4. EVALUASI DAN PERANCANGAN MATERIAL CONTROL SYSTEM
4.1. K m A m Material Control System Saat Ini
Material control system adalah suatu sistem yang bertujuan imtuk mengontrol penggimaan dan aliran material. Dengan penerapan material control system maka dapat diperoleh data-data yang akurat, sehingga informasi yang diperoleh dari data-data tersebut akurat.
Saat ini di PT. Surabaya Wire, control system yang ada kurang efektif.
Kurang efektifnya control system ini mengakibatkan data-data yang diperoleh tidak akurat. Data yang tidak akurat tersebut akan menyebabkan informasi yang hendak diperoleh tidak akurat pula,
Dari kekurangan ini, diperlukan untuk membangun sebuah control system yang dapat menghasilkan data-data yang akurat.
Gambar 4.1. menunjukkan aliran produk dan control system yang saat ini diterapkan oleh Departemen Kawat - seksi Drawing PT. Surabaya Wire.
Gambar 4.1. Aliran Produk dan Material Control System Awal
31
4.2. Rancangan Usulan Material Control System
Gam bar 4.2. menunjukkan usulan aliran produk dan control system yang dapat diterapkan oleh Departemen Kawat - seksi Drawing PT. Surabaya Wire.
Stuffle Annealing
&
Packaging
Proses Annealing &
Packaging
Stuffle Seicsi Potong
Seksi Potong
Gudang Wire Rod
stuffle Wire
Rod
Proses Tarik
Stuffle Hapro
Gudang Kawat
Gudang Seksi Potong Gudang Finished
Goods
stuffle Bhn
TU
Bagian Tarik Ulang
stuffle
Hapro Stuffle
—►Dept Dept. Paku
Paku
Gambar 4.2. Rancangan Usulan Aliran Produk dan Material Control System
4.2.1, Prosedur Pengambilan Wire Rod
Prosedur Pengambilan Wire Rod adalah prosedur yang dilakukan untuk melakukan pengambilan wire rod dari Gudang Wire Rod ke Stuffle Wire Rod seksi Drawing.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa wire rod yang masuk ke Stuffle Wire Rod seksi Drawing telah berlabel, dan jumlah serta jenis wire rod yang dikirimkan ke Stuffle Wire Rod seksi Drawing sesuai dengan
permintaan seksi Drawing dan Slip Pengambilan Wire Rod.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk pengambilan wire rod dapat dilihat pada Lampiran C - 1. Pada prosedur tersebut tidak dilakukan pengecekan kelengkapan label Wire Rod yang dipindahkan dari Gudang Wire Rod ke Stuffle Wire Rod seksi Drawing, sehingga bila dikemudian hari ditemukan add Wire Rod yang tidak berlabel maka karyawan seksi Drawing hams meminta label ke Gudang Wire Rod. Hal ini sangat berisiko karena bila wire rod yang tidak
33
berlabel sudah terlanjur dipakai dan tidak terdeteksi akan menyebabkan teijadinya surplus, yaitu output lebih besar daripada input.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
a. Form Kebutuhan Bahan
- Berguna untuk mengetahui jenis dan jumlah wire rod yang dibutuhkan oleh seksi Drawing.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 1.
b. Slip Pengambilan Wire Rod
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai jenis dan jumlah wire rod yang telah dikirim dari Gudang Wire Rod ke Stuffle Wire Rod seksi Drawing.
- Berupa print out.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 2.
4.2.2. Prosedur Pemakaian Wire Rod
Prosedur Pemakaian Wire Rod adalah prosedur yang dilakukan untuk memindahkan wire rod yang ada di Stuffle Wire Rod ke Mesin Tarik dan kemudian dilakukan proses tarik.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jenis dan jumlah wire rod yang masuk dan diproses pada masing-masing Mesin Tarik telah terdokumentasi dengan baik dan benar.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk pengambilan Wire Rod dapat dilihat pada Lampiran C - 3. Pada prosedur tersebut semua Wire Rod yang sudah ditempatkan di bawah Tower Mesin Tarik dianggap sudah terpakai dan dilepas label identitasnya. Hal ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian pencatatan identitas bahan yang digunakan untuk menghasilkan kawat paku, karena kemungkinan urutan pemakaian bahan tidak sama dengan urutan penempatan bahan di bawah Tower mesin.
Pada prosedur ini apabila dilakukan pemindahan wire rod ke Mesin Tarik yang lain maka perhitungan berat wire rod yang dipindahkan tersebut hanya berdasarkan perkiraan dan tidak dilakukan penimbangan. Hal ini dapat
menyebabkan kesulitan dalam mengontrol besamya loss proses pada tiap mesin sehingga memungkinkan terjadinya surplus.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur;
F orm Pemakaian Bahan dan Hapro
- Berguna untuk mendokumentasikan pemakaian bahan dan jumlah hasil produksi yang dihasilkan oleh tiap mesin.
- Berupa^rm.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 3.
4.2.3, Prosedur Control Stuffle Wire Rod
Prosedur Control Stuffle Wire Rod adalah prosedur yang dilakukan untuk mengontrol aliran wire rod yang masuk ke Stuffle Wire Rod dan keluar dari Stuffle Wire Rod.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jumlah wire rod yang masuk ke Stuffle Wire Rod dan keluar dari Stuffle Wire Rod sudah terdokumentasi dengan baik dan benar, sehingga informasi yang diperoleh juga benar.
Pada saat ini tidak terdapat prosedur control jumlah wire rod yang ter dapat di Stuffle Wire Rod, sehingga akan menyebabkan teijadinya kesulitan untuk mendeteksi hal-hal yang dapat menyebabkan teijadinya ketidaksesuaian antara dokumentasi dengan realita. Ketidaksesuaian yang terjadi dapat disebabkan karena ketidakkonsistenan dalam proses pencatatan maupun karena kesalahan pencatatan.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
Form Control Stuffle Wire Rod
- Berguna untuk mendokumentasikan aliran keluar dan masuk wire rod di Stuffle Wire Rod.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 4.
4.2.4. Prosedur Penimbangan Hasil Produksi
Prosedur Penimbangan Hasil Produksi adalah prosedur yang dilakukan untuk menimbang dan memberi label pada kawat hasil produksi.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa semua hasil produksi yang sudah ditimbang dan diberi label terdokumentasi dengan baik dan benar. Prosedur ini juga memungkinkan adanya traceability, yaitu kemampuan tiap hasil produksi untuk dilacak ke tahap yang sebelumnya.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk penimbangan hasil produksi dapat dilihat pada Lampiran C - 6.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
Forni Pemakaian Bahan dan Hapro
- Berguna untuk mendokumentasikan pemakaian bahan dan jumlah hasil produksi yang dihasilkan oleh tiap mesin.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 3.
4.2.5. Prosedur Control Proses Produksi
Prosedur Control Proses Produksi adalah prosedur yang dilakukan untuk mengontrol kesesuaian antara pemakaian bahan dan hasil produksi.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa terdapat kesesuaian antara jumlah bahan dipakai dan jumlah hasil produksi yang dihasilkan sehingga tidak terjadi surplus.
Pada saat ini tidak terdapat prosedur control proses produksi, sehingga akan menyebabkan teijadinya kesulitan untuk mendeteksi hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara dokumentasi dengan realita.
Ketidaksesuaian yang terjadi dapat disebabkan karena ketidakkonsistenan dalam proses pencatatan maupun karena kesalahan pencatatan. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan teijadinya surplus dalam perhitungan loss proses produksi.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
a. Form Pemakaian Bahan dan Hapro
- Berguna imtuk mendokumentasikan pemakaian bahan dan jumlah hasil produksi yang dihasilkan oleh tiap mesin.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 3.
b. Laporan Hasil Produksi Mesin Tank
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai jenis dan berat hasil produksi Mesin Tarik.
- Berupa print out.
- Contohnya dapat dihhat pada Lampiran H - 5.
4.2.6. Prosedur Stock Opname
Prosedur Stock Opname adalah prosedur yang dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara data stock yang ada dengan jumlah stock yang sebenamya. Prosedur ini terbagi atas 2 tahap, yaitu tahap awal dan tahap pengembangan. Tahap awal adalah prosedur yang dilakukan untuk mempersiapkan agar tahap pengembangan dapat dilaksanakan.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk mengurangi terjadinya stock opname secara berulang-ulang terhadap barang yang tidak bergerak sama sekali, memastikan semua barang sudah tercatat, dan mengurangi proses pencatatan pada waktu stock opname.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk stock opname dapat dilihat pada Lampiran C - 7. Pada prosedur tersebut pembagian area stock opname tidak jelas sehingga dapat teijadi ada material yang tidak ikut di hitung atau bahkan dihitung lebih dari sekali dalam proses stock opname. Pada proses stock opname ini tidak ada karyawan lain yang berfungsi sebagai controller, sehingga apabila terdapat kesalahan pencatatan maka ada kemungkinan untuk tidak terdeteksi, atau apabila terdeteksi juga tidak mudah untuk memperbaikinya.
Data-data yang ada pada usulan tahap aw al:
a. Denah Area Pelaksanaan Stock Opname
- Berguna untuk mendokumentasikan area tempat pelaksanaan stock opname dan melakukan pembagian area stock opname.
- Berupa form.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 8.
37
b. Checklist Pelaksanaan Stock Opname
- Berguna xmtuk memastikan bahwa peralatan yang diperlukan untuk melakukan stock opname sudah tersedia dan untuk memastikan bahwa stock opname telah dilakukan diseluruh area stock opname.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 9.
c. Form Stock Opname
- Berguna untuk mendokumentasikan jenis, lokasi, nomor coil dan berat hasil produksi yang sudah dilakukan stock opname.
- Berupa form.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 10.
d. Kartu Stock Opname
- Berguna untuk memberikan tanda bahwa sudah dilakukan stock opname terhadap produk tersebut.
- Berupa form.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 7.
Data-data yang ada pada usulan tahap pengembangan : a. Denah Area Pelaksanaan Stock Opname
- Berguna untuk mendokumentasikan area tempat pelaksanaan stock opname dan melakukan pembagian area stock opname.
- Berupa form.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 8.
b. Checklist Pelaksanaan Stock Opname
- Berguna untuk memastikan bahwa peralatan yang diperlukan untuk melakukan stock opname sudah tersedia dan untuk memastikan bahwa stock opname telah dilakukan di seluruh area stock opname.
- Berupa form.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 9.
c. Data Stok Terakhir
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai jenis, nomor coil dan berat bahan dan produk serta lokasi bahan dan produk tersebut.
- Berupa print out.
4.2.7. Prosedur Serah Terima Kawat ke Bagian Tarik Ulang
Prosedur Serah Terima Kawat ke Bagian Tarik Ulang adalah prosedur yang dilakukan untuk melakukan serah terima kawat paku dari Gudang Kawat ke Stuffle Bahan Tarik Ulang.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jumlah kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Stuffle Bahan Tarik Ulang sesuai antara dokumentasi dengan realitanya.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk terima kawat ke Bagian Tarik Ulang dapat dilihat pada Lampiran C - 8. Pada prosedur tersebut proses serah terima dilakukan hanya dengan cara meletakkan kawat paku yang diserahterimakan ke dekat Mesin Tarik. Pada prosedur ini kawat paku dianggap sudah diserahterimakan bila label sudah dilepas dan kawat paku diproses pada Mesin Tarik. Dengan tidak adanya proses pengecekan dari pihak penerima apakah jumlah kawat paku yang diserahkan benar atau tidak, maka apabila teijadi ketidaksesuaian antara dokumentasi dengan realita maka akan tidak terdeteksi, Kesalahan yang mimgkin terjadi antara lain adalah jumlah kawat yang diserahterimakan lebih banyak/sedikit dari dokumentasi, sehingga dapat menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian perhitungan loss dan WIP Bahan.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
a. Form Kebutuhan Bahan Mesin Drawing
- Berguna untuk mengetahui jenis dan jumlah Bahan Tarik Ulang yang dibutuhkan oleh Bagian Tarik Ulang.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 1.
b. Form Pengambilan Kawat
- Berguna untuk mendokumentasikan jenis, nomor coil dan lokasi asal penyimpanan kawat paku yang diserahterimakan ke Stuffle Bahan Tarik Ulang.
- Berupa form.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 11.
39
c. Slip Penerimaan Kawat Paku
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Stuffle Bahan Tarik Ulang.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 12.
4.2.8. Prosedur Pemakaian Bahan Tarik Ulang
Prosedur Pemakaian Bahan Tarik Ulang adalah prosedur yang dilakukan untuk memindahkan Bahan Tarik Ulang yang ada di Stuffle Bahan Tarik Ulang ke Mesin Tarik dan melakukan proses tarik.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jenis dan jumlah Bahan Tarik Ulang yang masuk dan diproses pada masing-masing Mesin Tarik terdokumentasi dengan baik dan benar.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk pemakaian Bahan Tarik Ulang dapat dilihat pada Lampiran C - 9. Pada prosedur ini apabila dilakukan pemindahan Bahan Tarik Ulang ke Mesin Tarik yang lain maka perhitungan berat Bahan Tarik Ulang yang dipindahkan tersebut hanya berdasarkan perkiraan dan tidak dilakukan penimbangan. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam mengontrol besamya loss proses pada tiap mesin sehingga memungkinkan terjadinya surplus.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur;
Form Pemakaian Bahan dan Hapro
- Berguna untuk mendokumentasikan pemakaian bahan dan jumlah hasil produksi yang dihasilkan oleh tiap mesin.
- Berupa form.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 3.
4.2.9. Prosedur Control Stuffle Bahan Tarik Ulang
Prosedur Control Stuffle Bahan Tarik Ulang adalah prosedur yang dilakukan untuk mengontrol aliran Bahan Tarik Ulang yang masuk ke Stuffle Bahan Tarik Ulang dan keluar dari Stuffle Bahan Tarik Ulang.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jumlah Bahan Tarik Ulang yang masuk ke Stuffle Bahan Tarik Ulang dan keluar dari Stuffle Bahan Tarik Ulang sudah terdokumentasi dengan baik dan benar sehingga informasi yang diperoleh juga benar.
Pada saat ini tidak terdapat prosedur control jumlah Bahan Tarik Ulang yang terdapat di dekat Mesin Tarik, sehingga akan menyebabkan teijadinya kesulitan untuk mendeteksi hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara dokumentasi dengan realita . Ketidaksesuaian yang teijadi dapat disebabkan karena ketidakkonsistenan dalam proses pencatatan maupun karena kesalahan pencatatan.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
Form Control Stuffle Bahan Tarik Ulang
- Berguna untuk mendokumentasikan aliran keluar dan masuk Bahan Tarik Ulang di Stuffle Bahan Tarik Ulang.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 4.
4.2.10. Prosedur Serah Terima Kawat ke Departemen Paku
Prosedur serah terima kawat ke Departemen Paku adalah prosedur yang dilakukan untuk melakukan serah terima kawat paku dari Gudang Kawat ke Departemen Paku.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jumlah kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Departemen Paku sesuai antara dokumentasi dengan realitanya.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk terima kawat ke Departemen Paku dapat dilihat pada Lampiran C - 12. Pada prosedur tersebut proses serah terima dilakukan hanya dengan cara meletakkan kawat paku yang diserah terimakan ke Stuffle Departemen Paku. Dengan tidak adanya proses pengecekan dari pihak penerima apakah jumlah kawat paku yang diserahkan benar atau tidak, maka apabila teijadi ketidaksesuaian antara dokumentasi dengan realita maka akan tidak terdeteksi. Kesalahan yang mungkin teijadi antara lain adalah jumlah kawat yang diserahterimakan lebih banyak/sedikit dari dokumentasi atau jenis/nomor coil
41
kawat yang diserahterimakan tidak sesuai antara dokumentasi dengan realita. Hal ini menyebabkan jumlah stok kawat di Gudang Kawat tidak sesuai dan pada saat stock opname juga ditemukan kasus bahwa kawat paku yang sudah diserahterimakan ke departemen lain temyata masih berada di lantai produksi Seksi Drawing.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
a. Forni Pengambilan Kawat
- Berguna untuk mendokumentasikan jenis, nomor coil dan lokasi asal penyimpanan kawat paku yang diserahterimakan ke Departemen Paku.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 11.
b. Slip Penerimaan Kawat Paku
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Departemen Paku.
- Berupa print out.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 12.
4.2,11. Prosedur Serah Terima Kawat ke Seksi Potong
Prosedur serah terima kawat ke Seksi Potong adalah prosedur yang dilakukan untuk melakukan serah terima kawat paku dari Gudang Kawat ke Seksi Potong.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jumlah kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Seksi Potong sesuai antara dokumentasi dengan realita.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk serah terima kawat ke Seksi Potong dapat dilihat pada Lampiran C - 13. Pada prosedur tersebut proses serah terima dilakukan dengan cara meletakkan kawat paku yang diserah terimakan ke Stuffle Seksi Potong. Dengan tidak adanya proses pengecekan dari pihak penerima apakah jumlah kawat paku yang diserahkan benar atau tidak, maka apabila terjadi ketidaksesuaian antara dokumentasi dengan realita maka akan tidak terdeteksi.
Kesalahan yang mungkin teijadi misalnya jumlah kawat yang diserahterimakan lebih banyak/sedikit dari dokumentasi atau jenis/nomor coil kawat yang
diserahterimakan tidak sesuai antara dokumentasi dengan realita. Hal ini menyebabkan jumlah stok kawat di Gudang Kawat tidak sesuai. Pada saat stock opname juga ditemukan kasus dimana kawat potong yang sudah diserahterimakan ke Seksi Potong temyata masih berada di lantai produksi Seksi Drawing.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur:
a. Slip Job Order
- Berguna untuk mengetahui jenis dan jumlah Bahan yang dibutuhkan oleh Seksi Potong.
- Berupaybrwt.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 13.
b. Form Pengambilan Kawat
- Berguna untuk mendokumentasikan jenis, nomor coil dan lokasi asal penyimpanan kawat paku yang diserahterimakan ke Seksi Potong.
- Berupaybrm.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 11.
c. Slip Penerimaan Kawat Paku
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Seksi Potong.
- Berupa print out.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 12.
4.2.12. Prosedur Serah Terima Kawat ke Bagian Annealing
Prosedur Serah Terima Kawat ke Bagian Anneahng adalah prosedur yang dilakukan untuk melakukan serah terima kawat paku dari Gudang Kawat ke Bagian Annealing.
Tujuan pembuatan prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa jumlah kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Bagian Annealing sesuai antara dokumentasi dengan realitanya dan hasil produksi Bagian Armealing mempunyai kemampuan trace ability.
Prosedur ini diajukan usulan perbaikan metode kerja untuk memberikan kemampuan trace ability untuk kawat paku dan bendrat #20, yaitu dengan cara;
43
a. Untuk kawat #20 S-PAQ
- Mengubah berat kawat S-PAQ hasil produksi Mesin Tarik Basah yang semula 250 kg/boom menjadi 225 kg/boom.
- Setelah Kawat #20 ditimbang dan dibentuk coil dengan berat tiap coil 5 kg, maka kawat tersebut dimasukkan ke dalam boom bakar dengan kapasitas maksimal tiap boom 45 coil x 5 kg = 225 kg.
b. Untuk kawat #20 S-Q
- Memasukkan kawat #20 hasil produksi Mesin Tarik Basah yang telah berbentuk coil dengan berat masing-masing 25 kg langsung dari Mesin Tarik Basah ke boom bakar.
c. Pemberian Label
- Label dipasang pada tiap boom, dimana label ini terns dipergunakan sampai proses packaging.
- Pada saat proses packaging, pada masing-masing coil kawat dipasang label.
Prosedur yang berlaku saat ini untuk serah terima kawat ke Bagian Annealing dapat dilihat pada Lampiran C - 15. Karena sering tegadi perubahan satuan dan jumlah coil tiap label, maka prosedur yang berlaku saat ini tidak memberikan kemampuan lacak bagi hasil produksi Seksi Aimealing.
Proses ini juga membuka kemungkinan terjadinya kesalahan proses dokumentasi, karena tidak adanya proses pengecekan antara pihak yang menyerahkan dan yang menerima.
Data-data yang ada pada Usulan Prosedur;
a. Form Pengambilan Kawat
- Berguna untuk mendokumentasikan jenis, nomor coil dan lokasi asal penyimpanan kawat paku yang diserahterimakan ke Bagian Annealing.
- Berupaform.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - U . b. Slip Penerimaan Kawat
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Bagian Annealing.
- Berupa print out.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 12.
c. Buku Catatan Proses Penimbangan S-PAQ
- Berguna imtuk mendokumentasikan nomor coil dan berat kawat #20 S-PAQ yang telah ditimbang, serta pelaksana proses penimbangan.
- Berupa buku.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 14.
d. Buku Catatan Proses Bakar
- Berguna untuk mendokumentasikan proses pembakaran kawat pada Bagian Annealing.
- Berupa buku.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 15.
e. Buku Catatan Proses Packaging
- Berguna untuk mendokumentasikan jumlah kawat yang telah di-packaging.
- Berupa buku.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H -16
f. Laporan Hasil Produksi Bagian Armealing dan Packaging
- Berguna untuk memberikan informasi mengenai jenis dan berat hasil produksi Bagian Annealing dan Packaging.
- Berupa print out.
- Contohnya dapat dilihat pada Lampiran H - 17.
4.3. Implementasi
4.3.1. Usulan Prosedur Yang Telah Diimplementasikan
Selama melakukan Tugas Akhir di PT. Surabaya Wire, telah diimplementasikan beberapa usulan prosedur yaitu:
a. Usulan Prosedur Pengambilan Wire Rod
Hasil yang diperoleh adalah meminimalisasi adanya wire rod yang belum berlabel masuk ke dalam Stuffle Wire Rod.
b. Usulan Prosedur Pemakaian Wire Rod
Usulan ini telah diimplementasikan sejauh proses penimbangan wire rod yang akan dipindahkan ke Mesin Tarik lainnya. Hasil yang diperoleh adalah
45
mengetahui jumlah loss yang terjadi pada proses produksi kawat dengan bahan baku wire rod.
c. Usulan Prosedur Control Stuffle Wire Rod
Hasil yang diperoleh adalah proses pencatatan keluar-masuknya wire rod dari Stuffle Wire Rod lebih konsisten. Sehingga jumlah stok wire rod yang ada di Stuffle Wire Rod dapat diketahui jumlahnya. Selain itu, data pemakaian wire rod di lantai produksi menjadi lebih akurat, sehingga informasi mengenai jumlah loss proses produksi menjadi lebih akurat.
d. Usulan Prosedur Control Proses Produksi
Hasil yang diperoleh adalah mengetahui jumlah loss dengan lebih akurat.
e. Usulan Prosedur Serah Terima Kawat ke Seksi Potong.
Hasil yang diperoleh adalah proses pencatatan stok kawat paku yang diserahterimakan dari Gudang Kawat ke Seksi Potong lebih akurat.
f Usulan Pemakaian Bahan Tarik Ulang
Hasil yang diperoleh adalah data pemakaian bahan Tarik Ulang di lantai produksi menjadi lebih akurat, sehingga informasi mengenai jumlah loss proses produksi menjadi lebih akurat.
g. Usulan Prosedur Stock Opname
Usulan Prosedur Stock Opname yang sudah diimplementasikan merupakan usulan prosedur tahap awal. Hasil yang diperoleh adalah memudahkan proses pengecekan keabsahan hasil stock opname oleh Departemen Accounting.
4.3.2. Usulan Prosedur Yang Belum Diimplementasikan
Selama melakukan Tugas Akhir di PT. Surabaya Wire, beberapa usulan prosedur belum dimplementasikan, yaitu:
a. Usulan Prosedur Penimbangan Proses Produksi
Usulan prosedur ini membutuhkan bentuk label yang baru. Untuk membuat label yang baru, dibutuhkan persetujuan dari pihak manajemen.
b. Usulan Prosedur Control Mutasi Barang dari Stuffle Hasil Produksi
Usulan prosedur ini belum dapat diimplementasikan, karena Stuffle Hasil Produksi masih belum tersedia.
c. Usulan Prosedur Serah Terima Kawat ke Departemen Paku.
Usulan prosedur ini belum dapat diimplementasikan, karena membutuhkan kordinasi dengan Departemen Paku.
d. Usulan Prosedur Serah Terima Kawat ke Bagian Tarik Ulang.
Usulan prosedur ini belum dapat diimplementasikan. Karena kesulitan untuk pengadaan tempat Stuffle Bahan Tarik Ulang, sehingga Stuffle Bahan Tarik Ulang belum dibuat.
e. Usulan Prosedur Serah Terima Kawat ke Bagian Annealing
Usulan prosedur ini belum dapat diimplementasikan. Karena kesulitan untuk pengadaan tempat Stuffle Bahan Tarik Ulang, sehingga Stuffle Bahan Tarik Ulang belum dibuat. Selain itu juga dibutuhkan training bagi para operator, f Usulan Prosedur Pelaksanaan Stock Opname
Usulan prosedur ini yang belum dilaksanakan adalah tahap pengembangan. Hal ini disebabkan karena usulan prosedur tahap awal belum terlaksana dengan sempuma.