EDITORIAL
Penasehat : Ketua STIKes Prima
Pengarah :
1. Ketua HAKLI Provinsi Jambi 2. Ketua IAKMI Provinsi Jambi 3. Puket I STIKes Prima 4. Puket II STIKes Prima 5. Puket III STIKes Prima 6. Ketua Program Studi IKM Prima
7. Ketua Program Studi D-IV Bidan Pendidik Prima 8. Ketua Program Studi D-III Kebidanan
9. Direktur Akademi Keperawatan Prima
Penanggung Jawab :
Sekretaris LPPM STIKes Prima Jambi
Mitra Bestari :
1. Dr. Pantun Bukit, SE., MSi 2. Dr. Sukarno, M.Pdi
3. dr. I. Nyoman Ehrich Lister, M.Kes, AIFM 4. dr. Adrianto Ghazali, M.Kes
5. Marinawati Ginting, SKM., M.Kes 6. Didik Suryadi, SKM., M.Kes 7. Herlina Harahap, S.Kep., Ns., M.Kes 8. V.A Irmayanti Harahap, SKM., M.Biomed 9. Dody Izhar, SKM, M.Kes
10. Chrismis Novalinda Ginting, S.SiT, M.Kes 11. Erni Girsang, SKM, M.Kes
Editor/Editing :
1. Sakinah Dewi, S.Kep., M.Kes
2. Sondang Selviana Silitonga, S.Kep., Ns., M.Kes 3. Listautin, S.Kep., M.Kes
4. Norliana Karo-Karo, SST 5. Nia Nurziah, SKM
6. Erna Simanjuntak, SKM, M.Kes 7. Ns. Ridarti Sitorus, S.Kep 8. Saut Siagian, S.T 9. Johanes Ginting, SKM 10. K. Klemens, SKM
Dewan Redaksi :
1. Pimpinan Redaksi : Erris Siregar, SKM, M.PH. 2. Redaktur : Marta Butar-Butar, SKM 3. Sekretaris Redaksi : Resli Siregar, S.Kep., Ns
Alamat Redaksi :
Lembaga Penelitian dan Pengadian Kepada Masyarakat
Kampus STIKes Prima Gedung D Lt.1
Jl. Raden Wijaya Rt.35 Kebun Kopi Thehok Kecamatan Jambi Selatan Telp/Fax : 0741 – 445963/445964 Email : [email protected] Website : www.stikesprima-jambi.ac.id Pengantar Redaksi Salam hangat,
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga SCIENTIA JOURNAL STIKes PRIMA JAMBI Vol.4 No.04 Edisi Maret 2016 telah dapat diterbitkan. Penantian yang panjang untuk terkumpulnya naskah ilmiah sebagai materi utama terbitan kita. Untuk itu penelitian ilmiah di lingkup STIKes PRIMA JAMBI harus lebih kita gerakkan sebagai salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kepada penulis yang telah mempercayakan kepada kami untuk menerbitkan karyanya kami mengucapkan terima kasih.
Untuk edisi kali ini kami sajikan beberapa karya ilmiah dari bidang kebidanan, Bidan pendidik, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat. Selain itu juga turut menampilkan karya ilmiah dari dosen pengajar dari beberapa sekolah dan akademi kesehatan lain. Akhir kata, maju terus dan selamat berkarya.
Semoga Bermanfaat.
Salam Sehat,
SCIENTIA JOURNAL
DAFTAR ISI
1. HUBUNGAN FAKTOR MAKANAN TERHADAP KEJADIAN KAMBUH ULANG ASMA PADA PENDERITA ASMA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI TAHUN 2015
Lidya Kurniasari... 299 2. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PENCAPAIAN ASI EKSKLUSIF
PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS KONI KOTA JAMBI TAHUN 2015
Lismawati... 305 3. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUANG KEBIDANAN RSUD
RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI TAHUN 2015
Nia Nurzia... 310 4. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS PASIEN POLI UMUM DI RUMAH SAKIT RIMBO
MEDICA MENGGUNAKAN PHP DAN MySQL
Ade Oktarino... 317 5. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERNIKAHAN DINI DI KELURAHAN SIMPANG TUAN
KECAMATAN MENDAHARA ULU TANJUNG JABUNG TIMUR TAHUN 2015
Irmayanti Harahap... 323 6. HUBUNGAN GILIRAN KERJA DENGAN KELUHAN SUBJEKTIF PADA PERAWAT DI RSUD RADEN MATTAHER
JAMBI TAHUN 2015
Hamdani... 330 7. EVALUASI KERJA PROGRAM CWSHP DENGAN PENDEKATAN CUMMUNITY LEAD TOTAL SANITATION
(CLTS) TERHADAP PENINGKATAN JAMBAN KELUARGA DI DESA PENEGAH KECAMATAN PELAWAN KABUPATEN SAROLANGUN
Putri Sahara Harahap... 333 8. HUBUNGAN PENGETAHUAN, MOTIVASI IBU DAN PENDAPATAN KELUARGA DENGAN PENCEGAHAN
PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAYO SELINCAH KOTA JAMBI TAHUN 2015
Marinawati... 338 9. HUBUNGAN PERAN KELUARGA, STATUS EKONOMI DAN PENYAKIT INFEKSI TERHADAP STATUS GIZI
BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAAL V KOTA JAMBI TAHUN 2015
Erris Siregar... 343 10. FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RENDAHNYA KUNJUNGAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS
TALANG BAKUNG KOTA JAMBI TAHUN 2015
Rosa Riya... 351 11. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KEKAMBUHAN ULANG
KEJADIAN ISPA PADA BALITA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS JEMBATAN MAS KABUPATEN BATANGHARI PROVINSI JAMBI TAHUN 2015
Margareta Pratiwi………... 366 12. ANALISIS ANCAMAN KEAMANAN PADA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DI RUMAH SAKIT RIMBO
MEDICA JAMBI 2015
Volume 4 | No. 4 | Maret 2016 ISSN 2302 - 9862
SCIENTIA JOURNAL
13. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI PENDERITA TB PARU TENTANG PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT TB DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEBUN HANDIL KOTA JAMBI TAHUN 2015
Dewi Riastawaty... 376 14. HUBUNGAN KUALITAS TIDUR TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN
INTERNASIONAL PEKANBARU TAHUN 2016
Andriani... 383 15. HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA DENGAN KEJADIAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI LEMBAGA
PEMASYARAKATAN ANAK KELAS II B PEKANBARU TAHUN 2015
Dewinny Septalia Dale... 391 16. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (KTD) DENGAN
PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMA NEGERI 1 DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA
Devi Arista…... 396 17. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI TAHUN 2013
Sri Mulyati... 402 18. ANALISIS SPERMATOZOA PADA PRIA INFERTIL DI KLINIK DR. MUHAMMAD YUSUF, SPOG. KFER. D.MAS
PEKANBARU PADA TAHUN 2011
Rika Sri Wahyuni... 412 19. EFEKTIVITAS JAHE UNTUK MENURUNKAN MUAL MUNTAH PADA KEHAMILAN TRIMESTER I DI
KELURAHAN SUKA KARYA KECAMATAN KOTA BARU
HUBUNGAN FAKTOR MAKANAN TERHADAP KEJADIAN KAMBUH ULANG ASMA PADA PENDERITA ASMA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI TAHUN 2015
Lidya Kurniasari
STIKes Prima Program Studi D IV Kebidanan
Korespondensi penulis : [email protected] ABSTRAK
Asma merupakan penyakit paru dengan karakteristik obstruksi saluran nafas yang reversible. Obstruksi saluran nafas ini memberikan gejala asma seperti batuk, mengi dan sesak nafas. Penyempitan saluran napas ini dapat terjadi secara bertahap, perlahan-lahan dan bahkan menetap dengan pengobatan tetapi dapat pula terjadi secara mendadak, sehingga menimbulkan kesulitan bernapas akut. Tahun 2014 jumlah pasien penderita asma yang datang ke Puskesmas Olak kemang sebanyak 1392 penderita.
Tujuan penelitian untuk mengetahuinya Hubungan Faktor makanan terhadap kejadian kambuh Ulang Asma Pada Penderita Asma Di Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi Tahun 2015. Penelitian Deskriptif Analitik ini dengan pendekatan Desain Penelitian Cross Sectional, dan teknik pengambilan sampel adalah dengan teknik Total Sampling. Sampel yang digunakan sebanyak 95 orang penderita asma yang diambil di Wilayah kerja Puskesmas. Data diperoleh dengan kuesioner di analisis secara Univariat dan Bivariat menggunakan Chi-Square.
Berdasarkan Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara Faktor Makanan terhadap kejadian kambuh ulang asma (p-value= 0,014). Yang beresiko terhadap faktor makanan 75 (78,9%) dan yang mengalami kambuh ulang 73 (76,8).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor makanan berpengaruh terhadap kejadian kambuh ulang asma pada penderita asma. Diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat bagi seluruh masyarakat Di wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang, yaitu untuk mendapatkan informasi tentang faktor yang mempengaruhi kambuh ulang asma.
Kata kunci : Asma Bronkial, Faktor Makanan, Kambuh Ulang Asma.
RELATIONSHIP DIETARY FACTORS ASSOCIATED WITH RECURRENT ASTHMA IN PUSKESMAS OLAK KEMANG IN JAMBI CITY 2015
ABSTRACT
Asthma is lung disease charaeterized by reversible airway obstruction the airway obstruction make a asthma symptoms such as cough, wheezing, and hard to breath. Asthma effects the airway constriction which call with asthma attacks. However, the asthma attacks could be gradually, slowly or severe and happend in suddenly. In 2014 there are 1392 people who come to Puskesmas Olak Kemang in Jambi because of asthma attacks.
This research is aim to Find Relationship Dietary Factors Associated with recurrent asthma in Puskesmas Olak Kemang in Jambi city 2015.the method used in this research is Descritive analytic with croos sectional design approach. The sample is taking by using total sampling the simple is 95 people which in taken from patient who get asthma in Puskesmas Olak Kemang in Jambi. Data obtained by filling a questionaire as a collect tool then analysis by univariate and bivariate using chi-square.
Based on analysis that shows there is a relationship between dietary factors with recurrent asthma (p-value=0,014) with dietary risk factors 75(78,9%) and people who have recurrent asthma 73(76,8%). Finally from this research we can get the conclusion that there is a relationship between diestary factors with recurrent asthma in patient with asthma. Hopefully ,this research can give benefit to the people especially the community around Puskesmas Olak Kemang to get information about the factors which can contribute to recurrent asthma.
HUBUNGAN FAKTOR MAKANAN TERHADAP KEJADIAN KAMBUH ULANG ASMA PADA PENDERITA ASMA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI TAHUN 2015
300
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 PENDAHULUAN
Penyakit asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Insidensi, prevalensi dan keparahan asma semuanya meningkat, dengan asma pada usia anak-anak menjadi lebih sering dijumpai, estimasi mengenai hal ini bervariasi karena angka insidennya akan meningkat, tetapi selama lima belas tahun anngka tahunan yang tercatat menunjukkan kasus baru telah meningkat sebanyak 70%. Saat ini asma tercatat sebagai penyakit kronik tersering pada anak-anak, dengan estimasi prevalensi antara 8-14% (Francis, 2008).
Asma merupakan penyakit paru dengan karakteristik obstruksi saluran nafas yang reversible. Obstruksi saluran nafas ini memberikan gejala asma seperti batuk, mengi dan sesak nafas. Penyempitan saluran napas ini dapat terjadi secara bertahap, perlahan-lahan dan bahkan menetap dengan pengobatan tetapi dapat pula terjadi secara mendadak, sehingga menimbulkan kesulitan bernapas akut (Sudoyo, 2009).
Adapun faktor penyebab asma kekambuhan asma adalah latihan berlebih atau alergi terhadap binatang berbulu, debu, jamur, polusi, asap rokok, infeksi virus, asap, parfum, jenis makanan tertentu ( terutama zat yang ditambahkan kedalam makanan ) dan perubahan cepat suhu ruangan (Astuti, 2010).
Kekambuhan penyakit asma bronkial dapat diatasi dengan melakukan pencegahan dengan Penghindaran terhadap makanan-makanan yang mempunyai tingkat alergi tinggi. Orang tua terutama ibu dianjurkan tidak merokok untuk mencegah infeksi saluran napas. Tindakan pencegahan pada anak yang telah terkena, misalnya dengan menghindarkan factor pencetus, alergen makanan, bahan yang dihirup, bahan iritan, infeksi virus/bacterial, hindari latihan fisik berat, perubahan cuaca dan emosi sebagai factor pencetus. Penggunaan obat-obatan untuk mengurangi serangan asma (Fadhli, 2010).
Alergi pada makanan tertentu sangat umum pada penderita asma. Sistem pencernaan menyerap partikel-partikel protein penyebab alergi dalam
jumlah besar. Namun alergi makanan ini juga umumya akan hilang ketika beranjak dewasa. Bahan makanan yang dapat menyababkan serangan asma seperti susu, gandum, kedelai, telur, kacang-kacangan dan ikan. Sehingga perlu dibiasakan membaca label kemasan makanan (Hadibroto, 2006).
Adapun komplikasi yang dapat ditimbulkan bila tidak ditangani, dapat timbul penyakit lain seperti : stenosis trakea, karsinoma bronkus, poliarteritis nodosa. Adapun komplikasi asma yaitu Pneumothorak, Pneumodiastinum dan emfisema subkutis, Atelektasis, Aspergilosis bronkopulmoner alergik, Gagal napas, Bronkitis, Fraktur iga. (Sudoyo, 2009).
Global Initiative For Asthma (GINA)
memperkirakan bahwa hampir 300 juta orang diseluruh dunia menderita asma. Pada sepuluh tahun terakhir, telah terjadi peningkatan tajam insiden asma di afrika selatan dan negara-negara di Eropa Timur,termasuk kawasan Baltik, terutama pada anak dan geriatri. Meskipun demikian, data ini mungkin tidak valid, data yang sudah di standarisasi masih belum ditemukan di banyak negara lainnya di Afrika, Asia dan Amerika selatan serta beberapa data di beberapa negara barat mungkin sudah lama. Selain itu, juga ada data yang memberi kesan bahwa apabila suatu negara pola hidupnya semakin mengikut budaya barat, maka insidensi asma akan meningkat, data ini akan membuat para peneliti membuat hipotesi bahwa prevalensi asma dapat meningkat secara global dengan penambahan 100 juta orang yang di diagnosis asma pada tahun 2025 ( Clark, 2013).
Di seluruh dunia, terjadi 180.000 kematian akibat asma setiap tahunnya. WHO melaporkan sebagian besar kematian akibat asma terjadi di negara dengan pendapatan rendah dan rendah-menengah. Angka kematian asma di seluruh dunia mengalami kenaikan sejak tahun 1980an (Clark, 2013 ).
Menurut data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2007 di berbagai propinsi di Indonesia, asma menduduki urutan kelima dari sepuluh penyebab kesakitan (morbiditas)
bersama-sama dengan Odem paru, bronkopneumononia, bronkitis kronik, emfisema, Asma. Bronkitis kronik, dan emfisema sebagai penyebab kematian (mortalitas) keempat di Indonesia atau sebesar 5,6%. Lalu, dilaporkan prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13 per 1.000 penduduk. Sedangkan Penelitian multisenter di beberapa pusat pendidikan di Indonesia mengenai prevalensi asma pada anak usia 13-14 tahun menghasilkan angka prevalensi di Palembang 7,4%; di Jakarta 5,7%; dan di Bandung 6,7% ( Depkes RI, 2007 ).
penyakit yang disebabkan oleh tubuh adalah Gen yang ada di tubuh kita. Gen ini menunjukkan sifat bawaan seseorang. Artinya, penyakit yang ada di tubuhnya, ada dengan sendirinya karena bawaan. Maksud dari bawaan tersebut adalah penyakit asma yang diderita seseorang, ia bawa dari orangtuanya. Ini berarti menunjukkan bahwa penyebab
penyakit asma dari dalam tubuh
merupakan keturunan atau penyakit bawaan. Memang sudah banyak kasus terjadi dimana seorang anak lahir dengan membawa penyakit asma dari salah satu orangtuanya.Untuk itu, perlu bagi semua orangtua untuk memperhatikan penyakit-penyakit apa saja yang ada pada dirinya. Kemudian berusaha sebisa mungkin untuk menyembuhkannya (Mario, 2015 ).
Prevalensi penyakit alergi semakin meningkat. Manifestasi pertama dan tersering dari Atopic march adalah DA, yang bila tidak diatasi secara tepat akan berlanjut menjadi rinitis alergika atau asma sebesar 80%. Dermatitis atopik umumnya berhubungan dengan reaksi alergi yang diperantarai immunoglobulin E (IgE) terutama alergi makanan, namun masih banyak perdebatan mengenai hal ini. Prevalensi alergi makanan pada pasien DA berkisar antara 33%-63% (Pediantri, 2011).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi pada bulan Mei Tahun 2015 kasus lama asma bronkial 95 kasus dan baru 34 kasus.
Berdasarkan dari fenomena diatas penulis tertarik meneliti tentang “Hubungan Faktor makanan terhadap kejadian Kambuh Ulang Asma Pada
Penderita Asma di Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi tahun 2015”.
Tujuan dari penelitian ini untuk diketahuinya Hubungan Faktor makanan Terhadap Kejadian Kambuh Ulang Asma di Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi tahun 2015 .
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif Analitik dengan menggunakan metode cross sectional untuk mengetahui Hubungan Faktor makanan terhadap kejadian Kambuh Ulang Asma pada penderita asma di Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi tahun 2015. Populasi penelitian ini yaitu seluruh penderita asma bronkial sebanyak 95 orang dengan teknik pengambilan Total sampling sebanyak 95 orang. Penelitian ini dilakukan Tanggal 12 - 15 di Wilayah kerja Puskesmas Olak kemang Kota Jambi dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2015. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat.
Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian Deskriptif analitik
dengan menggunakan rancangan
studi cross sectional. Pendekatan ini
bersifat sesaat pada waktu tertentu
dan tidak diikuti secara terus menerus
dalam
kurun waktu tertentu.
(
notoatmodjo, 2010)
HUBUNGAN FAKTOR MAKANAN TERHADAP KEJADIAN KAMBUH ULANG ASMA PADA PENDERITA ASMA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI TAHUN 2015
302
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% beresiko tidak beresiko HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden Tabel 1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karateristik Responden
Penderita Asma DiWilayah Kerja Puskesma Olak Kemang Kota Jambi
Tahun 2015
Berdasarkan tabel diatas karateristik Responden 95 Responden Penderita Asma Di Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi, jenis kelamin laki-laki sebanyak 49 orang dan perempuan sebanyak 46 orang dan Umur dari Usia 15 – 75 Tahun responden yang diteliti.
Analisis Univariat
Gambaran antara faktor makanan dengan kambuh ulang asma pada penderita asma
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap responden 95 orang tentang pertanyaan faktor makanan terbagi menjadi 2 kategori, yaitu tidak beresiko dan beresiko, untuk melihat distribusi responden berdasarkan faktor makanan dapat dilihat pada tabel berikut :
Grafik 2.
Distribusi Frekuensi Responden Penderita Asma Berdasarkan Konsumsi Makanan Di Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi
tahun 2015
Berdasarkan grafik diatas dari responden penderita Asma yang mengkonsumsi susu kaleng 56 (58,9%) responden yang beresiko susu kaleng, yang tidak beresiko susu kaleng 39 (41,1%) responden. Responden yang beresiko makanan laut 73 (76,8%) responden, 22 (23,2%) responden tidak beresiko dengan makanan laut. Responden yang beresiko minuman soda 64 (67,4%) responden, 31 (32,6%) responden tidak beresiko oleh minuman bersoda. Responden yang beresiko mengkonsumsi telor 66 (69,5%) responden, 29 (30,5%) responden tidak beresiko mengkonsumsi telor. Responden yang beresiko dengan kacang-kacangan 81 (85,3%) responden, 14 (14,7%) responden yang tidak beresiko dengan Karateristik responden Jumlah Laki-laki 49 orang Perempuan 46 orang Umur 15- 75 tahun
76.80%
23.20% 0.00%
50.00% 100.00%
kambuh tidak kambuh
kacang-kacangan. Responden yang beresiko dengan makanan kemasan(instan) 62 (65,3%) responden,
responden yang tidak beresiko kacang-kacangan yaitu 33 (34,7%) responden
.
Gambaran kambuh ulang asma pada penderita asma di wilayah kerja puskemas Olak kemang tahun 2015
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 95 responden tentang pertanyaan kambuh ulang terbagi menjadi 2 kategori yaitu kambuh asma dengan tidak kambuh. Untuk melihat distribusi responden berdasarkan pertanyaan dapat dilihat pada tabel berikut :
Grafik .3
Distribusi frekuensi Kambuh Ulang Asma Pada Penderita Asma di
Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang tahun 2015
Berdasarkan grafik diatas diketahui dari 95 responden 73 (76,4%) responden mengalami kambuh ulang asma bronkial sedangkan 22 (23,2%) responden tidak mengalami kambuh ulang asma bronkial.
Analisis Bivariat
Hubungan antara faktor makanan terhadap kejadian kambuh ulang asma pada penderita asma
Hasil analisis Hubungan antara faktor makanan terhadap kejadian kambuh ulang asma pada penderita asma dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2 Hubungan antara faktor makanan terhadap kejadian kambuh ulang asma pada penderita asma di wilayah kerja puskesmas Olak Kemang tahun 2015 (n: 95)
Faktor makanan
Asma bronchial Jumlah P-Valu e Kambuh Tidak kambuh ml ml ml ,014 Beresiko 3 0,7 2 9,3 5 00 Tidak beresiko 0 00,0 0 00 Jumlah 3 6,8 2 3,2 5 00
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil analisis Hubungan antara faktor makanan terhadap kejadian kambuh ulang asma pada penderita asma diperoleh hasil uji statistik nilai P value= 0,014, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada p-value <0,05 ada hubungan yang signifikan antara faktor makanan dengan kejadian kambuh ulang asma pada penderita asma.
Upaya untuk mencegah menyebab kambuh ulang asma adalah memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan pada penderita asma agar menghindari faktor makanan yang menyebabkan kambuh ulang asma dengan memberikan brosur, pamflet ataupun penyuluhan terhadap faktor makanan.
Faktor lain yang menyebabkan kambuh ulang asma Menurut Hadibroto (2006), adalah sebagai berikut;Perubahan cuaca dan suhu udara; Penderita asma tidak bisa menghindari perubahan cuaca atau suhu udara menjadi dingin secara mendadak, termasuk ruangan ber AC yang disetel sangat dingin; Polusi udara polusi udara bisa berasal dari asap pabrik, bengkel, pembakaran sisa atau sampah industry;Asap rokok adalah alergen yang kuat. Asap tangan kedua telah terbukti sangat memici timbulnya gejala asma; Infeksi saluran pernapas Kadang-kadang infeksi bisa menjadi pemicu asma. Infeksi sinusi adalah salah satunya; Stress dan kecemasan dapat memicu terjadinya serangan asma; Olahraga yang berlebihan; Penderita asma tidak harus terhambat dalam kegiatan olehraga selama problemnya dapat diatasi; Alergen
HUBUNGAN FAKTOR MAKANAN TERHADAP KEJADIAN KAMBUH ULANG ASMA PADA PENDERITA ASMA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI TAHUN 2015
304
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 yang dihirup sekitar 75-80% penderita
asma golongan muda adalah karena alergi terhadap inhalan ini.
Faktor makanan (Bahan makanan) Zat yang menimbulkan reaksi alergi dinamakan alergen, yang dapat masuk kedalam tubuh melalui makanan dan minuman, hirupan, suntikan, atau tempelan. Contoh alergen yang berupa makanan yaitu susu, telur, kacang-kacangan, coklat, dan ikan laut.
Menurut asumsi peneliti, bahwa responden yang mempunyai asma bronkial yang beresiko terhadap faktor makanan memiliki resiko besar terhadap kejadian kambuh ulang asma, dibandingkan dengan responden yang tidak beresiko terhadap faktor makanan. Apa bila salah satu respoden beresiko terhadap faktor makanan akan berakibat lebih berbahaya asma yang kambuh ulang akan semakin parah dan semakin mengalami kambuh yang berulang.
SIMPULAN
Sebagian besar responden penderita asma bronkial yang beresiko terhadap Faktor Makanan sebanyak 75 (78,9%) responden penderita asma bronkial di Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi tahun 2015; Sebagian besar responden yang mengalami kambuh ulang asma sebanyak 73 (76,8%) responden penderita asma bronkial di Wilayah Puskesmas Olak Kemang kota Jambi tahun 2015; Adanya hubungan yang bermakna antara Faktor Makanan terhadap kejadian kambuh ulang Asma padapenderita asma di wilayah kerja puskesmas olak Kemang
(p-value=0,014).
DAFTAR PUSTAKA
Astuti. (2010). Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Nuha Medika
Clark, Margaret Varnell (2013). Asma . Jakarta : EGC.
Depkes RI (2007). PHARMACEUTICAL
CARE UNTUK PENYAKIT ASMA http://binfar.kemkes.go.id/v2/wpc ontent/uploads/2014/02/PC_ASM A.pdf diakses 23 juni 2015
Fadhli, Aulia. (2010). Buku Pintar
Kesehatan Anak. Yogyakarta:
Pustaka Anggrek.
Hadibroto, Iwan. (2006). Asma. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. francis (2008). Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta:Rineka cipta
Sudoyo., (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid 1, Jakarta:Interna
publishing
Mario, (2015). Ilmu penyakit dalam. Jakarta : rineka cipta
Notoatmodjo (2010). Metodologi penelitian
kesehatan. Jakarta : rikena cipta.
Pediantri, (2011) diagnosisi dan
tatalaksana asma bronkial.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PENCAPAIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS KONI KOTA JAMBI TAHUN 2015
DESERIPTION MOTHER’S KNOWLEDGE AND FAMILY SUPPORT TO ACHIEVE OF EXCLUSIVE BREASTFEEDING IN INFANTS AGED 6-12 MONTHS IN PUSKESMAS KONI IN JAMBI CITY 2015
Lismawati
STIKEs Prima Program Studi DIV Kebidanan Korespondesi Penulis :[email protected] ABSTRAK
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, menunjukkan pemberian ASI di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Persentase bayi yang menyusu eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya 15,3%. ASI eksklusif diberikan pada bayi dari usia 0-6 bulan, namun pemberian ASI pun tetap boleh diberikan sampai usia 1 tahun, tetapi pemberian ASI tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan oleh para ibu. Hal ini disebabkan kesadaran dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah. Padahal tidak ada yang bisa menandingi kualitas ASI bahkan susu formula sekalipun
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Koni Kota Jambi. Waktu penelitian telah dilakukan pada tanggal 29 Juni s/d 2 Juli tahun 2015. Populasi dalam penelitian ini ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan sebanyak 162 orang dan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Sampel diambil secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan cara pengisian kuesioner. Analisis dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan pencapaian ASI Eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi dengan nilai p value 0,004. Adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan pencapaian ASI Eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi nilai p value 0,021.
Diharapkan petugas kesehatan khususnya bidan untuk terus melakukan promosi dan poster dalam memberikan penyuluhan tentang pencapaian ASI eksklusif menjelaskan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti agar responden dapat memahami dengan baik dan mengajak keluarga untuk berperan aktif dalam memberikan informasi dan membantu ibu dalam memberikan ASI Eksklusif. Petugas kesehatan melakukan melakukan seminar serta diskusi dalam membahas pencapaian ASI eksklusif bersama ibu yang memiliki bayi dan keluarganya.
Kata Kunci : Pengetahuan, Dukungan Keluarga, Pemberian ASI
ABSTRACT
Based on health rescarch data base (rikesdas) in 2010, showed that breast feeding in indonesia not good eneigh or not as expeeted the percentage of brlast feeding babies only 15,3%.exclusive breastfeeding shruld be done for babies since 0-6 month old for minimum age but may also be given until the babies get 1 years old or more, despite of that not all the mothers want to give brlast feeding to their boby. This problem due to lack of awarenessabout the importance of breast, feeding, whereas the quality of breast milk is much better than baby formula.
The method used in this reseach is analytie with cros seection approach. This research conducted in puskesmas koni in jambi city 2015, in 29 of june thru 2 of july 2015. Population in this research are 162 people and they are all the mothers who have babies with age 6-12 month and the sample are 23 people. The sample is taking by using purposive sampling. Data obtained by filling a questionaire as a colleet tool. The analysis of the research are using univariate and bivariate
As the result ahows there is conneetion between mother’s lenowledge to achieve of exclusive breastfeeding in infant aged 0-6 months with p-value 0,004.and there is also the connection between family support to achieve of exclusive breastfeeding in infants aged 0-6 month in puskesmas koni of jambi city 2015
Therefore we suqqest to all health workers specially midwifes to provide information and coinseling about the inportance of breast feeding for their babies by using understandable languange and also help and motvated them to do it. Moreover,it might help to by making seminars or discussions in small group of family who have children uder 1 years old
Keywords : Knowledge, family role, to achieve of exclusive breastfeeding in infants aged 6-12 months
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PENCAPAIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS KONI KOTA JAMBI TAHUN 2015
306
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 STIKES PRIMA JAMBI
PENDAHULUAN
Air Susu Ibu (ASI) merupakan jenis makanan awal terbaik bagi bayi. Jika ibu memutuskan memberikan ASI pada bayi sungguh hal tersebut sangat tepat, karena ternyata seluruh fungsi zat gizi yang dibutuhkan bayi sudah terdapat pada ASI. Segala zat gizi terkandung dalam komposisi yang tepat. Selain itu, kualitasnya pun tidak tertandingi oleh susu formula mana pun (Eveline dan Djamaludin, 2010).
Pada puncak peringatan pekan ASI sedunia, bahwa kesadaran masyarakat memberikan ASI kepada bayinya menunjukkan grafik yang meningkat. Sepanjang tahun 2004-2008 cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat dari 59.9% menjadi 62.2%. namun setelah itu grafik tidak mengalami peningkatan bahkan cenderung mengalami penurunan (Maryunani, 2012)
Pemberian ASI sejak lahir akan menjamin seorang bayi berkembang menjadi anak yang cerdas, karena kandungan asam lemak omega 3 dan omega 6 yang terkandung di dalam ASI sangat berperan dalam penyusunan sel-sel otak. Namun pada kenyataannya rasio jumlah ibu yang tidak dapat menyusui bayinya dibandingkan dengan yang dapat menyusui sangat kecil, artinya hampir semua ibu dapat menyusui bayinya dengan baik. Walaupun begitu dukungan dari seluruh anggota keluarga sangat diperlukan agar ibu dapat menyusui bayinya secara penuh (Khomson, 2008).
Kendala yang sering menjadi alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif, yaitu produksi ASI kurang, ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar, ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi), bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding
(pemberian air gula/dekstrosa, susu formula pada hari-hari pertama kelahiran), kelainan ibu: puting ibu lecet, puting ibu luka, payudara bengkak, engorgement, mastitis dan abses, ibu hamil lagi padahal masih menyusui, dan ibu bekerja (Partiwi, 2009).
Oleh sebab itu, ibu sangat dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi secara eksklusif selama 6 bulan pertama. ASI terbukti memiliki bakteri yang
menguntungkan dan zat-zat yang dibutuhkan oleh bayi untuk membentuk mikroflora usus yang penting untuk sistem daya tahan tubuh bayi. Bayi yang disusui eksklusif selama 6 bulan memiliki daya perlindungan yang lebih tinggi terhadap penyakit infeksi dibandingan bayi dengan ASI eksklusif selama 6 bulan (Mulyani, 2013).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dan dukungan keluarga terhadap pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi tahun 2015. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Koni Kota Jambi. Waktu penelitian telah dilakukan pada tanggal 29 Juni s/d 2 Juli tahun 2015. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 162 orang dan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Sampel diambil secara
purposive sampling yaitu pengambilan
sampel berdasarkan pertimbangan peneliti saat melakukan penelitian. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah ibu memiliki bayi usia 6-12 bulan yang berkunjung ke Puskesmas Koni Kota Jambi pada saat penelitian, bisa membaca dan menulis serta dapat diajak berkomunikasi dan kooperatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan cara pengisian kuesioner. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat yaitu menyederhanakan data dalam bentuk frekuensi tabel ataupun diagram dan menghubungkan antara variabel independen dan variabel dependen.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengetahuan responden tentang pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi ada 3 kategori yaitu pengetahuan baik, cukup dan kurang baik. Kategori pengetahuan baik diperoleh jika cut of
point ≥ 76% total skor atau responden
dapat menjawab pertanyaan tentang pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan dengan benar sebanyak 8-10 pertanyaan, dikategorikan pengetahuan
cukup bila cut of point 56-75% total skor atau menjawab pertanyaan tentang pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan dengan benar 6-7 pertanyaan dan dikategorikan pengetahuan kurang baik bila cut of point < 56% total skor atau menjawab pertanyaan tentang pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan dengan benar < 6 pertanyaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut :
Diagram 1. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Tentang Pencapaian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia 6-12 Bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi Tahun 2015
Sumber : Data primer terolah tahun 2015
Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 32 responden yang telah diteliti mengenai pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi, terdapat sebanyak 7 responden (21,9%) memiliki pengetahuan baik, sebanyak 15 responden (46,9%) memiliki pengetahuan cukup dan sebanyak 10 responden (31,3%) memiliki pengetahuan kurang baik tentang pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan.
Hal ini berarti rendahnya pengetahuan responden dikarenakan oleh kurangnya sumber informasi dan pengalaman diri sendiri dan orang lain. Responden pada umumnya belum tahu dan belum memahami dengan baik tentang pencapaian ASI Eksklusif. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya informasi yang diperoleh tentang pencapaian ASI Eksklusif dikarenakan kurangnya petugas kesehatan yang memberikan penyuluhan ataupun kesadaran dan minat yang masih rendah untuk mencari tambahan informasi
dalam rangka meningkatkan pengetahuannya.
Penelitian yang dilakukan sejalan dengan penelitian Sartika (2012) mengenai hubungan pengetahuan dan motivasi ibu tentang pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Puskesmas Rumbai Bukit, menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan dengan p-value 0.014.
Upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan responden tentang pencapaian ASI Eksklusif adalah dilakukannya pendidikan kesehatan mengenai pencapaian ASI Eksklusif, menjelaskan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti agar responden dapat memahami dengan baik dan juga dengan cara memberikan leaflet, brosur, dan kegiatan promotif lainnya seperti melakukan diskusi bersama responden.
Selain itu diharapkan responden untuk aktif mencari informasi tentang pencapaian ASI Eksklusif agar menambah pengetahuan responden yang kurang baik. Jika hanya pasif saja, maka akan berdampak kurang baik pada tingkat pengetahuan mereka. Bagi responden yang telah mempunyai pengetahuan yang baik, harus selalu dipertahankan dan diingat informasi yang telah diberikan
Sebelumnya, agar responden memahami dengan baik tentang permasalahan pencapaian ASI Eksklusif.
Hasil penelitian berdasarkan dukungan keluarga terhadap pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi ada 2 kategori yaitu dukungan keluarga baik dan kurang baik. Kategori dukungan keluarga baik diperoleh bila cut of point ≥ mean dan dikategorikan dukungan keluarga kurang baik bila cut of point < mean. Hasil nilai mean adalah 7,09. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut:
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PENCAPAIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS KONI KOTA JAMBI TAHUN 2015
308
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 STIKES PRIMA JAMBI
Diagram .2 Distribusi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga Terhadap Pencapaian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia 6-12 Bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi Tahun 2015
Sumber : Data primer terolah tahun 2015
Hasil analisis, dari 32 responden yang telah diteliti mengenai dukungan keluarga terhadap pencapaian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi, yaitu sebanyak 13 responden (40,6%) memiliki dukungan keluarga baik dan sebanyak 19 responden (59,4%) memiliki dukungan keluarga kurang baik.
Penelitian yang telah dilakukan sejalan dengan penelitian Indira (2010) mengenai hubungan pengetahuan ibu dan peran keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Mergangsan Kota Jawa Barat tahun 2010, menunjukkan bahwa adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI Eksklusif dengan p-value 0.009.
Hal ini dikarenakan keluarga belum memahami dengan baik tentang pencapaian ASI Eksklusif dan belum pernah diberikan penyuluhan kesehatan oleh petugas kesehatan mengenai pencapaian ASI Eksklusif. Padahal dengan adanya dukungan keluarga, maka responden dapat rutin memberikan ASI secara eksklusif. Jika hanya sasaran pada responden saja yang selalu diberi informasi, sementara keluarga kurang pembinaan dan pendekatan, keluarga kadang kurang mendukung dalam memberikan ASI eksklusif karena faktor ketidaktahuan dan tidak ada komunikasi untuk saling memberikan pengetahuan..
Upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan dukungan keluarga mengenai pencapaian ASI Eksklusif yaitu dengan diberikan pendidikan kesehatan berkaitan dengan motivasi dari intrinsik dan ekstrinsik dalam pencapaian ASI Eksklusif dengan cara memberikan pengetahuan dan menanamkan nilai-nilai serta persepsi positif. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan leaflet dan informasi seperti spanduk dalam upaya memberikan pengetahuan secara luas agar terbentuk sikap yang positif dan memotivasi keluarga untuk membantu responden dalam pencapaian ASI Eksklusif.
Hasil analisis hubungan dukungan keluarga dengan pencapaian ASI Eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel .1 Analisa Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Pencapaian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia 6-12 Bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi Tahun 2015
Dukunga n Keluarga ASI Eksklusif Total P-value Tidak Tercapai Terca pai % Kurang Baik Baik 6 4,2 8,5 5,8 6 1,5 9 3 00 00 0,0 21 Total 1 5,6 1 4,4 2 00
59.4
%
40.6
%
Dari hasil uji statistik chi-square diperoleh nilai p value 0,021 (p<0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan pencapaian ASI Eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Koni Kota Jambi.
SIMPULAN
Dari 32 responden Sebagian besar pengetahuan responden terdapat pengetahuan baik 7 ( 21, 9% ) mempunyai pengetahuan cukup 15 (46, 9% ) mempunyai pengetahuan kurang baik 10 ( 31, 3) tentang pencapaian ASI Eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan; dari 32 responden sebagian besar dukungan keluarga baik 13(40,6%), dukungan keluarga kurang 19(59,4%) tentang pencapaian ASI Ekslusif pada bayi usia 6-12 bulan; Adanya hubungan antara pengetahuan dan dukungan keluarga ibu dengan pencapaian ASI Eksklusif Pada bayi 6-12 bulan;
DAFTAR PUSTAKA
Eveline & Djamaludin, 2010. Panduan
Pintar Merawat Bayi dan Balita.
Penerbit Wahyu Media. Jakarta.
Khomson, Ali, 2008. 50 Menu Sehat Untuk
Tumbuh Kembang Anak Usia 6-24 Bulan. Penerbit Agro Media.
Jakarta.
Maryunani, Anik, 2012. Ilmu Kesehatan
Anak Dalam Kebidanan. Penerbit
Trans Info Media. Jakarta.
Maryunani, Anik, 2012. Inisiasi Menyusu
Dini, ASI Ekslusif dan Manajemen Laktasi. Penerbit CV. Trans Info
Media. Jakarta.
Mulyani, Nina Siti, 2013. ASI dan
Pedoman Ibu Menyusui. Penerbit Nuha
Medika. Yogyakarta.
Partiwi, Ayu Nyoman & Jeanne Purnawati, 2009. Kendala Pemberian ASI
eksklusif. Dalam
http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp? q=201057102916 (diakses tanggal 07 Februari 2015)
Sutomo & Anggraini, D, 2010. Makanan
Sehat Pendamping ASI. Penerbit
Demedia Pustaka. Jakarta.
Widjaja, 2010. Gizi tepat Untuk
Perkembangan Otak dan Kesehatan Balita. Penerbit Kawan
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUANG KEBIDANAN RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI TAHUN 2015
310
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 STIKES PRIMA JAMBI
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUANG KEBIDANAN RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI TAHUN 2015 Nia Nurzia
STIKes Prima Jambi Program Studi D III Kebidanan Korespondensi penulis : [email protected] ABSTRAK
Menurut Survey Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) Survey yang dilakukan pada tahun 2007, angka kematian ibu AKI di Indonesia sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, Angka kematian ibu di provinsi Lampung pada tahun 2006 tercatat 134 kasus per 100.000 kelahiran hidup dengan komplikasi obstetric, sedangkan di kota Metro tercatat 38 orang per 2.768 kelahiran hidup, dimana penyebab kematian tersebut adalah perdarahan antepartum yaitu plasenta previa.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan retrospektif untuk mengetahui hubungan usia dan paritas ibu dengan kejadian plasenta previa diruang kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2015. Desain penelitian case control. Populasinya adalah seluruh ibu hamil yang mengalami plasenta previa, Sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. dengan perbandingan 1:1 Penelitian ini menggunakan analisa data secara univariat dan bivariat.
Hasil penelitian didapat usia beresiko (69,7%) dan yang tidak beresiko (30,3%). Sedangkan pada paritas yang beresiko (73,7%). dan paritas tidak beresiko (26,3%). Berdasarkan hasil analisis dengan uji chi-square usia memiliki hubungan terhadap kejadian
plasenta previa dengan p-value 0,000 dengan memilki nilai (OR) 11,167 ibu yang
mempunyai usia beresiko memilki peluang yang bermakna yaitu 11,167 kali untuk mengalami Plasenta Previa dan ada hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa dengan p-value 0,000 dengan nilai (OR) 4,800 ibu yang mempunyai paritas beresiko memiliki peluang yang bermakna yaitu 4,800 Kali untuk mengalami plasenta previa.
Perlu adanya peningkatan kesehatan khususnya dalam pemberian pelayanan di RSUD Raden Mattaher Jambi dalam penanganan kejadian plasenta previa dengan optimal serta dapat mendeteksi faktor resiko dan pencegahan terhadap kejadian plasenta previa.
Kata kunci : Plasenta Previa, Usia, Paritas. ABSTRACT
According to Survey Demografi and kesehatan Indonesia (SDKI) based on a Survey condocted in 2007, mothers mortality rate in indonsia amounted to 228/100.000 life births. Mothers mortality rate in lampung in 2006 was note up to 134 cases per 100.000 lif births with obstetric complications, whereas in Metro City there were 38 people of 2.768 life births, wich causes by antepartum haemorrhage, that is Plasnta Prvia.
This mthod of this research is analitycal rescarch with retrospective approach to find out the relation of monther’s age and parity with plasenta previa case in obstetrics ward of RSUD Raden Mattaher in Jambi 2015. Design of this research is case control. Population of this rearch are the entire of pregnant who got Plasenta Previa, and sampling was dohe by total sampling, with ratio 1:1 data were analyzed using univariate and bivariate.
From the result of this research w got risky age (69,7%) and age were not at risk (30,3%). Whereas risky parity (73,7%) and parity werenot at risk (26,3%). Based on result of Chi-square test, age has a connection between parity and Plasenta Previa cas with P-valu 0,000 with OR value were obcaind at 4,800, which means mothers with risky parity 4,800 time likely to get Plasenta Previa.
RSUD Raden Mattaher Jambi has to improve their ability in handling Plasenta Previa case optimally, and also to detecting risk factors and prevention of Plasenta Previa case. Keywords : Plasenta Previa (Age and Parity).
PENDAHULUAN
Menurut Survey Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) Survey yang dilakukan pada tahun 2007, angka kematian ibu AKI di Indonesia sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, meskipun demikian angka tersebut masih terhitung tertinggi di Negara bagian asia. Sementara target yang telah diteteapkan oleh rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) ada sebesar 226/100.000 kelahiran hidup (Diakses selasa 07 April 2015. Safitri, 2013).
Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Provinsi jambi Tahun 2014, AKI di provinsi jambi pada tahun 2010 adalah 228/100.000 KH. Dimana penyebab terbesar AKI di provinsi jambi pada tahun 2013 adalah 40% disebabkan oleh perdarahan. Sedangkan pada tahun 2014 penyebab kematian ibu di provinsi jambi adalah 34% disebabkan perdarahan.
Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan terutama adalah perdarahan. Pada sebuah laporan oleh chikaki, dkk disebutkan perdarahan obstetric yang sampai menyebabkan kematian maternal terdiri atas solusio plasenta 19%, koagulopati 14%, robekan jalan lahir termasuk rupture uteri 16%, plasenta previa 7% dan plasenta akreta atau inkreta dan perkreta 6% dan atonia uteri (Prawirohardjo, 2008). Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta dan tidak terlampau sulit untuk menentukannya adalah plasenta previa. Plasenta previa ditemukan kira-kira dengan frekuensi 0,3 – 0,6% dari seluruh persalinan.
Kejadian plasenta previa meningkat dikarenakan kehamilan dengan umur dan paritas ibu yang berisiko. Umur yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun jika dilihat dari paritasnya, yang paling aman untuk kehamilan dan paritas 2-3, sedangakan paritas 1 atau paritas lebih dari 3
mempunyai angka kematian ibu yang lebih tinggi. Karena hal ini pada usia yang kurang dari 20 tahun rahim belum sempurna terutama pada lapisan endometriumnya, dan pada usia diatas 35 tahun keadaan rahim (endometrium) sudah mulai kurang subur. Dan pada paritas 1 ibu biasanya masih takut dan cemas dalam menghadapi kehamilan dan persalinan, sedangkan pada paritas tinggi akan membuat uterus menjadi teggang, sehingga dapat menyebabkan kelainan letak janin dan plasenta previa yang akhirnya akan berpengaruh bentuk, pada proses persalinan (Prawirohardjo, 2008).
Rumah Sakit Raden Mattaher (RSUD) merupakan Rumah sakit Rujukan di provinsi jambi, dan dari hasil Survey awal yang peneliti lakukan pada tahun 2013 angka kejadian plasenta previa di ruang kebidanan sebanyak 71 orang, sedangkan pada tahun 2014 kejadian plasenta previa mengalami peningkatan menjadi 76 orang dalam setahun.
Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan usia dan paritas ibu dengan kejadian plasenta previa di ruang kebidanan RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi tahun 2015.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik mengunakan desain case control dengan pendekatan retrospektif. Penelitian ini dilakukan di Ruang Kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2014. Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 13 juli – 03 agustus 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mengalami plasenta previa yang berjumlah 76 ibu. Sedangkan sampel penelitian ini diambil dengan
metode total sampling dengan
perbandingan 1 : 1 yaitu 76 ibu (yang mengalami plasenta previa) dan 76 ibu (yang tidak mengalami plasenta previa. Penelitian ini menggunakan analisa data secara univariat dan bivariat (Arikunto, 2010).
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUANG KEBIDANAN RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI TAHUN 2015
312
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 STIKES PRIMA JAMBI
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1 Distribusi responden Berdasarkan Usia Ibu dengan Kejadian Plasenta Previa Dan tidak Plasenta Previa Diruang Kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2015
Usia Kejadian plasenta previa Total Kasus Kontrol
Plasenta Previa
Tidak Plasenta Previa
% N % n Berisiko <20 dan >35 tahun 3 69,7 13 17,1 66 3,4 Tidak Berisiko 20-30 tahun 3 30,3 63 82,9 86 6,6 Jumlah 6 100 76 100 152 00 Berdasarkan tabel 1 dalam
kelompok kasus menunjukan bahwa dari 76 ibu terdapat 53 ibu (69,7%) dengan usia beresiko <20 tahun dan >35 tahun dan 23 ibu (30,3%) dengan usia tidak beresiko 20 tahun – 35 tahun yang mengalami plasenta previa. Sedangkan pada kelompok kontrol menunjukan bahwa dari 76 ibu terdapat 13 ibu (17,1%) dengan usia beresiko dan 63 ibu (82,9%) dengan usia tidak beresiko yang tidak mengalami plasenta previa. Dari jumlah keseluruhan kelompok kasus dan kelompok kontrol menunjukan bahwa dari 152 ibu yang mengalami plasenta previa dan tidak mengalami plasenta previa di ruang kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi terdapat 66 ibu (43,4%) dengan usia beresiko dan 84 ibu (56,6%) dengan usia tidak beresiko. Hasil penelitian diatas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dian Rosiana Aryanti di RSUD Sragen Tahun 2008 Menunjukkan bahwa dari sampel yang diteliti usia ibu hamil > 35 tahun lebih banyak mengalami plasenta previa dibandingkan usia ibu hamil 20-35 tahun. Dari 22 kasus plasenta previa terjadi 15 kasus (68,2%) terjadi pada ibu hamil dengan usia < 35 tahun dan 7 Kasus (31,8%) terjadi pada usia ibu hamil 20-35 tahun.
Bahwa usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun karena kematian ibu pada usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35
tahun. Hal ini dikarenakan pada wanita usia kurang dari 20 tahun seringkali secara emosional dan fisik belum matang. Pendidikan pada umumnya rendah masih tergantung pada orang lain dan otot reproduksi belum matur sehingga tidak memiliki system transfer plasenta seefisien wanita dewasa. Sedangkan pada wanita yang usia lebih dari 35 tahun meskipun mereka lebih berpengalaman tetapi kondisi badannnya serta kesehatannya sudah mulai menurun sehingga dapat mempengaruhi janin intra uteri (Prawirohardjo, 2006).
Begitu juga menurut statistik bahwa usia yang paling menguntungkan bagi wanita untuk hamil adalah antar dua puluh lima tahun, karena masalah yang muncul lebih sedikit dibanding jika wanita hamil di usia belasan lebih dari tiga puluh lima atau empat puluh. Hal ini dikarenakan jika hamil pada usia belasan tahun remaja masih dalam masa pertumbuhan dan mempunyai kebutuhan yang lebih besar untuk sebagian nutrisi. Sehingga perlu makan dengan baik sewaktu hamil untuk mempertahankan pertumbuhan diri dan makanan untuk janin.
Sedangkan wanita yang hamil diatas usia tiga puluh lima tahun menghadapi resiko yang lebih besar untuk mengalami masalah medis seperti tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, masalah pada pertumbuhan janin atau
kelainan keturunan, masalah plasenta dan komplikasi persalinan. Hal ini di karenakan makin lama hidup seorang wanita, makin besar kemungkinan ia terpajan praktik-praktik kesehatan yang kurang baik. Selain
itu gaya hidup atau pekerjaan yang menimbulkan stress yang umumnya dialami pada wanita usia beresiko, sehingga dapat meningkatkan komplikasi kehamilan
Tabel 2 Distribusi responden Berdasarkan Usia Ibu dengan Kejadian Plasenta Previa Dan tidak Plasenta Previa Diruang Kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2015
Paritas Kejadian plasenta previa Total Kasus Kontrol
Plasenta Previa Tidak Plasenta Previa n % N % n % Beresiko 1 dan >3 56 73,7 28 36,6 84 55,3 Tidak beresiko 2 dan 3 20 26,3 48 63,2 68 44,7 Jumlah 76 100 76 100 152 100
Berdasarkan
tabel 2 dalamkelompok kasus menunjukan bahwa dari 76 ibu terdapat 56 ibu (73,7%) dengan paritas beresiko 1 atau >3 dan 20 ibu (26,3%) dengan paritas tidak beresiko 2 dan 3 yang mengalami plasenta previa. Sedangkan pada kelompok kontrol menunjukan bahwa dari 76 ibu terdapat 28 ibu (36,6%) dengan paritas beresiko dan 48 ibu (63,2%) dengan paritas tidak beresiko yang tidak mengalami plasenta previa. Dari jumlah keseluruhan kelompok kasus dan kelompok kontrol menunjukan bahwa dari 152 ibu yang mengalami plasenta previa dan tidak mengalami plasenta previa di ruang kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi terdapat 84 ibu (55,3%) dengan paritas beresiko dan 68 ibu (44,7%) dengan paritas tidak beresiko.
Hasil penelitian diatas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Amirah Umar Abdat di RSUD Dr. Moewardi Surakarta 2010. Menunjukkan bahwa dari sampel yang diteliti paritas ibu pada kejadian plasenta previa dengan primipara 30% sedangkan pada multipara 70%. Dalam penilitian ini didapatkan hasil bahwa multipara memiliki resiko 2,53 kali lebih besar untuk mengalami plasenta previa daripada wanita primipara.
Masih tingginya kejadian plasenta previa pada paritas yang tidak beresiko hal
ini menunjukkan bahwa tidak hanya paritas yang dapat menyebabkan plasenta previa tetapi ada beberapa faktor lain seperti grande multipara, primigravida tua, bekas seksio sesarea, bekas aborsi, kelainan janin, mioma uteri (Nugroho, 2011).
Paritas adalah jumlah kehamilan oleh seorang wanita. Baik yang berakhir dengan kelahiran hidup ataupun lahir mati. Banyak anak akan mempengaruhi kesehatan ibu dan anak dalam kandungan, karena paritas yang tinggi merupakan salah satu faktor resiko pada ibu hamil. Dengan meningkatnya paritas ibu sehingga ibu dapat mengalami komplikasi dalam kehamilannya. Anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang pernah tiga kali hamil atau lebih cenderung meninggal dibawah usia 5 tahun, dan mendapatkan kasus lahir mati serta memperoleh anak dengan cacat bawaan dengan usia harapan hisupnya lebih pendek yang merupakan resiko lainnya dari ibu dengan paritas lebih besar. Hal ini dapat menjelaskan bahwa setiap kehamilan akan menyebabkan kelainan-kelainan pada uterus, dalam hal ini kehamilan yang berulang-ulang menyebabkan rahim ibu tidak lagi sehat untuk kehamilan berikutnya dan pada waktu melahirkan tidak dapat dihindari adanya kerusakan pada daerah uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUANG KEBIDANAN RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI TAHUN 2015
314
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 STIKES PRIMA JAMBI
di janin dimana jumlah nutrisi akan berkurang dibandingkan pada kehamilan sebelumnya. Keadaan ini dapat
menyebabkan plasenta previa maupun kematian bayi (Tahruddin, 2012).
Tabel 3 Hubungan Usia Ibu Dengan Plasenta Previa Dan Tidak Plasenta previa Di Ruang Kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2015
Usia Kejadian plasenta previa
Total OR (95% CI) P-value Plasenta Previa Iya Tidak Plasenta Previa Tidak % % Berisiko <20 dan >35 tahun 3 6 9,7 3 7,1 6 4 3,4 11,167 (5,160-24,167) 0,000 Tidak Berisiko 20-30 tahun 3 3 0,3 3 8 2,9 6 5 6,6 Jumlah 6 00 6 00 52 00
Berdasarkan tabel 3 dan hasil analisis dengan uji chi-square diperoleh
p-value 0,000 < (0,05), artinya ada hubungan
yang signifikan antara usia ibu dengan kejadian plasenta previa. Dari analisis juga diketahui Odds Ratio (OR) 11,167 artinya ibu yang mempunyai usia berisiko (<20 dan >35 tahun) mempunyai peluang yang bermakna yaitu 11,167 kali untuk mengalami plasenta previa dibandingkan dengan usia tidak berisiko (20-35 tahun).
Hasil penelitian diatas sesuai dengan hasil peniltian yang dilakukan oleh Hesti Febrianti (2010) dengan judul hubungan usia dan paritas ibu dengan kejadian plasenta previa pada ibu hamil di ruang kebidanan Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari 74 ibu yang mengalami plasenta previa hasil uji analisis chi-square didapatkan hasil 0,000 jadi < 0,05 kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara usia ibu dengan kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulwesi Tenggara.
Hal ini menunjukkan bahwa usia mempunyai hubungan yang erat terhadap kejadia plasenta previa dengan Odds Ratio (OR) 11,167. Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya plasenta previa. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Manuaba (2008) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya plasenta previa. Tidak hanya usia ibu saja yang dapat menyebabkan
terjadinya plasenta previa tetapi juga dapat disebabkan oleh faktor lain. Faktor-faktor penyebab plasenta previa lain seperti grande multipara, primigravida tua, bekas seksio sesarea, bekas aborsi, kelainan janin, mioma uteri (Nugroho, 2011).
Usia kurang dari 20 atau lebih dari 35 tahun, rentan terjadinya berbagai penyakit. Hal ini disebebkan terjadinya perubahan pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi. Selain itu, hal ini juga diakibatkan karena tekanan darah yang meningkat seiring dengan pertambahan usia (Hafy, 2011).
Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa umur aman untuk kehamilan dan persalinan dalah 20-35 tahun. Wanita pada umur kurang dari 20 tahun mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa karena endometrium masih belum matang, dan kejadian plasenta previa juga sering terhadi pada ibu yang berumur diatas 35 tahun karena tumbuh endomterium yang kurang subur (Fauziah, 2012).
Pada penelitian ini, usia ibu berpengaruh terhadap terjadinya plasenta previa. Untuk itu sebaiknya ibu tidak hamil pada usia terlalu muda dan terlalu tua dan calon ibu sebaiknya perlu diberikan informasi tentang faktor-faktor resiko yang mempengaruhi kehamilan dan meningkatkan pemeriksaan antenatal care. Karena kesiapan seorang wanita untuk hamil atau mempunyai anak ditentukan
oleh kesiapan dalam 3 hal yaitu kesiapan fisik, kesiapan psikologi, sosial dan
ekonomi.
Tabel 4 Hubungan Paritas Ibu Dengan Plasenta Previa Dan Tidak Plasenta previa Di Ruang Kebidanan RSUD RadenMattaher Jambi Tahun 2015
Paritas Kejadian plasenta previa Total
OR (95 % CI) P-value Plasenta Previa Iya Tidak Plasenta Previa tidak % N % N % Berisiko 1 dan >3 6 73,7 28 36,6 84 55,3 4,800 (2,404-9,582) 0,000 Tidak Berisiko 2 dan 3 0 26,3 48 63,2 68 44,7 Jumlah 6 100 76 100 76 100
Berdasarkan tabel 4 dan hasil analisis dengan uji chi-square diperoleh p-value 0,000 < (0,05), artinya ada hubungan yang signifikan antara paritas ibu dengan kejadian plasenta previa. Dari analisis juga diketahui Odds Ratio (OR) 4,800 artinya ibu yang mempunyai paritas berisiko (1 atau >3) mempunyai peluang yang bermakna yaitu 4,800 kali untuk mengalami plasenta previa dibandingkan dengan paritas tidak berisiko (2 dan 3).
Begitu juga Hasil penelitian diatas sesuai dengan hasil peniltian yang dilakukan oleh Rina Zikana (2009) dengan judul hubungan usia dan paritas ibu dengan kejadian plasenta previa pada ibu hamil di ruang kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Genleng Banyuwangi. Dari 53 ibu yang mengalami plasenta previa hasil uji analisis chi-square didapatkan hasil 0,000 jadi < 0,05 kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara Paritas ibu dengan kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Umum Daerah Genleng Banyuwangi.
Hal ini menunjukkan bahwa Paritas mempunyai hubungan yang erat terhadap kejadia plasenta previa dengan Odds Ratio (OR) 4,800. Paritas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya plasenta previa. Hal ini sesuai dengan teori
yang dikemukakan oleh Manuaba (2008) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya plasenta previa. Tidak hanya Paritas ibu saja yang dapat menyebabkan terjadinya plasenta previa tetapi juga dapat disebabkan oleh faktor lain. Faktor-faktor penyebab plasenta previa lain seperti grande multipara, primigravida tua, bekas seksio sesarea, bekas aborsi, kelainan janin, mioma uteri (Nugroho, 2011).
Plasenta previa seringa terjadi pada paritas tinggi daipada paritas rendah. Plasenta previa terjadi 1,3 kali lebih sering pada ibu yang sudah beberapa kali melahirkan dari pada ibu yang baru sekali melahirkan (Primipara). Paritas 1-3 merupakan merupakan paritas paling aman bila ditinjau dari sudut kematian ibu. Paritas lebih dari 3 dapat menyebabkan angka kematian ibu lebih tinggi (Fauziah, 2012).
Menurut Tiran (2006) dalam kamus saku bidan paritas atau para adalah istilah yang digunakan untuk meyatakan wanita yang sudah melahirkan satu anak atau lebih. Paritas 2-3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan > 3 mempunyai angka kematian maternal yang lebih tinggi. Resiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetric yang lebih baik, sedangkan resiko pada paritas > 3 dapat
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUANG KEBIDANAN RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI TAHUN 2015
316
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 STIKES PRIMA JAMBI
dikurangi atau dicegah dengan program keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.
Untuk itu perlu adanya himbauan atau penyuluhan kesehatan kepada ibu hamil tentang pentingnya meningkatkan pemanfaatan pelayanan antenatal care pada saat masa kehamilan serta mengikuti program keluarga berencana agar jumlah kelahiran anak dapat dibatasi mengingat kelahiran dengan paritas tinggi memiliki resiko yang tinggi pula terhadap keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya. Selain itu, metode KB juga berfungsi agar jumlah paritas atau kehamilan dapat dikendalikan sehingga ibu hamil tidak pada paritas yang beresiko.
SIMPULAN
Dari 152 responden pada kasus yang mengalami plasenta previa memiliki usia beresiko 53 ibu (69,7%) dan pada kontrol yang tidak mengalami plasenta previa memiliki usia beresiko 13 ibu (17,1%); Dari 152 responden pada kasus yang mengalami plasenta previa memiliki paritas beresiko 56 ibu (73,7%) dan pada kontrol yang tidak mengalami plasenta previa memiliki paritas beresiko 28 ibu (36,6%); Ada hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian plasenta previa dengan p-value 0,000 dan nilai Odds Ratio (OR) 11,167 ; Ada hubungan yang bermakna antara Paritas dengan kejadian plasenta previa dengan p-value 0,000 dan nilai Odds Ratio (OR) 4,800.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2010. ProsedurPenelitian suatu pendekatan praktik.Jakarta : Rineka
Cipta.
Fauziah, Yulia. 2012. Buku Ajar Obstetrik Patologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika.
Manuaba, IBG. 2008. Gawat Darurat Obstetri Ginekologi dan Obstetri Ginekologi sosial untuk provesi bidan. Jakarta : Buku Kedokteram EGC.
Nugroho, Taufan. 2011. Buku Ajar Obstetri Untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika
Prawiroharjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Penerbit Bina Pustaka. Jakarta
Taharudin. 2012. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Kejadian Plasenta Previa. Http: // google.com (Diakses Tanggal 25 Juli 2015).
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS PASIEN POLI UMUM DI RUMAH SAKIT RIMBO MEDICA MENGGUNAKAN PHP DAN MySQL
Ade Oktarino STIKes Prima
Korespondensi Penulis : [email protected]
ABSTRAK
Pengelolaan data rekam medis merupakan salah satu komponen yang penting yang terdapat di dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Pada Rumah Sakit terdapat beberapa bagian, antara lain Poli Umum. Rekam Medis pasien pada poli umum Rumah Sakit Rimbo Medica, masih diolah secara manual seperti dengan menggunakan media kertas. Sistem ini dianggap tidak efisien lagi mengingat pesatnya perkembangan teknologi informasi dan dapat menyebabkan adanya duplikasi data rekam medis pasien yang tidak terkontrol, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan sangat besar. Tujuan dari skripsi ini untuk membangun program aplikasi rekam medis yang dapat mengakomodir proses pencatatan, penyimpanan data, juga pengaksesan data pasien yang terdahulu yang dapat digunakan untuk pelaporan data pada bagian Poli Umum di Rumah Sakit Rimbo Medica. Program aplikasi rekam medis pasien poli umum yang dibangun dapat mengefisienkan pekerjaan petugas rekam medis, serta dapat meningkatkan ketelitian, keakuratan dari data rekam medis dan juga dapat mempermudah manajemen Rumah Sakit dalam mengelola laporan yang berkaitan dengan rekam medis pasien poli umum Rumah Sakit.
Kata Kunci : Rekam Medis ABSTRACT
Management medical records is one important component found in information systems management hospital ( simrs ) .In hospitals there are some parts , among other common section .Record medical patient on common section hospital rimbo medica , is still being processed manually as with using media paper .This system is considered inefficient longer given the growth of information technology and can cause of duplicate records medical patient uncontrolled , so for error flags very large .The purpose of this skripsi to build application program record medical records can accommodate process , data storage , also accses data patients former can be used to reporting data on the common section in hospital rimbo medica. Application program record medical patient common section built can efficient the job of clerk medical record, and can improve precision, the accuracy of medical records and also to simplify management hospital in managing the report relating to record medical patient common section hospital
Keywoard : Medical Record
PENDAHULUAN
Dunia kesehatan tidak terlepas dari teknologi komputer dan teknologi informasi. Pengolahan data medik yang dahulu dilakukan secara manual saat ini dibuat menjadi otomatis dengan sistem informasi untuk mempercepat proses kerja para tenaga medis dalam memperoleh data. Pengolahan data rekam medis pasien pada beberapa Rumah Sakit masih banyak dilakukan secara manual, misalnya saja pada Rumah Sakit Rimbo Medica, rekam medis di rumah sakit ini masih diolah secara manual seperti dengan menggunakan media kertas. Pengelolaan data secara manual menggunakan media
kertas mempunyai banyak kelemahan, diantaranya selain membutuhkan waktu yang lama, dari segi keakuratannya juga kurang atau tidak akurat. Jumlah pasien yang relatif banyak per hari dan tenaga administrasi Rumah Sakit yang terbatas dapat menyebabkan adanya duplikasi data rekam medis pasien yang tidak terkontrol, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan sangat besar.
Oleh sebab itu rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan umum membutuhkan keberadaan suatu sistem informasi yang akurat dan andal, serta cukup memadai untuk meningkatkan pelayanannya kepada pasien. Sistem
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS PASIEN POLI UMUM DI RUMAH SAKIT RIMBO MEDICA MENGGUNAKAN PHP DAN MySQL
318
SCIENTIA JOURNAL Vol. 4 No. 04 Maret 2016 STIKES PRIMA JAMBI
Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) adalah sistem komputerisasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses bisnis layanan kesehatan dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara cepat, tepat dan akurat Pengelolaan data rekam medis merupakan salah satu komponen yang penting yang terdapat di dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Poli umum adalah salah satu bagian dari beberapa poli yang tersedia di Rumah Sakit. Jadi pada penelitian ini akan dibuat suatu aplikasi rekam medis pada bagian poli umum suatu Rumah Sakit dengan menggunakan aplikasi komputer.
Alat bantu yang dapat endukung adalah dengan menggunakan program komputer, salah satunya yaitu dengan menggunakan aplikasi dengan bahasa pemrograman PHP dan MySQL. Dengan bahasa pemrograman PHP dan MySQL memiliki beberapa kelebihan, diantaranya tidak terbatas pada keluaran HTML, PHP memiliki kemampuan untuk mengolah keluaran gambar, PDF dan movie flash, PHP juga dapat menhghasilkan teks seperti XHTML dan XML, serta waktu eksekusinya lebih cepat, akses database yang lebih fleksibel, dan sintaks PHP mudah dan user-friendly.
Perangkat lunak berbasis web dapat digunakan sebagai alat rekam medis pasien yakni untuk mempermudah tenaga medis dalam proses pencatatan, memasukkan data pribadi pasien, penyimpanan data, mencari kembali data yang telah disimpan, riwayat penyakit yang pernah diderita, obat-obat yang pernah dikonsumsi oleh pasien, serta gejala penyakit yang dialami pasien dan diagnosa tenaga medis. Perancangan alat rekam medis ini juga dimaksudkan untuk mengurangi penumpukan pekerjaan pihak tenaga medis dibandingkan dengan alat rekam medis yang secara manual.
METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dikarenakan data yang akan dianalisis adalah jenis data string atau dalam bentuk record dan bukan dalam bentuk matematik. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap sistem rekam medis poli umum yang sedang berjalan di Rumah Sakit Rimbo Medica, kemudian dianalisa untuk merancang sistem rekam medis poli umum yang baru berbasis komputer.
Penelitian ini juga menggunakan jenis studi kasus, yang dimana penelitian ini merupakan rancangan penelitian yang mencakup satu unit penelitian secara intensif, yaitu pasien, kelompok, atau komunitas tertentu. Penggalian atau sumber data dapat melalui wawancara dengan pihak petugas rekam medis, observasi maupun sumber data dokumen yang berhubungan tentang pemrograman PHP dan database MySQL. Keuntungan dari jenis studi kasus ini adalah pengkajian secara rinci meskipun jumlah responden sedikit, sehingga akan didapatkan gambaran satu unit subjek secara jelas.
2. Rancangan Penelitian
Prosedur penelitian tugas akhir ini dilakukan dengan beberapa tahapan pengembangan perangkat lunak yang menggunakan metode proses pengembangan air terjun (waterfall model). Alasan penggunaan metode waterfall
model dalam pembuatan sistemini yaitu
tahapan pada model ini mengambil kegiatan dasar yang digunakan dalam hampir semua pengembangan perangkat lunak, sehingga dapat mudah untuk dipahami terlebih bila hanya digunakan dalam mengembangkan perangkat lunak yang tidak begitu besar dan kompleks.
Pendekatan waterfall model ini membuat perangkat lunak yang lebih