Pencatatan Perkawinan dan Syarat Sah Perkawinan dalam Tatanan Konstitusi
Teks penuh
Dokumen terkait
Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 mewajibkan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun, saat ini banyak
1) Perkawinan yang sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu. 2) Tiap-tiap Perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan
Dalam praktek nantinya masyarakat akan menafsirkan bahwa dengan memenuhi pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sudah cukup untuk
Berdasarkan rangkaian ketentuan pencatatan perkawinan dalam peraturanperaturan perundang-undangan tersebut tampak bahwa jiwa yang terkandung dalam Pasal 2 ayat
1 Tahun 1974 pada Pasal 2 ayat (2) yang menyatakan bahwa “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.” 189 Pencatatan nikah
1 Tahun 1974 pasal 2 ayat 2 dijelaskan bahwa “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.” KHI juga menenkankan aturan tentang keharusan pencatatan
Duduk perkara dalam putusan tersebut dijelaskan bahwa Pasal 2 ayat 2 UUP No 1 Tahun 1974 yang menyebutkan bahwa “tiap-tiap perkawinan di catat menurut peraturan perundang- undangan yang
Organ pembentuk undang-undang DPR dan Pemerintah dapat menindaklanjuti Putusan MK dengan amar putusan “dikabulkan” Putusan No.46/PUU-VIII/2010 tentang Status Anak Di Luar Nikah Sah dan