AT TAAJIR
Jurnal Ekonomi Bisnis dan Keuangan Syariah
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG MINAT SANTRI PUTRI DALAM BERWIRAUSAHA MANDIRI (Studi Kasus Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur)
Ditta Nurhidayati, Darwadi-IAI Agus Salim Metro Lampung
PRAKTEK SITA AKIBAT WANPRESTASI PADA AKAD LEASING DI MANDALA FINANCE KECAMATAN RUMBIA LAMPUNG TENGAH
Zainal Arifin-IAI Agus Salim Metro Lampung
PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP BANK KONVENSIONAL
(Studi kasus Faktor-Faktor Penyebab Tokoh Agama Memilih Pembiayaan Pada Bank Konvensional Kecamatan Metro Barat Kota Metro)
Nasrul Amanu, Hikmah Dwi Astuti-IAI Agus Salim Metro Lampung
PELAKSANAAN MONITORING PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI BMT NURUL HUSNAH SEKAMPUNG Zakiatun Nufus, Chamdini Putri-IAI Agus Salim Metro Lampung
STRATEGI PEMASARAN DALAM MENINGKATKAN MINAT NASABAH PADA PRODUK GADAI DI BPRS METRO MADANI KOTA METRO
Hevi Oktiawati, Mahfudz-IAI Agus Salim Metro Lampung
AT TAAJIR : Jurnal Ekonomi Bisnis dan Keuangan Syariah Vol. 02 No.01 (2021) pp (01-15)
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG MINAT SANTRI PUTRI DALAM BERWIRAUSAHA MANDIRI
(Studi Kasus Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur) Dita Nurhidayanti, Darwadi
Institut Agama Islam Agus Salim Metro Lampung Email: [email protected]
Abstrak
Entrepreneur sebagai sumber tenaga kerja untuk menghasilkan produk yang berkualitas, baik berupa materi maupun produk berupa jasa. Sebagai seorang individu, seorang entrepreneur juga mempunyai sesuatu yang utama mengenai perilaku, sikap serta kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan berkembang yang dibentuk oleh kondisi lingkungan bahkan pengalaman-pengalaman ditempat kerjannya. Seorang wirausaha harus pandai mencari peluang untuk menentukan langkah kegiatan, dan berani menanggung resiko dalam upaya meraih kemanfaatan dalam produk atau jasa yang digunakannya. Pertanyaan penelitian adalah faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur dan manfaat penelitian adalah secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat luas tentang minat santri putri dalam berwirausahn dan secara teoritis bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu ekonomi Islam tentang faktor- faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha
Jenis dan sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer yaitu Khusnul Wilda, Alfi Roisah, Siti Fatimah, Indah Kurniati dan Siti Nuraini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik keabsahan data yaitu pengecekan hasil data tentang faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha. Teknik data menggunakan analisis kualitatif yaitu proses mencari dan menyusun secara berurutan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain.
Berdasarkan wawancara dan observasi kepada santri putri dan pengurus terhadap faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur adalah santri putri mempunyai kemampuan untuk hidup mandiri, menambah uang saku dan menambah pengalaman hidup mandiri. Para santri dituntut untuk mempunyai motivasi tinggi guna menumbuhkan jiwa kemandirian dalam mewujudkan apa yang diinginkannya terutama dalam hal menjadi wirausaha yang mandiri hal ini disebabkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam berwirausahan yang sesuai dengan syariat Islam, membantu orang lain, bermasyarakat dan tumbuh berkembang menjadi manusia yang mempunyai kompetensi yang baik disegala bidang sesuai dengan perkembangan zaman
Kata Kunci : Minat, Santri, Usaha Mandiri.
Abstract
Entrepreneur as a source of labor to produce quality products, both in the form of materials and products in the form of services. As an individual, an entrepreneur also has something major about behavior, attitudes and habits that grow and develop which are shaped by environmental conditions and even experiences in the workplace. An entrepreneur must be good at looking for opportunities to determine the steps of activities, and dare to take risks in an effort to achieve benefits in the products or services he uses. The research question is the factors that encourage female students' interest in entrepreneurship at the Riyadlatul Ulum Islamic Boarding School, Batanghari, East Lampung Regency. The purpose of this study was to determine the factors that encourage female students' interest in entrepreneurship at the Riyadlatul Ulum Islamic Boarding School, Batanghari, East Lampung Regency and the benefits of the research are that practically the results of this study are expected to contribute ideas to the wider community about the interest of female students in entrepreneurship
2
and in general. theoretically that the results of this study are expected to provide scientific development, especially Islamic economics about the factors that encourage female students' interest in entrepreneurship.
The type and nature of this research is descriptive qualitative research. The data sources used are primary data sources, namely Khusnul Wilda, Alfi Roisah, Siti Fatimah, Indah Kurniati and Siti Nuraini. The method used in this research is interviews, documentation and observation. The data validity technique is checking the data results about the factors that encourage female students' interest in entrepreneurship. The data technique uses qualitative analysis, namely the process of searching and compiling sequentially based on data obtained from interviews, field notes and other materials.
Based on interviews and observations of female students and administrators on the factors that encourage female students' interest in entrepreneurship at the Riyadlatul Ulum Islamic Boarding School, Batanghari, East Lampung Regency, female students have the ability to live independently, increase pocket money and increase the experience of independent living. The students are required to have high motivation in order to foster a spirit of independence in realizing what they want, especially in terms of becoming an independent entrepreneur. have good competence in all fields in accordance with the times
Keywords: Interests, Students, Independent Business.
PENDAHULUAN
Wirausaha secara umum adalah orang yang menjalankan usaha atau perusahaan dengan kemungkinan untung atau rugi.1 Wirausaha adalah seseorang yang memiliki karakteristik percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambil resiko yang wajar, kepemimpinan yang lugas, kreatif menghasilkan inovasi serta berorientasi pada masa depan.2 Pendpat lain mengatakan bahwa seorang wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.3
Seorang wirausaha harus mampu menciptakan produk dan ide kreatif sehingga dapat menarik minat pembeli agar usaha yang ia lakukan dapat berkembang namuntidak menutup kemungkinan seorang wirausaha mengalami kendala sehingga menanggung resiko. Berwirausaha memerlukan motivasi dengan tujuan untuk menumbuhkan dan mendorong keinginan untuk maju dalam mengembangkan ide kreatif untuk menciptakan sesuatu yang dapat menghasilkan dan menjual produk atau barang.
Motivasi yang dilakukan adalah mencari tambahan energi supaya muncul kekuatan baru sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga pilihan ada ditangan kita sendiri.4 motivasi tergantung pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Pada dasarnya motivasi mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Dengan kata lain adalah dorongan dari luar terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu.
Pengurus pondok harus mampu meningkatkan fungsi manajemen, menjadi kewajiban dari setiap pengurus untuk mendorong dan memotivasi setiap santrinya khususnya santri putri untuk mampu mengembangkan ide-ide kreatif dan mempunyai usaha yang baik sehingga dapat mengembangkan kemauan dan bakat dalam diri santri tersebut. Prestasi santri putri terutama ditentukan oleh kemampuan dan daya dorong.
1 Muhammad Anwar, Pengantar Kewirausahaan Teori dan Aplikasi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2014), h.8.
2 Suryana, Kewirausahaan Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, (Jakarta : Salemba Empat, 2013), h.
38.
3 Buchari Alma, Kewirausahaan, (Bandung : Alfabeta, 2011), h. 24.
4 E. Widijo Hari Murdoko, Menjadi Pribadi Revolusioner, (Yogyakarta : Wanajati Chakra Renjana, 2012), h.100
3
Kemampuan seorang individu dibentuk oleh kualitas yang dimiliknya, seperti: pendidikan, pengalaman, dan karakter pribadi. Sedangkan daya dorong dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yaitu dari diri seorang dan faktor eksternal yaitu hal-hal dari luar atau dari lingkungan pesantren dan sekitarnya.
Santri putri yang mempunyai minat dan termotivasi oleh lingkungan pondok pesantrennya untuk berkarya dan mengembangkan serta menghasilkan suatu barang, harus mempunyai minat berwirausaha dengan adanya motivasi maka santri akan mempunyai minat yang kuat ntuk berbuat sesuatu terhadap wirausaha itu dengan perasaan senang karena membawa manfaat bagi dirinya
Berdasarkan Survey yang peneliti lakukan kepada santri putri di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari dapat diketahui bahwa santri putri mempunyai ketertarikan, hobi dan keinginan untuk berwirausaha dikarenakan santri putri tersebut mempunyai ide kreatif dan mengetahui gaya hidup sekarang sesuai perkembangan zaman sehingga hal ini mendorong santri putri untuk berwirausaha selain itu denga usahanya tersebut akan menghasilkan uang untuk biaya santri dan biaya kehidupan sehari-hari. Ketertarikan santri putri dalam menjual jilbab, asesoris dan pakaian merupakan hal yang positif dalam berwirausaha, hobi dalam membuat kuliner dan santri putri yang mempunyai ide kreatif yang santri dalam ciptakan produk contohnya makanan. 5 Pondok pesantren, para santri dituntut untuk mempunyai motivasi tinggi guna menumbuhkan jiwa kemandirian dalam mewujudkan apa yang diinginkannya terutama dalam hal menjadi wirausaha yang mandiri.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur.
LANDASAN TEORI A. Entrepreneur
1. Pengertian Entrepreneur
Istilah wirausaha merupakan terjemahan dari kata entrepreneur (bahasa perancis) yang diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dengan arti between taker atau go between, yaitu orang yang berani bertindak mengambil peluang. Entrepreneur yaitu proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya disertai dengan menanggung resiko keuangan, kejiwaan, sosial dan menerima balas jasa dalam bentuk uang dan kepuasan pribadinya.6
Seorang entrepreneur harus bisa melihat suatu opportunity atau peluang dari perspektif yang berbeda dari orang lain atau yang tidak terpikirkan oleh orang lain yang kemudian bisa diwujudkan menjadi value.7 Pendapat lain mengatakan bahwa wirausahawan (entrepreneur) sebagai berikut:
a.Orang yang menaggung resiko.
b.Orang yang mengurus perusahaan
c. Orang yang memobilisasi dan mengalokasikan modal
5 Hasil Survey Di Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur.
6 Buchari Alma, Kewirausahaan, (Bandung : Alfabeta, 2011), h. 23
7 Muhammad Anwar, Pengantar Kewirausahaan Teori dan Aplikasi, (Jakarta : Kencana Prenadamedia, 2011), h. 24.
4 d.Orang yang menciptakan barang baru.8
Wirausahawan adalah mereka yang melakukan usaha-usaha kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumberdaya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup.
Pembisnis dapat mengetahui peluang, yaitu peluang tidak pernah habis. Namun hanya mereka yang bertindak cepat yang mampu memanfaatkannya.9 Dasar tujuan dari sebuah bisnis adalah untuk menciptakan para pelanggan yang puas, terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat.10
Seorang wiarusaha harus mengetahui situasi yang tepat untuk melakukan dan menciptakan produk yang masyarakat butuhkan. Wirausahawan adalah mereka yang menghubungkan gagasan kreatif dengan tindakan dan struktur bisnis tertentu. Istilah yang begitu popular untuk seorang wirausahawan adalah seorang wirausahawan berfikir untuk mengambil keputusan dan mengambil keputusan untuk berfikir, dengan kata lain seorang wirausahawan adalah mereka yang mengambil tindakan.
2. Ciri – Ciri Wirausaha
Seorang wirausaha harus mempunyai jiwa wirausaha hal ini dikarenakan pemikiran yang paling mendasar yaitu seorang wirausahawan harus mampu untuk memanfaatkan peluang dan mengciptakan produk yang nantinya akan digunakan oleh orang lain dan masyarakat. Sifat dan karakter wirausaha yang telah tertanam dalam diri individu sebagai akibat dari proses belajar individu seumur hidupnya Jiwa Kewirausahaan berada pada setiap orang yang mau berpikir kreatif dan inovatif. Ciri-ciri wirausahawan yang berhasil sebagai berikut:
a. Memiliki visi dan tujuan yang jelas.
b. Inisiatif dan selalu proaktif.
c. Berorientasi pada prestasi.
d. Berani mengambil resiko.
e. Kerja keras.
f. Bertanggung jawab terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang.
g. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati.
h. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak.11
Seorang wirausaha harus mempunyai jiwa berwirausaha antara lain mempunyai ide, inovatif, kreatif, berani mengambil resiko, mampu bekerja keras, bertanggung jawab atas apa yang dilakukan,
8 Rusdiana, Kewirausahaan Teori dan Praktik, (Bandung : Pustaka Setia, 2014), h. 26
9 Patrick Snow, Peta Jalan Keberhasilan Bagi Orang Sukses (Creating Your Own Destiny), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005) , h. 165
10 Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, (Yogyakaryta : Andi Yogyakarta, 2015), h.76
11 Kasmir,Kewirausahaan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007) h. 76.
5
mempunyai komitmen yang tinggi kepada semua pihak dan mampu mengembangkan usahanya serta mempu berkomunikasi dengan baik terhadap orang lain.
B. Minat Berwirausaha
1. Pengertian Minat Berwirausaha
Minat wirausaha adalah kemampuan untuk memberanikan diri dalam memenuhi kebutuhan hidup serta memecahkan permasalahan hidup, memajukan usaha atau menciptakan usaha baru dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri.12 Minat wirausaha adalah gejala psikis untuk memusatkan perhatian dan berbuat sesuatu terhadap wirausaha itu dengan perasaan senang karena membawa manfaat bagi dirinya.13 Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 sebagai berikut :
دع رلا( ْمِهِسُفْنَاِب اَم ا ْو ُرِ يَغُي ىَّتَح ٍم ْوَقِب اَم ُرِ يَغُي َلا َالله َّنِا...
: ۱۱ )
Artinya : “…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada dirinya sendiri…” 14
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa minat berwirausaha adalah keinginan, ketertarikan, serta kesediaan untuk bekerja keras atau berkemauan keras untuk berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa merasa takut dengan resiko yang akan terjadi, serta berkemauan keras untuk belajar dari kegagalan.
Indikator minat berwirausaha meliputi:
a. Pengetahuan.
b. Kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidup.
c. keyakinan kuat atas kekuatan sendiri.
d. Sikap jujur dan tanggung jawab.
e. Ketahanan fisik dan mental.
f. Ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha.
g. Pemikiran yang kreatif dan konstruktif.
h. Berorientasi ke masa depan.
i. Berani mengambil resiko.15
Minat berwirausaha harus memiliki sikap bertanggung jawab dengan memperhitungkan konsekuensi yang mungkin ada. Minat berwirausaha akan menarik individu terhadap suatu usaha dimana usaha tersebut dirasakan dapat memberikan suatu yang berguna, bermanfaat dan sangat penting bagi kehidupan dirinya sehingga menimbulkan suatu dorongan atau keinginan untuk mendapatkannya.
Adapun alasan seseorang berminat untuk berwirausaha adalah:
12 Muhammad Anwar, Pengantar Kewirausahaan h. 79
13 Suryana, Kewirausahaan, (Yogyakarta: Andi Offset, 2011), h.47.
14. Q. S Ar Ra’d (13) :250
15 Muhammad Anwar, Pengantar Kewirausahaan, h. 86.
6
a. Alasan keuangan, yakni untuk mencari nafkah, menjadi kaya, dan mencari pendapatan tambahan.
b. Alasan sosial, yakni untuk memperoleh gengsi atau status, agar dapat dikenal dan dihormati, serta agar dapat bertemu banyak orang.
c. Alasan pelayanan, yakni untuk membuka lapangan pekerjaan dan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.
d. Alasan pemenuhan diri, yakni untuk menjadi mandiri, mencapai sesuatu yang diinginkan, lebih produktif dan untuk menggunakan kemampuan pribadi. 16
Minat wirausaha berasal dari dalam diri seseorang untuk menciptakan sebuah bidang usaha. Minat wirausaha tersebut tidak hanya keinginan dari dalam diri saja, tetapi harus melihat ke depan dalam potensi mendirikan usaha. Minat berwirausaha muncul karena didahului oleh suatu pengetahuan dan informasi mengenai wirausaha yang kemudian dilanjutkan pada suatu kegiatan berpartisipasi untuk memperoleh pengalaman.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha
Minat berwirausaha tidak dibawa sejak lahir, tetapi tumbuh dan berkembang sesuai dengan faktor- faktor yang mempengaruhinya sebagai berikut:
a. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, meliputi sebagai berikut:
1) Intelegensi, yaitu faktor yang menentukan pemahaman pengetahuan yang ada dalam dirinya.
2) Kepribadian, kepribadian yang baik sangat menentukan psikologi dirinya, kepribadian meliputi:
a) Percaya Diri dan Mandiri
b) Berorientasi pada Tugas dan Hasil c) Keberanian Menghadapi Risiko d) Berorientasi ke Masa Depan e) Kepemimpinan
f) Keorisinalitasan: Kreativitas dan Inovasi.
3) Motivasi Pribadi, yaitu faktor yang paling utama dalam menentukan terhadap apa yang dilakukan seseorang agar keinginan terhadap sesuatu hal tercapai. Indikator motivasi sebagai berikut:
a) Penghasilan, dengan mempunyai motivasi yang baik pada dirinya maka akan mendapatkan penghasilan atas apa yang dilakukan dengan motivasi yang baik.
b) Penghargaan (Status Sosial), orang lain mampu mengetahui kerja keras yang dilakukan seseorang melalui dengan penghargaan.
c) Rasa Senang Terhadap Bidang Kewirausahaan, dengan adanya motivasi yang ada dari dalam diri seorang wirausaha maka wisirausahawan tersebut merasa nyaman, senang, optimis dan mengeluarkan kemampuan agar usahanya berkembang dan diakui oleh masyarakat.
16 Suryana, Kewirausahaan Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, (Jakarta : Salemaba Empat, 2003), h. 93.
7
b. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi minatnya. Faktor eksternal yang mempengaruhi minat wirausaha dapat berupa pendidikan dan lingkungan, karena dengan adanya pendidikan seorang wirausawa mampu mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengembangkan usahanya pada bidang yang tepat, sesuai kebutuhan masyarakat dan jenis barang atau usaha yanng sesuai dengan perkembangan zaman. 17
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa faktor-faktor motivasi dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu, faktor eksternal (karakteristik organisasi) dan faktor internal (karakteristik pribadi). Faktor eksternal karakteristik organisasi yaitu: lingkungan kerja yang menyenangkan, tingkat kompensasi, adanya penghargaan atas prestasi, status dan tanggung jawab. Faktor internal (karakteristik pribadi) yaitu:
tingkat kematangan pribadi, tingkat pendidikan, keinginan dan harapan pribadi, kebutuhan, kelelahan dan kebosanan.
Orientasi pondok pesantren adalah memberikan pendidikan dan pengajaran agama dan tujuannya adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat, mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam pendirian dan menegakkan Islam dalam masyarakat.
C. Santri
1. Pengertian Santri
Santri adalah seseorang yang mengikuti seseorang guru kemanapun pergi atau menetap dengan tujuan dapat belajar darinya suatu ilmu pengetahuan.18 santri merupakan remaja yang menjalankan pendidikan agama Islam dan pendidikan umum di sebuah pondok pesantren.19 Santri merupakan seseorang yang sedang mencari ilmu tentang agama Islam dan beribadah dengan sungguh-sungguh di pondok pesantren. Santri diidentikkan dengan kehidupan dan pola pikir keagamaan yang mapan, sehingga seakan-akan para santri lebih cenderung untuk mengurusi hal-hal yang bersifat keagamaan.
Santri menjadi unsur penting dalam pesantren, pesantren tanpa santri ibarat raja tanpa rakyat.
Santri adalah orang yang sedang mengeyam pendidikan agama di pesantren. Selama menimba ilmu di pesantren, santri juga akan ditanamkan nilai-nilai yang akan membentuk karakter santri yang tercermin dalam panca jiwa yaitu: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah dan kebebasan.
Dalam tradisi pesantren dapat ditemukan dua macam status santri, yaitu santri mukmin dan santrim kalong, yang dimaksud dengan santri mukim adalah murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan area itu memiliki probabilitas yang tinggi untuk menetap didalam kompleks pesantren. Biasanya santri mukim inilah yang akan tinggal di pesantren dalam waktu yang lama. Adapun yang dimaksud
17 Suryana, Kewirausahaan Pedoman, h. 115.
18 Nurcholis Madjid, Bilik – Bilik Pesantren, (Jakarta: Paramadina, 1997 ), h. 19.
19 Mujamil Qamar, Pesantren (Dari Transormasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi), (Jakarta: Erlangga, 2007), h.2.
8
dengan santri kalong adalah mereka yang berasal dari sekeliling pesantren. Mereka ini memiliki rumah yang letaknya tidak jauh dari pesantren.20
Santri di pesantren mengemban amanah untuk belajar mendalami ajaran agama (tafaqquh fiddin) guna memperoleh bekal ilmu yang mencukupi sebagai modal untuk berjuang menyebarkan ajaran agama Islam. Seorang santri harus mempunyai iman, Islam dan ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari dipesantren menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh- sungguh, berpegang teguh kepada aturan islam. serta dapat berbuat ihsan kepada sesama.
Santri merupakan unsur penting, sebab tidak mungkin dapat berlangsung kehidupan pesantren tanpa adanya santri. Pada pondok pesantren, karakteristik santri meliputi sebagai berikut:
a. Beriman yang tangguh.
b. Beramal sholeh.
c. Berakhlak mulia.21
Santri harus beriman yang tangguh artinya beriman berarti percaya, dengan demikian beriman yang dikehendaki oleh Islam adalah mempercayai segala yang diajarkan oleh Islam, Santri harus rajin Beramal sholeh, para santri tentunya mempunyai komitmen yang besar terhadap ajaran Islam dan mempunyai sikap untuk bertoleransi antar sesama dan mampu bernagi dengan orang lain, dan tentunya seorang santri harus mempunyai akhlak yang mulia, yakni hiasan setiap muslim.
2. Kemandirian Santri
Kemandirian merupakan salah satu sikap atau perilaku dimana tidak tergantung pada sesuatu dan orang lain serta selalu berusaha untuk berbuat maksimal.22. Kemandirian santri timbul karena adanya peraturan yang telah diterapkan oleh pengasuh atau pengurus pondok pesantren tersebut. Di dalam pondok pesantren santri dituntut untuk bisa hidup sendiri, karena semua hal yang berkaitan dengan diri santri dilakukan secara sendiri, kecuali aktifitas yang menuntut mereka untuk bersama-sama.23
Kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup dan cara memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
Kemampuan berwirausaha meliputi a) kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha yaitu mempelajari dan memahami apa yang menjadi kemauannya, b) kemampuan memotivasi diri, yaitu untuk melahirkan suatu tekad kemauan besar, c) kemampuan berinisiatif, yaitu mengajarkan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang ulang sehingga menjadi terbiasa berinisiatif, d) kemampuan berinovasi, yang melahirkan kreativitas (daya cipta) dan setelah dibiasakan
20 Mujib, Fatekhul, Pesantren dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Pamekasan: Pamekasan press, 2010), h. 49.
21 Wahid Zaini, Dunia Pemikiran Santri,(Yogjakarta:LKPSM NU DIY, 2002), h.48
22 Jamaluddin Mas’k, Pemberdayaan Pesantren, (Yogyakarta, Pustaka Pesantren, 2005), h.25.
23 Mujamil Qamar, Pesantren (Dari Transormasi, h.29.
9
berulang-ulang akan melahirkan motivasi, e) kemamapuan membentuk modal material, sosial, dan intelektual, f) kemampuan mengatur dan membiasakan diri, yaitu untuk selalu tepat waktu dalam segala tindakan melalui kebisaan dan tidak menunda pekerjaan, g) kemampuan mental yang dilandasi agama dan h) kemampuan membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik ataupun menyakitkan.
Kemandirian merupakan sikap atau perilaku dimana tidak tergantung pada sesuatu dan orang lain serta selalu berusaha untuk berbuat maksimal khususnyau dalam berwirausaha di lingkungan pondok pensantren. Kemandirian santri timbul karena adanya peraturan yang telah diterapkan oleh pengasuh atau pengurus pondok pesantren tersebut. Di dalam pondok pesantren santri dituntut untuk bisa hidup sendiri, karena semua hal yang berkaitan dengan diri santri dilakukan secara sendiri, kecuali aktifitas yang menuntut mereka untuk bersama-sama.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif lapangan (Field Research) yaitu untuk meneliti dan mengetahui faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini santri putri dan KH. M. Mualim Ridwan selaku pengurus pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur adalah santri pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur, santri putri yang mampu berkreasi dan mampu mengembangkan bakat dalam berwirausaha dan santri putri yang mempunyai bakat dan mampu mengelola usahanya dengan baik dan terus berkembang. Teknik pengumpulan data mengguankan wawancara, dokumentasi dan observasi. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik analisis data secara induktif, yaitu berpijak pada fakta-fakta yang bersifat khusus, kemudian dianalisis dan akhirnya ditemukan pemecahan persoalan yang bersifat umum.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Faktor-Faktor yang Mendorong Minat Santri Putri dalam Berwirausaha Mandiri
Kemandirian santri yang timbul karena adanya peraturan yang telah diterapkan oleh pengasuh atau pengurus pondok pesantren tersebut yaitu di pondok pesantren santri dituntut untuk bisa hidup sendiri, kecuali aktifitas yang menuntut mereka untuk bersama-sama. Tujuan para orang tua menitipkan anak-anak mereka di tempat ini (pondok pesantren) adalah agar anak-anak mereka kelak menjadi pribadi yang santun dan mandiri. Di lingkup pesantren para santri sesungguhnya dituntut memiliki kemampuan bukan hanya memahami kitab-kitab kuning tetapi juga menguasai dan memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang sedang berkembang sangat pesat. Dengan demikian kemampuan ini bisa memberikan manfaat kepada banyak orang.
Adapun hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap beberapa santri putri yang terkait faktor-faktor yang mempengaruhi santri melakukan aktivitas ekonomi (memproduksi) di lingkungan pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur, sebagai berikut:
10
1. Khusnul Wilda adalah santri putri di Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur sekaligus mahasiswi di STAIN Jurai Siwo Metro Prodi Ekonomi Islam. Khusnul memiliki ketertarikan dalam berjualan berwirausaha hal ini karena berwirausaha merupakan kagiatan yang positif dan menyenangkan karena bisa melatih memanajemen keuangan agar lebih berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan.
Dengan berjualan atau berwirausaha jilbab kita bisa mengetahui gaya hidup yang berkembang khususnya kaum hawa baik remaja maupun ibu-ibu yang akhur-akhir ini sangat menyukai jilbab dan model jilbab yang digunakan contohnya, jilbab Pashmina, Rabbani, Zoya dan sebagainya yang pada masa sekarang sangat berkembang pesat sehingga ia manfaatkan untuk berbisnis jilbab dan kita bisa bersosialisasi dengan orang lain serta mampu menerapkan ilmu pada mata kuliah yang kita dapat secara tidak langsung kita sudah mempraktekkan dalam berbisnis walau bisnis yang kita jalankan dalam ruang lingkup kecil.
Santri tersebut menjualnya dengan cara setiap seminggu sekali keliling untuk menawarkan jilbab kepada konsumennya antara lain santri pondok yang lain, masyarakat bahkan pengurus pondok. Terkadang santri pondok yang lain memesan jilbab kepada saudari khusnul. Oleh karena itu khusnul sering menerima pesanan jilbab yang konsumennya pesan.
2. Alfi Roisah adalah santri di Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur sekaligus mahasiswi STAIN Jurai Siwo Metro Prodi Ekonomi Islam. Saudari Alfi mempunyai ketertarikan dalam berwirausaha dibidang asesoris dan pakaian. Dengan berkembangnya asesoris wanita dan pakaian yang terus berkembang sehingga banyak wanita atau remaja mengukuti mode pakaian dan asesoris yang berkembang pada saat ini, saudara Alfi memanfaatkan berkembangnya zaman maka ia bisa mengetahui apa saja yang sedang berkembang pada masa sekarang sehingga ia manfaatkan dan menjadikan suatu kegiatan yang posiif dan baru untuknya, menambah inisiatif berwirausaha sesuai perkembangan zaman dan mengisi waktu luang selain itu juga menambah penghasilan. Di pondok pesantren masih terdapat waktu senggang atau luang yang biasanya digunakan oleh santri untuk membersihkan kamar dan sebagainya namun berbeda dengan saudara Alfi, ia memanfaatkan waktu luangnya untuk berbisnis yang dapat mengahasilkan uang. Ia menjual asesoris dan pakaian seminggu sekali dengan cara menawarkan kepada santri lainnya, pengurus pondok dan masyarakat dilingkungan pondok pesantren. Namun terkadang saudara Alfi menawarkan barang dagangannya dua minggu sekali hal ini disebabakan banyaknya model yang berkembang sehingga menuntut untuk lebih teliti dalam memilih pakaian dan asesoris untuk diperjual belikan.
3. Siti Fatimah adalah santri di Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur. Menurut Siti, berwirausaha dengan cara berjualan kotak tisu dan permen coklat merupakan kegiatan yang positif dan menyenangkan dapat bersosialisasi dan mengetahui hal apa yang sedang diminati oleh masyarakat sehingga dapat membantu wirausahawan untuk berwirausaha pada bidang yang sedang banyak diminati oleh orang lain salah satunya kotak tisu berdasarkan manik-manik yang sangat diminati oleh kaum hawa khususnya ibu-ibu dalam menghias rumah. Membuat permen coklat merupakan hobinya dalam membuat makanan, menurut Siti tidak puas ketika hanya membuat permen coklat saja namun ia ingin
11
mengembangkan dan mengetahui pendapat orang lain tentang permen coklat yang ia buat sehingga ia ingin menjualnya karena permen coklat harganya sangat terjangkau pada semua kalangan serta menjadi salah satu kebutuhan pangan semua orang baik wanita maupun pria yang berumur tua, muda, anak-anak bahkan balita. Saudara Fatimah hanya menerima pesanan saja. Apabila tidak ada yang memesan maka saudari Fatimah tidak membuat atau memproduksi manik-manik. Biasanya sebelum mendekati bulan puasa sudah banyak konsumen yang memesan tempat aqua, tempat permen, tempat tisu dan toples.
4. Indah Kurniati adalah santri di Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur.
Menurut Indah berwirausaha merupakan kegiatan baru baginya dalam mengembangkan hobinya dalam membuat makanan kemudian dijual di lingkungan pondok untuk menambah penghasilan. Dengan berwirausaha pada bidang makanan merupakan hal yang menyenangkan bagi ia dan lebih menyenangkan lagi apabila makanan yang ia buat habis terjual sehingga dapat meningkatkan kegiatan dalam berwirausahan dibidang makanan. Banyak santri lain yang membantu saudari indah dalam membuat berbagai makanan seperti, gorengan, keripik dan makanan ringan yang berbentuk kemasan lainnya yang dijual dikantin pondok pesantren. Saudari Indah setiap hari memproduksi makanan riangan.
5. Siti Nuraini adalah santri di Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur sekaligus mahasiswi STAIN Jurai Siwo Metro Prodi Ekonomi Islam, menurut Siti Nuraini berwirausaha merupakan hal yang paling menyenangkan karena dengan berwirausaha kita menerapkan ilmu yang kita dapat di bangku kulian tentang berwirausaha. Menjaga kantin dan menjual jenis makanan serta barang yang ada di kantin Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur, dengan menjaga dan menjual makanan dan barang yang ada dikantin kita harus bisa memanajemen, mampu bersosialisasi, percaya diri dan berinisiatif dalam mengembangkan usahanya.
Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dapat dijelaskan bahwa yang menunjukkan bahwa santri di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur memiliki minat, honi dan inisiatif yang tinggi dalam berwirausaha. Minat berwirausaha kaum santri di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur dilihat dari ketertarikan dalam bidang pakaian dan asesoris yang mereka lihat di media sosial sangat berkembang pesat sehingga ia manfaatkan sebagai peluang bisnis selain itu di pondok pesantren merupakan tempat yang setrategis untuk berwirausaha namun tidak menyampingkan kegiatan di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari. Selain berwirausaha dibidang asesoris dan pakaian, santri putri juga berjualan atau berwirausaha dibidang kuliner atau makanan yang merupakan kebutuhan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Numun santri putri tersebut mempunyai hobi dalam membuat segala makanan dan akan baik jika dijual belikan dilingkungan pondok selain itu dapat mengembangkan bakat berwirausaha dalam bidang kuliner atau makanan. Secara tidak langsung mereka sudah menerapkan dan mengetahui ilmu tentang berwirausaha yaitu percaya diri dalam menciptakan produk mempunyai ide kreatif untuk menarik minat pembeli, mempunyai wawasan yang luas dalam berwirausaha, memiliki jiwa kepemimpinan yang mampu merencanakan, mengoprasikan dan membentuk kelompok agar usaha berjalan dan berkembang dengan baik sehingga dapat di terima oleh masyarakat serta seorang
12
wirausaha yang mempunyai jiwa berwirausaha berani dalam mengambil resiko dalam segala hal yang nantinya akan menjadi kendala wirausaha tersebut namun ia mampu bisa mencari solusi yang baik tanpa merugikan usahanya.
Setelah melakukan penelitian, peneliti mengetahui bahwa seorang santri yang mampu berwirausaha adalah mereka yang mau dan mampu melakukan usaha-usaha kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumberdaya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup. Minat berwirausaha kaum santri di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur didukung oleh pengurus pondok yang merupakan motivasi yang diberikan pengurus pondok didasarkan pada dua indikator. Pertama, indikator pendidikan berupa nilai-nilai yang ditanamkan oleh para ustadz di Pondok Pesantren. Kedua, indikator lingkungan berupa latar belakang keluarga, lingkungan pondok pesantren (dorongan ustadz dan teman), dan kisah sukses seorang wirausahawan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan atau nilai-nilai yang ditanamkan oleh para ustadz tentang berwirausaha serta lingkungan sekitar santri yang senantiasa menjadi tempat memperoleh pelajaran dan pengalaman telah mempengaruhi kaum santri untuk berminat dalam berwirausaha.
B. Analisis Faktor yang Mendorong Minat Santri Putri dalam Berwirausaha Mandiri.
Berdasarkan wawancara dan observasi yang peneliti lakukan dalam mengumpulkan data dengan tujuan untuk menyempurnakan penelitian maka dapat dianalisis untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha mandiri di Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur, para santri dituntut untuk mempunyai minat dan motivasi yang tinggi untuk menumbuhkan jiwa kemandirian dalam mewujudkan keinginan dalam berwirausaha sehingga menjadi wirausahawan yang berkompeten dan mampu mengembangkan usahanya. Seorang wirausahawan harus mempunyai rasa percaya diri, membantu orang lain, dapat menarik minat pembeli namun sesuai dengan syariat Islam, mampu bersosialisasi terhadap masyarakat dan tumbuh berkembang menjadi manusia yang mempunyai kompetensi yang baik dan profesional disegala bidang serta mengetahui usaha yang mengukuti perkembangan zaman sehingga dapat menarik minat oran lain untuk membeli barang yang dijualnya dan makanan yang ia buat.
Faktor yang mempengaruhi santri putri untuk berwirausaha antara lain:
1. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Tingkat kematangan pribadi, tingkat pendidikan, keinginan dan harapan pribadi untuk masa depannya, kebutuhan, kesenangan dalam melakukan sesuatu hal dan kebosanan sehingga dapat menciptakan produk atau hal yang lain untuk berbuat sesuatu hal yang positif.
a. Santri mempunyai bakat untuk berwirausaha, dengan cara melihat santri yang berwirasusaha kemudian ia menirukan atau mencontoh.
b. Mempunyai kepribadian yang baik artinya santri putri mampu bergaul dengan baik, percaya diri, kreativitas dan mampu berinovasi dalam bisnisnya.
13
c. Santri merasa lebih semangat dalam berwirausaha karena santri mendapatkan hasil dari bisnis tersebut.
2. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi minatnya untuk berwirausaha. Faktor eksternal adalah pendidikan usaha manusia untuk menumbuh dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang berada dalam masyarakat dan kebudayaan
Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dapat disimpulkan bahwa dalam berwirausaha adalah : 1. Para santri sudah mempunyai bakat untuk berwirausaha.
2. Para santri putri dalam berwirausaha mempunyai kemampuan untuk hidup mandiri.
3. Menambah uang saku.
4. Menambah pengalaman hidup mandiri.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa seorang wirausaha harus mempunyai sifat dan karakteristik yang baik untuk menunjang keberhasilan dan berkembangnya produk yang di buat dan dikreasikan sehingga dapat memberikan peluang yang baik bagi sehingga menjadi entepreneur yang sukses.
Kemudian peneliti melakukan observasi untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur.
Berdasarkan wawancara, dokumentasi dan observasi yang peneliti lakukan untuk pengumpulan data dengan tujuan untuk menyempurnakan penelitian maka dapat di analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur bahwasannya di Pondok pesantren, para santri khususnya santri putri mempunyai minat dan motivasi tinggi dalam berwirausaha. Beberapa santri yang mempunyai ketertarikan dalam menjual asesoris dan pakaian, hobi membuat kuliner dan mempunyai inisiatif yang baik dalam berwirausaha guna menumbuhkan jiwa wirausaha mandiri dalam mewujudkan apa yang diinginkannya terutama dalam hal menjadi wirausaha yang mandiri hal ini disebabkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam berwirausahan yang sesuai dengan syariat Islam, membantu orang lain, bermasyarakat dan tumbuh berkembang menjadi manusia yang mempunyai kompetensi yang baik disegala bidang sesuai dengan perkembangan zaman.
Tidak membatasi seorang santri khususnya santri putri untuk mengembangkan bakat, hobi dan keinginan manjadi entrepreneur di lingkungan pondok, hal ini didasari oleh ketertarikan santri putri dalam mengembangkan usahanya, hobi santri dalam membuat makanan dan menjual makanan yang ia buat bertujuan untuk mengetahui minat pembeli dan pelanggannya dalam mengkonsumsi makanan yang ia buat dan seorang santri mampu memanajemen kantin yang ia kelola agar tetap berproduksi namun kagiatan santri tersebut tidak mengganggu kegiatan yang ada dipondok. Kegiatan berwirausaha yang santri lakukan pada hari libur dan waktu luang sehingga tidak mengganggu kegiatan di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur selain itu santri tersebut mendapat dukungan oleh pengurus pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kabupaten Lampung Timur.
14 KESIMPULAN
Berdasarkan data hasil penelitian di lapangan yang peneliti dilakukan, maka peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mendorong minat santri putri dalam berwirausaha di pondok pesantren Riyadlatul Ulum Batanghari Kab Lampung Timur adalah santri putri mempunyai kemampuan untuk hidup mandiri, menambah uang saku dan menambah pengalaman hidup mandiri. Faktor yang mempengaruhi santri putri untuk berwirausaha antara lain: Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, antara lain:
1. Santri mempunyai bakat untuk berwirausaha, dengan cara melihat santri yang berwirasusaha kemudian ia menirukan atau mencontoh.
2. Mempunyai kepribadian yang baik artinya santri putri mampu bergaul dengan baik, percaya diri, kreativitas dan mampu berinovasi dalam bisnisnya.
3. Santri merasa lebih semangat dalam berwirausaha karena santri mendapatkan hasil dari bisnis tersebut.
4. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi minatnya untuk berwirausaha, antara lain menambah uang saku dan menambah pengalaman hidup mandiri.
Para santri dituntut untuk mempunyai motivasi tinggi guna menumbuhkan jiwa kemandirian dalam mewujudkan apa yang diinginkannya terutama dalam hal menjadi wirausaha yang mandiri hal ini disebabkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam berwirausahan yang sesuai dengan syariat Islam, membantu orang lain, bermasyarakat dan tumbuh berkembang menjadi manusia yang mempunyai kompetensi yang baik disegala bidang sesuai dengan perkembangan zaman
DAFTAR PUSTAKA
Buchari Alma, Kewirausahaan, Bandung : Alfabeta, 2011.
Departemen Agama Republik Indonesia, AL-Qur'an dan Terjemahan, (Semarang : Diponegoro, 2008) E. Widijo Hari Murdoko, Menjadi Pribadi Revolusioner, Yogyakarta : Wanajati Chakra Renjana, 2012.
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, Yogyakaryta : Andi Yogyakarta, 2015.
Jamaluddin Mas’k, Pemberdayaan Pesantren, Yogyakarta, Pustaka Pesantren, 2005.
Kasmir,Kewirausahaan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007.
Melayu S.P Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara, 2016.
Muhammad Anwar, Pengantar Kewirausahaan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2014.
Mujamil Qamar, Pesantren (Dari Transormasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi), Jakarta: Erlangga, 2007.
Mujib, Fatekhul, Pesantren dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pamekasan: Pamekasan press, 2010.
Nurcholis Madjid, Bilik – Bilik Pesantren, Jakarta: Paramadina, 1997 .
Patrick Snow, Peta Jalan Keberhasilan Bagi Orang Sukses (Creating Your Own Destiny), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Rusdiana, Kewirausahaan Teori dan Praktik, Bandung : Pustaka Setia, 2014.
Suryana, Kewirausahaan Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Jakarta : Salemba Empat, 2013.
15
Suryana, Kewirausahaan Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Jakarta : Salemaba Empat, 2003.
Suryana, Kewirausahaan, Yogyakarta: Andi Offset, 2011.
Wahid Zaini, Dunia Pemikiran Santri, Y ogjakarta:LKPSM NU DIY, 2002.
AT TAAJIR : Jurnal Ekonomi Bisnis dan Keuangan Syariah Vol. 02 No.01 (2021) pp.(16-30)
PRAKTEK SITA AKIBAT WANPRESTASI PADA AKAD LEASING DI MANDALA FINANCE KECAMATAN RUMBIA LAMPUNG TENGAH
Zainal Arifin
Institut Agama Islam Agus Salim Metro Lampung Email: [email protected]
Abstrak
Perusahaan finance merupakan salah satu bentuk lembaga pembiayaan non bank yang mulai diminati masyarakat saat ini. Ini terlihat pada pengadaan kontrak yang dilakukan oleh perusahaan, di mana perusahaan berperan serta dalam kegiatan yang berhubungan dengan produk-produk yang ada dalam pasar multifinace ini.
Produknya yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah sewa usaha atau biasa disebut leasing.
Pertanyaan penelitian ini adalah Bagaimana praktek sita akibat wanprestasi dalam Akad Leasing di Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah di tinjau dari hukum yang berlaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui praktek sita akibat wanprestasi dalam Akad Leasing di Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah. Manfaat penelitian ini secara teoritis, adalah menambah khazanah pengetahuan di bidang Hukum, khususnya di bidang leasing/perjanjian/perikatan dan secara praktis, adalah saran, informasi dan referensi bagi Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dan sifat penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah Re-medial Collector dan Profesional Cellector (PC) dan konsumen Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah yang dilakukan sita atas objek barang jaminan dan sumber data sekunder.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data secara induktif, yaitu berpijak pada fakta-fakta yang bersifat khusus, kemudian dianalisis dan akhirnya ditemukan pemecahan persoalan yang bersifat umum.
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan dapat disimpukan bahwa praktek sita akibat wanprestasi dalam Akad Leasing di Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah adalah dengan adanya penyelesaian wanprestasi yaitu dengan cara memberikan surat peringatan yang dilakukan sampai tiga kali (SP1 diberikan waktu selama 30 hari, SP2 diberikan waktu selama 30 hari dan SP3 juga diberikan waktu selama 30 hari) jika sudah sampai tiga kali tidak ada i’tikad baik dari konsumen untuk menyelesaikan wanprestasi maka objek barang jaminan akan dilakukan penyitaan kemudian perusahaan melakukan eksekusi terhadap objek barang jaminan sesuai dengan surat tugas yang diberikan oleh Kepala Cabang Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah kepada Profesional Collector (PC) selanjutnya Profesional Collector (PC) membawa objek barang sitaan dan menyerahkan kepada perusahaan beserta dengan surat tugas.
Kata Kunci : Sita, Wanprestasi, Leasing
Abstract
Finance companies are one form of non-bank financing institutions that are starting to be in demand by the public at this time. This can be seen in the procurement of contracts carried out by the company, where the company participates in activities related to products in this multi-finance market. The product that is starting to be known by the public is leasing or commonly called leasing.
The question of this research is how is the practice of confiscation due to default in the Leasing Agreement at Mandala Finance, Rumbia District, Central Lampung in terms of applicable law. The purpose of this study was to determine the practice of confiscation due to default in the Leasing Agreement at Mandala Finance, Rumbia District, Central Lampung. The theoretical benefit of this research is to increase the knowledge base in the field of Law, especially in the field of leasing/agreement/commitment and practically, it is advice, information and reference for Mandala Finance, Rumbia District, Central Lampung. This type of research is field research and the nature of this research uses a qualitative descriptive approach. Sources of research data are Re-medial Collector and Professional Selector (PC) and consumers of Mandala Finance, Rumbia District, Central Lampung, which were confiscated on the object of collateral and secondary data sources. Data collection techniques used are interviews and documentation. This study uses an inductive data analysis technique, which is based on specific facts, then analyzed and finally found a general problem solving.
17
Based on the results of the research that the researchers did, it can be concluded that the practice of confiscation due to default in the Leasing Agreement in Mandala Finance, Rumbia District, Central Lampung, is the settlement of default, namely by giving a warning letter which is carried out up to three times (SP1 is given 30 days, SP2 is given time for 30 days and SP3 is also given 30 days) if it has been three times there is no good will from the consumer to resolve the default, the object of the collateral will be confiscated then the company executes the object of the collateral item in accordance with the assignment letter given by The Head of the Mandala Finance Branch, Rumbia District, Central Lampung, to the Professional Collector (PC), then the Professional Collector (PC) brings the object of confiscated goods and submits it to the company along with a letter of assignment.
Keywords: Confiscation, Default, Leasing
PENDAHULUAN
Perusahaan finance merupakan salah satu bentuk lembaga pembiayaan non bank yang mulai diminati masyarakat. Produknya yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah sewa usaha atau biasa disebut leasing.
Finance dapat dikatakan Lembaga Pembiayaan sebagai suatu bentuk penyediaan dana atau barang sebagai modal kepada masyarakat untuk pembelian barang yang pembayarannya dilakukan secara angsuran atau berkala oleh konsumen. Lembaga Pembiayaan dikenal juga dengan sistem pembiayaan konsumen seperti kegiatan pemberian modal di leasing yang hanya memberikan sebuah jaminan yang tidak langsung berdasarkan objek kebendaan, namun dengan berdasarkan bukti surat kepemilikan objek benda seperti motor yang memiliki Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Pembiayaan (finance) merupakan kegiatan yang dilakukan dalam bentuk dana bagi masyarakat untuk pembelian barang yang pembayarannya dilakukan secara angsuran atau berkala oleh masyarakat. dan timbul karena adanya kesepakatan antara dua pihak yaitu kreditur (perusahaan pembiayaan) dan debitur (konsumen) serta perjanjian ini menggunakan asas kebebasan berkontrak.
Perusahaan finance merupakan salah satu bentuk lembaga pembiayaan non bank yang mulai diminati masyarakat saat ini. Ini terlihat pada pengadaan kontrak yang dilakukan oleh perusahaan, dimana perusahaan berperan dalam kegiatan yang berhubungan dengan pasar multifinace ini. Produknya yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah sewa usaha atau biasa disebut leasing. Dalam finance terdapat hukum perhutangan yaitu pihak yang berhak menuntut dinamakan pihak berpiutang atau kreditur sedangkah pihak yang wajib memenuhi tuntutan dinamakan pihak yang berhutang atau debitur. Adapun barang sesuatu yang dapat dituntut dinamakan prestasi, yang menuntut undang-undang dapat berupa menyerahkan suatu barang, melakukan suatu perbuatan.
dan tidak melakukan suatu perbuatan.1
Dalam perushaan finance tentunya sering dikenal dengan wanprestasi adalah kecideraan atau kelalaian yang dilakukan pihak konsumen dalam melakukan kewajibannya artinya konsumen lelai dalam membayar angsuran. Pihak Finance memberikan pembiayaan kepada konsumen tentang barang atau jasa kemudian konsumen tidak dapat memenuhi kewajibannya menurut bahasa hukum konsumen tersebut melakukan wanprestasi. Terjadinya wanprestasi maka konsumen dikenakan kewajiban untuk mengganti kerugian yaitu
1 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Bandung: Intermasa, 1993), h. 123.
18
sanksi atau hukuman yang diterapkan dalam bentuk keharusan untuk membayar sejumlah uang.. Dalam penerapannya sebuah denda yang dapat dilakukan atau dikenakan dengan cara membuat sebuah konsekuensi lanjutan apabila tidak ada sebuah penyelesaian dari kedua belah pihak yang terlibat dalam masalah tersebut, namun hal ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan jasa dari pihak ketiga sebagai pihak yang akan melakukan penagihan, pada dasarnya sebuah denda merupakan kesalahan/kelalaian terhadap sebuah tagihan atau kewajiban yang sudah ditetapkan didalam sebuah kesepakatan awal.
Wanprestasi oleh pihak konsumen (debitur) yang berhutang secara formal dinyatakan telah lalai, yaitu dengan memperingatkan yang berhutang atau debitur bahwa kreditur atau pihak menghendaki pembayaran seketika atau jangka waktu pendek yang telah ditentukan. Singkatnya, hutang itu harus ditagih dan yang lalai harus ditegur dengan peringatan atau sommatie. Cara pemberian teguran terhadap debitur yang lalai tersebut telah diatur dalam pasal 1238 KUH Perdata yang menentukan bahwa teguran itu harus dengan surat perintah atau dengan akta sejenis namun apabila somasi tidak diperdulikan maka pihak finance akan melakukan penyitaan objek barang jaminan.
Sita Jaminan, dalam arti sempit sita jaminan lazimnya diterapkan dalam perkara utang-piutang. Dalam hal ini Sita Jaminan yakni menyita barang debitur selama belum dijatuhi putusan dalam perkara tersebut. Tujuan dari sita jaminan itu adalah agar barang itu tidak digelapkan atau diasingkan tergugat selama proses persidangan berlansung, sehingga pada saat putusan dilaksanakan, pelunasan pembayaran utang yang dituntut Penggugat dapat terpenuhi, dengan jalan menjual barang tersebut. Sita Jaminan juga berbeda pula dengan Sita Eksekusi
Suatu perjanjian mengenai pemberian suatu barang tertentu, sejak lahirnya perjanjian itu barang tersebut sudah menjadi tanggungan orang yang berhak menagih penyerahannya, artinya suatu perjanjian yang meletakkan kewajiban hanya pada satu pihak saja.2 Sita jaminan adalah tindakan menempatkan benda jaminan tergugat (harta sengketa) secara paksa berada dalam penjagaan yang dilakukan secara resmi berdasarkan perintah pengadilan atau Hakim. Sedangkan Eksekusi merupakan tindakan menjalankan putusan pengadilan secara paksa dan resmi berdasarkan perintah ketua pengadilan, oleh karena tergugat tidak bersedia menjalankan putusan pengadilan secara sukarela.
Hasil survey di Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah terdapat 35 konsumen yang melakukan wanprestasi yaitu konsumen yang tidak melaksanakan kewajibannya sesuai perjanjian yang telah disepakati sebelumya, karena keadaan memaksa secara sengaja dan terdapat indikasi konsumen untuk menghilangkan barang jaminan (gadai, jual, over alih) tanpa sepengetahuan pihak Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah mulai melakukan sita.3
Sita dapat dikatakan sebagai bentuk tindakan perampasan barang dari upaya dipindahkan dan atau disembunyikan atas hukum. Sita dilakukan didasarkan pada adanya putusan pengadilan yang diambil dalam persidangan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka tertarik untuk meneliti tentang praktik sita akibat wanprestasi dalam Akad Leasing di Mandala Finance Kecamatan Rumbia Kabupaten Lampung Tengah.
2 Subekti, Op Cit, h. 144
3 Survey di Mandala Finance Kecamatan Rumbia Lampung Tengah, pada tanggal 25 Maret 2019, pukul 10.05 WIB
19 LANDASAN TEORI
A. Praktik Sita Jaminan 1. Pengertian Sita Jaminan
Sita Jaminan (Conservatoir beslaag), sita ini dilakukan untuk menjamin hak-hak yang dimenangkan dalam suatu perkara sehingga gugatannya tidak sia-sia (Illusoir). Tujuan agar barang yang digunakan jaminan tidak digelapkan atau diasingkan tergugat selama proses persidangan berlangsung sehingga pada saat putusan dilaksanakan, pelunasan pembayaran utang yang dituntut penggugat dapat terpenuhi, dengan jalan menjual barang tersebut. Fungsinya sebagai menjamin pembayaran ganti rugi yang diajukan penggugat.4 Pengertian sita dalam hukum perdata sebagai berikut:
a. Tindakan menempatkan harta kekayaan tergugat secara paksa berada ke dalam keadaan penjagaan (to take into custody the property of a defendant).
b. Tindakan paksa penjagaan (custody) itu dilakukan secara resmi (official) berdasarkan perintah pengadilan atau hakim.
c. Barang yang ditempatkan dalam penjagaan tersebut, berupa barang yang disengketakan, tetapi boleh juga barang yang akan dijadikan sebagai alat pembayaran atas pelunasan utang debitor atau tergugat, dengan jalan menjual lelang (executorial verkoop) barang yang disita tersebut.
d. Penetapan dan penjagaan barang yang disita berlangsung selama proses pemeriksaan, sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan sah atau tidak tindakan penyitaan itu.5
Sita sebagai bentuk tindakan perampasan barang dari upaya dipindahkan dan atau disembunyikan atas hukuk. Sita dilakukan didasarkan pada adanya putusan pengadilan. Putusan pengadilan yang dimaksud adalah putusan yang diambil dalam persidangan baik. Di awal, dipertengahan dan atau di akhir persidangan, jika diawal atau pertengahan diputuskan atas putusan sita.
Sita jaminan adalah suatu larangan atau pencegahan terhadap seseorang untuk menggunakan hartanya karena sebab kesalahan atau kelalaian yang telah dilakukannya terhadap orang lain dari segi perikatan. Dengan demikian, menjadi tidak ada masalah ketika hal tersebut ditafsirkan bahwa sebagai bentuk penjegahan untuk menarik hartanya dari sisi orang yang lalai. Penyitaan dalam Islam telah ada sejak zaman Rasulullah SAW, pada saat itu Rasulullah menyita harta Muadz, kemudian menjualnya dan digunakan untuk melunasi hutang Muadz, seperti dalam hadis berikut ini:
َس َو ِهْيَلَع ُ الله ىَّلَص َّيِبَّنلا َّنَأ ٍكِلاَم ِنْبا ِبْعَك ْنَع ىنطقلارادلا هاور{ ِهْيَلَع َناَك ٍنْي َد ىِف ُهَعاَب َو ُهَلاَم ٍذاَعُم ىَلَع َرَجَح َمَّل
Artinya : “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. pernah menyita harta Mu’adz dan menjualnya untuk membayar hutangnya”. (HR. ad-Daar al-Quthni).6
4 Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika,2017), h 337.
5 Ibid.
20
Dalam penyelesaian kasus pailitnya Mu’adz, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bertindak sebagai juru sita di samping sebagai hakim pada waktu itu. Berdasarkan hadits di atas maka jelaslah bahwa pada dasarnya penyitaan terhadap barang atau benda itu diperbolehkan dalam Islam.
Permohonan sita adalah upaya untuk menjamin hak penggugat/pemohon dalam perkara sehingga putusan pengadilan mengakui segala haknya dapat dilaksanakan. Permohonan sita dapat diajukan sebelum perkara diputus.
Sita Jaminan adalah penyitaan yang dilakukan oleh pengadilan atas barang bergerak atau tidak bergerak, milik penggugat atau tergugat untuk menjamin adanya tuntutan hak dari pihak yang berkepentingan atau pemohon sita.7 sita jaminan adalah pengambilalih sesuatu barang yang diminta oleh pihak-pihak yang merasa berhak baik bergerak untuk disimpan sebagai jaminan dan tidak boleh dijualbelikan, disewakan kepada orang lain dan dilakukan sebelum perkara tersebut diputuslan.8 Apabila permohonan sita dikabulkan dan pemohon tersebut menang dalam perkara, maka sita tersebut akan dinyatakan sah dan berharga dalam keputusan dan pada waktu eksekusi, sita tersebut akan berubah menjadi sita eksekusi. Kalau gugatan pengugat ditolak, dengan sendirinya harus dinyatakan di dalam keputusan untuk diangkat (dicabut).9
Jika sita bukan untuk perampasan, sita ditunjukkkan untuk lelang maka sita didasarkan pada putusan akhir pengadilan dan barang yang di sita akan dilelang, maka harus dimuat secara tegas dalam putusan akhir, sesuai permasalahan perkara.
2. Dasar Hukum Praktik Sita Jaminan
Sita jaminan (Conservatoir Beslag) diatur dalam Pasal 227 ayat (1) Reglemen Indonesia yang Diperbaharui (HIR), yang berbunyi Jika ada persangkaan yang beralasan, bahwa seorang yang berhutang, selagi belum dijatuhkan keputusan atasnya atau selagi putusan yang mengalahkannya belum dapat dijalankan, mencari akal akan menggelapkan atau membawa barangnya baik yang tidak tetap maupun yang tetap dengan maksud akan menjauhkan barang itu dari penagih hutang, maka atas surat permintaan orang yang berkepentingan ketua pengadilan negeri dapat memberi perintah, supaya disita barang itu untuk menjaga hak orang yang memasukkan permintaan itu, dan kepada peminta harus diberitahukan akan menghadap persidangan, pengadilan negeri yang pertama sesudah itu untuk memajukan dan menguatkan gugatannya.10
Ketentuan Pasal 227 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang berbunyi Barang siapa melaksanakan suatu hak, padahal ia mengetahui bahwa dengan putusan hakim hak tadi telah dicabut,
6 Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Nailul Authar Juz V, Syirkah Maktabah wa Matba’ah Muthafa al- Halaby wa Auladuhu, Kairo, t.th, hlm. 275
7 Sujayadi dan Yuniarti, Pelaksanaan Sita Jaminan dalam Hukum Acara Arbitrase, Yuridika, Vol.25 No 3, September- Desember 2010, h 236.
8 Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika,2017), h 337.
9 Riduan Syahrani, Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Umum, (Jakarta : Pustaka Kartini, 2004), h 282.
10 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) Staatsblad Nomor 23 Tahun 1847.
21
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah.11
Apabila permohonan sita dikabulkan dan pemohon tersebut menang dalam perkara, maka sita tersebut akan dinyatakan sah dan berharga dalam keputusan dan pada waktu eksekusi, sita tersebut akan berubah menjadi sita eksekusi. Kalau gugatan pengugat ditolak, dengan sendirinya harus dinyatakan di dalam diktum keputusan untuk diangkat (dicabut).12
Juru Sita berkewenangan melakukan tugasnya hanya di dalam daerah hukum Pengadilan Agama tempatnya diangkat, dengan tugas-tugas:
a. Melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh Ketua Sidang.
b. Menyampaikan pengumuman-pegumuman, teguran-teguran dan pemberitahuan penetapan atau putusan pengadilan menurut cara-cara berdasarkan ketentuan undang-undang.
c. Melakukan penyitaan atas perintah Ketua Pengadilan Agama (bukan oleh Ketua Sidang).
d. Membuat berita acara penyitaan, yang salinan resminya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.13
Al-Qur’an dan As-Sunah adalah rujukan ilmu-ilmu Islam, Al-Qur’an adalah kitab suci ; himpunan wahyu yang merupakan dalil ilmu. 14 Masalah muamalah dalam syariat Islam diatur dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai penjelasannya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT sebagai berikut:
ِلا َوْمَأ ْنِم اًقي ِرَف اوُلُكْأَتِل ِماَّكُحْلا ىَلِإ اَهِب اوُلْدُت َو ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َوْمَأ اوُلُكْأَت َلَ َو ِب ِساَّنلا
َو ِمْث ِ ْلْا َت ْمُتْنَأ َنوُمَلْع
Artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Q.S Al-Baqarah: 2).15
Sita Jaminan adalah suatu larangan atau pencegahan terhadap seseorang untuk menggunakan hartanya karena sebab kesalahan atau kelalaian yang telah dilakukannya terhadap orang lain dari segi perikatan. Dengan demikian, menjadi tidak ada masalah ketika hal tersebut ditafsirkan bahwa sebagai bentuk penjegahan untuk menarik hartanya dari sisi orang yang lalai.
3. Macam-Macam Sita
Sita merupakan penahanan barang milik pembeli karena telah terjadi suatu masalah. Dalam transaksi jual beli, sita biasa dilakukan saat si pembeli tak mampu memenuhi kewajiban pembayaran sesuai dengan jumlah dan waktu yang ditentukan. Akibatnya ada objek benda yang harus disita. Tujuan
11 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht) Staatsblad Nomor 732 Tahun 1915.
12 Yahya Harahap, Hukum Acara, h 286.
13 Roihan A. Rosyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Raja Grafindo persada, 2013), h 224
14 Juhaya S. Pradja, Ekonomi Syariah (Jakarta : Mandiri maju, 2005), h.27
15 Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Semarang : Diponegoro, 2008). h. 42
22
dilakukan penyitaan, untuk memberikan kepastian kepada penggugat bahwa gugatannya telah dijamin dan mempunyai kekuatan. Macam-macam sita sebagai berikut:
a. Sita Jaminan (Conservatoir beslaag), sita ini dilakukan untuk menjamin hak-hak yang dimenangkan dalam suatu perkara sehingga gugatannya tidak sia-sia (Illusoir). Tujuan agar barang yang digunakan jaminan tidak digelapkan atau diasingkan tergugat selama proses persidangan berlangsung sehingga pada saat putusan dilaksanakan, pelunasan pembayaran utang yang dituntut penggugat dapat terpenuhi, dengan jalan menjual barang tersebut. Fungsinya sebagai menjamin pembayaran ganti rugi yang diajukan penggugat.
b. Sita Revindiksi (Revindicatoir Beslaag), yaitu penyitaan terhadap barang milik penggugat yang berada di tangan tergugat. Tujuannya adalah upaya hukum bagi penggugat untuk menjamin dan melindungi kepentingannya atas keutuhan dan keberadaan harta kekayaan tergugat sampai putusan memperoleh kekuatan hukum tetap. Fungsinya agar barang harta kekayaan tergugat tidak dipindahkan kepada orang lain melalui jual beli atau penghibahan tidak dibebani dengan sewa menyewa atau diagunkan kepada pihak ketiga.
c. Sita Harta Bersama (Maritale Beslaag), yaitu sita yang diletakkan atas harta gono gini yang berada pada suami ataupun istri dalam perkara permohonan cerai, gugat cerai, atau gugatan harta bersama.
Tujuannya adalah bukan untuk menjamin pembayaran kepada penggugat (suami isteri), juga bukan untuk menuntut penyerahan hak milik tergugat, melainkan untuk membekukan harta bersama suami isteri melalui penyitaan agar tidak berpindah kepada pihak ketiga selama proses perkara perceraian atau pembagian harta bersama berlangsung. Sita ini berfungsi pada pengurusan harta bersama dalam perkara perceraian dan perkara gugatab perbuatan melawan hukum.
d. Sita Eksekusi (Executorial Beslaag), yaitu Sita yang dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan putusan, yakni sita yang dilakukan setelah ada putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
Tujuannya adalah untuk memenuhi pelaksanaan putusan pengadilan agama dan berakhir tindakan pelelangan dan hanya dalam berkenaan dengan jumlah pembayaran sejumlah uang dan ganti rugi.
Fungsinya sebagai kekuatan hukum tetap dan sebelumnya tidak dilaksanakan sita terhadap barang- barang yang disengketakan.16
4. Prosedur Sita Jaminan
Prosedur penyitaan harta debitur yang berakibat wanprestasi mengenai masalah perikatan dan perjanjian, yang di dalamnya terdapat permasalahan penyitaan barang akibat seseorang konsuman yang tidak dapat melakukan prestasi sehingga menjadi permasalahan mereka sendiri dan harus diselesaikan oleh mereka sendiri. Penyitaan secara langsung dibolehkan selama tidak menyalahi aturan agama, dan tidak terdapat unsur pengharaman di dalamnya.
16 Mardani, Hukum Acara, h 126.