• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V KESIMPULAN DAN SARAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Setelah data-data yang diperoleh dari lapangan di analisa, selanjutnya akan disimpulkan mengenai permasalahan yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya antara lain:.

1. Pelaksanaan penanganan anak jalanan di kota Yogyakarta menunjukkan bahwa penanganan anak jalanan yang dilakukan oleh pemerintah Kota Yogyakarta belum efektif dengan persentase 48% (dari 25 responden). Terbukti dari 25 responden tersebut, yaitu sebanyak 15 responden (60%) pernah mendapatkan penanganan dari pemerintah Kota Yogyakarta dan 10 responden (40%) belum pernah mendapatkan penanganan. Dari 15 responden (60%) yang pernah mendapatkan penanganan, mereka mengaku penanganan yang paling efektif bagi mereka yaitu melalui rumah singgah sebanyak 52%, mereka menganggap bahwa di rumah singgah ini mereka dapat belajar dan mendapatkan ketrampilan serta pendidikan agama dari tenaga-tenaga profesional yang ada. Apalagi layanan jemput bola yang dilakukan oleh tenaga pengajar RSAM dan shelter anak jalan RSAM sangat membantu bagi mereka untuk belajar bagi mereka putus sekolah.

2. Berdasarkan analisis data yang diperoleh selama melakukan penelitian, kondisi anak jalanan setelah mendapatkan penanganan dari pemerintah

(2)

daerah atau RSAM (64%) mempunyai kehidupan yang lebih mandiri setelah mendapatkan penanganan atau pembinanan. Hal ini karena dalam pembinaan, responden diberi beberapa keterampilan, kewirausahaan dan permodalan. Salah satu program permodalan dan kewirausahaan yang dicanangkan oleh RSAM yaitu program kewirausahaan angkringan. Program permodalan ini merupakan program pengentasan anak jalanan yang dilakukan oleh RSAM bekerjasama dengan pemerintah kota Yogyakarta sebagai penyedia dana dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh Dinsosnakertras kota Yogyakarta. Program ini dikhususkan bagi anak usia 16-20 tahun. Dengan adanya program kewirausahaan dan permodalan angkringan ini, kondisi anak jalanan lebih mandiri dan membuat mereka untuk tidak kembali lagi kejalanan.

3. Kendala-kendala yang dihadapi pemerintah daerah dan instansi-instansi terkait dalam menangani anak jalanan antara lain:

a. Tidak mudah untuk mendekati anak jalanan dalam penanganannya. Menurut ibu Nur, setiap tim dari Dinsosnakertrans terjun kejalanan terkendala oleh para bos atau preman dari anak jalanan tersebut. Karena bos atau preman tersebut selalu menghalang-halangi tim Dinsosnakertrans untuk melakukan penyapaan, pembinaan dan pendampingan untuk anak jalanan. Oleh karena itu setiap akan melakukan pendekatan kepada anak jalanan Dinas Sosnakertrans

(3)

bekerjasama dengan dinas Ketertiban, Polresta dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA).

b. Dengan diterapkannya pola atau model penanganan apapun tetap saja tidak akan merubah maenset atau pola pikir anak jalanan untuk tidak kembali kejalan.

c. Rendahnya pendidikan orang tua anak jalanan. Hal ini menyebabkan mereka tidak mengetahui peran atau fungsi sebagai orang tua dan tidak mengetahui hak-hak anak. Sehingga eksploitasi anak muncul dengan mengarahkan anak untuk menjadi anak jalanan.

d. Faktor Migrasi.

Ketertarikan sebagian masyarakat mencari kehidupan yang lebih layak di daerah lain menyebabkan perpindahan penduduk dengan kualitas SDM yang tidak memadai. Di Yogyakarta, munculnya anak jalanan sebagian besar ternyata merupakan hasil dari migrasi. Terbukti dari 25 reponden anak jalanan yang diambil 17 responden (68%) berasal dari luar kota Yogyakarta, seperti dari Purworejo, Magelang, Tulungagung, Surabaya, Semarang dan bahkan ada yang dari Nusa Tenggara Timur.

B. Saran

1. Bagi Pihak Terkait

a. Perlu dilakukan suatu upaya penanganan, pendampingan dan pengarahan dalam menyikapi berkembangnya anak jalanan yang

(4)

terus bertambah jumlah, oleh karena itu hendaknya pihak-pihak terkait yang memiliki kajian tentang anak jalanan dapat membuat model atau konsep tentang pendampingan penanganan anak-anak jalanan di kota Yogyakarta. Agar dikemudian hari penanganan anak jalanan ini dapat tepat sasaran dan merata di seluruh kota Yogyakarta

b. Kurangnya tenaga sukarelawan atau orang-orang yang perduli terhadap masalah anak jalanan ini membuat beberapa anak jalanan yang mangkal dibeberapa tempat tidak tersentuh atau tidak terjangkau oleh lembaga.

c. Harus ada kerjasama dengan pihak terkait dalam upaya penyaluran tenaga kerja anak jalanan yang telah mengikuti pelatihan atau ketrampilan.

2. Bagi pemerintah Kota Yogyakarta

a. Dalam mengambil keputusan dan kebijakan hendaknya pemerintah kota Yogyakarta perlu mendengar aspirasi atau keinginan dari anak jalanan guna sebagai acuan untuk pengambilan keputusan terutama dalam menangani berbagai permasalahan sosial anak jalanan pada umumnya bahwa mereka mempunyai hak yang sama dengan anak-anak pada umumnya untuk mendapatkan perlindungan dan perhatian dari pemerintah kota Yogyakarta

(5)

b. Perlu dibuat suatu Rancangan Peraturan Daerah khusus bagi anak-anak jalanan agar mereka mempunyai ruang gerak untuk berekspresi dan berkreasi sesuai minat dan bakat yang dimilikinya. c. Dalam melakukan razia terhadap anak jalanan, pemerintah

hendaknya bertindak sesuai norma yang berlaku.

d. Penanganan atau program yang sudah di susun, hendaknya dilaksanakan secara kontinue dan berkelanjutan, agar anak-anak jalanan yang belum mendapatkan penanganan dari pemerintah, dapat merasakan.

3. Bagi Masyarakat

Perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk tidak membiasakan diri memberikan sejumlah uang kepada anak jalan. Karena kondisi ini lah yang membuat anak jalanan betah untuk tuinggal dan mencari nafkah di jalanan. Jika memang masyarakat ingin memberikan sumbangan atau sedekah dapat melalui rumah singgah, rumah zakat atau panti asuhan.

4. Keterbatasan

a. Pada saat melakukan wawancara dan mengambil angket, peneliti harus melakukannya pada sore hari hingga malam hari di RSAM. Karena pagi hari kebanyakan dari mereka bersekolah dan siang harinya ada yang bekerja. Sehingga peneliti terhambat oleh keterbatasan waktu.

(6)

b. Wawancara dan mengisi angket yang dilakukan dengan anak jalanan, terkadang kurang terbuka atau kurang jujur, hal ini disebabkan mereka jenuh karena terlalu sering mereka ditanya atau disuruh mengisi angket atau kuesioner dari orang-orang yang melakukan penelitian. Hal ini membuat peneliti harus mengkroscek kembali jawaban yang diisi oleh anak jalanan.

c. Wawancara dan mengisi angket dalam mencari data kepada para respoden mengalami kesulitan karena banyak dari responden meminta dibelikan ini itu kepada peneliti, jika peneliti tidak membawakan atau membelikan, mereka tidak mau ditanya atau mengisi angket.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.(http://fisip.uns.ac.id/publikasi/sp4_2_jauchar.pdf. diakses pada tanggal 15 Agustus 2011)

Anonim.(http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/152108292_2086-3004.pdf. diakses tanggal 15 Agustus 2011)

Aryo Dwikromo. (1999). Gelandangan Yogyakarta, Suatu Kehidupan Jalanan Bingkai Tatanan Sosial-Budaya “Resmi”. Yogyakarta:

Universitas Atmajaya

Bambang Sugestiyadi. (2009). Pemberdayaan Anak Jalanan di Malioboro Yogyakarta Dengan Pelatihan Komputer. Seminar Penelitian. Fakultas Teknik UNY

Bappenas.( http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/20837-%5B_Konten_%5D-(Konten)%20C5318.pdf. Diakses tanggal 15 Agustus 2011)

Bintarto, R. 1978. Urbanisasi dan Permasalahannya. Ghalia Indonesia: Jakarta Bintarto, R.(1977). Geografi Sosial. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM BKSN (2000). Modul Pelatihan Pekerja Sosial Rumah Singgah. Jakarta

Eko Putro Widoyoko, S. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Husaini Usman & Purnomo Setiady Akbar. (1995). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara

Ishaq, M. (1998). Pengembangan Modul Literasi Anak Jalanan Untuk Peningkatan Kemampuan Hidup Bermasyarakat Anak-anak Jalanan. Makalah. Lokakarya Modul Literasi Jalanan di BPKB Jayagiri Lembaga, 24-25 Maret 1998. Bandung: Yayasan Bahtera-Unicef.

Muhammad Idrus. (2007). Metode Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta: UII Press

Nasution. (2003). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin

Nursid Sukmaatmadja. (1998). Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Yoyakarta: Alumni

(8)

Pabundu Tika. (2005). Metode Penelitian Geografi. Jakarta: Bumi Aksara

Prayoga Adhitama. 2010. Kajian Empiris Anak Jalanan Kota Yogyakarta Program studi Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Laporan Penelitian: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Singarimbun & Sofyan Effendi. (1995). Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3S Soetomo Kartoatmodjo. (2001). Efektifitas Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui

Pendampingan Rumah Singgah. Yogyakarta: UGM

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Sumanto. (1995). Metodologi Penelitian Sosial Pendidikan.Yogyakarta: Andi offset

Suwandari. (2000). Kehidupan Anak Jalanan Studi Kasus Anak Jalanan Pasar Induk Kramat Jati Jakarta. Yogyakarta: Pasca Sarjana UNY.

Theresita L. Silva. (1996). Mobilitas Masyarakat Bagi Perlindungan dan Rehabilitas Anak-anak Jalanan. Yogyakarta: Makalah Konferensi Internasional tentang Anak Jalanan

Yumantoko.( http://yumantoko.blogspot.com/2009/12/kondisi-geografis-kota-yogyakarta.html. Diakses tanggal 6 Agustus 2012

Referensi

Dokumen terkait

yang diselesaikan secara gotong royong, kami mengusahakan diselsesaikan bersama guna memperoleh hasil yang memuaskan dan maksimal. Dalam melaksanakan koordinasi

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah dapat menggunakan tahun sampel yang lebih panjang dan terbaru sehingga dapat mengambil kesimpulan yang lebih baik mengenai pengaruh

Berdasarkan analisis mean kajian faktor yang dipertimbangkan kontraktor dalam memilih subkontraktor diperoleh kesimpulan wilayah Yogyakarta, Semarang, dan Surakarta,

Sebagai upaya memberikan masukan dalam rangka mengoptimalkan upaya pemerintah dalam mengembangkan objek wisata pantai guna menunjang Pendapatan Asli Daerah, maka

Pada sikap penggunaan yang ditunjukan oleh pengguna Agoda, keputusan tepat mendapatkan skor paling rendah diantara lima indikator lainnya, meskipun keputusan tepat

Proses penerimaan mahasiswa baru menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan kriteria yang ditetapkan manajemen STP guna memperoleh

Pengaruh harga terhadap keputusan menginap adalah positif yang berarti semakin sesuai harga dengan harapan konsumen maka akan semakin tinggi keputusan konsumen untuk menginap pada POP!.

Bagi Subjek Bagi dewasa awal yang bekerja, penelitian ini dapat menjadi acuan dalam mengatasi beragam permasalahan dalam masa perkembangan dewasa awal/emerging adulthood yang sering