• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif."

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

INQUIRY-BASED

SCIENCE PLUS READING

(ISR) UNTUK MENINGKATKAN HASIL

BELAJAR SISWA PADA RANAH KOGNITIF

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari

Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Pendidikan Fisika

Oleh

HADIANI NURAZIZAH M

0900501

DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

(2)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY-BASED SCIENCE PLUS READING (ISR) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

SISWA PADA RANAH KOGNITIF

Oleh

Hadiani Nurazizah M

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam

© Haiani Nurazizah M 2015

Universitas Pendidikan indonesia

2015

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan

(3)
(4)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Latar belakang penelitian Penerapan Model Pembelajaran inquiry Based Science Plus Reading ini adalah adanya dugaan proses pembelajaran kurang memberikan fasilitas untuk melatihkan kemampuan kognitif siswa. Siswa kurang dilibatkan dalam di dalam pembelajaran karena guru menggunakan penjelasan secara langsung. Penjelasan yang diberikan secara matematis sehingga siswa kurang memahami konsep yang dipelajari. Selain itu,, penjelasan konsep tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak bisa menerapkan konsep dengan baik. Adanya kesulitan dalam membangun pemikiran karena siswa tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup sehingga siswa perlu diberikan tugas membaca. Oleh karena itu, diperlukan adanya metode yang dapat melatihkan kemampuan kognitif siswa dan memberikan bekal pengetahuan yang banyak. Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading cocok untuk melatihkan kemampuan kognitif siswa karena model pembelajaran ini memungkinkan siswa dilibatkan dalam pembelajaran melalui suatu percobaan, sehingga siswa bisa lebih mengetahui dan memahami konsep yang sedang dipelajari. Selain itu di dalam pembelajarannya, siswa diberikan tugas membaca sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah Pre-Experiment Design dengan menggunakan teknik one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 33 siswa kelas VIII. Hasil belajar pada ranah kognitif ini mengacu pada Taksonomi Bloom dan pembelajaran inkuiri yang digunakan berupa interactive demonstration. Hasil belajar siswa pada aspek mengingat diperoleh nilai gain yang dinormalisasi sebesar 0,78 kategori tinggi, pada aspek memahami diperoleh nilai gain ternormalisasi 0,48 kategori sedang, dan pada pada aspek menerapkan diperoleh nilai gain yang dinormalisasi sebesar 0,19 kategori rendah. Korelasi kemampuan membaca dengan hasil belajar pada ranah kognitif diperoleh sebesar 0,5 dengan kategori cukup.

(5)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRACT

APLICATION OF INQUIRY BASED SCIENCE LEARNING MODEL PLUS READING TO IMPROVE STUDENT ACHIEVEMENT IN COGNITIVE

The background of research Aplication Inquiry Based Science Learning Model Plus Reading is alleged the learning process not provide facilities for exercise students' cognitive abilities. Students are less involved in learning because teachers in the use of annotations directly. The explanation given mathematically so that students do not understand the concept. In addition ,, explanation of the concept is not associated with everyday life so that students can not apply the concept properly. The difficulties in developing thinking because students do not have a sufficient stock of knowledge that students need to be given the task of reading. Therefore, it is necessary to have a method that can exercise students' cognitive abilities and give a stock of knowledge that a lot. Inquiry Based Science Learning Model Reading Plus is suitable for exercise students' cognitive abilities because this model allows students to be involved in learning through an experiment, so that students can better know and understand the concepts being studied. Also in learning, students are given reading assignments before learning activities. The method that used was Pre-Experiment that using the technique design one group pretest-posttest design. These samples included 33 students of class VIII SMP Negeri 29 Bandung. Learning outcomes in the cognitive domain refers to Bloom's Taxonomy and inquiry learning is used in the form of an interactive demonstration by Wenning. Student learning outcomes in considering aspects of a normalized gain value obtained was 0.78 higher category, in the aspect of understanding the values obtained normalized gain of 0.48 medium category, and in the aspect of applying a normalized gain value obtained 0.19 lower category. Correlation literacy learning outcomes in the cognitive obtained at 0.5 with enough categories

(6)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK... i

KATA PENGANTAR... iii

UCAPAN TERIMAKASIH... iv

DAFTAR ISI... iv

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR GAMBAR... vi

DAFTAR LAMPIRAN... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 4

C. Batasan Masalah... 4

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Penelitian ... 5

F. Struktur Organisasi ... 5

BAB II MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY-BASED SCIENCE PLUS READING (ISR) DAN KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA RANAH KOGNITIF………. 7

A. Hasil Belajar pada Ranah Kognitif ... 7

B. Model Pembelajaran inkuiri. ... 10

C. Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) . 16 D. Model Pembelajaran Inquiry-Based Science Plus Reading (ISR) dan Kaitannya dengan Peningkatan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif...19

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 25

A. Metode Penelitian ... 21

B. Desain Penelitian ... 21

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 22

(7)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

E. Prosedur Penelitian ... 23

F. Instrumen Penelitian ... 25

G. Teknik Analisis Instrumen Penelitian ... 26

H. Teknik Pengolahan Data ... 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34

A. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Ranah Kognitif ... 34

B. Hubungan Kemampuan Membaca dengan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif ... 36

C. Keterlaksanaan Model Pembelajaran ISR ... 36

D. Pembahasan Hasil Penelitian... 41

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

A. Kesimpulan ... 42

B. Saran ... 42

(8)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Kategori Taksonomi Anderson-Kratwohl... 16

Tabel 2.2. Hubungan Tahapan Inkuiri Terbimbing dengan Pemahaman Konsep... 17

Tabel 2.3. Hubungan antara Konsep Essensial Tekanan dengan Kategori Kognitif Anderson yang dilatihkan... 18 Tabel 3.1. One Group Pre-test Post-test... 20

Tabel 3.2. Validitas Instrumen... 26

Tabel 3.3. Reliabilitas Instrumen... 27

Tabel 3.4. Tingkat Kesukaran Butir Soal... 28

Tabel 3.5. Tingkat Kesukaran Soal Uraian... 29

Tabel 3.6. Daya Pembeda... 29

Tabel 3.7. Hasil Uji Instrumen Soal Pilihan Ganda... 30

Tabel 3.8. Hasil Uji Instrumen Soal Uraian... 31

Tabel3.9. Kriteria Effect Size... 34

Tabel 4.1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian... 36

Tabel 4.2. Data Effect Size Cohen Seluruh Soal... 37

Tabel 4.3. Data Effect Size Cohen pada Kategori Kognitif Menafsirkan... 37

(9)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Membandingkan... 38

Tabel 4.5. Data Effect Size Cohen pada Kategori Kognitif Mencontohkan.

Tabel 4.6. Data Effect Size Cohen pada Kategori Kognitif Menjelaskan.... 38

39

(10)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berkembang pesat.

Perkembangan yang dialami dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini

membutuhkan penyikapan yang tepat dan pemikiran yang luas dalam

penggunaanya. Hal ini dapat dicapai oleh sumber daya manusia yang berkualitas.

Yaitu yang dapat memahami pengetahuan dengan baik dan menggunakannya

dengan tepat. Serta ilmu yang didapat dapat dikembangkan dengan baik dengan

memberikan inovasi terbaru sehingga dapat bermanfaat bagi lingkungan di

sekitar.

Salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas

adalah memiliki pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik tidak terlepas dari

proses pembelajaran yang didapat dari setiap satuan pendidikan. Salah satunya

adalah pembelajaran Ilmu Pengtahuan Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA) berkaitan dengan c a r a m e n c a r i t a h u t e n t a n g

a l a m s e c a r a s i s t e m a t i s , s e h i n g g a I P A

b u k a n h a n y a p e n g u a s a a n k u m p u l a n

p e n g e t a h u a n b e r u p a f a k t a - f a k t a , k o n s e p – k o n s e p , a t a u p r i n s i p – p r i n s i p s a j a t e t a p i j u g a m e r u p a k a n p r o s e s p e n e m u a n

( p e r m e n d i k n a s , 2 0 0 6 ) . B e r d a s a r k a n

p e r m e n d i k n a s t e r s e b u t d a l a m k e g i a t a n

p e m b e l a j a r a n I P A d i p e r l u k a n a d a n y a

p r o s e s p e m b e l a j a r a n y a n g m e n g h a r u s k a n

s i s w a u n t u k m e n e m u k a n s e n d i r i k o n s e p – k o n s e p , f a k t a - f a k t a a t a u p r i n s i p – p r i n s i p y a n g s e d a n g d i p e l a j a r i , s e h i n g g a

s i s w a a k a n m e m a h a m i i l m u

p e n g e t a h u a n n y a . Hal ini sesuai dengan hakekat IPA yang terdiri

(11)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

adalah fakta, hukum, prinsip, teori dan konsep. Adapun yang termasuk dalam

kategori proses adalah keterampilan-keterampilan dasar yang biasa digunakan

para ilmuwan dalam bekerja secara ilmiah, sedangkan yang termasuk dalam

sikap yaitu pembentukan sikap setelah mempelajari produk dan proses tersebut.

F i s i k a m e r u p a k a n s a l a h s a t u b a g i a n

d a r i I P A , m a k a d a l a m p e m b e l a j a r a n n y a

j u g a d i p e r l u k a n p r o s e s p e n e m u a n d a l a m

p e m b e l a j a r a n n y a s e h i n g g a s i s w a

m e n d a p a t k a n h a s i l b e l a j a r y a n g b a i k . Akan

tetapi berbeda dengan kenyataan di lapangan. Berdasarkan studi pendahuluan

yang peneliti lakukan pada tanggal 24 Januari 2013 kegiatan proses pembelajaran

yang berlangsung kurang memberikan fasilitas pada siswa untuk melatihkan

kemampuan kognitifnya. Pada saat pembelajaran guru menjelaskan materi secara

langsung dan lebih banyak menggunakan penjelasan secara matematis. Siswa

langsung diberikan formulasi dari sebuah konsep, sedangkan konsepnya sendiri

hanya dijelaskan secara singkat. Hal ini menyebabkan pengetahuan dan

pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari kurang baik. Siswa tidak

dilibatkan secara langsung dalam pembelajaran, siswa lebih banyak menerima

penjelasan dari guru, sehingga siswa tidak bisa melatihkan keterampilan

berpikirnya. Dalam pembelajaranya juga materi yang diberikan kurang dikaitkan

dengan kehidupan sehari – hari sehingga siswa kurang memahami materi pembelajaran yang sedang dipelajari, oleh sebab itu kemampuan memahami

siswa juga kurang baik. Di akhir pembelajaran siswa juga kurang diberikan

latihan dalam penerapan suatu materi atau konsep yang sedang dipelajari,

Sehingga kemampuan siswa dalam menerapkan suatu konsep ke dalam

permasalahan dalam fisika sangat kurang. Pembelajaran seperti ini menyebabkan

hasil belajar siswa rendah, hal ini terlihat dari nilai rata – rata Ulangan Tengah Semester (UTS) siswa 58,70.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif diperlukan

adanya suatu model pembelajaran yang bisa membimbing siswa menemukan dan

(12)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sehingga pembelajaran akan terasa bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang

bermakna akan tertanam dalam memori siswa dalam jangka waktu yang panjang

sehingga kemampuan siswa dalam mengingat, memahami dan menerapkan dapat

meningkat. Model pembelajaran yang dianggap cocok diterapkan adalah Model

Pembelajaran Inkuiri karena di dalamnya terdapat proses penemuan sehingga

memungkinkan siswa dapat meningkatkan hasil belajar pada ranah kognitif.

Seperti yang dikemukakan Gulo (dalam Listyawan,2012) bahwa inkuiri tidak

hanya mengembangkan kemampuan dan intelektual tetapi seluruh potensi yang

ada termasuk pengembangan emosional dan keterampilan inkuiri merupakan

suatu proses yang bermula dari merumuskan hipotesis, mengumpulkan data,

menganalisis data dan membuat kesimpulan. Berdasarkan pernyataan tersebut

model inkuiri ini sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa

karena di dalam proses pembelajarannya siswa difasilitasi untuk bisa melatihkan

kemampuan kognitif dari kegiatan pembelajaran yang melatihkan siswa

bereksperimen. Dari kegiatan eksperimen ini siswa dapat melakukan proses

penemuan sendiri mengenai konsep yang sedang dipelajari, sehingga kegiatan

pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa.

Pada prosesnya, pembelajaran inkuiri sulit diterapkan pada siswa SMP,

menurut Alhafizh (2010) “inquiry ini baru dilaksanakan pada tingkat SLTA, Perguruan Tinggi, dan untuk tingkat SLTP dan tingkat SD masih sulit

dilaksanakan”. Hal ini dikarenakan pengetahuan awal yang dimiliki siswa tidak cukup untuk berinkuiri. Pembelajaran inkuiri menekankan pada proses

penyelidikan ilmiah secara mandiri oleh siswa, siswa juga dituntut untuk

mengkonstruksi pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru yang

akan didapatkannya, sehingga pengetahuan awal sangat berperan penting dalam

pembelajaran inkuiri. Pengetahuan awal bisa didapatkan dengan berbagai cara,

salah satunya dengan membaca informasi awal berkaitan dengan penyelidikan

ilmiah yang akan dilakukan.

Maka dari itu perlu adanya modifikasi dari pembelajaran inkuiri. Salah satu

alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran

(13)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dari hasil penelitian oleh Zhihui Fang dengan judul Improving Middle School Students’ Science Literacy Through Reading Infusion. Adapun inquiry based science plus reading adalah model pembelajaran inkuiri yang telah dimodifikasi

dan disisipkan latihan kemampuan membaca untuk memperoleh pengetahuan

awal siswa. Latihan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan

membaca siswa khususnya kemampuan memahami bacaan. Latihan kemampuan

membaca dilaksanakan dengan cara membawa anak-anak ke perpustakaan dan

melatihkan keterampilan membaca dengan teknik tertentu selama 15-22 menit

perminggu dan diberikan akses untuk memotivasi membaca di rumah serta

merefleksikan pengetahuan yang didapat melalui home reading program.

Berdasarkan paparan di atas, penulis merasa perlu melakukan penelitian

mengenai pembelajaran inkuiri dengan terlebih dahulu melatihkan kemampuan

membaca pada siswa sehingga diharapkan siswa mempunyai pengetahuan awal

yang cukup dan lebih siap berinkuiri. Akan tetapi, dengan adanya berbagai

keterbatasan yang ada, penerapan model tersebut dimodifikasi menyesuaikan

sarana dan prasarana yang menunjang, serta waktu yang memungkinkan untuk

hal tersebut. Seperti halnya, perpustakaan yang belum memadai dan waktu

pembelajaran yang kurang mengakibatkan adanya modifikasi pada tahap

melatihkan membaca. Latihan membaca hanya dilakukan diawal yang

selanjutnya siswa diberikan bahan bacaan setiap minggunya sesuai dengan materi

yang akan disampaikan. Dalam setiap artikel tersebut diberikan beberapa

pertanyaan yang akan memperlihatkan kemampuan membaca siswa.

Dengan demikian, penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Ranah Kognitif

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan diatas, identifikasi masalah yang ditemukan adalah

hasil belajar siswa yang rendah . Oleh karena itu maka rumusan permasalahan

dalam penelitian ini adalah : “ Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif setelah diterapkannya model pembelajaran Inquiry Based

(14)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Selanjutnya untuk menentukan langkah-langkah penelitian, rumusan

masalah di atas diuraikan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif pada

setelah diterapkannya model pembelajaran Inquiry Based Science Plus

Reading (ISR)?

2. Bagaimanakah hubungan kemampuan membaca siswa dengan peningkatan

hasil belajar siswa pada ranah kognitif?

3. Bagaimanakah keterlaksanaan model pembelajaran Inquiry Based Science

Plus Reading (ISR) di kelas?

C. Batasan Masalah

Variabel penelitian dalam penelitian ini yaitu hasil belajar siswa dalam ranah

kognitif dan model pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading(ISR). Agar

penelitin lebih terfokus, maka peneliti membatasi variabel-variabel tersebut

sebagai berikut :

 Pembelajaran Inkuiri yang dimaksud, dibatasi pada Interactive

Demonstration menurut Wenning.

 Dikarenakan pada penelitian ini standar kompetensi yang digunakan adalah menyelidiki maka hasil belajar ranah kognitif siswa yang dimaksud dibatasi

pada jenjang C1 sampai C3 yang ada pada taksonomi Bloom.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang diungkapkan sebelumnya, maka tujuan

yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Memperoleh gambaran peningkatan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif

setelah diterapkannya Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus

Reading (ISR) di kelas.

2. Memperoleh gambaran kaitan antara kemampuan membaca dengan

peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif.

3. Memperoleh gambaran keterlaksanaan penerapan Model Pembelajaran

Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) di kelas.

(15)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hasil penelitian dengan penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based

Science Plus Reading (ISR) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah

kognifif diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik dalam pendidikan.

Diantaranya sebagai berikut :

1. Memberikan informasi mengenai Model Pembelajaran Inquiry Based Science

Plus Reading (ISR).

2. Memberikan alternatif strategi pembelajaran Inkuiry Based Science Plus

Reading (ISR) untuk diterapkan dalam pembelajaran fisika.

3. Sebagai rujukan bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah

kognitif.

4. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya mengenai Model

Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR).

F. Struktur Organisasi

Struktur organisasi penyusunan sistematika pada penelitian yang berjudul

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) Untuk

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Ranah Kognitif yaitu sebagai berikut :

BAB I berisi mengenai latar belakang penelitian, identifikasi masalah,tujuan

penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi.

BAB II berisi mengenai hasil belajar pada ranah kognitif, Model Pembelajaran

Inquiry Based Science Plus Reading (ISR) dan Model Pembelajaran Inquiry

Based Science Plus Reading (ISR) dalam peningkatan hasil belajar siswa pada

ranah kognitif.

BAB III berisi mengenai metode penelitian, desain penelitian, populasi dan

sampel penelitian, instrument penelitian, teknik pengumpulan data, prosedur

penelitian, teknik analisisi instrument penelitian dan teknik pengolahan data yang

dipakai dalam penelitian.

BAB IV berisi mengenai hasil peningkatan belajar siswa pada ranah kognitif,

menampilkan profil membaca siswa, keterlaksanaan Model Pembelajaran Inquiry

Based Science Plus Reading (ISR) dan pembahasan hasil penelitian yang

(16)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V berisi kesimpulan yang diperoleh setelah penelitian dan saran yang diberikan

(17)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

a. Metode Penelitian

Karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerpan model

pembelajaran ISR, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode

Pre-experiment. Menurut Arikunto (2010:123) metode pre-experiment ini sering

disebut juga dengan “quasi experiment” atau eksperimen semu. Penelitian

eksperimen semu digunakan untuk melihat pengaruh penerapan model

pembelajaran ISR terhadap hasil belajar siswa pada ranah kognitif.

b. Desain Penelitian

Sesuai dengan metode penelitian, maka desain penelitian yang dipakai adalah

Pre-Experiment Design dengan menggunakan teknik one group pretest-posttest

design. Ini sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin melihat peningkatan hasil

belajar siswa setelah dilakukan penerapan model pembelajaran ISR.

Pada desain ini peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif bisa

dilihat dari hasil pretest dan postest. Pretest dilakukan sebelum siswa

mendapatkan perlakuan , yaitu model pembelajaran ISR. Setelah mendapat data

pretest, perlakuan diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Peningkatan

peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif bisa dilihat dari perbedaan

hasil pretest dan posttest.

Berikut merupakan tabel 3.1 desain penelitian one group pretest posttest design

(Fraenkel dkk, 2011: 269)

Tabel 3.1 Diagram one group pretest posttest design

Pretest Treatment Posttest

O1 X O2

Keterangan :

(18)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu X = Penerapan model pembelajaran ISR

O2 =tes akhir posttest setelah diberikan treatment

c. Populasi dan Sampel Penelitian

Dalam metode penelitian, populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian

(arikunto, 2010 : 173). Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil dari

populasi yang diteliti (arikunto, 2010 : 174). Oleh karena itu sampel sebaiknya

harus mewakili populasi yang dijadikan subjek penelitian.

Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMP Negeri di kota Bandung.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VIII. Sedangkan sampel yang

dijadikan dalam penelitian ini adalah salah satu kelas VIII di sekolah tersebut yang

terdiri dari 33 siswa. Kelas VIII dipilih menggunakan teknik random sampling. Diantara

keseluruhan populasi kelas VIII di sekolah tersebut, Kelas VIII ini memiliki kemampuan

kognitif yang sedang dibandingkan dengan kelas yang lain dan kemampuan rata – rata

setiap orangnya beragam dari yang terendah sampai tertinggi.

d. Definisi Operasional

Definisi Operasional ialah semua variabel dan istilah yang akan digunakan

dalam penelitian secara operasional, sehingga mempermudah pembaca / penguji

dalam mengartikan makna penelitian. (Nursalam & Sisi Paniani,2012. dalam

prabowo)

Beberapa istilah perlu didefinisikan agar diperoleh gambaran yang jelas

mengenai variabel – variabel yang berkaitan dengan penelitian. Berikut dipaparkan definisi operasional variabel yang digunakan pada penenlitian :

1. Hasil Belajar Ranah Kognitif

Hasil belajar pada ranah kognitif yaitu hasil belajar yang berkenaan dengan

hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau

ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi (sudjana, 22:2011).

Pada penelitian ini hasil belajar kognitif yang digunakan adalah taksonomi

Bloom. Hasil belajar pada ranah kognitif yang diukur meliputi aspek mengingat,

(19)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ganda yang diberikan sebelum pembelajaran (pretest) dan setelah pembelajaran

(posttest).

2. Inquiry-Based Science Plus Reading (ISR)

Inquiry-Based Science Plus Reading (ISR) merupakan suatu model

pembelajaran ilmiah bersifat inkuiri (penemuan) yang dikombinasikan dengan

strategi membaca (reading infusion). Strategi membaca yang dijadikan rujukan

oleh penulis yaitu Collaborative Strategic Reading (CSR) menurut Janette

Klingner. Model pembelajaran ISR menurut Zhihui Fang dan Youhua Wei terdiri

dari dua komponen reading infusion yaitu reading strategi instruction dan home

science reading program. Model ini bertujuan membantu siswa dalam

memproses informasi yang dimiliki atau dari input menjadi output yang berguna

untuk memecahkan suatu permasalahan dalam kehidupannya. Untuk mengukur

keterlaksanaan pembelajaran dengan model ISR dilakukan observasi terhadap

kegiatan guru menggunakan lembar observasi keterlaksanaan model

pembelajaran berdasarkan RPP yang dirancang.

e. Prosedur Penelitian

Adapun urutan prosedur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Tahap Studi Pendahuluan

1. Melakukan observasi selama pembelajaran di kelas dan menganalisis

hasil belajar siswa.

2. Melakukan studi literatur mengenai teori yang melandasi penelitian

3. Merumuskan masalah penelitian berdasarkan hasil studi pendahuluan

4. Menyusun proposal

b. Tahap Persiapan dan Perencanaan

1. Melakukan studi kurikulum SK dan KD mata pelajaran fisika

mengenai pokok bahasan yang akan dijadikan penelitian.

2. Menyusun perangkat pembelajaran berupa RPP dan bahan ajar sesuai

(20)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Menyusun instrumen penelitian yang meliputi kisi-kisi soal dan

format observasi keterlaksanan model pembelajaran.

4. Membuat surat ijin penelitian.

5. Mengkonsultasikan dan men-judgment instrumen penelitian kepada

dua dosen fisika dan satu guru mata pelajaran fisika.

6. Mengujicobakan instrumen penelitian yang telah di-judgment.

7. Menganalisis hasil uji coba instrumen penelitian, kemudian

menentukan soal yang layak untuk dijadikan insrumen penelitian.

c. Tahap Pelaksanaan

1. Memberikan pretest kepada sampel penelitian.

2. Memberikan treatment kepada sampel berupa model pembelajaran

ISR.

3. Memberikan posttest kepada sampel untuk mengetahui peningkatan

hasil belajar pada ranah kognitif siswa setelah diterapkannya model

pembelajaran ISR.

d. Tahap Akhir

1. Mengolah data hasil pretest dan posttest.

2. Menganalisis peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif.

3. Memberikan kesimpulan dan saran.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini digambarkan dalam

(21)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian

f. Instrumen Penelitian

Karena penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran peningkatan hasil

belajar siswa pada ranah kognitif, maka instrumen yang digunakan berupa tes

dan nontes. Analisis Data Hasil

Penelitian Penyusunan Laporan Kesimpulan

Penerapan Model ISR Pengambilan Data

Postest

Menyusun instrumen penelitian Judgement instrumen

Uji coba instrumen

Analisis instrument

(uji validitas,reabilitas,tingkat kesukaran dan daya pembeda)

Pengambilan Data Pretest

Studi Literatur Studi

Pendahuluan

Studi kurikulum SK dan KD pelajaran fisika

Menyusun perangkat pembelajaran

(22)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Instrumen merupakan alat yang digunakan untuk medapatkan data hasil

penelitian. Instrument digolongkan menjadi dua golongan yaitu tes dan nontes

(arikunto, 2006). . Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan

permasalahan dan variabel-variabel penelitian adalah sebagai berikut:

1. Soal Pilihan Ganda

Intrumen yang digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa pada

ranah kognitif berupa soal pilihan ganda yang memuat aspek ingatan (C1),

pemahaman (C2), dan aplikasi (C3).Tes ini dilakukan dua kali yaitu sebelum

siswa diberikan treatment dan setelah diberikan treatment.

2. Lembar Observasi Keterlaksanaan model Pembelajaran ISR

Untuk memperoleh gambaran aktivitas guru dan siswa selama proses

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ISR digunakan

Instrumen berupa lembar observasi partisipasi pengamat yaitu dengan

menggunakan tanda ceklis pada kolom susunan aktivitas serta terdapat kolom

yang memuat saran-saran observer selama proses pembelajaran.

g. Teknik Analisis Insrumen Penelitian

1. Analisis Validitas Instrumen

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

kevalidan atau kesahihan suatu instrument (Arikunto,2010:211). Suatu

instrument yang valid atau sahih memiliki validitas yang tinggi. Sebaliknya

instrument yang kurang valid atau sahih akan memiliki validitas yang

rendah. Sebuah instrument dikatakan valid apabila instrument tersebut

mampu mengukurapa yang hendak diinginkan dan dapat mengungkap data

dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrument

menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari

gambaran tentang validitas yang dimaksud.

Sebuah instrumen dikatakan memiliki validitas apabila hasilnya sesuai

(23)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kriteria(Arikunto,2009:69). Teknik yang digunakan untuk mengetahui

kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh

Pearson. Dalam penelitian ini, besarnya koefisien kolerasi antara dua

variabel dirumuskan :

dengan : rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan y

x = skor siswa pada butir item yang diuji validitasnya

y = skor total yang diperoleh siswa

Untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh,

maka digunakan tabel 3.2 untuk menginterpretasikan koefisien relasi :

Tabel 3.2 Daftar Interpretasi Koefisien Relasi

Koefisien korelasi Interpretasi

0,800-1,00 Sangat tinggi

0,600-0,800 Tinggi

0,400-0,600 Cukup

0,200-0,400 Rendah

0,00-0,200 Sangat rendah

2. Analisis Reabilitas Instrumen

Reliabilitas disebut juga dengan konsistensi atau keajegan. Suatu

instrument penelitian dikatakan mempunyai nilai reabilitas yang tinggi,

apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang kosnsiten dalam mengukur

yang hendak diukur. Ini berarti semaki reliabel suatu tes memiliki

persyaratan maka semakin yakin kita dapat menyatakan bahwa dalam suatu

tes mempunyai hasil yang sama ketika dilakukan tes

(24)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

koefisien reliabilitas adalah dengan menggunakan persamaan K-R 20,

sebagai berikut:

r11 =

(Arikunto,2009 : 100)

Keterangan :

r11 = realibitas tes secara keseluruhan

p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar

q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1-p) ∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q

n = banyak item

S = standar deviasi dari tes

Untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh,

maka digunakan tabel berikut:

Tabel 3.3 Interpretasi Koefisien Korelasi Reliabilitas

Koefisien Korelasi Kriteria Reliabilitas

0.800 – 1.000 Sangat tinggi

0.600 – 0.800 Tinggi

0.400 – 0.600 Cukup

0.200 – 0.400 Rendah

0.000 – 0.200 Sangat Rendah

(Surapranata, 2006: 59)

3. Daya Pembeda

Menurut arikunto (2009:211) daya pembeda soal adalah kemampuan

suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan

tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Jadi soal yang

diberikan kepada siswa harus bisa membedakan kelompok siswa yang

(25)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks

diskriminasi, disingkat D. Untuk menghitung daya pembeda tiap item soal

terlebih dahulu menentukan skor total siswa dari siswa yang memperoleh

skor tinggi ke rendah. Kemudian ambil 27% dari kelompok atas dan 27%

dari kelompok bawah. Kemudian hitung daya pembeda dengan

menggunakan rumus :

D = -

(Arikunto, 2009:213)

Keterangan :

: banyaknya peserta kelompok atas

: banyaknya kelompok bawah

BA : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu

dengan benar

BB : banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu

dengan benar

Untuk menginterpretasikan nilai Daya Pembeda yang diperoleh, maka

digunakan tabel berikut:

Tabel 3.4 interpretasi daya pembeda

Nilai DP Interpretasi

Bertanda negative Sangat Buruk

DP < 0.20 Buruk

0.20 < DP < 0.40 Cukup

0.41 < DP < 0.70 Baik

0.70 < DP < 1.00 Baik Sekali

(Sudijono, 2007: 389)

4. Taraf kesukaran Instrumen

(26)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu P =

(Arikunto, 2009:208)

Keterangan :

P = Indeks kesukaran

B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar

JS = jumlah seluruh siswa peserta tes

Untuk menginterpretasikan nilai tingkat kesukaran yang diperoleh, maka

digunakan tabel berikut:

Tabel 3.5 Interpretasi Tingkat Kesukaran

Nilai p Interpretasi

P < 0.3 Sukar

0.3 P 0.7 Sedang

P > 0.7 Mudah

(Surapranata, 2006: 21)

Adapun rekapitulasi hasil analisis uji coba instrumen ditunjukkan pada

tabel berikut ini.

Tabel 3.6 Rekapitulasi Hasil Analisis Uji Coba Instrumen

No Validitas

Tingkat

Kesukaran Daya Pembeda Reliabilitas Ket.

Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori

1 0,423 Cukup

0,4 Sedang 0,55 Baik 0,77

Sangat

Tinggi Dipakai

(27)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3 0,410 Cukup 0,82 Mudah 0,22 Cukup Dipakai

4 0,618 Tinggi 0,77 Mudah 0,33 Cukup Dipakai

5 0,067 Sangat

Rendah 0,77 Mudah 0,33 Cukup Dipakai

6 0,511 Cukup 0,62 Sedang 0,44 Baik Dipakai

7 0,170 Sangat

Rendah 0,08

sangat

sukar 0 Buruk

Diperb

aiki

8 0,399 Rendah 0,28 Sukar 0,11 Cukup Dipakai

9 0,280 Rendah 0,37 Sedang 0,22 Cukup Dipakai

10 0,296 Rendah 0,8 Mudah 0,44 Baik Dipakai

11 0,433 Cukup 0,8 Mudah 0,66 Baik Dipakai

12 0,658 Tinggi 0,77 Mudah 0,55 Baik Dipakai

13 0,515 Cukup 0,65 Sedang 0,44 Baik Dipakai

14 0,670 Tinggi 0,74 Mudah 0,44 Baik Dipakai

15 0,641 Tinggi 0,65 Sedang 0,44 Baik Dipakai

16 0,814 Sangat

Tinggi 0,68 Sedang 0,55 Baik Dipakai

17 0,773 Tinggi 0,77 Mudah 0,66 Baik Dipakai

18 0,447 Cukup 0,68 Sedang 0,66 Baik Dipakai

19 0,725 Tinggi 0,77 Mudah 0,33 Cukup Dipakai

20 0,569 Cukup 0,22 Sukar 0 Buruk Dipakai

21 0,472 Cukup 0,48 Sedang 0,88 Baik Dipakai

22 0,052 Sangat

Rendah 0,65 Sedang 0,55 Baik Dipakai

23 0,326 Rendah 0,4 Sedang 0,66 Baik Dipakai

24 0,653 Tinggi 0,45 Sedang 0,88 Baik Dipakai

Berdasarkan tabel diatas diperoleh analisis dari 24 soal yang diujicobakan

memenuhi kriteria kelayakan instrumen penelitian karena dari hasil validitas,

reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda tidak ada nilai yang negatif.

Semua soal tersebut dirancang kembali untuk penelitian, hanya saja ada beberapa

(28)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

h. Teknik Pengolahan Data

1. Analisis Hasil Belajar Siswa pada Ranah Kognitif

a. Pemberian Skor

Semua jawaban pretest dan posttest siswa diberi skor. Skor yang

diberikan untuk jawaban benar adalah satu, sedangkan untuk jawaban

salah adalah nol. Skor total dihitung dari banyaknya jawaban yang

cocok dengan kunci jawaban.

b. Menghitung Rata-Rata Skor Pretest dan Posttest

Nilai rata-rata (mean) dari skor tes baik pretest maupun posttest

dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

̅ =

(Susetyo, 2010: 34)

dengan :

̅ = nilai rata-rata skor pretest maupun posttest X = skor tes yang diperoleh setiap siswa

N = banyaknya data

c. Menghitung Rerata Skor Gain yang Dinormalisasi

Besarnya skor gain yang dinormalisasi ditentukan dengan persamaan

yang dirumuskan oleh Hake (1998):

=

dengan: (Hake,2002)

= Rerata skor gain yang dinormalisasi

Sf = Skor posttest

Si = Skor pretest

Skor gain yang dinormalisasi ini diinterpretasikan untuk menyatakan

kategori peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif siswa.

(29)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Rentang <g> Kategori

0.7 < (<g>) ≤1,0 Tinggi

0.3 < (<g>) ≤0.7 Sedang

(<g>) ≤ 0.3 Rendah

(Hake, 1998) (dalam Maharshak dan Pundak, 2004: 408)

2. Analisis Keterlaksanaan Model Pembelajaran Inquiry based science plus

reading (ISR)

Data hasil observasi keterlaksanaan model pembelajaran dianalisis melalui

tahapan berikut:

a. Menjumlahkan banyaknya aktivitas yang teramati berkenaan dengan

keterlaksanaan tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing yang terdapat

pada lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran yang telah

diamati oleh observer.

b. Menghitung persentase keterlaksanaan model dengan menggunakan

rumus:

3. Analisis Korelasi Kemampuan Membaca dengan Hasil Belajar pada Ranah

Kognitif

Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi

product moment yang dikemukakan oleh Pearson. Dalam penelitian ini, besarnya

koefisien kolerasi antara dua variabel dirumuskan :

 

dengan : rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan y

x = skor siswa pada butir item yang diuji validitasnya

(30)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh,

maka digunakan tabel 3.8 untuk menginterpretasikan koefisien korelasi :

Tabel 3.8 Daftar Interpretasi Koefisien Korelasi

Koefisien korelasi Interpretasi

0,800-1,00 Sangat tinggi

0,600-0,800 Tinggi

0,400-0,600 Cukup

0,200-0,400 Rendah

(31)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di salah satu SMP di kota

Bandung kelas VIII mengenai penerapan model pembelajaran Inquiry Based

Science plus Reading (ISR) untuk meningkatkan hasil belajar pada ranah kognitif

diperoleh kesimpulan bahwa :

1. Secara keseluruhan hasil belajar pada ranah kognitif mengalami peningkatan

setelah diterapkannya model pembelajaran ISR dengan nilai gain

ternormalisasi 0,59 yang berada pada kategori sedang. Pada aspek mengingat

nilai gain ternormalisai sebesar 0,78 yang berada pada kategori tinggi. Pada

aspek memahami gain ternormalisasinya sebesar 0,48 yang berada pada

kategori sedang. Sedangkan pada aspek menerapkan gain ternormalisasinya

sebesar 0,19 yang berada pada kategori rendah.

2. Terdapat hubungan antara kemampuan membaca dengan hasil belajar siswa

pada ranah kognitif. Nilai korelasinya sebesar 0,5 yang berada pada kategori

cukup.

3. Presentase Keterlaksanaan model pembelajaran Inquiry Based Science plus

Reading (ISR) sebesar 97,51. Ini berarti pembelajaran yang dilakukan hampir

secara keseluruhan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

B. Saran

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diajukan beberapa saran

sebagai berikut :

1. Untuk meningkatkan kemampuan siswa pada aspek menerapkan hendaknya

guru memberikan latihan – latihan soal yang lebih kompleks dan juga

pemberian bahan bacaan yang menunjang terhadap kemampuan

menerapkan.

2. Strategi membaca komprehensif CSR dan tugas membaca siswa sebaiknya

dilakukan secara rutin selama satu semester dan dinilai oleh guru, sehingga

(32)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Model pembelajaran Inquiry Based science plus Reading (ISR) hendaknya

digunakan dalam pembelajaran di SMP dengan melakukan beberapa

perbaikan agar hasil belajar ranah kognitif dan siswa pada setiap aspeknya

(33)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Alhafizh. (2010). Metode Inquiry.diakses 28 September 2015 dari :

http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/30/metode-inquiry/ [30

Januari 2010].

Arikunto, Suharsimi.(2010). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka

Cipta.

Arikunto, Suharsimi.(2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:

Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. (2013). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Ediso

Dua. Jakarta: Bumi Aksara.

Arifin, Zainal.(2011).Penelitian Pendidikan.Bandung:PT Remaja

Rosdakarya

Fraenkel dkk.How to Design and Evaluate Research in Education Eight

Edition.(2011).The McGraw-Hill Companies.

Hake.2002. Relationship of Individual Student Normalized Learning

Gains in Mechanics with Gender, High-School Physics, and Pretest

Scores on Mathematics andSpatial Visualization.Idaho. Physics

Education Research Conference. Tersedia :

http://www.physics.indiana.edu/~hake.

Kho,Dickson.(2014).Pengertian dan Analisis Korelasi Sederhana dengan

Rumus Pearson.Diakses pada 31 Agustus 2015 dari :

(34)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Listyawan, Wawan.(2012). Diakses 6 September 2015 dari :

http://mengejarasa.om/2012/08/model-pembelajaran-inkuiri.html?m=1.

Maharshak, Arie dan Pundak, David. (2004). ” Active Physics Learning

Combining The Marketing Concept With Information

Technology”. J. Educational Technology Systems, Vol. 32(4)

399-418, 2003-2004

Nashihudin,Wahid.(2011). Model Pembelajaran Inquiry Learning

(Pembelajaran Inkuiri). Diakses 22 maret 2015 dari :

http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/07/fakta-rendahnya-minat-baca-masyarakat-indonesia/.

Nurhadi, Budi.(2011). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Sma Pada

Pokok Bahasan Suhu Dan Kalor (Skripsi, Universitas Pendidikan

Indonesia). Tersedia :

http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skripsi=10071

Sanjaya,Wina.(2006).SRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI

STANDAR PROSES PENDIDIKAN.Jakarta.PERDANA MEDIA

GROUP.

Sanjaya, Wina. (2008). Strategi Pembelajaran berorientasi Standar

Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada media

Group.Sumardi.2011. RANAH PENILAIAN KOGNITIF,

AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK. Diakses pada 6 september

2015.Tersedia :

(35)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Santoso, A.(2010). Studi Deskriptif Effect Size Penelitian-Penelitian di

Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta :

Jurnal penelitian Vol. 14.

Solina, Leli.(2012). Analisis Keterampilan Proses Sains Kelas IV Sekolah

Dasar Melalui Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Pada Materi Wujud Benda Dan Sifatnya (Skripsi, Universitas

Pendidikan Indonesia). Tersedia di :

http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skripsi=11225

Sudjana, nana.(2011).Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya.

Sudijono, Anas. (2007). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja

Grafindo Persada

Sukardi.(2003).METODOLOGI PENELITIAN

PENDIDIKAN.Jakarta:Bumi Aksara.

Surapranata, Sumarna. (2004). Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan

Interpretasi Hasil Tes (Implementasi Kurikulum 2004). Bandung:

Remaja Rosdakarya

Wenning. (2005). “Levels of inquiry: Hierarchies of pedagogical practices

and inquiry processes (revised 2/12)”. J. Phys. Tchr. Educ. Online

(36)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Zhihui Fang.(2010). “Improving Middle School Students’ Science Literacy

Through reading Infusion”. The Journal of Education Reseach.

(37)

Lampiran B.1

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu SOAL

Tekanan

1. Di bawah ini yang merupakan pernyataan yang benar mengenai konsep tekanan

adalah… .

a. Semakin besar gaya yang diberikan, maka tekanan yang diderita akan semakin besar

b. Semakin kecil gaya yang diberikan, makate kanan yang diderita akan semakin kecil

c. Semakinbesar luas penampang benda, maka tekanan yang diderita akan semakin besar

d. Semakin kecil luas penampang benda, maka tekanan yang diderita akan semakin kecil

2. Di bawah ini yang merupakan contoh penerapan tekanan dalam kehidupan sehari

–hari adalah… .

a. Alas pada kaki meja dibuat lebar b. Padajalan yang becek lebih baik

menggunakan sepatu high heels daripada sepatukets

c. Masyarakat di daerah bersalju menggunakan sepatu yang alasnya kecil

d. Sirip ikan yang pendek memungkinkan ikan bergerak dalam air

3. Dini lebih senang menggunakan sepatu kets dibandingkan dengan sepatu berhak

tinggi. Ini disebabkan oleh… .

a. Tekanan yang dihasilkan oleh sepatu kets lebih besar dibandingkan dengan sepatu berhak tinggi

b. Tekanan yang dihasilkan oleh sepatu kets lebih kecil dibandingkan dengan sepatu berhak tinggi

c. Luas penampang pada sepatu kets lebih besar, sehingga tekanan yang dihasilkan akan semakin besar

d. Luas penampang pada sepatu berhak tinggi lebih kecil, sehingga tekanan yang dihasilkannya juga akan kecil

4. Perhatikangambar di bawahini!

F F F

Tanah liat

(1) (2) (3)

Ketika ketiga balok tersebut memberikan gaya yang sama, maka pernyataan yang benar di

bawah ini adalah… .

a. Tekanan pada balok (1) lebih kecil daripada tekanan pada balok (3) b. Tekanan pada balok (3) lebih besar

daripada tekanan pada balok (2) c. Tekanan yang paling besar adalah

pada balok (1)

d. Tekanan yang paling besar adalah pada balok (3)

5. Perhatikan gambar di bawah ini!

Diantara keempat balok di atas, apabila gaya yang diberikan keempat balok sama,maka benda yang memberikan tekanan paling besar ditunjukkan oleh gambar nomor… .

a. (1)

(38)

Lampiran B.1

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu b. (2)

c. (3) d. (4)

6. Berikut ini merupakan data tekanan dan gaya ketika luas penampangnya dibuat tetap. Jika data tersebut dibuat pola grafiknya, maka grafik yang benar

adalah… .

7. Berikut ini merupakan tabel data tekanan dan luas penampang benda ketika gayanya dibuat tetap. Jika data tersebut dibuat pola grafiknya, maka grafik yang benar

adalah… .

8. Perhatikangambar di bawahini!

(39)

Lampiran B.1

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu A

9. Suatu benda memiliki luas penampang 4 m2, jika benda tersebut menekan suatu permukaan tanah sebesar 300 N/m2, maka gaya yang diberikan adalah… .

a. 75 N b. 750 N c. 120 N d. 1200 N

10. Di bawah ini merupakan contoh penerapan tekananzat cairdalam kehidupan sehari- hari, kecuali… .

a. Seorang penyelam membawa oksigen ketika mereka menyelam

b. Lubang penguras diletakkan di bagian dekat dasar bak agar semua kotoran dalam air cepat mengalir

c. Mesin pengangkat mobil d. Paku dibuat tajam agar mudah

ditancapkan

11. Para penyelam tradisional yang menyelam di lautan banyak terganggu

pendengarannya. Hal

inidisebabkankarena …

a. Tekanan udara di dalam zatcair b. Tekanan hidostatis air

c. Gaya angkat air d. Tekanan atmosfer

12. Sebuah tabung diisi penuh dengan air. Jika tabung dilubangi dengan 3 lubang, maka gambar yang tepat untuk

menunjukkan pernyataan tersebut

13. Perhatikangambar di bawahini! \

a. A b. B c. C d. D

14. Berikut ini merupakan tabel data tekanan dan kedalaman ketika massa jenis dibuat tetap. Bila data tersebut dibuat grafik,

maka grafik yang benar adalah… .

(40)

Lampiran B.1

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu a. p

15. Seorang penyelam menyelam pada kedalaman 12 m di bawah permukaan air. Jika massa jenis air 1000 kg / m3dan percepatan gravitasi bumi 10 m/s2, maka tekanan hidrostatis yang dialami

penyelamadalah… .

a. 120 Pa b. 1200 Pa c. 12000 Pa d. 120000 Pa

16. Perhatikan gambar di bawah ini!

Percepatan gravitasi 10 m/s2, jika luas penampang ikan yang tertekan oleh air 6 cm2, maka gaya yang menekan ikan dari

air di atasnya adalah… .

a. 5,1 N b. 85 N c. 850 N d. 8500 N

17. Di bawah ini merupakan pernyataan yang benar mengenai bunyi Hukum Pascal

adalahTekanan dalam zat cair… .

a. Akan diteruskan ke semua arah dengan tidak sama rata

b. Akan diteruskan ke semua arah dengan sama rata

c. Tidak diteruskan ke semua arah dengan tidak sama rata

d. Tidak diteruskan ke semua arah dengan sama rata

18. Di bawah ini merupakan contoh penerapan Hukum Pascal dalam kehidupan sehari – hari, kecuali… .

a. Dongkrak hidrolik b. Rem hidrolik

c. Mesin pengangkat mobil d. Air mancur

19. Mesin pengangkat mobil merupakan salah satu contoh penerapan… .

a. Hukum bejana berhubungan b. Hukum Pascal

c. Tekanan hidrostatis d. Hukum Archimedes 20. Sebuah alat pengangkat mobil

menggunakan luas penampang pengisap

(41)

Lampiran B.1

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kecil 10 cm2danpengisap besar 50 cm2. Gaya yang harus diberikan agar dapat mengangkat mobil 20.000 N adalah… . a. 4000 N

b. 40.000 N c. 10.000 N d. 100.000 N

21. Sebuah dongkrak dengan skema seperti pada gambar.

Dari data yang tertera pada gambar dapat diperoleh gaya F2 sebesar… .

a. 20 N b. 25 N c. 40 N d. 75 N

22. Konsep yang digunakan tukang bangunan untuk menyamakan ketinggian dalam proyek pembangunannya adalah … .

a. Hukum pascal b. Tekanan hidrostatik

c. Hukum bejana berhubungan d. Hukum archimedes

23. Di bawah ini yang termasuk contoh penerapan bejana berhubungan dalam kehidupan sehari-hari adalah… .

a. Teko b. Termos c. Dispenser d. Panci

24. Alat yang prinsip kerjanya berdasarkan Hukum Pascal adalah… .

a. Alat pengangkat mobil b. Galangan kapal

(42)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

KISI – KISI SOAL

Kompetensi Dasar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

No Indikator Soal Aspek

konsep tekanan C1

1. Tekanan merupakan… .

a. gaya yang diberikan pada luasan tertentu

b. gaya yang menyebabkan perpindahan posisi benda c. gaya yang diberikan untuk melakukan usaha d. gaya yang diberikan pada ketinggian tertentu

A

2. Di bawah ini yang termasuk factor yang mempengaruhi tekanan pada zat padat adalah… .

a. massa b. berat

c. luas permukaan d. volume

3. Tekanan akan semakin besar apabila… . a. luas permukaannya semakin besar b. luas permukaannya semakin kecil c. gaya yang diberikannya diperkecil d. gaya yang diberikannya konstan 4. Perhatikan gambar di bawah ini!

C

B

C

(43)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C3

Diantara keempat balok di atas, yang memberikan tekanan paling besar ditunjukkan oleh gambar nomor… .

a. (1) b. (2) c. (3) d. (4)

5. Perhatikan gambar di bawah ini!

Diantara keempat bentuk di atas, yang akan memberikan tekanan paling besar adalah nomor… .

a. I

6. Sebuah kotak yang beratnya 800 N dan luas alasnya 2 m2 diletakkan di atas lantai. Maka tekanan yang dihasilkan adalah… .

a. 1600 N/m2 b. 800 N/m2 c. 400 N/m2 d. 200 N/m2

7. Bila sebuah kotak berukuran 20 cm x 10 cm x 8 cm diletakkan di atas lantai. Tekanan yang paling besar dihasilkan apabila bagian yang menyentuh lantai adalah … .

(44)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C3

C3

8. Sebuah kotak memiliki tekanan sebesar 500 N/m2, bila diketahui luas alasnya 2 m2. Maka gaya yang diberikan oleh kotak tersebut adalah.. .

a. 250 N b. 500 N c. 750 N d. 1000 N

9. Sebuah kotak memiliki tekanan sebesar 400 N/m2, bila diketahui gaya yang diberikan kotak sebesar 800 N. Maka luas alas kotak tersebut

adalah… .

10. Di bawah ini yang termasuk faktor yang mempengaruhi tekanan hidrostatis adalah… .

a. luas permukaan b. gaya

c. kedalaman d. volume

11. Tekanan hidrostatis akan semakin besar apabila… . a. gayanya semakin besar

b. luas permukaannya semakin kecil c. kedalamannya semakin besar d. massa jenisnya semakin kecil

(45)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

a. Titik A b. Titik B c. Titik C d. Titik D

5

Memformulasikan hukum pascal

C1

C3

14. Tekanan yang diberikan pada zat akan diteruskan ke segala arah oleh zat cair itu sama besar. Pernyataan tersebut dinamakan… . a. Hukum Boyle

b. Hukum Archimedes c. Hukum Pascal d. Hukum Newton

15. Perhatikan gambar di bawah ini!

Berdasarkan gambar di atas, Pernyataan di bawah ini yang benar adalah… .

a. tekanan yang diberikan akan lebih besar, sehingga memudahkan mengangkat beban yang berat

b. gaya yang diberikan lebih kecil untuk mengangkat beban yang berat

c. gaya yang diberikn akan lebih besar untuk mengangkat beban yang berat

C

B

(46)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C3

d. tekanan yang diberikan akan besar sehingga gaya yang diberikannya juga akan semakin besar

16. sebuah mesin pengangkat mobim memiliki luas penampang kecil dan besar seluas 8 cm2 dan 20 cm2. Jika gaya tekan di penampang kecil 20 N, maka gaya angkat di penampang besar adalah… . a. 8 N

17. Di bawah ini yang bukan termasuk contoh penerapan Hukum Pascal dalam kehidupan sehari –hari adalah… .

a. dongkrak hidrolik b. mesin pengangkat mobil c. mesin pada kapal laut d. pompa hidrolik

18. Prinsip kerja yang digunakan mesin pengangkat mobil adalah… . a. Hukum Boyle

b. Hukum Archimedes c. Hukum Pascal

19. Sebuah benda ditimbang di udara beratnya 50 N. Setelah ditimbang di dalam air beratnya menjadi 30 N. Benda tersebut mendapat gaya angkat sebesar… .

a. 80 N b. 50 N c. 30 N d. 20 N

(47)

HADIANI NURAZIZAH M, 2015

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu contoh penerapan

Hukum Archimedes. Kecuali… . a. kapal selam

b. kapal laut

c. mesin pengangkat mobil d. hidrometer

21. kapal selam merupakan salah satu contoh penerapan… . a. Hukum Pascal

b. Hukum Boyle c. Hukum Archimedes d. Hukum Newon

22. Ketika kita mengangkat teman kita di dalam kolam renang akan terasa lebih ringan dibandingkan ketika mengangkatnya di luar air. Hal ini disebabkan oleh… .

a. ketika di dalam kolam berat badan seseorang menjadi lebih kecil sehingga mempermudah mengangkat beban yang berat

b. ketika di dalam kolam renang tekanan yang diberikan kecil sehingga mempermudah mengangkat beban yang berat c. di dalam kolam terdapat bantuan dari gaya apung air sehingga

mempermudah mengangkat beban yang berat

d. di dalam kolam renang terdapat tekanan hidrostatis yang membantu mengangkat beban yang berat

C

23. Apabila suatu benda tenggelam di dalam air, berarti… . a. benda tersebut berat

b. benda tersebut ringan

c. massa jenis benda lebih besar daripada massa jenis air d. massa jenis benda lebih kecil dari massa jenis air 24. apabila suatu benda melayang di dalam air, berarti… .

a. benda tersebut berat b. benda tersebut ringan

c. massa jenis benda lebih besar daripada massa jenis air d. massa jenis benda sama denan massa jenis air

C

Gambar

Tabel 3.1 Diagram one group pretest posttest design
Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian
Tabel 3.2  Daftar Interpretasi Koefisien Relasi
Tabel 3.3 Interpretasi Koefisien Korelasi Reliabilitas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan hanya untuk melihat peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa setelah diterapkannya pendekatan Brain Based Learning dalam pembelajaran

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana hasil belajar ranah kognitif dan profil aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model

antara Guided Inquiry nilai -5,554 hal ini berarti Hasil Belajar Ranah Kognitif untuk kelas eksperimen dengan strategi Guided Inquiry lebih baik dari pada kelas

Dalam penelitian ini, hasil belajar yang diukur hanya pada ranah kognitif saja, dan hanya meliputi aspek C2 (pemahaman), C3 (penerapan), C4 (analisis), C5 (sintesis), dan

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu.

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Science Plus Reading untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Ranah Kognitif Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Sehingga setelah diterapkan model pembelajaran levels of inquiry mampu meningkatkan hasil belajar siswa baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.. Kata kunci: Levels