• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB II

LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

Didalam menjawab suatu penelitian diperlukan landasan teori dan kerangka konseptual agar dalam perjalanan penelitian ini tidak melebar dan oleh karena itu perlu dibatasai. Legal theory (teori hukum) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam penelitian, karena teori hukum tersebut, dapat digunakan sebagai pisau analisis untuk mengungkap fenomena-fenomena hukum. Adapun teori yang penulis gunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Kebijakan Penal (Penal Policy)

Masalah penanggulangan dalam kejahatan di masyarakat, tentunya tidak dapat dipisahkan dari konteks pembicaraan mengenai kebijakan penal. Dalam kebijakan penanggulangan kejahatan dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan penal (penerapan hukum pidana) dan juga pendekatan non penal (pendekatan di luar hukum pidana). Kebijakan penal atau penal policy merupakan usaha yang rasional untuk dapat menanggulangi kejahatan dengan menggunakan sarana hukum pidana.1

Istilah dari kebijakan penal mempunyai pengertian yang sama dengan istilah kebijakan hukum pidana (criminal law policy) dan politik hukum pidana (strafrechtspolitiek). Oleh karena itu, penggunaan ketiga istilah tersebut dalam bidang pemikiran mengandung arti yang sama.2 Penal policy tidak hanya mengenai hal teknik peraturan perundang undangan yang dapat dilakukan secara yuridis normative dan sistematik dogmatic tetapi juga melalui pendekatan yuridis faktual yang dapat berupa pendekatan sosiologis, historis dan komparatif. Selain itu, penal policy juga memerlukan pendekatan komprehensif dari berbagai disiplin sosial dan pendekatan integral yang sejalan dengan kebijakan sosial atau kebijakan pembangunan nasional.3

Bagian terpenting dari sistem pemidanaan adalah menerapkan suatu sanksi. Sanksi dalam suatu tindak pidana berperan untuk menegakkan suatu norma.4

1 Barda Nawawi Arief, 1996, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 29.

2 Salman Luthan, Kebijakan Kriminalisasi di Bidang Keuangan, (Yogyakarta: FH UII Press, 2014), hlm. 14.

3 Sudarto, 1981, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung: Alumni, hlm. 159

4 M. Sholehuddin, 2003, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, Jakarta: Rajawali, hlm. 114

(2)

Integrasi dengan dua pendekatan ini diisyaratkan didalam ususkan United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders. dengan ini dilatarbelakangi bahwasannya kejahatan ialah masalah sosial dan masalah kemanusiaan. Oleh karena itu upaya untuk dapat menanggulangi kejahatan tidak hanya dapat mengandalkan penerapan hukum pidana saja, namun juga melihat akar lahirnya persoalan kejahatan ini dari persoalan sosial, sehingga kebijakan sosial juga sangat penting dilakukan.

Usaha penanggulangan kejahatan secara penal, yang dilakukan melalui langkah-langkah perumusan norma-norma hukum pidana, yang di dalamnya terkandung unsur-unsur substantif, struktural dan kultural masyarakat tempat sistem hukum hukum tersebut diberlakukan. Usaha penanggulangan kejahatan melalui sarana penal tersebut dalam operasionalnya dijalankan melalui suatu sistem peradilan pidana yang di dalamnya bergerak secara harmonis dari subsistem-subsistem pendukungnya yakni Kepolisian, Kejaksaan, KPK, Pengadilan, Lembaga Pemasyarakatan serta Advokat.

Kebijakan kriminalisasi merupakan suatu kebijakan dalam menetapkan suatu perbuatan yang semula bukan tindak pidana (tidak dipidana) menjadi suatu tindak pidana (perbuatan yang dapat dipidana). Jadi hakikatnya kebijakan kriminalisasi merupakan bagian dari kebijakan kriminal (criminal policy) dengan menggunakan sarana hukum pidana (penal) sehingga termasuk bagian dari kebijakan hukum pidana (penal policy).5

Pada hakikatnya, kebijakan penal bukan semata-mata pekerjaan teknik perundang- undangan yang dapat dilakukan secara yuridis normatif dan sistematik-dogmatik, tapi juga memerlukan pendekatan yuridis faktual yang dapat berupa pendekatan sosiologis, historis dan komparatif. Di samping itu, kebijakan penal juga membutuhkan pendekatan komprehensif dari berbagai disiplin sosial lainnya dan pendekatan integral yang sejalan dengan kebijakan sosial atau kebijakan pembangunan nasional.6

Pengertian kebijakan atau politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun dari politik kriminal. Menurut Sudarto, Politik Hukum ialah :

a. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi

5 Barda Nawawi Arief, 2006, Tindak Pidana Mayantara Perkembangan Kajian Cyber Crime di Indonesia, Jakarta:

RajaGrafindo Persada, hlm. 20.

6 Muladi, 1991, Proyeksi Hukum Pidana Materiil Indonesia Pada Masa Depan, Pidato Pengukuhan Guru Besar, Semarang: Universitas Diponegoro, hlm. 6.

(3)

pada suatu saat.7

b. Kebijakan dari negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan- peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan untuk apa yang dicita-citakan.8

Penggunaan upaya hukum, termasuk hukum pidana, sebagai salah satu upaya mengatasi masalah sosial termasuk dalam bidang kebijakan penegakan hukum. Di samping itu, karena tujuannya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya, maka kebijakan penegakan hukum inipun termasuk dalam bidang kebijakan sosial, yaitu segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Sebagai suatu masalah yang termasuk masalah kebijakan, maka penggunaan hukum pidana sebenarnya tidak merupakan suatu keharusan. Tidak ada kemutlakan dalam bidang kebijakan, karena pada hakikatnya dalam masalah kebijakan orang dihadapkan pada masalah kebijakan penilaian dan pemilihan dari berbagai macam alternatif.9

Menurut Marc Ancel yang dikutip oleh Barda Nawawi Arief yang menyebutkan bahwa

"penal policy" adalah suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang, tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana Putusan Pengadilan.10

Pencegahan dan penanggulangan kejahatan dengan sarana “penal” merupakan “penal policy” atau “penal law enforcement policy” yang fungsionalisasi/operasionalisasinya melalui beberapa tahap :11

a. Tahap formulasi (kebijakan legislatif);

b. Tahap aplikasi (kebijakan yudikatif);

c. Tahap eksekusi (kebijakan eksekutif).

Dengan adanya tahap formulasi maka upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan bukan hanya tugas aparat penegak/penerap hukum, tetapi juga aparat pembuat hukum; bahkan

7 Sudarto, 1981, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung, Alumni, hlm. 159

8 Sudarto, 1983, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat, Bandung: Sinar Baru, hlm. 20.

9 Barda Nawawi Arief, 1994, Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, hlm 17-18

10 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai ….. op. cit, hlm 23

11 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan … , op. cit., hlm 78-79.

(4)

kebijakan legislatif merupakan tahap paling strategis dari penal policy. Karena itu, kesalahan/kelemahan kebijakan legislatif merupakan kesalahan strategis yang dapat menjadi penghambat upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan pada tahap aplikasi dan eksekusi.

2. Teori Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System)

Pengertian dari “Sistem” menurut etimologis mengandung arti terhimpun antar bagian ataupun komponen (sub sistem) yang saling berhubungan secara beraturan dan merupakan suatu bentuk keseluruhan. Sedangkan Sistem peradilan pidana merupakan suatu jaringan atau network peradilan yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana utamanya, baik hukum pidana materiil, hukum pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana.12 Namun demikian kelembagaan substansial ini harus dilihat dalam kerangka atau konteks sosial. Sifatnya yang terlalu formal apabila dilandasi hanya untuk kepentingan kepastian hukum saja akan membawa kepada ketidakadilan.13 Tujuan akhir peradilan pidana ini tidak lain untuk pencapaian keadilan bagi masyarakat.

Sistem Peradilan Pidana atau SPP adalah sebagai suatu sistem yang pada dasarnya merupakan suatu “open system”, dalam pengertian ini sistem peradilan pidana dalam geraknya akan selalu mengalami interface (interaksi, interkoneksi dan interdependensi) dengan lingkungannya dalam perangkat-perangkat masyarakat : ekonomi, politik, pendidikan dan teknologi serta sub sistem sub sistem dari sistem peradilan pidana itu sendiri (subsystem of criminal justice system).14

Sistem Peradilan Pidana berasal dari kata yaitu “sistem” dan “peradilan pidana”.

Pemahaman mengenai ”sistem” dapat diartikan sebagai suatu rangkaian diantara sejumlah unsur yang saling terkait untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem peradilan pidana di dalamnya terkandung gerak sistematik dari subsistem pendukungnya, yakni kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan, yang secara keseluruhan dan merupakan suatu kesatuan (totalitas) berusaha mentransformasikan masukan menjadi luaran yang menjadi tujuan sistem peradilan pidana yaitu, menanggulangi kejahatan atau mengendalikan terjadinya kejahatan agar

12 Muladi, 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, hlm.

18

13 Ibid, hlm.. 4

14 Muladi, 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: Undip, hlm. 1

(5)

berada dalam batas-batas toleransi yang dapat diterima masyarakat.15

Dalam sistem peradilan pidana diperlukan adanya keterpaduan dan sinkronisasi (syncronisation) antar sub sistem. Menurut Muladi, perlu adanya sinkronisasi struktural (structural syncronisation), sinkronisasi substansial (substancial syncronisation), dan sinkronisasi kultural (cultural syncronisation). Sinkronisasi sangat diperlukan dalam sistem peradilan pidana untuk mencapai fungsi dan tujuan sistem peradilan pidana. Adanya sinkronisasi antar sub sistem yang terlibat dalam sistem peradilan pidana dalam struktur hukum (structural syncronisation) mulai dari lembaga kepolisian sampai pada lembaga pemasyarakatan yang mana merupakan salah satu hal yang sangat menentukan dalam pencapaian fungsi dan tujuan dari sistem peradilan pidana, selain itu juga dipperlukan dukung adanya sinkronisasi substansi hukum (substancial syncronisation) menyangkut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sinkronisasi kultural hukum (cultural syncronisation) menyangkut budaya hukum baik aparat penegak hukum maupun dari masyarakat.16

Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada baik yang terdapat di dalam ataupun di luar Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dapat diterangkan bahwa sistem peradilan pidana di Indonesia mempunyai perangkat struktur atau sub-sistem kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan dan Advokat atau Penasehat Hukum sebagai quasi sub sistem.17 Lembaga pemasyarakatan sebagai sub sistem terakhir dalam lembaga peradilan pidana mempunyai fungsi utama sebagai tempat eksekusi atau pelaksanaan pidana bagi narapidana penjara dan kurungan atas dasar putusan hakim.

Lembaga pemasyarakatan dibebani tugas guna mewujudkan, tujuan sistem peradilan pidana, Tujuan jangka pendek yaitu sistem peradilan pidana bertujuan untuk merehabilitasi, meresosialisasi atau memperbaiki pelaku tindak pidana, Tujuan jangka menengah yaitu sebagaimana fungsi peradilan hukum pidana dan fungsi khusus hukum pidana adalah menciptakan ketertib an umum dan mengendalikan kejahatan sampai pada titik yang paling rendah, Tujuan jangka panjang yaitu sistem peradilan pidana bertujuan untuk menciptakan

15 Mardjono Reksodiputro, 1997, Kriminologi dan System Peradilan Pidana, Kumpulan Karangan Buku Kedua, Jakarta: Lembaga Kriminologi UI, hlm. 140.

16 Muladi, 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: Undip, hlm. 1-2.

17 Rusli Muhammad, 2011, Sistem Peradilan Pidana Indonesia, Yogyakarta: UII Press, hlm. 13-14.

(6)

kesejahteraan sosial masyarakat.18 Selain itu salah satu kegiatan dalam rangkaian kegiatan sistem peradilan pidana tersebut dilaksanakan oleh Balai Pemasyarakatan (BAPAS) yang merupakan bagian dari kegiatan sub sistem pemasyarakatan narapidana atau sub-sub sistem peradilan pidana.19

Sistem peradilan pidana dalam kerangka merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka menegakkan hukum pidana dan menjaga ketertiban sosial, dilaksanakan mulai kerja polisi dalam melakukan penyidikan peristiwa pidana, penuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum, pemeriksaan perkara di pengadilan dan pelaksanaan hukuman di Lapas, Rutan dan Cabang Rutan. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut harus saling mendukung secara sinergis sehingga tujuan dari sistem peradilan pidana tersebut dapat tercapai.20

3. Teori Hukum Darurat (staatsnoodrecht)

Menurut Kim Lane Scheppele, keadaan darurat adalah keadaan suatu negara yang sedang dihadapkan pada ancaman hidup-mati, sehingga membutuhkan tindakan responsif yang dalam keadaan normal tidak mungkin dapat dibenarkan menurut prinsip hukum.21 Ketentuan darurat dalam konstitusi demokratis adalah antitesis terhadap hak yang dijamin secara konstitusional dan pengawasan dan keseimbangan kelembagaan, tetapi ketentuan tersebut diperlukan pada saat situasi darurat yang luar biasa dan keadaan darurat publik.22

Menurut Prof. Iwa Kusuma Sumantri dalam bukunya Ilmu Hukum dan Keadilan (1956) mendefinisikan staatsnoodrecht atau hukum darurat sebagai hukum yang memang sengaja diadakan dalam dan untuk keadaan darurat, yakni keadaan yang sempit dan genting, keadaan yang sangat membayakan.

Keadaan darurat memberikan kemampuan negara untuk melaksanakan aspek keadilan melalui berbagai tindakan yang luar biasa dan bersifat sementara. Pengambilan keputusan yang sangat tersentralisasi, penangguhan kontrol sosial atau demokrasi yang efektif, kebijakan

18 Muladi, 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: UNDIP, hlm. 7

19 Gunarto, Peranan Bapas Dalam Perkara Anak, diunduh dari http://bangopick.wordpress.com/2008/02/09/peranan- bapas-dalamperkara-anak/ diakses tanggal 20 februari 2021

20 Ibid,

21 Scheppele, K. L. (2004). Law in a Time of Emergency: States of Exception and the Temptations of 9/11. Journal of Constitutional Law, Law in a Time of Emergency: States of Exception and the Temptations of 9/11 (upenn.edu), diakses 22 Februari 2021.

22 Drinóczi, T., & Bień-Kacała, A. (2020). COVID-19 in Hungary and Poland: extraordinary situation and illiberal constitutionalism. The Theory and Practice of Legislation, 8(1–2), 171–192.

https://doi.org/10.1080/20508840.2020.1782109, diakses 24 Februari 2021.

(7)

kombinasi antara jangkauan pemerintahan dan administratif, pengesampingan kebebasan sipil, adalah beberapa ciri manakala penetapan status kedaruratan nasional dilakukan oleh pemerintah.23 Pada kasus Covid-19 sebagian besar negara memberi tanggapan hukum yang bersifat lebih memberikan batasan atas hak kebebasan masyarakat dan melakukan pembatasan yang sangat ketat pada aspek aktivitas kehidupan normal. Pembatasan pada berbagai aktivitas ekonomi sosial, berkumpul, bergerak, digunakan untuk memperkuat pelayanan pada aspek medis; serta penangguhan berbagai hal administratif negara serta fiskal yang dijadikan sebagai cadangan negara untuk melindungi hak-hak sosial warga negara apabila terjadi keadaan yang sangat tidak memungkinkan.

Menurut Kim Lane Scheppele, keadaan darurat adalah keadaan suatu negara yang sedang dihadapkan pada ancaman hidup-mati, sehingga membutuhkan tindakan responsif yang dalam keadaan normal tidak mungkin dapat dibenarkan menurut prinsip hukum.24

Prinsip penerapan keadaan bahaya tidak boleh berlama-lama. Hukum darurat diadakan untuk secepatnya menghapuskan bahaya itu kembali ke keadaan damai, aman dan normal.

Fungsi utama hukum negara darurat ialah mengahapuskan segera bahaya itu sehingga kembali normal.25

Hukum darurat termaktub didalam undang-undang darurat yang dibuat oleh Pemerintah dengan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Keadaan mendesak;

2. Keamanan membahayakan dan mengancam terwujudnya negara;

3. Untuk mengatasi keadaan dan kesulitan-kesulitan yang timbul dari keadaan bahaya tersebut

4. Tidak ada kesempatan untuk mendiskusikannya dengan parlemen (dan Senat);

5. Undang-undang hanya berlaku selama keadaan bahaya, B. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Pengawasan

Pengertian dari pengawasan merupakan suatu kegiatan untuk dapat meyakinkan serta

23 Wiratraman, H. P. (2020). Does Indonesian COVID-19 Emergency Law Secure Rule of Law and Human Rights?

Journal of Southeast Asian Human Rights, 4(1), 306, diakses 24 februari 2021.

24 Scheppele, Op.cit

25 Ni‟matul Huda, 2003, Politik Ketatanegaraan Indonesia Kajian Terhadap Dinamika Perubahan UUD 1945, Jakarta: FH UII Press, hlm. 142

(8)

menjamin bahwa pekerjaan telah sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Maka dengan itu pengawasan harus dapat mengukur apa yang telah dicapai, menilai dari kegiatan, mengadakan tindakan dalam perbaikan serta penyesuaian yang dianggap perlu.26

Didalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) istilah dari Pengawasan berasal dari kata

„awas‟ yang artinya yaitu memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan cermat serta seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi pelaporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang telah diawasi.27

Victor M. Situmorang dan Jusuf Juhir menyatakan mengenai pengertian pengawasan ialah setiap usaha dan tindakan dalam rangka untuk mengetahui sampai dimana pelaksanaan tugas yang dilaksanakan menurut ketentuan dan sasaran yang hendak dicapai. Menurut Sondang P.Siagian, Pengertian Pengawasan ialah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.28

M. Manullang mengartikan bahwasannya pengawasan ialah suatu proses dalam menetapkan suatu pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan mengoreksi bila perlu dengan maksud agar supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula.29

Secara umum pengertian dari kata pengawasan didalam lingkungan aparatur pemerintah memiliki tujuan agar terciptanya aparatur pemerintah yang bersih dan beribawa yang didukung oleh suatu sistem manajemen pemerintah yang berdayaguna serta berhasil guna yang mana ditunjang oleh partisipasi masyarakat yang konstruktif dan tertib dalam wujud pengawasan masyarakat ataupun kontrol sosial yang obyektif, sehat dan bertanggung jawab. Selain hal itu pengawasan juga bertujuan agar terselenggaranya tata tertib administrasi di lingkungan aparatur pemerintah, tumbuhnya disiplin kerja yang sehat dan agar adanya kelugasan dalam melaksanakan fungsi ataupun kegiatan serta tumbuhnya budaya malu didalam diri masing- masing aparat.30

26 Mufham Al-Amin, 2006, Manajemen Pengawasan Refleksis & Kesaksian Seorang Auditor, Ciputat: Kalam Indonesia, hlm. 47

27 Sujanto, 1986, Beberapa Pengertian di Bidang Pengawasan, Jakarta: Ghalia Indonesia, hlm 2.

28 Ali Mafud, 2021, Pegertian dan tujuan pengawasan, URL http://www.pengertianpakar.com, pengertian-dantujuan- pengawasan.html, diakses tanggal 20 februari 2021

29 M.Manullang, 1995, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, hlm.18.

30 Victor M. Situmorang dan Jusuf Juhir, 1998, Aspek Hukum Pengawasan Melekat dalam Lingkungan Aparatur Pemerintah, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 26-27.

(9)

Dengan adanya pengawasan pada dasarnya hal ini digunakan sepenuhnya agar supaya menghindari kemungkinan penyelewengan ataupun penyimpangan atas tujuan dan kemanfaatan yang akan dicapai. Dengan adanya sistem pengawasan juga diharapkan dapat membantu melaksanakan secara efektif dan efisien. Dengan adanya sistem pengawasan dapat terciptanya suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan ataupun evaluasi mengenai seberapa jauh pelaksanaan kerja sudah diterapkan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauh apa kebijakan pimpinan yang dijalankan dan sampai sejauh mana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan sistem kerja pengawasan tersebut. Menurut Sujamto mengenai pengertian di Bidang Pengawasan mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan apakah terlaksana sesuai dengan aturan yang semestinya atau tidak.31 Ada beberapa macam jenis dan bentuk pengawasan yang dapat dilakukan, yaitu adalah :32 2) Pengawasan Intern dan Ekstern

Pengawasan intern dilakukan oleh orang ataupun badan lembaga yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Sedangkan, pengawasan ekstern sendiri merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi. Didalam literatur manajemen dikenal beberapa istilah yang terkait dengan pengawasan eksternal yakni social control, cultural control, clan control, dan societal control yakni semua bentuk atau institusi pengawasan masyarakat yang menjamin ketertiban dan dihormatinya norma-norma sosial dan etika masyarakat. Sisi yang berlawanan dengan pengawasan eksternal adalah pengawasan internal, secara harfiah pengawasan internal jelas dilakukan oleh pihak yang berada di dalam organisasi. Dengan kata lain pengawasan internal dilaksankan oleh karyawan/ aparat/ unit yang memang ditugaskan oleh organisasi untuk mengawasi jalannya organisasi.

3) Pengawasan Preventif dan Represif

Pengawasan preventif merupakan pengawasan yang lebih yang dimaksudkan sebagai pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga hal itu tersebut dapat mencegah terjadinya penyimpangan. Berbeda dengan pengawasan represif, pengawasan represif ialah pengawasan yang dilakukan terhadap

31 Sujamto, 1986, Beberapa Pengertian di Bidang Pengawasan, Jakarta: Ghalia, hlm. 20.

32 Mujanid Ramadhan, 2012, Pengertian dan Jenis - Jenis Pengawasan, URL : http://mujahidramadhan.blogspot.com/2012/11/pengertian-dan-jenis-jenis-pengawasan.html, diakses tanggal 23 Februari 2021

(10)

suatu kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan.

4) Pengawasan Aktif dan Pengawasan Pasif

Pengawasan aktif atau dekat dilakukan sebagai bentuk pengawasan yang mana dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan. Hal ini berbeda dengan pengawasan pasif atau jauh yang melakukan pengawasan melalui penelitian dan pengujian terhadap surat-surat pertanggung jawaban yang disertai dengan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran.33

5) Steering Control, Yes-No Control dan Post Action Control

Steering Control, Yes-No Control dan Post Action Control ketiga jenis pengawasan ini dikemukakan oleh William H. Newman. Pengertian dari Steering Control merupakan pengawasan yang mana dilakukan pada saat pekerjaan sedang berlangsung dengan tujuan utama membuat evaluasi dan perkiraan tentang hasil akhir yang akan dicapai untuk dapat mengambil tindakan korektif yang tepat sebelum pekerjaan selesai seluruhnya. Sedangkan pengertian dari yes-no control adalah merupakan suatu pengawasan yang mana memiliki sifat pengujian atau screening test, yaitu apakah suatu pekerjaan dapat dilanjutkan atau tidak. Kemudian mengenai post-action control memiliki pengertian yaitu pengawasan yang dilakukan terhadap pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan dengan membandingkan hasil pekerjaan terhadap standar ataupun dijadikan sebagai tolok ukur yang sudah ditetapkan.

6) Pengawasan menurut bidang yang telah diawasi.

Ada beberapa penulis yang mana berpendapat dan menjelaskan mengenai berapa jenis pengawasan yang hal ini berdasarkan pada bidang yang akan diawasi. Clayton Reeser membedakan pengawasan menjadi beberapa bagian yaitu marketing control, budgetary financial control, non-budgetery financial control, production control, inventroy control, stasticial control, dan sebagainya. Perbedaan dari pengawasan serta dari jenis bentuknya memiliki tujuan yaitu agar dapat memudahkan pelaksanaan pengawasan itu sendiri oleh masing-masing dari organisasi sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang ada.34

Maka dapat disimpulkan bahwa pembebasan bersyarat bisa diajukan dengan memenuhi syarat yang sudah ditetapkan serta dapat mengikuti proses-proses yang sudah diatur dan dijelaskan di atas sampai dengan terbitnya keputusan pemberian pembebasan bersyarat dari

33 Ibid.,

34 Ibid.,

(11)

Direktur Jenderal Pemasyarakatan atas nama Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Tujuan daripada pembebasan bersyarat ialah agar narapidana dapat berinteraksi serta dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan dan narapidana dapat mengembalikan nilai-nilai pada diri narapidana tersebut sehingga diharapkan masyarakat dapat menerimanya setelah menjalani pidana. Tujuan pembebasan bersyarat sangat efektif bagi narapidana yang merupakan Warga Negara Indonesia, karena akan dikembalikan ke masyarakat dan tempat tinggalnya, dan untuk orang asing setelah menjalani pidana akan kembali ke negaranya sehingga nilai-nilai masyarakat dan nilai-nilai moral lainnya adalah tempat tinggalnya yaitu negara yang bersangkutan.

2. Pengertian Narapidana

Menurut kamus hukum (Dictionary of Law Complete Edition), narapidana adalah orang yang tengah menjalani masa hukuman atau pidana dalam Lembaga Pemasyarakatan.35

Menurut Soedjono Dirdjosisworo, terpidana adalah seseorang yang telah merugikan pihak lain, kurang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap Tuhan dan masyarakat serta tidak menghormati hukum, setelah habis menjalani pidananya mereka mau tidak mau harus kembali ke masyarakat.36 Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian bahwa:37 “Narapidana adalah orang hukuman (orang yang sedang menjalani hukuman karena tindak pidana: terhukum)”.

Narapidana adalah orang tersesat yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk berobat.

Pada pasal 1 angka (7) Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS). Terpidana yang dimaksud yaitu seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.38

a. Sebelum istilah narapidana digunakan, yang lazim dipakai adalah orang penjara atau orang hukuman. Dalam Pasal 4 ayat (1) Gestichtenreglement (Reglemen Penjara) Stbl. 1917 No.

708 disebutkan bahwa orang terpenjara adalah : Orang hukuman yang menjalani hukuman

35 M. Marwan & Jimmy P, 2009, Kamus Hukum ( Dictionary of Law Complete Edition), Surabaya: Reality Publisher, hlm. 447.

36 Soedjono Dirdjosisworo, 1984, Sejarah dan Asas-Asas Penologi, Jakarta: Armico, hlm. 26.

37 Pusat Bahasa Pendidikan Nasional, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 774

38 Lihat Pasal 1 angka 7 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan.

(12)

penjara (Gevengenis Straff) atau suatu status/keadaan dimana orang yang bersangkutan berada dalam keadaan Gevangen atau tertangkap;

b. Orang yang ditahan buat sementara;

c. Orang di sel dan

d. Sekalian orang-orang yang tidak menjalani hukuman orang-orang hilang kemerdekaan (Vrijheidsstraaf) akan tetapi dimasukkan ke penjara dengan sah. Menurut Arimbi Heroepoetri, imprisoned person atau orang yang dipenjarakan adalah seseorang yang dihilangkan kebebasan pribadinya atas tindak kejahatan.39

Tujuan dari menjalani pidana ialah hilangnya kemerdekaan pada narapidana adalah untuk mengikuti proses pemasyarakatan. Maksud dari pemasyarakatan dalam Pasal 1 angka (1) Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.40 Pidana yang sering kita kenal dengan hukuman yaitu merupakan sanksi yang sangat berat karena berlakunya dapat dipaksakan secara langsung kepada setiap pelanggar hukum. Adapun macam- macam hukuman yang berlaku sekarang ini yaitu diatur dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana yang terdapat dalam pasal 10 yaitu:41

Pidana pokok terdiri dari:

1) Pidana mati 2) Pidana penjara 3) Pidana kurungan 4) Pidana denda

Pidana tambahan terdiri dari:

1) Pencabutan hak- hak tertentu 2) Perampasan barang- barang tertentu 3) Pengumuman putusan hakim

Narapidana adalah setiap individu yang telah melakukan pelanggaran hukum yang berlaku dan kemudian diajukan ke pengadilan dijatuhi vonis pidana penjara dan kurungan oleh hakim, yang

39 Arimbi Heropoetri, 2003, Kondisi Tahanan Perempuan di Nangroe Aceh Darussalam, Sebuah Pemantauan Komnas Perempuan, Jakarta: Komnas Perempuan, hlm. 6.

40 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

41 R. Soesilo, 1998, Pasal 10 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana ( KUHP), Bogor : Politeia, hlm. 34

(13)

selanjutnya ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan untuk menjalani masa hukumannya.

Pembagian warga binaan:42

1) Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan

2) Anak Didik Pemasyarakatan

a) Anak pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan anak paling lama sampai berumur 18 tahun (delapan belas) tahun.

b) Anak Negara yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

c) Anak sipil adalah anak yang atas permintaan orang tua walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di Lembaga Pemasyarakatan anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

3) Klien Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut klien adalah seseorang yang berada dalam bimbingan Balai Pemasyarakatan (BAPAS).

Dalam rangka memberikan pendidikan dan pengajaran terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan juga terdapat penggolongan narapidana atas dasar:43

a. Umur

b. Jenis kelamin

c. Lama pidana yang dijatuhkan d. Jenis kejahatan, dan

e. Kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan.

Di Indonesia mengatur tentang hak- hak narapidana diatur dalam pasal 14 ayat (1) Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang selanjutnya dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Narapidana yang menyebutkan narapidana berhak untuk :44

1) Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaan.

42 Pasal 1 ayat (5) sampai dengan pasal 1 ayat (9) Undang- Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

43 Lihat Pasal 12 ayat 1 Undang- Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

44 Lihat pasal 14 ayat (1) Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

(14)

a) Berhak melakukan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan b) Berhak mendapatkan pendidikan dan bimbingan keagamaan.

2) Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani.

a) Berhak mendapatkan perawatan rohani melalui bimbingan rohani dan budi pekerti.

b) Berhak mendapatkan kesempatan melakukan rekreasi, olahraga, dan juga berhak atas perlengkapan pakaian, perlengkapan tidur perlengkapan mandi.

3) Mendapatkan pendidikan dan pengajaran.

a) Jika terpidana telah berhasil menyelesaikan pendidikan dan pengajaran, maka berhak memperoleh STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) dari instansi yang berwenang.

b) Berhak belajar di Sekolah Negeri, di tempat latihan kerja yang dikelola oleh lembaga pemasyarakatan dan di tempat kerja milik instansi pemerintah lainnya.

4) Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak.

a) Berhak mendapatkan pelayanan kesehatan melalui pemeriksaan kesehatan yang dilakukan paling sedikit satu kali dalam satu bulan.

b) Berhak mendapatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Pemerintah di luar lembaga pemasyarakatan.

c) Berhak menerima makanan dan minuman dari luar lembaga pemasyarakatan sesuai dengan jumlah kalori yang memenuhi syarat kesehatan.

d) Berhak menerima makanan dan minuman dari luar lembaga pemasyarakatan setelah mendapatkan izin dari kepala lembaga pemasyarakatan.

e) Jika narapidana sedang menjalankan ibadah puasa, maka narapidana berhak mendapatkan makanan tambahan.

5) Menyampaikan keluhan.

Berhak menyampaikan keluhan yang benar-benar telah mengganggu hak asasi narapidana kepada kepala lembaga pemasyarakatan terhadap perlakuan petugas dan sesama penghuni lembaga pemasyarakatan.

6) Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang.

a) Berhak mendapatkan bahan bacaan, berupa media cetak dan elektronik yang disediakan oleh lembaga pemasyarakatan, yang menunjang pembinaan kepribadian dan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(15)

b) Berhak membawa dan mendapat bahan bacaan atau informasi dari media massa dari luar dengan seizin dari kepala lembaga pemasyarakatan

7) Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan.

a) Berhak mendapatkan upah dan premi setelah bekerja di dalam lembaga pemasyarakatan.

8) Menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya.

a) Berhak menerima kunjungan dari keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya (keluarga dan rohaniawan).

9) Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi).

a) Berhak mendapatkan remisi jika selama menjalani masa hukumannya berkelakuan baik (mentaati peraturan dan tidak pernah dikenakan tindakan disiplin) dan telah menjalani masa pidana selama 6 (enam) bulan.

10) Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga.

a) Berhak memperoleh asimilasi dengan ketentuan berkelakuan baik, dapat mengikuti program pembinaan dengan baik, telah menjalani pembinaan selama ½ (satu per dua) masa pidana.

11) Mendapatkan pembebasan bersyarat.

a) Berhak mendapatkan pembebasan bersyarat dengan ketentuan telah menjalani masa pidana sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) dari masa pidana atau minimal 9 (sembilan) bulan, telah memenuhi syarat administrasi dan substantif, serta berkelakuan baik dengan syarat-syarat tertentu diantaranya adalah adanya masa percobaan dan syarat- syarat yang harus dipenuhi selama masa percobaan.

12) Mendapatkan cuti menjelang bebas

a) Berhak mendapatkan cuti menjelang bebas dengan ketentuan telah menjalani masa pidana sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) dari masa pidana, berkelakuan baik selama menjalani pidana sekurang- kurangnya 9 (sembilan) bulan terakhir dihitung sebelum tanggal 2/3 (dua per tiga) masa pidana, dan lamanya cuti menjelang bebas sebesar remisi terakhir, paling lama 6 (enam) bulan.

13) Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

a) Berhak akan politik, hak memilih dan dipilih dan hak keperdataan

(16)

lainnya.

b) Berhak menjadi anggota partai politik sesuai dengan aspirasi dari narapidana.

c) Berhak menggunakan hak pilih dalam pemilu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Khususnya bagi narapidana yang ternyata telah lebih dari satu kali dimasukkan kedalam lembaga pemasyarakatan ataupun juga dikenal dengan recidivist, tidak diperkenakan:45

1. Memperoleh cuti;

2. Mengadakan hubungan secara terbatas dengan pihak luar;

3. Memperoleh asimilasi;

4. Memperoleh lepas bersyarat

Satu-satunya hak yang masih diperoleh oleh para recidivise yang menjalankan pidana mereka di dalam lembaga pemasyarakatan tersebut diatur dalam Pasal 3 huruf b dari Keputusan Presiden RI No. 5 Tahun 1987 tentang Pengurangan Masa Menjalani Pidana (Remisi), yang berbunyi:

Pengurangan masa menjalani pidana tidak diberikan kepada:

a. Narapidana yang dikenakan pidana kurang dari 6 (enam) bulan;

b. Recidivist.

Narapidana kambuhan (recidivist) yang sudah pernah mendapat remisi sebelumya berlakunya Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1987 tidak diberi remisi lagi sampai selesai menjalani sisa pidananya.46

Pengaturan hak narapidana ini harus mengacu pada hak asasi manusia secara internasional, karena setiap negara diwajibkan untuk menghormati hukum hak asasi manusia tanpa terkecuali.

Dengan penetapan hukum Internasional HAM, maka jaminan kolektif untuk perlindungan dan pemenuhannya secara otomatis juga terus dikembangkan. Secara hukum Internasional standar perlakuan narapidana ini diatur dalam setidaknya dua macam konvensi. Hak seseorang untuk tidak dikenakan penganiayaan atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi, atau hukuman yang merendahkan harkatnya jelas termasuk dalam Konvensi Hak- Hak Sipil dan Politik.47

45 P.A.F.Lamintang dan Theo Lamintang, 2012, Hukum Penitensier Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, Ed.2. Cet.2, hlm.180

46 Ibid, hal. 181

47 Lihat pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant On Civil And Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik)

(17)

Hak- hak sipil dan politik adalah hak yang bersumber dari martabat dan melekat pada manusia yang dijamin dan dihormati keberadaannya oleh negara agar manusia bebas menikmati hak- hak dan kebebasannya dalam bidang sipil dan politik. Pasal 10 Konvensi Hak Sipil dan Politik menentukan:48

1. Setiap orang yang dirampas kebebasannya wajib diperlakukan secara manusiawi dan dengan menghormati martabat yang melekat pada diri manusia.

2. Tersangka, kecuali dalam keadaan yang sangat khusus, hanya dipisahkan dari orang yang telah dipidana , dan diperlakukan secara bebeda sesuai dengan statusnya sebagai orang yang belum dipidana.

3. Terdakwa di bawah umur harus dipisahkan dari orang dewasa dan secepat mungkin segera dihadapkan ke sidang pengadilan.

4. Sistem pemasyarakatan harus memiliki tujuan utama memperbaiki dan melakukan rehabilitasi dalam memperlakukan narapidana.

Materi hak narapidana yang terdapat pada pedoman PBB mengenai standar peraturan untuk perlakuan narapidana yang menjalani hukuman (Standard Minimum Rules for the Treatment Prisoner) 31 Juli 1957, yang meliputi:49

1. Buku register;

2. Pemisahan tegur napi;

3. Fasilitas akomodasi yang harus memiliki fentilasi;

4. Fasilitas tempat sanitasi yang memadai;

5. Mendapatkan air dan perlengkapan toilet;

6. Pakaian dan tempat tidur yang layak;

7. Makanan yang sehat;

8. Hak untuk berolahraga di udara terbuka;

9. Hak untuk mendapatkan pelayanan dokter;

10. Hak untuk diperlakukan adil menurut peraturan dan membela diri apabila dianggap indisipliner;

11. Tidak diperkenankan pengurungan pada sel gelapdan hukuman badan;

12. Borgol dan jaket penjara tidak boleh dipergunakan narapidana;

13. Berhak mengetahui peraturan yang berlaku serta saluran resmiuntuk mendapatkan informasi dan menyampaikan keluhan;

14. Berhak mengetahui peraturan yang berlaku serta saluran resmiuntuk mendapatkan informasi dan menyampaikan keluhan; Berhak untuk berkomunikasi dengan dunia luar;

48 Lihat Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant On Civil And Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik)

49 Panjaitan dan Pandapotan Simorangkir, 1995, Lembaga Pemasyarakatan Dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hlm. 74.

(18)

15. Hak untuk mendapatkan bahan bacaan berupa buku- buku yang bersifat mendidik;

16. Hak untuk mendapatkan jaminan penyimpanan barangbarang berharga;

17. Pemberitahuan kematian, sakit, dari anggota keluarga.

Menurut prinsip-prinsip untuk perlindungan semua orang yang berada di bawah tentu bentuk apapun atau pemenjaraan (Body of Principles for the Protection of All Persons Under Any Form Detention or Imprisonment) yang dikeluarkan oleh Majelis Umum Persatuan Bangsa- Bangsa (PBB) pada tanggal 9 Desember 1988 dengan Resolusi 43/173, tidak boleh ada pembatasan atau pelanggaran terhadap setiap hak- hak asasi manusia dari orang- orang yang berada di bawah bentuk penahanan atau pemenjaraan, penangkapan, penahan, atau pemenjaraan harus diperlakukan dalam cara yang manusiawi dan dengan menghormati martabat pribadi manusia yang melekat.50

3. Pengertian tentang Pandemi virus Covid-19

Coronaviruses (CoV) merupakan bagian dari keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu hingga penyakit yang lebih berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) and Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Penyakit yang disebabkan virus corona, atau dikenal dengan COVID-19, adalah jenis baru yang ditemukan pada tahun 2019 dan belum pernah diidentifikasi menyerang manusia sebelumnya.51

Virus corona menyebar secara contagious. Istilah contagion mengacu pada infeksi yang menyebar secara cepat dalam sebuah jaringan, seperti bencana atau flu. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1546 oleh Giralamo Fracastor, yang menulis tentang penyakit infeksi.

Dalam penyebaran secara contagious, elemen yang saling terhubung dalam sebuah jaringan dapat saling menularkan infeksi.52

Virus corona atau biasa disebut Coronavirus adalah sekumpulan virus dari subfamili Orthocronavirinae dalam keluarga Coronaviridae danordo Nidovirales. Kelompok virus ini yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia, termasuk manusia. Pada manusia, coronavirusmenyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, sepertipilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti; SARS, MERS, dan Covid-19sifatnya lebih

50 Bahri. 2009, Perlindungan Hukum Warga Binaan Pemasyarakatan di Rumah Tahanan Negara, Tesis, Perpustakaan FH-UH, Makassar, hlm. 32.

51 Nailul Mona, 2020, Konsep Isolasi Dalam Jaringan Sosial Untuk Meminimalisasi Efek Contagious (Kasus Penyebaran Virus Corona Di Indonesia), Jurnal Sosial Humaniora Terapan Vol. 2 No.2, hlm. 117.

52 Ibid, hlm. 118

(19)

mematikan. Dalam kondisi saat ini, virus corona bukanlah suatu wabah yang bisa diabaikan begitu saja. Jika dilihat dari gejalanya, orang awam akan mengiranya hanya sebatas influenza biasa,tetapi bagi analisis kedokteran virus ini cukup berbahaya dan mematikan. Sedangkan Covid-19 adalah nama resmi untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona.53

Kasus virus corona muncul dan menyerang manusia pertama kali di provinsi Wuhan, China. Awal kemunculannya diduga merupakan penyakit pneumonia, dengan gejala serupa sakit flu pada umumnya. Gejala tersebut di antaranya batuk, demam, letih, sesak napas, dan tidak nafsu makan. Namun berbeda dengan influenza, virus corona dapat berkembang dengan cepat hingga mengakibatkan infeksi lebih parah dan gagal organ. Kondisi darurat ini terutama terjadi pada pasien dengan masalah kesehatan sebelumnya.54

Peningkatan jumlah kasus corona terjadi dalam waktu singkat dan membutuhkan penanganan segera. Virus corona dapat dengan mudah menyebar dan menginfeksi siapapun tanpa pandang usia. Virus ini dapat menular secara mudah melalui kontak dengan penderita.

Sayangnya hingga kini belum ada obat spesifik untuk menangani kasus infeksi virus corona atau Covid-19. Karena alasan inilah pemerintah di beberapa negara memutuskan untuk menerapkan lockdown atau isolasi total atau karantina. Karantina menurut UU Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan adalah pembatasan kegiatan dan/atau pemisahan seseorang yang terpapar penyakit menular sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang- undangan meskipun belum menunjukkan gejala apapun untuk mencegah kemungkinan penyebaran ke orang di sekitarnya (UU No 6 tahun 2018). Beberapa negara yang telah menerapkan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona adalah China, Spanyol, Italia, dan Malaysia. Pemerintah negara tersebut memutuskan lockdown, dengan menutup semua akses fasilitas publik dan transportasi. Warga dihimbau untuk tetap di dalam rumah dan mengisolasi diri, dengan harapan virus tidak menyebar lebih luas dan upaya penyembuhan dapat berjalan maksimal.55

Terkait pemeriksaan virus covid-19 ada beberapa macam cara yang dilakukan jika ditinjau dari sensitivitasnya, yaitu dengan pemeriksaan metode molekur, dengan menggunakan

53 Nur Rohim Yunus,Annissa Rezki, 2020, Kebijakan Pemberlakuan Lockdown Sebagai Antisipasi Penyebaran Corona Virus Covid-19, Salam; Jurnal Sosial & Budaya Syar-i. Vol. 7 No. 3, hlm. 230-231

54 Nailul Mona, Op, Cit, hlm. 119

55 Detik Com, 2020, Syarat Ketat Lockdown, RI Sanggup Nggak, https://finance.detik.com/berita- ekonomibisnis/d- 4943608/syarat-ketat-lockdownri-sanggup-nggak, diakses 17 Oktober 2020, jam 15.33 WIB

(20)

PCR berupa pemeriksaan imunoglobulin sebagai upaya tes screening awal dan dapat dilaksanakan secara massal. Tujuannya adalah untuk secepat mungkin dapat mengetahui kondisi masyarakat yang terpapar positif virus corona, sehingga selanjutnya dapat dilakukan upaya isolasi. Masyarakat dianjurkan untuk mengisolasi diri atau self isolation yang dilaksanakan secara mandiri di rumah dan akan dimonitoring oleh puskesmas atau petugas kesehatan.56

Virus Covid-19 yang sangat mudah menular dan menyebar, mengharuskan kepada pemerintah untuk membuat tatanan baru atau disebut sebagai kondisi New Normal dalam kehidupan di masyarakat. Beberapa peraturan yang melingkupi hajat hidup orang banyak ditetapkan guna mengatur serangkaian teknis pelaksanaan kehidupan di masa pandemi.

Demikian juga di Kementerian Hukum dan HAM RI, melalui keputusan Menteri (Kepmen) Nomor M.HH-19-PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui asimilasi dan integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19. Selain itu, Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 10 Tahun 2020 tentang syarat pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi bagi narapidana dan anak dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 di dalam Lembaga pemasyarakatan.

4. Keadaan Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia

Lembaga pemasyarakatan adalah sebagai tempat pembinaan dengan tujuan agar narapidana dapat kembali menjadi warga masyarakat yang baik yang menyadari segala kesalahannya serta dapat kembali ke dalam masyarakat dengan menjadi manusia yang baik.

Pembinaan narapidana adalah suatu sistem, maka pembinaan narapidana mempunyai bebrapa komponen yang bekerja saling berkaitan untuk satu tujuan.57

Tahun 1964 sistem pembinaan bagi narapidana telah berubah secara mendasar yaitu dari sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan. Sistem pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan narapidana berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas narapidana agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi lagi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat hidup sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.58

56 Nur Rohim Yunus dan Annissa Rezki, Op,Cit, hlm.232

57 CI. Harsono HS., 1995, Sistem Baru Pembinaan Narapidana, Jakarta: Djambatan, hlm. 5.

58 Ibid hlm 6.

(21)

Dengan berubahnya sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan, berubah pula institusinya yang semula disebut sebagai rumah penjara menjadi Lembaga Pemasyarakatan atau biasa disebut sebagai Lapas. Perubahan tersebut berdasarkan Surat Instruksi Kepala Direktorat Pemasyarakatan No. J.H.G.8/506 tanggal 17 Juni 1964. Pada tahun 1995, dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 dalam Lembaran Negara RI Tahun 1995 No. 77 sebagai pengganti Reglemen Penjara 1917, sebutan narapidana juga berubah menjadi warga binaan pemasyarakatan. Istilah lembaga pemasyarakatan dapat disamakan dengan resosialisasi dengan pengertian bahwa segala sesuatunya ditempatkan dalam tata budaya Indonesia, dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat Indonesia.59

Rutan dan Lembaga Pemasyarakatan merupakan fasilitas yang digunakan oleh negara untuk melakukan penahanan bagi tersangka/terdakwa dan napi dalam tahapan penegakan hukum yang berbeda. Rutan diperuntukkan bagi tahanan (tersangka/terdakwa) yang harus ditahan selama proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan di Indonesia (Pasal 1 PP No. 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP). Sedangkan Lapas diperuntukkan bagi napi yang menjalani pidana penjara untuk melaksanakan pembinaan napi atau warga binaan pemasyarakatan di Indonesia. Saat ini kedua fasilitas tersebut di seluruh wilayah Indonesia seringkali mengalami overcrowded. Sri Puguh Utami, Direktur Jenderal Pemasyarakatan mengungkapkan bahwa persoalan overcrowded Rutan dan Lapas menjadi fenomena umum di Indonesia.60

Sebelum munculnya pandemi Covid-19 penahanan dan pemenjaraan secara global selalu berhadapan dengan berbagai isu, terutama mengenai overcrowding dan pemenuhan hak minimum untuk tahanan dan narapidana. Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1955 (disetujui tahun 1957) menetapkan Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners. Khusus berkaitan dengan kesehatan, standar minimum ini menegaskan untuk akomodasi, setiap tahanan dan narapidana harus memiliki sel atau kamarnya sendiri. Kecuali apabila terjadi yang disebut di dalam standar ini sebagai „temporary overcrowding‟. Berkaitan dengan kebersihan diri individu, lembaga diharuskan menyediakan air yang cukup. Layanan kesehatan, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan mental, harus disediakan dalam hubungan yang dekat dengan layanan kesehatan masyarakat umumnya. Di dalam UU Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan,

59 Sudarto, 1986, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Alumni, hlm. 27.

60 Kompas, 2019, Semua Penghuni Rutan Siak Dipindah, diakses 18 Oktober 2020, jam 14. 45 WIB

(22)

pasal 14, juga ditegaskan bahwa salah satu hak dari narapidana adalah mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak. Kondisi overcrowding menjadi faktor utama yang menyebabkan sulitnya Lapas atau Rutan di berbagai negara termasuk Indonesia, di dalam memenuhi standar minimum tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Sanusi et.al.

menyimpulkan bahwa sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, termasuk obat-obatan di dalam unit teknis Pemasyarakatan belum sesuai dengan standar. Klinik kesehatan di dalam Lapas atau Rutan belum sepenuhnya memiliki tenaga kesehatan seperti dokter. Salah satu dampak dari kondisi adalah semakin rentannya masalah kesehatan tahanan dan narapidana.61

Data yang dirilis oleh Ditjen Bapas pada awal bulan Mei 2020 jumlah penghuni Lembaga Pemasyarakatan mengalami kelebihan penghuni (overcrowding) hingga mencapai 104% kini mengalami penurunan karena kebijakan asimilasi dan integrasi sebesar 76,01 %. Kapasitas Lembaga Pemasyarakatan yaitu 132.330 dihuni oleh 232.526 orang. Kondisi Lapas yang begitu padat tidak memungkinkan dilakukan social distancing maupun physical distancing. Bahkan penyediaan alat kebersihan untuk membersihkan tangan dengan sabun maupun hand sanitizer juga terbatas jumlahnya. Berdasarkan pertimbangan dan rasa kemanusiaan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia telah membebaskan lebih dari 37.014 narapidana dan 2.259 tahanan anak di bawah program asimilasi dan integrasi COVID-19, pemerintah berencana untuk membebaskan total 50.000 tahanan.62

Kondisi Lembaga Pemasyarakatan yang mengalami overcrowded akan berdampak pada rendahnya pemenuhan hak-hak tahanan dan napi. Hal tersebut juga akan menimbulkan dampak yang lain dalam pengaturan pengelolaan Lapas seperti sipir kewalahan melaksanakan tugasnya karena beban kerja yang tidak sesuai dengan kapasitas dan cenderung melakukan kekerasan untuk memudahkan pengaturan tahanan dan napi. Selain itu overcrowded akan menyebabkan anggaran negara untuk pembiayaan pengelolaan Rutan dan Lapas membengkak. Pada tahun 2019 pemerintah menyiapkan anggaran biaya makan tahanan dan napi sebesar Rp. 1,79 triliun dengan rata-rata biaya makan Rp. 20 ribu per napi/tahanan tiap harinya.63

61 Ahmad Sanusi, et.al., 2018, Analisis Terhadap Pelaksanaan Layanan Kesehatan Bagi Tahanan, Narapidana, dan Anak Didik Pemasyarakatan, Jakarta: Balitbangkumham Press, hlm. 15

62 Jakarta Post, Police 135 Early released prisoners have reoffended during pandemik in Indonesia, https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/26/police-135-early-released-prisoners-have- reoffended- during- pandemik-in-indonesia.html%0D, diakses 5 oktober 2020, jam 23.35 WIB

63 Marfuatul Latifah, 2019, Overcrowded Pada Rumah Tahanan Dan Lembaga Pemasyarakatan Di Indonesia:

Dampak Dan Solusinya, Jurnal bidang hukum Vol. XI, No.10, hlm. 3

(23)

Biaya tersebut belum termasuk biaya pemeliharan sarana dan prasarana Lapas atau Rutan. Anggaran yang tersedia tidak sesuai jumlah tahanan dan napi yang ada, sehingga tahanan dan napi tidak mendapatkan fasilitas mendasar yang memadai. Fasilitas yang dimaksud adalah tempat tinggal yang layak (luas sel) yang memadai, sanitasi yang bersih, dan perawatan medis.

Tahanan dan napi yang ada dalam Rutan dan Lapas yang mengalami ketidakpuasan akan kondisi tersebut mudah tersulut emosi yang kemudian berpotensi menciptakan kerusuhan di dalam Rutan dan Lapas. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya aksi kerusuhan di dalam Rutan maupun di Lembaga pemasyarakatan yang dipicu oleh tahanan maupun napi. Khusus bagi Lapas, segala keterbatasan yang ditimbulkan oleh overcrowded menyebabkan tujuan pemasyarakatan bisa tidak tercapai. Sehingga napi tidak cukup siap untuk kembali pada masyarakat ketika selesai menjalani pidana penjara. Sebagai contoh terbatasnya program rehabilitasi bagi napi sehingga tidak semua napi yang menjalani pidana mengikuti program peningkatan keterampilan.64

Tujuan sistem pemasyarakatan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan dinyatakan bahwa: “Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab.”

Salah satu realisasi pengintegrasian narapidana dengan masyarakat adalah melalui pemberian Asimilasi, yang merupakan bagian dari program pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan telah mencantumkan pasal yang mengatur tentang hak-hak narapidana, yaitu Pasal 14 ayat (1), Pasal 22 ayat (1) dan Pasal 29 ayat (1). Dalam pasal-pasal tersebut hak-hak narapidana dan anak pidana diatur dan dijamin, sebagai bukti adanya pengakuan hak asasi manusia yang mengharuskan mereka diperlakukan sebagai subyek dengan kedudukan sejajar dengan manusia lain. Asimilasi juga merupakan bagian dari hak Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga binaan Pemasyarakatan dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (HAM RI) Nomor 03 Tahun 2018 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas

64 Ibid, hlm. 3

(24)

dan Cuti Bersyarat.65

Di tengah pandemi corona, penjara menjadi tempat yang berisiko. Persoalannya, banyak penjara yang tak layak huni lantaran kelebihan kapasitas. Kebijakan jaga jarak atau social distancing mustahil diterapkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendesak pemerintah di berbagai negara di dunia untuk membebaskan narapidana berisiko rendah. United Nations News akhir Maret lalu memberitakan bahwa Komisioner PBB di bidang hak asasi manusia Michelle Bachelet mendesak pemerintah Negara di dunia untuk segera mengambil kebijakan terhadap narapidana terkait dengan corona virus ini.

“She encouraged authorities to examine ways to release those particularly vulnerable to COVID-19 – older detainees and those who are sick, among them – as well as low-risk offenders.

They should also continue to provide for the specific health-care requirements of women prisoners, inmates with disabilities and juvenile detainees”

Dia mendorong Otoritas untuk mengkaji cara membebaskan mereka yang paling rentan terhadap Covid-19, di antara mereka tahanan berusia lanjut dan mereka yang sakit, begitu juga para pelanggar berisiko rendah. Mereka (pemerintah) juga harus terus memenuhi persyaratan perawatan kesehatan khusus bagi narapidana wanita, narapidana penyandang cacat dan tahanan remaja.66

Di Indonesia, pemerintah menerapkan pembebasan narapidana melalui program asimilasi dan integrasi terkait Covid-19 mulai 31 Maret lalu. Asimilasi ini dapat dipahami sebagai usaha membaurkan narapidana ke dalam masyarakat guna mengembalikan fungsi sosial narapidana menjadi bagian dari masyarakat seutuhnya. Kebijakan pembebasan ini mengacu pada Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Menkumham RI) Nomor 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi Bagi Narapidana dan Anak Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19. Pelaksanaan pembebasan narapidana ini diatur lebih lanjut dalam Keputusan Menkumham RI Nomor M.HH- 19.PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak Melalui

65 Niyan Ati Trisnawati, 2020, Pemberian Asimilasi Dan Integrasi Terhadap Narapidana Dan Anak Dalam Rangka

Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19 (Studi Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas Iia Malang), Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum Vol. 26 Nomor. 24, Agustus 2020, hlm. 1766.

66 UN News, 2020, UN Rights Chief Urges Quick Action By Governments To Prevent Devastating Impact Of COVID 19 In Places O Detention, https://news.un.org/en/sites/all /themes/bootstrap_un_news/favicon.ico diakses 18 Oktober 2020, jam 21.30 WIB

(25)

Asimilasi dan Integrasi Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

5. Pengertian Asimilasi dan Hak Integrasi

Pengertian mengenai asmilasi berasal dari bahasa latin yaitu assimilare yang memiliki arti

“menjadi sama”.67 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI asimilasi adalah penyesuaian atau peleburan sifat asli yang dimiliki dengan sifat dengan lingkungan sekitar.68 Asimilasi sendiri ditandai dengan adanya upaya-upaya yang mana untuk mengurangi adanya perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara perorangan ataupun sekumpulan manusia. Bila individu manusia melakukan asimilasi dalam suatu kelompok, berarti individu manusia dan kelompok akan melebur. Dalam proses peleburan ini terjadi pertukaran unsur budaya. Pertukaran terjadi apabila suatu individu atau kelompok menyerap budaya kelompok lainnya. Menurut Soerjono Soekanto, yakni:69

“asimilasi didefinisikan sebagai suatu proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok- kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama”.

Apabila sesorang melakukan asimilasi kedalam suatu kelompok manusia atau masyarakat, maka dia tidak lagi dapat membedakan dirinya dengan kelompok tersebut sehingga mengakibatkan bahwa dirinya dianggap sebagai orang asing. Dalam asimilasimereka mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan- kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok.

Apabila dua kelompok manusia mengadakan asimilasi, batas-batas antara kelompok-kelompok tadi akan hilang dan keduanya lebur menjadi satu kelompok. Secara singkat asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama, walaupun kadangkala bersifat emosional, dengan tujuan untuk mencapai kesatuan, atau paling sedikit mencapai integrasi dalam organisasi, fikiran dan tindakan.70

Asimilasi menurut Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 03 Tahun 2018 bahwa Asimilasi adalah proses pembinaan Narapidana dan Anak yang dilaksanakan dengan membaurkan Narapidana dan Anak dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini asimilasi

67 D. Hendropuspito,1989, Sosiologi Semantik, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 233.

68 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 52

69 Soerjono Soekanto, 1990, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, hlm. 83.

70 Ibid.,

(26)

merupakan proses sosial antara pelaku pelanggar hukum dengan kelompok sosial tertentu dengan tujuan agar secara individu mereka dapat melebur dan menyesuaikan budaya kelompoknya.

Terdapat tujuh tingkatan asimilasi menurut Milton M. Gordon (1968) yang dikutip oleh Poerwanti Hadi Pratiwi, yaitu :71

1. Asimilasi budaya atau perilaku (cultural or behavioral assimilation), berhubungan dengan perubahan pola kebudayaan guna menyesuaikan diri dengan kelompok mayoritas.

2. Asimilasi struktural (structural assimilation); berkaitan dengan masuknya kelompok minoritas secara besar-besaran ke dalam klik, perkumpulan, dan pranata pada tingkat kelompok primer dari golongan mayoritas Asimilasi perkawinan (marital assimilation), berkaitan dengan perkawinan antargolongan secara besar-basaran

3. Asimilasi identifikasi (identificational assimilation); berkaitan dengan kemajuan rasa kebangsaan secara eksklusif berdasarkan kelompok mayoritas

4. Asimilasi penerimaan sikap (attitude receptional assimilation); menyangkut tidak adanya prasangka (prejudice) dari kelompok mayoritas.

5. Asimilasi penerimaan perilaku (behavior receptional assimilation); ditandai dengan tidak adanya diskriminasi dari kelompok mayoritas.

6. Asimilasi kewarganegaraan (civic assimilation), berkaitan dengan tidak adanya perbenturan atau konflik nilai dan kekuasaan dengan kelompok mayoritas.

Pada saat melakukan asimilasi membutuhkan suatu proses, proses ini membutuhkan suatu prasyarat, yaitu bila terjadi saling penyesuaian diri sehingga memungkinkan terjadinya kontak dan komunikasi sebagai landasan untuk dapat berinterakasi dan memahami diantara kedua etnis.

Maka akan terbentuk satu kesatuan definisi dalam menafsirkan suatu ungkapan atau simbol- simbol dari lawan bicara. Terbentuknya satu kesatuan definisi ini akan memudahkan dan memperlancar suatu interaksi disegala bidang kehidupan. Menurut P. Hariyono dengan mengutip pendapat Milton Gordon bahwa asimilasi menyangkut banyak dimensi kehidupan. Dia telah merinci bentuk asimilasi sebagai proses sosial yang menyangkut baik kelompok mayoritas maupun minoritas dalam tujuh bentuk asimilasi yang berkaitan satu sama lain, yaitu: Asimilasi kebudayaan (akulturasi) yang bertalian dengan perubahan dalam pola- pola kebudayaan guna penyesuaian diri dengan kelompok mayoritas.72 Berdasarkan pengertian Asimilasi terkhusus di

71 Poerwanti Hadi Pratiwi, Asimilasi Dan Akulturasi: Sebuah Tinjauan Konsep, hlm. 7

72 Drs. P. Hariyono, 1994, Kultur Cina dan Jawa: Pemahaman Menuju Asimilasi Kultural, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hlm. 15.

Referensi

Dokumen terkait

Bila hanya terfokus pada siapa pihak yang berkonflik dan kekerasan yang mereka lakukan saat berkonflik, maka masyarakat tidak akan mengetahui mengapa pihak-pihak

Tata kelola data, di sisi lain, berfokus pada menciptakan konteks bagi organisasi untuk menyelaraskan upaya pengelolaan data dengan tujuan bisnis, mendukung kepatuhan

Sedangkan dalam arti yang luas, komunikasi pembangunann meliputi peran dan fungsi komunikasi (sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik) di antara semua pihak

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang maha Esa karena atas nikmat-Nya penyusunan Laporan Kuliah Kerja Magang (KKM) STIE PGRI Dewantara Jombang dapat diselesaikan tepat

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi dan masukan bagi pihak produsen/perusahaan dalam usaha meningkatkan persepsi harga, desain produk, citra merek dan

(5) Pengusaha atau pengurus dan dokter wajib menyusun pedoman pemeriksaan Kesehatan Sebelum Kerja yang menjamin penempatan tenaga kerja sesuai dengan kesehatan dan pekerjaan

Selama ini, perhitungan kebutuan air irigasi masih berpedoman pada buku KP - 01 tahun 1986 dan tahun 2013, yang mengasumsikan bahwa besaran hujan efektif adalah sama

Objektif kajian ini adalah untuk mengenal pasti tahap perlaksanaan skop kerja pemeriksa tapak di tapak bina di samping mengenalpasti masalah-masalah yang dihadapi