• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT FRAMING NEWS OF TNI REFORMATION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRACT FRAMING NEWS OF TNI REFORMATION"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

FRAMING NEWS OF TNI REFORMATION

(Robert M. Entman Framing Analysis Regarding The News of TNI Reform at Koran Tempo on 7 February 2018 Edition)

By:

RYAN CRISTI SIMATUPANG NIM. 41814130

This theses under guidance: Dr. Kiki Zakiah, M.Si

This research was conducted in order to find out the news framing of the TNI reform by the daily newspaper Koran Tempo in the February 7, 2018 edition. This research uses a qualitative approach with the design of Robert Mathew Entman's framing analysis. To achieve this goal, the research question is defining the problem, diagnose cause, make moral judgement and treatment recommendation of the news. Data collection techniques used are by way of documentation, in-depth interviews, and literature study.

The results of this research show that it was the involvement of the TNI which penetrated into civilian areas that made a decadence TNI reform. The indication is that TNI does a lot cooperation agreements with other institutions which are not their fields in defense. With the critics, Koran Tempo wanted to express that TNI reform must be accompanied. Then, the treatment recommendation is to return to Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 about TNI.

Researcher concluded that Koran Tempo also indirectly wanted to giving orders to the government for issuing derivatives of the Undang-Undang TNI as a technical rule regarding the involvement of the TNI.

The suggestions from researcher are that the Koran Tempo should provide space for discourse battles. Explore further why the TNI agreed on various collaborations with other institutions outside of its field.

Keywords: News Framing, Framing Analysis Robert M. Entman, TNI Reform, Koran Tempo

(2)

ABSTRAK

PEMBINGKAIAN BERITA REFORMASI TNI

(Analisis Framing Robert M. Entman mengenai Pembingkaian Berita Reformasi TNI di Koran Tempo Edisi 7 Februari 2018)

Oleh:

RYAN CRISTI SIMATUPANG NIM: 41814130

Skripsi ini di bawah bimbingan: Dr. Kiki Zakiah, M.Si

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pembingkaian berita reformasi TNI yang dilakukan oleh surat kabar harian Koran Tempo pada edisi 7 Februari 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis framing Robert Mathew Entman. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pertanyaan penelitiannya adalah pendefinisian masalah, memperkirakan masalah atau sumber masalah, membuat keputusan moral dan menekankan penyelesaian pada berita ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara dokumentasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keterlibatan TNI yang merambah ke wilayah sipil yang membuat kemunduran bagi reformasi TNI. Indikasinya adalah sejumlah kesepakatan kerja sama TNI dengan lembaga lain yang bukan bidangnya dalam pertahanan. Dengan kritik tegas, Koran Tempo ingin menyuarakan bahwa reformasi TNI harus dikawal bersama-sama. Kemudian, penekanan dalam penyelesaiannya adalah agar kembali ke Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.

Peneliti menyimpulkan bahwa Koran Tempo secara tidak langsung juga ingin memberi penegasan pada pemerintah untuk mengeluarkan turunan dari Undang-Undang TNI sebagai aturan teknis tentang pelibatan TNI.

Saran dari peneliti adalah Koran Tempo hendaknya memberikan ruang untuk pertarungan wacana. Telusuri lebih jauh mengapa TNI menyepakati pelbagai kerja sama dengan lembaga lain di luar bidangnya.

Kata Kunci: Pembingkaian Berita, Analisis Framing Robert M. Entman, Reformasi TNI, Koran Tempo

(3)

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Pada tanggal 7 Februari 2018 Koran Tempo sebagai media surat kabar harian nasional Indonesia, sempat mengisi bagian headline dan berita utamanya mengenai

Reformasi TNI. Dalam pemberitaan

tersebut, peneliti menilai bahwa Koran

Tempo seperti menekankan bahwa

reformasi TNI berjalan mundur. Peneliti memperhatikan dari judul berita di headline (Reformasi TNI Berjalan Mundur), dimana,

frasa “Berjalan Mundur” dicetak

menggunakan tinta berwarna merah. Selain itu, terdapat juga paragraph berita berisi pendapat dari sejumlah kalangan yang menilai bahwa reformasi TNI mengalami kemunduran yang terdapat di bagian Berita Utama. Berikut sebagian kutipan tersebut: ”Sejumlah kalangan menilai reformasi di

tubuh TNI mengalami kemunduran.

Indikasinya antara lain penandatanganan 30 nota kesepahaman antara TNI dan lembaga lain. Dalam kerja sama itu, TNI merambah peran di luar tugas utamanya di bidang

pertahanan dan kedaulatan Negara.

Terakhir, TNI membuat nota kesepahaman dengan Kepolisian RI untuk terlibat dalam penanganan unjuk rasa.” (Sumber: Berita Utama Koran Tempo edisi 7 Februari 2018)

Isu kemunduran reformasi TNI ini mulai mencuat ke media massa setelah pada tanggal 29 Januari 2013, mantan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono bersama dengan mantan Kapolri Jenderal Timur

Pradopo saat itu membuat nota

kesepahaman yang menjadikan pintu TNI untuk masuk ke dalam kegiatan dan kewenangan Kepolisian. Kemudian setelah berumur lima tahun dan kedaluarsa, nota kesepahaman tersebut diperpanjang oleh

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kaporli Jenderal Tito Karnavian yang menjabat saat ini pada tanggal 23 Januari 2018 dalam nota kesepahaman atau MoU

Nomor B/2/2018 dan Nomor

Kerma/2/I/2018. Isi dari perjanjian tersebut adalah kesepakatan mengenai lingkup

kerjasama, selain menghadapi0unjuk

rasa0dan mogok kerja, juga termasuk

mengahadapi kerusuhan, mengangani

konflik0sosial, mengamankan

kegiatan0masyarakat0dan atau0pemerintah yang berpotensi0rawan ricuh, dan0situasi lainnya yang0memerlukan bantuan sesuai dengan ketentuan0yang ada.

Paradigma baru TNI sebagai bentuk reformasi TNI ini didasarkan pada ide

bahwa tentara secara bertahap

meninggalkan peran sosial dan politik dalam ranah sipil. Untuk kemudian kembali pada peran dan kewenangan tentara sesuai dengan amanat UUD 1945. Karena tugas pokok TNI adalah berfokus dalam menjalankan bidang pertahanan nasional sesuai fungsinya. Inti atau esensi dari

reformasi TNI selain itu adalah

memusatkan0perhatian kepsda tugas pokok pertahanan Negara, menyerahkan00fungsi dan00tanggungjawab keamananan dalam negeri000kepada Kepolisian Republik Indonesia, meningkatkan konsistensi implementasi doktrin gabungan, dan meningkatkan0kinerja manajemen internal.

Namun dalam pelaksanaanya,

perwujudan reformasi TNI terasa belum

secara penuh rampung. Walaupun

pemerintah dan parlemen telah mencabut doktrin dwifungsi dan memisahkan TNI dengan Polri melalui ketetapan00MPR nomor0VI/MPR/2000 tentang00pemisahan TNI dan Polri dimana TNI ditugasi untuk urusan pertahanan000Negara dan00Polri ditugasi untuk menangani keamanan dan

(4)

ketertiban masyarakat, namun TNI mulai kembali masuk ke kewenangan polisi di

bidang keamanan, dan ketertiban

masyarakat.

Tujuan peneliti mengambil berita di Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 untuk dijadikan objek penelitian selain karena sebagian judul berita yang dicetak menggunakan tinta merah pada frasa

“Berjalan Mundur” yang seperti

mempertanyakan kemajuan Reformasi

TNI, juga karena Koran Tempo dikenal berani mengangkat isu-isu hukum dan politik dan merupakan media berformat depolitisasi yang tak memihak partai politik manapun dan tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah.

Pada kasus Koran Tempo,

walaupun berita sudah dikatakan

berimbang dengan menyuguhkan pendapat pro dan kontra dimana pemberitaan tersebut diakhiri dengan pernyataan bersifat sanggahan dari Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Mohamad Sabrar Fadhilah menyatakan bahwa reformasi TNI tetap berjalan dan tidak mengalami kemunduran. Peneliti dengan sadar menilai bahwa isi berita yang ditonjolkan dan menjadi menarik untuk dibaca adalah mengenai keraguan sejumlah kalangan terhadap semangat reformasi TNI. Hal ini tidak lepas dari nilai dan cara berpikir pembuat berita.

Sehubungan dengan itu, dalam pandangan konstruktivis, realitas dunia bukanlah realitas yang natural. Realitas sosial adalah hasil dari konstruksi, contohnya realitas yang disajikan oleh

media massa Koran Tempo dalam

beritanya mengenai reformasi TNI dalam edisi 7 Februari 2018, adalah hasil

konstruksi di mana wartawan tidak mennyuguhkan berita apa adanya.

Pada prinsipnya, berita0merupakan laporan0kejadian sebuah peristiwa0atau pendapat0yang menarik0menjadi0penting dan disajikan secepat mungkin0kepada khalayak luas. Berita0merupakan0bagian terpenting dalam penyampaian sebuah informasi0yang0semua orang00butuhkan, dimana0berita0adalah rangkaian0informasi mengenaifakta dan.ide.terbaru.yang benar, secaraberkala0melalui media, seperti0surat kabar,0radio, televise, atau0media0online internet,0sehingga menarik perhatian orang yang0melihat, mendengar0dan membaca berita0tersebut. (Sobur, 2002:164)

Kemudian, konstruksi dari makna atau arti mengenai berita yang disajikan bukan terletak pada berita itu sendiri. Melainkan timbul dari hasil konstruksi pembaca. Karenanya, pembaca yang satu dengan pembaca yang lainnya yang membaca suatu berita yang sama, akan

memiliki pemahaman yang berbeda

tergantung sesuai dengan pandangan, pengalaman, dan persepi masing-masing pembaca. Dengan000kata lain, analisis framing dapat dipakai untuk0mengetahui bagaimana0perspektif0atau cara0pandang yang digunakan oleh.wartawan atau media massa saat00mengkontruksi00fakta, yaitu dengan mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan0pertautan fakta0ke dalam berita agarlebih.bermakna, lebih0menarik, lebih berarti00agar lebi00diingat, untuk mengiringi khalayak0sesuai perspektifnya. Perspektif0000wartawanlah yang akan menentukan000fakta yang000dipilihnya, ditonjolkannya, dan0dibuangnya. Di0balik

semua ini,000pengambilan keputusan

mengenai.sisi.manayang ditonjolkan tentu melibatkan000nilai dan00ideologi para

(5)

wartawan yang00terlibat dalam00proses produksi.sebuah0berita. (Sobur, 2002:163)

Pada000dasarnya, pola yang

ditonjolkan00tersebut tidaklah00dimaknai sebagai bias, tetapisecara ideologis sebagai strategiwacana: upaya.menyuguhkan.pada public00tentang pandangan0tertentu agar pandanganya000lebih diterima. (Sobur, 2002:164)

Metode analisis00framing00adalah salah satu0metode alternatif yang dapat dipakai dan digunakan0untuk mengungkap

dan mengetahui bagaimana realitas

dibingkai dalam penyajian sebuah berita. Dimana, realitas yang disajikan oleh suatu pemberitaan merupakan realitas00sosial yang dipahami, dimaknai, dan dikontruksi dengan bentukan00makna tertentu. Dalam sudut pandang ilmu komunikasi,0analisis framing dipakaiuntuk membedah cara-cara atau ideologi0media saat mengkontruksi fakta.0Analisis0ini memperhatikan seleksi, penonjolan, dan pertautan0fakta ke0dalam berita supaya lebih00bermakna,00lebih menarik,0lebih berarti atau0lebih diingat, untuk.menggiring00interpretasi pembaca sesuai0perspektifnya. (Sobur, 2002:162)

Kalimat atau frasa yang ditonjolkan dari suatu berita dapat diartikan sebagai tujuan untuk membuat00informasi0lebih terlihat00jelas, lebih000bermakna bagi pembaca, atau agar lebih0mudah diingat olehkhalayak pembaca. Kemudian, dengan menggunakan metode analisis framing, dapat dilihat-bagaimana teks komunikasi yang diberi tekanan lebih ditampilkan oleh pembuat berita, dan bagaian mana yang ditonjolkan_atau dianggap penting yang dapat dilihat dari pengulangan atau penekanan oleh pembuat berita.

Salah seorang ahli yang

memberikan sumbangan pemikiran dan

dasar-dasar ide bagi analisis framing dalam studi analisis isi media-adalah Robert M. Entman. Dengan menggunakan model analisis Entman, dapat dilihat bagaimana teks00komunikasi yang00disajikan dan bagaimana0representasi yang0ditampilkan secara0menonjol.

Dengan menggunakan konsep

analisis.framing Entman, suatu berita dapat digambarkan bagaimana.proses seleksi isu yang dilakukan dan.aspek tertentu apa yang ditonjolkan dari penyuguhan-realitas oleh media tersebut. Dengan dimensi seleksi isu dan penonjolan aspek tersebut, akan membuat informasi000lebih bermakna, menarik,000berarti, atau000diingat000oleh khalayak. Dalam00konsepsi ini, analisis framing ini memiliki-fokus pada pemberian definisi masalah, memperkirakan.penyebab masalah, membuat pilihaan moral dari

masalah tersebut, dan rekomendasi

penyelesaian masalah. 1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Rumusan Masalah Makro

Berdasarkan0uraian latar0belakang yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti merumuskan000masalah makro sebagai berikut. “Bagaimana Pembingkaian berita Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018?”

1.2.2. Rumusan Masalah Mikro

Berdasarkan uraian dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka peneliti merumuskan0masalah mikro sebagai0berikut:

1. Bagaimana Pembingkaian berita

Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Define Problems (Pendefinisian Masalah)?

(6)

2. Bagaimana Pembingkaian berita Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Diagnose Cause (Memperkirakan Masalah)?

3. Bagaimana Pembingkaian berita

Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Make Moral Judgement (Membuat Keputusan Moral)?

4. Bagaimana Pembingkaian berita

Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Treatment Recommendation (Menekankan Penyelesaian)?

1.3. MaksuddanTujuanPenelitian 1.3.1. MaksudPenelitian

Berdasarkan rumusan masalah0di atas,00maka00maksud dan tujuan dari penelitian000ini000adalah0000mengetahui

bagaimana “Pembingkaian berita

Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018.”

1.3.2. Tujuan Penelitian

Adapun00000tujuan0000penelitian pembingkaian berita ini, yaitu:

1. Untuk mengetahui Pembingkaian berita Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Define Problems (Pendefinisian Masalah) 2. Untuk mengtahui Pembingkaian berita

Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Diagnose Cause (Memperkirakan Masalah)

3. Untuk mengetahui Pembingkaian berita Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Make Moral Judgement (Membuat Keputusan Moral)

4. Untuk mengetahui Pembingkaian berita Reformasi TNI dalam Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 dilihat dari Treatment Recommendation (Menekankan Penyelesaian

1.4. KegunaanPenelitian 1.4.1. KegunaanTeoritis

Peneliti berharap penelitian ini secara0teoritis0berguna0sebagai bahan kajian lebih lanjut tentang Ilmu Komunikasi secara umum, terutama dalam kajian Komunikasi

Massa dan secara khusus

memberikan sumbangsih dalam bidang Jurnalistik sebagai kajian tentang pembingkaian berita dalam

teks media cetak dengan

menggunakan model Robert M. Entman.

1.4.2. Kegunaan0Praktis

1. Bagi00peneliti, diharapkan penelitian00ini merupakan

salah satu bentuk aplikasi

dari Ilmu Komunikasi

Konsentrasi Jurnalistik.

Hasil penelitian ini

diharapkan menjadi bekal pengetahuan dan menambah wawasan0bagipeneliti0pada khususnya00dan00pembaca pada0umumnya.

2. Bagi Universitas,

diharapkan00penelitian0ini dapat menjadi sumbangan

pengembangan ilmu

pengetahuan0dan0wawasan dalam dunia.jurnalistik, dan juga menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya yang tertarik pada penelitian analisis framing.

(7)

3. Bagi perusahaan media, diharapkan dapat menjadi sumbangan dan tambahan

referensi yang dapat

menjadi masukan bagi

Koran Tempo dalam

menyampaikan infomasi

kepada khalayak 2. TinjauanPustaka

2.1. KomunikasiMassa

Banyak definisitentang.komunikasi massa yang0telah dikemukakan0para ahli

komunikasi. Banyak0ragam-dan0titik

tekan yang0dikemukakannya.0Namun,

dari sekian banyak0definisi itu0ada benang merah0kesamaan0definisi satu0sama lain. Pada0dasarnya komunikasi0massa adalah komunikasi0melalui media0massa (media cetak000dan000elektronik).00Sebab,0awal perkembangannya0saja, komunikasimassa berasal-dari0pengembangan kata0media.

Menurut Nurudin0dalam bukunya yang berjudul Pengantar Komunikasi Massa, ada0satudefinisi komunikasi massa yang dikemukakan0Michael0W.0Gamble dan Teri0Kwal0Gamble0(1986) yang akan menjelaskan apa itu0komunikasi00massa. Menurut mereka.sesuatu0bisa didefinisikan sebagaiKomunikasi0Massa0jika mencakup hal-hal0sebagai berikut:

1. Komunikator0dalam komunikasi massa mengandhalkan peraltan modern0untuk mensebarkanatau mmancarkan0pesan secara0cepat kepad khalayakyang luas dan0tersebar.00Pesan00itu00disiarkan melalui00media00modern00pula yang diantaranya surat00kabar,00majalah, televisi,00film,0atau gabungan.diantara media0tersebut. 2. Komunikator0dalam komunikasimassa dalam menyebarkan00pesan-pesannya bermaksudmencobaberbagi0pengertian dengan0jutaan0orang0yang tidak saling kenal0atau-mengetahui0satu sama lain. Anonimitas audience dalam

komunikasi massa000inilah yang

kemudian dibedakan pula dengan0jenis komunikasi00yang lainnya. Bahkan pengirim dan penerima00pesan00tidak saling mengetahui-satu dengan00yang lainnya.

3. Pesan adalah00milik orang banyak. Artinya000bahwa pesan000ini bisa didapatkan dan diterima.oleh khalayak. Karenaitu,diartikanmilik orang banyak. 4. Sebagai0sumber,00komunikator0mass

a biasanya0organisasi0formal seperti jaringan,00ikatan, atau00perkumpulan. Dengan00kata00lain,0komunikatornya tidak00berasal dari00seseorang, tetapi lembaga.00Lembaga_ini pun0biasanya berorientasi_pada0keuntungan, bukan organisasi0suka0rela atau nirlaba.

5. Komunikasi00massdikontrol oleh

gatekeeper000(penapis0000informasi). Artinya,0pesan-pesan0yang disebarkan atau dipancarkan000dikontrol oleh sejumlah individu dalam lembaga tersebut.sebelumdisiarkan lewat media massa.0Ini berbedadengan.komunikasi antarpribadi, kelompok0atau0publik di manayang0mengontrol bukansejumlah individu. Beberapa00individu dalam komunikasi massa00itu ikut00berperan dalam0membatasi,0memperluas pesan yang00disiarkan.00Contohnya0 adalah seorang0reporter, editor0film, penjaga rubric,dan0lembaga0sensor0lain dalam media000itu bisa00berfungsi sebagai gatekeeper.

6. Umpan0balik dalamkomunikasi massa sifatnya0tertunda. Kalau0dalam jenis komunikasi00lain, umpan0balik bisa bersifat00langsung.00Misalnya,0dalam

(8)

komunikasi antar-persona. Dalam komunikasi0ini0umpan balik0langsung dilakukan,00tetapi komunikasi yang dilakukan lewat surat-kabar tidak bisa langsung000dilakukan atau000disebut tertunda (delayed). (Nurudin, 2014:8-9) 2.2. Media Massa dan Pers

Menurut0Cangara, dalaam bkunya yang berjjdul PengantarIlmu Komunikasi, sebuah media bisa disebut.media massa jika memiliki0karakteristik0sebagai0berikut: 1. Bersifat melembaga, artinya pihak yang

mengelola0media-terdiri0dari beberapa orang, yakni0mulai-dari0pengumpulan, pengelolaan sampai pada penyajian informasi.

2. Bersifat satu0arah, dengan kata lain komunikasi yang dilakukan0kurang memungkinkan terjadinyadialog-antara

pengirim dan penerimaa pesan.

Kalaupun.terjadi00reaksi00atau umpan balik,0memerlukan waktu dan tertunda. 3. Meluas0dan00serrmpak, artiinya0dapat mengatasi0rintaangan-waktudan0jarak, karenaia memiiliki.kecpatan.0Bergerak secara00luas00dan00simultan,0dimana informasi0yang disampaikan0diterima oleh0banyak oraang secara bersamaan. 4. Memakai000peralatan000teknis atau

mekanis,00seperti radio,0televisi, surat kabar0dan0semacamnya.

5. Bersifatterbuka, artinya pesannya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana.saja tanpa mengenal batas usia, gender dan ras. (Cangara, 2014:140-141).

Media massa0pada dasarnya0dapat dibagi0menjadi dua0kategori, yakni0media massa cetak0dan media0elektronik. Media cetak yang dapat memenuhi kriteria sebagai media00massa00adalah surat00kabar0dan majalah,000sedangkan000media000massa elektronik0meliputi0televisi,0radio,0siaran film,00dan000media00on-line (internet). (Ardianto, 2007:103). 2.3. Surat Kabar Sebagai00media cetak,00kelebihan surat kabar0adalah-sebagai0catatan tertulis yang mampu0merekam0peristiwa/kejadian di masa0lampau0meskipun peristiwa0itu

sudah terjadi beberapa0puluhan

tahun0yang lalu.0Sehingga sangat0disukai untuk dikliping0atau diarsipkan sebagai

dokumentasi peristiwa. (Tamburaka,

2013:45-46)

Dari00empat0fungsi00media massa (informasi, edukasi, hiburan dan persuasif), fungsi0yang0paling0menonjol00dari surat kabar adalah00informasi. Hal0ini00sesuai dengan tujuan0utama0khalayak0membaca surat kabar, yaitu keingintahuan.akan setiap peristiwa00yang00terjadi di00sekitarnya. Karenanya,00sebagian besar0rubrik surat kabar terdiri00dari berbagai0jenis00berita. Namun demikian, fungsi hiburan surat kabar pun tidak terabaikan00karena tersedianya00rubric artikel_ringan, feature (laporan perjalanan, lapiran tentang profil seseorang00yang unik), rubrik000cerita bergambar000atau komik, serta00cerita bersambung. Begitu pula dengan fungsinya

mendidik000dan memengaruhi000akan

ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana0atau_editorial0dan rubrik opini. Fungsi0pers, khususnya0surat kabar pada

perkembangannya0000bertambah, yakni

sebagai alat.kontrol sosial yang konstruktif. (Ardianto, 2007:111-112)

2.4. Berita

Berita0berasal dari0kata Vrit yang artinya “ada”0atau0“terjadi”, tetapi dapat pula000dikatakan Vritta00yang berarti “kejadian0yang telah terjadi”.0Istilah Write (menulis)00dalam bahasa0Inggris berarti

(9)

kata00kerja00yang00menunjukan aktifitas menulis. Sedangkan0istilah news00dalam bahasa00Inggris00untuk00maksud berita, berasal00dari0new (baru) dengan0konotasi kepada0hal-hal0yang0baru. Dalam0hal ini

segala00yang00baru00merupakan bahan

informasi000bagi000semua00orang yang memerlukannya. Dengan0kata lain,0semua hal yang barumerupakan-etimologis istilah berita dalam0bahasa Indonesia0mendekati istilah0bericht (en) dalam bahasa Belanda. Besar00kemungkinan00kedua istilah itu berketurunan mengingat00Indonesia lama dijajah0Belanda. (Tamburaka, 2013:87)

Kemudian, menurut Kustadi

Suhandang dalam bukunya yang berjudul Pengantar Jurnalistik, Seputar.Organisasi, Produk & Kode Etik, berita adalah.laporan

atau pemberitahuan tentang segala

peristiwa00actual yang menatik perhstian orang0banyak. Peristuwa yang-melibstkan fakta0dan0data0di0alam srmesta ini, yang trrjadinya pun actual-dalam arti “barusaja” atau hsngan dihicarakan prang bamyak. (Suhandang, 2010:103)

Berita sendiri berbeda menurut karakteristik media massa, bila berita itu dimuat dalam media cetak koran dan majalah, maka ada-ciri khasnya tersendiri yang lebih menekankan pada kekuatan headline (judul) berita, kepadatan informasi dalam bagan piramida terbalik, penempatan berita-di halaman depan atau belakang, berita dengan foto atau tanpa foto, berita di halaman-berwarna atau tidak berwarna. Gaya bahasa straight news atau feature, semuanya memainkan peranan penting dalam pembuatan-berita di media cetak. (Tamburaka, 2013:89)

2.5. Berita Politik

Dikutip dari buku karya Sedia Willing Barus yang berjudul Jurnalistik;

Petunjuk00Teknis Menulis00Berita, berita politik adalah berita yang00menyangkut kegiatan0politik atau0peristiwa di0sekitar masalah-masalah000ketatanegaraan 0dan segala00hal yang00berhubungan00dengan urusan.pemerintahan dan Negara. Politik di sini.harus diartikan sebagai upaya manusia

untuk0000menata kehidupan000rakyat,

pemerintahan, danNegara-demi0mencapai suatu tujuan dan cita-cita99bersama yang luhur, yaitu00perbaikan hidup00atau nasib bangsanya. (Barus, 2010:41)

Jakob Oetama dalam Barus (2010)

menggambarkan bahwa kekuasaan

pemerintah dalam menyelenggarakan

pemerintahan_dalam arti luas, merasuki seluruh tubuh masyarakat sampai ke tingkat terbawah. Tali temalinya_bersifat vertikal dan horizontal, dan dampak kebijakan dan tindakannya pun-besar dalam masyarakat. (Barus, 2010: 42-43)

2.6. Reformasi TNI

“Kata orang, sulit untuk membayangkan

politik di Indonesia tanpa

memperhitungkan peran tentara di

dalamnya. Atau sebaliknya, terlalu berlebihan bila masalah kenegaraan hanya diserahkan kepada kaum sipil. Khususnya sejak Pemerintahan Orde Baru, keterlibatan TNI dalam berbagai.kehidupan non-militer di Indonesia dan khusunya politik, telah merupakan bagian-integral dari dinamika serta dialektika kepolitikan nasional. Karena begitu-besarnya pengaruh militer dalam politik, maknanya tidak lagi hanya ditafsirkan sebagai bentuk dominasi, melainkan telah berubah menjadi fenomena hegemonik militer.atas persoalan-persoalan sipil. Melalui doktrin Peran-Sosial Politik TNI dan ketentuan perundangan yang mendasarinya, kemudian berbagai bentuk implementasinya-baik struktural maupun

(10)

fungsional-semuanya menggaris-bawahi anggapan bahwa kehadiran TNI dalam kehidupan sosial politik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan RI.” (Samego, 2000:46)

“Sesuai dengan kebutuhan zaman, peran dan fungsi TNI pun harus senantiasa diperbaharui. Bila untuk menjadi sebuah kekuatan professional baik secara ideologis

dan ekonomis masih belum

memungkinkan, yang terbaik bagi TNI

adalah menyesuaikan dengan

perkembangan lingkungannya. Di masa lalu, TNI dianggap sebagai tentara revolusi,

kemudian di zaman Pemerintahan

Soeharto, TNI dipandang sebagai alat "stability and growth,” sekarang, tentu harus berubah menjadi kekuatan reformasi yang menjungjung tinggi penegakan hukum, kesetaraan antarwarga serta proses demokratisasi dan perluasan partisipasi politik secara otonom.”(Samego, 2000:54)

Tahun 2004 menjadi tahun terbitnya Undang-Undang Nomor 34 tahun002004 tentang Tentara000Nasional Indonesia. Hadirnya00Undang Undang0RI Nomor034 tahun 2004 ini merupakan salah satu wujud telah dilaksanakannya Reformasi Internal TNI karena Undang-Undang0sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 2 tahun 1998 tentang00Prajurit00Angkatan 0Bersenjata Republik Indonesia dinilai tidak-sesuai lagi dengan perubahan kelembagaan0Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi Tentara-Nasional Indonesia dan demokrasi serta perkembangan kesadaran hukum yang hidup dalam masyarakat. Dalam Undang-Undang-Nomor 34 tahun 2004, telah diatur secara jelas tentang jati diri, kedudukan, peran, fungsi dan tugas, postur dan organisasi, pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI serta tentang Prajurit secara

lengkap untuk dijadikan pedoman dan paying hukum bagi TNI.

Hal-hal yang sangat mendasar dalam Undang-Undang0Nomor0340tahun 20040tentang0TNI adalah dicantumkannya pasal 39 yang mengatur tentang larangan bagi anggota TNI. Pasal tersebut berbunyi Prajurit0dilarang0terlibat0dalam:

a. Kegiatan.menjadi anggota partai politik b. Kegiatan0politik praktis

c. Kegiatan0bisnis, dan

d. Kegiatan untuk dipilih.menjadi anggota legislative dalam Pemilihan-Umum dan jabatan politis lainnya. (Basuki, 2013: 182-183)

2.7. Konstruksi Realitas Media Massa “Konstruksi00sosial adalah0sebuah proses eksternalisasi,0objektivasi, daninternalisasi yang00terjadi antara00individu di00dalam masyarakat. Ketiga0proses-tersebut0terjadi secara0simultan00membentuk 0dialektika, serta0menghasilkan0realitas-sosial0berupa pengetahuan umum,00konsep, kesadaran umum,0 dan wacana00publik. 0Konstruksi sosial000dibangun00oleh individu dan masyarakat secara00dialektika. Dan yang dimaksud00konstruksi00sosial itu adalah realitas sosial yang.berupa realitas obyektif, subyektif, maupun00simbolis. Sedangkan materi realitas_sosial itu00adalah konsep-konsep, kesadaran00umum, dan00wacana publik”. (Berger dan00Luckmann, dalam Bungin, 2008:212)

Gagasan dari0Berger tersebut dapat dimplementasikan-ke dalam sebuah berita dimana wartswan melihat sebuah peristiwa yang00terjadi00namun setiap wartawan memiliki00pandangan-ysng berbeda dalam meluhat peristiwa tersrbut. Hal ini didasari dari0 berita00yang dibuat00oleh wartawan, walaupun0kasus0yang0dihadapi0sama tapi

(11)

carapenyampaian isi berita berbeda. Berita dalam0pandangan konstruksi0sosial bukan merupakan sebuah peristiwaatau fakta yang riil berita00adalah produk0interaksi0antara wartawan0dan00fakta.00Dalam prosesnya wartawandilandasi00oleh0realitas,0dimana realitas dimakna00oleh wartawan00untuk menghasilkan000sebuah000realitas yang dituangkan ke dalam teks0berita.

Teori dan0pendekatan0konstruksi sosial atas realitasmelihat fenomena media massa0menjadi0sangat substansial0dalam proses00eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi000yang00kemudian00dikenal sebagai“konstruksi realitas0mediamassa”. “Substansi0dari0konstruksi realitas media massa adalah_pada sirkulasi informasi yang lebih00cepat dan00luas00sehingga konstruksi sosial00berlangsung00dengan sangat cepat dan-sebarannya pun merata. Realitas yang000terkonstruksi itu juga

memnbentuk000opini massa,000massa

cenderung apriori dan opini massa cenderung sinis.” (Bungin,2008:194) 3. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sebagai perspektif subjektif yang

bersifat interpretif (menggunakan

penafsiran). Di mana metode penelitian merupakan cara ilmiah yang sistematis.

Sesuai dengan penjelasan dari Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln bahwa peneliti-kualitatif lazim menalaah hal-hal yang berada dalam lingkungan alamiahnya, berusaha memahami, atau

menafsirkan, fenomena berdasarkan

makna-makna yang-orang berikan kepada hal-hal tersebut. (Denzin dan Lincoln dalam Mulyana, 2008:5)

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain analisis framing dari Robert M. Entman. Dalam bidang studi Ilmu Komunikasi, framing merupakan pendekatan untuk melihat bagaimana realitas dibentuk dan dikontruksikan oleh media massa. Dalam prakteknya, framing dilakukan oleh media massa dengan menyeleksi isu-isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain. Aspek penonjolan tersebut dilakukan dengan menggunakan strategi wacana, seperti penempatan posisi berita yang ditampilkan, pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat isi berita, dan lain sebagainya. Dalam konsep Robert M. Entman, framing merujuk pada bagaimana peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh wartawan.

Konsepsi00mengenai0framing dari

Entman00menggambarkan00secara luas

bagaimana peristiwa dimaknai dan

ditandakan oleh wartawan. Define

Problems (pendefinisian masalah) adalah elemen yang pertama kali dapat dilihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame/ bingkai yang paling utama.

Ia menekankan bagaimana peristiwa

dipahami oleh wartawan. Ketika ada

masalah atau peristiwa, bagaimana

peristiwa atau isu tersebut dipahami.

Kemudian, diagnose causes

(memperkirakan penyebab masalah),

merupakan elemen framing untuk

membingkai siapa yang dianggap sebagai actor dari suatu peristiwa. Penyebab di sini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami, tentu saja menentukan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah. Karena itu, masalah yang

dipahami secara berbeda, penyebab

masalah secara tidak langsung juga akan dipahami secara-berbeda pula. Lalu, make

(12)

moral judgement (membuat pilihan moral)

adalah elemen yang dipakai untuk

membernarkan/ memberi argumentasi pada pendefinisian masalah yang telah dibuat. Dibutuhkan gagasan yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut. Dan elemen lainnya adalah treatment recommendation (menekankan penyelesaian). Elemen ini

dipakai untuk menilai apa yang

dikehendaki oleh wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian itu tentu saja sangat tergantung pada_bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa yang dipandang sebagai penyebab_masalah. (Eriyanto, 2002:189-191)

3.2. Teknik Pengumpulan Data 3.2.1. Studi Pustaka

Peneliti mengambil bahan data penelitian primer yaitu berita mengenai reformasi TNI di Koran Tempo pada edisi 7 Februari 2018 sebagai objek penelitian. 3.2.2. Studi Lapangan

1. Internet Searching

Dalam teknik pengumpulan data, salah satunya peneliti melakukan internet searching untuk mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Seperti mengunjungi situs dan artikel yang dipblikasi secara online atau dalam bentuk Portable Document Format (pdf).

2. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam atau tak terstruktur mirip dengan percakapan informal. Wawancara_jenis ini bertujuan untuk memperoleh bentuk-bentuk tertentu informasi dari semua-partisipan penelitian, tetatapi susunan kata dan urutannya

disesuaikan-dengan situasi saat berhadapan dengan partisipan (Mulyana, 2013: 181).

Wawancara sebagai sumber data

penelitian sekunder dilakukan untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang tidak

dapat didapatkan melalui internet

searching. Dalam teknik.pengumpulan data ini, peneliti akan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan kepada narasumber yang

dianggap sebagai orang yang paling tahu mengenai masalah yang akan diteliti

sebagai Redaktur Koran Tempo

Kompartemen Nasional. 3.3. Uji Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan data, diperlukan teknik pemerksaan, peneliti melakukan beberapa langkah pengujian data melalui uji keabsahan data untuk melakukan pemeriksaan ulang pada data yang telah dikumpulkan. Uji0keabsahan data ini diperlukan untuk menentukan valid atau tidaknya suatu temuan dan data yang dilaporkan00peneliti,000dengan000kriteria kredibilitas data atau kepercayaan terhadap hasil penelitian.

1) Peningkatan Ketekunan

Peningkatan ketekunan00berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan00berkesinambungan.00Dengan00cara tersebut0maka0kepastian0data0dan0urutan peristiwa0akan dapat direkam secara pasti dan sitematis. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan00ketekunan0adalah0dengan cara00membaca0berbagai0referensi buku maupun hasil-penelitian atau dokumentasi-dokumentasi0terkait0dengan0temuan yang diteliti.00Dengan00membaca00ini00maka wawasan0peneliti0akan0semakin0luas dan tajam,00sehingga0dapat0digunakan0untuk memeriksa00data00yang00ditemukan00itu

(13)

benar/dipercaya atau tidak. (Sugiyono, 2010:272)

Peneliti akan membaca berbagai refernsi buku mengenai isu Reformasi TNI. Dengan cara ini maka kepastian data dan urutan fenomena dapat direkam secara pasti dan sistematis. Dengan meningkatkan ketekunan, maka0peneliti dapat melakukan pengecekan kembali dari data0yang telah didapat. Dengan melakukan langkah ini, maka akan dapat meningkatkan kredibilitas data dan peneliti juga dapat memberikan data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.

2) Diskusi dengan teman sejawat

Langkah ini dilakukan dengan mengekspos hasil0sementara atau hasil akhir yang diperoleh0dalam bentuk diskusi dengan0rekan-rekan0sejawat. Pemeriksaan sejawat berarti pemeriksaan yang dilakukan dengan jalan0mengumpulkan0rekan-rekan sebaya, yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang diteliti, sehingga0bersama mereka0peneliti dapat me-review persepsi, pandangan dan analisis

yang sedang dilakukan. (Moloeng,

2007:334) 3) Triangulasi

Definisi teknik triangulasi data

yaitu sebagai teknik pemeriksaan

keabsahan data yang memanfaatkan

sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moleong, 2007:330). Teknik triangulasi

yang digunakan peneliti merupakan

triangulasi sumber di mana. Sumber data yang dikumpulkan peneliti yakni dari teks berita (objek penelitian), buku referensi terkait, dan data wawancara mendalam bersama informan.

3.3. Teknik Analisa Data

Teknik analisis data dilakukan peneliti selama proses penelitian terhitung sejak peneliti mengumpulkan data yang menyangkut masalah yang akan diteliti oleh peneliti. Dengan demikian, peneliti melalui empat tahap teknik analisis data, yaitu tahap pengumpulan data, tahap reduksi data atau-seleksi data, tahap display atau penyajian data, dan tahap pengambilan atau penarikan kesimpulan dan yang terakhir adalah tahap evaluasi. Proses dalam tahapan-tahapan ini tidak berjalan secara linear atau searah melainkan bersifat simultan atau siklus yang interaktif.

1. Pengumpulan data (data

collection)

2. Reduksi data (data reduction) 3. Penyajian data (data display)

4. Penarikan kesimpulan

(conclusion drawing/verivication) 4. Pembahasan

Surat kabar harian Koran Tempo edisi 7 Februari 2018, pada halaman

Laporan Utama, berita berjudul

“REFORMASI TNI BERJALAN

MUNDUR; Tentara kian banyak berperan dalam wilayah sipil” memuat berita mengenai TNI yang terlalu mencampuri pelbagai urusan di ranah sipil setelah TNI mengadakan perpanjangan kerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia tentang bantuan TNI dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, seperti unjuk rasa dan mogok kerja buruh. Melalui berita tersebut, Koran Tempo menonjolkan fakta dan mengangkat isu mengenai kemunduran reformasi TNI.

Frasa “BERJALAN MUNDUR” dalam judul berita tersebut selain menggunakan huruf kapital juga dicetak dengan warna merah. Laporan utama surat kabar harian Koran Tempo ini dilengkapi

(14)

dengan infografik mengenai pelaksanaan reformasi TNI di masa presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo.

A. Pendefinisian Masalah

Koran Tempo menekankan bahwa reformasi TNI berjalan mundur, dimana TNI kian banyak berperan dalam wilayah sipil. Dalam hal ini, Koran Tempo ingin menyampaikan kritik tegas mengenai bagaimana jalannya refromasi TNI.

Jika dilihat dari urusan nasional. Reformasi TNI seharunya berjalan sesuai dengan cita-cita dan semangat reformasi TNI dan tentu saja Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.

Kemudian jika dilihat dari urusan pertahanan, regulasinya seharusnya lebih jelas lagi agar tidak tumpang tindih, contohnya mengenai nota kesepahaman

antara TNI dengan POLRI untuk

penanganan demonstrasi, klaim TNI adalah bahwa dari sisi TNI, kerja sama itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI, yang di dalamnya ada poin membantu kepolisian. Tetapi ada juga poin yang mengatakan bahwa pengerahan kekuatan TNI atau Operasi Militer Selain Perang (OMSP) harus melalui keputusan politik Negara atau dalam situasi konflik. Tujuannya adalah supaya peran TNI benar-benar dihapuskan dari ranah sipil.

B. Memperkirakan Masalah atau Sumber Masalah

Tentara Nasional Indonesia adalah sebuah angkatan perang Indonesia yang berperan sebagai alat Negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik Negara. Namun, kenapa TNI malah merambah tugas ke bidang lain, di luar bidangnya yaitu pertahanan. Itulah

yang ingin disampaikan Koran Tempo dalam elemen memperkiran masalah atau sumber masalah.

Di sini, Koran Tempo

memposisikan diri untuk menyoroti dan meluapkan kritikan sejumlah kalangan

tentang lembaga Tentara Nasional

Indonesia yang yang terlalu mencampuri pelbagai urusan di luar bidang pertahanan, dimana TNI meneken sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan lembaga lain.

C. Membuat Keputusan Moral Sebagai media massa nasional, jurnalis Koran Tempo memiliki sikap, kewajiban, semangat dan gairah untuk

mengawal pemerintahan, menjadi

watchdog, dalam hal ini mengawal dan mengawasi jalannya reformasi TNI. Jika media tidak memberitakan, mungkin banyak orang akan lupa tentang cita-cita dan semangat reformasi TNI. Maka dari itu, Koran Tempo ingin menyampaikan dan menyuarakan bahwa reformasi TNI tak akan berjalan jika tidak dikawal dan diawasi bersama-sama.

Kemudian, walaupun berita tersebut memuat kritik tegas mengenai reformasi TNI, dan ditambah frasa “BERJALAN MUNDUR” pada judul beritanya yang dicetak dengan warna merah, Koran Tempo tetap melengkapi berita dengan kutipan dari narasumber yang bersebrangan, agar berita lengkap, adil dan berimbang.

D. Menekankan Penyelesaian Lahirnya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI seharusnya menjadi tonggak atau pokok atau asal bagi ketentuan-ketentuan yang melibatkan peran TNI. Di sini Koran Tempo menekankan ada evaluasi kembali tentang peraturan peran

TNI, seperti mengenai

kesepakatan-kesepakatan kerja sama, agar jalannya cita-cita dan semangat reformasi TNI tidak lagi dinilai mundur.

(15)

5. Kesimpulan dan Saran

Koran Tempo memaknai sejumlah

kesepakatan kerja sama dan nota

kesepahaman TNI dengan lembaga lain di luar bidang pertahanan sebagai indikasi dari kemunduran reformasi TNI. Surat kabar harian Koran Tempo menekankan bahwa reformasi TNI berjalan mundur, sebagai kritik dimana TNI kian banyak berperan dalam wilayah sipil.

Koran Tempo tidak melihat sekedar tentang peran TNI yang merambah ke ranah sipil, tetapi melihat dengan helicopter view dimana hal tersebut mengancam semangat dan cita-cita reformasi TNI. Karena Koran Tempo melihat bahwa isu ini penting dan perlu dikawal, Koran Tempo menempatkan berita mengenai isu reformasi TNI di halaman muka.

Berdasarkan hasil penelitian yang

telah peneliti lakukan dengan

menggunakan desain penelitian analisis pembingkaian berita model Robert M.

Entman terhadap berita berjudul

“Reformasi TNI Berjalan Mundur” di surat kabar harian Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 pad bab empat, maka peneliti menyusun kesimpulan sebagai berikut :

1. Define Problems (Pendefinisian

Masalah) pada berita “Reformasi TNI Berjalan Mundur” di surat kabar harian Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 adalah mengenai masalah regulasi, dimana sudah ada Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, tetapi TNI masih dapat merambah ke ranah sipil yang mana membuat reformasi TNI dinilai berjalan mundur oleh pihak eksternal TNI.

2. Diagnose Cause (Memperkirakan

Masalah atau Sumber Masalah) pada berita “Reformasi TNI Berjalan

Mundur” di surat kabar harian Koran Tempo edisi 7 Februari 2018 adalah sejumlah kesepakatan kerja sama TNI dengan lembaga lain di luar bidangnya, dan pensiunan TNI yang menjadi calon dalam pilkada.

3. Make Moral Judgement (Membuat Keputusan Moral) berita adalah memiliki sikap, kewajiban, semangat, dan gairah untuk mengawal dan mengawasi jalannya reformasi TNI dengan kritik tegas. Selain itu, Koran Tempo juga tetap melengkapi berita dengan kutipan dari narasumber yang bersebrangan, agar berita lengkap, adil dan berimbang.

4. Treatment Recommendation

(Menekankan Penyelesaian), peneliti menyimpulkan bahwa Koran Tempo menekankan ada evaluasi kembali untuk membuat regulasi yang mengatur mengenai kebijakan-kebijakan TNI yang kemudian disesuaikan dengan Undang-Undang TNI, agar cita-cita dan semangat reformasi TNI tetap berjalan. 5.2. Saran

Adapun saran yang ingin peneliti sampaikan kepada media massa Koran Tempo dari penelitian ini, yaitu sebaiknya pemberitaan mengenai reformasi TNI di Koran Tempo hendaknya memberikan ruang untuk pertarungan wacana. Dalam berita “Reformasi TNI Berjalan Mundur” ini, wacana yang ditonjolkan adalah bagaimana TNI dianggap keliru dan melakukan kesalahan dalam menjalankan reformasi TNI. Meskipun begitu, jika ditelusuri lebih jauh mengenai pelbagai kesepakatan kerja sama antara TNI dan lembaga lain di luar bidangnya, bisa saja terdapat fakta-fakta yang dapat dianggap sebagai keputusan yang baik.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Sehubungan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan; (1) unsur budaya Pesisir Madura, (2) wujud budaya Pesisir Madura, (3) nilai pendidikan karakter

Subyek penelitian ini adalah 100 mahasiswa laki-laki Dayak Kalimantan Barat yang menuntut ilmu di Yogyakarta, yang terdiri dari 50 orang yang bertato dan 50 orang yang tidak

[r]

Penelitian Jung, Lee, dan Shon, (2007), yang melibatkan responden sebanyak 95 penyandang diabetes melitus tipe 2 di Korea berumur diatas 65 tahun, juga menyatakan bahwa

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan kasih dan karunia yang telah diberikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

6 Nurul Ursyiyah Itsnaini SMPN 1 Kalianget 69. 7 Za'im Jundi Muhammad SMPIT Al-Hidayah

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan segala rahmat, berkat dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini, dengan