BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Pemeriksaan kehamilan atau yang lebih sering disebut antenatal care adalah

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemeriksaan Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan atau yang lebih sering disebut antenatal care adalah pelayananan yang diberikan pada ibu hamil untuk memonitor, mendukung kesehatan ibu dan mendeteksi ibu apakah ibu hamil normal atau bermasalah. Asuhan kehamilan

(2)

ini diperlukan karena walaupun pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang di harapkan. Oleh karena itu ibu hamil dianjurkan mengunjungi dokter atau bidan sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal (Saifudin, 2001).

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan yaitu: satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga (Saifudin, 2001). Kunjungan pertama (K1) adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayananan terpadu dan komprehensif sesuai standar yang harus dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8 (Depkes RI, 2010). Kunjungan ke-4 (K4) adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai standard dan dilakukan sebagai berikut: sekali pada trimester I (kehamilan hingga 12 minggu) dan trimester ke -2 (>12-24 minggu), minimal 2 kali kontak pada trimester ke-3 dilakukan setelah minggu ke 24 sampai dengan minggu ke 36 dan sesudah minggu ke 36. Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau gangguan kehamilan. Kunjungan ini termasuk dalam K4 (Depkes RI, 2010).

2.1.1 Tujuan Asuhan Kehamilan

1. Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.

(3)

2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial ibu dan bayi.

3. Menemukan sejak dini bila ada masalah atau gangguan dan komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan.

4. Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin.

5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif berjalan normal.

6. Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal (Rukiyah, 2011).

2.1.2 Standar Asuhan Kehamilan

Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari:

1) Timbang berat badan

Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin. 2) Ukur lingkar lengan atas (LILA)

(4)

Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil berisiko kurang energy kronis (KEK). Kurang energy kronis disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) dimana LILA kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan berat lahir rendah (BBLR).

3) Ukur tekanan darah

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya hipetensi (tekanan darah 140/90 mmHG) pada kehamilan dan preeclampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria)

4) Ukur tinggi fundus uteri

Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin. Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu.

5) Hitung denyut jantung janin (DJJ)

Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin.

(5)

Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah lain.

7) Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)

Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil diskrining status imunisasi TT-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, disesuai dengan status imunisasi ibu saat ini.

8) Beri tablet tambah darah (tablet besi)

Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak kontak pertama. 9) Periksa laboratorium (rutin dan khusus)

Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:

a. Pemeriksaan golongan darah

Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.

(6)

b. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)

Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam kandungan.

c. Pemeriksaan protein dalam urin

Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria merupakan salah satu indikator terjadinya preeklampsia pada ibu hamil.

d. Pemeriksaan kadar gula darah

Ibu hamil yang dicurigai menderita diabetes mellitus harus dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir trimester ketiga).

e. Pemeriksaan darah malaria

Semua ibu hamil di daerah endemis malaria dilakukan pemeriksaan darah malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di daerah non endemis malaria dilakukan pemeriksaan darah malaria apabila ada indikasi.

(7)

f. Pemeriksaan tes sifilis

Pemeriksaan tes sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan ibu hamil yang diduga sifilis. Pemeriksaan sifilis sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada kehamilan.

g. Pemeriksaan HIV

Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV.

h. Pemeriksaan BTA

Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai menderita Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi tuberkulosis tidak mempengaruhi kesehatan janin. Selain pemeriksaan tersebut, apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya di fasilitas rujukan.

10) Tatalaksana/penanganan kasus

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standard dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani atau dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.

11) Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) efektif

(8)

a. Kesehatan ibu

Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin ke tenaga kesehatan dan menganjurkan ibu hamil agar beristirahat yang cukup selama kehamilannya (sekitar 9-10 jam per hari) dan tidak bekerja berat.

b. Perilaku hidup bersih dan sehat

Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan selama kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum makan, mandi 2 kali sehari dengan menggunakan sabun, menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur serta melakukan olah raga ringan.

c. Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan

Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama suami dalam kehamilannya. Suami, keluarga atau masyarakat perlu menyiapkan biaya persalinan, kebutuhan bayi, transportasi rujukan dan calon donor darah. Hal ini penting apabila terjadi komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

d. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan menghadapi komplikasi.

Setiap ibu hamil diperkenalkan mengenai tanda-tanda bahaya baik selama kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya perdarahan pada hamil muda maupun hamil tua, keluar cairan berbau pada jalan lahir saat nifas, dsb.

(9)

Mengenai tanda-tanda bahaya ini penting agar ibu hamil segera mancari pertolongan ke tenaga kesehatan .

e. Asupan gizi seimbang

Selama hamil ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan makanan yang yang cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini penting untuk proses tumbuh kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Misalnya ibu hamil disarankan minum tablet tambah darah secara rutin untuk mencegah anemia pada kehamilannya.

f. Gejala penyakit menular dan tidak menular

Setiap ibu hamil harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit menular (misalnya penyakit IMS, Tuberkulosis) dan penyakit tidak menular (misalnya hipertensi) karena dapat mempengaruhi pada kesehatan ibu dan janinnya.

g. Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di daerah tertentu (risiko tinggi).

Konseling HIV menjadi salah satu komponen standar dari pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ibu hamil diberikan penjelasan tentang risiko penularan HIV dari ibu ke janinnya, dan kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau tidak. Apabila ibu hamil tersebut HIV dari ibu ke janin, namun sebaliknya apabila ibu hamil tersebut HIV negatif maka diberikan bimbingan untuk tetap HIV negatif selama kehamilannya, menyusui dan seterusnya.

(10)

h. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif

Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayinya segera setelah bayi lahir karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang penting untuk kesehatan bayi. Pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berusia 6 bulan.

i. Keluarga Berencana (KB) paska persalinan

Ibu hamil diberikan pengarahan tentang pentingnya ikut KB setelah persalinan untuk menjarangkan kehamilan dan agar ibu punya waktu merawat kesehatan diri sendiri, anak, dan keluarga.

j. Imunisasi

Setiap ibu hamil harus mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) untuk mencegah bayi mengalami tetanus neonatorum.

k. Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (brain booster).

Untuk dapat meningkatkan intelegensia bayi yang akan dilahirkan, ibu hamil dianjurkan untuk memberikan stimulasi auditori dan pemenuhan nutrisi pengungkit otak (brain booster) secara bersamaan pada periode kehamilan (Depkes RI, 2010).

Pada kunjungan ulang atau setiap kunjungan bidan harus melaksanakan hal-hal berikut:

a. Menilai keadaan umum (fisik) dan psikologis ibu hamil

b. Memeriksa urine untuk tes protein dan glukosa urine atas indikasi. Bila ada kelainan, ibu dirujuk.

(11)

c. Mengukur berat badan dan lingkar lengan atas. Jika beratnya tidak bertambah, atau lingkar lengannya menunjukkan kurang gizi, beri penyuluhan tentang gizi dan rujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.Waspadai

kenaikan berat badan trimester III, jika kenaikan berat badan setiap minggu 2 kg, cek adanya edema, tekanan darah dan protein urine. Jika ditemukan

ketiga tanda tersebut, lanjutkan dengan penatalaksanaan preeklamsia.

d. Mengukur tekanan darah dengan posisi ibu hamil duduk atau berbaring dengan bantal. Letakkan tensimeter di permukaan yang datar setinggi jantungnya. Gunakan selalu ukuran manset yang sesuai. Jika tekanan darah diatas 140/90 mmHG, atau peningkatan diastole 10 mmHG/lebih sebelum kehamilan 16 minggu atau paling sedikit pada pengukuran dua kali berturut-turut dengan selisih waktu 1 jam, berarti ada selisih yang nyata dan ibu perlu dirujuk.

e. Periksa Hb pada kunjungan pertama dan pada kehamilan 20 – 30 mg atau lebih sering jika ada tanda enemia.

f. Berikan tablet zat besi minimal 90 tablet selama hamil dan diminum sehari sekali dengan air putih.

g. Menanyakan adanya tanda dan gejala PMS

h. Lakukan pemeriksaan fisik lengkap, termasuk payudara untuk persiapan menyusui.

(12)

i. Ukur Tinggi Fundus Uteri (TFU) dalam centimeter. Jika ukuran berbeda nyata dengan umur kehamilan dalam minggu, baik lebih atau kurang waspadai pertumbuhan janin dalam uterus.

j. Mendengarkan denyut jantung janin dan tanyakan pergerakan janin, rujuk jika terjadi penurunan.

k. Beri nasehat tentang cara perawatan diri selama kehamilan

l. Dengarkan keluhan dan bicarakan rencana persalinan (Bartini, 2012).

Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan sedini mungkin, segera setelah wanita merasa dirinya hamil. Kebijakan pemerintah tentang kunjungan antenatal menetapkan frekuensi kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan waktu sebagai berikut:

a. Minimal 1 (satu) kali pada trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu) b. Minimal 1 (satu) kali pada trimester kedua (> 12 – 24 minggu)

c. Minimal 2 (dua) kali pada trimester ketiga (setelah minggu 24 sampai dengan minggu ke36 dan sesudah minggu ke 36) (Prawirohardjo, 2009).

Pada setiap kali kunjungan antenatal, perlu didapatkan informasi yang sangat penting (Prawirohardjo, 2002).

a. Trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu)

1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan ibu hamil 2) Mendeteksi masalah dan menanganinya

3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisonal yang merugikan

(13)

4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi

5) Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat, dan sebagainya).

b. Trimester kedua ( > 12 – 24 minggu)

Sama seperti diatas, ditambah kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (tanya ibu tentang gejala-gejala preeklampsia, pantau tekanan darah, evaluasi edema, periksa untuk mengetahui proteinuria).

c. Trimester ketiga (setelah minggu 24 sampai 36 minggu)

Sama seperti diatas, ditambah palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.

d. Trimester ketiga (Setelah 36 minggu)

Sama seperti diatas, ditambah deteksi letak bayi yang tidak normal, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.

2.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan Antenatal Care 2.2.1 Karakteristik Ibu

Karakteristik adalah kumpulan tata nilai yang terwujud dalam suatu sistem

daya dorong yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku, yang akan ditampilkan secara mantap. Karakteristik merupakan aktualisasi diri seseorang potensi dari dalam dan internalisasi nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang melalui pendidikan,

(14)

percobaaan, pengorbanan dan pengaruh lingkungan, menjadi nilai yang intrinsik yang melandasi sikap dan perilaku.

Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa karakteristik seseorang atau masyarakat digunakan sebagai ukuran mutlak dalam penggunaan pelayanan kesehatan dan sedikit banyaknya akan berhubungan dengan umur, jenis kelamin, kelas sosial, pekerjaan, penghasilan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga, dan paritas.

A. Umur

Umur adalah lamanya orang hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun terakhir. Umur memiliki pengaruh terhadap apa yang dilakukan seorang produktif, akan tetapi mampu melakukan suatu pekerjaan dengan optimal (Manuaba, 1998). Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dengan bertambahnya umur seseorang akan mengalami perubahan aspek fisik dan psikologis (mental). Umur sangat menentukan status kesehatan ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi apabila ibu hamil berusia dibawah 20 tahun dan diatas 35. Bila kehamilan terjadi pada usia < 20 tahun > 35 tahun tentu memiliki perhatian yang serius. Hal ini dikarenakan rahim ibu sering kali belum tumbuh mencapai dewasa sehingga bahaya yang dapat terjadi antara lain bayi belum cukup umur, perdarahan dapat terjadi sebelum bayi lahir. Umur > 35 tahun pada usia tersebut mudah terjadi penyakit seperti anak cacat, persalinan macet, perdarahan dan bayi lahir dengan berat badan rendah (Prawirohardjo, 2002).

(15)

Menurut Wiknjosastro (2002), kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. Ia menyatakan bahwa kurun reproduksi sehat dikenal usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun.

B. Paritas

Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500 gram atau lebih, yang pernah dilahirkan, hidup atau mati. Bila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umur kehamilannya 24 minggu. Berdasarkan pengertian tersebut maka paritas dapat mempengaruhi kunjungan kehamilan. Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya. Sebaliknya ibu yang sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya (Wiknjosastro, 2002). Terdapat kecenderungan kesehatan Ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi (Notoatmodjo, 2011). Jumlah anak yang dilahirkan berpengaruh pada kesehatan ibu, bahwa paritas seseorang ibu akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan ibu merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi.

C. Pekerjaan

Pekerjaan merupakan aktifitas utama yang dilakukan oleh manusia dan merupakan suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang, dan sering dianggap sinonim dari profesi (Wikipedia, 2009). Lingkungan pekerjaan juga

(16)

dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak langsung (Mubarak, 2012). Perempuan yang bekerja lebih memanfaatkan pelayanan antenatal care dibandingkan ibu rumah tangga dan ibu yang tidak bekerja. Wanita yang bekerja cenderung memulai antenatal care lebih awal.

D. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain agar dapat memahami sesuatu hal. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya pengetahuan yang dimilikinya akan semakin banyak. Sebaliknya, jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, maka akan menghambat perkembangan sikap orang tersebut terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Mubarak, 2012).

Wanita yang berpendidikan tinggi cenderung mempunyai jumlah pemeriksaan kehamilan lebih baik. Wanita yang berpendidikan tinggi memulai pemeriksaan kehamilan lebih awal daripada yang berpendidikan rendah (Prawirohardjo, 2009).

2.2.2 Dukungan Suami

Suami adalah orang pertama dan utama dalam memberi dorongan kepada istri sebelum pihak lain turut memberi dorongan, dukungan dan perhatian seorang suami terhadap istri yang sedang hamil yang akan membawa dampak bagi sikap bayi (Depkes RI, 2010).

(17)

Dukungan suami pada saat kehamilan adalah segala sesuatu yang diperbuat suami dalam merespon kehamilan istrinya. Respon suami terhadap kehamilan istri yang dapat menyebabkan adanya ketenangan batin dan perasaan senang dalam istri (Depkes RI, 2010). Wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangan prianya selama hamil akan menunjukkan lebih sedikit gejala emosi dan fisik, lebih sedikit komplikasi persalinan, dan lebih mudah melakukan penyesuaian selama nifas. Suami dapat memberikan dukungan dengan mengerti dan memahami setiap perubahan yang terjadi pada istrinya, memberikan perhatian dengan penuh kasih sayang dan berusaha untuk meringankan beban kerja istri. Dukungan suami yang didapatkan calon ibu akan menimbulkan perasaan tenang, sikap positif terhadap diri sendiri dan kehamilannya, maka diharapkan ibu dapat menjaga kehamilannya dengan baik sampai saat persalinan (Depkes RI, 2010).

Menurut Rukiyah (2011) ada empat jenis dukungan yang dapat diberikan suami sebagai calon ayah antara lain :

a. Dukungan emosi yaitu suami sepenuhya memberi dukungan secara psikologis kepada istrinya dengan menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada kehamilannya serta peka terhadap kebutuhan dan perubahan emosi ibu hamil. b. Dukungan instrumental yaitu dukungan suami yang diberikan untuk

memenuhi kebutuhan fisik ibu hamil dengan bantuan keluarga lainnya.

c. Dukungan informasi yaitu dukungan suami dalam memberikan informasi yang diperolehnya mengenai kehamilan.

(18)

d. Dukungan penilaian yaitu memberikan keputusan yang tepat untuk perawatan kehamilan istrinya.

A. Bentuk Dukungan Suami terhadap Pemeriksaan Kehamilan

Saat istri hamil, ‘tugas’ seorang suami dapat dikatakan bertambah. Hal ini dikarenakan perhatian yang dibutuhkan istri dari suami menjadi ‘lebih’dari saat ia tidak hamil, yang antara lain disebabkan kondisi fisik isteri yang lebih lemah. Begitu juga kesiapan suami menyediakan makanan dengan kandungan gizi memadai yang dibutuhkan ibu hamil dan kesiapan untuk mengingatkan serta memotivasi istri untuk mengomsumsi nutrisi yang memadai merupakan tugas tambahan yang perlu dilakukan agar ibu hamil dan bayinya tetap sehat. Suami juga perlu mempersiapkan dana ekstra yang tidak sedikit, baik untuk keperluan selama kehamilan, maupun saat melahirkan, terlebih apabila kelak dibutuhkan tindakan operasi. Karenanya, sejak mengetahui istrinya hamil, suami harus segera menyisihkan dana khusus untuk keperluan ini. Sehingga, saat melahirkan, telah tersedia dana yang dibutuhkan (Saifuddin, 2006).

Menurut pendapat Suryaningsih (2007) mengatakan bahwa peran suami sangat diperlukan bagi seorang wanita hamil. Keterlibatan dan dukungan yang diberikan suami kepada kehamilan akan mempererat hubungan antara suami istri. Dukungan yang diperoleh oleh ibu hamil akan membuatnya lebih tenang dan nyaman dalam kehamilannya. Faktor yang dapat mengurangi kecemasan yang terjadi pada wanita hamil adalah adanya dukungan suami yang didapat dari suami, keluarga atau saudara lainnya, orang tua, dan mertua. Dukungan suami yang didapatkan calon ibu

(19)

akan menimbulkan perasaan tenang, sikap positif terhadap diri sendiri dan kehamilannya. Hal ini akan memberikan kehamilan yang sehat. Dukungan yang dapat diberikan oleh suami misalnya dengan mengantar ibu memeriksakan kehamilan, memenuhi keinginan ibu hamil yang mengidam, mengingatkan minum tablet besi, maupun membantu ibu melakukan kegiatan rumah tangga selama ibu hamil. Dukungan suami yang tinggi disebabkan adanya dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasional, dan penilaian yang baik yang diberikan dari suami kepada ibu hamil, yang mampu menumbuhkan terjalinnya hubungan yang baik antara keluarga dan ibu hamil dan mencegah kecemasan yang timbul akibat perubahan fisik yang mempengaruhi kondisi psikologisnya (Safarino, 2003).

Hal senada juga diutarakan oleh Harymawan (2007) bahwa dukungan suami yang sangat diharapkan oleh sang istri antara lain suami mendambakan bayi dalam kandungan istri, suami menunjukkan kebahagiaan pada kelahiran bayi, memperhatikan kesehatan istri, mengantar dan memahami istrinya, tidak menyakiti istri, berdo’a untuk keselamatan istri dan suami menunggu ketika istri dalam proses persalinan.

Hasil penelitian Djusmalizar (2011) dimana hasil analisis bivariat diperoleh bahwa dukungan suami yang baik menyebabkan kunjungan antenatal care pada ibu hamil dilakukan secara lengkap.

Menurut Kusmiati dkk (2010), dengan menemani isteri pada saat pemeriksaan kehamilan, suami akan lebih banyak mendapatkan informasi sehingga lebih siap menghadapi kehamilan dan persalinan isterinya. Selain itu isteri juga lebih merasa

(20)

aman dan nyaman diperiksa bila ditemani suaminya, karena orang yang paling penting bagi seorang wanita hamil adalah suaminya.

Menurut Kusmiati dkk (2010) ada 6 hal yang dilakukan oleh seorang suami untuk mendukung istri yang sedang hamil:

1. Memberikan perhatian

Jadilan pengamat yang aktif. Catat dan beri perhatian pada setiap perubahan yang terjadi bersama istri anda. Rasakan gerakan dan tendangan si bayi di dalam kandungan. Berbicaralah dengan bayi anda dan cobalah untuk ikut berbagi rasa dengan istri. Catatlah perkembangan janin bersama istri dan beli buku yang berisi gambar-gambar perkembangan janin. Bertanyalah kepada istri anda dengan cara yang baik dan perhatikan jawabannya. Cium dan kecuplah janin dalam kandungan istri anda seolah-olah dia telah berada dalam gendongan anda. Panggil dia dengan nama-nama yang indah, seperti sayangku, cintaku, adik kecil, atau semacamnya.

2. Dampingi istri anda

Damping istri anda setiap kali memeriksakan dirinya ke bidan atau dokter. Jangan hanya bersikap pasif di depan dokter atau bidan, bertanyalah setidaknya satu pertanyaan kepada dokter. Jangan mengkritik istri didepan orang asing (misalnya, “Kamu terlalu banyak makan, kurang minum air putih”, atau kritik-kritik lain). Kehamilan dan kelahiran adalah proses yang

(21)

alami, jadi damping istri anda, Temani istri berbelanja makanan atau keperluan dan pernak-pernik untuk bayi, meskipun anda merasa bosan dan merasa bahwa kegiatan ini bukan sesuatu yang penting.

3. Merawatnya

Usaplah perut istri anda atau “bayi dalam kandungannya”. Bantu istri untuk mengatasi gejala-gejala morning sickness (rasa pusing, mual, dan muntah yang biasa muncul saat hamil). Berilah semangat agar dia mau berjalan-jalan secara rutin atau ajaklah ia berolah raga selama setengah jam setiap hari. Walaupun tampaknya sepele, namun hal-hal ini akan semakin menguatkan cinta dan perhatian suami kepada istri.

Usulkan agar sesekali biar anda saja yang memasak ketika istri sedang lelah, atau bantulah istri untuk membersihkan rumah sehingga istri merasa dapat mengandalkan suami. Semangatnya akan bertambah sebagaimana bertambahnya cintanya kepada suami. Yakinkan bahwa istri harus makan dengan baik dan ambilkan lebih banyak air putih untuk diminum. Jadilah orang yang lemah lembut dan sabar.

4. Menjaga kesehatan bersamanya

Ketika istri sedang berusaha keras mengubah kebiasaan makannya, temanilah istri. Hentikan kebiasaan minum kopi, gantilah dengan banyak-banyak minum air putih, Jika istri terlalu banyak makan junk food, jangan membuatnya merasa salah. Berilah pengertian bahwa istri tidak sendiri, banyak orang lain yang juga berusaha untuk menghentikan kebiasaan itu. Berusahalah pulang

(22)

lebih cepat agar suami memiliki lebih banyak waktu bersamanya. JIka istri merasa jika suami tidak bisa menemaninya selama hamil, maka istri juga akan merasa kalau suami juga tidak akan mengubah sikap “cuek” suami itu saat menyambut kelahiran bayi.

5. Menemani istri

Bersiaplah menjadi teman yang aktif, siapkan musik, bacakan buku tentang teknik pijat kehamilan atau sediakan jamu dan multivitamin yang dapat membantu memperkuat kehamilan. Tunjukkan cinta suami dan bombing istri sekuat kemampuan suami: memijatnya, membantu menerangkan posisi yang bagus saat melahirkan, menceritakan cerita lucu dan menyiapkan makanan untuknya.

6. Berbelanja, berbincang, dan membuat keputusan bersama

Bersama istri, putuskan apakah akan menyusui atau memberikan susu formula pada bayi, menggunakan popok kain atau popok diaper. Jika anda merasa tidak ada yang bisa dikerjakan atau jika suami berubah pikiran, hendaknya semuanya diputuskan melalui diskusi.

B. Peran dan Keterlibatan Suami dalam Kehamilan

Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan juga produksi ASI.

Partisipasi suami yang dapat dilakukan :

(23)

2. Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri

3. Mengajak dan mengantar istri untuk memeriksa kehamilan kefasilitas kesehatan yang terdekat minimal 4 kali selama kehamilan

4. Memenuhi kebutuhan gizi bagi istrinya agar tidak terjadi anemia dan memperoleh istirahat yang cukup

5. Mempelajari gejala komplikasi pada kehamilan 6. Menyiapkan biaya melahirkan dan biaya transportasi

7. Melakukan rujukan kefasilitas yang lebih lengkap sedini mungkin Peran suami dalam kehamilan :

a. Trimester I ( masa penuh gejolak emosi )

Selama hamil, ada begitu banyak perubahan pada ibu, Yang paling menonjol adalah perubahan emosi. Itu terjadi karena kadar hormon estrogen dan progesteron didalam tubuh berubah.maka dalam keadaan seperti ini suamilah yang paling tepat untuk membantu melalui masa-masa itu.

Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester I :

1. Sering mual-mual dan muntah terutama dipagi hari karena mengalami morning sicness

2. Menjadi cepat lelah dan mudah mengantuk

3. Mungkin tiba-tiba meminta atau menginginkan sesuatu yang “aneh” atau ngidam

4. Semula tampak gembira, namun dalam beberapa detik bisa mendadak nangis tersedu-sedu, merasa tertekan dan sedih tanpa sebab yang jelas.

(24)

Yang dapat dilakukan suami :

1. Bawakan roti dan air putih atau jus buah ke tempat tidur. Sehingga, begitu istri bangun dan morning sickness mendera, keluhan yang dirasakan langsung hilang. Berkat perhatian dan kasih sayang

2. Buatlah istri merasa nyaman, sehingga dapat beristirahat dan cukup tidur 3. Penuhi keingininan yang diinginkan istri

4. Tunjukan rasa bahagia dan antusias terhadap janin dalam kandungan dengan cara mengajak janin bicara

b. Trimester II ( masa-masa bahagia)

Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester kedua :

Emosi cendrung lebih stabil dan keluhan morning sickness juga jauh berkurang, janin mulai bergerak dan istri merasa bahagia dengan kehamilannya sehingga lebih bersemangat.

Yang dapat dilakukan suami :

Tetap menunjukkan kalau suami mengerti dan memahami benar perubahan emosi yang cepat serta perasaan lebih peka yang dialaminya dan dampingi istri saat melakukan pemeriksaan kehamilan.

c. Trimester III ( takut dan cemas menghadapi persalinan ) Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester ketiga :

1. Semakin dekat persalinan biasanya dia merasa semakin takut dan cemas 2. Merasa penampilannya tidak menarik karena perubahan bentuk fisik

(25)

3. Sering mengeluh sakit, pegal, ngilu dan berbagai rasa tidak nyaman pada tubuhnya, terutama pada punggung dan panggul.

Yang dapat dilakukan suami :

1. Bantu ibu untuk mengatasi rasa cemas dan takut dalam menghadapi proses persalinan

2. Puji ibu bahwa ibu tetap cantik dan menarik

3. Bantu ibu untuk mengatasi keluhan-keluhannya (Asrinah, 2010).

C. Peran Suami dalam Mencegah atau Mengobati Komplikasi Kehamilan

Suami memainkan banyak peran kunci selama kehamilan dan persalinan serta setelah bayi lahir. Keputusan dan tindakan mereka berpengaruh terhadap kesakitan dan kesehatan, kehidupan dan kematian ibu dan bayinya.

Langkah awal yang dapat dilakukan oleh suami adalah merencanakan keluarganya. Pembatasan kelahiran dan membuat jarak kelahiran paling sedikit 2 tahun, baik untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, mengingat setiap kehamilan membawa resiko kesehatan yang potensial untuk ibu, walaupun ibu terlihat sehat dan beresiko rendah kehamilan yang tidak direncanakan sering kali menjadi berisiko karena akan membawa mereka untuk aborsi (Asrinah, 2010).

D. Hal yang Dilakukan Suami Siaga Sebelum Persalinan

Sebelum persalinan:

Siapkan kendaraan yang akan digunakan untuk ke rumah sakit bersalin. Pastikan bahan bakar cukup dan mobil dalam kondisi prima. Simpan nomor telepon taksi untuk berjaga-jaga.

(26)

a. Minta bantuan tetangga atau kerabat terdekat. Beritahu mereka hari perkiraan lahir bayi karena kemungkinan mereka bisa datang dan memberi bantuan lebih cepat. b. Delegasikan tugas Anda kepada anggota keluarga yang lain jika Anda tidak bisa

menemani istri saat bersalin. Jangan biarkan istri menghadapi persalinannya sendiri.

c. Packing barang-barang. Anda sendiri untuk menginap sewaktu menunggui isteri bersalin, kemas di back pack dan simpan back pack di bagasi mobil bersama koper isteri. Termasuk yang disiapkan adalah kamera untuk mendokumentasikan proses persalinan (Asrinah, 2010).

2.3 Landasan Teori

Kerangka teori pada penelitian ini adalah modifikasi dari beberapa landasan teori perubahan perilaku kesehatan. Green menjelaskan, perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yakni:

a) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor)

Faktor-faktor ini mencakup: pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. Untuk berperilaku kesehatan, misalnya: pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil diperlukan pengetahuan dan kesadaran ibu tersebut tentang manfaat periksa hamil, baik bagi kesehatan ibu sendiri dan janinnya. Disamping itu, kadang-kadang

(27)

kepercayaan, tradisi dan sistem nilai masyarakat juga dapat mendorong atau menghambat ibu untuk periksa hamil. Misalnya, orang hamil tidak boleh disuntik (periksa hamil termasuk memperoleh suntikan anti tetanus) karena suntikan bisa menyebabkan anak cacat. Faktor-faktor ini terutama yang positif mempermudah terwujudnya perilaku, maka sering disebut faktor pemudah. b) Faktor-faktor pemungkin (enambling factors)

Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta, dan sebagainya. Untuk berperilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung, misalnya: perilaku pemerikssan kehamilan. Ibu hamil yang mau periksa hamil tidak hanya karena ia tahu dan sadar manfaat periksa hamil saja, melainkan ibu tersebut dengan mudah harus dapat memperoleh fasilitas atau tempat periksa hamil, misalnya puskesmas, polindes, bidan praktek, ataupun rumah sakit. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung, atau faktor pemungkin.

c) Faktor-faktor penguat (reinforcing factors)

Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas

(28)

kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif, dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas, lebih-lebih para petugas kesehatan. Disamping itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. Seperti perilaku periksa hamil, serta kemudahan memperoleh fasilitas periksa hamil, juga diperlukan peraturan atau perundang-undangan yang mengharuskan ibu hamil melakukan periksa hamil.

Anderson (1974) dalam Notoatmodjo (2003), menggambarkan 3 kategori utama dalam model sistem kesehatan yang berupa model kepercayaan kesehatan (health system model) dalam pelayanan kesehatan, yakni:

1. Karakteristik predisposisi (predisposing characteristics).

Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu, yang digolongkan ke dalam 3 kelompok yakni: ciri demografi (jenis kelamin, umur), struktur sosial (tingkat pendidikan, pekerjaan, kesukuan atau ras) serta keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong proses penyembuhan penyakit.

(29)

2. Karakteristik pendukung (enabling characteristics)

Karakteristik ini mencerminkan bahwa meskipun mempunyai predisposisi untuk menggunakan pelayanan kesehatan, ia tak akan bertindak untuk menggunakannya, kecuali bila ia mampu menggunakannya. Penggunaan pelayanan kesehatan yang ada tergantung kepada kemampuan konsumen untuk membayar.

3. Karakteristik kebutuhan (need characteristics)

Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan bila faktor predisposisi dan pendukung itu ada. Karakteristik kebutuhan (need) ini dibagi menjadi 2 kategori yaitu dirasa atau preceived dan evaluated (clinical diagnosis).

(30)

2.4 Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian dan landasan teori yang dikemukakan, maka peneliti dapat merumuskan kerangka konsep penelitian ini sebagai berikut:

du

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Pemeriksaan Kehamilan Dukungan Suami 1. Dukungan informasional 2. Dukungan penilaian/penghargaan 3. Dukungan instrumental 4. Dukungan emosional Karakteristik ibu a. Usia b. Paritas c. Pendidikan d. Pekerjaan

Figur

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.1.

Kerangka Konsep Penelitian p.30

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :