• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PENCATATAN CIPTAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SURAT PENCATATAN CIPTAAN"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

SURAT PENCATATAN

CIPTAAN

Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:

Nomor dan tanggal permohonan : EC00201822110, 25 Juli 2018 Pencipta

Nama : Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H, Dr. NI NYOMAN SUKERTI, S.H., M.H, , dkk

Alamat : Jl. Gunung Agung Gg I No 3 Lingkungan Sengguan Semara Pura Kangin Klungkung, KLUNGKUNG , Bali, 80716

Kewarganegaraan : Indonesia

Pemegang Hak Cipta

Nama : REKTOR UNIVERSITAS UDAYANA

Alamat : KAMPUS BUKIT JIMBARAN UNIVERSITAS UDAYANA,

BADUNG, Bali, 80361

Kewarganegaraan : Indonesia

Jenis Ciptaan : Buku

Judul Ciptaan : HUKUM ADAT LANJUTAN

Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia

: 5 Februari 2018, di DENPASAR

Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali dilakukan Pengumuman.

Nomor pencatatan : 000112684

adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.

Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL

Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS.

NIP. 196611181994031001

(2)

LAMPIRAN PENCIPTA

No Nama Alamat

1 Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H

Jl. Gunung Agung Gg I No 3 Lingkungan Sengguan Semara Pura Kangin Klungkung

2 Dr. NI NYOMAN SUKERTI,

S.H., M.H Br. Taruna Bhuana C 66, Pemogan Denpasar Selatan

3 Anak Agung Gede Oka

Parwata, S.H., M.Si Lingkungan Padang Tegal Mekar Sari Ubud

4 I Gusti Agung Mas Rwa

Jayantiari, S.H., M.Kn Br. Dinas Penyalin Samsam Kerambitan

5 I Gusti Ngurah Dharma

Laksana, S.H., M.Kn Jl Kertha Petasikan IX/6 Sidakarya

(3)

Hukum Adat

HUKUM ADAT

BUKU AJAR

L a n j u t a n

L A N J U T A N

Pustaka Ekspresi

P UJI syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/

Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas tuntunan dan anugrahnya-Nya, Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan dapat diselesaikan sesuai harapan. Pada akhirnya Buku Ajar ini dapat dihadirkan dengan lebih lengkap setelah menggabungkan bahan ajar Tahun 2008 dan block book Tahun 2012.

Perubahan dalam buku ajar ini juga mencakup format, substansi, penugasan yang disesuaikan dengan perbaruan kurikulum.Hal ini bertujuan agar Buku Ajar mata kuliah Hukum Adat Lanjutan menjadi panduan pembelajaran yang sistematis dan sangat praktis sehingga proses perkuliahan dan tutorial dapat berjalan dengan baik.

ISBN

Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H.

Dr. Ni Nyoman Sukerti, S.H., M.H.

Anak Agung Gede Oka Parwata, S.H., M.Si.

I Gusti Agung Mas Rwa Jayantiari, S.H., M.Kn.

I Gusti Ngurah Dharma Laksana, S.H., M.Kn.

Huk um Adat lanjutan 2018

(4)

BUKU AJAR

HUKUM ADAT LANJUTAN

KODE MATA KULIAH : BII4227

TIM PENYUSUN:

Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H.

Dr. Ni Nyoman Sukerti, S.H., M.H.

Anak Aung Gede Oka Parwata, S.H., M.Si.

I Gusti Agung Mas Rwa Jayantiari, S.H., M.Kn.

I Gusti Ngurah Dharma Laksana, S.H., M.Kn.

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2018

Pustaka Ekspresi

(5)

BUKU AJAR

HUKUM ADAT LANJUTAN

@ Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H.

Penerbit: Pustaka Ekspresi

Jl. Diwang Dangin No. 54 Br. Lodalang Desa Kukuh, Marga, Tabanan, Bali Telp. (0361) 7849103

Email: [email protected] Sampul : Gede Suarbawa

Tata Letak : Gede Suarbawa Cetakan Pertama : Mei 2018 ISBN: 978-602-5408-36-9

(6)

Kata Pengantar

(7)

PRAKATA

UJI syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/

Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas tuntunan dan anugrahnya-Nya, Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan dapat diselesaikan sesuai harapan. Pada akhirnya Buku Ajar ini dapat dihadirkan dengan lebih lengkap setelah menggabungkan bahan ajar Tahun 2008 dan block book Tahun 2012. Perubahan dalam buku ajar ini juga mencakup format, substansi, penugasan yang disesuaikan dengan perbaruan kurikulum.Hal ini bertujuan agar Buku Ajar mata kuliah Hukum Adat Lanjutan menjadi panduan pembelajaran yang sistematis dan sangat praktis sehingga proses perkuliahan dan tutorial dapat berjalan dengan baik.

Edisi revisi ini memuat substansi yang lebih terstruktur mencakup identitas mata kuliah, capaian pembelajaran, hingga tugas dan evaluasi yang diatur tiap pertemuan secara rinci. Harapannya Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan edisi revisi dapat memberi pemahaman dan meningkatkan kompetensi dalam mendalami hukum adat.

Dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati kami ucapakan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana dan para Wakil Dekan yang telah senantiasa memberi dukungan atas proses pembelajaran sehingga bukuajar ini dapat diselesaikan

2. Semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaianrevisi buku ajar ini

(8)

Sangat disadari bahwa buku ajar yang kami hasilkan ini sangat jauh dari sempurna sehingga memerlukan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikannya di waktu mendatang. Namun demikian, semoga buku ajar ini memberi arti dan manfaat bagi kita semua.

Denpasar, 5 September 2017 Penyusun

(9)

D A F T A R I S I

KATA PENGANTAR ... iii

PRAKATA ... iv

DAFTAR ISI ... vi

IDENTITAS MATA KULIAH ... 1

DESKRIPSI SUBSTANSI PERKULIAHAN ... 1

CAPAIAN PEMBELAJARAN ... 2

MANFAAT MATA KULIAH ... 2

PERSYARATAN MENGIKUTI MATA KULIAH ... 3

ORGANISASI MATERI PERKULIAHAN ... 3

METODE, STRATEGI DAN PELAKSANAAN PROSES PERKULIAHAN ... 4

TUGAS-TUGAS ... 6

UJIAN DAN PENILAIAN ... 6

BAHAN PUSTAKA ... 7

JADWAL PERKULIAHAN ... 10

PERTEMUAN I : PERKULIAHAN 1 KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT ... 13

1. Pengertian Kesatuan Masyarakat Hukum Adat ... 13

2. Faktor-Faktor Pembentuk Kesatuan Masyarakat Hukum Adat ... 16

3. Struktur Pemerintahan Dalam Kesatuan Masyarakat Hukum Adat ... 19

4. Bahan Bacaan ... 22

PERTEMUAN II : TUTORIAL 1 KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT... 23

1. Tugas : Problem Task ... 23

2. Bahan Bacaan ... 24

(10)

PERTEMUAN III :

PERKULIAHAN 2 HUKUM TANAH ADAT ... 25

1. Tanah Adat Sebagai Hak Ulayat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat ... 25

2. Fungsi Tanah Bagi Masyarakat Hukum Adat ... 25

3. HAK ULAYAT... 27

4. Kedudukan Tanah Adat Dalam Peraturan Perundang-Undangan ... 31

4. Bahan Bacaan ... 34

PERTEMUAN IV : TUTORIAL 2 HUKUM TANAH ADAT ... 33

1. Pendahuluan ... 35

2. Tugas : Problem Task ... 35

3. Bahan Bacaan ... 36

PERTEMUAN V : PERKULIAHAN 3 HUKUM ADAT KEKELUARGAAN ... 37

1. Pengertian Hukum Adat Kekeluargaan ... 37

2. Sistem Kekeluargaan Di Indonesia ... 38

3. Keturunan Dan Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat Pada Umumnya ... 41

4. Hubungan Hukum Dalam Hukum Kekeluargaan... 47

5. Bahan Bacaan ... 52

PERTEMUAN VI : TUTORIAL 3 HUKUM ADAT KEKELUARGAAN ... 53

1. Pendahuluan ... 53

2. Tugas : Problem Task... 53

3. Bahan Bacaan ... 54

(11)

PERTEMUAN VII : UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) .... 55

PERTEMUAN VIII : PERKULIAHAN 4 HUKUM ADAT PERKAWINAN ... 55

1. Pengertian Hukum Perkawinan Di Indonesia ... 55

2. Sejarah Hukum Perkawinan Indonesia ... 57

3. Sistem Perkawinan... 59

4. Bentuk-Bentuk Perkawinan Dalam Hukum Adat ... 59

5. Syarat-Syarat dan Prosedur Pengesahan Perkawinan... 63

6. Tata Cara Perkawinan Dalam Hukum Adat ... 65

7. Larangan-Laragngan Perkawinan... 66

8. Harta Benda Perkawinan ... 67

9. Perceraian Dan Akibat Hukumnya Dalam Hukum Adat... 69

10. Bahan Bacaan ... 73

PERTEMUAN IX : TUTORIAL 4 HUKUM ADAT PERKAWINAN ... 74

1. Tugas : Problem Task ... 74

2. Bahan Bacaan ... 74

PERTEMUAN X : PERKULIAHAN 5 HUKUM ADAT PEWARISAN ... 76

1. Pengertian Dan Unsur-Unsur Pewarisan ... 76

2. Prinsip-Prinsip Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris... 89

3. Sifat Hukum adat Waris... 89

4. Sistem Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris ... 91

5. Syarat-Syarat Dan Proses Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris ... 93

6. Bahan Bacaan ... 99

(12)

PERTEMUAN XI : TUTORIAL/DISKUSI TENTANG HUKUM

ADAT PEWARISAN... 100

1. Pendahuluan ... 100

2. Tugas : Problem Task ... 100

3. Bahan Bacaan ... 102

PERTEMUAN XII : PERKULIAHAN 6 HUKUM ADAT PELANGGARAN ... 103

1. Pengertian Dan Sifat-Sifat Pelanggaran Adat ... 103

2. Jenis-Jenis Pelanggaran Adat ... 111

3. Reaksi Dan Koreksi Adat ... 112

4. Pelanggaran Adat Dalam Praktek Peradilan ... 116

5. Bahan Bacaan ... 122

PERTEMUAN XIII : TUTORIAL 6 HUKUM ADAT PELANGGARAN ... 123

1. Tugas : Problem Task ... 123

4. Bahan Bacaan ... 124

PERTEMUAN VII : UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) LAMPIRAN : 1. SILABUS ... 125

LAMPIRAN II : RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)... 131

LAMPIRAN III : KONTRAK KULIAH KONTRAK PERKULIAHAN... 137

(13)

BUKU AJAR

HUKUM ADAT LANJUTAN

I. IDENTITAS MATA KULIAH

Nama Mata Kuliah : Hukum Adat Lanjutan Kode Mata kuliah : BII4227

SKS : Lulus Hukum Adat

Prasyarat : - Semester : IV

Status Mata Kuliah : Wajib Fakultas II. DESKRIPSI SUBSTANSI PERKULIAHAN

Mata kuliah hukum adat lanjutan merupakan mata kuliah lanjutan dari mata kuliah hukum adat secara umum.

Mata kuliah hukum adat lanjutan membahas tentang hukum adat yang berlaku dalam tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beragam, tumbuh dan berlaku bagi Kasatuan Masyarakat Hukum Adat. Hal ini mengingat kondisi kebangsaaan Indonesia yang berbhineka baik dilihat dari suku, bahasa, agama maupun budayanya. Kesatuan Masyarakat Hukum Adat selain tunduk pada hukum adat juga tunduk pada hukum negara sebagai warganegara dari Negara Republik Indonesia. Mata Kuliah Hukum adat lanjutan akan membahas mengenai bidang-bidang hukum dalam kehidupakan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat yang selanjutnya akan dibahas dalam pokok bahasan dan sub pokok bahasan seperti tatanan masyarakat adat yang meliputi: pemerintahan adat dan struktur organisasi, hukum tentang tanah adat, hukum adat tentang keluarga, hukum adat tentang perkawinan, hukum adat tentang pewarisan, hukum adat tentang pelanggaran. Selain mengetahui dan

(14)

memahami prinsip-prinsip dalam hukum adat perlu juga mengkaitkan dengan dinamika jaman (era globalisasi).

III. CAPAIAN PEMBELAJARAN

Pembelajaran Mata kuliah Hukum Adat Lanjutan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiwa tentang berbagai memahami hukum adat secara dengan topik pembahasan yang mendalam yang kemudian mampu menganalisis kasus kasus berkaitan dengan materi dalam lingkaran hukum adat yang meliputi tatanan masayarakat adat yang meliputi:

pemerintahan adat dan struktur organisasi, hukum adat tentang keluarga, hukum adat tentang perkawinan, hukum adat tentang pewarisan hukum adat tentang pelanggaran.

Selain mengetahui dan memahami prinsip-prinsip dalam hukum adat perlu juga mengkaitkan dengan dinamika jaman (era globalisasi).

IV. MANFAAT MATA KULIAH

Mata kuliah hukum adat lanjutan mempunyai manfaat praktis maupun teoritis bagi mahasiswa. Manfaat teoritis, bahwa materi kuliah banyak mengandung isu- isu dan topik menarik untuk diangkat menjadi penelitian untuk penulisan skripsi ataupun artikel jurnal yang berkait dengan materi hukum adat. Selain itu pendalaman belajar hukum adat sebagai hukum yang tumbuh ditengah tengah masyarakat yang secara praktis memiliki peran yang sangat besat saat terjun di tengah tengah masyarakat. Hal ini bisa diaplikasikankelak oleh mahasiswa setelah lulus dan memilih profesi bidang keahlian hukum baik sebagai hakim, jaksa, pengusaha, pendidik.

(15)

V. PERSYARATAN MENGIKUTI MATA KULIAH

Untuk menempuh mata kuliah hukum adat lanjutan harus telah menempuh mata kuliah hukum adat.

VI. ORGANISASI MATERI PERKULIAHAN

1. KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

a. Pengertian Kesatuan Masyarakat Hukum Adat

b. Faktor-Faktor Pembentuk Kesatuan Masyarakat Hukum Adat

c. Struktur Pemerintahan Dalam Kesatuan Masyarakat Hukum Adat

2. HUKUM TANAH ADAT

a. Tanah Adat sebagai Hak Ulayat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat

b. Fungsi Tanah Bagi Masyarakat Hukum Adat

c. Kedudukan Tanah Adat Dalam Peraturan Perundang-Undangan

3. HUKUM ADAT KEKELUARGAAN

a. Pengertian Hukum Adat Kekeluargaan b. Sistem Kekeluargaan Di Indonesia

c. Keturunan Dan Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat Pada Umumnya

d. Hubungan Hukum Dalam Hukum Kekeluargaan

4. HUKUM ADAT PERKAWINAN

a. Pengertian Dan Sejarah Hukum Perkawinan di Indonesia

b. Bentuk-Bentuk Perkawinan Dalam Hukum Adat

(16)

c. Tata Cara Perkawinan Dalam Hukum Adat d. Harta Benda Perkawinan Dalam Hukum

Adat

e. Perceraian Dan Akibat Hukumnya Dalam Hukum Adat

5. HUKUM ADAT PEWARISAN

a. Pengertian Dan Unsur Unsur Pewarisan b. Prinsip-Prinsip Pewarisan Dalam Hukum Adat

Waris

c. Sistem Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris

d. Syarat-Syarat Dan Proses Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris

6. HUKUM ADAT PELANGGARAN

a. Pengertian Dan Sifat-Sifat Pelanggaran Adat b. Jenis-Jenis Pelanggaran Adat

c. Reaksi Dan Koreksi Adat

d. Pelanggaran Adat Dalam Praktek Peradilan

VII. METODE, STRATEGI, DAN PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN

Dalam pemberlajaran pada mata kuliah hukum adat lanjutan akan diatur dengan Problem Based Learning (PBL) yang pusat pembelajarannya ada pada mahasiswa. Metoda ini diterapkan dengan cara belajar (learning) dan bukan mengajar (teaching). Strategi Pembelajaran adalah dengan cara mengkombinasikan antara perkuliahan,diskusi dan tutorial dengan prosentase 50 % (6 kali pertemuan atau perkuliahan) dan 50 % (6 kali pertemuan dengan tutorial dan diskusi), 1 (satu) kali untuk Test Tengah Semester (UTS) dan

(17)

1(satu) kali untuk Ujian Akhir Semester (UAS), sehingga total pertemuan untuk bobot 2 SKS adalah 14 (empat belas) kali.

Pelaksanaan Perkuliahan dan Tutorial yaitu

Untuk pelaksanaan perkuliahan dari mata kuliah hukum adat lanjutan ini direncanakan berlangsung 6 (enam) kali pertemuan untuk kuliah yaitu pertemuan ke : 1,3,5,8,10,12 Sedangkan untuk pertemuan tutorial dan diskusi juga 6 (enam) kali yaitu pada pertemuan ke : 2,4,6,9,11,13 Sementara itu evaluasi berlangsung pada pertemuan ke 7 dan 14. Dalam perkuliahan hukum adat lanjutan ini akan dibahas pokok-pokok materi bahasan yang akan disajikan dengan menggunakan alat bantu seperti : papan tulis, power point serta menyiapkan bahan-bahan bacaan tertentu dan apabila dipandang sulit untuk menemukan bahan-bahan bacaan tersebut maka perlu disiapkan seperti : Buku Ajar dan Block Book dari materi mata kuliah yang bersangkutan. Sebelum perkuliahan dimulai mahasiswa wajib mempersiapkan diri (self study) dengan cara mencari bahan (materi) serta memahami materi dari masing-masing pokok bahasan yang akan dikuliahkan ataupun yang akan didiskusikan sesuai dengan apa yang telah diarahkan (guidance) dalam buku ajar.Teknik Perkuliahan yang digunakan yaitu dalam bentuk : pemaparan materi, tanya jawab dan diskusi (model proses pembelajaran dua arah). Pelaksanaan tutorial dilakukan melalui strategi sebagai berikut :

1. Mahasiswa mengerjakan tugas-tugas (PR) berupa Discussion Task, Study Task dan Problem Task sebagai bagian dari self study, kemudian berdiskusi di kelas dengan cara presentasi dengan menggunakan pawer point.

(18)

2. Dalam 6 (enam) kali pertemuan tutorial di kelas, mahasiswa diwajibkan :

a. Menyerahkan karya tulis berupa paper atau tugas lainnya sesuai dengan topik yang akan di bahas.

b. Mempresentasikan paper atau tugas yang telah diberikan dengan menggunakan fasilitas yang tersedia.

c. Memposisikan diri dalam peran masing-masing dalam diskusi apakah sebagai pemandu, notulis atau anggota atau peserta.

VIII. TUGAS-TUGAS

Rangkaian tugas sebagai instrument penilaian diatur dengan mewajibkan mahasiswa untuk mengerjakan tugas sesuai buku ajar ataupun variasi bahan saat perkuliahan yang kemudian dibahas saat tutorial.Tugas individu ataupun tugas kelompok menjadi bahan penilaian, bisa melalui paper test, dapat pula mahasiswa yang presentasi.

IX. UJIAN DAN PENILAIAN

Ujian akan dilaksanakan 2(dua) kali dalam satu semester dalam bentuk tertulis baik pada Ujian Tengah Semester (UTS) maupun pada Ujian Akhir Semester (UAS).

Penilaian akhir (Nilai Akhir = NA) akan disesuaikan dengan rumus yang telah tercantum dalam Buku Pedoman Fakultas Hukum Universitas Udayana.

(19)

(TT +TTS) + 2 X UAS –––––––––––

NA = ––––––––––––––––––––––––––––––– 2 3

Nilai Range

A 80 – 100

B+ 70 – 79

B 65 – 69

C+ 60 – 64

C 55 – 59

D+ 50 – 59

D 40 – 49

Komponen Penunjang Penilaian :

Absensi, Kedisiplinan ,Kepribadian (sikap dan prilaku).

X. BAHAN PUSTAKA

1. Abdurrahman, 1985, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Akademika Pressindo, Jakarta.

2. AB Wiranata I Gede; 2005, Hukum Adat

Indonesia, Perkembangannya dari Nusa ke Nusa, Citra Aditya Bakti, Bandung.

3. Bushar Muhammad, 1983, Pokok-Pokok Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta.

4. Chidir Ali, 1979, Hukum Adat Minangkabau Dalam Yurisprudensi Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta.

5. Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, 1987, Azas- Azas Hukum Perkawinan di Indonesia, Bina

(20)

Aksara, Jakarta.

6. Djamanat Samosir, 2013, Hukum Adat Indonesia Eksistensi dalam Dinamika Perkembangan Hukum di Indonesia, Nuansa Aulia, Bandung.

7. Djaren Saragih, 1980, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Tarsito, Bandung.

8. Hilman Hadikusuma, 1979, Hukum Perkawinan Adat , Alumni, Bandung.

9. ---, 1979, Hukum Waris Adat, Alumni, Bandung.

10. ---, 1979, Hukum Ketatanegaraan Adat , Alumni, Bandung.

11. ---, 1979, Hukum Pidana Adat, Alumni, Bandung.

12. Hazairin, 1987, Hukum Kekeluargaan Nasional, Pradnya Paramita, Jakarta.

13. Koesnoe Moch.1979, Catatan-Catatan Terhadap Hukum Adat Dewasa ini, Airlangga Universitas Press, Surabaya.

14. Ridwan Syahrani, 1987, Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, PT. Media Sarana Press, Jakarta.

15. Soepomo R. 1976, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta.

16. Soerjono Soekanto dan Soleman B Taneko, 1981, Hukum Adat Indonesia, CV Rajawali, Jakarta.

17. Soerojo Wignyodipuro, 1973, Pengantar dan asas- asas Hukum Adat, Alumni, Bandung.

18. Sagung Ngurah, dkk, 2008, Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan, Bagian Hukum dan Masyarakat, Fak.Hukum, Universitas Udayana.

(21)

19. Wantjik Saleh,K, 1976, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta.

20. Wiryono Prodjodikoro, 1981, Hukum Waris di Indonesia, Sumur, Bandung.

21. ---, 1981, Hukum Perkawinan di Indonesia, Sumur, Bandung.

22. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

23. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

24. Undang-Undang No.23 Tahun 2004 tentang KDRT.

25. Undang-Undang No.7 Tahun 1984 tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan.

26. Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Undang- Undang Tentang Perlindungan anak.

27. Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1975, PP No.10 tahun 1983, PP No. 45 Tahun 1990.

28. Undang-Undang No.5 tahun 1960 tentang UUPA.

29. Kitab Undang - Undang Hukum Pidana (KUHP).

(22)

8 XI. JADWAL PERKULIAHAN

Jadwal perkuliahan secara rinci sebagai berikut:

NO PERTEMUAN TOPIK KEGIATAN

1 I

Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (Pengertian, Faktor Pembentuk dan Struktur) Dalam Masyarakat HUkum Adat

Perkuliahan 1

2 II

Pndahuluan Tugas Penutup

Tutorial 1

3 III

HUkum tanah adat a.

anah Adat sebagai Hak Ulayat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat

b.

ungsi Tanah Bagi Masyarakat Hukum Adat

c. Kedudukan Tanah Adat Dalam Peraturan Perundang-Undangan

Kuliah 2

4 IV

Pendahluan Tugas Penutup

Tutorial 2

5 V

Hukum Adat Kekeluargaan a. Uraian hukum keluarga

Pengertian Hukum Adat Kekeluargaan

(23)

9 b. Sistem Kekeluargaan di Indonesia

c. Keturunan dan Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat Pada Umumnya

d. Hubungan Hukum Dalam Hukum Kekeluargaan

6 VI

Pendahluan Tugas

Penutup

Tutorial 3

7 VII UTS Terstruktur

8 VIII

Hukum Adat perkawinan

a. Uraian perkawinan Pengertian Dan Sejarah Hukum Perkawinan di Indonesia

b. Bentuk-Bentuk Perkawinan Dalam Hukum Adat

c. Tata Cara Perkawinan Dalam Hukum Adat

d. Harta Benda Perkawinan Dalam Hukum Adat

e. Perceraian dan Akibat Hukumnya Dalam Hukum Adat

Perkuliahan 4

9 IX

Pendahuluan Tugas Penutup

Tutorial 4

10 X Hukum adat Pewarisan

a. Pengertian dan Unsur Unsur

Kuliah 5

(24)

10 Pewarisan

b. Prinsip-Prinsip Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris

c. Sistem Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris

d. Syarat-Syarat Dan Proses Pewarisan Dalam Hukum Adat Waris

11 XI

Pendahukuan Tugas : Kasus

Kasus Dalam hukum waris adat Penutup

Tutorial 5

12 XII

Hukum adat Pelanggaran a. Pengertian Dan Sifat-Sifat

Pelanggaran Adat

b. Jenis-Jenis Pelanggaran Adat c. Reaksi Dan Koreksi Adat d. Pelanggaran Adat Dalam Praktek

Peradilan

Kuliah 6

13 XIII Pembahasan Reaksi dan koreksi adat Tutorial 6

14 XIV UAS Terstruktur

(25)

PERTEMUAN I : KULIAH 1 :KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

1. PENGERTIAN KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT Istilah masyarakat hukum adat sering juga disebut dengan persekutuan hukum adat yang pada hakekatnya merupakan terjemahan dari “rechtsgemeenchap”. Ma sya- rakat Indonesia yang terdiri dari berbagai corak dan struktur kemasyarakatannya beraneka ragam dan sebagian terbesar penduduknya bermukim di pedesaan. Salah satu bentuk dari masyarakat hukum adat tersebut contohnya di Bali, dahulu disebut “Desa Adat” tetapi saat ini sudah diubah dengan sebutan “Desa Pakraman”.

Seperti diungkapkan oleh Van Vollenhoven yang dikutip dari bukunya Soepomo : Bab-Bab Tentang Hukum Adat menyatakan bahwa untuk mengetahui hukum, maka adalah terutama perlu diselidiki buat waktu apabilapun dan di daerah manapun, sifat dan susunan badan-badan persekutuan hukum dimana orang-orang yang dikuasai oleh hukum itu hidup sehari-hari.1

Badan-badan persekutuan atau masyarakat hukum yang dimaksud diatas bukanlah didasarkan pada sesuatu yang bersifat dogmatik tetapi haruslah pada kehidupan yang nyata dari masyarakat hukum yang bersangkutan, dengan demikian akan dapat diketahui apakah telah ada perubahan ataukah masih ada dan terus hidup.?. Jadi untuk mempelajari dan mengetahui hukum dalam suatu masyarakat, haruslah mempelajari pula badan-badan yang ada dalam masyarakat hukum tersebut. Itu berarti bahwa

1 Soepomo R. 1976, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta, hal.49.

(26)

untuk mempelajari Hukum Adat Lanjutan, perlu dan harus pula mempelajari badan-badan yang ada dalam masyarakat hukum adat di Indonesia. Dengan demikian, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian dari masyarakat hukum adat pada umumnya.

Menurut Ter Haar dalam bukunya Beginseelen en stelsel van het adatrecht Tahun 1939, yang dikutip oleh Soepomo : bahwa di seluruh kepulauan Indonesia pada tingkatan rakyat jelata, terdapat pergaulan hidup di dalam golongan-golongan yang bertingkah laku sebaga kesatuan terhadap dunia luar, lahir dan bhatin. Golongan-golongan itu mempunyai tata susunan yang tetap dan kekal dan orang-orang segolongan itu masing-masing mengalami kehidupannya dalam golongan sebagi hal yang sewajarnya, hal menurut kodrat alam. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mempunyai pikiran akan kemungkinan pembubaran golongan itu. Golongan manusia tersebut mempunyai pengurus sendiri, dan mempunyai harta benda milik keduniaan dan milik gaib. Golongan-golongan demikianlah yang bersifat persekutuan hukum.2

Secara singkat dapat dikatakan bahwa masyarakat hukum itu sebagai kelompok-kelompok teratur yang sifatnya ajeg dengan pemerintahan sendiri yang sifatnya materiil maupun immatriil, berada dalam suatu pergaulan hidup yang sama dengan kontinuitas hubungan dengan pola berulang tetap.

Berdasarkan pengertian persekutuan atau masya- rakat hukum seperti tersebut diatas maka dapatlah ditarik be berapa unsur, agar sesuatu kelompok itu disebut dengan masyarakat hukum atau persekutuan hukum antara lain :

2 Ibid, hal.50.

(27)

a) Terdiri dari orang-orang sebagai suatu kelompok/

kesatuan terhadap dunia luar, lahir dan bathin.

b) Kelompok tersebut mempunyai tata susunan yang tetap dan kekal.

c) Adanya kekuasaan sediri sebagai kelompok yang otonom dan mempunyai pengurus sendiri.

d) Mem punyai harta kekayaan baik milik ke du ni- a wian dan milik gaib (matriil dan spirituil) yang terpisah antara harta kekayaan milik kelompok dengan harta kekayaan anggota.

e) Tidak ada seorangpun dari anggota kelompok yang mempunyai keinginan untuk melepaskan diri dari kelompoknya atau ingin membubarkan ke lompoknya.

Ber dasarkan unsur-unsur di atas sebetulnya be- lum lah dapat dinyatakan suatu kelompok itu sebagai suatu per sekutuan hukum atau masyarakat hukum karena perlu ada faktor lain sebagai penentunya untuk membedakannya dengan kelompok-kelompok lain seperti kelompok-kelompok sosial biasa. Adapun faktor-faktor penentu itu adalah faktor teritorial dan faktor genealogis. Sehubungan dengan hal ini Soekanto dalam bukunya, Meninjau Hukum Adat di Indonesia menyebutkan bahwa desa di Bali adalah persekutuan teritorial, dimana warganya bersama-sama mempunyai kewajiban dan kemampuan untuk membersihkan wilayah desa bagi keperluan-keperluan yang berhubungan dengan agama. Ini berarti bahwa desa-desa di Bali disamping memiliki unsur-unsur pembentuk (constituent element), juga memiliki unsur yang bersifat magis religius. Unsur pembentuk itu tampak pada adanya wilayah kekuasaan, warga, pemerintahan yang berwibawa dan harta kekayaan

(28)

baik materiil maupun immateriil. Sedang unsur yang bersifat religio magis tampak dari keberadaan desa yang menjadi tempat persembahyangan bersama bagi warga desa secara keseluruhan dan pelaksanaan ritual-ritual lain berkenaan dengan kesejahteraan warganya.3

Sesuai dengan uraian diatas maka jelaslah bahwa

“Nagari di Minangkabau atau desa adat di Bali” merupakan suatu masyarakat hukum adat yang mempunyai bentuk dan corak tersendiri yang berbeda dengan desa-desa yang ada di Jawa dan Madura atau desa-desa lainnya di Indonesia.

2. FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

Agar suatu kriteria jelas dapat menunjukkan unsur- unsur dari suatu asyarakat hukum dapat membedakannya dengan kelompok-kelompok sosial yang lain yang bukan merupakan masyarakat hukum adat, perlu dicarikan kretiria lain sebagai identifikasi diluar unsur-unsur yang telah disebutkan diatas yang akan mewujudkan kelompok tersebut sebagai persekutuan hukum atau masyarakat hukum adat.

Sebagai kriteria tambahan yang akan dapat membedakannya dengan kelompok sosial yang lain yaitu berupa faktor-faktor pembentuknya yaitu :

1. Faktor Teritorial, apabila dilihat dari dasar teritorial semata sebagai dasar pembentukan suatu masyarakat hukum adat, yaitu adanya kesamaan wilayah atau tempat tinggal maka kelompok tersebut telah dapat diartikan sebagai suatu masyarakat hukum. Karena

3 Soerjono Soekanto, dan Soleman B Taneko, 1981, Hukum Adat Indonesia, CV Rajawali, Jakarta, hal.73.

(29)

contoh dan jumlah masyarakat seperti itu banyak ada di indonesia antara lain di jawa dan bali (desa adat seperti yang dikemukakan oleh Soekanto, seperti tersebut diatas).

2. Faktor Genealogis, yaitu karena adanya hubungan darah. Artinya bahwa kelompok dalam masyarakat hukum itu terbentuk karena anggotanya berasal dari adanya hubungan darah antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.

Ter Haar menyatakan faktor genealogis semata tidaklah dapat mewujudkan kelompok tersebut sebagai persekutuan hukum. Karena tindakan keluar dari kelompok- kelompok tersebut hanyalah dalam hal-hal tertentu saja yaitu yang berkaitan dengan pemujaan leluhur. Atau kalau toh mereka dianggap persekutuan hukum maka itu hanyalah merupakan persekutuan hukum yang sangat terbelakang dalam pelaksanaan fungsi sosialnya.4

Disamping kedua faktor sebagai pembentuk dari suatu masyarakat hukum adat terjadi pula campuran dari keduanya yaitu faktor teritorial genealogis atau genealogis teritorial yang bentuknya bermacam-macam.5

Uraian di atas nampak bahwa masyarakat hukum adat terbentuk lebih banyak didasarkan atas faktor teritorial.

Hal ini karena ada kaitannya dengan sifat hubungan hukum yang tampak dalam kelompok-kelompok tersebut, seperti sifat “Patembayan” lebih menonjol dalam masyarakat hukum adat yang didasari oleh faktor teritorial sedangkan sifat “paguyuban” lebih mendasari masyarakat hukum yang

4 Ter Haar, 1976, Pengantar dan Azas-azas Hukum Adat (diterjemahkan oleh Soebakti Poesponoto), Pradnya Paramita, Jakarta, hal.29.

5 Soepomo R. Op.Cit, hal.49.

(30)

bersifat genealogis.6

Soepomo dalam bukunya Bab-Bab Tentang Hukum Adat juga menyebutkan bahwa masyarakat hukum adat terbentuk karena faktor genealogis, maksudnya adalah karena orang-orang tersebut termasuk dalam suatu keturunan yang sama yaitu :

a. Garis keturunan menurut garis bapak (Patrilinial) seperti orang-orang Batak, Nias, Sumba dan Bali.

b. Pertalian darah menurut garis ibu (Matrilinial) seperti : famili di Minangkabau

c. Pertalian darah menurut garis ibu dan bapak (tata susunan parentil) seperti orang-orang Jawa, Sunda, Aceh dan Kalimantan.

Sedangkan persekutuan hukum atau masyarakat hukum yang terbentuk atas dasar faktor teritorial atau berdasar lingkungan daerah dapat dibagi dalam tiga jenis pula yaitu :

a. Persekutuan desa (dorp).

b. Persekutuan daerah (streek).

c. Persekutuan dari beberapa desa.

Terhadap persekutuan hukum atau masyarakat hukum teritorial ini orang dapat untuk sementara waktu meninggalkan tempat tinggalnya tanpa kehilangan keanggotaannya dari golongan tersebut. Orang yang dari luar yang masuk ke daerah persekutuan tersebut tidak dengan sendirinya menjadi teman segolongan. Ia harus diterima sebagai teman segolongan menurut hukum adat.7 Arti dari penjelasan di atas bahwa pendatang akan mempunyai hak

6 Djojodigoeno, 1964, Azas-azas Hukum Adat, Yayasan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta, hal.5.

7 Soepomo R, Op.Cit, hal.51-52.

(31)

dan kewajiban yang berbeda dengan penduduk yang sejak awal nenek moyangnya sudah bertempat tinggal di dalam daerah persekutuan tersebut, oleh karenanyalah mereka pada umumnya mempunyai kedudukan lebih penting daripada penduduk pendatang.

Bahan diskusi :

Diskusikan dalam kelompok apakah faktor-faktor pembentuk maupun unsur-unsur dari masyarakat hukum adat pada umumnya dan berikan contoh-contoh dan dimana itu ada ? 3. STRUKTUR PEMERINTAHAN DALAM KESATUAN

MASYARAKAT HUKUM ADAT

Untuk dapat memahami struktur pemerintahan maupun struktur organisasi dalam masyarakat hukum adat maka perlulah terlebih dahulu memahami struktur masyarakat hukum pada umumnya. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa ada dua faktor pengikat yang membentuk tumbuhnya suatu suatu masyarakat hukum yaitu faktor genealogis yaitu masyarakat hukum yang anggota- anggotanya merasa terikat karena berasal dari nenek moyang yang sama, masyarakat hukum teritorial yaitu masyarakat hukum terbentuk karena anggota-anggotanya merasa dilahirkan dan menjalani kehidupan bersama di tempat yang sama, dan tipe yang ketiga merupakan gabungan antara faktor genealogis dan teritorial sehingga masyarakat hukum tersebut terbentuk karena anggota-anggotanya merasa terikat atu sama lain dari kedua faktor tersebut.

Masyarakat hukum yang terbentuk karena faktor teritorial, dalam kepustakaan hukum adat dapat dibedakan lagi kedalam (3) tiga jenis antara lain :

(32)

a) Persekutuan desa yaitu segolongan orang yang terikat pada suatu tempat kediaman yang sama meliputi perkampungan-perkampungan yang jauh dari pusat pemerintahan dimana pejabat- pejabat desa bertempat tinggal. Contohnya : Banjar di Bali.

b) Persekutuan daerah yaitu kesatuan dari beberapa tempat kediaman yang masing-masing tempat kediaman itu mempunyai pimpinannya sendiri- sendiri, sejenis dan sederajat. Tetapi tempat kediaman tadi merupakan bagian dari satu kesatuan yang lebih besar yang mempunyai hak ulayat atas tanah-tanah yang ada dalam persekutuan hukum tersebut. Contohnya : desa pakraman di Bali.

c) Perserikatan dari beberapa desa yaitu gabungan dari beberapa persekutuan desa yang letaknya saling berdekatan satu sama lain, mengadakan permufakatan untuk saling bekerja sama memelihara kepentingan-kepentingan yang sama atau tujuan yang sama. Contohnya di Bali : kerja sama dibidang pengairan subak, atau kegiatan lain disebut dengan sekaa-sekaa antara lain sekaa manyi (menunai padi), sekaa gong, sekaa semal (tupai kelapa).

Indonesia yang merupakan negara kepulauan sejak 17 Agustus 1945 adalah negara yang merdeka dan berdaulat.

Sebagai negara kesatuan yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut dapat ditarik kesimpulan akan pengakuan secara

(33)

konstitusionil adanya hukum yang tidak tertulis. Dengan demikian dari kesimpulan tersebut dapat diketahui hak hidup dan terpeliharanya aturan-aturan hukum adat di Indonesia baik secara kenyataan maupun secara yuridisnya mendapat tempat yang wajar.

Pengakuan terhadap hukum yang tidak tertulis seharusnya diterima dan diakui mengingat masyarakat adalah dalam proses kehidupan dan perkembangannya, dan aturan- aturan hidup yang ada diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan hidup dari masyarakat yang bersangkutan maka bentuk aturan-aturan yang tertulis tidak cukup mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan kepentingan masyarakat yang terus berkembang.

Menurut Koesnoe, secara tradisional masyarakat hukum adat mempunyai fungsi-fungsi yang dapat dibedakan antara lain :

a) Fungsi pemerintahan yaitu sebagai fungsi untuk mempertahankan tertib adat dan kesejahteraan warganya.

b) Fungsi pemeliharaan roh yaitu sebagai fungsi untuk menjaga masyarakat dan warganya dalam hubungannya dengan alam gaib.

c) Fungsi pemeliharaan agama yaitu sebagai fungsi untuk merealisir apa yang ditetapkan oleh agama.

d) Fungsi pembinaan hukum adat yaitu sebagai fungsi untuk menampung segala tuntutan perkembangan hukum adat.8

Sedangkan Soepomo mencoba melihat fungsi-fungsi masyarakat hukum adat itu dari aktifitas-aktifitas kepala

8 Koesnoe Moch.1971, Hukum Adat Tata Negara, Puslit UNAIR, Surabaya, hal.24-25.

(34)

rakyat (kepala adat) dalam rangka menjaga tertib masyarakat hukum adat. Adapun aktifitas-aktifitas tersebut dapat dibedakan kedalam tiga kelompok yaitu :

a) Tindakan-tindakan mengenai urusan tanah berhubung dengan adanya pertalian yang erat antara tanah dengan masyarakat hukum adat.

b) Penyelenggaraan hukum sebagai usaha untuk mencegah pelanggaran hukum, supaya hukum berjalan sebagaimana mestinya.

c) Menyelenggarakan hukum sebagai pembetulan hukum setelah hukum itu dilanggar.9

Bahan Bacaan :

1. Soepomo, 1979, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta.

2. Ter Haar Bzn, 1976, Azas-Azas dan Susunan Hukum adat, diterjemahkan oleh Soebakti Poesponoto, Pradnya Paramita, Jakarta.

3. Soerojo Wignyodipuro, 1968, Pengantar dan Asas- Asas Hukum Adat, Alumni, Bandung.

4. Hilman Hadikusuma, 1981, Hukum Ketatanegaraan Adat, Alumni, Bandung.

5. Sagung Ngurah,dkk, 2008, Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan, Bagian Hukum Dan Masyarakat, Fak.

Hukum Universitas Udayana Denpasar.

6. UUD RI 1945.

9 Soepomo R, Op.Cit, hal.66.

(35)

PERTEMUAN II : TUTORIAL/DISKUSI TENTANG KMHA

I. TUGAS : PROBLEM TASK

Di Indonesia terdiri dari berbagai macam bentuk kesatuan masyarakat hukum adat diantaranya adalah desa pakraman, subak, dadia, nagari dan desa Dalam kehidupan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat tersebut terdapat sistim hukum yang berlaku dan mengikat kesatuan masyarakat hukum adat tersebut.

Suatu saat desa pakraman mengalami suatu masalah yaitu ada seorang krama desa melanggar norma kebiasaan dan adat di desa pakraman setempat, baik dalam konteks pelanggaran di bidang parhyangan, pawongan dan palemahan, dilain pihak desa pakraman tidak memiliki aturan hukum adat secara tertulis, sehingga sulit bagi desa pakraman untuk menjatuhkan sanksi adat untuk para pelanggar norma kebiasaan setempat.

Pertanyaan :

1. Apakah yang dimaksud dengan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat ?

2. Unsur-unsur apakah yang harus dipenuhi jika persekutuan tersebut dapat dikatakan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat?

3. Faktor-faktor apakah yang mempengauuhi terbentuknya KMHA.

4. Apakah KMHA mempunyai hukum tertulis dan apakah KMHA mendapat perlindungan secara hukum.

5. Apakah dapat KMHA menyelesaiakan kasus tersebut dan bagaimana proses penyelesaian III

(36)

I. DAFTAR BACAAN

1. Soepomo, 1979, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta.

2. Ter Haar Bzn, 1976, Azas-Azas dan Susunan Hukum adat, diterjemahkan oleh Soebakti Poesponoto, Pradnya Paramita, Jakarta.

3. Soerojo Wignyodipuro, 1968, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, Alumni, Bandung.

4. Hilman Hadikusuma, 1981, Hukum Ketatanegaraan Adat, Alumni, Bandung.

5. Sagung Ngurah,dkk, 2008, Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan, Bagian Hukum Dan Masyarakat, Fak.Hukum Universitas Udayana Denpasar.

6. UUD RI 1945.

(37)

PERTEMUAN III : PERKULIAHAN 2 HUKUM TANAH ADAT

1. TANAH ADAT SEBAGAI HAK ULAYAT KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

Didalam kehidupan masyarakat hukum adat, tanah memegang peranan yang sangat penting dan menentukan.

Seperti dikemukakan oleh Soerojo Wignyodipuro, bahwa ada dua hal yang menyebabkan tanah itu memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan masyarakat hukum adat yaitu : karena sifat dan karena fakta.

2. FUNGSI TANAH BAGI MASYARAKAT HUKUM ADAT Sebagaimana bahwa tanah merupakan benda yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia. Adapun fungsi penting dari tanah dalam kehidupan masyarakat hukum adat yaitu :

a. Karena sifatnya :

Yaitu merupakan satu-satunya benda kekayaan yang menkipun mengalami keadaan-keadaan yang bagaimanapun akan masih bersifat tetap dalam keadaan seperti semula dan bahkan menjadi lebih menguntungkan. Seperti misalnya dijatuhi bom, tanah tetap tidak akan lenyap atau berkurang atau kalau terjadi banjir, setelah banjir surut kadang-kadang dapat lebih menyuburkan tanah tersebut.

b. Karena fakta :

Yaitu suatu kenyataan bahwa tanah itu :

 Merupakan tempat tinggal persekutuan

 Memberi penghidupan kepada persekutuan

 Merupakan tempat dimana para warga persekutuan yang meninggal dunia di kebumikan

(38)

 Merupakan pula tempat tinggal danyang-danyang pelindung persekutuan dan roh para leluhur persekutuan.10

Bagi masyarakat hukum adat pada umumnya bahwa tanah mempunyai fungsi yang sangat penting. Karena tanah merupakan tempat mereka hidup, tempat mereka tinggal, dan tanah merupakan tempat yang memberikan penghidupan kepada mereka.

Berdasarkan kenyataan ini, maka antara tanah dengan masyarakat hukum dimana mereka tinggal terdapat hubungan yang erat sekali dan bahkan bersifat religio magis, hubungan yang erat dan bersifat religio magis inilah yang menyebabkan masyarakat hukum mempunyai hak untuk menguasai tanah-tanah yang ada dalam masyarakat hukum tersebut dalam arti masyarakat hukum dapat memanfaatkan tanah itu, memungut hasil-hasil dari tumbuh-tumbuhan yang ada diatas tanah tersebut, serta berburu binatang- binatang yang hidup disitu untuk kepentingan hidup dan kehidupannya. Hak semacam ini disebut dengan hak ulayat atau disebut pula dengan istilah “beschikkings recht”. Seperti di Jawa ada tanah disebut dengan “tanah pikulen dan ada

“tanah gogol”, sedangkan di Bali ada tanah-tanah dengan nama : tanah PKD (Pekarangan Desa) dan ada tanah AYDS (Ayahan Desa).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Iman Sudiyat, bahwa sebagai salah satu unsur essensiil pembentuk negara, tanah memegang peran vital dalam kehidupan dan penghidupan bangsa pendukung negara tersebut, lebih-lebih corak agrarisnya menominasi. Di negara yang rakyatnya

10 Soerojo Wignyodipuro, 1979, Pengantar dan asas-asas Hukum Adat, Alumni, Bandung, hal.247.

(39)

berhasrat melaksanakan demokrasi yang berkeadilan sosial, pemanfaatan tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat merupakan suatu “conditio sine qua non”.

Hak persekutuan atas tanah seperti yang dijelaskan diatas disebut dengan “Hak Ulayat” antara hak ulayat dengan hak perseorangan atas tanah terdapat asas yang disebut dengan “asas mulur mungkret atau mengembang mengempis”, artinya dimana hak perseorangan kuat maka berarti hak ulayat atas tanah di daerah tersebut menjadi melamah atau berkurang. Demikian sebaliknya dimana hak perseorangan melemah maka berarti hak ulayat di daerah tersebut menjadi kuat.

3. HAK ULAYAT

Hubungan yang erat antara tanah dengan masyarakat hukum dimana masyarakat huum tersebut berada me nim- bul kan hak menguaai yang ada pada masyarakat hukum itu. Hak atas tanah tersebut disebut dengan “ hak ulayat atau hak pertuanan”. Hak ulayat ini oleh Van Vollenhoven diistilahkan dengan nama “beschikkingsrecht”. Istilah bes- chik kingsrecht ini dipakai oleh Van Vollenhoven sebagai peng ganti istilah yang dipakai sebelumnya adalah “hak egiendom (eigendomsrecht)” dan atau hak yasan komunal.11

Sedangkan para ahli hukum Indonesia memakai istilah-istilah antara lain : Hak purba (Djojodiguno), Hak per- tuanan (Soepomo), Hak bersama (Hazairin), dan Hak ulayat (UUPA). Dan selanjutnya dalam tulisan-tulisan ilmiah lebih populer istilah “Hak Ulayat”.

Istilah beschikkingsrecht seperti yang dikemukakan oleh Van Vollenhoven harus dibedakan lagi dengan pengertian

11 Ter Haar, Op.Cit, hal.71.

(40)

“beschikkingskring”, karena disebut belakangan ini adalah mengenai “lingkungan ulayat”. Lingkungan ulayat ini adalah merupakan tanah wilayah yang dikuasai oleh hak ulayat.

Dan terhadap lingkungan ulayat (beschikkingskring) ini di tiap-tiap wilayah Indonesia mempunyai istilah yang berbeda- beda misalnya : patuanan (Ambon), prabumian (Bali).

Jadi hak ulayat adalah hubungan antara masyarakat hukum dengan tanah, melahirkan suatu hak dari masyarakat hukum terhadap tanah-tanah yang ada di dalam batas-batas lingkungannya.

Sedangkan yang menjadi obyek dari hak ulayat antara lain adalah meliputi: tanah (daratan), air (perairan seperti kali, danau, pantai beserta perairannya), tumbuh-tumbuhan yang hidup secara liar (pohon buah-buahan, pohon untuk kayu pertukangan, kayu bakar) dan binatang yang hidup liar.

Hak ulayat yang dimiliki oleh masyarakat hukum dengan obyek seperti tersebut diatas, maka masyarakat hukum di dalam menerapkan hak ulayat dilakukan dengan cara menikmati atau memungut hasil tanah, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Disamping itu, masyarakat hukum berdasarkan wewenangnya membatasi kebebasan warga masyarakatnya untuk memungut hasil tersebut.

Setelah berlakunya UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria, UU No.5 Tahun 1960), hak menguasai dari masyarakat hukum adat seperti dimiliki hak ulayat, beralih kepada negara. Dengan demikian hak-hak atas tanah yang dapat diperoleh oleh Warganegara Republik Indonesia diatur sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam UUPA tersebut. Seperti diatur dalam Pasal 16 UUPA, pada intinya menyebutkan pada penjelasannya bahwa UUPA adalah berlandaskan pada hukum adat. Seperti juga tertuang dalam

(41)

Pasal 5 UUPA menyebutkan bahwa UUPA berlandaskan hukum adat.

Disimak dari ketentuan-ketentuan tersebut se harus- nya hak-hak atas tanah didasarkan pula pada sistematika hukum adat. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian, karena berdasarkan Pasal 1 dan Pasal 10 UUPA, dinyatakan bahwa hak-hak adat bertentangan dengan kedua pasal ter- sebut seharusnya dihapus. Tetapi karena keadaan ma sya- rakat belum memungkinkan untuk dihapus, maka kemudian diberilah sifat sementara, yang artinya sewaktu-waktu hak- hak adat tersebut akan dihapuskan.

Pengaturan tentang hak ulayat dalam UUPA dapat ditemukan dalam Pasal3, yang isinya dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Hak ulayat dari masyarakat hukum sepanjang dalam kenyataannya masih ada harus me nye- suaikan diri dengan negara dan nasional.

b. Pelaksanaan daripada hak ulayat tidak boleh bertentangan dengan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.

c. Pengaturan hak ulayat dilakukan oleh negara dengan Pasal 1 dan 2 UUPA.

Penjelasan dari Pasal 3 UUPA, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu ialah apa yang didalam perpustakaan hukum adat disebut dengan

“beschikkingsrecht”, itu berarti termasuk pula jenis-jenis tanah adat yang ada di Bali yang dikuasai oleh masyarakat hukum adat Bali seperti desa pakraman menguasai tanah ayahan desa (AYDS) atau tanah pekarangan desa (PKD).

(42)

Seperti telah diuraikan diatas bahwa tanah bagi masyarakat hukum adat pada umumnya merupakan hal yang sangat penting, oleh karena tanah merupakan tempat tinggal, tempat hidup dan kehidupannya, tempat “roh” para leluhurnya yang dikebumikan dan disemayamkan oleh anggota masyarakat hukum adat yang bersangkutan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa antara tanah dengan masyarakat hukum mempunyai hubungan yang sangat erat sekali.

Hubungan yang demikian itu pula akan melahirkan suatu hak dari masyarakat hukum adat terhadap tanah- tanah yang ada di dalam batas lingkungan wilayahnya, yang oleh Van Dijk dikatakan bahwa hak ulayat ataupun disebut dengan “hak prabumian” di Bali adalah berakibat kedalam dan keluar.12 Yang dimaksud dengan hak ulayat yang berlaku kedalam adalah anggota masyarakat hukum adat diperbolehkan untuk menikmati tanah dengan segala isinya yang menimbulkan adanya hubungan antara hak ulayat dengan hak perseorangan atas tanah yang lama kelamaan menjadi kuat, dan akhirnya melahirkan hak milik atas tanah dari anggota masyarakat hukum adat.

Bahan Diskusi :

Diskusikan dalam kelompok kedudukan hak ulayat ? dan bagaimana menurut UUPA?

12 Selanjutnya baca : I Wayan Beni, Cs, 1983, Hukum Adat Dua (BagianII), Fak.Hukum Unud, hal.4 dan Wayan P Windia dan I Ketut Sudantra, 2006, Pengantar Hukum Adat Bali, Lembaga Dokumentasi dan Publikasi Fak. Hukum Unud, hal.127-128.

(43)

4. KEDUDUKAN TANAH ADAT DALAM PERUNDANG- UNDANGAN

Pokok persoalan mengenai tanah yang pada mulanya terjadi dualisme pengaturan, setelah Negara Republik Indonesia merdeka persoalan-persoalan mengenai tanah ini dibuatkan satu unifikasi hukum tanah yang lebih dikenal dengan Undang- Undang Pokok Agraria (UU No.5 Tahun 1960), yang mulai berlaku sejak 24 September 1960. Dengan demikian sampai saat ini ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku terhadap tanah adalah berpedoman pada UUPA tersebut disamping ketentuan-ketentuan lain yang ada kemudian sebagai peraturan pelaksana dari UUPA tersebut. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kedudukan hukum tanah-tanah adat, tidak lepas dari pengetahuan tentang ketentuan hukum agraria yang berlaku sebelum keluarnya UUPA tersebut.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Suasthawa D, bahwa sebelum berlakunya UUPA, di Indonesia berlaku dua macam hukum tanah yaitu : hukum tanah adat dan hukum tanah barat, sehingga dengan demikian menyebabkan ada dua macam tanah yaitu “ tanah adat atau disebut pula tanah Indonesia yang sepenuhnya tunduk pada hukum adat, sepanjang tidak diadakan ketentuan yang khusus untuk hak-hak tertentu. Dan dilain pihak ada “tanah barat” atau disebut pula dengan tanah eropah, yang dapat dikatakan bahwa tanah-tanah ini tunduk pada hukum agraria barat yang kesemuanya terdaftar pada kantor pendaftaran tanah menurut “overschrijvingsordonantie” atau ordonansi balik nama (stb.1834 No.27). jadi tanah-tanah yang tunduk pada hukum (agraria) adat adalah termasuk tanah adat yang ada di Bali.13

13 Made Suasthawa.D, 1987, Status dan Fungsi Tanah Adat Bali Setelah Berlakunya UUPA, CV.Kayumas Agung, Denpasar, hal.21-22.

(44)

Setelah berlakunya UUPA (Undang-Undang pokok Agraria No.5 Tahun 1960), didalam Pasal II, VI dan VII Ketentuan Konversi dapat ditemukan bahwa nama-nama hak atas tanah yang terdapat dalam pasal itu persis sama dengan nama-nama hak atas tanah adat atau tanah Indonesia.

Adapun nama-nama hak atas tanah adat sebagaiana yang tersebut dalam Pasal II, VI, VII Ketentuan Konversi adalah :

1. Hak agrarisch eigendom;

2. Hak milik;

3. Yasan;

4. Andarbeni;

5. Hak atas druwe;

6. Hak atas druwe desa;

7. Pesini, ...dst.

Proses individualisasi tanah itu pun telah diantisipasi UUPA sebagaimana dapat disimak dari ketentuan pada Pasal 16 UUPA, telah ditetapkan macam-macam hak atas tanah yang dapat dipunyai orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan hukum sebagai hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak memungut hasil dan hak yang tidak termasuk dalam hak tersebut yang ditetapkan dengan undang-undang serta hak-hak yang sifatnya sementara.14

Dalam konteks macam-macam hak atas tanah yang disebutkan dalam pasal 16 uupa, hak ulayat tidak dimasukkan dalam pengertian hak atas tanah. Pengertian hak ulayat adalah sebagaimana dirumuskan dalam PMNA/

14 Djamanat Samosir, 2013, Hukum Adat Indonesia Eksistensi dalam Dinamika Perkembangan Hukum di Indonesia, Nuansa Aulia, Bandung, h.101

(45)

Ka. BPN No.5 Tahun 1999. Kedudukan keberadaan hak ulayat dapat dilihat sebagaimana pelimpahan wewenang dari negara sebagaimana disebutkan dalam pasal 2 ayat 4 UUPA, hak menguasai dari negara pelaksanaannya dapat dilimpahkan wewenang hak menguasai dari negara pelaksanaannya dapat dilimpahkan wewenang hak penguasaan dari negara atas tanah kepada pemerintah daerah dan kepada masyarakat hukum adat.15

Dengan keluarnya Peraturan Menteri Agraria No.2 Tahun 1960 tentang pelaksanaan beberapa ketentuan UUPA, dalam Bab II yang berjudul “Pelaksanaan Ketentuan Konversi, terdiri dari dua bagian yaitu :

• Bagian I, tentang hak-hak yang didaftar menurut overschrijvingsordonansi.

• Bagian II, tentang hak-hak yang tidak didaftar menurut overschrijvingsordonansi. Dan yang dimaksud dengan hak-hak ini adalah hak-hak atas tanah Indonesia (tanah adat).

Selanjutnya dengan keluarnya Peraturan Menteri Pertanian dan Agraria No.2 Tahun 1962 dan kemudian dirubah lagi dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. SK./26/DDA/1970, ditegaskan bahwa hak-hak yang dimaksud dalam Ketentuan Konversi dan pendaftaran bekas- bekas hak Indonesia atas tanah adalah hak-hak atas tanah Indonesia (tanah adat). Disamping itu juga dapat dilihat dari Pasal 3 UUPA, yaitu pasal yang mengatur tentang keberadaan hak ulayat, sedangkan di tingkat daerah diatur dalam PERDA No.3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman terutama Pasal 9, yang pada pokoknya mengatur tentang pengakuan terhadap eksistensi tanah desa pakraman.

15 Ibid,hal102

(46)

Bahan Bacaan :

1. Perlindungan AP, 1989, Undang-Undang Bagi Hasil di Indonesia (suatu studi komparatif), Mandar Maju, Bandung.

2. Soerjono Soekanto dan Soleman B Taneko, Hukum Adat Indonesia, CV Rajawali, Jakarta.

3. Soerojo Wignyodipuro, 1973, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, Alumni, Bandung.

4. Sagung Ngurah dkk, Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan, Bagian Hukum dan Masyarakat, Fak. Hukum UNUD, Denpasar.

5. UU No.5 tahun 1960 tentang UUPA.

6. UU No 10 TAhun 1998 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

7. Peraturan Daerah Propinsi Bali No. 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman

8. Perda Propinsi Bali No. 8 Tahun 2002 tentang LPD 9. SK bersama Mentri Keuangan (No. 351.1/KMK.010/2009),

Mentri Dalam Negeri (No. 900-639 A tahun 2009), Menteri Koperasi Dan UKM (No. 01/SKB/M.KUKM/IX/2009), Dan Gubernur Bank Indonesia (No. 11/43A/KEP.GBI/2009) tentang Strategi Pengembbangan Lembaga Keuangan Mikro- Menetapkan LPD sebagai lembaga keuangan mikro- wajib berbadan hukum BPR atau koprasi atau BUMD.

(47)

PERTEMUAN IV : TUTORIAL/DISKUSI TENTANG HUKUM TANAH ADAT

I. PENDAHULUAN

Hak ulayat dengan hak-hak anggota masyarakat hukum adat mempunyai hubungan timbal balik yang bertujuan untuk mempertahankan keserasian antara kepentingan masyarakat hukum dan hubungan ini saling desak atau batas membatasi atau disebut pula mempunyai sifat mulur mungkret atau mengembang-mengempis atau tarik ulur yang artinya, dimana hak ulayat kuat disitu hak perseorangan atas tanah menjadi lemah atau sebaliknya.

Contohnya di Desa Tenganan Pengingsingan.

Sedangkan yang dimaksud dengan hak ulayat yang berlaku keluar adalah larangan-larangan terhadap orang luar yang tidak menjadi anggota masyarakat hukum adat kecuali atas seijin desa setelah membayar uang pengakuan atau mesi atau recognitie ( di Bali disebut dengan batu-batu atau penanjung batu).

II. PROBLEM TASK.

1. Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus-kasus tentang jual beli tanah, penyerobotan tanah atau lahan, mendirikan pabrik tanpa izin, pembabatan hutan, illegal loging dan lain sebagainya. Kasus-kasus ini bisa terjadi antara individu dengan individu, kelompok dengan pengusaha, masyarakat dengan pemerintah. Cobalah analisa kasus-kasus tersebut dengan menghubungkannya antara UUPA, Hak Ulayat dengan Hukum Adat.

(48)

Bahan Bacaan :

1. Perlindungan AP, 1989, Undang-Undang Bagi Hasil di Indonesia (suatu studi komparatif), Mandar Maju, Bandung.

2. Soerjono Soekanto dan Soleman B Taneko, Hukum Adat Indonesia, CV Rajawali, Jakarta.

3. Soerojo Wignyodipuro, 1973, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, Alumni, Bandung.

4. Sagung Ngurah dkk, Buku Ajar Hukum Adat Lanjutan, Bagian Hukum dan Masyarakat, Fak. Hukum UNUD, Denpasar.

5. UU No.5 tahun 1960 tentang UUPA.

6. UU No 10 TAhun 1998 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

7. Peraturan Daerah Propinsi Bali No. 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman

8. Perda Propinsi Bali No. 8 Tahun 2002 tentang LPD 9. SK bersama Mentri Keuangan (No. 351.1/KMK.010/2009),

Mentri Dalam Negeri (No. 900-639 A tahun 2009), Menteri Koperasi Dan UKM (No. 01/SKB/M.KUKM/

IX/2009), Dan Gubernur Bank Indonesia (No. 11/43A/

KEP.GBI/2009) tentang Strategi Pengembbangan Lembaga Keuangan Mikro- Menetapkan LPD sebagai lembaga keuangan mikro-wajib berbadan hukum BPR atau koprasi atau BUMD.

(49)

PERTEMUAN V : PERKULIAHAN 3 HUKUM ADAT KEKELUARGAAN

1. PENGERTIAN HUKUM ADAT KEKELUARGAAN

Istilah hukum kekeluargaan diantara para sarjana hukum adat tidak ada kesatuan istilah seperti Ter Haar memakai istilah hukum kesanak saudaraan, Soerjono Soekanto memakai istilah Hukum Keluarga, sedangkan Djaren Saragih maupun Soerojo Wignyodipuro memakai istilah Hukum kekeluargaan. Untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dimaksud dengan Hukum Adat Kekeluargaan itu, perlu mencari beberapa pendapat sarjana. Secara umum pengertian yang terkandung dalam hukum adat kekeluargaan itu antara lain :

Menurut Djaren Saragih : Hukum keluarga adalah se kumpulan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hu- bungan-hubungan hukum yang ditimbulkan oleh hubungan biologis.16

Akibat hukum yang timbul dari adanya hubungan biologis akan beraneka ragam tergantung dari bentuk perkawinan yang dilakukan oleh pria dan wanita atau orang tua mereka. Apabila hubungan biologis yang dilakukan oleh seorang pria dan wanita tanpa dilakukan secara sah maka anak-anak yang lahir dari hubungan tersebut akan menjadi anak tidak sah. Hal seperti ini akan menjadi berbeda apabila hubungan biologis itu dilakukan secara saah maka anak- anak yang dilahirpun akan menjadi anak-anak yang sah.

Sedangkan di Bali, kedudukan seorang anak dalam keluarga dan keluarga besarnya selain ditentukan oleh sah

16 Djaren Saragih, 1980, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Tarsito, Bandung, hal.123.

(50)

tidaknya perkawinan orang tuanya, juga ditentukan oleh bentuk perkawinan orang tuanya, apakah dalam bentuk perkawinan biasa atau dalam bentuk perkawinan nyeburin.

Karena bentuk perkawinan tersebut akan mempengaruhi pula hubungan-hubungan hukum yang akan timbul baik dengan orang tua maupun keluarga besarnya (kerabatnya).

2. SISTEM KEKELUARGAAN DI INDONESIA

Untuk mengetahui sistem hukum kekeluargaan yang berlaku, perlu terlebih dahulu mengerti dan memahami sistem kekeluargaan yang secara umum dikenal di Indonesia.

Sistem kekeluargaan ini perlu dipahami karena sistem kekeluargaan merupakan kunci untuk dapat memahami persoalan-persoalan yang akan muncul kemudian antara lain seberapa jauh ada hubungan hukum maupun hubungan kekeluargaan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya sehingga dengan mengetahui hubungan-hubungan itu akan dapat diketahui pula apakah ada halangan atau larangan diantara mereka apabila mereka ingin melangsungkan perkawinan, serta untuk dapat mengetahui apakah mereka mempunyai hak atau tidak sebagai ahli waris.

Pada prinsipnya di seluruh Indonesia terdapat 3 (tiga) sistem kekeluargaan, yaitu cara melihat atau menarik keturunan sehingga dapat diketahui dengan siapa seseorang itu mempunyai hubungan hukum kekeluargaan atau keturunan siapa mereka serta dapat pula diketahui batas- batas hubungan tersebut. Apakah mereka merupakan hubungan sedarah, bukan sedarah atau pada derajat ke berapa mereka berada ?

Adapun ketiga cara menarik garis keturunan itu di indonesia antara lain :

(51)

1. Keturunan semata-mata dihitung menurut garis laki-laki saja (garis patrilinial), seperti pada masyarakat suku Batak, Nias, Sumba, Bali.

2. Keturunan semata-mata dihitung menurut garis wanita (ibu) saja (garis matrilinial), seperti masyarakat suku minangkabau.

3. Keturunan yang dilihat baik garis laki-laki maupun garis wanita (garis keturunan yang bersifat parental), seperti suku Jawa, Sunda, Aceh, Dayak dan lain-lain.

Perbedaan sistem kekeluargaan seperti tersebut diatas hanyalah berfungsi untuk menunjukkan adanya suatu perbedaan kadar hubungan kekeluargaan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya yang ada antara kedua belah pihak yaitu garis bapak dan garis ibu, tetapi antara hubungan kedua belah pihak itu tidak terputus sama sekali.

Sebagai contoh : masyarakat hukum adat di Bali yang menganut sistem kekeluargaan patrilinial yang menghitung garis keturunan melalui garis ayah, walaupun perkawinannya mungkin berbeda kasta tetap saja hubungan dengan keluarga ibu juga dijaga. Hanya saja porsi hubungan itu lebih tinggi kekeluarga ayah dari pada kekeluarga ibu apalagi dalam peristiwa-peristiwa yang penting seperti dalam upacara dan upacara “Pitra Yadnya”.

Itu berarti keluarga dari pancar laki-laki lebih utama dari keluarga pancar wanita kecuali keluarga dari pancar laki-laki sudah tidak ada lagi, barulah keluarga dari pancar wanita mendapat perhatian baik mengenai penerimaan warisan maupun pemeliharaan anak. Dalam masyarakat

(52)

yang berhukum kekeluargaan patrilinial pada umumnya terdapat cara perkawinan, dimana si wanita sesudahnya kawin akan tinggal pada kelompok keluarga suami, demikian pula si anak masuk golongan keluarga (clan) bapaknya.

Sebagai corak kedua dalam susunan kekeluargaan di Indonesia pada umumnya yang bersifat “klasifikatoris”, artinya bahwa seluruh generasi dari bapak (dan ibu), seorang anak dari beberapa hal mempunyai kedudukan yang sama dengan bapak serta ibunya, tanpa memperhatikan umur yang bersangkutan.17

Hal diatas adalah berkaitan dengan istilah menyapa dan menyebut atau cara memanggil seseorang dalam keluarga baik keluarga dari bapak maupun dari keluarga ibu tanpa memandang umur dari mereka yang disapa atau disebut tersebut.

Bahan diskusi :

a. Apakah ada perbedaan kedudukan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya sebagai akibat adanya hubungan biologis atau karena perbuatan hukum lainnya di Indonesia ?

b. Jelaskan perbedaan konsep dan akibat hukumnya antara patrilinial Batak dengan patrilinial Bali ? c. Jelaskan pengertian unilateral, bilateral, patrilinial

beralih-alih !

17 Gede Panetja, 1986, Aneka Catatan Tentang Hukum Adat Bali, CV.Kayumas, hal.41.

(53)

3. KETURUNAN DAN PENGANGKATAN ANAK MENURUT HUKUM ADAT PADA UMUMNYA

a. Pengertian keturunan menurut hukum adat pada umumnya

Berdasarkan pendapat dari Surojo Wignyodipuro yang dimaksud dengan keturunan adalah ketunggalan leluhur, yang artinya ada perhubungan darah antara orang yang seorang dengan orang lain. Dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah, jadi yang tunggal leluhur adalah keturunan yang seorang dari yang lain.18

Sedangkan menurut T I P. Astiti, Cs : dikatakan bahwa keturunan itu adalah orang-orang laki dan perempuan yang mempunyai hubungan darah dengan orang yang menurunkannya.19

Dari kedua pendapat tersbut dapat dikatakan bahwa : keturunan adalah merupakan unsur yang mutlak harus ada jika satu keluarga tidak menginginkan dirinya dikatakan tidak ada generasi penerusnya.

Oleh karena itu, jika khawatir akan menghadapi kenyataan tidak mempunyai keturunan maka dapat mela- kukan pengangkatan anak untuk menghindari kepunahan.

Orang yang satu sebagai keturunan dari orang yang lain- nya mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban ter- tentu sesuai dengan kedudukan dalam keluarga yang ber- sangkutan.

Keluarga wajib saling membantu, saling mewakili, saling pelihara-memelihara, boleh mempergunakan nama

18 Soerojo Wignyodipuro, Op.Cit, hal.128.

19 TIP.Astiti,Cs, 1984, Hukum Adat Dua (Bagian II), Dokumentasi dan Publikasi Fak.Hukum Unud, Denpasar, hal.2.

(54)

keluarga mereka yang menjadi keturunan seorang bapak akan menjadi anggota pula dari clan bapak.

b. Sifat-Sifat Keturunan

Menurut sifatnya keturunan ada dua (2), yaitu :

a) Keturunan menurut garis lurus keatas dan kebawah, maksudnya adalah keturunan langsung keatas yaitu apabila rangkaiannya dilihat dari bawah keatas yaitu dari : anak, bapak, kakek. Sedangkan sebaliknya apabila rangkaian itu dilihat dari atas kebawah yang disebut lurus kebawah yaitu dari : kakek, bapak, anak.

b) Keturunan menurut garis menyimpang, menyamping atau bercabang yaitu : apabila antara kedua orang atau lebih itu terdapat adanya ketunggalan leluhur, yang disebut dengan “sepupu”.

c) Hubungan darah antara seseorang dengan orang lainnya.

Menurut T.I.P. Astiti, dapat pula dilihat dari jauh dekatnya hubungan tersebut, karena jauh dekatnya hubungan darah ini akan membawa akibat hukum yang berbeda.

Jadi harus dibedakan antara hubungan darah yang sangat dekat dengan hubungan darah yang cukup dekat. Terhadap hubungan darah yang sangat dekat mengakibatkan adanya larangan yang sangat mutlak bahwa diantara mereka ada larangan perkawinan, seperti antara : bapak dengan anak atau antara kakek dengan cucunya, atau antara saudara kandung.

Sedangkan mereka yang mempunyai hubungan darah cukup jauh secara relatif masih dimungkinkan untuk melangsungkan perkawinan. Dan mereka yang mempunyai hubungan darah yang jauh, diantara mereka sudah tidak ada lagi istilah untuk menyebutkan hubungan itu.20

20 Ibid, hal.3.

(55)

Selain ada istilah melihat garis keturunan melalui sifat-sifatnya, maka keturunan dapat pula dilihat melalui derajat atau tingkatannya yang disebut dengan derajat keturunan. Hal ini juga untuk menentukan jauh dekatnya hubungan kekeluargaan seseorang dengan orang lain yang akan bermanfaat dalam menentukan siapa yang akan muncul sebagai ahli waris pertama apabila ada seseorang yang meninggal, apakah dia berada pada derajat I (anak), pada derajat II (kakek), pada derajat III (cucu). Dan seterusnya.

Keturunan mempunyai arti penting karena :

a. Sebagai penerus generasi sehingga seseorang tidak dikatakan punah (caput).

b. Merupakan harapan dan tujuan dari setiap perkawinan.

c. Sebagai ahli waris apabila ada yang meninggal.

d. Wadah atau tempat orang tua atau keluarga berharap dan berlindung.

e. Melalui keturunan dapat dibuat ssisilah keluarga yang akan memberikan gambaran dengan jelas garis-garis keturunan dari seseorang atau suami istri, baik yang lurus keatas maupun kebawah, menyimpang, menyamping baupun bercabang.

f. Berkaitan dengan masalah perkawinan, yaitu untuk meyakinkan apakah diantara mereka ada hubungan darah dekat yang merupakan larangan untuk mereka kawin (menjadi suami-istri), misalnya adik dengan kakak sekandung.

Ketiadaan keturunan atau anak dapat menimbulkan berbagai akibat hukum atau peristiwa hukum seperti yang diungkapkan oleh Soerjono Soekanto yaitu perceraian, poligami atau pengangkatan anak, walaupun itu bukan

Referensi

Dokumen terkait

Tempat ini sering dikunjungi oleh masyarakat Bali yang berada di Nusa Penida maupun di luar Nusa Penida khususnya yang beragama Hindu untuk melakukan persembahyangan

PSN 3M Plus merupakan upaya yang paling efektif untuk mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terus meningkat Kota Denpasar, namun perilaku PSN 3M Plus

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Menteri I{ukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan