Setiap Orang Bisa Jadi Humas

Teks penuh

(1)

Setiap Orang Bisa Jadi Humas

UNAIR NEWS – Everyone can be public relations (setiap orang

bisa menjadi humas). Ungkapan itu disampaikan oleh Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm., selaku alumnus program studi S-1 dan S-2 Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Kini, alumni UNAIR itu telah diberi amanah untuk mengemban tugas sebagai Kepala Unit Informasi dan Kehumasan di Universitas Brawijaya Malang. Ia sebelumnya tak pernah menduga bahwa ia akan didapuk menjadi kepala humas di universitas tersebut. Ia mengetahui jabatan baru tersebut pada prosesi pelantikan pejabat baru di institusinya. Terkait dengan jabatan kehumasan itu, ia mengatakan bahwa pada prinsipnya setiap orang adalah humas bagi dirinya sendiri.

“Bagi saya, kita semua bisa jadi PR, tetapi kita harus memastikan kita berdiri di maqam yang mana. Ketika orang sudah mengenali berbagai maqam tersebut, everyone can be PR, setidaknya untuk dirinya sendiri,” tutur Anang.

Semasa kuliah di prodi S-1 Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR, Anang mengakui bahwa dirinya bukanlah sosok mahasiswa yang berada pada puncak prestasi bidang akademik. Ia lebih tertarik untuk bergabung dengan berbagai organisasi mahasiswa. Ia pernah tercatat sebagai Wakil Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP UNAIR pada saat itu.

“Pada saat itu, saya mulai mengerti tentang pentingnya melakukan interaksi sosial dan jejaring komunikasi dengan sesama mahasiswa antarfakultas. Ketika sudah masuk ke BPM UNAIR, saya juga aktif dalam organisasi BPM lintas universitas. Waktu itu ada mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, IKIP Surabaya, dan UB. Pada waktu itu kita melakukan demonstrasi tentang pemberhentian sumbangan dana sosial berhadiah (SDSB),”

(2)

ujar Anang yang meraih indeks prestasi kumulatif sebesar 3,06 pada lulus kuliah S-1.

Walaupun ia disebut sebagai orang yang pandai beretorika pada saat mahasiswa, ia merasa bahwa dirinya merupakan seorang yang pendiam pada saat studi di bangku sekolah menengah atas. Tak jarang, temannya sedikit banyak merasa heran dengan bidang yang ditekuni Anang.

Pada semasa kuliah, ia pernah bergabung sebagai reporter di WARTA UNAIR. Pada tahun 1994 – 1995 di masa ia bergabung, tabloid bulanan WARTA UNAIR berada di bawah Airlangga University Press (AUP).

“Pasti di awal-awal edisi itu ditemukan nama saya. Direkturnya waktu itu Pak Yan Yan Cahyana. Waktu itu dengan kakak kelas S-2 di Komunikasi Bu Lestari, dari Sastra Pak Susilo. Kita bertiga garap itu semua. Terbit setiap bulan sekali. Pokoknya kita lumayan menyesuaikan dengan ritme yang penuh deadline karena kami hanya bertiga pada waktu itu,” tutur Anang yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Penyiaran Informasi Daerah Jawa Timur.

Sebagai reporter WARTA UNAIR, doktor lulusan salah satu universitas di Australia bersama rekannya memerankan fungsi kehumasan. Segala macam aktivitas, prestasi, dan pemikiran para sivitas akademika UNAIR tak luput olehnya.

Membangun reputasi

UNAIR tengah diberi target oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristke-Dikti) untuk menembus peringkat 500 besar perguruan tinggi top dunia. Sebagai salah satu alumni UNAIR yang memiliki kiprah baik, Anang mengatakan bahwa UNAIR telah memiliki banyak potensi untuk menuju ke arah sana. Namun, hal yang perlu ditingkatkan dan dijaga adalah reputasi dan komitmen.

(3)

soal perguruan tinggi kelas dunia, artinya kita berbicara reputasi dan komitmen. Untuk membangun reputasi, kita harus berbasis pada kebenaran,” tutur Anang.

Ia pun melanjutkan, ketika reputasi dan kondisi internal telah diperbaiki dan ditingkatkan, maka upaya UNAIR takkan berarti apabila publik tak mengetahui usaha tersebut.

“Ketika apa yang sudah dibangun secara bersama-sama dengan konsisten, tidak akan berarti apa-apa, kalau tidak disampaikan ke publik. Peran humas adalah perlu mendiseminasikan informasi agar publik mengetahui jungkir balik universitas dalam menjaga kualitas,” imbuh Anang. (*)

Penulis : Defrina Sukma S Editor : Nuri Hermawan

Asma, Lulusan Perdana Kelas

Internasional

FK,

Bagai

Pejuang Perintis

UNAIR NEWS – Kelas internasional Fakultas Kedokteran

Universitas Airlangga untuk pertama kali tahun 2016 ini meluluskan dokter. Dari sepuluh mahasiswa angkatan pertama, baru dua yang lulus. Dialah Asma dan Andianto Indrawan T. Mereka sudah dilantik Dekan FK bersama dengan 134 dokter baru lain dari kelas reguler.

Bagi Asma, menjadi dokter lulusan pertama kelas internasional FK UNAIR sungguh sangat membanggakan. Goresan tinta dengan Bahasa Inggris pada Ijazahnya menjadi salah satu pembeda dengan ijazah dari kelas reguler. Selain itu, “menetas” dari

(4)

angkatan pertama seperti ini merasa bagai pejuang perintis. Karena angkatan pertama, mereka tak punya kakak kelas. Tidak ada yang ngajarin baik tentang kurikulum, dosennya seperti apa, ujiannya bagaimana, dsb.

”Saya katakan demikian karena memang kurikulumnya ada bedanya. Kami bersepuluh benar-benar struggle. Dari sepuluh itu ada tiga cewek dan saya satu-satunya yang berkerudung,” kata Asma kepada UNAIR News.

Diakui ada beberapa modul kurikulum yang tidak ada di kelas reguler. Lalu karena mahasiswanya hanya sepuluh, dua diantaranya asal Malaysia, maka intensitas hubungan dosen-mahasiswa menjadi lebih intensif sehingga ada keleluasaan untuk berdialog.

”Seakan kami ini les privat,” kata Asma, yang ketika diwawancarai ini sedang mengandung hampir sembilan bulan calon buah hati pertamanya hasil pernikahannya dengan Pandu.

Tantangan lain, selain bahasa pengantarnya Bahasa Inggris, karena kurikulumnya beda maka bahan perkuliahan pun harus mencari sendiri. Dosen hanya memberi judul materinya, mahasiswa mencari sendiri. Setelah bahan didapat lalu didiskusikan secara kelompok, jadi lebih banyak diskusinya. Mereka juga intens mencatat sesuatu yang bisa dicatat sebagai bahan membuat pedoman yang kelak bisa dipakai oleh adik kelasnya di kelas internasional ini. Misalnya dengan modul ini maka harus begini. Masuk modul itu harus begitu, perlu berapa hari mendalami, tantangannya ini-itu, dsb.

”Sebagai angkatan perintis, kami sudah membuat trik-trik seperti itu agar kedepannya para adik kelas menjadi lebih baik lagi. Jadi kami sudah memikirkan jauh kedepan,” kata Asma.

Kualitas Tidak Kalah

(5)

dokter. Tak terlintas harus masuk kelas internasional. Kala itu mahasiswa ditawari dua pilihan; kelas reguler dan internasional. Tapi Asma mengisi keduanya. Karena kelas internasional diumumkan lebih dulu, dan Asma ada disana, maka ia manut saja. Apalagi modal untuk mengarunginya sudah ada yaitu skor toefl 550.

”Ada juga sih sedikit keinginan menjadi dokter global. Tetapi pertimbangannya waktu itu karena ini kelas kecil, jadi

kayaknya lebih enak, lebih terlihat oleh dosen. Jadi lebih

tertantang,” katanya.

Satu lagi yang mengesankan dari kelas global ini adalah program elektif, studi ke luar negeri selama satu bulan. Pada angkatan perdana ini memilih ke Jepang. Sepuluh mahasiswa harus memilih departemen dan universitas berbeda. Asma memilih Obstetri & Ginekologi (Obgin) pada Faculty of Medicine Osaka University. Di program elektif inilah mahasiswa mengerti dan mendapat wawasan global tentang etos kerja bangsa lain, budayanya, wawasan mereka, semangat belajarnya, dsb.

Salah satu yang membanggakan kita, kata Asma, ternyata kualitas pendidikan dokter di FK UNAIR ini sangat baik, bahkan lebih unggul dari Osaka University. Saat itu Asma belum berstatus DM (Dokter Muda). Tetapi karena hanya seorang, maka di Osaka kelasnya disatukan dengan mahasiswa DM di sana. Dalam suatu forum semua mahasiswa wajib menjawab pertanyaan professor, termasuk Asma.

”Mahasiswa Osaka heran. Lalu saya ditanya: ‘Kamu itu belum DM,

tapi kok bisa menjawab’. Disitu saya merasa bahwa kita lebih

baik. Mungkin itu karena perbedaan teksbook. Di Osaka memakai buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang, sedang FKUA

teksbook internasional berbahasa Inggris. Bahkan melihat buku

teks yang saya bawa, mereka juga bertanya: ‘Itu buku apa?’ Padahal itu kan buku pegangan utama,” kata Asma, senang.

(6)

katanya memberi saran untuk mahasiswa baru FK UNAIR. Harus belajar, berusaha dan berdoa, itu pasti untuk menjalani studi. Doa orang tua juga sangat penting.

Kepada mahasiswa FK yang sudah melewati fase per-DM-an, diingatkan bahwa menjadi dokter itu bukan hanya butuh pintar, tetapi atitude juga penting. Bagaimana membangun relasi, punya

skill untuk ngomong dengan pasien yang baik itu seperti apa,

dsb.

Intinya, menjadi mahasiswa kelas internasional FK UNAIR sungguh sangat menantang. Jumlah mahasiswanya lebih sedikit. Kakak kelasnya juga sedikit. Kendati demikian, kata Asma, benar-benar asyik karena dalam perjalanan waktu akan banyak pengetahuan yang diperoleh untuk menjadi dokter yang berkualitas. (*)

Penulis: Bambang Bes

Piyu: Musik adalah Penolong

Saya

UNAIR NEWS – Mengawali karir pada tahun 1997, Satriyo Yudi

Wahono yang akrab disapa Piyu masih terus menunjukkan taring bermusiknya. Sampai kini, setiap tahunnya, Piyu yang tenar sebagai penggawa grup musik Padi, berkomitmen untuk menghasilkan karya-karya yang memanjakan penikmat musik.

Di awal tahun 1997, Piyu bersama rekan-rekannya di Padi mulai sukses menggetarkan hati dan telinga para pendengar melalui rilisan album Lain Dunia. Lagu-lagunya, seperti “Mahadewi” dan “Begitu Indah”, tak lekang digerus masa.

(7)

Selang empat tahun, pada 2001, album Sesuatu yang Tertunda dirilis. Piyu masih saja berhasil membius pendengar musik melalui rangkaian lirik lagu dan irama musik yang tak kalah ‘menyayat’ benak sanubari. Lagu-lagunya, seperti “Kasih Tak Sampai” dan “Semua Tak Sama”, juga masih indah untuk terus dilantunkan hingga kini.

Tiga album selanjutnya, Save My Soul (2003), Padi (2005), dan

Tak Hanya Diam (2007), juga berhasil mengorbit dan meramaikan

kancah industri musik Indonesia. Di tahun 2011, kompilasi lagu-lagu grup musik Padi menjadi petanda perjalanan musik mereka berakhir.

Berakhirnya kebersamaan bukan berarti karir musik Piyu menemui ujung jalan. Ia justru kian membuktikan bahwa musik adalah jalan hidupnya.

“Buat saya, bermusik adalah salah satu tool atau jembatan yang bisa menjadi jalan hidup saya. Kenapa pengin di musik? Ya, saya nggak tahu, yang jelas saya ingin mencoba saja. Saya harus mencoba sampai entah itu berhasil atau gagal,” tutur musisi berusia 44 tahun itu.

Piyu, yang pernah menjadi mahasiswa S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis tahun angkatan 1990, benar. Ia membuktikan bahwa dirinya masih bisa eksis. Prinsipnya, tak berhenti mengeluarkan karya.

“Jadi, saya harus konsisten. Paling tidak, saya harus mengeluarkan karya setiap tahun. Entah itu buku atau film,” tutur penulis biografi “Life, Passion, Dreams, and His Legacy”.

Pada tahun 2014, ia bertanggung jawab sebagai penata musik pada film “Aku Cinta Kamu”. Tahun 2016, ia merilis album Best

Cuts of Piyu.

Dalam album terbarunya, Piyu mendaur ulang lagu-lagunya terdahulu untuk dinyanyikan para penyanyi kekinian. Album Best

(8)

Cuts of Piyu, pada Oktober 2016, mendapatkan penghargaan

Triple Platinum setelah berhasil terjual 150ribu kopi.

“Tahun 2017, masih berancang-ancang. Kemarin tanggal 1 (Agustus), saya rilis single (lagu) lagi sama Alex X-Factor. Terus saja. Bulan depan project film di SCTV. Terus akhir tahun ini, insya Allah saya produksi film Sesuatu yang Indah. Gitu aja sih prosesnya berkarya,” imbuh Piyu.

Musik adalah penolong

Ia menyadari bahwa musik telah menjadi kegemarannya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia mulai iseng bermain alat musik bersama kawan-kawannya. Duduk di bangku sekolah menengah pertama, Piyu belajar bermain gitar dan membentuk grup musik di saat dirinya berseragam putih abu-abu.

Sejak bermain gitar itulah, ia mulai belajar menciptakan lagu. Mengarang lirik-lirik puitis dan menggubahnya dengan nada-nada yang pas. Pengalaman pribadi dan daya imajinasi yang kuat menjadi kunci betapa lagu-lagunya masih diminati hingga kini. Karir bermusik lelaki kelahiran 15 Juli 1973 itu tak langsung sukses mengorbit seperti sejak dua dasawarsa lalu. Masuk kuliah di UNAIR pada tahun 1990, Piyu berhasil lulus pada tahun 1996. Sesaat sebelum lulus, Piyu merantau ke Jakarta. Ia bekerja serabutan dengan menjadi teknisi di bengkel.

“Tapi, saya nggak menghasilkan apa-apa. Saya kembali dan menyelesaikan kuliah. Saya selesaikan skripsi baru saya wisuda,” ceritanya.

Selama kuliah, Piyu juga menyibukkan diri dengan menjadi panitia acara-acara musik (event organizer). Di waktu senggang, Piyu menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya.

Setelah sempat ‘keluar’ dari jalur musik, Piyu akhirnya kembali menekuni hobinya. Ia mulai membentuk grup musik Padi

(9)

dan menelurkan karya-karya terbaiknya. Konsistensi mengeluarkan karya dan bekerja sesuai minat bakat menjadi prinsip utamanya. Ia berpikir, bagaimana caranya agar dirinya bisa menciptakan musik yang tak gampang dilupakan.

“Saya seriusin (musik) karena passion saya di sana (musik). Itu berhasil. Musik berhasil memperbaiki hidup saya. Saya nggak mau bikin lagu yang asal ngetop saja,” pungkas Piyu. Dari bermusik lah, ia berhasil membentuk grup musik Padi, lalu menjadi produser yang mengorbitkan nama-nama baru di belantika musik, menjadi penyanyi solo, mengisi latar musik dalam sebuah film maupun sinetron, hingga menulis buku. Semuanya tentang musik.

Jatuh bangun juga pernah ia rasakan. Namun, lagi-lagi, musik berhasil ‘menolong’ hidupnya.

“Musik yang memberi saya nafkah. Musik yang memberi saya rejeki. Ketika saya tinggalkan, alam semesta ini seolah menolak. Banyak sekali kegagalan. Pada saat yang bersamaan juga, musik lah yang menolong saya. Saatnya saya bergerak lagi. Saya reborn (lahir kembali),” kata penulis novel Sesuatu

Yang Indah mantap.

Meski bermusik telah memberinya asam manis dalam kehidupan dirinya, Piyu tetap ingin terus berkarya. Ayah tiga anak itu masih ingin membangun sebuah museum musik yang menceritakan tentang perjalanan karir grup musik Padi. Tak berhenti di situ. Gitaris asal Surabaya juga ingin membuat wahana bagi orang-orang yang ingin berkarya di jalur musik.

Kepada generasi muda khususnya mahasiswa UNAIR, Piyu berpesan agar mereka memiliki impian besar. Agar impian terwujud, mereka harus membuat target jangka pendek.

“Kita memang tidak tahu masa depan kita bagaimana, tapi kita punya garis-garis yang menentukan di mana posisi kita sekarang. Oh jadi ketika saya ada di sini, maka masa depan

(10)

nanti begini. Intinya, kita harus tahu lima tahun ke depan harus jadi apa,” ucap Piyu.

Penulis: Defrina Sukma S

Pianis Muda Lulusan UNAIR

Raih Sambutan Hangat Ratu

Eropa

UNAIR NEWS – Enam tahun terakhir menjadi salah satu bagian

terbaik hidup Felix Justin. Ia memilih untuk sedikit melepas ilmu obat-obatannya dan membiarkan musik klasik mengalir di tubuhnya. Felix adalah anak muda yang berani memilih untuk berkarya sesuai kegemarannya.

Felix bukan tak mencintai ilmu farmasi. Pada tahun 2003, Felix mulai berkuliah S-1 Pendidikan Apoteker selama empat tahun. Prestasi akademiknya bersinar. Ia pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga pada tahun 2005.

Selama itu, Felix merupakan mahasiswa yang tekun. Ia mengikuti kelas dari pagi sampai sore. Pulang kuliah, ia lantas menyiapkan materi-materi perkuliahan untuk keesokan harinya. Sembari berkuliah, Felix menyibukkan diri dengan organisasi. Ia bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi.

Tahun pertama dan kedua kuliahnya berhasil dilalui dengan mulus. Pada tahun ketiga hingga keempat, ia mengaku sempat ‘tergoda’ dengan kesibukan lain. Minat dan bakatnya dalam bermain piano mulai tercium pihak kampus dan eksternal. Felix

(11)

mulai banyak menerima undangan untuk unjuk kebolehan memainkan tuts-tuts berwarna hitam putih di hadapan penonton.

“Saya banyak diminta tolong untuk mengiringi paduan suara Fakultas Farmasi dan banyak juga tawaran dari luar. Selain itu, di tahun ketiga, saya juga les privat mengajar piano,” tutur Felix.

Hatinya kian terpanggil oleh musik. Namun, Felix merasa perkuliahan yang telah ia jalani harus dituntaskan. Orang tuanya bahkan sempat memberi peringatan. Felix diijinkan bermusik tetapi harus lulus kuliah tepat waktu. Mendengar itu, lelaki berkacamata itu pun langsung tancap gas untuk menyelesaikan kuliah sarjana dan meneruskan profesi. Selepas lulus dari UNAIR, musik kian membisiki dan memenuhi pikirannya. Meski menyandang gelar sarjana farmasi dan apoteker, ia mengikuti rekrutmen guru piano di sebuah lembaga kursus ternama. Felix berhasil diterima dan jabatannya dipromosikan beberapa bulan kemudian.

Mengulang kuliah di Belanda

Ketertarikannya terhadap musik beraliran klasik bertambah besar. Dengan dukungan dari orang tua, Felix membangun karir musiknya dari pendidikan musik secara formal. Felix memilih Universitas Utrecht di Belanda sebagai tempat studinya.

“Ortu (orang tua) bilang kalau saya harus kuliah lagi jika ingin menekuni musik. Saya pikir waktu itu sudah enak (bekerja), ngapain harus kuliah lagi. Akhirnya, saya belajar lagi di Utrecht untuk menambah pengetahuan akademik. Saya merasa enjoy ketika berkuliah di sana,” cerita alumnus S-1

Classical Piano Performance and Music Education Universitas

Utrecht.

Ia terus menunjukkan totalitasnya dalam bermusik. Felix tak mau kalah dengan teman-teman kuliah S-1 yang berusia jauh di bawahnya. Setiap harinya, Felix menghabiskan sepertiga harinya

(12)

guna mengasah otak kanan dan jari jemarinya dalam bermain piano. Waktu latihan ini sengaja ia sisihkan di luar jam perkuliahan.

“Kalau anak piano latihan harus tujuh sampai delapan jam per hari di luar apalagi usia saya nggak muda lagi. Pentiumnya agak terlambat,” kisahnya seraya tertawa.

Usai lulus S-1, Felix langsung melanjutkan kuliah S-2

Classical Piano Solo Performance di universitas yang sama di

tahun 2014. Di akhir kuliahnya, ia berhasil lulus dengan nilai sempurna. Sebuah penghargaan yang jarang diperoleh bagi mahasiswa di jurusan yang sama.

Kebanggaannya tak sampai di situ. Selama kuliah di Utrecht, Felix juga berhasil mendapatkan pelajaran musik dari pianis favoritnya Elisabeth Leonskaja.

Sang ratu dibuat kagum

Di kota yang terletak 43 kilometer dari Amsterdam, Felix tak hanya mengenyam pendidikan tetapi juga berhasil merengkuh pengalaman profesional dan kehidupan. Sebagai mahasiswa piano di Utrecht, ia sering mengisi konser musik yang sering diadakan di kantor pemerintahan wilayahnya.

Rutinitas mengisi konser di walikota berbuah manis di sepanjang karir bermusiknya. Penerima beasiswa Erasmus Exchange Programme tahun 2015 di Royal College of Music London itu ditawari tampil bermain piano di hadapan orang nomor satu Belanda Ratu Beatrix dan Belgia Ratu Mathilda. Keduanya merupakan penikmat musik klasik yang kebetulan berkunjung ke Utrecht di penghujung tahun 2016.

Felix sempat merasa deg-degan. Sebelum tampil, ia diajak berbincang sejenak oleh kedua ratu. Beruntungnya, percakapan pra acara itu mampu mencairkan suasana hatinya. Di panggung, Felix berhasil tampil maksimal. Alhasil, permainan jari Felix di atas tuts piano menuai raut wajah gembira dari kedua ratu.

(13)

“Saya memainkan dua lagu dan sambutan mereka sangat positif. Itu terlihat dari raut wajahnya,” cerita Felix bangga.

Tak hanya Belanda yang juga dibuat kagum oleh Felix. Beberapa bulan lalu, Felix didapuk untuk mengiringi permainan musik klasik yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif di Jakarta. Di acara Konserto Piano Ketiga, Felix menjadi pemain piano tunggal bersama Jakarta City Phillarmonic. Felix bersama Jakarta City Phillarmonic memperoleh tepukan panjang yang hangat dari penonton.

Penunjukan Felix sebagai solois piano bukan tanpa alasan. Lagu gubahan Sergei Prokofiev yang ia mainkan dalam konser tersebut serupa dengan lagu yang ia bawakan saat ujian master di Utrecht.

Setelah enam tahun menempa diri dengan pendidikan musik, kini F e l i x i n g i n t e r b a n g b e b a s . I a m a s i h i n g i n b e r b a g i kreativitasnya dalam bermusik di luar statusnya sebagai mahasiswa.

“Yang terpenting adalah membagikan musik kepada orang lain. Harapannya, orang lain bisa menikmati musik yang saya mainkan,” ujar Felix yang bulan Oktober nanti terlibat dalam konser di Amsterdam bersama penyanyi sopran Charlotte Houberg. Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Nuri Hermawan

(14)

Ahyanizzaman Sukses Jadi

Direktur BUMN

Konsisten dalam integritas. Inilah kunci yang membawa Drs. Ahyanizzaman, Ak., CA., FCMA., CGMA., sukses dalam setiap perjalanan karirnya. Alumnus S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) ini menuturkan bagaimana perjuangannya meniti karir hingga menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

”Saya menganut filosofi rumput. Walau kecil dan tidak terlihat, namun ia punya kekuatan yang luar biasa. Walau dibabat dan bibakar tapi tetap tumbuh. Dan ia juga memberikan kontribusi,” tuturnya.

Karirnya dimulai ketika sedang menjalani tugas akhir skripsi. Ketika kesibukan kuliahnya tidak terlalu banyak, ia magang di sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP). Banyak hal yang ia pelajari di sana, terutama ilmu-ilmu mengenai sistem akuntansi. Ia belajar mengontrol dan men-set-up system perusahaan. Setahun kemudian, ia masuk dan bekerja di PT Semen Gresik (Persero) Tbk, yang ia pilih lantaran lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Ahyanizzaman bukan sosok yang aktif dalam kegiatan di kampus. Ia aktif pada salah satu organisasi di luar kampus yang kemudian membuatnya banyak belajar di sana. Di dekat tempat kosnya, ia aktif mengikuti organisasi pecinta alam. Ia banyak belajar bagaimana mengelola organisasi, bekerja tim, komunikasi, dan pengalaman itu sangat membawa manfaat ketika ia memasuki dunia kerja.

Seiring perjalanan karirnya, Ahyanizzaman mengakui bahwa Bahasa Inggris adalah salah satu skill yang penting untuk dikuasai. Sebagai direktur keuangan, ia banyak menjalin hubungan dengan orang-orang luar negeri. Perusahaannya juga

(15)

memiliki partner-partner internasional, sehingga setiap kali rapat dan berbagai pertemuan juga memakai Bahasa Inggris. Ia juga harus selalu bertugas untuk meng-update informasi kepada para investor luar negeri.

PT Semen Gresik yang notabenenya merupakan perusahaan lokal mengalami perjalanan amat panjang sebelum akhirnya pada Januari 2013 resmi berganti nama menjadi PT Semen Indonesia. Perubahan ini, diakui alumni S-1 Akuntansi UNAIR ini membawa tantangan tersendiri.

“Kemampuan skill kita dituntut terus bertambah. Kuncinya kita harus punya prinsip konsisten dalam integritas. Integritas itu melakukan yang terbaik walau tidak dilihat orang. Dalam pekerjaan meski tak dilihat atasan harus dilakukan yang terbaik. Itu yang kemudian menumbuhkan kepercayaan atasan,” kata laki-laki kelahiran 6 Juli 1966 ini.

“Beberapa perusahaan semen daerah lebih tua dan punya kebanggan sendiri. Bagaimana memahamkan bahwa penyatuan itu penting. Karena dengan menyatukan, potensi peningkatan laba menjadi besar. Terbukti, ketika penyatuan mulai berjalan, itu memberikan benefit. Karena pasar semen di Jawa, besar. Kalau tidak disatukan bisa rugi. Lalu kita ubah menjadi nama ‘Semen Indonesia’ tadi,” tambah mantan Direktur Koperasi Warga Semen Gresik tahun 1996-2001 ini mengenai perubahan nama perusahaan yang diabdi.

Saat ini PT Semen Indonesia memiliki empat anak cabang yang tersebar baik di dalam negeri dan luar negeri. Empat cabang itu adalah PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, dan Thang Long Cement Company di Vietnam.

Setelah Semen Gresik berubah nama menjadi Semen Indonesia, perusahaan tersebut mulai menjadi perusahaan internasional. Ahyanizzaman bersama tim bahu-membahu membangun perusahaan di Vietnam, dari yang tadinya rugi menjadi untung. Itu juga tak lepas karena Semen Indonesia mengirim orang-orang terbaiknya

(16)

untuk terjun ke sana.

Menurut Manager Senior Akuntansi Keuangan PT Semen Gresik (Persero) Tbk (2002-2007) ini, tugas akuntan saat ini tidak terbatas sebagai tukang buku saja, tetapi harus menjadi partner strategis bagi seluruh komponen di perusahaan. Misalnya memberikan peningkatan value, mengawal perusahaan untuk punya nilai tambah dengan cara, misalnya, mengontrol biaya, pengelolaan pendanaan, komunikasi dengan para stakeholder, pemegang saham, dan mengawal bagaimana agar perusahaan berkembang.

Saat ini sudah ada perusahaan yang menawarkan untuk membuat laporan keuangan. Menurutnya, ini merupakan ancaman bagi akuntan jika tidak belajar untuk meng-upgrade kemampuan agar memiliki nilai lebih yang lain. “Seorang akuntan bisa jadi analis. Karena kalau hanya sekadar laporan bisa dikerjakan mesin,” tutur pria yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Eternit Gresik ini.

Kini, karir Ahyanizzaman bisa dibilang telah mapan. Jika

flashback ke belakang, dulu cita-citanya sederhana saja, bisa

bekerja di perusahaan, sudah cukup baginya. Namun dalam perjalanannya, banyak pihak yang mendorong agar ia bisa lebih berprestasi.

“Dulu pas awal-awal, saya berfikir jadi kepala bagian saja sudah cukup. Ternyata ada kesempatan lain. Saya juga sempat menolak jadi direktur keuangan. Namun keluarga mendukung dan mendorong saya. Alhamdulillah Tuhan memberikan jalan,” tutur ayah dari Muhammad Alfian Ramadhan, Muhammad Isro’ Nazahar, dan Muhammad Rahman Aziz ini.

Pada peringatan Dies Natalis UNAIR ke-61, mana Ahyanizzaman dinobatkan sebagai Alumni Berprestasi. Ia memiliki harapan-harapan untuk almamaternya tersebut.

“UNAIR di usia 61 jangan hanya melihat umur. Bisa saja dibilang sudah tua, tapi ada yang lebih tua lagi dan mereka

(17)

masih eksis dan memberikan value bagi mahasiswa dan lulusan. Ini adalah titik untuk lebih maju lagi kedepan. Saya kira UNAIR punya potensi besar. Tinggal bagaimana mengelolala potensi itu, sehingga potensi yang ada bisa digali untuk mencapai 500 dunia,” pungkasnya. (bin/bes)

Yon Koeswoyo dan B-Plus Band

Puaskan Reuni FH UNAIR

UNAIR NEWS – Bermalam Minggu sambil bersuka-ria, berdendang,

berjoget dan bernostalgia bersama lagu-lagu Koes Plus, sungguh menyenangkan. Ekspresi romantika itu terpancar dari ratusan alumni Fakultas Hukum dan puluhan alumni fakultas lain di Universitas Airlangga, bereuni dengan menghadirkan Yon Koeswoyo dan David Koeswoyo, dengan iringan B-Plus Band, di Garden Palace Hotel Surabaya, Sabtu (7/1) malam.

Malam melepas kangen Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Hukum (IKA-FH) UNAIR ini juga dihadiri antara lain Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh Nasih, SE., MT., Ak., CMA bersama isteri, Wakil Rektor I Prof. Joko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., PhD., FINASIM, Wakil Rektor IV Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., M.Sc., Ketua IKA-UA Drs. Ec. Haryanto Basyuni.

Diantara ratusan alumni FH UNAIR juga terdapat Dr. H. Dossy Iskandar Prasetyo, Sekjen DPP Partai Hanura dan anggota DPR/MPR RI dari dapil III Jawa Timur. Dossy, alumni FH 1982 ini hadir bersama isterinya, Yayuk S. Oetami, yang juga alumni FH dan mantan tenaga kependidikan UNAIR. Kemudian juga hadir Sekjen IKA-UA yang juga mantan Pjs. Bupati Bojonegoro Dr. Akmal Budianto, SH.

(18)

Plus menghangatkan suasana reuni FH UNAIR. Mengawali pertunjukan pukul 20.30, B-Plus Band, salah satu band pelestari lagu-lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara, menggebrak dengan lagu “Muda-Mudi”, salah satu lagu yang terkenal. Kemudian Acil (keyboard), Ferry (gitar), Ipin (bass) dan Mamen (drum) menyambung dengan enam lagu berikutnya: Oh Kasihku,

Diana, Pagi Yang Indah, Dewi Rindu, dan Mamen sebagaimana

Murry (alm) menyanyikan lagunya “Desember”.

Pada sesi berikutnya, David Yon Koeswoyo tampil. David ini putera kedua Yon dari isteri pertama, Damiana Susi (cerai). Vokalis grup putera-putera Koes Plus “Yunior” ini mengawali pentasnya dengan “Nusantara V”. Selanjutnya mengalir enam nomor berikutnya, yaitu Oh Kau Tahu (Koes Bersaudara), Tul

Jaenak, Ojo Nelongso (Pop Jawa), Oh Kasihan, Jemu, dan

mengakhiri dengan Nusantara 1 (satu).

David istirahat, ayahnya, Yon Koeswoyo, tampil. Putera keenam alm. R. Koeswoyo dan Rr. Atmini yang bernama lengkap Koesyono ini naik panggung. Laki-laki kelahiran Tuban (Jatim), 27 September 1940 ini mengawali dengan lagu Pelangi. Berikutnya menyenandungkan Why Do You Love Me. Tentu saja, lagu yang pernah meraih puncak tangga lagu di Australia selama empat minggu ini, sehingga mengalahkan Bee Gees, segera disambar penonton dengan ikut nyanyi bersama. Koor oleh hampir semua yang hadir.

(19)

YON Koeswoyo dan David didaulat untuk berfoto bersama para alumni UNAIR. (Foto: Bambang Bes)

Berikutnya membawakan nomor Buat Apa Susah dan Telaga Sunyi. Sebelum menyanyi pemain rhythm guitar Koes Plus ini selalu

menyelingi dengan kisah-kisah tentang Koes Plus dan lagu-lagunya. Ia memanggil David untuk berduet dengan lagu Ayah. Selanjutnya duet mereka melahap 15 lagu-lagu Koes Plus. Diantaranya Bus Sekolah, Bunga di Tepi Jalan, Bahagia dan

Derita (permintaan penonton), Kembali (Koes Bersaudara). Pada

nomor Andai Kau Datang Kembali, semua penonton kembali turut

koor.

”Sekarang biar David menyanyikan lagu yang pernah dipopulerkan lagi oleh Yunior: Bujangan,” kata Yon. David pun membawakannya dengan jenaka sebagaimana aransemen khas Yunior. Setelah itu meluncur pop Jawa Kontal Kantil, lalu pop Layang-layang, dan nomor paling populer yang mengisahkan kekayaan alam Indonesia:

Kolam Susu.

Duet ayah-anak ini dilanjutjkan dengan medley lagu-lagu Nusantara. Antara lain Nusantara VII, disambung Nusantara VI,

(20)

Nusantara III dan Nusantara 1. Rombongan Yon dan kawan-kawan

sebelum kembali ke Jakarta maka menyanyikan dulu lagu “Kembali

ke Jakarta” sebelum akhirnya pamitan dengan lagu langganan

Koes Plus jika mengakhiri konser: “Kapan-kapan”. “Kapan-kapan

kita bertemu lagi…” begitu antara lain syairnya.

Usai penampilan kedua bintang malam itu segera diburu para alumni yang hadir untuk diajak berfoto bersama. (*)

Penulis: Bambang Bes

Alumni FEB Bersinergi Dukung

UNAIR Jadi Perguruan Tinggi

Berkelas Dunia

UNAIR NEWS – Para alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Airlangga dari berbagai tahun angkatan melebur dalam ikatan keakraban.

Bagaimana tidak, para alumnus tersebut hadir dalam puncak acara Gala Dinner Dies Natalis ke-56 FEB UNAIR yang digelar di Empire Palace Surabaya, Jumat (11/8).

Perwakilan tahun angkatan ’85, Djoko Susanto, bercerita tentang masa-masa kuliahnya dulu. Pada saat itu, ada banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang mewadahi minat dan bakat bidang olahraga seperti liga mahasiswa sepak bola.

Di akhir prakatanya, Djoko berharap agar Ikatan Alumni FEB (IKAFE) dapat semakin erat dan berkontribusi dalam mendukung UNAIR menuju perguruan tinggi berkelas dunia.

(21)

class university (perguruan tinggi berkelas dunia),” tutur

Djoko.

Dekan FEB UNAIR Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak, mengaku merasa sedikit deg-degan ketika memberikan kata sambutan di depan para alumnus dan sivitas akademika.

“Saya belum pernah merasa deg-degan seperti ini karena kedatangan para senior, guru besar, dan alumnus. Ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis ke-56 FEB UNAIR dan kita berkumpul jadi satu dalam acara Gala Dinner,” aku Dian.

Dian menerangkan, Dies Natalis ke-56 FEB UNAIR sudah dimeriahkan dengan berbagai acara. Di antaranya adalah silaturahmi antara siswa dan guru sekolah menengah atas di FEB UNAIR, sejumlah seminar nasional dan internasional, senam pagi bersama, talkshow bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti, dan Gala Dinner.

“Kami tetap dan terus mengharapkan dukungan dari ikatan alumni untuk membangun budaya akademik khususnya menuju world class

university (perguruan tinggi berkelas dunia). Tetaplah

bersilaturrahmi dan saling mendukung,” pesan Dekan FEB UNAIR. Acara makan malam tersebut dimeriahkan oleh pemutaran profil para guru besar, pemberian penghargaan kepada dosen dan mahasiswa berprestasi, hiburan berupa musik akustik hingga penampilan dari jebolan FEB UNAIR yang juga musisi nasional, Ari Lasso.

Di sela-sela aksi panggungnya, musisi Ari Lasso yang pernah menjadi mahasiswa Program Studi S-1 Manajemen juga mendukung UNAIR untuk menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.

“Fakultas Ekonomi (sebelum berubah menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis) punya sejarah kuat dalam kehidupan saya. Kalau tidak salah, saya tadi dengar bahwa Fakultas Ekonomi dan UNAIR pengin menjadi 500 kampus terbaik di dunia. Semoga mimpi-mimpinya tercapai dan mari kita terbang tinggi seperti elang,”

(22)

ujar Ari Lasso.

Penulis: Defrina Sukma S

Reuni Akbar Alumni Farmasi,

Terapkan Falsafah Sapu Lidi

UNAIR NEWS – “Kita ini harus menerapkan falsafah sapu lidi”.

Itulah pernyataan yang dilontarkan oleh perwakilan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Airlangga (PP IKA-UA) Dr. Suko Hardjono, MS., Apt., pada saat menghadiri reuni akbar IKA Fakultas Farmasi di Semarang, Sabtu (11/3).

Di hadapan peserta alumni yang tergabung dalam Alumni Farmasi Airlangga Surabaya (ALFAS), Suko juga menjelaskan peran IKA baik di pusat, wilayah, maupun cabang. Suko meminta kepada para alumnus agar tetap menjalin hubungan baik dengan kolega lainnya, meski berbeda fakultas dan berbeda bidang keilmuan. “Lidi itu kalau cuma satu kan tidak ada gunanya, tapi ketika bersatu bisa digunakan untuk banyak hal. Nah reuni ini semoga bisa demikian, menyatukan kita untuk melakukan banyak hal. Pengurus pusat bangga dengan kekompakan ALFAS,” terangnya dalam acara yang dihadiri alumnus FF tahun 1963-2002.

Untuk menjaga dan mengembangkan jaringan antar alumni, Suko juga menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengembangkan IKA di berbagai wilayah dan cabang. Selain itu, ke depan pihaknya juga akan mengadakan kongres IKA-UA yang akan menghadirkan berbagai alumni dari lintas generasi.

“Insya Allah tanggal 15 April nanti kita akan gelar kongres IKA. Saya berharap teman-teman di daerah bisa mendukung IKA

(23)

pusat maupun wilayah masing-masing,” papar Suko yang juga pengajar FF.

Senada dengan Suko, perwakilan IKA-UA Provinsi Jawa Tengah M. Sadikin mengatakan bahwa kekompakan alumni sangat dibutuhkan. Di dalam dunia kerja, misalnya, Sadikin menjelaskan bahwa ia kerap melibatkan tenaga dan bantuan alumni diluar keilmuannya. “Di sini (jateng, red) IKA saling membantu. Kita sudah waktunya saling untuk terus sinergi. Kalau tidak, bisa kalah dengan kampus yang lain. Kita juga harus berkarya sampai mati,” terang alumnus angkatan tahun 1974 tersebut.

Selain kekompakan, ada satu hal penting yang menjadi pembahasan dalam reuni akbar lintas angkatan tersebut, yakni kas alumni. Drs. Suharno, Apt., selaku Sekretaris Jenderal IKA-FF UNAIR mengatakan bahwa keberadaan kas tidak hanya untuk kebutuhan alumni saja. Dana kas yang ada bisa digunakan untuk membantu riset mahasiswa FF yang masih studi dan juga membantu mahasiswa saat mengikuti perlombaan di luar negeri.

“Kemarin ada mahasiswa yang ke Jepang, Alhamdulillah alumni bisa membantu. Saya berharap untuk kas alumni ini tidak hanya bersumber dari iuran, tapi bisa dari usaha bersama yang kita lakukan,” tegas Suharno.

Penulis: Nuri Hermawan Editor: Defrina Sukma S

(24)

Elvira Devinamira Belajar

Kegigihan dan Ketekunan

UNAIR NEWS – Elvira Devinamira tercatat sebagai wisudawan

berprestasi Universitas Airlangga periode Juli 2017. Keberhasilannya itu merupakan akumulasi sederet prestasi yang dicapainya selama menjadi mahasiswa Ilmu Hukum sejak tahun 2010.

Elvira dinobatkan sebagai alumnus bersama dengan 1.141 wisudawan lainnya oleh Rektor UNAIR, Sabtu (15/7). Ia tak dapat menyembunyikan paras ayunya yang diselimuti senyum kebahagiaan.

“The day has finally come. This is gonna be the start of the

new chapter in my life (Hari yang ditunggu akhirnya datang.

Pencapaian ini akan menjadi awal baru dalam hidupku),” ungkap lulusan Fakultas Hukum.

Sepulang ke Indonesia, popularitasnya mencuat. Kegiatannya kian padat. Sejak menjadi Puteri Indonesia 2014, gadis bertubuh semampai ini memilih cuti selama dua tahun dan berhijrah ke Jakarta. Namun, menyelesaikan kuliah S-1 adalah sebuah keharusan.

“Di keluarga kami, aturan soal pendidikan itu penting. Mama selalu menekankan untuk bisa menyelesaikan hingga pada tingkatan sarjana yang walaupun nantinya akan kembali bekerja,” ucap penyandang gelar sarjana hukum ketika ditemui usai prosesi wisuda di Airlangga Convention Center.

Sejak tahun 2016, perempuan kelahiran 28 Juni 1993 bolak balik Jakarta-Surabaya untuk menyelesaikan kuliah dan menjalani rutinitasnya sebagai artis.

”Hampir dua kali seminggu, saya bahkan memilih first flight (penerbangan pertama) demi untuk mengejar kelas pagi. Itu

(25)

rasanya membuat saya banyak belajar akan penting kegigihan dan ketekunan,” ucap Elvira.

Namun, perempuan ini mampu membuktikan bahwa keinginannya untuk menuntaskan studi jauh lebih besar daripada rintangan yang harus ia hadapi.

“Kata orang, mendapatkan keduanya yang kita inginkan itu tidak mungkin. Namun itu tidak bagi saya. Keinginan itu bisa terwujud ketika kita teguh dan gigih untuk mendapatkannya,” tegas perempuan yang suka traveling dan bermain piano.

Pengalaman mengesankan

Pengalaman studi Elvira selama di UNAIR cukup berwarna. Ia aktif di Association Law Student in Asia (ALSA). Tahun 2012, ia berhasil mengikuti ajang Harvard National Model United

Nations di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

“Kunjungan itu merupakan kunjungan pertama saya ke Amerika Serikat dan untuk kali pertama juga mengunjungi Harvard University,” tutur Elvira kepada UNAIR News.

Duduk di samping Elvira, Rektor UNAIR Prof. Dr. Mochammad Nasih menyambut gembira atas kelulusannya.

“Sebagai mahasiswa berprestasi, kami patut bangga Elvira resmi menjadi alumnus UNAIR. Semoga UNAIR bisa terus menelurkan individu-individu yang berprestasi,” harapnya.

Selanjutnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini memaparkan bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam mengembangkan masyarakat. Menurutnya, kualitas pikiran bisa menjadi nilai tambah seseorang.

“Saya berharap ke depan Elvira bisa terus berprestasi agar bisa membanggakan keluarga hingga bangsa. Ketenaran itu jangan dikontribusikan ke hal-hal yang negatif,” pesan Rektor.

(26)

Editor: Defrina Sukma S

Personel Padi Reuni di Jogja

UNAIR NEWS – Reuni alumnus Fakultas Ekonomi (FE) jurusan Ilmu

Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) UNAIR angkatan 1993 pada 9-10 Januari di Yogyakarta berlangsung penuh warna. Mengusung tema Back in Time, berjumlah sekitar 30-an alumni melepas kangen setelah 17 tahun tak bersua. Dua personel Padi, Andi Fadly (vokal) dan Ari Tri Sosianto (gitar) yang datang langsung dari Jakarta juga membuat suasana reuni terasa lebih istimewa.

Sekitar pukul 19:30 WIB, lagu Jogjakarta membuka reuni kali pertama FE IESP 1993 yang digelar di Hotel Jambuluwuk itu. Alunan suara merdu dari band pengiring menambah suasana reuni bertambah syahdu.

’’Terima kasih buat kawan-kawan yang jauh-jauh datang untuk menyempatkan hadir di sini,’’ tutur Mukas Kuluki, panitia reuni FE IESP 1993.

(27)

Fadly dan Ari didapuk menyanyikan lagu-lagu Padi.

Setelah lagu pembuka usai, Fadly dan Ari langsung didapuk untuk tampil. Lagu-lagu bertema cinta pun mengalir dari bibir Fadly yang kini aktif di Musikmia itu. Ternyata Cinta, Begitu

Indah, Kasih Tak Sampai, Semua Tak Sama, dan beberapa lagu

yang membuat peserta reuni seakan kembali ke masa lalu.

’’Doakan Padi bisa comeback tahun ini,’’ kata Fadly yang langsung disambut tepuk tangan peserta reuni.

Selain pentolan grup Padi, hadir pula sejumlah eksekutif perusahaan, pengusaha, pejabat, hingga birokrat. Di antaranya Deputi Kepala Bank Indonesia (BI), Solo Hendik Sudaryanto;

(28)

Kacab BRI Bajawa, Dedy Hendrianto; dan Kacab Meratus Manado, Ardian Zamroni. Tak ketinggalan hadir pula Ketua Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan FEB UNAIR, Dr Wisnu Wibowo. Semakin larut, suasana reuni semakin hangat. Lagu-lagu dangdut dari band hotel membuat peserta asyik berjoget. Setelah hampir tiga jam bersenda gurau bersama, acara diakhiri dengan menyanyikan lagu Kemesraan dan Sayonara.

’’Semua peserta bergandengan tangan membentuk lingkaran. Suasananya sangat emosional,’’ imbuh Wisnu.

Reuni alumnus Fakultas Ekonomi (FE) jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) UNAIR angkatan 1993 pada 9-10 Januari di Yogyakarta.

Dari hotel, rombongan melanjutkan nongkrong di angkringan Stasiun Tugu, Yogyakarta. Sembari menikmati sego macan dan kopi joss, mereka ngobrol ngalor ngidul mengingat masa-masa indah saat kuliah. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 WIB, rombongan pun kembali ke hotel untuk beristirahat. (*)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :