• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa setiap waktu terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, oleh karena itu kosakata dalam sebuah bahasa pun akan terus bertambah dan semakin variatif dari segi bentuk dan maknanya. Bentuk-bentuk bahasa secara morfologis yang mengalami perkembangan tersebut salah satu di antaranya yaitu reduplikasi.

Reduplikasi adalah pengulangan suatu kata yang bisa atau tidak bisa mengubah makna pada kata dasarnya. Menurut Ramlan reduplikasi merupakan pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak (1985:57). Simatupang juga mengatakan bahwa reduplikasi merupakan proses morfemis yang mengubah bentuk kata yang dikenainya (1983:15).

Jadi apabila sebuah kata dasar kemudian mendapat proses reduplikasi atau pengulangan maka hal tersebut akan menyebabkan perubahan pada bentuk kata dan kelas kata sebelumnya. Rohmadi et al. (2012: 83) mengatakan bahwa suatu kata ulang dapat dibentuk dengan jalan pengulangan sebagian bentuk dasar, pengulangan dengan memberikan variasi fonem, pengulangan atas seluruh bentuk dasar, atau pengulangan bentuk dasar dengan berimbuhan.

Morfologi sendiri merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari segala sesuatu mengenai proses pembentukan kata. Morfologi membahas tentang kata, proses pembentukan kata, dan bagian-bagian kata. Ramlan mengatakan bahwa

(2)

morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik (1985:19).

Menurut Subroto yang menjadi masalah terpenting dari reduplikasi adalah akan menghasilkan derivasi atau infleksi (2013:21). Proses morfologi derivasi adalah proses morfologi yang menurunkan leksem dari leksem lain, sedangkan proses morfologi infleksi adalah proses morfologi yang menurunkan kata gramatikal (bentuk kata) dari suatu leksem. Pengulangan dapat dikatakan infleksi apabila termasuk sesuatu yang dapat diramalkan atau otomatis memiliki keteraturan arti. Contohnya kata ulang nomina, sungai-sungai (N) memiliki kata dasar sungai yang termasuk nomina juga. Jadi sungai-sungai memiliki arti ‘banyak sungai/ lebih dari satu sungai’.

Reduplikasi dapat pula tergolong derivasi apabila reduplikasi tersebut memiliki ciri yang berbeda dengan kata dasarnya, contohnya berkaca-kaca. Kata ulang tersebut termasuk dalam kelas kata verba yang memiliki makna ‘mata yang tampak berlinang’ sedangkan kata dasarnya yaitu kaca merupakan nomina yang memiliki makna ‘benda yang keras, bening, dan mudah pecah’. Berdasarkan perubahan kelas kata dan makna kata setelah mendapat proses reduplikasi maka reduplikasi ini tergolong reduplikasi derivasional.

Penelitian terdahulu mengenai reduplikasi pernah dilakukan oleh Wati Kurniawati pada Desember 2014 dengan judul Reduplikasi Nomina dalam Bahasa Indonesia: Kajian Sintaksis dan Semantik. Dalam artikelnya yang terdapat pada jurnal Aksara Vol 26, No. 2, hal. 133- 143 tersebut, Wati Kurniawati mengungkapkan bahwa fungsi reduplikasi nomina dalam tataran frasa dapat berkedudukan sebagai inti dan pewatas. Sementara itu, fungsi reduplikasi nomina dalam tataran klausa berfungsi

(3)

sebagai subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Perilaku reduplikasi nomina tidak dapat mempengaruhi konstituen yang berada di sebelah kiri kanannya.

Penelitian sejenis lainnya juga dilakukan oleh Simatupang (1979) dalam bukunya yang berjudul Reduplikasi Morfemis Bahasa Indonesia. Dalam buku yang berasal dari disertasinya tersebut Simatupang mengelompokkan reduplikasi menjadi dua kelompok besar, yaitu reduplikasi morfemis dan reduplikasi semantik.

Reduplikasi morfemis dikelompokkan lagi menjadi reduplikasi penuh dan redupliksi parsial. Hasil penelitian Simatupang membagi reduplikasi menjadi 16 tipe.

Selain Wati Kuniawati dan Simatupang, penelitian mengenai reduplikasi juga pernah dilakukan oleh Luthfiona Byan, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2015 dengan judul Reduplikasi Adjektiva dalam Bahasa Indonesia. Penelitian ini membahas mengenai tipe-tipe dan arti reduplikasi adjektiva dalam bahasa Indonesia dan proses pembentukan reduplikasi dalam bahasa Indonesia ditinjau dari perspektif infleksi dan derivasi. Kesimpulan dari penelitian tersebut yaitu pertama, reduplikasi adjektiva memiliki 10 tipe beserta artinya masing- masing, yaitu tipe (D + R) memiliki 7 arti, tipe (D + R) + ber-) memiliki satu arti, tipe (D + R) + ter-) memiliki 3 arti, tipe (D + se-) + R) memiliki 1 arti, tipe ((D+R) + – an) memiliki 2 arti ((D + R) + -nya) memiliki 1 arti, tipe ((D + R) + ber-/-an) memiliki 2 arti, tipe ((D + ke-/-an) + R) memiliki satu arti, tipe ((D + R) + se-/-nya) memiliki 1 arti, dan tipe (D + Rperk) memiliki 1 arti. Kedua, proses pembentukan reduplikasi adjektiva infleksional terdapat 9 tipe, yaitu tipe (D + R), tipe ((D + R) + ber-), tipe ((D + ter-) + R), tipe ((D + se-) + R), tipe ((D + R) + -an), tipe ((D + R) + - nya), tipe ((D + ke-/-an) + R), tipe ((D + se-/-nya) + R), dan tipe (D + Rperk),

(4)

sedangkan proses pembentukan adjektiva derivasional terdapat 5 tipe, yaitu tipe (D + R), tipe ((D + R) + ter-), tipe ((D + R) + -an), tipe ((D + R) + ber-/-an), dan tipe ((D + R) + se-/-nya).

Apabila dicermati, masih banyak permasalahan mengenai reduplikasi yang menarik untuk diteliti, seperti proses reduplikasi mampu mengubah kelas kata pada kata dasar yang dikenai reduplikasi, selain perubahan bentuk secara morfologis proses reduplikasi juga mampu mengubah makna secara semantik, contohnya kata kucing (N) berada dalam kelas kata nomina, kemudian mendapat reduplikasi menjadi bentuk kucing-kucingan (V) berubah kelas kata menjadi verba, selain perubahan kelas kata dari nomina menjadi verba makna semantisnya pun berubah. Kucing yang berarti seekor hewan, sedang kucing-kucingan memiliki makna secara sembunyi-sembunyi.

Peneliti mengangkat tema penelitian mengenai reduplikasi karena masih sedikit penelitian yang menjadikan reduplikasi sebagai objek. Penelitian ini diangkat oleh peneliti karena banyaknya penggunaan reduplikasi dalam bahasa Indonesia lisan maupun tulis, selain itu bentuk reduplikasi yang unik yaitu berasal hanya dari pengulangan kata namun dapat mengubah makna dan kelas kata pada leksem yang dikenai proses reduplikasi tersebut. Penelitian mengenai reduplikasi ini akan dikhususkan pada kelas kata nomina, karena nomina merupakan kelas kata yang produktif dan banyak bentuk-bentuk reduplikasi yang ditemukan dari kata dasar yang berkelas kata nomina, selain itu reduplikasi untuk kelas kata nomina bahasa Indonesia belum pernah diteliti sebelumnya.

Dalam penelitian ini peneliti tidak hanya menganalisis proses reduplikasi yang terbentuk dari bentuk dasar nomina saja, namun juga nomina berafiks, berfokus pada

(5)

kelas kata nomina karena nomina merupakan kelas kata yang produktif dan banyak ditemukan bentuk reduplikasi dari kelas kata nomina, kemudian peneliti akan melihat dari sisi infleksi dan derivasinya.

Contoh reduplikasi nomina dengan bentuk dasar dan berafiks sebagai berikut:

1. Sesekali burung-burung pipit yang tidur di gulma terbangun, bercuit-cuit berebut tempat tidur, lalu senyap lagi. (002/AYH/hlm.1)

(D + R)

(burung + R)  burung-burung

Pada data (1) bentuk nomina BURUNG mendapatkan reduplikasi menjadi burung-burung. Reduplikasi pada bentuk leksem BURUNG mempengaruhi perubahan makna pada bentuk ulang burung-burung. Bentuk leksem BURUNG dalam KBBI Edisi V memiliki makna binatang berkaki dua, bersayap dan berbulu, dan biasanya dapat terbang; unggas, setelah mendapat pengulangan menjadi burung- burung, maknanya pun berubah menjadi makna jamak atau banyak burung, tidak hanya satu atau tunggal. Kelas kata yang semula nomina setelah mendapat pengulangan tetap berada pada kelas kata nomina, namun makna yang dihasilkan oleh pengulangan kata tersebut berbeda dari makna kata dasarnya. Dari perubahan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil proses reduplikasi menjadi bentuk burung- burung merupakan infleksi.

2. Dilihatnya Lena berjalan seakan-akan melayang-layang, lebih memesona daripada saat dia datang tadi, sebab sekarang dia tersenyum berbunga-bunga.

(033/AYH/hlm.33) ((D + ber-) + R)

(6)

((bunga + ber-) + R) berbunga-bunga

Pada data (2) bentuk reduplikasi berbunga-bunga merupakan turunan dari leksem nomina BUNGA. Leksem BUNGA memiliki makna bagian tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya dan harum baunya; kembang.

Kemudian leksem BUNGA mendapat imbuhan prefiks ber- sehingga menjadi bentuk berbunga dan selanjutnya direduplikasikan menjadi berbunga-bunga. Berbunga- bunga memiliki maknanya bangga; berbahagia: hatinya. Bentuk reduplikasi leksem BUNGA dari kelas kata nomina menjadi berbunga-bunga yang berubah kelas kata menjadi verba. Apabila dilihat dari kalimat di atas, bentuk reduplikasi berbunga- bunga dalam kalimat tersebut berarti “Dilihatnya Lena berjalan seakan-akan melayang-layang, lebih memesona daripada saat dia datang tadi, sebab sekarang dia tersenyum dengan hati yang berbahagia.” Dengan demikian, berbunga-bunga termasuk dalam reduplikasi derivasional karena terjadi perubahan makna dan kelas katanya.

Berdasarkan contoh-contoh di atas ditemukan permasalahan yang menarik untuk dikaji, seperti yang dapat dilihat contoh mengenai perubahan kelas kata yang timbul akibat proses reduplikasi serta perubahan makna yang terjadi dari kata dasar sebelum dan sesudah mengalami proses reduplikasi. Selain itu dari beberapa penelitian yang ada belum ditemukan adanya penelitian sejenis yang membahas reduplikasi khusus kelas kata nomina. Wati Kurniawati membahas mengenai reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia berdasarkan kajian semantik dan sintaksis, Simatupang membahas reduplikasi morfemins bahasa Indonesia, sedangkan

(7)

Luthfiona Byan membahas mengenai reduplikasi dalam kelas kata adjektiva. Guna melengkapi penelitian yang ada peneliti akan membahas mengenai reduplikasi dalam kelas kata nomina. Permasalahan yang diteliti bertumpu pada bentuk nomina yang direduplikasikan dan ditinjau dari perspektif derivasi dan infleksi, sehingga penelitian ini diberi judul Reduplikasi Nomina Bahasa Indonesia dalam Perspektif Derivasi dan Infleksi.

B. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian ini diperlukan agar tidak terlalu luas dan menyimpang dari masalah yang diteliti pada objek yang ditentukan. Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada proses reduplikasi untuk kata yang berkelas kata nomina. Analisis dalam penelitian ini mencakup tipe-tipe reduplikasi nomina dan perubahan makna yang timbul akibat adanya proses reduplikasi berdasarkan perspektif derivasi dan infleksi.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana tipe-tipe reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia?

2. Bagaimana perubahan makna yang timbul dari reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia berdasarkan perspektif derivasi dan infleksi?

(8)

D. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian pasti memiliki tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan tipe-tipe reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia.

2. Mendeskripsikan perubahan makna yang timbul dari reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia berdasarkan perspektif derivasi dan infleksi.

E. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian tentunya harus memiliki manfaat yang dapat diambil oleh pembacanya. Apabila dilihat dari segi manfaat, penelitian ini memiliki manfaat teoretis dan manfaat praktis

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini memberi manfaat secara teoretis yaitu sebagai penambah wawasan dan pengetahuan mengenai reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini pula diharapkan dapat menambah atau melengkapi teori yang sudah terlebih dahulu ada, yaitu teori dari Simatupang mengenai reduplikasi dalam bahasa Indonesia, khususnya pada kelas kata nomina.

2. Manfaat Praktis

(9)

Secara praktis penelitian ini memberi manfaat untuk mendeskripsikan reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia dan diharapkan pula dapat digunakan sebagai masukan ataupun acuan dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam bidang morfologi. Bagi penelitian sebidang, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam bidang reduplikasi secara khusus.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dibagi menjadi lima bab. Kelima bab tersebut adalah sebagai berikut.

Penelitian diawali dengan bab satu yaitu pendahuluan. Pada bab pendahuluan terdiri atas beberapa subbab. Pertama, mengenai latar belakang masalah yang mendeskripsikan alasan peneliti melakukan penelitian tersebut. Pada subbab selanjutnya berisi pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian yang berisi manfaat teoretis dan manfaat praktis, serta sistematika penulisan.

Pada bab berikutnya yakni bab dua, berisi tentang kajian pustaka dan kerangka pikir. Pada kajian pustaka yang diuraikan adalah mengenai penelitian- penelitian yang sudah pernah dilakukan, selanjutnya yaitu landasan teori yang berupa uraian-uraian teori yang digunakan dalam penelitian, serta kerangka pikir.

Bab tiga, pada bab ini akan dibahas mengenai metode penelitian yang meliputi jenis penelitian, objek penelitian, data, sumber data, metode dan teknik

(10)

pengumpulan data, teknik klasifikasi data, metode dan teknik analisis data, dan hasil analisis data.

Bab empat berisi analisis data. Mendeskripsikan mengenai tipe-tipe reduplikasi nomina dan perubahan makna yang timbul dari proses reduplikasi nomina berdasarkan perspektif derivasi dan infleksi.

Bab lima yaitu penutup. Pada bab ini akan berisi simpulan dan saran dari hasil analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Hasil uji Fixed Effect model dapat disimpulkan bahwa variabel manajemen laba (DA) memiliki probabilitas sebesar 0.0052 dimana 0.0052 < 0.05 maka H 0 ditolak dan

Metode yang digunakan dalam ini adalah menggunakan pendekatan partisipatif yaitu melaksanakan pendidikan dan pelatihan masyarakat dengan pihak akademisi (Dosen

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan tentang pengaruh pemahaman konsep Bhinneka Tunggal Ika terhadap hubungan sosial siswa berbeda suku

Pengelolaan risiko kredit dalam Bank juga dilakukan dengan melakukan proses analisa kredit atas potensi risiko yang timbul melalui proses Compliant Internal

Perlindungan hukum yang meliputi undang-undang dan peraturan mentri tersebut yang seharusnya dapat memberikan perlindungan bagi anak sebagai peserta didik di

Sementara dalam RUU TIPIKOR masih dengan kajian yang sama, ditemukan pasal- pasal yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi yang subjek (pelakunya) adalah pejabat

Peraturan yang dimaksud adalah Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Jo Peratuan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah yang dikaitkan dengan

Dengan memanfaatkan fitur yang telah ada pada Windows 7 dan dengan bantuan VMWare sebagai software penyedia komunikasi virtual antar dua atau lebih sistem operasi, maka dapat