KAJIAN YURIDIS RANCANGAN UNDANG-UNDANG HUKUM MATERIIL PERADILAN AGAMA BIDANG PERKAWINAN MENGENAI SANKSI PIDANA BAGI PELAKU PERKAWINAN YANG TIDAK DICATATKAN.
Teks penuh
Dokumen terkait
2002, hlm.. bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Akibat hukum apabila perkawinan tidak dicatatkan, status anak yang dilahirkan
Perkawinan antara bibi dan keponakan menjadi batal demi hukum menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Hukum Islam, namun berdasarkan Pasal 28
Dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dalam kaitan ini Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan
Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, sebagaimana tercantum pada pasal 2 yang berbunyi: “ Tiap-tiap perkawinan di catat menurut perundang-undangan
tidak dicatat sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 2 Ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dalam Pasal tersebut dinyatakan bahwa “Tiap- tiap perkawinan dicatat
Dalam praktek nantinya masyarakat akan menafsirkan bahwa dengan memenuhi pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sudah cukup untuk
Berdasarkan rangkaian ketentuan pencatatan perkawinan dalam peraturanperaturan perundang-undangan tersebut tampak bahwa jiwa yang terkandung dalam Pasal 2 ayat
Perlu diperhatikan, dari rumusan Pasal 2 ayat (2), bahwa perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, pada faktanya, berdasarkan