• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Belajar dan Pembelajaran

2.1.1 Belajar dan pembelajaran

Menurut Skinner belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka reponya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan hal berikut: a). Kesempatan terjadinya peristiwa yang menibulkan respon pembelajar, b). Respon pembelajar dan c). konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.

Guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner perlu memerhatikan dua hal yaitu a). Pemilihan stimulus yamg diskriminatif, dan b). Penggunaan penguatan. Adapun langkah-langkah pembelajran berdasarkan teori kondisioning operan sebagai berikut:

Menurut Hilgard dan Bower dalam buku Theroies of Learning (1975) mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan saat seseorang.

Menurut M Sobry Sutikno dalam bukunya menuju pendidikan bermutu (2004), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi terhadap lingkungan.

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

(2)

Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur.

Proses Pembelajaran Matematika

Dalam buku model pembelajaran menciptakan proses belajar mengajar yang kreatif dan efektif Hamzah mengemukakan bahwa matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkonunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas, serta mempunyai cabang antara lain, aritmatika, aljabar, geometri dan analitis.

Menurut Johnson dan Myklebust matematika adalah bahasa simbolis yang Bangun Ruang praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan Bangun Ruang teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Mengajar Evaluasi Belajar Tujuan Proses Sisw Gur

(3)

Jadi matematika merupakan ilmu pasti. Yang berarti mata pelajaran ini selalu menghasilkan jawaban yang pasti. Sebagai contoh dasar, satu ditambah satu pasti hasilnya dua, setelah sembilan pasti sepuluh dan begitu seterusnya. Hal ini menunjukan bahwa matematika adalah pelajaran yang lebih mengedepankan pemahaman. Dan mata pelajaran ini bisa diacukan kedalam kehidupan sehari-hari.

2.1.2 Hasil Belajar

Masalah belajar adalah masalah bagi setiap manusia, dengan belajar manusia memperoleh keterampilan, kemampuan sehingga terbentuklah sikap dan bertambahlah ilmu pengetahuan. Jadi hasil belajar itu adalah suatu hasil nyata yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani di sekolah yang diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap semester.

Untuk mengetahui perkembangan sampai di mana hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Untuk menentukan kemajuan yang dicapai maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada tujuan yang telah ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh strategi belajar mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa. Hasil belajar siswa menurut W. Winkel (dalam buku Psikologi Pengajaran 1989:82) adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka.

Menurut Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung: Jemmars, 1980:25) hasil belajar siswa bagi kebanyakan orang berarti ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan siswa.

Dari definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa

(4)

suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai.

Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran khusus, guru perlu mengadakan tes formatif pada setiap menyajikan suatu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai. Fungsi penelitian ini adalah untuk memberikan umpan balik pada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil. Karena itulah, suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus dari bahan tersebut.

2. Indikator Hasil Belajar Siswa

Yang menjadi indikator utama hasil belajar siswa adalah sebagai berikut: a. Ketercapaian Daya Serap terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan, baik secara individual maupun kelompok. Pengukuran ketercapaian daya serap ini biasanya dilakukan dengan penetapan Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM)

b. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.

Namun demikian, menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (dalam buku Strategi Belajar Mengajar 2002:120) indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.

3. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Secara umum Hasil belajar dipengaruhi 3 hal atau faktor Faktor-faktor tersebut akan saya uraikan dibawah ini, yaitu :

1. Faktor internal (factor dalam diri) 2. Faktor eksternal (factor diluar diri) 3. Faktor pendekatan belajar

(5)

1. Faktor internal

Faktor internal yang mempengaruhi Hasil belajar yang pertama adalah Aspek fisiologis. Untuk memperoleh hasil Hasil belajar yang baik, kebugaran tubuh dan kondisi panca indera perlu dijaga dengan cara : makanan/minuman bergizi, istirahat, olah raga. Tentunya banyak kasus anak yang prestasinya turun karena mereka tidak sehat secara fisik.

Faktor internal yang lain adalah aspek psikologis. Aspek psikologis ini meliputi : inteligensi, sikap, bakat, minat, motivasi dan kepribadian. Factor psikologis ini juga merupakan factor kuat dari Hasil belajar, intelegensi memang bisa dikembangkang, tapi sikap, minat, motivasi dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh factor psikologi diri kita sendiri. Oleh karena itu, berjuanglah untuk terus mendapat suplai motivasi dari lingkungan sekitar, kuatkan tekad dan mantapkan sikap demi masa depan yang lebih cerah. Berprestasilah.

2. Faktor eksternal

Selain faktor internal, Hasil belajar juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor eksternal meliputi beberapa hal, yaitu:

1. Lingkungan sosial, meliputi : teman, guru, keluarga dan masyarakat.

Lingkungan sosial, adalah lingkungan dimana seseorang bersosialisasi, bertemu dan berinteraksi dengan manusia disekitarnya. Hal pertama yang menjadi penting dari lingkungan sosial adalah pertemanan, dimana teman adalah sumber motivasi sekaligus bisa menjadi sumber menurunnya prestasi. Posisi teman sangat penting, mereka ada begitu dekat dengan kita, dan tingkah laku yang mereka lakukan akan berpengaruh terhadap diri kita. Kalau kalian sudah terlanjur memiliki lingkungan pertemanan yang lemah akan motivasi belajar, sebisa mungkin arahkan teman-teman kalian untuk belajar. Setidaknya dengan cara itu kaluan bisa memposisikan diri sebagai seorang pelajar.

Guru, adalah seorang yang sangat berhubungan dengan Hasil belajar. Kualitas guru di kelas, bisa mempengaruhi bagaimana kita balajar dan bagaimana minat kita terbangun di dalam kelas. Memang pada kenyataanya banyak siswa yang

(6)

merasa guru mereka tidak memberi motivasi belajar, atau mungkin suasana pembelajaran yang monoton. Hal ini berpengaruh terhadap proses pembelajaran.

Keluarga, juga menjadi faktor yang mempengaruhi Hasil belajar seseorang. Biasanya seseorang yang memiliki keadaan keluarga yang berantakan (broken home) memiliki motivasi terhadap prestasi yang rendah, kehidupannya terlalu difokuskan pada pemecahan konflik kekeluargaan yang tak berkesudahan. Maka dari itu, bagi orang tua, jadikanlah rumah keluarga kalian surga, karena jika tidak, anak kalian yang baru lahir beberapa tahun lamanya, belum memiliki konsep pemecahan konflik batin yang kuat, mereka bisa stress melihat tingkah kalian wahai para orang tua yang suka bertengkar, dan stress itu dibawa ke dalam kelas.

Yang terakhir adalah masyarakat, sebagai contoh seorang yang hidup dimasyarakat akademik mereka akan mempertahankan gengsinya dalam hal akademik di hadapan masyarakatnya. Jadi lingkungan masyarakat mempengaruhi pola pikir seorang untuk berprestasi. Masyarakat juga, dengan segala aktifitas kemasyarakatannya mepengaruhi tidakan seseorang, begitupun juga berpengaruh terhadap siswa dan mahasiswa.

2. Lingkungan non-sosial, meliputi : kondisi rumah, sekolah, peralatan, alam (cuaca). Non-sosial seperti hal nya kondiri rumah (secara fisik), apakah rapi, bersih, aman, terkendali dari gangguan yang menurunkan Hasil belajar. Sekolah juga mempengaruhi Hasil belajar, dari pengalaman saya, ketika anak pintar masuk sekolah biasa-biasa saja, prestasi mereka bisa mengungguli teman-teman yang lainnya. Tapi, bila disandingkan dengan prestasi temannya yang memiliki kualitas yang sama saat lulus, dan dia masuk sekolah favorit dan berkualitas, prestasinya biasa saja. Artinya lingkungan sekolah berpengaruh. cuala alam, berpengaruh terhadap hasil belajar.

4. Penilaian Hasil Belajar

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (hal 120-121) mengungkapkan, bahwa untuk mengukur dan mengevaluasi hasil belajar siswa tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkunya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian, sebagai berikut:

(7)

a. Tes Formatif, penilaian ini dapat mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam waktu tertentu.

b. Tes Subsumatif, tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar atau hasil belajar siswa. Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.

c. Tes Sumatif, tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua bahan pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tarap atau tingkat keberhasilan belajar siswa dalam satu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (rangking) atau sebagai ukuran mutu sekolah.

2.1.3 Prestasi Belajar

Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda “Prestasic” yang berarti hasil usaha. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia Prestasi Belajar didefinisikan sebagai hasil penilaian yang diperoleh dari kegiatan persekolahan yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian.

Menurut Wikipedia Prestasi berasal dari bahasa Belanda yang artinya hasil dari usaha. Prestasi diperoleh dari usaha yang telah dikerjakan. Dari pengertian Prestasi tersebut, maka pengertian Prestasi diri adalah hasil atas usaha yang dilakukan seseorang. Prestasi dapat dicapai dengan mengandalkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual, serta ketahanan diri dalam menghadapai situasi segala aspek kehidupan. Karakter orang yang berPrestasi adalah mencintai pekerjaan, memiliki inisiatif dan kreatif, pantang menyerah,

(8)

serta menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh. Karakter-karakter tersebut menunjukan bahwa untuk meraih Prestasi tertentu.

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa Prestasi Belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, Prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.

2.2 Penilaian

2.2.1 Teori Penilaian

Menurut Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.

Menurut Djemari Mardapi (1999: 8) Penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai.

Menurut Akhmat Sudrajat penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses

(9)

pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikulum itu sendiri.

Dalam buku implementasi life skill penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas :

1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik;

2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; 3. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

Setiap satuan pendidikan selain melakukan perencanaan dan proses pembelajaran, juga melakukan penilaian hasil pembelajaran sebagai upaya terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 64 ayat (1). dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. (2) menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk: (a) menilai pencapaian kompetensi peserta didik, (b) bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan (c) memperbaiki proses pembelajaran.

(10)

Dalam rangka penilaian hasil belajar (rapor) pada semester satu penilaian dapat dilakukan melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan dilengkapi dengan tugas-tugas lain seperti pekerjaan rumah (PR), proyek, pengamatan dan produk. Hasil pengolahan dan analisis nilai tersebut digunakan untuk mengisi nilai rapor semester satu. Pada semester dua penilaian dilakukan melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan kenaikan kelas dan dilengkapi dengan tugas-tugas lain seperti PR, proyek, pengamatan dan produk. Hasil pengolahan dan analisis nilai tersebut digunakan untuk mengisi nilai rapor pada semester dua.

2.2.2 Tujuan penilaian

Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono(1991) menyatakan bahwa penilaian memiliki tujuan sebagai berikut:

a. Merangsang kegiatan siswa;

b. Menemukan sebab kemajuan atau kegagalan siswa dalam belajar; c. Memberkan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan

dan bakat masing-masing siswa;

d. Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dalam lembaga pendidikan.

Dari tujuan penilaian diatas jelas bahwa dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan nasional perlu adanya penilaian. Dengan demikian guru dapat mengetahui siswa dalam tingkat kemajuan penguasaan bahan pelajaran, keterampilan, sikap, dan kemejuan pengalaman.

2.2.3 Pendekatan dan Prinsip Penilaian

Pendekatan dalam proses pembelajaran sangat penting karena pendekatan adalah salah satu proses yang dapat memperlancar proses pembelajaran oleh karena itu pendekatan yang digunakan untuk mencapai penilaian yang lebih baik diantaranya yaitu: (a). Menggunakan berbagai teknik, (b.) Menekankan hasil (outcomes), dengan memperhatikan input dan proses (c.) Menilai perkembangan :

(11)

kognitif, afektif dan psikomotor sesuai karakteristik mata pelajaran matematika, (d.) Menerapkan standar kompetensi lulusan (exit outcomes), (e.) Menerapkan system penilaian acuan kriteria (criterion-referenced assessment) dan standar pencapaian (performance standard) yang konsisten, (f.) Menerapkan penilaian otentik untuk menjamin pencapaian kompetensi.

Adapun beberapa perinsip yang perlu kita ketahui untuk mendapatkan penilaian dalam proses pembelajaran diantaranya: a.) Penilaian merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran, b.) Mencerminkan masalah dunia nyata, c.) Menggunakan berbagai ukuran, metode, teknik dan kriteria sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar, d.)Bersifat holistic, mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran

2.2.4 Acuan Penilaian

Acuan pada pengujian berbasis kompetensi adalah acuan kriteria, sebagai kriteria digunakan asumsi bahwa hampir semua orang belajar apapun akan mampu, hanya kecepatan dan waktu yang berbeda, asumsi tersebut mengindikasikan perlunya program perbaikan atau remedial.

Belajar tuntas (mastery learning): siswa tak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil baik. (John B. Carrol A model of school learning) jika siswa dikelompokan berdasarkan kemampuan untuk beberapa mata pelajaran, dan diajar sesuai karakteristik mereka, maka sebagian besar dari mereka akan mencapai ketuntasan.

Agar sistem penilaian memenuhi prinsip kesahihan dan keandalan, maka hendaknya memperhatikan:

1. Menyeluruh 2. Berkelanjutan

3. Berorientasi pada indikator ketercapaian 4. Sesuai dengan pengalaman belajar siswa

(12)

Aspek yang diujikan:

1. Belajar, yaitu seluruh pengalaman belajar siswa

2. Hasil belajar, ketercapaian setiap kompetensi dasar, baik kognitif, afektif maupun psikomotor.

2.2.5 Aspek yang diukur dalam penilaian

Merujuk pada tujuan evaluasi yang dikemukakan diatas maka pelaksanaan evaluasi mencakup tiga aspek yang dinilai yaitu:

1. Aspek Kognitif (Menurut Bloom, Englehart, Furst, Hill, Krathwohl’ 56) suatu aspek penguasaan dalam memahami bahan pelajaran, meliputi :

a. Pengetahuan (recalling), kemampuan mengingat (misalnya : nama ibu kota, rumus)

b. Pemahaman (Comprehension), kemampuan memahami (misalnya : menyimpulkan suatu paragraf)

c. Aplikasi (application), kemampuan penerapan (misalnya: menggunakan suatu informasi/pengetahuan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah).

d. Analisis (Analysis), kemampuan menganalisa suatu informasi yang luas menjadi bagian-bagian kecil (misalnya: menganalisis bentuk, jenis atau arti suatu puisi).

e. Sintesis (syntesis), kemampuan menggabungkan beberapa informasi menjadi suatu kesimpulan (misalnya : memformulasikan hasil penelitian di laboratorium)

f. Evaluasi (Evaluation), kemampuan mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk dan memutuskan untuk mengambil tindakan tertentu.

2. Aspek Afektif

a. Menerima (receiving) termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, respon, control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.

(13)

b. Menanggapi (responding): reaksi yang diberikan: ketepatan aksi, perasaan, kepuasan dll.

c. Menilai (evaluating): kesadaran menerima norma, system nilai dll.

d. Mengorganisasi (organization): pengembangan norma dan nilai organisasi system nilai

e. Membentuk watak (characterization): system nilai yang terbentuk mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah laku

3. Aspek Psikomotor

Aspek Psikomotor merupakan tindakan seseorang yang dilandasi penjiwaan atas dasar teori yang dipahami dalam suatu mata pelajaran artinya siswa dapat (mampu) mempraktikan materi pelajaran yang disampaikan guru.

Ranah psikomotor yaitu: a. Meniru (perception). b. Menyusun (Manipulating).

c. Melakukan dengan prosedur (precision).

d. Melakukan dengan baik dan tepat (articulation). e. Melakukan tindakan secara alami (naturalization).

Dari ketiga Aspek tersebut evaluasi termasuk salah satu komponen proses belajar mengajar dan evaluasi memiliki fungsi dalam pelaksanaannya. Menurut Nasution S. (1986:168-169) dalam buku didaktis asas-asas mengajar bahwa evaluasi memiliki fungsi sebagai berikut :

a. Mengetahui kesanggupan anak, sehingga anak itu bisa dibantu memilih jurusan, sekolah yang sesuai dengan bakatnya.

b. Mengetahui hingga manakah anak itu mencapai tujuan pelajaran dan pendidikan.

(14)

c. Menunjukan kekurangan dan kelemahan peserta didik.memberikan petunjuk yang jalas tentang tujuan pelajaran yang hendak dicapai. 2.3 Jenis-Jenis Penilaian

a. Penilaian Melalui Portofolio (Partfolio)

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasrkan pada berbagai informasi yang menunjukkan perkembangan siswa dalam satu periode tertentu. Informasi perkembangan siswa tersebut dapat berupa karya siswa dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh siswanya hasil tes (bukan nilai), piagam penghargaan atas bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan siswa sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan siswa dan terus melakukan perbaikan.

Dengan demikian portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa. Berikut contoh karya-karya yang dapat dimasukan dalam penilaian portopolio. Puisi; Karangan; Gambar/tulisan. Peta/denah; Desain; Paper; Laporan Observasi; Laporan Penyelidikan; Laporan Penelitian; Laporan eksperimen; Sinopsis; Naskah Pidato/Khotbah; Naskah Drama; Doa; Rumus; Kartu ucapan; Surat; Komposisi; musik; Teks lagu; Resep Masakan.

Portopolio dapa digunakan menilai perkembangan siswa dalam ilmu-ilmu sosial, seperi menganalisis masalah-masalah sosial, bahasa, seperti menulis karangan, dan matematika seperti pemecahan masalah-masalah matematika lebih tepat digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa untuk berbagai tujuan dan pembaca.

b. Penilaian melalui unjuk kerja (performance)

Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan atau kinerja siswa dalam melakukan sesuatu. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena bentuk tuganya mencerminkan

(15)

kemampuan siswa yang sebenarnya. Semakin banyak kesempatan guru untuk mengamati kinerja siswa semakin reliable hasil penilaian kemampuan siswa. Penilaian ini dengan cara ini lebih tepat digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam menggunakan alat laboratorium, kemampuan siswa mengoperasikan alat dan sebagaianya.

c. Penilaian melalui penugasan (proyek)

Penilaian melalui proyek dilakukan terhadap suatu tugas atau penyelidikan yang dilakukan siswa secar individual atau kelompok untuk periode tertentu. Tugas tersebut berupa suatu insvestigasi sejakdari perencanaan pengumpulan data. Proyek sering kali melibatkan pencarian data primer dan sekunder, mengevaluasi secara keritis hasil penyelidikan dan kerjasama dengan orang lain. Oleh karena itu proyek bermanfaat untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan siswa dalam bidang tertentu, mengetahui siswa mengaplikasikan pengetahuan itu dalam penyelidikan tertentu, mengetahui siswa dalam menginformasikan subyek tertentu secara jelas.

d. Penilaian melalui hasil kerja (produk)

Penilaian hasil kerja adalah penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk teknologi. Contoh kemempuan siswa dalam mengunakan berbagai teknik menggambar, mengunakan peralatan dengan aman.

e. Penilaian melalui tes tertulis (paper & pen)

Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yng diberikan kepada siswadalam bentuk tulisan. Ada dua bentuk soal tes tertulis yang pertama soal dengan memilih jawaban pilihan ganda; menjodohkan, yang kedua soal dengan mensuplai jawaban soal uraian, lengkapi jawaban.

(16)

Lembar Kerja (LK) adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar Kerja biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. (Depdiknas; 2004;18). Trianto (2008 :148) mendefinisikan bahwa Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah.

Menurut pengertian di atas maka Lembar Kerja (LK) berwujud lembaran berisi tugas-tugas guru kepada siswa yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Atau dapat dikatakan juga bahwa LK adalah panduan kerja siswa untuk mempermudah siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Adapun tujuan dari penilaian lembar kerja (LK) yaitu:

a) Mengaktifkan siswa dalam proses kegiatan pembelajaran. b) Membantu siswa mengembangkan konsep.

c) Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan keterampilan proses.

d) Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses kegiatan pembelajaran.

e) Membantu siswa dalam memperoleh informasi tentang konsep yang dipelajari melalui proses kegiatan pembelajaran secara sistematis. f) Membantu siswa dalam memperoleh catatan materi yang dipelajari

melalui kegiatan pembelajaran (Achmadi:1996:35)

Sedangkan kegunaan dari penilaian lembar kerja (LK) diantaranya sebagai berikut a). Memberikan pengalaman kongkrit bagi siswa, b). Membantu variasi belajar, c). Membangkitkan minat siswa, d). Meningkatkan retensi belajar mengajar, e). Memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien (Hadi Sukamto, 1992/1993:2)

(17)

Presentasi merupakan salah satu bentuk komunikasi. Presentasi dapat diartikan sebagai kegiatan pengajuan suatu topik, pendapat ataupun informasi kepada orang lain. Dalam sebuah presentasi terdapat beberapa unsur pokok, diantaranya adalah:

pihak yang melakukan presentasi disebut presenter; peserta presentasi atau audiens juga disebut audience; media atau perangkat presentasi.

Sedangkan non teks adalah tidak melihat teks atau dapat dikatakan lisan. Sehingga dalam proses pembelajaran siswa mampu untuk mengingat hasil tugas yang diberikan oleh guru. Tujuan dari presentasi non teks ini untuk mengetahui sejauhmana siswa dapat mengingat tugas yang diberikan oleh guru. Adapun kegunaan dari presentasi non teks ini yaitu a. siswa dapat percaya diri dalam mengerjakan tugas yang akan dipresentasikan di depan kelas, b. siswa bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya, c. siswa lebih aktif dalam belajar. Sehingga proses pembelajaran dalm kelas tidak membuat siswa jenuh atau pasif.

(18)

2.3 Tinjauan penelitian yang Relevan

Untuk menghindari duplikasi penelitian-penelitian yang telah dilakukan terdahulu yang kaitanya dengan masalah penelitian yang akan dilakukan, maka peneliti menyelusuri beberapa penelitian yang sudah dilaksanakan oleh mahasiswa di beberapa Universitas diantaranya sebagai berikut:

a. Upit Lutfiah (2012) meneliti tentang “Perbandingan hasil belajar siswa antara yang menggunakan metode pembelajaran indeks card Match

dengan metode pembelajaran giving Questionb and gitting answer (studi

Eksperimen di kelas VII SMP Negeri 1 Cilimus)” mahasiswi jurusan matematika fakultas tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada tahun 2012. Dari hasil diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan metode indeks card Match dengan metode pembelajaran giving Questionb and gitting answer pada bidang studi matematika. Hal ini diketahui berdasarkan hasil analisis uji tdua kelompok independn tes dengan mengunakan SPSS 17 didapat nilai thitung = 5,967

karena nilai thitung > ttabel = 5,967 > 2,024 dengan signifikan 0,000 > 0,05

maka H0 ditolak dan Ha diterima. .

b. Haryati (2011) meneliti tentang “Perbandingan motivasi belajar siswa pada pembelajaran menggunakan bentuk lembar kerja dan fortopolio pada bidang studi matematika di SMP Negeri Pabuaran Cirebon” mahasiswi jurusan matematika fakultas tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada tahun 2011. Dari hasil diketahui bahwa terdapat ada perbedaan motivasi belajar siswa yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas control dengan perhitungan thitung > ttabel (5,10 > 1,994). Yang berarti Ha dengan

perbedaan signifikan

c. Winda Widya Ningrum (2011) meneliti tentang “Perbandingan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika yang menggunakan bentuk tes tertulis dan tes lisan di SMP Muhamadiyah Surakarta tahun 2011/2012” mahasiswi jurusan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah. Dari hasil penelitian diketahui

(19)

peningkatan prosentase hasil belajar siswa (apek kogntif) banyak siswa yang menperoleh nilai ≥70 sebelum tindakan 11 siswa (35,5%), siklus I aspek kognitif meninggkat menjadi 20 siswa (64,5%); rata-rata afektif = 9,8 (kategri cukup berminat), pada siklus II aspek kognitif meningat menjadi 27 siswa (87.1%); rata - rata afektif =13,4 (kategori bermnat) maka peneliti menyipulkan bahwa pembelajaran bentuk tes tertulis dengan tes lisan untuk meningkatkan hasil belajar biologi materi sistem gerak pada tumbuhan kelas VIII H SMP Muhamadiyah.

Dari ketiga hasil diatas, terdapat kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu” penggunaan penilaian lembar kerja” dan “pengunaan presentasi non teks“ serta “ hasil belajar siswa”. Namun ketiga penelitian tersebut tidak ada yang persis sama dengan masalah yang akan diteliti.

Hasil penyelusuran yang pertama variable X1 dan X2 nya berbeda, sedangkan

yang akan peneliti teliti menggunakan penilaian lembar kerja dengan presentasi non teks. Akan tetapi variabel Y nya sama tentang hasil belajar matematika siswa.

Hasil penyelusuran yang kedua, variabel X1 sama yaitu membahas mengenai

lembar kerja dan X2 berbeda yaitu yang telah dilakukan membahas fortopolio,

sedangkan yang akan peneliti teliti menggunakan presentasi non teks . dalam hal ini peneulis mengaggap adanya kesamaan jenis penelitian yaitu sama- sama membahas mengenai perbandingan dua teknik evaluasi berbasis proses namun saja dua teknik evaluasi yang dibahas berbeda jenis evaluasinya.

Hasil penyelusuran yang ke tiga, variabel X1 berbeda yaitu membahas tes

tertulis dan X2 sama yaitu tes lisan, sedangkan yang akan peneliti teliti

menggunakan presentasi non teks.

Dengan melihat tinjauan hasil penelitian yang relevan, belum ada yang meneliti perbandingan antara penilaian lembar kerja dengan presentasi non teks. Oleh karena itu penelitian yang berjudul “Perbandingan antara Penilaian Lembar Kerja Dengan Penilaian Presentasi Non Teks”, layak dilakukan.

(20)

2.4 Kerangka Pemikiran

Seorang pendidik harus memiliki banyak keahlian dalm bidang pendidikan bukan hanya sekedar mengajar dan menstranfer ilmu saja akan tetapi proses akhir dari suatu pembelajaran yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah cara bagaimana seorang guru atau pendidik dituntut piawai dalam menilai siswaatau peserta didiknya sehingga dengan cara tersebut akan didapatkan suatu kesimpulan akhir mengenai keberhasilan dalam belajar. Hal ini yanf menjadikan kita perlu banyak mengetahui sumber dan keilmuan menenai macam jenis cara yang bisa diterapkan.

Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap. Bahkan belajar juga dapat diartikan sebagai ilmu yang awal tidak dimengerti dan akan menjadi mengerti.

Matematika adalah bahasa khusus yang menggunakan angka-angka dan simbol-simbol untuk mempelajari hubungan antara kuantitas bahkan ilmu matematika sering disebut juga ilmu perdagangan mengapa demikian karena dalam perdagangan terdapat transaksi antara pembeli dan penjual yang mana berkaitan dengan nilai rupiah. Salah satu alat yang sering digunakan dalam ilmu pengetahuan terapan yang juga bertujuan untuk menumbuh kembangkan kreativitas. Oleh karena itu misi dari seorang guru matematika adalah bagaimana menumbuhkan kreativitas siswa. Saat ini pembelajaran matematika disekolah sering kali mengalami hambatan yang disebabkan tidak berjalannya komunikasi secara baik antara guru dan siswa. Selain itu juga permasalahan pendidikan matematika terakumulasi pada proses pembelajaran matematika yang dipertanyakan kualitasnya dilihat dari segi kompetensi mengajar guru matematikanya, proses pembelajaran yang terjadi dan adanya upaya-upaya

(21)

pengembangan pembelajaran matematika yang lebih bermakna dengan menggunakan sumber-sumber belajar yang relevan dan bermanfaat.

Prestasi belajar memungkinkan siswa untuk menemukan kebenaran di tengah banjirnya kejadian dan informasi yang mengelilingi mereka setiap hari. Prestasi belajar sangat penting dimiliki siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, seorang guru dituntut profesional dalam memilih teknik penilaian dan setrategi pembelajaran yang sesuai sehingga prestasi belajar mereka dapat berkembang. Dalam hal ini guru perlu memperhatikan faktor permasalahan yang dihadapi siswa, potensi yang dimiliki siswa, perkembangan mental siswa dan teknik penilaian pembelajaran yang sesuai. Dengan memilih teknik penilaian yang sesuai diharapkan siswa akan lebih aktif dalam belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap materi yang dipelajari dan siswa lebih senang dalam belajar.

Teknik penilaian dalam pembelajaran berperan penting dalam sebuah proses belajar mengajar. Teknik penilaian yang baik adalah teknik penilaian yang dapat membuat suasana belajar lebih bermakna dan menyenangkan sehingga siswa akan lebih tertarik untuk belajar, khususnya belajar matematika dan memacu peserta didik untuk lebih aktif serta mampu mengerjakan lembar kerja dan dipersentasikan dalam proses pembelajaran apalagi sekarang dengan adanya kurikulun 2013 siswa diwajibkan untuk aktif, kreatif dan terampil di berbagai bidang.

Oleh karena itu penelitian menggunakan teknik penilaian lembar kerja dan presentasi non teks keduanya diharapkan dapat menilai kemapuan siswa, sehingga dapat disimpulkan dalm kerangka berfikir yang menunjukan dua variabel yaitu kemampuan siswa dalam pembelajaran yang menggunakan penilaian lembar sebai X1 dan kemampuan siswa dalam pembelajaran yang menggunakan

presentasi non teks X2 .Adapun variabel-variabel yang digunakan pada penelitian

(22)

Variabel Bebas (X1) : Penilaian lembar kerja dengan

Variabel bebas (X2) : Penilaian persentasi non teks

Variabel Terikat (Y) : Prestasi belajar siswa

Konsep dari Kerangka pemikiran

Dalam proses pembelajaran matematika, bimbingan oleh guru sangatlah penting, baik bimbingan individual maupun kelompok. Kegiatan atau bimbingan tersebut bisa berupa mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan.

Teknik penilaian Pembelajaran LK dengan persentasi non teks merupakan salah satu teknik penilaian pembelajaran yang melibatkan siswa dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritisnya. Teknik penilaian ini juga merupakan kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa dan mengetahui bagaimana siswa dapat menyampaikan tugasnya melalui persentasi non teks dari situlah guru akan mengetahui sejauh mana peserta didik itu belajar dan apakah setiap pembelajaran yang diberikan oleh guru diperhatikan atau tidak serta guru akan tahu apakah siswa mengerjakan tugas itu sendiri atau dibantu oleh orang lain kalau pun

Proses Pembelajaran

Persentasi non teks Lembar Kerja

Prestasi Belajar Teknik Penilaian

(23)

dibantu dengan teman seridaknya peserta didik mengerti. Tapi kebanyakan siswa menerima secara instan tanpa mau dipelajari terlebih dahulu.

2.5 Hipotesis Penelitian

Dalam buku metode penelitian untuk penulisan skripsi dan tesis, hipotesis penelitian adalah dugaan sementara atau jawaban sementara atas permasalahan penelitian dimana memerlukan data untuk menguji kebenaran dugaan tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

Ha : Terdapat perbedaan peningkatan antara kelompok yang

menggunakan penerapan lembar lembar kerja dengan kelompok yang menggunakan penerapan presentasi non teks terhadap prestasi belajar siswa.

H0 : Tidak terdapat perbedaan peningkatan antara kelompok yang

menggunakan penerapan lembar lembar kerja dengan kelompok yang menggunakan penerapan presentasi non teks terhadap prestasi belajar siswa.

Referensi

Dokumen terkait

Kata Kunci : Modal sosial, kepemimpinan kiai, pendidikan pesantren. Selama ini perspektif modal sosial merupakan istilah yang sering digunakan dalam ilmu sosial untuk

Hauke dan Kossowski (2011) dalam jurnal mereka yang berjudul Comparison Of Values Of Pearson’s And Spearman’s Correlation Coefficients On The Same Sets Of

Penelitian yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Driver GrabCar Di Kecamatan Purbalingga Kabupaten Purbalingga bertujuan untuk menganalisis pola

Hal tersebut sesuai dengan komposisi sampah yang terdapat di Kabupaten Gunungkidul dimana jenis sampah organik merupakan jenis sampah tertinggi dengan presentase sebesar 77.66

Seperti yang sering dibicarakan di masyarakat, ternyata data yang diperoleh.. dari respon jawaban peserta didik yang menjadi sampel pada bagian ketiga, yaitu sikap/ perilaku

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifi kasi peranan dukungan pendamping dan kebiasaan makan pasien kanker selama menjalani terapi yang tinggal di Rumah Singgah Sasana

Pada Aspek Keuangan hasil dari Metode Net Present value (NPV) menunjukkan dana tunai yang berhasil dikumpulkan dari tahun ke tahun jika dinilai pada keadaan sekarang dengan

Dalam pelaksanaan program kerja berupa demonstrasi masak pengolahan limbah kulit singkong menjadi produk olahan krupuk kulit singkong sebelum diadakannya