9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Kecepatan Efektif Membaca a. Pengertian Membaca
Pada era globalisasi ini membaca merupakan salah satu kegiatan penting dalam kehidupan setiap individu. Membaca adalah serangkaian kegiatan yang tersusun dari 4 komponen yakni: strategi, kelancaran, pembaca, dan teks. Strategi adalah kemampuan pembaca menggunakan beragam strategi untuk mencapai tujuan dalam membaca. Kelancaran ialah kemampuan membaca dengan kecepatan tertentu dengan pemahaman yang cukup. Gabungan dari teks, strategi, kelancaran, dan pembaca ini yang disebut membaca. Pemahaman dalam hal ini merupakan tujuan dari membaca.
Membaca adalah suatu proses yang menuntut pembaca agar dapat memahami kelompok kata yang tertulis merupakan suatu kesatuan dan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan makna kata-kata itu dapat diketahui secara tepat. Apabila hal ini dapat terpenuhi maka pesan yang tersurat dan yang tersirat dapat dipahami, sehingga proses membaca sudah terlaksana dengan baik. Seperti yang dikemukakan oleh Tarigan (1986:7) menjelaskan sebagai berikut;
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memproleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata/bahasa tulis dan dapat pula sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam tersurat, melihat fikiran yang terkandung di dalam kata yang tertulis.
Seseorang yang sedang membaca berarti ia sedang melakukan suatu kegiatan dalam bentuk berkomunikasi dengan diri sendiri melalui lambang tertulis. Makna bacaan
10 tidak tidak terletak pada bahan tertulis saja, tetapi juga terletak pada pikiran pembaca itu sendiri. Dengan demikian makna bacaan bisa berubah-ubah tergantung pembaca dan pengalaman berbeda yang dimilikinya pada waktu membaca dan dipergunakannya untuk menafsirkan kata-kata tulis tersebut. Seorang pembaca yang baik adalah seorang yang dapat mengambil tanggapan mengenai bahasa (ide, gaya, dan kematangan pengarang) dan pengertian dengan kecepatan yang lumayan.
Membaca pada hakikatnya adalah memahami teks bacaan. Itu berarti, kegiatan membaca dilakukan bersama-sama oleh mata dan otak. Mata berfungsi "memotret" teks, kemudian menyalurkanya ke dalam otak untuk diolah. Cepat dan banyaknya otak mengolah suatu pesan tergantung erat dari cepat dan banyaknya pesan yang dipotret oleh mata
Tujuan utama pelajaran membaca menurut Suhendar (1992:20) adalah “untuk mencari dan memperoleh informasi, sedangkan tujuan tambahan pelajaran membaca adalah menciptakan anak yang gemar membaca”. Biasanya hal ini dapat dirangsang dengan mempergunakan cerita. Karena cerita pasti menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Hal ini dapat dipahami dengan melihat bagaimana bersemangat mengisahkan pengalamannya dengan tuturan orang lain dalam perjalanan waktu berkembang menjadi kemampuan menyerap dan menganalisa pengalaman, dalam bentuk pengalaman contoh panutan. Anak memanfaatkan kemampuan membacanya dengan santai, sesuai dengan kebutuhan: apakah sekedar kenikmatan atau penambah pengetahuan. Bersamaan dengan hal tersebut di atas Supriyadi (1995:127) menyatakan “keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh adalah
11 kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat”. Dengan menggunakan teknik membaca tepat para siswa diharapkan dapat lebih efisien dalam menggunakan waktu dalam belajar.
b. Pengertian Kecepatan Efektif Membaca
Membaca adalah suatu proses yang menuntut pembaca agar dapat memahami kelompok kata yang tertulis merupakan suatu kesatuan dan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan makna kata-kata itu dapat diketahui secara tepat. Apabila hal ini dapat terpenuhi maka pesan yang tersurat dan yang tersirat dapat dipahami, sehingga proses membaca sudah terlaksana dengan baik. Kegiatan membaca berhubungan erat dengan kecepatan dan pemahaman isi bacaan seperti yang diungkapkan oleh Supriyadi (1995:127) menyatakan
Keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh adalah kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat.
Perpaduan hal tersebut dikenal dengan istilah Kecepatan Efektif Membaca (KEM). Menurut Tampubolon (1986:11) istilah KEM diartikan sebagai kemampuan membaca efektif dan efisien yaitu kecepatan plus pemahaman terhadap isi bacaan. Sedangkan istilah kecepatan efektif membaca menurut Harjasujana (1986:17.1.7) adalah “sejenis keterampilan yang memerlukan ketekunan berlatih dan disiplin yang tinggi tentang pembagian waktu, untuk mencapai kecepatan membaca yang efektif”. Tingkat kecepatan membaca diukur dengan menghitung banyaknya kata yang dapat dibaca dalam setiap menitnya sedangkan pmahaman isi bacaan ditentukan dengan menghitung prosentase jawaban yang benar terhadap pertanyaan-pertanyaan isi bacaan.
12 Rumus untuk menghitung kecepatan membaca adalah : jumlah kata yang dibaca, dibagi waktu yang dibutuhkan untuk membaca. Jika kecepatan membaca itu kita andaikan A, jumlah kata yang dibaca kita andaikan B, dan waktu yang dibutuhkan untuk membaca kita andaikan C, maka rumusnya menjadi
A= B/C = kpm (kata per menit)
Seandainya waktu yang dibutuhkan untuk membaca itu terdapat detiknya (misalnya 3 menit 20 detik), maka waktu itu dikonversikan dahulu ke detik; kemudian rumus di atas dikali 60 detik.
A= B/C = x 60 detik =kpm (kata per menit)
contoh
Jumlah kata yang dibaca adalah 1500 kata; lama membaca adalah 4 menit 10 detik (=250 detik); maka kecepatan membacanya adalah:
1500/250 x 6 x 60 = 360 kpm.
Pemahaman terhadap teks yang dibaca dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor karakteristik materi bacaan dan karakteristik pembaca itu sendiri. Teks bacaan sangat berpengaruh terhadap pemahaman pembaca, ada teks yang tingkat kesulitannya rendah, sedang, dan tinggi. Oleh karena itu, tingkat keterbacaan teks (readibility) adalah salah satu syarat yang harus diperhatikan dalam memilih teks. Selain itu, kemenarikan dan keotentikan teks juga merupakan syarat untuk memilih teks yang baik. Karakteristik pembaca juga dapat mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap
13 teks. Karakteristik pembaca yang dapat mempengaruhi pemahaman teks adalah: IQ, minat baca, kebiasaan membaca yang jelek, dan minimnya pengetahuan tentang cara membaca cepat dan efektif.
c. Standarisasi Kecepatan Membaca
Pada umumnya kecepatan membaca dapat dirinci sebagai berikut : a. Membaca secara skimmming dan scannning (lebih dari 1000 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk - Mengenal bahan-bahan yang akan dibaca.
- Mencari jawaban atas pertanyaan tertentu.
- Mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menentukan gagasan umum dari
bacaan.
b. Membaca dengan kecepatan tinggi (500 – 800 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
- Membaca bahan-bahan yang mudah dan telah dikenali sebelumnya.
- Membaca novel ringan untuk mengikuti jalan ceritanya.
c. Membaca secara cepat (350 – 500 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- Membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskripsi dan bahan-bahan
14 - Membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya dan
mengantisipasi akhir cerita.
d. Membaca dengan kecepatan rata-rata (250 – 350 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- Membaca fiksi yang komplek untuk analisis watak dan jalan ceritanya.
- Membaca nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail, mencari
hubungan, atau membuat evaluasi ide penulis. e. Membaca lambat (100 – 125 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- Mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya.
- Menguasai bahan-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat teknis.
- Membuat analisis bahan-bahan bernilai sastra klasik.
- Memecahkan persoalan yang ditunjuk dengan bacaan yang bersifat
instruksional (petunjuk).
Seseorang yang dapat memahami suatu bacaan atau wacana, akan menemukan wujud skemata yang memberikan usulan yang memadai tentang suatu bacaan. Proses pemahaman suatu bacaan adalah menemukan konfigurasi skemata yang menawarkan uraian yang memadai tentang suatu bacaan. Sampai sekarang konsep skema merupakan jalan yang paling memberikan harapan dari sudut wacana pada umumnya. Karena skemata merupakan bagian dari penyajian pengetahuan latar, luasnya pengetahuan dan pengalaman pembaca merupakan salah satu dasar bagi kokohnya rancangan yang menggunakan konsep skema.
15 Be (1980:40) menjelaskan, kemampuan pemahaman yang diperlukan dalam membaca meliputi:
1. Memahami kosakata yang dipakai dalam bahasa umum dan dapat menyimpulkan artinya dalam konteksnya
2. Memahami bentuk-bentuk sintaksis dan ciri-ciri morfologi tertulis yang didapatkan dalam bacaan
3. Dapat mengambil kesimpulan dan tanggapan yang valid dari bahan yang dibaca. Berdasarkan pernyataan di atas maka kemampuan membaca adalah bagaimana seseorang dapat memahami dengan baik apa pesan yang disampaikan dalam bacaan itu, sehingga informasi yang diserap dapat diungkapkan kembali dengan tepat, baik secara lisan maupun secara tulisan. Kecepatan baca bergantung pada kebutuhan dan bahan yang dihadapinya.
Untuk menentukan standarisasi kecepatan efektif membaca harus diikuti oleh pemahaman terhadap isi bacaan. Mengenai hal ini Nurhadi (1987:40) mengatakan bahwa kecepatan membaca biasanya diukur dengan berapa banyaknya kata yang terbaca pada setiap menitnya dengan pemahaman rata-rata 50% dengan kata lain berkisar antara 40%-60%. Henry Guntur Tarigan (1985:29) mengatakan kemampuan membaca cepat siswa SD adalah sebagai berikut:
Jumlah kata yang terbaca dalam per menit, yaitu: Kelas I 60 – 80 kata per menit
Kelas II 90 – 10 kata per menit Kelas III 120 – 140 kata per menit Kelas IV 150 – 160 kata per menit Kelas V 170 – 180 kata per menit Kelas VI 190 – 250 kata per menit
16 Sedangkan untuk pemahaman isi bacaan :
91% - 100% jawaban benar = baik sekali 81% - 90% jawaban benar = baik
71% - 80% jawaban benar = sedang 61% - 70% jawaban benar = kurang
…… - < 60% jawaban benar = kurang sekali
2. Kecepatan Membaca Anak Tunalaras
a. Pengertian Anak Tunalaras
Bukan masalah yang sederhana untuk menentukan batasan mengenai anak yang mengalami gangguan tingkah laku atau lebih dikenal dengan istilah tuna laras. Hingga kini belum ada suatu defenisi yang dapat diterima secara umum serta memuaskan semua pihak. Kenyataan batasan atau definisi yang telah dikemukakan oleh profesional dan para ahli yang berkaitan dengan masalah ini berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu masing-masing untuk keperluan profesionalnya. Namun demikian, hampir semua batasan yang dikemukakan oleh para ahli menganggap bahwa tuna laras menampakkan suatu perilaku penentangan yang terus-menerus kepada masyarakat, kehancuran suatu pribadi, serta kegagalan dalam belajar di sekolah (Somantri, 2006). Istilah anak tunalaras dalam dunia pendidikan di Indonesia belum dikenal secara luas, dan mungkin istilah ini baru dikenal dalam dunia pendidikan luar biasa saja. Tunalaras mencakup populasi yang sangat heterogen, akibatnya banyak variasi istilah yang dipakai untuk populasi anak tunalaras. Psikiater dan psikolog lebih akrab memberi istilah pada populasi ini dengan istilah gangguan emosi, sedangkan masyarakat lebih mengenalnya
17 dengan istilah anak nakal atau kelainan prilaku.Anak tuna laras sering disebut juga dengan anak tuna sosial karena tingkah laku anak tuna laras menunjukkan penentangan yang terus-menerus terhadap norma-norma masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu dan menyakiti orang lain (Somantri, 2006). Definisi anak tuna laras atau emotionally handicapped atau behavioral disorder lebih terarah berdasarkan definisi dari Eli M Bower (1981) yang menyatakan bahwa “anak dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku, apabila menujukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut ini: tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, sensori atau kesehatan; tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru: bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya; secara umum mereka selalu dalam keadaan tidak gembira atau depresi; dan bertendensi ke arah simptom fisik seperti merasa sakit atau ketakutan yang berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah” Samuel A. Kirk (1970) mengemukakan bahwa “Anak tunalaras adalah mereka yang terganggu perkembangan emosinya, menunjukkan adanya konflik dan tekanan batin, menunjukkan kecemasan, penderita neurotis atau bertingkah laku psikotis, dengan terganggunya aspek emosi dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain atau lingkungannya”. Kauffman (1977) memberikan batasan tentang anak tunalaras adalah “Anak yang secara kronis dan mencolok berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang secara sosial tidak dapat diterima atau secara pribadi tidak menyenangkan, tetapi masih dapat diajar untuk bersikap yang secara sosial dapat diterima dan secara pribadi menyenangkan”. Algozzine, Schmid dan Mercer (1981) mengemukakan bahwa “Anak tunalaras adalah anak yang secara kondisi dan terus menerus masih menunjukkan
18 penyimpangan tingkah laku tingkat berat yang mempengaruhi proses belajar, meskipun telah menerima layanan belajar dan bimbingan seperti halnya anak lain”.
Anak Tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan perilaku baik secara sosial maupun emosi yang merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Menurut Singgih D. Gunarsa ( 1987:18 )”kenakalan anak adalah tingkah laku yang tidak wajar yang di lakukan di sekolah, tidak saja merugikan dirinya sendiri, melainkan juga teman, guru, orang tua dan masyarakat”.
Dilihat dari gejala tingkah laku anak tunalaras maka dapat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu:
a. Anak yang mengalami gangguan emosi
Adalah anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan emosi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ( 1985:81) mengemukakan bahwa ”anak tunalaras yang termasuk kedalam kategori ini adalah mereka yang sukar menyesuaikan tingkah lakunya dengan lingkungan sosialnya karena adanya tekanan di dalam karena hal-hal yang bersifat neurotis dan psikotis”.
Gejala-gejala umum yang ditunjukkan oleh anak tunalaras yang mengalami gangguan emosi adalah sedih, cemas, terlalu perasa, cepat tersinggung, marah, rasa tertekan, menarik diri sehingga akibat ketidak sanggupannya dalam mengatasi masalah emosi diatas maka tingkah lakunya cenderung menyimpang
b. Anak yang mengalami gangguan sosial
Adalah anak yang sukar menyesuaikan diri baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain atau sosialnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ( 1975:7 ) menyatakan bahwa “anak tunalaras yang termasuk dalam kategori ini di sebut juga
19 (Pre deliquent) adalah mereka yang sukar menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, karena segala perbuatannya tidak mentaati, tidak memenuhi tuntutan-tuntutan, peraturan, adat istiadat yang berlaku atau tingkah laku yang tidak berkenan ( un – culturally permissible ) di dalam keluarga, sekolah, atau masyarakat”.
Gejala dari anak yang mengalami gangguan sosial antara lain memusuhi bentuk otoritas ( polisi, guru, orang tua ), mencela orang lain, suka melakukan pengeroyokkan, pembunuhan, dan sebagainya sehingga cenderung mengganggu ketentraman orang lain.
Anak tunalaras adalah mereka yang berprilaku menyimpang pada taraf ringan, berat, dan sangat berat, terjadi pada usia anak dan remaja, sebagai akibat terganggunya perkembangan emosi dan sosial atau keduanya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun lingkungannya, maka dalam mengembangkan potensinya memerlukan pelayanan dan pendidikan secara khusus. Dari banyak pendapat menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa anak tuna laras adalah anak yang mengalami hambatan emosi dan tingkah laku sehingga kurang dapat atau mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya dan hal ini akan mengganggu situasi belajarnya. Situasi belajar yang mereka hadapi secara monoton akan mengubah perilaku bermasalahnya menjadi semakin berat.
Berdasarkan penjelasan di atas anak tunalaras mengalami penyimpangan perilaku yang di akibatkan oleh gangguan emosi dan sosial oleh karena itu membutuhkan bantuan dalam mencerdaskan pikiran emosional mereka. Tugas itu tidak mudah dan sederhana
20 karena memerlukan berbagai pendekatan dan strategi yang relatif berbeda dengan upaya mencerdaskan pikiran nasional.
Anak tunalaras secara garis besar dapat dikelompokkan berdasarkan jenis dan tingkat gangguan prilaku yang dimiliki anak. Menurut bentuknya anak tunalaras dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu anak yang mengalami gangguan emosi dan anak yang mengalami gangguan sosial. Sedangkan menurut derajat atau tingkat kelainan atau penyimpangannya dapat dikelompokkan menjadi tunalaras taraf sedang, taraf berat dan taraf sangat berat. Menurut Quay (1979) anak tunalaras dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut :
1) Conduct Disorder/Unsocialized Aggression adalah kelompok anak yang tidak mampu untuk mengendalikan diri. Jenis prilaku yang sering nampak pada anak tersebut yaitu; berkelahi, pemarah, tidak patuh, merusak barang/benda lain, mencari perhatian, sombong, hiperaktif, tidak jujur, bicara kasar, iri hati, tidak bertanggung jawab, mudah beralih perhatian, kejam, dan lain sebagainya.
2) Socialized Aggresion prilaku agresi yang dilakukan secara kelompok, seperti tawuran, mencuri secara berkelompok, menjadi anggota suatu geng, suka membolos, dan suka keluar rumah sampai larut malam.
3) Anxiety Withdrawal/Personality Problem Jenis gangguan berupa kecemasan, dan kekhawatiran yang tidak jelas, tidak beralasan atau karakter pribadi yang membatasi diri sehingga mengganggu pencapaian hubungan harmonis dengan orang lain. Prilaku yang menonjol pada kelompok ini seperti; cemas, pemalu, sedih, mudah tersinggung/sensitif, rendah diri, kurang percaya diri, mudah bingung, sering menangis dan tertutup.
21 4) Immaturity/Inadequacy yaitu kelompok anak yang menunjukkan sikap dan prilaku tidak dewasa. Prilaku yang sering nampak diantaranya; kurang dapat berkonsentrasi, perhatian singkat, sering melamun, gerak motorik kaku, pasif/kurang inisiatif, mudah dipengaruhi, sering mengalami kegagalan dan ceroboh dalam segala hal.
Sedangkan Samuel A. Kirk, (1970) mengelompokkan anak tunalaras melalui proses pengamatan geja-gejala tingkah lakunya, ia menyimpulkan ada tiga katagori anak tunalaras yaitu:
1) Socially Maladjusted Children adalah kelompok anak yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Kelompok anak ini menunjukkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan ukuran “cultural permissive” atau norma-norma masyarakat dan kebudayaan yang berlaku, di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Karakteristik anak ini diantaranya sebagai berikut :
a) Di rumah sulit diatur, prestasi belajar rendah, suka merusak, suka bertengkar, kadang-kadang kurang matang dalam hubungan sosial.
b) Umumnya anak-anak kelompok ini tidak menyadari dasar hukum atau aturan untuk keberhasilan sekolah.
c) Kurang mampu belajar dari apa yang dikatakan.
d) Sering tidak mampu menginterpretasikan simbol yang bersifat sederhana.
e) Cenderung memiliki rentang perhatian yang pendek, akibatnya memiliki kesulitan dalam mengikuti petunjuk.
f) Mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa secara fleksibel. g) Cenderung memiliki konsep ukuran yang terbatas.
22 h) Kurang senang mengamati orang dewasa sebagai orang-orang yang mungkin
membantunya.
i) Tidak ada rasa ingin tahu terhadap sesuatu benda yang kurang berarti atau bernilai rendah.
j) Pengalaman anak ini terletak diantara rentang yang sempit.
2) Delinquency adalah tingkah laku anak atau remaja yang melanggar norma-norma hukum tertulis atau merupakan salah satu bentuk penyesuaian anak yang salah, tidak sesuai dengan tuntutan dan harapan lingkungan masyarakat. Menurut hasil penelitian selain prilakunya cenderung melanggar norma hukum tertulis, anak ini sering menunjukkan prilaku sebagai berikut :
a) Menunjukkan tanda-tanda tidak mau sekolah.
b) Tidak menyenangi, bahkan benci terhadap kegiatan sekolah. c) Tidak mempunyai minat terhadap program sekolah.
d) Memiliki kelemahan dalam beberapa mata pelajaran. e) Sering tinggal kelas atau tidak naik kelas.
f) Sering membolos atau tidak betah tinggal di sekolah. g) Kemampuan akademiknya terbatas.
h) Berprilaku menyimpang pada taraf serius dan kronis. i) Sering merusak alat-alat sekolah.
23 k) Tidak mempunyai partisipasi dalam kegiatan ekstra kurikuler dan tidak merasa
bagian dari kelompok kelas.
3) Emotionally disturbed Children adalah kelompok anak yang terganggu atau terhambat perkembangan emosinya, dengan menunjukkan adanya gejala ketegangan atau konflik batin, menunjukkan kecemasan, penderita neurotis atau bertingkah laku psikotis. Karakteristik prilaku secara umum dari kelompok ini adalah :
a) Sering melakukan kesalahan, cemas akan kesehatannya, dan sering pura-pura sakit.
b) Kadang-kadang bersifat agresif, hal ini untuk memberikan rasa aman pada dirinya.
c) Ekspresi dari rasa takut dan cemas sering berprilaku agresif terhadap orang lain. d) Sering mengalami kegagalan dalam memecahkan masalahnya yang bersifat kritis. e) Ketidakmampuan untuk melakukan dan memelihara interaksi dengan orang lain,
baik dengan teman sebaya maupun orang dewasa.
f) Kemampuan belajarnya tidak sesuai dengan kecerdasan, kemampuan motorik maupun perkembangan jasmaninya.
g) Tidak mampu menanggapi situasi kehidupan sehari-hari secara wajar.
b. Kemampuan Membaca Anak Tunalaras
Pendidikan merupakan usaha sengaja dan terencana untuk membantu mengembangkan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan individunya sebagai seorang individu. Seperti ditegaskan pada tujuan pendidikan pada umumnya (termasuk Pendidikan Luar Biasa) ialah menyiapkan suatu lingkungan
24 dimana anak didik termasuk anak berkelainan diberi kesempatan untuk merealisasikan potensinya secara wajar dan optimal sesuai dengan kebutuhannya
Seperti ditegaskan pada tujuan pendidikan luar biasa yang diselenggarakan di SDLB secara umum bagi anak luar biasa termasuk anak yaitu memberikan kemampuan dasar "baca-tulis-hitung", keterampilan dasar, dan sikap yang bermanfaat bagi anak sesuai dengan kelainan yang disandangnya dan tingkat perkembangannya, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan pada SLTPLB atau SLTP melalui pendidikan terpadu. Dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993:1) menegaskan dalam kurikulum pendidikan luar biasa, khususnya pada Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu:
1. Tujuan umum pengajaran
1) Anak menghargai dan mengembangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara.
2) Anak memahami Bahasa Indoneisa dari segi bentuk, makna dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan dan keadaan.
3) Anak memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional dan kematangan sosial.
4) Anak memiliki disiplin dalam berfikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).
5) Anak mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan kemampuan berbahasa.
25 Berdasarkan penjelasan di atas bahwa baik dari segi pengajaran maupun dari segi kebahasaan pada dasarnya diharapkan anak mampu menerima informasi dan memberi tanggapan dengan tepat tentang berbagai hal secara lisan. Dan selain itu anak mampu menyerap pengungkapan perasaan orang lain secara lisan dan tertulis, serta memberi tanggapan secara tepat dalam berbahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah atau dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai kelompok khusus dari anak luar biasa, anak tunalaras memiliki karakteristik tersendiri dalam belajarnya yang relatif berbeda dengan kelompok anak luar biasa yang lainnya maupun anak normal pada umumnya. Perbedaan karakteristik ini muncul sebagai akibat dari ketunalarasan yang disandangnya. Ketidakmatangan emosi dan sosial selalu berdampak pada keseluruhan prilaku dan pribadinya, termasuk dalam prilaku belajarnya.
Dalam proses belajar mengajar akan berlangsung secara optimal jika ada kesiapan psikologis pada siswa. Anak tunalaras karena ketidak matangan dalam aspek sosial dan atau emosional akan menghambat kesiapan psikologisnya, sehingga optimalisasi proses belajarnya juga akan terhambat.
Cruickshank (1980) mengemukakan bahwa sebagai siswa, maka karakteristik prilaku belajar anak tunalaras tidak jauh berbeda, bahkan sulit dibedakan dengan kelompok anak tunagrahita dan anak berkesulitan belajar. Yang membedakan hanyalah bahwa pada anak tunalaras frekwensinya lebih tinggi dan selalu tertuju pada prilaku-prilaku maladaptive. Hallahan dan Kauffman (1977) mengemukakan bahwa pada umumnya anak tunalaras memiliki IQ yang rendah, prestasi belajar yang rendah, dan
26 berasal dari kelas sosial yang rendah pula. Mereka juga banyak menghalami kesulitan dalam satu atau lebih bidang studi, seperti membaca dan matematik, serta prilakunya tidak memenuhi harapan sesuai dengan usia dan kemampuannya.
Berdasarkan UU-AS PL.94-142 Tentang ( UU Pendidikan Luar Biasa di Amerika Serikat ) mengemukakan pengertian Tunalaras dengan istilah gangguan emosi adalah suatu kondisi yang mempengaruhi prestasi belajar dengan satu atau lebih dari gejala berikut ini pada tingkat yang cukup mencolok :
a. Ketidakmampuan belajar yang di sebabkan oleh faktor intelegensi, penginderaan, dan kesehatan
b. Ketidakmampuan berhubungan baik dengan guru dan teman c. Perilaku atau perasaan yang tidak wajar dalam situasi normal d. Perasaan tertekan atau tidak bahagia terus menerus
e. Kecenderungan merasa takut atau alergi terhadap masalah-masalah pribadi atau kehidupan sekolah
karakteristik anak Tunalaras menurut Heward & Orlansky (1988) adalah sebagai berikut :
Hambatan belajar bukan karena intelektual, inderawi, kesehatan Terganggunya hubungan sosial
Tipe tingkah laku tidak wajar dalam situasi normal Depresi, tidak bahagia
Merasa takut dan menghindari problem personal atau akademik
Hasil studi Wilderson (1967) yang meneliti anak tunalaras dalam kaitannya dengan keterampilan membaca menunjukkan bahwa mereka kurang memiliki
27 kemampuan dalam word recognition, perceptual efficiency, intelectual maturity, visual efficiency, auditory inflectional awareness, memory, dan hyperactive style. Selanjutnya hasil penelitian Graubard (1967) mengemukakan bahwa “anak tunalaras mengalami kerancuan dalam penguasaan struktur bahasa, kesulitan dalam orientasi kanan-kiri, dan pemahaman keseluruhan dari pada bagian-bagian”. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa anak tunalaras cenderung cepat dalam mereaksi dan impulsif jika dibandingkan dengan anak normal, mereka juga memiliki perbedaan dalam hal variabel perhatian dan motivasi belajarnya. Hasil studi lainnya menunjukkan bahwa anak tunalaras pada umumnya tidak mampu membaca dan tidak mampu mencurahkan energi yang cukup untuk mempelajari keterampilan tersebut. Bahkan tidak hanya dalam membaca tetapi juga dalam kemampuan aritmatik. Kondisi ini dijumpai pada anak yang mengalami gangguan emosi dan yang mengalami gangguan sosial.
Berdasarkan karakteristik anak tunalaras diatas menimbulkan dampak kebiasaan buruk dalam membaca seperti :
1. Vokalisasi, yaitu kita membaca dengan mengeluarkan suara secara keras apa yang kita baca.
2. Kedua gerakan bibir: yaitu kebiasaan waktu kecil yang membaca sambil mengucap lirih atau mulut ikut bergerak-gerak.
3. Ketiga gerakan kepala, yaitu seringkali ketika membaca kepala kita turut bergerak mengikuti garis-garis kalimat yang kita baca.
4. Keempat menunjuk jari, yatu ketika membaca kebiasaan kita dengan mengeja dan dibantu dengan jari atau pengaris agar apa yang kita baca tidak lompat.
28 5. Regresi, yaitu kebasaan kita ketika membaca sering mengulang/ mundur kembali apa
yang sudah kita.
6. Subvokalisasi, yaitu kebiasaan membaca yang melafalkan dalam bathin/ pikiran kata-kata yang dibaca, sehingga mengalahkan kosentrasi dalam mencari ide pokok dari bacaan yang sedang kita baca.
Depdikbud (2005:26) mengemukan beberapa kebiasaan umum negatif yang lumrah terdapat pada pembaca yang biasa ataupun pembaca yang lambat, hal itu antara lain
1. Meneliti materi bacaan secara berlebihan dan melakukan subvokalisasi 2. Tidak berusaha mengurangi gangguan waktu dan interupsi
3. Membiarkan stress mengganggu disaat pembaca dihadapkan pada materi bacaan yang terlampau banyak ataupun membiarkan adanya kesulitan fisik lainnya yang berkaitan dengan membaca, seperti dyslexia”.
Depdikbud (2005:26) mengungkapkan Ada beberapa upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat seseorang yaitu:
1. Mengurangi subvokalisasi
2. Mengurangi kebiasaan menunda dan interupsi 3. Mengurangi stres,
4. Meningkatkan konsentrasi,
5. Meningkatkan daya ingat dan daya panggil ulang, 6. Menggunakan pola pemanggilan ulang.
29 Sebelum anak mempunyai fasilitas bacaan, maka terlebih dahulu mereka harus memiliki pengalaman terhadap persepsinya dan daya analisa. Anak yang menyukai gambar atau huruf sejak awal perkembangannya akan mempunyai keinginan membaca lebih besar, karena mereka tahu bahwa membaca akan membuka pintu baru, membenahi informasi dan sangat menyenangkan. Menurut Peng, (1984) dalam Masitoh, (2002: 51) perilaku kesiapan membaca dapat diperlihatkan anak sebagai berikut :
1) Rasa ingin tahu tentang benda-benda di dalam lingkungan, manusia, proses dan sebagainya.
2) Mampu untuk menterjemahkan atau membaca gambar dengan mengidentifikasikan dan menggambarkannya.
3) Menyeluruh dalam pembelajaran anak.
4) Melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa percakapan khususnya dalam kalimat.
5) Memiliki kemampuan untuk membedakan persamaan dan perbedaan dalam dan suara secara cukup baik untuk mencocokkan satu suara dengan yang lainnya.
6) Keinginan untuk belajar membaca.
7) Memiliki kematangan emosional yang cukup untuk dapat konsentrasi dan terus menerus dalam suatu tugas.
8) Memiliki percaya diri dan stabilitas emosi.
Belajar bahasa dan membaca bagi anak terjadi ketika anak menulis, mengamati, berfikir, berkata, bermain, bekerja, membaca, mendengarkan dengan anak lain serta dengan orang dewasa yang memahami bagaimana mendorong kegiatan tersebut. Untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa, dapat dilakukan dengan menambah kecepatan membaca, memperbaiki kemampuan memahami bacaan, memperkaya atau menambah kompetensi kebahasaan, menambah kekayaan kosa kata, dan memperluas pengetahuan.
Membaca cepat adalah sebuah keterampilan. Keberhasilan dalam menguasai teknik ini sangat bergantung pada sikap, tingkat keseriusan, dan kesiapan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat, seseorang memerlukan latihan dengan menerapkan berbagai metode pendukung.
30
B. Penelitian Sebelumnya yang Relevan
Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah :
1. Kecepatan Efektif Membaca Dikaitkan Dengan Teknik-teknik Membaca Braille Oleh Rika Juwita.
2. Peningkatan Kecepatan Efektif Membaca (Kem) Dengan Teknik Trifokus Steve Snyder oleh Muhammad Saryono.
3. Pembuatan Software Tes Kecepatan Efektif Membaca Untuk Siswa Kelas 2 Sekolah
Menengah Pertama (Studi Deskriptif Kualitatif Terhadap Siswa Kelas 2 Smp Negeri 3 Lembang Tahun Pelajaran 2004/2005) oleh Kartini Aan.
4. Model Tes Kecepatan Efektif Membaca Untuk Kelas 1 Tingkat Sekolah Menengah Atas (Studi Deskriptif Kualitatif Terhadap Siswa Kelas 1 Sma Tahun Ajaran 2004/2005 oleh Vitria Galuh.
5. Pengembangan Software Latihan Keterampilan Membaca Cepat Sebagai Upaya Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (Kem) Siswa Sekolah Menengah Pertama oleh Rahma Rosita.
6. Keefektifan Pelatian Pola-Pola Membaca Cepat Dalam Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (Kem) (Kuasi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas X Smkn 6 Bandung Tahun Ajaran 2006/2007) Oleh Rohayanti Dede.
C. Kerangka Berpikir
Menurut Winarno Surakhmad kerangka berpikir adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik. Adapun yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
31 a. Anak Tunalaras adalah anak yang mengalami penyimpangan baik dari segi emosi maupun
sosial yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
b. Seorang pembaca yang baik adalah seorang yang dapat mengambil tanggapan mengenai bahasa (ide, stye, dan kematangan pengarang) dan pengertian dengan kecepatan yang lumayan (Gusnetti, 1997:13).
c. (Gusnetti, 1997:13). Seseorang yang dapat memahami suatu bacaan atau wacana, akan menemukan wujud skemata yang memberikan usulan yang memadai tentang suatu bacaan.
d. Abdullah (1990:2) mengungkapkan bahwa membaca adalah salah satu kegiatan aktif mencari informasi yang kita dapat dalam bacaan. Dengan sendirinya, kebiasaan-kebiasaan membaca akan membuka cakrawala berfikir dalam menghadapi suatu masalah. Dalam membaca, diharapkan pembaca memahami apa yang dibaca, sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai dengan baik.