REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
SURAT PENCATATAN
CIPTAAN
Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:
Nomor dan tanggal permohonan : EC00201860297, 20 Desember 2018 Pencipta
Nama : Dr. Dra. Ni Ketut Erawati, M.Hum, Drs. I Made Wijana, M.
Hum, , dkk
Alamat : Jalan Ken Arok. Gang II. No 12. Dadakan, Denpasar Utara, Denpasar, Bali, 80115
Kewarganegaraan : Indonesia
Pemegang Hak Cipta
Nama : Dr. Dra. Ni Ketut Erawati, M.Hum, Drs. I Made Wijana, M.
Hum, , dkk
Alamat : Jalan Ken Arok. Gang II. No 12. Dadakan, Denpasar Utara, Denpasar Utara, 16, 80115
Kewarganegaraan : Indonesia
Jenis Ciptaan : Laporan Penelitian
Judul Ciptaan : SANDHI DALAM BAHASA JAWA KUNA: SUATU
PENDEKATAN TEORI MUTAKHIR Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama
kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia
: 30 November 2017, di Denpasar
Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.
Nomor pencatatan : 000129718
adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.
Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL
Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS.
NIP. 196611181994031001
LAMPIRAN PENCIPTA
No Nama Alamat
1 Dr. Dra. Ni Ketut Erawati,
M.Hum Jalan Ken Arok. Gang II. No 12. Dadakan, Denpasar Utara 2 Drs. I Made Wijana, M. Hum Jalan. Nangka Gang II No 7 Denpasar Utara
3 Drs. Komang Paramartha, M. S. Padang Indah VI/15 Denpasar
LAMPIRAN PEMEGANG
No Nama Alamat
1 Dr. Dra. Ni Ketut Erawati,
M.Hum Jalan Ken Arok. Gang II. No 12. Dadakan, Denpasar Utara 2 Drs. I Made Wijana, M. Hum Jalan Nangka VI/7 Denpasar Utara
3 Drs. Komang Paramartha, M. S. Jalan Padang Indah VI/15 Denpasar Barat
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
i
LAPORAN PENELITIAN
SANDHI DALAM BAHASA JAWA KUNA: SUATU PENDEKATAN TEORI MUTAKHIR
Oleh
Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M. Hum. / 0007036510 Drs. I Made Wijana, M. Hum. / 0010115714 Drs. Komang Paramartha, M. S. / 0023055909
PROGRAM STUDI SASTRA JAWA KUNO FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS UDAYANA NOVEMBER 2017
Bidang Unggulan: Sosial Budaya
Kode/Bidang Ilmu: 511/Sastra(dan Bahasa) Daerah (Jawa, Sunda, Batak dll)
ii PRAKATA
Puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Mahaesa) karena atas berkat-Nya laporan penelitian ini dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan penelitian ini tentu banyak hal yang menjadi hambatan namun berkat kerja sama tim semua rintangan itu dapat diatasi.
Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peneliti sehingga kualitas penelitian semakin bertambah selain itu juga untuk menambah kuantitasnya. Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan menjadi model dalam pererapan teori-teori linguistik yang relatif masih kurang analisis teks-teks karya sastra Jawa Kuno.
Keberhasilan penelitian ini tidak terlepas juga dari peranan institusi mulai dari tingkat program studi atas rekomendasinya, fakultas, LPPM, dan Unud sebagai payungnya yang telah memfasilitasi baik sarana maupun prasarananya. Untuk itu, tim peneliti menguucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Kaprodi Sastra Jawa Kuno, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Ketua LPPM, dan Rektor Universitas Udayana.
Hasil penelitian ini masih sangat membantu masyarakat dalam mengusai bahasa Jawa Kuna. Untuk itu, kepada semua penilai, pembaca dimohon untuk memberikan masukan dan kritikan sehingga hasilnya dapat lebih sempurna. Kami dari tim peneliti mohon maaf atas segala kekurangannya baik yang tersurat maupun yang tersirat dan selalu terbuka atas semua saran yang konstruktif. Semoga budi baik Bapak, Ibu, Saudara/i mendapat pahala yang selayaknya.
Denpasar, 30 November 2017 Tim Peneliti
iii DAFTAR ISI
PRAKATA ……… ii
DAFTAR ISI... iii
RINGKASAN ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 1.2 Masalah ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Kajian Pustaka ... 4
2.2 Konsep ... 5
2.3 Landasan Teori ... 10
BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN……….. 12
3.1 Tujuan Penelitian……… 12
3.2 Manfaat Penelitian ………. 12
BAB IV METODE PENELITIAN ... 14
3. 1. Lokasi Penelitian ... 14
3.2 Metode dan Teknik Penyediaan Data ... 14
3.3 Metode dan Teknik Analisis Data ...15
3.4. Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis ... 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……… 17
4.1 Segmen Bunyi dalam Bahasa Jawa Kuna……….. 17
4.2 Interaksi Segmen sebagai Kaidah Sandhi……… 21
4.3 Proses Sandhi………. 22
4.4 Sandhi dalam Tuturan ……….. 23
4.5 Kaidah Sandhi dalam Fitur Distingtif ………. 28
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ……….. 32
5.1 Simpulan ……….. 32
5.2 Saran ……… 32
DAFTAR PUSTAKA... 34
LAMPIRAN ……….. 35
iv RINGKASAN
Telaah kebahasaan bahasa Jawa Kuna telah banyak dilakukan baik oleh ahli – ahli Jawa Kuna baik peneliti asing maupun peneliti dalam negeri. Demikian pula kajian tentang “sandhi” juga telah dilakukan oleh para pakar yang menekuni tradisi teks lama.
Namun, bahasan yang dilakukan hanya pada tahap deskripsi data saja. Mengingat pentingnya suatu pemahaman yang lebih detal tentang sandhi dalam bahasa Jawa Kuna, maka pada kesempatan ini akan dikaji istilah sandhi berdasarkan pendekatan teori yang lebih mutakhir. Adapun teori yang akan digunakan mengkaji topik tersebut adalah teori transpormasi generatif. Teori ini diprediksi mampu mendeskripsikan, menjelaskan, dan mengeksplanasi tentang kaidah sandhi , mengapa proses tersebut terjadi dan keberterimaannya secara linguistik. Teori ini mampu membuktikan dan sampai pada tahap pembuatan kaidahnya.
Penelitian ini bersifat kualitatif. Oleh karena itu, teks adalah sumber data primer dalam penelitian ini. Teks yang bersifat kualitas dan kuantitas mampu memerikan, menjelaskan, dan mengeksplanasikan data sehingga dapat menyajikan hasil yang lebih berkualitas. Terkait dengan deskripsi di atas, ada beberapa masalah yang akan diungkap dan diformulasikan dalam bentuk pertanyaan berikut, yaitu (1) Segmen-segmen bahasa Jawa Kuna apa sajakah yang dapat berinterkasi sebagai sandhi?
(2) Bagaimanakah struktur dan kaidah sandhi dalam bahasa Jawa Kuna? Kedua masalah tersebut akan dianalisis dengan penekanan teori fitur distingtif dalam teori fonologi generatif dan konsep kaidah pembentukan kata dalam teori morfologi generatif.
Penerapan teori seca ekletik dianggap mampu menjelaskan sandhi secara tuntas.
Penelitian dapat disajikan secara runut dan jelas apabila didukung oleh penerapan metode secara sistematis. Oleh karena itu, metode dan teknik dalam penelitian ini dikemas ke dalam tiga tahapan metode, yaitu metode dan teknik penyediaan data, metode dan teknik analisis data, dan metode dan teknik penyajian hasil analisis data. Dengan menjalin benang merah dalam penelitian secara sistematis maka hasil penelitian ini dapat dipredikasi mampu mendeskripsikan sandhi secara eksplanatif dan pembuatan kaidah-kaidah yang jelas.
Hasil penelitian ini berujud laporan penelitian. Hasil yang diperoleh adalah:
sandhi dapat dilihat dari interaksi antarsegmen, sandhi bersifat morfofonemik yang melebihi batas morfem, serta kaidah-kaidah sandhi dalam penerapan fitur distingtif dalam teori fonologi generatif, sebagai bagian dari tata bahasa transformasi. Luaran yang telah dihasilkan adalah makalah yang dipresentasikan pada “LAMAS 7 (Language Maintenance and Shift) Internasional Seminar, dilaksanakan pada tanggal 19-20 Juli 2017 di Semarang.
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Secara rumpun kebahasaan, bahasa Jawa Kuna merupakan rumpun Austronesia.
Berdasarkan klasifikasi tipologis morfologis yang dikemukan oleh August von Schlegel, bahasa-bahasa di Nusantara pada umumnya termasuk bahasa aglutinatif.
Bahasa aglutinatif memiliki ciri-ciri, yaitu (1) terdiri atas morfem dan morf-morfnya, (2) sebuah kata terdiri atas lebih dari satu morfem yang batas morfem dengan kata jelas dan selalu memiliki varian yang identifikasi bunyinya mudah dipahami, (3) bentuk dasarnya selalu dilekati afiks yang memiliki satu fungsi dan makna, dan (4) menggunakan satu afiks untuk mengacu pada satu kategori gramatikal ( Comrie, 1983:
40; lihat juga Erawati, 2002). Terkait dengan tipologi tersebut, dalam bahasa Jawa Kuna banyak ditemukan kata-kata atau morfem-morfem yang memiliki variasi fonologis. Bahasa Jawa Kuna memiliki tata bahasa yang sangat rumit dan sangat bervariasi. Dengan demikian, variasi fonologis dan perubahannya perlu diungkap dan dikaji lebih jauh.
Proses fonologis menemukan dan menjelaskan proses diucapkannya sebuah kata dalam kaitannya dengan kemampuan berbahasa manusia yang menjadi tujuan ahli fonologi. Kajian yang bersifat fonologis menyangkut beberapa hal, yaitu segmentasi, pola dan kelas bunyi, proses fonologis, variasi bunyi, dan perubahan bunyi (lihat Yusuf, 1998). Telaah fonologis merupakan telaah yang sangat mendasar dalam analisis linguistic. Oleh karena itu, penelitian fonologi yang jelas memberi kemudahan dalam analistik linguistik pada tataran yang lebih luas, seperti bidang morfologi dan sintaksis.
2
Penelitian tentang sandhi melibatkan dua bidang tata bahasa, yakni bidang fonologi dan bidang mofologi. Kedua bidang ini saling berinteraksi dalam menentukan sebuah proses fonologis. Hal ini berarti bahwa dalam melihat sebuah perubahan segmen bunyi suatu bahasa fitur-fitur distingtif tidak dapat diabaikan, demikian pula struktur morfem dalam bidang morfologi juga harus dipahami. Untuk merujuk pernyataan di atas ada sebuah istilah yang lazim digunakan yaitu kaidah morfofonemik. Berdasarkan uraian di atas, penting kiranya untuk meneliti kembali tentang sandhi dalam bahasa Jawa Kuna. Sandhi dalam penelitian ini ditelaah dengan mengacu teori maupun pendekatan yang lebih mutakhir. Adapun teori yang dirujuk adalah teori transpormasi generatif, yaitu teori fonologi generatif dan morfologi generatif. Teori ini mampu menganalis bahasa dari struktur dalam (deep structure) sampai ke struktur luar (surface structure). Tokoh yang paling monumental dalam aliran ini adalah Noam Chomsky.
Pentingnya telaah sandhi dari persektif teori mutakhir karena analisis yang pernah ada hanyalah bersifat deskripsif belaka dan belum menemukan penyebab yang jelas mengapa perubahan fonologis tersebut terjadi. Di samping itu, penelitian terdahulu belum membuat notasi yang dapat dipahami secara lebih jelas.
1.2 Masalah
Beradasarkan deskripsi latar belakang di atas nampak beberapa masalah yang perlu diungkap lebih lanjut. Adapun masalah yang menjadi bahan analisis dalam penelitian ini menyangkut proses morfofonemik dan hasilnya ―sandhi‖ dalam bahasa Jawa Kuna. Adapun topik yang perlu dideskripsikan dan dijelaskan diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu; (1) Segmen-segmen apa sajakah yang dapat berinteraksi
3
sebagai sandhi dalam bahasa Jawa Kuna? (2) Bagaimanakah struktur dan kaidah sandhi dalam bahasa Jawa Kuna dikaji dari fitur distingtif? Kedua masalah tersebut mendapat hasil yang jelas dan tuntas dari penerapan teori dan konsep-konsep yang relevan.
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka
Penerapan teori modern dalam penelitian bahasa telah banyak dilakukan oleh para pakar bahasa baik lintas bahasa maupun tentang bahasa Jawa Kuna.. Oleh karena itu, kajian pustaka yang relevan dengan penelitian ini disajikan seperti berikut ini.
Simanjuntak (1990) buku berjudul Teori Fitur Distingtif dalam Fonologi Generatif. Buku tersebut berisi mengenai bagaimana sebuah bunyi bahasa dapat dicari fitur-fitur distingtifnya berdasarkan aspek-aspek penting dalam teori fitur, hubungan antara konsep-konsep fonem, oposisi, dan fitur. Di samping itu, dibahas pula lahirnya teori fitu distingtif, cirri-ciri yang terpenting fonologi generative, serta keunggulan teori tersebut dibandingkan teori yang lain. Selanjutnya, penerapan teori dan fitur dalam bahasa Indonesia, cara menentukan bentuk dalaman, dan pembuatan rumus- rumus proses fonolgi.
Yusuf (1998) pustaka yang berjudul Fonetik dan Fonologi. Dalam buku tersebut diungkap beberapa konsep dan teori tentang fitur distingtif dan fonologi generatif. Konsep kompetensi dan performansi, segmentasi, pola dan kelas bunyi, proses fonologis, variasi bunyi, perubahan bunyi, dan struktur bunyi bahasa. Di samping itu pula, dibahas mengenai sejarah perkembangan studi fonologi. Kedua buku tersebut sangat mengilhami peneliti dalam menganalisis segmen-segmen dalam bahasa Jawa Kuna.
Erawati (2014) dalam jurnal terakreditasi Bahasa dan Seni UNM Malang menulis artikel yang berjudul ―Tipologi Kausatif Formal Bahasa Jawa Kuna. Dalam artikel tersebut dibahas mengenai klausa bahasa Jawa Kuna yang mengandung makna
5
kausatif dengan menggunakan parameter morfosintaksis. Berdasarkan parameter morfosintaksis itu ditemukan struktur kausatif dalam bahasa Jawa Kuna, yaitu kausatif leksikal, kausatif morfologis, dan kausatif analitis/perifrastik. Dalam tulisan ini juga menyinggung adanya proses fonologis.
Erawati (2015) dalam jurnal Pusat Kajian Bali menulis artikel berjudul
―Eksistensi dan Dinamika Bahasa Jawa Kuna dalam Masyarakat Bali Masa Kini‖.
Dalam artikel tersebut dibahas beberapa masalah terkait dengan bahasa Jawa Kuna yang masih digunakan oleh masyarakat Bali dalam berbagai ranah, seperti ranah keagamaan, adat, seni pertunujukan dan organisasi sosial lainnya. Bahasa-bahasa yang diadopsi ke dalam bahasa Bali sangat banyak berasal dari bahasa Jawa Kuna yang terpengaruh bahasa Sanskerta terlebuh dahulu.
Erawati (2016) Prosiding Internasional dalam Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI). Pada artikel tersebut dianalisis mengenai warisan unsur-unsur linguistik bahasa Sanskerta yang terserap ke bahasa Jawa Kuna.
Unsur-unsur linguistic tersebut dapat berupa leksikon utuh, leksikon dengan perubahan, dan adaptasi. Kaidah-kaidah gramatikal yang dialami dalam bahasa Jawa Kuna sehingga dipakai sebagai kosa kata bahasa Jawa Kuna. Dalam artikel tersebut juga disinggung mengenai proses morfofonemik sebagai contoh dan bukti kegramatikalan unsur warisan tersebut.
2.2 Konsep
Berkaitan dengan tinjauan pustaka di atas, perlu diungkapkan sejumlah konsep yang sangat relevan dalam mengkaji topik penelitian ini. Konsep tersebut dapat dipandang sebagai definisi operasional yang digunakan dalam menganalisis data.
6
Sejumlah konsep terkait dan gayut yang dimaksud dideskripsikan dan dijelaskan seperti berikut ini.
2.2.1 Fitur distingtif
Setiap benda memiliki cirri-ciri yang membuat benda itu dikenal sebagai sebuah benda X. Ciri yang dimiliki benda X tersebut dinamai fitur (features). Fitur khusus yang dimiliki oleh benda X yang membedakan dari benda yang lain sejenisnya dinamai fitur-fitur distingtif. Fitur distingtif ini berlaku untuk semua benda di dunia termasuk bunyi manusia. Misalnya, /b/ dan /p/ dapat dilihat fitur persamaan dan perbedaannya. /p/ dan /b/ sama dalam tempat artikulasi dan cara artikulasi, namun berbeda dalam fitur kebersuaraan, yakni /p/ [- suara] dan /b/ [+ suara]. Secara singkat, fitur distingtif dalam fonologi adalah realitas fisik dan realitas psikologi dalam fonem (Simanjuntak, 1990: 12-13; lihat juga Singh, 1976).
2.2.2 Proses fonologis
Dalam proses fonologis berusaha menemukan dan menjelaskan proses diucapkannya sebuah kata dalam kaitannya dengan kemampuan berbahasa. Proses fonologis (Phonologycal process) adalah perubahan bunyi yang sistematis yang mempengaruhi pola dan kelas bunyi tertentu. Para ahli fonologi berasumsi bahwa proses fonologis ini melewati dua tataran, yakni tataran tersirat (underlying form), representasi fonologis dan tataran tersurat (surface form) atau representasi fonetis, yakni ujaran sesungguhnya yang didengar. Bentuk tersirat berubah menjadi bentuk baru sebagai hasil dari proses fonologis (Yusuf, 1998: 10.
7 2.2.3 Perubahan bunyi
Variasi-variasi bunyi dalam pembentukan morfem, seperti alomor-alomorf dan alas an-alasan fonetis terhadap terjadinya perubahan tersebut merupakan gejala perubahan bunyi. Misalnya, bunyi /k/ menjadi /s/ dalam kata /critic/ menjadi /critism/;
/g/ menjadi /j/ dalam kata /analogue/ menjadi /analogy/. Pada contoh tersebut terjadi proses pelunakan velar (velar softening) pada lingkungan bunyi sebelum vokal atas belakang /u/.
2.2.4 Morfofonemik
Morfofonemik merupakan perwujudan dari wujud morfologi dengan fonologi sehingga hubungan ini menyebabkan adanya interaksi dinamis antara morfem dan fonem. Fonem adalah bunyi terkecil dari suatu ujaran. Bunyi itu sendiri tidak mempunyai suatu pengertian tetapi memegang peranan yang penting dalam membedakan arti. Dalam bahasa Jawa Kuna pernyataan itu dapat diwujudkan dalam pasangan minimalnya yaitu antara adu ‗berlawanan, menghadapi‘: adū ‗ungkapan emosi, heran‘. Kalau dilihat pasangan itu hanya dibedakan oleh bunyi /u/ dan /ū/ . Demikian pula tampak dalam pasangan minimal Bahasa Indonesia padi dan pati.
Gleason (1933: 61) dalam bukunya Introduction to Descriptive Linguistics menjelaskan morfem adalah bagian yang terkecil yang mengandung arti dari suatu ujaran. Artinya bagian tersebut merupakan bagian yang tidak dapat dibagi-bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil tanpa mengubah arti secara drastis. Misalnya / melempar / me- lempar masing-masing adalah morfem. Sebagai keseluruhan dia mempunyai arti tetapi kalau dipenggal lagi menjadi fragmen-fragmen yang lain mel- dan empar dan lain-lain, fragmen-fragmen tersebut tidak mendukung arti. Sebuah
8
morfem tidak sama dengan suku kata atau sulabel. Morfem me- kebetulan saja merupakan satu silabel dalam Bahasa Indonesia tetapi morfem lempar terdiri atas dua silabel. Lebih lanjut sebuah morfem hanya dapat terdiri dari satu fonem saja. Seperti jamak /s/ dalam Bahasa Inggris yang memiliki alomorf /z/. Kita dapat memilih salah satu alomorf-alomorf suatu morfem sebagai bentuk dasar sehingga morfem merupakan konsekuensi dari fonem-fonem. Perbedaan bentuk sebuah morfem berdasarkan buny- bunyi lingkungan ini yang menyangkut hubungan antara morfem dan fonem disebut dengan perubahan morfofonemik.
2.2.5 Asimilasi
Asimilasi adalah proses penyamaan bunyi atau fonem. Artinya dua buah bunyi yang berbeda saling berdekatan cenderung saling mempengaruhi sehingga terjadi proses penyamaan bunyi. Proses penyamaan bunyi itu ada yang secara progresif dan ada secara regresif. Proses asimilasi secara progresif apabila bunyi itu berpengaruh ke depan atau bunyi yang dipengaruhi terletak disebelah kanan bunyi yang mempengaruhi sedangkan asimilasi secara regresif adalah sebaliknya yakni bunyi yang dipengaruhi terletak di sebelah kiri bunyi yang mempengaruhi. Ada satu hal yang penting lagi tentang pengaruh bunyi, yaitu apabila bunyi-bunyi yang saling pengaruh tersebut berada pada kedua posisi, yakni di kanan dan juga di kira. Istilah itu disebut asimilasi resiprokal. Dengan demikian, secara linguistic ditemukan tiga jenis asimilasi, yaitu asimilasi progresif, asimilasi regresif, dan asimilasi resiprokal (lihat Verhaar, 1996).
Ahli lain seperti Chaer (2014: 132) menyebutkan asimilasi adalah peristiwa berubahanya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai cirri-ciri yang sama
9
dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, bunyi /b/
dalam kata sabtu, sering diucapkan sebagai /p/ sehingga menjadi kata saptu. Bunyi /b/
merupakan bunyi hambat bersuara, sedangkan /p/ adalah bunyi hambat tak bersuara.
Ciri-ciri tak bersuara dari /t/ menyebabkan /b/ berubah menjadi /p/ yang tak bersuara tersebut.
2.2.6 Sandhi.
Sandhi sebenarnya berasal dari kata kerja atau verba san ‗mempengaruhi, mendapat, memperoleh, sendi, hubungan efonik bunyi (bahasa). Bertolak dari makna yang termaktub untuk memaknai sandhi dalam kajian ini adalah ―mempengaruhi‖ dan
―hubungan efonik bunyi—bunyi bahasa‖. Adanya unsur saling mempengaruhi menyebabkan terjadi suatu proses perpaduan. Jadi sandhi merupakan proses peleburan atau sintesis dua fonem vokal menjadi satu fonem vokal. Bentuk bhineka dalam tulisan lambang negara RI diadopsi dari leksikal bahasa Jawa Kuna bhina dan ika. Pada bentuk itu terjadi interaksi antara /a/ dan /i/ menyebabkan munculnya bunyi baru /e/. Proses seperti itulah yang disebut sandhi (Parera, 1984:45; Verhaar, 1996 dengan resiprokal).
Hal senada dikemukan oleh Mathews dalam Morphology An Introduction to the Theory of Word Structure bahwa sandhi dalam Bahasa Sansekerta dimaknai sebagai joining
‗kerjasama‘ sehingga konsep sandhi ini disekemakan sebagai actual form yaitu A + B
= F dan dibedakan antara external sandhi dan internal sandhi. Hal inilah yang banyak berpengaruh terhadap bahasa Jawa Kuna yang terkena pengaruh dari Bahasa Sanskerta.
Dengan demikian, bahasa Jawa Kuna mengadopsi istilah sandhi tersebut.
10 2.3 Landasan Teori
Ferdinan de Saussure dengan teori strukturalnya merupakan tonggak awal dari perkembangan linguistik modern (1916). Teori struktural mendapat kritikan-kritikan dari Chomsky dalam buku Syntactic Structures (1957). Dia mengumakan kritikan- kritikan tajam terhadap pendekatan strukturalis mengenai telaah bahasa yang tidak mampu memecahkan berbagai masalah bahasa, utamanya dalam bidang sintaksis.
Sehubungan dengan ketidakpuasan Chomsky terhadap teori linguistic struktural, maka ia memperkenalkan teori tata bahasa generatif transformasional (TGT) sebagai reaksi terhadapnya. TGT oleh ahli-ahli linguistik dianggap sebagai teori mutakhir. Terori transpormasi generatif berlandaskan pada tiga criteria ilmiah, yaitu keajegan diri (self- consistency), kesederhanaan-kehematan (economy), ketuntasan (lihat Ba‘dulu dan Herman, 2005: 67).
Bersandar dari tiga landasan TGT tersebut maka dalam penelitian ini akan ditelaah dengan teori transformasi generataif. Teori TGT merupakan teori yang sangat besar dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistik dunia. Tokoh yang paling monumental dalam TGT adalah Noam Chomsky. Selanjutnya, analisis generatif berkembang dalam bidang morfologi dan fonologi. Salah satunya adalah teori fonologi generatif yang lazim disingkat teori FG. Teori FG pertama kali digunakan oleh Morris Halle (1962 dan 1964). Morris Halle teman Chomsky yang pertama menerapkan prinsif-prinsif generatif. Karangan Halle yang terkenal dan sebagai tonggak awal perkembangan FG adalah The Sound Pattern of Russian yang terbit dua tahun setelah buku Syntactic Structures karangan Chomsky (1959). Gagasan itu diperbaiki dalam Phonology in Generative Grammar (1962) dan On the Bases of Phonology (1964).
Kemudian terbitlah karangan Chomsky dan Halle dalam The Sound Pattern of English
11
(1968) dan lebih dikenal dengan singkatan SPE. Teori tersebut sebagai teori standar atau teori klasik (Yusuf, 1998: 95). Selanjutnya, Schane (1992) menemukan cirri-ciri spesifik, representative, dan keuniversalan masing-masing segmen, yang dilandasi oleh konsep dasar, yaitu adanya bentuk dasar dan bentuk turunan, cirri-ciri pembeda, syarat- syarat struktur morfem, proses fonologis, dan kaidah fonologis. Konsep-konsep tersebutlah kiranya relevan digunakan dalam kajian tentang sandhi dalam bahasa Jawa Kuna.
12 BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1 Tujuan Penelitian
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran umum tentang sandhi. Para mahasiswa atau pun masyarakat luas, sering tidak memahami bentuk- bentuk-bentuk linguistik tersebut yang merupakan perpaduan dua buah morfem yang berdampak fonologis. Dengan adanya hasil penelitian ini, kiranya dapat membantu masyarakat untuk mengetahui lebih jauh tentang bahasa Jawa Kuna yangsangat terpengaruh dengan kata-kata yang bersandhi. Secara historis, istilah sandhi adalah dari bahasa Sanskerta. Di samping tujuan umum di atas, penelitian ini memiliki tujuan khusus yang sangat terkait dengan permasalahannya. Tujuan khusus itu adalah seperti berikut ini.
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan segmen-segmen yang dapat berinteraksi sebagai sandhi dalam bahasa Jawa Kuna.
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan struktur dan kaidah sandhi dalam bahasa Jawa Kuna .
3.2 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tentang bahasa Jawa Kuna sangat penting diketahui dan dipahami oleh berbagai pihak yang menekuni masalah linguistik. Bagi pemerhati bahasa, perkembangan bahasa khususnya bahasa Jawa Kuna saat ini penting diketahui secara lebih actual mengingat bahasa Jawa Kuna merupakan bahasa yang banyak dipakai sebagai pemerkaya kosa kata bahasa daerah lain atau pun bahasa Indonesia.
13
Bahasa Jawa Kuna banyak mewariskan leksikalnya pada bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan bahasa Jawa Kuna pernah sebagai bahasa perhubungan dan administrasi kenegaraan di masa lampau pada saat berkembangnya Kerajaan Majapahit. Di samping itu, hasil penelitian ini juga bermanfaat sebagai inspirasi dalam menulis karya sastra tradisional dan sastra modern dalam usaha pengembangan bahasa dan sastra pada umumnya. Di kalangan linguis, bahasa Jawa Kuna meruapakan bahasa yang telah mati. Namun, bahasa tersebut mewariskan langue yang cukup banyak berupa teks-teks dalam bentuk, prasasti, babad, tutur, parwa, dan kakawin yang layak diungkap lagi kajian-kajian linguistiknya berdasarkan teori dan konsep-konsep yang lebih mutakhir. Seperti yang diungkapkan oleh Saussure (1916) bahwa langue bersifat konkret karena merupakan perangkat tanda bahasa yang disepakati secara kolektif dan marupakan fakta sosial sehingga dapat dipahami walaupun bahasa itu tidak lagi ditemukan penutur aslinya. Dengan kata lain, bahasa Jawa Kuna adalah bahasa yang telah dikategorikan sebaga bahasa mati.
14 BAB IV
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan cara-cara digunakan dalam pelasanaan penelitian.
Cara-cara itu dapat disertai kiat-kiat dan teknik-teknik terkait demi lancarnya proses ilmiah penelitian. Adapun rangkaian metode dalam penelitian ini dijelaskan berikut ini.
3.1 Lokasi Penelitian
Peninggalan karya sastra berbahasa Jawa Kuna paling banyak ditemukan di Bali.Oleh karena itu, Bali merupakan penyelamat karya sastra Jawa Kuna yang mengandung nilai-nilai adi luhung bangsa di masa lampau, serta asal-usul bahasa yang diwarisi saat ini. Dengan demikian, penelitian tentang kegramatikalan BS dalam bahasa Jawa Kuna sepenuhnya dilakukan di Bali karena pewarisan kedua bahasa tersebut banyak ditemukan di Bali.
3.2 Metode dan Teknik Penyediaan Data
Terkait dengan objek kajian maka metode yang digunakanadalahmetode simak.
Metode simak merupakan cara yang digunakan untuk memeroleh data melalui menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis.Metode ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap.Penyadapan penggunaan bahasa secara tertulis terjadi jika peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa bukan dengan orang yang sedang berbicara atau bercakap-cakap, tetapi berupa bahasa tulis, misalnya naskah-naskah kuno, teks narasi, bahasa-bahasa pada media massa, dan lain-
15
lain. Teknik sadap disebut sebagai teknik dasar dalam metode simak karena pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan (Mahsun, 2005: 90--93).
3.3 Metode dan Teknik Analisis Data
Tahapan selanjutnya adalah tahapan analisis data. Pemerolehan data dengan lengkap merupakan tahapan yang sangat menentukan karena pada tahapan ini kaidah- kaidah yang mengatur keberadaan objek penelitian harus dapat diperoleh. Kaidah- kaidah yang ditemukan betapapun sederhananya merupakan inti dari aktivitas ilmiah.Ada dua metode utama yang digunakan dalam analisis data, yakni metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual. Konsep padan adalah membandingkan atau sesuatu yang dibandingkan dan sesuatu itu mesti mengandung makna adanya keterhubungan sehingga padan diartikan sebagai hal menghubung-bandingkan, sedangkan intralingual mengacu pada unsur-unsur yang berada dalam bahasa (bersifat lingual). Metode padan intralingual merupakancara analisis yang diterapkan dengan menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda.Operasional metode dibantu teknik-teknik terkait.Adapun teknik-teknik yang diperlukan adalah teknik hubung- banding menyamakan (HBS) dan teknik hubung-banding membedakan (HBB), dan teknik hubung-banding menyamakan hal pokok (Mahsun, 2005: 111--113; bandingkan dengan Djajasudarma (2006) dengan metode padan dan distribusional; Sudaryanto (1993) dengan metode padan dan agih. Beberapa teknik yang perlu ditambahkan ketika menganalisis adalah teknik balik (permutasi), teknik ganti (substitusi), teknik lesap (delisi), dan teknik perluas atau ekspansi.Penggunaan teknik-teknik ini bertujuan untuk mengetes kegramatikalan suatu konstruksi.
16
3.4 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis
Hasil analisis akan disajikan dalam dua cara, yaitu (a) perumusan dengan kata- kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis dan (b) perumusan dengan menggunakan tanda-tanda atau lambang-lambang tertentu. Kedua cara itu disebut dengan metode informal dan metode formal. Beberapa penyajian dilakukan dengan metode formal, yakni tanda-tanda atau lambang-lambang, antara lain tanda asterisk (*)digunakan untuk menunjukkan suatu bentuk lingual yang tidak gramatikal dan diletakkan sebelum tututran itu, misalnya; (*mencantikdalam bahasa Indonesia), (*niuk dalam bahasa Bali), dan lain sebagainya.
17 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Segmen Bunyi Bahasa Jawa Kuna
Secara umum, bahasa Jawa Kuna memiliki tiga jenis klasifikasi segmen bunyi, yaitu segmen bunyi vokal, konsonan, dan semivokal. Pada kesempatan ini dijelaskan salah satu jenisnya, yakni segmen bunyi vokal. Bahasa Jawa Kuna memiliki segmen bunyi vokal sebanyak tujuh buah vokal dasar, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ê/, dan /ö/.
Interaksi antarsegmen vokal yang menimbulkan terbentuknya segmen baru sering disebut sebagai segmen atau fonem ketiga. Hal seperti itulah dalam bahasa Jawa Kuna diistilahkan dengan sandhi. Sandhi sesungguhnya adalah asimilasi resiprokal dalam teori linguistik. Ketujuh segmen vokal tersebut dalam bahasa Jawa Kuna bersifat fungsional, artinya setiap segmen vokal tersebut dapat sebagai pembeda makna. Di sisi lain, segmen vokal bahasa Jawa Kuna dapat saja bersifat variasi bebas, walaupun salah satu fonem dalam pasangan minimal tersebut berbeda. Namun, segmen yang bersifat variasi bebas bukanlah menjadi bahasan dalam penelitian ini. Untuk melihat sifat fungsional masing-masing segmen vokal tersebut dapat dilihat pada contoh pasangan minimal (minimal peer) dan distribusi fonem berikut ini.
No /a/ /i/ /u/ /è,e/ /o/ / ê/ / ö/ Posisi
1 bala
‗pasukan
‘
bali
‗kembali
balu/walu
‗janda‘
bale
‗bangunan terbuka‘
bêlo - ambö
‗bau‘
a khi r
Duga Dugi
18 (duga-
duga)‘juj ur, tulus hati, terbuka‘
‗sampai‘
adi
‗utama, pertama‘
adu
‗berlawana n‘
Pali (pali- pali)
‗resepsi yang berhubun gan dengan pesta‘
Palu
‗martil, alat pemukul‘
-
2 bala‘pas ukan‘
bila(la)
‗tidur lelap
bulu
‗bulus‘
bèla
‗berbela‘
belut
polo
‗otak‘
bêlo
‗anak kuda‘
höh
‗bunyi desah‘
Teng a h
palih
‗bagi‘
palu‘martil
‘
palêh
‗alpa, lalai‘
Pandam
‗lampu‘
Pandem
‗sesuat u yang dilempa
19
rkan‘
3 alap‘ambi lil‘
ilab‗cem erlang‘
ulul
‗langit- langit dari terpal‘
ebeg ‗tutup pelana yang dihias‘
olah
‗olah‘
êbas
‗potong
‘
êleg
‗sama dengan‘
ölwan=
elö‘gong gongan‘
A w a l
Berdasarkan contoh di atas, semua segmen vokal bahasa Jawa Kuna dapat berdistribusi pada semua posisi, yaitu posisi awal, tengah, dan akhir, kecuali / ê/ tidak dapat berdistribusi pada posisi akhir. Di samping pasangan minimal tersebut, untuk melihat fonem-fonem tersebut berbeda dapat juga dilihat lingkungan yang mirip.
Selain segmen vokal sebagai pembeda makna seperti di atas, segmen bunyi tersebut cenderung berubah akibat segmen bunyi yang berdekatan. Secara teoretis, segmen vokal dalam bahasa Jawa Kuna yang berjajar acap kali saling pengaruh.
Pengaruh dan perubahan segmen bunyi tersebut dapat disebabkan oleh fitur-fitur yang dimiliki dan cara artikulasi masing-masing segmen. Salah satu ciri fonologi generatif adalah analisisnya bersifat morfofonemik. Kaidah morfofonemik dalam bahasa Jawa Kuna sangat produktif. Hal tersebut dikarenakan tipologi morfologis bahasa tersebut tergolong ke dalam tipologi aglutinatif. Tipologi aglutinatif mensyaratkan morfem sebagai dasar pembentukan kata. Satu kata dapat terdiri atas lebih dari satu morfem (lihat lagi Comrie, 1989)..
20
Sejalan dengan ciri tipe aglutinatif dan cirri analisis generatif di atas, maka sandhi merupakan salah satu tipe morfofonemik, yang di dalamnya terdapat interaksi morfem-morfem dalam membentuk kata.. Perpaduan morfem tersebut sering menimbulkan dampak yang bersifat fonemis. Proses seperti itu dalam linguistik lazim disebut proses morfofonemik. Proses morfofonemik sangat produktif dalam bahasa Jawa Kuna. Sandhi merupakan salah satu proses asimilasi. Berlandaskan konsep sandhi di atas bahwa secara teoretis, asimilasi merupakan proses penyambungan dan penyamaan ciri-ciri yang memilikinya. Asimilasi dibedakan atas tiga jenis, yaitu asimilasi progresif, asimilasi regresif, dan asimilasi resiprokal (lihat Parera, 1989;
Verhaar, 1996). Semua segmen bunyi baik konsonan maupun vokal dapat berinteraksi yang menimbulkan suatu dampak fonemis. Misalnya, bunyi nasal velar /ng/ memiliki bermacam-macam alomorf ketika segmen bunyi tersebut berinterkasi dengan segmen vokal, bilabial, dental, palatal, dan sebagainya, seperti pada bentuk /ang-/ + ton --- >
anon ‗melihat‘. Perubahan /ng/ menjadi segmen yang homorgan dengan lingkungan merupakan suatu proses asimilasi. Perubahan itu tampak sangat bervariasi. Hal tersebut tergantung pada lingkungan terdekatnya. Namun, perubahan seperti itu tidaklah dapat disebut sebagai sandhi dalam bahasa Jawa Kuna.
Terkait dengan istilah sandhi, Parera (1989) menjelaskan bahwa sandhi merupakan salah satu bagian dari proses morfofonemik. Contoh yang beliau tampilkan adalah kata bhinneka ‗berbeda itu‘. Secara kasat mata, kata bhinneka tampak sebagai satu bentuk kata. Namun sesungguhnya, kata bhinneka terbentuk dari bentuk dasar bhinna ‗berbeda‘ dan ika ‗itu‘. Model itu sebelumnya diungkapkan oleh Mathews yang diwujudkan dengan actual form, yaitu A + B = F. Kaidah itu mensyaratkan fitur awal masing-masing segmen itu dielaborasi dengan fitur baru. Pembentukan fitur baru
21
diambil dari sebagian cirri yang dimiliki masing-masing segmen yang berinteraksi dan membuat fitur baru dengan ciri-ciri ilmiahnya.. Pengambilan cirri atau fitur itu ditandai dengan penggunaan sistem biner (binery system), yang disimbolkan dengan tanda (±).
Tanda ini menyaratkan suatu segmen memiliki atau tidak memiliki fitur tertentu.
Contoh segmen /p/ dan /b/. Berdasarkan cirri distingtif dan tempat artikulasi bahwa segmen bunyi /p/ dan /b/ adalah segmen dengan fitur [+ anterior], namun kedua bunyi tersebut dibedakan dari fitur kebersuaraan, yaitu /p/ [- bersura] dan /b/ [+ bersuara. Jadi segmen bunyi /p/ [+ anterior, - suara], sementara /b/ [+ anterior, + suara] Demikian pula yang dapat terjadi pada segmen vokal, seperti pada kata bhinneka di atas. Kata bhinna + ika, terdapat dua buah segmen yang berinteraksi, yaitu /a/ dan /i/. Satu- satunya fitur yang dimiliki oleh /a/ [+ rendah], sementara /i/ [ + tinggi, + depan].
Dalam analisis generative, pembentukan segmen baru /e/ ternyata /a/ melepaskan fitur [+ rendah] dan /i/ melepaskan fitur [+ tinggi]. Akhirnya sepakat membentuk segmen baru /e/ dengan fitur yang baru pula, yaitu [- rendah, -tinggi, + tengah].
Sejalan dengan adanya interaksi morfem seperti tersebut, bahasa Jawa Kuna sangat produktif dengan perpaduan atau interaksi segmen vokal. Variasi yang bersifat fonologis tersebut tergantung dari tata letak atau posisi segmen sekitarnya. Beberapa perubahan fonemis yang terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dapat dibentuk seperti berikut ini
4.2 Interkasi Segmen Bunyi sebagai Kaidah Sandhi
/a/ + /a/ --- > /a:/ dalam bahasa Jawa Kuna disimbulkan dengan /à/
/i/ + /i/ --- > /i:/ dalam bahasa Jawa Kuna disimbulkan dengan /ì/
/u/ + /u/ --- > /u:/ dalam bahasa Jawa Kuna disimbulkan dengan /ù/
22 /a/ + /i/ ---> /e/
/a/ + /u/ ---> /o/
/i/ + /a/ --- > /y/ (belum sepenuhnya sebagai sandhi) /u/ + /a/ --- > /w/ (belum sepenuhnya sebagai sandhi)
4.3 Proses sandhi
ma- + ajar --- > mājar ‗berkata‘(prefiks dan bentuk dasar/ bebas) sa- + ajêng --- > sājêng ‗satu minuman‘ (prefiks dan bentukdasar/bebas) ri + ikang ---> rikang ‗ di itu‘ (bentuk partikel dan partikel)
prabhu + uttama --- > prabhuttama ‗raja utama‘ (dua bentuk bebas/dasar) sa- + ujar --- > sojar ‗sekata‘ ( prefiks dan bentuk bebas/dasar) ma- + ulah --- > molah ‗bergerak‘ (prefiks dan bentuk dasar/bebas) maha- + iswara ---> maheswara ‗Dewa Iswara‘ (dua bentuk dasar/bebas) sira + ing --- > sireng ‗beliau di‘ (bentuk bebas dan partikel)
pi- + ambêk --- > pyambêk ‗pikiran‘ (prefiks dan bentuk dasar/bebas) pi- + agêm --- > pyagêm ‗pegangan‘ (prefiks dan bentuk dasar/bebas) ka-/-an + ratu --- > karatwan --- > karaton ‗kerajaan‘
(konfiks dan bentuk dasar/bebas) ka-/-an + datu --- > kadatwan --- > kadaton ‗kerajaan‘
-um-/akên+lêbu ---> lumêbwakên ‗memasukkan‘ (ambifiks dan bentuk dasar),dan sebaginya.
23 4.4 Sandhi dalam Tuturan
Proses sandhi dapat dilihat dalam penggunaan bentuk-bentuk linguistic dalam tuturan. Terkait dengan hasil penelitian ini, tuturan dalam bahasa Jawa Kuna hanyalah berupa teks-teks tulis yang dengan sangat mudah didapati dalam naskah lontar di Bali.
Di samping detemukan dalam naskah lontar, teks-teks bahasa Jawa Kuna juga ditemukan dalam teks yang berbentuk buku. Beberapa contoh penggunaan sandhi dapat dilihat pada kutipan data berikut ini (diambil dari naskah Sakuntala).
(Data 1)
Sadatang nire jero asrama, tan hana sira mpu tapasa, asepi tang asrama.
Malungguh ta sireng panti. Tuminghal ta sireng bhumyagara. Anon ta sira stri paripurneng hayu. Kadi widyadhari manurun aswagata, maweh padyarghacamaniya ri haji, sumambrame tamuy, apan swabhawaning patapi, sarjawàmbeknya ring atithi.
‗Ketika beliau masuk ke dalam asrama, tidak ada mpu pertapa, sepilah asrama itu. Duduklah belau dib alai-balai. Melihat-lihatlah belau di sekeliling halaman rumah. Terlihatlah olehnya seorang perempuan yang sangat cantik, seperti bidadari yang turun menyongsong, serta member Baginda penghormatan air untuk mencuci kaki dan berkumur, sebagai tanda penyambutan kepada tamu, karena sesuai sifat seorang pertapa yang hormat kepada tamu‘.
Pada data (1) di atas terdapat enam bentuk sandhi, yaitu bentuk nire, sireng, sireng, paripurneng, sumambrame, dan sarjawàmbêknya. Bentuk linguistic tersebut Nampak sebagai sebuah kata. Namun, sesungguhnya bentuk tersebut terdiri atas lebih dari satu bentuk linguistic. Bentuk nire, terbentuk dari bentuk morfem bebas nira
‗dia/nya‘ dan bentuk partikel berupa preposisi i. Bentuk sireng terbentuk dari kata sira
24
‗dia‘ dan bentuk partikel preposisi ing. Bentuk kata paripurneng terbentuk dari kata paripurna ‗sempurna‘ dan bentuk partikel preposisi ing. Bentuk sumambrame terbentuk dari bentuk sumambrama ‗menyambut‘ dan i sebagai bentuk preposisi. Sementara sumambrama terbentuk atas bentuk dasar bebas sambrama ‗songsong‘ dan infiks – um- menyatakan suatu tindakan aktif. Semua bentuk yang bersandhi di atas dapat diklasifikasikan ke dalam proses pembentukannya, yaitu segmen /a/ dengan /i/ yang berasasimilasi secara total sehingga membentuk segmen /e/.
Di samping adanya interaksi antara fonem atau segmen /a/ dengan /i/, pada data (1) juga ditemukan interaksi dua buah fonem atau segmen bunyi /a/ dengan /a/.
Interaksi dua buah segmen /a/ menimbulkan adanya segmen /a panjang/, yang disimbulkan dengan /à/. Interaksi segmen /a/ yang dimaksudkan terdapat pada kata, sarjawàmbeknya ‗rasa hormatnya‘. Secara kasat mata, bentuk sarjawàmbeknya nampak seperti satu kata. Namun, kata tersebut sesungguhnya terbentuk atas dua morfem bebas, yaitu sarjawa ‗hormat‘ dan ambek ‗pikiran/rasa‘ serta dilekati dengan enklitik –nya
‗nya‘. Dengan demikian, terbentuklah kata sarjawàmbeknya ‗rasa hormatnya‘. Bentuk sarjawàmbeknya merupakan bentuk aneksi (kelompok kata yang memiliki kepaduan, artinya di antara bentuk-bentuk tersebut tidak mungkin disisipi bentuk linguistic yang lainnya). Apabila dalam bahasa Jawa Kuna dijumpai adanya simbol bunyi tersebut dapat ditengarai sebagai gabungan dua buah segmen sama, yaitu segmen /a/.
(Data 2)
Muwah ta sira mojar:
“Ksamakna nghulun ibu sang ahayu! Mangrêngö nghulun I bhagawan Kanwa, brahmacari rakwa sira tan kêneng stri. Yapwan kita tamolah ri sira, aparan tanggehta de nira, tasyasih tàwarah duga-duga kami denta”
Mangkana ling sang prabhu.
25
‗Lagi(lah) beliau berkata:
―Maafkan(lah) aku ibu/gadis yang cantik! Aku mendengar tentang Bhagawan Kanwa, konon beliau tidak boleh beristri (menjalankan ajaran Brahmacari).
Kemudian kamu diam padanya, bagaimanakah anggapanmu olehnya, Kasihanilah aku, katakanlah yang sebenarnya kepadaku.
Demikian sabda sang raja.
Pada data (2) ditemukan tiga buah bentuk dengan proses sandhi. Bentuk tersebut, yaitu kêneng, tamolah, dan tàwarah. Bentuk kêneng dibentuk dari morfem bebas kena dan bentuk preposisi ing ‗ pada/ke‘. Bentuk tamolah dibentuk dari kata tama ‗masuk‘ dan ulah ‗bergerak/perilaku‘. Kalau dikaitkan dengan konteks kalimat dalam tuturan pada data (2) di atas, bentuk tamolah tidak memiliki kesesuaian makna dengan makna ‗tinggal/diam‘. Oleh karena itu, bentuk tamolah ‗diam/tinggal‘, dapat ditelusuri bentuk dan maknanya. Bentuk tersebut sesungguhnya dibentuk dari bentuk ingkar taman ‗tidak‘ yang mengalami pengerutan/penanggalan /n/ sehingga menjadi tama, kemudian diikuti oleh kata ulah ‗tingkah laku/perilaku‘. Dengan demikian, segmen /a/ pada akhir kata tama dan segmen /u/ pada kata ulah mengalami asimilasi resiprokal dan terbentuklah kata tamolah dan Nampak sebagai sebuah kata.
Selanjutnya, kata tàwarah, terbentuk dari partikel ta ‗lah/kah‘ dan bentuk turunan awarah ‗berkata‘. Bentuk awarah dibentuk dari prefiks a- yang menyatakan makna aktif dan bentuk dasar nomina warah ‗kata-kata/ nasihat‘. Dua buah bunyi yang sama, yaitu /a/ pada bentuk ta dan /a/ yang mengikutinya, maka terbentuklah bunyi /a panjang/ atau /à/dalam fonologi disimbolkan dengan /a:/.
26 (Data 3)
Malawas ta siràgawe tapa, sandeha ta buddhi Hyang Indra mawêdi kadoha ri kendranira. Hana pwa widyadhari sang Menaka ngaranira, pinakaratna ning apsari. Ya ta inujaran sira de Hyang Indra:
‗(Setelah) lama beliau menjalankan tapa (bertapa), kawatirlah hati Hyang Indra takut dikalahkan keindraan(Nya). Ada (seorang) bidadari namanya Sang Menaka, Dialah permatanya bidadari. Ialah diberitahu oleh Hyang Indra.
Pada data (3) terdapat kata-kata sandhi, yaitu siràgawe dan kendranira. Bentuk kata siràgawe terbentuk dari kata pronominal sira ‗beliau‘ dan agawe ‗berbuat‘. Kata agawe terbentuk dari prefiks a- dan bentuk dasar gawe ‗kerja/buat‘. Proses sandhi yang terjadi sama dengan bentuk tàwarah di atas. Demikian pula, bentuk kendranira dibentuk dari konfiks ka-/-an dan indra ‗Dewa Indra‘ dan dilekati bentuk posesif –ira
‗nya‘. Proses yang terjadi pada kata kendranira, sama halnya dengan yang terjadi pada nire, paripurneng, sireng, dan kêneng di atas.
(Data 4)
Tasyasih tànaku sang menaka! Nihan sang wiku magawe tapa, sang Wiswamitra ngaranya. Ya ta wighnani denta, makaphala wurunga ning tapanya.
‗Kasihanilah, ia anakku sang Menaka!, Itu sang pendeta yang membuat tapa (bertapa), sang Wiswamitra namanya. Itulah harus kamu goda supaya terhenti tapanya‘.
27
Bentuk tànaku pada data (4) di atas terdiri atas bentuk partikel ta ‗lah/kah‘ dan anak
‗anak‘ dan posesif ku. Proses sandhi yang terjadi pada bentuk tanaku sama seperti kata tawarah dan siragawe di atas.
(Data 5)
Mojar bhatara Indra, ling nira: “Haywa kita sangsaya sang Menaka!
Sanghyang Bayu sahayanta, meleki gandha ni wastranta ri kalantànglila ri harep sang Wiswamitra. Sanghyang Kama tumihangakna hru nira, amanaha ri twas sang tapa. Nihan ta saraga mahyune kita. Yaya kawighnana tapanya denta”.
‗Dewa Indra berkata, katanya: Jangan engkau kawatir sang Menaka!
Sanghyang Bayu temanmu(nanti), menghamburkan bau kainmu pada waktu kamu bermain-main di hadapan sang Wiswamitra. Sanghyang Kama akan melepaskan panahnya, akan memanah jantung hati sang pertapa. Dengan jalan inilah dia akan jatuh cinta padamu. Jadilah tergoga tapanya olehmu‘.
Pada data (5) proses sandhi terjadi pada bentuk mojar, kalantànglila, dan mahyune. Bentuk mojar terbentuk atas prefiks ma- + ujar. Interaksi antara segmen /a/
dan /u/ menimbulkan munculnya segmen /o/. Proses morfofonemik yang terjadi tersebut sama halnya dengan proses yang tejadi pada bentuk tamolah. Sementara pada bentuk kalantànglila memiliki proses yang sama dengan bentuk tàwarah, siràgawe, tànaku, sarjawàmbek seperti di atas. Bentuk mahyune, sama halnya seperti yang terjadi pada bentuk mareng, sireng, kendranira, nire, paripurneng, sumambrame di atas.
28 4.5 Kaidah Sandhi dalam Fitur Distingtif
Pembentukan kata seperti di atas tidaklah merupakan deskriptif belaka, namun hal tersebut dapat dikaji lebih jelas sebab-sebab terjadinya perubahan fonemisnya.
Interaksi dua buah segmen vokal yang sama, yaitu /a/ + /a/ --- > /a:/ seperti pada majar
‗berkata‘ dan sajeng ‗satu minuman‘. Satu-satunya fitur yang dimiliki oleh /a/ adalah [ + rend.]. Kedua segmen vokal yang berjajar tersebut memiliki ciri yang sama-sama kuat sehingga meleburkan diri menjadi vokal /a:/ atau [+ panj.]. Segmen selanjutnya, yaitu vokal /i/ +/i/ --- > /i:/ seperti pada rikang di situ‘. Segmen /i/ memiliki fitur [+
ting., + depan] memiliki kekuatan yang sama sehingga meleburkan diri manjadi /i:/.
Terakhir adalah segmen vokal /u/ + /u/ --- > /u:/ seperti pada prabhu + uttama --- >
prabhuttama. Segmen vokal /u/ memiliki fitur distingtif [+ blk., + bul.] kedua vokal /u/
yang berjajar tersebut memiliki kekuatan yang sama dan membentuklah segmen vokal baru, yaitu /u:/. Penggabungan dua buah segmen vokal dengan fitur yang sama menjadi vokal panjang dalam bahasa Jawa Kuna dapat dibuatkan kaidah seperti berikut ini.
VV V: K K
[+ sil.][+sil.] [+ panj.] + kons.
+ ant.
+ kor. KVK(V)(K) + mal.
Kaidah di atas menyatakan setiap vokal bergabung dengan vokal yang sama akan menjadi vokal panjang apabila berada diantara konsonan dengan fitur [+ kons. + ant. + kor, + mal.] vokal konsonan dan seterusnya.
29
Interaksi segmen vokal selanjutnya adalah penggabungan segmen /a/ + /u/ ---
> /o/ seperti pada kata sojar ‗seperkataan‘ dan mojar ‗berkata‘. Segmen /a/ dengan fitur [+ rend.] dan /u/ dengan fitur [ + ting., +blk., + bul.] memiliki kekuatan yang sama sehingga kedua segmen tersebut sama-sama meninggalkan satu fiturnya, yaitu [ + rend.] dan [ + ting] dan membentuk segmen ketiga yang bertahan sampai pada segmen /o/. Dengan demikian, segmen /o/ hanya memiliki cirri, yaitu [ - ting., - rend. + blk.].
Proses penggabungan tersebut dapat dibuatkan kaidah fonologis dengan notasi formal berikut ini.
V V V K KVK(V)(K)
+ ting. - ting. + kons.
+rend. + blk. +blk. + ant.
+ bul. - rend. + kor. KVK(V)(K) + mal.
Kaidah di atas menyatakan segmen /a/ [+ rend‘] melebur dengan /u/ [+ ting., + blk.,+
bul.] menjadi /o/ dengan fitur [ + blk., + - ting., - rend.] di antara konsonan dengan fitur [ + kons., + ant., +kor., + mal.] vokal konsonan dan seterusnya.
Interaksi segmen vokal selanjutnya adalah penggabungan segmen /a/ dengan /i/
--- > /e/, seperti pada kata maheswara ‗Dewa Iswara‘ dan sireng ‗beliau di‘. Segmen /a/ dengan fitur [+rend.] dan /i/ dengan fitur [+ting., -blk.]. Segmen /a/ dan /i/ memiliki fitur yang sama kuat saling mempengaruhi sehingga kedua segmen tersebut terpaksa meleburkan diri dengan meninggalkan masing-masing fiturnya. Segmen /a/
meninggalkan [+rend.] dan /i/ meninggalkan [+ting.] dan membentuk satu segmen
30
baru, yaitu /e/ dengan fiturnya [- ting., - blk., -rend., +teg]. Interaksi kedua segmen vokal tersebut dapat dibuatkan kaidah fonologis seperti berikut ini.
V V V K KVK(V)(K) + ting. - ting. + kons.
+rend. - blk. -blk. + ant.
- bul. - rend. + kor. KVK(V)(K) + teg. + mal.
Kaidah di atas menyatakan segmen /a/ dengan fitur [+rend.] bergabung dengan /i/
dengan fitur [+ting., - blk.] menjadi /e/ dengan fitur [-ting., -blk., - rend., + teg.] di antara konsonan dan konsonan dengan fitur [+kons., + ant., + kor., + mal.] diikuti vokal konsonan dan seterusnya.
Interkasi segmen vokal berikutnya adalah segmen /i/ dengan /a/ menjadi /y/, seperti pada kata pyambek ‗keinginan‘ dan pyagem ‗pegangan‘. Segmen /i/ dengan fitur [+ting., +sil., - blk.] dan /a/ dengan fitur [+rend.]. Perbedaan posisi antara segmen /i/ dan /a/ dengan posisi /a/ dan /i/ seperti dijelaskan di atas memiliki kekuatan pengaruh yang berbeda. Interaksi segmen vokal /i/ diikuti segmen vokal /a/
menimbulkan segmen baru, yaitu segmen luncuran /y/ yang disebabkan oleh adanya pertalian yang erat antara vokal tinggi /i/ dengan semivokal. Segmen luncuran /y/ juga memiliki ciri-ciri tinggi, seperti yang dimiliki oleh vokal /i/. Dengan demikian, /i/
berubah dengan meninggalkan ciri silabisnya dan bertahan pada ciri-ciri yang dimiliki oleh /y/, yaitu [+ting., -sil., - kons.]. Selain /i/ dan /a/, perubahan posisi juga terjadi pada segmen vokal /u/ dan /a/. Segmen /u/ dengan fitur [ + ting., +blk., + bul.] dan segmen /a/ [+rend.] berubah menjadi segmen luncuran /w/. Dalam hal ini juga terjadi pertalian vokal tinggi /u/ yang memiliki cirri yang sama dengan semivokal /w/.
31
Penggabungan kedua vokal tinggi /u/ dengan /a/ menyebabkan /u/ berubah menjadi bunyi luncuran /w/. Segmen /u/ meninggalkan cirri silabisnya dan membentuk segmen baru, yaitu /w/ dengan cirri [-sil., - kons., +ting.]. Proses fonologis yang menimbulkan munculnya segmen /y/ dan /w/ dapat dilihat pada kaidah perubahan berikut ini.
{[i, u]} {[y,w]} + [a]
+ sil. - sil + sil.
+ ting. - kons. + +rend.
α bul. α bul.
Kaidah di atas menyatakan segmen /i, u/ dengan fitur [+sil., +ting., α bul.] menjadi /y/,w/ dengan fitur [+sil., +ting., α bul.] jika bergabung dengan segmen /a/ dengan fitur [ +sil., + rend.].
32 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan
Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting, seperti berikut ini.
Kajian fitur distingtif dalam fonologi generatif dapat menjelaskan dampak fonologis dalam bahasa Jawa Kuna, walaupun bahasa tersebut dikategorikan sebagai bahasa mati. Bahasa yang dikategorikan sebagai bahasa mati, apabila memiliki langue yang cukup dapat dijadikan lahan penelitian. Pada warisan langue tersebut dapat ditemui interaksi antar segmen, khususnya segmen vokal. Dalam analisis data menunjukkan bahwa interaksi dua segmen vokal yang sama terjadi pemanjangan vokal.
Dua segmen vokal rendah bergabung dengan segmen vokal tinggi menjadi vokal madya, yaitu /e/ dan /o/ sesuai dengan fitur-fiturnya. Apabila terjadi pertukaran posisi, yaitu segmen vokal tinggi berinteraksi dengan vokal rendah maka segmen yang muncul adalah bunyi luncuran semivokal /y/ dan /w/ sesuai dengan kelas dan fitur segmen tersebut. Bunyi luncuran /y/ dan /w/ tersebut hanya mengambil fitur [+ tinggi] yang dimiliki oleh /i/ dan /u/. Munculnya segmen bunyi baru atau segmen bunyi ketiga mengindikasikan bahwa dalam bahasa Jawa Kuna tidak mengijinkan adanya rangkaian vokal dalam morfem ataupun dalam gabungan morfem.
5.2 Saran
Bahasa Jawa Kuna memiliki langue cukup banyak yang masih memerlukan sentuhan ataupun kajian-kajian para pencinta bahasa. Oleh karena itu, para peneliti disarankan turut berkontribusi dan memberi sumbangsih keilmuannya dalam kajian-
33
kajian tentang bahasa Jawa Kuna. Dengan demikian, hasil penelitian bahasa Jawa Kuna dapat dijadikan pedoman bagi bahasa daerah lain mengingat bahasa tersebut pernah sebagai bahasa pengantar dan adminstrasi pemerintahan pada masa jayanya kerajaan Hindu di Jawa. Hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan.
34
DAFTAR PUSTAKA
Ba‘dulu, Abdul Muis dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Comrie, Bernard. 1989. Language Universals & Linguistic Typology. Chicago: Oxford.
Djajasudarma, Fatimah HJ. T. 2006. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: Refika Aditama.
Erawati, Ni Ketut Ratna. 2014. ―Tipologi Kausatif Formal Bahasa Jawa Kuna‖ dalam jurnal nasional terakreditasi Bahasa dan Seni Universitas Negeri Malang.
Erawati, Ni Ketut Ratna. 2015. MemahamiKlausa dan Kalimat Teks Bahasa Jawa Kuna. Denpasar. Dharma Pura.
Erawati, Ni Ketut Ratna. 2015. ―Eksistensi dan Dinamika Kosa Kata Bahasa Jawa Kuna pada Masyarakat Bali Masa Kini‖ Jurnal Pusat Kajian Bali: Journal of Bali Studies. Universitas Udayana.
Mahsun, 2005.Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya.
Jakarta: PT Raja Grapindo Persada.
Parera, Jos Daniel. 1984. Morfologi. Jakarta: PT. Gramedia.
Simanjuntak, Mangantar. 1990. Teori Fitur Distingtif dalam Fonologi Generatif.
Jakarta: Gaya Media Pratama.
Sudaryanto, 1993.Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta wacana University Press.
Verhaar, P.J. W. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yusuf, Suhendra. 1998. Fonetik dan Fonolgi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Zoetmulder, P. J. 1985. Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang.
Diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ.dari judul asli Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature.Yogyakarta: Djambatan
35 LAMPIRAN
DATA TEKS KAKAWIN Cuplikan Ramayana (sargah I) 1. Hana sira ratu dibya rêngön,
prasasta ring rat musuh nira pranata, jaya pandita ring aji kabeh,
sang Daúaratha nama tamoli.
2. Sira ta triwikrama pîta,
pinakabapa bhatara wisnu mangjanma, inaka nikang bhuwana kabeh,
ya ta donira nimittaning janma.
3. Gunamãnta sang Daúaratha,
wruh sira ring weda bhakti ring dewa, tar malupeng pitra puja,
msih ta sireng swagotra kabeh.
4. Rãgãdi musuh maparö,
ring hati ya tonggwanyatan madoh ring awak, yeka tan hana ri sira,
prawira wihikan sireng niti.
5. Kadi megha manghudanakên, pada nira yar wehakên nikang dãna, dinãnda krêpana ya wineh,
nguni-ngunî danghyang lawan dangacãryya.
6. Mwang satya ta sira mojar, ring anakbi towi tar mrasawada, nguni-nguni yan ri parajana, priyahita sojar niratisaya.
36 7. Saphala sira rãkûakeng rãt,
tuwi sira mitra hyang Indra bhakti têmên, Maheswara ta sira lana,
Siwa bhakti ginöng lana ginawe.
8. Ikanang danurdhara kabeh,
kapwa ya bhakti ri sira pranata matwang, kadi mawwa ta yasa lana,
rùpanya na gong ta kirtti nira.
9. Jñana nira suddha mawulan,
parãrtha gumawe sukã nikang bhuwana, sãksat indra sira katon,
tuhun haneng bhumi bheda nira.
10. Suka sang narendra makurên, dewi nira kapwa yatna yan paniwi, tan hana mambêk irsya,
ri sirang dewi manùt katiga.
11. Kadi harsa sang maharûi,
sakteng rêg sama lan yajur weda, mangkana sang Dasaratha weh, harsa sira ta de mahadewi.
12. Masih ta sang rsi maweh ta sirastra diwya,
Sang Rama Lakûmana pareng winarah mangajya, widyati durjaya-jaya wijaya jayanti,
yekin paweh ri sira dibya amogh úakti.
37 Cuplikan Sargah II
1. He Rãma Laksmana anakku nihan rêngönta, Nãrayanãngúa kita wisnu awakta jati,
sakweh nikang bhuwana nguni dhihãrananta, rãksanta yajna mami denta kamikya yajña.
2. Ai Rama badra kita dibya anugrahanta, bhûlokapãla kita lingkwiki yan hana ngke, Saswargga de nikana tang prethiwi hîdêpku, kabwat nikãn hana Bhatãra Úacipati ngke.
3. Sakwehnya wakta katuturku tinonku mangke, Wisnwangsa dewata kitanaku dibya úakti, ring pûrwakãla Baliraja hilang ya denta, ksîroda sagara nahan pinutêrta nguni.
4. Sêdêng nira kinãryya ratwa ng abhiseka yomeh teka, gêlãna sira sang narendragharini sirang kakayi, anak nira atah sirang bhatara ratwa kahyunira, apan pasamayan sêdêng nira sihoma-somah pwa weh.
5. Ndan tan hana anak nirapara-paran mara sang kaki, sirang bhatara tar wruh ryyangên-angên irang kakayi, sira ta juga magha kimburu tumon sirang raghawa, alah percaya ring ujar samaya ning sumomah sira.
6. Maso sira ri sang Naradhipa Maha mamighnana don, pininta nira sang narendrasuta Rama munggweng alas, anak nira atah ya ratwa kaharêp nirang kakayi,
Gelana ta narendra sang Dasarathasa kepwan sira.
38
7. Ring janmadika meta citta rêsêping sarwa prajangenaka, ring stri madya marohara priya wuwustangde manah kung lulut, yan ring madyana sang pinandita mucap tattwa padesa prihên, yan ring madya nikang musuh mucapaken wak sura singhakretti.
8. Lunghã kulêm rahinakãla wijil hyang arka, mamwit ta sang Dasarathomuliheryayodhya, lãwan nanak nira ta Rãghawa Laksmanãtah, Sita tumùt saparicara pareng umangkat.
9. Lãwan namãtya bhatamatri kabeh manunggang, lunghã sirãhaliwat ing wanadesa rãmya,
kãwit hana pwa mangawit wiku rodrarupa, pañjangnyawak nira satal, mamikul ta langkap.
10. Wok bris kumis nira pisangga jatã nirãwyang, sang Rãma Bhãrgawa ngaran nira tan hanoli, sangkêp sênaddha umasö ta mapatrayudddha, mojar nir ãdara wuwus nira tan hana twang.
11. Ai Rãmadewa aku Rãma ngaranku ring rãt, yan sakti ko papagakên aku yan prawîra, ko mãtya dengku athawã aku mãtya demu, wêntêng larasku yadiyan tuhu saktimãnta.
12. Nã ling nirang Prasurãma mapatrayuddha, Sitã gêlãna kumêtêr ta manon apùrwa,
mojar ta sang Dasarathãsi manêmbah-nêmbah, sangkã ryasih nira maputra lawan mamantu.