Pengaruh Metode Cooperative Learning Student Team Achievment Division Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Pada Siswa Yang Mengalami Problema Belajar Dalam Pokok Bahasan Perhitungan Kebutuhan Pupuk
(Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut)
TESIS
Diajukan Untuk Memenuhi sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus
DisusunOleh :
ELIS LISDIANA, S.P NIM. 1007296
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
================================================================== PengaruhMetodeCooperative LearningStudent Team Achievment
DivisionTerhadapMotivasidanHasilBelajarPadaSiswa Yang
MengalamiProblemaBelajarDalamPokokBahasanPerhitunganKebutuhanPu puk
(EksperimenKuasi di Kelas XI ATPH SMK QurrotaA’yunSamarangGarut)
Oleh
ELIS LISDIANA, S.P
S.P UNBAR, 1998
Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Fakultas IlmuPendidikan
© ELIS LISDIANA, S.P2013 Universitas Pendidikan Indonesia
April 2013
Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH
DosenPembimbing
PROF. DR. H. IIM WASLIMAN, M.Si, M.PD NIP. 10470112 196705 001
Mengetahui Ketua Program Studi PendidikanKebutuhanKhusus
BELAJAR PADA SISWA PROBLEMA BELAJAR DALAM POKOK BAHASAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK
(Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut)
ABSTRAK Elis Lisdiana (1007296)
Meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah merupakan bagian dari filosofi pendidikan inklusif. Metode Cooperative Learning Student Team Achievment Division merupakan konsep pembelajaran yang inovatif untuk mengurangi masalah anak yang mengalami problema belajar (learning problem) yang banyak terdapat di sekolah-sekolah regular pada umumnya .
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah metode Cooperative Learning Student Team Achievment Division dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa problema belajar dalam perhitungan kebutuhan pupuk.
Metode penelitian menggunakan eksperimen kuasi dengan desain “one groups pre-tes-post-tes design” melibatkan 36 orang siswa kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut dengan jumlah siswa yang mengalami problema belajar sebanyak 15 siswa. Data diperoleh dari data kuantitatif dan kualitatif.
Berdasarkan hasil pengolahan data sebelum menerapkan metode cooperative learning Student Team Achievment Division motivasi belajar siswa problema belajar ada pada kategori lemah, setelah metode cooperative learning tipe STAD diterapkan, motivasi belajarnya mengalami peningkatan dari hasil rata-rata nilai pre tes 3,602 atau 36 % berkategori lemah meningkat menjadi sebesar 6,454 atau 64,54% dengan kategori kuat. Sedangkan dari hasil belajar memperoleh nilai rata-rata pre tes 2,77 berkategori kurang sekali meningkat menjadi 6,83 dengan kategori mendekati lebih dari cukup.
Hasil observasi aktivitas siswa pada pelaksanaan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievment Division) ditemukan aktivitas paling menonjol yaitu aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung, suasana pembelajaran yang berpusat pada siswa, belajar bersama dan saling membantu atau siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih tekun dalam mengerjakan tugas.
Rekomendasi dalam penelitian ini bahwa metode cooperative learning tipe STAD dapat dipraktekkan oleh guru kejuruan sebagai salah satu alternatif dengan fungsi memberikan kepercayaan kepada siswa untuk menjadi tutor sebaya. Perlu adanya pelatihan menggunakan metode cooperative learning tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk penelitian dalam aspek yang lebih luas tidak hanya pada motivasi dan hasil belajar, misalnya keterampilan sosial anak, berfikir kritis, berfikir kreatif terhadap anak yang mengalami problema belajar
Halaman ABSTRAK ………...
KATA PENGANTAR ………...….
UCAPAN TERIMA KASIH ………...……
DAFTAR ISI ………
DAFTAR GAMBAR ………...
DAFTAR TABEL ………...
DAFTAR LAMPIRAN ………...……
BAB I PENDAHULUAN ………..…
A. Latar Belakang Masalah………
B. Identifikasi Masalah……….…
C. Batasan Masalah ………..
D. Rumusan Masalah...
E. Tujuan Penelitian ………..…….
F. Manfaat Penelitian ……….
G. Definisi Operasional ………...
H. Asumsi dan Hipotesis ………..……….
BAB II LANDASAN TEORI ………...
A. Teori yang Mendasari Model Pembelajaran Kooperatif ……….
B. Pembelajaran Kooperatif ( Metode Cooperative Learning )
1. Pengertian Metode Cooperative Learning ………
2. Hakikat Pembelajaran Metode Cooperative Learning
4. Penggunaan Cooperative Learning………
5. Keunggulan dan Keterbatasan Cooperative Learning …
6. Peran Guru dalam Metode Cooperative Learning ……….
7. Pengelolaan Kelas Cooperative Learning………
8. Teknik Belajar Mengajar Cooperative Learning………
C. Metode Cooperative Learning Tipe STAD ………..
D. Motivasi Belajar ………
E. Hasil Belajar………..
F. Problema Belajar (Learning Problem)………
G. Teori Tentang Pupuk dan Kebutuhan Pupuk……….
H. Penelitian-Penelitian yang Relevan………...
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ………
A. Metode dan Desain Penelitian………
B. Subyek Penelitian………...
C. Lokasi Penelitian………
D. Alur Penelitian………
E. Alat Tes………..
F. Validitas Tes ………..
G. Teknik Pengolahan Data………
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………..
A. Hasil Penelitian ……….……….
A. Kesimpulan………
B. Saran ……….…
DAFTAR PUSTAKA ……….………
LAMPIRAN-LAMPIRAN ……….
RIWAYAT HIDUP PENULIS……… 117
120
124
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
3.1 Desain Penelitian ……….………... 76
3.2 Diagram Alur Proses Penelitian ………... 77
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Langkah-Langkah Metode Cooperative Learning tipe STAD.. 34
2.2 2.3 3.1 3.2 3.3 Pedoman Pemberian Skor Perkembangan Individu………….. Dosis Pupuk Tanaman Hias dalam Pot……….. Kisi-Kisi Instrumen Variabel Motivasi Belajar………. Kisi-Kisi Instrumen Hasil Belajar Perhitungan Kebutuhan Pupuk… Rekapitulasi Tingkat Kesukaran Soal……… 54 70 79 81 82 3.4 Rekapitulasi Daya Pembeda Soal……….. 84
3.5 Rekapitulasi Validitas Soal Tes………. 86
3.6 Rekapitulasi Validitas Motivasi ……… 87
3.7 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Tes…..……….. 89
3.8 Kategori Tingkat Gain………...……… 91
3.9 Nilai Konversi Motivasi Belajar ……….. 91
3.10 Kriteria Nilai Konversi Hasil Belajar ………... 92
4.1 Rerata dan Simpangan Baku ………. 97
4.2 Data Statistik Deskriptif Pre Tes dan Pos Tes Motivasi ……... 98
4.3. Hasil Uji Beda Rata-rata Motivasi Belajar...……….. 99
4.4 Rerata dan Simpangan Baku Hasil Belajar...……….. 100
4.7 Uji Beda Rata-rata Hasil Belajar ………. 103
4.8 Skor Perkembangan Individu ………..………. 105
4.9 Aktivitas Siswa pada Cooperative Learning tipe STAD…… 108
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
A Perangkat Pembelajaran ……….. 124
B Instrumen Penelitian ……… 166
C Pengolahan Data ……….. 172
D
E
Profil Sekolah ...
Foto-Foto Penelitian……….
200
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan akan terasa indah apabila ada variasi, sebaliknya akan terasa
membosankan jika segalanya monoton tak berubah. Perubahan ke arah perbaikan
adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insan dalam setiap
kehidupan.
Para penyelenggara pendidikan dituntut melakukan perubahan layanan
pendidikan yang tidak diskriminatif, menghargai keragaman perbedaan individu,
dan pemenuhan kebutuhan setiap individu berdasarkan kemampuannya sehingga
pendidikan akan bermakna bagi peserta didik. Bentuk layanan pendidikan
tersebut dikenal dengan pendidikan inklusif atau inklusi, yang merupakan inovasi
dalam dunia pendidikan yang berbeda dengan pendidikan kebutuhsn khusus atau
pendidikan luar biasa.
Pendidikan inklusif berupaya menggunakan pendekatan berbeda dalam
mengidentifikasi dan mencoba memecahkan masalah yang muncul di sekolah.
Hal ini dapat menjelaskan bahwa pendidikan inkluasif memiliki lebih banyak
kesamaan dengan konsep yang melandasi gerakan “Pendidikan Untuk Semua”
dan “Peningkatan mutu sekolah”. Pendidikan inklusif merupakan pergeseran dari
rasa terpisah dari suatu kelompok tertentu menjadi upaya yang difokuskan untuk
mengatasi hambatan belajar dan berpartisipasi dalam pembelajaran.
Pada tataran kelas, maka kelas inklusif merupakan kelas yang dapat
berkebutuhan khusus. Kelas merupakan suatu tempat yang membuat peserta didik
dapat belajar, merasa dihargai, dan menjadikan lingkungan yang menyenangkan.
Selain itu, kelas juga memberikan pembelajaran yang dapat menjadikan semua
peserta didik merasa terlibat secara utuh dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Untuk mengembangkan individu dapat dilakukan melalui pembelajaran
kelas reguler maupun kelompok, dan implementasinya dapat menggunakan variasi
atau alternatif metode pembelajaran yang memungkinkan dapat meningkatkan
inklusifitas dan kemampuan peserta didik. Keberhasilan proses pembelajaran
sebagaimana yang telah dikemukan oleh Rusyana ( 1984:87 ) sangatlah kompleks.
Faktor yang dapat mempengaruhi keberlanjutan suatu pendidikan, antara lain
faktor sumber daya manusia guru, yang pengaruhnya dapat berfungsi sebagai
penghambat ataupun sebagai pendorong bagi penyelenggaraan proses belajar
mengajar ataumenciptakan lingkungan yang lebih inklusuf. Kelemahan dari guru
adalah masalah metode pembelajaran yang cenderung selalu monoton dalam
penggunaannya, sehingga menyebabkan kejenuhan, membosankan, tidak menarik
dan menimbulkan tidak adanya motivasi untuk kemajuan pendidikan pada diri
siswa yang pada akhirnya akan menurunnya hasil pendidikan pada diri anak.
Bagaimana guru dapat merangsang dan mengarahkan siswa dalam belajar
yang pada gilirannya dapat mendorong siswa dalam pencapaian keberhasilan dan
hasil belajar siswa secara optimal. Salah satu upaya guru dalam menciptakan
kegiatan belajar mengajar yang baik adalah memilih dan menggunakan suatu
model pembelajaran yang tepat. Kekurangtepatan guru memilih dan menggunakan
baiknya hasil belajar siswa (Jarolimek: 1993). Dengan iklim belajar - mengajar
yang menantang berkompetisi secara sehat serta memotivasi siswa dalam belajar,
akan berdampak positif dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Sebaliknya
tanpa hal itu apapun yang dilakukan guru tak akan mendapat respon siswa secara
aktif. Untuk itu seyogyanya guru memiliki kemampuan dalam memilih dan
sekaligus menggunakan metode mengajar yang tepat.
Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang
paling sulit oleh para siswa. Meskipun demikian, semua orang harus
mempelajarinya, karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah
kehidupan sehari-hari. Sangat disayangkan matematika aplikatif (terapan) pada
umumnya dikenal sulit dipahami dan tidak disukai karena kurang menarik.
Kecenderungan ini biasanya berawal dari pengalaman belajar siswa dimana
mereka menemukan kenyataan bahwa pelajaran matematika aplikatif adalah
pelajaran berat dan serius yang tidak jauh dari persoalan konsep, pemahaman
konsep, penyelesaian soal-soal yang rumit melalui pendekatan matematis hingga
kegiatan praktik yang menuntut mereka melakukan segala sesuatunya dengan
sangat teliti dan cenderung “membosankan”. Di sisi lain kurangnya minat dan
motivasi untuk mempelajari matematika aplikatif, merasa terpaksa atau
menganggap suatu kewajiban, mengakibatkan tujuan pembelajaran yang
diharapkan menjadi sulit tercapai, Hal ini terbukti dari rendahnya nilai rata-rata
matematika aplikatif dari tahun ke tahun.
Istilah matematika aplikatif dalam penelitian ini adalah penerapan konsep
ilmu-ilmu pertanian seperti perhitungan kebutuhan benih atau bibit, perhitungan
populasi tanaman, perhitungan zat pengatur tumbuh, perhitungan kebutuhan
pestisida, kebutuhan air untuk penyiraman, perhitungan kebutuhan pupuk. Dalam
penerapan matematika aplikatif dibutuhkan pemahaman akan maksud soal
tersebut. Pemahaman ini membentuk pola fikir sehingga kita bisa mengelola dan
memanfaatkan alam dengan baik tanpa menimbulkan dampak negatif. Proses
penerusan pemahaman konsep kepada siswa merupakan hal yang sangat
dibutuhkan dalam menyelesaikan soal-soal matematika aplikatif. Yang
dibutuhkan siswa adalah kemampuan untuk mendapatkan dan mengelola
informasi yang sesuai dengan kebutuhan profesinya, menyusun pembelajaran
yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Asumsi rendahnya kemampuan berhitung dan rendahnya nilai siswa
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang
berasal dari dalam diri peserta didik, diantaranya persepsi, motivasi, minat,
konsentrasi, atensi dan lainnya. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri
peserta didik diantaranya adalah penggunaan pendekatan, dan strategi belajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan pendekatan dan strategi belajar
yang tepat menjadi salah satu penentu keberhasilan proses belajar berhitung.
Pembelajaran matematika aplikatif seperti menghitung kebutuhan pupuk
di SMK Pertanian selama ini menitikberatkan pada bagaimana menghabiskan
materi pelajaran melalui metode ceramah dan latihan individual (drill), peserta
didik yang pintar dan aktif saja yang berani untuk maju menuliskan hasil
matematika aplikatif hanya mendengar dan menuluis apa yang sudah dijelaskan
gurunya. Ini tentu membosankan dan membuat siswa merasa tidak termotivasi
atau malas, padahal tumbuhnya semangat dan keinginan belajar bukan karena
paksaan tetapi karena dorongan atau motivasi dalam dirinya secara sadar untuk
melakukan sesuatu agar mampu menguasai materi pelajaran hingga dapat meraih
atau meningkatkan hasil belajar siswa. Rendahnya nilai siswa yang mengalami
problema belajar pada pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk diduga
karena siswa kurang termotivasi dalam belajar sebagai akibat dari pengaruh
metode konvensional yang biasa digunakan guru dalam menyampaikan materi
pelajaran di kelas yang cenderung membosankan. Hal tersebut juga dikemukakan
oleh Kardisaputra (2003:39) bahwa siswa yang belajar disertai motivasi akan
lebih berhasil daripada belajar tanpa motivasi.
Agar tercipta proses pemahaman matematika aplikatif atau berhitung bagi
anak yang mengalami problema belajar sangat diperlukan model atau strategi
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya dan dapat meningkatkan
motivasi belajar. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajarkan
cara menyelesaikan persoalan matematika aplikatif bagi peserta didik yang
mengalami problema belajar, salah satunya adalah strategi pembelajaran
Cooperative Learning. Semua itu dilakukan agar pembelajaran mampu
mengantarkan peserta didik yang mengalami problema belajar untuk dapat
bersikap positif terhadap matematika aplikatif seperti perhitungan kebutuhan
digunakan harus sesuai dengan jenis kegiatan belajar siswa agar sesuai
kebutuhannya.
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang memberi
kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dalam tugas-tugas yang
terstruktur (Lie, 2002:12). Metode pembelajaran kooperatif yang diduga dapat
memperbaiki kualitas pembelajaran adalah metode cooperative learning tipe
STAD (Student Team Achievment Division). Metode pembelajaran ini berangkat
dari dasar pemikiran getting better learning yang menekankan pada pemberian
kesempatan belajar lebih luas dan suasana kondusif kepada siswa untuk
memperoleh, mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, keaktifan serta
keterampilan bekerjasama yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif ini dapat memberikan hasil ganda,
yaitu penanaman konsep dan pengembangan kecakapan serta berfikir tingkat
tinggi (Slavin, 1995).
Menurut Sumantri dalam Ratna Sari Dewi (2008) belajar dengan
menggunakan metode cooperative learning tipe STAD dapat menumbuhkan
motivasi belajar, karena dengan metode ini akan terjadi kompetisi yang sehat
diantara sesama anggota kelompok, sehingga tercipta suasana belajar yang saling
mengisi dari segi pengetahuan dan keahlian serta siswa yang percaya diri
tentunya akan mendapat kebutuhan intelektual, sosial dan emosi.
Dalam pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievements Division
(STAD), mula-mula guru mempresentasikan pelajaran melalui metode ceramah,
untuk pembelajaran kelompok dengan tugas yang sama. Masing-masing
kelompok memiliki tugas yang berbeda-beda. Siswa membentuk kelompok kecil
beranggotakan 4 sampai 6 orang, belajar dan bekerja secara berkolaboratif
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk LKS. Setiap anggota
kelompok saling membantu satu sama lain melalui tutor sebaya dan bertanggung
jawab atas keberhasilan anggotanya sehingga semua anggota kelompok dapat
mempelajari dan memahami materi dengan tuntas. Selanjutnya, masing-masing
siswa diberi kuis tentang materi itu dengan ketentuan mereka tidak boleh saling
membantu kemudian dihitung peningkatan skornya. Peningkatan skor tiap
anggota tim ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim. Pemberian penghargaan
diberikan kepada tim yang memiliki skor tinggi (Depdiknas, 2000).
Hasil penelitian dari Tutus Pramono (2008) telah terbukti bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dapat meningkatkan penguasaan konsep
cahaya dan keterampilan berfikir kreatif siswa SMP. Tutus Pramono sudah
melakukan pembelajaran dengan metode kooperatif tipe STAD sejak tahun 2005.
Berdasarkan hasil informasi dan pengamatan dari para guru yang
mengajar mata pelajaran kejuruan pokok bahasan perhitungan matematika
aplikatif seperti menghitung kebutuhan pupuk, terdapat perilaku-perilaku siswa
menunjukkan karakteristik seperti siswa cenderung belajar secara personal,
motivasi belajar siswa masih belum menunjukkan gairah belajar yang tinggi, hasil
belajar siswa kebanyakan belum mencapai tingkat ketuntasan minimal (KKM),
siswa ragu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman dan guru, siswa
Dengan melihat fenomena tersebut dan untuk menjawab permasalahan
rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa yang mengalami problema belajar,
salah satunya adalah dengan alternatif menerapkan metode cooperative learning
tipe STAD. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis bermaksud mengadakan
penelitian dengan judul “Pengaruh metode cooperative learning tipe
STAD (Student Team Achievment Division) Terhadap Motivasi dan Hasil
Belajar Pada Siswa Yang Mengalami Problema Belajar Dalam Pokok Bahasan
Perhitungan Kebutuhan Pupuk (Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK
Qurrota A’yun Samarang Garut). Diharapkan hasil penelitian ini berguna dan
dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan layanan bagi siswa dalam
pembelajaran kejuruan pada standar kompetensi memupuk di sekolah pertanian
SMK Qurrota A’yun Samarang khususnya dan sekolah kejuruan lain umumnya.
Mengingat dengan metode belajar yang monoton seperti ceramah dan latihan
individual siswa yang biasa dilaksanakan di SMK Qurrota A’yun Samarang Garut
, cenderung hasil belajar tidak meningkat.
B.Identifikasi Masalah
Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan pada latar
belakang masalah, maka peneliti melakukan identifikasi masalah. Adapun
identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Siswa mampu melakukan perhitungan sederhana seperti operasi perkalian,
penjumlahan, pembagian tetapi dalam memecahkan persoalan berbentuk
2. Dalam melakukan perhitungan dan menyelelesaikan soal cerita, siswa
membaca terlalu tergesa-gesa sehingga kesulitan di dalam memahami teks
ataupun maksud dari soal tersebut.
3. Rumus untuk menyelesaikan soal perhitungan kebutuhan pupuk seringkali
terbalik antara menentukan prosentase atau kadar unsur hara dalam pupuk
dan menentukan dosis pupuk, yang mengakibatkan nilai yang diperoleh
sangat kurang.
4. Motivasi belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika aplikatif
seringkali terlihat belum menunjukkan gairah yang meningkat.
C. Batasan Masalah
Agar permasalahan tidak meluas, penelitian dibatasi pada hal-hal berikut :
1. Penelitian ini hanya melihat pengaruh metode Cooperative learning tipe
STAD terhadap motivasi belajar siswa yang mengalami problema belajar
pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.
2. Penelitian ini hanya melihat pengaruh metode Cooperative learning tipe
STAD terhadap hasil belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok
bahasan perhitungan kebutuhan pupuk pada aspek akademik, tidak pada
aspek afektif dan psikomotorik.
3. Penelitian hanya dilakukan di kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun
D. Rumusan Masalah
Agar penelitian dilaksanakan sebaik-baiknya, maka peneliti harus
merumuskan masalah sehingga jelas dari mana harus memulai, kemana
harus pergi dan dengan apa ( Arikunto,1996 : 19 ). Berdasarkan pendapat tersebut
dan mengacu pada uraian latar belakang yang penulis kemukakan di atas, maka
penulis merumuskan permasalahan penelitian. Rumusan masalah tersebut
selanjutnya dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut :
1. Apakah penggunaan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team
Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi
belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan
kebutuhan pupuk ?
2. Apakah penggunaan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team
Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar
siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan
kebutuhan pupuk ?
E.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh metode cooperative learning tipe STAD (Student
Team Achievment Division) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yang
mengalami problema belajar perhitungan kebutuhan pupuk.
2. Untuk mengetahui pengaruh metode cooperative learning tipe STAD (Student
Team Achievment Division) dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam
penggunaan metode cooperative learning tipe STAD pada pembelajaran pokok
bahasan perhitungan kebutuhan pupuk di kelas XI Sekolah Program Keahlian
Pertanian di SMK, secara khusus diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak
antara lain :
1. Bagi siswa dengan penerapan metode Cooperative Learning Tipe STAD
diharapkan dapat memperoleh pengalaman dan ketrampilan yang berharga
sehingga dapat digunakan sebagai latihan untuk mempelajari pokok bahasan
perhitungan kebutuhn pupuk secara bersama-sama dengan teman sebaya di
kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut.
2. Bagi guru-guru khususnya di SMK sebagai masukan dalam merencanakan dan
melaksanakan proses belajar mengajar khususnya pendidikan kejuruan yang
berbasis ilmu pasti dan terapan seperti ilmu pertanian yang ingin menerapkan
metode Cooperative Learning Tipe STAD dalam pembelajaran produktif (kejuruan)
di SMK.
3. Bagi kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan diharapkan hasil penelitian ini
dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan tentang
metode pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran produktif (kejuruan) di
jenjang pendidikan kejuruan seperti SMK Pertanian khususnya.
4. Bagi peneliti sejenis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu
dasar dan masukan dalam mengembangkan penelitian metode kooperatif
G. Definisi Operasional
Dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang diinterpretasikan
sebagai berikut :
a. Metode Cooperative Learning Tipe STAD (Student Team Achievment
Division) adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham
konstruktivis. Metode Cooperative Learning Tipe STAD (Student Team
Achievment Division), yaitu tipe Cooperative Learning dimana siswa belajar
dalam kelompok untuk belajar dari temannya dan mengajar temannya, dalam
setiap satu sampai dua pertemuan diadakan kuis sebagai evaluasi peningkatan
kemampuan individu yang fungsinya untuk disumbangkan dalam peningkatan
nilai kelompok, kelompok dengan nilai tertinggi berhak mendapatkan
penghargaan (Salvin, 2008).
b. Motivasi belajar adalah dorongan semangat dalam belajar yang diperoleh
siswa dalam mempelajari pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk yang
berasal dari dalam dan luar diri siswa setelah mendapatkan pembelajaran
pokok bahasan tersebut dengan metode Cooperative Learning Tipe STAD
(Student Team Achievment Division).
c. Hasil belajar siswa pada penelitian ini ditunjukkan oleh peningkatan
kemampuan akademik (kognitif) siswa pada pokok bahasan perhitungan
kebutuhan pupuk yang merupakan hasil dari proses penerapan metode
Cooperative Learning Tipe STAD (Student Team Achievment Division) dalam
d. Siswa dengan problema belajar dalam perhitungan kebutuhan adalah siswa
yang kesulitan menyelesaikan soal-soal memecahkan masalah yang berkaitan
dengan perhitungan kebutuhan pupuk dan nilai yang diperoleh siswa tersebut
di bawah 7,00 (nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal atau KKM). Bisa
terjadi siswa kesulitan dalam melakukan perhitungan dengan benar karena
konsepnya belum dipahami, atau bisa juga kesulitan dalam mengevaluasi
kembali apakah jawaban yang diberikan sudah benar.
H.Asumsi dan Hipotesis
1. Asumsi
Penelitian ini didasarkan atas asumsi bahwa “Metode pembelajaran
cooperative learning tipe STAD (Student Team Acvhievment Division)
mendorong siswa untuk belajar secara bersama dan saling mendorong untuk
belajar dan berprestasi bersama dalam kelompok. Anggota saling berbagi
tanggung jawab untuk belajar satu sama lain, dan anggota diharapkan saling
membantu, semua berpartisipasi melakukan tugasnya, membawa setiap
anggota belajar secara maksimal dan memelihara hubungan kerja yang baik
diantara anggota tim, sehingga motivasi dan hasil belajar siswa yang
mengalami problema belajar perhitungan kebutuhan pupuk dapat lebih baik”
2. Hipotesis
Hipotesis statistik yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian ini
1. Penggunaan metode cooperative learning Tipe STAD (Student Team
Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi
belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan
kebutuhan pupuk .
2. Penggunaan metode cooperative learning Tipe STAD (Student Team
Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi
belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.Metode dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif berbentuk eksperimen semu
(quasi eksperimen) dimana subyek penelitian tidak dikelompokkan secara acak,
tetapi menerima keadaan subyek apa adanya (Ruseffendi, 2006:52). Metode
eksperimen juga mengungkapkan hubungan antara dua variable atau lebih
mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya.
Penelitian Kuantitatif adalah mengacu pada context of justification, pada
dasarnya menguji teori yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui
kerangka berpikir yang dirumuskan dalam hipotesis penelitian. Pendekatan
penelitian kuantitatif lebih banyak menggunakan logica-hipotetiko-verifikatif.
Pendekatan tersebut dimulai dengan berpikir deduktif untuk menurunkan
hipotesis, kemudian melakukan pengujian di lapangan.Kesimpulan atau hipotesis
tersebut ditarik berdasarkan data empiris.Dengan demikian, penelitian kuantitatif
lebih menekankan pada indeks-indeks dan pengukuran empiris.Penelitian kuantitatif merasa “mengetahui apa yang tidak diketahui” sehingga desain yang
dikembangkannya selalu merupakan rencana kegiatan yang bersifat apriori dan
definitif. Penelitian ini antara lain:
a. Survei, yang dapat berupa penelitian korelasional atau pun penelitian evaluatif.
Dalam penelitian terdapat dua variabel utama. Yakni variabel bebas atau
variabel preditor ( independent variabel ) sering diberi notasi X adalah yang
diduga memberikan suatu pengaruh atau efek terhadap peristwa lain. Variabel
bebas adalah metode cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievment
Division) . Dan satu variabel terikat atau variabel respons ( dependent variabel )
yakni variabel yang ditimbulkan atau efek dari variabel bebas. Variabel terikat
yaitu motivasi belajar (Y1) dan hasil belajar siswa yang mengalami problema
belajar pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk (Y2) ( Nana Sudjana dan
Ibrahim. 2001: 12).
Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen atau desain pre-tes
post-tes (one group prepost-test – posttest design). Desain ini membandingkan perubahan
yang terjadi sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan. Perlakuan yang diberikan
tidak ada pembandingnya sehingga hanya ada satu perlakuan yaitu metode
cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievment Division). (Budi
Susetyo, 2010 : 208).
Hubungan antara variabel-variabel dalam penelitian ini diperjelas dengan
kerangka berfikir sebagai berikut :
Pembelajaran metode cooperative learning Tipe STAD (X)
Desain dapat digambarkan berikut ini :
Kelompok Pretes Perlakuan Postes
A O1 X O2
Gambar 3.1 : Desain Penelitian
Keterangan :
A : Kelompok Siswa yang mengalami Problema Belajar
X : Pembelajaran Perhitungan Pupuk dengan menggunakan metode Cooperative learning tipe STAD
O1 : Pretes
O2 : Postes (Schumacher,2001:342)
Analisis terhadap hubungan antara variabel bebas dan terikat ini akan diuji
melalui uji statistik.
B. Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI ATPH semester 1 tahun
pelajaran 2012-2013 SMK Qurrota A’yun Samarang Garut dengan jumlah siswa
36 siswa.
C. Lokasi Penelitian
Tempat yang digunakan sebagai ajang penelitian ini, yaitu penulis mengambil penelitian yang berlokasi di SMK Qurrota A’yun Samarang, di Jalan
Jawa Barat. Profil SMK Qurrota A’yun Samarang Garut dilaporkan dalam
Lampiran.
D. Alur Penelitian.
Adapun langkah-langkah dalam mewujudkan desain penelitian tersebut
ditunjukkan dalam alur penelitian :
Gambar 3.2. Diagram Alur Proses Penelitian
Pelaksanaannya melalui tahapan sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi permasalahan di lapangan
2. Menyiapkan teori Cooperative learningtipe STAD (student team achievement
division) motivasi belajar dan hasil belajar sekaligus mempersiapkan materi Pengaruh Metode cooperative learning tipe STAD untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa problema belajar
Penentuan subjek
Penentuan sampel
Kelompok Eksperimen
Pretes
cooperative learning tipe STAD
Posttes
Pengolahan dan analisa data
Observasi keterlaksanaan metode
Pengolahan dan analisa data
dan instrument pembelajaran dengan metode cooperative learning tipe STAD
(Student Team Achievement Division)
3. Menentukan subjek dan sampel penelitian
4. Melakukan observasi terhadap pembelajaran pokok bahasan perhitungan
kebutuhan pupuk yang dilakukan guru untuk memperoleh informasi awal
tentang penggunaan metode pembelajaran yang dilaksanakan.
5. Bersama guru menyepakati penerapan metode Cooperative learning tipe
STAD (Student Team Achievement Division) dalam eksperimen pembelajaran
yang akan dilaksanakan oleh peneliti sendiri. Bersama guru
produktif/kejuruan bertugas sebagai observer dan partner guru, pembelajaran
dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan.
6. Memberikan training pada guru tentang pelaksanaan metode Cooperative
learning tipe STAD (Student Team Achievement Division)
7. Mengadakan prestes kepada kelompok eksperimen untuk mengetahui prestasi
awal dalam pembelajaran pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk
8. Menerapkan metode Cooperative learning tipe STAD (student team
achievement division) kepada kelas eksperimen
9. Memberikan postes pada kelas eksperimen.
10. Melakukan analisis data kuantitatif dengan menggunakan uji t terhadap rerata
skor dan rerata skor postes
11.Melakukan analisis data observasi dan wawancara dengan siswa
E.Alat Tes
1. Lembar Observasi
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas dan partisipasi siswa
dalam belajar secara metode Cooperative learning tipe STAD (Student Team
Achievement Division).
Data yang diperoleh adalah dengan menggunakan lembar observasi yang
ditujukan untuk siswa dan diamati oleh observer teman sejawat.
2. Tes Motivasi Belajar
Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan untuk mengukur motivasi adalah menggunakan skala Likerst” .Skala Likert digunakan untuk mengukur
sikap , pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok yang selanjutnya disebut sebagai variable penelitian “(Akdon dansahlan Hadi,2005:118)
Secara garis besar variabel yang diukur peneliti jabarkan dalam indikator –
indikator yang terukur . Indikator yang terukur dijadikan titik tolak untuk
membuat item instrument yang berupa pertanyaan dan pernyataan yang perlu
dijawab responden (siswa). Kuisioner motivasi belajar yang diberikan peneliti
kepada siswa berupa angket motivasi dengan 4 pilihan alternatif mengenai sikap
siswa terhadap motivasi dalam belajar.
Gambaran mengenai indikator dan jumlah butir pernyataan untuk variabel
motivasi belajar dituangkan pada tabel 3.1 berikut :
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Instrumen Variabel Motivasi Belajar Anderson dan Faust (Prayitno, 1998:100)
Indikator Sub indikator Soal
[image:31.595.104.513.243.606.2]tertarik untuk lebih mendalami materi 3 Ketajaman
perhatian
Fokus terhadap penjelasan guru dan teman
Bertanya ketika menjumpai kesulitan Menjawab pertanyaan guru
4.23 5 20
Konsentrasi Sungguh-sungguh mengerjakan LAS Mengefektipkan waktu yang tersedia
6,26,30 8 Ketekunan belajar Kehadiran disekolah
Mengikuti PBM dikelas Senang dengan tantangan Respon terhadap kesulitan Usaha menghadapi kesulitan
19 9 11,29 7 10,28 Belajar dirumah Belajar kelompok diluar PBM/sekolah 13,12 Mempunyai
target
Keinginan untuk berprestasi 14,25
Dalam belajar Tingkat kepuasan terhadap hasil yang diperoleh 15,22,2 7 Kemandirian dalam belajar Mengerjakan tugas/PR
Penggunaan waktu luang untuk belajar 17 16 Tanggung jawab Ketepatan megumpulkan tugas/PR
Peran dalam kerja kelompok
21 18,24
3. Test Hasil Belajar
Yaitu instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data variabel terikat
hasil belajar pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.
Tes ini untuk mengukur hasil atau prestasi belajar berupa peningkatan
pemahaman kognitif siswa , yang dilakukan dengan pretes dan postes sebelun dan
setelah cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division)
diterapkan pada anak dengan indikator kemampuan pengetahuan, pemahaman,
dan penerapan siswa dalam belajar, tes dilakukan melalui bentuk soal pilihan
kebutuhan pupuk ini berjumlah 20 butir dengan skala penilaian 10 (setiap soal
bobot 0.5).
Berikut kisi-kisi tes kognitif materi perhitungan kebutuhan pupuk dituangkan
[image:33.595.118.517.231.635.2]pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Hasil Belajar Perhitungan Kebutuhan Pupuk
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR SOAL TAKSONOMI
BLOOM
Memupuk Menghitung
kebutuhan pupuk
Teknik perhitungan kadar unsur hara 5,7,10, 11,12,1 3,17 Pemahaman Penerapan Teknik perhitungan jumlah populasi tanaman
2,3,8 Pemahaman Penerapan
Teknik perhitungan dosis pupuk
18,19 Pemahaman Penerapan
Teknik perhitungan kebutuhan pupuk per luasan lahan 1,4,9,1 4,15 Pemahaman Penerapan Teknik perhitungan kebutuhan pupuk per tanaman
6,16,20 Pemahaman Penerapan
F. Validitas Tes
Tes dilakukan untuk memperoleh data tentang hasil belajar. Soal tes harus
reliabel (sahih). Uji coba soal tes diikuti oleh 40 siswa kelas XII ATPH SMKN 4
Garut yang bukan merupakan sampel penelitian, jumlah item yang diuji coba
sebanyak 20 soal pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban.
Adapun rumus-rumus yang digunakan untuk keperluan pengujian kesohihan
tes di atas adalah:
a. Uji Tingkat Kesukaran
Untuk melihat tingkat kesukaran butir soal dengan menggunakan persamaan
P = B (Arikunto,2003)
Js
Keterangan : P = indeks kesukaran
B= banyak siswa yang menjawab Js= jumlah seluruh siswa
Kriteria :
P = 0,00 : soal sangat sukar
0,00 < p ≤ 0,30 : soal sukar
0,30 < p ≤ 0,70 : soal sedang
0,70 < p ≤ 1,00 : soal mudah
[image:34.595.114.510.235.607.2]Dari hasil pengolahan data hasil uji coba , diperoleh hasil sebagai berikut
Table 3.3. Rekapitulasi Tingkat Kesukaran Soal
No. soal TK Interprestasi
1 0,65 Sedang
2 0,7 Mudah
3 0,7 Mudah
Berdasarakan kriteria diatas terdapat 6 soal dengan kriteria mudah dan
14 soal dengan kriteria sedang.
b. Daya Pembeda Tes
Perhitungan daya pembeda setiap butir soal dapat digunakan rumus :
D= BA –BB = PA –PB (Arikunto,2003)
JA– JB Keterangan :
D = Daya pembeda
JA = Jumlah siswa kelompok atas JB = Jumlah siswa kelompok bawah
BA = Jumlah siswa kelompok atas yangn menjawab benar BB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab benar PA = Proporsi jumlah siswa kelompok atas yang menjawab benar PB = Proporsi jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab benar Kriteria :
DP ≤ 0,01 : Sangat jelek
5 0,65 Sedang
6 0,68 Sedang
7 0,68 Sedang
8 0,65 Sedang
9 0,53 Sedang
10 0,7 Mudah
11 0,73 Mudah
12 0,7 Mudah
13 0,65 Sedang
14 0,6 Sedang
15 0,48 Sedang
16 0,53 Sedang
17 0,68 Sedang
18 0,6 Sedang
19 0,68 Sedang
0,01 < DP ≤0,20 : Jelek 0,20 < DP ≤ 0,40 : Cukup 0,40 < DP ≤ 0,70 : Baik 0,70 < DP ≤ 1,00 : Sangat Baik
Dari hasil pengolahan data hasil uji coba , diperoleh daya pembeda tes sebagai
[image:36.595.119.508.237.658.2]berikut :
Table 3.4. Rekapitulasi Daya Pembeda Soal
No
Soal DB Interpretasi
1 0,3 Cukup
2 0,3 Cukup
3 0,3 Cukup
4 0,2 Cukup
5 0,4 Baik
6 0,3 Cukup
7 0,3 Cukup
8 0,3 Cukup
9 0,3 Cukup
10 0,3 Cukup
11 0,25 Cukup
12 0,2 Cukup
13 0,5 Baik
14 0,2 Cukup
15 0,2 Cukup
16 0,3 Cukup
17 0,3 Baik
18 0,3 Baik
19 0,3 Baik
20 0,1 Cukup
Berdasarkan kriteria di atas terdapat 5 soal dengan kriteria baik dan 15 soal
c. Uji Validasi Tes Soal dan Angket Motivasi
Validasi adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat keabsahan dan
kevalidan suatu alat ukur atau instrument penelitian. Validitas menunjukan
sejauh mana suatu alat ukur itu mampu mengukur apa yang diukur pada
penelitian. (Singarimbun,1995). Alat ukur yang absah akan mempunyai validitas
yang tinggi , begitu pula sebaliknya. Untuk menguji validitas alat ukur atau
instrument penelitian, terlebih dahulu dicari nilai (harga) korelasi dengan
menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson (PPM) sebagai berikut :
ry1 =
∑ ∑ ∑
√ ∑ ∑ ∑ ∑
Dimana :
rs : koefisien korelasi
n : jumlah responden
Y : jumlah skor total seluruh siswa
X : jumlah skor tiap item
Kemudian validitas berdasarkan kriteria sebagai berikut : (Arikunto,2003)
r < 0,20 = sangat rendah
0,20 ≤ r < 0,40 = rendah
0,40 ≤ r < 0,60 = sedang
0,60 ≤ r < 0,80 = tinggi
r ≥ 0,80 = sangat tinggi
kemudian nilai koefisien korelasi (rs) diuji dengan t, untuk memberikan taraf
t hitung = r
Setelah nilai korelasi (t hitung) didapat kemudian nilai t hitung dibandingkan
dengan nilai t table :
Kaidah keputusan adalah :
• jika t hitung > t tabel maka alat ukur atau instrument penelitian yang digunakan
adalah valid
• jika t hitung < tabel , maka alat ukur atau instrument penelitian yang digunakan
tidak valid .
Berikut hasil pengolahan validasi instrument dengan program SPSS versi 20 .
[image:38.595.111.516.234.739.2]Berdasarkan kriteria di atas terdapat 20 soal dengan kriteria valid.
Tabel 3.5. Rekapitulasi Validitas Soal
No soal Koefisien korelasi
Harga t hitung Harga t tabel Keputusan
1 0,838 10,15 2,05 Valid
2 0,655 8,02 2,05 Valid
3 0,986 31,30 2,05 Valid
4 0,712 5,37 2,05 Valid
5 0,883 10,15 2,05 Valid
6 0,902 11,05 2,05 Valid
7 0,655 8,02 2,05 Valid
8 0,986 31,30 2,05 Valid
9 0,864 9,08 2,05 Valid
10 0,968 20,40 2,05 Valid
11 0,864 9,08 2,05 Valid
12 0,864 9,08 2,05 Valid
13 0,712 5,37 2,05 Valid
14 0,883 10,15 2,05 Valid
15 0,902 11,05 2,05 Valid
17 0,864 9,08 2,05 Valid
18 0,864 9,08 2,05 Valid
19 0,517 3,20 2,05 Valid
20 0,655 8,02 2,05 Valid
Kesimpulan hasil analisis validitas tes angket motivasi dilakukan dengan
membandingkan koefisien korelasi butir soal ( corrected item total correlation)
dengan table nilai-nilai r ( r – table ) dengan menggunakan perhitungan
Kuder-Richardson 20 ( KR-20 ). Jika hasil analisis menunjukkan lebih besar atau sama
dengan nilai r – table dengan menggunakan perhitungan Kuder-Richardson 20
(KR-20) berarti butir tersebut valid. Sebaliknya jika lebih kecil dari nilai r-tabel
berarti tidak valid / gugur. Hasil analisis terhadap 30 butir soal di atas seluruhnya
diperoleh hasil analisis lebih besar dari nilai r-tabel, maka seluruh butir soal
[image:39.595.110.510.222.754.2]angket motivasi dinyatakan valid.
Tabel 3.6. Rekapitulasi Validitas Angket Motivasi
No soal Koefisien korelasi
Harga t pearson Harga t table Keputusan
1 0,42 2,83 2,02 Valid
2 0,43 2,91 2,02 Valid
3 0,41 2,75 2,02 Valid
4 0,45 3,09 2,02 Valid
5 0,37 2,45 2,02 Valid
6 0,41 2,76 2,02 Valid
7 0,51 3,67 2,02 Valid
8 0,55 4,01 2,02 Valid
9 0,42 2,83 2,02 Valid
10 0.43 2,91 2,02 Valid
11 0,41 2,75 2,02 Valid
12 0,36 2,38 2,02 Valid
13 0,37 2,45 2,02 Valid
14 0,41 2,76 2,02 Valid
15 0,51 3,67 2,02 Valid
17 0,43 2,91 2,02 Valid
18 0,41 2,75 2,02 Valid
19 0,36 2,38 2,02 Valid
20 0,38 2,54 2,02 Valid
21 0,45 3,12 2,02 Valid
22 0,59 4,53 2,02 Valid
23 0,52 3,79 2,02 Valid
24 0,43 2,91 2,02 Valid
25 0,41 2,75 2,02 Valid
26 0,38 2,54 2,02 Valid
27 0,45 3,12 2,02 Valid
28 0,59 4,53 2,02 Valid
29 0,52 3,79 2,02 Valid
30 0,33 2,18 2,02 Valid
Berdasarkan kriteria diatas terdapat 30 soal instrument motivasi dengan kriteria
valid.
d.Reliabilitas
Singarimbun (1995) menyatakan realibilitas adalah indeks yang
menunjukan sejauh mana suatu alat ukur atau intrumen penelitian dapat dipercaya
atau diandalakan dalam kegiatan pengumpulan data . jika suatu alat ukur atau
instrument penelitian dapat digunakan dua kali untuk mengukur kejala yang sama
dengan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten , amak alat ukur atau
intrumen tersebut reliabel.
Mengukur reliabilitas digunakan rumus Spearman Brown sebagai berikut :
r11 = 2. rb 1 + rb
r 11 : realibilitas internal seluruh instrument r b : realisasi product moment
r 11≤ 0,2 = sangat rendah 0,2 < r 11≤ 0,40 = rendah
0,40 < r 11≤ 0,60 = cukup atau sedang 0,60 < r 11≤ 0,80 = tinggi
0,80 < r 11 ≤ 1,00 = sangat tinggi (Guiford dalam suherman, 1990)
Bisa juga hasil pengolahan reliabilitas instrument dengan menggunakan
perhitungan Kuder – Richardson 20 ( KR -20 ) diperoleh nilai pada penelitian
ini adalah 0,666. Kriteria yang dihasilkannya adalah reliabilitas instrumen
penelitian tersebut tinggi.
Setelah dianalisis dari tingkat kemudahan,daya pembeda, validitas dan
reliabilitas, maka diperoleh karakteritik instrumen secara keseluruhan sebagai
[image:41.595.110.538.94.742.2]berikut :
Tabel 3. 7. Rekapitulasi Hasil Uji Coba Tes
No soal
TK interprestasi DB Interprestasi Validitas Reliabilitas Ketera ngan
1 0,65 Sedang 0,3 Cukup Valid Sangat
tinggi
Dipakai
2 0,7 Mudah 0,3 Cukup Valid Dipakai
3 0,7 Mudah 0,3 Cukup Valid Dipakai
4 0,7 Mudah 0,2 Cukup Valid Dipakai
5 0,65 Sedang 0,4 Baik Valid Dipakai
6 0,68 Sedang 0,05 Cukup Valid Dipakai
7 0,68 Sedang 0,3 Cukup Valid Dipakai
8 0,65 Sedang 0,3 Cukup Valid Dipakai
9 0,53 Sedang 0,15 Cukup Valid Dipakai
10 0,7 Mudah 0,3 Cukup Valid Dipakai
11 0,73 Mudah 0,25 Cukup Valid Dipakai
12 0,7 Mudah 0,2 Cukup Valid Dipakai
13 0,65 Sedang 0,5 Baik Valid Dipakai
15 0,48 Sedang 0,15 Cukup Valid Dipakai
16 0,53 Sedang 0,1 Cukup Valid Dipakai
17 0,68 Sedang 0,3 Baik Valid Dipakai
18 0,6 Sedang 0,3 Baik Valid Dipakai
19 0,68 Sedang 0,3 Baik Valid Dipakai
20 0,55 Sedang 0,1 Cukup Valid Dipakai
Dipakai
Hasil uji coba tes tersebut dikonsultasikan dengan para guru senior yang
ada di SMKN 4 Garut untuk mendapatkan soal-soal yang akan dipakai sebagai
instrument penelitian berdasarkan hasil konsultasi dinyatakan 20 soal dipakai.
Sedangkan untuk reabilitas test hasil angket motivasi pengambilan
kesimpulan dilakukan dengan membandingkan besarnya koefisien korelasi
dengan nilai r-tabel Kuder-Richardson 20 (KR-20). Skor reliabilitas tes angket
motivasi pada penelitian ini adalah r = 0,85 diperoleh dengan menggunakan
perhitungan Kuder-Richardson 20 (KR-20) untuk menentukan tingkat reliabilitas
digunakan klasifikasi korelasi sebagai berikut : kurang dari 0.20 tidak ada
korelasi, 0.21- 0.40 korelasi rendah, 0.41- 0.70 korelasinya cukup, 0.71-0.90
korelasi tinggi dan 0.91-1.00 korelasinya sangat tinggi. Hasil perhitungan tingkat
reliabilitas angket motivasi dapat dilihat pada lampiran.
Jadi koefisien korelasi berada pada renatang korelasi tinggi, berarti test
angket motivasi belajar tersebut realibel.
G. Teknik Pengolahan Data
Proses pengumpulan datanya meliputi pelaksanaan perlakuan, dan
dilakukan sendiri oleh guru mata pelajaran kejuruan pertanian yang berpedoman
pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun peneliti.
Sedangkan data hasil belajar siswa dikumpulkan menggunakan tes hasil
belajar yang dilaksanakan pada akhir pelaksanaan penelitian atau eksperimen.
Analisis data terdiri atas deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif
berupa penyajian data dengan daftar distribusi frekuensi dan grafik histogram,
mean, median, modus, simpangan baku, dan rentang.
Pengolahan data secara garis besar dilakukan dengan menggunakan
bantuan pendekatan secara hirarki statistik. Data primer dan hasil tes siswa
sebelum dan sesudah pembelajaran dengan pendekatan cooperative learning tipe
STAD (Student Team Achievement Division) dianalisa dengan cara
membandingkan skor pretes dan postes. Peningkatan yang terjadi sebelum dan
sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus gain faktor (N Gain) dengan
rumus :
G = S post -S pre (Meltzer, 2002) S maks - S pre
Keterangan :
[image:43.595.113.512.238.628.2]S post : skor postes S pre : skor pretes S maks : skor maks ideal Kriteria tingkat gain adalah
Tabel 3.8. Kategori Tingkat Gain
Batasan Kategori
g > 0.7 Tinggi
g < 0.3 Rendah
1. Menghitung Nilai Motivasi
Nilai motivasi dikonvensikan tanpa menggunakan nilai rata-rata dan
simpangan baku , yaitu dengan menentukan kriteria sebagai dasar untuk
[image:44.595.118.516.240.662.2]melakukan konversi nilai berdasarkan tabel 3.8 berikut:
Tabel 3.8 Nilai Konversi Motivasi Belajar
Presentase
Jawaban (%)
Nilai konversi
Huruf Standar 10 Standar 4
90-99 A 9 4
80-89 B 8 3
70-79 C 7 2
60-69 D 6 1
Kurang dari 60 Gagal gagal gagal
Nilai 10 bila mencapai 100%
(Sujana,2008:118)
Nilai presentase jawaban kemudian diiinterprestasikan sesuai kriteria
interpretasi motivasi belajar skala likert (Akdon: 120) berikut :
Angka 0%-20% = sangat lemah
Angka 21%-40% = lemah
Angka 41%-60% = cukup
Angka 61%-80% = kuat
Angka81%-100% = sangat kuat
Nilai hasil belajar siswa dikategorikan dengan berpatokan pada kriteria
berikut ; standar sepuluh (0-10) dan standar empat (1-4) atau dengan huruf
[image:45.595.120.517.213.659.2](A-B-C-D) seperti yang tertera pada tabel 3.9.
Tabel 3.9. Kriteria Nilai Konversi Hasil Belajar
Skor Mentah Nilai Konversi
Standar Huruf Standar 10 Standar 4
19-20 A 9 4
17-18 B 8 3
15-16 C 7 2
13-14 D 6 1
Kurang dari 13 Gagal gagal gagal
Nilai 10 bila mencapai 20 (Sujana,2008:118) Standar nilai yang digunakan dalam penelitian ini adalah standar sepuluh
0-10 , nilai yang diperoleh kemudian diinterprstasikan sesuai kriteria
interprestasi nilai hasil belajar di dalam rapor sebagai berikut :
Nilai 10 = istimewa Nilai 9 = baik sekali Nilai 8 = baik
Nilai 7 = lebih dari cukup Nilai 6 = cukup
Nilai 5 = hampir cukup Nilai 4 = kurang
Nilai 3 = kurang sekali Nilai 2 = buruk
Nilai 1 = buruk sekali
Pengolahan dan analisis data dengan menggunakan uji statistik dengan
1. Menguji normalitas data hasil penelitian menggunakan program SPSS versi
20.
2. Jika data berdistribusi normal dilanjutkan pengetesan homogenitas .
Menguji homogenitas tes hasil belajar perhitungan pupuk digunakan uji F,
dengan menggunakan rumus F hitung =S²Besar, (Ruseffendi,1998:295)
S²kecil
Dengan S adalah deviasi baku dk = (n-1) (n = banyaknya skor ) adalah
derajat kebebasan.
F hitung kemudian dibandingkan dengan F tabel atau dengan
tahap keberatan dan derajat kebebasan dk1 dan dk 2 . Jika F hitung lebih
besar dari F tabel artinya kedua buah distribusi populasi penyebarnnya
berbeda secara bararti pada tahap keberartian .
3. Tapi jika data tidak berdistribusi normal dan tidak homogen maka
dilakukan uji perbedaan dua rata-rata populasi berhubungan .
Uji perbedaan dua rerata untuk populasi berhubungan digunakan untuk
menguji perlakuan yang diberikan tidak ada pembandingnya, sehingga
hanya ada satu perlakuan. Desainnya menggunakan desain
pra-eksperimen atau dikenal dengan desain pre-tes post tes (one group
pretest – posttest design). Desain ini membandingkan perubahan yang
terjadi sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan. Dengan menggunakan
data pasangan pre tes dan pasca-tes. Tetapi kedua variabel masih
memiliki keterkaitan koefisien korelasi dengan perhitungan simpangan
̅
Dimana :
∑ dan
√∑( )
D = adalah pasangan skor X1– X2
= simpangan baku rata-rata D
Rumusan Hipotesis statistik : Ho = =
Ho =
Kriteria Pengujian Hipotesis adalah :
Ho diterima jika – < t < ,
diperoleh dari daftar distribusi t dengan peluang
, sebaliknya Ho ditolak pada harga lainnya.
diterima jika
diterima jika
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.KESIMPULAN
Setelah melakukan penelitian dan seluruh hasil analisis dideskripsikan dan
dibahas, berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok kesimpulan sebagai berikut
1. Penggunaan metode cooperative learning tipe STAD berpengaruh secara
signifikan terhadap motivasi belajar siswa yang mengalami problema belajar
pada pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.
2. Penggunaan metode cooperative learning tipe STAD berpengaruh secara
signifikan terhadap hasil belajar siswa yang mengalami problema belajar
pada pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.
B.SARAN
Sesuai dengan temuan atau hasil penelitian tersebut diatas, menunjukkan
pembelajaran pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk dengan metode
cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division)
memunculkan saran-saran sebagai berikut :
1. Bagi guru mata pelajaran kejuruan pertanian khususnya dan bagi guru
kejuruan pada umumnya perlu pelatihan keterampilan menggunakan metode
Cooperative Learning tipe STAD (Student Team Achievement Division),
karena berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa anak yang
mengalami problema belajar khususnya pada pokok bahasan perhitungan
2. Bagi guru SMK yang mengajarkan kelompok produktif agar lebih
meningkatkan keahlian atau kompetensi di bidang pembelajaran, maka
hendaknya mencoba merancang dan berupaya secara benar menerapkan
prinsip-prinsip metode mengajar Cooperative Learning tipe STAD (Student
Team Achievement Division) secara mandiri dengan baik. Berdasarkan hasil
penelitian metode atau pendekatan pembelajaran ini berpengaruh secara
signifikan dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
3. Kendala yang biasa dihadapi para guru di lapangan dalam mencoba
melakukan inovasi-inovasi adalah faktor siswa yang kurang responsif.
Seringkali keinginan guru memberikan layanan terbaik buat siswa terutama
siswa yang mengalami problema belajar tidak ditanggapi secara maksimal,
bahkan siswa seringkali sudah menduga bahwa apa yang akan dilakukan guru
itu hanya akan menambah beban belajarnya. Oleh karena itu maka
disarankan kepada para guru agar menjelaskan tujuan pembelajaran secara
benar kepada siswa. Jika tidak disampaikan tujuan pembelajaran kepada
siswa, maka pembelajaran dengan metode cooperative learning tipe STAD
justru akan lebih banyak menghabiskan waktu dan tujuan pembelajaran juga
menjadi tidak terarah.
4. Penelitian ini dibatasi kepada pembuktian pengaruh metode cooperative
laearning tipe STAD terhadap motivasi dan hasil belajar siswa yang
mengalami problema belajar, maka disarankan kepada para peneliti lain untuk
kritis, berfikir kreatif, penggunaan media, sumber belajar, lingkungan belajar,
dan lain-lain.
5. Bagi para pengambil kebijakan diharapkan memberikan dorongan dan
motivasi kepada para guru untuk mengembangkan berbagai inovasi baru
dalam pembelajaran sehingga terjadi diversifikasi model-model pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, salah satunya dengan metode
cooperative learning tipe STAD.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. (2009). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Alimin, Zaenal (2008). Pemahaman Konsep pendidikan Kebutuhan Khusus dan Anak Berkebutuhan Khusus, http:z-alimin.blogspot.
Bruner dalam Sadimin, (2006 ), Kualitas Pembelajaran Serta Alokasiktu Yang Disediakan Untuk Belajar. tersedia pada online
.http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/14/14/kot25.htm. Tanggal 28 April 2006
Budi Susetyo, Dr, M.Pd. (2010). Statistika Untuk Analisis Data Penelitian. Bandung. PT Refika Aditama .
Chaplin, J.R. dan Messick., R.G (1992). Elementary Sosial Studies; A Practinakcal Guide. 2 en ed. New York; Longman
Direktorat PLB. (2004). Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, Jakarta: Depdiknas.
Endri, H (2003). Penerapan Model Cooperative Learning Tipe STAD Pada Mata Pelajaran IPA di Sekolah Dasar. Tesis SPS UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.
Hamalik, Oemar (1985). Media Pendidikan. Bandung: Remaja Karya
Hamalik, Oemar (2003). Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Aksara
Hamzah B Uno, (2007). Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta; Bumi Aksara, cet I.
Handoko, Martin, 1994. Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Kanisius
Ibrahim, M. Et all. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. UNS Press.
Jhonson, D.W.Jhonson, R.T. & Holubac, E.J. (1994). Cooperative Learning in the Classroom. Virginia: Assosiation for Supervision and Curiculum Development.
Jhonson, D.W. dan Jhonson, R.T. (1981). Effect of Cooperative Learning Experiences on Interethnic Interaction. Journal of Educational Psychology.
Kadisaputra, Otong (2000). Belajar dan Pembelajaran.Bandung. FKIP UNLA.
Kagan, Spencer (1992). Cooperative Learning Resources for Teacher.,San Juan Capistrano. CA: Resources for Teacher.
Latuheru, Jhon D (1988). Media Pengajaran dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta:. DEPDIKBUD.
Lie, Anita (2000) Cooperative Learning di Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo.
Lie, A. (2002). Cooperative Learning : Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo
Maslow. A.H. (1970). Motivation and Personality. New York: Harper & Row Publisher Inc.
Mustaji, Sugiarto ,(2005). Pembelajaran Berbasis Kontruktivisti, Universitas Surabaya, cet II
Mustaqim (2000). Psikologi Pendidikan . Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Nasution (1985). Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi
Aksara, Jakarta.
Nasution, S. (1990). Asas asas Kurikulum. Bandung. Jemmars.
Oemar Hamalik, (2005). Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Cet IV
Pemerintah Republik Indosensia. (2005). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung :Fokus Media.
Prayitno, Elida. (1998). Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: PPLPTK Depdikbud.
Ruseffendi, E.T.(1998). Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.
Ruseffendi, E.T. (2005). Dasar-dasar Penelitian dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung : Tarsito.
Rusman, Dr.MPd. (2011), Model-Model Pembelajaran, Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Sardiman,(2006). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta,
Sharan, Yael & Shlomo Sharan. (1992). Expanding Cooperative Learning Through Group Investigation. New York; Teacher College Press.
Slavin RE (1997). Cooperative Learning Theory Research And Practice. Alya & Baccon.
Slavin. (2008). Cooperative Learning. Mryland: Jhon Hopkins University.
Soemadi (1984). Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV Rajawali
Soenarjo, RJ dkk. (2006). Tangkas Ilmu Pengetahuan Sosial SD. Bandung. Rosda Karya.
Sugiyono (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif . Bandung : CV Alfabeta
Sumantri Numan M. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Kerjasama PPS UPI dengan PT Rosda Karya.
Sumaatmaja, Nursid (2002). Metodologi Pengajaran IPS. Bandung. Alumni.
Sunal, Cynthia dan Merry.E. (1993). Studies and Elementary Middle School Student. New York: Harcourt & Company.
Sunaryo (1989). Strategi Belajar Mengajar dalam Pengajaran IPA. Jakarta: Depdikbud. Dirjen DIKTI.
Suparno Paul. (1997). Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan Matematika. Wijaya Kusumah, Bandung.
Surya, M (1983). Psikologi Pendiddikan. Bandung: Offset. IKIP.
Stahl, R.J (1994). Cooperative Learning in Social Studies. A. Handbook for Teacher. Sydney: Addison Wasley Publishing Company. Inc.
Surya, Muhamad (1996). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Publikasi Jurusan Psikologi Kependidikan dan Bimbingan . Bandung: FIP IKIP.
Tim Puslitjaknov. (2008). Metode Penelitian Pengembangan. Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.
Trianto. (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Usman, Uzer. (1993). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Wadsworth, B.J. (1994). Piaget’s Theory of Cognitive and Affective Development (3rd ed). New York: Longman.
Webb, N.(1985). Student Interaction and Learning in Small Groups: A Research Summary. In R.E Slavin, S.Sharan, S.Kagan, R Hertz-Lazarowitz, C.Webb, and R. Schmuck (eds), Learning to Cooperate, Cooperating to Learn. New York: Plenum.