Universitas Kristen Maranatha ABSTRAKSI
Sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan yang menyatakan bahwa produk atau jasa mereka etis – ramah lingkungan, menggunakan bahan baku organik maupun melakukan praktek bisnis dengan adil (Fair trade) – kita didorong untuk percaya bahwa ini adalah sesuatu merek yang etis. Mungkin dalam beberapa kasus hal itu bisa saja benar, tetapi sayangnya pengertian yang kurang tepat mengenai etika merek ini sering kali dijadikan patokan dalam mengembangkan batasan persepsi dari merek, Ethical Brand Foundation (2011) menyebut ini sebagai brand washing. Munculnya fenomena merek yang etis telah menciptakan konsumen-konsumen yang membeli barang-barang yang etis, biasanya konsumen seperti itu disebut konsumen etis. Konsumen etis muncul dan telah menjadi salah satu pengaruh yang penting dalam dunia bisnis (Carrigan dan Attalla, 2001; Shaw dan shiu, 2002). Munculnya konsumen etis juga mengakibatkan perubahan pada perusahaan. Selain menekan biaya bahan baku tetapi perusahaan juga harus menunjukan bahwa perusahaannya adalah perusahaan yang etis dan bertanggung jawab secara sosial. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi titik temu anatar nilai etis yang dirasakan konsumen dan nilai etis yang diusahakan perusahaan, yaitu kepercayaan (brand trust) dan afeksi (brand affect). Jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah causal-explanatory. Causal adalah suatu variable mempengaruhi variable yang lain (Cooper & Schindler, 2011). Explanatory adalah penelusuran jawaban untuk mengetahui penyebab adanya suatu pengaruh antar variable (Cooper & Schindler, 2011). Populasi dari Penelitian ini adalah Mahasiswa Universitas Kristen Maranatha dan sampel yang diambil adalah adalah mahasiswa Universitas Kristen Maranatha tahun ajaran 2013 dan 2014 yang merupakan nasabah bank BCA, dan kuesioner yang disebarkan berjumlah sebanyak 170 buah.
Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT
Now days many companies who claim that their products or services ethical - environmentally friendly, using organic raw materials and conduct business fairly (Fair trade) - we are encouraged to believe that this is something that is an ethical brand. Perhaps in some cases it could be true, but unfortunately the lack of proper understanding about the ethics of this brand is often used as a benchmark in expanding the frontiers of perception of the brand, Ethical Brand Foundation (2011) refer to this as a brand of washing.The emergence of the phenomenon has created a brand that ethical consumers who buy ethical goods, usually the consumer as it is called ethical consumer. Consumers ethical emerged and has become one of the important influence in the business world (Carrigan and Attalla, 2001; Shaw and Shiu, 2002). The emergence of ethical consumers also result in changes to the company. In addition to reduce the cost of raw materials, but the company must also show that they are operating in an ethical and socially responsible. There are several factors that could be a meeting point anatar ethical consumer perceived value and ethical values cultivated the company, namely trust (brand trust) and affection (brand Affect). Types hypothesis used in this study is causal-explanatory. Causal is a variable affects the other variable (Cooper & Schindler, 2011). Explanatory are searches answers to determine the cause of the existence of an effect between variables (Cooper & Schindler, 2011). The population of this research is the Maranatha Christian University Students and the sample is taken is a student at Maranatha Christian University in 2013 and 2014 school year which is a BCA bank customers, and a questionnaire distributed numbered as many as 170 pieces.
Universitas Kristen Maranatha
1.1 Latara Belakang Masalah... 1
1.2 Identifikasi Masalah... 6
2.1.8 Consumer Perceived Ethically... 17
2.1.9 Perilaku Konsumen... 18
2.1.10 Perilaku Pengambilan Keputusan Konsumen... 19
2.1.11 Brand Trust... 21
2.1.12 Brand Affect... 22
2.1.13 Brand loyalty... 22
2.1.13.1 Tingkat Loyalitas Merek... 23
2.2 Kerangka Pemikiran... ... 25
2.3 Pengembangan Hipotesis... 26
2.4 Kerangka Teoritis... 30
2.5 Kerangka Kerja... 31
BAB III METODE PENELITIAN... 32
3.1 Jenis Penelitian... 32
3.2 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel... 32
Universitas Kristen Maranatha
3.2.2 Sampel... 32
3.2.3 Teknik Pengambilan Sampel... 32
3.2.4 Ukuran Sampel... 33
3.3 Definisi Operasional Variabel... 34
3.4 Teknik Pengumpulan Data... 36
3.5 Uji Instrumen Penelitian... 36
3.5.1 Uji Validitas... 36
4.1.1.4 Data Penghasilan Responden... 43
4.1.1.5 Frekuensi Penggunaan Jasa Bank BCA... 44
4.1.1.6 Jurusan... 44
4.1.2 Uji Instrumen Penelitian... 46
4.1.2.1 Uji Validitas CFA... 46
4.1.2.2 Reliabilitas – Consumer Perceived Ethicality... 48
4.1.2.3 Uji Reliabilitas – Brand Trust... 49
4.1.2.4 Uji Reliabilitas – Brand Affect... 50
4.1.2.5 Uji Reliabilitas – Brand Loyalty... 51
4.1.3 Uji Normalitas... 52
4.1.6.4 Kriteria Penerimaan / Penolakan... 56
4.1.6.5 Output... 60
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran... 25
Gambar 2.4 Kerangka Teoritis... 30
Gambar 2.5 Kerangka Kerja... 31
Gambar 3.6 Teknik Analisis Data... 39
Gambar 4.1.6.2 Bagan Path Analysis... 55
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.3 Definisi Operasiona Variabel... 34
Tabel 4.1.1.1 Jenis kelamin... 42
Tabel 4.1.1.2 Usia... 42
Tabel 4.1.1.3 Nasabah Bank BCA... 43
Tabel 4.1.1.4 Data Penghasilan Responden... 43
Tabel 4.1.1.5 Frekuensi Penggunaan Jasa Bank BCA... 44
Tabel 4.1.1.6 Jurusan... 44
Tabel 4.1.2.1.1 Uji Validitas – CFA (belum valid)... 46
Tabel 4.1.2.1.2 Uji Validitas – CFA (valid)... 47
Tabel 4.1.2.2 Uji Reliabilitas – Consumer Perceived Ethicality... 48
Tabel 4.1.2.3 Uji Reliabilitas –Brand Trust... 49
Tabel 4.1.2.4 Uji Reliabilitas –Brand Affect... 50
Tabel 4.1.2.5 Uji Reliabilitas –Brand Loyalty... 51
Tabel 4.1.3 Uji Normalitas... 52
Tabel 4.1.4 Uji Multikolinieritas... 53
Tabel 4.1.5 Uji Heterokedastisitas... 54
Tabel 4.1.6.1 Persamaan Langsung Regresi Berganda (BL = variabel dependen).... 57
Tabel 4.1.6.2 Persamaan Langsung Regresi Berganda (BT = variabel dependen)... 58
Universitas Kristen Maranatha
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai Konsumen, kabanyakan dari kita kurang tepat dalam mengartikan etika merek,
saat e de gar kata etika erek iasa ya de ga epat kita menyimpulkan bahwa hal itu adalah salah satu elemen dari merek yang memiliki artian baik saja, tanpa mengerti apa
definisi dari etika merek. Sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan yang menyatakan
bahwa produk atau jasa mereka etis – ramah lingkungan, menggunakan bahan baku organik maupun melakukan praktek bisnis dengan adil (Fair trade) – kita didorong untuk percaya bahwa ini adalah sesuatu merek yang etis. Mungkin dalam beberapa kasus hal itu
bisa saja benar, tetapi sayangnya pengertian yang kurang tepat mengenai etika merek ini
sering kali dijadikan patokan dalam mengembangkan batasan persepsi dari merek, Ethical
Brand Foundation (2011) menyebut ini sebagai brand washing.
Sebenarnya apakah etika merek begitu penting? Bukankah merek yang sukses dan
popular belum tentu etis? Di sisi lain apakah etika merek menjamin kesuksesan sebuah
perusahaan di pasar? Konsumen biasanya memang menaruh perhatian lebih terhadap
masalah-masalah etika, tetapi sepertinya dalam melakukan keputusan pembelian,
konsumen tidak terlalu mempermasalahkan apakah merek dari barang atau jasa itu etis
atau tidak, jadi apakah sebenarnya etika merek itu penting?
Etika adalah subjek yang kompleks dan etika sendiri mengacu pada aturan moral atau
prinsip-prinsip perilaku untuk memutuskan apa yang benar dan salah, Arti Etika . https://id.wikipedia.org/wiki/Etika_bisnis (25 Oktober 2016). Sebuah merek yang etis
seharusnya tidak merugikan kepentingan umum; melainkan harus memberikan kontribusi,
membantu mempromosikan barang publik, tidak menggunakan pegawai di bawah umur,
memberikan kompensasi yang sesuai untuk pegawainya, tidak menghindari pajak, dan
tidak merusak sumber daya alam. Pengertian etika merek yang benar akan membantu kita
untuk membuat pilihan yang tidak hanya baik untuk diri kita atau keluarga kita sendiri,
tetapi juga untuk semua orang yang terlibat maupun terkena imbasnya, mulai dari proses
saluran pembuatan produk sampai menjadi barang siap pakai maupun jasa yang kita pilih,
Universitas Kristen Maranatha sudah dipelajari dan ada 2 pertanyaan yang perlu untuk ditanyakan: 1. Apakah konsumen
peduli? 2. Apakah masyarakat umum peduli?
Faktanya pada bulan November tahun 2015 riset dari Mintel (The world's leading
market intelligence agency) menunjukan bahwa 56% orang Amerika berhenti membeli
barang atau menggunakan jasa dari merek yang mereka percaya tidak etis. Bahkan 35%
dari konsumen berhenti membeli produk yang mereka anggap tidak etis biarpun tidak
tersedia barang subtitusinya, dan masyarakat saat ini tampaknya lebih peduli tentang
masalah etika dalam pemasaran, dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu (Fan, 2005).
Beberapa tahun terakhir etika konsumen telah muncul menjadi salah satu pengaruh
yang penting dalam dunia bisnis (Carrigan dan Attalla, 2001; Shaw dan shiu, 2002),
pertumbuhan tingkat konsumen etis telah membawa perubahan pada merek untuk
meningkatan pengembangan kesadaran dan pengembangan citra etis pada level
perusahaan (Markovic et al. 2015). Di sisi lain, Dean Sanders pemilik dari perusahaan
Goodbrand and company e gataka ah a i o asi, sudut pa da g etika, da perilaku
sosial sekarang menjadi salah satu pertimbangan konsumen untuk melakukan keputusan
pembelian, jadi keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh faktor harga dan faktor
kualitas (Bussey, 2006 p. 17).
Etika konsumen berarti konsumen yang membeli barang yang berasal dari proses
pembuatan dan pendistribusian yang baik atau sesuai etika. Dalam artikelnya Ethical
Consumerism and Conservatism: Hand in Glove dala Heinz Journal, Jacqueline Payne mendeskripsikan etika konsumen sebagai berikut: seorang konsumen yang etis adalah
seseorang yang dengan sadar membeli produk yang diproduksi secara etis. Sesuai de ga konteks etis, berarti (menggunakan pekerja yang layak, tidak menggunakan tenaga kerja
anak-anak, membuat makanan menggunakan bahan organik, ramah lingkungan, dan
lain-lain). Jika konsumen menggunakan produk ini, maka konsumen dapat dikategorikan
sebagai konsumen etis. Namun intinya dari konsumen etis adalah bahwa konsumen tahu
apa yang dibelinya, dan bahwa kita membeli produk yang diproduksi secara etis yang tidak
mengarah kepada pelecehan ataupun eksploitasi. (Jacqueline Payne, Ethical Consumerism
a d Co servatis : Ha d i Glove, The Heinz Journal, Carnegie Mellon University, 2012) Sejalan dengan pemikiran yang dipaparkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Fan
(2005), sebuah merek yang etis tidak akan merusak lingkungan, dan tidak hanya itu saja,
merek yang etis memiliki beberapa attribut seperti: kepercayaan, integritas, perbedaan,
tanggung jawab, kualitas, respek/hormat, dan akuntabilitas. Karena semakin tahun semakin
Universitas Kristen Maranatha menganggap serius masalah isu etika dalam merek. Hal ini menunjukan akan terjadinya
perubahan dalam dunia usaha untuk mengikuti standar-standar etis. Jelas, mengingat
meningkatnya isu etika pada perilaku konsumen, perusahaan harus lebih konsentrasi
tentang mempromosikan tanggung jawab perusahaan, karena perilaku etis memiliki
dampak pada keuntungan maupun kerugian (Singh dan Batista, 2012).
Faktanya sebuah etika merek itu meningkatkan reputasi perusahaan, etika merek dapat
di kembangkan baik di level perusahaan maupun level produk. Di level perusahaan, merek
perusahaan adalah bagian vital dari reputasi perusahaan, sebuah perilaku yang tidak etis
akan merusak atau bahkan menghancurkan aset perusahaan yang tidak berwujud,
sedangkang branding dalam level produk termasuk pelabelan, kemasan, dan
pengomunikasian. Walaupun hal ini tidak memiliki pengaruh langsung terhadap merek
perusahaan, tetapi tetap saja memiliki pengaruh terhadap reputasi perusahaan misalnya,
aktivitas hubungan masyarakat (public relationship) yang melakukan sponsor dan donasi
tidak akan mengubah opini masyarakat dengan otomatis jika masyarakat/konsumen telah
memiliki penilaian negatif sendiri terhadap perusahaan (Fan, 2005).
Sejalan dengan itu, penelitian terbaru telah e uat istilah etika ya g dirasaka konsumen – Consumen Perceived Ethicality (Brunk, 2010a), Penelitian ini telah memfokuskan pada konsep persepsi etis dari sudut pandang konsumen. Brunk (2010a, b)
menyoroti kesenjangan antara bisnis dan sudut pandang konsumen pada etika, Brunk
mengidentifikasi ada 6 faktor dominan dari CPE (Consumer Perceived Ethicality).
Faktor-faktor dominan itu mencerminkan bagaimana perusahaan atau merek melakukan
persetujuan dengan: konsumen, pegawai, lingkungan, masyarakat luar negeri, masyarakat
lokal, maupun komunitas ekonomi dan bisnis. Seorang peneliti lain (Shea, 2010)
menyatakan bahwa konsep CPE dari Brunk, telah menjadi kompas dari dimensi kognitif
untuk pendekatan perliaku konsumen terhadap perilaku etis atau tidak etis dalam bagian
perusahaan, tetapi masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam bidang affective dan
juga dimensi perilaku. Brunk (2010b p. 1367), setuju dengan Shea (2010), dan
menyimpulkan bahwa penelitian yang ada saat ini masih tetap kurang meyakinkan, tentang
seberapa kuat pertimbangan faktor etis dalam keputusan pembelian konsumen, lalu
mengenai hubungan antara CPE dan perilaku konsumen diperlukan penyelidikan lebih
lanjut.
Ada beberapa faktor yang bisa menjadi titik temu antara nilai etis yang dirasakan
konsumen dan nilai etis yang diusahakan oleh perusahaan, misalnya kepercayaan dan
Universitas Kristen Maranatha Trust) dan kecintaan terhadap merek (Brand Affect) memiliki hubungan masing-masing
pada pilihan pembelian dan sikap loyal. Pernyataan ini digabungkan dari teori terdahulu
tentang komitmen merek (Brand Commitment). Kepercayaan terhadap merek (Brand Trust)
dan kecintaan terhadap merek (Brand Affect) telah muncul menjadi kunci penentu dari
loyalitas terhadap merek (Brand loyalty), sesuai dengan konsep dari one-to-one marketing
relationship.
Faktor kepercayaan menjadi dasar dalam membangun hubungan anatara konsumen
dengan perusahaan, khususnya pada perusahaan jasa, karena di dalam aktivitas
perusahaan jasa terjadi hubungan personal antara konsumen dengan tenaga kerja
perusahaan, sehingga kepercayaan menjadi faktor yang penting dalam membangun
hubungan antara konsumen dengan perusahaan, saat pengalaman emosional telah
dirasakan, pengalaman itu akan mengubah persepsi sebelumnya menjadi kepercayaan baru
yang lebih tinggi dimensinya, dan dalam dimensi kepercayaan seperti itu, walaupun setelah
emosinya menghilang efek dari kognitif masih tetap ada (Schoorman et al. 2007, p. 349).
Berbicara mengenai perusahaan jasa, ada penelitian dari Indre dan Dzemyda (2014)
yang menyatakan reputasi etis di sektor perbankan dipercaya memainkan peran yang
penting dan mungkin akan membangun kepercayaan konsumen pada bank sebagai
financial partner, seperti penguatan identifikasi dan komitmen pada perusahaan. Jatinder
et al. (2012) menyarankan agar dilakukan juga penelitian pada sektor perbankan (terutama
keuangan dan jasa perbankan) karena penelitian ethical perceptions dan brand loyalty pada
sektor jasa mungkin dapat memberikan hasil yang penting dan berhubungan pada para
pemangku kepentingan. Jadi bank merupakan perusahaan jasa yang menarik untuk diteliti,
karena reputasi etis di sektor perbankan diyakini memainkan peran penting dan mungkin
membangun kepercayaan pelanggan serta memperkuat identifikasi dan komitmen bagi
perusahaan. Morgan dan Hunt (1994) menyatakan bahwa trust mengacu kepada loyalty
atau commitment, karena kepercayaan menciptakan hubungan yang bernilai tinggi. Dengan
demikian loyalitas menggaris bawahi proses jangka panjang dalam pemeliharaan nilai dan
hubungan penting yang telah diciptakan oleh brand trust. Dengan kata lain kepercayaan
memiliki pengaruh yang besar terhadap loyalitas.
Loyalitas merek adalah kunci, karena loyalitas merek memfasilitasi strategi retensi
pelanggan (Reichheld dan Schefter, 2000) dengan menciptakan ikatan dengan pelanggan
yang tidak hanya didorong oleh faktor-faktor seperti harga atau kenyamanan (Dick dan
Basu, 1994) sehingga meningkatkan kemungkinan pembelian atau penggunaan jasa
Universitas Kristen Maranatha Jadi konsumen yang loyal merupakan aset jangka panjang yang terus-menerus bagi
perusahaan.
Penelitian ini dilakukan untuk membahas dan menguji hubungan antara nilai etis yang
diterima oleh konsumen (CPE) – yang berasal dari merek di level perusahaan – yang dimediasi oleh kecintaan pada merek produk (Product Brand Affect) dan kepercayaan
terhadap merek produk (Product Band Trust) terhadap loyalitas merek produk (Product
Brand Loyalty).
Ide penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian empiris seperti, pengaruh afeksi
merek pada loyalitas merek oleh Matzler et al. (2006) yang menyimpulkan bahwa merek
yang membuat konsumen merasa senang, nyaman, dan gembira akan menghasilkan
komitmen yang kuat dan loyalitas pembelian. Lalu pengaruh kepercayaan merek pada
loyalitas oleh Morgan dan Hunt (1994) yang menyatakan bahwa ada pengaruh positif
antara kepercayaan dan komitmen, keduanya memainkan peran yang penting dalam
mengembangkan hubungan jangka panjang. Dan yang terakhir pengaruh etika yang
diterima oleh konsumen pada loyalitas oleh Jatinder et al. (2012) yang menyatakan bahwa
adanya hubungan tidak langsung antara nilai etika yang diterima konsumen pada level
perusahaan terhadap loyalitas melalui peran mediasi brand affect dan brand trust.
Alasan penulis mengangkat topik penelitian ini, karena penulis melihat perubahan
trand yang terjadi di masyarakat dari waktu ke waktu dalam melakukan pilihan pembelian
produk atau penggunan jasa. Semakin tahun, orang-orang sekarang semakin menaruh
perhatian pada nilai etis. Peneliti juga ingin membuktikan bahwa nilai etis yang diterima
oleh konsumen memiliki pengaruh pada ketertarikan terhadap suatu produk maupun jasa
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh nilai etis
yang dirasakan konsumen terhadap loyalitas pelanggan dan kepercayaan dengan bank.
Penulis berpendapan bahwa studi ini penting dilakukan karena peneliti ingin membuka
pemikiran pembaca dalam melakukan pilihan pembelian ataupun penggunaan jasa, bahwa
ada faktor lain selain harga, kualitas, dan merek yang harus dipertimbangkan sebelum
membeli barang/jasa, jangan sampai barang yang kita beli atau jasa yang kita gunakan
Universitas Kristen Maranatha 1.2 Identifikasi masalah
Permasalahan utama yang diangkat dari topik ini yaitu:
• Terdapat pe garuh la gsu g dari CPE (Consumer Perceived Ethicality) yang berasal dari merek pada level perusahaan terhadap loyalitas merek produk (Product Brand Loyalty)
• Terdapat pe garuh dari CPE (Consumer Perceived Ethicality) yang berasal dari merek pada level perusahaan terhadap loyalitas merek produk (Product Brand Loyalty) yang
dimediasi oleh kecintaan pada merek produk (Product Brand Affect) dan kepercayaan pada
merek produk (Product Brand Trust)
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka peneliti menetapkan tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
• U tuk e guji da e ga alisis pe garuh la gsu g dari CPE (Consumer Perceived Ethicality) yang berasal dari merek pada level perusahaan terhadap loyalitas merek produk
(Product Brand Loyalty)
• U tuk e guji da e ga alisis pengaruh dari CPE (Consumer Perceived Ethicality) yang berasal dari merek pada level perusahaan terhadap loyalitas merek produk (Product Brand
Loyalty) yang dimediasi oleh kecintaan pada merek produk (Product Brand Affect) dan
kepercayaan pada merek produk (Product Brand Trust)
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memberi suatu informasi yang berguna:
• Bagi akade isi: Diharapka pe elitia i i dapat membantu mengembangkan pengertian dan studi mengenai etika merek yang diterima konsumen
• Bagi Pe a a: Diharapka pe elitia i i juga dapat ergu a u tuk asyarakat, agar kita
sebagai konsumen semakin mengerti dan mulai memilih produk yang tidak hanya baik bagi
kita maupun keluarga kita, melainkan semua orang yang terlibat (mulai dari pembuatan
barang sampai pendistribusiannya), sekaligus mempertimbangkan lagi pemilihan terhadap
Universitas Kristen Maranatha
BAB V
Penutup
5.1 Kesimpulan
1. Terdapat pengaruh langsung dari CPE (Consumer Perceived Ethicality) yang berasal dari
merek pada level perusahaan terhadap loyalitas merek produk (Product Brand Loyalty)
dengan nilai sebesar 0.212
2. Terdapat pengaruh dari CPE (Consumer Perceived Ethicality) yang berasal dari merek pada
level perusahaan terhadap loyalitas merek produk (Product Brand Loyalty) yang dimediasi
oleh kecintaan pada merek produk (Product Brand Affect) dan kepercayaan pada merek
produk (Product Brand Trust) dengan nilai sebesar 0.373
3. Terdapat jalur yang mamiliki pengaruh lebih besar dibandingkan jalur lainnyadengan
menggunakanpengaruh tidak langsung karenapengaruh tidak langsung memiliki nilai
sebesar 0.373 yang lebihbesardibandingkanpengaruh langsung memiliki nilai yang lebih
kecil sebesar 0.212
5.2 Keterbatasan penelitian
Keterbatasan dari penelitian ini adalah:
1. Respon dari responden yang dikumpulkan secara online menggunakan google form dapat
dikatakan cukup lama, dibandingkan menyebarkan kuesioner secara manual menggunakan
kuesioner fisik
2. Peneyebaran kuesioner melalui internet juga membatasi peneliti untuk menjelaskan
pertanyaan yang tidak dimengerti oleh responden. Sehingga beberapa responden yang
tidak memahami pertanyaannya memilih jawaban netral
3. Sulitnya mencari responden yang sesuai dengan kriteria sampel penelitian.
4. Beberapa responden yag tidak terlalu paham mengenai produk yang mereka gunakan
sehingga ada beberapa kuesioner yang harus dibuang
5. Variabel yang mempengaruhi brand loyalty terbatas pada variabel yang diuji saja
6. Penelitian ini fokus hanya di dalam sektor perbankan saja
5.3 Implikasi penelitian
Hasil dari penelitian ini memiliki implikasi manajerial yang relevan yaitu bahwa
perusahaan atau dalam kasus ini adalah bank BCA harus bersikap etis secara independen – jujur,
Universitas Kristen Maranatha menghubungkan dunia melalui internet membuat perusahaan harus lebih menjaga nama
baiknya dan perilaku yang benar-benar etis diperlukan untuk dapat sukses di dalam persaingan
pasar. Dengan adanya hubungan anatar nilai etis yang diterima konsumen pada level
perusahaan pada loyalitas merek produk, juga dapat membantu memfasilitasi retensi
pelanggan, menjaga agar pelanggan mau menggunaan jasa perusahaannya lagi dimasa yang
akan datang. Ini adalah alasan kuat bagi manajer untuk menjaga dan mempromosikan perlaku
etis pada level perusahaan.
Implikasi lainnya bagi manajer adalah bahwa perusahaan tidak dapat berintervensi atau
mempromosikan nilai etis yang telah dilakukannya secara langsung melalui komunikasi
pemasarannya. Perusahaan perlu untuk mempromosikan perilaku etis yang dipegangnya
kepada pelanggan dan para pemangku kepentingan dalam interaksi secara tidak langsung,
misalnya melakukan tanggung jawab bagi bangsa atau masyarakat, seperti beasiswa dan
lain-lain.
Selain itu harus memberikan pelayanan terbaik dan selalu menjaga kualitas baik dari
jasa pelayanannya, akan menciptakan kecintaan maupun kepercayaan dari konsumen, yang
mana akan menjadi faktor pendukung agar konsumen berubah menjadi konsumen yang loyal,
hal itu dapat dibuktikan jika konsumen melakukan penggunaan jasa bank BCA secara berulang.
Selain itu perusahaan harus terbuka dan mau menerima keritik dari pelanggan,
misalnya jika konsumen merasakan perbedaan pelayanan di cabang BCA yang satu dengan
cabang BCA lainnya.
Dengan demikian nilai etis yang diterima pelanggan pada merek di level perusahaan
akan semakin besar pengaruhnya jika di dukung oleh kepercayaan dan kecitaan konsumen pada
merek sehingga menciptakan loyalitas pada merek produk.
5.4 Saran
Penulis berharap, setelah penelitian ini dilakukan orang-orang semakin memperhatikan
bahwa ada beberapa faktor penting harus harus dipertimbangkan sebelum membeli sebuah
produk. Pembeli harus membukan pemikirannya lebih dalam lagi sebelum melakukan pilihan
pembelian suatu produk tidak hanya melihat dari segi harga dan kualitas saja, tetapi juga
pastikan bahwa merek dari barang yang kita pilih tidak merugikan pihak-pihak lain yang terlibat.
Sebagai tambahan, penelitian selanjutnya mungkin dapat mendemonstrasikan atau
menjelaskan pengaruh dari ethical image pada bidang-bidang lainnya, misalnya penelitian pada
barang-barang yang perputarannya cepat (Fast Moving Consumer Goods). Atau karena sekarang
Universitas Kristen Maranatha (BPJS) – penelitian mengenai persepsi etis (ethical perceptions) dan loyalitas merek (brand
loyalty) dalam bidang jasa mungkin dapat menjadi hal yang baik untuk diteliti kedepannya.
Variabel penelitian lain juga dapat ditambahkan untuk diteliti seperti corporate brand equity
dan product brand equity.
Dan mungkin penggabungan Consumer Perceived Ethicality di sektor Fast moving
PENTINGNYA ETIKA MEREK:
PENGARUH DARI ETIKA YANG DITERIMA KONSUMEN
TERHADAP KEPERCAYAAN, PENGARUH, DAN
LOYALITAS
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh
Sidang Sarjana Strata 1 (S-1)
Oleh:
THOMAS AGUSTIAN
1352211
JURUSAN MANAGEMENT
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BANDUNG
THE IMPORTANCE OF BRAND ETHICS: THE INFLUENCE
OF CONSUMER PERCEIVED ETHICALITY ON TRUST,
AFFECT, AND LOYALTY
Thesis
In Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of
Bachelor of Science in Management
By:
THOMAS AGUSTIAN
1352211
MANAGEMENT DEPARTMENT
FACULTY OF ECONOMICS
MARANATHA CHRISTIAN UNIVERSITY
BANDUNG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pentingnya Etika Merek: Pengaruh Etika yang Diterima Konsumen
Terhadap Kepercayaan, Pengaruh, dan Loyalitas ”. Tujuan penulisan skripsi ini untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Manajemen Universitas Kristen Maranatha Bandung. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.
Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas akhir ini:
1. Tuhan Yesus Kristus, untuk setiap pertolonganNya yang tidak terbayangkan dan yang selalu menyertai saya mulai dari awal sampai akhir pengerjaan Tugas Akhir ini. 2. Papa dan mama yang telah memberikan dukungan baik material maupun doa agar
penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan tepat waktu.
3. Dosen Pembimbing, Bapak Rully Arlan Tjahyadi, yang membimbing penulis dalam mengerjakan tugas akhir ini.
4. Ko John Ronaldo yang selalu mendoakan saya dan sekaligus jadi mentor yang baik. 5. Teman-teman Kaso terutama kepada Wilson, Ryan, Christ, Bernard yang membantu
dalam pengerjaan SPSS juga yang meberikan semangat dan canda tawa sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan.
6. Kepada teman-teman Maranatha Christian University Choir terutama kepada music director kami tercinta Agustinus Bambang Jusana yang mendoakan dan menyemangati, sekaligus memberikan pelajaran yang sangat berharga.
7. Kepada Ci Julia dan Ci Carisa yang menjadi partner saya untuk bertukar pikiran dalam mengerjakan skripsi ini.
8. Kepada Theadora, Jennifer Valerie Crescenta, Gesda Asandy dan semua rekan mahasiswa Maranatha yang telah membantu penulis dalam menyebarkan kuesioner, untuk menyelesaikan tugas akhir mulai dari teman-teman sastra inggris, kedokteran gigi, dan teman-teman fakultas lainnya.
10. Dan terakhir untuk teman, sahabat, dan pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu-satu namanya.
Akhir kata, semoga Tuhan selalu melimpahkan kasih dan berkatNya kepada semua pihak atas kebaikan dan bantuan yang telah diberikan. Semoga tugas akhir ini dapat berguna dan memberi nilai tambah serta wacana baru bagi semua pihak yang membacanya. Tuhan memberkati.
Bandung, 7 Desember 2016
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR PUSTAKA
Aaker, Jennifer L. "Dimensions of brand personality." Journal of marketing research (1997): 347-356.
A i e, A. . Co su e s’ t ue a d loyalty: The e t al role of commitment. Journal of Strategic Marketing, 6(4), 305–319.
A ti Etika . https://id. ikipedia.o g/ iki/Etika_ is is Okto e .
Becker, L. C., & Becker, C. B. (1992). Encyclopedia of ethics. New York: Garland Publishing.
Blain, Carmen, Stuart E. Levy, and JR Brent Ritchie. "Destination branding: Insights and practices from destination management organizations." Journal of travel research 43.4 (2005): 328-338.
Boon, Susan D., et al. "Cooperation and prosocial behavior." Cooperation and prosocial
behavior (1991).
Brand Management . https://en.wikipedia.org/wiki/ Brand _ management (25 Oktober 2016)
B a d They Belie ed A e U eth ial . http://www.mintel.com/press-centre/social-and lifestyle/56-of-americans-stop-buying-from-brands-they-believe-are-unethical (25 Oktober 2016).
Brunk, K. H. (2010a). Exploring origins of ethical company/brand perceptions—a consumer perspective of corporate ethics. Journal of Business Research, 63(3), 255–262.
Brunk, K. H. (2010b). Exploring origins of ethical company/brand perceptions—reply to Shea
a d Coh ’s o e ta ies. Jou al of Busi ess Resea h, , –1367.
Brunk, K. H. (2011). Un/ethical company and brand perceptions: Conceptualising and operationalising consumer meanings. Journal of Business Ethics (submitted).
Brunk, Katja H. "Un/ethical company and brand perceptions: Conceptualising and operationalising consumer meanings." Journal of business ethics 111.4 (2012): 551-
565.
Bussey, N. (2006). Is it important to be an ethical brand? Campaign, 11, 17.
Carrigan, M., & Attalla, Ahmad. (2001). The myth of the ethical consumer—do ethics matter in purchase behaviour? Journal of Consumer Marketing, 18(7), 560–578.
Chaudhuri, A., & Holbrook, M. B. (2001). The chain of effects from brand trust and brand affect to brand performance: The role of brand loyalty. Journal of Marketing, 65(2), 81–93.
Cooper, D.R. & Schindler, P.S. (2011). Business research methods (10th ed.). New York:
Universitas Kristen Maranatha
Defi isiEtika Bis is .http://sarungpreneur.com/teori-dan-pengertian-etika-bisnis/ (25 Oktober 2016)
Defi isi Tujua Etika Bis is . http://bisnisi.com/ pengertian-definisi-tujuan-dan-fungsi-etika bisnis/(25 Oktober 2016)
Definition of Ethical Brand . www.ethicalbrand.com/docs/definition_of_an_ethical _brand. pdf (25 Oktober 2016)
Delgado-Ballester, E., & Munuera-Alema ´n, J. L. (2001). Brand trust in the context of consumer loyalty. European Journal of Marketing, 35(11), 1238–1258.
Delgado-Ballester, Elena, Jose Luis Munuera-Aleman, and Maria Jesus Yague-Guillen. "Development and validation of a brand trust scale." International Journal of
Market Research 45.1 (2003): 35-54.
Dick, A. S., & Basu, K. (1994). Customer loyalty: Toward an integrated conceptual framework. Journal of the Academy of Marketing Science, 22(2), 99–113.
Doney, P. M., & Cannon, J. P. (1997). An examination of the nature of trustinbuyer sellerrelationships.JournalofMarketing,61(2),35.
Du a , To . Principles of Advertising & IMC , Second Edition. McGraw, Inc. Bab 5. 2005
Dunn, Jennifer R., and Maurice E. Schweitzer. "Feeling and believing: the influence of emotion on trust." Journal of personality and social psychology88.5 (2005): 736.
Ethi al a d . http:// .ethi al a d. o / Oktho e .
Fan, Y. (2005). Ethical branding and corporate reputation. Corporate Communications, 10(4), 341–350.
Geller, Lois K. Direct marketing techniques. Crisp Publications, 1998.
Ghozali, Imam. "Analisis Multivanate dengan program SPSS." Edisi ke 2 (2001).
Ghozali, Imam. "Analisis Multivariate Lanjutan dengan Program SPSS." (2006).
Ghozali, i a . Aplikasi A alisis Multi a iate de ga P og a SPSS. .
Ghozali, Imam. "Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19-5/E." (2011).
Glomb, T. M., Bhave, D. P., Miner, A. G., & Wall, M. (2011). Doing good, feeling good: Examining the role of organizational citizenship behaviors in changing mood. Personnel Psychology, 64(1), 191–223.
Goldstein, 2009 p.5-7
Universitas Kristen Maranatha Gundlach, G. T., Achrol, R. S., & Mentzer, J. T. (1995). The structure of commitment in
exchange. Journal of Marketing, 59(1), 78–92.
Hair, Joseph F., et al. "Black (1998), Multivariate data analysis." (1998): 577-664.
Hair, Joseph F., et al. "Multivariate data analysis (Vol. 6)." (2006): 98-166
Huber, F., Vollhardt, K., Matthes, I., & Vogel, J. (2010). Brand misconduct: Consequences on consumer–brand relationships. Journal of Business Research, 63(11), 1113–1120.
Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta :
BPFE Yogyakarta
Jacoby, J., & Chestnut, R. W. (1978). Brand loyalty: Measurement and management. New York: Wiley.
Ja ueli e Pay e, Ethi al Co su e is a d Co se atis : Ha d i Glo e, The Hei z
Journal, Carnegie Mellon University, 2012
JatinderShaw, D., & Shiu, E. (2002). The role of ethical obligation and selfidentity in ethical consumer choice. International Journal of Consumer Studies, 26(2), 109–116.
Jogiyanto. 2004. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalamanpengalaman.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Th.2008
Kincaid, Judith. Customer Relationship Management: Getting it Right. Prentice-Hall, Inc. Page 298. 2003
Kotler, Philip, and Waldemar Pfoertsch. B2B brand management. Springer Science & Business Media, 2006
Kotler, Philip, and Gary Armstrong. Principles of marketing. pearson education, 2010
Kumar, S., & Advani, J. (2005). Factors affecting brand loyalty: A study in an emerging market on fast moving consumer goods. Journal of Customer Behavior, 4, 251–275.
Lau, Geok Theng, and Sook Han Lee. "Consumers' trust in a brand and the link to brand loyalty." Journal of Market-Focused Management 4.4 (1999): 341-370.
Matzler, K., Bidmon, S., & Grabner-Kra ¨uter, Sonja. (2006). Individual determinants of brand affect: The role of the personality traits of extraversion and openness to experience. Journal of Product and Brand Management, 15(7), 427–434.
Matzler, K., Grabner-Kra ¨uter, S., & Bidmon, S. (2008). Risk aversion and brand loyalty: The mediating role of brand trust and brand affect. Journal of Product & Brand Management, 17(3), 154–162.
Universitas Kristen Maranatha
Mi tel’s Resea h http://www.mintel.com/press-centre/social-and-lifestyle/56-of
americans stop-buying-from-brands-they-believe-are-unethical
Moorman, Christine, Gerald Zaltman, and Rohit Deshpande. "Relationships between providers and users of market research: The dynamics of trust within and between organizations." Journal of marketing research 29.3 (1992): 314.
Morgan, R. M., & Hunt, S. D. (1994). The commitment-trust theory of relationship marketing. Journal of Marketing, 58(3), 20.
Myers, D., & Tingley, D. (2011). The i flue e of e otio o t ust.http://scholar. harvard.edu/dti gley/files/e otio a ipulatio .pdf su itted .
Oliver, R. L. (1999). Whence consumer loyalty? Journal of Marketing, 63(4), 33–44.
Payne, A., Storbacka, K., Frow, P., & Knox, S. (2009). Co-creating brands: Diagnosing and designing the relationship experience. Journal of Business Research, 62(3), 379 389.
Pe ge tia Fair Trade . http://forumfairtradeindonesia.org/fair-trade/what-is-fair-trade/ (25 Oktober 2016)
Procopio, Michael and Spielvogel 42 Rules for B2B Social Media Marketing: Learn Proven Strategies and Field-Tested Tactics Through Real World Success,
Reichheld, F. F., & Schefter, P. (2000). E-loyalty. Harvard Business Review, 78(4), 105–113.
Schacter, Daniel. Psychology. Worth Publishers 2011
Schoorman, F. D., Mayer, R. C., & Davis, J. H. (2007). An integrative model of organizational trust: Past, present, and future. Academy of Management Review, 32(2), 344–354.
Shanahan, Kevin J., and Michael R. Hyman. "Motivators and enablers of SCOURing: A study of online piracy in the US and UK." Journal of Business Research 63.9 (2010): 1095
1102.
Shaw, D., & Shiu, E. (2002). The role of ethical obligation and selfidentity in ethical consumer choice. International Journal of Consumer Studies, 26(2), 109–116.
Shea, L. J. (2010). Using consumer perceived ethicality as a guideline for corporate social responsibility strategy: A commentary essay. Journal of Business Research, 63(3), 263–264.
Sirdeshmukh, D., Singh, J., & Sabol, B. (2002). Consumer trust, value, and loyalty in relational exchanges. Journal of Marketing, 66(1), 15–37.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta.
Universitas Kristen Maranatha Shea, L. J. (2010). Using consumer perceived ethicality as a guideline for corporate social responsibility strategy: A commentary essay. Journal of Business Research, 63(3), 263–264.
Singh, J.; Iglesias, O.; Batista-Foguet, J. M. 2012. Does Having an Ethical Brand matter? The influence of Consumer Perceived Ethicality on Trust, Affect and Loyalty, Journal of Business Ethics, 541–549.
Sirdeshmukh, D., Singh, J., & Sabol, B. (2002). Consumer trust, value, and loyalty in relational exchanges. Journal of Marketing, 66(1), 15–37.
Sung, Y., & Kim, J. (2010). Effects of brand personality on brand trust and brand affect. Psychology & Marketing, 27(7), 639–661.
Sz igi , I., Ca iga , M., & O’Loughli , D. . I tegrating ethical brands into our consumption lives. Journal of Brand Management, 14(5), 396–409.
The Meaning of Brand Management . http://www.investopedia.com/terms/b/brand management.asp (25 Oktober 2016).
Trout, Jack, and Al Ries. Positioning: The battle for your mind. Replay Radio, Radio New Zealand,1982.
Wood, Lisa. "Brands and brand equity: definition and management. "Management decision 38.9 (2000): 662-669.