Analisa situasi perlu dilakukan dalam rangka untuk menganalisa keadaan industri, pasar, konsumen, pesaing dan persaingan, dan analisa lingkungan makro untuk kategori produk daging olahan khususunya bakso.
3.1 Analisa Industri
Analisa industri merupakan analisa dari faktor-faktor yang berhubungan dengan industri perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Analisa industri meliputi analisa faktor pendatang baru, analisa faktor kekuatan pembeli, analisa faktor kekuatan pemasok, analisa faktor produk substitusi, analisa kapasitas produksi, dan analisa faktor pesaing industri.
3.1.1 Analisa Faktor Pendatang Baru
Berdasarkan pengamatan industri produk bakso yang ada di Surabaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut : kapasitas produksi yang sangat beragam, produk dipasarkan dengan harga yang beragam untuk semua lapisan masyarakat, produk merupakan produk konsumsi yang populer, selain itu produk bakso dapat dengan mudah dijumpai oleh konsumen. Melalui hal-hal tersebut, diperoleh informasi bahwa entry barrier untuk masuk ke dalam industri bakso sangatlah kecil. Hal tersebut dapat diketahui pula dari tersedianya jasa pembuatan bakso secara tradisional di pasar. Dimana konsumen dapat membawa daging ke tempat penggilingan daging yang terdapat di pasar tradional, yang juga terkadang menyediakan bumbu yang dibungkus per 1 kg daging, kemudian daging dibentuk dan direbus. Dengan 2 kg daging konsumen dapat memperoleh 200 butir bakso dengan diameter kira-kira 4 cm. Melalui hal tersebut dapat disimpulkan bahwa membuat bakso membutuhkan biaya yang kecil dan cara membuatnya mudah, inilah yang mempertegas entry barrier industri ini sangatlah kecil. Sehingga siapa saja dapat dengan mudah berkecimpung dalam industri ini, hanya target market dan differensiasi yang akan membedakan industri yang satu dengan yang lainnya.
3.1.2 Analisa Faktor Kekuatan Pembeli
Menurut informasi dari situs USDA bakso merupakan salah satu produk makanan daging olahan yang perlu diperhitungkan, karena bakso menduduki peringkat konsumsi yang tinggi sebagai produk daging olahan selain sosis dan chicken nugget. Dan hal ini ditunjang dengan adanya pemulihan perekonomian di Asia Tenggara. Sebagai tambahan bakso adalah sebuah kesempatan bagi konsumen untuk mengkonsumsi daging sapi tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar jika dihubungkan dengan produk bukan daging olahan, seperti steak (www.fas.usda.gov/gainfiles). Bakso tidak hanya mengandung protein hewani, tetapi juga mengandung zat-zat gizi lainnya termasuk asam amino esensial yang penting bagi tubuh. Karena hal tersebut bakso juga merupakan salah satu pemenuh kebutuhan masyarakat akan protein, informasi didapat dari situs Republika (www.republika.co.id/koran_detail.asp). Kegemaran atau kebiasaan masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi produk bakso dapat diketahui dari hasil penelitian Susenas pada tahun 1995. Hasil penelitian mengatakan bakso merupakan salah satu jenis makanan pada pola makan masyarakat Indonesia. Pada penelitian tersebut terdapat 20 jenis produk makanan umum yang biasa dikonsumsi pada pola makan masyarakat Indonesia. Dan bakso menempati urutan ke-16 dari 20 jenis makanan tersebut (www.kalbefarma.com).
3.1.3 Analiasa Faktor Kekuatan Pemasok
Bahan baku yang mempunyai komposisi terbesar dalam memproduksi bakso adalah daging, sehingga penulis lebih menitik beratkan pada analisa kekuatan pemasok daging. Pada umumnya terdapat tiga jenis daging yang biasanya digunakan untuk memproduksi bakso, yaitu : daging sapi, daging ikan atau udang, dan daging ayam.
Berikut adalah gambar dari persentase produksi bakso menurut jenis daging yang biasanya digunakan.
Gambar 3. 1. Persentase Produksi Bakso Menurut Penggunaan Jenis Daging
Sumber : www.fas.usda.gov/gainfiles
Berdasarkan data permintaan produksi bakso diperkirakan dalam setahun membutuhkan 150.000 ton daging berupa daging sapi, daging ikan atau udang, dan daging ayam (www.bapeda.pemda-diy.go.id/uploads/artikel/10/88). Sehingga setiap tahunnya dibutuhkan daging sapi sebanyak 120.000 ton, daging ikan atau udang sebanyak 22.500 ton, dan daging ayam sebanyak 7.500 ton. Kemudian penulis akan lebih membahas mengenai pemasok daging sapi, karena produk bakso yang akan dibuat oleh penulis adalah produk bakso daging sapi. Walaupun tidak semua permintaan akan daging sapi di dalam negeri dapat dipenuhi oleh para peternak Indonesia, tetapi impor akan daging sapi mengalami penurunan yang cukup signifikan, informasi didapat dari situs FAO (www.fao.org/AG/AGAinfo). Kondisi ini telah menyebabkan harga daging sapi di dalam negeri sangat baik dan merangsang usaha peternak sapi di pedesaaan. Berdasarkan informasi dari situs FAO (www.fao.org/AG/AGAinfo) pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk mengembangkan ternak sapi. Yaitu dengan jalan meningkatkan populasi ternak, hal ini dapat ditempuh pada ternak sapi dengan cara antara lain : Mempercepat umur beranak pertama yang semula lebih dari 4,5 tahun menjadi kurang dari 3,5 tahun; Memperpendek jarak beranak yang semula lebih dari 18 bulan menjadi sekitar 12-14 bulan sehingga akan ada tambahan jumlah anak selama masa produksi sekitar 2 ekor per induk; Menekan angka kematian anak dan induk; Mengurangi pemotongan ternak produktif dan ternak muda; Mendorong perkembangan usaha
pembibitan penghasil sapi bibit; Menambah populasi ternak produktif melalui impor sapi betina produktif. Berikut adalah gambar dari pohon industri agribisnis sapi.
Gambar 3. 2. Pohon Industri Agribisnis Sapi
Sumber : Prospek dan Arahan Pengembangan Agribisnis : 56-59
Berdasarkan data pada Surabaya dalam Angka 2004, menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah ternak sapi yang dipotong terus mengalami peningkatan. Tercatat pada tahun 2002 sebesar 103.330 sapi dipotong; pada tahun 2003 tercatat 110.945 sapi dipotong; dan tahun 2004 tercatat 112.011 sapi dipotong. Sebagai data tambahan pada tahun 1996 FAO telah mendata bahwa di Jawa Timur terdapat 1 peternakan dengan kapasitas 100 kepala sapi per hari, 1 perternakan dengan kapasitas 50-100 kepala sapi per hari, dan 229 perternakan dengan kapasitas 5-50 kepala sapi per hari (www.fao.org/AG/AGAinfo). Dengan adanya data-data ini maka pasokan daging sapi untuk memproduksi bakso tidak akan menghadapi kendala yang berarti.
Berdasarkan data dari Statistik Industri Besar dan Sedang 1995 permintaan akan komposisi bahan baku daging olahan lainnya adalah sebagai berikut :
Tabel 3. 1. Permintaan dan Hasil Impor Bahan Baku Daging Olahan
Nama Produk Permintaan Hasil Impor
Tepung Tapioka 210.534 Kg -
Bawang Putih 8.491 Kg 900 Kg
Garam 123.174 Kg -
MSG 7.362 Kg -
Merica 2.100 Kg -
Sumber : Statistik Industri Besar dan Sedang 1995
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar bahan baku daging olahan telah dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Dengan adanya hal tersebut maka pasokan bahan baku akan lebih terjamin dan lebih cepat tiba di pabrik. Hanya bawang putih yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri, sebesar 900 Kg dari total permintaan sebesar 8.491 Kg.
3.1.4 Analisa Faktor Produk Substitusi
Jika diamati dan berdasarkan pengelompokkan produk pada Statistik Industri Besar dan Sedang 1995, produk substitusi yang dapat menggantikan produk bakso cukup beragam. Hingga kini bentuk-bentuk daging olahan yang dapat ditemui di pasar modern dan dapat menggantikan bakso berikut kapasitas produksinya adalah :
Tabel 3. 2. Produk Substitusi Bakso dan Kapasitas Produksinya
Jenis Keterangan Kapasitas produksi
Sosis Daging olahan yang pada umumnya berbentuk tabung panjang, berwarna merah, dan seperti ada pembungkusnya
Sosis Sapi : 240.943 Kg Sosis Ayam : 99.051 Kg
Abon Daging olahan yang berbentuk seperti serabut, berwarna coklat, dan dikemas dalam kemasan
566.909 Kg
Cornet Beef Daging sapi olahan dimana daging sapi tersebut dicincang hampir halus, berwarna merah luntur, dan dikemas dalam kaleng
2.250 ton
Ham Daging olahan yang pada umumnya berbentuk lingkaran dengan ketebalan yang dapat dikatakan tipis, berwarna merah dan terkadang ada yang berwarna coklat muda
2.699 Kg
Nugget dan Daging Olahan Ayam lainnya (frozen food)
Daging olahan yang biasanya berasal dari daging ayam yang dihaluskan kemudian dibentuk menjadi suatu bentuk tertentu, di balut dengan bumbu tepung, dan berwarna kuning
Kira-kira 15 ton
Sumber : Statistik Industri Besar dan Sedang 1995
Kapasitas produksi ditulis oleh penulis digunakan sebagai pembanding banyaknya produk substitusi yang tersedia di pasar, yang berpotensi untuk mengganti produk bakso.
3.1.5 Analisa Faktor Kapasitas
Menurut data dari Statistik Industri Besar dan Sedang 1995, pada bagian sektor industri pengolahan dan pengawetan daging, tercatat hasil produksi dan nilai barang jadi produk bakso daging sapi, bakso daging ayam, bakso daging ikan, dan bakso daging udang dibandingkan dengan kapasitas total dari hasil produksi industri pengolahan dan pengawetan daging di Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 3. 3. Hasil Produksi dan Nilai Barang Jadi
Dibandingkan dengan Kapasitas Total Produksi Pengolahan dan Pengawetan Daging
Jenis Produk Hasil Produksi Nilai Barang Jadi Bakso Daging Sapi 1.222 ton Rp 6.292.365 ribu Bakso Daging Ikan 80 ton Rp 576.000 ribu Bakso Daging Ayam 30 ton Rp 180.000 ribu Bakso Daging Udang 6.048 Kg Rp 45.360 ribu Total Kapasitas Produksi
Pengolahan dan Pengawetan Daging
8.727,427 ton Rp 63.774.278 ribu
Dari informasi tersebut dapat dikatakan industri makanan bakso di Indonesia mempunyai kapasitas industri yang cukup besar. Hal tersebut juga didukung oleh hasil produksi dan nilai barang jadi produk bakso daging sapi menempati urutan ke-3, setelah corned beef dan daging olahan, dari 30 jenis produk hasil produksi industri pengolahan dan pengawetan daging.
3.1.6 Analisa Pesaing Industri
Selama ini perusahaan industri besar yang memproduksi bakso adalah : PT Belfoods Indonesia, PT Surya Pahala, PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Supra Sumber Cipta atau PT Japfa Comfeed, PT Eloda Mitra, PT Madusari Nusa Perdana, dan PT Bumi Industri. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kapasitas produksi berskala nasional. Untuk PT Japfa Comfeed dan PT Charoen Pokphand memiliki hubungan yang
dapat dikatakan khusus dengan para peternak di Jawa Timur, karena kedua perusahaan tersebut juga memproduksi bahan makanan ternak (www.fao.org/AG/AGAinfo). Hal tersebut membuat kedua perusahaan tersebut lebih mudah untuk melakukan pasokan bahan baku daging dari para peternak. Pada situs resmi PT Japfa Comfeed (www.japfacomfeed.co.id) dikatakan keunggulan bersaing perusahaan terdapat pada integritas vertikal terutama pada produk daging olahan ayam. Karena perusahaan menjalankan sendiri kegiatan dari membuat makan ternak ayam hingga memproduksi ayam tersebut menjadi value added food products. Dengan adanya hubungan operasi tersebut perusahaan dapat menghasilkan output yang sangat berkualitas, karena terjaminnya setiap output yang dihasilkan di setiap level unit. Berikut adalah gambar dari hubungan operasi di setiap level perusahaan.
Gambar 3. 3. Operasi Integritas Vertikal PT Japfa Comfeed
Sumber : www.japfacomfeed.co.id
3.2 Analisa Pasar
Analisa pasar meliputi identifikasi kategori produk, analisa ukuran pasar produk, analisa pertumbuhan pasar produk, dan analisa siklus hidup produk.
3.2.1 Identitas Kategori Produk
Untuk produk bakso dalam kemasan yang dijual di pasar modern akan dikategorikan sebagai frozen food, karena bakso akan disimpan pada suhu rendah atau dibekukan . Frozen food sendiri mempunyai arti dalam Bahasa Indonesia makanan yang dibekukan. Berikut adalah gambar dari kategori produk :
Gambar 3. 4 . Ketegori Produk Bakso
3.2.2 Analisa Ukuran Pasar Produk
Selama ini yang menempati pasar frozen food berasal dari 2 merk terkemuka yaitu So Good yang dimiliki oleh PT Supra Sumber Cipta dan Fiesta atau Five Star yang dimiliki oleh PT Charoen Pokphand Indonesia. Kedua merk tersebut masing-masing memiliki pangsa pasar frozen food yang besar dan dapat dikatakan sebagai market leader
Makanan berbahan baku daging
Daging Ayam Daging Sapi
Daging Segar
Daging Olahan
Frozen Food
Bakso, sosis
dari frozen food. Pangsa pasar Fiesta sebesar 45% sedangkan pangsa pasar So Good sebesar 30%, menurut informasi dari majalah SWA (Januari, 2003: 10). Sedangkan berdasarkan informasi majalah MIX pada akhir tahun 2004 pangsa pasar produk frozen food agak berubah. Pangsa pasar Fiesta sebesar 35%, pangsa pasar So Good sebesar 30%, dan pangsa pasar Delfarm sebesar 25% (Desember, 2004: 44).
3.2.3 Analisa Pertumbuhan Pasar Produk
Berdasarkan data prediksi dari majalah SWA (febuari 2003: 41). Industri makanan dan minuman mempunyai hasil pada tahun 2002 sebesar Rp 54.735,32 miliar dan pada tahun 2003 sebesar Rp 57.711,60 miliar. Dengan prediksi pertumbuhan pada tahun 2002 sebesar 3,73% dan pada tahun 2003 sebesar 5,4%. Dengan adanya prediksi pertumbuhan hasil tersebut, maka konsumen yang akan mengkonsumsi produk makanan dan minuman akan bertambah. Menurut data dari Tabel Input dan Output Propinsi Jawa Timur (2000: 8-10) tercatat industri makanan, minuman dan tembakau untuk permintaan ekspor sebesar Rp 36.062.614 juta dan permintaan impor sebesar Rp 26.437.163 juta.
Dengan lebih besarnya permintaan ekspor dibandingkan dengan impor, hal ini mengindikasikan bahwa industri makanan, minuman, dan tembakau di Jawa Timur mempunyai pertumbuhan yang baik. Indikasi-indikasi pertumbuhan ini menunjukkan bahwa industri makanan, minuman, dan tembakau di Jawa Timur mempunyai kesempatan untuk berkembang lebih jauh ke depan. Pertumbuhan pasar produk makanan juga ditunjang angka tingkat pengeluaran konsumsi masyarakat di Jawa Timur yang akan membeli produk makanan tersebut, dalam sepuluh besar pengeluaran konsumsi rumah tangga di Jawa Timur tercatat industri makanan dan lainnya menempati urutan ke-6 sebesar 3,53% dengan nilai dalam juta sebesar Rp 4.052.663.
Menurut informasi dari majalah MIX, pasar frozen food di Indonesia masih bergerak naik. Dan kalangan praktisi bisnis memperkirakan pertumbuhannya mencapai 10% sampai 20% per tahun. Sedangkan menurut marketing manager So Good Nugroho Edi Sasongko, memprediksikan pasar frozen food yang memiliki market size 14 ribu sampai 15 ribu ton per tahun mempunyai pertumbuhan bisnis sebesar 20% sampai 25%
di tahun yang akan datang (Desember, 2004: 44-45).
3.2.4 Analisa Siklus Hidup Produk
(Kotler, 2005: 361-371) pada umumnya sebuah produk memiliki empat tahapan siklus hidup, yaitu : introduction stage, growth stage, maturity stage, dan decline stage.
Produk dikatakan memasuki tahap dewasa, jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut : pertumbuhan penjualan mulai melambat, jumlah pesaing yang mulai stabil dan mulai menurun, dan biaya per pelanggan yang rendah.
Selanjutnya tahap kedewasaan dibagi menjadi tiga tahapan yaitu : growth maturity, stable maturity, dan decaying maturity. Produk bakso digolongkan ke dalam tahap stable maturity, karena pasar untuk produk bakso mengalami kejenuhan, dimana sebagian besar calon konsumen telah mencoba produk tersebut, dan penjualan masa depan akan ditentukan oleh pertumbuhan penduduk. Berikut adalah gambaran dari siklus hidup produk bakso:
Tahap Kedewasaan
Tahap Tahap Growth Stable Decaying Tahap Pengenalan Growth Maturity Maturity Maturity Penurunan
Produk Bakso
Saat ini
Gambar 3. 5. Siklus Hidup Bakso
3.3 Analisa Konsumen
Analisa konsumen adalah analisa yang mempelajari perilaku konsumen dalam memberikan keputusan untuk membeli produk bakso berdasarkan pengelompokkan konsumen tertentu.
3.3.1 Definisi Konsumen
Menurut Kotler dan Amstrong (2001: 195), pasar konsumen adalah seluruh individu dan rumah tangga yang membeli atau memerlukan barang dan jasa untuk konsumsi pribadi. Jadi konsumen produk bakso adalah individu dan rumah tangga yang memerlukan dan membeli produk bakso untuk dikonsumsi. Ada 5 macam peran yang akan dimainkan dalam proses pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian, yaitu : pencetus, pemberi pengaruh, pengambil keputusan, pembeli, dan pemakai (Kotler, 2005:
220-221). Penjelasan mengenai 5 macam peran tersebut adalah sebagai berikut :
• Pencetus. Yang dikatakan sebagai pencetus adalah orang berkeinginan untuk mengkonsumsi bakso.
• Pemberi pengaruh. Yang dikatakan sebagai pemberi pengaruh adalah orang-orang atau kerabat dari konsumen yang pernah mengkonsumsi bakso dan memberikan informasi mengenai produk bakso tersebut.
• Pengambil keputusan. Yang dikatakan sebagai pengambil keputusan adalah orang yang memberikan atau memiliki ijin untuk membeli kebutuhannya.
• Pembeli. Yang dikatakan sebagai pembeli adalah orang yang melakukan transaksi pembelian produk.
• Pemakai. Yang dikatakan sebagai pemakai adalah orang yang mengkonsumsi bakso.
3.3.2 Analisa Perilaku Belanja Konsumen
Titik tolak untuk memahami perilaku pembeli adalah dengan cara mempelajari model rangsangan-rangsangan. Model rangsangan ini dapat berasal dari pemasar dan lingkugan yang masuk kedalam kesadaran pembeli. Karakteristik dari pembeli dan proses pengambilan keputusannya akan menimbulkan keputusan pembelian tertentu. Perilaku belanja konsumen ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : Faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi, dan faktor psikologis. Faktor budaya merupakan faktor yang memiliki pengaruh yang paling luas dan paling dalam yang mempengaruhi pembeli (Kotler, 2005: 202-215). Karena adanya budaya bahwa produk telah lama dikenal oleh masyarakat serta telah diyakini sebagai makanan keseharian didalam masyarakat, maka
masyarakat tidak akan merasa canggung dalam membeli produk bakso. Selain itu masyarakat telah memiliki product knowledge yang cukup baik akan produk bakso.
Gambar 3. 6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Sumber : Kotler dan Amstrong (2001: 197)
Perilaku belanja menurut Mason, Mayer, dan Wilkinson (1997: 245-247) juga dipengaruhi oleh faktor personal motives dan social motives. Personal motives dipengaruhi oleh kebutuhan dari dalam diri konsumen, misalnya : Konsumen membutuhkan makanan berupa daging untuk memenuhi gizi mereka maka ketika melihat bakso maka mereka akan tertarik untuk membeli bakso untuk memenuhi keinginannya.
Sedangkan social motives berhubungan dengan status dan kekuasaan, contohnya : Konsumen mengkonsumsi bakso yang berbahan baku dasar daging dengan alasan, daging sapi mempunyai harga beli yang tinggi sehingga dengan mengkonsumsi bakso akan menunjukkan status sosial konsumen yang tinggi pula.
Pola perilaku belanja masyarakat di Indonesia dapat dianalisa dari data-data pengeluaran masyarakat dan dibelanjakan untuk komoditas apa sajakah pengeluaran tersebut. Tabel berikut menginfokan produk makanan yang biasa dibeli oleh masyarakat Indonesia.
Budaya
Kebudayaan Sub
Kebudayaan
Kelas Sosial
Sosial
Kelompok Acuan Keluarga Peran dan Status
Pribadi Pekerjaan Situasi Ekonomi Gaya Hidup
Psikolo gis Motiva si Perseps i
Pembeli
Tabel 3. 4
Percentage of Monthly Average per Capita Expenditure by Commodity Group, Indonesia, 1999, 2002, 2003, and 2004
Commodity Group 1999 2002 2003 2004
Food
- Cereals 16,78 12,47 10,36 9,44
- Tubers 0,78 0,64 0,65 0,76
- Fish 5,58 5,17 5,37 5,06
- Meat 2,29 2,86 2,90 2,85
- Eggs & Milk 2,91 3,28 3,04 3,05
- Vegetables 6,23 4,73 4,80 4,33
- Legumes 2,33 2,02 1,90 1,75
- Fruits 2,07 2,84 2,97 2,61
- Oil and Fats 3,04 2,25 2,23 2,31
- Beverage stuffs 3,12 2,71 2,52 2,48
- Spices 1,65 1,55 1,46 1,43
- Miscellaneous food items 1,29 1,37 1,24 1,23
- Prepared food 9,48 9,70 9,81 10,28
- Alcoholic beverages 0,05 0,08 0,08 0,08
- Tobacco and betel 5,33 6,80 7,56 6,89
Total of Food 62,94 58,47 56,89 54,59
Sumber : www.bps.go.id
Data tersebut menginfokan pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia untuk membeli komoditas makanan dalam memenuhi kebutuhannya. Pengeluaran untuk membelanjakan makanan jadi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, sedangkan data total pengeluaran masyarakat pada semua komoditas makanan dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Ini menandakan adanya pertumbuhan pembelian komoditas makanan jadi. Dan diamati lebih lanjut, mulai ada peralihan perilaku belanja masyarakat yang lebih menyukai makanan jadi. Karena adanya peningkatan pengeluaran untuk membeli makanan jadi dibandingkan dengan menurunnya total pengeluaran belanja makanan.
3.3.3 Analisa Perilaku Konsumsi Konsumen
Menurut situs USDA pada tahun 1999, total konsumsi daging olahan dalam bentuk bakso dan sosis sebanyak 60% hingga 70%. Sedangkan perbandingan konsumsi antara bakso dan sosis adalah : bakso sebesar 60% dan sosis sebesar 40%
(www.fas.usda.gov/gainfiles).
Pada penelitian Susenas tahun 1995 (www.kalbefarma.com) tentang kebiasaan pola makan masyarakat perkotaan di Indonesia, terutama produk bakso akan dijelaskan melalui tabel berikut :
Tabel 3. 5. Pola Konsumsi Masyarakat Perkotaan pada Produk Bakso
Banyaknya Konsumsi
Persentase banyaknya Masyarakat
Keterangan
Setiap Hari 6,13% Sebanyak 6,13% dari total penduduk perkotaan di Indonesia setiap harinya mengkonsumsi produk bakso
25 kali dalam Seminggu
24,96% Sebanyak 24,96% dari total penduduk perkotaan di Indonesia dalam satu minggu masyarakat mengkonsumsi produk basko sebanyak 25 kali
Setiap Minggu 28,17% Sebanyak 28,17% dari total penduduk perkotaan di Indonesia dalam satu minggu masyarakat mengkonsumsi produk bakso hanya sekali
23 kali dalam Sebulan
19,98% Sebanyak 19,98% dari total penduduk perkotaan di Indonesia dalam satu bulan masyarakat mengkonsumsi produk bakso sebanyak 23 kali
12 kali dalam Sebulan
6,74% Sebanyak 6,74% dari total penduduk perkotaan di Indonesia dalam satu bulan masyarakat mengkonsumsi produk bakso sebanyak 12 kali
Tidak Sama Sekali 14,02% Sedangkan sebanyak 14,02% dari total penduduk perkotaan di Indonesia tidak pernah mengkonsumsi produk bakso sama sekali
3.3.4 Segmentasi Konsumen
Berdasarkan data dari Surabaya dalam Angka 2004, dikatakan bahwa jumlah penduduk Surabaya berdasarkan kelompok umur antara 5-64 tahun sebesar 2.297.810 jiwa. Jumlah penduduk inilah yang akan berpotensi untuk mengkonsumsi bakso, karena keadaan fisik dari konsumen yang pada umumnya telah mampu untuk mengkonsumsi bakso. Sedangkan untuk komposisi konsumen frozen food dibagi menjadi dua yaitu dewasa dan anak-anak (SWA, Februari 2003: 11). Selama ini pelaku bisnis frozen food lebih memfokuskan penjualan pada masyarakat perkotaan untuk segmen ekonomi menengah ke atas (MIX, Desember 2004: 45). Berdasarkan riset AC Nielsen pada bulan Oktober 2003 (nofieiman.com/2005/04), pengelompokkan socio economic class penduduk kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Jogya, Surabaya, Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, Denpasar, Medan, Palembang, dan Makasar) berdasarkan belanja rutin bulanan rumah tangga adalah sebagai berikut :
Tabel 3. 6. Socio Ekonomic Class Penduduk Kota Besar di Indonesia
Golongan atau Peringkat
Persentase Jumlah Penduduk
Jumlah Pengeluaran per Bulan
A 1 6% Rp 2,25 juta ke atas
A 2 6% Rp 1,75 juta hingga Rp 2,25 juta
B 13% Rp 1,25 juta hingga Rp 1,75 juta
C 1 24% Rp 800 ribu hingga Rp 1,25 juta
C 2 19% Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu
D 21% Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu
E 11% Rp 400 ribu ke bawah
Berdasarkan data tersebut, maka segmen socio ekonomic class yang dituju produk frozen food adalah segmen C1 hingga A1 dengan pengeluaran lebih dari Rp 800 ribu per bulanannnya.
3.4 Analisa Pesaing dan Persaingan
Analisa pesaing dan persaingan membahas tentang bagaimana para pesaing menjalankan usahanya. Dapat berupa tujuan, strategi, dan kelebihan produk perusahaan.
Pada analisa ini penulis akan lebih memfokuskan pada analisa merek-merek besar yang mengusai sebagian besar pasar.
3.4.1 Identifikasi Pesaing
Proses pengidentifikasian pesaing dari industri bakso secara keseluruhan adalah dengan cara mendaftar semua industri produk daging olahan dalam kemasan yang dijual di supermarket dan hypermarket. Kemudian pesaing tersebut akan dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu : pesaing langsung dan pesaing tidak langsung. Pesaing langsung dari industri bakso adalah semua industri daging olahan dalam kemasan yang berbentuk atau bernama bakso. Sedangkan pesaing tidak langsung adalah semua industri produk daging olahan dalam kemasan yang bukan bakso, misalnya : Sosis, nugget, dan ham. Untuk pesaing tidak langsung penulis akan mempersempitnya lagi menjadi industri daging olahan bukan bakso yang produknya khusus ditujukan pada anak-anak.
Berikut ini adalah nama-nama dari perusahaan tersebut beserta nama merek yang diluncurkan :
Tabel 3. 7. Nama Perusahaan beserta Merek Produk Frozen Food
Nama Perusahaan Nama Produk yang Diluncurkan PT Eloda Mitra Benardi, Abby’s, dan Prima
PT Bumi Industri Bumi Food
PT Belfoods Indonesia Belfood dan Delfarm PT Charoen Pokphand Indonesia Champ dan Fiesta PT Supra Sumber Cipta atau Group dari
PT Japfa Santori Indonesia
So Good dan Sozzis
PT San Miguel Pure Food Indonesia Vida, Farmhouse, dan Funkidz PT Madusari Nusa Perdana Vigo
PT Frosen Food Pahala Baso-ku
3.4.2 Analisa Fitur Produk
Secara umum untuk fitur yang terdapat pada frozen food tidak begitu jauh berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Makanan akan langsung siap untuk disajikan hanya dengan jalan memasak kembali produk dalam hitungan menit. Cara memasak frozen food pada umumnya adalah dengan jalan direbus, digoreng, atau dengan improvisasi dari konsumen sendiri, contohnya dengan cara dicampur dalam masakan tertentu. Dari sisi variasi rasa agak sulit untuk dijelaskan secara verbal, sehingga untuk melakukan pembedaannya harus merasakan atau mengkonsumsi sendiri produk tersebut.
Tabel 3. 8.
Fitur Pesaing Langsung Bakso (Frozen Food)
Nama Produk
Bahan Kemasan
Warna Kemasan
Tekstur Komposisi Kelebihan atau Manfaat Tambahan
So Good bakso sapi kuah
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna merah tua
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, pati, garam, MSG, rempah-rempah, dan fosfat
• Pada kemasan penjual terdapat paket tambahan berupa bumbu yang akan digunakan sebagai kuah
• Ada tulisan bahwa bakso terbuat dari daging sapi asli So Good
bihun bakso kuah sapi
Berbentuk balok dengan plastik yang kaku,
dengan 1 sisi penutup plastik biasa
Di dominasi warna kuning
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, pati, garam, MSG, rempah-rempah, dan fosfat
• Pada paket penjualan terdapat bahan tambahan berupa bihun, yang Disarankan untuk disajikan bersama bakso
• Disertai resep dan petunjuk penyajian bakso dengan bihun
Fiesta Chicken Ball
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hijau
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih cerah (lebih putih)
Daging ayam, air, protein nabati, gula, garam, MSG, bumbu-bumbu, fosfat
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
So Good bakso
kuah ayam
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna merah terang
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih cerah (lebih putih)
Daging ayam, pati, garam, MSG, rempah-rempah, dan fosfat
• Pada kemasan penjual terdapat paket tambahan berupa bumbu yang akan digunakan sebagai kuah
• Ada tulisan bahwa bakso terbuat dari daging ayam asli
Baso-ku, baso sapi kuah
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna orange
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi permukaannya
tampak lebih kasar
Daging sapi, pati, garam, MSG, rempah-rempah, dan fosfat
• Pada kemasan penjual terdapat paket tambahan berupa bumbu yang akan digunakan sebagai kuah
• Ada tulisan bahwa bakso terbuat dari daging sapi urat
Bumi Food bakso ikan 1
Kemasan berupa plastik yang kedap udara
Di dominasi warna biru
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih cerah, hampir seperti putih
Daging ikan, garam, tepung, gula, bumbu
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
Bumi Food bakso ikan 2
Kemasan berupa plastik yang kedap udara
Di dominasi warna biru
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih coklat dibandingkan
dengan bakso ikan pada umumnya
Daging ikan, garam, tepung, gula, bumbu
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
So Good bakso
kuah ikan
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hitam dan hijau tua
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih cerah (lebih putih)
Daging ikan, pati, garam, MSG, rempah-rempah, dan fosfat
• Pada paket penjualan terdapat bahan tambahan berupa bihun, yang disarankan untuk disajikan bersama bakso
• Ada tulisan bahwa bakso terbuat dari daging ikan asli
So Good bakso
goreng
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hijau muda
Diameter ukurannya sama dengan yang lainnya, tetapi teksturnya sangat kasar seperti dilapisi
tepung hasil gorengan
Daging ikan, pati, tepung tapioca, garam, MSG, rempah-rempah, dan fosfat
Kelebihan dari produk ini adalah cara pertama kali pembuatannya bukan dengan jalan direbus seperti biasanya melainkan digoreng dengan lapisan tepung, sehingga menghasilkan kesan renyah
Fiesta Fish Ball
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna biru
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih cerah, hampir seperti putih
Daging ikan, air, protein nabati, gula, garam, MSG, bumbu-bumbu, fosfat
• Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-
produk pesaing yang ada
• Terdapat tulisan quick serve
Bumi Food bakso ikan
Kemasan berupa plastik yang kedap udara
Di dominasi warna biru
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih cerah, hampir seperti putih
Daging ikan, garam, tepung, gula, bumbu
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
Bumi Food bakso udang
Kemasan berupa plastik yang kedap udara
Di dominasi warna biru
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warnanya seperti merah muda
Daging udang, garam, tepung, gula, bumbu
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
Popo Vegetable Fish Ball
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hijau muda
Diameter ukurannya sama dengan yang lainnya, tetapi teksturnya sangat kasar seperti dilapisi
tepung hasil gorengan
• Bahan dasar produk ini merupakan campuran antara daging ikan dengan potongan-potongan kecil sayuran yang dicampur
• Lapisan luarnya dilapisi oleh tepung dengan kesan hasil gorengan.
• Kemungkinan besar olahan pertama kalinya dengan jalan digoreng
• Ada tulisan seafood product
Bumi Food bakso cumi
Kemasan berupa plastik yang kedap udara
Di dominasi warna biru
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warnanya sangat cerah, dapat dikatakan berwarna
putih
Daging udang, daging ikan, garam, tepung, gula, bumbu
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
So Good bakso
kuah udang
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hijau muda
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warnanya seperti merah muda kecoklattan
Daging udang, pati, tepung tapioca, garam, MSG, rempah-rempah, dan fosfat
• Pada kemasan penjual terdapat paket tambahan berupa bumbu yang akan digunakan sebagai kuah
• Ada tulisan bahwa bakso terbuat dari daging udang asli
Fiesta bakso kuah ayam
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna orange
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi warna lebih cerah, hampir seperti putih, diameternya lebih besar dari yang biasanya
Daging, air, tepung tapioca, protein nabati, gula rempah, garam, MSG, monotarium glumanat, fosfat
Pada produk ini ada sesuatu yang menarik yaitu dikemasan dikatakan bahwa rasa baksonya adalah rasa ayam spesial
Bumi Food Beef Ball
Kemasan terbuat dari karton
berbentuk kubus dengan balutan plastik
Di dominasi warna biru
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, daging ikan, garam, tepung, gula, bumbu
Pada kemasan tertulis premium quality, jadi produk ini terbuat dari daging sapi yang benar- benar pilihan
Value Plus baso sapi kuah
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna kuning muda
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
• Pada kemasan penjual terdapat paket tambahan berupa bumbu yang akan digunakan sebagai kuah
• Ada tulisan bahwa bakso tidak memakai bahan pengawet borax
Trinita bakso sayur
Tidak ada kemasan, karena dijual berdasarkan berat
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya, tetapi berwarna lebih coklat
Produk ini merupakan hasil
olahan dari daging sapi yang dicampur dengan irisan-irisan sayuran
Trinita bakso gepeng
Tidak ada kemasan, karena dijual berdasarkan berat
Bentuknya sangat
berbeda dari biasanya yaitu berbentuk gepeng
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
Bakso Prima
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna merah
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, pati, garam, rempah, MSG, fosfat, antioksidan natrium eritorbat, kalium sorbat
• Ada tulisan bahwa bakso terbuat dari daging sapi urat
• Ada tulisan bahwa bakso tidak memakai bahan pengawet borax
Benardi bakso sapi
Kemasan berupa plastik yang kedap udara
Di dominasi warna kuning
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, pati, garam, bumbu, MSG, fosfat
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
Vida bakso sapi
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna kuning
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
Vigo bakso sapi
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hijau dan merah
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, tepung, garam, bumbu, MSG, polifosfat
Pada produk ini tidak ditemukan suatu kelebihan atau yang unik dibandingkan produk-produk pesaing yang ada
Champ Chicken Ball
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna kuning dan orange
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging, air, tepung tapioca, protein nabati, gula rempah, garam, MSG, monotarium glumanat, fosfat
Tertulis bahwa produk merupakan produk cepat saji
Minaku Bakso Ikan
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna biru tua
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging ikan, tepung tapioca, bumbu, garam, gula
Warna bakso dibuat berbagai macam warna
Benardi bakso kuah
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna merah tua dan kuning
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, pati, garam, bumbu, MSG, fosfat
Pada paket penjualan disertai bawang goring, sambal, dan bumbu kuah
Farmhouse bakso sapi kuah
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hijau tua
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, tepung, garam, bumbu, MSG, fosfat
Pada paket penjualan disertai bumbu yang dapat digunakan sebagai kaldu
Farmhouse Bakso
Sapi dan Ayam
Kuah
Kemasan plastik tebal
Di dominasi warna hijau muda
Tidak jauh berbeda dengan bakso pada umumnya
Daging sapi, daging ayam, air, tepung, bumbu, garam, MSG, gluten, fosfat
Dalam satu kemasan terdapat dua jenis daging bakso yaitu daging ayam dan sapi
Tabel 3. 9
Fitur Pesaing Tidak Langsung Bakso (Frozen Food)
Nama Produk
Bahan Kemasan
Warna Kemasan
Tekstur Komposisi Kelebihan atau Manfaat Tambahan Fiesta Zoo Kemasan
plastik tebal
didominasi warna hijau
Nugget dengan bentuk binatang yang biasa
ditemukan di kebun binatang
Daging ayam, minyak nabati, air, tepung roti, tepung batter, protein nabati, susu skim, gula, pati jagung, garam penguat rasa, perisa ayam, fosfat, kalsium laktat
Sama seperti nugget pada umumnya
Fiesta Action
Kemasan plastik tebal
Didominasi warna hijau
Nugget dengan bentuk orang- orangan dengan berbagai gaya
Daging ayam, minyak nabati, air, tepung roti, tepung batter, protein nabati, susu skim, gula, pati jagung, garam penguat rasa, perisa ayam, fosfat, kalsium laktat, DHA
Nugget ini mengandung DHA yang baik untuk perkembangan pertumbuhan anak-anak
Farmhouse Funkidz Nuggies Shakers
Kemasan plastik tebal
Didominasi warna merah.
Mempunyai ikon kartun berbentuk nugget
Berbentuk sama seperti nugget pada umumnya
Daging ayam, air, tepung, bumbu, garam, penguat rasa, natrium 5
ribonucleotida, fosfat, tepung pati, vitamin A
Nugget ini dalam paket penjualannya terdapat bumbu kocok khusus sebagai
pelengkap hidangan dengan rasa barbeque, chese dan roasted corn
Belfoods Kid’s Meal
Kemasan plastik tebal
Didominasi warna merah dan biru.
Menampilkan ikon
Spiderman
Berbentuk sama seperti nugget pada umumnya
Daging ayam, pati, terigu, rempah, garam, air, minyak nabati, polifosfat
Sama seperti nugget pada umumnya
Farmhouse Funkidz Nuggies Dippers
Kemasan berbahan karton berbentuk kotak
Didominasi warna merah.
Mempunyai ikon kartun berbentuk nugget
Berbentuk sama seperti nugget pada umumnya
Daging ayam, air, tepung, bumbu, garam, penguat rasa, natrium 5
ribonucleotida, fosfat, tepung pati, vitamin A
Nugget ini dalam paket penjualannya terdapat saus khusus sebagai pelengkap hidangan dengan rasa honey barbeque dan hot garlic
So Good Jets
Kemasan plastik tebal
Didominasi warna biru
Nugget dengan bentuk berbagai jenis pesawat terbang
Daging ayam, tepung pelapis, tepung roti, protein nabati, minyak nabati, garam, fosfat, rempah, dan omega 3
Nugget ini mengandung omega- 3 yang baik untuk
perkembangan pertumbuhan anak-anak
So Good Alfabet
Kemasan plastik tebal
Didominasi warna merah
Nugget dengan bentuk berbagai huruf
Daging ayam, tepung pelapis, tepung roti, protein nabati, minyak nabati, garam, fosfat, rempah, dan omega 3
Nugget ini mengandung omega- 3 yang baik untuk
perkembangan pertumbuhan anak-anak
So Good Dino-bites
Kemasan plastik tebal
Didominasi warna ungu
Nugget dengan bentuk berbagai jenis binatang dinosaurus
Daging ayam, tepung pelapis, tepung roti, protein nabati, minyak nabati, garam, fosfat, rempah
Sama seperti nugget pada umumnya
3.4.3 Analisa Faktor Tujuan dan Sasaran
Merek So Good pada tahun 2003 yang memiliki komposisi konsumen 90%
anak-anak dan 10% orang dewasa, telah berusaha untuk meningkatkan komposisi konsumennya menjadi 80% anak-anak dan 20% orang dewasa. Untuk mencapai hal tersebut So Good mengeluarkan produk baru yang langsung menyasar pasar orang dewasa tersebut, produk yang dikeluarkan adalah So Good Rudy Chaerodin. Produk ini langsung menggandeng pakar masak Rudy Chaerodin, dengan bumbu yang khusus yang dibuat oleh Rudy Chaerudin. Sedang Fiesta berusaha untuk mendapatkan pasar keluarga, dengan cara melakukan komunikasi visual dengan menggambarkan suasana keluarga dengan Nurul Arifin sebagai selebriti endoser (SWA, Feburari, 2003 : 10-11). Para pelaku bisnis frozen food juga menyasar pasar dengan segmen menengah ke bawah.
Dengan tujuan untuk mencari ceruk pasar yang belum terpenuhi, hal tersebut dilakukan dengan mengeluarkan second brand. Contohnya PT Japfa Comfeed dengan merek So Eco dan PT Charoen Pokphand dengan merek Champ (MIX, Desember : 44-45).
3.4.4 Analisa Faktor Strategi
Pada awalnya So Good menjalankan strategi pemasaran produk secara langsung melalui satu agen yang meliputi penjualan individu. Ternyata cara tersebut mengalami kegagalan, kemudian strategi pun diubah menjadi strategi pemasaran langsung ke ritel.
Untuk memperkuat posisinya di pasar anak-anak So Good membuat iklan dengan bintang dan spoke person Joshua. Sedangkan fiesta melakukan strategi pemasaran dengan melakukan promosi baik di lini atas maupun di lini bawah (SWA, Februari, 2003 : 10).
3.4.5 Analisa Faktor Bauran Pemasaran
Menurut Kotler dan Amstrong (2001 : 71-75) bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran taktis berupa produk, harga, promosi, distribusi yang dipadukan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran. Gambar berikut akan menjelaskan perpaduan antara produk, harga, promosi, dan distribusi.
Gambar 3. 7. Perpaduan Produk, Harga, Promosi, dan Distribusi Sumber : (Kotler dan Amstrong, 2001 : 74)
Pada umumnya saluran distribusi yang dimiliki oleh perusahaan frozen food di Jawa, yakni langsung mendistribusikan produknya langsung ke toko dan restaurant dengan menggunakan truk ber-refrigerator yang dimiliki perusahaan (www.fas.usda.gov/gainfiles). Untuk produk merek Belfoods perusahaan mempunyai empat sistem distribusi, yakni pasar modern, pasar tradisional, pasar horeka, dan pasar freezer point(per-orangan). So Good mempunyai sistem distribusi, yakni langsung
Place
Saluran Cakupan Pilihan Lokasi Persediaan Pengankutan Logistik Produk
Jenis Produk Mutu
Nama Merek Ukuran Kemasan Garansi pelayanan
Price
Harga Tercantum Potongan Harga Batas Kredit Periode Pembayaran Kelonggaran
Pelanggan Sasaran
Posisi Yang diharapkan
Promotion
Periklanan
Penjualan Personal Promosi Penjualan Hubungan
masyarakat
mendistribusikan produk ke ritel (SWA, Februari, 2003 : 10-11). Berikut ini adalah gambar alur distribusi dari salah satu perusahaan frozen food, yakni PT Sekar Laut.
Gambar 3. 8. Alur Distribusi PT Sekar Laut Sumber : Distribution Indonesia 2000
Berikut ini adalah data produk, harga, promosi dan distribusi dari produk frozen food bakso :
Import (Meat, canned
food, syrup)
PT Sekar Laut (food
manufacture)
Export
PT Pangan Lestari Sale Distributor
Top Boga Store (import meat shop)
Agent atau Dealer
Wholesaler atau Grocier
Supermark et
Finna Food Store
Retailer atau Shop
Consumer
Tabel 3. 10. Bauran Pemasaran Frozen Food Bakso
Nama Produk
Ukuran Harga Lokasi Penjualan
Utama
Promosi
Fiesta Chicken Ball
300 g Rp 12.500 Supermarkets dan
Hypermarkets
Media iklan TV dan menggunakan 100 SPG
So Good bakso kuah sapi
120 g Rp 6.800 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan 150 SPG, buletin outlet modern, dan media iklan TV
So Good bakso goreng
120 g Rp 7.900 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan 150 SPG, buletin outlet modern, dan media iklan TV
So Good bihun bakso kuah
85 g Rp 5.000 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan 150 SPG, buletin outlet modern, dan media iklan TV
So Good bakso kuah ayam
120 g Rp 6.300 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan 150 SPG, buletin outlet modern, dan media iklan TV
Bumifood bakso sapi
25 biji Rp 14.400 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
So Good bakso kuah ikan
120 g Rp 7.600 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan 150 SPG, buletin outlet modern, dan media iklan TV
Fiesta Fish Ball
250 g Supermarkets
dan
Hypermarkets
Media iklan TV dan menggunakan 100 SPG
Bumifood bakso udang
25 biji Rp 10.300 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Popo Vegetable Fish Ball
200 g Hanya
tersedia di Carefour
Tidak menggunakan iklan
Bumifood bakso ikan
25 biji Rp 11.100 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Bumifood bakso cumi
25 biji Rp 11.500 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Bumifood bakso cumi
16 biji Rp 9.100 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Fiesta basko ayam kuah spesial
8 biji Rp 6.900 Supermarkets dan
Hypermarkets
Media iklan TV dan menggunakan 100 SPG
Bumifood bakso sapi premium
250 g Supermarkets
dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Trinita bakso sayur
Rp 6.360/100 gram
Hanya tersedia di Hypermarket Matahari
Tidak menggunakan iklan
Trinita bakso gepeng
Rp 4.245/
100 gram
Hanya tersedia di Hypermarket Matahari
Tidak menggunakan iklan
Prima bakso sapi
50 biji Rp 14.950 Supermarkets dan
Hypermarkets
Terdapat bonus sosis aby’s 3 buah dan menggunakan media buletin outlet modern
Prima bakso sapi urat
50 biji Rp 15.550 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Benardi bakso sapi kecil
50 biji Rp 16.250 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan media buletin outlet modern
Benardi bakso sapi
50 biji Rp 30.450 Supermarkets dan
Hypermarkets
Terdapat bonus sosis aby’s 3 buah dan menggunakan media buletin outlet modern
Vida bakso sapi kecil
50 biji Rp 13.750 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Vigo bakso sapi kecil
50 biji Rp 9.450 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Benardi bakso instant
8 biji Supermarkets
dan
Hypermarkets
Menggunakan media buletin outlet modern
Bumifood bakso ikan
50 biji Rp 19.990 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Bumifood bakso udang
50 biji Rp 20.765 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Bumifood bakso cumi
50 biji Rp 22.105 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Farmhouse bakso ayam dan bakso sapi
10 biji Supermarkets
dan
Hypermarkets
Menggunakan media massa dan buletin outlet modern
Baso-ku bakso sapi kuah
8 biji Rp 6.400 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Farmhouse bakso sapi kuah
10 biji Rp 5.750 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan media massa dan buletin outlet modern
Bernardi bakso ikan kecil
50 biji Rp 13.250 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan media buletin outlet modern
Benardi bakso ikan besar
50 biji Rp 15.900 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan media buletin outlet modern
Kimbo bakso sapi istimewa
50 biji Rp 15.950 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Prima bakso sapi kecil
50 biji Rp 11.700 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Vigo bakso sapi
50 biji Rp 19.140 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Abby’s bakso sapi kecil
50 biji Rp 9.100 Hanya tersedia di Hypermarket Matahari
Menggunakan media buletin outlet modern
So Good bakso kuah udang
120 g Rp 7.900 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan 150 SPG, buletin outlet modern, dan media iklan TV
Champ Chicken Meat Ball
500 g Rp 12.700 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Benardi bakso ayam besar
25 biji Rp 16.900 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan media buletin outlet modern
Benardi bakso sapi besar
25 biji Rp 17.900 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan media buletin outlet modern
Benardi bakso ikan besar
25 biji Rp 16.200 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan media buletin outlet modern
Vigo bakso sapi super kecil
50 biji Rp 10.500 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Vigo bakso sapi super besar
50 biji Rp 19.500 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Vida bakso sapi sedang
100 biji Rp 24.750 Supermarkets dan
Hypermarkets
Tidak menggunakan iklan
Minaku bakso ikan
250 g Rp 9.500 Hanya tersedia di Supermarket Sinar
Tidak menggunakan iklan
So Good bakso kuah mie
85 g Rp 5.000 Supermarkets dan
Hypermarkets
Menggunakan 150 SPG, buletin outlet modern, dan media iklan TV
3.4.6 Analisa Rantai Nilai
Dalam menjaga kepuasan pelanggan, maka perusahan harus memiliki alur proses produksi yang baik sehingga kualitas dari produk yang dihasilkan tetap terjaga dan alur penyampaian informasi keinginan pelanggan yang baik (Kotler, 2005 : 79-81).
Penulis mengambil contoh rantai nilai dari PT Japfa Comfeed, yang mengatakan bahwa rantai nilai integritas vertikal dari perusahaan merupakan sebuah keunggulan bersaing bagi perusahaan. Karena dengan adanya hubungan operasi yang baik perusahaan dapat menghasilkan output yang sangat berkualitas, karena terjaminnya setiap output yang dihasilkan di setiap level unit. Berikut adalah gambar dari hubungan operasi di setiap level perusahaan.
Gambar 3. 9. Rantai Nilai PT Japfacomfeed
Sumber : www.japfacomfeed.co.id
3.4.7 Analisa Diferensiasi
Diferensiasi adalah proses menambahkan serangkaian perbedaan yang penting dan bernilai, guna membedakan tawaran perusahaan itu dari tawaran pesaing (Kotler, 2005 : 347). Berikut adalah diferensiasi produk yang dilakukan oleh beberapa merek yang ada di pasaran antara lain :
Nama Merek
Diferensiasi yang dilakukan
So Good Melakukan diferensiasi dengan mengeluarkan produk bakso yang disertai dengan bumbu kuah sebagai pelengkap. Juga mengeluarkan produk bakso yang disertai dengan mie dan bihun sebagai makanan pelengkap. Bakso goreng yaitu bakso yang cara pembuatannya dengan cara dilapisi tepung kemudian di goreng
Fiesta Melakukan diferensiasi dengan mengeluarkan produk bakso yang disertai bumbu kuah sebagai pelengkap. Juga mengeluarkan suatu produk bakso dengan rasa istimewah yaitu bakso dengan rasa ayam special dimana rasanya berbeda dengan rasa bakso ayam pada umumnya Sea Food
Product
Mengimpor produk Popo vegetable fish ball dengan diferensiasi bakso daging ikan yang dicampur dengan sayuran dan kemudian di goreng Bumi Food Mengeluarkan produk bakso daging sapi premium yang dibuat dari
daging sapi yang benar-benar pilihan
Baso-ku Mengeluarkan produk bakso dengan daging sapi campuran urat disertai dengan tambahan bumbu untuk kuah
Trinita Mengeluarkan produk bakso dengan campuran sayuran
Prima Mengeluarkan produk basko dengan campuran daging sapi urat
Minaku Mengeluarkan produk bakso dengan beberapa warna seperti merah, hijau dan kuning
Benardi Mengeluarkan produk bakso dengan campuran daging sapi urat yang disertai sambal, bawang goring dan bumbu kaldu untuk kuah
Farm House Melakukan diferensiasi dengan mengeluarkan produk bakso yang disertai bumbu kuah sebagai pelengkap
Gambar 3. 10. Diferensiasi Produk Bakso di Pasaran
3.5 Analisa Lingkungan Makro
Analisa lingkungan makro adalah sebuah analisa lingkungan yang akan membahas mengenai faktor ekonomi, faktor sosial, faktor hukum, faktor politik, dan faktor teknologi yang akan berhubungan dengan industri bakso. Jadi di dalam analisa lingkungan makro akan terdapat faktor-faktor yang akan mendukung dalam keberhasilan proses produksi dari industri bakso.
3.5.1 Analisa Faktor Ekonomi
Indikator-indikator ekonomi yang relevan dalam mendukung industri bakso di Surabaya adalah sebagai berikut :
1. Pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data yang didapat dari Surabaya dalam Angka 2004 industri makanan, minuman, dan tembakau terus mengalami pertumbuhan. Tercatat pertumbuhan ekonomi pada sektor industri makanan, minuman, dan tembakau pada tahun 2003 sebesar 1,98% sedangkan pada tahun 2004 terjadi pertumbuhan sebesar 2,33%.
Dengan adanya peningkatan pertumbuhan tersebut dapat diperkirakan bahwa Surabaya merupakan suatu kawasan yang baik untuk mengembangkan industri makanan, minuman, dan tembakau.
2. Selain itu besarnya tingkat inflasi dan costumer price index (CPI) akan mempengaruhi kekuatan daya beli masyarakat. Pada bulan Januari 2006 tercatat tingkat inflasi di Surabaya adalah 1,61 dan costumer price index sebesar 135,47, sedangkan pada bulan Februari 2006 tingkat inflasi di Surabaya sebesar 0,38 dan costumer price index sebesar 135,98, informasi didapat dari situs BPS (www.bps.go.id/sector/cpi/table2). Dengan adanya penurunan tingkat
inflasi hal tersebut menunjukkan suatu pertanda yang baik bahwa perekonomian di Surabaya terus mengalami perbaikan pasca krisis moneter. Selain itu penurunan tingkat inflasi akan berdampak pada meningkatnya daya beli masyarakat. Index daya beli akan mencerminkan kemampuan daya beli masyarakat pada suatu harga tertentu, dengan adanya peningkatan sebesar 0,51 pada bulan Februari dibandingkan dengan bulan Januari mengindikasikan bahwa kemampuan masyarakat untuk membeli dan mengkomsumsi barang dan jasa mengalami peningkatan. .
3. Tingkat pengeluaran dan pendapatan penduduk. Tingkat pengeluaran penduduk Surabaya pada tahun 2002 sebagai berikut:
Tabel 3.2
Persentase Pengeluaran Perkapita Penduduk Surabaya
dalam Sebulan Pada Tahun 2002 (dalam ribuan) monthly percapita consumtion
<40 40- 59,9
60- 79,9
80- 99.9
100- 149,9
150- 199,9
200- 299,9
300- 499,9
>500 Total
- - 1,01 2,71 15,56 21,31 28,49 23,22 7,70 100
Sumber : (www.bps.go.id)
Melalui pengamatan penulis dengan memperhatikan data pengeluaran perbulan penduduk Surabaya, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Surabaya cukup konsumtif dalam mempergunakan hasil pendapatannya. Karena persentase penduduk dengan pengeluaran kurang dari Rp 40.000 dan pengeluaran antara Rp 40.000 – Rp 59.999 tidak ada atau sangatlah kecil sekali persentasenya. Tingkat pendapatan regional per kapita penduduk Jawa Timur pada tahun 2000 sebesar Rp 4.326.683,52 miliar dan pada tahun 2003 sebesar Rp 6.328.594,57. Dengan peningkatan pendapatan per kapita maka tingkat
kesejahteraan masyarakat juga meningkat, hal ini akan berhubungan dengan perkembangan pasar produk bakso.
3.5.2 Analisa Faktor Politik
Menurut Kotler dan Amstrong (2001: 115-119) lingkungan politik terdiri-dari hukum, agen pemerintah dan kelompok-kelompok penekan yang mempengaruhi dan membatasi organisasi dan individu yang bermacam-macam pada sebuah masyarakat. Di Indonesia terdapat dua kekuatan politik, yang terutama mengatur industri makanan, yaitu : MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).
Berdasarkan informasi dari situs (www.fao.org/AG/AGAinfo) MUI menetapkan bahwa untuk makanan yang berbahan baku daging harus memenuhi sertifikat halal. Sertifikat berupa tulisan halal ini akan tertera di kemasan produk tersebut. Halal dibagi menjadi dua bagian, yaitu : Halal di pertenakkan, dicapai dengan cara ketika hewan disembelih harus mengucapkan kata “bismillah”. Dan halal yang kedua adalah halal di proses pembuatan, halal ini berhubungan dengan keadaan dari hewan yang harus sehat, lingkungan pembuatan yang bersih, dan pada waktu proses pembuatan tidak berhubungan dengan unsur hewan babi. Berdasarkan keputusan Direktur Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Nomor : 02240/ B/ SK/ VII/ 91 tentang pedoman persyaratan mutu serta label dan periklanan makanan produk bakso daging harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Adalah produk yang diperoleh dari campuran daging dengan serelia atau tanpa penambahan bumbu, dibentuk bulatan atau bentuk lain
2. Mengandung daging tidak kurang dari 51%
3. Label :
• Nama produk : “daging bakso X” (X adalah nama jenis hewan asal daging yang digunakam).
• Bila mengandung babi, harus dicantumkan tulisan
“MENGANDUNG BABI” dengan huruf besar berwarna merah dengan ukuran sekurang-kurangnya univers corp 12 point dan ganbar babi didalam garis kotak persegi yang juga berwarna merah.
3.5.3 Analisa Faktor Sosial
Lingkungan sosial adalah tempat dimana setiap harinya konsumen melakukan interaksi dengan konsumen yang lainnya (Kotler, 2005 : 194-196). Penulis akan mempersempit lingkungan ini menjadi lingkungan keluarga, untuk mempermudah dalam menganalisa hubungan interaksi ini. Menurut survei MarkPlus&Co pada tahun 2003 di 14 kota besar di Indonesia, ibu adalah pengambil keputusan dominan dalam membeli beragam produk terutama produk makanan (SWA, Maret 2006: 82). Oleh karena itu dalam menjual produk bakso yang merupakan produk makanan, ibu merupakan konsumen yang harus didekati. Karena secara tidak langsung ibu akan menurunkan pola konsumsinya kepada seluruh anggota keluarganya.
3.5.4 Analisa Faktor Hukum
Sebelum menjual suatu produk makanan maka ada beberapa persyaratan hukum yang harus dipenuhi, antara lain :
1. Dalam hal kemasan harus memenuhi ketetapan keputusan Direktur Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Nomor : 02240/ B/ SK/ VII/
91 tentang pedoman persyaratan mutu serta label dan periklanan, secara umum informasi yang harus tercantum pada kemasan adalah :
• Nama produk atau nama makanan.
• Komposisi atau daftar ingredient.
• Isi netto.
• Nama dan alamat pabrik atau importer.
• Nomor pendaftaran.
• Kode produksi.
• Tanggal daluwarsa.
• Petunjuk atau cara penyimpanan.
• Petunjuk atau cara penggunaan.
• Nilai gizi.
• Tulisan atau pernyataan khusus.
2. Hak paten dan hak merek, kedua hak ini termasuk dalam kekayaan intelektual dan didaftarkan di Direktorak Jendral Hak atas Kekayaan
Intelektual. Hak paten berkaitan dengan penemuan baru atau cara baru dalam bidang industri dalam mengolah bahan makanan. Hak merek berkaitan dengan nama atau tanda dalam barang dan jasa yang tidak memiliki kemiripan sebagian besar dengan nama atau tanda dari produk lain.
3. Menurut peraturan menteri kesehatan RI Nomor : 722/MEN.KES/PER/IX/88 ada beberapa bahan tambahan yang dilarang untuk digunakan dalam makanan yaitu :
• Asam Borat (Boric Acid) dan senyawahnya.
• Asam Salisisat dan garamnya (Salicylic Acid and it’s salt).
• Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate, DEPC).
• Dulsin (Dulcin).
• Kalium Klorat (Potassium Chlorate).
• Kloramfenikol (Chloramphenicol).
• Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated Vegetable Oils).
• Nitrofurazon (Nitrofurazone).
• Formalin (Formaldehyde).
• Kalium Bromat.
3.5.5 Analisa Faktor Teknologi
Faktor teknologi sangat berpengaruh sebagai salah satu faktor untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas industri bakso. Faktor teknologi juga sangat berpengaruh pada quality control pembuatan bakso, terutama pada proses pembuatan dan kemasan produk bakso. Kemajuan teknologi pada proses pembuatan bakso berupa :
1. Mesin penggiling daging. Mesin ini terdiri dari dua alat penggiling daging. Alat yang pertama untuk menggiling potongan-potongan daging dengan ukuran kira-kira 7 cm x 5 cm, sedangkan yang kedua untuk menghaluskan hasil gilingan daging pertama dengan kapasitas 4 kg dalam satu mangkok penggilingan. Kedua alat penggilingan ini digerakkan oleh sebuah mesin diesel.
2. Thermometer pengukur air rebusan. Alat ini berguna untuk menjaga suhu air rebusan bakso, dipakai dengan cara dijepit di ujung panci rebusan dengan jarum logam yang tercelup kedalam air rebusan. Alat ini memiliki arti yang sangat penting dalam proses pembuatan bakso. Karena jika air rebusan bakso terlalu panas maka bakso akan pecah, bentuknya pun tidak akan bulat lagi. Alat ini dapat dibeli di Ace Hardware seharga Rp 105.000, dibuat oleh perusahaan Taylor dengan garansi lifetime warranty.
Berikut adalah gambar thermometer tersebut.
Gambar 3. 11. Termometer Masakan
3. Alat untuk mengemas. Selama alat untuk mengemas bakso ada dua macam, yaitu : alat yang hanya merekatkan mulut kantong plastic (plastik vacuum) dan alat yang merekatkan mulut kantong plastik sekaligus menghisap seluruh udara dalam kantong plastic (PVC shrink), sehingga keadaan dalam kantong menjadi kedap udara. Alat pengemasan yang kedap udara akan sangat membantu dalam pengurangan penggunaan bahan pengawet pada bakso. Karena kemasan akan menghambat proses pembusukan, dengan cara menghisap semua udara dalam
kantong yang mengandung bakteri-bakteri pembusukan berupa : bakteri vegetatif, jamur, dan virus, agar tidak akan berhubungan dengan bakso.
4. Alat untuk membekukan produk bakso berupa plate freezer yang dapat membekukan produk bakso dengan cepat.
5. Truk Ber-refrigerator berfungsi sebagai alat pengankut dan menjaga kebekuan produk frozen food.