1
lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Salah satu masalah dari gizi kronik adalah stunting yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil,kesakitan pada bayi, dan kurang nya asupan gizi pada bayi. Di masa yang akan datang balita akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. (Almarita dkk 2018)
Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. (depkes 2018)
Di Indonesia diperkirakan 7,8 juta anak mengalami stunting,data saat ini berdasarkan lapora yang dikeluarkan oleh UNICEF dan memposisikan Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah anak yang menggalami stunting tinggi (UNICEF, 2007
Menurut data hasil dari Riskesdas tahun 2013 prevalensi stunting pada anak usia 5-12 tahun di Kota Cimahi yaitu sebesar 18,6 %. Sangat pendek sebesar 4,7%, pendek sebesar 13,9%, dan norma; sebesar 81,4%.
(Riskesdas 2013)
Masyarakat perlu memahami faktor apa saja yang menyebabkan stunting untuk menekan angka prevalensi tersebut. Faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita ada dua yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Kejadian stunting secara langsung dipengaruhi oleh pola makan dan adanya penyakit infeksi, sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah ketersediaan pangan, status gizi ibu saat hamil, pemberian ASI eksklusif, status imunisasi, pendidikan orang tua, pekerjaan ibu dan status ekonomi keluarga ( Bappenas RI, 2013).
Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.
Faktor lainnya yang menyebabkan stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih mengahadapi permasalahan serius mengenai stunting. Penyebab stunting sangat kompleks, salah satu penyebab utamanya adalah asupan protein yang memiliki efek terhadap level plasma insulin growth factor I (IGF-I), protein matriks tulang, dan faktor pertumbuhan, serta kalsium dan fosfor
yang berperan penting dalam formasi tulang. Konsumsi makan adalah faktor langsung penyebab kejadian stunting. Makanan akan diubah menjadi energi dan zat gizi lain untuk menunjang semua aktivitas manusia.
Makanan yang baik adalah makanan yang bergizi terutama asupan energi dan protein. Kekurangan konsumsi energi dan protein akan menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi, sehingga untuk mengatasi kekurangan tersebut, tubuh akan menggunakan simpanan energi dan protein. Apabila keadaan ini berlangsung dalam waktu lama, maka simpanan energi dan protein habis, sehingga terjadi kerusakan jaringan yang menyebabkan seorang anak mengalami kurang gizi / stunting( Supariasa, 2011).
Keadaan gizi yang baik dapat dicapai dengan memperhatikan pola konsumsi makanan terutama energi, protein, dan zat gizi mikro. Hal tersebut dapat ditempuh dengan penyajian hidangan bervariasi dan kombinasi (Bahabol 2013). Anak-anak butuh makanan untuk pertumbuhan, perkembangan fisik dan psikologisnya dan tentunya pula sebagai penghasil energi untuk kegiatan fisik (Misnadiarly 2007).
Kekurangan energi pada seorang anak merupakan indikasi kekurangan zat gizi lain. Apabila kondisi ini dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka akan mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan tulang yang menyebabkan terjadinya permasalahan dengan tinggi badan atau stunting pada balita. Berdasarkan penelitian Hidayati et al (2010) kejadian stunted pada anak dapat juga disebabkan asupan energi yang rendah.
Dalam penelitian ini terungkap bahwa asupan energi yang rendah memiliki risiko terhadap kejadian stunted 2,52 kali lebih tinggi dibandingkan dengan asupan energinya baik. Tidak hanya kebutuhan energi pemenuhan kebutuhan asupan protein dan kalsium pun harus dipenuhi asupannya
karena jika tidak terpenuhi dalam jangka waktu lama akan menyebabkan masalah gizi yang akan terjadi pada seseorang. (WHO, 2003)
Kekurangan protein menyebabkan reterdasi pertumbuhan dan kematangan tulang, karena protein adalah zat gizi yang essensial dalam pertumbuhan. Protein mempunyai fungsi yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh ( Almatsier, 2009 ). Hasil penelitian Suiroka dan (Nugraha, 2011) menunjukan bahwa ada pengaruh antara konsumsi energi, protein dan vitamin A dengan kejadian stunting pada anak balita. Konsumsi energi dan protein sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak balita dan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Konsumsi energi dan protein yang rendah akan menjadikan anak balita beresiko mengalami stunting.
Kalsium merupakan unsur utama yang mempengaruhi tinggi badan anak. kalsium dalam tubuh merupakan salah satu biomarker pertumbuhan tinggi badan, karena kalsium berhubungan erat dengan pembentukan hormone pertumbuhan (growth hormone) pada anak balita dan merangsang pertumbuhan tulang pada lempeng epifisis ( Bahandari, 2001).
Kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan menyebabkan gangguan pertumbuhan. Tulang kurang kuat, mudah bengkok, dan rapuh. (Almatsier, 2010)
Tumbuh kembang anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas yang baik dan benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan gizi pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan baik. Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan mengakibatkan gangguan pada organ dan sistem tubuh anak. Anak SD yang berusia 7-13 tahun merupakan masa
– masa pertumbuhan paling pesat kedua setelah masa balita. Kesehatan yang optimal akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal.
Perkembangan motorik kasar potensial pesat pada anak usia dini hingga jenjang sekolah dasar. Sebenarnya anggapan bahwa perkembangan motorik kasar akan berkembang dengan secara otomatis dengan bertambahnya usia anak, merupakan anggapan yang keliru.
Perkembangan motorik kasar pada anak perlu adanya bantuan dari pendidik di lembaga pendidikan usia dini yaitu dari sisi apa yang dibantu, bagaimana membantu secara tepat sasaran, bagaimana jenis latihan yang aman bagi anak sesuai dengan tahapan usia dan bagaimana kegiatan fisik motorik kasar yang menyenangkan anak.
Kampung Cireundeu, adalah kampung adat yang terletak di Kota Cimahi, tidak jauh dari Ibukota Jawa Barat, Kota Bandung. Masyarakat kampung ini masih mempertahankan adat kebudayaannya dalam pengelolaan ruang wilayah dan konsep ketahanan pangannya. Kampung Cireundeu adalah sebuah bukit kecil yang dihuni oleh± 80 KK atau± 400 jiwa yang memiliki tradisi berbeda dari masyarakat kampung lain di sekitarnya. Masyarakat kampung ini merupakan suatu komunitas adat kesundaan memelihara, melestarikan adat istiadat secara turun temurun dan memiliki perbedaan dengan budaya masyarakat di sekitarnya.
Sebagian penduduk Cireundeu, sejak ratusan tahun silam (sejak tahun1918), makanan pokonya bukan beras atau nasi seperti lainnya.
Mereka hingga saat ini makanan pokoknya adalah berbagai panganan dari rasi atau beras singkong.
1.2 Rumusan masalah
a. Bagaimanakah gambaran asupan energi, protein dan kalsiaum dengan kejadian stunting pada siswa SD Negri Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi ?
b. Bagaimanakah gambaran status gizi (TB/U) pada siswa SD Negri Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi ?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran asupan energi, protein,dan status gizi pada anak stunting di SD Negri Cireundeu
1.3.2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui gambaran status gizi (TB/U) berdasarakan asupan energi pada siswa SD Negri Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi b) Mengetahui gambaran status gizi (TB/U) berdasarakan asupan
protein pada siswa SD Negri Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi c) Mengetahui gambaran status gizi (TB/U) berdasarakan asupan
kalsium pada siswa SD Negri Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi d) Mengetahui gambaran status gizi (TB/U) pada siswa SD Negri
Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi
e) Mengetahui gambaran asupan energi dengan kejadian stunting siswa SD Negri Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi
f) Mengetahui gambaran asupan protein dengan stunting siswa SD Negri Cireundeu Cimahi selatan Kota Cimahi
g) Mengetahui gambaran asupan kalisum dengan stunting siswa SD Negri Cireundeu Cimahi selatan Kota Cimahi
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini termasuk ke dalam lingkup gizi masyarakat yang mengkaji gambaran asupan energi, protein dan kalsium dengan kejadian stunting siswa SDN Cireundeu Cimahi Selatan Kota Cimahi.
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peneliti
Dengan dilaksanakannya penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis serta lebih mengenal dan memahami mengenai gambaran asupan energi, dan protein pada anak stunting, gambaran status gizi pada anak (TB/U) usia 6-12 tahun di SD Negri Cireundeu.
1.5.2 Bagi Sampel
Penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat menambah pengetahuan orang tua mengenai bagaimana gambaran asupan energi, dan protein pada anak stunting dan gambaran status gizi (TB/U) pada anak usia 6-12 tahun di SD Negri Cireundeu.
1.5.3 Bagi Lokasi Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi bagi institusi terkait yaitu mengenai gambaran asupan energi, protein, dan kalsium usia 6-12 tahun di SD Negri Cireundeu.
1.5.4 Bagi Jurusan Gizi
Hasil penelitian yang akan dilakukan diharpakan dapat menambah dan melengkapi informasi dari kepustakaan mengenai gambaran asupan energi, dan protein, pada siswa stunting usia 6-12 tahun di SD Negeri Cireundeu, sehingga dapat bermanfaat dan dapat dijadikan referensi serta dapat digunakan sebagai bahan Masukan dan bahan pertimbangan bagi penelitian lain ataupun penelitian lanjutan.
1.6 Keterbatasan Penelitian
Pengambilan data asupan energi, protein dan kalsium juga pengukuran tinggi badan dilakukan dengan kurang lebih berjumlah 7 enumerator yang memiliki perbedaan cara melakukan wawanacara, menggali informasi dari sampel dan cara pengukuran. Maka sebelum dilakukan pengambilan data peneliti melakukan pengarahan dan menyamakan cara wawancara juga pengukuran tinggi badan, sehingga dapat meminimalisir kesalahan dan salah pengambilan data .