1
pada Program Pendidikan Profesi Guru
Umi Hanifah1, Mukhoiyaroh2
12Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia [email protected]*
Abstract
Keywords:
Arabic Teacher;
Online Learning System;
Teacher Professional Education.
The purpose of this study is to reveal the increase in the professionalism of Arabic language teachers through the online learning system in the In-service Teacher Professional Education program. This study uses a qualitative descriptive method with the research subjects of students participating in the Teacher Professional Education program in the Arabic Language subjects at LPTK UIN Sunan Ampel. Data was collected through interviews, questionnaires, observations, and documentation. Then it was analyzed critically with data analysis techniques developed by Miles, Huberman, and Saldana. The results showed that the online lectures of In-service Teacher Professional Education students at the LPTK UIN Sunan Ampel which integrated pedagogic and professional materials as in the curriculum structure of In-service Arabic Teacher Professional Education packaged in the online learning system (SPADA) could increase the professionalism of Arabic language teachers. Meanwhile, the problems faced by students of Arabic teacher Profession Education are: (a) problems with initial abilities and (b) learning facilities, namely devises and internet signals that are not strong enough. The solution that the researcher offers is that students must understand the material in the Teacher Professional Education curriculum from the start, have discussions with lecturers and colleagues, or browse the internet, and read other relevant references, as well as prepare sufficient devices and internet to be able to do learning with a pedagogic approach and knowledge content with communication and information technology effectively.
Abstrak:
Kata Kunci:
Guru Bahasa Arab;
Sistem Pembelajaran Daring; Pendidikan Profesi Guru.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap peningkatan profesionalisme guru Bahasa Arab melalui sistem pembelajaran daring pada program Pendidikan Profesi Guru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subyek penelitian mahasiswa peserta program Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Mata pelajaran Bahasa Arab di LPTK UIN Sunan Ampel. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, angket, observasi, dan dokumentasi.
Selanjutnya dianalisis secara kritis dengan teknik analisis data yang
2
dikembangkan oleh Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuliahan daring mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan di LPTK UIN Sunan Ampel yang mengintegrasikan antara materi pedagogik dan profesional sebagaimana dalam struktur kurikulum Pendidikan Profesi Guru Bahasa Arab Dalam Jabatan yang dikemas dalam sistem pembelajaran dalam jaringan (SPADA) dapat meningkatkan profesionalisme guru bahasa Arab. Sedangkan problematika yang dihadapi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru bahasa Arab adalah: (a) problematika kemampuan awal dan (b) sarana pembelajaran, yaitu devise dan sinyal internet yang kurang kuat. Adapun solusi yang peneliti tawarkan adalah mahasiswa sejak awal harus sudah memahami materi dalam kurikulum Pendidikan Profesi Guru, berdiksusi dengan dosen pengampu dan sejawat, atau melakukan browsing di internet, dan membaca referensi lain yang relevan, serta menyiapkan device dan internet yang cukup agar dapat melakukan pembelajaran dengan pendekatan pedagogik dan konten pengetahuan dengan teknologi komunikasi dan informasi secara efektif.
1. Pendahuluan
Jabatan guru merupakan amanah yang harus dijalankan dengan kebulatan hati dan tekad. Guru harus menjadi uswatun hasanah dalam segala tindak tanduknya. Sesuai dengan akronim yang berlaku di Jawa yaitu "guru" digugu lan ditiru. Sesuatu yang sangat memalukan jika guru tidak disiplin dalam menjalankan tugasnya seperti datang terlambat, pulang tidak sesuai jadwal bahkan ketika jam mengajar ada sebagian guru pergi belanja di luar lingkungan sekolah. Bagaimana mungkin bisa mendisiplinkan siswa sedang untuk mendisiplinkan dirinya sendiri saja guru itu tidak mampu? Sungguh sebuah tamparan yang sangat menyakitkan jika hal ini terjadi, karena guru mempunyai peran yang amat penting karena guru bertugas untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai kepada siswa.1
Untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas, guru harus profesional dan berkualitas. Karena guru yang profesional dan berkualitas akan mampu mencetak anak bangsa yang berkualitas pula. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,
1 Elin Rosalin, Gagasan Merancang Pembelajaran Kontekstual (Bandung: Karsa Mandiri Persada, 2008), hlm.1. Periksa juga Muhammad Nurtanto, “Mengembangkan Kompetensi Profesionalisme Guru Dalam Menyiapkan Pembelajaran Yang Bermutu,” in Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan, 2016, hlm. 553–565.
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.2 Sehingga guru yang profesional dan berkualitas berbanding lurus dengan bobot kompetensi yang dimilikinya.
Salah satu permasalahan serius yang dihadapi dunia pendidikan di era milenial-digital ini adalah rendahnya kemampuan guru dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Hal ini mengakibatkan rendahnya kualitas pembelajaran. Pembelajaran yang terjadi sering kali hanya bersifat seadanya, rutinitas, formalitas, kurang bermakna, kualitas pembelajaran semacam itu akan menghasilkan mutu pendidikan yang rendah pula.3 Rendahnya kualitas pembelajaran tersebut salah satunya disebabkan oleh rendahnya profesionalisme guru dalam mengajar siswa millenial. Guru yang terlahir di era Generasi X, jika tidak bisa menyesuaikan diri maka akan ditinggalkan oleh siswanya yang notabene mereka lahir pada generasi milenial atau generasi Y. Oleh karena itu, guru harus mengupdate diri agar mampu menjadi pengajar di kelas siswa generasi milenial.4
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru di era digital-millenial ini, berbagai usaha telah dilakukan baik oleh pemerintah atau pihak swasta, antara lain melalui workshop, pelatihan, lokakarya, bimbingan teknik, uji kompetensi guru, dan PLPG. Akan tetapi hal tersebut belum dapat menunjukkan peningkatan profesionalisme guru secara signifikan.
Merespon hal ini, pemerintah sejak tahun 2018 telah merubah sistem pendidikan keprofesian dari Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) yang hanya 10 hari menjadi Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama 6 bulan.5 Dengan waktu yang cukup panjang ini diharapkan akan banyak hal baru yang bisa diperoleh guru. Asumsinya dengan waktu 6 bulan akan
2 Badan Standar Nasional Pendidikan., Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang:”Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru” (Jakarta, 2007).
3 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 190.
Periksa juga: Evi Surahman, Rustan Santeria, and Edi Indra Setiawan, “Tantangan Pembelajaran Daring di Indonesia,” Kelola: Journal of Islamic Education Management 5, no. 2 (2020): 89–98.
4 A Nursyifa, “Transformasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0,” Journal of Civics and Education Studies 6, no. 1 (2019): 51–64.
5 Arie Lukihardianti, “Pengembangan PPG Hybrid Learning Mampu Memfasilitasi 47.033 Mahasiswa Selama 2 Tahun (2018-Mei 2019) Lebih Banyak Dibanding PPG Reguler Yang Memfasilitasi 20.532 Mahasiswa Selama 6 Tahun (2013-2018),” https://www.republika.
Periksa juga: Gatot Subroto, “Peningkatan Kualitas Pendidikan: Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Guru Profesional Di Indonesia,”
Jurnal Aspirasi 10, no. 1 (2019): 1–17.
4
membentuk sosok guru yang lebih hebat jika dibandingkan dengan pembentukan sosok guru profesional selama 10 hari. Untuk menunjang pelaksanaan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) 6 bulan itu, pemerintah dengan bantuan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menyusun suatu kurikulum yang mampu mendukung mewujudkan tujuan yang diharapkan. Struktur kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG) dirancang untuk memfasilitasi mahasiswa program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam mencapai Standar Kompetensi Lulusan, yang dinyatakan dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) pada Bidang Studi atau Program Keahlian masing-masing.6
Inovasi pembelajaran merupakan salah satu upaya agar pembelajaran yang dilakukan dapat meningkat kualitasnya. Beberapa penelitian tentang peningkatan kualitas pembelajaran telah mengungkap berbagai stategi meningkatkan kualitas pembelajaran, di antaranya; seperti perubahan model dan metode pembelajaran,7 penyediaan alat-alat pembelajaran8 dan buku-buku bermutu9 serta penggunaan teknologi yang mendukung proses belajar mengajar,10 termasuk pembelajaran daring (dalam jaringan) atau pembelajaran virtual.11 Dalam menghadapi persoalan guru di era digital millenial ini, diperlukan sebuah sistem pembelajaran yang efektif dan efisien dengan tetap menjamin mutu lulusannya. Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan dilaksanakan dalam 1 (satu) semester dimana dalam 3 (tiga) bulan pertama mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG)
6 Jejen Musfah, Analisis Kebijakan Pendidikan: Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0 (Jakarta: Prenada Media, 2021).
7 Ananda Hadi Elyas, “Penggunaan Model Pembelajaran E-Learning Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran,” Warta Dharmawangsa, no. 56 (2018).
8 Rika Megasari, “Peningkatan Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan Untuk Meningkatan Kualitas Pembelajaran Di SMPN 5 Bukittinggi,” Jurnal Bahana Manajemen Pendidikan 2, no. 1 (2020): 636–48.
9 Umi Hanifah, “Pentingnya Buku Ajar Yang Berkualitas Dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Bahasa AraB,” At-Tajdid : Jurnal Ilmu Tarbiyah (2014). Periksa juga:
Kasmiwati Kasmiwati, “Peran Perpustakaan Dalam Mewujudkan Pendidikan Bermutu,”
Media Pustakawan 14, no. 1 (2007): 8–15.
10 Aviv Mahmudi, “Optimalisasi Teknologi Informasi Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran,” Jurnal Pengabdian Vokasi 2, no. 1 (2021). Periksa juga: Edy Prayitno, Deborah Kurniawati, and Ilham Rais Arvianto, “Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran,” in Seminar Nasional Konsorsium Untag Se Indonesia, vol. 1, 2018.
11 Yayan Musthofa, M Asy’ari, and Habibur Rahman, “Pembelajaran Pesantren Virtual:
Fasilitas Belajar Kitab Kuning Bagi Santri Kalong,” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 16, no. 1 (2021): 58–70. Periksa juga: Albitar Septian Syarifudin, “Impelementasi Pembelajaran Daring Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Sebagai Dampak Diterapkannya Social Distancing,” Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Metalingua 5, no. 1 (2020): 31–34.
Daljab mengikuti pendalaman materi model hybrid learning dengan SPADA dengan bobot 10 SKS, kemudian selama 5 (lima) minggu mengikuti lokakarya dan peer teaching di LPTK selama 5 (lima) minggu dengan bobot 8 (delapan) SKS setelah itu melakukan PPL selama 3 (tiga) minggu di sekolah/madrasah dengan bobot 6 (enam) SKS. Sebagai langkah awal Direktorat Pembelajaran telah menyiapkan sebanyak 44 matakuliah yang terdiri dari 1.052 Modul pembelajaran yang akan diunggah ke dalam sistem pembelajaran daring (SPADA) Indonesia sebagai Massive Open Online Course (MOOCs).12
Dalam tulisan ini, penulis mengungkap bagaimana penerapan perkuliahan daring mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) di LPTK FTK UIN Sunan Ampel dapat meningkatkan profesionalisme guru bahasa Arab di era digital dan problematika yang dihadapi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab di LPTK UIN Sunan Ampel dalam perkuliahan daring serta solusinya.
2. Methods
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data dalam penelitian ini adalah bagaimana peningkatan profesionalisme guru bahasa Arab melalui proses perkuliahan daring mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab di UIN Sunan Ampel Surabaya dan problematika apa yang dihadapi mahasiswa pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab LPTK UIN Sunan Ampel dalam meningkatkan kompetensinya melalui sistem pembelajaran daring dan solusinya. Untuk mendapatkan data di atas, maka dalam penelitian ini diperlukan adanya teknik pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian adalah: pertama, observasi, teknik ini penulis gunakan untuk memperoleh keterangan tentang pelaksanaan perkuliahan daring pada mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab di LPTK UIN Sunan Ampel dan keadaan yang berhubungan dengan penelitian ini.
Kedua, wawancara dan angket, dalam wawancara dan angket ini sasarannya adalah Dosen/Instruktur PPG mata pelajaran bahasa Arab di LPTK UIN Sunan Ampel, wawancara dan angket ini digunakan untuk menggali data tentang proses pembelajaran dalam jaringan mata kuliah
12 “https://Spada.Kemdikbud.Go.Id/Berita/terwujudnya-penerapan-sistem-hybrid-learning- untuk-ppg-dalam-jabatan-di-lptk-indonesia and “https://ppgdaljab.spada.ristekdikti.go.id.
6
bahasa Arab dalam PPG, dan angket untuk menggali data tentang problematika apa saja yang dihadapi mahasiswa peserta program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab selama perkuliahan daring pada LPTK UIN Sunan Ampel. Ketiga, dokumentasi, Adapun dokumentasi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah hasil karya (tuga-tugas) mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab di LPTK Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel yang telah dikoreksi dan dinilai oleh dosen/instruktur, pernyataan-pernyataan mahasiswa dalam forum diskusi, modul PPG bahasa Arab, jurnal perkuliahan, kontrak belajar, absensi (keaktifan mahasiswa), nilai, dan dokumen-dokumen yang berisi informasi tentang lembaga dan yang berkaitan dengan penelitian. Adapun analisa data untuk data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif non statistic. Data yang bukan berupa angka yang diperoleh dari hasil observasi, angket, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara induktif dan deduktif. Induktif.
3. Hasil dan Pembahasan
Peningkatan Profesionalisme Guru Bahasa Arab melalui Penerapan Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan (SPADA) pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan
Perkuliahan atau pembelajaran pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan di LPTK UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2019 menggunakan LMS Sistem Pembelajaran Daring (SPADA). LMS ini disebut juga dengan e-Learning Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan yang dikelola oleh Kemendikbud Republik Indonesia.13 Sedangkan pada tahun 2021 pelaksanaan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan menggunakan LMS SPACE (sistem pembelajaran agama cara elektronik) yang dikelola oleh Kemenag Republik Indonesia.14 Penggunaan LMS untuk pembelajaran daring pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan bagian dari upaya penerapan penyesuaian terhadap perkembangan pesat sistem informasi Abad 21, maka pembelajaran harus dirancang dengan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) agar dapat mencapai kompetensi Abad 21 yakni kompetensi literasi informasi dan TIK. Maka, sebagai upaya meningkatkan kompetensi literasi informasi dan TIK peserta program Pendidikan Profesi Guru (PPG) secara efektif, serta untuk menyiapkan guru yang berkualitas
13 “Https://Spada.Kemdikbud.Go.Id/.”
14 “Https://Ppg.Siagapendis.Com/.”
dan menguasai perkembangan teknologi, diperlukan integrasi TIK dalam pembelajaran,15 yakni integrasi antara teknologi, pedagogik dan pengetahuan (konten/materi). Integrasi antara teknologi, pedagogik dan pengetahuan (konten/materi) tersebut dikenal dengan istilah TPACK.
TPACK adalah kerangka konseptual untuk mendesain model pembelajaran dengan mengintegrasikan tiga aspek utama yaitu teknologi, pedagogi, dan content.16 Perkuliahan atau pembelajaran pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab Daljab dengan menggunakan e-Learning Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan telah di rancang sedemikian rupa, setiap materi terintegrasi dengan Teknologi yang dikemas dalam LMS (Learning Management System) pembelajaran dalam jaringan.
Penerapan LMS Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab Dalam Jabatan tahun 2019 masih diiringi dengan pembelajaran tatap muka ketika lokakarya, peer teaching, PPL, dan Uji Kinerja atau masih menggunakan model blended learning, yakni Model pembelajaran blended adalah suatu model pembelajaran yang mengkombinasikan metode pengajaran face to face dengan metode pengajaran berbantukan komputer baik secara offline maupun online untuk membentuk suatu pendekatan pembelajaran yang terintegrasi17. Akan tetapi seiring dengan munculnya pandemi Covid-19, pembelajaran di sekolah, universitas, serta lembaga pendidikan lainnya beralih dengan cepat dari pembelajaran langsung ke pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh.18 Lembaga-lembaga pendidikan di dunia mendesain dan menggunakan berbagai sistem manajemen pembelajaran untuk menyampaikan dan mengelola e-learning atau learning content
15 Hasan Subekti et al., “Mengembangkan Literasi Informasi Melalui Belajar Berbasis Kehidupan Terintegrasi Stem Untuk Menyiapkan Calon Guru Sains Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0: Review Literatur,” Education and Human Development Journal 3, no. 1 (2017): 81–90, https://doi.org/10.33086/ehdj.v3i1.90.
16 Matthew J Koehler and Punya Mishra, “Introducing Tpck,” in Handbook of Technological Pedagogical Content Knowledge (TPCK) for Educators (New York:Routledge, 2014), 1.
17 Ann Toler Hilliard, “Global Blended Learning Practices for Teaching and Learning, Leadership and Professional Development.,” Journal of International Education Research 11, no. 3 (2015): 179–188.Periksa: Husni Idris, “Pembelajaran Model Blended Learning,”
Jurnal Ilmiah Iqra’ 5, no. 1 (2018): 61–73. Periksa juga: Nizwardi Jalinus and Unung Verawardina, Buku Model Flipped Blended Learning (Penerbit CV. Sarnu Untung, 2020).
18 Sri Gusty et al., Belajar Mandiri: Pembelajaran Daring Di Tengah Pandemi Covid-19 (Yayasan Kita Menulis, 2020). Periksa juga: Widya Sari, Andi Muhammad Rifki, and Mila Karmila, “Analisis Kebijakan Pendidikan Terkait Implementasi Pembelajaran Jarak Jauh Pada Masa Darurat Covid 19,” Jurnal Mappesona 2, no. 2 (2020).
8
management system (LCMS),19 termasuk pelaksanaan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab Dalam Jabatan tahun 2021 dilaksanakan secara fully online, yakni: Model Daring Penuh dimana pembelajaran dilakukan penuh. Dalam model ini Instruktur dan peserta didik tidak saling bertemu dan tetap berada di tempat masing-masing, hal ini juga membuat model ini disebut sebagai Distance Learning atau pembelajaran jarak jauh.20 Bahkan, untuk LMS SPACE (sistem pembelajaran agama cara elektronik) yang digunakan pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab Dalam Jabatan pada tahun 2021 dilengkapi dengan menu video conference yang belum ada pada LMS sebelumnya, yakni LMS Sistem Pembelajaran Daring (SPADA).
Selain materi dalam bentuk PDF ataupun Powerpoint, sistem pembelajaran daring pada pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab Dalam Jabatan juga menggunakan media berjenis Video. LMS e-Learning Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan disetting interaktif, dengan dilengkapi menu diskusi dan chatting.21 E-Materi melalui multimedia dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, mampu menyampaikan pesan-pesan historis melalui gambar dan video, menyemangatkan belajar mahasiswa melalui instrumentalia, mampu mengembangkan indra auditif atau pendengaran mahasiswa sehingga materi yang disampaikan lebih mudah di mengerti.22 E-materi merupakan
19 Thaer Issa Tawalbeh, “EFL Instructors’ Perceptions of Blackboard Learning Management System (LMS) at University Level,” English Language Teaching 11, no. 1 (2017): 1. Periksa juga Subiyantoro and Ismail, “Dampak Learning Management System (LMS) Pada Performa Akademik Mahasiswa Di Perguruan Tinggi.”
20 Ralph Meulenbroeks, “Suddenly Fully Online: A Case Study of a Blended University Course Moving Online during the Covid-19 Pandemic,” Heliyon 6, no. 12 (2020): e05728.
Periksa: Linda B Nilson and Ludwika a Goodson, Online Teaching at Its Best: Merging Instructional Design with Teaching and Learning Research (John Wiley & Sons, 2021).
Periksa juga: Fitria Fauziah Hasanah, Yuli Fauziah Setiawati, and Oyib Fauziah Sulaeman, “Implementasi Pembelajaran Fully Online E-Learning Berbasis Moodle,”
MADROSATUNA: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 3, no. 2 (2020): 77–88.
21 Gunawan Gunawan et al., “Pembelajaran Menggunakan Learning Management System Berbasis Moodle Pada Masa Pandemi Covid-19,” Indonesian Journal of Teacher Education 2, no. 1 (2021): 226–235. Pembelajaran secara daring dengan membuat elektronik materi (e-materi), dimana materi perkuliahan dibuat secara sistem terbuka pada learning management system (LMS). E-Materi melalui multimedia dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, mampu menyampaikan pesan pesan historis melalui gambar dan video, menyemangatkan belajar mahasiswa melalui instrumentalia, mampu mengembangkan indra auditif atau pendengaran mahasiswa sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dimengerti
22 Vicky Dwi Wicaksono, Hendrik Pandu Paksi, and Universitas Negeri Surabaya, “Seminar Nasional PGSD UNIKAMA https://semnas.unikama.ac.id/pgsd/artikel.php Vol. 2, Desember 2018 Pengembangan E-Materi Konsep Dasar PPKn Melalui Spada Unesa” 2 (2018): 178–83.
media dalam bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide, gagasan, atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.23 Sedangkan berdasarkan cara penggunaannya, LMS Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab mudah dioperasikan dan telah dilengkapi dengan panduan penggunaannya, baik berupa tulisan maupun video youtube.
Menurut Arsyad, bahwa media pembelajaran yang baik adalah yang dapat digunakan oleh penggunanya melalui petunjuk penggunaan yang mudah dipahami.24 Penyajian E-Materi yang demikian berimplikasi pada mahasiswa program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab yang merasa nyaman dan termotivasi untuk mempelajarinya, karena mudah untuk mengakses.25 Sehingga Dengan demikian E-Materi mampu untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab yang terdiri dari materi pedagogik dan profesional.
Problematika yang dihadapi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab
Menjadi seorang profesional diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat sebagaimana dimaksud adalah seseorang mesti mempunyai kemampuan dan sikap sebagaimana tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, Profesi guru menuntut seseorang untuk mempunyai kemampuan atau kompetensi tertentu dan juga sikap. Kompetensi sebagai seorang guru, di Indonesia diatur dengan Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Kompetensi guru profesional meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Lebih lanjut pada Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 disebutkan kriteria dari masing-masing kompetensi. Untuk memperoleh gelar guru profesional, maka harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama 6 bulan. UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai LPTK, ikut mendukung program pemerintah untuk menjadikan guru profesional melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada tahun 2019 dilakukan
23 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), 4.
24 Arsyad, 4.
25 “Wawancara Mahasiswa Program PPG Bahasa Arab Daljab LPTK UIN Sunan Ampel Surabaya,” n.d.
10
dengan daring melalui LMS. Terdapat kelebihan dan kekurangan dari LMS SPADA ini, sehingga menjadi problematika sendiri selain problematika yang muncul dari pribadi internal mahasiswa sendiri.
Beberapa problematika pembelajaran daring pada Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab Dalam Jabatan yang sudah diidentifikasi melalui wawancara dan angket adalah sebagai berikut:
Pertama, problematika kemampuan awal dalam pemahaman materi Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Belajar menurut konstruktivistik adalah membangun pengetahuan baru dari beberapa pengetahuan yang telah dimiliki. Semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dalam membangun pengetahuan, maka akan semakin kontekstual dan peserta didik mampu untuk mendapatkan pengetahuan yang baru dengan baik. Menurut teori konstruktivisme “belajar” lebih mudah dipahami oleh manusia karena manusia membangun dan mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah dilewati. Dengan hal ini juga hidup manusia menjadi lebih dinamis. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang telah memiliki pengetahuan awal tentang materi Pendidikan Profesi Guru (PPG) lebih siap dan lebih dapat membagun pengetahuan baru dari pada mahasiswa yang miskin pengetahuan awal. Hal ini dapat dipahami, karena dalam pembelajaran daring mahasiswa berinteraksi secara virtual dengan sumber belajar dan dengan pendidik. Waktu yang relatif singkat dan keterbatasan interaksi dosen dan mahasiswa menjadi hambatan tersendiri dalam pembelajaran daring. Pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik yang ada dapat menjadikan interaksi dosen dan mahasiswa dan juga interaksi antara mahasiswa dengan sumber belajar lain melalui LMS menjadi dukungan yang sangat bermanfaat untuk konstruksi pengetahuan mahasiswa. Karena bahan konstruksi dari mahasiswa yang mempunyai pengetahuan, pengalaman yang banyak tentu berbeda dengan mahasiswa yang sedikit pengetahuan dan pengalamannya dalam mendapatkan pengetahuan yang baru.
Hal di atas sesuai dengan pandangan konstruktivistik bahwa belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan individu yang belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Dosen memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala
belajar adalah niat belajar mahasiswa itu sendiri. Dengan istilah lain dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada mahasiswa.
Pengetahuan bukan sesuatu yang ditentukan melainkan sesuatu proses pembentukan. Von Glasersfeld dalam Paulina Pannen26 mengemukakan ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan yakni: 1) Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman. Kemampuan untuk mengingat dan mengungkapkan pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi mahasiswa dengan pengalaman tersebut. 2) Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan suatu hal. Kemampuan membandingkan sangat penting agar mahasiswa mampu menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman- pengalaman khusus serta melihat kesamaan dan perbedaannya untuk selanjutnya membuat klasifikasi dan mengkonstruksi pengetahuannya. 3) Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu daripada yang lain. Melalui suka dan tidak suka inilah muncul penilaian bagi pembentukan pengetahuaannya.
Penguasaan kompetensi lulusan sebagai guru profesional yang dicapai mahasiswa dengan demikian terpengaruhi oleh seberapa banyak mahasiswa memiliki pengetahuan, baik sebelum Pendidikan Profesi Guru (PPG) maupun selama Pendidikan Profesi Guru (PPG). Solusi yang peneliti tawarkan adalah mahasiswa sejak awal harus sudah memahami kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG), sehingga mahasiswa mempunyai kesiapan dalam melaksanakan Pendidikan Profesi Guru (PPG. Sehingga bangunan pengetahuan yang dikonstruksi semakin kokoh dan mampu mencapai Standar kompetensi lulusan. Sedangkan selama Pendidikan Profesi Guru (PPG), mahasiswa dapat berdiksusi dan bertanya kepada dosen pengampu, baik melalui chat atau melalui tugas resume yang di dalamnya terdapat pertanyaan tentang materi yang masih sulit dipahami,27 selain itu mahasiswa juga dapat berusaha sendiri dengan melakukan browsing di internet dan juga membaca refrensi-refrensi lain yang relevan.
26 Paulina Pannen, Dina Mustafa, and Mestika Sekar Winahyu, “Konstruktivisme Dalam Pembelajaran,” Jakarta: Depdiknas (2001).
27 Template resume dapat dilihat di lampiran.
12
Kedua, problematika dari kurangnya sarana pembelajaran
Salah satu penyangga suksesnya pembelajaran daring adalah ketersediaan alat dan teknologi yang memadai. Pembelajaran daring laksana kaki bagi seorang manusia untuk berjalan. Jika kakinya tidak berfungsi,maka tidak akan mampu mencapai tujuan yang diinginkan.
Demikian juga peralatan (device) dengan teknologinya, pada zaman serba digital dan komunikasi dan informasi yang cepat, ketersediaannya adalah suatu keharusan. Penguasaan teknologi dalam pembelajaran bahkan menjadi standar kompetensi lulusan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang mana mesti melakukan pembelajaran dengan pendekatan TPACK (technological pedagogical content knowledge). TPACK adalah penggabungan antara kemampuan pengetahuan konten, pedagogic, dan integrasi teknologi guru di dalam proses pembelajaran di kelas.28
Problematika kurangnya dukungan peralatan teknologi baik hardware maupun software adalah masalah yang serius. Ketercapaian kompetensi lulusan PPG bisa tidak maksimal jika tidak ada dukungan teknologi ini.
Solusi yang ditawarkan oleh peneliti tidak ada, selain memang keharusan bagi mahasiswa peserta PPG untuk menyiapkan device dan internet yang cukup memadai untuk melakukan pembelajaran dengan pendekatan pedagogik dan konten pengetahuan dengan teknologi komunikasi dan informasi. Karena, dengan terpenuhinya sarana pembelajaran daring diharapkan pembelajaran pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) mampu beradaptasi dengan perkembangan era 4.0 di mana pendidik dan peserta didik mampu mengelola dan memanfaatkan data information technology (IT), operational technology (OT), internet of things (ToT), dan big data analitic, kemudian mengintegrasikannya dengan objek fisik, digital, dan manusia. Harapannya, dihasilkan guru lulusan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang kompetitif dan terampil dalam aspek data literacy, technological literacy, dan human literacy.29 Dengan demikian, revolusi industri 4.0 menuntut pengelolaan pendidikan berbasis IT yang berdampak pada efektivitas pembelajaran dengan mutu yang terjamin.
28Imroatul Ajizah and Muhammad Nurul Huda, “Tpack Sebagai Bekal Guru Pai Di Era Revolusi Industri 4.0,” Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 2 (2020): 333–52.
29Muhammad Kosim, “Penguatan Pendidikan Karakter Di Era Industri 4.0: Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 15, no. 1 (2020):
88–107. Periksa juga: Siti Ngaisah, Lulusan LPTK: Analisis Reciprocal Antara Institutions, Social Network, Cognitive Frames (FITK Press UIN Jakarta, 2019).
4. Kesimpulan
Berdasarkan paparan dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil simpulan bahwa:
Pertama, perkuliahan daring mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan di LPTK FTK UIN Sunan Ampel yang mengintegrasikan antara materi pedagogik dan profesional sebagaimana dalam struktur kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Arab Dalam Jabatan yang terdiri dari 3 kelompok mata kuliah yaitu (a) pendalaman materi pedagogik dan bidang studi, (b) pengembangan perangkat pembelajaran dan peer teaching, dan (c) praktik pengalaman lapangan yang dikemas dalam sistem pembelajaran dalam jaringan (SPADA) dapat meningkatkan profesionalisme guru bahasa Arab di era digital.
Kedua, problematika yang dihadapi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) bahasa Arab di LPTK Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Ampel dalam perkuliahan daring adalah: (a) problematika kemampuan awal dalam pemahaman materi Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan solusi yang peneliti tawarkan adalah mahasiswa sejak awal harus sudah memahami materi dalam kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam jaringan, sehingga mahasiswa mempunyai kesiapan dalam melaksanakan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Sedangkan selama proses Pendidikan Profesi Guru (PPG), mahasiswa dapat berdiksusi dan bertanya kepada dosen pengampu dan sejawat, baik melalui chat, forum diskusi, atau melalui tugas resume, selain itu mahasiswa juga dapat berusaha sendiri dengan melakukan browsing di internet dan juga membaca referensi- referensi lain yang relevan. (b) kurangnya sarana pembelajaran, yaitu laptop dan sinyal internet yang kurang kuat, dan solusinya adalah mahasiswa peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) harus menyiapkan device dan internet yang cukup agar dapat melakukan pembelajaran dengan pendekatan pedagogik dan konten pengetahuan dengan teknologi komunikasi dan informasi secara efektif.
Acknowledgements
Terimakasih penulis sampaikan kepada LPTK UIN Sunan Ampel yang telah memberikan izin kepada penulis dalam melakukan penelitian pada perkuliahan daring program Pendididikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan, khususnya untuk peserta guru Mata Pelajaran Bahasa Arab.
Ucapakan terimakasih juga penulis sampaikan kepada para peserta
14
program Pendididikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Mata pelajaran Bahasa Arab pada periode 2019 dan 2021.
Daftar Piustaka
Ajizah, Imroatul, and Muhammad Nurul Huda. “TPACK SEBAGAI BEKAL GURU PAI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0.” Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 2 (2020): 333–52.
Elyas, Ananda Hadi. “Penggunaan Model Pembelajaran E-Learning Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran.” Warta Dharmawangsa, no. 56 (2018).
Gusty, Sri, Nurmiati Nurmiati, Muliana Muliana, Oris Krianto Sulaiman, Ni Luh Wiwik Sri Rahayu Ginantra, Melda Agnes Manuhutu, Andriasan Sudarso, Natasya Virginia Leuwol, Apriza Apriza, and Andi Arfan Sahabuddin. Belajar Mandiri: Pembelajaran Daring Di Tengah Pandemi Covid-19. Yayasan Kita Menulis, 2020.
Hanifah, Umi. “Pentingnya Buku Ajar Yang Berkualitas Dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab.” At-Tajdid : Jurnal Ilmu Tarbiyah, 2014.
Kasmiwati, Kasmiwati. “Peran Perpustakaan Dalam Mewujudkan Pendidikan Bermutu.” Media Pustakawan 14, no. 1 (2007): 8–15.
Kosim, Muhammad. “Penguatan Pendidikan Karakter Di Era Industri 4.0:
Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Di Sekolah.” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 15, no. 1 (2020): 88–107.
Mahmudi, A Aviv. “Optimalisasi Teknologi Informasi Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran.” Jurnal Pengabdian Vokasi 2, no. 1 (2021).
Megasari, Rika. “Peningkatan Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan Untuk Meningkatan Kualitas Pembelajaran Di SMPN 5 Bukittinggi.” Jurnal Bahana Manajemen Pendidikan 2, no. 1 (2020):
636–48.
Musfah, Jejen. Analisis Kebijakan Pendidikan: Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0. Jakarta: Prenada Media, 2021.
Musthofa, Yayan, M Asy’ari, and Habibur Rahman. “Pembelajaran Pesantren Virtual: Fasilitas Belajar Kitab Kuning Bagi Santri Kalong.”
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 16, no. 1 (2021): 58–70.
Ngaisah, Siti. Lulusan LPTK: Analisis Reciprocal Antara Institutions, Social Network, Cognitive Frames. FITK Press UIN Jakarta, 2019.
Nursyifa, A. “Transformasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0.” Journal of Civics and Education Studies 6, no. 1 (2019): 51–64.
Prayitno, Edy, Deborah Kurniawati, and Ilham Rais Arvianto. “Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran.” In Seminar Nasional Konsorsium Untag Se Indonesia, Vol. 1, 2018.
Sari, Widya, Andi Muhammad Rifki, and Mila Karmila. “Analisis Kebijakan Pendidikan Terkait Implementasi Pembelajaran Jarak Jauh Pada Masa Darurat Covid 19.” Jurnal Mappesona 2, no. 2 (2020).
Syarifudin, Albitar Septian. “Impelementasi Pembelajaran Daring Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Sebagai Dampak Diterapkannya
Social Distancing.” Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Metalingua 5, no. 1 (2020): 31–34.