• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA DOSEN PANCASILA MEMBINA PRIBADI MAHASISWA SEBAGAI WARGA NEGARA YANG BERTANGGUNG JAWAB MELALUI KEGIATAN DISKUSI KELAS PENDIDIKAN PANCASILA: Studi Kasus tentang Kemampuan Dosen-Dosen Pancasila pada Beberapa Perguruan Tinggi di Kotamadya Cirebon.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "UPAYA DOSEN PANCASILA MEMBINA PRIBADI MAHASISWA SEBAGAI WARGA NEGARA YANG BERTANGGUNG JAWAB MELALUI KEGIATAN DISKUSI KELAS PENDIDIKAN PANCASILA: Studi Kasus tentang Kemampuan Dosen-Dosen Pancasila pada Beberapa Perguruan Tinggi di Kotamadya Cirebon."

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA DOSEN PANCASILA MEMBINA PRIBADI MAHASISWA:

SEBAGAI WARGA NEGARA YANG BERTANGGUNG JAWAB MELALUI

KEGIATAN DISKUSI KELAS PENDIDIKAN PANCASILA

(Studi Kasus tcntang Kemampuan Dosen-Dosen Pancasila

pada Beberapa Perguruan Tinggi di Kotamadya Cirtbon)

T E S I S

Diajukan kepada Panitia Ujian Tesis

Institut Keguruan dan llmu Pendidikan Bandung

untuk memenuhi Syarat Menempuh Ujian Magister

Bidang Studt Pendidikan Umum

Oleh r

SOEPENDRI SURIADINATA

No. Pokok : 8832079

FAKULTAS PASCA SARJANA

INST1TUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

BANDUNG
(2)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH :

PROF. DR. ROCHMAN NATAWIDJAJA Pembimbing

DR. NDR8ID SUMAATMADJA

Pembimbing

Mengetahui

KOORDINATOR BIDANG STUDI

DR. H. Ml SOELAEMAN

FAKULTAS PASCA SARJANA

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(3)
(4)

DAFTAR ISI

ha la man

KATA PENGANTAR ii

UNGKAPAN TERIMA KASIH iv

DAFTAR ISI vii

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR X

BAB I. PENDAHULUAN 1

A. Later Belakang Masalah 1

B. Fokus Masalah dan Pembatasan Studi. ... *f

C. Analisis Masalah 5

D. Tujuan Penelitian 7

E. Kegunaan Hasil Penelitian

8

II. PERANAN DOSEN PANCASILA DALAM PROSES BELAJAR

MENGAJAR

A. Pendidikan Pancasila sebagai komponen Mate

Kuliah Dasar Imum io

B. Pendidikan Pancasila sebagai Pendidikan

Moral I1*

C. Fungsi Kegiatan Diskusi bagi Pembinaan War

ga negara yang bertanggung jawab

20

D. Peranan Dosen Pancasila dalam Kegiatan Dis

kusi Kelas 25

III. METODOLOGI PENELITIAN 33

A. Konteks Penelitian. 33

B. Sumber Data Penelitian. 33

C. Tahap-tahap Pelaksanaan Penelitian

3^

D. Instrumen Penelitian

E. Teknik Pengolahan Data

^3

F. Gambaran Lokasi Penelitian

*"

(5)

BAB baleman

IV. ANALISIS DATA 50

A. Sistem Pel* Kerja Analisis Data 50

B. Pelaksanaan Analisis Data. 52

1. Deskripsi Kemampuan Dosen Merenoanakan Pembinaan Pribadi Mahasiswa sebagai

Warga Negara Bertanggung jawab

53

2. Deskripsi Kemampuan Membina Pribadi Ma hasiswa sebagai Warga Negara Bertang

-gung jawab dalam pelaksanaan diskusi..

63

3. Deskripsi Kemampuan Membina Pribadi Ma hasiswa sebagai Warga Negara Bertang

gung jawab dalam Menilai diskusi...

76

V.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

89

A. Kesimpulan Hasil Penelitian

89

B. Pembahasan Hasil Penelitian 92

C. Implikasi Hasil Penelitian 103

D. Rekomendasi 106

DAFTAR PUSTAKA 113

LAMPIRAN-LAMPIRAN

A. Instrumen Pembantu Penelitian 116

B. Pedoman Observasi 13**

C. Jadwal Kegiatan Penelitian Lapangan

139

D. Ringkasan Data Hasil Penelitian

1^2

E. Daftar Riwayat Hidup Penulis

19^

F. Izin-izin Penelitian 199

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Keadaan Mahasiswa dan Dosen Perguruan Tinggi Lokasi

Penelitian dalam Tahun Akademik 1990/1991 ^6

2 Latar Belakang Kesarjanaan dan Beban Tugas Dosen

pada Kasus-kasus Nusa, Bangsa, dan Bahasa dalam

Tahun Akademik 1990/1991 ^9

3 Deskripsi Kemampuan Dosen Merenoanakan Pembineen

Pribadi sebagai Warga Negara Bertanggung jawab. ... 56

k Deskripsi Kemampuan Dosen Membina Pribadi sebagai

Warga negara Bertanggung jawab dalam diskusi 67

5 Deskripsi Kemampuan Dosen Membina Pribadi sebagai

Warga negara Bertanggung jawab dalam menilai diskusi 80

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Fokus Masalah dan Batas Studi Penelitian 4

2 Planning the learning task 27

3 Ruang lingkup Kawasan Kemampuan Guru. 28

*f Alur Proses Kegiatan Penelitian 39

5

The Flow of Naturalistic Inquiry

h2

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam Bab ini disajikan berturut-turut tentang Latar Belakang Masalah, Fokus Masalah dan Pembatasan Studi, Analisis Masalah,Tuju-an PenelitiMasalah,Tuju-an, dMasalah,Tuju-an KegunaMasalah,Tuju-an Hasil PenelitiMasalah,Tuju-an.

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan Jangka panjang ( 25 tahun ) kedua diarahkan kepa

da peningkatan "kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang maju dalam suasana tenteram dan sejahtere lahir batin dalam tata kehi-dupan masyarakat bangsa dan negara yang berdasarkan Pancasila." ( GBHN 1988 ). Sedangkan Pancasila telah ditetapkan sebagai dasar negara dan sekaligus juga menjadi dasar Pendidikan Nasional.

Tujuan Pendidikan Nasional yang berlandaskan Pancasila, yaitu "untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia

seu-tuhnya." ( UUSPN ). Arah tujuan pendidikan nasional tersebut membe rikan petunjuk nyata bagi peran pendidikan umum dalam kawasan pendi dikan nasional kita, karena ** . . . general education . . . i s that which prepares the young for the common life of their time and their kind . . . It is the unifying element of culture. It prepares the stu

dent for a l l a full satisfying life as a member, as a worker, as a

citizen ..." ( Nelson B.Henry, 1952: h ). Dalam kaitan-ini Pancasi

la telah menjadi citra ideal Bangsa Indonesia, menjadi sumber bagi

diperolehnya kepuasan hidup, baik sebagai anggota keluarga, sebagai

karyawan, maupun sebagai warga negara.

Kedudukan Pancasila dalam khazanah Pendidikan Nasipnal Indone

sia dapat mempunyai arti luas dan sempit.

Dalam artinya yang luas,

karena sistem pendidikan nasional Indonesia sebenamya adalah

sis

(9)

sempit, yaitu pendidikan Pancasila sebagai suatu bidang studi khu sus yang diajarkan sejak mulai Pendidikan Dasar sampai dengan Per guruan Tinggi. Arah sasaran dalam penelitian ini hanya berkaitan dengan pengertian Pendidikan Pancasila dalam artinya yang sempit. Di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan ^ing-gi Swasta, pendidikan Pancasila diberikan menjelang semester

per-tama dengan program penataran P-*+ pola pendukung 100 jam. Suatu

kejanggalan dijumpai pada beberapa Perguruan Tinggi Swasta dan di IAIN Cirebon, pendidikan Pancasila diberikan pula melalui program perkuliahan terstruktur pada semester tiga dengan bobet dua sks. Salah satu argumen yang muncul, karena pendidikan Pancasila menja di mata ujian negara. Kesenjangan yang timbul keraudian ad8lah bah-wa hasil ujian negara Pendidikan Pancasila maupun hasil ujian kem-prehensif di IAIN ternyata hasil taraf kelulusannya hanya sekitar 60 % saja pada setiap periode ujian tersebut, padaha1 para maha -siswa telah memperoleh tambahan perkuliahan biasa di samping pro

gram penataran P-4.

Hasil studi pendahuluan diperoleh informasi jenis kesenjang

an yang lain sifatnya, yaitu kesenjangan antara

yanff

diharapkan

oleh pendidikan Pancasila dengan kenyatean perileku moral

keseha-rian para mahasiswa di lingkungan.kampus. . Gejala tersebut antara

lain raasih rendahnya taraf kedisiplinan para mahasiswa dalam keha.

diran kuliah yang rata-rata hanya mencapai 80 %daripada frekuensi

yang semestinya. Para mahasiswa yang da tang terlambat pada jam ku

liah pertama setiap hari rata-rata mencapai 2 %. Kegiatan

nyontek-dalam ujian banyak dijumpai di kelangan para mahasiswa pada bebe

rapa Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Gejala demikian itu

meru-pakan indikator masih cenderung rendahnya nilai moral kedisiplin

(10)

Sejala kesenjangan tersebut di atas menjadi perhatian 8wal sebagai masalah yang perlu memperoleh penelusuran lebih Ianjut da lam penelitian ini. Dengan tidak mengesampingkan kemungkin8n ada faktor-fakter penyebab lainnya, perhatian dalam penelitian ini di-arahkan hanya pada sasaran kegiatan proses belajar mengajar Panca sila, di mana peran dosen Pancasila merupakan salah satu faktor .dominan bagi tercapainya keberhasilan studi dan terwujudnya peri-la ku keseharian para mahasiswanya. Faktor kemampuan dosen Pancasi la menjadi titik perhatian penelitian ini.

Dalam penyelenggaraan pendidikan Pancasila di Perguruan

Tinggi, baik melalui program penataran P-*f maupun dalam perkuliah

an terstruktur, senantiasa dijumpai kegiatan diskusi. Penyelengga raan pendidikan Panca,sila dalam kenyataannya sekarang ini tak da

pat dipisahkan dengan kegiatan diskusi, bahkan dalam program pena

taran P-4, kegiatan diskusi itu merupakan salah satu metode yang

wajib diterapkan, di samping metode-metode lainnya.

Kegiatan diskusi dalam proses belajar mengajar merupakan sa lah satu wahana untuk meningkatkan sikap kemandirian dan

kedisip-linan dalam rangka pembentukan insan Pancasilais

peserta

didik,

karena kegiatan diskusi dilaksanakan sepenuhnya oleh para mahasis

wa di bawah bimbingan dosen.

Akan tetapi seperti disinyalir

Sayi-diman Suryehadiprojo ( 1989: 287 ), " para guru termasuk dosen

be-lum

memenuhi syarat yang diperlukan, baik stander intelektual mau

pun yang berhubungan dengan pembentukan sikap mental."

Sedangkan

menurut Anwar lasin ( 1989: 333 ), "kebanyakan guru kurang

dalam

kelebihan penguasaan ilmu pengetahuan yang diajarkannya,

karena

ilmu pengetahuan gur^-gum sekarang tidak terlelu jauh di atas pe

(11)

B. Fokus Masalah dan Pembatasan Studi

Gambaran latar belakang masalah di atas menunjukken adanya

kesenjangan dalam penyelenggaraan pendidikan Pancasila pada beberapa

Perguruan Tinggi Swasta dan IAIN di Kotamadya Cirebon, terutama ke

senjangan mengenai harapan perilaku hasil pendidikan Pancasila deng

an kenyataan perilaku moral para mahasiswa dalam kehidupan

kesehari-an ykesehari-ang cenderung beluro memiliki kedisiplinkesehari-an. Hal ini berarti

pula

bahwa sikap tanggung jawab edukatif yang semestinya dimiliki mahasis

wa calon guru perlu peningkatan. Salah satu faktornya bermuera

pada

upaya dosen membina pribadi mahasiswa melalui kegiatan diskusi kelas.

BerdasarRan tema judul penelitian sebagai pokok perhatian

dan

latar belakang masalah, maka rumusan masalah penelitian ini

difokus-kan kepada upaya memperoleh deskripsi tentang "Bagaimana Upaya Dosen

Dosen Pancasila Membina Pribadi Mahasiswa sebagai Warga Negara yang

Bertanggung .jawab Melalui Kegiatan Diskusi Kelas Pendidikan Pancasi

la," pada beberapa Perguruan Tinggi di Kotamadya Cirebon,

Masalah tersebut masih bersifat umum, oleh karena

itu

perlu

diberikan pembatasan studi dengan lebih memfokuskan pada sasaran upa

ya :osen Pancasila membina pribadi para mahasiswa sebagai warga nega

ra yang bertanggung jawab, melalui kegiatan merenoanakan, membimbing

pelaksanaan, dan menilai kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila.

Pembatasan studi ini terlukiskan pada gambar bagan seperti berikut :

UPAYA DOSEN-DOSEN PANCASILA MEMBINA PRIBADI MAHASISWA

SEBAGAI WARGA NEGARA YANG BERTANGGUNG JAWAB MELALUI

Merenoanakan Ke

giatan Diskusi

Hembimbing Pelaksanaan Kegiatan Diskusi

T

Menilai Kegiat an Diskusi

^

. . -- . - - . f

- - -

*

(12)

Warga negara yang bertanggung jawab dimaksudkan adalah sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kepribadien sebagai insen Pence silais. Penggunaan istilah tanggung jawab mempunyei kaitan erat de ngan perilaku moral dan oleh sebab itu yang dimaksudkan dengan warga

negara yang bertanggung jawab adalah warga negara yang memiliki

ke-hendak dan kemampuan menghajati dan

mengamalkan

nilai-nilai .moral

Pancasila seperti terangkum dalam tiga puluh enam butir Pancasila,

C. Analisis Masalah

Mengingat fokus masalah mesih menunjukkan karakteristik yang luas dan kompleks, maka peneliti nenganggep perlu untuk memberikan rincian lebih lanjut dengan cera menganalisis sebagai berikut :

1. Masalah " bagaimana upaya dosen-dosen Pancasila membina

pribadi para mahasiswa sebagai warga negara yang

bertanggung

jawab

dengan memasukken kompenen-kompenen pembineen tersebut ke dalam

ren-cene diskusi kelas pendidikan Pancasila," dirinci

menjadi

beberapa

submasalah, yaitu :

a. Bagaimana

upaya

dosen-dosen- Pancasila mempersiapkan

bahen-ba-han

bagi pembineen pribadi para mahasiswa sebagai

warga

negara

yang bertanggung jawab

yang hendak dimasukkan

ke dalam

rencana

kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila ?

b. Bagaimana . upaya

dosen-dosen

Pancasila menyusun rencana pembi

neen pribadi bagi para mahasiswa sebagai warga negara yang bertang

gung jawab ke dalam rencana kegiatan diskusi kelas pendidikan Pan

easila ?

c. Keraponen-kompenen pembineen pribadi sebegai warga negara yang ber

tanggung jawab ape saja yang tertuangken ke dalam rencana kegiatan

(13)

Rencana kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila, adalah merupa

kan suatu bentuk rencana yang utuh, di mana di dalamnya meliputi un sur-unsur teknik penyelenggaraan. Dan eleh sebab itu dimesukkennye kompenen-komponen pembineen pribadi sebagai warga negara yang ber tanggung jewab ekan senantiasa terintegrasikan dalam rencana kegiet an diskusi kelas pendidikan Pancasila delem keutuhennye itu.

2. Masalah " bagaimana .upaya dosen-dosen Pancasila membina pribadi para mahasiswa sebegai warga negara yang bertanggung jawab

dalam pelakdanaan kegiatan diskusi keles pendidikan Pancasila,"

di-rinci menjadi beberepa submasalah sebegai berikut :

a. Bagaimana upaya dosen-dosen Pancasila membina pribadi para mahasiswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam mem beriken bimbingan bagi mempersiepkan melaksanaken kegiatan disku

si kelas pendidikan Pancasila ?

b. Bagaimana upaya dosen-dosen Pancasila membina pribedi para, mahasiswa sebegai warga negara yang bertanggung jawab dalam mem bimbing pelaksanaan kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila? c. Bagaimana komponen-komponen pembinaan pribadi sebagai warga , ne

gara yang bertanggung jawab tersebut dikembangkan dalam pelaksa naan kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila ?

Pelaksanaan kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila dilaksanakan

eleh para mahasiswa, eleh sebab itu

mereka perlu dibekali

mengenai

norma-norma

yang di dalamnya berisikan nilai-nilai moral Pancasila

bagi pembentukan perilakunya dalam berdiskusi. Materi pembinaan pri

badi ini diberikan pada tahap bimbingan bagi persiapan kegiatan dis

kusi. Sedangkan dalam pelaksanaan kegiatan diskusi arah pembinaan

pribadi sebagai warga negara yang bertanggung jawab ini terlukiskan

dalam sikap dan perilaku pare peserte diskusi tersebut dan mengenai

(14)

3. Masalah "i bagaimana upaya dosen-dosen.' Pancasila

membina-pribadi para mahasiswa sebegai warga negara yang bertanggung jawab dalam memberikan penilaien terhadap kegiatan diskusi kelas pendidik an Pancasila," dirinci menjadi beberapa aubmeseleh sebagai berikut: a. Bagaimana .upaya dosen-dosen Pancasila membina pribadi para mahasiswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam mem-persiepken kriteria dan sasaran..penilaien kegiatan diskusi kelas

pendidikan Pancasila ?

b. Bagaimana . upaya dosen-dosen Pancasila membina pribadi para mahasiswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam pe-laksenaen penilaien kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila? c. Kempenen-kbmponen pembineen pribadi sebagai warga negara yang

bertanggung jawab apa seja yang dikembangkan

4alam

memberikan

penilaian terhadap kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila?

Dalam memberikan penilaian memerlukan suatu persiapan yang

cermat

dan mantap agar penilaian tersebut

relevan

dengan

sasaran

yang

hendak dicapainya terutema berkaitan dengan sampei

di maha

upaya

pembinaan pribadi para mahasiswa sebagai warga negara yang bertang

gung jawab itu telah dicapai.

Baik dalam

mempersiapkan penilaian

maupun dalam pelaksanaan penilaian tersebut memerlukan suatu kemam

puan dan kepekaan dosen yang yabg bersangkutan, mengingat yang men

jadi sasaran obyek penilaiannya edalah hasil pembinaan pribadi yang

tercermin dalam perilaku kegiatan para mahasiswa dalam melaksanakan

kegiatan diskusi tersebut.

E. Tu.iuen Penelitien

Tujuan yang hendak dicapai melaluui

penelitian

ini, soeere

umum ingin memperoleh data tentang

deskripsi upaya • dosen-do

(15)

8

negara yang bertanggung jawab. Upeye dosen demikien itu akan ter^.

cerminkan pada adegan alamiah kegiatan dosen Pancasila dalam merenoa nakan, membimbing pelaksanaan, dan menilai kegiatan.diskusi Pancasi

la.

Lebih Ianjut data kegiatan adegan alamiah yang menggember-kan performansi dan kompetensi dosen Pencesile di etas dapat

dijadi-kan dasar untuk :

1. menentukan idiographieally interpreted, yeitu gegasan hasil penef-siren mengenai penerapan pendekatan moral Pencesile dalam

kegiet-en diskusi.

2. menetapkan bagi tentative epplied, yaitu menggunakan delam pelak

sanaan kegiatan diskusi berikutnye.

Lebih lanjut berdeserkan deskripsi hasil penelitien den hesil

studi kepustakaan dapat pula disajikan rekomendesi begi

aemperkaya

konsap dasar pBrididikan Pancasila sebagai Pendidikan Umum,

khusus

nya pendidikan Pancasila sebagai pendidikan bagi pembentukan priba

di manusia Indonesia seutuhnya berdeserken Pancasila. E. Kegunaan Hasil Penelitian

Deskripsi taraf upaya dosen-dosen Pencesile membina pri badi mahasiswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab melalui'

kegiatan diskusi kelas

Pancasila

akan

merupekan salah oatu acuen

pokok bagi perwujudan perilaku moral Pancasila para mahasiswa

mele-lui kegiatan diskusi. Hal ini berarti bahwa penggunaan metode disku

si dipandang sebagai proses pendidikan pribadi yang bersifat "anti

dogmatis" bagi terwujudnya perilaku moral para peserta^didik dalam

kehidupannya sehari-hari.

Apabila tujuan-tujuan di atas dapat dicapai, maka hasil pene

(16)

Pancasila dalam membina kegiatan belajar mengajar Pancasila yang;

lebih efektif, efisien dan produktif, dapat memenuhi tuntutan tu juan institusional lembaga pendidikan yang bersangkutan, serta tuntutan tujuan pendidikan nasional bagi tercapainya pribadi pe-serta didik seutuhnya. Secara rinci hasil penelitian ini diharap kan memberikan faedah terhadap hal-hal sebagai berikut :

1. Melalui temuan penelitian lapangan yang dilengkapi dengan ha sil studi kepustakaan dapat dijadikan sebagai bahan tentative applied mengenai upaya menerapkan nilai-nilai moral Pancasila dalam proses belajar mengajar Pancasila melalui kegiatan dis kusi, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi yang dijadikan kasus penelitian ini. Dan diharapkan hasilnya dapat memberi kan nilai tambah dalam upaya meningkatkan pendidikan pribadi para peserta didik bagi tercapainya pribadi manusia seutuhnya

berdasarkan Pancasila.

2. Gambaran keberadaan adegan alamiah yang sebenarnya daripada kegiatan diskusi pendidikan Pancasila sebagai proses pendidik an pribadi ini dapat digunakan sebagai bahan masukan pula bagi

para penanggungjawab penyelenggara pendidikan Pancasila, yakni BP-7, Bsgien Pengembangan Pendidikan Penceails pada Perguruan

Tinggi, dan MGBS ( Majelis Guru Bidang Studi ) Pencesile

pede

tingket Pendidikan Menengah. Deskripsi ini dapat digunakan un

tuk upaya pengembangan dan pembinaan selanjutnya.

3. Lebih lanjut hasil temuan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

upaya meningkatkan dan inovasi proses belajar mengajar MKDU la

innya , terutama pendidikan agama, pendidikan

kewarganegsreen

dan pendidikan kewiraan yang mengacu lebih besar kecenderungen

(17)
(18)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Konteks Penelitian

Penelitian ini mengikuti jalan pikiran penelitian naturalistik walaupun tidak sepenuhnya, karena dari empat belas karakteristiknya seperti diungkapkan Guba, hanya sepuluh buah saja yang dapat diikuti dalam penelitian ini. Sepuluh karakteristik dimaksud, terdiri atas : "natural setting, human instrument, utilization of tacit knowledge,

qualitative methods, purposive sampling, inductive

data

analysis ,

emergent design, negotiated outcomes, case study reporting

fflode,idi-ographic interpretation." ( Egon G.Guba, 1984: 39-42 ).

Berlandaskan pada konteks model penelitian di atas, maka meto

de yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode alamiah

kuali-tatif, menggunakan pandangan menurut pendirian masing-masing orang

dalam perspektif "emic."

Dengan demikian maka data yang dikumpulkan

bersifat kualitatif yang diperoleh dari adegan situasi wajar (natur

al) subjek yang diteliti. B. Sumber Data Penelitian

Sunber data utama dalam penelitian kualitatif,

adalah " kata

kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan." ( L.J. Moleong,

1989:122). Dengan demikian

sumber

informasi

penelitian ini sesuai

dengan sasaran fokus awal, adalah mengenai apa yang diungkapkan

do

sen-dosen Pancasila pada beberapa Perguruan Tinggi di Kotamadya Ci

rebon.

Sampelnya

merupakan sampel kecil dan purposif berkenaan de

ngan sasaran fokus penelitian,

yakni

lima

orang

dosen

Pancasila

yang bertugas di Universitas Swadaya Gunung Djati, IAIN Sunan Gunung

Djati dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Cirebon.

(19)

34

Lime dosen Pencesile tersebut dijadikan sebagai sumber data primer, mengutamakan data langsung (first hand). Untuk memperoleh gambaran tentang later belakang pendidikan, pengalaman mengajar,dan pengalaman lainnya seperti karya tulis, turut serta dalam seminar dan lain-lain,dilakukan triangulasi berupa ddkumentesi administrasi data kepegawaian dalam memverifikasi informasi yang diperoleh dari tangan pertama.

Penentuan sumber data lain dilakukan atas penunjukkan respon-den, yaitu para asisten dosen, forum kegiatan diskusi bagi pelaksa naan observasi kegiatan yang melibatkan para peserta diskusi. Dan dengan demikian, sumber informasinya berkembang menjadi " snowball sampling," sampai pada akhirnya mencapai taraf "redundancy," yang merupakan gejala ketuntasan data, karena sudah tidak ada lagi untuk memperoleh tambahan informasi baru. Penetapan sampel kecil yang

berasal dari beberapa Perguruan Tinggi ini telah memperkuat keyakin an "peneliti bagi tercapainya taraf "confirmability" dan "dependabi lity" hasil pengumpulen dete penelitian ini.

C. Tahap-tahap Pelaksanaan Penelitian

Ta^ap-tahap pelaksanaan penelitian secara gar s besar terdiri

atas tiga tahapan, yaitu tahap orientasi, tahap eksplorasi dan

ta-hep member check.(S.Nasution,1988:33-34). Menurut Yvonna S. Lincoln

dan Egon G.Guba (1985:235-236), bahwa "the orientation and overview

phase, the phase of focused exploration, and the member check." Ada

pun rincian daripada ketiga tahapan tersebut adalah

sebagai

yang

tersajikan berikut ini.

1. Tahap Orientasi

Pada tahap orientasi ini berupaya memperoleh

persiapfn

bagi

(20)

35

Egon Guba (1985:235) menyatakan " to obtain sufficient information

to get some handle on what is important enough to follow up in de

tail." Beberapa kegiatan yang telah peneliti lakukan antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Peneliti telah melakukan studi kepustakaan, termasuk menyusun "klipping" surat kabar untuk mengkajji berbagai informasi yang berkenaan dengan permasalahan terkait dengan teme dan fokus awal penelitian.

b. Melakukan pra-survey ke lokasi penelitian, y§itu terhadap tiga Lembaga Pendidikan Tinggi di Kotamadya Cirebon, yakni

Universi-tas Swadaya Gunung Djati, IAIN Sunan Gunung Djati, dan Sekoleh Tinggi Ilmu Tarbiyah.

c. Peneliti mengadakan perkenalan dengan membawa surat izin pene litian dari IKIP Bandung dan dari Ditjen Sospol Propinsi Jawa

Barat. Wawancara pendahuluan dilakukan dengan Dekan, para .

Pam-bantu Dekan, Ketua-Ketua Jurusan dan para calon responden.

Berdasarkan hasil orientasi ini terjumpai beberapa hal yang

menarik dan menonjol,terutama berkenaan dengan kondisi dan situasi

Lembaga Perguruan Tinggi tersebut. Selain daripada itu diperoleh pule informasi yang berkaitan denggn penyelenggaraan pendidikan Pancasila, yakni melalui kegiatan pentaran P-4 pola pendukung 100

jam, dan kemudian diberikan pula dalam perkuliahan terstruktur pa da semester tiga dengan bobot dua sks. Informasi lain menunjukkan bahwa hasil ujian negara pendidikan Pancasila pada beberapa Pergu ruan Tinggi Swasta, maupun hasil ujian komprehensif pada IAIN me nunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Basil orientasi ini diper

oleh informasi bahwa pada umumnya taraf kehadiran

para

mahasiswa

masih belum memuaskan. Gambaran umum yang demikian itu telah mem

(21)

-36

2. Tahap Eksplorasi

Tahap eksplorasi merupakan upaya " to obtain information in

depth ebout those elements determined to be solient."(Egon G.Guba,

1985:235), Kegiatan yang peneliti lakukan pada .tahap eksplorasi ini adalah sebagai berikut :

a. Melakukan penyusunan instrumen pembantu penelitian dan pedoman observasi yang dikembangkan terus-menerus sesuai dengan kondisi

yang dijumpai di lapangan. Menurut S.Nasution (1988:72), bahwa

"Informasi emic yang diterimanya dijadikan bahan untuk merumus-kan sejumlah pertanyaan yang lebih berstruktur, walaupun infor masi yang diharapkan tetap bersifat emic."

b. Peneliti melakukan kegiatan wawancara .'dengan para responden

yang dalam hal ini dosen-dosen Pancasila pada beberapa Fakultas secara bergantian sesuai dengan persetujuan wektu yang telah

ditetapkan bersama. Dosen-dosen dimaksud, yaitu dua orang dosen Pancasila pada FKIP Unswagati yang membina perkuliahan Pancasi la enam kelas pada semester tiga dari lima jurusan yang ada,dua

dosen Pancasila pada IAIN yang membina lima kelas semester tiga

dengan tiga jurusan, dan seorang dosen Pancasila pada STIT

Ci

rebon yang membina perkuliahan satu kelas pada semester tiga.

c. Peneliti melakukan observasi terhadap pelaksanaan kegiatan bel

ajar mengajar Pancasila yang menggunakan metode

diskusi

pada

kelas-kelas tertentu . Kegiatan observasi ini dilaksanakan atas

tunjukan dan ketentuan waktu diskusi dari responden,

dan

yang

dalam hal ini dosen Pancasiladari masing-masing fakultas yang

bers8ngkutan. Kegiatan wawancara dan observasi ini pun berlang

sung terus-menerus mengikuti pola kerja disain "sirkuler." sam

(22)

37

Menurut S.Nesution (1988:27) yaitu bahwa "disein sirkuler meng

ikuti jelan lingkaran tanpa putus-putusnya. Namun pada suatu saat harus dihentikan,misalnya bila hasilnya telah dianggap me-madai, atau bila penelitian telah sampai pada taraf ketuntasan." d. Peneliti melakukan kegiatan penyusunan hasil laporan yang meli

puti mendeskripsi, menganalisis, dan menafsirkan data informasi hasil penelitian. Kegiatan ini pun pada dasarnya berlangsung terus-menerus dan bukan hanya merupakan suatu titik kegiatan akhir yang tanpa pengulangan, melainkan senantiasa beruleng sampai dirasakan cukup mencapai ketuntasan dalam eksplorasi ini

3. Tahap Member Check

Member Check ( Egon G.Gube, 1985 : 236 ) merupakan

kegieten

penelitian yang berupaya " to obtain confirmation that the report

has captured the data as construct by the informants, or correct, amend, or extend it, that is, to establish the credibility of the

case." Pada tahap member check ini kegiatan yang dilakukan dalam

penelitian ini antara lain sebagai berikut.

a. Mengadakan laporan hasil penelitian yang diperoleh

pad8

tahap

eksplorasi sesuai dengan jumlah responden yang terdiri atas li

ma dosen ancasila dari tiga Perguruan Tinggi di Kotamadya Ci

rebon. Penyusunan laporan ini mencakup sasaran kesimpulan pers

pektif yang bersifat "etic,"

dan yang didasarkan atas

penafsir-an

dan analisis peneliti yang diperoleh berdasarkan data hasil

wawancara, observasi, serta informasi lain yang mendukungnya.

b. Menyampaikan masing-masing laporan tersebut kepede pere respon

(23)

38

dari informasi date adegan alamiah lepangan penelitian.

Penyam-paian laporan kepada para responden ini dilakukan dengan

pertemuan khusus, melalui suatu forum diskusi berdialog

antara

peneliti dengan masing-masing responden.

Cara

ini ditempuh

dengan maksud agar efektivitas dan efisiensi waktu bisa dicapai.

Di samping

itu untuk menjaga kesalahan tafsir sehingga apabila

ada sesuatu kekurangf sesuaian dengan kenyataan yang sebenarnya dapat diperbaiki dan disempurnakan secara langsung.

c. Para responden setelah menelaah dan mempelajari bersama peneli

ti dari laporan yang diterimanya itu, kemudian memberikan paraf

persetujuannya.

Dalam kenyetaannya,laporan yang telah. diterima

para responden itu tidek benyek mendapat perbaiken

dan

penyem-purnaan. Beberepa kekeliruan dalam susunan kalimet den semantik

kebahasaan, tetap dibiarkan, karena para

responden

menyatakan

tidak berkompeten untuk memperbaikinya.

Ketiga langkah penelitian tersebut di atas

dalam rangka

ke-satuan proses penelitian, adalah merupakan

langkeh-langkah

utama

dalam penelitian ini.

Walaupun sebenarnya dalam penulisan

tesis,

masih ada kegiaten-kegiatan lainnya yeng belum

dimesukken kepada

tiga langkah di atas.

Kegiatan dimaksud, adalah

pertame

berupa

kegiatan pendahuluan, seperti halnya

pemikiran

untuk

menetapkan

fokus awal dan topik penelitian.

Dan kedua,

yaitu kegiatan penu

lisan laporan ini dalam bentuk tesis.

Secara keseluruhan kegiatan dalam rangka

proses

penelitian

ini, berikut

disajikan suatu gambar bagan alur proses kegiatan

pelaksanaan penelitian, sejak proses pemikiran menetapkan hubungan

fokus masalah dengan topik sampai kepada disajikannya

rekomendasi

(24)

PENELITI sebagai

INSTRUMEN

T O P I K

T

PEMIKIRAN FOKUS MASALAH

1L

39 PENELITI sebagai ~ INSTRUMEN ORIENTASI LAPANGAN

•>

RUMUSAN MASALAH DAN

ANALISIS MASALAH

4&—---ORIENTASI KAJIAN TEORETIK EKSPLORASI ADEGAN ADEGAN Wawancara Observasi Studi Dokumen

T

MEMBER CHECK

PELAKSANAAN KEGIATAN PENELITIAN

PENYUSUNAN LAPORAN

3

c

3 dst.

« r LAPORAN PENELITIAN 3 dst.

J.

KAJIAN TEORETIK PENDIDIKAN PANCASILA

±

KESESUAIAN

KONSEP-TUALISASI bagi Ke giatan Diskusi .

"KESIMPULAN TEMUAN DAN IMPLIKASI HASIL PENELITIAN tentang t Kemampuan Dosen Menerepkan Pendekatan

Moral Pancasila dalam Kegiatan Diskusi Kelas

Pendidikan Pancasila

Keterangan

J£-REKOMENDASI HASIL PENELITIAN

->

= hubungan pengaruh langsung

= hubungan pengaruh tidak langsung = hubungan dalam proses pemikiran

(25)

40

D. Instrumen Penelitian

Dalam melaksanakan kegiatan penelitian untuk diperolehnya data tentang " Bagaimana taraf kemampuan dosen-dosen Pancasila menerapkan

pendekatan moral Pancasila dalam kegiatan diskusi

kelas

pendidikan

Pancasile pada beberapa Perguruan Tinggi di Kotamadya Cirebon," de ngan metode penelitian naturalistik kualitatif ini, peneliti sendiri berperan menjadi instrumen penelitian. Dalam kaitan ini L.J.Moleong (1989:129) menyarankan agar peneliti mempersiapkan untuk mengenai

dirinya sendiri, karena " Mengenai diri sendiri pada dasarnya meru pakan bagian penting dari persiapan peneliti agar benar-benar siap di lapangan, terutema karena akan bertindak sebagai instrumen." Me nurut Egon G.Guba ( 1985:39 ), " that ell instruments, interect with

respondents and objects but that only the human instrument is capab le of grasping and evaluating the meaning of that differential in

teraction." Instrumen pembantu digunakan bagi persiapan wawancara

dan pedoman observasi kegiatan diskusi kelas, dan dengan

berkembang'-nya dan munculberkembang'-nya fokus-fokus baru, maka instrumen bantu ini selalu

dilakukan penghalusan setiap saat.

Beberapa upaya yang telah peneliti lakukan

bagi diperolehnya

kredibilitas hasil penelitian, mencakup beberapa kegiatan yaitu :

1. Peneliti telah menggunakan waktu yang cukup bagi penelitian

ini,

yaitu selama lima bulan sejak bulan Agustus sampai dengan

Desem-ber 1990. Oleh sebab itu hasil penelitiannya menunjukkan

" thick

description," dalam bentuk laporan yang banyak dan cukup tebal.

2. Peneliti

telah melakukan wawancara dan observasi yang mendetailr

termasuk sasaran aspek non verbal, seperti halnya pengamatan

mi-mik, pantomimi-mik, kondisi responden dan kondisi lingkungan khusus

(26)

41

3. Peneliti telah melakukan "triengulasi" untuk mencek kebenarannya

melalui perbandingan dengan informasi lain, seperti halnya data

yang diperoleh dari hasil wawancara dicek deng8n informasi pada

kegiatan observasi pelaksanaan diskusi keles.

Dengan 'demikian

menurut keyakinan peneliti dat8 yang diperoleh terjamin

kredibi-litasnya •

4. Peneliti telah melakukan "peer debriefing" terutama dengan cars

membandingkan data hasil penelitian dari beberapa Perguruen Ting

gi yang berlainan. Selain daripada jugs peneliti telah melakukan

diskusi dengan teman-teman sejawat siswa FPS, dan hasilnya digu

nakan untuk mengadakan perubahan, perbaiken, dan memperhalus ke

giatan penelitian yahg dilaksanakan.

5. Peneliti telah melakukan analisis dari semua kasus yang dijumpai

termasuk "kasus negatif"

yang muncul sebagai temuan baru,karena

belum terangkum dalam hipotesis peneliti sebelumnye.

Dan dengen

teranalisisnya kasus-kasus negatif yang muncul itu,telah memberi

keyakinan peneliti bahwa seluruh k8sus yang terkait telah tuntas

teranslisis.

6. Peneliti teleh melakukan "member check." terhadap responden

un

tuk menilai kembali kebenaran data, tafsiran dan kesimpulan yang

telah dibuat. Beberapa hal yang kurang sesuai dan yang

dianggap

nmngganggu teleh didiskusiken dengan para responden, sesuai

de

ngan yang disaranksn Egon G.Guba (1985:189), yaitu "culminating

in e final critical review by a panel of local respondents."

Deskripsi peran dan kegiatan peneliti sebagai instrumen pene

litian ini, menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dan fungsi dari

pada human instrument tersebut,seperti dilukisksn Egon Guba (1985 :

(27)

Carried out

with-ing problem,eva-

/

luahd,or policy / bptior

mined aries,

option deter- ^

mined

bound-'• &/

/

/

Building on

y

— *

/ y NATURAL SETTING Demehds

-J—

HUMAN INSTRUMENT \ 42

All tested for : Credibility

\

/vv Transferability

NJ^j^ Dependability

v** Confirmability

\ \ Using

-4:

\

TACIT KNOWLEDGE QUALITATIVE METHODS

^>

EMERGENT DESIGN 4-Engaging in

4-PURPOSIVE SAMPLING Iterated

- u n t i l —

Redundancy GROUNDED THEORY Involving

_i

NEGOTIATED OUTCOMES

1

Leading to

_J

CASE REPORT

Which is both

L

INDUCTIVE DATA ANALYSIS IDIOGRAPHICALLY INTERPRETED TENTATIVE APPLIED

L

(28)

k3

E. Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan informasi penelitian dilakukan dengan bebe rapa langkah, akan tetapi langkah-langkah ini pun sebenarnya hanya sekedar menunjukkan suatu gambaran untuk menjeleskan semate- sate, sebab pada dasarnya pengolahan datanya pun menganut pola kerje

di-sain sirkuler. Adapun langkah-langkah dimaksud adalah sebagai

beri-kut:

1. Informasi yang diperoleh dari adegan 8lamiah, baik data hasil wawancara, observasi, maupun hasil studi dokumentasi dicarikan

hubungannya satu dengan yang lain. Hal ini dengan maksud agar

data menteh perspektif "emic" difokuskan kepeda sasaran yang ber sifat "etic" dan ditemukan tema" nya melalui reduksi data ter sebut. Data hasil reduksi memberikan gambaran yang lebih tajam

dan mempermudah mencari kembali bila sewaktu-waktu diperlukan.

2. Pembuatan "display data" dilakukan dengan cara menyusun berbagai

jenis matriks. Menurut R.C.Bogdan (1982:154) bahwa "This process

helps you think more deeply about various aspects of

your sett

ing and how it compares with other settings."

3. Pemberian "kode data," yaitu dengan cara memberikan label dengan

huruf atau pun lambang pada matriks, network tersebut.

Pengkode-an ini telah memberikPengkode-an kemudahPengkode-an dalam penyelesaiPengkode-an selPengkode-anjutnya

mengingat

ba hwa kode-kode tersebut dapat diamati secara

cepat

sebagai ciri penggolongan data dimaksud.

4. Penyusunan "draft dalam garis besar," yakni melakukan penyusunan

topik, subtopik, sampai kepada sub-sub topik.

Dalam penyusunan

draft secara garis besar ini juga memperhatikan aspek-aspek yang

(29)

44

F. Gambaran lokasi penelitian

Penelitian ini didahului dengan penentuan lokasi peneli

tian, sesuai dengan fokus masalah, yaitu " Kemampuan Dosen

me-aargpkan pendekatan moral Pancasila dalam kegiatan diskusi pe. da^beberapa Perguruan Tinggi di Kotamadya Cirebon." -Dengan

izin penelitian dari Direktorat Sosial Politik Propinsi Daerah

Tingkat I Jawa Barat tanggal.31 Juli 1990 Nomor 070.1/3232 dan

dari Rektor IKIP Bandung tanggal.27 Juli 1990 No.4421/PT25.Hl/

N/1990, peneliti menghubungi tiga Perguruan Tinggi yang terda pat di Kotamadya Cirebon.

Tiga Perguruan Tinggi dimaksud,yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( FKIP ) Universitas Swadaya Gunung.Djati

Cirebon, Fakultas Tarbiyah IAIN "Sunan Gunung Djati," dan Seko lah Tinggi Ilmu Tarbiyah Cirebon. Dua fakultas dan sebuah Seko

lah Tinggi ini menjadi pilihan

sebagai lokasi bagi penelitian

ini, karena lembaga-lembaga pendidikan tersebut terdapat

keae-suaian ,yakni menyelenggarakan program

pendidikan

eajaais ,

jenis profesi keguruan. Berikut ini disajikan gambaran tentang

keberadaan Perguruan Tinggi lokasi penelitian, dan tugas pokok

dosen-dosen Pancasila.

1. Keberadaan Perguruan Tinggi lokasi penelitian.

Berdgsarkan studi pendahuluan pada tiga Perguruan Tinggi

yang ada di Kotamadya Cirebon diperoleh informasi mengenai sta

tus, data jumlah mahasiswa maupun jumlah para pengajar,

serta

termasuk di dalamnya dosen-dosen Pancasila.

FKIP Universitas

Swadaya Gunung Djati, adalah Perguruan Tinggi Swasta

berste-tus Terdaf^ar, dengan Kepuberste-tusan Menteri Pendidikan dan

(30)

- k5

Fakult8s Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unswagati bila ditinjau dari segi kuantitas jurusan/program studi dan mahasiswanya menempati ke

dudukan sebagai fakultas terbesar di lingkungan Universitas terse but. Terdapat lima jurusan/program studi, yakni Administrasi Pendi

dikan, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan

Pendidikan Dunia Usaha. Sedangkan lokasi Perguruan Tinggi tersebut berada di Jalan Dr.Cipto Mangunkusumo No.l Kotamadya Cirebon.

Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati Cirebon,8dalah Per

guruan Tinggi Negeri di lingkungan Departemen Agama, berlokasi di Jalan Perjuangan Kotamadya Cirebon. Fakultas tersebut didirikan pa

da tanggal. 1 April 1965. Pads saat berdirinya menjadi cabang dari

IAIN "Syarif Hidayatullah " Jakarta. Akan tetapi dengan

didirikan-nya IAIN Sunan Gunung Djati di Bandung dengan ' Keputusan Menteri

Agama Nomor 57 Tahun 1968 tanggal. 8 April 1968, maka dimasukkan

menjadi cabang dari IAIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berkeduduk

an di Cirebon. Fakultas ini terdiri atas tiga jurusan, yakni jurus an Ilmu Pendidikan Agama, Bahasa Arab, dan Tadris.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, adalah Perguruan Tinggi Agama

Swasta berstatus "Terdaftar," dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 113 Tahun 1988 tanggal 27-5-1988. Perguruan Tinggi tersebut semula

bernama Perguruan Tinggi Islam didirikan pada tahun akademik 1984/ 1985, akan tetapi kemudian berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 1985 dise

suaikan namanya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Sekolah Ting

gi ini mempunyai dua jurusan, yakni jurusan Ilmu Pendidikan Agama

dan Jurusan Bahasa Arab serta berlokasi di Jalan Tuparev Kotamadya

Cirebon.

Hasil studi pendahuluan menjelang penelitian diperoleh data

(31)

seperti yang disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel. 1

KEADAAN MAHASISWA,DAN DOSEN PERGURUAN JTINGGI LOKASI ^PENELITIAN DALAM TAHUN AKADEMIK 1990/1991

46

No. Nama Perguruan Tinggi Mahasiswa. Dosen

_, r .

Dosen

Pancasila

1.

2. 3.

FKIP UNSWAGATI

FAK.TARBIYAH IAIN

ST IT

1.050

1.880

460

33 72

17

2

2

1

J u m l a h 3.390 122 5

Kelima dosen Pancasila di etas dijadikan informan dalam pene

litian ini, dua dosen FKIP UNSWAGATI berinisial AF dan MS, dua do

sen IAIN berinisial #B dan RA, serta seorang dosen STIT berinisial

ES.

Sedangkan sebutan nama Lembaga Perguruan Tinggi pada peneliti

ah ini menggunakan istilah "Nusa," untuk FKIP UNSWAGATI,

istilah

"Bangsa," untuk IAIN, dan istilah "Bahasa," untuk STIT.

2. Tugas pokok dosen-dosen Pancasila

Tugas pokok dosen-dosen Pancasila didasarkan atas SK.

MENPAN

Nomor 59/MENPAN/1987 ( Dep.Dikbud ) dan SK.MENPAN Nomor 19/MENPAN/

1989 ( Dep.Agama ), sesuai dengan tugas-tugas tenaga pengajar Per

guruan Tinggi lainnya. Secara garis besar tugas pokok para dosen

tersebut terbagi atas empat kategori, yakni Pendidikan dan Penga

jaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat, dan penunjang

Tri-dharma Perguruan Tinggi. Rincian tugas ppkok dosen-dosen tersebut

(32)

k7

a. Tugas pokok Bidang Pendidikan dan pengajaran, meliputi kegiatan

1) Memperoleh ijazah Perguruan Tinggi sampai dengan setratum

tertinggi

2) Memberi kuliah/tutorial dan menguji.

3) Menyelenggarakan kegiatan pendidikan di laboratorium,

prak-tek keguruan dan prakprak-tek lapangan.

4) Membimbing seminar mahasiswa.

5) Membimbing Kuliah Kerja Nyata.

6) Membimbing pembuatan Skripsi dan laporan.

7) Bertugas sebagai panitia ujian akhir.

8) Membina kegiatan kemahasiswaan.

9) Membuat/menulis diktat, modul, naskah tutorial. .

b. Tugas pokok Bidang penelitian, antara lain meliputi kegiatan: 1) Menulis karya tulis ilmiah atau membuat/menciptakan karya

seni/disain.

2) Menyajikan karya tulis dalam pertemuan ilmiah atau karya

seni/desain dalam pentas seni/pameran.

3) Menghasilkan penelitian/karya ilmiah yang bermut. yang

tidak dipublikasikan

c. Tugas pokok Pengabdian pada masyarakat, meliputi kegiatan : 1) Memberi latihan/penyuluhan/pentaran pada masyarakat.

2) Memberi pelayanan pada masyarakat atau kegiatan lain yang menunjang tugas umum pemerintahan dan pembangunan.

3) Membuat/menulis karya pengabdian pada masyarakat,termasuk

menulis buku pelajaran SLTA ke bawah.

d. Tugas pokok Penunjang Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi antara lain kegiatan :

(33)

48

2) Menjadi anggota organisasi profesi.

3) Mewakili Perguruan Tinggi duduk dalam Panitia antarlembaga •

4) Menjadi anggota delegasi nasional pertemuan internasional.

5) Berperan serta aktif dalam pertemuan ilmiah.

6) Memperoleh tambahan gelar skademik/keahlian yang setingkat.

7) Mengikuti suatu penataran/latihan ketrampilan.

8) Melaksanakan kegiatan detasering dan

^pencangkokan

tenaga

pengajar.

9) Mendapat tanda jasa/penghargaan.

10) Menjadi 8nggota tim penilai jabatan tenaga pengajar.

Beban tugas para pengajar tetap di beberapa Perguruan Tinggi pada kasus-kasus Nusa, Bangsa, dan Bahasa dinyatakan dengan EWMP

tfckuivalensi Waktu Mengajar Penuh) setara 38 jam

kerja

perminggu,

yaitu sebanyak 12 sks dengan ketentuan bahwa satu sks setara dengan

tiga jam kerja.perminggu selama satu semester.

EWMP

tersebut

disebar ke dalam tugas-tugas institusional sebagai berikut :

a. Kegiatan pendidikan dan pengajaran antara

_ : 2.- 8

sks.

b. Kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu, antara : 2 - 6

sks.

c. Kegiatan pengabdian pada masyarakat, antara

: 1 - 6

sks.

d. Kegiatan pembinaan civitas akademika, antara

: 1.-4

sks.

e. Kegiatan administrasi manajemen, antara : 0 - 3 :sks.

Setiap bidang tugas pokok ini dijabarkan lagi ke dalam

aspek-aspek

tugas yang lebih rinci, sesuai dengan sasaran

empat

bidang pokok

tersebut di a t a s .

Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa tugas pokok dosen-do sen Pancasila pada Kasus-kasus Nusa,Bangsa, dan Bahasa dalam tahun

kuliah 1990/1991 melaksanakan tugas melebihi ketentuan EWMP di atas

(34)

*9

mengajar pada mata-mata kuliah lainnya di luar Pancasila. . Sedangkan

latar belakang pendidikan kesarjanaan dosen-dosen Pancasila

bervari-asi meliputi IKIP, IAIN, dan Hukum. Gambaran pada

tabel; 2

berikut

menunjukkan latar belakang pendidikan, beban

tugas

para

pengajar

pendidikan Pancasila pads tiga kasus penelitian ini.

Tabel. 2

LATAR BELAKANG KESARJANAAN DAN BEBAN TUGAS DOSEN PANCASILA PADA

KASUS-KASUS NUSA,BANGSA, DAN BAHASA DALAM TAHUN X 1990/1991

No. Do

s e n

Pendidikan

Besarnya

sks yang menjadi beban tu

gas

Ke sar .J* na a n Ta hmn . Ke ,lu lus a n Memberi kuliah: Peng emba ngan il m u Peng abdi a n mas ara kat Pembi naan civi tas akade mika Kegi atan Admi nis tra si Jum lah Pan-casi la Non Pan easi la

1. AF S.l IKIP

1983 8 6 2 4 4 2 26

2. MS S.l IKIP

1984 8 6 2 4 4 2 26

3. ZB S.l IAIN

1983 8 6 1 6 4 3 28

4. RA S.l IAIN

1984 8 6 1 6 6 3 28

5. ES S.l Hukum

1982 6 6 2 6 5 3 28

Dengan melihat tahun kelulusan sarjana para dosen Pancasila, ma

ka menunjukkan relatif belum pengalaman dalam mengajar,Sedangkan beban

tugas yang mereka laksanakan bila dikaitkan dengan EWMP nya relatif

be-sar, yaitu -ff- x 38 jam kerja = 82 jam kerja dalam seminggu atau

(35)
(36)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

Pada Bab V ini tersejikan mengenai hasil penelitian dam

pem-behesennya yang bahannye diembil dari hasil analisis date dela Bab IV, khususnya mengenai hasil penefsiren data penelitian. Keseluruh an laporan penelitian dan pembahasannya ini terdiri atas bagian

bagian sebagai berikut :

1. Kesimpulan hasil penelitian

2. Pembahasan hasil penelitian

3. Implikasi hasil penelitian 4. Rekomendasi.

A. Kesimpulan hasil penelitian

Berdasarkan tafsiran yang menunjukkan kesimpulan-kesimpulan sementara yang tersajikan pada Bab IV, pada bagian ini diketengah-kan beberapa butir kesimpulan yang pada dasarnya merupadiketengah-kan jewaban atas pertanyaan penelitian yang dirumuskan dalam analisis masalah yakni di Bab I. Dan kesimpulan-kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut i n i .

1. Deskripsi mengenai

upeye

dosen-dosen Pancasila pada ka

sus penelitian Nusa, Bangsa, dan Bahasa dalam membina pribadi para mahasiswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam mempro-gramkannya ke dalam rencana kegiatan diskusi kelas pendidikan Pan casila terlukiskan pada tiga unsur proses kegiatan,yakni ke dalam kegiatan mempersiapkan bahan-bahan bagi penyusunan rencana diskusi pada proses penysusunan rencana dan penuangan komponen-komponen pembinaan pribadi sebagai warga negara yang bertanggung jawab pada rencana kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila tersebut.

Kegiatan yang dilaksanakan dosen Pancasila dalam merenoanakan

pembinaan pribadi mahasiswa sebagei warga negare yang

bertanggung

(37)

90

jawab meliputi (1) menelaah secara mendalam tiga puluh enam butir

nilai Pancasila,(2) menelaah konsep-konsep pendidikan nilai,

(3)

mengkaji teknik-teknik untuk musyawarah mufakat bagi diskusi, (4)

mengkaji teknik-teknik penyusunan makalah diskusi,(5) menjabarkan

butir-butir nilai Pancesile yang berkaitan dengen pembinaan priba

di sebagei werga negara yang bertanggung jawab, (6) menyusun

mo

del teknik pembinaan pribadi para mahasiswa, (7) menyusun pedoman

penyelenggaraan kegiatan diskusi kelas Pancesile,(8)

mengelompok-ken peserte menjedi penyeji makalah,penanggap, den pengamat,

(9)

menyusun teme-teme pokok diskusi, den (10) menyusun jadwal

kegiet-diskusi.

Adepun komponen-komponen pembineen pribadi mahasiswa seba

gai warga negara yang bertanggung jaweb yang dituengken ke

dalam

rencana kegiatan diskusi kelas pendidikan Pencesile, yeitu (1) pe

rileku

manusia berakhleq,(2) sikap tenggang rasa, (3) sikep

kese-tiekewanen, (4) sikap kepedulian, (5) sikep disiplin, (6) kemampu

an berfikir kritis,(7) kebebasen berbicara yang bertanggung jawab

(8) sikap musyawarah mufakat,(9) sikap memilih,menghargai,dan

fcer-buat yang bertanggung jawab,(10) sikap mandiri,

(11)

menghargai

hasil karya orang lain, dan (12) sikap kemauan untuk bekerja

ke

r a s .

2. Deskripsi

mengenai

upaya

dosen-dosen Pancasila

pada

kasus Nusa,Bangsa, dan Bahasa dalam membina pribadi para mahasis

wa sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan

kegiatan diskusi kelas pendidikan Pancasila tergambar dalam kegi

atan membimbing bagi persiapan pelaksanaan diskusi,membimbing

pe-laksnaan, dan dalam mengembangkannya pada kegiatan diskusi kelas

(38)

91

Delem membimbing persiepan bagi pelaksanaan kegiatan diskusi

kelas pendidikan Pancasila, kegiatan yang dilakukan dosen yaitu (1)

memberikan bimbingan pengarahan bagi ketertiban, kedisiplinan,kerja

sama,kerja keras,dan kebebasan berbicara yang bertanggung jawab,(2)

memberikan petunjuk tentang teknik menganalisia

nilai-nilai Panca

sila yang berkembang di masyarakat,(3) memberi

aimbingan

motivasi

agar berpartisipasi aktif dalam berdiskusi,dan (4) membimbing

pare

calon moderator dan notulis diskusi.

Dalam membimbing pelaksanaan kegiatan

diskusi

kegiatan yang

dilaksanakan dosen-dosen Pancasila, yaitu (1) mengobaeryasi

penata-an ketertibpenata-an dpenata-an rupenata-ang penyelenggarapenata-an diskusi,(2) mengingatkpenata-an pe

serte melalui moderator terhadap pembicaraan yang menyinggung

pera-saan pribadi peserte lein,dan yang melampaui batas waktu yang

dikon-sensuskan,serta (3) mengingatken pembicara melalui

moderator

agar

para pembicare dapat menggunekan argumentasi yang logis den faktuel

serta mengereh kepada model debet.

Adepun komponen-komponen pembineen pribedi mahasiswa

sebagai

werge negere yeng bertenggung jawab dan yeng dikembengken delam pem

binaan pelaksenaan kegiaten diskusi keles Pancasila tersebut, meli

puti (1) pemereteen kesempatan untuk berbicara,(2) mencariken titik

temu deripade perbedaan pendapat,(3) tidak menyinggung perasaan pri

badi peserte lain,(4) memberiken kritik dengen elasen logis dan

fek-tuel,(5) kepedulien, (6) tanggapen den pertenyyen yeng konstruktif,

(7) kedisiplinen memanfeetken waktu diskusi sesuai dengan konsensus,

den (8) senentiese berupaya untuk meningkatken hasil

diskusi seba

gei pengalemen berharga begi pribadi pere mahasiswa.

3. Deskripsi

ftengenai

upaya dosen-dosen Pancasila pada ka

(39)

92

warga negara yang bertanggung jawab dalam penilaian kegiatan diskusi

kelas pendidikan Pancasila terlukiskan pada kegiatan mempesiapkan ke giatan penilaian,memberikan penilaian, dan mengembangkannya.

Dalam memersiapkan penilaian terhadap pembinaan pribadi para mahasiswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab, dosen Pancasi-menyiapkan kriteria bagi makalah diskusi,makalah tanggapan, dan bagi tanggapan/pertanyaan peserta lainnya. Dan kriterianya berkaitan deng-(1) Sistematika,(2)logika dan teori pendukung,(3) kejelasan sajian, (4) logika argumentasi, dan (5) kontribusi bagi upaya peningkatan pe

rilaku peserta sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Mengenai upaya memberikan penilaian terhadap pembinaan pri badi sebagei warga negare yang bertanggung jawab, kegiatan yang dila kukan dosen-dosen Pancesile adalah menilai sasaran (1) tata ruang ke

giatan diskusi,(2) acere kegiatan diskusi, (3) ketertiban,(4) kedisi

plinan,(5) kesungguhan partisipasi aktif, (6) teknik bertanya/tangga

pan, (7) dapat membedekan pendapat pribadi dengan fakte,dan (8) . kon

tribusi be;gi peningketen perilaku pribadi para peserta diskusi.

Adapun mengenai komponen-komponen pembinaan pribadi sebagai war

ga negara yeng bertenggung jeweb yang dikembengken

dalam

penilaian

kegiatan diskusi kelas pendidikan Pencesila, yaitm

penilaien menge

nai (1) kedisiplinan penyelenggaraan,kediadlinen peserta, kedisiplin

an wektu berbicera,(2) pemerataan kesempaten berbicara dan mengemuka

kan

yang bertanggung jaweb,(3) sikep kepodulien, (4) sikap

toleren-si,rese kesetiekewenen,dan-tenggang rasa, dan (5)

sikgp

ketekunan,

kemendirien, serta kemempuen pengembilen putusan dengen

musyawarah.

B. Pembahasan.Basil Penelitien

Dari kesimpulan dan penganalisisan data didapati hal-hal yang

mengundang pembahasan lebih lanjut. Pembahasan ini dikaitkan dengan

(40)

93

beberapa subkategori bahasan sebagai berikut ini.

1. Dalam lingkup " taraf upaya . dosen-dosen Pancasila memper

siapkan rencana kegiatan diskusi kelas," didapati beberapa jenis un sur taraf kemampuan dosen Pancasila yang mengundang pembahasan,mengi ngat dirasakan pentingnya bagi pengembangan dan peningkatan unsur-un sur kemampuan tersebut dalam kegiatan diskusi kelas Pancasila. Di ba-wah ini dibahas unsur-unsur yang mungkin menjadi penyebab terhadap rendahnya kualitas kemampuan dosen-dosen Pancasila dalam -mempersiap

kan rencana kegiatan diskusi kelas itu.

a. Mengintegrasikan peserta pria dan wanita dalam kelompok dis kusi. Dalam suatu rencana kegiatan diskusi kelas dan lebih-lebih ba gi rencana kegiatan diskusi kelas Pancasila perlu sekali mengintegra sikan peserta pria dengan peserta. Suatu kelompok diskusi yang hanya terdiri atas pria ataupun wanita saja, kurang mencerminkan adanya ke satuan dalam "ke-bhineka tunggal ika-an." Kerja sama antaranggota kelompok, maupun dalam pengambilan putusan kelompok akan merupakan salah satu upaya bagi tercapainya emansipasi, dalam arti merealisasi-kan persamaan hak dan kewajiban antara kaum pria dan kaum wanita .da lam pelbagai aspek kehidupan.

b. Mengintegrasikan peserta yang bertaraf kemampuan

(41)

94

"ability group," sehingga akhirnya memungkinkan tercapainya suftu "group therapy."

c. Mengintegrasikan peserta yang bertaraf hubungan -sosial sem

p i t , sedang, dan luas ke dalam kelompok diskusi. Di dalam suatu ke las kemungkinan didapati pelbagai ragam taraf keatampuan hubungan so sial mereka, sejak mulai mahasiswa yang "isolate," gejala **chain,"

"triangle," sampai kepada yang bertaraf tinggi popularitasnya.Meng

integrasikan para peserta dalam pelbagai karakteristik memungkinkan terjadi peningkatan kemampuan hubungan sosial bagi para mahasiswa yang isolate maupun yang chain. Teknik pengumpulan data dapat dila

kukan dengan sosiometri, sehingga diperoleh Sosiogram Jang sangat

bermanfaat bagi penyusunan kelompok-kelompok peserta

"diskusi

yang

mantap.

d. Mengkaji teknik mengajukan dan menjawab pertanyaan bagi ke-giatan diskusi. Dalam kegiatan diskusi kelas terjadi suatu hubungan interaksi komunikasi yang bertujuan untuk memecahkan masalah dan an tara lain terjadi tanya jawab. Bentuk-bentuk ^pertanyaan .yang ber-kembang dalam kegiatan diskusi dapat bermacam-macam sifatnya,. seper

t i pertanyaan yang sifatnya agresif dan realsioner, pertanyaan yang berbelit-belit, banyak komentar dan sebagainya. Pertanyaan yang ba ik dalam kegiatan diskusi, adalah pertanyaan singkat, logis, dan mu dah ditangkap maksudnya, termasuk pula bagi upaya menjawab pertanya-an-pertanyaan tersebut. Mengkaji teknik bertanya dan memberikan bim bingan untuk cara-cara mengajukan pertanyaan dan cara-cara menjawab

nya penting dilakukan oleh para dosen yang membimbing diskusi.

(42)

95

kelas peranan motivasi cukup penting, mengingat bahwa efektivitas

kegiatan diskusi kelas sangat bergantung kepada aktivitas para maha siswa. Motivasi dapat dilakukan dengan cara intrinsik ataupun eks trinsik. Menunjuk akan pentingnya motivasi dalam belajar itu, aliran psikologi gestalt, mengungkapkan " No goal no stress, no stress no ectivity, no activity no learning."

f. Mengkaji teknik memberikan tanggapan balik. Upaya memberi kan tanggapan balik tidak terlalu mudah, karena memerlukan kemampuan kognitif yang tinggi. Untuk memberikan tanggapan ' balik memerlukan

"insight" hasil belajar, yaitu kemampuan yang didasarkan atas meli-hat hubungan-hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi, sehingga hubungan itu menjadi jelas sebagai bahan untuk dapat mem berikan tanggapan balik tersebut. Para mahasiswa memerlukan bimbing an khusus yang mendalam bagi kemantapan melakukan tanggapan balik

t e r s e b u t .

2. Dalam ruang lingkup subkategori kemampuan untuk mempro ses penyusunan rencana kegiatan diskusi kelas,terdapat beberape un sur kemampuan dosen yang mengundang kajian dan pembahasan lebih lan jut. Tujuan pembahasan subaspek kategori ini dimaksudkan untuk mem berikan arah terhadap upaya peningkatan dan pengembangan kemampuan dosen Pancasila dalam mengatasi kelemahan kualitas yang dimilikinya. Di bawah ini dibahas unsur-unsur yang diduga menjadi sebab rendahnya kualitas kemampuan dosen-dosen Pancasila dalam memproses penyusunan

rencana kegiatan diskusi kelas.

a. Merumuskan tujuan operasional kegiatan diskusi kelas. Tuju

an instruksional, adalah suatu pernyataan mengenai apa yang

(43)

96

kelas Pancasila. Tujuan ini pada dasarnya terbagi atas tujuan umum (terminal performance objective) dan tujuan operasional atau tujuan khusus (enabling objectives). Kegiatan diskusi yang hanya terdapat rumusan tujuan umum saja akan menghadapi kesulitan dalam menentukan tolok ukur keberhasilannya, dan oleh sebab itu upaya merumuskan tu juan operasional cukup penting dalam merenoanakan kegiatan diskusi yakni tolok ukur yang menunjukkan ( produk ) perilaku peserta disku*

s i .

b. Menyusun pedoman bagi petunjuk pembuatan makalah diskusi. Kedudukan makalah dalam kegiatan diskusi kelas merupakan fokus sasa ran materi bahasan, semua persoalan bertitik tumpu atas dasar maka lah yang disajikan. Penyusunan makalah memerlukan pola berpikir yang tidak.sederhana, melainkan memerlukan ketajaman berpikir yang didu-kung dengan penguasaan materi bahasan. Makalah diskusi pada garis be-sarnya ada yang menggunakan pola berpikir rasional dengan logika de-duktif, dan ada pula yang menggunakan pola berpikir empiris dengan logika induktif. Kelemahan para mahasiswa pada tahun-tahun pertama pada umumnya terletak kekurangmampuan mengelola tata pikir bagi ^pe-rumusan masalah yang bergaris merah ke arah tujuan,analisis dan.pem bahasan masalah sampai kepada kesimpulan yang hendak dicapai. Oleh sebab itu kemampuan dosen Pancasila untuk mnyusun pedoman bagi petun

juk pembuatan makalah merupakan suatu hal yang penting bagi

keberha-silan kegiatan diskusi Pancasila.

3. Taraf kemampuan dosen-dosen Pancasila dalam menerapkan pen dekatan nilai-nilai moral Pancasila merupakan suatu prinsip penting

dalam penyelenggaraan kegiatan diskusi kelas Pancasila,

mengingat

(44)

97

moral peserta didik. Kesimpulan hasil .penelitian mengungkapkan ada-nya beberapa unsur taraf kemampuan dosen yang mengundang bagi pem bahasan lebih lanjut. Di bawah ini dibahas unsur-unsur yang mung kin menjadi penyebab terhadap rendahnya kualitas kemampuan dosen dosen Pancasila dalam menerapkan pendekatan nilai-nilai moral Pan casila ke dalam kegiatan diskusi kelas Pancasila tersebut.

a. Menerapkan pendekatan nilai moral sikap tenggang rasa. Pe nerapan dan pengembangan sikap tenggang rasa mempunyai kaitan erat

dengan penanaman sikap simpati dan sikap empati. Sikap simpati, me rupakan suatu kecenderungan seseorang untuk merasakan bahwa dirinya sama dengan orang lain, baik dalam situasi dan kondisi yang menye-nangkan maupun dalam situasi dan kondisi penderitaan. Sedangkan si kap empati, adalah "projecting one's own feeling into an event a natural object." Upaya menanamkan dan mengembangkan kedua sikap ini akan memberikan dampak pengaruh positif bagi tercapainya pemiliken nilai moral sikap tenggang rasa para peserta diskusi Pancasila.

b. Menerapkan pendekatan sikap untuk tidak memaksakan . kehen dak kepada orang lain. Sikap untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, merupakan salah satu unsur pokok gagasan demokrasi,ter masuk pula dalam gagasan demokrasi Pancasila. Menurut Richard Hersh ( 1980 : 33 ), bahwa " the basic moral value that undergirds and

sustains a democracy is the principle of individual dignity." Sedang kan dalam gagasan demokrasi Pancasila setiap kehendak individu dalam

(45)

98

d. Membina sikap kemandirian. Sikap mandiri, merupakan sikap mental yang dimiliki seseorang sebagai individu tanpa menggantungkan pada pertolongan orang lain. Sikap mandiri tidak berarti 'tidak mau bekerja sama dengan orang lain, melainkan sikap yang mempunyai keya kinan atas kemampuan dirinya dalam pelbagai aspek kehidupan. Sikap mandiri merupakan salah satu sasaran tujuan pendidikan,karena pendi dikan adalah untuk hidup dan melalui hidup " 1'education pour la vie par lavie." ( Ovide Decroly ). Citra kemandirian yang ditanamkan me lalui kegiatan diskusi akan melahirkan perilaku inovatif yang sangat diharapkan bagi manusia-manusia pembangunan.

4. Dalam ruang lingkup subkategori taraf kemampuan dosen Panca sila membina persiapan pelaksanaan kegiatan diskusi kelas didapati beberapa aspek kemampuan dosen yang menunjukkan kurang mantap. Di ba-wah ini dibahas unsur-unsur kemampuan yang diduga menjadi sebab ren dahnya kualitas kemampuan dosen Pancasila dalam membina persiapan ba gi pelaksanaan kegiatan diskusi kelas.

a. Membimbing penyusunan makalah kelompok penyaji. Setiap ke lompok penyaji makalah mendapat tugas untuk menyusun . makalah yang hendak didiskusikan. Masing-masing kelompok ini menyusun makalahnye dengan tema dan judul berbeda satu dengan lainnya. Bimbingan penyu sunan makalah yang dilakukan secara klasikal untuk semua kelompok, akan menjadi kurang efektif bagi keberhasilan kegiatan diskusi kelas Pancasila. Kegiatan bimbingan untuk masing-masing kelompok kemungkin-an akkemungkin-an menyita waktu dosen di luar kegiatkemungkin-an kelas, akkemungkin-an tetapi ha-silnya kemungkinan besar dapat menjamin tercapainya tujuan belajar.

(46)

99

sekaligus. Para mahasiswa memerlukan latihan kegiatan yang bersifat praktek bagi keberhasilan pelaksanaannya, dan upaya mengadakan try out di bawah supervisor dosen akan memungkinkan kemantapah dalam pe nyelenggaraan yang sebenarnya. Dengan try out dapat diketahui berba gai kelemahan dan kekurangan aspek-aspek teknis penyelenggaraan,ter masuk pula peran-peran yang mungkin dilakukan dalam pelaksanaan ke giatan diskusi kelas.

c. Membimbing teknik pembahasan masalah diskusi. Dalam pemba hasan masalah terjadi pelbagai kegiatan antara lain tanggapan masa lah, pertanyaan,jawaban pertanyaan, tanggapan balik,sampai pada pe netapan putusan. Dan bimbingan dosen yang diberikan bagi persiapen pembahasan masalah ini terutama teknik menanggapi permasalahan,tek nik bertanya, dan teknik pengambilan putusan.Baik mengnggapi maupun bertanya sudah sewajarnya menggunakan argumentasi rasional, logis,

dan bersifat faktual. Pertanyaan seyogyanya tidak ditujukan secara langsung pada seseorang, melainkan pertanyaan yang memungkinkan ja wabannya difikirkan seluruh peserta. Demikian pula cara memberikan

jawaban pertanyaan maupun memberikan tanggapan balik,seyogyanya ter-arahkan pada sasaran problemanya dan bukan pada orang yang

menyaji-ka nnya.

5. Dalam membina pelaksanaan kegiatan diskusi kelas didepeti kelemahan-kelemahan tertentu yang memungkinkan menunjukkan gejela rendahnya kualitas kemampuan dosen. Berikut dibahas hal-hal yang diduga sebagai penyebab kurang maju taraf kemampuan dosen Pancasila

dalam membina pelaksanaan kegiatan diskusi kelas Pancasila.

a. Menangani masalah sulit dalam pelaksanaan kegiatan diskusi.

(47)

100

di mana kegiatan diskusi kadang-kadang menjadi tidak lancar, yeng disebabkan keterbatasan kemampuan para peserta, baik yang berka

itan dengan aspek penyelenggaraan. asaupun karena materi

permeselah-annya. Pada kondisi yang demikian turut campurnya dosen menangani

persoalan yang terjadi tidak berarti akan mengurangi taraf keman

dirian para mahasiswa. Dosen yang memiliki penguesaan" kemampuan

yang memadai akan dapat menemukan jalan ke luarnya. Bimbingan do

sen yang demikianberfungsi untuk meluruskan sebagai "guidance po int of view," yang dapat dilakukan dalam proses pembahasan maupun

pada akhir kegiatan menjelang kegiatan diskusi ditutup.

6. Menerapkan pendekatan nilai-nilai moral Pancasila ' dalam

pelaksanaan kegiatan diskusi kelas, bukan hanya yang menyangkut pe rilaku akan tetapi kemampuan mengupayakan untuk mencoba

meng-hubungkan permasalahan diskusi dengan nilai-nilai yang

berkembeng

dalam masyarakat. Berikut ini dibahas hal-hal yang berkaitan dengan

upaya meningkatkan taraf kemampuan dosen Pancasila berkenaan

deng

an penerapan moral tersebut.

a. Membina sikap kepemimpinan para peserta diskusi,

Keduduk

an mahasiswa dalam kehidupan masyarakat bukan semata-mata

sebagai

calon manusia intelek, melainkan juga dipersiapkan

untuk

menjadi

manusia pembangunan, termasuk pembangunan mental warga

masyarakat

dengan . mangajak ke arah

jalan yang benar dan melarang perbuatgn

yang salah yang dalam bahasa agama disebut amar ma'ruf nahyi munkar.

Dan sudah tentu dirinya sendiri harus menunjukkan keteladanan : dan

dengan cara yang sebaik-baiknya. Mc Phail ( 1980: 54)

menyarankan

11 cara sejak mulai yang paling sederhana, yakni "do nothing," sam

pai kepada yang paling halus, yakni " mature imaginative," yang ber

(48)

101

b. Membina kepedulian terhadap nilai-nilai yang berkembang di-masyarakat. Manusi8 adalah agent moral masyarakat dan oleh sebab itu

upaya membina para mahasiswa melalui kegiatan diskusinya dengan cara mencoba menganalisis nilai-nilai yang berkembang di masyarakat,meru pakan salah satu cara bagi peningkatan kemampuan psra mahasiswa dan sekaligus dapat meningkatkan kepribadiannya. Menurut MA May,bahwa ke pribadian sebagai " one's social stimulus value,"sedangkan JB.Watson

menganggapnya sebagai " the result of what we start and what we have

live through. It is the reaction mass as a whole."

7. Dalam ruang lingkup

kemampuan

upaya

dosen

Pancasila da

lam memberikan penilaian terhadap kegiatan diskusi mengundang bebera

pa segi yang memerlukan pembahasan, karena justeru masalah penilaian

adalah merupakan kewenangan dosen sebagai pembina mata kuliah terse

but. Di bawah ini dibahas unsur-unsur yang mungkin menjadi penyebab

rendahnya taraf kualitas dosen dalam memberikan penilaian

terhadap

kegiatan

diskusi kelas pendidikan Pancasila tersebut.

a. Mengembangkan kriteria penilaian makalah diskusi. Seperti

halnya juga telah disinggung da

Referensi

Dokumen terkait

Kiranya kami sebagai gereja-Mu tunduk, dalam sikap hormat dan patuh untuk menyerahkan dan mengelola persembahan yang adalah harta milik-Mu ini, ya Tuhan. Tuntunlah agar

Mahasiswa mampu menguasai konsep dan urgensi pendidikan pancasila, pancasila dalam kajian sejarah bangsa, pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara, sistem falsafat,

M1 Mahasiswa dapat memahami, menganalisis, menjabarkan sejarah singkat lahirnya Pancasila, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara, dan impementasi Pancasila dalam

Program magister keperawatan, merupakan program pendidikan akademik pasca sarjana yang bertujuan menghasilkan magister yang memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Mengembangkan

Evaluasi teknis dilakukan terhadap peserta yang memenuhi syarat evaluasi administrasi. Unsur-unsur yang dievaluasi sesuai dengan yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan :

 Hingga akhir tahun lalu, total lahan yang telah dikembangkan untuk proyek CitraGarden Sidoarjo mencapai 3 ha atau setara Rp33,9 miliar.. (GGRM) membeli tanah seluas

Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ Pengaruh Konsentrasi Perasan Daun Kecubung (Datura metel) Terhadap Kematian Larva Aedes aegypti ” yang saya

The aims of this research are to find out the data from the students such as the students’ response on the application of Grammar Translation Method when used