• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh International Whaling Comission (IWC) menunjukkan populasi paus kian menurun sampai 12,5 % dari tahun 1985 sampai 2010 yang dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan lingkungan laut.

Penyebab penurunan populasi paus ialah maraknya perburuan paus untuk kepentingan komersial (comercial whaling) dan perburuan masyarakat lokal (aboriginal subsistence whaling) (Sandra Altherr, 2011 : 7). Perburuan paus untuk kepentingan komersial (Comercial Whaling) ialah perburuan paus yang mengambil keuntungan dari penjualan hasil perburuan. Selain atas dasar kebutuhan pangan, perburuan paus juga didasarkan tradisi budaya tertentu atau disebut aboriginal subsitence whaling (ASW) juga memberikan sumbangsih terhadap penurunan populasi paus. Salah satu perburuan yang dilakukan masyarakat lokal ialah perburuan tradisi Grindadrap yang dilakukan oleh masyarakat Suku Adat Norse di Kepulauan Faroe, Atlantik Utara yang mana merupakan wilayah otoritas negara Denmark. Faktanya, Denmark pada tanggal 23 Mei 1950 telah meratifikasi konvensi perlindungan hukum terhadap paus yakni International Convention for the Regulation of Whaling (ICRW) (Robert White, 2010 : 8). Selain itu, pada tahun 1977 Denmark juga telah meratifikasi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Walaupun demikian, pemerintah Kepulauan Faroe tetap melegalkan tradisi tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya yang telah berlangsung secara turun temurun (Rob van Ginkel, 2005: 5). Ketidaksesuaian diatas menimbulkan permasalahan terkait perlindungan hukum terhadap paus dan pengaturan pada Hukum Internasional pada tradisi Grindadrap yang menjadi isu penting dalam penegakan Hukum Internasional saat ini.

Penurunan populasi paus ditakutkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem laut. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) paus merupakan salah satu jenis hewan yang dikategorikan sebagai endangered species atau terancam punah yang wajib dilestarikan keberadaanya (Jean Fresko, 2014 :14). Data yang dirilis

(2)

oleh International Whaling Commission (IWC) menunjukkan adanya penurunan populasi beberapa jenis paus yang terjadi di perairan seluruh dunia paus seperti Minke Whales, Blue Whales, Fin Whales, Gray Whales, Bowhead Whales, Humpback Whales, Right Whales, Bryde’s Whales, Pilot Whales, Balin Whales dan Sei Whales yang terjadi di perairan seluruh dunia. Jenis paus-paus tersebut populasinya telah mengalami penurunan sekitar 3, 2 % - 12, 5 % per tahunnya sejak tahun 1985 sampai tahun 2010.

Dari kesepuluh jenis paus tersebut yang mengalami jumlah penurunan paling banyak adalah jenis Paus Pilot (Globicephala Melena) atau Paus Sirip Panjang dan jenis Paus Balin (Balaenoptera Physalus) atau Paus sirip pendek. Paus Pilot memiliki indeks penurunan sebesar 12, 5% per tahunnya dan Paus Balin memiliki indeks penurunan sebesar 8, 9 % per tahunnya. Kedua jenis paus ini secara spesifik tersebar di perairan Central dan Eastern North Atlantic (https://iwc.int/estimate#table diakses pada tanggal 29 April 2015 Pukul 1.29 WIB). Kepulauan Faroe memanfaatkan paus sebagai kebutuhan pangan nasional dan juga diperdagangkan secara bebas di Kepulauan Faroe untuk konsumsi masyarakat yang diatur dalam peraturan Whaling In the Faroe Island yang dikeluarkan oleh Kementerian Perikanan Kepulauan Faroe (Rob van Ginkel, 2005:

14). International Whaling Commision (IWC) sebagai badan yang menegakkan perlindungan hukum berdasarkan ICRW kenyatannya telah memberikan status pelarangan terhadap segala tindakan perburuan terhadap paus secara liar yang berlebihan (illegal whale over fishing) di wilayah Atlantik Utara (North Atlantic) sejak tahun 1950 (Rob van Ginkel, 2005 :5).

Penelitian sebelumnya berkaitan dengan tradisi Grindadrap telah dilakukan oleh Rob van Ginkel dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul Killing Giants of The Sea:

Contentious Heritage and The politics of Culture mengulas bahwa penurunan populasi Paus Pilot dan Paus Balin yang cukup signifikan setiap tahunnya salah satunya dipengaruhi oleh tradisi Grindadrap oleh masyarakat Kepulauan Faroe. Hasil penelitian menyebutkan setidaknya setiap tahunnya 950 ekor paus dibunuh dalam tradisi ini. Tradisi Grindadrap dilaksanakan berdasarkan hukum adat suku Norse yang merupakan nenek moyang masyarakat Kepulauan Faroe. Paus Pilot dan paus Balin setiap tahunnya melakukan migrasi ke perairan Faroe sekitar bulan Juli, Agustus dan September yang biasanya bertepatan dengan musim panas. Tradisi Grindadrap

(3)

biasanya dilaksanakan di salah satu dari ketiga bulan tersebut berdasarkan jumlah paus paling banyak yang datang di perairan tersebut. Keberlangsungan tradisi Grindadrap didasarkan pada adat yang telah berlangsung turun temurun dan kebijakan nasional pemerintah Kepulauan Faroe melalui peraturan Whaling In the Faroe Island yang dikeluarkan oleh Kementerian Perikanan dimana Kepulauan Faroe merupakan wilayah otoritas Denmark. Selain tradisi Grindadrap penurunan populasi Paus Pilot juga disebabkan karena perdagangan daging-daging hasil perburuan. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Birgith Sloth pada jurnal ilmiah Ocean Care, yang berjudul The Faroe Islands Support Commercial Whaling ditemukan fakta terjadinya perdagangan hasil perburuan. Pada tahun 2008 disebutkan adanya pengiriman daging Paus Pilot seberat 11.516 kg atau setara dengan 160 ekor paus dari Kepulauan Faroe ke Norwegia. Kemudian pada tahun yang sama terdapat pengiriman sebanyak 500 kg daging atau setara dengan 10 ekor Paus Pilot dari Kepulauan Faroe ke Islandia (Birgith Sloth, 2009 : 4). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sea Shepherd Global salah satu organisasi yang melakukan tindakan konservasi terhadap spesies Cetacean menyebutkan bahwa daging Paus Pilot juga dijual kepada para wisatawan di beberapa restauran yang menghidangkan makanan khas Kepulauan Faroe (https://www.seashepherdglobal.org/news-and-commentary/commentary/the-faroe- islands-support-commercial-whaling.html diakses pada tanggal 6 April 2016 pada pukul 22.45 WIB). Diketahui Denmark merupakan salah satu negara dari 16 negara yang telah meratifikasi ICRW pada tahun 1950 (Sandra Altherr, 2011 : 8). International Convention for Regulation of Whaling (ICRW) memuat peraturan khusus yang membolehkan negara untuk membunuh paus untuk alasan ilmiah, seperti yang tercantum pada Article VIII (1):

“Notwithstanding anything contained in this convention any Contracting Government may grant to any of its nationals a special permit authorizing that national to kill, take, and treat whales or purposes of scientific research subject to such restrictions as to number and to such other conditions as the Contracting Government thinks fit, and the killing, taking, and treating of whales in accordance with the provisions of this article shall be exempt from the operation of this convention.”

(4)

Hal tersebut menjelaskan bahwa selain ketentuan-ketentuan yang terkandung di konvensi terkait perlindungan paus, konvensi ini membolehkan membunuh paus hanya untuk kegiatan penelitian dan harus mendapatkan ijin khusus dari pemerintahan yang berwenang di suatu negara yang telah menyepakati konvensi ini. Pada Article III (1) ICRW menegaskan perlindungan paus dilaksanakan lebih lanjut oleh IWC dijelaskan sebagai berikut :

“The Contracting Governments agree to establish an International Whaling Commission, hereinafter referred to as the Commission, to be composed of one member from each Contracting Government. Each member shall have one vote and may be accompanied by one or more experts and advisers”.

Negara yang telah menyetujui konvensi ini telah setuju untuk membentuk International Whaling Comission (IWC) yang selanjutnya dalam konvensi ini disebut sebagai komisi yang terdiri dari satu anggota dari masing-masing Negara pihak. Salah satu bentuk perlindungan hukum terhadap paus yang dilakukan oleh IWC ialah dengan memberikan kebijakan seperti moratorium perburuan paus untuk kepentingan komersil (Comercial Whaling). Kebijakan tersebut juga berdasarkan Article II (1) yakni fundamental principle pada CITES yang menyebutkan bahwa :

“Appendix I shall include all species threatened with extinction which are or may be affected by trade. Trade in specimens of these species must be subject to particularly strict regulation in order not to endanger further their survival and must only be authorized in exceptional circumstances.”

Kovensi ini menjelaskan bahwa segala spesies yang terancam punah yang dipengaruhi oleh kegiatan perdagangan termasuk paus, memberikan konsekuensi setiap negara peratifikasi harus tunduk pada kentutuan yang ada agar kegiatan tersebut tidak membahayakan kelangsungan hidup spesies tersebut. Artinya, Denmark sebagai negara peratifikasi harus menindaklanjuti permasalahan ini. Kenyataannya Kepulauan Faroe tidak mengikuti moratorium tersebut. Hal itulah yang dijadikan alasan khusus bagi pemerintah Kepulauan Faroe untuk tetap melegalkan tradisi Grindadrap. Upaya lain untuk mencegah keberlangungan tradisi ini dilakukan oleh IWC yang menetapkan kuota pembatasan perburuan paus untuk indigenous people (ASW) dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan keberlangsungan budaya. Pembatasan tersebut tidak termasuk di

(5)

wilayah Kepulauan Faroe tetapi dilakukan di wilayah Greenland, Chukotka (Russian Federation), Alaska dan Grenadies. Atas dasar itulah pemerintah Kepulauan Faroe tetap melakukan perburuan paus dikarenakan kedua bentuk kebijakan IWC tersebut tidak terkait pada tradisi Grindadrap (Jennifer Lonsdale, 2011 : 9). Hal ini tidak sesuai dengan ketentuan ICRW yang melarang segala tindakan perburuan paus secara ilegal yang berlebihan ( illegal whale over fishing ).

Penelitian lain berkaitan dengan perburuan ASW yang dilakukan oleh Chris Wold pada jurnal American University International Law menjelaskan bahwa perburuan paus ASW juga menjadi salah satu bagian penting dari keberadaan indigineous people. Hasil penelitian menyebutkan IWC harus memperbaharui kebijakannya dalam penerapan ASW. Pada penelitian disebutkan bahwa perburuan ASW berhubungan dengan keberlangsungan budaya yang menjadi konsumsi lokal masyarakat Faroe ( Chris Wold, 2015 : 576) :

“Aboriginal subsistence whaling means whaling for purposes of local consumption carried out by or on behalf of aboriginal, indigenous, or native peoples who share strong community, familial, social, and culturalties related to a continuing traditional dependence on whaling and on the use of whales”.

Pengakuan Hukum Internasional terhadap indigenous people telah diatur dalam United Nations Declaration on the Rights of Indigenous People (UNDRIP) yang menegaskan pada Article III, bahwa indigenous people memiliki hak untuk self- determination atau hak untuk menentukan nasib sendiri dalam hal pembangunan ekonomi, sosial dan budaya. Sehingga tradisi Grindadrap yang dilakukan terus menerus sebagai adalah bagian dari budaya Suku Adat Norse ialah merupakan hak masyarakat Kepulauan Faroe untuk tetap melakukannya. Disisi lain terdapat penelitian sebelumnya berkaitan dengan tanggung jawab negara terhadap perburuan paus secara berlebihan yang dilakukan oleh Dwi Arum Ariani dari Universitas Brawijaya. Hasil penelitian menjelaskan bahwa IWC telah melakukan berbagai macam program perlindungan untuk mencegah penurunan populasi paus dan negara-negara anggota IWC juga mengawasi dan melaporkan negara lain yang melakukan pelanggaran terhadap IWC. Namun, ada pula negara-negara anggota IWC yang masih secara kontroversial melakukan perburuan dan pembunuhan paus dibawah nama ijin khusus (special permit). Pada

(6)

penelitian tersebut menjelaskan bahwa Denmark harus bertanggung jawab berdasarkan Teori Kesalahan (Fault Theory) yang melahirkan prinsip tanggung jawab subjektif (subjective responsibility) atau tanggung jawab atas dasar kesalahan (liability based on fault). Teori Kesalahan dapat diterapkan dalam kasus budaya perburuan paus di Denmark, karena terdapat kesalahan yang dilakukan oleh Denmark. Denmark telah melanggar peraturan yang telah diterapkan oleh ICRW. ICRW melarang memburu paus jika tujuannya untuk dikomersialisasikan bukan untuk tujuan penelitian ilmiah (Dwi Ariani, 2013 : 10).

Berdasarkan uraian permasalahan sebelumnya terdapat adanya ancaman penurunan populasi Paus Pilot yang salah satunya disebabkan oleh tradisi Grindadrap yang merupakan bagian dari budaya masyarakat Kepulauan Faroe. Namun, tradisi ini secara tegas juga termasuk bentuk budaya indigeneous people yang mana diatur keberadaannya dalam Hukum Internasional. Disisi lain Kepulauan Faroe nyatanya juga tetap melegalkan perdagangan daging paus untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional walaupun Denmark telah meratifikasi ICRW dan CITES. Maka selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih lanjut terkait bentuk-bentuk perlindungan paus berdasarkan Hukum Internasional dan menganalisis apakah tradisi Grindadrap bertentangan dengan aturan yang terdapat pada Hukum Internasional atau tidak.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perlindungan terhadap paus dari tindakan Illegal Whale Over Fishing berdasarkan Hukum Internasional?

2. Apakah tradisi Grindadrap yang dilakukan oleh masyarakat Kepulauan Faroe bertentangan dengan Hukum Internasional ? Dalam hal ini perburuan paus diatur di International Convention for the Regulation of Whaling (ICRW) dan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dapat berupa tujuan secara objektif dan subjektif. Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Tujuan Objektif

(7)

a. Untuk mengetahui dasar dan bentuk perlindungan hukum terhadap paus dari tindakan Illegal Whale Over Fishing berdasarkan Hukum Internasional.

b. Untuk mengetahui lebih lanjut apakah tradisi bertentangan dengan Hukum Internasional atau tidak.

2. Tujuan Subjektif

a. Bertambahnya wawasan pengetahuan dan pemahaman di bidang hukum lingkungan internasional khususnya mengenai perlindungan hukum terhadap paus.

b. Berkembangnya penalaran dan terbentuknya pola piker dinamis peneliti serta mengetahui kemampuan peneliti terhadap penerapan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan dan sebagai persyaratan akademis guna memperoleh gelar Strata 1 (Sarjana) dalam bidang Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Seelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan landasan teoritis bagi pengembangan disiplin Ilmu Hukum Internasional pada umumnya dan bagi Hukum Lingkungan Internasional pada khususnya.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang telaah ilmiah serta menambah literatur atau bahan- bahan informasi ilmiah yang dapat digunakan untuk melakukan kajian dan penulisan ilmiah di bidang hukum selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjawab serta memberikan solusi terhadap penelitian yang sama yang pernah diteliti sebelumnya.

b. Hasil penelitian ini untuk memberikan jawaban atas rumusan masalah yang sedang ditelitii.

(8)

E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan penulisan hukum ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian kepustakaan, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan-bahan tersebut disusun secara sistematis, dikaji, kemudian ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti (Soerjono Soekanto, 2006 : 10).

Hal ini sesuai dengan pandangan Soerjono Soekanto bahwa penelitian hukum pustaka atau data sekunder belaka, dapat dinamakan penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan. Penelitian hukum normatif atau kepustakaan tersebut mencakup (Soerjono Soekanto, 2006 : 13):

1) Penelitian terhadap asas-asas hukum 2) Penelitian terhadap sistematika hukum

3) Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal 4) Penelitian terhadap perbandingan hukum

5) Penelitian terhadap Sejarah Hukum

Penelitian ini merupakan penelitian mengharmonisasikan antara peraturan nasional dengan peraturan internasional yaitu penelitian dilakukan terhadap kebijakan tradisi Grindadrap sebagai bagian dari peraturan nasional negara Denmark dan Kepulauan Faroe terhadap konvensi-konvensi yang mengatur perburuan paus dan perdagangan paus dalam hal ini International Convention For Regulation of Whaling (ICRW) dan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang merupakan peraturan internasional terkait perburuan paus serta peraturan internasional terkait indigineous people. Sehingga apabila dikaitkan dalam tujuan penelitian dari Soerjono Soekanto maka, penelitian termasuk dalam penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal merupakan penelitian terhadap suatu peraturan yang berbeda derajat yang mengatur bidang kehidupan tertentu (yang sama) (Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2011 : 74). Dalam hal ini, kebijakan nasional Denmark dan Kepulauan Faroe disesuaikan atau diharmonisasikan dengan peraturan internasional yaitu konvensi

(9)

perburuan paus dan perdagangan paus serta peraturan internasional terkait indigenous people.

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu penelitian yang memberikan data seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, atau gejala-gejala lainnya. Menurut Soerjono Soekanto, maksud penelitian bersifat deskriptif ini adalah untuk mempertegas hipotesa, agar dapat membantu dalam memperkuat teori dalam kerangka menyusun teori baru (Soerjono Soekanto, 2006 : 10).

2. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. Data.

Data sekunder yaitu data atau informasi hasil penelaahan dokumen penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya, bahan kepustakaan seperti buku-buku, literatur, koran, majalah, jurnal maupun arsip-arsip yang berkesesuaian dengan penelitian yang dibahas. Pada penelitian hukum ini, bahan hukum yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Bahan Hukum Primer

(a) International Convention for the Regulation of Whaling 1946 (b) United Nations Convention on the Law of the Sea

(c) Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora

(d) United Nations Declaration on the Rights of Indigenous People (e) Code of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF)

(f) Whaling In the Faroe Island Brief 2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder digunakan untuk memberikan petunjuk maupun penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti, rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum, dan seterusnya. Dalam penulisan skripsi ini menggunakan bahan sekunder berupa, jurnal nasional maupun internasional, research paper, skripsi, tesis, disertasi dan makalah.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier merupakan bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti:

(10)

kamus, ensiklopedia, dan lain-lain. Dalam penulisan skripsi menggunakan bahan hukum tersier yang berupa Black Law Dictionary dan Kamus Besar Bahasa Indonesia

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan bahan hukum yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Studi kepustakaan (library research) adalah penelitian yang datanya diambil terutama atau seluruhnya dari kepustakaan (buku, dokumen, artikel, laporan, koran dan lain-lain sebagainya) (Irawan Soehartono, 2000 : 65). Bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder kemudian diinventarisir dan diklasifikasikan dengan menyesuaikan masalah yang dibahas.

Bahan hukum yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dipaparkan kemudian dianalisis untuk dijadikan dasar pertimbangan untuk menjawab permasalahan hukum yang sedang dihadapi (F. Sugeng Istanto, 2007 : 56). Dalam hal ini akan dianalisis tentang apakah tradisi Grindadrap yang dilakukan oleh masyarakat Kepulauan Faroe bertentangan dengan Hukum Internasional atau tidak.

4. Teknik Pengolahan Data

Pada penelitian hukum normatif, pengolahan bahan dilakukan dengan mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Dalam hal ini pengolahan bahan dilakukan dengan cara melakukan seleksi data sekunder atau bahan hukum, kemudian melakukan klasifikasi menurut penggolongan bahan hukum dan menyusun data hasil penelitian tersebut secara sistematis, tentu saja hal tersebut dilakukan secara logis, artinya ada hubungan dan keterkaitan antara bahan hukum satu dengan bahan hukum lainnya untuk mendapatkan gambaran umum dari hasil penelitian (Mukti Fajar, 2010 : 181). Pada penelitian ini dikumpulkan bahan- bahan hukum yang mendukung penelitian terkait perburuan paus dan perdagangan paus.

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Mengenai Perlindungan dan Pelestarian Lingkungan Laut Berdasarkan UNCLOS 1982

Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut saat ini merupakan isu penting dalam Hukum Internasional. Menurut Burhenne lingkungan laut merupakan kesatuan keanekaragaman hayati dan non hayati yang menjadi satu membentuk ekosistem bagi unsur biotik ( makhluk hidup) dan abiotik (lingkungan sekitar) atau disebut dengan ecosystem diversity. Salah satu parameter seimbangnya suatu ekosistem apabila teraturnya rantai makanan (food chain) dengan baik di lingkungan laut (Burhenne Guilminn, 1996 : 87).

Mengingat begitu pentingnya pelindungan terhadap lingkungan laut secara umum, maka di dalam United Nations Convention on The Law of the Sea (selanjutnya disebut UNCLOS) 1982 atau disebut Konvesi Hukum Laut 1982, terdapat bagian tersendiri yang secara khusus mengatur mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai perlindungan lingkungan laut terdapat dalam Bab XII (dua belas) UNCLOS 1982, yang pada intinya memuat mengenai perlindungan, pelestarian lingkungan laut, pencegahan, pengurangan, dan penguasaan pencemaran laut (Adji Samekto, 2009: 8). Pada pasal 192 UNCLOS 1982 menegaskan bahwa “Negara-negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut”. Kemudian pada pasal 193 UNCLOS 1982 lebih lanjut lagi menjelaskan bahwa “Negara-negara mempunyai hak kedaulatan untuk mengeksploitasikan kekayaan alam mereka serasi dengan kebijaksanaan lingkungan mereka serta sesuai pula dengan kewajiban mereka untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut”. Konvensi Hukum Laut 1982 meminta setiap Negara untuk melakukan upaya-upaya guna mencegah (prevent), mengurangi (reduce), dan mengendalikan (control) pencemaran lingkungan laut dari setiap sumber pencemaran,

(12)

seperti pencemaran dari pembuangan limbah berbahaya dan beracun yang berasal dari sumber daratan (land-based sources), dumping, dari kapal, dari instalasi eksplorasi dan eksploitasi. Dalam berbagai upaya pencegahan, pengurangan, dan pengendalian pencemaran lingkungan tersebut setiap Negara harus melakukan kerja sama baik kerja sama regional maupun global sebagaimana yang diatur oleh Pasal 197-201 Konvensi Hukum Laut 1982. Negara Peserta Konvensi Hukum Laut 1982 mempunyai kewajiban untuk menaati semua ketentuan Konvensi tersebut berkenaan dengan perlindungan dan pelestarian lingkungan laut, yaitu antara lain sebagai berikut :

a. Kewajiban membuat peraturan perundang-undangan tentang perlindungan dan pelestarian lingkungan laut yang mengatur secara komprehensif termasuk penanggulangan pencemaran lingkungan laut dari berbagai sumber pencemaran, seperti pencemaran dari darat, kapal, dumping, dan lainnya. Dalam peraturan perundang-undangan tersebut termasuk penegakan hukumnya, yaitu proses pengadilannya ;

b. Kewajiban melaukan upaya-upaya mencegah, mengurangi, dan mengendalikan pencemaran lingkungan laut ;

c. Kewajiban melakukan kerja sama regional dan global ;

d. Negara harus mempunyai peraturan dan peralatan sebagai bagian dari contingency plan ;

e. Peraturan perundang-undangan tersebut disertai dengan proses mekanisme pertanggungjawaban dan kewajiban ganti ruginya bagi pihak yang dirugikan akibat terjadinya pencemaran laut.

Salah satu kegiatan yang membahayakan lingkungan laut dan mengancam keseimbangan ecosystem diversity ialah tindakan manusia mengeksploitasi sumber daya laut secara berlebihan. Artinya, manusia memanfaatkan secara berlebihan keberadaan sumber daya laut dengan tidak mempertimbangkan kelangsungan keseimbangan ekosistem. Misalnya, penangkapan biota laut seperti ikan, udang, tumbuhan laut secara berlebihan dengan tidak mempertimbangkan regenerasi dari biota laut yang terus menerus dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Salah satu biota laut yang patut dilindungi keberadayaannya dikarenakan sebagai bagian dari ecosystem diversity ialah

(13)

paus. Paus juga merupakan mamalia laut yang berada pada puncak rantai makanan (food chain). Dengan begitu wacana perlindungan paus yang jumlah populasinya kian menurut menjadi salah satu topik utama dalam Hukum Internasional. Pentingnya menjaga keseimbangan populasi paus merupakan langkah mencegah laju kepunahan paus, menjaga keseimbangan ekosistem laut serta menjaga keseimbangan alam.

Mamalia laut seperti paus memiliki tingkat reproduksi yang relatif rendah. Oleh karena itu berburu paus secara intensif membawa resiko tinggi yakni kepunaahan. Pada akhir tahun 1970 banyak terjadi kekhawatiran di banyak negara dikarenakan beberapa spesis paus yang diambang kepunahan (R.R Churchill, 1999 :8).

Wacana perlindungan paus ialah sebagai bagian dari upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan laut dapat diwujudkan ke dalam peraturan-peraturan serta penegakannya melalui sanksi-sanksinya, selain itu prakteknya upaya-upaya lain juga dilakukan seperti konservasi habitat hewan laut, moratorium atas tindakan yang melanggar hukum dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum lingkungan internasional yang berkembang. Adapun prinsip-prinsip tersebut yang berkaitan dengan perlindungan dan pelestarian lingkungan antara lain :

a. Sustainable Development, Integration and Interdependence Principle

Prinsip ini pertama kali dibahas dalam Report Brundtland Commission on Environmet and Development pada tahun 1987 menyatakan bahwa Sustainable Development adalah “development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”. Parameter mengenai Sustainable Development diklarifikasi pada Agenda 21 and The Rio Declaration dan diadaptasikan ke dalam United Nations Conference on Environment and Development dan dianjurkan ke dalam peraturan regional maupun nasion al di setiap negara (Klaus Topfer, 2002 : 25). Pada hasil The Rio Declaration menegaskan bahwa :

“Principle 4 of the Rio Declaration provides: “In order to achieve sustainable development, environmental protection shall constitute an integral part of the development process and cannot be considered in isolation from it.” Principle 25 states that “Peace, development and environmental protection are interdependent and indivisible.” Principles 4 and 25 make clear thatpolicies and activities in various

(14)

spheres, including environmental protection, must be integrated inorder to achieve sustainable development. They also make clear that the efforts to improve society, including those to protect the environment, achieve peace, and accomplish economic development, are interdependent.

Principles 4 and 25 thus embody the concepts of integration andinterdependence”. (United Nations Environment Programme Training Manual on International Environmental Law, 2000 : 23)

Hasil The Rio Declaration diatas menegaskan bahwa yang dimaksud dengan prinsip Sustainable Development yakni dalam rangka mencapai pembangunan berkelanjutan, perlindungan lingkungan adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari suatu proses pembangunan. Ketiga komponen penting yakni perdamaian , pembangunan dan perlindungan lingkungan saling bergantungan dan tak terpisahkan. Setiap pembangunan dan segala aktivitas di berbagai bidang harus terintegrasi dengan perlindungan lingkungan. Upaya perlindungan lingkungan dilakukan untuk memperbaiki masyarakat, perlindungan lingkungan, ketergantungan yang harmonis antara lingkungan hidup dan manusia. Kemudian mengenai prinsip Integration and Interdependence principle ada pada salah satu komitmen Millenium Developmet Goal poin ke 7 yakni “Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) dalam kebijakan negara dengan program-program baik ditingkat regional, nasional dan internasional yang saling terintegarasi dan ketergantungan satu dengan yang lainnya” (Klaus Topfer, 2002 : 25). Jadi, perlindungan hukum terhadap paus dapat berjalan secara optimal apabila disertai peran negara-negara dalam membuat peraturan-peraturan baik regional, nasional maupun internasional sebagai payung hukum dengan tetap mengintegrasikan segala kepentingan disertai upaya perlindungan lingkungan hidup.

1) Responsibility for Transboundary Harm Principle

Prinsip Responsibilty for Transboundary Harm terkandung di dalam prinsip ke 21 pada Stockholm Declaration tahun 1972 yang menyatakan bahwa:

(15)

“States have, in accordance with the Charter of the United Nations and the principles of international law, the sovereign right to exploit their own resources pursuant to their own environmental policies, and the responsibility to ensure that activities within their jurisdiction or control do not cause damage to the environment of other States or of areas beyond the limits of national jurisdiction.” (United Nations Environment Programme Training Manual on International Environmental Law, 2000 : 30)

Prinsip tersebut juga ada pada Rio Declaration pada tahun 1992 yang menegaskan bahwa:

“States have, in accordance with the Charter of the United Nations and the principles of international law, the sovereign right to exploit their own resources pursuant to their own environmental and developmental policies, and the responsibility to ensure that activities within their jurisdiction or control do not cause damage to the environment of other States or of areas beyond the limits of national jurisdiction.” (United Nations Environment Programme Training Manual on International Environmental Law, 2000 : 30)

Kedua deklarasi tersebut sama-sama menegaskan hal yang sama bahwa Negara memiliki kewenangan yang ada pada Piagam PBB dan prinsip-prinsip hukum internasional yakni hak berdaulat untuk mengeksploitasi sumber daya di setiap negara masing-masing disertai pelaksanaan kebijakan lingkungan dan pembangunan serta tanggung jawab untuk memastikan bahwa segala kegiatan sesuai dengan yurisdiksi dengan disertai kontrol untuk tidak menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan negara lain atau daerah di luar batas yurisdiksi nasional. Maka, perlindungan paus sudah menjadi tanggung jawab setiap Negara, dikarenakan paus merupakan salah satu sumber daya laut yang patut dilindungi keberadaannya.

2) Foreseeability Of Harm And The “Preacutinary Principle

Berdasarkan prinsip ini, maka negara diharuskan untuk menghitung setiap kebijakannya yang berkenaan dengan lingkungan. Negara wajib untuk mencegah atau melarang tindakan yang sebelumnya telah dapat diduga akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pasal 206 dari Konvensi Hukum Laut 1982 telah menegaskan bahwa “when states have reasonable grounds for

(16)

believing that planned activities under their jurisdiction or control may cause substantial pollution of or significant and harmful changes to the marine environment, they shall, as far as practicable assess the potential effects of such activities on the marine environment and shall communicate reports of the result of such assessment.Precautionary principle telah juga diinterpretasikan oleh the 1990 Bergen Ministerial Declaration On Sustainable Development bahwa “environmental measures must anticipate, prevent and attack the causes of environmental degradation. Where there are threats of serious or irreversible damage, lack of full scientific certainly should not be used as a reason of postponing measures to prevent environmental degradation.” ( Ludwik A. Teclaff, 1974 : 20).

2. Tinjauan Mengenai Pengelolaan Perikanan yang Bertanggung Jawab Berdasarkan Code of Conduct For Responsible Fisheries

Kegiatan penangkapan ikan di laut merupakan satu aktivitas manajemen teknis dan administrasi yang komplek dan tidak dapat terlepas satu sama lainnya. Manajemen perikanan tangkap sendiri berada dalam satu koridor lintas batas antar negara dan berlaku secara internasional. Ini dikarenakan, laut dan isinya sudah dinyatakan sebagai warisan dunia yang harus dijaga keberlangsungannya. Food and Agricultural Organization (FAO), sebuah badan dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi masalah pangan dunia, menetapkan laut sebagai warisan dunia yang harus dijaga keberlangsungan stok sumber daya yang ada didalamnya, terutama sumber daya perikanan. Melalui program aktivitas perikanan yang berkelanjutan (sustainability fisheries), diharapkan kecukupan masyarakat sekarang dalam memenuhi kebutuhanannya tidak dengan mengorbankan kebutuhan masyarakat pada generasi yang akan datang ( Imam Subekti, 2013 : 2). Kemudian FAO mengeluarkan sebuah tatalaksana yang mengatur penangkapan ikan disertai tanggungjawab agar tidak mengancam keseimbangan ekosistem laut. Dalam pengelolaan sumberdaya kelautan mempunyai tantangan berbagai aspek, antara lain pengembangan kelembagaan, sumberdaya manusia, peningkatan sarana dan prasarana, penerapan perencanaan

(17)

pengelolaan terpadu, pemanfaatan sistem informasi dan teknologi, serta pengembangan ilmu kelautan, yang semua ditunjukan untuk memanfaatan sumberdaya kelautan secara optimal dan berkesinambungan. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan pengembangan konsep-konsep pengelolaan sumberdaya kelautan yang dapat diimplementasikan di lapang berdasarkan suatu pengaturan tata ruang wilayah laut yang ramah lingkungan. Tuntutan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut secara lestari serta pemberdayaan masyarakat lokal yang berhubungan langsung dengan sumberdaya tersebut merupakan bagian dari pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang telah menjadi agenda internasional. Hal itu antara lain ditandai dengan disetujuinya berbagai konvensi atau deklarasi internasional, seperti Agenda 21 dan Declaration of the Right of Indigeneous Peoples. Khusus untuk pengelolaan sumberdaya alam perikanan, Food and Agriculture Organization of the United Nation (FAO-UN) telah mendapatkan Code of Conduct for Responsible Fisheries 1995 (CCRF) (Saad Sudirman, 2000 : 30). Tatalaksana tersebut disebut Code Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF). Tatalaksana ini merupakan kesepakatan dalam konferensi Committee on Fisheries (COFI) ke-28 FAO di Roma pada tanggal 31 Oktober 1995, yang tercantum dalam resolusi Nomor: 4/1995. Resolusi yang sama juga meminta pada FAO berkolaborasi dengan anggota dan organisasi yang relevan untuk menyusun technical guidelines yang mendukung pelaksanaan dari CCRF ( Imam Subekti, 2013 : 3).

Tatalaksana ini menjadi asas dan standar internasional mengenai pola perilaku bagi praktek yang bertanggung jawab, dalam pengusahaan sumberdaya perikanan dengan maksud untuk menjamin terlaksananya aspek konservasi, pengelolaan dan pengembangan efektif sumberdaya hayati akuatik berkenaan dengan pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati. Tatalaksana ini mengakui arti penting aspek gizi, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya yang menyangkut kegiatan perikanan dan terkait dengan semua pihak yang berkepertingan yang peduli terhadap sektor perikanan.

Tatalaksana ini memperhatikan karakteristik biologi sumberdaya perikanan yang terkait dengan lingkungan/habitatnya serta menjaga terwujudnya secara adil dan berkelanjutan kepentingan para konsumen maupun pengguna hasil pengusahaan perikanan lainnya.

(18)

Pelaksanaan konvensi ini bersifat sukarela. Namun beberapa bagian dari pola perilaku tersebut disusun dengan merujuk pada UNCLOS 1982 ( Imam Subekti, 2013 : 3).

Beberapa faktor dibentuknya CCRF ialah adanya keprihatinan para pakar perikanan dunia terhadap ancaman terhadap sumber daya ikan, adanya isu kerusakan isu lingkungan, terdapat praktek illegal, unreported dan unregulated (IUU) fishing, dan diperlukan aturan terkait pengelolaan sumberdaya ikan yang berbasis masyarakat.

Sehingga pelaksanaan CCRF bertujuan sebagai berikut (Imam Subekti, 2013 : 5) : a. Menetapkan azas sesuai dengan hukum (adat, nasional, dan international), bagi

penangkapan ikan dan kegiatan perikanan yang bertanggung jawab ; b. Menetapkan azas dan kriteria kebijakan;

c. Bersifat sebagai rujukan (himbauan);

d. Menjadikan tuntunan dalam setiap menghadapi permasalahan;

e. Memberi kemudahan dalam kerjasama teknis dan pembiayaan;

f. Meningkatkan kontribusi pangan;

g. Meningkatkan upaya perlindungan sumberdaya ikan;

h. Menggalakan bisnis Perikanan sesuai dengan hukum;

i. Memajukan penelitian.

Kemudian yang menjadi topik utama dalam CCFR antara lain mengenai pengelolaan perikanan, operasi penangkapan, pengembangan akuakultur, integrasi perikanan ke dalam pengelolaan kawasan pesisir, penanganan pasca panen dan perdagangan serta mengenai penelitian perikanan. Dibuatnya CCFR ini juga mendasari metode-metode yang dikembangkan oleh para pakar untuk menilai kondisi keberlanjutan perikanan tangkap di semua area penangkapan . Semua metode pendugaan stok sumber adaya ikan dikembangkan bertujuan membantu mencegah terjadinya fully dan over fishing aktivitas perikanan tangkap di area sebuah fishing ground ( area tangkapan ikan) (Saad Sudirman, 2000 : 25). Aturan CCRF ini dapat diterapkan selanjutnya oleh setiap negara dengan penerapan prinsip-prinsip umum dalam Article VI CCRF antara lain (Saad Sudirman, 2000 : 31) :

a. Pelaksanaan hak untuk menangkap ikan bersamaan dengan kewajiban untuk melaksanakan hak tersebut secara berkelanjutan dan lestari agar dapat menjamin keberhasilan upaya konservasi dan pengelolaannya;

(19)

b. Pengelolaan sumber-sumber perikanan harus menggalakkan upaya untuk mempertahankan kualitas, keanekaragaman hayati, dan ketersediaan sumbersumber perikanan dalam jumlah yang mencukupi untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang;

c. Pengembangan armada perikanan harus mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya sesuai dengan kemampuan reproduksi demi keberlanjutan pemanfaatannya;

d. Perumusan kebijakan dalam pengelolaan perikanan harus didasarkan pada bukti- bukti ilmiah yang terbaik, dengan memperhatikan pengetahuan tradisional tentang pengelolaan sumber-sumber perikanan serta habitatnya;

e. Dalam rangka konservasi dan pengelolaan sumber-sumber perikanan, setiap negara dan organisasi perikanan regional harus menerapkan prinsip kehati- hatian (precautionary approach) seluas-luasnya;

f. Alat-alat penangkapan harus dikembangkan sedemikian rupa agar semakin selektif dan aman terhadap kelestarian lingkungan hidup sehingga dapat mempertahankan keanekaragaman jenis dan populasinya;

g. Cara penangkapan ikan, penanganan, pemrosesan, dan pendistribusiannya harus dilakukan sedemikian rupa agar dapat mempertahankan nilai kandungan nutrisinya;

h. Habitat sumber-sumber perikanan yang kritis sedapat mungkin harus dilindungi dan direhabilitasi;

i. Setiap negara harus mengintegrasikan pengelolaan sumber-sumber perikanannya ke dalam kebijakan pengelolaan wilayah pesisir;

j. Setiap negara harus mentaati dan melaksanakan mekanisme Monitoring, Controlling and Surveillance (MCS) yang diarahkan pada penataan dan penegakan hukum di bidang konservasi sumber-sumber perikanan;

k. Negara bendera harus mampu melaksanakan pengendalian secara efektif terhadap kapal-kapal perikanan yang mengibarkan benderanya guna menjamin pelaksanaan tata laksana ini secara efektif;

(20)

l. Setiap negara harus bekerjasama melalui organisasi regional untuk mengembangkan cara penangkapan ikan secara bertanggungjawab, baik di dalam maupun di luar wilayah yurisdiksinya;

m. Setiap negara harus mengembangkan mekanisme pengambilan keputusan secara transparan dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan terhadap pengembangan peraturan dan kebijakan pengelolaan di bidang perikanan;

n. Perdagangan perikanan harus diselenggarakan sesuai dengan prinsip-prinsip, hak, dan kewajiban sebagaimana diatur dalam persetujuan World Trade Organization;

o. Apabila terjadi sengketa, setiap negara harus bekerjasama secara damai untuk mencapai penyelesaian sementara sesuai dengan persetujuan internasional yang relevan;

p. Setiap negara harus mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi melalui pendidikan dan latihan, serta melibatkan mereka di dalam proses pengambilan keputusan;

q. Setiap negara harus menjamin bahwa segala fasilitas dan peralatan perikanan serta lingkungan kerjanya memenuhi standar keselamatan internasional;

r. Setiap negara harus memberikan perlindungan terhadap lahan kehidupan nelayan kecil dengan mengingat kontribusinya yang besar terhadap penyediaan kesempatan kerja, sumber penghasilan, dan keamanan pangan;

s. Setiap negara harus mempertimbangkan pengembangan budidaya perikanan untuk menciptakan keragaman sumber penghasilan dan bahan makanan

Bersinggungan dengan penelitian ini yang menelti terkait persoalan perburuan paus, CCRF menegaskan pada Article III (2) bahwa tatalaksana ini berhubungan utamanya terhadap tujuan UNCLOS 1982 dalam upaya pelestarian lingkungan laut dan juga berhubungan dengan perlindungan terhadap straddlig fish stocks dan highly migratory fish stocks. Menurut FAO, highly migratory fish ialah spesies ikan yang beruaya secara jelas didefinisikan pada Lampiran 1 UNCLOS. Yang termasuk highly migratory fish antara lain seperti tuna, hiu laut, pomfrets, sauries, cetaceans dan dolphinfish (http://www.fao.org/3/a-v9878o.pdf diakses pada tanggal 11 April 2016).

(21)

Salah satunya spesies cetaceans ialah spesies mamalia paus yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini.

Pada Article VII (1) CCRF mengenai pengelolaan perikanan ini menjelaskan bahwa negara-negara dan semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan perikanan melalui suatu kerangka kebijakan hukum dan kelembagaan yang tepat, harus mengadopsi langkah konservasi jangka panjang dan pemanfaatan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Langkah-langkah konservasi dan pengelolaan, baik pada tingkat lokal, nasional, subregional atau regional, harus didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia dan dirancang untuk menjamin kelestarian jangka panjang sumber daya perikanan pada tingkat yang dapat mendukung pencapaian tujuan dari pemanfaatan yang optimum, dan mempertahankan ketersediaan untuk generasi kini dan mendatang; pertimbangan jangka pendek tidak boleh mengabaikan tujuan ini (http://www.fao.org/3/a-v9878o.pdf diakses pada tanggal 11 April 2016 pada pukul 11.07 WIB).

Persoalan ancaman lingkungan laut menjadi fokus dari pembuatan tatalaksana ini. Penangkapan ikan yang berlebihan (overfishing) yang tidak disertai kebijakan konservasi yang tepat dapat membahayakan populasi ikan di laut. Penurunan populasi ikan akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan manusia di masa berikutnya.

Tatalaksana ini memberikan ketegasan bagi beberapa pihak untuk mentaati dan mengimplementasikan peraturan ini, yaitu (Siombo, 2010 : 13) :

a. Semua Negara yang memanfaatkan sumberdya ikan dan lingkungannya;

b. Semua Pelaku Perikanan (baik penangkap dan prosesing);

c. Pelabuhan-Pelabuhan Perikanan (kontruksi, pelayanan, inspeksi, dan pelaporan);

d. Industri disamping harus menggunakan alat tangkap yang sesuai;

e. Peneliti untuk pengembangan alat tangkap yang selektif;

f. Observer program (pendataan diatas kapal);

g. Perikanan rakyat, perlu mengantisipasi dampak terhadap lingkungan dan penggunaan energi yang efisien.

(22)

Negara memiliki peranan penting agar CCRF ini dapat terlaksana dengan baik.

Kewajiban harus dilakukan oleh negara untuk dipenuhi yaitu mengambil langkah precautionary (hati-hati) dalam rangka melindungi atau membatasi penangkapan ikan sesuai dengan daya dukung sumber, menegakkan mekanisme yang efektif untuk monitoring, control, surveillance dan law enforcement dan mengambil langkah- langkah konservasi jangka panjang dan pemanfaatan sumberdaya ikan yang lestari.

Selain negara yang memiliki peranan penting terhadap pemberlakukan CCRF, pengusaha juga diharus mentaati peraturan ini agar keberlangsungan sektor industri perikanan tetap pada koridornya tidak membayakan ekosistem laut dan memelihara keleastarian lingkungan. Beberapa upaya penting yang harus dipenuhi oleh pengusaha yakni turut berperan serta dalam upaya-upaya konservasi, ikut dalam pertemuanpertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi pengelolaan perikanan, ikut serta mensosialisasi dan mempublikasikan langkah-langkah konservasi dan pengelolaan serta menjamin pelaksanaan peraturan, membantu mengembangkan kerjasama (lokal, regional) dan koordinasi dalam segala hal yang berkaitan dengan perikanan, misalnya menyediakan kesempatan dan fasilitas diatas kapal untuk para peneliti (Siombo, 2010 : 24).

3. Tinjauan Mengenai International Convention For Regulation of Whaling (ICRW)

Praktek perburuan paus masih terjadi di beberapa negara seperti Jepang, Norwegia, pulau-pulau kecil di Atlantik Utara dan Islandia. Beberapa upaya telah dilakukan guna mengurangi kegiatan perburuan paus yang mengancam populasi paus, seperti pembuatan peraturan-peraturan, berkembangnya organisasi-organisasi internasional yang memiliki misi penyelamatan paus dan gerakan-gerakan peduli paus, upaya penangkaran paus serta pemberian sanksi kepada pihak-pihak yang melanggar.

Salah satu peraturan internasional yang disepakati oleh banyak negara untuk melindungi paus adalah International Convention for Regulation of Whaling tahun 1946. Konvensi ini memberikan perlindungan hukum terhadap paus, dengan

(23)

dibentuknya suatu komisi khusus yang menangani upaya penyelamatan populasi paus yaitu International Whaling Commission (Sebastian Oberthur, 1998: 2).

Pembuatan konvensi ini mendahului pembuatan UNCLOS, oleh karena itu dalam ICRW tidak dipengaruhi dengan substansi pembagian lautan di zona maritim dan hak-hak negara bagian dan negara bendera pesisir seperti yang diatur dalam UNCLOS. ICRW mengatur regulasi terkait kapal-kapal penangkap ikan (factory ships) , land stations, dan yurisdiki penangkapan paus serta persetujuan pemerintah (Contracting Governments) hal ini terdapat pada Article II ICRW. Konvensi ini tidak mempengaruhi hak berdaulat negara pantai atas mamalia laut seperti paus di Zona Ekslusif Ekonomi (ZEE) yang ada pada pasal 65 UNCLOS. ICRW memiliki hak dibawah UNCLOS. Misalnya penangkapan paus komersial di Samudera Hindia, sebuah pantai di India tetap bisa melarang semua penangkapan paus di wilayah ZEE nya.

Sebaliknya ICRW tidak dapat mengotorisasi pengangkapan paus di wilayah ZEE berdasarkan pasal 65 UNCLOS. Saat ini penangkapan paus masih terus berlangsung walaupun terdapat moratorium penangkapan paus untuk kepentingan komersial.

Beberapa penangkapan paus diperbolehkan untuk tujuan penelitian seperti di Greenland dan Amerika Serikat. Selain itu Norwegia juga masih melakukan perburuan paus komersial pada North Atlantic yang memburu paus Minke. Islandia dan Jepang pun masih terlibat dalam penangkapan paus atas dasar tujuan ilmiah (E.J. Molenaar, 2001 : 561). Berikut status-status negara-negara atas konvensi tersebut berdasarkan data United Nations (PBB) :

Tabel 3.1 : Anggota IWC dan Status-Statusnya

Participant Action Date of

Notification/Deposit

Date of Effect

Argentina Ratification 18/05/1960

Australia Ratification 01/12/1947 10/11/1948

Brazil Adherence 04/01/1974 04/01/1974

Brazil Ratification 09/05/1950 09/05/1950

Brazil Withdrawal 28/12/1965 30/06/1966

Canada Ratification 25/02/1949 25/02/1949

Denmark Ratification 23/05/1950 23/05/1950

France Ratification 03/12/1948 03/12/1948

Iceland Adherence 10/03/1947 10/11/1948

Japan Adherence 21/04/1951 21/04/1951

Mexico Adherence 30/06/1949 30/06/1949

(24)

Netherlands Adherence 04/05/1962

Netherlands Ratification 10/11/1948 10/11/1948

Netherlands Adherence 14/06/1977 14/06/1977

Netherlands Withdrawal 31/12/1958 30/06/1959

Netherlands Withdrawal 24/12/1969 30/06/1970

New Zealand Ratification 02/08/1949 02/08/1949

New Zealand Adherence 15/06/1976 15/06/1976

New Zealand Withdrawal 03/10/1968 30/06/1969

Norway Adherence 23/09/1960

Norway Ratification 03/03/1948 10/11/1948

Norway Withdrawal 29/12/1958 30/06/1959

Panama Adherence 30/09/1948 10/11/1948

Republic of Korea Adherence 29/12/1978 29/12/1978

Seychelles Adherence 19/03/1979 19/03/1979

Spain Adherence 06/07/1979 06/07/1979

Sweden Adherence 15/06/1979 15/06/1979

Sweden Adherence 28/01/1949 28/01/1949

Sweden Withdrawal 18/12/1963 30/06/1964

Union of South Africa Ratification 05/05/1948 10/11/1948 Union of Soviet Socialist

Republics

Ratification 11/09/1948 10/11/1948 United Kingdom of Great

Britain and Northern Ireland

Declaration 12/08/1960

United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland

Ratification 17/06/1947 10/11/1948

United States of America Declaration 06/10/1960 United States of America Declaration 14/09/1960

United States of America Ratification 18/07/1947 10/11/1948 International Convention for Regulation of Whaling (ICRW) memuat peraturan khusus yang membolehkan negara untuk membunuh paus untuk alasan ilmiah, seperti yang tercantum pada Article VIII (1):

“Notwithstanding anything contained in this convention any Contracting Government may grant to any of its nationals a special permit authorizing that national to kill, take, and treat whales or purposes of scientific research subject to such restrictions as to number and to such other conditions as the Contracting Government thinks fit, and the killing, taking, and treating of whales in accordance with the provisions of this article shall be exempt from the operation of this convention.”

(25)

Hal tersebut menjelaskan bahwa selain ketentuan-ketentuan yang terkandung di konvensi terkait perlindungan paus, konvensi ini membolehkan membunuh paus hanya untuk kegiatan penelitian dan harus mendapatkan ijin khusus dari pemerintahan yang berwenang di suatu negara yang telah menyepakati konvensi ini. Tanggal 2 Desember 1946, 16 negara telah sepakat untuk membuat dan menandatangani konvensi ini. Sampai dengan tanggal 22 Maret 2011 terdapat terdapat 63 negara yang telah menyetujui dan menandatangani International Convention for the Regulation of Whaling (ICRW), Jepang termasuk negara yang telah menyetujui terikat secara hukum dan menandatangani International Convention for the Regulation of Whaling (ICRW) pada tanggal 21 April 1951, Sedangkan Denmark menandatangani International Convention for the Regulation of Whaling (ICRW) pada tanggal 23 Mei 1950, dengan tindakan Jepang dan Denmark menandatangani International Convention for the Regulation of Whaling (ICRW) berarti Jepang dan Denmark menyetujui untuk melindungi dan melestarikan populasi paus (Dwi Ariani, 2013 :3 ).

Guna menjalankan apa yang diamanatkan dalam International Convention for the Regulation of Whaling ( ICRW) dibentuklah suatu komisi khusus yang menangani perlindungan terhadap paus yakni International Whaling Comission ( IWC). Bentuk dari pertanggungjawaban dari IWC untuk menjaga keberlangsungan perlindungan dari paus dan juga menjaga komitmen tiap negara anggota, IWC selalu mengadakan pertemuan rutin setiap tahun. Komisi biasanya mengadakan pertemuan tahunan di bulan Juni atau Juli. Lokasi dari pertemuan tahunan diputuskan melalui undangan dari pemerintah negara anggota atau ketika tidak ada negara anggota yang mengajukan undangan, maka biasanya pertemuan tahunan akan di adakan di City of Cambridge, United Kingdom dimana pusat Kesekretariatan berada. (Dwi Ariani, 2013:7). IWC didirikan berdasarkan ICRW yang ada pada Article III di Washington DC pada tanggal 2 Desember 1946. Article III (1) Konvensi menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk menyediakan konservasi yang tepat untuk populasi paus yakni sebagai berikut:

“The Contracting Governments agree to establish an International Whaling Commission, hereinafter referred to as the Commission, to be composed of one member from each Contracting Government. Each

(26)

member shall have one vote and may be accompanied by one or more experts and advisers”.

Pada Article III (1) tersebut dijelaskan bahwa Negara yang telah menyetujui konvensi ini telah setujun untuk membentuk International Whaling Comission yang selanjutnya dalam konvensi ini disebut sebagai komisi yang terdiri dari satu anggota dari masing-masing Negara pihak. Komisi ini melakukan studi ekstensif dan penelitian pada populasi paus, mengembangkan dan memelihara database ilmiah, dan menerbitkan ulasannya laporannya ke masyarakat luas melalui Journal of Cetacean Research and Management. Beberapa upaya yang telah dilakukan IWC selama ini dalam menyelamatkan populasi paus yang kian menurut antara lain:

a. Memberikan kebijakan seperti ketentuan pelarangan mengambil dan membunuh gray whales , kecuali ketika dagingnya hanya akan dikonsumsi dan digunakan secara ekslusif oleh masyarakat lokal ( The Aborigines); Memberikan kebijakan seperti dilarang membunuh atau mengambil calves atau suckling whales atau paus betina yang sedang bersama-sama calves atau suckling whales ; Melarang menggunakan kapal pemburu paus yang berttujuan mengambil atau memperlakukan paus Balin di daerah Laut Atlantik, Laut Pasifik dan Indian Ocean (Annual Report of International Whaling Comission 1949).

b. IWC menerapkan pembatasan kuota penangkapan paus untuk melindungi populasi Paus. Seperti hanya membolehkan menangkap paus hanya pada saat Pelagic Season ( 22 Desember – 7 April ) yakni waktu dimana setiap negara dibolehkan untuk memburu paus. Upaya ini dilakukan untuk tetap mempertahapkan populasi paus dan memberikan waktu khusus untuk paus dalam bereproduksi . (Annual Report of International Whaling Comission 1951).

c. Pertemuan terakhir IWC dilaksanakan pada tahun 2014 di Slovenia. Berdasarkan hasil Annual Report pertemuan tersebut menunjukkan moratorium penangkapan paus untuk kepentingan komersil yang dilaksanakan sejak tahun 1985 sudah menujukkan angka penurunan menurun perburuan paus di tahun 2010 sebesar 75% (http://us.whales.org/wdc-in-action/whaling, diakses pada tanggal 28 Agustus 2015 pada pukul 2.33 WIB).

(27)

Pada tahun 1982 IWC telah menyetujui pelarangan kegiatan perburuan paus yang bersifat komersil. IWC mengkategorikan perburuan paus menjadi dua yakni Comercial Whaling dan Aboriginal Subsistence Whaling. Comercial Whaling ialah perburuan paus yang didasarkan untuk kepenting komersil atau diperjualbelikan sebagai komoditi ekspor dan impor suatu negara. IWC melarang negara yang telah meratifikasi dan sebagai negara peserta ICRW dalam melaksanakan kegiatan ekspor impor paus. Kemudian Aboriginal Subsistence Whaling (ASW) ialah kegiatan perburuan paus yang dilakukan oleh masyarakat tertentu ( Indigineous People) suatu wilayah dikarenakan kegiatan tradisi budaya yang turun menurun dan paus merupakan kebutuhan pangan nasional suatu wilayah tersebut. Dalam hal ini IWC hanya memberikan pembatasan wilayah penangkapan paus yakni Greenland, Chukotka, Alaska, Bequia dan Grenadies. Hal ini dilakukan guna melindungi populasi paus agar tidak kian menurun ( Sandra Altherr, 2011 : 7-8). Dalam hal ini Kepulauan Faroe yang merupakan wilayah otoritas Denmark tidak termasuk ke dalam wilayah penangkapan ASW.

Perburuan paus yang berlebihan (whale over fishing) menjadi ancaman terhadap pemeiliharaan lingkungan laut. Istillah Over Fishing ada pada International Convention For Regulation of Whaling (ICRW) yakni :

“Considering that the history of whaling has seen overfishing of one area after another and of one species of whale after another to such a degree that it is essential to protect all species of whales from further over fishing;”

Kemudian lebih jelas lagi menurut Ocean National Geographic istilah Over Fishing ialah :

“Simply the taking of wildlife from the sea at rates too high for fished species to replace themselves. The earliest overfishing occurred in the early 1800s when humans, seeking blubber for lamp oil, decimated the whale population. Some fish that we eat, including Atlantic cod and herring and California's sardines, were also harvested to the brink of extinction by the mid-1900s”

(28)

Over Fishing ialah pengambilan sumber daya laut secara berlebihan seperti spesies ikan dan hewan laut lainnya untuk keperluan manusia. Awal mula Over Fishing terjadi pada tahun sekitar tahun 1800 dimana manusia mencari lemak sebagai bahan lampu minyak sehingga menurunkan populasi paus, ikan sarden dan ikan herring.

Sehingga mengakibatkan penuruan populasi hingga pertengahan tahun 1900.

(http://ocean.nationalgeographic.com/ocean/explore/pristine-seas/critical

issuesoverfishing/ diakses pada tanggal 27 Agustus 2015 pukul 21.53 WIB). Menurut Greenpeace aktivitas Over Fishing mengganggu rantai makanan dan dikhawatirkan menjadi bencana alam global pada akhir abad ke 20.

(http://www.greenpeace.org/international/en/campaigns/oceans/fit-for-the-

future/overfishing/ diakses pada tanggal 27 Agustus 2015 pada pukul 22.07 WIB). Hal ini diperparah dengan adanya tindakan Over Fishing yang tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku atau illegal. Untuk over fishing sendiri terdapat perbedaan bentuk dan jenisnya antara lain ( Widodo, 2007 : 26) :

No. Bentuk Over Fishing Pengertian

1. Growth Over Fishing Ini terjadi saat ikan ditangkap sebelum mereka tumbuh mencapai ukuran dimana peningkatan lebih lanjut dari pertumbuhan akan mampu membuat seimbang dengan penyusutan stok yang diakibatkan oleh mortalitas alami (misalnya pemangsaan).

Pencegahan Growth over fishing meliputi pembatasan upaya penangkapan, pengaturan ukuran mata jaring dan penutupan musim atau daerah penangkapan.

2. Recruitment Ove Fishing Pengurangan melalui penangkapan terhadap suatu stok sedemikian rupa sehingga jumlah stok induk tidak cukup banyak untuk memproduksi telur yang kemudian menghasilkan rekrut terhadap stok yang sama. Pencegahan terhadap Recruitment overfishing meliputi proteksi (misalnya melalui reservasi) terhadap

(29)

sejumlah stok induk (parental stock broodstock) yang memadai.

3. Biological Over Fishing Kombinasi dari growth overfishing dan recruitment overfishing akan terjadi manakala tingkat upaya penangkapan dalam suatu perikanan tertentu melampaui tingkat yang diperlukan untuk menghasilkan MSY. Pencegahan terhadap biological overfishing meliputi pengaturan upaya penangkapan dan pola penangkapannya (fishing pattern).

4. Economic Over Fishing Kondisi ini dapat terjadi sebagai hasil dari suatu perubahan komposisi jenis dari suatu stok sebagai akibat dari upaya penangkapan yang berlebihan, dimana spesies target menghilang dan tidak digantikan secara penuh oleh jenis “pengganti”. Biasanya overfishing jenis ini mengakibatkan transisi dari ikan bernilai ekonomi tinggi berukuran besar kepada ikan kurang bernilai ekonomi berukuran kecil, dan akhirnya kepada ikan rucah (trash fish) dan atau invertebrata non komersial seperti ubur-ubur.

5. Malthusian Over Fishing Yaitu suatu istilah untuk mengungkapkan masuknya tenaga kerja yang tergusur dari berbagai aktivitas berbasis datarat (land based activities) ke dalam perikanan dalam jumlah yang berlebihan, yang berkompetisi dengan nelayan tradisional yang telah ada dan yang cenderung menggunakan cara- cara penangkapan yang bersifat merusak, seperti dinamit untuk ikan-ikan pelagis, sianida untuk ikan-ikan diterumbu karang dan/ atau insektisida dibeberapa perikanan laguna dan estuarina.

Tabel 3.2 : Bentuk- Bentuk Over Fishing

(30)

Over Fishing atau penangkapan berlebihan terhadap paus terjadi untuk kepentingan komersil yang dilakukan secara rutin seperti tradisi Grindadrap yang dilakukan masyarakat kepualaun Faroe. Menurut Whale and Dolphin Conservation yang dimaksud dengan Illegal Whale Over Fishing atau Illegal Whaling aktivitas perburuan paus secara berlebihan tanpa didasari aturan hukum yang jelas. Aktivitas ini bisa bersifat komersial dan non komersial. Semenjak tahun 1958 IWC telah mengeluarkan moratorium kepada beberapa negara seperti Norwegia dan Islandia untuk menghentikan kegiatan perburuan paus untuk kepentingan komersil (Comercial Whaling Ban) . Berdasarkan Article VIII (1) ICRW penangkapan paus diperbolehkan untuk kepentingan penelitian ilmiah. Moratorium tersebut telah efektif menekan kegiatan perburuan paus untuk kepentingan komersil (http://us.whales.org/wdc-in- action/whaling diakses pada tanggal 29 Agustus 2015 pada pukul 2.14 WIB).

Kegiatan Illegal Whale Over Fishing yang bersifat non komersial seperti atas dasar budaya dan kebiasaan masyarakat yang dilakukan secara rutin sampai saat ini belum mendapatkan larangan yang cukup jelas. Sampai saat ini salah satu contoh bentuk pelarangan aktivitas perburuan paus yang bersifat illegal yakni dikabulkannya gugatan Australia kepada Jepang oleh Mahkamah Internasional (The International Court of Justice)pada tanggal 31 Maret 2014 terkait program penangkapan paus Jepang di Antartika (JARPA II). Program JARPA II dinilai telah melanggar Article VIII (I) di dalam ICRW. Program JAPRA II dilakukan atas dasar penelitian ilmiah, namun pada kenyataannya terjadi pelanggaran yakni pembunuhan pausdengan jumlah yang berlebihan. Mahkamah Internasional menyatakan bahwa program JAPRA II adalah program yang illegal. Mahkamah Internasional tidak secara langsung melarang program ini namun meminta Jepang menghentikan program tersebut dan pemerintah Jepang harus berhenti megeluarkan ijin untuk penyelenggaraannya.

“The judges of the International Court of Justice handed down its long anticipated decision on whether Japan's government-subsidised whaling programme in the Southern Ocean should be allowed to continue.While today's ruling did not outlaw the killing of whales for scientific research per se, it categorically stated that Japan's whaling programme in the Southern Ocean was not for

(31)

scientific purposes, and the amount of whales being killed was not justifiable in the name of science. The court went on to say that Japan must stop issuing permits for this whaling”.

Mahkamah Internasional menilai bahwa program ini tidak sesuai dengan tujuan suatu penelitian ilmiah karena jumlah paus yang dibunuh tidak dibenarkan dalam ilmu pengetahuan dan termasuk tindakan penangkapan yang membahayakan keseimbangan

ekosistem laut

(http://www.greenpeace.org/international/en/news/Blogs/makingwaves/japanresearch- whaling-ruled-illegal-International-Court-of-Justice/blog/48725/ diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pada pukul 22.30 WIB).

4. Tinjauan Mengenai Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES)

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) atau konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies tumbuhan dan satwa liar, adalah merupakan kesepakatan internasional antar negara dengan tujuan untuk memastikan bahwa perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar tidak mengancam keberadaan hidup tumbuhan dan satwa liar. CITES menetapkan Tumbuhan dan Satwa Liar berdasarkan 3 (tiga) kategori perlakuan perlindungan dari eksploitasi perdagangan yaitu Appendix I, Appendix II, dan Appendix III (https://www.cites.org/eng/disc/text.php diakses pada tanggal 11 Desember 2015 pada pukul 1.30 WIB) :

a. Appendix I , memuat lampiran daftar dan melindungi seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang terancam dari segala bentuk perdagangan internasional secara komersial,

b. Appendix II , memuat Lampiran daftar dari spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin akan terancam punah apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan,

(32)

c. Appendix III, memuat daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang telah dilindungi di suatu negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan memberikan pilihan (option) bagi negara-negara anggota CITES bila suatu saat akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke Appendix II, bahkan mungkin ke Appendix I .

CITES merupakan sebuah jawaban atas dua buah usaha yang dilakukan secara internasional untuk mengutuk manajemen kehidupan margasatwa di antara kekuasaan negara-negara kolonial, yaitu Konvensi London tahun 1900 yang dirancang untuk memastikan konservasi dari seluruh spesies dan hewan liar di Afrika yang kegunaannya ditujukan untuk manusia, yang kedua adalah Konvensi London tahun 1933 berkenaan dengan preservasi flora dan fauna di masing-masing negaranya. Selanjutnya Konferensi Stockholm 1972 merupakan titik balik dari perkembangan pembentukan CITES.

Konferensi Stockholm juga menghasilkan terbentuknya United Nations Environment Programme (UNEP) yang kemudian mendorong pembentukan CITES Akhirnya pada pertemuan delegasi yang jumlahnya sekitar 80 negara di Washington D.C. Amerika Serikat pada tanggal 3 Maret 1973, terbentuklah CITES, dan mulai berlaku sejak 1 Juli 1975. Tujuan dan sasaran CITES sendiri adalah untuk memantau perkembangan dan memastikan bahwa perdagangan internasional satwa tidak akan mengancam satwa dari kepunahan ( CITES, 1973 : 4). Regulasi CITES ini diformulasikan pada tingkat internasional, tetapi implementasinya pada tingkat nasional.Jika diuraikan, maka didapati ada empat hal pokok yang menjadi dasar terbentuknya konvensi CITES yaitu :

a. Perlunya perlindungan jangka panjang terhadap tumbuhan dan satwa liar bagi manusia;

b. Meningkatnya nilai sumber tumbuhan dan satwa liar bagi manusia;

c. Peran dari masyarakat dan negara dalam usaha perlindungan tumbuhan dan satwa liar sangat tinggi;

d. Makin mendesaknya kebutuhan suatu kerjasama internasional untuk melindungi jenis-jenis tersebut dari over eksploitasi melalui kontrol perdagangan internasional

Gambar

Tabel 3.1 : Anggota IWC dan Status-Statusnya
Tabel 2. 2 : Jumlah Paus Pilot yang diburu di Kepulauan Faroe setiap  tahunnya
Gambar  3.1.2 : Perburuan Paus di Greenland
Tabel 3.1.3 : Isi Convention on International Trade in Endangered Species of  Wild Fauna and Flora
+3

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap permasalahan yang terjadi atas dikeluarkannya kebijakan pemerintah ini, maka penulis membatasi pembahasan hanya pada

Siswa dilibatkan secara penuh untuk melakukan (learning by doing), melalui kegiatan diskusi, penelitian sederhana, membuat simpulan, dan presentasi. Melalui proses

Berdasarkan kepatuhan menurut Milgram tersebut terlihat bahwa kepatuhan dapat didukung dengan adanya peraturan yang mengatur hal terkait, seperti halnya untuk dapat

Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan, penulis memiliki rencana untuk membuat buku saku pelajaran dengan menggunakan android secara offline atau online yang

10 Oleh karena itu, pemerintah provinsi jawa barat telah memiliki peraturan daerah provinsi yang mengatur tentang peran pemerintah daerah provinsi dan pemerintah

Moewardi Surakarta dapat memanfaatkan hasil kajian sebagai pertimbangan dalam membuat kebijakan manajerial yang mengatur sistem pemberian remunerasi atau insentif yang

Sebagai langkah awal dari pemerintah kota Semarang adalah dengan menerbitkan berbagai peraturan daerah yang digunakan untuk melindungi dan mengatur elemen masyarakat

Sementara itu, pada ayat (2) pasal yang sama disebutkan ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru Sebagaimana dimaksud akan diatur dengan peraturan