• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH METODE COOPERATIVE LEARNING STUDENT TEAM ACHIEVMENT DIVISION TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA SISWA PROBLEMA BELAJAR DALAM POKOK BAHASAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK: Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH METODE COOPERATIVE LEARNING STUDENT TEAM ACHIEVMENT DIVISION TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA SISWA PROBLEMA BELAJAR DALAM POKOK BAHASAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK: Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut."

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Metode Cooperative Learning Student Team Achievment Division Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Pada Siswa Yang Mengalami Problema Belajar Dalam Pokok Bahasan Perhitungan Kebutuhan Pupuk

(Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut)

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus

DisusunOleh :

ELIS LISDIANA, S.P NIM. 1007296

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

(2)

================================================================== PengaruhMetodeCooperative LearningStudent Team Achievment

DivisionTerhadapMotivasidanHasilBelajarPadaSiswa Yang

MengalamiProblemaBelajarDalamPokokBahasanPerhitunganKebutuhanPu puk

(EksperimenKuasi di Kelas XI ATPH SMK QurrotaA’yunSamarangGarut)

Oleh

ELIS LISDIANA, S.P

S.P UNBAR, 1998

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Fakultas IlmuPendidikan

© ELIS LISDIANA, S.P2013 Universitas Pendidikan Indonesia

April 2013

(3)

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH

DosenPembimbing

PROF. DR. H. IIM WASLIMAN, M.Si, M.PD NIP. 10470112 196705 001

Mengetahui Ketua Program Studi PendidikanKebutuhanKhusus

(4)

BELAJAR PADA SISWA PROBLEMA BELAJAR DALAM POKOK BAHASAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK

(Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut)

ABSTRAK Elis Lisdiana (1007296)

Meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah merupakan bagian dari filosofi pendidikan inklusif. Metode Cooperative Learning Student Team Achievment Division merupakan konsep pembelajaran yang inovatif untuk mengurangi masalah anak yang mengalami problema belajar (learning problem) yang banyak terdapat di sekolah-sekolah regular pada umumnya .

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah metode Cooperative Learning Student Team Achievment Division dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa problema belajar dalam perhitungan kebutuhan pupuk.

Metode penelitian menggunakan eksperimen kuasi dengan desain “one groups pre-tes-post-tes design” melibatkan 36 orang siswa kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut dengan jumlah siswa yang mengalami problema belajar sebanyak 15 siswa. Data diperoleh dari data kuantitatif dan kualitatif.

Berdasarkan hasil pengolahan data sebelum menerapkan metode cooperative learning Student Team Achievment Division motivasi belajar siswa problema belajar ada pada kategori lemah, setelah metode cooperative learning tipe STAD diterapkan, motivasi belajarnya mengalami peningkatan dari hasil rata-rata nilai pre tes 3,602 atau 36 % berkategori lemah meningkat menjadi sebesar 6,454 atau 64,54% dengan kategori kuat. Sedangkan dari hasil belajar memperoleh nilai rata-rata pre tes 2,77 berkategori kurang sekali meningkat menjadi 6,83 dengan kategori mendekati lebih dari cukup.

Hasil observasi aktivitas siswa pada pelaksanaan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievment Division) ditemukan aktivitas paling menonjol yaitu aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung, suasana pembelajaran yang berpusat pada siswa, belajar bersama dan saling membantu atau siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih tekun dalam mengerjakan tugas.

Rekomendasi dalam penelitian ini bahwa metode cooperative learning tipe STAD dapat dipraktekkan oleh guru kejuruan sebagai salah satu alternatif dengan fungsi memberikan kepercayaan kepada siswa untuk menjadi tutor sebaya. Perlu adanya pelatihan menggunakan metode cooperative learning tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk penelitian dalam aspek yang lebih luas tidak hanya pada motivasi dan hasil belajar, misalnya keterampilan sosial anak, berfikir kritis, berfikir kreatif terhadap anak yang mengalami problema belajar

(5)

Halaman ABSTRAK ………...

KATA PENGANTAR ………...….

UCAPAN TERIMA KASIH ………...……

DAFTAR ISI ………

DAFTAR GAMBAR ………...

DAFTAR TABEL ………...

DAFTAR LAMPIRAN ………...……

BAB I PENDAHULUAN ………..…

A. Latar Belakang Masalah………

B. Identifikasi Masalah……….…

C. Batasan Masalah ………..

D. Rumusan Masalah...

E. Tujuan Penelitian ………..…….

F. Manfaat Penelitian ……….

G. Definisi Operasional ………...

H. Asumsi dan Hipotesis ………..……….

BAB II LANDASAN TEORI ………...

A. Teori yang Mendasari Model Pembelajaran Kooperatif ……….

B. Pembelajaran Kooperatif ( Metode Cooperative Learning )

1. Pengertian Metode Cooperative Learning ………

2. Hakikat Pembelajaran Metode Cooperative Learning

(6)

4. Penggunaan Cooperative Learning………

5. Keunggulan dan Keterbatasan Cooperative Learning

6. Peran Guru dalam Metode Cooperative Learning ……….

7. Pengelolaan Kelas Cooperative Learning………

8. Teknik Belajar Mengajar Cooperative Learning………

C. Metode Cooperative Learning Tipe STAD ………..

D. Motivasi Belajar ………

E. Hasil Belajar………..

F. Problema Belajar (Learning Problem)………

G. Teori Tentang Pupuk dan Kebutuhan Pupuk……….

H. Penelitian-Penelitian yang Relevan………...

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ………

A. Metode dan Desain Penelitian………

B. Subyek Penelitian………...

C. Lokasi Penelitian………

D. Alur Penelitian………

E. Alat Tes………..

F. Validitas Tes ………..

G. Teknik Pengolahan Data………

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………..

A. Hasil Penelitian ……….……….

(7)

A. Kesimpulan………

B. Saran ……….…

DAFTAR PUSTAKA ……….………

LAMPIRAN-LAMPIRAN ……….

RIWAYAT HIDUP PENULIS……… 117

120

124

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

3.1 Desain Penelitian ……….………... 76

3.2 Diagram Alur Proses Penelitian ………... 77

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Langkah-Langkah Metode Cooperative Learning tipe STAD.. 34

2.2 2.3 3.1 3.2 3.3 Pedoman Pemberian Skor Perkembangan Individu………….. Dosis Pupuk Tanaman Hias dalam Pot……….. Kisi-Kisi Instrumen Variabel Motivasi Belajar………. Kisi-Kisi Instrumen Hasil Belajar Perhitungan Kebutuhan Pupuk… Rekapitulasi Tingkat Kesukaran Soal……… 54 70 79 81 82 3.4 Rekapitulasi Daya Pembeda Soal……….. 84

3.5 Rekapitulasi Validitas Soal Tes………. 86

3.6 Rekapitulasi Validitas Motivasi ……… 87

3.7 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Tes…..……….. 89

3.8 Kategori Tingkat Gain………...……… 91

3.9 Nilai Konversi Motivasi Belajar ……….. 91

3.10 Kriteria Nilai Konversi Hasil Belajar ………... 92

4.1 Rerata dan Simpangan Baku ………. 97

4.2 Data Statistik Deskriptif Pre Tes dan Pos Tes Motivasi ……... 98

4.3. Hasil Uji Beda Rata-rata Motivasi Belajar...……….. 99

4.4 Rerata dan Simpangan Baku Hasil Belajar...……….. 100

(10)

4.7 Uji Beda Rata-rata Hasil Belajar ………. 103

4.8 Skor Perkembangan Individu ………..………. 105

4.9 Aktivitas Siswa pada Cooperative Learning tipe STAD…… 108

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

A Perangkat Pembelajaran ……….. 124

B Instrumen Penelitian ……… 166

C Pengolahan Data ……….. 172

D

E

Profil Sekolah ...

Foto-Foto Penelitian……….

200

(11)
(12)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehidupan akan terasa indah apabila ada variasi, sebaliknya akan terasa

membosankan jika segalanya monoton tak berubah. Perubahan ke arah perbaikan

adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insan dalam setiap

kehidupan.

Para penyelenggara pendidikan dituntut melakukan perubahan layanan

pendidikan yang tidak diskriminatif, menghargai keragaman perbedaan individu,

dan pemenuhan kebutuhan setiap individu berdasarkan kemampuannya sehingga

pendidikan akan bermakna bagi peserta didik. Bentuk layanan pendidikan

tersebut dikenal dengan pendidikan inklusif atau inklusi, yang merupakan inovasi

dalam dunia pendidikan yang berbeda dengan pendidikan kebutuhsn khusus atau

pendidikan luar biasa.

Pendidikan inklusif berupaya menggunakan pendekatan berbeda dalam

mengidentifikasi dan mencoba memecahkan masalah yang muncul di sekolah.

Hal ini dapat menjelaskan bahwa pendidikan inkluasif memiliki lebih banyak

kesamaan dengan konsep yang melandasi gerakan “Pendidikan Untuk Semua”

dan “Peningkatan mutu sekolah”. Pendidikan inklusif merupakan pergeseran dari

rasa terpisah dari suatu kelompok tertentu menjadi upaya yang difokuskan untuk

mengatasi hambatan belajar dan berpartisipasi dalam pembelajaran.

Pada tataran kelas, maka kelas inklusif merupakan kelas yang dapat

(13)

berkebutuhan khusus. Kelas merupakan suatu tempat yang membuat peserta didik

dapat belajar, merasa dihargai, dan menjadikan lingkungan yang menyenangkan.

Selain itu, kelas juga memberikan pembelajaran yang dapat menjadikan semua

peserta didik merasa terlibat secara utuh dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Untuk mengembangkan individu dapat dilakukan melalui pembelajaran

kelas reguler maupun kelompok, dan implementasinya dapat menggunakan variasi

atau alternatif metode pembelajaran yang memungkinkan dapat meningkatkan

inklusifitas dan kemampuan peserta didik. Keberhasilan proses pembelajaran

sebagaimana yang telah dikemukan oleh Rusyana ( 1984:87 ) sangatlah kompleks.

Faktor yang dapat mempengaruhi keberlanjutan suatu pendidikan, antara lain

faktor sumber daya manusia guru, yang pengaruhnya dapat berfungsi sebagai

penghambat ataupun sebagai pendorong bagi penyelenggaraan proses belajar

mengajar ataumenciptakan lingkungan yang lebih inklusuf. Kelemahan dari guru

adalah masalah metode pembelajaran yang cenderung selalu monoton dalam

penggunaannya, sehingga menyebabkan kejenuhan, membosankan, tidak menarik

dan menimbulkan tidak adanya motivasi untuk kemajuan pendidikan pada diri

siswa yang pada akhirnya akan menurunnya hasil pendidikan pada diri anak.

Bagaimana guru dapat merangsang dan mengarahkan siswa dalam belajar

yang pada gilirannya dapat mendorong siswa dalam pencapaian keberhasilan dan

hasil belajar siswa secara optimal. Salah satu upaya guru dalam menciptakan

kegiatan belajar mengajar yang baik adalah memilih dan menggunakan suatu

model pembelajaran yang tepat. Kekurangtepatan guru memilih dan menggunakan

(14)

baiknya hasil belajar siswa (Jarolimek: 1993). Dengan iklim belajar - mengajar

yang menantang berkompetisi secara sehat serta memotivasi siswa dalam belajar,

akan berdampak positif dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Sebaliknya

tanpa hal itu apapun yang dilakukan guru tak akan mendapat respon siswa secara

aktif. Untuk itu seyogyanya guru memiliki kemampuan dalam memilih dan

sekaligus menggunakan metode mengajar yang tepat.

Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang

paling sulit oleh para siswa. Meskipun demikian, semua orang harus

mempelajarinya, karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah

kehidupan sehari-hari. Sangat disayangkan matematika aplikatif (terapan) pada

umumnya dikenal sulit dipahami dan tidak disukai karena kurang menarik.

Kecenderungan ini biasanya berawal dari pengalaman belajar siswa dimana

mereka menemukan kenyataan bahwa pelajaran matematika aplikatif adalah

pelajaran berat dan serius yang tidak jauh dari persoalan konsep, pemahaman

konsep, penyelesaian soal-soal yang rumit melalui pendekatan matematis hingga

kegiatan praktik yang menuntut mereka melakukan segala sesuatunya dengan

sangat teliti dan cenderung “membosankan”. Di sisi lain kurangnya minat dan

motivasi untuk mempelajari matematika aplikatif, merasa terpaksa atau

menganggap suatu kewajiban, mengakibatkan tujuan pembelajaran yang

diharapkan menjadi sulit tercapai, Hal ini terbukti dari rendahnya nilai rata-rata

matematika aplikatif dari tahun ke tahun.

Istilah matematika aplikatif dalam penelitian ini adalah penerapan konsep

(15)

ilmu-ilmu pertanian seperti perhitungan kebutuhan benih atau bibit, perhitungan

populasi tanaman, perhitungan zat pengatur tumbuh, perhitungan kebutuhan

pestisida, kebutuhan air untuk penyiraman, perhitungan kebutuhan pupuk. Dalam

penerapan matematika aplikatif dibutuhkan pemahaman akan maksud soal

tersebut. Pemahaman ini membentuk pola fikir sehingga kita bisa mengelola dan

memanfaatkan alam dengan baik tanpa menimbulkan dampak negatif. Proses

penerusan pemahaman konsep kepada siswa merupakan hal yang sangat

dibutuhkan dalam menyelesaikan soal-soal matematika aplikatif. Yang

dibutuhkan siswa adalah kemampuan untuk mendapatkan dan mengelola

informasi yang sesuai dengan kebutuhan profesinya, menyusun pembelajaran

yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Asumsi rendahnya kemampuan berhitung dan rendahnya nilai siswa

dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang

berasal dari dalam diri peserta didik, diantaranya persepsi, motivasi, minat,

konsentrasi, atensi dan lainnya. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri

peserta didik diantaranya adalah penggunaan pendekatan, dan strategi belajar.

Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan pendekatan dan strategi belajar

yang tepat menjadi salah satu penentu keberhasilan proses belajar berhitung.

Pembelajaran matematika aplikatif seperti menghitung kebutuhan pupuk

di SMK Pertanian selama ini menitikberatkan pada bagaimana menghabiskan

materi pelajaran melalui metode ceramah dan latihan individual (drill), peserta

didik yang pintar dan aktif saja yang berani untuk maju menuliskan hasil

(16)

matematika aplikatif hanya mendengar dan menuluis apa yang sudah dijelaskan

gurunya. Ini tentu membosankan dan membuat siswa merasa tidak termotivasi

atau malas, padahal tumbuhnya semangat dan keinginan belajar bukan karena

paksaan tetapi karena dorongan atau motivasi dalam dirinya secara sadar untuk

melakukan sesuatu agar mampu menguasai materi pelajaran hingga dapat meraih

atau meningkatkan hasil belajar siswa. Rendahnya nilai siswa yang mengalami

problema belajar pada pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk diduga

karena siswa kurang termotivasi dalam belajar sebagai akibat dari pengaruh

metode konvensional yang biasa digunakan guru dalam menyampaikan materi

pelajaran di kelas yang cenderung membosankan. Hal tersebut juga dikemukakan

oleh Kardisaputra (2003:39) bahwa siswa yang belajar disertai motivasi akan

lebih berhasil daripada belajar tanpa motivasi.

Agar tercipta proses pemahaman matematika aplikatif atau berhitung bagi

anak yang mengalami problema belajar sangat diperlukan model atau strategi

pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya dan dapat meningkatkan

motivasi belajar. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajarkan

cara menyelesaikan persoalan matematika aplikatif bagi peserta didik yang

mengalami problema belajar, salah satunya adalah strategi pembelajaran

Cooperative Learning. Semua itu dilakukan agar pembelajaran mampu

mengantarkan peserta didik yang mengalami problema belajar untuk dapat

bersikap positif terhadap matematika aplikatif seperti perhitungan kebutuhan

(17)

digunakan harus sesuai dengan jenis kegiatan belajar siswa agar sesuai

kebutuhannya.

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang memberi

kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dalam tugas-tugas yang

terstruktur (Lie, 2002:12). Metode pembelajaran kooperatif yang diduga dapat

memperbaiki kualitas pembelajaran adalah metode cooperative learning tipe

STAD (Student Team Achievment Division). Metode pembelajaran ini berangkat

dari dasar pemikiran getting better learning yang menekankan pada pemberian

kesempatan belajar lebih luas dan suasana kondusif kepada siswa untuk

memperoleh, mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, keaktifan serta

keterampilan bekerjasama yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif ini dapat memberikan hasil ganda,

yaitu penanaman konsep dan pengembangan kecakapan serta berfikir tingkat

tinggi (Slavin, 1995).

Menurut Sumantri dalam Ratna Sari Dewi (2008) belajar dengan

menggunakan metode cooperative learning tipe STAD dapat menumbuhkan

motivasi belajar, karena dengan metode ini akan terjadi kompetisi yang sehat

diantara sesama anggota kelompok, sehingga tercipta suasana belajar yang saling

mengisi dari segi pengetahuan dan keahlian serta siswa yang percaya diri

tentunya akan mendapat kebutuhan intelektual, sosial dan emosi.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievements Division

(STAD), mula-mula guru mempresentasikan pelajaran melalui metode ceramah,

(18)

untuk pembelajaran kelompok dengan tugas yang sama. Masing-masing

kelompok memiliki tugas yang berbeda-beda. Siswa membentuk kelompok kecil

beranggotakan 4 sampai 6 orang, belajar dan bekerja secara berkolaboratif

mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk LKS. Setiap anggota

kelompok saling membantu satu sama lain melalui tutor sebaya dan bertanggung

jawab atas keberhasilan anggotanya sehingga semua anggota kelompok dapat

mempelajari dan memahami materi dengan tuntas. Selanjutnya, masing-masing

siswa diberi kuis tentang materi itu dengan ketentuan mereka tidak boleh saling

membantu kemudian dihitung peningkatan skornya. Peningkatan skor tiap

anggota tim ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim. Pemberian penghargaan

diberikan kepada tim yang memiliki skor tinggi (Depdiknas, 2000).

Hasil penelitian dari Tutus Pramono (2008) telah terbukti bahwa model

pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dapat meningkatkan penguasaan konsep

cahaya dan keterampilan berfikir kreatif siswa SMP. Tutus Pramono sudah

melakukan pembelajaran dengan metode kooperatif tipe STAD sejak tahun 2005.

Berdasarkan hasil informasi dan pengamatan dari para guru yang

mengajar mata pelajaran kejuruan pokok bahasan perhitungan matematika

aplikatif seperti menghitung kebutuhan pupuk, terdapat perilaku-perilaku siswa

menunjukkan karakteristik seperti siswa cenderung belajar secara personal,

motivasi belajar siswa masih belum menunjukkan gairah belajar yang tinggi, hasil

belajar siswa kebanyakan belum mencapai tingkat ketuntasan minimal (KKM),

siswa ragu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman dan guru, siswa

(19)

Dengan melihat fenomena tersebut dan untuk menjawab permasalahan

rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa yang mengalami problema belajar,

salah satunya adalah dengan alternatif menerapkan metode cooperative learning

tipe STAD. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis bermaksud mengadakan

penelitian dengan judul “Pengaruh metode cooperative learning tipe

STAD (Student Team Achievment Division) Terhadap Motivasi dan Hasil

Belajar Pada Siswa Yang Mengalami Problema Belajar Dalam Pokok Bahasan

Perhitungan Kebutuhan Pupuk (Eksperimen Kuasi di Kelas XI ATPH SMK

Qurrota A’yun Samarang Garut). Diharapkan hasil penelitian ini berguna dan

dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan layanan bagi siswa dalam

pembelajaran kejuruan pada standar kompetensi memupuk di sekolah pertanian

SMK Qurrota A’yun Samarang khususnya dan sekolah kejuruan lain umumnya.

Mengingat dengan metode belajar yang monoton seperti ceramah dan latihan

individual siswa yang biasa dilaksanakan di SMK Qurrota A’yun Samarang Garut

, cenderung hasil belajar tidak meningkat.

B.Identifikasi Masalah

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan pada latar

belakang masalah, maka peneliti melakukan identifikasi masalah. Adapun

identifikasi masalah sebagai berikut :

1. Siswa mampu melakukan perhitungan sederhana seperti operasi perkalian,

penjumlahan, pembagian tetapi dalam memecahkan persoalan berbentuk

(20)

2. Dalam melakukan perhitungan dan menyelelesaikan soal cerita, siswa

membaca terlalu tergesa-gesa sehingga kesulitan di dalam memahami teks

ataupun maksud dari soal tersebut.

3. Rumus untuk menyelesaikan soal perhitungan kebutuhan pupuk seringkali

terbalik antara menentukan prosentase atau kadar unsur hara dalam pupuk

dan menentukan dosis pupuk, yang mengakibatkan nilai yang diperoleh

sangat kurang.

4. Motivasi belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika aplikatif

seringkali terlihat belum menunjukkan gairah yang meningkat.

C. Batasan Masalah

Agar permasalahan tidak meluas, penelitian dibatasi pada hal-hal berikut :

1. Penelitian ini hanya melihat pengaruh metode Cooperative learning tipe

STAD terhadap motivasi belajar siswa yang mengalami problema belajar

pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.

2. Penelitian ini hanya melihat pengaruh metode Cooperative learning tipe

STAD terhadap hasil belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok

bahasan perhitungan kebutuhan pupuk pada aspek akademik, tidak pada

aspek afektif dan psikomotorik.

3. Penelitian hanya dilakukan di kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun

(21)

D. Rumusan Masalah

Agar penelitian dilaksanakan sebaik-baiknya, maka peneliti harus

merumuskan masalah sehingga jelas dari mana harus memulai, kemana

harus pergi dan dengan apa ( Arikunto,1996 : 19 ). Berdasarkan pendapat tersebut

dan mengacu pada uraian latar belakang yang penulis kemukakan di atas, maka

penulis merumuskan permasalahan penelitian. Rumusan masalah tersebut

selanjutnya dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut :

1. Apakah penggunaan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team

Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi

belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan

kebutuhan pupuk ?

2. Apakah penggunaan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team

Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar

siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan

kebutuhan pupuk ?

E.Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh metode cooperative learning tipe STAD (Student

Team Achievment Division) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yang

mengalami problema belajar perhitungan kebutuhan pupuk.

2. Untuk mengetahui pengaruh metode cooperative learning tipe STAD (Student

Team Achievment Division) dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang

(22)

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam

penggunaan metode cooperative learning tipe STAD pada pembelajaran pokok

bahasan perhitungan kebutuhan pupuk di kelas XI Sekolah Program Keahlian

Pertanian di SMK, secara khusus diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak

antara lain :

1. Bagi siswa dengan penerapan metode Cooperative Learning Tipe STAD

diharapkan dapat memperoleh pengalaman dan ketrampilan yang berharga

sehingga dapat digunakan sebagai latihan untuk mempelajari pokok bahasan

perhitungan kebutuhn pupuk secara bersama-sama dengan teman sebaya di

kelas XI ATPH SMK Qurrota A’yun Samarang Garut.

2. Bagi guru-guru khususnya di SMK sebagai masukan dalam merencanakan dan

melaksanakan proses belajar mengajar khususnya pendidikan kejuruan yang

berbasis ilmu pasti dan terapan seperti ilmu pertanian yang ingin menerapkan

metode Cooperative Learning Tipe STAD dalam pembelajaran produktif (kejuruan)

di SMK.

3. Bagi kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan diharapkan hasil penelitian ini

dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan tentang

metode pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran produktif (kejuruan) di

jenjang pendidikan kejuruan seperti SMK Pertanian khususnya.

4. Bagi peneliti sejenis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu

dasar dan masukan dalam mengembangkan penelitian metode kooperatif

(23)

G. Definisi Operasional

Dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang diinterpretasikan

sebagai berikut :

a. Metode Cooperative Learning Tipe STAD (Student Team Achievment

Division) adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham

konstruktivis. Metode Cooperative Learning Tipe STAD (Student Team

Achievment Division), yaitu tipe Cooperative Learning dimana siswa belajar

dalam kelompok untuk belajar dari temannya dan mengajar temannya, dalam

setiap satu sampai dua pertemuan diadakan kuis sebagai evaluasi peningkatan

kemampuan individu yang fungsinya untuk disumbangkan dalam peningkatan

nilai kelompok, kelompok dengan nilai tertinggi berhak mendapatkan

penghargaan (Salvin, 2008).

b. Motivasi belajar adalah dorongan semangat dalam belajar yang diperoleh

siswa dalam mempelajari pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk yang

berasal dari dalam dan luar diri siswa setelah mendapatkan pembelajaran

pokok bahasan tersebut dengan metode Cooperative Learning Tipe STAD

(Student Team Achievment Division).

c. Hasil belajar siswa pada penelitian ini ditunjukkan oleh peningkatan

kemampuan akademik (kognitif) siswa pada pokok bahasan perhitungan

kebutuhan pupuk yang merupakan hasil dari proses penerapan metode

Cooperative Learning Tipe STAD (Student Team Achievment Division) dalam

(24)

d. Siswa dengan problema belajar dalam perhitungan kebutuhan adalah siswa

yang kesulitan menyelesaikan soal-soal memecahkan masalah yang berkaitan

dengan perhitungan kebutuhan pupuk dan nilai yang diperoleh siswa tersebut

di bawah 7,00 (nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal atau KKM). Bisa

terjadi siswa kesulitan dalam melakukan perhitungan dengan benar karena

konsepnya belum dipahami, atau bisa juga kesulitan dalam mengevaluasi

kembali apakah jawaban yang diberikan sudah benar.

H.Asumsi dan Hipotesis

1. Asumsi

Penelitian ini didasarkan atas asumsi bahwa “Metode pembelajaran

cooperative learning tipe STAD (Student Team Acvhievment Division)

mendorong siswa untuk belajar secara bersama dan saling mendorong untuk

belajar dan berprestasi bersama dalam kelompok. Anggota saling berbagi

tanggung jawab untuk belajar satu sama lain, dan anggota diharapkan saling

membantu, semua berpartisipasi melakukan tugasnya, membawa setiap

anggota belajar secara maksimal dan memelihara hubungan kerja yang baik

diantara anggota tim, sehingga motivasi dan hasil belajar siswa yang

mengalami problema belajar perhitungan kebutuhan pupuk dapat lebih baik”

2. Hipotesis

Hipotesis statistik yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian ini

(25)

1. Penggunaan metode cooperative learning Tipe STAD (Student Team

Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi

belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan

kebutuhan pupuk .

2. Penggunaan metode cooperative learning Tipe STAD (Student Team

Achievment Divisision) berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi

belajar siswa yang mengalami problema belajar pokok bahasan perhitungan

(26)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.Metode dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif berbentuk eksperimen semu

(quasi eksperimen) dimana subyek penelitian tidak dikelompokkan secara acak,

tetapi menerima keadaan subyek apa adanya (Ruseffendi, 2006:52). Metode

eksperimen juga mengungkapkan hubungan antara dua variable atau lebih

mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya.

Penelitian Kuantitatif adalah mengacu pada context of justification, pada

dasarnya menguji teori yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui

kerangka berpikir yang dirumuskan dalam hipotesis penelitian. Pendekatan

penelitian kuantitatif lebih banyak menggunakan logica-hipotetiko-verifikatif.

Pendekatan tersebut dimulai dengan berpikir deduktif untuk menurunkan

hipotesis, kemudian melakukan pengujian di lapangan.Kesimpulan atau hipotesis

tersebut ditarik berdasarkan data empiris.Dengan demikian, penelitian kuantitatif

lebih menekankan pada indeks-indeks dan pengukuran empiris.Penelitian kuantitatif merasa “mengetahui apa yang tidak diketahui” sehingga desain yang

dikembangkannya selalu merupakan rencana kegiatan yang bersifat apriori dan

definitif. Penelitian ini antara lain:

a. Survei, yang dapat berupa penelitian korelasional atau pun penelitian evaluatif.

(27)

Dalam penelitian terdapat dua variabel utama. Yakni variabel bebas atau

variabel preditor ( independent variabel ) sering diberi notasi X adalah yang

diduga memberikan suatu pengaruh atau efek terhadap peristwa lain. Variabel

bebas adalah metode cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievment

Division) . Dan satu variabel terikat atau variabel respons ( dependent variabel )

yakni variabel yang ditimbulkan atau efek dari variabel bebas. Variabel terikat

yaitu motivasi belajar (Y1) dan hasil belajar siswa yang mengalami problema

belajar pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk (Y2) ( Nana Sudjana dan

Ibrahim. 2001: 12).

Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen atau desain pre-tes

post-tes (one group prepost-test – posttest design). Desain ini membandingkan perubahan

yang terjadi sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan. Perlakuan yang diberikan

tidak ada pembandingnya sehingga hanya ada satu perlakuan yaitu metode

cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievment Division). (Budi

Susetyo, 2010 : 208).

Hubungan antara variabel-variabel dalam penelitian ini diperjelas dengan

kerangka berfikir sebagai berikut :

Pembelajaran metode cooperative learning Tipe STAD (X)

(28)

Desain dapat digambarkan berikut ini :

Kelompok Pretes Perlakuan Postes

A O1 X O2

Gambar 3.1 : Desain Penelitian

Keterangan :

A : Kelompok Siswa yang mengalami Problema Belajar

X : Pembelajaran Perhitungan Pupuk dengan menggunakan metode Cooperative learning tipe STAD

O1 : Pretes

O2 : Postes (Schumacher,2001:342)

Analisis terhadap hubungan antara variabel bebas dan terikat ini akan diuji

melalui uji statistik.

B. Subjek penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI ATPH semester 1 tahun

pelajaran 2012-2013 SMK Qurrota A’yun Samarang Garut dengan jumlah siswa

36 siswa.

C. Lokasi Penelitian

Tempat yang digunakan sebagai ajang penelitian ini, yaitu penulis mengambil penelitian yang berlokasi di SMK Qurrota A’yun Samarang, di Jalan

(29)

Jawa Barat. Profil SMK Qurrota A’yun Samarang Garut dilaporkan dalam

Lampiran.

D. Alur Penelitian.

Adapun langkah-langkah dalam mewujudkan desain penelitian tersebut

ditunjukkan dalam alur penelitian :

Gambar 3.2. Diagram Alur Proses Penelitian

Pelaksanaannya melalui tahapan sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi permasalahan di lapangan

2. Menyiapkan teori Cooperative learningtipe STAD (student team achievement

division) motivasi belajar dan hasil belajar sekaligus mempersiapkan materi Pengaruh Metode cooperative learning tipe STAD untuk

meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa problema belajar

Penentuan subjek

Penentuan sampel

Kelompok Eksperimen

Pretes

cooperative learning tipe STAD

Posttes

Pengolahan dan analisa data

Observasi keterlaksanaan metode

Pengolahan dan analisa data

(30)

dan instrument pembelajaran dengan metode cooperative learning tipe STAD

(Student Team Achievement Division)

3. Menentukan subjek dan sampel penelitian

4. Melakukan observasi terhadap pembelajaran pokok bahasan perhitungan

kebutuhan pupuk yang dilakukan guru untuk memperoleh informasi awal

tentang penggunaan metode pembelajaran yang dilaksanakan.

5. Bersama guru menyepakati penerapan metode Cooperative learning tipe

STAD (Student Team Achievement Division) dalam eksperimen pembelajaran

yang akan dilaksanakan oleh peneliti sendiri. Bersama guru

produktif/kejuruan bertugas sebagai observer dan partner guru, pembelajaran

dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan.

6. Memberikan training pada guru tentang pelaksanaan metode Cooperative

learning tipe STAD (Student Team Achievement Division)

7. Mengadakan prestes kepada kelompok eksperimen untuk mengetahui prestasi

awal dalam pembelajaran pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk

8. Menerapkan metode Cooperative learning tipe STAD (student team

achievement division) kepada kelas eksperimen

9. Memberikan postes pada kelas eksperimen.

10. Melakukan analisis data kuantitatif dengan menggunakan uji t terhadap rerata

skor dan rerata skor postes

11.Melakukan analisis data observasi dan wawancara dengan siswa

E.Alat Tes

(31)

1. Lembar Observasi

Digunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas dan partisipasi siswa

dalam belajar secara metode Cooperative learning tipe STAD (Student Team

Achievement Division).

Data yang diperoleh adalah dengan menggunakan lembar observasi yang

ditujukan untuk siswa dan diamati oleh observer teman sejawat.

2. Tes Motivasi Belajar

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan untuk mengukur motivasi adalah menggunakan skala Likerst” .Skala Likert digunakan untuk mengukur

sikap , pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok yang selanjutnya disebut sebagai variable penelitian “(Akdon dansahlan Hadi,2005:118)

Secara garis besar variabel yang diukur peneliti jabarkan dalam indikator –

indikator yang terukur . Indikator yang terukur dijadikan titik tolak untuk

membuat item instrument yang berupa pertanyaan dan pernyataan yang perlu

dijawab responden (siswa). Kuisioner motivasi belajar yang diberikan peneliti

kepada siswa berupa angket motivasi dengan 4 pilihan alternatif mengenai sikap

siswa terhadap motivasi dalam belajar.

Gambaran mengenai indikator dan jumlah butir pernyataan untuk variabel

motivasi belajar dituangkan pada tabel 3.1 berikut :

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Instrumen Variabel Motivasi Belajar Anderson dan Faust (Prayitno, 1998:100)

Indikator Sub indikator Soal

[image:31.595.104.513.243.606.2]
(32)

tertarik untuk lebih mendalami materi 3 Ketajaman

perhatian

Fokus terhadap penjelasan guru dan teman

Bertanya ketika menjumpai kesulitan Menjawab pertanyaan guru

4.23 5 20

Konsentrasi Sungguh-sungguh mengerjakan LAS Mengefektipkan waktu yang tersedia

6,26,30 8 Ketekunan belajar Kehadiran disekolah

Mengikuti PBM dikelas Senang dengan tantangan Respon terhadap kesulitan Usaha menghadapi kesulitan

19 9 11,29 7 10,28 Belajar dirumah Belajar kelompok diluar PBM/sekolah 13,12 Mempunyai

target

Keinginan untuk berprestasi 14,25

Dalam belajar Tingkat kepuasan terhadap hasil yang diperoleh 15,22,2 7 Kemandirian dalam belajar Mengerjakan tugas/PR

Penggunaan waktu luang untuk belajar 17 16 Tanggung jawab Ketepatan megumpulkan tugas/PR

Peran dalam kerja kelompok

21 18,24

3. Test Hasil Belajar

Yaitu instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data variabel terikat

hasil belajar pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.

Tes ini untuk mengukur hasil atau prestasi belajar berupa peningkatan

pemahaman kognitif siswa , yang dilakukan dengan pretes dan postes sebelun dan

setelah cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division)

diterapkan pada anak dengan indikator kemampuan pengetahuan, pemahaman,

dan penerapan siswa dalam belajar, tes dilakukan melalui bentuk soal pilihan

(33)

kebutuhan pupuk ini berjumlah 20 butir dengan skala penilaian 10 (setiap soal

bobot 0.5).

Berikut kisi-kisi tes kognitif materi perhitungan kebutuhan pupuk dituangkan

[image:33.595.118.517.231.635.2]

pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Hasil Belajar Perhitungan Kebutuhan Pupuk

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR SOAL TAKSONOMI

BLOOM

Memupuk Menghitung

kebutuhan pupuk

Teknik perhitungan kadar unsur hara 5,7,10, 11,12,1 3,17 Pemahaman Penerapan Teknik perhitungan jumlah populasi tanaman

2,3,8 Pemahaman Penerapan

Teknik perhitungan dosis pupuk

18,19 Pemahaman Penerapan

Teknik perhitungan kebutuhan pupuk per luasan lahan 1,4,9,1 4,15 Pemahaman Penerapan Teknik perhitungan kebutuhan pupuk per tanaman

6,16,20 Pemahaman Penerapan

F. Validitas Tes

Tes dilakukan untuk memperoleh data tentang hasil belajar. Soal tes harus

(34)

reliabel (sahih). Uji coba soal tes diikuti oleh 40 siswa kelas XII ATPH SMKN 4

Garut yang bukan merupakan sampel penelitian, jumlah item yang diuji coba

sebanyak 20 soal pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban.

Adapun rumus-rumus yang digunakan untuk keperluan pengujian kesohihan

tes di atas adalah:

a. Uji Tingkat Kesukaran

Untuk melihat tingkat kesukaran butir soal dengan menggunakan persamaan

P = B (Arikunto,2003)

Js

Keterangan : P = indeks kesukaran

B= banyak siswa yang menjawab Js= jumlah seluruh siswa

Kriteria :

P = 0,00 : soal sangat sukar

0,00 < p ≤ 0,30 : soal sukar

0,30 < p ≤ 0,70 : soal sedang

0,70 < p ≤ 1,00 : soal mudah

[image:34.595.114.510.235.607.2]

Dari hasil pengolahan data hasil uji coba , diperoleh hasil sebagai berikut

Table 3.3. Rekapitulasi Tingkat Kesukaran Soal

No. soal TK Interprestasi

1 0,65 Sedang

2 0,7 Mudah

3 0,7 Mudah

(35)

Berdasarakan kriteria diatas terdapat 6 soal dengan kriteria mudah dan

14 soal dengan kriteria sedang.

b. Daya Pembeda Tes

Perhitungan daya pembeda setiap butir soal dapat digunakan rumus :

D= BA –BB = PA –PB (Arikunto,2003)

JA– JB Keterangan :

D = Daya pembeda

JA = Jumlah siswa kelompok atas JB = Jumlah siswa kelompok bawah

BA = Jumlah siswa kelompok atas yangn menjawab benar BB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab benar PA = Proporsi jumlah siswa kelompok atas yang menjawab benar PB = Proporsi jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab benar Kriteria :

DP ≤ 0,01 : Sangat jelek

5 0,65 Sedang

6 0,68 Sedang

7 0,68 Sedang

8 0,65 Sedang

9 0,53 Sedang

10 0,7 Mudah

11 0,73 Mudah

12 0,7 Mudah

13 0,65 Sedang

14 0,6 Sedang

15 0,48 Sedang

16 0,53 Sedang

17 0,68 Sedang

18 0,6 Sedang

19 0,68 Sedang

(36)

0,01 < DP ≤0,20 : Jelek 0,20 < DP ≤ 0,40 : Cukup 0,40 < DP ≤ 0,70 : Baik 0,70 < DP ≤ 1,00 : Sangat Baik

Dari hasil pengolahan data hasil uji coba , diperoleh daya pembeda tes sebagai

[image:36.595.119.508.237.658.2]

berikut :

Table 3.4. Rekapitulasi Daya Pembeda Soal

No

Soal DB Interpretasi

1 0,3 Cukup

2 0,3 Cukup

3 0,3 Cukup

4 0,2 Cukup

5 0,4 Baik

6 0,3 Cukup

7 0,3 Cukup

8 0,3 Cukup

9 0,3 Cukup

10 0,3 Cukup

11 0,25 Cukup

12 0,2 Cukup

13 0,5 Baik

14 0,2 Cukup

15 0,2 Cukup

16 0,3 Cukup

17 0,3 Baik

18 0,3 Baik

19 0,3 Baik

20 0,1 Cukup

Berdasarkan kriteria di atas terdapat 5 soal dengan kriteria baik dan 15 soal

(37)

c. Uji Validasi Tes Soal dan Angket Motivasi

Validasi adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat keabsahan dan

kevalidan suatu alat ukur atau instrument penelitian. Validitas menunjukan

sejauh mana suatu alat ukur itu mampu mengukur apa yang diukur pada

penelitian. (Singarimbun,1995). Alat ukur yang absah akan mempunyai validitas

yang tinggi , begitu pula sebaliknya. Untuk menguji validitas alat ukur atau

instrument penelitian, terlebih dahulu dicari nilai (harga) korelasi dengan

menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson (PPM) sebagai berikut :

ry1 =

∑ ∑ ∑

√ ∑ ∑ ∑ ∑

Dimana :

rs : koefisien korelasi

n : jumlah responden

Y : jumlah skor total seluruh siswa

X : jumlah skor tiap item

Kemudian validitas berdasarkan kriteria sebagai berikut : (Arikunto,2003)

r < 0,20 = sangat rendah

0,20 ≤ r < 0,40 = rendah

0,40 ≤ r < 0,60 = sedang

0,60 ≤ r < 0,80 = tinggi

r ≥ 0,80 = sangat tinggi

kemudian nilai koefisien korelasi (rs) diuji dengan t, untuk memberikan taraf

(38)

t hitung = r

Setelah nilai korelasi (t hitung) didapat kemudian nilai t hitung dibandingkan

dengan nilai t table :

Kaidah keputusan adalah :

• jika t hitung > t tabel maka alat ukur atau instrument penelitian yang digunakan

adalah valid

• jika t hitung < tabel , maka alat ukur atau instrument penelitian yang digunakan

tidak valid .

Berikut hasil pengolahan validasi instrument dengan program SPSS versi 20 .

[image:38.595.111.516.234.739.2]

Berdasarkan kriteria di atas terdapat 20 soal dengan kriteria valid.

Tabel 3.5. Rekapitulasi Validitas Soal

No soal Koefisien korelasi

Harga t hitung Harga t tabel Keputusan

1 0,838 10,15 2,05 Valid

2 0,655 8,02 2,05 Valid

3 0,986 31,30 2,05 Valid

4 0,712 5,37 2,05 Valid

5 0,883 10,15 2,05 Valid

6 0,902 11,05 2,05 Valid

7 0,655 8,02 2,05 Valid

8 0,986 31,30 2,05 Valid

9 0,864 9,08 2,05 Valid

10 0,968 20,40 2,05 Valid

11 0,864 9,08 2,05 Valid

12 0,864 9,08 2,05 Valid

13 0,712 5,37 2,05 Valid

14 0,883 10,15 2,05 Valid

15 0,902 11,05 2,05 Valid

(39)

17 0,864 9,08 2,05 Valid

18 0,864 9,08 2,05 Valid

19 0,517 3,20 2,05 Valid

20 0,655 8,02 2,05 Valid

Kesimpulan hasil analisis validitas tes angket motivasi dilakukan dengan

membandingkan koefisien korelasi butir soal ( corrected item total correlation)

dengan table nilai-nilai r ( r – table ) dengan menggunakan perhitungan

Kuder-Richardson 20 ( KR-20 ). Jika hasil analisis menunjukkan lebih besar atau sama

dengan nilai r – table dengan menggunakan perhitungan Kuder-Richardson 20

(KR-20) berarti butir tersebut valid. Sebaliknya jika lebih kecil dari nilai r-tabel

berarti tidak valid / gugur. Hasil analisis terhadap 30 butir soal di atas seluruhnya

diperoleh hasil analisis lebih besar dari nilai r-tabel, maka seluruh butir soal

[image:39.595.110.510.222.754.2]

angket motivasi dinyatakan valid.

Tabel 3.6. Rekapitulasi Validitas Angket Motivasi

No soal Koefisien korelasi

Harga t pearson Harga t table Keputusan

1 0,42 2,83 2,02 Valid

2 0,43 2,91 2,02 Valid

3 0,41 2,75 2,02 Valid

4 0,45 3,09 2,02 Valid

5 0,37 2,45 2,02 Valid

6 0,41 2,76 2,02 Valid

7 0,51 3,67 2,02 Valid

8 0,55 4,01 2,02 Valid

9 0,42 2,83 2,02 Valid

10 0.43 2,91 2,02 Valid

11 0,41 2,75 2,02 Valid

12 0,36 2,38 2,02 Valid

13 0,37 2,45 2,02 Valid

14 0,41 2,76 2,02 Valid

15 0,51 3,67 2,02 Valid

(40)

17 0,43 2,91 2,02 Valid

18 0,41 2,75 2,02 Valid

19 0,36 2,38 2,02 Valid

20 0,38 2,54 2,02 Valid

21 0,45 3,12 2,02 Valid

22 0,59 4,53 2,02 Valid

23 0,52 3,79 2,02 Valid

24 0,43 2,91 2,02 Valid

25 0,41 2,75 2,02 Valid

26 0,38 2,54 2,02 Valid

27 0,45 3,12 2,02 Valid

28 0,59 4,53 2,02 Valid

29 0,52 3,79 2,02 Valid

30 0,33 2,18 2,02 Valid

Berdasarkan kriteria diatas terdapat 30 soal instrument motivasi dengan kriteria

valid.

d.Reliabilitas

Singarimbun (1995) menyatakan realibilitas adalah indeks yang

menunjukan sejauh mana suatu alat ukur atau intrumen penelitian dapat dipercaya

atau diandalakan dalam kegiatan pengumpulan data . jika suatu alat ukur atau

instrument penelitian dapat digunakan dua kali untuk mengukur kejala yang sama

dengan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten , amak alat ukur atau

intrumen tersebut reliabel.

Mengukur reliabilitas digunakan rumus Spearman Brown sebagai berikut :

r11 = 2. rb 1 + rb

r 11 : realibilitas internal seluruh instrument r b : realisasi product moment

(41)

r 11≤ 0,2 = sangat rendah 0,2 < r 11≤ 0,40 = rendah

0,40 < r 11≤ 0,60 = cukup atau sedang 0,60 < r 11≤ 0,80 = tinggi

0,80 < r 11 ≤ 1,00 = sangat tinggi (Guiford dalam suherman, 1990)

Bisa juga hasil pengolahan reliabilitas instrument dengan menggunakan

perhitungan Kuder – Richardson 20 ( KR -20 ) diperoleh nilai pada penelitian

ini adalah 0,666. Kriteria yang dihasilkannya adalah reliabilitas instrumen

penelitian tersebut tinggi.

Setelah dianalisis dari tingkat kemudahan,daya pembeda, validitas dan

reliabilitas, maka diperoleh karakteritik instrumen secara keseluruhan sebagai

[image:41.595.110.538.94.742.2]

berikut :

Tabel 3. 7. Rekapitulasi Hasil Uji Coba Tes

No soal

TK interprestasi DB Interprestasi Validitas Reliabilitas Ketera ngan

1 0,65 Sedang 0,3 Cukup Valid Sangat

tinggi

Dipakai

2 0,7 Mudah 0,3 Cukup Valid Dipakai

3 0,7 Mudah 0,3 Cukup Valid Dipakai

4 0,7 Mudah 0,2 Cukup Valid Dipakai

5 0,65 Sedang 0,4 Baik Valid Dipakai

6 0,68 Sedang 0,05 Cukup Valid Dipakai

7 0,68 Sedang 0,3 Cukup Valid Dipakai

8 0,65 Sedang 0,3 Cukup Valid Dipakai

9 0,53 Sedang 0,15 Cukup Valid Dipakai

10 0,7 Mudah 0,3 Cukup Valid Dipakai

11 0,73 Mudah 0,25 Cukup Valid Dipakai

12 0,7 Mudah 0,2 Cukup Valid Dipakai

13 0,65 Sedang 0,5 Baik Valid Dipakai

(42)

15 0,48 Sedang 0,15 Cukup Valid Dipakai

16 0,53 Sedang 0,1 Cukup Valid Dipakai

17 0,68 Sedang 0,3 Baik Valid Dipakai

18 0,6 Sedang 0,3 Baik Valid Dipakai

19 0,68 Sedang 0,3 Baik Valid Dipakai

20 0,55 Sedang 0,1 Cukup Valid Dipakai

Dipakai

Hasil uji coba tes tersebut dikonsultasikan dengan para guru senior yang

ada di SMKN 4 Garut untuk mendapatkan soal-soal yang akan dipakai sebagai

instrument penelitian berdasarkan hasil konsultasi dinyatakan 20 soal dipakai.

Sedangkan untuk reabilitas test hasil angket motivasi pengambilan

kesimpulan dilakukan dengan membandingkan besarnya koefisien korelasi

dengan nilai r-tabel Kuder-Richardson 20 (KR-20). Skor reliabilitas tes angket

motivasi pada penelitian ini adalah r = 0,85 diperoleh dengan menggunakan

perhitungan Kuder-Richardson 20 (KR-20) untuk menentukan tingkat reliabilitas

digunakan klasifikasi korelasi sebagai berikut : kurang dari 0.20 tidak ada

korelasi, 0.21- 0.40 korelasi rendah, 0.41- 0.70 korelasinya cukup, 0.71-0.90

korelasi tinggi dan 0.91-1.00 korelasinya sangat tinggi. Hasil perhitungan tingkat

reliabilitas angket motivasi dapat dilihat pada lampiran.

Jadi koefisien korelasi berada pada renatang korelasi tinggi, berarti test

angket motivasi belajar tersebut realibel.

G. Teknik Pengolahan Data

Proses pengumpulan datanya meliputi pelaksanaan perlakuan, dan

(43)

dilakukan sendiri oleh guru mata pelajaran kejuruan pertanian yang berpedoman

pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun peneliti.

Sedangkan data hasil belajar siswa dikumpulkan menggunakan tes hasil

belajar yang dilaksanakan pada akhir pelaksanaan penelitian atau eksperimen.

Analisis data terdiri atas deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif

berupa penyajian data dengan daftar distribusi frekuensi dan grafik histogram,

mean, median, modus, simpangan baku, dan rentang.

Pengolahan data secara garis besar dilakukan dengan menggunakan

bantuan pendekatan secara hirarki statistik. Data primer dan hasil tes siswa

sebelum dan sesudah pembelajaran dengan pendekatan cooperative learning tipe

STAD (Student Team Achievement Division) dianalisa dengan cara

membandingkan skor pretes dan postes. Peningkatan yang terjadi sebelum dan

sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus gain faktor (N Gain) dengan

rumus :

G = S post -S pre (Meltzer, 2002) S maks - S pre

Keterangan :

[image:43.595.113.512.238.628.2]

S post : skor postes S pre : skor pretes S maks : skor maks ideal Kriteria tingkat gain adalah

Tabel 3.8. Kategori Tingkat Gain

Batasan Kategori

g > 0.7 Tinggi

(44)

g < 0.3 Rendah

1. Menghitung Nilai Motivasi

Nilai motivasi dikonvensikan tanpa menggunakan nilai rata-rata dan

simpangan baku , yaitu dengan menentukan kriteria sebagai dasar untuk

[image:44.595.118.516.240.662.2]

melakukan konversi nilai berdasarkan tabel 3.8 berikut:

Tabel 3.8 Nilai Konversi Motivasi Belajar

Presentase

Jawaban (%)

Nilai konversi

Huruf Standar 10 Standar 4

90-99 A 9 4

80-89 B 8 3

70-79 C 7 2

60-69 D 6 1

Kurang dari 60 Gagal gagal gagal

Nilai 10 bila mencapai 100%

(Sujana,2008:118)

Nilai presentase jawaban kemudian diiinterprestasikan sesuai kriteria

interpretasi motivasi belajar skala likert (Akdon: 120) berikut :

Angka 0%-20% = sangat lemah

Angka 21%-40% = lemah

Angka 41%-60% = cukup

Angka 61%-80% = kuat

Angka81%-100% = sangat kuat

(45)

Nilai hasil belajar siswa dikategorikan dengan berpatokan pada kriteria

berikut ; standar sepuluh (0-10) dan standar empat (1-4) atau dengan huruf

[image:45.595.120.517.213.659.2]

(A-B-C-D) seperti yang tertera pada tabel 3.9.

Tabel 3.9. Kriteria Nilai Konversi Hasil Belajar

Skor Mentah Nilai Konversi

Standar Huruf Standar 10 Standar 4

19-20 A 9 4

17-18 B 8 3

15-16 C 7 2

13-14 D 6 1

Kurang dari 13 Gagal gagal gagal

Nilai 10 bila mencapai 20 (Sujana,2008:118) Standar nilai yang digunakan dalam penelitian ini adalah standar sepuluh

0-10 , nilai yang diperoleh kemudian diinterprstasikan sesuai kriteria

interprestasi nilai hasil belajar di dalam rapor sebagai berikut :

Nilai 10 = istimewa Nilai 9 = baik sekali Nilai 8 = baik

Nilai 7 = lebih dari cukup Nilai 6 = cukup

Nilai 5 = hampir cukup Nilai 4 = kurang

Nilai 3 = kurang sekali Nilai 2 = buruk

Nilai 1 = buruk sekali

Pengolahan dan analisis data dengan menggunakan uji statistik dengan

(46)

1. Menguji normalitas data hasil penelitian menggunakan program SPSS versi

20.

2. Jika data berdistribusi normal dilanjutkan pengetesan homogenitas .

Menguji homogenitas tes hasil belajar perhitungan pupuk digunakan uji F,

dengan menggunakan rumus F hitung =S²Besar, (Ruseffendi,1998:295)

S²kecil

Dengan S adalah deviasi baku dk = (n-1) (n = banyaknya skor ) adalah

derajat kebebasan.

F hitung kemudian dibandingkan dengan F tabel atau dengan

tahap keberatan dan derajat kebebasan dk1 dan dk 2 . Jika F hitung lebih

besar dari F tabel artinya kedua buah distribusi populasi penyebarnnya

berbeda secara bararti pada tahap keberartian .

3. Tapi jika data tidak berdistribusi normal dan tidak homogen maka

dilakukan uji perbedaan dua rata-rata populasi berhubungan .

Uji perbedaan dua rerata untuk populasi berhubungan digunakan untuk

menguji perlakuan yang diberikan tidak ada pembandingnya, sehingga

hanya ada satu perlakuan. Desainnya menggunakan desain

pra-eksperimen atau dikenal dengan desain pre-tes post tes (one group

pretest – posttest design). Desain ini membandingkan perubahan yang

terjadi sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan. Dengan menggunakan

data pasangan pre tes dan pasca-tes. Tetapi kedua variabel masih

memiliki keterkaitan koefisien korelasi dengan perhitungan simpangan

(47)

̅

Dimana :

∑ dan

√∑( )

D = adalah pasangan skor X1– X2

= simpangan baku rata-rata D

Rumusan Hipotesis statistik : Ho = =

Ho =

Kriteria Pengujian Hipotesis adalah :

Ho diterima jika – < t < ,

diperoleh dari daftar distribusi t dengan peluang

, sebaliknya Ho ditolak pada harga lainnya.

diterima jika

diterima jika

(48)
(49)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.KESIMPULAN

Setelah melakukan penelitian dan seluruh hasil analisis dideskripsikan dan

dibahas, berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok kesimpulan sebagai berikut

1. Penggunaan metode cooperative learning tipe STAD berpengaruh secara

signifikan terhadap motivasi belajar siswa yang mengalami problema belajar

pada pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.

2. Penggunaan metode cooperative learning tipe STAD berpengaruh secara

signifikan terhadap hasil belajar siswa yang mengalami problema belajar

pada pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk.

B.SARAN

Sesuai dengan temuan atau hasil penelitian tersebut diatas, menunjukkan

pembelajaran pokok bahasan perhitungan kebutuhan pupuk dengan metode

cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division)

memunculkan saran-saran sebagai berikut :

1. Bagi guru mata pelajaran kejuruan pertanian khususnya dan bagi guru

kejuruan pada umumnya perlu pelatihan keterampilan menggunakan metode

Cooperative Learning tipe STAD (Student Team Achievement Division),

karena berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa anak yang

mengalami problema belajar khususnya pada pokok bahasan perhitungan

(50)

2. Bagi guru SMK yang mengajarkan kelompok produktif agar lebih

meningkatkan keahlian atau kompetensi di bidang pembelajaran, maka

hendaknya mencoba merancang dan berupaya secara benar menerapkan

prinsip-prinsip metode mengajar Cooperative Learning tipe STAD (Student

Team Achievement Division) secara mandiri dengan baik. Berdasarkan hasil

penelitian metode atau pendekatan pembelajaran ini berpengaruh secara

signifikan dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

3. Kendala yang biasa dihadapi para guru di lapangan dalam mencoba

melakukan inovasi-inovasi adalah faktor siswa yang kurang responsif.

Seringkali keinginan guru memberikan layanan terbaik buat siswa terutama

siswa yang mengalami problema belajar tidak ditanggapi secara maksimal,

bahkan siswa seringkali sudah menduga bahwa apa yang akan dilakukan guru

itu hanya akan menambah beban belajarnya. Oleh karena itu maka

disarankan kepada para guru agar menjelaskan tujuan pembelajaran secara

benar kepada siswa. Jika tidak disampaikan tujuan pembelajaran kepada

siswa, maka pembelajaran dengan metode cooperative learning tipe STAD

justru akan lebih banyak menghabiskan waktu dan tujuan pembelajaran juga

menjadi tidak terarah.

4. Penelitian ini dibatasi kepada pembuktian pengaruh metode cooperative

laearning tipe STAD terhadap motivasi dan hasil belajar siswa yang

mengalami problema belajar, maka disarankan kepada para peneliti lain untuk

(51)

kritis, berfikir kreatif, penggunaan media, sumber belajar, lingkungan belajar,

dan lain-lain.

5. Bagi para pengambil kebijakan diharapkan memberikan dorongan dan

motivasi kepada para guru untuk mengembangkan berbagai inovasi baru

dalam pembelajaran sehingga terjadi diversifikasi model-model pembelajaran

yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, salah satunya dengan metode

cooperative learning tipe STAD.

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. (2009). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Alimin, Zaenal (2008). Pemahaman Konsep pendidikan Kebutuhan Khusus dan Anak Berkebutuhan Khusus, http:z-alimin.blogspot.

Bruner dalam Sadimin, (2006 ), Kualitas Pembelajaran Serta Alokasiktu Yang Disediakan Untuk Belajar. tersedia pada online

.http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/14/14/kot25.htm. Tanggal 28 April 2006

Budi Susetyo, Dr, M.Pd. (2010). Statistika Untuk Analisis Data Penelitian. Bandung. PT Refika Aditama .

Chaplin, J.R. dan Messick., R.G (1992). Elementary Sosial Studies; A Practinakcal Guide. 2 en ed. New York; Longman

Direktorat PLB. (2004). Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, Jakarta: Depdiknas.

Endri, H (2003). Penerapan Model Cooperative Learning Tipe STAD Pada Mata Pelajaran IPA di Sekolah Dasar. Tesis SPS UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

Hamalik, Oemar (1985). Media Pendidikan. Bandung: Remaja Karya

Hamalik, Oemar (2003). Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Aksara

Hamzah B Uno, (2007). Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta; Bumi Aksara, cet I.

Handoko, Martin, 1994. Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Kanisius

Ibrahim, M. Et all. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. UNS Press.

(53)

Jhonson, D.W.Jhonson, R.T. & Holubac, E.J. (1994). Cooperative Learning in the Classroom. Virginia: Assosiation for Supervision and Curiculum Development.

Jhonson, D.W. dan Jhonson, R.T. (1981). Effect of Cooperative Learning Experiences on Interethnic Interaction. Journal of Educational Psychology.

Kadisaputra, Otong (2000). Belajar dan Pembelajaran.Bandung. FKIP UNLA.

Kagan, Spencer (1992). Cooperative Learning Resources for Teacher.,San Juan Capistrano. CA: Resources for Teacher.

Latuheru, Jhon D (1988). Media Pengajaran dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta:. DEPDIKBUD.

Lie, Anita (2000) Cooperative Learning di Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo.

Lie, A. (2002). Cooperative Learning : Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo

Maslow. A.H. (1970). Motivation and Personality. New York: Harper & Row Publisher Inc.

Mustaji, Sugiarto ,(2005). Pembelajaran Berbasis Kontruktivisti, Universitas Surabaya, cet II

Mustaqim (2000). Psikologi Pendidikan . Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Nasution (1985). Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi

Aksara, Jakarta.

Nasution, S. (1990). Asas asas Kurikulum. Bandung. Jemmars.

Oemar Hamalik, (2005). Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Cet IV

Pemerintah Republik Indosensia. (2005). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung :Fokus Media.

Prayitno, Elida. (1998). Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: PPLPTK Depdikbud.

(54)

Ruseffendi, E.T.(1998). Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

Ruseffendi, E.T. (2005). Dasar-dasar Penelitian dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung : Tarsito.

Rusman, Dr.MPd. (2011), Model-Model Pembelajaran, Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sardiman,(2006). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta,

Sharan, Yael & Shlomo Sharan. (1992). Expanding Cooperative Learning Through Group Investigation. New York; Teacher College Press.

Slavin RE (1997). Cooperative Learning Theory Research And Practice. Alya & Baccon.

Slavin. (2008). Cooperative Learning. Mryland: Jhon Hopkins University.

Soemadi (1984). Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV Rajawali

Soenarjo, RJ dkk. (2006). Tangkas Ilmu Pengetahuan Sosial SD. Bandung. Rosda Karya.

Sugiyono (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif . Bandung : CV Alfabeta

Sumantri Numan M. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Kerjasama PPS UPI dengan PT Rosda Karya.

Sumaatmaja, Nursid (2002). Metodologi Pengajaran IPS. Bandung. Alumni.

Sunal, Cynthia dan Merry.E. (1993). Studies and Elementary Middle School Student. New York: Harcourt & Company.

Sunaryo (1989). Strategi Belajar Mengajar dalam Pengajaran IPA. Jakarta: Depdikbud. Dirjen DIKTI.

(55)

Suparno Paul. (1997). Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan Matematika. Wijaya Kusumah, Bandung.

Surya, M (1983). Psikologi Pendiddikan. Bandung: Offset. IKIP.

Stahl, R.J (1994). Cooperative Learning in Social Studies. A. Handbook for Teacher. Sydney: Addison Wasley Publishing Company. Inc.

Surya, Muhamad (1996). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Publikasi Jurusan Psikologi Kependidikan dan Bimbingan . Bandung: FIP IKIP.

Tim Puslitjaknov. (2008). Metode Penelitian Pengembangan. Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.

Trianto. (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Bumi Aksara.

Usman, Uzer. (1993). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Wadsworth, B.J. (1994). Piaget’s Theory of Cognitive and Affective Development (3rd ed). New York: Longman.

Webb, N.(1985). Student Interaction and Learning in Small Groups: A Research Summary. In R.E Slavin, S.Sharan, S.Kagan, R Hertz-Lazarowitz, C.Webb, and R. Schmuck (eds), Learning to Cooperate, Cooperating to Learn. New York: Plenum.

Gambar

Gambar
Gambar 3.1 : Desain Penelitian
Gambar 3.2. Diagram Alur Proses Penelitian
Gambaran mengenai indikator dan jumlah butir pernyataan untuk variabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Student Team Achievment Division (STAD), dan ceramah, (2) perbedaan yang signifikan hasil belajar geografi menggunakan metode Everyone Is Teacher Here dengan metode

hal ini membuktikan bahwa penggunaan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division) berbantuan multimedia dapat meningkatkan hasil belajar

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Studi Efektivitas Pembelajaran PKn Antara Model STAD (Student Team Achievment Division) dengan Jigsaw Terhadap Prestasi

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Student Team Achievement Division (STAD) Dalam Pembelajaran Matematika Materi Bangun Ruang Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA ARAB SISWA.2012/2013 Universitas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe STAD (student team achievement division ) dapat meningkatkan hasil belajar

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division) terhadap motivasi dan hasil

Peningkatan hasil belajar Matematika pokok bahasan pecahan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) peserta didik kelas