2.1. Kebangkrutan
Perusahaan debitor dinyatakan bangkrut ketika tidak mampu membayar utangnya ketika jatuh tempo, atau total utangnya melebihi nilai wajar dari assetnya. Kebangkrutan ada 2 jenis yaitu:
¾ Equity Insolvency yang berarti ketidakmampuan untuk membayar ketika jatuh tempo,
¾ Bankruptcy Insolvency yang berarti memiliki total utang yang melebihi nilai wajar asetnya.
Perusahaan debitur yang mengalami Equity Insolvency memiliki kemungkinan untuk menghindari kebangkrutan dengan menegosiasikan perjanjian secara langsung deengan kreditornya. Sedangkan perusahaan debitur yang mengalami Bankruptcy Insolvency akan dilikuidasi dibawah pengawasan pengadilan.
2.2. Penilaian Kinerja Bank
Kinerja bank merupakan bagian dari kinerja bank secara keseluruhan. Kinerja (performance) bank secara keseluruhan merupakan gambaran prestasi yang dicapai bank dalam operasionalnya, baik menyangkut aspek keuangan, pemasaran, penghimpunan dan penyaluran dana, teknologi maupun sumber daya manusia (Abdullah, 2005).
Berdasarkan apa yang dinyatakan diatas, kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas bank.
Penilaian aspek penghimpunan dana dan penyaluran dana merupakan kinerja keuangan yang berkaitan dengan peran bank sebagai lembaga intermediasi. Adapun penilaian kondisi likuiditas bank guna mengetahui seberapa besar kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya kepada para deposan.
Penilaian aspek profitabilitas guna mengetahui kemampuan menciptakan profit, yang sudah barang tentu penting bagi para pemilik. Dengan kinerja bank yang baik pada akhirnya akan berdampak baik pada intern maupun bagi pihak ekstern bank.
Berkaitan dengan analisa kinerja keuangan bank yang mengandung beberapa tujuan :
1. Untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan bank terutama kondisi likuiditas, kecukupan modal dan profitabilitas yang dicapai dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya
2. Untuk mengetahui kemampuan bank dalam mendayagunakan semua aset yang dimiliki dalam menghasilkan profit secara efisien.
2.3. Analisa CAMEL
Untuk melakukan penelitian kesehatan bank, sebuah bank dapat dilihat dari berbagai aspek (Martono, 2002). Penilaian ini bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang sehat, cukup sehat, kurang sehat, dan tidak sehat, sehingga Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina bank – bank dapat memberikan arahan bagaimana bank tersebut harus dijalankan dengan baik atau bahkan dihentikan operasinya.
Ukuran untuk penilaian kesehatan bank telah ditentukan oleh bank Indonesia. Seperti yang tertera pada Undang-undang RI no 7 tahun 1992 tentang perbankan pasal 29, yang isinya adalah :
1. Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia.
2. Bank Indonesia menetapkan ketetuan kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan, kualitas asset, kualitas manajemen, rentabilitas, likuiditas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan uasaha bank.
3. Bank wajib memelihara kesehatan bank sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian (Martono,2002).
Berdasarkan ketentuan dalam undang-undang tentang perbankan tersebut, Bank Indonesia telah mengeluarkan surat edaran No. 26/5/BPPP tanggal 29 Mei
1993 yang mengatur tentang tata cara penilaian tingkat kesehatan bank. Ketentuan ini merupakan penyempurnaan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia dengan surat edaran No. 23/21/BPPP tanggal 28 febuari 1991. Metode penilaian tingkat kesehatan bank menurut standar Bank Indonesia menggunakan 5 aspek, yaitu: Capital, Asset quality, Management, Earnings, dan Liquidity atau lebih dikenal dengan istilah CAMEL. Kelima aspek tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.
2.3.1. Capital (Permodalan)
Menurut Martono (2002) pada aspek permodalan ini yang dinilai adalah permodalan yang didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank. Penilaian tersebut didasarkan kepada Capital Adequacy Ratio (CAR) yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Permodalan yang cukup adalah berkaitan dengan penyediaan modal sendiri yang diperlukan untuk menutup resiko yang mungkin timbul dari penanaman dana dalam aktiva-aktiva produktif yang mengandung resiko serta untuk membiayai penanaman dalam benda tetap dan inventaris.
Hasibuan (2005) menjelaskan bahwa CAR yang didasarkan pada standar BIS (Bank for International Settlement) adalah 8%. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menghitung apakah modal yang ada pada suatu bank telah memadai atau belum. Jika modal rata-rata suatu bank lebih baik dari bank lainnya maka bank yang bersangkutan akan lebih baik solvabilitasnya. Ketetapan CAR sebesar 8% bertujuan untuk :
1. Menjaga kepercayaan masyarakat kepada perbankan. 2. Melindungi dana pihak ketiga pada bank bersangkutan.
3. Untuk memenuhi ketetapan standar BIS Perbankan Internasional dengan formulan sbb :
a. 4% modal inti yang terdiri dari shareholder equity, preferred stock, dan freereserves, serta
b. 4% modal sekunder yang terdiri dari subordinate debt, loan loss provision, hybrid securities, dan revolution reserves.
Sanksi bagi bank yang tidak memenuhi CAR 8% disamping diperhitungkan dalam penialaian tingkat kesehatan bank, juga akan dikenakan sanksi dalam rangka pengawasan dan pembinaan bank.
Perhitungan CAR sesuai dengan standar Bank Indonesia adalah sebagai berikut : CAR = x100% Securities Loans Total Assets Fixed -capital Equity + (2.1)
Sedangkan untuk penilaian nilai kotor rasio CAR dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut (Abdullah, 2005):
- Jika rasio yang didapat mencapai 8 % atau lebih, maka dapat dihitung sebagai berikut: NR =
(
)
0,63 % 1 , 0 8 81+ Rd − × (2.2)- Jika rasio yang dicapai kurang dari 8 %, maka dapat dihitung sebagai berikut:
NR =
(
)
0,73 % 1 , 0 8 65 + Rd − × (2.3) Keterangan: NR = Nilai RasioRd = Rasio yang dicapai
2.3.2. Asset Quality ( Kualitas Aktiva Produktif ).
Pada aspek kualitas aktiva produktif ini merupakan penilaian jenis-jenis aktiva yang dimiliki oleh bank, yaitu dengan cara membandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan dengan aktiva produktif. Kemudian perbandingan penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif diklasifikasikan. Rasio ini dapat dilihat pada neraca yang telah dilaporkan secara berkala kepada Bank Indonesia. Kualitas aktiva produktif diproksikan dengan menggunakan rasio Return On Risked Asset (RORA). Adapun metode penilaiannya dapat dilakukan dengan cara (Susyanti, 2002) :
RORA= x100% Securities Loans Total tax before Earnings + (2.4)
Batasan maksimum RORA yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia berdasarkan SK DIR BI No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 adalah 15,5%. Sedangkan untuk penilaian nilai kotor rasio RORA dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut (Abdullah, 2005):
- Jika rasio yang dicapai kurang dari 15,5 %, maka dapat dihitung sebagai berikut: ( 15,5 – Rd )
NR= (2.5) 0,15 %
- Jika rasio yang didapat mencapai 15,5 % atau lebih, maka dapat dihitung sebagai berikut: Rd NR = (2.6) 1 % Keterangan: NR = Nilai Rasio
Rd = Rasio yang dicapai 2.3.3. Management (Manajemen)
Kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya dalam bekerja. Kualitas manajemen juga dapat dilihat dari pendidikan serta pengalaman karyawannya dalam menangani berbagai kasus-kasus yang terjadi. Unsur-unsur penilaian yang terjadi dalam kualitas manajemen adalah manajemen permodalan, manajemen aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen likuiditas, yang didasarkan atas jawaban dari 250 pertanyaan yang diajukan (Martono, 2002).
Untuk menilai kesehatan bank dalam aspek manajemen ini, biasanya dilakukan melalui kuisioner yang ditujukan bagi pihak manajemen bank (SK Dir BI No. 30/11/Kep/DIR tanggal 30 April 1997 dan SE No.30/2/UPBB tanggal 30 April 1997 ) akan tetapi pengukuran tersebut sulit dilakukan karena akan terkait dengan unsur kerahasiaan bank, maka dalam penelitian ini aspek manajemen diproksikan dengan profit margin dengan pertimbangan rasio ini menunjukkan bagaimana manajemen mengelola sumber-sumber maupun penggunaan atau alokasi dana secara efisien.
Penggunaan net profit margin juga erat kaitannya dengan aspek-aspek manajemen yang dinilai baik dalam manajemen umum maupun manajemen
resiko, dimana net income dalam aspek manajemen umum mencerminkan pengukuran hasil dari strategi keputusan yang dijalankan dan dalam tehniknya dijabarkan dalam bentuk sistem pencatatan, pengamanan dan pengawasan dari kegiatan operasional bank dalam upaya memperoleh operating income yang optimum. Sedangkan net income dalam manajemen resiko mencerminkan pengukuran terhadap upaya mengeliminir resiko likuiditas, resiko kredit, resiko operasional, resiko hukum, dan resiko pemilik dari kegiatan operasional bank, untuk memperoleh operating income yang optimum. Dapat juga dikatakan net profit margin mencerminkan tingkat efektifitas yang dapat dicapai oleh usaha operasional bank, yang terkait dengan hasil akhir dari berbagai kebijaksanaan dan keputusan yang telah dilaksanakan oleh bank dalam periode berjalan (Susyanti, 2002).
Aspek manajemen yang diproksikan dengan net profit margin yang dirumuskan sebagai berikut :
Net Profit Margin = 100%
bersih l operasiona Pendapatan bersih Laba x (2.7)
Karena aspek manajemen diproksikan dengan profit margin dengan pertimbangan rasio ini menunjukkan bagaimana manajemen mengelola sumber-sumber maupun penggunaan atau alokasi dana secara efisien, sehingga nilai rasio yang didapat langsung dikalikan dengan nilai bobot CAMEL sebesar 25 %.
2.3.4.Earnings (Rentabilitas)
Menurut Martono (2003) pada aspek rentabilitas ini yang dapat dilihat adalah kemampuan bank dalam meningkatkan laba dan efisiensi usaha yang dicapai. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat. Metode penilaiannya dapat juga dilakukan dengan ( Martono, 2002) :
2.3.4.1. Perbandingan Laba terhadap Total Asset ( Return On Asset/ ROA )
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan dari total asset
bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
ROA = 100% aset total pajak sebelum Laba x (2.8)
Batasan minimum ROA yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia berdasarkan SK DIR BI No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 adalah 1%. Apabila sebuah bank mempunyai ROA lebih besar dari 1,5% maka bank tersebut dapat dikatakan produktif mengelola aktiva sehingga menghasilkan laba. Penilaian nilai kotor rasio ROA dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut (Abdullah, 2005): Rd NR = (2.9) 0,015 % Keterangan: NR = Nilai Rasio
Rd = Rasio yang dicapai
2.3.4.2. Perbandingan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
Rasio ini yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Besarnya nilai BOPO dapat dihitung dengan rumus sbb:
BOPO = 100% l Operasiona Pendapatan l Operasiona Beban x (2.10)
Batasan minimum BOPO yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia berdasarkan SK DIR BI No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 adalah lebih kecil dari 100%. Penilaian nilai kotor rasio BOPO dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
NR=
(
)
% 08 , 0 100−Rd (2.11)Keterangan: NR = Nilai Rasio
Rd = Rasio yang dicapai
2.3.5. Liquidity ( Likuiditas )
Menurut Martono (2002) pada aspek likuiditas ini penilaian didasarkan atas kemampuan bank dalam membayar semua hutang-hutangnya terutama simpanan tabungan, giro, dan deposito pada saat ditagih dan dapat memenuhi semua permohonan kredit yang layak disetujui.
Menurut Hasibuan (2005) bank dikatakan likuid jika bank tersebut mempunyai: 1) Cash asset sebesar kebutuhan yang akan digunakan untuk memenuhi
likuiditasnya.
2) Cash asset lebih kecil dari butir (1) di atas, tetapi bank juga mempunyai aset lainnya (khususnya surat-surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya.
3) Kemampuan untuk menciptakan cash asset baru melalui berbagai bentuk uang.
Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar. Untuk menjamin likuiditas dihitung Loan to Deposit Ratio (LDR) yang besarnya dapat dihitung dengan rumus :
LDR = 100% ketiga pihak dana total kredit total x (2.12)
Batasan kewajaran angka LDR adalah dibawah 115% yang berarti jumlah kredit yang disalurkan sama dengan jumlah dana masyarakat yang berhasil dihimpun bank. Bila angka LDR melambung diatas 115% maka bank tersebut mengobral kredit sehingga sebagian dananya didapat dari pinjaman bank-bank dan pihak lain. Penilaian nilai kotor rasio LDR dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut (Abdullah, 2005):
- Jika rasio yang dicapai kurang dari 100 %, maka dapat dihitung sebagai berikut: ( 100 – Rd )
NR = (2.13) 1 %
- Jika rasio yang dicapai lebih dari 100 %, maka dapat dihitung sebagai berikut: NR =
(
)
4 % 1 115 x Rd − (2.14) Keterangan: NR = Nilai RasioRd = Rasio yang dicapai
Menurut ketentuan SK DIR BI No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997, jika digunakan kelima faktor CAMEL dalam penilaian kesehatan bank maka persentase setiap faktor CAMEL tersebut adalah sbb:
Tabel 2.1. Formula CAMEL No faktor-faktor yang dinilai Komponen Bobot 1 permodalan
rasio equity capital dan fixed asset terhadap loans dan securities
25% 2
kualitas aktiva produktif Rasio laba sebelum pajak terhadap loans dan securities
30%
3 Manajemen Rasio laba bersih terhadap pendapatan operasional 25%
4 Rentabilitas
¾ Rasio laba sebelum pajak terhadap total aset ¾ Rasio biaya operasional terhadap pendapatan
operasional
5% 5% 5 likuiditas ¾ Rasio total kredit terhadap total dana pihak ketiga 10%
jumlah 100%
Sumber : Hasibuan (2005),p.182
Jumlah bobot untuk kelima faktor tersebut adalah 100%. Apabila pada saat pemeriksaan semua faktor dinilai baik atau positif maka akan mendapat “nilai kredit faktor CAMEL” maksimal sebesar 100, berarti tingkat kesehatan bank/cabang berada pada predikat “SEHAT”. Nilai kredit untuk menentukan predikat kesehatan bank, ditetapkan sbb:
Tabel 2.2.
Nilai kredit dan predikat tingkat kesehatan bank Nilai kredit predikat
81-100 Sehat
66-<81 Cukup sehat 51-<66 Kurang sehat 0<51 Tidak sehat
Pada penelitian ini menggunakan data laporan keuangan bank yang dipublikasikan. Telah diketahui bahwa laporan keuangan bank tidak memberikan data yang lengkap sehingga penelitian ini tidak menggunakan ketentuan Bank Indonesia seluruhnya.
2.4. Analisis Z-Score (Diskriminan)
2.4.1. Pengertian Analisis Z-Score
Analisis Z-score adalah suatu penilaian Z-score yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan menggabungkan beberapa rasio keuangan menjadi suatu metode peramalan yang berarti.
2.4.2. Tujuan Analisis Z-Score
Z-score adalah suatu model yang dapat memprediksi kemungkinan suatu perusahaan akan bangkrut, dengan berdasarkan data-data keuangan perusahaan.
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya, apakah dalam keadaan sehat, kritis (diambang kebangkrutan), atau bangkrut, serta kinerjanya yang mencerminkan prospek suatu perusahaan di masa yang akan datang.
2.4.3. Manfaat Analisis Z Score 1. Bagi Perusahaan
Analisis Z-score berguna untuk mengevaluasi kinerjanya. Z-score yang kecil merupakan tanda atau peringatan dini bagi perusahaan untuk segera melakukan perbaikan, karena dengan keadaan ini, bukan berarti perusahaan harus bangkrut walaupun ia benar-benar menghadapi masalah.
2. Bagi calon kreditur
Analisis Z-score dapat dipakai untuk menganalisis kelayakan kreditnya. Calon kreditur akan memutuskan untuk memberikan kreditnya pada perusahaan yang sehat atau pada perusahaan dengan Z-score yang lebih besar.
3. Bagi calon investor
Analisis Z-score dapat digunakan untuk membantu dalam membuat keputusan investasinya. Calon investor akan memilih menanamkan uangnya pada perusahaan yang memiliki Z-score yang termasuk dalam kategori sehat.
2.4.4. Analisis Diskriminan Altman
Pada tahun 1968, Altman menggunakan analisis diskriminan dengan menyusun suatu model untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Ia mengambil sampel yang terdiri dari 66 perusahaan manufaktur, setengah diantaranya mengalami kebangkrutan. Dari laporan keuangan satu periode sebelum perusahaan bangkrut, Altman memperoleh 22 rasio keuangan, di mana 5 diantaranya ditemukan paling berkontribusi pada model prediksi. Fungsi diskriminasi Z yang ditemukan Altman pada tahun 1968 itu adalah sebagai berikut:
Z = 0,012 X1 + 0,014 X2 + 0,033 X3 + 0,006 X4 + 0,999 X5 (2.15)
Di mana:
X1 = modal kerja/jumlah harta (dalam %)
X2 = Laba ditahan/jumlah harta (dalam %)
X3 = EBIT/jumlah harta (dalam %)
X4 = Nilai pasar modal sendiri/nilai buku hutang (dalam %)
X5 = Penjualan/jumlah harta (dalam kali)
(Sumber: Edward, 1982)
Dalam menganalisis bobot ini, yang perlu diperhatikan adalah bentuk penulisan hasil, karena pada variabel X1 hingga X4 dalam bentuk % (persen),
maka untuk menyamakan bentuk dengan X5 dalam ukuran (kali), bobot variabel
X1 hingga X4 harus diganti.
Perubahan satuan pengukuran di atas akan mengakibatkan fungsi diskriminan Z yang ditemukan oleh Altman (Model yang asli, tahun 1968) akan berubah menjadi:
Z = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5 (2.16)
Untuk menerapkan model analisa Z-score pada industri perbankan, maka digunakan model Z-score (2.16) dengan penyesuaian variabel X1 dan X3 sebagai berikut :
X1 = aktiva lancar bank- hutang lancar bank / total asset
Aktiva lancar bank : kas, giro pada BI, giro pada bank lain, penempatan pada bank lain, dan surat berharga.
Hutang lancar bank : giro, kewajiban segera dibayar, tabungan, deposito, dan surat berharga yang diberikan.
X3 = earning before tax/total aset
2.4.5. Kriteria kebangkrutan
Dengan menggunakan rumus kebangkrutan di atas, kita bisa memperoleh kriteria untuk menentukan perusahaan mana yang cenderung bangkrut dan yang mana masih jauh dari kemungkinan bangkrut. Hal ini kemudian dirumuskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.3
Kriteria Kebangkrutan Altman Skor Kebangkrutan
Kurang dari 1,81 1,81 – 2,99 Lebih dari 2,99
Kemungkinan gagal terbilang besar
Kemungkinan gagal sulit dipastikan
Kemungkinan gagal terbilang kecil
Skor ini meramalkan terjadinya kegagalan
Kurang dari 2,675 meramalkan kegagalan, lebih dari itu meramalkan keberhasilan
Skor ini meramalkan keberhasilan
Sumber: Edward (1982),p.81
2.5. Hubungan Antar Konsep
2.5.1. Hubungan antara metode CAMEL dengan Z-score Altman
Dalam mengukur tingkat kesehatan perbankan, Bank Indonesia menggunakan metode CAMEL yang diantaranya mengukur modal, kualitas asset, manajemen, pendapatan, dan likuiditas. Aspek-aspek tersebut menggunakan rasio keuangan. Semakin tinggi nilai CAMEL ini maka semakin bagus kondisi suatu bank. Sedangkan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan, salah satu model yang dapat digunakan adalah Z-Score, dimana model ini menggabungkan beberapa rasio keuangan menjadi suatu metode peramalan yang berarti. Faktor-faktor yang diperhitungkan dalam metode Z-Score antara lain kemampuan perusahaan menghasilkan laba, permodalan, dan struktur modal. Semakin tinggi nilai Z-score yang dihasilkan maka kondisi suatu bank akan semakin bagus. Jadi
suatu perusahaan dikatakan baik jika nilai dari metode CAMEL dan metode Z-Score nya cukup tinggi.
2.6. Kerangka Berpikir
Bank Go Public 2001-2005
Metode CAMEL Z-score Altman
Menilai kondisi bank menurut metode Camel dan Z-Score
Altman Prediksi kebangkrutan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Laporan Keuangan Keterangan :
Kinerja keuangan bank go public 2001-2005 dianalisa dengan menggunakan metode CAMEL, sedangkan untuk memprediksi kebangkrutan menggunakan Z-score Altman, hasil dari kedua analisa tersebut akan dapat menilai kondisi suatu bank.