• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pada komitmen organisasi terdapat dua sisi yaitu komitmen karyawan terhadap organisasi dan komitmen organisasi terhadap karyawan (Organization Commitment to Employee, OCE) dan Employee Commitment to Organization, ECO).

“Komitmen karyawan terhadap organisasi mencakup keinginan dan kesediaan anggota organisasi untuk bersikap dan berperilaku sesuai sistem nilai organisasi yang menguntungkan bagi perkembangan dan kesejahteraan kedua belah pihak dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi” (Dongoran,2001,p.36).

Dalam penelitian ini yang dibahas adalah komitmen karyawan terhadap organisasi (Employee Commitment to Organization).

Menurut Northcraft and Neale (1990) menyatakan bahwa Komitmen merupakan sikap loyal pekerja kepada organisasinya dan suatu proses terus menerus dimana pekerja tersebut berpartisipasi untuk perbaikan dan keberhasilan organisasi dalam (Djati dan Khusaini, 2003). Komitmen pekerja terhadap organisasi dibedakan oleh variabel yang bersifat pribadi (umur, masa kerja. dan lain-lain) dan organisasi (desain pekerjaan dan gaya kepemimpinan). “Komitmen terhadap organisasi bersifat mutltidimensional karena itu ada tiga komponen untuk mendorong tumbuhnya komitmen” Allen , Natalie j. dan, John P. Meyer (1990). Tiga dimensi tersebut adalah

1. Menurut Allen dan Meyer (1990) komitment afektif (Affective commitment) diartikan sebagai keterikatan emosional atau psikologis kepada organisasi.

Semakin kuat kedekatan identitas seseorang dengan identitas sosialnya (orang yang bekerja dalam organisasi), maka semakin sulit identitas orang tersebut untuk berubah, dengan kata lain semakin sulit orang tersebut untuk keluar dari organisasi.

2. Menurut Allen dan Meyer (1990) komitment continuance (Continuance commitment) diartikan sebagai keinginan untuk tetap bertahan dalam organisasi, merupakan kebutuhan bagi individu, dilandasi pertimbangan bahwa

(2)

seseorang sudah terlalu besar menginvestasikan sumber daya, kapasitas pribadi (pengetahuan dan keterampilan) pada organisasi, sehingga sangat berisiko jika dia harus keluar dari organisasi. Semakin besar investasi seseorang pada organisasi, umumnya diikuti pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan individu yang semakin spesifik, sehingga kecenderungan untuk pindah ke organisasi lain semakin berkurang, karena keahlian spesifik yang dimiliki cenderung sulit ditransfer ke pekerjaan lain atau organisasi lain.

3. Menurut Allen dan Meyer (1990) komitment normatif (Normative commitment) diartikan sebagai komitmen individu pada organisasi karena adanya dorongan keyakinan seseorang untuk bertanggung jawab secara moral dan seharusnya tetap setia kepada organisasi. Pada hubungan individu dengan organisasi, dapat dijelaskan bahwa selayaknya karyawan memberikan kontribusi pada organisasi, karena karyawan telah memperoleh manfaat yang mungkin tidak dapat diperoleh ditempat lain, jika karyawan tidak bergabung dengan organisasi tersebut. Misal karyawan memperoleh kesempatan untuk berkembang, pelatihan, peningkatan kesejahteraan, status, sehingga sudah sepantasnya karyawan memberikan kontribusi pada organisasi di masa mendatang.

Dalam model komitmen yang dikembangkan oleh Meyer dan Allen (1990), tiga pendekatan tersebut adalah komitmen affective, continuance dan normative. Menurut Meyer dan Allen (1990) “Karyawan dengan komitmen affective yang kuat, bertahan dalam organisasi karena mereka “menginginkan”

(want to) karyawan dengan komitmen continuance yang kuat, bertahan dalam organisasi karena mereka membutuhkan” (need to) sedangkan karyawan dengan komitmen normative yang kuat, bertahan dalam organisasi karena mereka merasa

“seharusnya” (ought to) berbuat hal tersebut”. Selanjutnya Meyer dan Allen (1990) berpendapat bahwa orang akan dapat menerima pengertian tentang hubungan karyawan secara lebih baik bila keseluruhan bentuk komitmen yang ada tersebut dipandang secara bersama-sama dalam (Djati dan Khusaini ,2003).

Sebagai contohnya, bahwa seorang pekerja akan mempunyai komitmen normative yang kuat untuk organisasi kalau yang lainnya signifikan (seperti contohnya.,

(3)

orang tua) telah menjadi pekerja jangka panjang dari suatu organisasi atau telah menekankan kepentingan kesetiaan organisasional.

Mowday et. al. (1982) Komitmen terhadap organisasi dalam (Djati dan Khusaini, 2003) didefinisikan sebagai:

1. Adanya keyakinan yang kuat dan penerimaan tujuan serta nilai-nilai yang dimiliki organisasi kerja.

2. Terdapat keinginan untuk mempertahankan diri agar tetap dapat menjadi anggota organisasi tersebut.

3. Adanya kemauan untuk berusaha keras sebagai bagian organisasi.

Steers dan Porter (1991, p.290) memberikan definisi komitmen pada organisasi sebagai kekuatan relatif identifikasi dan keterlibatan individu pada suatu organisasi tertentu, yang diindikasikan dengan adanya keyakinan kuat pada tujuan dan nilai-nilai organisasi, kesediaan melakukan usaha-usaha tertentu bagi kepentingan organisasi serta keinginan kuat untuk terus menjadi anggota organisasi, dapat dijabarkan bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan kekuatan relatif dari identifikasi dan keterlibatan individu dengan organisasi dalam (Djati dan Khusaini,2003)

Komitmen mengandung definisi loyalitas tetapi komitmen lebih dari sekedar loyalitas karena melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi dimana individu memberikan sesuatu dari dirinya untuk membantu organisasi mencapai kesuksesan. Oleh karena itu, komitmen pada organisasi merupakan suatu proses yang berkelanjutan dimana seluruh pelaku yang berkaitan dengan organisasi mengekspresikan perhatiannya pada kepentingan organisasi. Individu yang mempunyai komitmen pada organisasi akan mempunyai perasaan yang positip terhadap organisasi, memperlihatkan adanya keinginan untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi serta memiliki kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan organisasi, dan bersedia untuk bekerja semaksimal mungkin bagi organisasi.

Konsep tentang komitmen karyawan terhadap organisasi ini (disebut pula dengan komitmen kerja), yang mendapat perhatian dari manajer maupun ahli perilaku organisasi, berkembang dari studi awal mengenai loyalitas karyawan

(4)

yang diharapkan ada pada setiap karyawan. ”Komitmen kerja atau komitmen organisasi merupakan suatu kondisi yang dirasakan oleh karyawan yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat terhadap organisasi kerja yang dimilikinya” (Dongoran,2001,p.37).

Menurut Steers dan Porter (1993, p.520) suatu bentuk komitmen kerja yang muncul bukan hanya bersifat loyalitas yang pasif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi kerja yang memiliki tujuan memberikan segala usaha demi keberhasilan organisasi kerja yang bersangkutan dalam (Djati dan Khusaini 2003).

Dari paparan di atas nampak bahwa komitmen organisasi bukan hanya kesetiaan pada organisasi, tetapi suatu proses yang berjalan dimana karyawan mengekspresikan kepedulian mereka terhadap organisasi dan prestasi kerja yang tinggi.

Kepercayaan tersebut membuat komitmen menjadi fleksibel, maksudnya dapat berpindah pindah mengikuti perpindahan individu dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Ikatan psikologis juga dapat tercipta apabila nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh seseorang sesuai dengan misi, tujuan, kebijakan serta gaya pengelolaan perusahaan tempat kerjanya.

Berdasarkan kajian teori yang berkaitan dengan komitmen organisasi terdapat dua sisi yaitu komitmen karyawan terhadap organisasi dan komitmen organisasi terhadap karyawan (Organization Commitment to Employee, OCE) dan Employee Commitment to Organization, ECO). Dalam penelitian ini yang dibahas adalah Employee Commitment to Organization (ECO). Dimana komitmen karyawan terhadap organisasi (ECO) dapat diukur dalam tiga komponen yaitu:

affective, continuance dan normative sebagaimana yang dibahas oleh Allen dan Meyer (1990).

(5)

2.2. Hubungan antar Konsep

Dalam penelitian ini konsep yang dipakai sebagai teori dasar dalam mengukur variabel komitmen pada organisasi adalah teori yang dikemukakan oleh Meyer & Allen (1990), karena selain dapat diketahui seberapa besar komitmen karyawan pada organisasi, juga dapat diketahui bentuk atau pencetus komitmen yang paling menonjol dari para karyawan. apakah komitmen afektif (affective commitment), continuance (continuance commitment) atau normatif (normative commitment).

Dari paparan di atas nampak bahwa komitmen organisasi bukan hanya kesetiaan pada organisasi, tetapi suatu proses yang berjalan dimana karyawan mengekspresikan kepedulian mereka terhadap organisasi dan prestasi kerja yang tinggi. Komitmen organisasi sebagai suatu sikap karyawan, bagaimanapun juga akan menentukan perilakunya sebagai perwujudan dari sikap (Gambar 2.1).

VALUES (basic beliefs)

↓ ATTITUDES (inclination to act)

↓ BEHAVIOR (actions/decisions)

Gambar 2.1. Hubungan antara Nilai, Sikap dan Perilaku

Sumber: Davis dan Frederick (1984) dalam Djati dan Khusaini (2003)

Komitmen organisasi dalam penelitian ini adalah keinginan karyawan untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi dan bersedia melakukan usaha yang tinggi bagi pencapaian tujuan organisasi.

(6)

2.3. Kerangka Berpikir

Sumber :Meyer & Allen (1990)

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir

Organisasi Karyawan

Employee Commitment to Organization

-Affective -Continuance

-Normative

Gambar

Gambar 2.2  Kerangka Berpikir Organisasi  Karyawan Employee Commitment to Organization -Affective -Continuance -Normative

Referensi

Dokumen terkait

Tanpa model fisik mungkin siswa trampil mengerjakan soal- soal prosedural seperti : kesamaan pecahan, kabataku pecahan, mengubah pecahan dari pecahan biasa, campuran ke

Wanita yang cemas atau lelah merasa nyeri pada intensitas tekanan uterus yang lebih rendah. Pada ibu yang sedang dalam proses persalinan ketika mengalami kecemasan dapat

Selain itu terdapat juga pengertian lain mengenai gudang, yaitu gudang adalah sebuah tempat dimana terjadi penghentian aliran barang dan material yang hanya akan meningkatkan

Kotler (2000) pengertian layanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak pada pihak lain dan pada dasarnya tidak berwujud, serta

Komitmen organisasi menurut Mowday, Steers, dan Porter bahwa komitmen organisasi merefleksikan kekuatan perilaku para karyawan terhadap keterlibatan dalam organisasi mereka,

 PTPP: PP Energi Gandeng BUMD NTT Bangun Pembangkit Biomassa  SMGR: Volume Hingga Agustus Penjualan Mencapai 25,2 juta ton  GIAA: Garuda akan Tambah 8 Pesawat

Kenapa seorang fisikawan bisa menghasilkan konsep-konsep yang sekarang dipakai dalam matematika, hal ini dikarenakan fenomena-fenomena alam yang ada di fisika

Pada kegiatan observasi motivasi belajar yang pada siklus 1 pertemuan 1 terdapat 68%, pada observasi kedisiplinan belajar terdapat 68%, selain itu diperoleh