• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Miopia Menurut Ilmu Kedokteran konvensional 1. Anatomi dan Fisiologi Penglihatan

a. Anatomi Penglihatan

Mata merupakan organ visual yang terdiri dari bola mata (Bulbus oculi) dan struktur tambahan (Structurae oculi accessorae) (Paulsen &

Waschke, 2012). Bola mata terletak di suatu cavitas yang menyerupai pyramid segi empat berongga dengan dasar yang mengarah ke anteromedial dan apeks ke posteromedial. Bola mata terdiri atas kornea dan nervus opticus. Bola mata terdapat di dalam orbita bersama dengan struktur visual lainnya. Wilayah orbital adalah area wajah yang menutupi orbita dan bola mata, termasuk kelopak mata atas dan bawah serta aparatus lakrimal (Moore dan Dalley, 2013). Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm (Riordan-Eva & Witcher, 2009).

Gambar 2.1 Anatomi Mata Sumber: (Willoughby et al., 2010)

(2)

Mata memiliki beberapa bagian, yaitu:

1) Konjungtiva

Konjungtiva adalah membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet yang berfungsi membasahi bola mata terutama kornea (Ilyas dan Yulianti 2017).

2) Sklera

Sklera merupakan lapisan luar berwarna opak yang menutupi lima perenam posterior bola mata. Sklera memiliki ketebalan 0,5 mm, terdiri atas jaringan ikat padat, dan relatif avaskular. Di bagian posterior sklera akan menebal dan bergabung dengan epineurium yang melapisi nervus opticus (Mescher, 2011).

3) Kornea

Kornea adalah selaput bening yang menutupi seperenam anterior bola mata. Kornea memiliki lima lapisan yaitu :

a) Epitel

Epitel pada kornea memiliki ketebalan 550 µm dan terdiri atas lima lapis epitel tidak bertanduk, sel basal, sel poligonal, dan sel gepeng.

b) Membran bowman

Membran bowman terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur.

c) Stroma

Stroma menyusun sekitar 90% ketebalan kornea. Stroma tersusun atas jalinan lamella serat serat kolagen yang memiliki tinggi 1-2 µm dan lebar sekitar 10-250 µm.

d) Membran descement

Membran descement merupakan membran aselular yang sangat elastis. Saat lahir tebalnya sekitar 3 µm dan terus menebal hingga 10-12 µm.

(3)

e) Endotel

Endotel berasal dari mesotelium, berbentuk heksagonal, besar 20-40 µm dan hanya memiliki satu lapis sel. Endotel-melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden (Ilyas, 2010).

4) Koroid

Koroid merupakan lapisan yang sangat vaskular pada dua pertiga posterior mata yang tersusun atas jaringan ikat longgar bervaskular yang banyak mengandung fibroblast, melanosit, serat kolagen dan elastin, limfosit, makrofag, sel mast, dan sel plasma.

Koroid memiliki banyak pembuluh darah yang berfungsi untuk memberi nutrisi pada retina bagian terluar yang terletak di bawahnya (Mescher, 2011).

5) Pupil

Pupil pada anak-anak berukuran kecil akibat belum berkembangnya saraf simpatis, pupil pada orang dewasa adalah sedang, dan pada orang tua pupil akan mengecil akibat rasa silau yang dibangkitkan oleh lensa yang sklerosis. Fungsi mengecilnya pupil adalah untuk mencegah aberasi kromatis pada akomodasi.

6) Korpus Siliaris

Korpus siliaris membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris. Korpus siliaris terdiri atas pars plicata dan pars plana. Processus siliaris berasal dari pars plicata yang merupakan pembentuk aqueous humor.

7) Iris

Iris merupakan perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Di dalam stroma iris terdapat sfingter dan otot dilator. Iris mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata dengan mengecilkan (miosis) atau melebarkan (midriasis) pupil.

(4)

8) Retina

Retina merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya dan terdiri atas sembilan lapisan, yaitu :

a) Membran limitans interna merupakan membran hialin antara retina dan corpus vitreum.

b) Lapisan serat saraf mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju nervus opticus.

c) Lapisan sel ganglion.

d) Lapisan pleksiform dalam merupakan tempat sinaps sel ganglion dengan sel bipolar dan sel amakrin.

e) Lapisan inti dalam (nukleus dalam) merupakan tubuh sel muller, sel horizontal, dan sel bipolar.

f) Lapisan pleksiform luar merupakan tempat sinaps sel fotoreseptor dengan sel horizontal dan sel bipolar.

g) Lapisan inti luar (nukleus luar).

h) Membran limitans eksterna.

i) Lapisan fotoreseptor terdiri atas sel batang dan sel kerucut.

j) Epitel pigmen retina (Sherwoord, 2014).

9) Lensa

Lensa merupakan struktur bikonkaf yang transparan dan avaskular dengan tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Terletak di posterior iris dan anterior vitreous humor. Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamentum suspensorium atau zonula zinni yang tersusun atas banyak fibril. Enam puluh lima persen lensa terdiri atas air dan sekitar tiga puluh lima persennya terdiri atas protein (Riordan- Eva & Witcher, 2009).

10) Aqueous Humor

Aqueous humor diproduksi oleh korpus siliaris. Aqueous humor memberi nutrisi untuk kornea dan lensa yang tidak memiliki pembuluh darah. Aqueous humor akan masuk ke camera oculi

(5)

posterior, berjalan melalui pupil ke dalam camera oculi anterior, dan bermuara ke dalam sinus venosus sklera atau canalis sclem (Moore et al., 2013).

11) Vitreous Humor

Vitreous humor merupakan cairan yang berada di dalam corpus viterum. Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata agar tetap bulat. Berfungsi untuk mentransmisi cahaya, menahan retina, dan menopang lensa (Moore et al., 2013).

b. Fisiologi Penglihatan

Bola mata memiliki empat media refraksi. Media refraksi adalah media yang dapat membiaskan cahaya yang masuk ke mata, yaitu lensa, kornea, aqueous humor, dan vitreous humor. Agar bayangan dapat jatuh tepat di retina, cahaya yang masuk harus mengalami refraksi melalui media tersebut. Jika terdapat kelainan pada media refraksi, cahaya mungkin tidak jatuh tepat di retina. Proses penglihatan terdiri dari empat tahap, yaitu :

1) Tahap pembiasan

Tahap pembiasan terjadi di kornea, lensa, dan corpus viterum. Hasil pembiasan tergantung pada besarnya kelengkungan lensa.

2) Tahap sintesa fotokimia

Tahap ini terjadi di fovea. Proses kimia yang terjadi akan merangsang dan menimbulkan impuls listrik.

3) Tahap pengiriman sinyal sensoris

Impuls listrik akan diantar oleh serabut saraf ke pusat penglihatan di otak.

4) Tahap persepsi di pusat penglihatan.

Cahaya yang melewati kornea akan diteruskan melalui pupil, kemudian di fokuskan oleh lensa ke bagian retina. Cahaya harus melewati lapisan ganglion dan bipolar sebelum mencapai fotoreseptor. Fotoreseptor pada retina mengumpulkan informasi

(6)

yang di tangkap mata, kemudian sinyal tersebut di kirimkan ke otak melalui saraf optik (Sherwood, 2011).

c. Otot Mata

Gambar 2.2 Otot Penggerak Bola Mata Sumber: (Putz& Pabst, 2007)

1) Otot penggerak bola mata atau otot ekstrinsik mata

Terdiri dari musculus rectus superior, musculus rectus lateralis, musculus rectus medialis, musculus obliquus superior, dan musculus obliquus inferior. Otot-otot tersebut berinsertio pada sclera. Musculus rectus lateralis mata kanan bersama musculus rectus medialis mata kiri memutar bola mata kearah kanan.

Musculus obliquus superior dan musculus obliquus inferior mempunyai semacam katrol sebelum berinsertio. Dengan demikian, kontraksi musculus obliquus superior akan memutar bola mata ke inferior dan lateral. Musculus rectus lateralis dipersarafi oleh nervus abducens, musculus obliquus superior oleh

(7)

nervus trochlearis dan otot-otot lain oleh komponen motoris nervus oculomotorius. Saraf-saraf tersebut mencapai cavitas orbitalis melalui fissura orbitalis superior.

2) Otot intrinsik mata

Terdiri dari musculus ciliriaris, musculus sphincter papillae dan musculus dilator papillae. Kedua otot pertama dipersarafi komponen parasimpatis nervus oculomotorius, yang ketiga terutama oleh saraf simpatis (Wibowo, 2009).

d. Saraf Mata

Gambar 2.3 Saraf Kranial Sumber: (Encyclopedia B, 2007)

Pemeriksaan saraf kranial merupakan salah satu dari rangkaian pemeriksaan neurologis yang terdiri dari status mental, tingkat kesadaran, fungsi saraf kranial, fungsi motorik, refleks, gaya berjalan dan fungsi sensorik. Saraf kranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan

(8)

tengkorak melalui lubang pada tulang yang dinamakan foramina, terdapat 12 pasang kranial yang dinyatakan dengan nama atau angka romawi.

Saraf-saraf tersebut olfaktorius (1), optikus (II), okulomotoris (III), troklearis (IV), abdusen (VI), fasialis (VII), vestibula koklearis (VIII), glossofaringitis (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII). Saraf kranial I, II, IV, merupakan saraf sensorik murni, saraf kranial III, IV, XI, dan XII merupakan saraf motorik, tetapi juga mengandung serabut proprioseptik dari otot-otot yang dipersyarafinya. Saraf kranial V, VII, X merupakan safat campuran, saraf kranial III, VII, dan X juga mengandung beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis sistem saraf otonom.

Gangguan saraf kranialis adalah gangguan yang terjadi pada serabut saraf yang berawal dari otak atau batang otak, dan mengakibatkan timbulnya keluhan ataupun gejala pada gejala pada berbagai organ atau bagian tubuh yang dipersyarafinya.

Saraf optikus merupakan saraf murni yang dimulai di retina.

Serabut-serabut saraf ini, melewati foramen optikum di dekat arterioptalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum. Orientasi spasial serabut-serabut dari berbagai fundus masih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan pada bagian kiasma optikum dan sebaliknya.

Serabut-serabut saraf untuk indeks cahaya yang bersal dari kiasma optikum berakhir di kolikulus superior, dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf okulomotorius. Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan penglihatan dan berjalan di dalam traktus optikus menuju korpus genikulatum lateralis.

Dari sini serabut-serabut yang berasal dari radiaso optika melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir di korteks visual lobus oksipital. Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga serabut-serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadran atas melalui lobus temporal.

(9)

Cahaya yang masuk pada mata akan ditangkap oleh retina. Retina merupakan bagian jaringan otak yang terdiri dari tiga lapisan neuron.

Neuron pertama adalah sel batang dan sel kerucut. Cahaya yang telah masuk ke dalam mata akan menimbulkan resiko fotokimia pada elemen- elemen ini, dan selanjutnya akan diteruskan sebagai suatu impuls ke korteks penglihatan (area striata atau area Broadmann). Sel batang dan sel kerucut bercampur, kecuali fovea sentralis. Pada fovea sentralis hanya terdapat sel kerucut, dan setiap sel ini akan berhubungan dengan sel neuron kedua (sel bipolar), dan selanjutnya akan mengirimkan implus ke neuron ketiga (sel ganglion) yang terletak dilapisan dalam retina. Kira- kira ada satu juta akson sel ganglion yang berjalan di lapisan serabut retina menuju ke papil optikus atau ujung nervus optikus, menembus lamina kribosa sklera mata dan berakhir di korpus genikularum lateralis talamus. Serabut yang berjalan dari retina sampai khiasma disebut nervus optikus. Separuh serabutnya berasal dari separuh retina bagian nasal dan kemudian menyilang khiasma ke sisi yang berlawanan. Separuh lainnya, yang berasal dari setengah retina bagian temporal dan terus berjalan ipsilateral. Setelah khiasma, kedua kelompok serabut ini bergabung menjadi satu dan membentuk traktus optikus dan berakhir di korpus genikulatum lateralis.

Ada sebagian serabut traktus optikus (jaras pupilosensorik medialis) sebelum mencapai korpus genikulatum lateralis, memisahkan diri dan berjalan menuju kolikulus superior serta nukleus di area pretektal Serabur-serabut ini merupakan serabut aferen dari beberapa refleks optikus, khususnya refleks pupil terhadap cahaya. Biasanya serabut ini juga ikut bila ada kerusakan pada traktus optikus sehingga refleks cahaya akan menjadi negatif.

Sebagian traktus optikus yang lainnya akan berakhir di korpus genikulatum lateralis dan selanjutnya implus penglihatan akan ditransmisikan melalui neuron-neuron yang membentuk susunan yang dikenal sebagai radiasio optika serta diproyeksikan pada korteks

(10)

pengliahatan yang berlokasi di bagian atas dan bawah fisua kalkarina (area Broadmann). Area korteks ini jelas tampak dengan adanya strip Genari, suatu lapisan tebal dari serabut horizontal yang bermielin.

Area Broadmann merupakan resipien primer penglihatan, dikelilingi oleh area yang berlokasi mulai dari aspek medial lobus oksipitalis sampai permukaan konveksitas. Area ini merupakan daerah korteks visual kedua dan ketiga. Stimulasi daerah ini akan menimbulkan aura optikal berupa kilatan cahaya, warna, dan bentuk-bentuk garis sederhana.

Pemeriksaan nervus II meliputi Pemeriksaan penglihatan sentral (Visual acuity) dengan kartu snellen, jari tangan, dan gerakan tangan, penglihatan perifer (visual field) atau ketajaman penglihatan, lapang pandang, keadaan papil optik. refleks pupil, pemeriksaan fundus okuli serta tes warna. Ketajaman penglihatan diperiksa dengan membandingkan ketajaman penglihatan pasien dengan pemeriksa.

Ketajaman penglihatan pemeriksaan haruslah normal, atau pemeriksa telah mengoreksi visus-nya dengan kacamata. Pasien diminta mengenali obyek yang letaknya jauh (seperti jam dinding, dan pasien diminta menyebutkan pukul berapa), serta membaca huruf yang ada di buku. Bila ketajaman mata pasien sama dengan pemeriksa, maka ketajaman penglihatan pasien dianggap normal. Selain itu, ketajaman penglihatan juga dapat diperiksa dengan menggunakan Snellen Chart. Gambar Snellen Chart ini adalah huruf atau gambar yang disusun makin kebawah makin kecil. Barisan paling bawah memiliki huruf-huruf yang paling kecil yang oleh mata normal dibaca pada jarak 6 meter. Bila pasien dapat membaca sampai baris paling bawah, maka visus-nya 6/6 atau normal.

Bila tidak bisa membaca sampai baris paling bawah, maka pasien akan dinilai sampai barisan mana yang dapat dibacanya, Misalnya 6/30. Ini berarti bahwa huruf yang seharusnya dapat dibaca dari jarak 30 meter hanya dapat dibaca pada jarak 6 meter. pada pasien yang sangat buruk ketajaman penglihatannya, maka pasien diperiksa dengan menggerakan

(11)

tangan kita di depan matanya. Bila pasien kemampuanya hanya dapat membedakan adanya gerakan, maka visusnya adalah 1/300. Jika pasien hanya mampu membedakan antara gelap dan terang, maka visusnya adalah 1/tak terhingga (Ermita, I. dkk., 2016).

2. Tajam Penglihatan

a. Definisi tajam penglihatan

Tajam penglihatan merupakan pemeriksanan fungsi mata.

Gangguan penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang mengakibatkan turunnya tajam penglihatan.

Untuk mengetahui tajam penglihatan seseorang dapat dilakukan dengan kartu Snellen dan bila penglihatan kurang maka tajam penglihatan diukur dengan menentukan kemampuan melihat jumlah jari (hitung jari), ataupun proyeksi sinar.

Untuk besarnya kemampuan mata membedakan bentuk dan rincian benda ditentukan dengan kemampuan melihat benda terkecil yang masih dapat dilihat oleh jarak tertentu. Kemampuan mata melihat benda atau secara rinci sebuah objek secara kuantitatif ditentukan dengan 2 cara yaitu dengan sudut refolusi minimum (dalam busur menit) dan fraksi snellen (Ilyas dan Yulianti, 2017).

Tajam penglihatan normal pada mata manusia untuk membedakan titik sumber cahaya adalah 25 detik busur derajat. Artinya, bila berkas cahaya dari dua titik terpisah membentur mata dengan sudut antara kedua titik tersebut paling sedikit 25 detik, biasanya kedua titik itu dapat dikenali sebagai dua titik bukan sebagai satu titik. Ini berarti bahwa orang dengan tajam penglihatan normal sewaktu melihat dua titik terang sejauh 10 meter, hampir tidak dapat membedakan kedua titik itu sebagai dua titik yang terpisah bila kedua titik itu terpisah 1,5 sampai 2 mm (Ilyas dan Yulianti, 2017).

b. Cara pengukuran tajam penglihatan

Pemeriksaan tajam penglihatan ditentukan dengan melihat kemampuan mata membaca huruf-huruf berbagai ukuran pada jarak baku

(12)

untuk kartu. Hasilnya dinyatakan dalam angka pecahan seperti 20/20 untuk penglihatan normal. Tajam penglihatan maksimum berada di daerah fovea, sedangkan beberapa faktor seperti penerangan umum, kontras, berbagai warna, waktu papar, dan kelainan refraksi mata dapat merubah tajam penglihatan (Ilyas dan Yulianti, 2017).

Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan pada mata tanpa atau dengan kaca mata. Setiap mata diperiksa terpisah. Biasakan memeriksa tajam penglihatan kanan terlebih dahulu kemudian kiri lalu mencatatnya.

Pada gambar kartu Snellen ditentukan tajam penglihatan dimana mata hanya dapat membedakan 2 titik tersebut membentuk sudut 1 menit. Satu huruf hanya dapat dilihat bila seluruh huruf membentuk sudut 5 menit dan setiap bagian dipisahkan dengan sudut 1 menit. Makin jauh huruf harus terlihat, maka makin besar huruf tersebut harus dibuat karena sudut dibentuk harus tetap 5 menit.

Pemeriksaan tajam penglihatan sebaiknya dilakukan pada jarak 5 atau 6 meter, karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi. Dalam kartu Snellen standar ini dapat cara pengukuran tajam penglihatan:

1) Pemeriksaan dilakukan dengan monokuler (satu mata) dimulai dengan mata kanan.

2) Pasien diperintahkan untuk melihat objek pada kartu Snellen dari yang terbesar sampai dengan yang terkecil sesuai batas kemampuannya dengan jarak antara pasien dan kartu Snellen 6 meter.

3) Pada tajam penglihatan 6/6 berarti dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, oleh orang normal huruf tersebut juga dapat dilihat pada jarak 6 meter.

4) Bila pasien hanya dapat melihat huruf pada baris yang menunjukkan angka 30, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/30.

5) Bila pasien hanya dapat melihat huruf pada baris yang menunjukkan angka 50, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/50.

(13)

6) Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat melihat pada jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter.

7) Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam 3/60.

8) Dengan pengujian ini tajam penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter.

9) Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien yang lebih buruk dari pada 1/60. orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan dengan jarak 300 meter.

Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatanya adalah 1/300.

10) Keadaan hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan 1/~. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak terhingga.

11) Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar maka dikatakan penglihatannya adalah 0 (nol) atau buta total (Ilyas dan Yulianti, 2017).

c. Kelainan tajam pengelihatan

1) Buta: suatu keadaan yang mana terjadi penurunan ketajaman penglihatan dengan kriteria penilaian yang berbeda pada setiap negara, seperti:

a) Inggris: tajam penglihatan < 3/60

b) Amerika dan Kanada: tajam penglihatan < 20/200 2) Menurut WHO :

a) Kategori 1: rabun, tajam penglihatan < 6/18 b) Kategori 2: rabun, tajam penglihatan < 6/60

c) Kategori 3: buta, tajam penglihatan <6/60, lapang pandang < 10 derajat

(14)

d) kategori 4: buta, tajam penglihatan <1/60, lapang datang < 5 derajat (Ilyas dan Yulianti, 2015)

3) Cacat penglihatan (low Vision)

a) Ringan: gangguan penglihatan ringan dengan tajam penglihatan kurang 0,3 (<5/5,6/18)

b) Berat: pada negara tertentu dimasukkan dalam golongan buta, dimana tajam penglihatan kurang dari 0.12 (5/40,6/48) (Ilyas dan Yulianti, 2015)

d. Kelainan refraksi

Jenis kelainan refraksi adalah miopia, hipermetrop, astigmatisma/silinder, presbiop. Gejala utama berupa tajam penglihatan menurun. Umumnya bisa diperbaiki dengan kaca mata (Ilyas dan Yulianti, 2015).

3. Miopia

a. Definisi Miopia

Miopia adalah suatu kelainan refraksi yang di sebabkan karena sinar sejajar yang masuk ke mata tidak difokuskan di depan retina (Kistianti, 2008). Pada miopia objek yang dekat akan terlihat jelas tetapi objek yang jauh akan terlihat buram. Kondisi ini terjadi pada sitem optik mata yang di akibatkan karena sinar sudah menyatu sebelum sampai ke retina (Boyd, 2013b).

Miopia merupakan kelainan mata paling umum di dunia. Pada keadaan refraksi ini, retina terletak di belakang bidang fokus sehingga lensa konkaf atau lensa negatif dibutuhkan untuk memindahkan bidang fokus kembali terletak pada retina. Definisi miopia bervariasi namun pada umumnya mata dianggap miopia bila memerlukan lensa negative 0.50 dioptri untuk mengembalikan penglihatan normal (Young, 2010).

Pada mata miopia, sinar yang datang akan dibiaskan di depan retina tanpa akomodasi sehingga akan membentuk bayangan yang tidak fokus. Sehingga untuk meletakkan bayangan di retina maka titik terjauh harus lebih dekat ke bola mata dibandingkan dengan orang normal.

(15)

Untuk mengoreksinya dengan lensa sferis negatif terkecil (American Academy of Ophthalmology,2010).

b. Etiologi

1) Miopia kurvatura yaitu miopia yang terjadi akibat bertambahnya kelengkungan kornea atau lensa.

2) Miopia indeks yaitu miopia yang terjadi akibat bertambahnya indeks refraksi.

3) Miopia aksial yaitu miopia yang terjadi akibat bertambahnya sumbu aksial bola mata (diameter antero-posterior lebih panjang dari normal) (Ali, 2014; Paul, 2015).

c. Tanda dan Gejala Miopia 1) Subjektif :

a) Kabur bila melihat jauh, sakit kepala.

b) Seperti melihat benang/nyamuk di lapang pandang.

c) Mata cepat lelah, pusing dan mengantuk.

d) Membaca dekat lebih mudah tanpa kacamata.

e) Kebiasaan mengernyitkan mata untuk mendapat efek pinhole (Istiqomah, 2012; Ilyas dan Yulianti, 2015).

2) Objektif :

a) Pupil agak midriasis.

b) Bilik mata depan lebih dalam.

c) Eksotalmus.

d) Retina tipis (Istiqomah, 2012).

d. Klasifikasi miopia

Miopia dapat diklasifikasikan berdasarkan pertumbuhan bola mata, etiologi, onset terjadinya, derajat beratnya dan perjalanan miopia.

1) Berdasarkan pertumbuhan bola mata:

a) Miopia fisiologis yang terjadi akibat peningkatan diameter aksial yang dihasilkan oleh pertumbuhan normal.

b) Miopia patologis merupakan pemanjangan abnormal bola mata yang sering dihubungkan dengan penipisan sklera.

(16)

2) Berdasarkan onset terjadinya

a) Miopia kongenital yang terjadi pada saat lahir.

b) Miopia juvenil atau miopia usia sekolah yang ditemukan pada usia sebelum 20 tahun.

c) Miopia dewasa yang ditemukan pada usia 20 tahun atau lebih.

3) Berdasarkan derajat beratnya miopia:

a) Miopia ringan adalah miopia antara 0-3 D.

b) Miopia sedang adalah miopia antara 3-6 D.

c) Miopia berat adalah miopia di atas 6.

4) Berdasarkan perjalanan miopia:

a) Miopia stasioner adalah miopia yang menetap setelah dewasa.

b) Miopia progresif adalah miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata.

c) Miopia maligna adalah miopia yang berjalan progresif yang dapat mengakibatkan ablasio retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa atau miopia maligna atau miopia degeneratif (Hong, 2011; Ali, 2014).

e. Faktor Resiko Miopia 1) Keturunan

Anak dengan salah satu orangtua yang mengalami miopia memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk menderita miopia dibandingkan anak dengan orangtua tanpa miopia. Anak dengan orangtua yang mengalami miopia memiliki risiko 8 kali lebih besar untuk menderita miopia dibandingkan dengan anak dengan orangtua tanpa miopia (Arianti, 2013). Faktor keturunan berhubungan dengan miopia. Hal ini mengikuti pola dose response pantera, dimana anak yang kedua orang tuanya mengalami miopia memiliki kemungkinan hampir 100% mengalami miopia dibandingkan hanya salah satu orang tua yang mengalami miopia (78,9%) dan keduanya tidak mengalami miopia (63%) (Hasibuan, 2010).

(17)

2) Etnis

Orang Asia berpotensi menderita miopia lenih besar (70%- 90%) dibandingkan orang Eropa dan Amerika (30%-40%). Potensi paling kecil adalah orang Afrika (10%-20%) (Prieharti dan Mumpuni, 2016).

3) Aktivitas jarak dekat

Aktivitas jarak dekat antara lain aktivitas membaca, bermain komputer, dan menonton TV dapat berpengaruh terhadap kejadian miopia. Hal ini dikarenakan aktifitas jarak dekat dalam waktu lama akan menyebabkan otot siliaris menjadi tinggi sehingga lensa menjadi cembung dan mengakibatkan bayangan objek jatuh di depan retina sehingga menimbulkan miopia (Arianti, 2013).

4) Bermain Ponsel/Gadget

Penggunaan Gedget dengan durasi lebih dari 2 jam/hari dapat menyebabkan terjadinya seseorang mengalami miopia. Aktivitas melihat dekat dan terus menerus dapat menyebabkan perubahan biokimia daan sklera yaitu mekanisme untuk peregangan, terjadi setelah 30 menit berakomodasi. Akumulasi akomodasi yang terus menerus menyebabkan memanjangnya sklera, sehingga bayangan objek pada aktivitas melihat dekat jauh didepan retina (Hayatillah, 2011)

f. Patofisiologi

Pada miopia panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Dikenal beberapa bentuk miopia seperti:

1) Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia atau miopia indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.

(18)

2) Miopia Aksial, miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal. Pada penderita miopia yang memiliki bola mata yang terlalu panjang atau kornea yang terlalu melengkung menyebabkan sinar yang masuk ke mata dibiaskan tidak tepat pada retina (di depan retina) sehingga menyebabkan penglihatan penderita menjadi kabur (Ilyas dan Yulianti, 2017).

g. Pathway

Bagan 2.1 Pathway Miopia Kedokteran Barat.

Sumber: (Ali, 2014; Paul, 2015; Ilyas dan Yulianti, 2017).

h. Manifestasi Klinis

Pasien dengan miopia akan melihat jelas bila melihat dekat dan kabur jika melihat jauh. Pasien miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit.

Selain itu, pasien miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah abrasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole

Miopia Indeks Kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat

Diameter anteroposterior

lebih panjang dari normal

Miopia Kurvatural

Miopia Aksial

MIOPIA Bertambahnya

kelengkungan lensa/kornea

(19)

(lubang kecil). Pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam keadaan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esoptropia (Ilyas, 2010).

i. Diagnosis

Pemeriksaan untuk miopia dapat dilakukan secara subjektif dan obyektif. Secara subjektif dengan metode trial and error dengan menggunakan kartu Snellen. Pada prosedur ini, pasien duduk pada jarak 6 meter atau 20 feet dari kartu Snellen. Pemeriksaan dilakukan bergantian dengan menutup salah satu mata. Pasien diminta untuk membaca huruf pada kartu Snellen. Jika pasien tidak dapat membaca hingga 6/6 maka dilakukan koreksi secara trialand error dengan lensa sferis negatif hingga mencapai tajam penglihatan yang terbaik.

Pemeriksaan secara objektif dapat dilakukan dengan pemeriksaan funduskopi (Paul, 2015; Budiono, 2013; Boyd, 2013).

j. Penatalaksanaan 1) Farmakologis

Obat sikloplegia kadang-kadang digunakan untuk mengurangi respon akomodatif. Pemberian topikal harian atrpopin dan cyclopentolate mengurangi angka kemajuan miopia pada anak-anak dengan miopia. Namun, atropin memberikan efek samping seperti nadi cepat, demam, dan mulut kering. Penggunaan atropin jangka panjang dapat memberikan efek buruk pada retina (Gwiazda, 2009;

Sherwin, 2013).

2) Non Farmakologis

a) Koreksi / perbaiki visus dengan jalan : (1) Menetralisir kelebihan kekuatan refraksi (2) Mengurangi kekuatan refraksi

Dilakukan dengan cara netralisasi kelebihan kekuatan refraksi menggunakan lensa sferis concave terkecil dioptrinya yang memberikan visus terbaik dalam bentuk kacamata dan

(20)

lensa kontak. Lensa kontak adalah lensa yang diletakkan di atas kornea dan memiliki daya kohesi sehingga tetap menempel pada kornea, tujuannya adalah untuk memperbesar bayangan yang jatuh di retina (Ali, 2014; Boyd, 2013).

Gambar 2.4 Koreksi Kacamata dengan Lensa Sferis Konkaf Sumber: (Johnstone,2008).

b. Mengurangi derajat kelengkungan kurvatur kornea dengan : (1) Keratotomy radier ( mengoreksi 2,50 D )

(2) FRK ( Foto Refraktif Keratektomi )

(3) Bedah Refraktif / LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomileusis) adalah suatu prosedur untuk mengubah bentuk lapisan kornea mata dengan menggunakan sinar excimer laser. Prosedur LASIK dapat dilakukan untuk mengoreksi miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat) maupun astigmatisme (silinder). Tindakan ini bertujuan untuk membantu melepaskan diri dari ketergantungan pada kaca mata dan lensa kontak. Dengan mengangkat lensa sekitar 15 D dari miopia secara otomatis akan terkoreksi.

Namun harus diingat bahwa teknik ini dapat menimbulkan komplikasi berupa ablasio retina (Ali, 2014).

(21)

c. Akupunktur: Pada tahun 1979 Word Health Organization (WHO) merekomendasikan miopia untuk di terapi dengan akupunktur (Guan et al, 2007).

B. Miopia dalam Ilmu Akupunktur 1. Definisi Miopia

Miopia merupakan suatu gangguan disfungsi dari sistem optik dioptrik. Penglihatan yang fokus terbentuk di depan retina ketika cahaya melewati sistem optik dioptrik. Disfungsi pada sistem ini akan mempengaruhi kemampuan untuk fokus melihat secara normal (Xinghua, 1996).

Miopia adalah gangguan penglihatan yang disebabkan oleh disfungsi sistem optik-dioptrik. Karena fokus visual terbentuk di depan retina ketika cahaya paralel melewati sistem optik-dioptrik, disfungsi sistem ini mempengaruhi kemampuan fokus secara normal. Secara klinis, miopia ditandai dengan penglihatan jarak yang buruk dan penglihatan jarak dekat yang normal. Semakin ekstrim kondisinya, semakin pendek rentang penglihatan (Yin and Liu, 2000).

Miopia ditandai dengan buruknya penglihatan pada jarak jauh dan jangkauan normal terdekat. Jangkauan jarak pandang menjadi lebih pendek.

Biasanya disebabkan oleh penggunaan mata yang kurang tepat dan dapat dikarenakan faktor genetik (Xinghua, 1996).

2. Etiologi Miopia

Etiologi umum terjadinya miopia adalah penggunaan berlebihan atau penggunaan mata yang tidak tepat, meskipun miopia yang parah biasanya berhubungan dengan faktor keturunan. Menurut TCM, miopia, yang disebut Jin Shi di Cina, terutama disebabkan oleh kekurangan hati dan ginjal yang menyebabkan hilangnya makanan yang normal pada mata. Selain itu, mungkin juga disebabkan oleh penggunaan mata yang tidak tepat, yang mengganggu penglihatan (Yin and Liu, 2000).

(22)

3. Pathway

\

Bagan 2.2 Pathway Miopia dalam TCM Sumber: (Yin and Liu, 2000) 4. Diferensiasi Sindrom

a. Defisiensi Qi dengan Gangguan Pikiran

Manifestasi: rabun dekat, mata menjadi lelah, mimpi, memori yang buruk, kelelahan dan kelemahan. Otot lidah Pucat. Nadi Lemah.

Prinsip terapi: tonifikasi qi dan menenangkan pikiran (Yin and Liu, 2000).

b. Defisiensi Ginjal dan Hati

Manifestasi: Rabun dekat, kejang dan kelemahan pinggang, pusing, penglihatan kabur, emisi malam hari. Otot lidah merah, selaput lidah tipis. Nadi dalam dan lemah.

Prinsip Terapi: tonifikasi hati dan ginjal (Yin and Liu, 2000).

Penggunaan mata secara berlebihan

berkurangnya derajat penglihatan

Jin Shi (Miopia) kekurangan

essens hati dan ginjal

kekurangan nutrisi makanan ke mata

(23)

c. Insufisiensi Hati dan Ginjal

Manifestasi: Padangan kabur, pusing, sakit kepala, ingatan buruk, kelelahan. Otot lidah kesil, selaput lidah putih tipis. Nadi benang dan dalam

Prinsip terapi: tonifikasi hati dan ginjal (Xinghua, 1996).

d. Defisiensi Limpa dan Lambung

Manifestasi: penurunan kemampuan penglihatan disertai dengan kelelahan, badan kurus, wajah pucat, nafsu makan buruk. Otot lidah pucat dengan selaput putih. Nadi lemah.

Prinsip Terapi: tonifikasi limpa dan lambung (Xinghua, 1996).

5. Pemilihan Titik

a. GB16 Muchuang (Jendela Mata)

Letaknya satu setengah cun kranial dari GB15 Toulinqi, 2 cun kranial batas ventral rambut. Penusukan miring 0,3-0,5 cun. Fungsi titik ini menghentikan angin, menenangkan kejang, dan memperbaiki pengelihatan. Indikasi titik ini adalah sakit kepala, vertigo, kemerahan dan nyeri mata, obtruksi hidung. Merupakan titik pertemuan Meridan Yang Wei dan Kandung Empedu (Saputra, 2017; Muller, 2010).

Gambar 2.5 Titik GB16 Muchuang Sumber: WHO, 2008

(24)

b. SJ23 Sizhukong (Ruang Bambu Sutera)

Letaknya pada ujung lateral dari alis mata. Penusukan miring mendatar 0,3-0,7 cun. Fungsi: menghilangkan angin, membersihkan api dari kepala, dan mencerahkan mata (membersihkan penglihatan), menghentikan rasa sakit dan menurunkan demam, titik ini mungkin berdarah. Indikasi titik ini adalah sakit kepala, kemerahan dan nyeri mata, penglihatan kabur, kejang palpebra, sakit gigi, paralisa fasialis.

(Saputra, 2017; Muller, 2010).

Gambar 2.6 Titik LV 3 Taichong Sumber: (WHO, 2008) c. LV3 Taichong (Serangan Besar)

Letaknya pada lekuk distal dari pertemuan basis os metatarsal I dan II. Penusukan tegak lurus 0,5 cun fungsi titik ini memperbaiki pengelihatan.

Fungsi : mengatur Qi Hati, menurunkan Yang Hati, mengatur menstruasi, menenangkan Shen, dan menyehatkan Yin Hati. Indikasi titik ini adalah sakit kepala, pening, vertigo, hipertensi, insomnia, nyeri di daerah hipokondrium, kolik, biller, perdarahan uterus, retensio urine, kejang, schizophrenia. Merupakan titik Shu Meridian Hati dan titik Yuan Meridian Hati (Saputra, 2017; Muller, 2010).

(25)

Gambar 2.7 Titik LV 3 Taichong Sumber: (WHO, 2008) d. Mikroakupunktur telinga

Merupakan salah satu mikroakupunktur, yang menggunakan daun telinga sebagai daerah proyeksi seluruh jaringan/organ tubuh, yang digunakan sebagai sasaran rangsangan untuk diagnostik, upaya promotif kuratif rehabilitatif dan paliatif (Kiswojo, 2013).

Titik-titik di bagian telinga diyakini dapat dihubungkan dengan meridian dan mewakili bagian tubuh. Akupunktur telinga merupakan mikro akupunktur yang menyederhanakan bagian tubuh tertentu digunakan untuk mengobati gangguan tubuh secara umum. Mikroakupunktur mudah digunakan, ekonomis, aman, dan lebih praktis. Teori mikroakupunktur didasarkan pada pengobatan Cina, Kedokteran Barat, dan pengalaman klinis.

Telinga diibaratkan sebagai janin terbalik dalam kandungan. Bagian telinga dibagi menjadi helix, antihelix, fossa triangular, fossa scapoid, tragus, anti tragus, cavum concha, concha superior, concha inferior, lobus.

(26)

Dimana setiap bagian itu terdapat berbagai titik-titik akupunktur tertentu.

Untuk organ Zhang dan Fu terletak di cavum concha.

Akupunktur telinga didasarkan pada gagasan bahwa telinga adalah sebuah mikro sistem dari seluruh tubuh diwakili pada daun telinga, bagian terluar dari telinga.

Dalam Huang Di Nei Jing digambarakan hubungan fisologi dan patofisiologi telinga dengan meridian tubuh. Dikatakan bahwa meridian tubuh memiliki jalur untuk berhubungan dengan telinga.

Enam meridian Yang langsung berjalan sampai ke telinga atau mengelilingi telinga. Sedangkan enam meridian Yin berhungan langsung dan tidak langsung dengan meridian Yang. Sebagai contoh, meridian Luo Tai Yin tangan, Tai Yin kaki, dan Yang Ming kaki langsung terhubung ke telinga. Semua darah pergi ke wajah dan kepala dan esensi ke mata, sehingga mengirimkan energi ke telinga.

Gambar 2.8 Telinga di ibaratkan janin terbalik Sumber: (Oleson, 2008)

Teori sistem akupunktur mikro didasarkan pada bioholografik teori.

Dalam teori bioholografik, tubuh manusia dipandang sebagai unit yang lengkap dan holistik. Setiap bagian independen dari tubuh disebut embrio holografik, atau Embrio yang Mengandung Informasi Organisme Utuh

(27)

(ECIWO). Ini berarti bahwa setiap unit adalah sajikan yang lebih kecil dari seluruh tubuh. Orang Yunani kuno menggunakan nama homunculus (bahasa Latin untuk "pria kecil") untuk konsep ini. Teori mereka menyatakan bahwa seluruh tubuh terkandung atau diwakili oleh unit yang lebih kecil pada tubuh. Dalam teori klasik, ini adalah sel kuman tubuh. Neuroanatomi modern menggunakan konsep ini untuk memetakan sensorik persepsi tubuh ke homunculus di otak. Teori mikroakupunktur mirip dengan teori homunculus ini di mana seluruh tubuh disajikan dalam beberapa unit tubuh yang lebih kecil. Ini bukan hanya bagian dari struktur tubuh tetapi juga memainkan peran dalam perkembangan tubuh. Setiap unit bagian independen dari tubuh memiliki hubungan dengan dan terus bertukar informasi dengan seluruh tubuh. Dengan kata lain, masing-masing unit kecil memberi sinyal energetik dari bagian tertentu dari tubuh manusia.

Ada kelompok titik yang berhubungan dengan seluruh organ dan jaringan internal tubuh di setiap unit. Distribusi titik selalu terhubung dari terdekat ke terjauh di garis memanjang, seperti empat ekstremitas. Sebagai contoh, titik kaki lengan terhubung dengan titik kepala lengan atas. Poin yang di distribusikan juga adalah rasio kecil dari tubuh manusia. Sebagai contoh, lengan bawah dan atas lengan memiliki figur tubuh manusia yang terpisah. holografik ini Embrio dapat mencerminkan perubahan patologis tubuh. Oleh karena itu, jika tubuh manusia berpenyakit di area lokal atau organ internal, titik bioholografik terkait akan mengalami perubahan abnormal seperti gatal, nyeri, dan sensasi abnormal. Sistem mikro dan unit tubuh memiliki holografik fitur. Unit holografik ini dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit (Wang, 2009).

Berdasarkan teori kedokteran barat pada daun telinga terdapat beberapa susunan syaraf meliputi, N. Auricularis mayor, N. Occipitalis minor, N. Glossopharyngeus, melalui saraf simpatis parasimpatis dan autonom yang berkaitan dengan jaringan otak, batang otak dan korteks serebri dengan berbagai prosesnya, berkaitan langsung dengan organ-organ viscera, gangguan persarafan serta gangguan vaskularisasi (neuro humoral

(28)

system) melalui stimulasi atau rangsangan oleh jarum secara fisik, kimia, atau elektrik pada daun telinga akan mempengaruhi keseimbangan aktivasi hormonal, dan mobilisasi semua unsur tubuh (Saputra dan Sudirman, 2009).

Gambar 2.9 Lokasi akupunktur telinga depan dan belakang Sumber: (Oleson, 2008)

Gambar 2.10 Lokasi Titik Anterior intertragic notch (C. TG2 (MU1), Eye (E. LO4 (YAN)

Sumber: (Oleson, 2008).

(29)

Titik yang dapat digunakan untuk menangani kasus miopia meliputi titik :

a) Anterior intertragic notch

Lokasi : C. TG2 (MU1). Di daerah medial dan inferior dari intertragik.

Indikasi : Glukoma, pseudomyopia b) Eye

Lokasi : E. LO4 (YAN). Di pusat lobus atau dapat diartikan sebagai titik pusat sensorik.

Indikasi : penglihatan yang buruk, penglihatan kabur, iritasi mata, glukoma, dan konjungtivitis.

e. Mekanisme Kerja Akupunktur

Wang et al., (2014) menjelaskan penusukan titik lokal TE 23 (Sizhukong) dan GB 16 (Muchuang) pada daerah mata dapat mengatur fisiologi penglihatan. Penusukan jarum pada titik lokal akan menimbulkan perlukaan pada jaringan. Hal ini menyebabkan pelepasan hormon jaringan (mediator) dan menimbulkan reaksi rantai biokimiawi. Efek yang terjadi secara lokal meliputi dilatasi kapiler, peningkatan permeabilitas kapiler, perubahan lingkungan interstisial, stimulasi nosiseptor, aktivasi respon imun nonspesifik, dan penarikan leukosit dan sel langerhans. Reaksi lokal ini dapat dilihat sebagai kemerahan pada daerah penusukan.

Wu et al. (2014) Titik LV 3 (Taichong) dapat mengaktifkan korteks visual pada otak dan menangani penyakit yang berkaitan dengan pengelihatan. H. Cheng et al., (2014) mejelaskan bahwa penusukan pada titik Mu1 dan Yan dapat meningkatkan diameter dan kecepatan aliran darah dari arteriol perifer; serta meningkatkan mikrosirkulasi yang merupakan perawatan pendukung yang bermanfaat untuk penyakit yang disebabkan oleh aliran darah perifer yang buruk. Merangsang acupoints yang berhubungan dengan penglihatan aurikularis dapat meningkatkan mikrosirkulasi di sekitar mata untuk mengurangi ketegangan mata dan mengendurkan otot siliaris.

(30)

C. Kerangka Teori

Keterangan : : diteliti : tidak diteliti

Bagan 2.3 Kerangka Teori Miopia Etiologi Menurut Kedokteran

Konvensional:

1. Miopia kurvatural 2. Miopia indeks 3. Miopia aksial

Sumber: (Ali, 2014; Paul, 2015)

MIOPIA

Farmakologis Non Farmakologis

atrpopin dan cyclopentolate Sumber:

Gwiazda, 2009;

Sherwin, 2013)

1. Mengurangi derajat kelengkungan (Keratotomy radier, Foto Refraktif Keratektomi, bedah refraktif)

2. memperbaiki Visus (Kaca mata, lensa kontak )

Sumber: (Ali, 2014;

Boyd, 2013); Guan et al., 2007)

Akupunktur

berkurangnya derajat Miopia Etiologi Menurut Ilmu Akupunktur:

1. Penggunaan mata seara berlebihan

2. Faktor lain kekurangan essens hati dan ginjal

sumber: (Yin and Liu, 2000)

(31)

D. Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat

Bagan 2.4 Kerangka Konsep

E. Hipotesis

1. H0: tidak ada efektivitas kombinasi titik akupunktur GB16, SJ23, LV3 dengan titik auricular akupunktur (MU1, YAN) terhadap perubahan derajat miopia pada mahasiswa Jurusan Terapi Wicara.

2. Ha: ada efektivitas kombinasi titik akupunktur GB16, SJ23, LV3 dengan titik auricular akupunktur (MU1, YAN) terhadap perubahan derajat miopia pada mahasiswa Jurusan Terapi Wicara.

Titik akupunktur (GB16, SJ23, LV3) dan Titik

Auricular Akupunktur (MU1, YAN)

Perubahan derajat miopia

Gambar

Gambar 2.1 Anatomi Mata    Sumber: (Willoughby et al., 2010)
Gambar 2.3  Saraf Kranial  Sumber: (Encyclopedia B,  2007)
Gambar 2.4 Koreksi Kacamata dengan Lensa Sferis  Konkaf Sumber: (Johnstone,2008).
Gambar 2.5 Titik GB16 Muchuang   Sumber: WHO, 2008
+5

Referensi

Dokumen terkait

 Mengkaji pustaka untuk Mengkaji pustaka untuk menggali informasi menggali informasi tentang hubungan tentang hubungan antara pergerakan garis antara pergerakan garis medan

Selama kurun waktu 5 (lima) tahun kedepan, Pemerintah Kecamatan Bandung Kidul Kota Bandung dituntut lebih responsif, kreatif dan inovatif dalam menghadapi

Pemeriksaan data dilakukan dengan cara trianggulasi data dan trianggulasi metode, dengan model evaluasi yang digunakan adalah evaluasi model Context, Input, Process, Product

Anaglyph image adalah sebuah citra dimana ketika citra tersebut dilihat dengan mata kanan dan mata kiri akan saling bertumpukan dengan warna yang berbeda.. Sedangkan, setiap

Informasi yang diberikan oleh laporan arus kas membantu investor, kreditor, dan pihak lain untuk menilai kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas bersih masa

Tabel 5.30 Hasil Uji Tekan Bebas untuk Benda Uji Tanah Lempung dengan Kadar Serat 1 % panjang 3

Tujuan mendasar dari identifikasi oli adalah untuk menghasilkan informasi tentang kondisi oli dan mesin yang sedang beroprasi kemudian dapat digunakan untuk

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sistem penjualan kredit di PT. Surya Putra Sumatera Raya II Pasir Putih Pasir Pengaraian terhadap penarikan