PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
INQUIRY-BASED
SCIENCE PLUS READING
(ISR) UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA RANAH KOGNITIF
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari
Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Jurusan Pendidikan Fisika
Oleh
HADIANI NURAZIZAH M
0900501
DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY-BASED SCIENCE PLUS READING (ISR) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA RANAH KOGNITIF
Oleh
Hadiani Nurazizah M
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
© Haiani Nurazizah M 2015
Universitas Pendidikan indonesia
2015
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Latar belakang penelitian Penerapan Model Pembelajaran inquiry Based Science Plus Reading ini adalah adanya dugaan proses pembelajaran kurang memberikan fasilitas untuk melatihkan kemampuan kognitif siswa. Siswa kurang dilibatkan dalam di dalam pembelajaran karena guru menggunakan penjelasan secara langsung. Penjelasan yang diberikan secara matematis sehingga siswa kurang memahami konsep yang dipelajari. Selain itu,, penjelasan konsep tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak bisa menerapkan konsep dengan baik. Adanya kesulitan dalam membangun pemikiran karena siswa tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup sehingga siswa perlu diberikan tugas membaca. Oleh karena itu, diperlukan adanya metode yang dapat melatihkan kemampuan kognitif siswa dan memberikan bekal pengetahuan yang banyak. Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading cocok untuk melatihkan kemampuan kognitif siswa karena model pembelajaran ini memungkinkan siswa dilibatkan dalam pembelajaran melalui suatu percobaan, sehingga siswa bisa lebih mengetahui dan memahami konsep yang sedang dipelajari. Selain itu di dalam pembelajarannya, siswa diberikan tugas membaca sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah Pre-Experiment Design dengan menggunakan teknik one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 33 siswa kelas VIII. Hasil belajar pada ranah kognitif ini mengacu pada Taksonomi Bloom dan pembelajaran inkuiri yang digunakan berupa interactive demonstration. Hasil belajar siswa pada aspek mengingat diperoleh nilai gain yang dinormalisasi sebesar 0,78 kategori tinggi, pada aspek memahami diperoleh nilai gain ternormalisasi 0,48 kategori sedang, dan pada pada aspek menerapkan diperoleh nilai gain yang dinormalisasi sebesar 0,19 kategori rendah. Korelasi kemampuan membaca dengan hasil belajar pada ranah kognitif diperoleh sebesar 0,5 dengan kategori cukup.
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRACT
APLICATION OF INQUIRY BASED SCIENCE LEARNING MODEL PLUS READING TO IMPROVE STUDENT ACHIEVEMENT IN COGNITIVE
The background of research Aplication Inquiry Based Science Learning Model Plus Reading is alleged the learning process not provide facilities for exercise students' cognitive abilities. Students are less involved in learning because teachers in the use of annotations directly. The explanation given mathematically so that students do not understand the concept. In addition ,, explanation of the concept is not associated with everyday life so that students can not apply the concept properly. The difficulties in developing thinking because students do not have a sufficient stock of knowledge that students need to be given the task of reading. Therefore, it is necessary to have a method that can exercise students' cognitive abilities and give a stock of knowledge that a lot. Inquiry Based Science Learning Model Reading Plus is suitable for exercise students' cognitive abilities because this model allows students to be involved in learning through an experiment, so that students can better know and understand the concepts being studied. Also in learning, students are given reading assignments before learning activities. The method that used was Pre-Experiment that using the technique design one group pretest-posttest design. These samples included 33 students of class VIII SMP Negeri 29 Bandung. Learning outcomes in the cognitive domain refers to Bloom's Taxonomy and inquiry learning is used in the form of an interactive demonstration by Wenning. Student learning outcomes in considering aspects of a normalized gain value obtained was 0.78 higher category, in the aspect of understanding the values obtained normalized gain of 0.48 medium category, and in the aspect of applying a normalized gain value obtained 0.19 lower category. Correlation literacy learning outcomes in the cognitive obtained at 0.5 with enough categories
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... iii
UCAPAN TERIMAKASIH... iv
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR GAMBAR... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 4
C. Batasan Masalah... 4
D. Tujuan Penelitian ... 5
E. Manfaat Penelitian ... 5
F. Struktur Organisasi ... 5
BAB II MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY-BASED SCIENCE PLUS READING (ISR) DAN KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA RANAH KOGNITIF………. 7
A. Hasil Belajar pada Ranah Kognitif ... 7
B. Model Pembelajaran inkuiri. ... 10
C. Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) . 16 D. Model Pembelajaran Inquiry-Based Science Plus Reading (ISR) dan Kaitannya dengan Peningkatan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif...19
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 25
A. Metode Penelitian ... 21
B. Desain Penelitian ... 21
C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 22
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
E. Prosedur Penelitian ... 23
F. Instrumen Penelitian ... 25
G. Teknik Analisis Instrumen Penelitian ... 26
H. Teknik Pengolahan Data ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34
A. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Ranah Kognitif ... 34
B. Hubungan Kemampuan Membaca dengan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif ... 36
C. Keterlaksanaan Model Pembelajaran ISR ... 36
D. Pembahasan Hasil Penelitian... 41
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 42
A. Kesimpulan ... 42
B. Saran ... 42
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Kategori Taksonomi Anderson-Kratwohl... 16
Tabel 2.2. Hubungan Tahapan Inkuiri Terbimbing dengan Pemahaman Konsep... 17
Tabel 2.3. Hubungan antara Konsep Essensial Tekanan dengan Kategori Kognitif Anderson yang dilatihkan... 18 Tabel 3.1. One Group Pre-test Post-test... 20
Tabel 3.2. Validitas Instrumen... 26
Tabel 3.3. Reliabilitas Instrumen... 27
Tabel 3.4. Tingkat Kesukaran Butir Soal... 28
Tabel 3.5. Tingkat Kesukaran Soal Uraian... 29
Tabel 3.6. Daya Pembeda... 29
Tabel 3.7. Hasil Uji Instrumen Soal Pilihan Ganda... 30
Tabel 3.8. Hasil Uji Instrumen Soal Uraian... 31
Tabel3.9. Kriteria Effect Size... 34
Tabel 4.1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian... 36
Tabel 4.2. Data Effect Size Cohen Seluruh Soal... 37
Tabel 4.3. Data Effect Size Cohen pada Kategori Kognitif Menafsirkan... 37
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Membandingkan... 38
Tabel 4.5. Data Effect Size Cohen pada Kategori Kognitif Mencontohkan.
Tabel 4.6. Data Effect Size Cohen pada Kategori Kognitif Menjelaskan.... 38
39
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berkembang pesat.
Perkembangan yang dialami dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini
membutuhkan penyikapan yang tepat dan pemikiran yang luas dalam
penggunaanya. Hal ini dapat dicapai oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
Yaitu yang dapat memahami pengetahuan dengan baik dan menggunakannya
dengan tepat. Serta ilmu yang didapat dapat dikembangkan dengan baik dengan
memberikan inovasi terbaru sehingga dapat bermanfaat bagi lingkungan di
sekitar.
Salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas
adalah memiliki pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik tidak terlepas dari
proses pembelajaran yang didapat dari setiap satuan pendidikan. Salah satunya
adalah pembelajaran Ilmu Pengtahuan Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) berkaitan dengan c a r a m e n c a r i t a h u t e n t a n g
a l a m s e c a r a s i s t e m a t i s , s e h i n g g a I P A
b u k a n h a n y a p e n g u a s a a n k u m p u l a n
p e n g e t a h u a n b e r u p a f a k t a - f a k t a , k o n s e p – k o n s e p , a t a u p r i n s i p – p r i n s i p s a j a t e t a p i j u g a m e r u p a k a n p r o s e s p e n e m u a n
( p e r m e n d i k n a s , 2 0 0 6 ) . B e r d a s a r k a n
p e r m e n d i k n a s t e r s e b u t d a l a m k e g i a t a n
p e m b e l a j a r a n I P A d i p e r l u k a n a d a n y a
p r o s e s p e m b e l a j a r a n y a n g m e n g h a r u s k a n
s i s w a u n t u k m e n e m u k a n s e n d i r i k o n s e p – k o n s e p , f a k t a - f a k t a a t a u p r i n s i p – p r i n s i p y a n g s e d a n g d i p e l a j a r i , s e h i n g g a
s i s w a a k a n m e m a h a m i i l m u
p e n g e t a h u a n n y a . Hal ini sesuai dengan hakekat IPA yang terdiri
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
adalah fakta, hukum, prinsip, teori dan konsep. Adapun yang termasuk dalam
kategori proses adalah keterampilan-keterampilan dasar yang biasa digunakan
para ilmuwan dalam bekerja secara ilmiah, sedangkan yang termasuk dalam
sikap yaitu pembentukan sikap setelah mempelajari produk dan proses tersebut.
F i s i k a m e r u p a k a n s a l a h s a t u b a g i a n
d a r i I P A , m a k a d a l a m p e m b e l a j a r a n n y a
j u g a d i p e r l u k a n p r o s e s p e n e m u a n d a l a m
p e m b e l a j a r a n n y a s e h i n g g a s i s w a
m e n d a p a t k a n h a s i l b e l a j a r y a n g b a i k . Akan
tetapi berbeda dengan kenyataan di lapangan. Berdasarkan studi pendahuluan
yang peneliti lakukan pada tanggal 24 Januari 2013 kegiatan proses pembelajaran
yang berlangsung kurang memberikan fasilitas pada siswa untuk melatihkan
kemampuan kognitifnya. Pada saat pembelajaran guru menjelaskan materi secara
langsung dan lebih banyak menggunakan penjelasan secara matematis. Siswa
langsung diberikan formulasi dari sebuah konsep, sedangkan konsepnya sendiri
hanya dijelaskan secara singkat. Hal ini menyebabkan pengetahuan dan
pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari kurang baik. Siswa tidak
dilibatkan secara langsung dalam pembelajaran, siswa lebih banyak menerima
penjelasan dari guru, sehingga siswa tidak bisa melatihkan keterampilan
berpikirnya. Dalam pembelajaranya juga materi yang diberikan kurang dikaitkan
dengan kehidupan sehari – hari sehingga siswa kurang memahami materi pembelajaran yang sedang dipelajari, oleh sebab itu kemampuan memahami
siswa juga kurang baik. Di akhir pembelajaran siswa juga kurang diberikan
latihan dalam penerapan suatu materi atau konsep yang sedang dipelajari,
Sehingga kemampuan siswa dalam menerapkan suatu konsep ke dalam
permasalahan dalam fisika sangat kurang. Pembelajaran seperti ini menyebabkan
hasil belajar siswa rendah, hal ini terlihat dari nilai rata – rata Ulangan Tengah Semester (UTS) siswa 58,70.
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif diperlukan
adanya suatu model pembelajaran yang bisa membimbing siswa menemukan dan
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sehingga pembelajaran akan terasa bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang
bermakna akan tertanam dalam memori siswa dalam jangka waktu yang panjang
sehingga kemampuan siswa dalam mengingat, memahami dan menerapkan dapat
meningkat. Model pembelajaran yang dianggap cocok diterapkan adalah Model
Pembelajaran Inkuiri karena di dalamnya terdapat proses penemuan sehingga
memungkinkan siswa dapat meningkatkan hasil belajar pada ranah kognitif.
Seperti yang dikemukakan Gulo (dalam Listyawan,2012) bahwa inkuiri tidak
hanya mengembangkan kemampuan dan intelektual tetapi seluruh potensi yang
ada termasuk pengembangan emosional dan keterampilan inkuiri merupakan
suatu proses yang bermula dari merumuskan hipotesis, mengumpulkan data,
menganalisis data dan membuat kesimpulan. Berdasarkan pernyataan tersebut
model inkuiri ini sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa
karena di dalam proses pembelajarannya siswa difasilitasi untuk bisa melatihkan
kemampuan kognitif dari kegiatan pembelajaran yang melatihkan siswa
bereksperimen. Dari kegiatan eksperimen ini siswa dapat melakukan proses
penemuan sendiri mengenai konsep yang sedang dipelajari, sehingga kegiatan
pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa.
Pada prosesnya, pembelajaran inkuiri sulit diterapkan pada siswa SMP,
menurut Alhafizh (2010) “inquiry ini baru dilaksanakan pada tingkat SLTA, Perguruan Tinggi, dan untuk tingkat SLTP dan tingkat SD masih sulit
dilaksanakan”. Hal ini dikarenakan pengetahuan awal yang dimiliki siswa tidak cukup untuk berinkuiri. Pembelajaran inkuiri menekankan pada proses
penyelidikan ilmiah secara mandiri oleh siswa, siswa juga dituntut untuk
mengkonstruksi pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru yang
akan didapatkannya, sehingga pengetahuan awal sangat berperan penting dalam
pembelajaran inkuiri. Pengetahuan awal bisa didapatkan dengan berbagai cara,
salah satunya dengan membaca informasi awal berkaitan dengan penyelidikan
ilmiah yang akan dilakukan.
Maka dari itu perlu adanya modifikasi dari pembelajaran inkuiri. Salah satu
alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dari hasil penelitian oleh Zhihui Fang dengan judul Improving Middle School Students’ Science Literacy Through Reading Infusion. Adapun inquiry based science plus reading adalah model pembelajaran inkuiri yang telah dimodifikasi
dan disisipkan latihan kemampuan membaca untuk memperoleh pengetahuan
awal siswa. Latihan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan
membaca siswa khususnya kemampuan memahami bacaan. Latihan kemampuan
membaca dilaksanakan dengan cara membawa anak-anak ke perpustakaan dan
melatihkan keterampilan membaca dengan teknik tertentu selama 15-22 menit
perminggu dan diberikan akses untuk memotivasi membaca di rumah serta
merefleksikan pengetahuan yang didapat melalui home reading program.
Berdasarkan paparan di atas, penulis merasa perlu melakukan penelitian
mengenai pembelajaran inkuiri dengan terlebih dahulu melatihkan kemampuan
membaca pada siswa sehingga diharapkan siswa mempunyai pengetahuan awal
yang cukup dan lebih siap berinkuiri. Akan tetapi, dengan adanya berbagai
keterbatasan yang ada, penerapan model tersebut dimodifikasi menyesuaikan
sarana dan prasarana yang menunjang, serta waktu yang memungkinkan untuk
hal tersebut. Seperti halnya, perpustakaan yang belum memadai dan waktu
pembelajaran yang kurang mengakibatkan adanya modifikasi pada tahap
melatihkan membaca. Latihan membaca hanya dilakukan diawal yang
selanjutnya siswa diberikan bahan bacaan setiap minggunya sesuai dengan materi
yang akan disampaikan. Dalam setiap artikel tersebut diberikan beberapa
pertanyaan yang akan memperlihatkan kemampuan membaca siswa.
Dengan demikian, penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul
“Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Ranah Kognitif “
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan diatas, identifikasi masalah yang ditemukan adalah
hasil belajar siswa yang rendah . Oleh karena itu maka rumusan permasalahan
dalam penelitian ini adalah : “ Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif setelah diterapkannya model pembelajaran Inquiry Based
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Selanjutnya untuk menentukan langkah-langkah penelitian, rumusan
masalah di atas diuraikan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif pada
setelah diterapkannya model pembelajaran Inquiry Based Science Plus
Reading (ISR)?
2. Bagaimanakah hubungan kemampuan membaca siswa dengan peningkatan
hasil belajar siswa pada ranah kognitif?
3. Bagaimanakah keterlaksanaan model pembelajaran Inquiry Based Science
Plus Reading (ISR) di kelas?
C. Batasan Masalah
Variabel penelitian dalam penelitian ini yaitu hasil belajar siswa dalam ranah
kognitif dan model pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading(ISR). Agar
penelitin lebih terfokus, maka peneliti membatasi variabel-variabel tersebut
sebagai berikut :
Pembelajaran Inkuiri yang dimaksud, dibatasi pada Interactive
Demonstration menurut Wenning.
Dikarenakan pada penelitian ini standar kompetensi yang digunakan adalah menyelidiki maka hasil belajar ranah kognitif siswa yang dimaksud dibatasi
pada jenjang C1 sampai C3 yang ada pada taksonomi Bloom.
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diungkapkan sebelumnya, maka tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Memperoleh gambaran peningkatan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif
setelah diterapkannya Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus
Reading (ISR) di kelas.
2. Memperoleh gambaran kaitan antara kemampuan membaca dengan
peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif.
3. Memperoleh gambaran keterlaksanaan penerapan Model Pembelajaran
Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) di kelas.
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Hasil penelitian dengan penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based
Science Plus Reading (ISR) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah
kognifif diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik dalam pendidikan.
Diantaranya sebagai berikut :
1. Memberikan informasi mengenai Model Pembelajaran Inquiry Based Science
Plus Reading (ISR).
2. Memberikan alternatif strategi pembelajaran Inkuiry Based Science Plus
Reading (ISR) untuk diterapkan dalam pembelajaran fisika.
3. Sebagai rujukan bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah
kognitif.
4. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya mengenai Model
Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR).
F. Struktur Organisasi
Struktur organisasi penyusunan sistematika pada penelitian yang berjudul
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Ranah Kognitif yaitu sebagai berikut :
BAB I berisi mengenai latar belakang penelitian, identifikasi masalah,tujuan
penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi.
BAB II berisi mengenai hasil belajar pada ranah kognitif, Model Pembelajaran
Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) dan Model Pembelajaran Inquiry
Based Science Plus Reading (ISR) dalam peningkatan hasil belajar siswa pada
ranah kognitif.
BAB III berisi mengenai metode penelitian, desain penelitian, populasi dan
sampel penelitian, instrument penelitian, teknik pengumpulan data, prosedur
penelitian, teknik analisisi instrument penelitian dan teknik pengolahan data yang
dipakai dalam penelitian.
BAB IV berisi mengenai hasil peningkatan belajar siswa pada ranah kognitif,
menampilkan profil membaca siswa, keterlaksanaan Model Pembelajaran Inquiry
Based Science Plus Reading (ISR) dan pembahasan hasil penelitian yang
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V berisi kesimpulan yang diperoleh setelah penelitian dan saran yang diberikan
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a. Metode Penelitian
Karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerpan model
pembelajaran ISR, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode
Pre-experiment. Menurut Arikunto (2010:123) metode pre-experiment ini sering
disebut juga dengan “quasi experiment” atau eksperimen semu. Penelitian
eksperimen semu digunakan untuk melihat pengaruh penerapan model
pembelajaran ISR terhadap hasil belajar siswa pada ranah kognitif.
b. Desain Penelitian
Sesuai dengan metode penelitian, maka desain penelitian yang dipakai adalah
Pre-Experiment Design dengan menggunakan teknik one group pretest-posttest
design. Ini sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin melihat peningkatan hasil
belajar siswa setelah dilakukan penerapan model pembelajaran ISR.
Pada desain ini peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif bisa
dilihat dari hasil pretest dan postest. Pretest dilakukan sebelum siswa
mendapatkan perlakuan , yaitu model pembelajaran ISR. Setelah mendapat data
pretest, perlakuan diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Peningkatan
peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif bisa dilihat dari perbedaan
hasil pretest dan posttest.
Berikut merupakan tabel 3.1 desain penelitian one group pretest posttest design
(Fraenkel dkk, 2011: 269)
Tabel 3.1 Diagram one group pretest posttest design
Pretest Treatment Posttest
O1 X O2
Keterangan :
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu X = Penerapan model pembelajaran ISR
O2 =tes akhir posttest setelah diberikan treatment
c. Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam metode penelitian, populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian
(arikunto, 2010 : 173). Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil dari
populasi yang diteliti (arikunto, 2010 : 174). Oleh karena itu sampel sebaiknya
harus mewakili populasi yang dijadikan subjek penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMP Negeri di kota Bandung.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VIII. Sedangkan sampel yang
dijadikan dalam penelitian ini adalah salah satu kelas VIII di sekolah tersebut yang
terdiri dari 33 siswa. Kelas VIII dipilih menggunakan teknik random sampling. Diantara
keseluruhan populasi kelas VIII di sekolah tersebut, Kelas VIII ini memiliki kemampuan
kognitif yang sedang dibandingkan dengan kelas yang lain dan kemampuan rata – rata
setiap orangnya beragam dari yang terendah sampai tertinggi.
d. Definisi Operasional
Definisi Operasional ialah semua variabel dan istilah yang akan digunakan
dalam penelitian secara operasional, sehingga mempermudah pembaca / penguji
dalam mengartikan makna penelitian. (Nursalam & Sisi Paniani,2012. dalam
prabowo)
Beberapa istilah perlu didefinisikan agar diperoleh gambaran yang jelas
mengenai variabel – variabel yang berkaitan dengan penelitian. Berikut dipaparkan definisi operasional variabel yang digunakan pada penenlitian :
1. Hasil Belajar Ranah Kognitif
Hasil belajar pada ranah kognitif yaitu hasil belajar yang berkenaan dengan
hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi (sudjana, 22:2011).
Pada penelitian ini hasil belajar kognitif yang digunakan adalah taksonomi
Bloom. Hasil belajar pada ranah kognitif yang diukur meliputi aspek mengingat,
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ganda yang diberikan sebelum pembelajaran (pretest) dan setelah pembelajaran
(posttest).
2. Inquiry-Based Science Plus Reading (ISR)
Inquiry-Based Science Plus Reading (ISR) merupakan suatu model
pembelajaran ilmiah bersifat inkuiri (penemuan) yang dikombinasikan dengan
strategi membaca (reading infusion). Strategi membaca yang dijadikan rujukan
oleh penulis yaitu Collaborative Strategic Reading (CSR) menurut Janette
Klingner. Model pembelajaran ISR menurut Zhihui Fang dan Youhua Wei terdiri
dari dua komponen reading infusion yaitu reading strategi instruction dan home
science reading program. Model ini bertujuan membantu siswa dalam
memproses informasi yang dimiliki atau dari input menjadi output yang berguna
untuk memecahkan suatu permasalahan dalam kehidupannya. Untuk mengukur
keterlaksanaan pembelajaran dengan model ISR dilakukan observasi terhadap
kegiatan guru menggunakan lembar observasi keterlaksanaan model
pembelajaran berdasarkan RPP yang dirancang.
e. Prosedur Penelitian
Adapun urutan prosedur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Tahap Studi Pendahuluan
1. Melakukan observasi selama pembelajaran di kelas dan menganalisis
hasil belajar siswa.
2. Melakukan studi literatur mengenai teori yang melandasi penelitian
3. Merumuskan masalah penelitian berdasarkan hasil studi pendahuluan
4. Menyusun proposal
b. Tahap Persiapan dan Perencanaan
1. Melakukan studi kurikulum SK dan KD mata pelajaran fisika
mengenai pokok bahasan yang akan dijadikan penelitian.
2. Menyusun perangkat pembelajaran berupa RPP dan bahan ajar sesuai
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3. Menyusun instrumen penelitian yang meliputi kisi-kisi soal dan
format observasi keterlaksanan model pembelajaran.
4. Membuat surat ijin penelitian.
5. Mengkonsultasikan dan men-judgment instrumen penelitian kepada
dua dosen fisika dan satu guru mata pelajaran fisika.
6. Mengujicobakan instrumen penelitian yang telah di-judgment.
7. Menganalisis hasil uji coba instrumen penelitian, kemudian
menentukan soal yang layak untuk dijadikan insrumen penelitian.
c. Tahap Pelaksanaan
1. Memberikan pretest kepada sampel penelitian.
2. Memberikan treatment kepada sampel berupa model pembelajaran
ISR.
3. Memberikan posttest kepada sampel untuk mengetahui peningkatan
hasil belajar pada ranah kognitif siswa setelah diterapkannya model
pembelajaran ISR.
d. Tahap Akhir
1. Mengolah data hasil pretest dan posttest.
2. Menganalisis peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif.
3. Memberikan kesimpulan dan saran.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini digambarkan dalam
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian
f. Instrumen Penelitian
Karena penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran peningkatan hasil
belajar siswa pada ranah kognitif, maka instrumen yang digunakan berupa tes
dan nontes. Analisis Data Hasil
Penelitian Penyusunan Laporan Kesimpulan
Penerapan Model ISR Pengambilan Data
Postest
Menyusun instrumen penelitian Judgement instrumen
Uji coba instrumen
Analisis instrument
(uji validitas,reabilitas,tingkat kesukaran dan daya pembeda)
Pengambilan Data Pretest
Studi Literatur Studi
Pendahuluan
Studi kurikulum SK dan KD pelajaran fisika
Menyusun perangkat pembelajaran
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Instrumen merupakan alat yang digunakan untuk medapatkan data hasil
penelitian. Instrument digolongkan menjadi dua golongan yaitu tes dan nontes
(arikunto, 2006). . Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan
permasalahan dan variabel-variabel penelitian adalah sebagai berikut:
1. Soal Pilihan Ganda
Intrumen yang digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa pada
ranah kognitif berupa soal pilihan ganda yang memuat aspek ingatan (C1),
pemahaman (C2), dan aplikasi (C3).Tes ini dilakukan dua kali yaitu sebelum
siswa diberikan treatment dan setelah diberikan treatment.
2. Lembar Observasi Keterlaksanaan model Pembelajaran ISR
Untuk memperoleh gambaran aktivitas guru dan siswa selama proses
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ISR digunakan
Instrumen berupa lembar observasi partisipasi pengamat yaitu dengan
menggunakan tanda ceklis pada kolom susunan aktivitas serta terdapat kolom
yang memuat saran-saran observer selama proses pembelajaran.
g. Teknik Analisis Insrumen Penelitian
1. Analisis Validitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrument (Arikunto,2010:211). Suatu
instrument yang valid atau sahih memiliki validitas yang tinggi. Sebaliknya
instrument yang kurang valid atau sahih akan memiliki validitas yang
rendah. Sebuah instrument dikatakan valid apabila instrument tersebut
mampu mengukurapa yang hendak diinginkan dan dapat mengungkap data
dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrument
menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari
gambaran tentang validitas yang dimaksud.
Sebuah instrumen dikatakan memiliki validitas apabila hasilnya sesuai
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kriteria(Arikunto,2009:69). Teknik yang digunakan untuk mengetahui
kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh
Pearson. Dalam penelitian ini, besarnya koefisien kolerasi antara dua
variabel dirumuskan :
dengan : rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan y
x = skor siswa pada butir item yang diuji validitasnya
y = skor total yang diperoleh siswa
Untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh,
maka digunakan tabel 3.2 untuk menginterpretasikan koefisien relasi :
Tabel 3.2 Daftar Interpretasi Koefisien Relasi
Koefisien korelasi Interpretasi
0,800-1,00 Sangat tinggi
0,600-0,800 Tinggi
0,400-0,600 Cukup
0,200-0,400 Rendah
0,00-0,200 Sangat rendah
2. Analisis Reabilitas Instrumen
Reliabilitas disebut juga dengan konsistensi atau keajegan. Suatu
instrument penelitian dikatakan mempunyai nilai reabilitas yang tinggi,
apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang kosnsiten dalam mengukur
yang hendak diukur. Ini berarti semaki reliabel suatu tes memiliki
persyaratan maka semakin yakin kita dapat menyatakan bahwa dalam suatu
tes mempunyai hasil yang sama ketika dilakukan tes
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
koefisien reliabilitas adalah dengan menggunakan persamaan K-R 20,
sebagai berikut:
r11 = ∑
(Arikunto,2009 : 100)
Keterangan :
r11 = realibitas tes secara keseluruhan
p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1-p) ∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
n = banyak item
S = standar deviasi dari tes
Untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh,
maka digunakan tabel berikut:
Tabel 3.3 Interpretasi Koefisien Korelasi Reliabilitas
Koefisien Korelasi Kriteria Reliabilitas
0.800 – 1.000 Sangat tinggi
0.600 – 0.800 Tinggi
0.400 – 0.600 Cukup
0.200 – 0.400 Rendah
0.000 – 0.200 Sangat Rendah
(Surapranata, 2006: 59)
3. Daya Pembeda
Menurut arikunto (2009:211) daya pembeda soal adalah kemampuan
suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan
tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Jadi soal yang
diberikan kepada siswa harus bisa membedakan kelompok siswa yang
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks
diskriminasi, disingkat D. Untuk menghitung daya pembeda tiap item soal
terlebih dahulu menentukan skor total siswa dari siswa yang memperoleh
skor tinggi ke rendah. Kemudian ambil 27% dari kelompok atas dan 27%
dari kelompok bawah. Kemudian hitung daya pembeda dengan
menggunakan rumus :
D = -
(Arikunto, 2009:213)
Keterangan :
: banyaknya peserta kelompok atas
: banyaknya kelompok bawah
BA : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu
dengan benar
BB : banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu
dengan benar
Untuk menginterpretasikan nilai Daya Pembeda yang diperoleh, maka
digunakan tabel berikut:
Tabel 3.4 interpretasi daya pembeda
Nilai DP Interpretasi
Bertanda negative Sangat Buruk
DP < 0.20 Buruk
0.20 < DP < 0.40 Cukup
0.41 < DP < 0.70 Baik
0.70 < DP < 1.00 Baik Sekali
(Sudijono, 2007: 389)
4. Taraf kesukaran Instrumen
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu P =
(Arikunto, 2009:208)
Keterangan :
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
Untuk menginterpretasikan nilai tingkat kesukaran yang diperoleh, maka
digunakan tabel berikut:
Tabel 3.5 Interpretasi Tingkat Kesukaran
Nilai p Interpretasi
P < 0.3 Sukar
0.3 P 0.7 Sedang
P > 0.7 Mudah
(Surapranata, 2006: 21)
Adapun rekapitulasi hasil analisis uji coba instrumen ditunjukkan pada
tabel berikut ini.
Tabel 3.6 Rekapitulasi Hasil Analisis Uji Coba Instrumen
No Validitas
Tingkat
Kesukaran Daya Pembeda Reliabilitas Ket.
Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori
1 0,423 Cukup
0,4 Sedang 0,55 Baik 0,77
Sangat
Tinggi Dipakai
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3 0,410 Cukup 0,82 Mudah 0,22 Cukup Dipakai
4 0,618 Tinggi 0,77 Mudah 0,33 Cukup Dipakai
5 0,067 Sangat
Rendah 0,77 Mudah 0,33 Cukup Dipakai
6 0,511 Cukup 0,62 Sedang 0,44 Baik Dipakai
7 0,170 Sangat
Rendah 0,08
sangat
sukar 0 Buruk
Diperb
aiki
8 0,399 Rendah 0,28 Sukar 0,11 Cukup Dipakai
9 0,280 Rendah 0,37 Sedang 0,22 Cukup Dipakai
10 0,296 Rendah 0,8 Mudah 0,44 Baik Dipakai
11 0,433 Cukup 0,8 Mudah 0,66 Baik Dipakai
12 0,658 Tinggi 0,77 Mudah 0,55 Baik Dipakai
13 0,515 Cukup 0,65 Sedang 0,44 Baik Dipakai
14 0,670 Tinggi 0,74 Mudah 0,44 Baik Dipakai
15 0,641 Tinggi 0,65 Sedang 0,44 Baik Dipakai
16 0,814 Sangat
Tinggi 0,68 Sedang 0,55 Baik Dipakai
17 0,773 Tinggi 0,77 Mudah 0,66 Baik Dipakai
18 0,447 Cukup 0,68 Sedang 0,66 Baik Dipakai
19 0,725 Tinggi 0,77 Mudah 0,33 Cukup Dipakai
20 0,569 Cukup 0,22 Sukar 0 Buruk Dipakai
21 0,472 Cukup 0,48 Sedang 0,88 Baik Dipakai
22 0,052 Sangat
Rendah 0,65 Sedang 0,55 Baik Dipakai
23 0,326 Rendah 0,4 Sedang 0,66 Baik Dipakai
24 0,653 Tinggi 0,45 Sedang 0,88 Baik Dipakai
Berdasarkan tabel diatas diperoleh analisis dari 24 soal yang diujicobakan
memenuhi kriteria kelayakan instrumen penelitian karena dari hasil validitas,
reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda tidak ada nilai yang negatif.
Semua soal tersebut dirancang kembali untuk penelitian, hanya saja ada beberapa
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
h. Teknik Pengolahan Data
1. Analisis Hasil Belajar Siswa pada Ranah Kognitif
a. Pemberian Skor
Semua jawaban pretest dan posttest siswa diberi skor. Skor yang
diberikan untuk jawaban benar adalah satu, sedangkan untuk jawaban
salah adalah nol. Skor total dihitung dari banyaknya jawaban yang
cocok dengan kunci jawaban.
b. Menghitung Rata-Rata Skor Pretest dan Posttest
Nilai rata-rata (mean) dari skor tes baik pretest maupun posttest
dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
̅ =
(Susetyo, 2010: 34)
dengan :
̅ = nilai rata-rata skor pretest maupun posttest X = skor tes yang diperoleh setiap siswa
N = banyaknya data
c. Menghitung Rerata Skor Gain yang Dinormalisasi
Besarnya skor gain yang dinormalisasi ditentukan dengan persamaan
yang dirumuskan oleh Hake (1998):
=
dengan: (Hake,2002)
= Rerata skor gain yang dinormalisasi
Sf = Skor posttest
Si = Skor pretest
Skor gain yang dinormalisasi ini diinterpretasikan untuk menyatakan
kategori peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif siswa.
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Rentang <g> Kategori
0.7 < (<g>) ≤1,0 Tinggi
0.3 < (<g>) ≤0.7 Sedang
(<g>) ≤ 0.3 Rendah
(Hake, 1998) (dalam Maharshak dan Pundak, 2004: 408)
2. Analisis Keterlaksanaan Model Pembelajaran Inquiry based science plus
reading (ISR)
Data hasil observasi keterlaksanaan model pembelajaran dianalisis melalui
tahapan berikut:
a. Menjumlahkan banyaknya aktivitas yang teramati berkenaan dengan
keterlaksanaan tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing yang terdapat
pada lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran yang telah
diamati oleh observer.
b. Menghitung persentase keterlaksanaan model dengan menggunakan
rumus:
∑ ∑
3. Analisis Korelasi Kemampuan Membaca dengan Hasil Belajar pada Ranah
Kognitif
Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi
product moment yang dikemukakan oleh Pearson. Dalam penelitian ini, besarnya
koefisien kolerasi antara dua variabel dirumuskan :
dengan : rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan y
x = skor siswa pada butir item yang diuji validitasnya
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh,
maka digunakan tabel 3.8 untuk menginterpretasikan koefisien korelasi :
Tabel 3.8 Daftar Interpretasi Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi Interpretasi
0,800-1,00 Sangat tinggi
0,600-0,800 Tinggi
0,400-0,600 Cukup
0,200-0,400 Rendah
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di salah satu SMP di kota
Bandung kelas VIII mengenai penerapan model pembelajaran Inquiry Based
Science plus Reading (ISR) untuk meningkatkan hasil belajar pada ranah kognitif
diperoleh kesimpulan bahwa :
1. Secara keseluruhan hasil belajar pada ranah kognitif mengalami peningkatan
setelah diterapkannya model pembelajaran ISR dengan nilai gain
ternormalisasi 0,59 yang berada pada kategori sedang. Pada aspek mengingat
nilai gain ternormalisai sebesar 0,78 yang berada pada kategori tinggi. Pada
aspek memahami gain ternormalisasinya sebesar 0,48 yang berada pada
kategori sedang. Sedangkan pada aspek menerapkan gain ternormalisasinya
sebesar 0,19 yang berada pada kategori rendah.
2. Terdapat hubungan antara kemampuan membaca dengan hasil belajar siswa
pada ranah kognitif. Nilai korelasinya sebesar 0,5 yang berada pada kategori
cukup.
3. Presentase Keterlaksanaan model pembelajaran Inquiry Based Science plus
Reading (ISR) sebesar 97,51. Ini berarti pembelajaran yang dilakukan hampir
secara keseluruhan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
B. Saran
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diajukan beberapa saran
sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan kemampuan siswa pada aspek menerapkan hendaknya
guru memberikan latihan – latihan soal yang lebih kompleks dan juga
pemberian bahan bacaan yang menunjang terhadap kemampuan
menerapkan.
2. Strategi membaca komprehensif CSR dan tugas membaca siswa sebaiknya
dilakukan secara rutin selama satu semester dan dinilai oleh guru, sehingga
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3. Model pembelajaran Inquiry Based science plus Reading (ISR) hendaknya
digunakan dalam pembelajaran di SMP dengan melakukan beberapa
perbaikan agar hasil belajar ranah kognitif dan siswa pada setiap aspeknya
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR PUSTAKA
Alhafizh. (2010). Metode Inquiry.diakses 28 September 2015 dari :
http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/30/metode-inquiry/ [30
Januari 2010].
Arikunto, Suharsimi.(2010). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Arikunto, Suharsimi.(2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. (2013). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Ediso
Dua. Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Zainal.(2011).Penelitian Pendidikan.Bandung:PT Remaja
Rosdakarya
Fraenkel dkk.How to Design and Evaluate Research in Education Eight
Edition.(2011).The McGraw-Hill Companies.
Hake.2002. Relationship of Individual Student Normalized Learning
Gains in Mechanics with Gender, High-School Physics, and Pretest
Scores on Mathematics andSpatial Visualization.Idaho. Physics
Education Research Conference. Tersedia :
http://www.physics.indiana.edu/~hake.
Kho,Dickson.(2014).Pengertian dan Analisis Korelasi Sederhana dengan
Rumus Pearson.Diakses pada 31 Agustus 2015 dari :
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Listyawan, Wawan.(2012). Diakses 6 September 2015 dari :
http://mengejarasa.om/2012/08/model-pembelajaran-inkuiri.html?m=1.
Maharshak, Arie dan Pundak, David. (2004). ” Active Physics Learning
Combining The Marketing Concept With Information
Technology”. J. Educational Technology Systems, Vol. 32(4)
399-418, 2003-2004
Nashihudin,Wahid.(2011). Model Pembelajaran Inquiry Learning
(Pembelajaran Inkuiri). Diakses 22 maret 2015 dari :
http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/07/fakta-rendahnya-minat-baca-masyarakat-indonesia/.
Nurhadi, Budi.(2011). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Sma Pada
Pokok Bahasan Suhu Dan Kalor (Skripsi, Universitas Pendidikan
Indonesia). Tersedia :
http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skripsi=10071
Sanjaya,Wina.(2006).SRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI
STANDAR PROSES PENDIDIKAN.Jakarta.PERDANA MEDIA
GROUP.
Sanjaya, Wina. (2008). Strategi Pembelajaran berorientasi Standar
Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada media
Group.Sumardi.2011. RANAH PENILAIAN KOGNITIF,
AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK. Diakses pada 6 september
2015.Tersedia :
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Santoso, A.(2010). Studi Deskriptif Effect Size Penelitian-Penelitian di
Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta :
Jurnal penelitian Vol. 14.
Solina, Leli.(2012). Analisis Keterampilan Proses Sains Kelas IV Sekolah
Dasar Melalui Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Pada Materi Wujud Benda Dan Sifatnya (Skripsi, Universitas
Pendidikan Indonesia). Tersedia di :
http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skripsi=11225
Sudjana, nana.(2011).Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Sudijono, Anas. (2007). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Sukardi.(2003).METODOLOGI PENELITIAN
PENDIDIKAN.Jakarta:Bumi Aksara.
Surapranata, Sumarna. (2004). Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan
Interpretasi Hasil Tes (Implementasi Kurikulum 2004). Bandung:
Remaja Rosdakarya
Wenning. (2005). “Levels of inquiry: Hierarchies of pedagogical practices
and inquiry processes (revised 2/12)”. J. Phys. Tchr. Educ. Online
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Zhihui Fang.(2010). “Improving Middle School Students’ Science Literacy
Through reading Infusion”. The Journal of Education Reseach.
Lampiran B.1
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu SOAL
Tekanan
1. Di bawah ini yang merupakan pernyataan yang benar mengenai konsep tekanan
adalah… .
a. Semakin besar gaya yang diberikan, maka tekanan yang diderita akan semakin besar
b. Semakin kecil gaya yang diberikan, makate kanan yang diderita akan semakin kecil
c. Semakinbesar luas penampang benda, maka tekanan yang diderita akan semakin besar
d. Semakin kecil luas penampang benda, maka tekanan yang diderita akan semakin kecil
2. Di bawah ini yang merupakan contoh penerapan tekanan dalam kehidupan sehari
–hari adalah… .
a. Alas pada kaki meja dibuat lebar b. Padajalan yang becek lebih baik
menggunakan sepatu high heels daripada sepatukets
c. Masyarakat di daerah bersalju menggunakan sepatu yang alasnya kecil
d. Sirip ikan yang pendek memungkinkan ikan bergerak dalam air
3. Dini lebih senang menggunakan sepatu kets dibandingkan dengan sepatu berhak
tinggi. Ini disebabkan oleh… .
a. Tekanan yang dihasilkan oleh sepatu kets lebih besar dibandingkan dengan sepatu berhak tinggi
b. Tekanan yang dihasilkan oleh sepatu kets lebih kecil dibandingkan dengan sepatu berhak tinggi
c. Luas penampang pada sepatu kets lebih besar, sehingga tekanan yang dihasilkan akan semakin besar
d. Luas penampang pada sepatu berhak tinggi lebih kecil, sehingga tekanan yang dihasilkannya juga akan kecil
4. Perhatikangambar di bawahini!
F F F
Tanah liat
(1) (2) (3)
Ketika ketiga balok tersebut memberikan gaya yang sama, maka pernyataan yang benar di
bawah ini adalah… .
a. Tekanan pada balok (1) lebih kecil daripada tekanan pada balok (3) b. Tekanan pada balok (3) lebih besar
daripada tekanan pada balok (2) c. Tekanan yang paling besar adalah
pada balok (1)
d. Tekanan yang paling besar adalah pada balok (3)
5. Perhatikan gambar di bawah ini!
Diantara keempat balok di atas, apabila gaya yang diberikan keempat balok sama,maka benda yang memberikan tekanan paling besar ditunjukkan oleh gambar nomor… .
a. (1)
Lampiran B.1
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu b. (2)
c. (3) d. (4)
6. Berikut ini merupakan data tekanan dan gaya ketika luas penampangnya dibuat tetap. Jika data tersebut dibuat pola grafiknya, maka grafik yang benar
adalah… .
7. Berikut ini merupakan tabel data tekanan dan luas penampang benda ketika gayanya dibuat tetap. Jika data tersebut dibuat pola grafiknya, maka grafik yang benar
adalah… .
8. Perhatikangambar di bawahini!
Lampiran B.1
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu A
9. Suatu benda memiliki luas penampang 4 m2, jika benda tersebut menekan suatu permukaan tanah sebesar 300 N/m2, maka gaya yang diberikan adalah… .
a. 75 N b. 750 N c. 120 N d. 1200 N
10. Di bawah ini merupakan contoh penerapan tekananzat cairdalam kehidupan sehari- hari, kecuali… .
a. Seorang penyelam membawa oksigen ketika mereka menyelam
b. Lubang penguras diletakkan di bagian dekat dasar bak agar semua kotoran dalam air cepat mengalir
c. Mesin pengangkat mobil d. Paku dibuat tajam agar mudah
ditancapkan
11. Para penyelam tradisional yang menyelam di lautan banyak terganggu
pendengarannya. Hal
inidisebabkankarena …
a. Tekanan udara di dalam zatcair b. Tekanan hidostatis air
c. Gaya angkat air d. Tekanan atmosfer
12. Sebuah tabung diisi penuh dengan air. Jika tabung dilubangi dengan 3 lubang, maka gambar yang tepat untuk
menunjukkan pernyataan tersebut
13. Perhatikangambar di bawahini! \
a. A b. B c. C d. D
14. Berikut ini merupakan tabel data tekanan dan kedalaman ketika massa jenis dibuat tetap. Bila data tersebut dibuat grafik,
maka grafik yang benar adalah… .
Lampiran B.1
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu a. p
15. Seorang penyelam menyelam pada kedalaman 12 m di bawah permukaan air. Jika massa jenis air 1000 kg / m3dan percepatan gravitasi bumi 10 m/s2, maka tekanan hidrostatis yang dialami
penyelamadalah… .
a. 120 Pa b. 1200 Pa c. 12000 Pa d. 120000 Pa
16. Perhatikan gambar di bawah ini!
Percepatan gravitasi 10 m/s2, jika luas penampang ikan yang tertekan oleh air 6 cm2, maka gaya yang menekan ikan dari
air di atasnya adalah… .
a. 5,1 N b. 85 N c. 850 N d. 8500 N
17. Di bawah ini merupakan pernyataan yang benar mengenai bunyi Hukum Pascal
adalahTekanan dalam zat cair… .
a. Akan diteruskan ke semua arah dengan tidak sama rata
b. Akan diteruskan ke semua arah dengan sama rata
c. Tidak diteruskan ke semua arah dengan tidak sama rata
d. Tidak diteruskan ke semua arah dengan sama rata
18. Di bawah ini merupakan contoh penerapan Hukum Pascal dalam kehidupan sehari – hari, kecuali… .
a. Dongkrak hidrolik b. Rem hidrolik
c. Mesin pengangkat mobil d. Air mancur
19. Mesin pengangkat mobil merupakan salah satu contoh penerapan… .
a. Hukum bejana berhubungan b. Hukum Pascal
c. Tekanan hidrostatis d. Hukum Archimedes 20. Sebuah alat pengangkat mobil
menggunakan luas penampang pengisap
Lampiran B.1
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kecil 10 cm2danpengisap besar 50 cm2. Gaya yang harus diberikan agar dapat mengangkat mobil 20.000 N adalah… . a. 4000 N
b. 40.000 N c. 10.000 N d. 100.000 N
21. Sebuah dongkrak dengan skema seperti pada gambar.
Dari data yang tertera pada gambar dapat diperoleh gaya F2 sebesar… .
a. 20 N b. 25 N c. 40 N d. 75 N
22. Konsep yang digunakan tukang bangunan untuk menyamakan ketinggian dalam proyek pembangunannya adalah … .
a. Hukum pascal b. Tekanan hidrostatik
c. Hukum bejana berhubungan d. Hukum archimedes
23. Di bawah ini yang termasuk contoh penerapan bejana berhubungan dalam kehidupan sehari-hari adalah… .
a. Teko b. Termos c. Dispenser d. Panci
24. Alat yang prinsip kerjanya berdasarkan Hukum Pascal adalah… .
a. Alat pengangkat mobil b. Galangan kapal
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
KISI – KISI SOAL
Kompetensi Dasar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
No Indikator Soal Aspek
konsep tekanan C1
1. Tekanan merupakan… .
a. gaya yang diberikan pada luasan tertentu
b. gaya yang menyebabkan perpindahan posisi benda c. gaya yang diberikan untuk melakukan usaha d. gaya yang diberikan pada ketinggian tertentu
A
2. Di bawah ini yang termasuk factor yang mempengaruhi tekanan pada zat padat adalah… .
a. massa b. berat
c. luas permukaan d. volume
3. Tekanan akan semakin besar apabila… . a. luas permukaannya semakin besar b. luas permukaannya semakin kecil c. gaya yang diberikannya diperkecil d. gaya yang diberikannya konstan 4. Perhatikan gambar di bawah ini!
C
B
C
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C3
Diantara keempat balok di atas, yang memberikan tekanan paling besar ditunjukkan oleh gambar nomor… .
a. (1) b. (2) c. (3) d. (4)
5. Perhatikan gambar di bawah ini!
Diantara keempat bentuk di atas, yang akan memberikan tekanan paling besar adalah nomor… .
a. I
6. Sebuah kotak yang beratnya 800 N dan luas alasnya 2 m2 diletakkan di atas lantai. Maka tekanan yang dihasilkan adalah… .
a. 1600 N/m2 b. 800 N/m2 c. 400 N/m2 d. 200 N/m2
7. Bila sebuah kotak berukuran 20 cm x 10 cm x 8 cm diletakkan di atas lantai. Tekanan yang paling besar dihasilkan apabila bagian yang menyentuh lantai adalah … .
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C3
C3
8. Sebuah kotak memiliki tekanan sebesar 500 N/m2, bila diketahui luas alasnya 2 m2. Maka gaya yang diberikan oleh kotak tersebut adalah.. .
a. 250 N b. 500 N c. 750 N d. 1000 N
9. Sebuah kotak memiliki tekanan sebesar 400 N/m2, bila diketahui gaya yang diberikan kotak sebesar 800 N. Maka luas alas kotak tersebut
adalah… .
10. Di bawah ini yang termasuk faktor yang mempengaruhi tekanan hidrostatis adalah… .
a. luas permukaan b. gaya
c. kedalaman d. volume
11. Tekanan hidrostatis akan semakin besar apabila… . a. gayanya semakin besar
b. luas permukaannya semakin kecil c. kedalamannya semakin besar d. massa jenisnya semakin kecil
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
a. Titik A b. Titik B c. Titik C d. Titik D
5
Memformulasikan hukum pascal
C1
C3
14. Tekanan yang diberikan pada zat akan diteruskan ke segala arah oleh zat cair itu sama besar. Pernyataan tersebut dinamakan… . a. Hukum Boyle
b. Hukum Archimedes c. Hukum Pascal d. Hukum Newton
15. Perhatikan gambar di bawah ini!
Berdasarkan gambar di atas, Pernyataan di bawah ini yang benar adalah… .
a. tekanan yang diberikan akan lebih besar, sehingga memudahkan mengangkat beban yang berat
b. gaya yang diberikan lebih kecil untuk mengangkat beban yang berat
c. gaya yang diberikn akan lebih besar untuk mengangkat beban yang berat
C
B
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C3
d. tekanan yang diberikan akan besar sehingga gaya yang diberikannya juga akan semakin besar
16. sebuah mesin pengangkat mobim memiliki luas penampang kecil dan besar seluas 8 cm2 dan 20 cm2. Jika gaya tekan di penampang kecil 20 N, maka gaya angkat di penampang besar adalah… . a. 8 N
17. Di bawah ini yang bukan termasuk contoh penerapan Hukum Pascal dalam kehidupan sehari –hari adalah… .
a. dongkrak hidrolik b. mesin pengangkat mobil c. mesin pada kapal laut d. pompa hidrolik
18. Prinsip kerja yang digunakan mesin pengangkat mobil adalah… . a. Hukum Boyle
b. Hukum Archimedes c. Hukum Pascal
19. Sebuah benda ditimbang di udara beratnya 50 N. Setelah ditimbang di dalam air beratnya menjadi 30 N. Benda tersebut mendapat gaya angkat sebesar… .
a. 80 N b. 50 N c. 30 N d. 20 N
HADIANI NURAZIZAH M, 2015
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu contoh penerapan
Hukum Archimedes. Kecuali… . a. kapal selam
b. kapal laut
c. mesin pengangkat mobil d. hidrometer
21. kapal selam merupakan salah satu contoh penerapan… . a. Hukum Pascal
b. Hukum Boyle c. Hukum Archimedes d. Hukum Newon
22. Ketika kita mengangkat teman kita di dalam kolam renang akan terasa lebih ringan dibandingkan ketika mengangkatnya di luar air. Hal ini disebabkan oleh… .
a. ketika di dalam kolam berat badan seseorang menjadi lebih kecil sehingga mempermudah mengangkat beban yang berat
b. ketika di dalam kolam renang tekanan yang diberikan kecil sehingga mempermudah mengangkat beban yang berat c. di dalam kolam terdapat bantuan dari gaya apung air sehingga
mempermudah mengangkat beban yang berat
d. di dalam kolam renang terdapat tekanan hidrostatis yang membantu mengangkat beban yang berat
C
23. Apabila suatu benda tenggelam di dalam air, berarti… . a. benda tersebut berat
b. benda tersebut ringan
c. massa jenis benda lebih besar daripada massa jenis air d. massa jenis benda lebih kecil dari massa jenis air 24. apabila suatu benda melayang di dalam air, berarti… .
a. benda tersebut berat b. benda tersebut ringan
c. massa jenis benda lebih besar daripada massa jenis air d. massa jenis benda sama denan massa jenis air
C