• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Komunikasi Massa

1. Pengertian Komunikasi

Komunikasi bersumber dari bahasa Latin “communis” atau dalam bahasa Inggris- nya “common” berarti sama. Jadi apabila kita berkomunikasi, ini berarti bahwa kita dalam situasi berjuang untuk menciptakan suatu persamaan dalam hal watak individu.

Jadi, definisi komunikasi adalah sebagai proses menghubungi atau mengadakan perhubungan (Rosmawati,2010:17).

Janis, Hovland dan Kelly juga membuat pengertian bahwa: “The communication is processed by which a personal (the communicator) transmites stimuly (usually verbal symbols) to modify the behaviour of the personals (the audiences).

(Cangara,2009:19).

Berawal dari berberapa isitilah yang dijelaskan banyak ilmuwan, maka Suprapto (2011:7) mengelompokan ada tiga definisi utama komunikasi sebagai berikut.

a. Etmologis, komunikasi dipelajari menurut awal mula kata yaitu komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio.

b. Terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian pesan pendapat individu terhadap masyarakat.

c. Paradigmatis, komunikasi berarti pola yang mencakup berberapa perangkat berhubungan satu dengan lainnya secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Cangara (2009:20) mengatakan bahwa ilmu komunikasi hanya bisa dikatakan komunikasi jika mempunyai bagian pendukung yang membangunnya sebagai body of knowledge, yaitu: pesan, media, penerima, sumber, umpan balik, dan pengaruh, Unsur ini juga disebut elemen atau komponen. Adapun unsur yang dimaksud tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

(2)

7 a. Sumber

Semua kejadian komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pencipta atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia sumber bisa terdiri satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya organisasi, partai, negara dan lembaga. Sumber sering disebut komunikator atau pengirim.

b. Pesan

Pesan adalah sesuatu hal yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara face to face melalui media komunikasi. Terdiri dari hiburan, informasi, ilmu pengetahuan, propaganda atau nasihat.

c. Media

Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Media komunikasi ada yang berbentuk saluran antarpribadi, media kelompok, dan ada pula dalam bentuk media massa. Istilah media banyak digunakan dengan sebutan saluran, alat, atau sarana.

d. Receieved

Receieved merupakan kelompok yang menjadi target pesan yang dikirm oleh source. Receieved terdiri satu orang atau lebih, terdiri dalam bentuk departemen, organisasi, instansi, negara, dan partai. Penerima juga disebut dengan istilah seperti khayalak, komunikan, klien, sasaran, dan konsumen.

e. Pengaruh

Pengaruh adalah perbandingan antara apa yang dirasakan, dipikirkan dan dilakukan oleh penerima pra dan pasca menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada sikap, pengetahuan, dan tingkah laku seseorang. Maka dari itu, pengaruh juga bisa disebut penguatan atau perubahan kenyakinan pada ilmu pengetahuan, tindakan dan sikap individu sebagai akibat penerimaan pesan.

f. Tanggapan Balik

Tanggapan balik atau umpan balik sebetulnya merupakan salah satu bentuk pengaruh yang berasal dari penerima. Namun, karena pengaruh tidak selamanya berbalik kepada penerima, tanggapan balik dapat dibedakan dengan pengaruh.

Tanggapan balik sangat penting karena semua komunikasi yang menginginkan keharmonisan memerlukan tanggapan balik.

(3)

8 2. Komunikasi Massa

Wright (1959) dalam Severin dan Tankard, Jr (2010:4) mendefinisikan komunikasi massa dalam tiga ciri yaitu:

a. Komunikasi massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen, dan anonim.

b. Pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.

c. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang kompleks dan mungkin membutuhkan biaya yang besar.

Menurut Tamburaka (2012:15), komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi untuk

menyampaikan informasi kepada khayalak luas. Dengan demikian, maka terdapat berberapa unsur penting dalam komunikasi massa adalah:

a. Komunikator

Komunikator adalah orang-orang yang memproduksi pesan. Sesuai dengan karakteristik komunikasi massa bahwa komunikator dalam komunikasi massa adalah sebuah lembaga atau terdapat dalam organisasi yang kompleks, maka dalam prosesnya melibatkan banyak orang, seperti jurnalis, presenter, para petugas badan iklan, produser dan direktur siaran radio dan televisi serta para penyunting dan lain-lain.

b. Khayalak

Khayalak yang dimaksud dalam komunikasi massa sangat beragam, dari jutaan penonton televisi, ribuan pembaca buku, majalah, koran atau jurnal ilmiah.

Setiap khayalak berbeda satu sama lain di antaranya dalam hal berpakaian, berpikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan orientasi hidupnya. Akan tetapi, setiap individu bisa saling mereaksi pesan yang diterimanya.

c. Pesan

(4)

9

Pesan merupakan hal penting yang perlu diperhatikan oleh komunikator massa, karena karakteristik khayalak yang heterogen dan sifat komunikasinya umum atau terbuka maka diperlukan strategi dalam pengelolaan pesan. Severin dan Tankard (1992) menyatakan bahwa komunikasi massa adalah sebagaian dari seni, sebagaian ilmu dan sebagaian keterampilan. Ketiga unsur ini perlu diperhatikan oleh pekerja media, karena pada dasarnya khayalak menggunakan media utamanya adalah mencari pesan dalam media tersebut. Tentunya pesan media disesuaikan dengan jenis medianya, misalnya radio identik dengan musik, surat kabar lebih dominan berita dan sebagainya.

d. Gatekeeper

Gatekeeper dalam komunikasi massa memiliki peranan yang sangat penting karena ia bertanggung jawab terhadap pesan yang akan disebarluaskan kepada khayalak. Istilah gate yang berarti pintu gerbang dan keeper yang berarti penjaga dalam proses media massa, berarti orang-orang yang berhak untuk tidak

membuka pintu gerbang informasi bagi khayalak. Dengan kata lain, merekalah yang menyeleksi pesan apa saja yang layak disebarluaskan dan apa yang tidak harus disebarkan.

e. Umpan Balik

Umpan balik adalah sebutan masukan yang diberikan oleh komunikan ketika komunikasi sedang berlangsung. Masukan tersebut sangat berguna bagi

komunikator untuk mengetahui apakah perilaku komunikasinya telah efektif mencapai sasarannya atau justru malah mengacaukan usaha dalam mencapai sasaran komunikasinya. Umpan Balik dalam komunikasi dibedakan berdasarkan jenis komunikasinya.

f. Filter

Filter adalah kerangka berpikir melalui dimana khayalak menerima pesan.

Filter ibarat sebuah bingkai kacamata tempat khayalak bisa melihat dunia. Hal ini berarti dunia rill yang diterima dalam memori sangat tergantung dari bingkai tersebut. Ada berberapa filter, antara lain fisik, psikologis, budaya, dan yang berkaitan dengan informasi.

Ada delapan karakteristik komunikasi massa menurut Ardianto (2007:6) sebagai berikut :

1) Komunikator terlembagakan

(5)

10 2) Pesan bersifat umum

3) Komunikatornya umum dan heterogen 4) Media massa menimbulkan secara serempak

5) Komunikasi mengutamakan isi ketimbang hubungan 6) Komunikasi massa bersifat satu arah

7) Stimulasi alat indra terbatas

8) Umpan balik tunda (delayed) dan tidak langsung (indirect)

Dari definisi tersebut, dapat kita simpulkan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang terbuka, luas, serempak, cepat dan mementingkan isi ketimbang perantara, disebabkan memakai hubungan satu arah (one way) dan umpan balik (feedback).

Kebesaran media dalam memilah dan mengalihkan perhatian orang-orang juga dipengaruhi oleh gatekeeper, yang disebut unsur dalam komunikasi massa. John R. Bitter 1996 (dalam Nurudin,2007:119) mendefinisikan gatekeeper sebagai kelompok atau individu orang yang melihat arus komunikasi dalam saluran komunikasi massa. Kelompok yang disebut gatekeeper antara lain editor film, editor berita, reporter dan orang lain dalam media massa yang terlibat menentukan arus informasi yang disebarluaskan (Nurudin,2007:119)

Mereka dapat berkegiatan pada agenda setting terhadap informasi atau berita yang akan disampaikan, mereka dapat mengedit, menghapus atau menambah pesan yang ingin diinformasikan. Juga mereka mampu menekan arus sebuah informasi dan tidak membuka akses bagi keluarnya informasi.

Peran umum gatekeeper kerap di hubungkan kepada berita, khususnya pemberitaan media online. Editor sering melaksanakan fungsi terhadap gatekeeper ini. Mereka menentukan apa yang diperlukan khayalak, atau setidaknya menyiapkan referensi kepada pembacanya (Nurudin,2007:120).

Hasil dari penafsiran tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa gatekeeper erat kaitannya dengan teori agenda setting yang dilakukan oleh media massa.

Gatekeeper berperan sebagai pemantau dan penetu pada dimensi teori agenda setting yang dilakukan dalam pesebaran informasi oleh khayalak Jadi teori agenda setting menjadi media gatekeeper dalam melakukan kegiatannya terhadap media massa.

(6)

11 a. Massa

Menurut Gustave Le Bon (pelopor mass psychology), massa merupakan suatu perkumpulan banyak orang, sebanyak ribuan atau ratusan yang mrngadakan dan berkumpul saling berhubungan untuk waktu sementara karena kepentingan atau minat bersama yang berisfat sementara. Menurut Rosmawati (2010:119), karakter massa adalah sebagai berikut.

1.) Terdiri dari masyarakat dalam semua tingkatan dan lapisan dalam kumpulan orang-orang.

2.) Bersifat heterogen dan anonim.

3.) Di antara mereka tidak adanya pertukaran pengalaman atau interaksi, sebab terpisah antara satu dengan lainnya.

4.) Tidak dapat bertindak secara tertib lantaran terbuka terhadap ikatan organisasi.

5.) Baik massa yang nampak maupun yang tidak nampak memiliki ikatan pikiran, persamaan perasaan atau petalian jiwa.

6.) Massa tidak mampu berpikir secara kritis dan rasional, gampang disugesti dan gampang dipercaya.

7.) Massa mudah sekali marah, bersemangat, berani, sangat fanatik, mampu melakukan sesuatu tanpa mempedulikan tanggung jawab.

Blumer (1939) dalam Bungin (2006:98), menyampaikan ada empat bagian secara sosiologis yang mengandung arti media massa adalah:

1.) Anggota Massa adalah kumpulan orang dari tingkat kelas sosial yang berbeda, jenis pekerjaan berkebalikan dengan latar belakang kultur yang beraneka ragam, dan tingkat kemakmuran yang beraneka ragam atau berasal dari semua aspek kehidupan segala kedudukan sosial.

2.) Massa terdiri dari seseorang yang tidak diketahui namanya.

(7)

12

3.) Umumnya, secara fisik anggota massa terbagi satu sama lain dan hanya sedikit pertukaran atau interakasi tentang pengalaman antar anggota massa yang dimaskud.

4.) Keorganisasian dari suatu massa bersifat terbuka, dan tidak dapat untuk melakukan secara kesatuan atau bersama, seperti halnya suatu perkumpulan.

Secara istilah, pengertian massa dibuktikan dengan:

1.) Kurangnya mempunyai kesadaran diri.

2.) Kurangnya mempunyai identitas diri.

3.) Tidak dapat bergerak secara bersama dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

4.) Massa ditandai oleh komposisi yang selalu kontinu dan berada dalam batas daerah yang selalu berubah juga.

5.) Massa tidak bergerak dengan dirinya sendiri, tetapi dikoordinir untuk melakukan suatu tindakan.

6.) Meski anggotanya bermacam-macam dan dari semua tingkat sosial, massa selalu bersikap sama dan berbuat sesuai dengan pendapat orang yang akan mengooptaso mereka.

3. Media Massa

Salah satu dari komponen tersebut adalah media massa, tempat di mana proses komunikasi berlangsung. Dengan demikian media massa merupakan sarana penyampaian komunikasi dan informasi secara massal dan dapat diakses oleh masayarakat luas.

Adapun media massa menurut Tamburaka (2012:13), merupakan lembaga yang menghubungkan semua kalangan orang-orang satu dengan lainnya dengan lewat produk media massa diproduksikan. Secara khusus media massa adalah:

a. Sebagai distribusi konten simbolis dan saluran produksi

b. Sebagai lembaga umum yang bekerja terhadap peraturan yang tertulis

(8)

13

c. Keikutsertaan anggota baik sebagai penerima atau pengirim bersama d. Memakai prosedur birokrasi dan standar profesional

e. Media sebagai gabungan terhadp kekuasaan dan kebebasan

Menurut Baran (2010:69) teori masyarakat massa awalnya timbul pada abad ke- 19 saat sekelompok elite tradisional sosial berjuang memahami arti dari kosekuensi yang bersifat sporadis dari modernisasi. Sebagaian (yaitu kelompok aristokrat tanah, guru sekolah di daerah terpencil, politisi kelas dua, penjaga toko, pemuka agama) merasa sangat lelah atau kehilangan kekuasaan mereka dalam perjuangan mereka memerangi permasalahan sosial. Bagi mereka, media massa secara yellow jurnalism merupakan lambang dari segala kekeliruan yang terjadi kepada masyarakat modern.

Teori masyarakat massa mempunyai berberapa pendapat dasar tentang peran media, hakikat, dan individu dari perubahan sosial, diantaranya:

a. Media merupakan sumber energi yang sangat kuat dalam masyarakat yang dapat menghancurkan norma dan nilai sosial sehingga mampu menghancurkan susunan sosial. Untuk melawan teror ini. Media wajib berada dibawah pengawasan kaum elite.

b. Media mampu secara langsung memengaruhi pemikiran masyarakat, mentransformasi pendapat mereka berkaitan dengan dunia sosial.

c. Saat pemikiran individu sudah ditransformasi oleh media, maka segala wujud resiko buruk dalam waktu lama bisa saja terjadi, tidak hanya mampu membunuh kehidupan individu, namun juga menimbulkan masalah sosial dalam skala besar.

d. Sebagaian besar seseorang sangat rawan terhadap pengaruh media sebab dalam masyarakat massa mereka terioslir dan terputus dari instansi sosial tradisional yang sebelumnya membela seseorang dari usaha kecurangan media.

e. Kerusakan sosial yang dikarenakan media bisa jadi akan diubah dengan pendirian sebuah struktur sosial secara totalitas

f. Media Massa tidak mampu menolak dari aktivitas yang menyudutkan wujud kultur yang lebih tinggi mengakibatkan terjadinya penurunan secara dasar dalam waktu jangka lama.

(9)

14 B. Jurnalisme Online

Jurnalisme online adalah produk jurnalistik yang dipublikasikan secara online melalui internet. Munculnya jurnalisme online berawal dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sifat konvergen dari media online membuat jurnalisme online memiliki karakteristik tersendiri yang unik. Jurnalisme cetak lebih mengandalkan kedalaman analisis dalam penulisannya, teks begitu kuat, jurnalisme radio dengan sifat auditif dan jurnalisme televisi dengan audio visual. Dalam jurnalisme online, semua itu dapat dibentuk menjadi satu kesatuan. Jurnalisme online dapat menghadirkan teks, suara dan gambar sekaligus.

Kelebihan jurnalisme online dibanding dengan jurnalisme offline antara lain dalam jurnalisme online khayalak dapat memperoleh informasi dengan lebih cepat, aktual, tanpa batasan waktu. Informasi dapat diperoleh dimana saja dan kapan saja. Saluran untuk mempublikasikan karya jurnalistik online dinamakan sebagai media online.

Jurnalisme online adalah bagian dari aktivitas jurnalisme secara menyeluruh, mematuhi etika dan prosedur kerja yang nyata. Kebuktian jurnalisme online juga adalah kebuktian tanda sah / resmi, sebagaimana berlaku pada jurnalisme konvesional.

1. Unsur Jurnalisme Online

M.Romli dan Asep Syamsul, (2012:12) didalam buku “paduan praktis mengelola media online” menjelaskan ada lima unsur dasar dalam jurnalistik online yang disingkat BASIC, yaitu:

a. Bravity (keringkasan). Berita online dituntut untuk meringkas mengadaptasi kehidupan manusia dan level kesibukanya yang kian tinggi. Hal ini juga sesuai paduan pengunaan jurnalistik KISS (Keep it Short and Simple).

b. Adaptabily (kemampuan beradaptasi). Jurnalisme online dituntut agar dapat beradaptasi diri disela kebutuhan dan makalah umum. Dengan adanya kemajuan teknologi, jurnalis mampu menyajikan berita dengan metode menciptakan sejumlah macam metode, semisal penyajian gambar, video, dan voice dalam artikel berita.

(10)

15

c. Scanability (pemindaian) untuk menggampangkan audience, website jurnalistik online sebaiknya memiliki sifat dapat dipindai, supaya pengguna tidak perlu memaksa dalam menyimak berita atau informasi.

d. Interactivity (Interaktivitas). Komunikasi dari public oleh jurnalis sangat dimungkinkan dalam jurnalisme online. Pembaca (viewer) mampu langsung menambahkan comment pada berita. Semakin audience dilibatkan, maka mereka akan terasa gembira dan dihargai membaca berita pada media online.

e. Conversation and community (percakapan dan komunitas). Media online mempunyai andil yang cukup besar ketimbang media konvensionalnya atau media cetak lainnya, yaitu sebagai penyaring. Jurnalistik online juga wajib memberi timbal balik atau jawaban terhadap reply atas percakapan yang dilakukan publik tadi.

2. Karakteristik Jurnalisme Online

Rey G. Rosales di dalam The Element of Online Journalism mengungkapkan jurnalisme online mempunyai konten multimedia dalam melakukan pemberitaan terdiri advance dan dasar (basic). Adapun delapan konten yang disebut adalah:

a. Headline: judul di berita saat akan mengakses isi artikel itu secara utuh.

b. Text: tulisan dalam satu halaman utuh atau terpisah ke dalam berberapa pranala (link).

c. Graphic: Sering di tampilkan dalam bentuk gambar, ilustrasi tentang isi artikel berita tersebut.

d. Related linked: isi artikel berita yang berhubungan dapat menambah informasi dan menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca, umumnya ditaruh pada kalimat akhir.

e. Slide show: kumpulan gambar untuk berita yang memiliki berberapa gambar dan diberi deskripsi gambar.

f. Animation: animasi atau gambar yang bergerak untuk mendukung gambar ilustrasi berita.

g. Interactive features: ilustrasi yang ditampilkan khusus supaya ada percakapan dengan pembaca, misalnya peta lokasi.

(11)

16

h. Interactive games: sangat jarang ditemukan di Indonesia, umumnya di konten mini video games yang dapat dimainkan kepada pengunjung.

(Pavlik,2000:77) menyebut tipe baru jurnalis ini sebagai “contextualized journalism”, karena mengintegrasi tiga fitur komunikasi yang unik, seperti kemampuan multimedia berdasarkan platform digital, kualitas interaktif komunikasi online dan fitur yang ditatanya (cotumize feature).

Rafaeli dan Newhagen mengidentifikasi lima perbedaan utama diantara jurnalisme online dan media massa tradisional sebagai berikut :

a. Kemampuan internet untuk mengkombinasikan sejumlah media b. Kurang tirani penulis atas pembaca

c. Tidak seorang pun dapat mengendalikan perhatian khayalak

d. Internet dapat membuat proses komunikasi berlangsung berkesinambungan e. Karakteristik yang paling luar biasa dari media baru ini adalah kecepatanya

secara keseluruhan

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa media online adalah media yang menggunakan sistem internet dan memiliki kecepatan dan ketepatan dalam memberikan informasi. Media online juga tak kenal ruang dan waktu. Ruang berarti bisa dilakukan dimana saja, sedangkan waktu bisa dilakukan kapan saja.

Kecepatan dan ketepatan inilah yang menjadi daya tarik dari media online diantara media yang lain. Makin berkembangnya media online tak luput dari banyaknya masyarakat yang menikmatinya. Oleh karena itu peneliti menggunakan media online sebagai penelitiannya. Dan media online tersebut adalah m.bola.net dan bolasport.com.

C. Konstruksi Media

1. Konstruksi Realitas

Definisi konstruksi sosial atau realiatas, menjadi populer sejak dicanangkan kepada Thomas Luckmann dan Peter L. Berger lewat bukunya yang berjudul, The

(12)

17

Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (1996).

Beliau menjabarkan proses sosial lewat tindakan dan percakapannya, yang mana seseorang membuat secara berkelanjutan perihal fakta yang dialami dan mempunyai bersama-sama secara subjektif.

Pendekatan dan teori konstruksi sosial kepada fakta Luckmann dan Peter L.

Berger sudah diralat dengan memantau fenomena atau variabel media massa menjadi lebih substansi dalam proses internalisasi, subjektivikasi, dan eksternalisasi. Maka dari itu, watak dan keunggulan media massa sudah mengevaluasi kekurangan proses konstruksi sosial atas kenyataan yang berjalan lamban itu. Substansi “teori konstruksi sosial media massa” merupakan pada pola persebaran informasi yang luas dan cepat sehingga konstruksi sosial berlangsung dengan sangat cepat dan persebarannya merata. Kenyataan yang terkonstruksi itu juga membentuk opini massa.

Konstruksionisme sosial dan interaksionalisme simbolik bermula terhadap pengertian bahwa pemohonan yang kita mengerti terhadap diri sesorang, masyarakat dan dunia sosial kita. Untuk memahaminya ada banyak referensi yang menjelaskan mengenai streotip, sikap, skema, ras dan etnis.

2. Tahapan Konstruksi

Frans M. Parera menjelaskan, tugas pokok sosiologi pengetahuan adalah menjelaskan dialektika antara diri sendiri dengan dunia sosiokultural. Dialektika ini berlangsung dalam proses tiga tahap simultan yaitu: (1) eksternalisasi, menyesuaikan diri dengan dunia sosiostruktural sebagai produk manusia; (2) objektivasi, interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang diorganisasikan atau mengalami proses institusionalisasi; sedangkan (3) internalisasi, proses yang dimana seseorang mengindentifikasinya dirinya dengan organisasi sosial atau lembaga sosial latar individu menjadi keikutsertaannya. (Bungin,2010:1997).

Eksternalisasi merupakan proses saat suatu produk sosial telah menjadi sesuatu bahan penting kepada orang-orang yang setiap waktu diperlukan dalam seseorang, maka produk sosial itu menjadi komponen penting dalam kehidupan individu untuk menyaksikan dunia luar. Dalam konteks tersebut, informasi dari media massa merupakan produk sosial yang diperlukan khayalak untuk memaknai lingkungan sosialnya.

(13)

18

Objektivikasi merupakan tahapan dimana produk sosial berada pada proses institusionalisasi atau pelembagaan sedangkan individu memanifestasikan diri dalam produk kegiatan manusia tersedia, baik dari produsennya, maupun bagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama. Objektivikasi ini berlangsung tanpa harus saling bertemu dengan kata lain objektivikasi bisa terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yang berkembang di masyarakat melalui opini masyarakat tentang produk sosial, dan tanpa harus terjadi tatap muka antarindividu dan pencipta produk sosial itu. Objektivikasi dilakukan melalui signifikasi bahasa.

Internalisasi adalah proses pemahaman atau penafsiran langsung dari suatu peristiwa objektif sebagai pengungkapan suatu makan, artinya sebagai manifestasi dari proses subjektif orang lain, yang demikian menjadi subjektif bagi individu itu sendiri. Tidak peduli apakah subjektif bagi orang lain bersesuaian dengan subjektif individu tertentu. Kesesuaian sepenuhnya dari kedua makna subjektif individu tertentu. Kesesuaian sepenuhnya dari kedua arti pengetahuan timbal balik dan subjektif terkait kecocokan tersebut, memisalkan terbentuknya pemahaman secara bersama. Dalam hal tersebut melalui pengaruh media massa akan membentuk ungkapan umum atau yang disebut opini publik yang sama.

3. Konstruksi Realitas Media Massa

Prinsip dasar dari National Association for Media Literacy Education’s (2007) adalah sebagai berikut:

a. “Membangun” semua pesan media.

b. Setiap media memiliki karakteristik, kekuatan, dan keunikan “membangun bahasa” yang berbeda.

c. Pesan media diproduksi untuk suatu tujuan.

d. Semua pesan media berisi penanaman nilai dan tujuan yang ingin dicapai.

e. Manusia menggunakan kemampuan, keyakinan, dan pengalaman mereka untuk membangun sendiri arti pesan media.

f. Media dan pesan media dapat memengaruhi keyakinan, sikap, nilai, perilaku dan proses demokrasi.

(14)

19

Pesan bewujud informasi liputan khusus, berita dan lainnya adalah suatu hal yang dibentuk dan didirikan oleh media untuk maksud tujuan tertentu. Ada motif dibalik setiap kalimat yang ditayangkan yakni unsur-unsur yang ingin disampaikan dalam hati para penonton televisi dan pengguna koran. Sebab pada pendapatnya manusia mempunyai pengharapan dan kemampuan menyaring pesan itu secara kognisi. Perubahan kognitif dalam pikiran seseorang dapat memengaruhi pola perubahan perilaku dan sikap kita dalam melihat dan dimengerti di dunia ini.

Selain itu, media massa tidak hanya saja sebagai kelengkapan informasi yang menyampaikan berita secara faktual dan aktual namun lebih dari itu mereka menjajal mendirikan suatu pemahaman dalam kemampuan dalam hati kita. Semua itu hanya mampu dilksanakan apabila pesan tersebut mampu diringkas dengan bagus dan bisa dicerna oleh kemampuan kognisi kita. Metode pemberitaan merupakan sesuatu yang anyar atau nilai anyar, jika tidak diperbarui maka hal tersebut bukan berita aktual, tetapi selain kebaruan itu juga yang paling penting adalah faktual yakni sesuatu kejadian diungkapkan seadanya dengan tidak dilebih-lebihkan dan wajib menurut kejadian pada kali pertama peristiwa itu ditemukan.

D. Teori Agenda Setting

Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw adalah orang yang pertama kali memperkenalkan teori agenda setting ini. Teori ini muncul pertama kali tahun 1972, dengan publikasi pertamanya berjudul “The Agenda Setting Function of The Mass Media” Public Opinion Quarterly No. 37.

Ketika diadakan penelitian tentang pemilihan Presiden Amerika Selatan pada tahun 1968 ditemukan hubungan yang tinggi antara penekanan berita dengan bagaimana berita itu dinilai tingkatannya oleh pemilih. Meningkatnya nilai penting suatu topik berita pada media massa menyebabkan meningkatnya nilai penting topik tersebut bagi khayalaknya.

Dalam penyebaran informasi dalam media massa, dipengaruhi oleh berberapa teori, salah satunya adalah teori agenda setting. Asumsi teori ini adalah media massa memiliki kemampuan untuk meyeleksi dan mengalihkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu (Nurudin,2007:196)

Media mengatakan apa yang penting dan tidak penting, apa yang perlu dan apa yang tidak perlu, media mengontrol semua tokoh besar yang hampir terlupakan, serta

(15)

20

tokoh yang didukung. Semakin ramai perbincangan di media, maka akan semakin ramai pula perbincangan di masyarakat. Pada penelitian ini penulis menggunakan media online m.bola.net dan bolasport.com tentang pemberitaan Liga Primer Inggris Musim 2018-19. Menurut ungkapan Chaffe dan Berger (dalam Nurudin,2007:197) ada catatan yang perlu dimaksudkan untuk memperjelas teori ini :

1. Teori ini memiliki kekuatan penjelas untuk memberitahukan mengapa masyarakat sama menganggap penting sebuah kabar.

2. Teori ini memiliki kekuatan memprediksi sebab, memprediksi masyarakat mengakses media yang sama, mereka akan beranggapan bahwa kabar tersebut penting.

3. Teori itu dapat dibuktikan salah jika masyarakat tidak mengakses media yang sama maka mereka tidak akan memiliki persamaan bahwa kabar media itu penting.

Griffin J (Griffin,2003:490) berasumsi bahwa teori agenda setting ialah jika media memiliki kemampuan mentransfer isu untuk mempengaruhi agenda publik, Khayalak akan menganggap isu itu penting juga. Secara singkat teori ini media (khusunya media berita) tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita pikir, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberi tahu kita berpikir tentang apa. Media massa selalu mengarahkan kita pada apa yang harus kita lakukan.

Media memberi agenda melalui pemberitaanya, sedangkan masyarakat mengikutinya Menurut asumsi teori ini media memiliki kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu.

Untuk memperjelas tiga agenda dalam teori agenda setting ini, ada berberapa dimensi yang berkaitan seperti yang dikemukakan oleh Mannheim (Severin dan Tankard Jr, 1992) sebagai berikut

1. Agenda Media

a. Visibility (penonjolan visibilitas), tingkat dan jumlah menonjolnya berita.

b. Audience salience (tingkat menonjol bagi khayalak), relevansi isi berita dengan permintaan khayalak.

(16)

21

c. Valence (valensi), menggembirakan atau tidak menggembirakan metode pemberitaan bagi suatu kejadian.

2. Agenda Khayalak

a. Familiarty (kekeluargaan), tingkat kesadaran khayalak akan tema tertentu.

b. Personal salience (penonjolan pribadi), relevansi kepentingan seseorang dengan ciri pribadi masing-masing.

c. Favorability (kesenangan), perasaan tidak suka atau suka akan tema berita.

3. Agenda Kebijakan

a. Support (dukungan), kegiatan menggembirakan bagi jenis berita tertentu.

b. Likehood of action (kemungkinan kegiatan), pemerintah kemungkinan melakukan apa yang dimisalkan.

c. Freedom of action (kebebasan berpendapat), nilai aktivitas yang mungkin akan dijalankan pemerintah.

Peneliti menggunakan agenda setting untuk menggambarkan bagaimana media online m.bola.net dan bolasport.com dalam memberitakan Liga Primer Inggris. Proses ini akan memunculkan bagaimana agenda kedua media tersebut memunculkan pemberitaan kepada masyarakat dan bagaimana media online ini ingin menunjukan kepada masyarakat ciri khas media tersebut. Pertanyaan ini menimbulkan pertanyaan seberapa besar kekuatan media mampu mempengaruhi agenda publik dan bagaimana publik ini melakukanya.

E. Framing

Setiap harinya berbagai peristiwa terjadi di dunia ini. Akan tetapi tidak semua diberitakan oleh media. Dalam suatu media lebih memilih memberitakan berita yang sama dan melupakan yang lain. Bahkan jika ada peristiwa yang sama dalam satu hari, media acapkali menghadirkan peristiwa itu dalam frame yang berbeda ke masyarakat.

Analisis framing adalah analisis untuk mengetahui bagaimana realitas dibingkai terhadap media. Pembingkaian tersebut pasti lewat proses konstruksi (Eriyanto,2002:10). Dari definisi diatas, dijelaskan bahwa analisis framing adalah cara yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengkonstruksi, memahami, maupun membingkai sebuah berita.

(17)

22

Framing, sebuah kenyataan yang kompleks dipahami dan disederhanakan dalam kriteria tertentu. Bagi orang-orang, penyajian seperti ini membuat kenyataan lebih berarti, Sebagai sebuah model analisis framing, analisis teks mempunyai sifat yang tidak sama dibandingkan dengan analisis kuantitatif. Dalam analisis kuantitatif, yang lebih dikhususkan pada bagian isi (content) dari teks komunikasi atau sebuah pesan.

Sementara dalam analisis framing, yang menjadi sorotan merupakan pembentukan pesan dari kalimat (Eriyanto,2002:10)

Maka dari itu, analisis framing dipakai untuk mengetahui bagaimana media memilah berita dan isu. Media dapat memilih dan mencanangkan batasan dan standar tertentu dalam mengatur dan menyajikan berita. Dalam framing ada dua aspek, yang pertama memilih realitas atau fakta. Proses memilih realitas ini berdasarkan pada pedapat, wartawan mustahil menyaksikan kejadian secara tidak perspektif (Eriyanto,2002:69). Keduanya merupakan menulis realitas. Proses ini berkaitan dengan bagaimana realitas digunakan untuk disajikan terhadap orang-orang.

Dalam hal diatas, dapat dipahami bahwa konsep framing membuat dimensi tertentu dari konstruksi berita yang dilakukan oleh media. Tentuanya hal itu akan membuat media menjadi bermakna dan diingat oleh masyarakat. Maka tujuan dari analisis framing itu sendiri adalah untuk membedah ideologi media dalam mengkonstruksi realita sehingga berita yang ditampilkan lebih fokus dan melalui penonjolan yang dilakukan media. Penonjolan membuat informasi lebih diperhatikan dan bermakna. Ada tiga proses framing dalam organisasi media menurut (Sobur,2011:166). Ada tiga proses yaitu :

1. Sebagai cara penyajian kenyataan dimana realitas tentang suatu perisitiwa tidak diingkari secara menyeluruh, namun digantikan secara halus dengan memberikan sorotan pada suatu aspek tertentu. Dengan memakai definisi yang mempunyai konotasi tertentu dengan bantuan gambar, foto, atau ilustrasi lainnya.

2. Adalah unsur tak lepas dari proses pegeditan yang melibatkan semua pekerja di bagian redaksi media cetak. Redaktur tidak atau dengan berkonsultasi dengan pelaksana redaksi, menentukan apabila laporan reporter akan ditampilkan atau tidak, dan menentukan judul yang akan diinformasikan.

3. Tidak hanya melibatkan para pekerja keras tetapi juga kelompok yang berebut lahan terhadap kejadian tertentu yang tiap-tiap anggota berupaya memuat sisi informasi yang ingin ditonjolkan (dengan sambil membunyikan sisi lain) Proses

(18)

23

framing menjadikan media massa sebagai area informasi tentang permasalahan tertentu diperdebatkan dalam suatu adu simbiolik antara banyak pihak yang bersama-sama menginginkan pendapat ingin disupport oleh pembaca.

Sorotan terhadap analisis framing merupakan perpaduan kalimat dari suatu teks.

Framing juga memberikan efek. Efek yang paling banyak dipakai yaitu kenyaatan sosial yang rumit, tidak beraturan dan penuh dimensi disajikan ke dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana secara logis dan beraturan.

EFEK FRAMING

Tabel 2.1

Mengistilahkan realitas terentu Melupakan definisi akan realitas Penonjolan aspek tertentu Pengaburan aspek lain

Penyajian sisi tertentu Penghilangan sisi tertentu Pemilihan fakta tertentu Pengabaian fakta lain Sumber Eriyanto (2002:141)

Efek yang diperoleh tergantung pada media tersebut sendiri bagaimana memframingkan berita. Dari sekian banyak model framing, peneliti menggunakan model Zhongdang Pan dan Gerald M.Kosicki untuk menganalisis pemberitaan Liga Primer Inggris oleh media onlne m.bola.net dan bola.sport.com.

Konsep framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki mempunyai dua konsepsi, yaitu sosiologis dan psikologis. Dalam konsepsi psikologis, framing berhubungan dengan cara pendapatnya sendiri untuk menyaksikan bagaimana realitas itu dikonstruksikan, sedangkan dalam konsepsi sosiologis, framing berkatian denga sturktur dan proses kognitif bagaimana individu mengelola informasi dan ditunjukkan dalam bentuk tertentu yang lebih menonjol.

(19)

24

Bagi Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki (Eriyanto,2002:253), framing melibatkan dua pemahaman tersebut. Dalam media, framing dimengerti sebagai perangkat kognisi yang dipakai dalam informasi yang membuat sandi, menafsirkan dan menyimpanya untuk dibicarakan kepada khayalak yang kesemuanya dikaitkan dengan rutinitas, konvensi dan praktek kerja profesional wartawan.

Model Gerald M. Kosicki dan Zhongdang Pan memliki empat perangkat penting, yaitu :

1. Sintaksis 2. Skrip 3. Tematik 4. Retoris

Keempatnya adalah perangkat penting yang saling bekaitan guna menunjukan adanya framing pada suatu berita.

1. Sintaksis adalah tumpukkan dari bagian berita seperti headline yang dipakai, teras berita yang digunakan, tempat informasi, penutup dan sumber yang digunakan dalam berita. Bagian ini tertumpuk dalam bentuk yang teratur dan stagnan, sehingga membentuk skema yang menjadi paduan bagaimana fakta diatur (Eriyanto,2002:257). Dalam bagian berita, umumnya menggunakan piramida terbalik. Mulai dari yang penting ditonjolkan diatas hingga semakin kebawah semakin sumbang. Namun kadang kala hal yang menjadi strategi media untuk menonjolkan sesuatu hal yang menyembunyikan hal-hal lainya.

Analisa struktur sintaksis berujuan untuk mengetahui bagaimana cara wartawan dalam menyusun realita kedalam berita.

2. Skrip merupakan unsur kelengkapan berita yang terdiri dari 5W+1H how, when, what, why, where, who). Keenam bagan tersebut tidak semuanya ada dalam suatu berita. Dari sini kita sudah bisa menilai bahwa media tersebut sengaja mengabaikan aspek tersebut untuk alasan tertentu. Tidak hanya itu, meskipun dalam suatu berita terdapat semua aspek tersebut, belum tentu media tersebut sebagai penengah. Analisis harus menuju pada satu nama yang ditonjolkan, maka unsur framing dapat terlihat.

(20)

25

3. Tematik merupakan perwujudan cara wartawan untuk mengungkap pandanganya atas realita, kejadian kedalam antar kalimat dan kaitan proposisi kalimat yang membentuk teks media (Sobur,2011:176). Hal ini berhubungan dengan bagaimana realita yang sudah diterima oleh wartawan lalu ditulis.

Seperti apa kalimat yang digunakan, bagaimana menulis sumber dan meletakkan dalam berita. Bagian yang diamati dari unsur tematik adalah paragraf, proposisi kalimat, kaitan antar kalimat yang mungkin didalamnya terdapat koherensi dengan berbagai macam koherensi.

4. Retoris adalah struktur yang mendeskripsikan pilihan kata atau gaya kepada wartawan untuk menonjolkan bagan tertentu dari suatu kejadian sehingga terbangun citra yang diinginkan (Eriyanto,2002:264). Hal ini dapat dilihat dengan melihat kecenderungan pemakaian kata dan pemilihan kata, adanya unsur grafis berupa gambar, tabel, foto, majas metafora, penggunaan font and font size.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki menggunakan keempat perangkat tadi untuk menganalisis perkata dan bagaimana media melengkapi pemberitaanya. Dalam hal ini peneliti memakai media online m.bola.net dan bolasport.com dan peneliti menggunkan keempat unsur tersebut untuk mengetahui bagaimana kedua media online tersebut membingkai pemberitaan Liga Primer Inggris.

F. Konstruksi Berita

1. Berita

Definisi “news”, bermula dari bahasa Inggris yang dimaskud “berita”. Dan

“new” (baru) bermula dari hal-hal konotasi yang baru. Secara penjelasan, semua sesuatu yang baru merupakan bahan informasi yang dapat dibicarakan kepada masyarakat ke dalam bentuk berita (news).

Maka dari itu, Hornbby (1961) mengungkapkan bahwa “news” sebagai pelaporan tentang apa yang terjadi paling mutakhir (sangat terbaru), baik kejadiannya maupun realinya. Secara ilmiah, Curtis D.MacDogall (1977) mengatakan bahwa berita yang selalu diincar pada banyak reporter adalah laporan tentang realita yang terlibat

(21)

26

dalam suatu kejadian, akan tetapi, menurut Dr. Williard G. Bleyer menjelaskan berita sebagai semua hal yang baru dan menarik animo banyak pembaca, dan berita yang terbaik adalah berita yang paling menarik animo bagi jumlah pembaca yang ter besar. Dalam hal ini Bleyer tidak membandingkan antara laporan dengan kejadiannya sendiri, padahal satu sama lain sangat jauh perbandingannya. Bukan peristiwa atau fakta yang dibaca dan diterima masyarakat melainkan laporannya.

(Suhandang, 2010: 97-98)

2. Nilai Berita

Hal yang paling penting selain cara menyajikan adalah nilai dari berita itu sendiri, yaitu sebuah kejadian atau fakta yang “dibumbui” ibarat warna kalau tidak memiliki nilai yang penting tetap akan menjadi hambar. Jadi pepaduan antara fakta dan kejadian serta nilai berita itu menarik. Ibarat sebuah sup kalau dihidangkan tanpa bahan makanan yang kurang bagus tetap akan dinilai kurang bagus pula oleh memakannya.

Wonohito (1960) dalam Suhandang (2010:141), adapun mengenai isi beritanya yang menarik perhatian khayalak, Dounglas Wood Milner mencatat delapan hal yang bisa membangkitkan perasaan dan pikiran manusia. Kedelapan hal tersebut adalah:

a. Kisah mengenai pribadi pembaca, pendengar dan penonton sendiri b. Kisah mengenai masyarakat dan kota yang dikenal pembaca c. Kisah mengenai hal yang luar biasa

d. Nama-nama terkenal

e. Kisah mengenai pertandingan antara dua kekuatan yang saling berlawanan f. Kisah peristiwa yang bersifat kemanusiaan (human interest)

g. Kisah tentang hewan

3. Konstruksi Pemberitaan

Sesuatu yang sangat penting yaitu mengemas framing atau berita, bagaimanapun sebuah isu jika ditonjolkan jika mengemasnya masih kurang bagus isu tersebut akan

(22)

27

kurang menarik, bahkan kalimat yang ingin diinformasikan terkadang kurang bias atau mengena. Maka berita itu wajib dikonstruksi semaksimal mungkin dibentuk dengan bagus, supaya konstruksi pesan itu dapat dimengerti oleh audience.

Berhubungan terhadap teknis konstruksi ini, penulis mencoba ingin mengaitkan kembali terhadap teori agenda setting, bahwa hipotesis ”apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting oleh khayalak.” Sebuah isu yang ditonjolkan pada media massa sebelumnya wajib dikonstruksi atau kalau dicontohkan semisal mendirikan satu bangunan rumah, pertama harus diletakkan pondasinya, kemudian dindingnya baru gentingnya. Isu itu merupakan adalah kediamannya, bagaimana ssatu berita bisa dimengerti kepada khayalak jika bentuknya saja tidak kelihatan.

Isu merupakan wujud yang kurang jelas, masih belum dimengerti agar jelas maka wajib ada bentuknya. Seperti bangunan rumah jika rumah itu didirikan secara baik maka seseorang (penonton, pembaca) akan menyaksikannya baik juga, tetapi apabila dikonstruksi dengan kurang bagus, maka khayalak akan menyaksikannya tak ubahnya rumah yang sudah tua.

Referensi

Dokumen terkait

Pelanggan, merupakan orang yang melakukan proses pemesanan menu meliputi memilih kategori, memilih menu, memilih jumlah menu, melihat harga pesanan dan melihat

Kesimpulan yang dapat diberikan untuk komunitas belajar yang menunjang profesi guru dipaparkan oleh Peppers (2015: 29) bahwa tema yang muncul dari temuan

Untuk menyebut di antara ilmuwan dimaksud adalah Fazlur Rahman dari Pakistan yang menunjukkan pentingnya hermeneutika dalam kajian Islam, Syahrur dari Syria yang

Manajemen risiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur risiko, serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Manejemen

PENGARUH CURAH HUJAN DAN LIMPASAN TERHADAP KEHILANGAN TANAH PADA AREAL PEMBUKAAN LAHAN Dl KUAMANG KUNING

Cara kerja mekanisme gerak berjalan (trolley) pada tower crane adalah motor penggerak yang dihubungkan lengan drum penggulung kabel baja pada mekanisme berjalan yang

Berdasarkan uraian singkat di atas dan dengan mengetahui akan pentingnya pemilihan strategi pembelajaran serta media yang digunakan dalam proses pembelajaran, maka peneliti

keadaa daan n sek sekita itarny rnya a sesu sesuai ai den dengan gan kem kemamp ampuan uanny nya. esain esain sistem l sistem lalu lin alu lintas unt tas untuk ke uk