• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI IMPLEMENTASI PATIENT SAFETY DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN DI RUMAH SAKIT USU TAHUN 2019 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI IMPLEMENTASI PATIENT SAFETY DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN DI RUMAH SAKIT USU TAHUN 2019 SKRIPSI"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh

PUTRI SABRINA S NIM. 151000491

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MSYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

PUTRI SABRINA S NIM. 151000491

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MSYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes.

Anggota : 1. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M., M.P.H.

(5)

Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul “Studi Implementasi Patient Safety dalam Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan di Rumah Sakit USU 2019” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Oktober 2019

Putri Sabrina S

(6)

Abstrak

Keselamatan Pasien merupakan suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman. Di Indonesia, tingkat KTD pada tahun 2007 sebesar 46,2% dan pada tahun 2010 sebesar 63%. tingginya angka kejadian tak diharapkan dapat menimbulkan kematian pada pasien dan keluhan yang dapat menurunkan citra rumah sakit terhadap pelayanannya. Mutu di rumah sakit merupakan pemenuhan kebutuhan dalam pengukuran tingkat pelayanan pada rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pasien safety dalam rangka peningkatan mutu pelayanan di RS USU. Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan dengan berjumlah 18 (delapan belas) orang yang terdiri dari 1 (satu) Kepala instalasi rawat inap, 1 (satu) Pegawai KMKP Sub Keselamatan Pasien, 6 (enam) perawat di Ruang Rawat Inap, 1 (satu) perawat di ruang bedah, 7 (tujuh) Pasien dari Rawat Inap, 1 (satu) unit farmasi. Hasil penelitian ini bahwa proses pengidentifikasian pasien sudah berjalan dengan baik, namun fasilitas gelang belum terpenuhi, komunikasi read back belum berjalan dengan baik dikarenakan perawat tidak hafal ejaan alphabet dan dokter tidak menandatangani read back karena tidak ditempat. Obat high alert tidak berjalan sesuai prosedur masih ada obat yang di stock di ruangan. Masih ada dokter yang lupa memberikan tanda (site marking ) pada pasien. Hand hygne sudah mencapai standar 100%. Pencegahan resiko jatuh tidak berjalan baik dikarenakan perawat belum menjalankan pelayanan sesuai dengan SPO rumah sakit. Diharapkan Direktur Rumah Sakit USU menyediakan fasilitas agar pasien menjadi lebih aman, dan diharapkan pihak diklat Rumah Sakit USU memberikan pelatihan kepada perawat agar tidak lalai bekerja dan mengahafal alphabet dalam komunikasi read back sehingga mutu pelayanan rumah sakit meningkat dan mengurangi KTD.

Kata kunci : Sasaran keselamatan pasien, mutu pelayanan

(7)

Abstract

Patient Safety is a system that makes patient care safer. In Indonesia, the rate of reported adverse event in 2007 was 46.2% and in 2010 it was 63%. the high number of unexpected events can lead to death in patients and complaints that can reduce the image of the hospital for its services. Quality in hospitals is meeting the needs in measuring the level of service at the hospital. This study aims to analyze the application of patient safety in order to improve service quality at USU Hospital. This research uses a qualitative form of research using a phenomenological approach. The method of data collection uses the method of observation and in-depth interviews with a total of 18 (eighteen) people consisting of 1 (one) Head of the inpatient installation, 1 (one) KMKP Patient Safety Sub Staff, 6 (six) nurses in the Inpatient Room , 1 (one) nurse in the operating room, 7 (seven) Patients from Inpatient, 1 (one) pharmaceutical unit. The results of this study indicate that the patient identification process has gone well, but the bracelet facility has not been fulfilled, read back communication has not gone well because nurses do not memorize the alphabet spelling and the doctor does not sign the read back because it is not in place. High alert drugs do not run according to procedure. There are still drugs in stock in the room. There are still doctors who forget to give signs (site marking) to patients. Hand hygne has reached 100% standard. Prevention of the risk of falling does not go well because nurses have not run services in accordance with hospital SPO. It is hoped that the Director of USU Hospital provides facilities to make patients safer, and it is expected that the USU Hospital training program will provide training to nurses so that they do not neglect to work and memorize the alphabet in read back communication so that the quality of hospital services increases and reduces adverse event.

Keywords: Patient safety goals, service quality

(8)

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Studi Implementasi Patient Safety dalam Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan di Rumah Sakit USU 2019”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes. selaku Ketua Departemen Administrasi Kebijakan dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara juga sebagai Dosen Pembimbing saya yang telah banyak meluangkan waktu dan pemikiran serta dengan sabar dalam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

4. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M., M.P.H. selaku Dosen Penguji I yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam penyempurnaan skripsi ini.

(9)

dalam penyempurnaan skripsi ini.

6. Dr. dr. Taufik Ashar, M.K.M. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

7. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat USU atas ilmu yang telah diajarkan selama ini kepada penulis.

8. Pegawai dan Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terkhusus Dian Afriyanti.

9. Direktur Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara beserta seluruh staf yang telah membantu menyelesaikan penelitian.

10. Teristimewa penulis ucapkan terimakasih kepada Ayahanda tercinta Sabirin Siregar dan ibunda tercinta Gadih Rantih yang telah memberikan kasih sayang yang begitu besar dan kesabaran dalam mendidik dan memberi dukungan kepada penulis.

11. Teruntuk saudari tercinta, Sulthanah Nabilah S dan Atikah Aqilah S yang selalu memberi dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Teruntuk sahabat yang sangat saya sayangin titan, fira, ika, bella, tya, mia, erik, anes dan yuda yang selalu mendukung penuh dalam proses penyelesaian skripsi ini.

13. Seluruh teman seperjuangan semasa kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang namanya tidak bisa disebut satu persatu, yang sudah berbaik hati untuk membagi pengalaman dan menjawab

(10)

ketidaktahuan penulis dalam menyusun skripsi.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Oktober 2019

Putri Sabrina S

(11)

Daftar Isi

Halaman

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abstract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi ix

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xiii

Daftar Istilah xiv

Riwayat Hidup xv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 5

Tujuan umum 5

Tujuan khusus 5

Manfaat Penelitian 6

Tinjauan Pustaka 7

Patient Safety 7

Standar pelayanan pasien 9

Pentingnya patient safety 13

Tujuan patient safety 14

Sasaran patient safety 16

SPO Sasaran Keselamatan Pasien yang ada di Rumah Sakit USU 26

SPO read-back 26

SOP meningkatkan keamanan high-alert medication 27 SOP site marking (penandaan area operasi) 30

SPO melakukan cuci tangan 31

SOP pelaksanaan pencegahan pasien jatuh di Rumah Sakit USU 34

Mutu Pelayanan Kesehatan 35

Standar mutu pelayanan 37

Dimensi mutu pelayanan 38

Landasan Teori 40

Fokus Penelitian 42

Metode Penelitian 44

(12)

Lokasi dan Waktu Penelitian 44

Subjek Penelitian 44

Definisi Konsep 46

Metode Pengumpulan Data 47

Metode Analisis Data 47

Uji Keabsahan Data 48

Hasil Penelitian dan Pembahsan 49

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 49

Sejarah singkat Rumah Sakit USU 49

Visi dan misi Rumah Sakit USU 50

Tujuan Rumah Sakit USU 50

Pengidentifikasian Pasien 51

Komunikasi Efektif 54

Obat High-Alert 59

Site Marking 64

Hand Hygne 69

Risiko Jatuh 73

Keterbatasan Penelitian 78

Kesimpulan dan Saran 80

Kesimpulan 80

Saran 81

Daftar Pustaka 82

Lampiran 84

(13)

Daftar Tabel

No Judul Halaman

1 Karakteristik Informan Tenaga Paramedis 45

2 Karakteristik Informan Pasien 45

(14)

Daftar Gambar

No Judul Halaman

1 Fokus penelitian 42

2 Penyimpanan obat high alert di unit farmasi 61

3 Hand rub di ruang rawat inap 72

4 Sticker pencegahan resiko jatuh 76

5 Gelang identifikasi pasien 93

6 Stempel read back 93

7 Penyimpanan obat high alert di ruang rawat inap 94

8 Form site marking 95

9 Stiker kuning pada gelang, tempat tidur, dan pintu kamar pasien 96

10 Form morse fall scale 96

11 Form humpty dumpty 97

12 Form geriatri 97

13 Form pelaksanan pencegahan pasien jatuh 97

14 Pengangan kamar mandi 98

15 Tempat sampah 98

(15)

Daftar Lampiran

Lampiran Judul Halaman

1 Surat Izin Survei Pendahuluan 84

2 Pedoman Wawancara 85

3 Lembar Observasi 89

4 Surat Izin Penelitian 91

5 Surat Keterangan Selesai Penelitian 92

6 Dokumentasi 93

(16)

Daftar Istilah

DPJP Dokter Penanggung Jawab Pelayanan IOM Institute Of Medicine

JCI Joint Commission International

KTD Kejadian Tak Diharapkan KNC Kejadian Nyaris Cedera LASA Look Alike Sound Alike

SIKP Sasaran International Keselamatan Pasien WHO World Health Organization

(17)

Riwayat Hidup

Penulis bernama Putri Sabrina S berumur 22 tahun, dilahirkan di Medan pada tanggal 20 juni 1997. Penulis beragama Islam, anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Sabirin S dan Ibu Gadih Rantih.

Pendidikan formal dimulai di TK Kusuma pada Tahun 2002. Pendidikan Sekolah Dasar di SD Hrapan II pada Tahun 2003-2009, Sekolah Menengah Pertama di SMP Harapan II pada Tahun 2009-2012, Sekolah Menengah Atas di SMA Harapan I pada Tahun 2012-2014, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, Oktober 2019

Putri Sabrina S

(18)

Pendahuluan

Latar Belakang

Keselamatan Pasien merupakan suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliput asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tidak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Permenkes, No 11 2017).

Menurut Permenkes Republik Indonesia No. 11 tahun 2017 memiliki tujuh langkah menuju patient safety (keselamatan pasien) yaitu: membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien, memimpin dan mendukung staf, mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko, mengembangkan sistem pelaporan, melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien, belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien, mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien. Mengacu kepada standar keselamatan pasien, maka rumah sakit harus merancang atau memperbaiki proses yang ada. Memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara mendalam kejadian yang tidak di harapkan (KTD), melakukan untuk meningkatkan kinerja keselamatan pasien.

Mutu merupakan suatu kualitas atau tingkat baik ataupun buruknya sesuatu terhadap pelayanan suatu instansi.Semakin baiknya pelayanan di suatu

(19)

pelayanan kesehatan menjadi hal penting dalam instansi pelayanan kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan pelayanan kesehatan mendorong setiap institusi pelayanan kesehatan agar sadar terhadap mutu dalam memberikan pelayanan kepada pengguna organisasi pelayanan kesehatan. Jika konsumen tidak puas dengan mutu pelayanan yang diberikan maka pasien tidak akan kembali atau akan mencari pelayanan yang lain, walaupun pelayanan tersebut tersedia, mudah didapat dan mudah dijangkau (Herlambang, 2016).

Data yang dirilis oleh Health and Human Service (HHS) menunjukan bahwa sepanjang 2010-2014 di Amerika telah terjadi penurunan kejadian terkait patient safety di rumah sakit 17% dan hal ini dapat menurunkan tingkat kematian pasien sebanyak 87 ribu kasus. Tetapi pada tahun 2015, patient safety seperti medical errors paling banyak terjadi. Biasanya kejadian tidak diinginkan terjadi hanya pada pasien rawat inap tetapi kali ini juga terjadi pada paisen yang sedang menjalani dioperasi.Pada bulan oktober separuh dari operasi mengalami medication error seperti pemberian dosis tepat, mengabaikan tindakan yang harus dilakukan berdasarkan tanda vital di pasien, kesalahan dalam pelabelan serta documentation errors (Lumenta, 2008).

Laporan penelitian yang dilakukan oleh Institute of Medicine mengungkapkan adanya Diagnostic Errors terkait Improving Diagnosis in Health Care. Berdasarkan dari laporan tersebut data yang menunjukan 10% kematian pasien disebabkan oleh kejadian tidak diinginkan dengan persentase 6%.

Diagnostic error adalah salah satu isu yang mendapat perhatian khusus karena hal ini merupakan penyebab tingginya kesalahan dan bahkan kematian pasien.

(20)

Sedangkan di Indonesia, tingkat KTD yang dilaporkan patient safety tahun 2007 sebesar 46,2% dan pada tahun 2010 sebesar 63%. Dari laporan insiden yang ada dapat dilihat bahwa, tingkat keselamatan pasien di Indonesia jauh lebih tinggi di bandingkan di Amerika, tingginya angka kejadian tak diharapkan dapat menimbulkan kematian pada pasien dan keluhan yang dapat menurunkan citra rumah sakit terhadap pelayanannya. Dengan buruknya pelayanan yang ada maka mutu suatu instansi atau rumah sakit juga buruk.

Mutu di rumah sakit merupakan pemenuhan kebutuhan dalam pengukuran tingkat pelayanan pada rumah sakit. Pelayanan yang diberikan rumah sakit harus sesuai dengan prosedur yang ada sehingga mutu yang ada di rumah sakit dapat terjaga.

Rumah sakit sebagai instalansi pelayanan kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien maka harus mengutamakan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. Pasien sebagai pengguna pelayanan kesehatan berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit.

Di Rumah Sakit USU memiliki 6 indikator keselamatan pasien, diantaranya: pemasangan gelang identitas pasien, kepatuhan DPJP untuk menandatangani stempel konfimasi read back, keamanan penyimpanan dan pelebelan obat high alert, kepatuhan pelaksanaan prosedur site marking pada pasien yang akan dilakukan tindakan operasi, kepatuhan petugas kesehatan dalam

(21)

melakukan keberhasilan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen, dan kepatuhan memasang risiko jatuh.

Berdasarkan hasil survey awal yang peneliti lakukan pada Rumah Sakit USU melalui wawancara kepada Ketua Komite Mutu Pelayanan Keselamatan Pasien diketahui bahwa mutu pelayanan di Rumah Sakit USU masih belum berjalan secara optimal. Dari 6 indikator kaselamatan pasien yang ada di Rumah sakit USU yaitu pemasangan gelang identitas pasien, kepatuhan DPJP untuk menandatangani stempel konfimasi read back, keamanan penyimpanan dan pelebelan obat high alert, kepatuhan petugas kesehatan dalam melakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen, dan kepatuhan memasang risiko jatuh belum dilaksanakan secara optimal yang disebabkan oleh kurangnya dana untuk melaksanakan indikator keselamatan pasien. Hanya satu indikator yang sudah dilaksanakan secara optimal yaitu kepatuhan pelaksanaan prosedur site marking pada pasien yang akan dilakukan pada tindakan operasi.

Rumusan masalah

1. Bagaimana tenaga medik dan para medic pada standar prosedur operasional tentang pemasangan gelang identifikasi pasien dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU?

2. Bagaimana Dokter Penanggung Jawab Pasien untuk melaksanakan SPO konfirmasi read back dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU?

(22)

3. Bagaimana keamanan penyimpanan dan pelebelan obat high alert dalam upaya penigkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU?

4. Bagaimana pelaksanaan prosedur site marking pada pasien yang akan dilakukan tindakan operasi dalam upaya penigkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU?

5. Bagaimana petugas kesehatan dalam melakukan keberhasilan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen dalam upaya penigkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU?

6. Bagaimana memasang risiko jatuh dalam upaya penigkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU?

Tujuan penelitian

Tujuan umum. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan patient safety dalam rangka peningkatan mutu pelayanan di RS USU.

Tujuan khusus. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

1. Mendeskripsikan tenaga medik dan para medic pada standar prosedur operasional tentang pemasangan gelang identifikasi pasien dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU.

2. Mendeskripsikan Dokter Penanggung Jawab Pasien untuk melaksanakan SPO tentang konfirmasi read back dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU.

(23)

3. Mendeskripsikan pelaksanaan prosedur high-alert pada pasien yang akan dilakukan tindakan operasi dalam upaya penigkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU.

4. Mendeskripsikan pelaksanaan prosedur site marking pada pasien yang akan dilakukan tindakan operasi dalam upaya penigkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU.

5. Mendeskripsikan petugas kesehatan dalam melakukan keberhasilan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan pada program patient safety di RS USU.

6. Mendeskripsikan memasang risiko jatuh dalam upaya penigkatan mutu pelayanan kesehatan pada program pasien safety di RS USU.

Manfaat Penelitian

1. Dapat dijadikan sebagai masukan dalam perbaikan sasaran keselamatan pasien agar meningkatnya mutu pelayanan di RS USU.

2. Penulis dapat mengimplemenstasikan ilmu yang didapat selama masa perkuliahan dengan fakta di lapangan serta memperoleh pengetahuan dan pemahaman khususnya mengenai sasaran keselamatan pasien di RS USU.

(24)

Patient safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengolahan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksankan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya di ambil.

Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), keselamatan pasien adalah tidak adanya bahaya yang mengancam kepada pasien selama proses pelayanan kesehatan.

Patien safety (keselamatan pasien) adalah pasien bebas harm (cedera) yang termasuk di dalamnya adalah penyakit, cedera fisik, psikologi sosial, penderita cacat kematian dan lain lain yang seharusnya tidak terjadi atau cedera yang potensial terkait dengan pelayanan kesehatan (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit, 2015). Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit yang menjadi Isu Global yaitu : keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan keselamatan “bisnis” rumah sakit yang terkait kelangsungan hidup rumah sakit.

(25)

pasien. Karena itu keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terkait dengan isu mutu dan citra perumahsakitan (Permenkes No 11, 2017).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017, keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengolahan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajardari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegahnya terjadi cedera yang di sebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya di ambil.

Keselamatan pasien dapat diartikan sebagai upaya untuk melindungi pasien dari sesuatu yang tidak diinginkan selama proses perawatan. Sistem tersebut dapat diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh kesalahan akibat melaksnakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang sehaursnya dilakukan (Permenkes No 11, 2017).

Sistem keselamatan pasien umumnya terdiri dari beberapa komponen seperti sistem pelaporan insiden, analisis belajar dan riset dari insiden yang timbul pengembangan dan penerapan solusi untuk menekan kesalahan dan kejadian tidak diharapkan (KTD), serta penetapan berbagai standar keselamatan pasien berdasarkan pengetahuan dan riset (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit, 2015). Menurut The Institut Of Medicine (IOM) mendefinisikan keselamatan sebagai freedomfrom accidental injury. Keselamatan dinyatakan sebagai ranah pertama dari mutu dan definisi mengenai keselamatan.

(26)

Standar pelayanan pasien. Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan yang perlu ditangani segera di rumah sakit di Indonesia maka diperlukan standar keselamatan pasien rumah sakit yang merupakan acuan bagi rumah sakit di Indonesia untuk melaksanakan kegiatannya. Standar keselamatan pasien rumah sakit yang disusun mengacu pada “hospital patient safety standards” yang dikeluarkan oleh joint commission on accreditation of health organizations, Illinois, USA, tahun 2002 yang di sesusaikan dengan situasi dan kondisi perumahsakitan di Indonesia. Standar keselamatan pasien terdiri dari tujuh standar menurut Permenkes Nomor 11 Tahun 2017 yaitu:

1. Hak pasien

Standar adalah pasien dan keluarga mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD). Kriterianya sebagai berikut :

a. Harus adanya dokter penanggung jawab pelayanan.

b. Dokter penanggung jawab pelayanan harus membuat rencana pelayanan.

c. Dokter penangung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk terjadinya KTD.

2. Mendidik pasien dan keluarga

Standarnya adalah rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Kriterianya

(27)

adalah keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu, dirumah sakit harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarga tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan didikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat:

a. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.

b. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab.

c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.

d. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.

e. Mematuhi intruksi dan menghormati peraturan rumah sakit.

f. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.

g. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

Standarnya adalah rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan. Dengan kriteria sebagai berikut :

a. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit.

b. Terdapat koordinasi layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan

(28)

sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antara unit pelayanan dapat berjalan baik dan lancar.

c. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.

d. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan efektif.

4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien.

Standarnya adalah rumah sakit harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif kejadian tidak diharapkan, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.

Kriteria nya adalah sebagai berikut:

a. Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan yang baik.

b. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja.

c. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif.

d. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis.

5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien standarnya adalah :

(29)

a. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi resiko keselamatan pasien dan mengurangi Kejadia Tidak Diharapkan (KTD).

b. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan pengmabilan keputusan tentang keselamatan pasien.

c. Pimpinan mengalokasikan sumberdaya yang kuat untuk mengukur, mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta tingkatkan keselamatan pasien.

d. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektivitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien Standarnya adalah:

a. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas.

b. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staff serta dukungan pendekatan inter disiplin dalam pelayanan pasien, dengan kriteria sebagai berikut:

1. Memiliki program diklat dan orientasi bagi staff baru yang memuat topik keselamatan pasien.

(30)

2. Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan member pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.

3. Menyelenggarakan pelatihan tentang kerja sama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan inter disiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

Standarnya adalah:

a. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.

b. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat, dengan keriteria sebagi berikut:

1. Disediakan nya anggaran untuk merencanakan dan mendisain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.

2. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada.

Pentingnya patient safety (keselamatan pasien). Hampir setiap tindakan medik menyimpan potensi resiko, yaitu:

a. Kesalahan Medis ( medical error )

(31)

Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien.

b. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) / adverse event

Suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (omission), dan bukan karena “underlying disease” atau kondisi pasien (KKP-RS).

c. Nyaris cedera (NC)/ Near miss

Suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya di ambil yang dapat mencederai pasien tetapi cedera serius terjadi, karena :

1. Keberuntungan, misalnya : pasien terima suatu obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat.

2. Pencegahan, suatu obat dengan over dosis lethal diberikan staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan.

3. Peringnan suatu obat dengan over dosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan antidotumnya (KKP-RS).

Tujuan patient safety (keselamatan pasien). Tujuan keselamatan pasien menurut Permenkes RI No. 11 Tahun 2017 adalah untuk menciptakan budaya atau iklim keselamatan pasien di rumah sakit meningkatkan kepercayaan (akuntabilitas) pasien dan masyarakat terhadap rumah sakit, mengurangi kejadian yang tidak diharapkan (KTD) dan terwujudnya pelaksanaan program-program pencegahan sehingga tidak terjadi kembali kejadian yang tidak diharapkan (KTD).

(32)

Adapun tujuh langkah menuju pasien safety (keselamatan pasien) berdasarkan Permenkes RI No. 11 Tahun 2017 yaitu :

1. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien.

Ciptakan budaya adil dan terbuka 2. Memimpin dan mendukung staf.

Tegakkan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien diseluruh fasilitas pelayanan kesehatan

3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko.

Bangun sistem dan proses untuk mengelola risiko dan mengidentifikasi kemungkinan terjadinya kesalahan

4. Mengembangkan sistem pelaporan.

Pastikan staf mudah untuk melaporkan insiden secara internal maupun eksternal

5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien.

Kembangkan cara-cara berkomunikais caraterbuka dan mendengarkan pasien.

6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien.

Dorong staf untuk menggunakan analisa akar masalah guna pembelajaran tentang bagimana dan mengapa terjadi insiden.

7. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.

Pembelajaran lewat perubahan-perubahan didalam praktek, proses atau sistem.

(33)

Sasaran patient safety (keselamatan pasien). Menurut Permenkes RI , semua rumah sakit terakreditasi oleh Joint Commission International (JCI) wajib mengimplementasikan Six International Safety Goals atau enam sasaran keselamatan pasien. Adapun tujuan dari sasaran international keselamatan pasien (SIKP) ada pada bidang bidang yang bermasalah dalam perawatan kesehatan dan juga pemberian bukti dan solusi hasil consensus menurut nasihat para ahli.

Enam sasaran keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit menurut Permenkes RI No. 11 tahun 2017 yaitu :

Sasaran I : Mengidentifikasi pasien dengan benar Sasaran II : Meningkatan komunikasi yang efektif

Sasaran II : Meningkatkan keamanan obat yang perlu diwaspadai

Sasaran IV : Memastikant lokasi pembedahanan yang benar , prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar

Sasaran V : Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan Sasaran VI : Mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh

Tujuan SKP adalah untuk menggiatkan perbaikan-perbaikan tertentu dalam soal keselamatan pasien.Sasaran sasaran dalam SKP menyoroti bidang- bidang yang bermasalah dalam perawatan kesehatan, memberikan bukti dan solusi hasil konsensus yang berdasarkan nasihat para pakar.Dengan mempertimbangkan bahwa untuk menyediakan perawatan kesehatan yang aman dan berkualitas tinggi diperlukan desain sistem yang baik, sasaran biasanya sedapat mungkin berfokus pada solusi yang berlaku untuk keseluruhan sistem.

Sasaran 1: Mengidentifikasi pasien dengan benar

(34)

Fasilitas pelayanan Kesehatan menyusun pendekatan untuk memperbaiki ketepatan identifikasi pasien

Maksud tujuam

Kesalahan karena keliru-pasien sebenarnya terjadi di semua aspekdiagnosis dan pengobatan. Keadaan yang dapat mengarahkan terjadinya error/kesalahan dalam mengidentifikasi pasien, adalah pasien yang dalam keadaan terbius / tersedasi, mengalami disorientasi, atau tidak sadar sepenuhnya; mungkin bertukar tempat tidur, kamar, lokasi di dalam fasilitas pelayanan kesehatan;

mungkin mengalami disabilitas sensori; atau akibat situasi lain.

Tujuan ganda dari sasaran ini adalah : pertama, untuk dengan cara yang dapat dipercaya/reliable mengidentifikasi pasien sebagai individu yang dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.

Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi, khususnya proses yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah atau produk darah;

pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis; atau memberikan pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, dengan dua nama pasien, nomor identifikasi menggunakan nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang (-identitas pasien) dengan bar-code, atau cara lain. Nomor kamar atau lokasi pasien tidak bisa digunakan untuk identifikasi.Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua pengidentifikasi/penanda

(35)

yang berbeda pada lokasi yang berbeda di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti di pelayanan ambulatori atau pelayanan rawat jalan yang lain, unit gawat darurat, atau kamar operasi.Identifikasi terhadap pasien koma yang tanpa identitas, juga termasuk. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur untuk memastikan telah mengatur semua situasi yang memungkinkan untuk diidentifikasi.

Kegiataan yang dilaksanakan:

1. Pasien di identifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak bolehmenggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.

2. Pasien di identifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.

3. Pasien di identifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lainuntuk pemeriksaan klinis Pasien di identifikasi sebelum pemberian 4. pengobatan dan tindakan/prosedur.

5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.

Sasaran 2: Meningkatkan komunikasi yang efektif

Fasilitas pelayanan kesehatan menyusun pendekatan agar komunikasi di antara para petugas pemberi perawatan semakin efektif.

Maksud dan tujuan :

Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh resipien/penerima, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara elektronik, lisan, atau

(36)

tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan adalah perintah diberikan secara lisan dan yang diberikan melalui telepon, bila diperbolehkan peraturan perundangan. Komunikasi lain yang mudah terjadi kesalahan adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti laboratorium klinis menelpon unit pelayanan pasien untuk melaporkan hasil pemeriksaan segera /cito. Fasilitas pelayanan kesehatan secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan melalui telepon termasuk: menuliskan (atau memasukkan ke komputer) perintah secara lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima informasi; penerima membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibacakan ulang dengan akurat.untuk obat-obat yang termasuk obat Norum/Lasa dilakukan eja ulang. Kebijakan dan/atau prosedur mengidentifikasi alternatif yang diperbolehkan bila proses pembacaan kembali (read back) tidak memungkinkan seperti di kamar operasi dan dalam situasi gawat darurat/emergensi di IGD atau ICU.

Kegiatan yang dilaksanakan:

1. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.

2. Perintah lisan dan melalui telpon atau hasil pemeriksaan secara lengkap dibacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.

3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut

(37)

4. Kebijakan dan prosedur mendukung praktek yang konsisten dalammelakukan verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi lisan melalui telepon.

Sasaran 3: Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai.

Maksud dan tujuan :

Bila obat-obatan adalah bagian dari rencana pengobatan pasien, maka penerapan manajemen yang benar penting/krusial untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang persentasinya tinggi dalam menyebabkan terjadi kesalahan/error dan/atau kejadian sentinel (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) demikian pula obat-obat yang tampak mirip/ucapan mirip (Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look- Alike Sound-Alike/ LASA). Daftar obat-obatan yang sangat perlu diwaspadai tersedia di WHO. Yang sering disebut-sebut dalam isu keamanan obat adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja misalnya, kalium/potasium klorida [sama dengan 2 mEq/ml atau yang lebih pekat], kalium/potasium fosfat [sama dengan atau lebih besar dari 3 mmol/ml], natrium/sodium klorida [lebih pekat dari 0.9%], dan magnesium sulfat [sama dengan 50% atau lebih pekat].

Kesalahan ini bisa terjadi bila staf tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit asuhan pasien, bila perawat kontrak tidak diorientasikan sebagaimana mestinya terhadap unit asuhan pasien, atau pada keadaan gawat darurat/emergensi. Cara

(38)

yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan mengembangkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Fasilitas pelayanan kesehatan secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk menyusun daftar obat- obat yang perlu diwaspadai berdasarkan datanya sendiri. Kebijakan dan/atau prosedur juga mengidentifikasi area mana yang membutuhkan elektrolit konsentrat secara klinis sebagaimana ditetapkan oleh petunjuk dan praktek profesional, seperti di IGD atau kamar operasi, serta menetapkan cara pemberian label yang jelas serta bagaimana penyimpanannya di area tersebut sedemikian rupa, sehingga membatasi akses untuk mencegah pemberian yang tidak disengaja/kurang hati-hati.

Kegiatan yang dilakukan:

1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat prosesidentifikasi, lokasi, pemberian label, dan penyimpanan obat-obat yang perlu diwaspadai.

2. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan.

3. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja di area tersebut, bila diperkenankan kebijakan.

4. Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien harus diberi label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).

(39)

Sasaran 4: Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan yang benar

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien operasi.

Maksud dan tujuan:

Salah-lokasi, salah-prosedur, salah-pasien operasi, adalah kejadian yang mengkhawatirkan dan biasa terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/ tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi lokasi operasi. Di samping itu juga asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting) dan pemakaian singkatan adalah merupakan faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. Fasilitas pelayanan kesehatan perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Kebijakan termasuk definisi dari operasi yang memasukkan sekurang-kurangnya prosedur yang menginvestigasi dan/atau mengobati penyakit dan kelainan/disorder pada tubuh manusia dengan cara menyayat, membuang, mengubah, atau menyisipkan kesempatan diagnostik/terapeutik. Kebijakan berlaku atas setiap lokasi di fasilitas pelayanan kesehatan dimana prosedur ini dijalankan. Praktek berbasis bukti, seperti yang diuraikan dalam Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety

(40)

(2009), juga di The Joint Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi melibatkan pasien dan dilakukan dengan tanda yang segera dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, dan harus dibuat oleh orang yang akan melakukan tindakan, harus dibuat saat pasien terjaga dan sadar, jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai pasien disiapkan dan diselimuti. Lokasi operasi ditandai pada semua kasus termasuk sisi (laterality), struktur multipel (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multiple level (tulang belakang). Maksud dari proses verifikasi praoperatif adalah untuk :

a. Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar;

b. Memastikan bahwa semua dokumen, foto (images), dan hasil pemeriksaan yang relevan tersedia, diberi label dengan baik, dan dipampang;

c. Memverifikasi keberadaan peralatan khusus dan/atau implant-implant yang dibutuhkan.

Tahap “Sebelum insisi”/Time out memungkinkan setiap pertanyaan yang belum terjawab atau kesimpang-siuran dibereskan. Time out dilakukan di tempat tindakan akan dilakukan, tepat sebelum dilakukan tindakan.

Kegiatan yang dilakukan:

1. Fasilitas pelayanan kesehatan menggunakan suatu tanda yang jelas dan dapat dimengerti untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam proses penandaan/pemberi tanda.Fasilitas pelayanan kesehatan menggunakan suatu checklist atauproses lain untuk memverifikasi saat

(41)

preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia, tepat, dan fungsional.

2. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur “sebelum insisi/time-out” tepat sebelum dimulainya suatu prosedur/tindakan pembedahan.

3. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung keseragaman proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi/dental yang dilaksanakan di luar kamar operasi.

Sasaran 5: Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.

Maksud dan tujuan :

Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan praktisidalam kebanyakan tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan.Infeksi umumnya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih-terkait kateter, infeksi aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pokok dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene yang berlaku secara internasional bisa diperoleh dari WHO, fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai proses kolaboratif untuk

(42)

mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi pedoman hand hygiene yang diterima secara umum untuk implementasi pedoman itu di Fasilitas pelayanan Kesehatan.

Kegiatan yang dilaksanakan:

1. Fasilitas pelayanan Kesehatan mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterimasecara umum (al.dari WHO Patient Safety).

2. Fasilitas pelayanan Kesehatan menerapkan program hand hygiene yangefektif.

3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkanpengurangan secara berkelanjutan risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan

Sasaran 6 : Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh

Fasilitas pelayanan kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko pasien dari cedera karena jatuh.

Maksud dan tujuan.

Jumlah kasus jatuh menjadi bagian yang bermakna penyebab cederapasien rawat inap.Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang diberikan, dan fasilitasnya, fasilitas pelayanan kesehatan perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa meliputi riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap obat dan konsumsi alkohol, penelitian terhadap gaya/cara jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien. Program ini memonitor baik

(43)

konsekuensi yang dimaksudkan atau yang tidak sengaja terhadap langkah-langkah yang dilakukan untuk mengurangi jatuh.Misalnya penggunaan yang tidak benar dari alat penghalang atau pembatasan asupan cairan bisa menyebabkan cedera, sirkulasi yang terganggu, atau integrasi kulit yang menurun.Program tersebut harus diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Kegiatan yang dilaksanakan :

1. Fasilitas pelayanan kesehatan menerapkan proses asesmen awal risikopasien jatuh dan melakukan asesmen ulang terhadap pasien bila di indikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.

2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen dianggap berisiko

SPO Sasaran Keselamatan Pasien yang ada di Rumah Sakit USU

SPO read-back. SPO read-back adalah Suatu proses komunikasi antar petugas kesehatan (perawat/dokter) untuk melaporkan kondisi pasien melalui telepon. Prosedur yang harus dilakukan adalah :

a. Cek kelengkapan rekam medis pasien yang akan dilaporkan kepada dokter penanggung jawab

b. Baca kembali diagnosis awal dan perjalanan penyakit pasien.

c. Beri salam

d. Laporan secara singkat dan jelas kondisi pasien meliputi:

S (Situation): Menyebutkan identitas pasien, menjelaskan permasalahan singkat yang terjadi pada keadaan pasien saat ini.

(44)

B (Background) : Menjelaskan hal-hal yang melatar belakangi kondisi pasien saat ini dan di tekankan pada riwayat medis yang spesifik A (Assesment) : Penilaian terhadap masalah pasien saat ini dan tindakan yang telah diberikan.

R (Recommendation) : Rekomendasi dari pelapor apa yang seharusnya dilakukan.

SOP meningkatkan keamanan high-alert medication. Obat high alert adalah obat obatan yang perlu diwaspadai (high- alert medication) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius(sentinel event),obat yang beresiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome ) seperti obat obat yang terlihat mirip dan kedengarnya mirip (nama obat rupa dan ucapan mirip/NORUM, atau Look Alike/LASA).

1. Tujuan

SOP meningkatkan keamanan high-alert medication pada pasien disiapkan unutk memberi penjelasan kepada perawat, mahasiswa keperawtan, dan dosen program pendidikan ners tentang tatacara meningkatkan keamanan high-alert medication

2. Ruang lingkup

SOP ini dipergunakan sebagai petunjuk dalam meningkatkan keamanan high alertmedication pada pasien pasien yang meliputi:

a. Definisi

b. Tujuan dan persiapan c. Pelaksanaan

(45)

3. Ketentuan umum

Perawat mampu meningkatkan komunikasi efektif pada pasien.

4. Tujuan meningkatkan komunikasi efektif pada pasien

SOP pemeberian obat high alert di rawat inap, bertujuan untuk:

a. Memenuhi kebutuhan medikasi klien

b. Mencapai efektifitas penggunaan obat (high-alert)

c. Memberikan pedoman dalam manajemen dan pemberian obat yang perlu diwaspadai (high-alert medication) sesuai standar pelayanan farmasi dan keselamatan pasien rumah sakit.

5. Persyaratan

Prosedur delegasi obat high-alert di rawat inap dilakukan pada klien:

a. Klien dengan pengobatan high alert 6. Tatacara pelaksanaan

a. Peralatan:

1. Obat high alert

2. Set pemberian medikasi 3. Format dokumentasi

b. Menyiapkan obat pada klien. Dalam peyiapan obat high-alert pada klien, yang perlu diwaspadai termasuk elektrolit konsentrasi tinggi, dan perawat haru memperhatikan hal berikut:

1. Memberi elektrolit pekat harus dengan pengenceran dan pencampuran obat dilakukan oleh seseorang yang berkompeten.

Cara pengenceran obat high-alert di ruang rawat inap:

(46)

a. KCl 7.46% injeksi (konsentrasi sediaan yang ada adalah 1mEq= 1mL) harus diencerkan sebelum digunakan dengan perbandingan 1mLKCl : 10mL pelarut (WFI /NaCl 0,9%).

Konsentrasi dalam larutan maksimum adalag 10mEQ/10mL pemberian KCl melalui perifer diberikan secara perlahan-lahan dengan kecepatan infuse 10mEQ/jam (atau 10mEqKCl dalam 100ml pelarut/jam) pemberian obat KCL melalui central line (vena sentral) konsentrasi maksimum adalah 20mEq/100mL, kecepatan infuse maksimum 20mEq KCl dalam 100mL pelarut/jam)

b. NaCl 3% injeksi intravena diberikan melalui vena sentral dengan kecepatan infuse tidak lebih dari 100mL/jam

c. Natrium Bicarbonat (Meylon vial 8.4%) injeksi, harus diecerkan sebelum digunakan. Untuk pengguaan bolus, diencerkan dengan perbandingan 1mL Na. Bicarbonat:1 mL pelarut WFI, untuk pemberian bolus dengan kecepatan maksimum 10 mEq/Menit. Untuk penggunaan infuse drip, diencerkan dengan perbandingan 0.5 mL Na. Bicarbonat: 1 mL pelarut WFI, untuk pemberian bolus dengan kecepatan maksimum 10mEq/menit. Untuk penggunaan infus drip, dienerkan dengan perbandingan 0.5mL Na. Bicarbonat: 1mL Dextrose 5%, pemberian drip infuse dilakukan dengan kecepatan maksimum 1mEq/kg BB/jam.

(47)

2. Memisahkan atau memberi jarak penyimpanan dengan obat kategori LASA

3. Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien tanpa pengawasan

4. Lakukan pengejaan nama obat dengan kategori Lasa/Norum (loo Alike Sound Alike= Nama Obat rUpa Mirip), saat memberi/

menerima instruksi

SOP site marking (penandaan area operasi). Proses memberikan penandaan pada area yang akan diisi di tubuh pasien dan juga form site marking (penandaan area operasi) kurang dari 24 jam sebelum dilakukannya insisi. Tujuan nya adalah memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar pada pasien yang benar. Prosedur yang dilakukan adalah :

1. Dokter penanggungjawab bedah atau operator di damping oleh perawat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penandaan yang akan dilakukan.

2. Dokter penanggungjawab bedah dan atau operator memastikan lokasi penandaan area.

3. Dokter penanggungjawab bedah dan atau operator menggunakan spidol permanen non toksik untuk memberi penandaan.

4. Dokter penangggungjawab bedah atau operator melakukan penandaan pada tubuh pasien dengan gambar lingkaran yang jelas.

(48)

5. Dokter penanggungjawab bedah dan atau operator melakukan pemeriksaan untuk bahwa lokasi penandaan sudah sesuai dengan lokasi operasi.

6. Dokter penangggung jawab bedah dan atau operator menjelaskan pada pasien dan keluarga agar tidak mengahapus penandaan yang telah diberikan.

7. Dokter penanggungjawab bedah dan atau operator mencantumkan lokasi penandaan pada form yang sudah tersedia.

8. Dokter penanggungjawab bedah dan atau operator, perawat, pasien atau keluarga pasien menanda tangani form site marking.

9. Dokter penanggungjawab bedah dan atau operator menyampaikan salam dan terimakasih kepada pasien dan keluarga atas kerjasama yang baik.

SPO melakukan cuci tangan. Menggosok tangan dari kotoran dengan sabun atau antiseptic dan di bilas dengan air mengalir.

1. Tujuan

SOP mencuci tangan digunakan untuk memberikan penjelasan kepada perwat, mahasiswa, dosen dan tim medis lain tentang tatacara pelaksanaan mencuci tangan.

2. Ruang lingkup

SOP ini dipergunakan sebagai petunjuk dalam persiapan dan pelaksanaan cuci tangan yang meliputi:

a. Definisi

(49)

b. Tujuan dan persiapan c. Prosedur pelaksanaan.

3. Ketentuan umum

Perawat dan tim medis lainya sebelum mencuci tangan pastikan perhiasan cicin (termasuk cicin kawin), gelang, arloji tidak dipakai dan kuku dalam keadaan pendek.

4. Tujuan prosedur

a. Menjaga kebersihan perorangan b. Menjaga terjadinya infeksi silang 5. Persyaratan

Cuci tangan dilakukan:

a. Sebelum kontak dengan pasien b. Sebelum melakukan tindakan aseptic c. Sesudah bersentuhan dengan cairan tubuh d. Sesudah kontak dengan pasien

e. Sesudah kontak dengan lingkungan sticker pasien 6. Tatacara pelaksanaan

a. Persiapan alat : 1. Westafel

2. Keran leher angsa

3. Sabun cair atau antiseptic dalam dispenser 4. Tissue 1 lembar

5. Hand dryer

(50)

6. Tong sampah pijak b. Prosedur pelaksanaan:

1. Melepaskan semua aksesoris pada tangan dan gulung legan baju sampai siku

2. Melakukan inspeksi tangan dan jari, adanya luka/ sayatan 3. Menjaga agar tangan dan pakaian tidak menyentuh

westafel

4. Membasahi tangan dengan air

5. Menaruh sediki sabun/antiseptic (2-4 cc)

6. Menggosok tangan dengan posisi telapak pada telapak 7. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan

kiri dengan jari-jari yang saling menjalin dan sebaliknya 8. Meletakkan telapak tangan pada telapak tangan dan jari-

jari saling menjalin

9. Meletakkan punggung jari-jari pada telapak yang berlawanan dengan jari-jari saling mengunci

10. Menggosok memutar dengan ibu jari tangan kanan mengunci pada telapak kiri dan sebaliknya

11. Menggosok memutar, kea rah belakang dan depan dengan jari-jari tangan kanan mengunci pada telapak kiri dan sebaliknya

12. Membilas tangan dengan air keran yang mengalir

(51)

13. Mengeringkan tangan sekering mungkin dengan tissue sekali pakai

14. Menggunakan tissue untuk mematikan keran

SOP pelaksanaan pencegahan pasien jatuh di Rumah Sakit USU. SOP pelaksanaan pencegahan pasien jatuh di Rumah Sakit USU adalah :

1. Risiko Jatuh Rendah

Lakukan Intervensi Jatuh Standar:

a. Benda-benda pribadi dalam jangkauan (telepon genggam, tombol panggilan, air minum, kacamata, dll)

b. Roda tempat tidur pada posisi terkunci

c. Posisikan tempat tidur pada posisi yang terendah d. Pagar pengaman tempat tidur ditinggikan

e. Melihat kebutuhan pasien secara berkala, mengunjungi pasien minimal 2 kali dalam 1 shift

f. Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga pasien untuk mencegah jatuh, dan berikan brosur pencegahan jatuh

g. Biarkan pintu terbuka, gunakan lampu pada malam hari h. Gunakan alat bantu jalan (walker, handrail)

i. Menyarankan pasien untuk memakai kaus kaki dan sepatu yang tidak licin

2. Risiko Jatuh Tinggi

Lakukan Intervensi Risiko Jatuh Tinggi:

a. Melakukan semua intervensi jatuh standard

(52)

b. Tempelkan stiker risiko jatuh (berwarna kuning) pada gelang iden- titas sebagai tanda bahwa pasien berisiko jatuh

c. Memberi tanda risiko pasien jatuh pada tempat tidur pasien (se- gitiga kuning)

d. Memberi tanda bahwa pasien berisiko jatuh pada pintu kamar pasien

e. Kunjungi dan pantau pasien setiap 1 jam

f. Edukasi pasien tentang efek samping obat yang diberikan

g. Mendampingi pasien ke kamar mandi dan tidak meninggalkan pasien di kamar mandi, sarankan pasien menggunakan tempat duduk di kamar mandi saat pasien mandi.

Mutu Pelayanan Kesehatan

Mutu merupakan sebuah kebutuhan untuk melakukan efisiensi dan penghematan biaya.Mutu tidak harus berupa layanan atau barang-barang yang mahal.Tetapi mutu merupakan sebuah produk atau layanan yang memadai, mudah dijangkau, efesien, efektif, dan aman sehingga harus terus-menerus di valuasi dan di tingkatkan (Herlambang, 2016).

Mutu adalah sifat yang dimiliki oleh suatu program. Kualitas pelayanan adalah suatu pelayanan yang di harapkan untuk memaksimalkan suatu ukuran yang inklusif dari kesejahteraan klien sesudah itu di hitung keseimbanngan antara keuntungan yang diraih dan kerugian yang semua itu merupakan penyelesaian proses atau hasil dari pelayanan diseluruh bagian.

(53)

Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat kesempurnaan pelayanan akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit secara wajar, efisen dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan norma, etika, hukum, dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan, kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen (Satrianegara, 2014).Selain itu mutu pelayanan kesehatan diartikan berbeda, sebagai berikut:

1. Menurut pasien atau masyarakat adalah empati, respek, tanggap sesuai dengan kebutuhan dan ramah.

2. Menurut petugas kesehatan adalah bebas melakukan segala sesuatu secara professional sesuai dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, peralatan yang memenuhi standar.

3. Menurut manajer atau administrator adalah mendorong manajer untuk mengatur staff, pasien atau masyarakat dengan baik.

4. Menurut yayasan atau pemilik adalah menuntu pemilik agar memeliki tenaga professional yang bermutu dan cakap.

Untuk memenuhi mutu pelayanan kesehatan dasar yang dipergunakan untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan adalah memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan.Mutu pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien.

Menurut (Muninjaya, 2012) mutu pelayanan kesehatan meliputi kinerja yang menunjukan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, tidak saja yang

(54)

dapat menimbulkan kepuasan bagi pasien sesuai dengan kepuasan rata-rata penduduk tetapi juga sesuai dengan kode etik profesi yang telah diktetapkan.

Standar mutu pelayanan. Untuk pelaksanaan program pelayanan kesehatan agar tetap berpedoman pada standar yang telah ditetapkan. Standar dalam program menjaga mutu secara umum dapat dibedakan atas dua macam yaitu:

1. Standar dengan persyaratan minimal

Untuk menunjuk kepada keadaan minimal harus dipenuhi untuk dapat menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan bermutu.

a. Standar masukan: diperlukan untuk dapat menyelenggarakan yang bermutu, yakni jenis, jumlah, dan kualifikasi tenaga raksana serta jumlah dana.

b. Standar lingkungan: diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan bermutu, yakni garis besar kebijakan, pola organisasi, serta sistem manajemen (standar organisasi manajemen).

c. Standar proses: ditetapkan secara persyaratan minimal yang harus dilakukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu (standar tindakan).

2. Standar penampilan minimal.

Menunjuk pada penampilan pelayanan kesehatan yang masi dapat diterima karena unsur keluaran disebut dengan standar keluaran atau penampilan.Apabila ditemukan penyimpangan perlu segera

(55)

diperbaiki.Pemantauan dan penilaian standar ini diukur dari indikator yang sesuai yang secara umum dapat dibedakan atas empat macam yaitu indikator masukan, proses, lingkungan, serta keluaran.

Dimensi mutu pelayanan. Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah suatu layanan kesehatan yang dibutuhkan. Dalam hal ini akan di tentukan oleh profesi layanan kesehatan dan sekaligus di inginkan baik oleh pasien atupun masyarakatnya. Pelayanan kesehatan di tentukan oleh beberapa dimensi pokok.Dimensi mutu yang dianut ternyata sangat berbeda dengan penyelenggara pelayanan kesehatan. Demikian pula halnya dengan dimensi mutu para penyandang dana pelayanan kesehatan. Lima dimensi kualitas pelayanan yang dikembangkan oleh Zeithalm dan Parasuraman, sering disingkat dengan dimensi RATER, yaitu:

1. Reliability (realitabilitas), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan janji yang ditawarkan.

2. Assurance (jaminan), meliputi kemampuan karyawan atas pengetahuan terhadap produk secara tepat seperti karyawan/ staff memiliki kompetensi, kesopanan dan dapat di percaya, bebas dari bahaya, serta bebas dari risiko dan keraguan-raguan.

3. Tangibles (tampilan/ bukti fisik), dapat berupa ketersedian sarana dan prasarana termasuk alat yang siap pakai serta penampilan karyawan/staf yang menyenangkan.

4. Emphaty (empati), dalam hal ini karyawan/ staf mampu menempatkan dirinya pada pelanggan dapat berupa kemudahan dalam menjalin

(56)

hubungan dan komunikasi termasuk perhatiannya pada pelanggan serta dapat memahami kebutuhan pelanggan.

5. Responsiveness (ketanggapan dan kepedulian), adalah keinginan para kawryawan/ staf yang membantu semua pelanggan serta berkeinginan dan melaksanakanpemberian pelayanan dengan tanggap.

Dimensi-dimensi ini diperoleh melalui wawancara terhadap pasien pelanggan untuk mengetahui atribut apa saja yang diharapkan para pelanggan dari perusahaan atau instansi tertentu.

Indikator mutu yang diterapkan di Rumah Sakit USU : 1. Indikator Area Klinis :

a. Kelengkapan pengisian pengkajian awal pasien gawat darurat ≤ 30 menit

b. Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium ≤ 120 menit c. Pengulangan foto

d. Aneka penundaan operasi

e. Pasien dengan iskemik stroke di resepkan dengan antitrombitic pada saat keluar

f. Kesalahan penulisan resep

g. Pengkajian preanastesi dilaksanakan untuk pasien pra opersi efektif dengan anastesi umum

h. Efektifitas penggunaan darah

i. Pengambilan rekam medic lengkap dalam 24 jam j. Angka kejadian decubitus di rawat inap

Gambar

Gambar 1. Fokus penelitian implementasi patient safety dalam upaya peningkatan  mutu pelayanan
Gambar 2. Penyimpanan obat high alert  di unit farmasi
Gambar 3. Hand rub di ruang rawat inap
Gambar 2.Catatan stempel read-back .
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian : Melihat dari data responden dalam penelitian tentang IMT dan V maks menyatakan bahwa IMT dan V maks mahasiswa anggota Tapak Suci di Universitas

6e/utusan harus ditunda, atau dikurung dulu untuk memahami fenomena. -engetahuan yang ktia miliki tentang fenomena itu harus kita tanggalkan atau le/askan dulum agar fenomena itu

Luka tusuk adalah luka akibat tusukan benda run%ing yang biasanya kedalaman luka lebih dari pada lebarnya# Misalnya tusukan pisau yang menembus lapisan otot, tusukan paku

Sabak Auh Kabupaten Siak Dalam rangka mempercepat adopsi inovasi Badan Litbang Pertanian oleh masyarakat (petani), maka Kementerian Pertanian memberikan mandat kepada

Penilaian resiko : proses evaluasi resiko yang ditimbulkan oleh suatu bahaya dengan Penilaian resiko : proses evaluasi resiko yang ditimbulkan oleh suatu bahaya

pangan asal Hewan pangan asal Hewan yang aman dan layak yang aman dan layak untuk dikonsumsi oleh Anda dan.. untuk dikonsumsi oleh Anda dan keluarga keluarga yang disusun

Gejala lain yang sering muncul dari penyakit busuk/hawar daun pada tanaman talas adalah pengembangan, eksudasi dan adanya tetesan yang mengalir berwarna merah

Reikia pažymėti, kad nusikalstamo pasitikėjimo in- telektualinis momentas, apibūdinantis asmens psichinį santykį su priežastinio ryšio vystymusi, iš dalies sutam- pa su