commit to user
INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE
DI NEGARA
INDONESIA, BELANDA, AUSTRALIA DAN INGGRIS
(Studi pada Perusahaan-Perusahaan Manufaktur di tahun 2010)
SKRIPSI
Disusun Guna Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta
Disusun oleh: Bayu Aji Setyoko
F0310013
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user
ii
ABSTRAK
INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE DI NEGARA INDONESIA, BELANDA, AUSTRALIA DAN INGGRIS
BAYU AJI SETYOKO
NIM. F0310013
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh Corporate Governance terhadap tingkat pengungkapan modal intelektual (Intellectual Capital Disclosure). Variabel independen yang digunakan adalah corporate governance (yang diproksikan menjadi board composition, role duality, management ownership) dan country. Profitability, size leverage dan auditor menjadi variabel kontrol dalam penelitian ini.
Pengukuran variabel dependen yakni Intellectual Capital Disclosure
menggunakan indeks intellectual capital disclosure dengan total 61 item
pengungkapan yang terbagi menjadi 3 sub, yaitu Human Capital, Structural
Capital dan Relational Capital. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 217 annual report perusahaan manufaktur yang berasal dari empat negara yakni Indonesia, Belanda, Australia dan Inggris di tahun 2012. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa board composition berpengaruh negatif terhadap
tingkat Intellectual Capital Disclosure, sedangkan role duality, management
ownership dan country tidak berpengaruh terhadap tingkat Intellectual Capital Disclosure
Kata Kunci : Corporate Governance, Intellectual Capital Disclosure, Agency
commit to user
iii
ABSTRACT
INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE DI NEGARA INDONESIA, BELANDA, AUSTRALIA DAN INGGRIS
BAYU AJI SETYOKO
NIM. F0310013
The purpose of this study was to determine how the influence of corporate governance on the level of disclosure of intellectual capital disclosure. Independent variables used is corporate governance (that proxy into board composition, role duality, management ownership) and country. Profitability, leverage size and auditors become a variable control in this study.
Measurement of the dependent variable Intellectual Capital Disclosure using intellectual capital disclosure index with a total of 61 items of disclosure which is divided into 3 sub, namely Human Capital, Structural Capital and Relational Capital. The sample used in this study are 217 manufacturing company annual reports from four countries, namely Indonesia, the Netherlands, Australia and the UK in 2012. The results of the study showed that the board composition negatively affect on level of Intellectual Capital Disclosure, while the role duality, management ownership and the country did not affect on level of Intellectual Capital Disclosure
Keywords : Corporate Governance, Intellectual Capital Disclosure, Agency
commit to user
commit to user
commit to user
commit to user
vii
MOTTO
nyatakanlah dalam segala hal keinganmu kepada Allah dalam doa dan
(Filipi 4:6)
(Amsal 23:18)
bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu,
(Amsal 3:5-6)
Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh
commit to user
viii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan untuk :
1. Tuhan YME, atas segala berkat dan penyertaan yang senantiasa Engkau
berikan
2. Ayah dan Ibu serta Kakak tercinta, atas segala bentuk dukungan dan doa
yang telah diberikan
3. Dosen Pembimbing Skripsi
4. Teman-teman Akuntansi Angkatan 2010
commit to user
ix
KATA PENGANTAR
Salam Sejahtera
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas
segala berkat, karunia dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Intellectual Capital Disclosure di Negara Indonesia,
Belanda, Australia dan Inggris
memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan
Akuntansi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam penyusunan skripsi ini tidak
terlepas dari bantuan banyak pihak, baik bantuan secara moral maupun material,
secara langsung maupun tak langsung. Maka dengan segala kerendahan hati
penulis menyampaikan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Ravik Karsidi. M.S., Selaku Rektor Universitas
Sebelas Maret.
2. Bapak Dr. Wisnu Untoro, M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Bapak Drs. Santoso Tri Hananto, M.Si., Ak selaku Ketua Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
4. Bapak Agung Nur Probohudono, SE., M.Si., PhD., Ak. selaku dosen
pembimbing skripsi yang tak kenal lelah memberi motivasi dan semangat
commit to user
x
Terimakasih Pak atas kesabarannya serta pengalaman hidup yang sudah
Bapak bagikan.
5. Prof. Drs. Djoko Suhardjanto,M.Com (Hons), PhD, Akt. selaku dosen
pembimbing akademis yang telah sabar dalam memberikan bimbingan
selama proses perkuliahan.
6. Bapak dan Ibu staf pengajar Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta atas ilmu pengetahuan dan
pengalaman hidup yang telah dibagikan.
7. Kedua orang tua tercinta, Alm. Bapak Bambang Ari Setyadhi dan Ibu
Wahyu Budihastuti yang telah sepenuh hati membesarkan dan menyayangi
anak-anaknya. Semoga kelak anakmu ini dapat membalas semua
pengorbanan yang telah kalian berikan.
8. Kakak tersayang, Wimbo Pambudi Wicaksono yang selalu memberikan
semangat serta memberi berbagai masukan dalam proses pembuatan
skripsi ini.
9. Pacar tercinta, Mutia Ayu Krismanda yang tak henti-hentinya untuk
memberi semangat setiap penulis merasa malas, terimakasih atas segala
bentuk dukungan dan doanya.
10.Teman-teman Akuntansi B angkatan 2010 Yudi, Rio, Jon, Kholid, Oki,
Indro, Fidsa, Mahatma, Ben, Rizky, Pay, Lulu, Binta, Dewi, Suci, Ocha,
Dela, Meri, Fitri, Tika, Fatin, Ika, Isna, Alifta. Terimakasih atas
commit to user
xi
11.Seluruh teman-teman Akuntansi A dan Akuntansi C, Agus, Haris, Khalid,
Jaka, Gabul, Dian, Bogel dan lain-lain. Terimakasih sudah jadi partner
futsal, badminton, touring dan lain-lain.
12.Keluarga besar PMK FEB UNS yang telah memberi kesempatan untuk
melayani dan memuliakan Tuhan sepenuh hati.
13.Teman-teman Sosial Dua Smansa lulusan 2010 Lohan, Yono, Dexa,
Uceng, Gembul, Canggih, Tsalist, Husni dan lain-lain. Terimakasih atas
dukungan doa, semangat dan kebersamaan dalam suka maupun duka.
14.Teman-teman ngegame bareng, Adit, Rama, Jon, Krisna dan lain-lain yang
selalu mengingatkan untuk memprioritaskan skripsi dibanding ngegame
:D
15.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
banyak membantu terselesaikannya penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
membangun sehingga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi oleh penulis
maupun penelitian-penelitian selanjutnya. Penulis berharap skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua yang sudah berkenan membacanya.
Surakarta, 21 Januari 2015
commit to user
xiii
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1. Tinjauan Pustaka 9
2.1.1. Agency Theory 9
2.1.2. Intellectual Capital Disclosure 11
2.1.3. Corporate Governance . 13
2.2. Penelitian-Penelitian Sebelumnya 15
commit to user
xiv
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Data ... 32
4.2.2. Hasil Pengujian Hipotesis . 42
commit to user
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Hasil Pemilihan Sampel
Tabel 2 Hasil Uji Statistik Deskriptif .. 34
Tabel 3 Hasil Uji Oneway ANOVA .... 35
Tabel 4 Tabel Disclosure Per Item ... 36
Tabel 4 Hasil Uji Normalitas Data ... 38
Tabel 5 Hasil Uji Autokorelasi .... 39
Tabel 6 Hasil Uji Multikoliniearitas . 41
Tabel 7 Hasil Uji Signifikansi-F ... 42
Tabel 8 Hasil Uji Signifikansi-t 43
commit to user
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian 18
commit to user
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Daftar Sampel Penelitian
Hasil Uji SPSS
commit to user
Jensen and Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai
sebuah kontrak di mana satu orang atau lebih (prinsipal) melibatkan orang lain
(agen) untuk melakukan beberapa layanan atas nama mereka yang melibatkan
pendelegasian beberapa wewenang pengambilan keputusan kepada agen. Prinsipal
akan memberikan informasi sukarela (voluntary disclosure) hanya jika tindakan
tersebut meningkatkan kesejahteraan mereka atau dengan kata lain jika manfaat
pengungkapan tersebut 85% lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan untuk
pengungkapan itu (Eisenhardt, 1989). Ketika agen bertindak untuk prinsipal, hal
tersebut menyerupai perilaku seperti melakukan pekerjaan untuk kepentingan
prinsipal atau bertindak sebagai perwakilan prinsipal atau karyawan (Mitnick,
1973)
Doherty and Quinn (1999) mengungkapkan hal yang senada bahwa
agency theory didasarkan pada konsep hubungan prinsipal-agen dimana di dalam
hubungan tersebut prinsipal mewakili individu, atau kelompok individu, yang
berada dalam kontrol satu set fungsi ekonomi atau aset dalam beberapa bentuk
kepemilikan atau hak milik. Sedangkan Adams (1994) berpendapat bahwa teori
agensi adalah bagian dari kelompok teori-teori positivis yang berasal dari literatur
ekonomi keuangan. Ini menyimpulkan bahwa perusahaan terdiri dari hubungan
commit to user
yang dibebani menggunakan dan mengendalikan sumber-sumber milik
perusahaan. Pendekatan klasik untuk memahami teori keagenan secara historis
mengikuti rute hubungan prinsipal-agen, yang mengasumsikan bahwa prinsipal
dan agen akan berusaha untuk memaksimalkan posisi mereka melalui interpretasi
Menurut Zu and Kaynak (2012) asumsi penting yang mendasari teori
agensi adalah bahwa :
Ada konflik tujuan potensial antara prinsipal dan agen
Masing-masing pihak bertindak berdasarkan kepentingan sendiri
Sering ada asimetri informasi antara prinsipal dan agen
Agen cenderung lebih menolak resiko daripada prinsipal
Efisiensi adalah kriteria efektivitas
Maijoor (2000) menyatakan bahwa isu-isu corporate governance seperti
pemantauan mekanisme (monitoring mechanism) sangat berhubungan dengan
teori keagenan. Teori ini menyatakan bahwa pemisahan kepemilikan dan fungsi
manajemen menyebabkan konflik antara principal dengan agen dimana manajer
dapat mengejar kepentingan mereka sendiri dengan mengorbankan para
pemegang saham/prinsipal (Ugurlu, 2000). Perbedaan kepentingan antara manajer
dan pemegang saham ini dapat menciptakan asimetri informasi dan
mengakibatkan biaya agensi (agency cost) (Farrer and Ramsay, 1998). Dalam
hubungan keagenan, biasanya prinsipal akan berusaha untuk meminimalkan biaya
agensi, seperti penentuan, penghargaan dan monitoring, serta pembuatan
kebijakan perilaku agen, sementara agen bekerja untuk memaksimalkan
commit to user
Probohudono (2012) prinsipal dapat membatasi masalah agensi dengan
menetapkan insentif untuk agen (agency costs) dan dengan menciptakan biaya
monitoring yang dirancang untuk mengontrol perilaku agen.
Jensen and Meckling (1976) mendefinisikan agency cost sebagai jumlah
dari :
1. Pengeluaran monitoring oleh prinsipal
2. Pengularan terikat oleh agen
3. Kerugian residual
2.1.2 Intellectual Capital Disclosure
Intellectual capital adalah istilah yang diberikan untuk mengkombinasikan
intangible asset dari pasar, property intelektual, infrastruktur dan pusat manusia
yang menjadikan suatu perusahaan dapat berfungsi (Abeysekera, 2006).
Intellectual capital adalah materi intelektual (pengetahuan, informasi, property
intelektual, pengalaman) yang dapat digunakan untuk menciptakan kekayaan. Ini
adalah suatu kekuatan akal kolektif atau seperangkat pengetahuan yang berdaya
guna (Stewart, 1997).
Definisi yang dibuat oleh para pakar tidak sama, namun dapat diambil
kesimpulan bahwa intellectual capital merupakan bagian dari intagible asset. Hal
ini sesuai dengan pendapat Mouritsen (1998) yang menyebutkan bahwa
intellectual capital menyangkut kapasitas pengetahuan luas yang dimiliki oleh
organisasi. Pengetahuan yang luas bagi organisasi ini bermanfaat bagi organisasi
commit to user
Secara umum berbagai pendapat para pakar dan organisasi tersebut dapat
disimpulkan bahwa intellectual capital secara garis besar terdiri dari ( Sveiby,
1997) :
1. Human Capital
Fitz-Enz (2000) mendeskripsikan human capital sebagai
kombinasi dari tiga faktor, yaitu: 1) karakter atau sifat yang dibawa ke
pekerjaan, misalnya intelegensi, energi, sikap positif, keandalan, dan
komitmen, 2) kemampuan seseorang untuk belajar, yaitu kecerdasan,
imajinasi, kreatifitas dan bakat dan 3) motivasi untuk berbagi
informasi dan pengetahuan, yaitu semangat tim dan orientasi tujuan.
2. Structural Capital
Structural Capital merupakan aset perusahaan yang berupa
pemilikan sistem software, jaringan distribusi, dan supply chain
perusahaan. Petras (1996) menyebutkan bahwa structural capital juga
meliputi kemampuan perusahaan dalam menjangkau pasar.
3. Relational Capital
Relational capital atau customer capital merupakan hubungan
baik yang dijalin oleh perusahaan dengan pihak luar (Petras, 1996),
dan juga pengetahuan mengenai rantai alur pasar suatu produk,
pelanggan, pemasok, dan menjalin hubungan baik dengan pemerintah
(Bontis, 2000).
Di Indonesia sendiri, fenomena intellectual capital mulai berkembang
terutama setelah munculnya PSAK No. 19 (revisi 2000) tentang asset tak
commit to user
berwujud adalah asset non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak
mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau
menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan
administratif (IAI, 2007). Ada empat kriteria yang harus dipenuhi agar suatu asset
dapat dikategorikan sebagai asset tak berwujud: (a) asset tersebut dapat
diidentifikasi, implikasinya asset tersebut dapat dijual, dipertukarkan, atau
disewakan; (b) perusahaan memiliki kontrol atas asset tersebut; (c) asset tak
berwujud akan memberikan manfaat bagi perusahaan di masa yang akan datang;
(d) harga perolehan asset tersebut dapat diukur secara andal.
2.1.3 Corporate Governance
Corporate governance merupakan sesuatu yang secara langsung
mempengaruhi operasional perusahaan atau sebagai sistem dimana perusahaan
diarahkan dan dikendalikan. Secara singkat,corporate governance dapat diartikan
sebagai sesuatu yang mengendalikan perusahaan (Cadbury, 1992). Sedangkan
Sternberg (2004) memandang corporate governance secara lebih khusus, yakni
sebagai alat bagi para pemegang saham dalam menentukan dan memperbaiki
pencapaian tujuan mereka.
Rezaee (2007) mengemukakan pendapat bahwa manfaat atau fungsi dari
corporate governance antara lain sebagai berikut :
a. Fungsi Pengawasan (Oversight Function)
b. Fungsi Pengelolaan (Managerial Function)
c. Fungsi Kepatuhan (Compliance Function)
commit to user
e. Fungsi Pemberian Nasehat hukum & Keuangan (Legal & Financial
Advisory)
f. Fungsi audit Eksternal ( External Audit Function)
g. Fungsi Monitoring (Monitoring Function)
Menurut Hastuti (2005), corporate governance diperlukan untuk
mengurangi permasalahan keagenan antara pemilik dan manajer. Corporate
governance pada dasarnya berisi prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Prinsip-prinsip tersebut antara lain :
1. Keadilan (fairness) yang meliputi :
(a) Perlindungan bagi seluruh hak pemegang saham
(b) Perlakuan yang sama bagi para pemegang saham.
2. Transparansi (transparancy) yang meliputi :
(a) Pengungkapan informasi yang bersifat penting
(b) Informasi harus disiapkan, diaudit dan diungkapkan sejalan dengan
pembukuan yang berkualitas
(c) Penyebaran informasi harus bersifat adil, tepat waktu dan efisien.
3. Dapat dipertanggungjawabkan (accountability) yang meliputi meliputi
pengertian bahwa :
(a) Anggota dewan direksi harus bertindak mewakili kepentingan
perusahaan dan para pemegang saham
(b) Penilaian yang bersifat independen terlepas dari manajemen
(c) Adanya akses terhadap informasi yang akurat, relevan dan tepat
commit to user
4. Pertanggungjawaban (responsibility) meliputi :
(a) Menjamin dihormatinya segala hak pihak-pihak yang
berkepentingan
(b) Para pihak yang berkepentingan harus mempunyai kesempatan
untuk mendapatkan ganti rugi yang efektif atas pelanggaran
hak-hak mereka
(c) Dibukanya mekanisme pengembangan prestasi bagi keikutsertaan
pihak yang berkepentingan
(d) Jika diperlukan, para pihak yang berkepentingan harus mempunyai
akses terhadap informasi yang relevan.
2.2 Penelitian-Penelitian Sebelumnya
Terkait penelitian sebelumnya mengenai Intellectual Capital Disclosure,
Li, Pike dan Haniffa (2008) meneliti mengenai hubungan antara Intellectual
Capital Disclosure dengan Corporate Governance di Inggris dengan sampel 100
perusahaan listing di bursa efek Inggris. Hasilnya dari 5 variabel independen dan
3 variabel kontrol hanya 1 variabel independen yakni role duality yang tidak
memiliki hubungan dengan Intellectual Capital Disclosure, sedangkan variabel
lainnya memiliki hubungan positif terhadap Intellectual Capital Disclosure.
Hidalgo, Garcia-Meca dan Martinez (2011) melakukan penelitian terkait
mengenai hubungan antara Intellectual Capital Disclosure dengan Corporate
Governance dengan 2 variabel independen yakni board size dan ownership
structure. Hasil yang berbeda dengan penelitian Li, Pike dan Haniffa dimana
commit to user
kepemilikan saham investor institusional terhadap Intellectual Capital Disclosure,
sedangkan peningkatan board size menjadi 15 orang memiliki hubungan positif
terhadap Intellectual Capital Disclosure.
Pada periode yang sama, Taliyang dan Jusop (2011) juga meneliti
hubungan Corporate Governance dengan Intellectual Capital Disclosure dengan
sampel 150 perusahaan listing di Malaysia. Corporate Governance diproksikan
dengan board composition, role of duality, size of audit committee, dan frequency
of audit committee meetings. Hasil penelitian ini adalah hanya 1 variabel yang
berpengaruh positif terhadap tingkat Intellectual Capital Disclosure, yakni
frequency of audit committee meetings. Sedangkan 3 variabel lainnya yakni board
composition, role of duality, dan size of audit committee tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap Intellectual Capital Disclosure. Penelitian ini juga
menghasilkan temuan lain bahwa perusahaan-perusahaan di Malaysia sadar akan
pentingnya Intellectual Capital Disclosure namun mereka tidak menyadari/tidak
mengerti bagaimana mengukur, melaporkan dan mengungkapkan informasi ini di
dalam laporan tahunan mereka.
Setelah itu, Ramadan dan Majdalany (2013) melakukan penelitian
mengenai pengaruh Corporate Governance terhadap Intellectual Capital
Disclosure dengan sampel annual report tahun 2010 bank-bank yang telah listing
dalam bursa efek di Uni Emirat Arab. Item-item Corporate Governance yang
digunakan sebagai variabel independen antara lain bank size, leverage,
profitability, board size dan ownership structure. Hasilnya menunjukkan bahwa
bank size dan leverage berpengaruh positif terhadap Intellectual Capital
commit to user
Intellectual Capital Disclosure. Variabel lainnya seperti board size, ownership
structure, market listing age dan bank age tidak memiliki hubungan yang
signifikan terhadap tingkat Intellectual Capital Disclosure di Uni Emirat Arab.
2.3 Kerangka Pemikiran
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Corporate Governance,
yang diproksikan dengan Board composition, Ownership Structure dan Role
duality. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah Intellectual
Capital Disclosure, dan Profitability, Company Size, Leverage, Auditor, Country
commit to user
2.4 Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Board composition
Langberg dan Sivaramakrishnan (2008) mengatakan bahwa komposisi
dewan (board composition) yang lebih baik mempunyai kecenderungan untuk
menjadikan laporan keuangan lebih akurat yang nantinya akan mengarah pada
meningkatnya kemampuan analis untuk menginterpretasikan pengungkapan
sukarela (voluntary disclosure). Menurut Boediono (2005), komposisi dewan
komisaris merupakan salah satu karakteristik dewan yang berhubungan dengan
kandungan informasi laba. Melalui perannya dalam menjalankan fungsi
pengawasan, komposisi dewan dapat mempengaruhi pihak manajemen dalam
menyusun laporan keuangan sehingga dapat diperoleh suatu laporan laba yang
berkualitas. Adanya komisaris independen diharapkan mampu meningkatkan
peran dewan komisaris sehingga tercipta corporate governance di dalam
perusahaan. Adanya direksi dari luar dapat menengahi masalah yang terjadi antar
manajer internal dan melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan agency
problem yang serius antara manajer dengan claimant residual, seperti penetapan
kompensasi eksekutif dan pencarian pengganti manajer puncak (Fama and Jensen,
1983). Oleh karena itu, suatu dewan yang efektif untuk pemantauan relatif
mempunyai lebih banyak komposisi direksi dari luar, struktur kepemilikan ganda
dan ukuran yang kecil (Jensen, 1993). Hasil penelitian dari Li, Pike dan Haniffa
(2008)juga memberi bukti bahwa board composition memiliki hubungan positif
terhadap intellectual capital disclosure
H1 = Board composition memiliki hubungan positif terhadap
commit to user
2.4.2 Role dualitySalah satu aspek tata kelola yang berpotensi menimbulkan masalah adalah
epribadian yang dominan dalam
memimpin sebuah perusahaan dapat merugikan kepentingan pemegang saham,
dan fenomena ini telah ditemukan terkait dengan pengungkapan yang buruk
(Forker, 1992). Pemusatan pengambilan keputusan yang dihasilkan dari peran
dualitas (role duality) akan merusak pengawasan dewan dan peran pemerintahan,
termasuk kebijakan pengungkapan. Pemisahan peran akan memberikan dampak
penting yakni pemeriksaan dan keseimbangan pada perilaku manajemen
(Blackburn, 1994). Penelitian Gul dan Leung (2002) juga memberikan bukti
bahwa peran dualitas berpengaruh negatif terhadap voluntary disclosures.
Menurut Jensen (1993), memiliki individu yang berbeda yang memegang
jabatan CEO dan chairperson (chairman) akan meningkatkan kemampuan
monitoring direksi. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dibuat hipotesis sebagai
berikut :
H2 = Role duality memiliki hubungan negatif terhadap Intellectual
Capital Disclosure
2.4.3 Managerial ownership
Kepemilikan manajemen adalah ada tidaknya saham yang dimiiki oleh
manajemen dalam perusahaan. Tingkat pengungkapan informasi akan berkurang
bila kepemilikan dimiliki oleh pihak manajemen karena permintaan akan
informasi juga akan berkurang (Chau dan Gray, 2002). Asosiasi negatif antara
commit to user
besarnya managerial ownership, monitoring yang dilakukan oleh pemegang
saham telah dilakukan sendiri oleh manajemen sehingga manajemen tidak perlu
banyak melakukan pengungkapan kepada pihak lainnya. Peminimalisasian
pengungkapan tersebut merupakan bentuk pengurangan agency cost akibat adanya
managerial ownership (Eng dan Mak, 2003). Penelitian Ruland et al. (1990) juga
menemukan adanya asosiasi negatif antara managerial ownership dengan tingkat
pengungkapan. Sama halnya dengan Eng dan Mak (2003) yang juga menemukan
asiosiasi negatif antara managerial ownership dengan pengungkapan. Berdasarkan
penjelasan tersebut dapat dibuat hipotesis sebagai berikut :
H3 = Managerial ownership memiliki hubungan negatif terhadap
Intellectual Capital Disclosure
2.4.4 Country
Meek, Roberts and Gray (1995) mengungkapkan bahwa country
(negara/wilayah) merupakan salah satu faktor yang dapat menjelaskan tingkat
voluntary disclosure (pengungkapan sukarela). Penelitian Probohudono (2012)
juga membuktikan bahwa country berpengaruh secara positif terhadap Risk Index
Disclosure, kaitannya dengan voluntary disclosures
H4 = Country berpengaruh secara positif terhadap tingkat Intellectual