Ashobah Ma’al Ghoiri
◼ Ashobah ma’al ghoiri ialah orang yang menjadi ashobah disebabkan ada anak perempuan atau cucu perempuan, jika mereka tidak ada, maka ia menjadi ashabul furud. ◼ Ashobah ma’al ghoiri ini ada 2 macam yaitu saudara
perempuan sekandung bersama anak perempuan atau cucu perempuan dan saudara perempuan sebapak bersama anak perempuan atau cucu perempuan. ◼ Sebagai catatan saudara perempuan sekandung atau
saudara perempuan sebapak menjadi ashobah ma’al ghoiri apabila mereka tidak bersama-sama saudara laki-laki sekandung atau saudara laki-laki-laki-laki sebapak sebagai ahli waris.
Hijab (Penghalang Mendapatkan
Hak Waris)
▪ Hijab dalam kajian waris berarti dinding atau penutup atau penghalang bagi ahli waris yang semestinya mendapat bagian warisan menjadi tidak mendapat atau berkurang dari bagian yang semestinya, karena masih ada ahli waris yang lebih dekat pertaliannya dengan orang yang meninggal itu.
▪ Hijab ada 2 macam yaitu hijab nuqshan dan hijab hirman. ▪ Hijab nuqshan ialah dinding yang hanya mengurangi bagian
warisan ahli waris tertentu, karena ada ahli waris lain bersama-bersama dengan dia, contohnya bagian suami berkurang
karena ada anak. Suami berhak mendapatkan ½ bagian, tetapi karena ada anak maka suami hanya mendapatkan bagian ¼ saja.
▪ Hijab hirman, yaitu dinding yang menyebabkan ahli waris
tertentu tidak mendapatkan bagian warisan sama sekali karena ada ahli waris lain yang lebih dekat, seperti cucu laki-laki tidak mendapat warisan selama masih ada anak laki-laki.
Tertib Penyelesaian Warisan
• Menentukan dan menginventarisasi harta peninggalan. • Memperhitungkan jumlah pembiayaan pengurusanjenazah, zakat, hutang dan wasiat.
• Menentukan harta warisan dan taksiran harga masing-masing-masing harta warisan.
• Menentukan karib kerabat yang kemungkinan berhak mendapat warisan.
PENYELESAIAN PERKARA
WARIS
1. Syarat formil gugatan waris
- adanya hubungan hukum Penggugat dan Tergugat - keterlibatan seluruh ahli waris
- harta waris harus bersifat milik sempurna - penguasaan obyek oleh pihak ketiga
TENTANG WASIAT WAJIBAH
1. Wasiat wajibah terhadap anak angkat
2. Medahulukan wasiat wajibah sebelum perhitungan waris 3. Ketentuan wasiat wajibah dalam Kompilasi Hukum Islam
tidak berlaku surut
4. Wasiat wajibah untuk ahli waris non muslim 5. Wasiat wajibah untuk ayah non muslim
6. Wasiat wajibah untuk suami non muslim 7. Wasiat wajibah untuk Istri non muslim
Beberapa urgensi diajukan permohonan
waris diperuntukan:
1. Peyelesaian balik nama sertipikat tanah atau kepemilikan suatu oebyek tertentu
2. Pengambilan dana pada bank, ketika pewaris meninggal. (tergantung kebijaka bank masing-masing)
3. Pengambilan sertipikat tanah pada bank apa bila sebuah fasilitas kredit telah dilunasi, maka agunan atas nama pewaris dapat dikembalikan kepada ahli waris dengan ketetuan adanya penetapan ahli waris dari pengadilan. 4. Pegambilan dana asuransi
5. Pengambilan dana haji bagi peserta haji yang meninggal dunia sebelum diberangkatkan, dan lain sebagainya.
AHLI WARIS PENGGANTI
Keduduka ahli waris penggati terdapat dalm Pasal
185 Kompilasi Hukum Islam
Ayat (1)
Ahli waris yang meninggal lebih dahulu
dari pada sipewaris maka kedudukanya dapat
digatikan oleh anaknya, kecuali mereka yang
tersebut dalam pasal 173.
Ayat (2)
Bagian ahli waris penggati tidak boleh
melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat
dengan yang diganti.
Lanjut…
Ahli waris pengganti dalam tatanan
hukum waris di Indonesia sejatinya
adalah dalam rangka melindungi cucu
yang telah ditinggal mati oleh orang
tuanya
sebelum
sang
pewaris
(kakek/nenek) meninggal dunia.
Lanjut..
Pasal 229
Hakim dalam menyelesaikan
perkara-perkara yang diajukan kepadanya, wajib
memperhatikan dengan sunggugsungguh
nilai-nilai hukum yang hidup dalam
masyarakat sehingga putusannya sesuai
dengan rasa keadilan.
AHLI WARIS PENGGANTI YANG MENGGANTIKAN AHLI WARIS YANG MENINGGAL DUNIA SEBELUM PEWARIS MENINGGAL
Terdapat putusan Mahkamah Agung RI dalam perkara
Peinjauan Kembali atau PK Nomor 113 PK/Ag/2016 tanggal 22 Desember 2016. dalam putusann PK ini dalam amarnya
meyataka tidak dapat diterima dengan demikian mengacu pada putusan pengadilan tingkat pertama yaitu pegadilan Agama Pinrang Nomor 169/Pdt.G/2015/PA.Prg. sebagai pengaju Yang pada intinya adalah:
1. Mengabulkan gugatan penggugat sebagian
2. Meyataka Lamalu bin Lacimpag meningal dunia 2008 dan juga istrinya bernama Hj. Siti meninggal dunia 2012.
Lanjut…
3. Menyatakan ahli waris dari Hj. Siti adalah sebagai berikut: 3.1. Hj. Hasni (anak perempuan)
3.2. Wandu (anak Laki-laki) telah meinggal Januari 2015 3.3. Herman (anak laki-laki)
3.4. Ladanda (anak laki-laki) 3.5. Salama (anak laki-laki)
4. Menetapkan bagian masing-masing ahli waris.
5. Meyatakan Wandu (anak Laki-laki) sebagai Pewaris yang meninggal pada Jauari 2015
6. Menetapkan bagian waris dari alm. Wandu di atas jatuh kepada ahli warisnya yaitu:……
Lanjut….
Yaitu:
6.1. Jamil bin Wandu
6.2. Ayu Nurshafah binti Wandu
7. Memerintahkan kepada Penggugat dan
para tergugat untuk meyerahkan bagiaya
masing-masing.
ANAK YANG MENINGGAL DUNIA LEBIH DULU, TIDAK DITETAPKAN SEBAGAI AHLI WARIS, TETAPI YANG DITETAPKAN AHLI WARIS PENGGATINYA
Kedudukan seorang ahli waris sebagai ahli waris pengganti akan meniadakan kedudukan orang tuanya sebagai ahli waris. Dalam amar putusan Kasasi Mahkamah Agung menempatkan cucu sebagai ahli waris pengganti, dengan sendirinya tidak lagi mendapatkan anak pewaris sebagai ahli waris. Sebagi contoh Putusa Kasasi Mahkamah Agung nomor 177/Ag/2017 tanggal 10 april 2017 yang amarnya:
1. Menetapkan Adi winoto meinggal dunia pada 2003 dan istrinya meninggal 1987 dan meninggalkan ahli waris sebagai berikut;
Lanjut…
1.2. Hartini (anak Perempua) 1.3. aniek (anak Perempuann) 1.4. Harmini (anak perempuan) 1.5. Mardiko anak (laki-laki)
1.6. Dra. Rahajeng (annak perempuan) 1.7. Hj. Aning (anak perempuan)
1.8. Masti (anak laki-laki)
1.9. Heru Harti (anak perempuan) 1.10.Masyhuri (anak laki-laki)
1.11.Masyat (aak laki-laki)
1.12.Ahli waris pengganti H. Heri Moenoto bin Adi winoto yang meninggal 2002 terdiri dari:
Lajutan..
2.12.1. Wahyuni Eko pratiwi binti H. Heri Moenoto (anak perempuan); dan seterusnya sampai dengan 12.8.
Jadi pada tingkat kasasi posisi ahli waris pengganti langsung ditempatkan pada kedudukan sebagai ahli waris pengganti dari pewaris.
AHLI WARIS PENGGANTI TERBATAS PADA CUCU
Pada dasarnya ahli waris pengganti merupakan bentuk perlindungan terhadap perempuan, terutama hak cucu perempuan serta keturunan dari anak perempuan manakala ia tidak medapatkan hak waris. Tanpa adanya ahli waris pengganti cucu perempuan dari anak laki-laki tidak akan mendapatkan hak waris, jika ia bersama dengan anak laki-laki. Demikian pula cucu laki-laki dan perempuan dari anak perempuan tidak akan mendapatkan hak waris jika bersama-sama dengan anak laki-laki dan atau anak perempuan.
ANAK SAUDARA TIDAK MENJADI AHLI WARIS TETAPI DAPAT DIBERIKAN WASIAT WAJIBAH
Putusan Mahkamah Agung Nomor 630 K/Ag/2016 pada
tanggal 14 Oktober 2016, dalam putusan tersebut dikatakan anak dari bibi (‘amah) tidak diberikan bagian waris (furudul muqaddarah), akan tetapi majelis kasasi menempatkannya sebagai penerima wasiat wajibah.
Pertimbagan Majelis Hakim Kasasi:
Bahwa penyebutan ahli waris pengganti terhadap anak-anak dari Dahlan bin Amaq Janten Yaitu: Sahdan,Sarmini, Saini serta anak-anak almarhum Gempong bin Amaq Kecis
dalam perkara a cou adalah kurag tepat, karena anak-anak dari Dahlan bin Amaq janten dalam in casu berkedudukan sebagai keponakan bukan cucu;….
Lanjut…
Bahwa demi keadilan dan untuk menjaga agar hubungan kekeluargaan dapat tetap terjali dengan utuh dan baik, maka kedudukan anak-anak Dahlan bin Amaq Janten dan anak-anak almarhum Gempong bin Amaq Kecis diposisikan sebagai
penerima wasiat wajibah;
- Jadi pertimbangan hukum majelis hakim kasasi juga memberikan penegasan bahwa ahli waris pengganti hanya berlaku pada cucu. Hal ini menunjukan tidak adanya ahli waris pengganti bagi saudara, kalaupun akan diberikan hak untuk menikmati tirkah, maka anak saudara tersebut dapat diberikan wasit wajibah.
WASIAT WAJIBAH TERHADAP ANAK
ANGKAT
Terdapat putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor 489 K/Ag/2011 tanggal 23 Desember 2011 perihal yang
menegaskan hak anak angkat dan anak tiri adalah sebagai berikut;
1. Menyatakan alm. Djuwaidi meninggal dunia 2005, dengan meninggalkan seorang istri dengan ketentuan istri mendapatkan 1/8 sedangkan sisanya dibagikan kepada anak tiri (anak bawaan istri almarhum) dan seorang anak angkat dengan pembagian sama besar yaitu sama-sama 1/5 bagian.