Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota Makassar terletak antara 0°12' - 8° Lintang selatan, dan 116°48' - 122°36' Bujur timur yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. Batas sebelah barat dan timur masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut Flores. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan adalah 45.574.48 km² dengan 20 kabupaten dan tiga kota. Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2005 berjumlah 7.379.370 jiwa dengan mayoritas perempuan dari pada laki-laki (Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan, 2005)
Sektor pertanian sebagai sektor dominan dalam struktur perekonomian Sulawesi Selatan memegang peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, sektor ini juga mempunyai peranan yang besar dalam penyerapan tenaga kerja di Sulawesi Selatan. Menurut hasil Statistik Pertanian Sulawesi Selatan tahun 2000, sebanyak 61,79 persen tenaga kerja di Sulawesi Selatan bekerja di sektor pertanian.
Meskipun sejak tahun 2000 hingga 2004, kontribusi sektor pertanian cenderung menurun, namun secara keseluruhan sektor ini masih mendominasi struktur perekonomian Sulawesi Selatan. Pada tahun 2004 kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan adalah sebesar 33,54 persen. Di sisi lain sektor ini masih belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Fenomena ini terlihat dari rendahnya rata-rata pertumbuhan sektor ini selama lima tahun terakhir yaitu 1,39 persen. Pertumbuhan tertinggi sektor ini terjadi pada tahun 2002 dengan pertumbuhan mencapai 4,61 persen yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,06 persen (Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan, 2005)
Di Provinsi Sulawesi Selatan jumlah usaha pertanian terhadap total rumah tangga adalah sebesar 62,24 persen. Jumlah rumah tangga yang mengusahakan tanaman hortikultura sebanyak 315 ribu atau 27,65 persen dari total rumah tangga usaha pertanian. Jumlah rumah tangga kelompok tanaman sayur-sayuran adalah
sebesar 11,72 persen atau sekitar 133.519 total rumah tangga yang tersebar pada 20 kabupaten dan tiga kota (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sulawesi Selatan 2005). Hal ini sangat berkaitan dengan kondisi dan karakteristik masing-masing. Berdasarkan data yang ada, diperoleh gambaran bahwa secara keseluruhan produksi sayuran di Sulawesi Selatan pada tahun 2004 adalah 245.113 ton. Terdapat beberapa jenis komoditi yang mengalami peningkatan dan juga beberapa jenis komoditi lainnya mengalami penurunan. Secara rinci produksi sayur-sayuran di Sulawesi Selatan dapat terlihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Produksi Sayuran menurut Komoditas di Sulawesi Selatan Tahun 2004 (Ton)
Komoditas Sayuran Luas Penen (Ha) Produksi (Ton) Produksi/Ha (Ton)
1. Bawang Merah ( Shallot) 2. Bawah Putih (Garlic) 3. Bawang Daun (Leek) 4. Kentang (Potato) 5. Kubis (Cabbage) 6. Kembang Kol
7. Petsai/Sawi (Chinese Cabb) 8. Wortel (Carrot)
9. Kacang Merah (Red/Kidn.Bean)
10. Kac.Panjang (Yardlong bean) 11. Cabe Besar (Chili)
12. Cabe Rawit 13. Tomat (Tomato)
14. Terung (Egg Plant/Aubergin) 15. Buncis (Green Bean)
16. Ketimun (Cucumber) 17. Labu Siam (Pumpkin) 18. Kangkung (swamp Cabbage) 19. Bayam (Spinach/Ind.Amaranth) 2.338 36 2.105 1.208 2.727 131 1.599 743 1.785 5.946 6.156 3.356 4.975 6.111 3.299 2.314 2.339 2.846 2.672 11. 056 56 17. 352 12. 205 67.720 678 12. 087 7.248 5.341 19.280 28.129 8.180 16.214 10.594 7.031 6.837 5.746 6.263 3.096 4,72 1,55 8,24 10,10 24,83 5,17 7,56 9,76 2,99 3,24 4,57 2,44 3,26 1,73 2,13 2,95 2,45 2,20 1,15 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan, 2004
Beberapa komoditas sayuran yang mengalami peningkatan produksi yaitu bawang putih (72,73%), bawang daun (14,05%), kentang (49,16%), kubis (400% atau yang tertinggi perkembangannya), kacang panjang (88,57%), tomat (11,90%) dan terung (0,14%). Komoditi yang mengalami penurunan produksi yaitu bawang merah yaitu sebesar (-37,16%), petsai (-43,60%), wortel (-1,87%), kacang merah (39,56%), cabe (-18,25%), buncis (-0,87%), ketimun (-2,33%), labu siam (0,47%), kangkung (-19,22%), bayam (-42,59%). Secara umum penurunan produksi disebabkan serangan hama, penyakit dan kekeringan ataupun karena genangan air serta penggunaan pupuk organik dan anorganik yang belum maksimal. Selain itu dipengaruhi pula oleh populasi, umur dan jenis kelamin serta tingkat pendidikan petani ataupun buruh taninya (Analisis Hasil Sensus Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan, 2003).
Walaupun terjadi penurunan pada beberapa jenis produksi, akan tetapi terdapat sebagian komoditi unggulan yang memiliki pasaran yang cukup baik seperti bawang merah dan cabe. Beberapa komoditi unggulan yang mengalami peningkatan seperti kentang, kubis dan dan tomat menunjukkan bahwa komoditi sayuran di Sulawesi Selatan cukup potensil untuk dikembangkan dalam meningkatkan pendapatan petani.
Deskripsi Kabupaten Gowa
Kabupaten Gowa merupakan salah satu daerah sentra tanaman sayuran diantara 23 kabupaten/kotamadya di Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Gowa merupakan kabupaten yang terletak di sebelah selatan Provinsi Sulawesi Selatan yang secara adminsitrasi terbagi atas 16 kecamatan dengan 154 desa/kelurahan, dengan luas wilayahnya mencapai 1.883,33 km² atau sekitar 3,01 persen dari luas wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Luas lahan tanaman sayuran di kabupaten Gowa Tahun 2005 seluas 1.387 ha dengan jumlah produksi sebanyak 28.790,3 ton (Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura,2005).
Sebagian besar wilayah Kabupaten Gowa merupakan dataran tinggi yaitu sekitar 72,26 persen dari luas total wilayah dan sisanya merupakan dataran rendah 27,74 persen. Wilayah yang termasuk dataran tinggi terdiri dari 8 kecamatan yaitu
Kecamatan Parangloe, Manuju,Tinggi moncong, Tombolo Pao, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Kecamatan Tinggimoncong dan Barombong merupakan wilayah yang terpilih dalam penelitian ini. Komoditi sayuran di wilayah dataran tinggi seperti kentang, kubis dan tomat mengalami penurunan produksi dari tahun 2003–2005 antara 39,17 – 96 persen. Bahkan beberapa komoditi seperti kentang dan kubis produksinya di bawah rata-rata produksi sayuran di Sulawesi Selatan. Gambaran mengenai produksi sayur-sayuran yang menonjol di Kabupaten Gowa dari tahun 2002 - 2005 terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Produksi Sayuran yang Menonjol menurut Jenisnya di Kabupaten Gowa Tahun 2003-2005 (Dalam Ton)
Jenis Sayuran 2003 2004 2005 Kentang Bawang Daun Kubis/Kol Ketimun Kangkung Tomat Wortel Petsai/Sawi Labu Siam Kacang Panjang Terung Bayam 1.984,86 1.978,12 1.123,32 11.321,90 7.747,90 12.256,60 2.825,60 6.883,00 - 6.902,60 5.143,70 624,80 1.372,26 801,90 1.051,65 526,40 300,58 1.027,62 36,97 631,23 4.290 666,40 211,75 3.480 1.161,01 781,76 683,3 575,2 5.089 458,92 221,98 432,22 8.172 4.624 1.553 3.854 Jumlah 58.792,40 14..396,76 27..606,39
Sumber : Diolah dari Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Gowa, 2005
Penurunan produksi tersebut selain karena kurang dan terbatasnya modal untuk memperoleh bibit, juga karena terbatasnya biaya pemeliharaan yang dimiliki petani. Serangan hama, penyakit, kekeringan dan genangan air sangat mempengaruhi produktivitas. Hingga penelitian ini dilakukan diperoleh informasi bahwa setiap kelompok tani akan mendapat bantuan biaya pengadaan bibit sayuran khususnya bibit kentang sebesar Rp. 10.530.000/kelompok dari Dinas
Tanaman Pangan Provinsi Sulawesi Selatan. Bantuan ini diharapkan akan meningkatkan motivasi petani dan produksi sayuran yang diusahakan.
Selain di dataran tinggi, produksi sayuran di wilayah dataran rendah pada delapan kecamatan yaitu Kecamatan Somba Opu, Pallangga, Barombong, Bajeng, Bontonompo, Bontonompo Selatan, Bontomarannu dan Pattallasang Kabupaten Gowa juga mengalami penurunan produksi untuk beberapa komoditi antar lain: ketimun, kangkung, tomat, wortel, petsai/sawi, labu siam, kacang panjang, dan terong antara 92,1–95 persen. Penurunan tersebut cukup drastis yang memerlukan upaya-upaya peningkatan kemampuan usaha petani agar produktivitas kerja dan produksinya dapat meningkat.
Masalah kondisi harga komoditi yang cenderung fluktuatif dan dikeluhkan petani turut menjadi penyebab menurunnya gairah dan produksi petani. Pada umumnya pemasaran hasil produksi dilakukan langsung kepedagang pengumpul kemudian sebagian besar diperdagangkan ke Kalimantan Timur melalui pelabuhan Mamuju. Khusus di wilayah dataran rendah pemasaran lebih terfokus ke Kota Makassar dan sekitarnya melalui pagandeng atau pedagang sayur dengan menggunakan sepeda dan motor hingga ke pasar-pasar tradisionil.
Kabupaten Gowa merupakan kabupaten terbesar ketiga di Sulawesi Selatan, hingga tahun 2005 penduduknya tercatat 575.295 jiwa yang terdiri dari 288.790 laki-laki dan 286.505 perempuan dengan laju pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 2,69 persen pertahun. Persentase penduduk usia produktif 15-64 tahun sekitar 64,71 persen tahun 2005. Kepadatan penduduk Kabupaten Gowa sekitar 300 jiwa per km². Penduduk miskin di daerah ini sekitar 94,1 ribu atau 16,7 persen pada tahun 2004. Persentase angka penduduk miskin Kabupaten Gowa ini berada diatas persentase rata-rata penduduk miskin tingkat propinsi tahun 2004 sekitar 14,9 persen (Bappeda-BPS Kabupaten Gowa, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pembangunan manusia di wilayah ini dalam menanggulangi/menekan kemiskinan semakin perlu diperbaiki.
Pada Tahun 2004 di wilayah ini terlihat pula tingginya persentase penduduk yang berpendidikan tidak tamat sekolah dasar (SD) yaitu mencapai sekitar 42,02 persen, tamat SD 25,73 persen, tamat SMP atau yang sederajat sekitar 15,33 persen sedangkan tamat SMA sederajat sekitar 14,25 persen.
Rendahnya tingkat pendidikan tersebut menjadi gambaran rendahnya kualitas penduduk baik yang bekerja di sektor pertanian maupun diluar usaha pertanian.
Dilihat dari lapangan usaha, sebagian besar penduduk Kabupaten Gowa bekerja di sektor pertanian yaitu sekitar 40,48 persen tahun 2005 dimana sektor ini masih menjadi mata pencaharian utama penduduk Gowa. Sebagai daerah agraris, luas areal persawahannya mencapai 34.368 Ha yang terdiri dari 9.971 ha lahan sawah berpengairan teknis, 4.567 ha teknis, 2.286 ha pengairan sederhana, dan 7.554 ha pengairan non PU/pengairan desa, sedangkan sisanya 10.170 ha adalah lahan sawah tadah hujan dengan produksi padi mencapai sekitar 230,5 ribu ton selama tahun 2004. Selain tanaman padi, potensi tanaman pangan seperti komoditas jagung, ubi kayu, kacang tanah dan kacang hijau serta produk perkebunan lainnya cukup menonjol seperti tebu, kelapa, kopi, coklat, cengkeh dan teh hijau sebagai komoditas unggulan untuk konsumsi ekspor.
Deskripsi Kecamatan Barombong dan Kecamatan Tinggi Moncong
Wilayah administrasi Kecamatan Barombong pada tahun 2005 terdiri dari tujuh desa/kelurahan dengan luas sekitar 20,67 km² atau 1,1 persen dari luas wilayah Kabupaten Gowa. Wilayah Kecamatan Barombong merupakan wilayah dataran rendah dan terkecil luasnya di antara 16 kecamatan di Kabupaten Gowa. Tahun 2005 wilayah ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 29.205 jiwa dari 6.707 rumah tangga dengan kepadatan 1.413 jiwa/km².
Komposisi penduduknya berdasarkan jenis kelamin hampir berimbang yakni 14.271 laki-laki dan 14.923 perempuan, sedangkan dari segi kelompok umur mayoritas berusia 15–54 tahun. Sebagian besar atau 86,5 persen penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani dari jumlah penduduk yang bekerja. Luas lahan sawah seluas 1.650 ha termasuk di dalamnya lahan tanaman sayuran untuk jenis bayam, ketimun, kangkung, terong, kacang panjang, cabe rawit, buncis dan labu siam. Jenis sayuran tersebut dipanen berkali-kali sebagai sayuran yang banyak ditemukan pada dataran rendah. Usaha pertanian di kecamatan barombong di dukung oleh sarana pengairan teknis untuk 1.212 ha dan tadah hujan untuk seluas 438 ha.
Wilayah administrasi Kecamatan Tinggi Moncong dengan ibukota Malino pada tahun 2005 terdiri dari sembilan desa/kelurahan dengan luas sekitar 275,63 km² atau 14,64 persen dari luas wilayah Kabupaten Gowa. Wilayah Kecamatan Tinggi Moncong merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian 100 – 1500 m diatas permukaan laut. Kecamatan Tinggi Moncong merupakan wilayah terluas diantara 16 kecamatan di Kabupaten Gowa. Jumlah penduduknya sebanyak 34.441 jiwa dari 7.734 rumah tangga dengan kepadatan 125 jiwa/km².
Komposisi penduduknya berdasarkan jenis kelamin yakni 16.982 laki-laki dan 17.459 perempuan. Sedangkan dari segi kelompok umur mayoritas berusia 15 – 54 tahun. Sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani dari jumlah penduduk yang bekerja. Usaha tani sayuran yang menonjol dan diusahakan petani diwilayah ini adalah jenis kentang. kol, tomat, cabe, wortel, bawang merah, bawang daun dan petsai. Sebagian besar jenis pengairan di wilayah ini adalah jenis pengairan desa/PU untuk lahan seluas 1.680 ha dan tadah hujan seluas 1.899 ha.
Deskripsi Kabupaten Enrekang
Kabupaten Enrekang merupakan kabupaten yang terletak di sebelah utara Provinsi Sulawesi Selatan yang secara administrasi terbagi atas sembilan kecamatan dengan 111 desa/kelurahan, dengan luas wilayahnya mencapai 1.786,01 km². Sebagian besar Kabupaten Enrekang merupakan dataran tinggi yaitu Kecamatan Baraka, Anggeraja, Alla, Bungin, Curio dan Malua. Wilayah dataran rendah meliputi Kecamatan Maiwa, Enrekang dan Cendana. Produksi sayuran di daerah ini juga mengalami penurunan setelah tahun 2003.
Penurunan produksi hingga tahun 2005 mencapai antara 48–79 persen untuk komoditi bawang merah, bawang daun, kentang, kubis/kol, petsai, dan wortel. Beberapa komoditi lainnya mengalami peningkatan produksi seperti cabe, tomat, buncis antara 36.4–79,0 persen. Penurunan tersebut juga terkait karena kurang dan terbatasnya kemampuan mengakses modal biaya untuk memperoleh bibit dan biaya pemeliharaan yang dirasakan petani.
Walaupun terjadi penurunan produksi, nampaknya produksi sayuran di Kabupaten Enrekang masih lebih tinggi dari rata-rata produksi sayuran di
Sulawesi Selatan. Luas areal tanaman sayuran hingga Tahun 2005 terdiri dari luas tanam seluas 5.587 ha dan luas panen 7.915 ha dengan jumlah produksi sebanyak 85.047 ton. Tanaman jenis sayur-sayuran yang menonjol di Kabupaten Enrekang hingga tahun 2005 terlihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Produksi Sayuran yang Menonjol menurut Jenisnya di Kabupaten Enrekang Tahun 2003-2005 (Dalam Ton)
Jenis Sayuran 2003 2004 2005 Bawang Merah Bawang Daun Kentang Kubis/Kol Petsai Wortel C a b e Tomat Buncis 41.683,84 25.611,52 7.916,58 160.088,9 4.630,55 3.529,42 2.422,83 2.668,22 1.271,89 13.432,57 10.230,91 2.699,24 40.894,32 2.408,52 2.258,43 4.561,59 6.662,12 1.945,08 17.927 5.292 2.875 26.859 1.955 1.817 5.404 12.967 2.000 Jumlah 249.823,75 85.092,78 77.096
Sumber : Diolah dari Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Enrekang , 2005
Saat penelitian ini dilakukan diperoleh informasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Enrekang bahwa setiap kelompok tani akan mendapat bantuan biaya pengadaan bibit sayuran, khususnya kentang, antara Rp.24–.90 juta/kelompok dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sulawesi Selatan. Bantuan ini merupakan dana bergulir yang diharapkan segera dapat meningkatkan motivasi petani dan produksi sayuran yang diusahakan serta mampu dikembalikan oleh petani melalui kelompok.
Tingginya bantuan pengadaan bibit sayuran untuk setiap kelompok tani di Kabupaten Enrekang tidak terlepas dari semakin baiknya kondisi pemasaran hasil produksi yang telah menembus pada 14 kabupaten di Sulawesi Selatan dan provinsi diluar Sulwesi Selatan seperti Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Menado, dan Kendari. Untuk meningkatkan aktivitas pemasaran, melalui bantuan Pemerintah Pusat telah dikucurkan dana pembangunan sub terminal agribisnis
khusus sayuran dan buah di Kecamatan Alla desa Cece Sumillan dengan besaran dana sekitar Rp.10 milyar . Sarana ini dirancang untuk menjadi pusat terminal agribisnis sayuran yang bertujuan meningkatkan pasaran ekspor keluar negeri.
Penduduk Kabupaten Enrekang, hingga tahun 2005 tercatat sebanyak 182.058 jiwa yang terdiri dari 92.178 laki-laki dan 89.880 perempuan. Persentase penduduk usia produktif sekitar 54,5 persen tahun 2005. Sebagai daerah agraris, luas areal persawahannya mencapai 12.648 Ha yang terdiri dari 8.826 Ha lahan sawah tadah hujan dengan produksi padi mencapai sekitar 45.065,50 ribu ton selama tahun 2005. Selain tanaman padi, potensi tanaman pangan seperti komoditas jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah serta produk perkebunan lainnya juga cukup menonjol seperti jeruk besar, langsat, durian, pepaya, pisang dan rambutan sebagai komoditas unggulan yang pemasarannya telah menembus hingga kewilayah propinsi diluar Sulawesi Selatan.
Deskripsi Kecamatan Anggeraja dan Kecamatan Alla
Wilayah administrasi Kecamatan Anggeraja pada tahun 2005 terdiri dari 14 desa/kelurahan dengan luas wilayah sekitar 123,54 km² atau 7 persen dari luas wilayah Kabupaten Enrekang. Kecamatan Anggeraja merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian 500–3000 meter diatas permukaan laut. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 23.097 jiwa dari 5.473 rumah tangga dengan kepadatan 187 jiwa/km². Komposisi penduduknya berdasarkan jenis kelamin agak berimbang yakni 11.577 laki-laki dan 11.520 perempuan. Sedangkan dari segi kelompok umur 15–59 tahun sebanyak 12.583 orang atau 7 persen dari total penduduk yang ada. Mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani dari jumlah penduduk yang bekerja. Luas lahan pertanian di Kecamatan Anggeraja seluas 2.386 ha dan khusus tanaman sayuran sebanyak 273 ha atau 11,44 persen. Jenis usaha sayuran yang menonjol diwilayah ini adalah kentang, kol/kubis, sawi, buncis, wortel, kacang merah, tomat, bawang daun, bawang merah, terong, kacang-kacangan dan cabe.
Wilayah administrasi Kecamatan Alla pada tahun 2005 terdiri dari 18 desa/kelurahan dengan luas sekitar 144,09 km² atau 8,7 persen dari luas wilayah Kabupaten Enrekang. Sama halnya dengan Kecamatan Anggeraja, wilayah
Kecamatan Alla merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian 750–3.329 m diatas permukaan laut. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 41.285 jiwa dari 8.372 rumah tangga dengan kepadatan sebanyak 286,5 jiwa penduduk/km². Komposisi berdasarkan jenis kelamin jumlahnya hampir berimbang yakni sebanyak 21.235 laki-laki dan 20.050 perempuan. Dari segi kelompok umur 15–59 tahun sebanyak 22.467 jiwa atau 12,34 persen dari total penduduk. Mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Luas lahan pertanian di wilayah ini seluas 3.624 ha termasuk lahan tanaman sayuran seluas 158 ha atau 4,36 persen. Jenis tanaman sayuran yang menonjol di kecamatan ini adalah kubis/kol, sawi, wortel, tomat, bawang daun, bawang merah, lompok/cabe dan kentang.
Deskripsi Kelompok Tani
Setiap kecamatan dan desa baik di Kabupaten Gowa maupun di Kabupaten Enrekang mempunyai kelompok tani sebagai salah satu kelembagaan penyuluhan pertanian di pedesaan. Berdasarkan Tabel 9 terdapat empat kriteria kelas kelompok berdasarkan penilaian Departemen Pertanian. Kriteria tersebut adalah pemula, lanjut, madya dan utama. Perkembangan kelompok tani bisa semakin maju ataupun mengalami kemunduran, tergantung kinerja kelompok yang telah dicapai berdasarkan keaktifan anggota dan pengurus kelompok dalam berbagai kegiatan, perkembangan inovasi dan teknologi yang digunakan serta produktivitas dan prestasi yang dicapai.
Di Kabupaten Gowa jumlah kelompok tani lebih banyak dari pada Kabupaten Enrekang. Dilihat dari kriteria kelompok, kelompok tani dengan kriteria lanjut merupakan kelompok terbanyak di Kabupaten Gowa dari total kelompok tani yang ada, menyusul kelompok tani madya. Di Kabupaten Enrekang yang terbanyak adalah kelompok tani pemula dari total kelompok tani yang ada, menyusul kelompok tani lanjut. Kemudian kelompok tani utama lebih banyak di Kabupaten Gowa, sementara di Kabupaten Enrekang kelompok tani utama hanya sekitar 2,4 persen dari jumlah kelompok tani yang ada. Berdasarkan kriteria Departemen Pertanian tersebut menunjukkan bahwa secara umum kinerja kelompok tani di Kabupaten Gowa lebih maju dari kinerja kelompok tani di
Kabupaten Enrekang. Gambaran jumlah kelompok tani pada dua kabupaten terlihat dalam Tabel 9.
Tabel 9. Jumlah Kelompok Tani menurut Tingkat Kemampuan (Kelas) di Kabupaten Gowa dan Enrekang Tahun 2005.
No Lokasi Jumlah Kelompok Tani
Pemula Lanjut Madya Utama Jumlah
1 Kabupaten Gowa 292
(25,2) (34,9) 408 (30,7) 358 (3,9) 46 1.167 (100)
2 Kabupaten
Enrekang (52,7) 288 (35,7) 195 (9,2) 50 (2,4) 13 (100) 546
Sumber : Diolah dari Data Kabupaten Gowa dan Enrekang dalam Angka, 2005 Kelompok tani di dua kabupaten (Tabel 9) memiliki beragam jenis usaha baik budi daya tanaman hortikultura dan padi sawah maupun usaha ternak dan hasil perkebunan. Di Kabupaten Gowa khususnya di Kecamatan Barombong kelompok tani memiliki usahatani dominan sayuran dan padi sawah, sedangkan di Kecamatan Tinggi Moncong sebagai dataran tinggi kebanyakan usahatani sayuran. Di Kecamatan Anggeraja dan Alla di Kabupaten Enrekang dominan adalah sayuran di samping usahatani perkebunan dan peternakan. Kelompok tani yang usahataninya dominan sayuran pada dua kabupaten terlihat dalam Tabel 10.
Tabel 10. Jumlah Kelompok Tani menurut Komoditi Usaha Tani Sayuran Kelompok Tani
No Kabupaten
B.Merah Kentang Kubis Cabe Tomat Jumlah
1 Gowa 39 145 137 45 47 413
2 Enrekang 74 9 31 2 29 145
Jumlah 113 154 168 47 76 558
Sumber : Diolah Dari Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sul-Sel, 2007 Berdasarkan Tabel 10, di Kabupaten Gowa dan Enrekang terdapat masing-masing 413 dan 145 kelompok tani yang berusahatani sayuran. Kelompok tani komoditi sayuran kubis dan kentang terbanyak di Kabupaten Gowa, dan di
Kabupaten Enrekang terbanyak adalah kelompok tani bawang merah dan kubis. Di Kabupaten Enrekang terdapat tiga gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk kedua jenis komoditi tersebut dan 41 kelompok tani wanita untuk semua komoditi serta tiga kelompok tani pemuda. Berkembangnya keragaman jenis kelompok tani di Kabupaten Enrekang mengindikasikan semakin tingginya kesadaran petani akan fungsi dan manfaat berkelompok terutama dalam memecahkan masalah-masalah usahatani yang dihadapi. Perkembangan ini perlu pembinaan untuk memelihara kebersamaan dan kekompakan anggota sehingga kelompok tani benar-benar menjadi wadah kekuatan petani yang dapat berkesinambungan. Tak kalah pentingnya pula adalah pembinaan kelompok tani yang diarahkan pada upaya menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berorganisasi, dan sikap bertanggung jawab.
Kemampuan berorganisasi perlu ditumbuhkan karena pengelompokan dan mengelompokkan orang-orang dalam suatu kelompok harus diikuti dengan kemampuan orang-orang yang berkelompok untuk mengatur diri mereka secara mandiri. Suatu kelompok yang telah terorganisasi akan berjalan baik jika setiap anggota kelompok memiliki sikap bertanggung jawab dan semangat kebersamaan. Sikap bertanggung jawab terhadap kelompok perlu diikuti oleh semangat kebersamaan dalam upaya menjaga kontinuitas kelompok. Tanpa ada semangat kebersamaan maka hambatan kecil pun yang dihadapi oleh kelompok akan menjadi pemicu ketidak kompakan dalam kelompok.
Kelompok tani sebagai salah satu kelembagaan penyuluhan mempunyai kekuatan kelompok. Kemampuan berorganisasi, sikap bertanggung jawab dan semangat kebersamaan kelompok merupakan awal kekuatan kelompok dalam wujud kesatuan unit sosial. Kekuatan ini merupakan modal dasar dalam menuju kelangkah berikutnya yaitu penataan kekuatan kelompok dalam aspek usaha produktif. Kekuatan kelompok berdasarkan aspek usaha produktif seperti munculnya kelompok tani berdasarkan komoditi yang diusahakan tentu akan semakin memperkuat ketahanan kelompok. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Zaim (2006) bahwa kelompok tani berdasarkan komoditi memiliki fungsi adaptasi dan integrasi yang baik dalam mendukung ketahanan kelompok.
Gambaran Umum Responden Penelitian
Karakteristik Responden
Penelitian ini dilaksanakan di dua kabupaten yakni Kabupaten Gowa dan Enrekang Sulawesi Selatan. Responden dari anggota kelompok tani tersebut berada pada empat kecamatan yakni Kecamatan Barombong dan Tinggi Moncong kabupaten Gowa serta Kecamatan Anggeraja dan Alla Kabupaten Enrekang. Responden anggota kelompok tani pada dua kabupaten seluruhnya berjumlah 240 orang, mayoritas atau 238 laki-laki dan 2 orang responden wanita tani di Kabupaten Enrekang. Responden di Kabupaten Gowa memiliki rataan usia lebih tua, tingkat pendidikan lebih rendah dan pengalaman usahatani lebih lama dari pada responden di Kabupaten Enrekang.
Semua responden pada dua lokasi memiliki umur yang berimbang jumlahnya antara rersponden yang berumur produktif antara 16–49 tahun dengan total 71,2 persen dan yang berumur akhir masa produktif lebih dari 49 tahun dengan total 28,8 persen. Hal ini sesuai dengan data sensus pertanian di Sulawesi Selatan Tahun 2005 yakni sebagian besar berkisar antara 25-44 tahun (rata-rata 41 tahun) . Usia produktif petani menggambarkan sebagai suatu potensi yang handal untuk diberdayakan dan dikembangkan dalam memajukan usaha tani terutama tanaman hortikultura khususnya sayuran dimasa yang akan datang.
Tingkat pendidikan formal responden pada dua lokasi, umumnya setara dengan kelas satu Sekolah Menengah Pertama (7,2 tahun). Mayoritas mengenyam pendidikan antara 6-12 tahun yakni sebanyak 52,1 persen. Hal ini sesuai pula dengan data tingkat pendidikan petani di Sulawesi Selatan yakni 88 persen berpendidikan Sekolah Menengah Pertama kebawah. Hal ini suatu indikasi bahwa tingkat pengetahuan dan kualitas wawasan sumber daya masih tergolong rendah.
Rata-rata responden memiliki pengalaman berusaha tani sayuran selama 8,5 tahun. Sebanyak 45,0 persen responden memiliki pengalaman kurang dari 7 tahun, dan 18,7 persen memiliki pengalaman lebih dari 14 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa hampir setengah jumlah rersponden kurang memiliki pengalaman usaha tani yang cukup memadai sebagai modal dasar untuk
meningkatkan produktivitas kerja dalam berusaha. Dengan pengalaman usahatani yang dimiliki tersebut mengindikasikan pula perlunya pembinaan tambahan, baik aspek pengetahuan maupun keterampilan agar pengalaman yang dimiliki dapat dikembangkan dalam berusaha. Gambaran mengenai ciri-ciri responden yang terjaring dalam penelitian ini terlihat dalam Tabel 11.
Tabel 11. Karakteristik Responden Petani Sayuran
Kabupaten
Gowa Enrekang Total
Karakteristik Rataan n % n % n % 1 Usia (tahun) a. < 29 b. 29 - < 49 c. > 49 40,6 3 65 52 2,5 54,,2 43,3 22 81 17 18,3 67,5 14,2 25 146 69 10,4 60,8 28,8 Total 120 100,0 120 100,0 240 100,0 2. Pendidikan Formal (tahun) a. < 6 b. 6 - < 12 c. > 12 7,17 70 49 1 58,3 40,9 0,8 34 76 10 28,3 63,4 8,3 104 125 11 43,3 52,1 4,6 Total 120 100,0 120 100,0 240 100,0 3. Pengalaman Usahatani (tahun) a. < 7 b. 7 - < 14 c. >14 8,5 29 62 29 24,2 51,6 24,2 79 25 16 65,8 20,9 13,3 108 87 45 45,0 36,3 18,7 Total 120 100,0 120 100,0 240 100,0
Sumber: Data Primer diolah, 2007
Uji Mann-Whitney berbeda pada dua lokasi, α= 0,05
Luas Lahan yang Dimiliki Petani Sayuran
Salah satu faktor yang mempunyai pengaruh positif terhadap tingkat kesejahteraan petani tanaman sayuran bahkan seluruh sektor pertanian adalah luas lahan yang dikuasai. Rata-rata luas lahan yang dikuasai responden di Kabupaten Gowa seluas 1,2 ha, dan rata-rata luas lahan yang dikuasai responden di
Kabupaten Enrekang seluas 0,5 ha. Rata-rata luas lahan yang dikuasai responden di dua kabupaten sebesar 0,9 ha. Persentase responden berdasarkan Luas Lahan yang dimiliki terlihat dalam Tabel 12.
Tabel 12. Persentase Responden menurut Luas Lahan yang Dimiliki
KabupatenGowa Enrekang Total
Luas Lahan (Ha)
n % n % n % 1. < 0,50 2. 0,50 – 1,0 3. 1,1 – 1,6 4. > 1,6 59 15 5 41 49,2 12,5 4,2 34,2 75 37 5 3 62,5 30,8 4,2 2,5 134 52 10 44 55,8 21,7 4,2 18,3 Total 120 100,0 120 100,0 240 100,0
Sumber : Data Primer diolah, 2007
Berdasarkan Tabel 12 tersebut terlihat bahwa di kedua lokasi penguasaan lahan kurang dari 0,5 ha mencapai persentase tertinggi yakni 49,2 persen responden di Kabupaten Gowa dan 62,5 persen di Kabupaten Enrekang. Persentase tertinggi penguasaan lahan lebih dari 1,6 ha terdapat di Kabupaten Gowa yakni 34,2 persen dan persentase tertinggi penguasaan lahan antara 0,5 – 1,0 ha terdapat di Kabupaten Enrekang yakni 30,8 persen. Namun secara total menggambarkan lebih dari setengah responden pada dua kabupaten menguasai lahan antara 0,25-1,00 ha. Rata-rata luas lahan yang ditanami sekitar seperlima dari luas lahan yang dikuasai (Analisis Hasil Sensus Pertanian Sulawesi Selatan, 2005). Hal ini berarti sebagian besar petani kurang mampu mengembangkan luas lahan yang dimiliki dan dengan beragamnya jenis sayuran yang diusahakan akan semakin memperkecil luas tanam dan luas panen yang diperoleh. Dengan demikian akan berpengaruh pula terhadap nilai produksi dan pendapatan petani. Di dua kabupaten seluruh responden petani menguasai lahan dengan status hak milik yang diperoleh dari warisan orang tua. Sempitnya lahan yang dikuasai disebabkan oleh semakin mengecilnya pembagian dari hasil warisan, seiring dengan semakin bertambahnya jumlah anggota keluarga. Faktor lainnya karena
ketidak mampuan membeli atau menyewa lahan. Sebagian petani mengakui kurang berminat menyewa lahan karena hasil produksi yang diperoleh sering kurang menguntungkan.
Jenis Tanaman Sayuran yang Diusahakan Petani Sayuran
Jenis tanaman sayuran sebagai usaha dominan responden di Kabupaten Gowa adalah kacang panjang, ketimun, kangkung, bayam, terung untuk dataran rendah, dan bawang daun, kentang, kubis, petsai, wortel dan tomat di dataran tinggi. Pendapatan petani berkisar antara Rp. 85.263,00 - Rp. 18.357.142 setahun atau Rp. 126.116 /bulan. Kesulitan utama yang dihadapi petani di lokasi ini adalah kemampuan mendapatkan bantuan permodalan untuk pengadaan alat-alat pelindung penyemaian, pembelian benih kentang, pupuk kimia, pestisida, dan pengangkutan pupuk kandang. Pemanfaatan pupuk organik semakin sering dan cukup banyak digunakan yang diperoleh dari kotoran ternak ayam. Beberapa petani yang memiliki modal, mengembangkan usaha ternak ayam potong dan menjual kotorannya ke petani sayuran hingga ke daerah Kecamatan Tinggi Moncong. Mayoritas petani menggunakan modal sendiri tanpa bantuan dari lembaga penyandang dana.
Kabupaten Gowa yang sebagian besar merupakan wilayah dataran tinggi, memiliki potensi tanaman sayuran yang cukup prospektif untuk dikembangkan, namun petani masih kesulitan memperoleh bibit tanaman yang tergolong tinggi harganya seperti kentang, dan bawang daun . Melalui pembinaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, pada tahun 2006 menyalurkan bantuan pengadaan bibit kentang kepada setiap kelompok tani sebesar Rp. 10.530.000,00 setiap kelompok untuk meningkatkan motivasi dan produktivitas usahatani sayuran khususnya jenis tanaman kentang.
Jenis tanaman sayuran di Kabupaten Enrekang yang diusahakan adalah bawang merah, bawang daun, kentang, kubis, wortel, buncis, cabe dan tomat, dan petsai. Pendapatan responden petani sayuran di wilayah ini lebih tinggi dari Kabupaten Gowa yakni antara Rp 458.312 - Rp 2.576.068 setahun atau Rp. 280.570 /bulan Sebagian pemasaran sayuran dan buah-buahan milik petani di pasarkan keluar daerah maupun antar provinsi seperti ke Balikpapan, Kendari,
Palu dan Menado. Dengan pendapatan sebesar itu masih sulit bagi petani dapat mengembangkan usahanya terlebih lagi dengan kondisi ekonomi sekarang ini dimana biaya pendidikan dan kesehatan serta kebutuhan pokok lainnya semakin meningkat. Rata-rata responden di dua lokasi berusaha untuk dua jenis tanaman.
Masalah yang sering dihadapi petani di Kabupaten Enrekang adalah situasi harga komoditi yang tidak menentu serta serangan hama dan penyakit buah. Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang menjadi pusat kegiatan pemasaran sayuran di Kabupaten Enrekang baik yang menuju kabupaten dan kota di bagian utara Sulawesi Selatan maupun yang menembus ke provinsi luar Sulawesi Selatan. Produksi sayuran di kecamatan ini cukup besar ditunjang dengan daya serap pasar yang cukup tinggi, mendorong gairah petani mengembangkan budi daya sayuran sebagai salah satu usaha andalan mereka.
Hingga tahun 2006 di Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang telah dibangun sub terminal agribisnis khusus sayuran dan buah yang didesain atas kerjasama Pemda Kabupaten Enrekang dengan Universitas Udayana Bali. Sarana ini dirancang untuk menjadi pusat terminal agribisnis sayuran yang bertujuan meningkatkan pasaran ekspor keluar negeri. Dengan berfungsinya sarana ini memungkinkan akan semakin menambah aktifitas perdagangan sayuran dan akan meningkatkan pendapatan petani. Setelah melalui perhitungan dari data yang diperoleh maka gambaran rata-rata pendapatan responden dalam setahun dari total nilai produksi setelah dikurangi ongkos produksi terlihat pada Tabel 13. Dari gambaran tersebut menghasilkan rata-rata pendapatan perbulan sebesar Rp. 203.343.
Jenis tanaman yang menghasilkan rata-rata pendapatan tertinggi yaitu komoditi kentang di Kabupaten Gowa dan bawang merah di Kabupaten Enrekang. Sedangkan jenis tanaman yang kurang memberi pendapatan bagi petani yaitu terung di Gowa dan kentang di Enrekang. Tanaman terung di Kabupaten Gowa belum menghasilkan keuntungan pendapatan bagi petani tapi justru hasilnya minus. Kerugian petani tersebut disebabkan faktor harga yang tidak stabil dibandingkan dengan ongkos produksi yang dikeluarkan. Kondisi ini semakin menambah beban kehidupan petani di saat kondisi ekonomi semakin terpuruk.
Tabel 13. Rata-Rata Pendapatan Responden menurut Jenis Tanaman, Produksi, Nilai Produksi dan Ongkos Produksi Satu Tahun Terakhir 2006
Kabupaten Tanaman Jenis Jumlah Petani
Rata-Rata Produksi (kg/Ha) Total Nilai Jual Produksi (000) Total Ongkos Produksi (000) Rata-Rata Pendapatan Setahun (Rp)
Gowa Kacang Panjang
Bayam Ketimun Kangkung Terung Bawang Daun Tomat Kentang Kubis Petsai 12 58 39 19 18 18 19 28 43 16 875,00 1.243,10 1.612,82 1.052,63 1.694,44 1.666,67 842,00 6.607,14 1.511,62 375,00 43.200 69.950 47.450 11.250 6.350 30.000 16.000 547.500 35.500 7.200 675 25.265 21.070 9.630 7.655 9.876 9.250 33.500 8.750 - 3.543.750 770.431 676.410 85.263 (-72.500)* 1.118.000 355.263 18.357.142 622.093 450.000 Enrekang Kubis Bawang Merah Wortel Buncis Tomat Cabe Merah Kentang Petsai Bawang Daun 41 60 5 32 23 10 20 11 13 6.959,24 2.148,83 90,00 2.525,00 1.486,00 1.040,00 784,00 3.772,72 1.400,00 144.830 351.668 11.250 50.420 49.550 20.200 40.680 29.225 31.327 39.297 197.104 845 2.505 31.484 5.108 31.513 7.024 9.861 2.573.979 2.576.068 2.081.000 1.497.343 785.478 1.509.200 458.312 2.018.195 1.651.200
Sumber : Data Primer diolah, 2007
Rata-rata pendapatan responden di Gowa Rp. 126.116 /bulan , Enrekang Rp. 280.570 /bulan * Pendapatan minus
Kegiatan di luar Usahatani Sayuran
Kegiatan usaha petani di dua kabupaten selain berusahatani sayuran juga memiliki kegiatan usaha tambahan. Di Kabupaten Gowa responden menanam padi sawah dan sebagian lainnya melakukan pekerjaan sampingan sebagai pedagang, penyalur sarana produksi, buruh bangunan, dan tukang ojek. Usaha kegiatan tambahan tersebut dapat menambah pendapatan petani antara Rp.100 ribu hingga Rp. 1,7 juta atau rata-rata Rp 158.79,00 sebulan. Jenis kegiatan usaha diluar usahatani sayuran di dua kabupaten terlihat dalam Tabel 14.
Tabel 14. Persentase Responden menurut Pekerjaan di luar Usaha tani Sayuran
Kabupaten
Gowa Enrekang Total
Jenis Pekerjaan
n % n % n % 1. Bertani Jenis
Padi,Coklat, kopi,dll 2. Dagang / Jual Beli 3. Buruh Bangunan 4. Ojek 5. Penyalur Saprodi 6. Beternak Kambing 7. Sekdes 8. PNS 9. Guru Honor 10. Lain-lain
11. Tidak Memiliki Usaha Tambahan 14 38 2 1 1 - - - - 35 29 11,7 31,7 1,7 0,8 0,8 - - - - 29,2 24,1 21 2 1 1 12 1 1 1 1 13 67 17,5 1,7 0,8 0,8 10,0 0,8 0,8 0,8 0,8 10,8 55,8 35 40 3 2 1 12 1 1 1 48 96 14,6 16,7 1,3 0,8 0,4 5,0 0,4 0,4 0,4 20,0 40,0 Total 120 100,0 120 100,0 240 100,0
Sumber : Data Primer diolah, 2007
Sebagian petani yang berada di dataran tinggi Kecamatan Tinggi Moncong membudidayakan tanaman hias dan mengembangkan jenis tanaman strawbery.. Akses ke kota Makassar yang tak jauh dari desa, mendorong petani dapat melakukan berbagai usaha atau pekerjaan sampingan. Namun usaha tanaman hias dan strawbery belum banyak berhasil karena masih rendahnya daya serap pasar terhadap komoditi ini di Sulawesi Selatan.
Dari segi perolehan pendapatan di luar usahatani sayuran menunjukkan sebanyak 31,7 persen responden di Kabupaten Gowa bekerja sebagai pedagang beras dan selebihnya menjadi buruh bangunan, pengemudi ojek, penyalur saprodi, dan tidak punya pekerjaan tambahan. Sedangkan responden di Kabupaten Enrekang sebanyak 17,5 persen bertani padi, coklat, kopi dan selebihnya berdagang langsung sayuran ke pedagang pengumpul di pasar tradisionil, serta bekerja sebagai penyalur saprodi, buruh bangunan, ternak kambing, tukang ojek, PNS, sekdes dan guru honor.
Untuk menambah pendapatan keluarga dan menutupi kebutuhan hidup yang semakin meningkat harganya, para petani di Kabupaten Enrekang sebagian berusaha di sektor perkebunan yang ditunjang dengan potensi daerah ini sebagai
pemasok beberapa jenis komoditi seperti tanaman bahan sutra dan tanaman hortikultura lainnya seperti pepaya, salak, dan pisang. Hasil usaha tersebut dapat menambah pendapatan petani antara Rp. 50 ribu hingga Rp. 5 juta atau rata-rata Rp. 269.811 sebulan.
Tabel 15. Persentase Responden menurut Jumlah Pendapatan di luar
Usaha tani Sayuran
Kabupaten
Gowa Enrekang Total
Pendapatan (000/ bulan) n % n % n % 1. < 500 ribu 2. 500 ribu - <1 Juta 3. 1 Juta – <1.5 Juta 4. > 1.5 Juta
5. Tidak ada Tambahan Pendapatan 19 23 41 8 29 15,8 19,2 34,2 6,6 24,2 44 6 1 2 67 36,7 5,0 0,8 1,7 55,8 63 29 42 10 96 26,3 12,0 17,5 4,2 40,0 Total 120 100,0 120 100,0 240 100,0
Sumber : Data Primer diolah, 2007
Rata-rata di Gowa Rp 158.791,00 sebulan, Enrekang Rp 269.811,00 sebulan
Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa pendapatan dari kegiatan usaha tambahan responden antara Rp. 1–1,5 juta sebulan merupakan persentase tertinggi yakni 34,2 persen di Kabupaten Gowa dan pendapatan kurang dari Rp.500 ribu merupakan persentase tertinggi di Kabupaten Enrekang yakni 36,7 persen responden. Sebanyak 26,2 persen dari semua responden memperoleh pendapatan kurang dari Rp. 500 ribu dan bahkan lebih memprihatinkan lagi terdapat 40,0 persen tidak mempunyai pendapatan tambahan atau tidak memiliki pendapatan diluar usahatani sayuran. Kondisi tersebut menggambarkan masih rendahnya pendapatan petani dan semakin sulitnya memperoleh tingkat penghidupan yang layak serta keluar dari kemiskinan dalam menjalani kehidupannya.
Dinamika Kelompok Tani
Salah satu fokus penelitian ini adalah pengembangan dinamika kelompok tani untuk mewujudkan keberdayaan petani sayuran dalam mengelola usaha taninya. Pengembangan dinamika kelompok tani dalam penelitian ini diukur
berdasarkan pengembangan tujuan kelompok, fungsi tugas kelompok, pembinaan dan pengembangan kelompok serta kekompakan kelompok. Unsur-unsur dinamika kelompok tersebut merupakan energi atau kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam situasi kelompok yang diwujudkan dalam bentuk perilaku kelompok dan anggota-anggotanya. Dalam psikologi sosial disebutkan bahwa kelompok mempunyai perilaku, demikian juga anggotanya yang dipengaruhi oleh unsur-unsur dinamika kelompok. Unsur-unsur dinamika kelompok tersebut akan mendukung dan menjamin keberlanjutan kehidupan kelompok, baik dari sisi kehidupan sosial maupun kehidupan ekonomi bagi anggota-anggotanya.
Secara umum pengembangan unsur-unsur kekuatan atau dinamika kelompok di dua lokasi penelitian menunjukkan rata-rata kategori rendah.
Tabel 16. Sebaran Responden Menurut Dinamika Kelompok
Kabupaten Gowa Enrekang Total Unsur Dinamika Kelompok Rataan Skor Kriteria n % n % n % Rendah Tinggi 80 40 66,7 33,3 42 78 35,0 65,0 122 118 50,8 49,2 Tujuan Kelompok 28 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Rendah Tinggi 80 40 66,7 33,3 48 72 40,0 60,0 128 112 53,3 46,7 Fungsi Tugas 21 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Rendah Tinggi 82 38 68,4 31,6 45 75 37,5 62,5 127 113 53,0 47,0 Pembinaan dan Pengembangan Kelompok 26 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Rendah Tinggi 85 35 70,8 29,2 36 84 30,0 70,0 121 119 50,4 49,6 Kekompakan Kelompok 25 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Rendah Tinggi 78 42 65,0 35,0 45 75 37,5 62,5 123 117 51,3 48,7 Dinamika Kelompok 25 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Sumber : Data Primer, diolah 2007
Rendah (Rataan 1 - 29) = Kurang dikembangkan Tinggi (Rataan > 29) = Dik embangkan
Diantara empat unsur dinamika kelompok, unsur yang masuk kategori terendah adalah pengembangan fungsi tugas yakni 53,3 persen, menyusul unsur pembinaan dan pengembangan kelompok yakni 53,0 persen. Hal ini berarti bahwa pengembangan fungsi dan tugas dalam kelompok kurang dilaksanakan sesuai tujuan kelompok yang ingin dicapai. Setiap anggota kelompok seharusnya sudah mengetahui fungsi dan tugas yang harus dijalankan, dan kekurang berdayaan petani menjalankan fungsi tugas masing-masing karena kurangnya inisiasi, kordinasi dan kerjasama dalam kelompok. Rendahnya kemampuan anggota melakukan inisiasi atau prakarsa sendiri karena kurangnya pemahaman terhadap tugas itu sendiri. Oleh karena itu pertemuan-pertemuan rutin anggota kelompok sangat diperlukan.
Hasil uji One Way Anova menunjukkan adanya perbedaan secara nyata pada dua lokasi dalam pengembangan dinamika kelompok (α=0,05 P=0.000, F.hitung = 41.355). Dilihat dari unsur lokasi, Kabupaten Enrekang berada dalam kategori tinggi dalam pengembangan dinamika kelompok yakni 62,5 persen, dan kategori tinggi untuk Kabupaten Gowa hanya sebanyak 35 persen.
Berdasarkan kategori tersebut menunjukkan aktifitas kelompok tani di Kabupaten Enrekang lebih dinamik dari Kabupaten Gowa. Kedinamisan tersebut seiring dengan aktifitas anggota kelompok tani di lokasi ini yang semakin meningkat mulai dari usaha budi daya hingga ke usaha penanganan hasil produksi. Perbedaan kedinamisan kelompok tani di dua lokasi tersebut dijelaskan berdasarkan indikator/unsur dinamika kelompok.
Tujuan Kelompok
Tujuan kelompok adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh kelompok yang merupakan tujuan bersama dari tujuan individu-individu di dalam suatu kelompok. Tujuan kelompok dapat dikembangkan jika telah dirumuskan dengan baik, kemudian disetujui, disosialisasi, dijadikan arah dan pedoman dalam pengambilan keputusan serta pedoman perilaku dan sikap anggota kelompok.
Berdasarkan data dalam Tabel 16 menunjukkan bahwa pengembangan tujuan kelompok di Kabupaten Enrekang lebih dinamik dari Kabupaten Gowa dengan kategori tinggi yakni 65 persen, artinya kelompok tani di Kabupaten
Enrekang lebih mampu mengimplementasikan hal-hal yang ingin dicapai dalam kelompok berdasarkan rumusan tujuan kelompok yang disepakati bersama. Beberapa item tujuan kelompok yang terjaring lewat wawancara dari dua lokasi baik tujuan yang bersifat formal maupun yang bersifat informal. Tujuan kelompok yang bersifat formal antara lain (1) menggerakkan usaha anggota kelompok, (2) mengusahakan peningkatan produktivitas tanaman,. (3) mengusahakan pengadaan sarana produksi, (4) mengadakan kerjasama dalam pemasaran produksi,(5) mengusahakan permodalan baik dari anggota maupun dari luar kelompok, (6) mengusahakan perbaikan sarana dan fasilitas penunjang kegiatan kelompok, (7) meningkatkan partisipasi anggota dalam kegiatan pelatihan, (8) mencari informasi harga pasar dan harga jual beli, dan (9) mengkomunikasikan kegiatan pasca panen kepada anggota kelompok. Tujuan kelompok yang bersifat informal yaitu: (1) membina persahabatan antar anggota, (2) membina kerjasama yang baik antar anggota, (3) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berusahatani, (4) mempererat hubungan dengan silaturrahim dengan tokoh informal, (5) meningkatkan keuntungan dalam berusaha, dan (6) meningkatkan kreatifitas dalam berusaha, dan membantu memperlancar kerjasama dengan pihak-pihak diluar kelompok.
Tujuan kelompok tersebut dirumuskan terlebih dahulu melalui pertemuan anggota kemudian disosialisasikan, dan dikembangkan menjadi suatu pedoman dan arahan kegiatan, sikap dan perilaku anggota. Kelompok tani yang terjaring di lokasi penelitian, rata-rata telah mengembangkan tujuan kelompok ketingkat persentase antara 7,2 – 13,5 persen. Hal ini terlihat dari persentase tingkat respon yang diperoleh dari item jawaban kusioner responden sebagaimana terlihat pada Tabel 17. Respon dalam mengembangkan tujuan kelompok mencapai persentase tertinggi di Kabupaten Enrekang. Skor tertinggi terdapat pada respon menyetujui isi dari tujuan kelompok. Hal ini berarti setelah tujuan dirumuskan para petani semakin termotivasi mendukung isi dari tujuan tersebut. Di Kabupaten Gowa persentase tertinggi terdapat pada respon dalam perumusan tujuan kelompok yakni 13,6 persen. Namun terjadi penurunan respon pada tahap menyetujui isi tujuan kelompok. Hal ini berarti walaupun tujuan telah dirumuskan tetapi belum
sepenuhnya mendapat persetujuan anggota. Kondisi ini memungkinkan terhambatnya pencapaian program dan kegiatan kelompok.
Tabel 17. Sebaran Responden menurut Persepsi Tentang Pengembangan Tujuan Kelompok
Pengembangan Tujuan Kelompok Menurut antar KabupatenSebaran Responden (%) Rataan Gowa Enrekang
R T R T R T a. Merumuskan Tujuan
b. Menyetujui isi tujuan c. Mensosialisasikan Tujuan d. Mengarahkan Program Ketujuan e. Menjadi Acuan dalam Keputusan f. Mengarahkan Kegiatan Ketujuan g. Menjadi Acuan Perilaku
h. Mendanai Tujuan Kelompok
10,3 10,9 10,6 12,8 12,8 14,4 11,3 16,6 13,6 13,3 13,4 12,3 12,3 11,5 13,1 10,4 16,1 3,6 12,5 14,3 11,6 8,0 16,0 17,8 11,9 13,6 12,5 12,4 12,6 13,0 12,1 11,7 13,2 7,2 11,5 13,5 12,2 11,2 13,6 17,2 12,7 13,5 12,9 12,3 12,3 12,4 12.6 11,2 Sumber : Data Primer diolah, 2007
Uji One Way Anova berbeda nyata pada dua lokasi, α = 0,05 P = 0,000 F hit = 32,035 R = Rendah` T = Tinggi
Di Kabupaten Gowa tujuan kelompok sebagai acuan keputusan kelompok kurang mampu dikembangkan oleh anggota kelompok. Tujuan kelompok yang disepakati kurang diarahkan dengan baik, selain karena kemungkinan rendahnya pengetahuan petani dalam mengarahkan tujuan kelompok juga karena tak memiliki pedoman standar dalam bentuk buku maupun dokumen rujukan lainnya. Anggota kelompok kurang mengembangkan tujuan yang ingin dicapai dan mengarahkan kegiatan ketujuan kelompok. Ketua-ketua kelompok sering mendapat kesempatan dalam pertemuan di tingkat kabupaten dalam hal ini dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, tetapi kurang mensosialisasikan hasil pertemuan ke kelompoknya. Dengan demikian tujuan kelompok yang ingin dicapai kurang terealisasi secara maksimal.
Tujuan kelompok sebagai arahan dalam pengambilan keputusan kurang terwujud di Kabupaten Gowa, misalnya mengusahakan tersedianya sarana produksi yang seharusnya terdistribusi secara merata, namun kenyataannya lain.
Demikian pula dana anggota untuk penguatan kelompok kurang memadai dengan tingkat respon sekitar 10,4 persen. Selain karena rendahnya pendapatan petani di lokasi ini juga karena kesadaran berkontribusi dan mengakses dana untuk kelompok masih relatif kurang. Pada umumnya petani di dua lokasi menggunakan modal sendiri dalam menjalankan kegiatan/program kelompok. Kenyataan ini akan semakin menyulitkan petani, apalagi pada umumnya petani di Indonesia adalah petani subsisten dimana usahatani semata-mata untuk memenuhi kecukupan kebutuhan keluarga (Mubyarto, 1995). Berkaitan dengan hal itu, Redfield menyatakan bahwa perbedaan perilaku petani baik secara moral maupun rasional dipengaruhi oleh perbedaan dalam tingkat subsistensi petani, perbedaan struktur komunitas petani serta perbedaan tingkat pengaruh kolonialisasi.
Fungsi dan Tugas
Maksud dari fungsi dan tugas dalam kelompok adalah memfasilitasi dan mengkordinasi usaha-usaha kelompok yang berkaitan dengan masalah-masalah bersama dalam rangka memecahkan masalah tersebut. Fungsi tugas bertujuan memperkuat kerjasama dalam melaksanakan kegiatan dalam kelompok agar kelompok dapat mencapai tujuan.
Di antara empat unsur dinamika kelompok ternyata unsur pengembangan fungsi tugas di dua lokasi memiliki skor nilai tengah terendah yakni skor 22. Hal ini berarti bahwa tugas kordinasi dan usaha memfasilitasi masalah-masalah bersama dalam kelompok kurang berjalan secara optimal dan masih perlu digerakkan. Terdapat perbedaan secara nyata pengembangan fungsi dan tugas di dua lokasi. Perbedaan tersebut seiring dengan perbedaan keragaman masalah dari masing-masing kelompok. Di Kabupaten Enrekang masalah yang sering dibicarakan adalah pengendalian hama tanaman seperti hama daun, hama batang, hama buah kentang serta pengadaan sarana produksi, sedangkan di Kabupaten Gowa masalah permodalan, pengadaan pupuk kandang, pendistribusian air irigasi, transportasi dan sarana jalan serta penyediaan sarana pembenihan.
Akselarasi pemecahan masalah dapat terwujud jika setiap anggota kelompok saling berbagi fungsi tugas, dan masing-masing bertanggung jawab menggagas solusi sesuai kemampuan atau kompetensi yang dimiliki.
Tingkat persentase respon anggota kelompok dalam mengembangkan fungsi tugas terlihat dalam Tabel 18.
Tabel 18. Sebaran Responden menurut Persepsi Tentang Pengembangan Fungsi Tugas Kelompok
Pengembangan Fungsi Tugas Sebaran Responden (%)
Menurut antar Kabupaten Rataan Gowa Enrekang
R T R T R T (a) Mencari Informasi Usaha
(b) Melakukan Kordinasi (c) Melakukan kerjasama (d) Melaksanakan Tugas Sesuai
Kesepakatan
(e) Mengkomunikasikan Informasi dan Ide
(f) Melakukan Inisiasi
(g) Berpartisipasi dalam Penentuan Tugas Kelompok. 11,4 12,8 14,8 12,1 15,6 17,6 15,6 15,9 15,0 13,9 15,4 13,5 12,6 13,5 9,2 9,2 5,5 8,6 9,2 47,21 1.0 15,5 15,5 16.4 15,5 15,5 6,2 15,1 10,3 11,0 10,1 10,3 12,4 32,4 13,3 15,7 15,2 15,1 15,4 14,5 9,4 14,3
Sumber : Data Primer diolah, 2007
Uji One Way Anova, berbeda nyata pada dua lokasi, α =0,05 P=0,000 F.hitung= 13,887.
Persentase tertinggi di Kabupaten Enrekang terlihat dari tugas anggota kelompok yang lebih mengutamakan kerjasama dengan skor 16,4 persen. Hal tersebut disadari bahwa tugas utama yang perlu dipelihara dalam melaksanakan tugas adalah terjalinnya keserasian dan keselarasan antar tugas anggota. Di dua lokasi, persentase terendah berada pada aspek inisiasi yakni 6,2 persen di Enrekang dan 12,6 persen di Gowa, artinya motivasi setiap anggota untuk memulai suatu kegiatan berdasarkan inisiatif sendiri masih rendah. Dalam kelompok atau organisasi motor penggerak suatu kegiatan sering bertumpu pada inisiatif ketua atau orang-orang tertentu. Sikap ini merupakan budaya organisasi birokrasi di Indonesia yang bersifat paternalistik dan menempatkan ketua sebagai figur utama (Thoha, 1995).
Respon anggota petani dalam mencari informasi usaha di luar kelompok mencapai persentase tertinggi di Kabupaten Gowa. Pada umumnya petani yang berada di dataran tinggi Kecamatan Tinggi Moncong berusaha mengakses informasi ke basis-basis pemasaran sayuran di Kota Makassar yang berjarak 60
km dari ibukota kecamatan. Hal ini dilakukan karena kurangnya informasi yang mereka peroleh di daerahnya baik dari media maupun dari dalam kelompok itu sendiri. Perusahaan Hortikultura CV. Mutiara Selatan dan CV Ricky Wijaya yang merupakan perusahaan untuk komoditi sayuran, sering menerima dan memberi pelayanan informasi usaha kepada petani. Jumlah perusahaan hortikultura sekitar 10 perusahaan. Jumlah tersebut masih jauh dari jumlah perusahaan serupa di Jawa Barat sebanyak 57 perusahaan horti dan Jawa Timur sebanyak 51 perusahaan. Keberadaan perusahaan horti sangat membantu peningkatan motivasi usaha petani dalam rangka kemitraan ( Purnaningsih, 2006).
Informasi pemasaran yang diperoleh diluar kelompok pada umumnya kurang dikordinasikan dan kurang dikomunikasikan kepada anggota sehingga memungkinkan ada anggota yang ketinggalan informasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan rendahnya respon pada aspek kerjasama anggota dalam kelompok, dan rendahnya dalam mengkomunikasikan informasi serta rendahnya partisipasi dalam penentuan tugas kelompok. Oleh sebab itu upaya penyuluhan masih diperlukan untuk memperbaiki koordinasi dan kerjasama anggota dalam kelompok.
Pembinaan dan Pengembangan Kelompok
Usaha pembinaan dan pengembangan kelompok dimaksudkan sebagai usaha menjaga agar kelompok tetap hidup (survival oriented) pada keadaan lingkungan yang selalu berubah. Usaha tersebut perlu dilakukan dengan menggerakkan partisipasi semua anggota dalam berbagai program dan kegiatan kelompok. Terdapat perbedaan secara nyata pembinaan dan pengembangan kelompok di dua lokasi. Pembinaan dan pengembangan kelompok tani di Kabupaten Enrekang lebih dinamik dari Kabupaten Gowa. Hal ini berarti kesempatan, kemauan dan kemampuan anggota mempertahankan keberadaan kelompok lebih maju dari Kabupaten Gowa. Dalam pembinaan kelompok unsur partisipasi anggota menjadi kunci utama, baik dalam bentuk materil (fisik) dan non materil (waktu dan pemikiran) maupun dalam bentuk teknis dan non teknis (keselarasan hubungan sosial).
Kelompok tani di Kabupaten Enrekang lebih menyadari pentingnya manggerakkan partsipasi anggota melalui rapat pertemuan rutin yang dilaksanakan minimal sebulan sekali. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat komunikasi antara pengurus dan anggota (respon 13,2 persen). Tingginya respon menghadiri pertemuan yakni 12,8 persen merupakan indikasi semakin stabilnya pembinaan kelompok di lokasi ini. Usaha kelompok menyiapkan fasilitas yang diperlukan seperti alat komunikasi dan transportasi kurang terwujud, umumnya masing-masing anggota hanya menggunakan fasilitas milik pribadi. Hampir semua kelompok tidak memiliki aset kekayaan kecuali beberapa buah alat-alat tani dan sarana produksi yang tersimpan untuk kebutuhan budi daya. Tingkat respon selengkapnya terlihat dalam Tabel 19.
Tabel 19. Sebaran Responden Menurut Persepsi Tentang Pembinaan dan Pengembangan Kelompok
Pembinaan dan Pengembangan Kelompok
Sebaran Responden (%)
Menurut antar Kabupaten Rataan Gowa Enrekang R T R T R T a. Menjadwalkan Rapat/Pertemuan b. Menghadiri rapat c. Mengusahakan fasilitas komunikasi d. Mengusahakan fasilitas transportasi
e. Menyusun Rencana Kegiatan f. Menjalin komunikasi antar
Pengurus dan Anggota
g. Menetapkan Aturan dan Norma h. Menyosialisasikan Jadwal
Kegiatan
i. Rekruitmen Anggota Baru
10,9 10,9 15,1 10,9 8,4 12,8 9,8 10,5 10,5 11.3 11,3 8,5 11,4 12,8 9,9 11,9 11,4 11,4 7,7 3,8 18,7 23,0 20,2 2,9 5,3 5,3 12,9 11,9 12,8 9,8 8,3 8,9 13,2 12,5 12,5 10,6 9,3 7,3 16,9 16,9 14,3 7,8 7,5 7,9 11,7 11,6 12,0 8,9 9,8 10,8 11,5 12,2 11,9 11,0 Sumber : Data Primer diolah, 2007
Uji One Way Anova, berbeda nyata pada dua lokasi, α = 0,05 P = 0,00 F. hit.= 29,812
Di Kabupaten Gowa rata-rata respon terhadap pembinaan kelompok berada pada tingkat persentase yang rendah. Jalinan komunikasi antar pengurus dan anggota serta penyediaan fasilitas komunikasi menempati persentase terendah yakni 12,8 persen dan 15,1 persen. Rendahnya partisipasi dalam rapat pertemuan
dan kurang terjadwalnya kegiatan rapat bulanan mengindikasikan sulitnya mengimplementasikan program kegiatan kelompok. Program kegiatan yang tersusun dan direncanakan akan kurang berarti karena minimnya partisipasi anggota. Sosialisasi dan Implementasi program yang kurang, memungkinkan keberadaan kelompok kurang berdaya dan mampu bertahan. Kondisi ini akan menurunkan daya tarik anggota dan merasa kurang mendapat manfaat untuk berkelompok.
Di dua lokasi menunjukkan tingginya tingkat respon terhadap pentingnya aturan dan norma dalam kelompok, menunjukkan pentingnya memberlakukan aturan dan sanksi perilaku dalam memelihara kehidupan kelompok. Kelompok tani di Kabupaten Gowa yang sebagian besar berciri tradisionil masih terikat dengan aturan dan norma-norma lokal yang menjadi aturan dan norma kelompok, misalnya norma saling menghargai (Sipakatau) antar anggota, saling menasehati (Sipakainga’) dan tidak saling mempermalukan (Sipakasiri) harkat kemanusiaan.
Sipakatau dan Sipakainga’ merupakan modal sosial bagi ethnis Makassar dan Sipakasiri merupakan pantangan yang dinilai mempermalukan harga diri,
keluarga dan kelompok. Norma tersebut menjadi anutan dalam berkelompok dan secara tidak tertulis terkristal dalam perilaku sosial bahkan sampai pada perilaku organisasi pemerintahan.
Usaha rekruitmen anggota baru kedalam kelompok menjadi problem di dua lokasi baik di Kabupaten Enrekang maupun di Kabupaten Gowa menunjukkan tingkat persentase yang rendah masing-masing 10,5 persen di Kabupaten Gowa dan 12,9 persen di Kabupaten Enrekang. Hal ini berarti usaha menambah anggota baru belum tercapai secara optimal. Fenomena berkurangnya minat menjadi pengurus kelompok serta kurangnya daya tarik menjadi anggota merupakan masalah tersendiri di dua lokasi. Petani merasa tanpa menjadi anggota kelompok tetap bisa berusaha. Aturan yang tegas tentang implikasi sosial dan ekonomi jika tak berkelompok juga belum ada. Di Kabupaten Gowa umumnya petani berumur di akhir masa produktif selang 39–49 tahun dan rata-rata berpendidikan 6–9 tahun menjadi indikasi perlunya pergantian anggota lama ke anggota baru. Proses kaderisasi berimplikasi munculnya ide atau gagasan baru dan perubahan-perubahan baru serta kekuatan-kekuatan baru dalam kelompok.
Hal ini menjadi tantangan dalam ciri masyarakat desa yang lambat menerima innovasi dan bertahan dalam paradigma lama.
Kekompakan Kelompok
Kekompakan kelompok (Tabel 20) adalah kesatuan dan persatuan kelompok sebagai suatu kekuatan dalam kelompok. Dalam membina kekompakan dibutuhkan suatu komitmen dari seluruh anggota terutama dalam mengatasi masalah dan beragamnya perbedaan-perbedaan aspirasi dan kepentingan anggota.
Banyak faktor yang mempengaruhi kekompakan kelompok antara lain kepemimpinan, keanggotaan kelompok, nilai tujuan kelompok, homogenitas, integrasi dan besarnya kelompok. Faktor-faktor tersebut dapat menciptakan suasana kondusif dalam kelompok, namun jika kurang terkelola dengan baik dapat pula menjadi pemicu terjadinya konflik dalam kelompok.
Tabel 20. Persentase Jumlah Responden menurut Persepsi terhadap Usaha Membina Kekompakan Kelompok
Kekompakan Kelompok Menurut antar KabupatenSebaran Responden (%) Rataan Gowa Enrekang
R T R T R T (a) Mengatasi perbedaan pendapat
(b) Memberi solusi atas perbedaan (c) Menerima usul dan saran positif (d) Membina keakraban dan
kebersamaan (e) Membina Kerjasama (f) Mempersatukan Aspirasi
Anggota
(g) Mematuhi Aturan Kelompok (h) Mengusahakan Sanksi 15,6 12,7 12,7 11,1 11,9 11,9 10,6 13,4 10,4 12,4 12,3 13,3 12,9 12,9 13,7 11,9 10,1 10,1 12,6 7,6 6,3 6,3 15,2 31,6 12,7 12,7 12,5 12,9 12,9 13,1 12,3 10,7 12,8 11,4 12,6 9,3 9,1 9,1 12,9 22,5 11,5 12,5 12,4 13,1 12,9 13,0 13.0 11,3 Sumber : Data Primer diolah, 2007
Uji One Way Anova, berbeda nyata pada dua lokasi α= 0,05 P=0,00 F hit. = 61,544.
Terdapat perbedaan secara nyata pada pembinaan kekompakan kelompok di dua lokasi. Kelompok tani di Kabupaten Enrekang lebih dinamik dalam mengembangkan kekompakan kelompok dari pada Kabupaten Gowa. Di
Kabupaten Gowa rata-rata tingkat respon terhadap kekompakan kelompok berada pada 60,3 persen, sedangkan di Kabupaten Enrekang mencapai 91,7 persen. Hal ini berarti usaha membina kekompakan kelompok di Kabupaten Enrekang lebih kondusif dari Kabupaten Gowa sebagaimana terlihat dalam Tabel 16. Persentase tertinggi di Kabupaten Enrekang berada pada usaha mempersatukan aspirasi anggota yakni 13,1 persen dan yang terendah berada pada penerapan sanksi pelanggaran. Hal ini diartikan bahwa upaya pengurus dan anggota menyerap aspirasi lebih diutamakan dari pada penerapan sanksi pelanggaran. Lain halnya di Kabupaten Gowa persentase tertinggi berada pada aspek kepatuhan terhadap aturan kelompok yakni 13,7 persen dan terendah berada pada aspek mengatasi perbedaan pendapat yakni 15,6 persen.
Rendahnya kemampuan mengatasi perbedaan pendapat merupakan indikasi rendahnya keterampilan pengurus kelompok menetralisasi keadaan kelompok dan memberi solusi dari perbedaan tersebut. Perbedaan persepsi anggota terhadap nilai tujuan dan nilai sosial dalam kelompok merupakan hal yang lazim sebagai suatu dinamika sepanjang bertujuan semakin menumbuhkan kesadaran (Slamet, 2005). Di kalangan Etnik Bugis pada acara musyawarah rembuk kelompok tani, sering dilaksanakan acara duduk bersama untuk bersepakat (Tudang Sipulung). Kelembagaan adat tersebut mengusung norma atau aturan untuk menjadi suatu kesepakatan yang wajib ditaati oleh anggota kelompok tani seperti jadwal turun sawah, jadwal tanam, pembersihan saluran, pengolahan tanah, sewa tanam, sewa panen, pemeliharaan tanaman, pengangkutan gabah, besarnya bunga pinjaman permusim tanam, waktu pengembalian pinjaman, iuran pemakai air dan gaji operator traktor. Kelembagaan tersebut menjunjung kekompakan petani dan kelompok tani, membina keakraban dan kebersamaan (homogenitas), menumbuhkan kerjasama antar anggota dan mempersatukan aspirasi anggota.
Dari sisi pengembangan kekompakan kelompok, acara tudang sipulung menyandang sistem nilai positif, walaupun kelembagaan tersebut kini mulai terabaikan sebagai kelembagaan tani. Sebagian penyuluh sebagai unsur pembaharu belum berperan secara optimal dalam membina kekompakan kelompok, hal ini ditunjukkan dari hasil wawancara dengan kekurang pahaman
terhadap perkembangan kelompok tani di wilayah binaan masing-masing. Dengan demikian sulit diharapkan kelompok tani akan semakin berjalan efektif jika unsur kebersamaan dalam kelompok kurang terpelihara dan berkesinambungan.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dinamika Kelompok
Kelompok merupakan basis pembelajaran petani dalam meningkatkan kualitas diri dan kemampuan dalam memperoleh keberdayaan mengembangkan beragam usaha dan aktivitas. Kelompok tani selain bermanfaat meningkatkan kemampuan berorganisasi bagi anggotanya, juga diharapkan mampu mengembangkan usaha dan jaringan kerja dengan kelompok atau lembaga diluar kelompok. Menurut Saragih (2001), upaya pengembangan usaha adalah keharusan untuk dilakukan kelembagaan petani, usaha budi daya saja tak cukup menguntungkan petani, walaupun tingkat produksi dapat dinaikkan. Oleh sebab itu aktivitas petani dalam memanfaatkan kelompok seyogyanya semakin memberdayakan kemampuan usaha petani baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Sebanyak 55,0 persen responden di wilayah penelitian kurang mampu mengembangkan usaha. Hal ini berarti bahwa kelompok tani sebagai wadah menyatunya potensi petani kurang mampu dimanfaatkan dalam mengembangkan usaha secara optimal. Tingkat pendidikan formal, pola pemberdayaan, pengembangan kepribadian, lingkungan sosial dan akses pada informasi berhubungan positif dan nyata dengan dinamika kelompok sebagaimana terlihat dalam Tabel 21.
Berdasarkan Tabel 21 tersebut nampak bahwa dinamika kelompok dan unsur-unsur dinamika kelompok yang meliputi: tujuan kelompok, fungsi dan tugas kelompok, pengembangan dan pembinaan kelompok, dan kekompakan kelompok berkorelasi positif dan nyata dengan tingkat pendidikan formal petani, pola pemberdayaan, pengembangan kepribadian, lingkungan sosial dan akses pada informasi. Dengan demikian secara umum jika peubah-peubah bebas tersebut berada dalam kondisi yang meningkat maka akan semakin baik pula pengembangan dinamika kelompok. Peubah umur dan pengalaman usahatani berkorelasi negatif dengan dinamika kelompok, artinya kemampuan
mengembangkan dinamika kelompok tidak ditentukan oleh faktor umur dan pengalaman usahatani sebagai unsur dari karakteristik individu petani.
Tabel 21. Hubungan antara Dinamika Kelompok dengan Peubah Bebas
Peubah/ Indikator Umur Tingk. Pendi dikan Pengal. Usaha tani Pola Pember dayaan Keprib.
Petani Lingk. Sosial
Akses Pada Informasi Dinamika Kelompk Dinamika Kelompok -0,218** 0,246** -0,357** 0,621** 0,527** 0,645** 0,627** 1 1.Tujuan kelompok 2.Fungsi Tugas 3. Pengemb. kelompok 4.Kekomp. kelompok -0,215** -0,102* -0,167** -0,275** 0,214** 0,231** 0,227** 0,261** -0,287** -0,264** -0,302** -0,401** 0,581** 0,575** 0,590** 0,491** 0,492** 0,479** 0,493** 0,462** 0,580** 0,577** 0,652** 0,564** 0,543** 0,628** 0,619** 0,516** 0,887** 0,837** 0,940** 0,880**
Keterangan : ** nyata pada α = 0,01 * nyata pada α = 0,05
Pola Pemberdayaan
Pola pemberdayaan dimaksudkan sebagai upaya yang dilakukan untuk pengembangan kemampuan anggota dalam mengembangkan usaha, baik usaha produksi maupun kegiatan usaha lainnya. Analisis dalam penelitian ini berfokus pada tiga unsur/indikator yakni pengembangan kemampuan usaha anggota kelompok, pengembangan jaringan kerja dan pelatihan. Pengembangan kemampuan usaha petani dilihat dari pengembangan jenis usaha baik dalam kegiatan produksi maupun di luar kegiatan produksi. Pengembangan jaringan kerja dilihat dari pengembangan jaringan permodalan, jaringan pemasaran dan jaringan kerjasama dengan kelompok dan dengan pihak-pihak lain di luar kelompok. Pengembangan pelatihan dilihat dari pemanfaatan kegiatan pelatihan yang diikuti petani yang dilaksanakan oleh berbagai penyelenggara di luar kelompok. Secara umum keberdayaan petani melalui pengembangan tiga unsur pola pemberdayaan berada dalam kategori yang seimbang antara kategori tinggi sebanyak 50 persen responden, dan kategori rendah juga sebanyak 50 persen responden. Artinya setengah responden mampu mengembangkan usaha, baik
usaha produksi maupun kegiatan usaha lainnya, dan sebagian lainnya kurang mampu mengembangkan. Secara deskriptif tingkat persentase sebaran reponden berdasarkan pola pemberdayaan terlihat dalam Tabel 22.
Tabel 22. Sebaran Responden menurut Pola Pemberdayaan
Kabupaten Gowa Enrekang Total Pola Pemberdayaan Rataan Skor Kriteria n % n % n % Rendah Tinggi 72 48 60,0 40,0 60 60 50,0 50,0 132 108 55,0 45,0 Pengembangan Kemampuan Usaha 52 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Rendah Tinggi 77 43 64,1 35,9 58 62 48,3 51,7 135 105 56,3 43,7 Pengembangan Jaringan Kerja 25 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Rendah Tinggi 56 64 46,7 53,3 89 31 74,2 25,8 145 95 60,4 39,6 Pelatihan 22 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Rendah Tinggi 55 64 45,8 54,2 65 55 54,2 45,8 120 120 50,0 50,0 Pola Pemberdayaan 33 Jumlah 120 100,0 120 100,0 240 100,0 Sumber : Data Primer diolah, 2007
Rendah (Rataan 1 – 54) = Kurang dikembangkan Tinggi (> 54) = Dikembangkan Uji Mann-Whitney secara nyata tidak berbeda pada dua lokasi pada α=0,05
Diantara tiga unsur pola pemberdayaan tersebut, unsur yang masuk kategori terendah adalah kegiatan pelatihan yakni sebanyak 60,4 persen responden, menyusul unsur pengembangan jaringan kerja sebanyak 56,3 persen responden. Dilihat dari unsur lokasi, kategori tinggi di Kabupaten Gowa adalah kegiatan pelatihan yakni sebanyak 53,3 persen responden dan kategori tinggi di Kabupaten Enrekang adalah pengembangan jaringan kerja yakni sebanyak 51,7 persen responden. Artinya kegiatan pelatihan petani di Kabupaten Gowa lebih aktif dan kemampuan mengembangkan jaringan kerja di Kabupaten Enrekang lebih maju, baik jaringan pemasaran maupun permodalan. Dengan kata lain pola pemberdayaan petani di dua kabupaten dapat terwujud berdasarkan kemampuan petani dan prioritas kebutuhan masing-masing lokasi.
Pengembangan Kemampuan Usaha
Dalam mengembangkan usaha, petani dan kelompok tani tidak hanya melakukan aktivitas produksi yang berkaitan dengan teknis budidaya tetapi mengembangkan pula usaha peningkatan modal anggota dalam bentuk kredit (simpan pinjam), penjualan hasil produksi ketingkat harga yang lebih baik, penghematan biaya dan pengadaan alat-alat pertanian, peralatan komunikasi dan transportasi. Berdasarkan Tabel 22, sebanyak 60,0 persen responden dengan kategori rendah di Kabupaten Gowa kurang mengembangkan kemampuan usahatani sayuran dari usaha produksi hingga ketingkat peningkatan modal, dan penjualan hasil produksi. Beberapa ketua kelompok tani mengakui kurang menerapkan teknologi produksi dengan baik karena selain biaya sarana produksi tergolong mahal, biaya varietas komoditi unggulan seperti kentang dan bawang daun yang kurang terjangkau. Kemudian jika produksi berlimpah dinilai dengan harga yang rendah serta sulitnya transportasi khususnya yang berada di dataran tinggi sebagai salah satu faktor sulitnya mengembangkan usaha. Petani yang berada di dataran rendah Kabupaten Gowa menjajakan sayuran secara langsung ke pasar-pasar tradisonil dan kerumah-rumah penduduk di perkotaan melalui pedagang bersepeda (pagandeng). Selama puluhan tahun para pagandeng tersebut belum pernah tersentuh oleh kebijakan pemerintah untuk memperoleh kredit usaha kecil, walaupun kenyataannya sangat berjasa mendistribusi sayuran pada lima pasar tradisionil tipe B di kota Makassar dan sekitarnya yaitu pasar pa’baeng-baeng, pasar terong, pasar pannampu, pasar daya dan pasar Sungguminasa. Beberapa pedagang pengumpul yang sering membeli produksi petani dengan harga rendah tidak beraktivitas pada waktu kurangnya produksi petani. Beberapa jenis komoditi sayuran seperti cabe keriting, tomat dan terong sering mendapat nilai harga yang kurang wajar sehingga pendapatan petani mengalami penurunan bahkan kerugian. Kelompok tani yang bertujuan dapat meningkatkan pendapatan petani sering kurang berdaya menghadapi situasi dan kondisi seperti itu.
Di Kabupaten Enrekang, setengah atau 50,0 persen responden mengembangkan usaha dengan melakukan aktivitas produksi dan penjualan hasil produksi yang di dukung dengan penerapan teknologi produksi yang baik. Hal ini