pISSN 2460-685
eISSN 2656-4130 Jurnal Gizi KH, Desember 2021, 1(1):21-27
PENYULUHAN PMBA DAN PENGETAHUAN IBU DALAM PEMBERIAN ASUPAN MAKANAN PADA BALITA USIA 6-24 BULAN DI DS PESING
KECAMATAN PURWOASRI KABUPATEN KEDIRI
Health Education About Infant And Child Feeding With Mother's Knowledge In Providing Food To Toddlers Aged 6-24 Months In Pesing Village, Purwoasri
District Kediri Regency
Anis Musoliva1, Tintin Hariyani*2 Puskesmas Purwoasri Kediri jawa Timur1
Sarjana Kebidanaan STIKES Karya Husada Kediri jawa Timur2 Korespondensi : [email protected]
ABSTRACT
To minimize the problem of nutrition Word Heath Organization (WHO) or the United Nations Children's Fund (UNICEF) recommend that infants aged 6-24 months are given solid foods at the appropriate time (after 6 months).
One of the efforts is the health education with PMBA method. The objective of this study to determine the effect of health education PMBA with mother's knowledge in providing food intake to toddlers aged 6–24 months in Pesing Village, Purwoasri District, Kediri Regency. This design of research is a pre-experimental design using a one group pretest-posttest approach . The population in this study were all mothers who had toddlers aged 6-24 months in Pesing Village, Purwoasri District, Kediri Regency as many as 48 mothers. The sample in this study was 43 with inclusion and exclusion criteria. The sampling technique used simple random sampling . The type of instrument used is health education with PMBA by means of leaflets and questionnaires. The data analysis technique used the Wilcoxon match pairs test . The results of the study concluded that: There was an effect of health education with PMBA on mother’s knowledge in providing food intake to toddlers aged 6-24 months in Pesing Village, Purwoasri District, Kediri Regency, there was an increase before being given knowledge in the sufficient category with p-value 0.000 < 0.05. Health counseling with the PMBA method increases mothers' knowledge because it involves them to actively participate in the demonstration of providing a food menu for toddlers aged 6 to 24 months.
Keywords: Infant and Child Feeding (PMBA), mother's knowledge, Toddler Age 6-24 Months ABSTRAK
Untuk meminimalisir masalah gizi Word Heath Organization atau United Nations Children’s Fund, (WHO/UNICEF) merekomendasikan bahwa bayi usia 6-24 bulan diberikan MPASI dengan memperhatikan waktu yang tepat (Setelah usia 6 bulan). Salah satu upayanya adalah strategi PMBA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan tentang pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) dengan pengetahuan ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6–24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri. Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental design menggunakan pendekatan one group Pretest-Postest.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita berusia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebanyak 48 ibu. Sampel pada penelitian sebanyak 43 dengan kriteria inklusi dan ekslusia. Teknik sampling menggunakan simple random sampling. Jenis instrumen yang digunakan adalah penyuluhan tentang PMBA dengan media leaflet dan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan uji wilcoxon match pairs. Hasil penelitian disimpulkan bahwa: Ada pengaruh pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan tentang pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) pada ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6- 24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri, terdapat peningkatkan pengetahuan dari kategori cukup meningkat menjadi kategori baik dengan nilai p-value 0.000 < 0,05. Penyuluhan kesehatan dengan metode PMBA meningkatkan pengetahuan ibu karena melibatkan mereka untuk berpartisipasi secara aktif terlibat dalam demontrasi menyediakan menu makanan untuk balita usia 6 sampai 24 bulan.
Kata Kunci: Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA), pengetahuan ibu, Balita Usia 6-24 Bulan
PENDAHULUAN
Perkembangan masalah gizi di Indonesia saat ini semakin komplek, selain masih menghadapi masalah kekurangan gizi, kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus ditangani dengan serius. Oleh karena itu perlu pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam pemberian asupan makanan pada balita. Tahun 2007 tentang perencanaan pembangunan jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025, menjelaskan bahwa gizi merupakan salah satu indikator penilaian keberhasilan sebuah negara membangun kesehatan dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas (kemenkes, 2019).
Untuk meminimalisir masalah gizi Word Heath Organization (WHO) atau United Nations Children’s Fund (UNICEF) merekomendasikan bahwa bayi usia 6-24 bulan diberikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dengan memperhatikan waktu yang tepat (Setelah usia 6 bulan). MPASI harus memenuhi prinsip gizi seimbang dan memadai baik itu protein, karbohidrat, vitamin, mineral maupun lemak dan menjamin keamanannya karena pada usia ini anak berada pada periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap infeksi dan secara fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi harus terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas bayi atau anak dan keadaan infeksi.
Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan masih tingginya prevalensi kekurangan gizi pada balita di Indonesia, antara lain sebanyak 17.7 % balita gizi kurang (BB/U), sebanyak 30.8 % balita mengalami stunting (PB/U atau TB/U), sebanyak 10.2 % balita dalam kondisi kurus BB/PB atau BB/TB).
Selain itu kondisi gizi bumil yang masih sangat memprihatinkan, dimana sebanyak 17.3 % bumil KEK (lila < 23.5 cm), sekitar 50 % bumil anemia, WUS tidak hamil yang KEK 14.5 %, proporsi konsumsi makanan beragam pada usia 6-24 bulan hanya mencapai 46.6 %, proporsi IMD pada bayi baru lahir 58.2 %.
Berdasarkan Data Profil Kesehatan Jatim tahun 2020 AKI Prop Jatim 89.81 per 100.000 KH atau sebanyak 565 orang dengan rata-rata 500-600 orang. AKB Jatim 23 per 1000 KH tahun 2020 atau tercatat ada 3.611 bayi kasus kematian bayi
dan 253 angka kematian balita (estimasi BPS pusat) sudah dibawah target nasional (24) proporsi kematian bayi masih banyak (3/4) terjadi pada periode neonatal (0- 28 hari) tiap tahun. Cakupan ASI Ekslusif di Jatim tahun 2020 sebesar 78.3 %.
Sementara untuk kasus stunting, jawa timur masih berada di posisi di bawah rata-rata nasional. Tahun 2020 tercatat sebesar 26,86%, sementara rata-rata nasional berjumlah 27,67%. Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Kediri tahun 2020 terdapat AKI 14 selama tahun 2020, AKB 157 bayi (6.77
%), dan angka stunting di Kabupaten Kediri tahun 2020 13.4 %, cakupan ASI Eksklusif Kabupaten Kediri tahun 2020 adalah 78.1 %. Balita dengan BB lebih 1.6 %, BB normal 92.3 %, BB kurang (BBK) 5.3 %, BB sangat kurang (BGM) 0.9 %.
Berdasarkan studi pendahuluan di Desa Pesing bulan Agustus 2019 kepada ibu bayi balita peserta Posyandu di Dusun Wonorenggo kurang lebih sebanyak 10 orang, dengan hasil pengetahuan ibu tentang PMBA kurang. Ibu masih mempunyai pandangan bahwa makanan instant lebih praktis dibandingkan membuat makan sendiri untuk anaknya, tekstur makanan yang belum tepat sesuai dengan umur balita. Selain itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan peneliti diketahui bahwa jenis menu makanan yang diberikan pada balita kurang bervariasi. Berdasarkan hal tersebut maka akan terjadi besar kemungkinan kurangnya pemenuhan gizi pada anak..
Salah satu upaya pemerintah dalam menangani masalah gizi yaitu dengan meningkatkan sumber daya manusia yang dilakukan dengan peningkatan pembangunan kesehatan dan perbaikan gizi masyarakat melalui peningkatan status gizi keluarga, yaitu dengan cara peningkatan pelayanan gizi melalui program Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). Sampai saat ini, permasalahan gizi yang menjadi masalah utama di dunia adalah malnutrisi. Malnutrisi dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dan meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit.
Upaya dalam meningkatkan pengetahuan dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui saluran media dan teknik promosi kesehatan. Tingkat pengetahuan seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku
dalam pemilihan makanan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi individu yang bersangkutan.
METODE
Penelitian ini menggunakan Desain penelitian pre eksperimental design menggunakan pendekatan one group Pretest-Postest yaitu rancangan yang tidak ada kelompok pembanding (kontrol) memungkinkan menguji perubahan- perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari perlakuan dengan cara membandingkan sebelum dan sesudah diberi perlakuan yaitu penyuluhan tentang PMBA dengan pengetahuan ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6–24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri.
Penelitian ini menggunakan variable independen penyuluhan dengan metode PMBA, Variabel dependen pengetahuan ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6–24 bulan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita berusia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebanyak 48 ibu.
Pengambilan sampel menggunakan rumus di dapat 43 sampel Pengambilan sampel menggunakan probability sampling, dimana teknik pengambilan sampel ini memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling.
Simple Random Sampling adalah pengambilan anggota sampel dan populasi diambil secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu, cara ini digunakan apabila populasi dianggap homogen. Dengan demikian setiap anggota dari populasi memiliki kesempatan yang sama sebagai sampel.
Penelitian dilakukan dengan cara mengundang calon responden dengan mematui prokes yang ada saat pandemic.. Peneliti membacakan informed choice dan mengajukan informed consent kepada responden dengan memberikan lembar persetujuan untuk ditanda tangani. Kemudian peneliti
melakukan pendampingan kepada responden unutk mengisi kuesioner sebelum penyuluhan. Setelah itu peneliti memberikan penyuluhan dengan metode PMBA yang meliputi ceramah, demonstrasi, dan redemontrasi untuk memasak menu makanan MPASI. Kemudian 1 minggu setelah kegiatan penyuluhan dengan metode PMBA responden diminta untuk mengisi kuesioner lagi. Kemudian data yang di peroleh dilakukan analisis data. Selanjutnya data di uji dengan menggunakan uji wilcoxon match pairs.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Umum Responden
1. Karakteristik Usia Responden
Tabel 1.1. Karakteristik Usia Responden N
o Usia Frekuensi
(n) Prosentase (%)
1 < 20 tahun 0 0
2 20-30 tahun 27 62,79
3 > 30 tahun 16 37,21
Jumlah 43 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa karakteristik responden berdasarkan usia ibu balita di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebagian besar dari responden sebanyak 27 (62,79%) berusia antara 20-30 tahun.
2. Karakteristik Pendidikan Responden Tabel 1.2. Karakteristik Pendidikan
Responden
No Pendidikan Frekuensi
(n) Prosenta se (%) 1 Tidak Tamat
SD 0 0
2 Tamat SD 1 2,33
3 Tamat SMP 9 20,93
4 Tamat SMA 23 53,49
5 Tamat
Akademi/ PT 10 23,25
Jumlah 43 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa karakteristik responden berdasarkan pendidikan ibu balita
di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebagian besar dari responden sebanyak 23 (53,49%) berpendidikan tamat SMA/SMK/ Sederajat.
3. Karakteristik Pekerjaan Responden
Tabel 1.3. Karakteristik Pekerjaan Responden No Pekerjaan Frekuensi
(n)
Prosentase (%)
1 IRT 35 81,40
2 GURU 5 11,63
3 Nakes/perawat 1 2,33
4 Swasta 1 2,33
5 Lainnya 1 2,33
Jumlah 43 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ibu balita di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri hampir seluruh dari responden sebanyak 35 (81,40%) sebagai ibu rumah tangga.
4. Karakteristik Penghasilan Responden Tabel 1.4 Karakteristik Penghasilan
Responden N
o Penghasilan Frekuensi (n)
Prosentase (%) 1 < Rp. 1.000.000 1 2,33 2 Rp. 1.000.000 –
Rp.3.000.000 36 83,72
3 > Rp. 3.000.000 6 13,95
Jumlah 43 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa karakteristik responden berdasarkan penghasilan ibu balita di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri hampir seluruh dari responden sebanyak 36 (83,72%) penghasilan ibu balita sebesar Rp.1.000.000 – Rp.3.000.000.
5. Karakteristik Nomor Urutan Anak
Tabel 1.5 Karakteristik Nomor Urutan Anak N
o anak Frekuensi
(n)
Prosentase (%)
1 Ke-1 23 53,49
2 Ke-2 19 44,19
3 Ke-3 1 2,33
Jumlah 43 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa karakteristik responden berdasarkan anak ke di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebagian besar dari responden sebanyak 23 (53,49%) merupakan anak ke-1.
6. Karakteristik Usia Anak
Tabel 1.6 Karakteristik Usia Anak N
o Usia anak Frekuensi (n)
Prosentas e (%)
1 6-9 bulan 11 25,58
2 9-12 bulan 10 23,26
3 12-24 bulan 22 51,16
Jumlah 43 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa karakteristik responden berdasarkan usia anak di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebagian besar dari responden sebanyak 22 (51,16%) berusia antara 12-24 bulan.
Data Khusus
1. Pengetahuan Sebelum Diberikan Penyuluhan Tentang Pemberian Makanan Bayi Dan Anak (PMBA) Pada Ibu Dalam Pemberian Asupan Makanan Pada Balita Usia 6-24 Bulan Di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri
Tabel 1.7. Pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan
No Pengetahuan Frekuensi (n)
Prosentase (%)
1 Baik 15 34,88
2 Cukup 20 66,51
3 Kurang 8 18,60
Jumlah 43 100
Dari hasil tabulasi data yang diperoleh bahwa pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan tentang pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) pada ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebagian besar responden sebanyak 20 (66,51%) memiliki pengetahuan pada kategori cukup dan hampir
setengah dari responden sebanyak 15 (34,88%) memiliki pengetahuan baik sisanya sebagian kecil dari responden sebanyak 8 (18,60%) memiliki pengetahuan kurang.
Pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan PMBA yang dimiliki ibu sebagian besar pada kategori cukup yang dipengaruhi oleh karakteristik usia ibu dan ibu yang memiliki pengetahuan baik yang dipengaruhi oleh faktor ibu yang berpendidikan tinggi. Selain itu masih terdapat ibu yang memiliki pengetahuan kurang karena berdasarkan jawaban kuesioner yang menyatakan bahwa anak dengan usia 6-24 bulan tidak boleh diberikan makanan yang mengandung protein hewani seperti telur dan daging karena akan menyebabkan alergi atau tidak cocok sehingga anak hanya diberikan makan nasi dan sayur.
Pengetahuan yang dimiliki ibu balita mayoritas tergolong pada kategori cukup hal ini dikarenakan dipengaruhi oleh faktor usia yang sebagian besar dari responden berusia antara 20-30 tahun. Sesuai menurut pendapat teori yang menyatakan bahwa umur didefinisikan umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun.Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa.(11)
2. Pengetahuan Sesudah Diberikan Penyuluhan PMBA Pada Ibu Dalam Pemberian Asupan Makanan Pada Balita Usia 6-24 Bulan Di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri.
Tabel 1.8. Pengetahuan sesudah diberikan penyuluhan
No Pengetahuan Frekuensi (n)
Prosentase (%)
1 Baik 26 60,47
2 Cukup 17 39,53
3 Kurang 0 0,00
Jumlah 43 100
Dari hasil tabulasi data yang diperoleh bahwa pengetahuan sesudah diberikan penyuluhan tentang pemberian makanan bayi dan anak
(PMBA) pada ibu balita dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebagian besar dari responden sebanyak 26 (60,47%) memiliki pengetahuan pada kategori baik dan hampir setengah dari responden sebanyak 17 (39,53%) memiliki pengetahuan cukup.
Penyuluhan tentang PMBA dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang PMBA pada bayi usia 6-24 bulan dengan tepat sesuai rentang usianya. Sesuai teori yang menyatakan bahwa dengan Asupan ASI Eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan merupakan upaya pencegahan gizi kurang pada bayi dengan memberikan Early feeding (IMD).
Setelah itu memperkenalkan bayi dengan MPASI. Dalam pemberian MPASI bayi harus diberikan MPASI yang bervariasi dan seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Protein penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Mengikutsertakan bayi dalam program posyandu untuk menimbang dan mengukur tinggi badan bayi agar mengetahui pertumbuhan bayi.(9)
3. Pengaruh Penyuluhan PMBA Terhadap Pengetahuan Dalam Pemberian Asupan Makanan Pada Balita Usia 6-24 Bulan Di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri.
Tabel 1. 9. Pengaruh Penyuluhan PMBA Terhadap Pengetahuan Ibu dalam Pemberian Asupan makanan pada balita Usia 6-24 bulan di Desa Pesing Kecamatan Purwoasri kabupaten Kediri.
No Penyulu han
Sesudah
Baik Cukup Kurang Total
F % F % F % F %
1 Sebelum 15 34.
9 20
46.
5 8
18.
8 43
100
2 Sesudah 26 60.
4 17
39.
5 0 0 43
100 P-value = 0,000 (0,05) Zhitung = 3,945 Ztabel = 1,683
Pengaruh penyuluhan PMBA terhadap pengetahuan pemberian asupan makanan pada balita usia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri adalah sebagai berikut : sebelum diberikan penyuluhan kategori
baik sebanyak 15 responden (34,88%) menjadi 26 responden (60,47%) setelah diberikan penyuluhan, dan kategori cukup dari sebanyak 20 responden (46,51%) mengalami penurunan menjadi 17 responden (39,53%), kategori kurang sebanyak 8 responden (18,60%) menurun menjadi 0 (tidak ada) responden dengan kategori kurang. Dengan demikian bahwa ada peningkatkan dari sebelum sesudah diberikan penyuluhan pada responden.
Sedangkan hasil analisis uji Wilcoxon Match Pairs Test bahwa nilai p-value diperoleh nilai sig.
sebesar = 0,005 < 0,05 maka H0 ditolak artinya ada pengaruh penyuluhan PMBA terhadap pengetahuan ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6–24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri.
Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku adalah tidak mudah. Perubahan tersebut menuntut suatu persiapan yang panjang dan pengetahuan yang memadai bagi penyuluh maupun sasarannya.
Menurut ahli mengatakan bahwa untuk merubah perilaku, seseorang harus mengikuti tahap-tahap proses perubahan pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan praktik (practice). Dalam hal ini, penyuluhan berperan sebagai salah satu metode penambahan dan peningkatan pengetahuan seseorang sebagai tahap awal terjadinya perubahan perilaku.(11)
Penyuluhan kesehatan tidak dapat lepas dari media, pesan-pesan disampaikan dengan mudah dipahami, dan lebih menarik. Media juga dapat menghindari kesalahan persepsi, memperjelas informasi, mempermudah pengertian, dapat mengurangi komunikasi yang verbalistik, dan memperlancar komunikasi.(11) Dengan demikian, sasaran dapat mempelajari pesan tersebut dan mampu memutuskan mengadopsi perilaku sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.
Sebelum adanya penyuluhan bahwa ibu mayoritas memberikan MPASI tanpa memberikan lauk protein maupun nabati karena dikhawatirkan akan menimbulkan alergi pada anak. Dengan demikian bahwa tingkat pengetahuan ibu sebelum diberikan penyuluhan dalam kategori cukup dan terjadi peningkatkan setelah diberikan penyuluhan.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh Wargiana (2013) yang mengungkapkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan sedang.
Hasil penelitian menunjukkan kualitas praktik pemberian MPASI pada anak usia 6-23 bulan masih belum optimal, hanya kurang dari seperempat anak yang mempunyai praktik pemberian MP-ASI baik (23,4%).
Penelitian yang dilakukan Sari (2008) tentang pengaruh penyuluhan Kadarzi terhadap pengetahuan dan sikap tentang Kadarzi serta tentang pola konsumsi pangan pada ibu hamil di Nagari Cupak Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok menyimpulkan bahwa penyuluhan yang disertai dengan pemberian leaflet dapat memberikan pengaruh terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil.
Metode penyuluhan PMBA memberikan pengaruh dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang pemberian asupan makanan pada balita usia 6 – 24 bulan di desa Pesing kecamatan Purwoasri kabupaten Kediri. Hal ini dikarenakan penyuluhan dengan metode PMBA dapat mempermudah ibu untuk memahami tentang materi yang diberikan. Dalam metode penyuluhan PMBA selain konsep tentang pengetahuan, juga diberikan demonstrasi tentang menyiapkan makananan untuk usia 6 – 24 bulan. Sehingga ibu ibu bisa terlibat secara aktif dalam kegiatan demonstrasi dan penya pengalaman menyediakan menu makanan dengan baik dan benar. memahami bahwa sesuai usia anak yaitu 6-24 bulan akan diberikan MP ASI secara bertahap dan bervariasi, mulai dari bentuk bubur cair ke bentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan lumat, makanan lembik dan akhirnya makanan padat (Kemenkes, 2019).
Menurut Faridi dkk (2020) metode penyuluhan ikut menentukan keberhasilan pencapaian tujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita.
Metode PMBA terbukti bisa meningkatkan pengetahuan pada pada ibu balita usia 6-24 bulan
karena metode PMBA memiliki
keunggulanpenerapan metode partisipasif dalam pelaksanaan penyuluhan. Tidak hanya mengandalkan leafleat, lembar balik, dan ceramah saja. Metode partisipasif dalam PMBA tersebut merupakan pengalaman belajar nyata yang akan lebih mudah di praktekkan dan dingat oleh ibu-ibu dalam kehidupan sehari – hari.
SIMPULAN DAN SARAN
Pengetahuan ibu sebelum diberikan penyuluhan PMBA pada ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri, sebagian besar ibu memiliki pengetahuan cukup sebanyak 20 (66,51%).
Pengetahuan ibu sesudah diberikan penyuluhan tentang PMBA pada ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri, sebagian besar ibu memiliki pengetahuan baik sebanyak 15 (34,88%).
Ada pengaruh penyuluhan terhadap PMBAterhadap pengetahuan pada ibu dalam pemberian asupan makanan pada balita usia 6-24 bulan di Ds Pesing Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri (nilai p-value 0,005 < 0,05).
Penelitian ini masih belum optimal untuk hasil yang didapat karena ada keterbatasan penelitian. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan bisa dijadikan referensi sebagai bahan kajian untuk kegiatan penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kementerian Kesehatan RI. Sistem Kesehatan Nasional. 2019..
[2] Kementrian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. 2018 [3] Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Profil
kesehatan kabupaten Kediri tahun 2018.
Kediri: Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.
2018
[4] Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Profil kesehatan kabupaten Kediri tahun 2019.
Kediri: Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.
2019.
[5]
Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Kemenkes RI.
2018.
[6] Pedoman pemberian makan bayi dan anak (PMBA). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
2019.
[7]
Wargiana, R. 2013. Hubungan Pemberian MP-ASI Dini dengan Status Gizi Bayi Umur 0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Rowotengah Kabupaten Jember. Jurnal Pusaka Kesehatan
[8]
Faridi A, Furqan Mohammad, dan Setyawan Arif. 2020. Model Peran Serta Kader Posyandu Dalam Melakukan Pendampingan PMBA Usia 6-24 Bulan di Desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Pandeglang, Banten. Laporan Penelitian Pengembangan IPTEKS. Program Studi Gizi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof Dr.
Hamka..
[9]
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Modul Pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Petugas Kesehatan dan Kader. Jakarta (ID): Direktorat Bina Gizi, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA.
[10]