” KONSEP PENDIDIKAN HUMANISTIK KI HAJAR DEWANTARA DALAM
PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM “
”SKRIPSI”
Disusun Oleh :
BAGUS WASKITO UTOMO (D01212006)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
▸ Baca selengkapnya: analisis teks biografi ki hajar dewantara
(2)(3)(4)(5)(6)
ABSTRAK
Bagus Waskito Utomo (D01212006), Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara dalam Paradigma Pendidikan Islam, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Keyword: Konsep Pendidikan Humanistik, Ki Hajar Dewantara, Paradigma Pendidikan Islam.
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah bagaimana Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara, dan bagaimana Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara dalam Paradigma Pendidikan Islam.
Pelaksanaan penelitian pada skripsi ini dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), sedangkan fokus penelitiannya adalah Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara dalam Paradigma Pendidikan Islam. Dalam pengolahan data, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Hasil analisis tentang Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara dalam Paradigma Pendidikan Islam setelah diadakan kajian penelitian menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara, memandang bahwa manusia itu lebih pada sisi kehidupan psikologinya. Menurutnya, manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Guru dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang bisa dijadikan pemimpin, di depan dapat memberi contoh keteladanan, di tengah dapat membangkitkan motivasi dan di belakang mampu memberikan pengawasan serta dorongan untuk terus maju. Prinsip pengajaran ini dikenal dengan semboyan Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Ki Hadjar memandang siswa atau peserta didik adalah manusia yang mempunyai kodratnya sendiri dan juga kebebasan dalam menentukan hidupnya. Pendidikan yang ingin dijalankan oleh Ki Hadjar Dewantara itu berorientasi pada pendidikan kerakyatan. Oleh karenanya timbullah gagasan untuk mendirikan sekolah sendiri yang akan dibina sesuai dengan cita-citanya. Untuk merealisasikan tujuannya, Ki Hadjar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa. Untuk mewujudkan gagasannya tentang pendidikan yang dicita-citakan tersebut. Ki Hadjar Dewantara menggunakan metode Among.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xii
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Rumusan Masalah ... 8
C.Manfaat Penelitian ... 8
D.Kegunaan Penelitian ... 8
E. Penelitian Terdahulu ... 10
F. Definisi Operasional ... 10
G.Metodologi Penelitian ... 14
H.Sistematika Pembahasan ... 20
BAB II KAJIAN TEORI A.Pendidikan Humanistik ... 21
1. Definisi Dan Sejarah Pendidikan Humanistik ... 21
2. Teori Humanistik Dalam Pendidikan ... 25
b. Humanistik Modern ... 30
3. Manusia Dalam Pendidikan Humanistik ... 32
4. Guru Dalam Pendidikan Humanistik ... 35
5. Siswa Dalam Pendidikan Humanistik ... 38
6. Tujuan Pendidikan Humanistik ... 40
7. Metode Pendidikan Humanistik ... 41
B.Paradigma Pendidikan Islam ... 48
1. Gambaran Umum Tentang Paradigma ... 48
2. Pandangan Ibnu Qayyim Tentang Pendidikan Islam ... 55
a. Biografi singkat Ibnu Qayyim ... 55
b. Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim ... 56
c. Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim ... 58
d. Pendidik Dan Peserta Didik Menurut Ibnu Qayyim... 61
e. Lembaga Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim ... 62
BAB III GAMBARAN UMUM DAN ANALISIS A. Biografi Ki Hajar Dewantara ... 63
1. Latar Belakang Ki Hajar Dewantara ... 63
2. Karya-Karya Ki Hajar Dewantara ... 66
3. Pemikiran Dan Karir Ki Hajar Dewantara ... 68
B. Analisis Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara Dalam Paradigma Pendidikan Islam ... 72
1. Pandangan Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Humanistik ... 73
Paradigma Pendidikan Islam ... 90
BAB IV PENUTUP
Kesimpulan ... 122
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PERNYATAAN KEABSAHAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses di dalam menemukan transformasi
baik dalam diri, maupun komunitas. Oleh sebab itu, proses pendidikan
yang benar adalah membebaskan seseorang dari berbagai kungkungan,
intimidasi, dan eksploitasi. Disinilah letak afinitas dari pedagogik, yaitu
membebaskan manusia secara komprehensif dari ikatan-ikatan yang
terdapat diluar dirinya atau dikatakan sebagai sesuatu yang mengikat
kebebasan seseorang.
Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional bahwa tujuan pendidikan Nasional yakni pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Pada dasarnya, proses pembelajaran berkaitan erat dengan empat
unsur, yaitu pendidik (guru), peserta didik (murid), materi pelajaran dan
sistem pengajaran.2
1
UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2003), 7
2
Selain itu, sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh
metode pembelajaran yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat
tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai
tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering
disebutkan cara atau metode kadang lebih penting dari pada materi itu
sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pembelajaran harus dilakukan
secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil
pendidikan dapat memuaskan.3
Pendidikan humanis memandang pendidik dan peserta didik, lebih
menekankan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Namun menurut Sulaeman,
pendidikan belum mampu mencapai titik idealnya yakni memanusiakan
manusia, yang terjadi justru sebaliknya yakni menambah rendah derajat
dan martabat manusia. Makna pendidikan yang belum terealisasikan ini
menurutnya terkait dengan situasi sosiohistoris dan kondisi lingkungan
yang melingkupinya. Seperti halnya penjajahan yang dilakukan Barat
(kaum kolonialisme) terhadap bangsa Indonesia selama berabad-abad
ternyata membawa dampak yang sangat serius terhadap pola pikir dunia
pendidikan, sehingga amat berpengaruh juga terhadap proses pendidikan
yang berlangsung.
Salah satu dampak yang paling buruk dari kolonialisme yang telah
melanda negara-negara jajahan khususnya negara Islam adalah dengan
munculnya sebuah masyarakat kelas “elit” yang lebih tepat disebut sebagai
3
3
“anak-anak yang tertipu.” Produk dari sistem pendidikan (Barat) yang
“mengagumkan” ini didesain untuk membentuk sebuah kelas yang
tercerabut dari tradisi budaya dan moralnya.4
Pandangan klasik tentang pendidikan pada umumnya dikatakan
sebagai pranata yang dapat dijalankan pada tiga fungsi sekaligus; Pertama,
menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu
dalam masyarakat dimasa depan. Kedua, mentransfer atau memindahkan
pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan, dan Ketiga,
mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan
masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan
peradaban.5
Pendidikan merupakan lokomotif yang penting dalam menggerakkan
kehidupan manusia. Baik buruknya sumber daya manusia tergantung dari
pendidikan yang diperolehnya. Maka proses pendidikan harus jelas dan
terarah. Menurut H.A.R Tilaar, proses pendidikan merupakan suatu proses
yang bertujuan. Meskipun tujuannya bukan merupakan tujuan yang
tertutup (eksklusif) tetapi tujuan yang secara terus-menerus harus terarah
kepada pemerdekaan manusia.6
Idealnya pendidikan mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih
manusiawi, berdaya guna dan mempunyai pengaruh di dalam
4
Sulaeman Ibrahim, Pendidikan Sebagai Imperialisme dalam Merombak Pola Pikir Intelektualisme Muslim, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), 81
5
Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif,
1980), 92 6
4
masyarakatnya, juga dapat bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan
orang lain, yang tentunya dilengkapi dengan watak yang luhur dan
berkeahlian. Meminjam pernyataan Immanuel Kant,7 yang mengatakan
bahwa manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan, dapatlah
dipahami bahwa jika manusia itu tidak di didik, maka ia tidak akan dapat
menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya.
Pendidikan kritis pada dasarnya mempresentasikan terhadap gugatan
dunia pendidikan yang dinilai telah gagal melahirkan peserta didik yang
kompeten, baik dari segi keilmuan, keahlian, ketrampilan yang
berorientasi pada kehidupan individualnya maupun dalam kaitan dengan
kehidupan masyarakat yang lebih luas.8
Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan adalah menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai
manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi- tingginya.9 Pendidikan yang menjadi cita-cita
Ki Hajar Dewantara adalah membentuk anak didik menjadi manusia yang
merdeka lahir dan batin. Luhur akal budinya serta sehat jasmaninya untuk
menjadi anggota masyarakat yang berguna bertanggungjawab atas
kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Dalam
rangka mencapai tujuan tersebut maka Ki Hajar Dewantara menawarkan
7
Eko Susilo, Dasar-dasar Pendidikan, (Semarang: Effhar, 1990), 19 8
Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Rekonstruksi dan Demokratisasi, (Jakarta: Kompas, 2000), 159
9
5
beberapa konsep dan teori pendidikan di antaranya pendidikan yang
humanis.10
Ki Hajar Dewantara mengusung pendidikan nasional dengan konsep
penguatan penanaman nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa sendiri
secara masif dalam kehidupan anak didik. Sebagaimana yang diungkapkan
oleh Ki Hajar Dewantara yang dikutip Mohammad Yamin dalam sebuah
penggambaran proses humanisasi:
“berilah kemerdekaan kepada anak-anak didik kita: bukan kemerdekaan yang leluasa, tetapi yang terbatas oleh tuntutan-tuntutan kodrat alam yang nyata dan menuju ke arah kebudayaan, yaitu keluhuran dan kehalusan hidup manusia. Agar kebudayaan itu dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, maka perlulah dipakai dasar kebangsaan, tetapi jangan sekali-kali dasar ini melanggar atau bertentangan dengan dasar yang lebih luas yaitu dasar kemanusiaan.”11
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan umumnya berarti daya upaya
untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),
pikiran (intellect) dan tubuh anak. Dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu, agar kita dapat memajukan
kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang
kita didik selaras dengan dunianya12
Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara ini sesuai dengan
konsep pendidikan humanistik. Pendidikan (Islam) humanistik adalah
pendidikan yang mampu memperkenalkan apresiasinya yang tinggi
10
Abdurrahman Soerjomiharjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern, (Jakarta: Sinar Harapan, 1986), 52
11 Moh.Yamin, “
Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara”,(Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 177
12
6
kepada manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan bebas serta dalam
batas-batas eksistansinya yang hakiki, dan juga khalifatullah.
Dengan demikian, pendidikan (Islam) humanistik bertujuan
membentuk insane manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan
tanggung jawab sebagai insan manusia individual, tetapi tetap bertanggung
jawab terhadap lingkungan masyarakatnya.13
Keadaan yang terjadi saat ini, banyak guru yang masih menggunakan
metode pembelajaran yang masih konvensional dan tidak bervariasi,
penanaman pengetahuan yang tidak sampai pada konsep atau pengertian
dan nilai, dan suasana kelas yang aktif-negatif, dimana siswa lebih aktif
mencatat dan mendengarkan dari pada aktif berbicara. Penggunaan metode
tersebut secara terus menerus akan menghilangkan kreativitas berpikir
siswa dan menghilangkan hak dan kebebasan siswa untuk belajar sesuai
yang diinginkannya.
Banyaknya problematika yang terjadi mengesankan seakan negara
tidak serius dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Gagalnya
pendidikan untuk menanamkan nilai humanisme terlihat dengan
menempatkan Indonesia termasuk ke dalam negara yang korup, banyak
sekolah-sekolah yang khusus bagi para pemodal, orang kaya dan miskin
tidak mendapatkannya, sekolah seolah menjadi pemicu marjinalisasi
terhadap mereka yang tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak. Hal
ini semakin menutup nilai humanis dalam pendidikan. Masih maraknya
13
7
budaya tawuran dan kenakalan remaja, banyaknya sarana prasarana dan
gedung sekolah yang tidak layak pakai menggambarkan kacaunya wajah
pendidikan Indonesia.
Dalam hal ini solusi yang ditawarkan adalah dengan pendidikan
humanistik. Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu pendidik asli
Indonesia yang juga mengusung konsep tersebut. Menurutnya manusia
memiliki daya jiwa yaitu cipta, rasa, dan karsa. Pengembangan manusia
seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang.
Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan
menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia.
Konsep tersebut juga sesuai dengan pandangan Islam. Humanisme
dalam pendidikan Islam adalah proses pendidikan yang lebih
memperhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk berketuhanan dan
makhluk berkemanusiaan serta individu yang diberi kesempatan oleh
Allah untuk mengembangkan potensi-potensinya. Disinilah urgensi
pendidikan Islam sebagai proyeksi kemanusiaan (humansisasi).14
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu penelitian lebih lanjut tentang
konsep pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara sangatlah menarik
untuk dijadikan obyek penelitian. Oleh karena itu, penulis mengambil
judul “Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara dalam
Paradigma Pendidikan Islam.”
14 Abdurrahman Mas’ud,
8
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pokok masalah yang
akan dibahas adalah:
1. Bagaimana konsep pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara?
2. Bagaimana pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara menurut
paradigma pendidikan Islam?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian yang
ingin dicapai adalah:
1. Untuk mengetahui konsep bagaimana pendidikan humanistik Ki
Hajar Dewantara.
3. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan humanistik Ki Hajar
Dewantara menurut paradigma pendidikan Islam?
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat baik pada
tataran teoritik maupun praktis.
1. Kegunaan Teoritis
a. Mendapatkan data dan fakta shahih mengenai pokok-pokok konsep pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara dalam
paradigma pendidikan Islam.
b. Memberikan kontribusi pemikiran bagi seluruh pemikir
keintelektualan dunia pendidikan Islam, sehingga bisa
9
c. Sebagai acuan, bahan reflektif, dan konstruktif dalam
pengembangan keilmuan di Indonesia, khususnya
pengembangan keilmuan pendidikan Islam yang di dalamnya
juga mencakup konsep pendidikan humanistik Ki Hajar
Dewantara dalam paradigma Pendidikan Islam
2. Kegunaan Praktis
Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan
memberikan kontribusi pada berbagai pihak, yakni diantaranya:
a. Lembaga Pendidikan Islam
Penelitian ini bisa digunakan sebagai referensi atau
acuan untuk diterapkan dalam sebuah lembaga yang ingin
mewujudkan pendidikan humanistik.
b. Peneliti dan Calon Peneliti.
Bagi peneliti, penelitian ini digunakan sebagai
pembelajaran untuk mengkaji secara detail tentang
pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara dalam
paradigma Islam. Adapun temuan penelitian ini diharapkan
dapat menjadi inspirasi bagi calon peneliti yang tertarik
melakukan penelitian di bidang pendidikan humanistik
tentunya yang bernuansa keislaman.
E. Penelitian Terdahulu
Dengan adanya telaah pustaka adalah sebagai perbandingan terhadap
10
sebelumnya. Untuk itu penulis mengambil skripsi dan tesis yang judulnya
hampir sama dengan penelitian ini sebagai acuan bahan perbandingan dari
penelitian yang sudah dilakukan oleh mahasiswa terdahulu, antara lain:
1. Nilai Humanistik Dalam Pemikiran Pendidikan Akhlak Budiuzzaman
Said Nursi, Oleh Ihya’ Ulumuddin. Dilihat dari pokok pembahasannya,
skripsi diatas memiliki kajian yang hampir sama yakni terkait dengan
pendidikan humanistik. Namun, dalam skripsi penulis ini pembahasannya
lebih mengarah tentang konsep pendidikan humanistik menurut Ki Hajar
Dewantara dalam paradigma pendidikan Islam.
F. Definisi Oprasional
Definisi operasional ini dimaksudkan untuk memperjelas dan
mempertegas kata-kata atau istilah yang berkaitan dengan judul penelitian,
agar lebih mudah dipahami maka peneliti menyusunnya sebagai berikut:
1. Konsep
Ditinjau dari bahsa latin “conceptus” yang berarti ide umum,
pengertian, pemikiran, rancangan, rencana dasar. Dari segi subyektif
adalah suatu kegiatan intelektual untuk menangkap sesuatu. Dari segi
obyektif adalah suatu yang ditangkap oleh kegiatan intelek itu. Hasil
tangkapan itu disebut konsep.15
2. Pendidikan
15
11
Istilah pendidikan berasal dari bahasa yunani dari kata “pais”
artinya anak dan “again” berarti membimbing.16 Pendidikan
merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja
terhadap anak didik oleh dewasa agar ia menjadi dewasa atau
mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti
mental. Dengan demikian pendidikan berarti segala usaha orang
dewasa dalam pergaulan anak-anak untuk memimpin perkembangan
jasmani dan rohani.
3. Humanistik
Istilah “humanisme” adalah temuan dari abad ke-19. Dalam bahasa
Jerman Humanismus pertama kali diciptakan pada tahun 1808, untuk merujuk pada suatu bentuk pendidikan yang memberikan tempat
utama bagi karyakarya klasik Yunani dan Latin. Dalam bahasa Inggris
“humanism” mulai muncul agak kemudian. Pemunculan yang pertama
dicatat berasal dari tulisan Samuel Coleridge Taylor, di mana kata
humanism dipergunakan untuk menunjukkan suatu posisi Kristologis,
yaitu kepercayaan bahwa Yesus Kristus adalah murni manusia. Kata
tersebut pertama kali dipakai dalam konteks kebudayaan pada tahun
1832.17
16
Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), 69 17
12
Dilihat dari segi kebahasaan, humanisme berasal dari kata Latin
humanus dan mempunyai akar kata homo yang berarti manusia.
Humanus berarti sifat manusiawi atau sesuai dengan kodrat manusia.18 Dari sisi sejarah, awalnya humanisme merupakan aliran sastra,
budaya, pemikiran, dan pendidikan, kemudian mengalami
perkembangan dan mulai menampakkan nuansa politiknya. Dengan
kata lain, disadari atau tidak, humanisme telah menjalar ke semua
aspek kemasyarakatan tersebut, seperti komunisme, utilitarianisme,
spiritualisme, individualisme, eksistensialisme, liberalisme, hingga
protestanismenya Martin Luther King (Kristen Protestan).19
4. Ki Hajar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei
1889.20Beliau adalah putra kelima dari Soeryaningrat putra dari Paku
Alam III. Pada waktu dilahirkan diberi nama Soewardi Soeryaningrat,
karena beliau masih keturunan bangsawan maka mendapat gelar Raden
Mas (RM) yang kemudian nama lengkapnya menjadi Raden Mas
Soewardi Soeryaningrat.21Namun demikian gelar kehormatannya
jarang digunakan karena menurut silsilah susunan Bambang Sokawati
Dewantara, Ki Hadjar Dewantara masih mempunyai alur keturunan
dengan Sunan Kalijaga.22 Jadi Ki Hadjar Dewantara adalah keturunan
18
A. Mangunhadjana, Isme-isme dari A sampai Z, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), 93 19
Mahmud Rajabi, Horison Manusia, (Jakarta: al-Huda, 2006), 31 20
Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 4 (Jakarta: 1989, Cipta Adi Pustaka, cet. I), 330 21
Darsiti Soeratman, Ki Hadjar Dewantara, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984), 8-9
22
13
bangsawan dan juga keturunan ulama, karena merupakan keturunan
dari Sunan Kalijaga.
Sebagaimana seorang keturunan bangsawan dan ulama, Ki Hadjar
Dewantara dididik dan dibesarkan dalam lingkungan sosio kultural dan
religius yang tinggi serta kondusif. Pendidikan yang diperoleh Ki
Hadjar Dewantara dilingkungan keluarga sudah mengarah dan terarah
ke penghayatan nilai-nilai kultural sesuai dengan lingkungannya.
Pendidikan keluarga yang tersalur melalui pendidikan kesenian, adat
sopan santun, dan pendidikan agama turut mengukir jiwa
kepribadiannya.
Maka yang dimaksud dengan konsep pendidikan humanistik
menurut Ki Hajar Dewantara adalah gagasan atau pemikiran dari Ki
Hajar Dewantara tentang membimbing peserta didik secara manusiawi.
5. Paradigma pendidikan Islam
Paradigma ini dimaksudkan sebagai mode of thought, mode of inquiry, yang kemudian menghasilkan mode of knowing. Dengan pengertian paradigmatik ini, dari al-Qur’an dapat diharapkan suatu
konstruksi pengetahuan yang memungkinkan memahami realitas
sebagaimana al-Qur’an memahaminya.23
Paradigma Islam berarti suatu konstruksi pengetahuan. Konstruksi
pengetahuan itu pada mulanya dibangun dengan tujuan agar kita
memeiliki “hikmah” untuk membentuk perilaku yang sejalan dengan
23
14
sistem Islam, termasuk sistem ilmu pengetahuannya. Jadi, disamping
memberikan gambaran aksiologis, paradigma Islam juga dapat
berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis.
G. Metodologi Penelitian
Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan
kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran.24 Tanpa adanya
penelitian, pengetahuan tidak akan bertambah maju. Padahal pengetahuan
adalah dasar semua tindakan dan usaha. Jadi penelitian sebagai dasar
untuk meningkatkan pengetahuan, harus diadakan agar meningkat pula
pencapaian usaha-usaha manusia.25
Mengingat penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang Konsep
Pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara dalam paradikma pendidikan
Islam, maka kerangka metodologis yang digunakan mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah
pendekatan deskriptif karena data yang dihasilkan berupa data
deskriptif dalam bentuk pernyataan-pernyataan atau kata-kata tertulis
yang berasal dari sumber data yang diamati atau diteliti agar lebih
mudah dalam memahami.26 Yakni mengkaji pemikiran Ki Hajar
24
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 49
25
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 20
26
15
Dewantara Sulhan secara kritis, evaluatif dan reflektif yang berkaitan
dengan pendidikan Humanistik.
2. Jenis penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber
kepustakaan lain. Maksudnya, data dicari dan ditemukan melalui
kajian pustaka dari buku-buku yang relevan dengan pembahasan.
Kegiatan studi termasuk kategori penelitian kualitatif dengan prosedur
kegiatan dan teknik penyajian finalnya secara deskriptif. Maksudnya
penelitian kualitatif disini yaitu suatu pendekatan yang digunakan
untuk mengolah data tanpa menggunakan hitungan angka (statistik),
namun melalui pemaparan pemikiran, pendapat para ahli atau
fenomena yang ada dalam kehidupan masyarakat.27
Atau jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh
melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya
dapat berupa penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku
seseorang, disamping juga tentang peranan organisasi, pergerakan
sosial, atau hubungan timbal balik.28 Jadi, penelitian ini maksudnya
bertujuan untuk memperoleh gambaran utuh dan jelas tentang Konsep
pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara dalam paradikma
pendidikan Islam.
27
Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001), 1-3
28
16
3. Metode Pengumpulan Data
Secara metodologis penelitian ini termasuk jenis library research. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi
dengan bantuan bermacam-macam material yang Terdapat Di ruangan
Perpustakaan, Seperti: Buku-Buku, Majalah, Dokumen, Catatan dan
kisah-kisah sejarah dan lain-lainnya.29
Yang berhubungan dengan penelitian yang akan penulis teliti.
Dalam penelitian ini, penulis mengambil data-data yang berasal dari
beberapa sumber, yaitu:
a. Sumber Primer dan Sumber sekunder
Sumber primer adalah sumber-sumber yang memberikan
data langsung dari tangan pertama. Merupakan sumber data asli
yaitu data yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara sendiri, yaitu
Pendidikan Humanistik, yang dijadikan sebagai sumber utama
dalam penelitian. meliputi karya yang ditulis oleh Ki Hajar
Dewantara sendiri, antara lain:
1) Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan
2) Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Kedua: Kebudayaan
Sumber data sekunder adalah sumber yang mengutip dari
sumber lain. Yaitu sumber yang diperoleh bukan berasal dari
sumber utama, akan tetapi sumber-sumber yang mendukung
dan berhubungan dengan karya-karya Ki Hajar Dewantara atau
29
17
pemikirannya. Sumber sekunder, meliputi karya tentang Ki
Hajar Dewantara yang ditulis orang lain. Antara lain buku
karya:
1) Moh. Yamin yang berjudul Menggugat Pendidikan
Indonesia; Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar
Dewantara.
2) Darsiti Soeratman yang berjudul Ki Hajar Dewantara
3) Abdurrahman Soerjomiharjo yang berjudul Ki Hajar
Dewantoro dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia
Modern
4) Irna H.N. dan Hadi Suwito yang berjudul Soewardi
Soerjaningtat dalam Pengasingan.
5) H.A.H. Harahap dan B.S. Dewantara yang berjudul Ki
Hajar Dewantara dkk Ditangkap, Dipenjarakan, dan
diasingkan.
6) Muchammad Tauhid yang berjudul Perdjuangan dan
Adjaran Hidup Ki Hadjar Dewantara.
7) Ki Suratman yang berjudul Ajaran Ki Hadjar Dewantara
Sebagai Bekal Hidup Dalam Perjuangan di Masyarakat.
18
Menurut lexy J. Moleong, dokumentasi berasal dari kata
dokumen yang berarti setiap bahan tertulis atau film.30
Sedangkan menurut koentjaraningrat dokumentasi yaitu
metode pengumpulan data berdasarkan dokumentasi dalam arti
sempit berarti kumpulan data dalam bentuk tulisan. Metode ini
penulis gunakan untuk memperoleh data-data yang berupa
dokumen penting, arsip, majalah, surat kabar, catatan harian
dan sebagainya. Metode dokumentasi ini dapat merupakan
metode utama apabila peneliti melakukan pendekatan analisis
isi (Content analysis).31
4. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang terpenting dalam metode
ilmiah, karena dengan analisislah data tersebut dapat berguna dalam
memecahkan masalah penelitian. Dalam menganalisis data setelah
terkumpul penulis menggunakan metode-metode sebagai berikut:32
a. Metode Interpretasi Data
Metode interpretasi data adalah merupakan isi buku,untuk
dengan setepat mungkin mampu mengungkapkan arti dan
makna uraian yang disajikannya. Metode ini penulis gunakan
untuk mempelajari dan memahami makna-makna yang ada,
sehingga mudah untuk mengambil suatu kesimpulan.
30
Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian, 135 31
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, 159 24
19
b. Metode Analisis Isi
Analisis ini dilakukan untuk mengungkapkan isi sebuah
buku yang menggambarkan situasi penulis dan masyarakatnya
pada waktu buku itu ditulis. Singkatnya kontent analisis adalah
analisis ilmiah tentang isi pesan suatu komunikasi.33
Adapun langkah-langkah yang penulis tempuh dalam
menganalisis data dengan mendasarkannya pada prosedur yang
ditetapkan Hadari Nawawi, yaitu sebagai berikut:
1. Menyeleksi teks (buku, majalah, dokumen) yang akan
diselidiki.
2. Menyusun item-item yang spesifik tentang isi dan bahasa
yang akan diteliti sebagai alat pengumpul data.
3. Menetapkan cara yang ditempuh, yaitu dengan meneliti
keseluruhan isi buku dan bab per bab.
4. Melakukan pengukuran terhadap teks secara kualitatif dan
kuantitatif.
5. Membandingkan hasil berdasarkan standar yang telah
ditetapkan.34
H. Sistematika Penelitian
Sistematika pembahasan dalam karya ilmiah (skripsi) ini, penulis bagi
menjadi empat bab, yang kerangka pembahasannya adalah sebagai berikut:
33
Noeng, Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi 4, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000), 68
34
20
Bab pertama memuat tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian,
kajian terdahulu, dan sistematika pembahasan.
Bab dua kajian teori tentang pendidikan humanistik, yang terdiri
beberapa sub, yakni mengenai definisi dan sejarah pendidikan humanistik,
teori humanistik dalam pendidikan, manusia dalam pendidikan
humanistik, guru dalam pendidikan humanistik, siswa dalam pendidikan
humanistik, tujuan pendidikan humanistik, dan metode pendidikan
humanistik.
Bab tiga berisi tentang gambaran umum dan analisis yang memuat
tentang biografi Ki Hajar Dewantara dengan sub daftar riwayat hidup,
daftar riwayat pendidikan, karir, karya-karya, dan
pemikiran-pemikirannya. Konsep pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara dalam
paradigma pendidikan Islam dengan sub pandangan Ki Hajar Dewantara
tentang pendidikan humanistik dan analisis konsep pendidikan humanistik
Ki Hajar Dewantara dalam paradigma pendidikan Islam.
Bab empat memuat tentang pembahasan seluruh skripsi ini ditutup
21
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pendidikan Humanistik
1. Definisi Dan Sejarah Pendidikan Humanistik
Pendidikan merupakan lokomotif yang penting dalam menggerakkan
kehidupan manusia. Baik buruknya sumber daya manusia tergantung dari
pendidikan yang diperolehnya. Maka proses pendidikan harus jelas dan terarah.
Menurut H.A.R Tilaar, proses pendidikan merupakan suatu proses yang bertujuan.
Meskipun tujuannya bukan merupakan tujuan yang tertutup (eksklusif) tetapi
tujuan yang secara terus-menerus harus terarah kepada pemerdekaan manusia.1
Meminjam pernyataan Immanuel Kant,2 yang mengatakan bahwa manusia
hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan, dapatlah dipahami bahwa jika
manusia itu tidak di didik, maka ia tidak akan dapat menjadi manusia dalam arti
yang sebenarnya. Dengan demikian, pendidikan pada dasarnya memberikan
pengalaman belajar untuk dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki
siswa, melalui proses interaksi baik antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru,
atau siswa dengan lingkungan.
Pendidikan humanis memiliki dasar filosofis yang berbeda. Teori filsafat
pragmatisme, progresivisme, dan eksistensialisme merupakan peletak dasar
munculnya teori pendidikan humanistik pada tahun 1970. Ketiga teori filsafat ini
memiliki karakteristik masing-masing dalam menyoroti pendidikan. Ide utama
pragmatisme dalam pendidikan adalah memelihara keberlangsungan pengetahuan
1
H.A.R. Tilaar, Manifesto Pendidikan Nasional, Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural, (Jakarta: Buku Kompas, 2005), 119
2
22
dengan aktifitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan. Pragmatisme
memandang pendidikan (sekolah) seharusnya merupakan kehidupan dan
lingkungan belajar yang demokratis yang menjadikan semua orang berpartisipasi
dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas masyarakat. Pengaruh
pemikiran ini sangat dirasakan dan bahkan menjadi faktor utama munculnya
teori/pemikiran humanisme dan progresivisme.
Bermunculnya ragam aliran pemikiran psikologis, mulai dari Amerika oleh
William James mengembangkan Fungsionalisme. Sementara Psikologi Gestalt
didirikan oleh Frederick Perls di Jerman. Psikoanalisis Freud berkembang di Wina,
dan John B. Watson mengembangkan Behaviorisme di Amerika.3
Memasuki tahun 1950an terdapat dua teori besar yang paling berpengaruh di
universitas-universitas di Amerika, yakni pemikiran Sigmund Freud dan pemikiran
John B. Watson. Pemikiran Freud (1856-1939) tentang teori tingkah laku manusia,
akhirnya dikenal dengan aliran Freudianisme/Psikoanalisis dalam bidang
Psikologi.
Psikoanalisis cenderung pada gerakan yang mempopulerkan teori bahwa motif
tidak sadar mengendalikan sebagian besar perilaku. Freud tertarik pada hipnotis
dan penggunaannya untuk membantu penderita penyakit mental (neurotis dan
psikotis).
Sementara aliran Behaviorisme oleh John B. Watson (1878-1958) lebih
menekankan pada proses belajar asosiatif atau proses belajar stimulus-respon
sebagai penjelasan terpenting tentang tingkah laku manusia. Jika Freud
3
23
menempatkan rangsangan-rangsangan atau dorongan-dorongan dari dalam
(intrinsik) sebagai sumber motivasi, maka kaum Behavioris menekankan
kekuatan-kekuatan luar (ekstrinsik) yang berasal dari lingkungan.
Kuatnya pengaruh arus kedua aliran tersebut muncullah Abraham Harold
Maslow (1908-1970), yang mencoba memformulasikan gagasan-gagasan dua
tokoh pendahulunya. Maslow yang sebelumnya banyak belajar dari
pemikiran-pemikiran kedua tokoh diatas, Sigmund Freud dan John B. Watson, pada
gilirannya memperkenalkan sebuah metode psikologi yang dinamai psikologi
madzhab ketiga atau dikenal dengan sebutan psikologi humanistik (psychology of being). Sebuah upaya untuk mengembangkan suatu pendekatan psikologi baru yang lebih positif mengenai manusia, nilai-nilai tertinggi, cita-cita, pertumbuhan
dan aktualisasi potensi manusia.4
Psikologi humanistik adalah suatu gerakan perlawanan terhadap psikologi
yang dominan, yang mekanistik, reduksionistik atau psikologi robot yang
mereduksi manusia. Psikologi humanistik adalah produk dari banyak individu dan
merupakan asimilasi dari banyak pemikiran, khususnya pemikiran fenomenologis
dan eksistensial. Bagaimanapun, psikologi humanistik juga adalah suatu ungkapan
dari pandangan dunia yang lebih luas, serta merupakan bagian dari kecenderungan
humanistik universal yang mengejawantahkan diri dalam ilmu-ilmu pengetahuan
sosial, pendidikan, biologi, dan filsafat ilmu pengetahuan. Ia adalah suatu segmen
dari gerakan yang lebih besar yang mengaku hendak berlaku adil terhadap
4
24
kemanusiaan manusia, serta menurut Brewster Smith (1969) berusaha membangun
ilmu pengetahuan tentang manusia yang diperuntukkan bagi manusia pula.5
Dalam kamus ilmiah popular awal kata humanistik, human berarti, mengenai manusia atau cara manusia. Humane berarti berperikemanusiaan. Humaniora
berarti pengetahuan yang mencakup filsafat, kajian moral, seni, sejarah, dan
bahasa. Humanis, penganut ajaran dan humanisme yaitu suatu doktrin yang menekan kepentingan-kepentingan keamusiaan dan ideal (humanisme pada zaman
renaisans didasarkan atas peradaban Yunani Purba, sedangkan humanisme modern
menekankan manusia secara ekslusif). Jadi humanistik adalah rasa kemanusiaan atau yang berhubungan dengan kemansuiaan.6
Membincangkan dunia pendidikan pada hakikatnya perbincangan mengenai
diri kita sendiri. Artinya, perbincangan tentang manusia sebagai pelaksana
pendidikan sekaligus pihak penerima pendidikan. Namun, berbeda dengan
kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Hancurnya rasa kemanusiaan dan
terkikisnya semangat religius, serta kaburnya nilai-nilai kemanusiaan dan
hilangnya jati diri budaya bangsa merupakan kekhawatiran manusia paling
klimaks (memuncak) dalam kanca pergulatan global.7
Telah disadari bahwa sains dan teknologi lahir dan berkembang melalui
pendidikan, maka salah satu terapi terhadap berbagai masalah di atas bisa didekati
melalui pendidikan. Oleh karenanya, tulisan-tulisan yang mengedepankan
paradigma pendidikan yang berwawasan kemanusiaan (humanistik) menjadi
5
Henryk Misiak dan Virgini Staudt Sexton, Psikologi Fenomenologi, Eksistensial, dan Humanistik,
(Bandung: PT Refika Aditama, 2005), 125 6
Ibid, 94 7
25
sangat penting dan diperlukan. Manusia merupakan makhluk yang
multidimensional. Bukan saja karena manusia sebagai subjek yang secara teologis
memiliki potensi untuk mengembangkan pola kehidupannya, tetapi sekaligus
sebagai objek dalam keseluruhan macam dan bentuk aktifitas dan kreativitasnya.8
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa untuk mengembangkan potensi-potensi
dalam diri manusia, sera sosialisasi nilai-nilai, keterampilan, dan sebagainya harus
melalui kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, pendidik sebagai orang dewasayang
menuntun anak didik dituntut untuk menyelenggarakan praktik pendidikan yang
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (humanistik). Pendidikan berparadigma
humanistik, yaitu praktik pendidikan yang memandang manusia sebagai suatu
kesatuan yang integralistik, harus ditegakkan, dan pandangan dasar demikian
diharapkan dapat mewarnai segenap komponen sistematik pendidikan di mana pun
serta apa pun jenisnya.
2. Teori Humanistik Dalam Pendidikan
Arti dari humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya
dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Sehingga perlu
adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata humanistik dalam
pendidikan. Dalam artikel What is Humanistik Education? Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanistik
dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe
pendekatan humanistik dalam pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan
ini terangkum dalam psikologi humanistik.9
8
Ibid, 11 9
26
Singkatnya, pendekatan humanistik diikhtisarkan sebagai berikut: (a) Siswa
akan maju menurut iramanya sendiri dengan suatu perangkat materi yang sudah
ditentukan lebih dulu untuk mencapai suatu perangkat tujuan yang telah
ditentukan pula dan para siswa bebas menentukan cara mereka sendiri dalam
mencapai tujuan mereka sendiri, (b) Pendidikan aliran humanistik mempunyai
perhatian yang murni dalam pengembangan anak-anak perbedaan-perbedaan
individual, dan (c) Ada perhatian yang kuat terhadap pertumbuhan pribadi dan
perkembangan siswa secara individual. Tekanan pada perkembangan secara
individual dan hubungan manusia-manusia ini adalah suatu usaha untuk
mengimbangi keadaan-keadaan baru yang selalu meningkat yang dijumpai siswa,
baik di dalam masyarakat bahkan mungkin juga di rumah mereka sendiri.10
Teori humanis menekankan kasih sayang dalam pelajaran, tetapi tiada emosi
tanpa kognisi dan tiada kognisi tanpa emosi. Mengkombinasikan bahan dan
perasaan ini kadang-kadang disebut “ajaran tingkat tiga”. Ajaran tingkat satu ialah
fakta, tingkat dua adalah konsep, dan tingkat tiga adalah nilai.11
Dari penjelasan itu, dapat disimpulkan bahwa ajaran kognitif dan perasaan
saling berkaitan. Di bawah ini beberapa tujuan umum ajaran humanis, yaitu: (1)
perbaikan komunikasi antara individu, (2) meniadakan individu yang saling
bersaing, (3) keterlibatan intelek dan emosi dalam suatu proses belajar, (4)
memahami dinamika bekerjasama, dan (5) kepekaan kepada pengaruh perilaku
individu lain dalam lingkungan.12 Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada
10
Tresna Sastrawijaya, Proses Belajar Mengajar Diperguruan Tinggi, (jakarta: 1988), 40 11
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), 240 12
27
roh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarni metode-metode yang
diterapkan.
a. Humanistik Klasik
Terdapat beberapa tokoh dalam teori humanistik klasik ini, antara lain adalah
Arthur W. Combs, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Adapun
pendapat-pendapatnya tentang teori humanistik akan dijelaskan dibawah ini.
1) Arthur W. Combs (1912-1999)
Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa
memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena
bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya
tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Untuk itu guru
harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia
persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru
harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.13
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti
dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran
kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2)
adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri
makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang
13
28
mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu
terlupakan.14
2) Abraham Maslow (1908-1970)
Abraham adalah seorang teoris kepribadian yang realistik, dipandang
sebagai bapak spiritual, pengembang teori, dan juru bicara yang paling
cakap bagi psikologi humanistik. Terutama pengukuhan Maslow yang
gigih atas keunikan dan aktualisasi diri manusialah yang menjadi symbol
orientasi humanistik.15 Teori pendidikan humanistik yang diusung Maslow
sejatinya menghendaki suatu bentuk pendidikan baru. Pendidikan yang
diyakini akan memberi tekanan lebih besar pada pengembangan potensi
seseorang, terutama potensinya untuk menjadi manusiawi, memahamidiri
dan orang lain, dalam mencapai pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhan
dasar manusia, tumbuh ke arah aktualisasi diri.
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu
ada dua hal: (1) suatu usaha yang positif untuk berkembang, dan (2)
kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslow
mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan yang besifat hierarkis. Pada diri setiap orang terdapat berbagai
perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut
untuk mengambil kesempatan, takut dengan apa yang sudah ia miliki, dan
sebagainya. Tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk
lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua
14
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 45 15
29
kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat
itu juga ia dapat menerima diri sendiri.16
3) Carl Rogers (1902-1987)
Teori-teori Rogers diperoleh secara klinis (clinically derived), yaitu berdasarkan apa yang dikatakan pasien dalam terapi. Ia percaya bahwa
manusia memiliki satu motif dasar, yaitu kecenderungan untuk
mengaktualisasikan diri. Kecenderungan ini adalah keinginan untuk
memenuhi potensi yang dimiliki dan mencapai tahap human beingness
yang setinggi-tingginya. Seperti bunga yang tumbuh sepenuh potensinya
jika kondisinya tepat, tetapi masih dikendalikan oleh lingkungan, manusia
juga akan tumbuh dan mencapai potensinya jika lingkungannya cukup
bagus. Namun tidak seperti bunga, potensi yang dimiliki manusia sebagai
individu bersifat unik.17
Dasar teori humanisme Rogers adalah doktrin, sikap, dan cara hidup
yang menempatkan nilai-nilai manusia sebagai pusat dan menekankan
pada kehormatan, harga diri, dan kapasitas untuk merealisasikan diri untuk
maksud tertentu. Yang nantinya akan dihubungkan dengan pembelajaran
atau pendidikan yang manusiawi.18
Teori humanistik adalah suatu teori yang bertujuan memanusiakan manusia.
Artinya perilaku tiap orang ditentukan oleh orang itu sendiri dan memahami
manusia terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Seperti halnya dalam Paradigma
16
Sukardjo dan Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan, 58-59 17
Matt Jarvis, Teori-Teori Psikologi. Pendekatan Modern untuk Memahami Perilaku, Perasaan, dan Pikiran Manusia, (Bandung: Nusamedia dan Nuansa, 2007), 87
18
30
pendidikan humanistik memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk
ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu.19
b. Humanistik Modern
Pendidikan humanis memiliki dasar filosofis yang berbeda. Teori filsafat
pragmatisme, progresivisme, dan eksistensialisme merupakan peletak dasar
munculnya teori pendidikan humanistik pada tahun 1970. Ketiga teori filsafat ini
memiliki karakteristik masing-masing dalam menyoroti pendidikan. Ide utama
pragmatisme dalam pendidikan adalah memelihara keberlangsungan pengetahuan
dengan aktifitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan. Pragmatisme
memandang pendidikan (sekolah) seharusnya merupakan kehidupan dan
lingkungan belajar yang demokratis yang menjadikan semua orang berpartisipasi
dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas masyarakat. Pengaruh
pemikiran ini sangat dirasakan dan bahkan menjadi faktor utama munculnya
teori/pemikiran humanisme dan progresivisme.
Bermunculnya ragam aliran pemikiran psikologis, mulai dari Amerika oleh
William James mengembangkan Fungsionalisme. Sementara Psikologi Gestalt
didirikan oleh Frederick Perls di Jerman. Psikoanalisis Freud berkembang di Wina,
dan John B. Watson mengembangkan Behaviorisme di Amerika.20
Sementara aliran Behaviorisme oleh John B. Watson (1878-1958) lebih
menekankan pada proses belajar asosiatif atau proses belajar stimulus-respon
sebagai penjelasan terpenting tentang tingkah laku manusia. Jika Freud
menempatkan rangsangan-rangsangan dari dalam (intrinsik) sebagai sumber
19
Ibid, 22 20
31
motivasi, maka kaum Behavioris menekankan kekuatan-kekuatan luar (ekstrinsik)
yang berasal dari lingkungan.
Kuatnya pengaruh arus kedua aliran tersebut muncullah Abraham Harold
Maslow (1908-1970), yang mencoba memformulasikan gagasan-gagasan dua
tokoh pendahulunya. Maslow yang sebelumnya banyak belajar dari
pemikiran-pemikiran kedua tokoh diatas, Sigmund Freud dan John B. Watson, pada
gilirannya memperkenalkan sebuah metode psikologi yang dinamai psikologi
madzhab ketiga atau dikenal dengan sebutan psikologi humanistik (psychology of being). Sebuah upaya untuk mengembangkan suatu pendekatan psikologi baru yang lebih positif mengenai manusia, nilai-nilai tertinggi, cita-cita, pertumbuhan
dan aktualisasi potensi manusia.21
Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar yaitu:
proses pemerolehan informasi baru dan personalisasi informasi ini pada individu.
Teori humanistik bila diaplikasikan akan mencakup tindakan pembelajaran
sebagai berikut:22
a. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
b. Menentukan materi kuliah
c. Mengidentifikasi entry behavior siswa
d. Mengidentifikasi setiap topik-topik materi belajar yang memungkinkan
siswa mempelajarinya secara aktif atau mengalami
e. Mendesain wahana (lingkungan, media, fasilitas, dan sebagainya) yang
akan digunakan siswa untuk belajar
21
Sukardjo dan Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan, Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), 63
22
32
f. Membimbing siswa belajar secara aktif
g. Membimbing siswa memahami hakikat makna dari pengalaman belajar
mereka
h. Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman tersebut
i. Membimbing siswa sampai mereka mampu mengaplikasikan konsep-
konsep baru ke situasi yang baru
j. Mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya teori humanistik
merupakan konsep belajar yang lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian
manusia. Berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan
kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Teori
humanisme ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang
bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis
terhadap fenomena sosial. Dan dalam penggunaan metodenya diharapkan dapat
mengusahakan peran aktif siswa.
3. Manusia dalam pendidikan humanistik
Metafisika mempersoalkan hakikat realitas, termasuk hakikat manusia dan
hakikat anak. Pendidikan merupakan kegiatan khas manusiawi. Hanya manusialah
yang secara sadar melakukan pendidikan untuk sesamanya. Pendidikan merupakan
kegiatan antar manusia, oleh manusia, dan untuk manusia. Oleh karena itu,
pembicaraan tentang pendidikan tidak bermakna apa-apa tanpa membicarakan
manusia.23
23
33
Manusia adalah subjek pendidikan, dan sekaligus pula sebagai objek
pendidikan. Sebagai subjek pendidikan, manusia (khususnya manusia dewasa)
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan. Secara moral
berkewajiban atas perkembangan pribadi anak-anak mereka atau generasi penerus.
Manusia dewasa yang berfungsi sebagai pendidik bertanggung jawab untuk
melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang
dikehendaki manusia di mana pendidikan berlangsung. Sebagai objek pendidikan,
manusia (khususnya anak) merupakan sasaran pembinaan dalam melaksanakan
(proses) pendidikan, yang pada hakikatnya ia memiliki pribadi yang sama dengan
manusia dewasa, namun karena kodratnya belum berkembang.24
Sedangkan pendidikan yang humanistik memandang manusia sebagai
manusia, yakni makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai
makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan
hidupnya. Pendidikan humanistik adalah pendidikan yang mampu
memperkenalkan apresiasinya yang tinggi kepada manusia sebagai makhluk Allah
yang mulia dan bebas serta dalam batas-batas eksistensinya yang hakiki, dan juga
sebagai pemimpin di bumi.
Dengan demikian, pendidikan humanistik bermaksud membentuk insan
manusia yang memiliki komitmen humaniter sajati, yaitu insan manusia yang
memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab sebagai insan manusia
individual, namun tidak terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya hidup
di tengah masyarakat. Dengan demikian, ia memiliki tanggung jawab moral
24
34
kepada lingkungannya, berupa keterpanggilannya untuk mengabdikan dirinya
demi kemaslahatan masyarakatnya.25
Paradigma humanisme bependapat: Pertama, perilaku manusia itu dipertimbangkan oleh multiple intelligencenya. Bukan hanya kecerdasan intelektual semata, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. Dua kecerdasan
terakhir tidak kalah pentingnya dalam menentukan keberhasilan hidup anak didik.
Kedua, anak didik adalah makhluk yang berkarakter dan berkebribadian serta aktif dan dinamis dalam perkembangannya, bukan benda yang pasif dan yang
hanya mampu mereaksi atau merespon faktor eksternal. Ia memiliki potensi
bawaan yang penting. Karena itu pendidikan bukan membentuk anak didik sesuai
dengan keinginan guru, orang tua atau masyarakat, melainkan pembentukan
kepribadian dan self concept. Kepribadian dan self concept itulah yang paling memegang peran penting. Ketiga, berbeda dengan behaviorisme yang lebih menekankan to have dalam orientasi pendidikannya, humanisme justru menekankan to be dan aktualisasi diri.
Biarlah anak didik menjadi dirinya sendiri, peran pendidikan adalah
menciptakan kondisi yang terbaik melalui motivasi, pengilhaman, pencernaan, dan
pemberdayaan. Keempat, pembelajaran harus terpusat pada diri siswa (student centered learning). Siswalah yang aktif, yang mengalami dan yang paling merasakan adanya pembelajaran. Bukan semata-mata guru yang mengajar, yang
memberikan stimulus atau yang beraktualisasi diri.26
25
Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik, 22-23 26
35
Pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yang sama, yaitu
mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kepuasan-kepuasan emosi yang
timbul dalam pergaulan dengan sesama manusia, dengan alam dan dengan Sang
Pencipta. Pengalaman pribadi seseorang dalam menerima penghargaan, pujian,
perlindungan akan menimbulkan rasa percaya diri dan rasa aman dalam
kehidupan. Jadi pendidikan haruslah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar
ini.
Pandangan teori humanis ialah ditujukan kepada pengembangan manusia
seutuhnya. Bagian penting dari pandangan ini ialah menyatukan aspek belajar
kognitif dan afektif. Belajar seutuhnya menyangkut belajar seluruh aspek seperti
pikiran, perasaan, keberanian, dan sebagainya. Karena pendidikan humanistik
meletakkan manusia sebagai titik tolak sekaligus titik tuju dengan berbagai
pandangan kemanusiaan yang telah dirumuskan secara filosofis, maka pada
paradigma pendidikan demikian terdapat harapan besar bahwa nilai-nilai
pragmatis iptek (yang perubahannya begitu dasyat) tidak akan mematikan
kepentingan-kepentingan kemanusiaan. Dengan paradigma pendidikan humanistik,
dunia manusia akan terhindar dari tirani teknologi dan akan tercipta suasanya
hidup dan kehidupan yang kondusif bagi komunitas manusia.27
4. Guru dalam pendidikan humanistik
Guru merupakan fasilitator bagi siswa. Pengajar atau guru adalah seseorang
yang memberi kemudahan, seorang katalis, dan seorang sumber bagi siswa. Siswa
27
36
akan lebih mudah belajar bila pengajar berpartisipasi sebagai teman belajar, sekutu
yang lebih tua dalam pengalaman belajar yang sedang dijalani.
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang
berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai
kualitas si fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa
petunjuk.28
a. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal,
situasi kelompok, atau pengalam kelas.
b. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan
perorangan di dalam kelas dan juga tujuan kelompok yang bersifat lebih
umum.
c. Fasilitator mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk
melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan
pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
d. Fasilitator mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk
belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk
membantu mencapai tujuan mereka.
e. Fasilitator menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang
fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
f. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan
menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan
28
37
mneccoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual
maupun bagi kelompok.
g. Bilamana cuaca penerima kelas tidak mantap, fasilitator berangsur-angsur
dapat berperan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang
anggota kelompok, dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang
individu, seperti siswa yang lain.
h. Fasilitator mengambil prakasa untuk ikut serta dalam kelompok. Dengan
tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil
secara pribadi yang boleh digunakan atau ditolak oleh siswa.
i. Fasilitator harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang
menandakan adanya perasaab yang dalam dan kuat selama belajar.
j. Di dalam berperan sebagai fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk
mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasan sendiri.
Menurut Carl Rogers, seorang humanis, ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah:29
a. Merespons perasaan siswa.
b. Mengunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah
direncanakan.
c. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa.
d. Menghargai siswa.
e. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan.
f. Menyesuaikan isi kerangka berfikir siswa (penjelasan untuk memantapkan
kebutuhan segera dari siswa).
29
38
g. Tersenyum pada siswa.
Tidak jauh dari pandangan Hamacheek, yang berpendapat bahwa guru-guru
yang efektif adalah guru-guru yang manusiawi. Begitu pula pandangan Combs
dan kawan-kawan, yang menyebutkan ciri-ciri guru yang baik adalah sebagai
berikut:30
a. Guru yang mempunyai anggapan bahwa orang lain itu mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah mereka sendiri dengan baik.
b. Guru yang melihat bahwa orang lain mempunyai sifat ramah dan
bersahabat serta bersifat ingin berkembang.
c. Guru yang cenderung melihat orang lain sebagai orang yang sepatutnya
dihargai.
d. Guru yang melihat orang-orang dan perilaku mereka pada dasarnya
berkembang dari dalam, jadi bukan merupakan produk yang dari
peristiwa-peristiwa eksternal yang dibentuk dan yang digerakkan. Guru melihat
orang mempunyai kreativitas dan dinamika, jadi bukan orang yang pasif
atau lamban.
e. Guru yang menganggap orang lain itu pada dasarnya dipercaya dan dapat
diandalkan dalam pengertian guru akan berperilaku menurut aturan-aturan
yang ada.
f. Guru yang melihat orang lain dapat memenuhi dan meningkatkan dirinya,
bukan menghalangi apalagi mengancam.
5. Siswa dalam pendidikan humanistik
30
39
Siswa atau anak didik, yaitu pihak yang membutuhkan bimbingan untuk dapat
melangsungkan hidup. Siswa merupakan individu atau manusia berperan sebagai
pelaku utama (student centered) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Dengan peran tersebut, diharapkan siswa memahami potensi diri,
mengembangkan potensi dirinya secara positif, dan meminimalkan potensi dirinya
yang bersifat negatif.31
Artinya aliran humanistik membantu siswa untuk mengembangkan dirinya
sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki. Karena siswa sebagai pelaku utama
yang akan melaksanakan kegiatan dan siswa juga belajar dari pengalaman yang
dialaminya sendiri. Dengan memberikan bimbingan yang tidak mengekang pada
siswa dalam kegiatan pembelajarannya, akan lebih mudah dalam menanamkan
nilai-nilai atau norma yang dapat memberinya informasi padanya tentang perilaku
yang positif dan perilaku negatif yang seharusnya tidak dilakukannya.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran yang akan
diberikan kepada siswa adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan
dan pembelajaran, yaitu:32
a. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar.
Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
b. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide
baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
31
Sukardjo dan Ukim Komarudin. Landasan Pendidikan, 64 32
40
c. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan
ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
d. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang
proses.
6. Tujuan pendidikan humanistik
Pendidikan humanistik mendambakan terciptanya satu proses dan pola
pendidikan yang senantiasa menempatkan manusia sebagai manusia. Manusia
dengan segala potensi yang dimilikinya, baik potensi yang berupa fisik, psikis,
maupun spiritual yang perlu untuk mendapatkan bimbingan. Tentu, disadari
dengan beragamnya potensi yang dimiliki manusia, beragam pula dalam
menyikapi dan memahaminya.
Untuk itu pendidikan yang masih memilah dan mengelompokkan manusia
menjadi manusia jenis pintar dan bukan pintar bukanlah ciri dari pendidikan
humanis. Sebab sesuai dengan konsep dan tujuan pendidikan, terkhusus
pendidikan Islam yang bertujuan terbentuknya satu pribadi seutuhnya, yang sadar
akan dirinya sendiri selaku hamba Allah, dan kesadaran selaku anggota
masyarakat yang harus memiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap pembinaan
masyarakat serta menanamkan kemampuan manusia, untuk mengelola,
memanfaatkan alam sekitar ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan manusia
dan kegiatan ibadahnya kepada Khalik pencipta alam itu sendiri.33
33
41
Pendidikan ibarat sebuah wahana untuk membentuk peradaban humanistik
terhadap seseorang untuk menjadi bekal diri dalam menjalani kehidupannya.34
Dengan demikian, pendidikan merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus
senantiasa dihormati, begitu juga proses dalam pendidikan itu sendiri harus
senantiasa mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagaimana dijelaskan bahwa
saat ini dalam perjalanan peradaban manusia, akhirnya secara tegas mereka
menetapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu hak-hak asasi manusia.35
Tujuan pendidikan menurut pandangan humanistik diikhtisarkan oleh Mary
Jahson, sebagai berikut:68
a. Kaum humanis berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melakukan eksplorasi dan mengembangkan kesadaran identitas diri yang
melibatkan perkembangan konsep diri dan sistem nilai.
b. Kaum humanis telah mengutamakan komitmen terhadap prinsip
pendidikan yang memperhatikan faktor perasaan, emosi, motivasi, dan
minat siswa akan mempercepat proses belajar yang bermakna dan
terintegrasi secara pribadi.
c. Perhatian kaum humanis lebih terpusat pada isi pelajaran yang sesuai
dengan kebutuhan dan minat siswa sendiri. Siswa harus memiliki
kebebasan dan tanggung jawab untuk memilih dan menentuka apa, kapan
dan bagaimana belajar.
d. Kaum humanis berorientasi kepada upaya memelihara perasaan pribadi
yang efektif. Suatu gagasan yang menyatakan bahwa siswa dapat
34
Muhammad A. R. Pendidikan di Alaf Baru: Rekonstruksi atas Moralitas P