offset.

Suwito. 1988. Sosiolinguistik (BPK). Surakarta: UNS Press.

Tarigan, Henry Guntur.1987. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:

Angkasa.

Walija. 1996. Bahasa Indonesia dalam Perbincangan. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press. Weinrich, Uriel. 1968. Language in

Contact. The Hague-Paris: Mouton.

Weinreich, Uriel. 1970. Language in Contact: Finding and Problems. Mouton, The Hauge-Paris. Wibowo, Wahyu. 2001.Manajemen

Referensi

Dokumen terkait

Tindak bahasa yang digunakan pembina upacara dalam amanat pembina upacara Sekolah Dasar di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang adalah (1) tindak verdiktif (

Dari hasil deskripsi analisis angket minat dan motivasi siswa kelas IV SDN Banjaragung II dalam pembel- ajaran teks wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa minat

Dari hasil analisis lembar validasi rancangan pembelajaran persentase penilaian validator 89% menunjukan bahwa e-learning sebagai bahan ajar sangat valid nampak pada

Kegiatan ini dilakukan dengan cara merangkum karakteristik siswa dalam sebuah catatan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian pengembangan produk

Pada di atas terdapat makna kias metafora yang terdapat dalam pantun pada baris pertama adalah terdapat kata bune yang artinya seperti, penyair menggambarkan

Dengan demikian, aspek ketepatan penggunaan ejaan masih perlu ditingkatkan lagi dan lebih maksimal.Hasil evaluasi keterampilan melengkapi cerita rumpang pada tahap siklus

Tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, yang menawarkan berbagai kemudahan dalam

Sedangkan menurut persepsi siswa penyajian bahan ajar ini ditunjukkan dengan jawaban angket atas pertanyaan yang berbunyi (1) penyajian bahan ajar ini menarik, memperoleh