• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Asseement menjadi Self Assessment. Official Assessment System adalah dimana wajib

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Asseement menjadi Self Assessment. Official Assessment System adalah dimana wajib"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia pada tahun 1983 mengganti sistem perpajakannya dari Official Asseement menjadi Self Assessment. Official Assessment System adalah dimana wajib

pajak berperan pasif dan penetapan akan dilakukan oleh fiskus kemudian nantinya utang pajak akan timbul ketika SKP atau Surat Ketetapan Pajak dikeluarkan.

Sedangkan Self Assessment System adalah wajib pajak diberikan kepercayaan untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri jumlah pajak terutang (www.pajak.go.id). Kepercayaan yang diberikan kepada wajib pajak inilah yang memberikan peluang besar bagi wajib pajak untuk melakukan tindakan penggelapan pajak.

Tindakan penggelapan pajak tergolong sebagai tindakan kriminal dan kerap dikaitkan dengan suatu hal yang negatif. Ini terjadi karena tindakan ini dilakukan oleh wajib pajak atas dasar sadar yang mana tindakan menyalahi aturan dan dapat merugikan negara. Tetapi pada kenyataannya terdapat beberapa pandangan mengenai etika penggelapan pajak. Menurut McGee, R.W. and Tyler (2006) terdapat tiga pendangan mengenai penggelapan pajak. Pertama, penggelapan pajak dikatakan tidak pernah etis karena terkait dengan adanya kewajiban manusia terhadap Tuhan, negara dan masyarakat. Kedua, penggelapan pajak dikatakan selalu etis terkait dengan anggapan bahwa pemerintah sepatutnya tidak menerima uang dari

(2)

pembayaran pajak Ketiga, penggelapan pajak mempunyai kemungkinan etis karena adanya kebenaran, situasi dan kondisi. Maraknya penggelapan pajak yang terjadi di Indonesia menunjukan bahwa setiap orang memiliki persepsi tersendiri mengenai penggelapan pajak, perbedaan ini salah satunya terjadi karena dipengaruhi oleh psikologis seseorang.

Salah satu kasus penggelapan pajak yang terjadi di Indonesia yaitu dilakukan oleh pengurus CV SSM di Sumatera Utara. Wajib pajak tersebut divonis hukuman empat tahun penjara dan denda Rp 15 miliar terkait kasus pemalsuan SPT Tahunan dan tidak menerbitkan Faktur Pajak sesuai transaksi yang sebenarnya terhitung sejak bulan Maret 2016 hingga Desember 2017, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 39A Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (www.pajak.go.id, 2021).

Faktor pertama yang menyebabkan WP melakukan penggelapan pajak yaitu money ethics. Seseorang dengan money ethic tinggi maka akan menganggap bahwa

penggelapan pajak adalah tindakan yang wajar dan etis untuk dilakukan. Mereka yang dengan etika uang tinggi cenderung tidak akan memberikan uangnya kepada orang lain jika hal tersebut dirasa tidak memberikan keuntungan untuk dirinya sendiri, seperti membayar pajak pada negara atau bahkan sampai melakukan kecurangan karena dipengaruhi oleh etika dan perilakunya tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Ariyanto (2020) menunjukan bahwa love of money berpengaruh positif terhadap persepsi etis penggelapan pajak. Kemudian didukung oleh penelitian yang dilakukan Christin & Tambun (2018) yang

(3)

menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif antara money ethic terhadap tindakan penggelapan pajak. Artinya seseorang yang beranggapan bahwa uang adalah hal terpenting didalam hidupnya mereka akan cenderung melakukan berbagai cara untuk mendapatkan banyak uang, sehingga menganggap bahwa tindakan penggelapan pajak boleh untuk dilakukan.

Faktor yang kedua yaitu teknologi dan informasi perpajakan, penggunaan teknologi dan informasi adalah bentuk improvisasi administrasi untuk mengurangi interaksi manusia, menghasilkan data berkualitas dan dapat menguji kepatuhan wajib pajak. Bentuk layanan perpajakan yang diberikan pemerintah dalam rangka mempermudah WP dalam melakukan pelaporan dan pembayaran perpajakanya yaitu antara lain; e-registration, e-SPT, dan e-filling. Penelitian yang dilakukan Christin &

Tambun (2018) dan Yurika (2016) menyatakan bahwa variabel teknologi dan informasi perpajakan berpengaruh signifikan negatif terhadap penggelapan pajak. Hal ini berarti bahwa semakin baik kualitas teknologi dan informasi perpajakan yang disediakan pemerintah maka akan semakin sulit untuk WP melalukan tindakan penggelapan pajak.

Faktor ketiga yang mempengaruhi persepsi etis penggelapan pajak adalah religiusitas. Religiusitas akan mempengaruhi perilaku dan sikap suatu individu dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Religiusitas menerangkan tentang tingkat kedalaman, keyakinan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang dan juga bagaimana tingkat kemauan seseorang untuk melaksanakan ibadah dan bentuk pengamalan manusia terhadap agama Glock, C. Y., & Stark (1965). Teori tersebut sejalan dengan

(4)

penelitian yang dilakukan oleh Pope dan Ali (2010) yang mengatakan adanya pengaruh antara religiusitas dengan etika penggelapan pajak.

Start Up adalah organisasi yang didesain untuk menciptakan suatu model

bisnis baru dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Pertumbuhan Start Up di Indonesia dilihat sangat baik terlebih lagi industri kreatif digital yang

memang akhir-akhir ini berkembang pesat dan signifikan (Zaky et al., 2018). Kondisi seperti ini tentunya bisa menjadi sebuah kekuatan besar di masa yang akan datang juga akan memberikan efek positif bagi ekonomi Indonesia. Pemerintah juga yang sudah menyatakan akan menjadikan indonesia sebagai salah satu negara dengan kekuatan industri digital terbesar, dengan visi Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia (Muktiyo, 2019).

Peneliti melakukan penelitian mengenai money ethic, teknologi dan informasi pepajakan, dan religiusitas berpengaruh terhadap persepsi etis penggelapan pajak dengan subjek pajak Perusahaan Start Up yang berada di wilayah kota Malang. Sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh kemenparegraf bahwa Start Up terbanyak di wilayah jawa timur adalah di Kota Malang yaitu terdapat sebanyak 57 perusahaan start up yang mendaftarkan diri sebagai PKP atau Pengusaha Kena Pajak. Peneliti memilih Start Up sebagai subjek penelitian ini karena bisnis Start Up menggunakan teknologi modern yang berupa digitalisasi untuk menjalankan bisnisnya. Bisnis yang menggunakan teknologi modern dapat menjangkau pasar yang lebih luas (Kim et al, 2018). Diharapkan perusahaan Start Up mampu menghasilkan income yang lebih tinggi karena jangkauan pasar yang lebih luas tersebut.

(5)

Setelah mengkaji teori dan hasil dari penelitian terdahulu yang relevan perbedaan pada penelitian kali ini dengan penelitian Ariyanto (2020) adalah adanya penambahan variabel teknologi dan informasi perpajakan, variabel religiusitas sebagai pemoderasi dan subjek penelitian yaitu Start Up. Penambahan variabel teknologi dan informasi yaitu didasari mengenai apa yang dapat meningkatkan fungsi administrasi secara lebih baik dari pada tanpa menggunakan teknologi. Kemudian variabel religiusitas ditambahkan sebagai pemoderasi pada penelitian ini karena menurut Grasmick et al (1991) religiosity berperan sebagai pencegah yang lebih kuat dari pada perasaan takut akan sanksi hukum. Religiusitas dianggap mampu menjembatani hubungan antara variabel money ethic dan teknologi informasi perpajakan. Pada penelitian ini subjek penelitian yang digunakan adalah Start Up, dimana pada penelitian terdahulu terkait persepsi etis penggelapan pajak banyak meneliti di UMKM atau KPP, masih belum ada penelitian yang mengukur mengenai persepsi etis penggelapan pajak pada Start Up. Peneliti mengambil tiga indikator money ethic, teknologi dan informasi perpajakan, dan religiusitas yang diduga dapat

mempengaruhi persepsi etis penggelapan pajak.

Penelitian ini menarik dilakukan untuk mengetahui sejauh mana variabel Money Ethic, Teknologi dan Informasi Perpajakan dapat mempengaruhi persepsi

tentang etika penghindaran pajak dan seberapa jauh variabel religiusitas dapat memoderasi hubungan antara money ethic, teknologi dan informasi perpajakan dalam penggelapan pajak.

(6)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka peneliti merumuskan masalah yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apakah money ethic berpengaruh terhadap persepsi etis penggelapan pajak?

2. Apakah teknologi informasi berpengaruh terhadap persepsi etis penggelapan pajak?

3. Apakah religiutas berpengaruh terhadap persepsi etis penggelapan pajak?

4. Apakah religiusitas memoderasi money ethic terhadap persepsi etis penggelapan pajak?

5. Apakah religiusitas memoderasi teknologi dan informasi perpajakan terhadap persepsi etis penggelapan pajak?

C. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji:

1. Untuk menguji pengaruh money ethic terhadap persepsi etis penggelapan pajak 2. Untuk menguji pengaruh teknologi dan informasi perpajakan terhadap persepsi

etis penggelapan pajak

3. Untuk menguji pengaruh religiusitas terhadap persepsi etis penggelapan pajak 4. Untuk menguji pengaruh money ethic terhadap persepsi etis penggelapan pajak

dengan religiusitas sebagai variabel moderasi

5. Untuk menguji pengaruh teknologi dan informasi perpajakan terhadap persepsi etis penggelapan pajak dengan religiusitas sebagai variabel moderasi

(7)

D. Manfaat

1) Menambah wawasan serta pengetahuan peneliti mengenai cara yang dapat dilakukan oleh wajib pajak agar terhindar dari kasus penggelapan pajak.

2) Menambah pengalaman bagi peneliti sebagai bahan acuan membuat skripsi.

3) Sebagai tambahan wawasan bagi pembaca agar dapat terhindar dari kasus penggelapan pajak.

4) Sebagai bahan sumber informasi bagi penelitian lebih lanjut serta pembanding untuk menambah ilmu pengetahuan.

5) Sebagai bahan evaluasi oleh wajib pajak badan agar tetap menjalankan kewajiban membayar pajak.

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan yang tidak memiliki kelengkapan data bid price, ask price, high; low; open; dan close price , serta data volume saham yang diperdagangkan dan jumlah

Kepala sekolah dan guru memiliki harapan yang tinggi kepada siswa, lebih menekankan kegiatan akademis daripada aktivitas ekstrakulikuler dan memonitor seksama performa

2013.” Aktivitas Antioksidan Antosianin Beras Ketan Hitam Selama Fermentasi”.. Jurnal Teknologi dan

Gambar 8(b) menunjukkan bahwa campuran beton W/C=45% ditambah dengan silicafume 5% mempunyai masa layan bangunan yang lebih besar daripada campuran beton dengan W/ C=40%,

Industri manufaktur besar dan sedang di Kalimantan Tengah pada triwulan III tahun 2017 mengalami kenaikan, Produksi industri manufaktur besar dan sedang (q-to-q) di

Dari buku pedoman mentoring yang sudah disusun kuikulumnya, buku-buku tentang keIslaman, terkadang juga dari internet, atau bahkan dari materi yang pernah disampaikan

Dalam pelajaran ini, anda akan diperkenalkan dengan beberapa singkatan yang sudah lazim dipakai di kalangan bisnis, beberapa humor Austrralia dengan catatan latarbelakang