1 BAB I
PENDAHULUAN A. Judul Penelitian
Penelitian ini berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Program Rehabilitasi Sosial Awal Gelandangan dan Pengemis di Camp Assessment Sebagai Wujud Diberlakukannya Perda no. 1 Tahun 2014 Tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis di Daerah Istimewa Yogyakarta”
B. Alasan Pemilihan Judul 1. Orisinalitas
Penelitian tentang gelandangan dan pengemis bukan hal yang baru di kalangan akademisi terutama yang berkecimpung di dalam dunia ilmu sosial dan ilmu politik. Mulai dari masalah yang dihadapi gelandangan dan pengemis, masalah yang ditimbulkan oleh gelandangan dan pengemis, ataupun dalam penanganan kasus gelandangan dan pengemis itu sendiri. Sebagaimana kode etik dalam dunia pendidikan, maka dalam setiap penelitian yang hendak dilakukan diharapkan selalu ada kebaharuan dalam setiap publikasi ilmiah. Sepanjang penelusuran terhadap berbagai karya ilmiah yang telah dipublikasikan, tidak ditemukan adanya kesamaan judul secara redaksional ataupun subtansial dengan penelitian-penelitian lain yang sebelumnya sudah dilakukan dan dipublikasikan.
Seperti misalnya pada karya ilmiah Tri Mulyani, mahasiswi fakultas dakwah UIN Sunan Kalijaga, yang berjudul “Rehabilitasi Sosial Bagi Gelandangan di Panti Sosial Binakarya Sidomulyo Yogyakarta”, penelitian
2 tersebut berfokus pada proses. Hasil penelitiannya berupa deskripsi mengenai bagaimana proses rehabilitasi sosial yang dilakukan dilokasi penelitian. Tidak ada evaluasi yang dilakukan dan tidak ada pula pembahasan mengenai kesesuaian dengan sebuah kebijakan yang telah dibuat. Lokasi penelitian berbeda dengan lokasi penelitian yang akan lakukan. Pada karya ilmiah saudari Tri Mulyani lokasi yang digunakan sebagai lokasi penelitian adalah panti sosial yang berfokus untuk memberdayakan para gelandangan dalam jangka waktu yang lama. Rehabilitasi yang dilakukan mengutamakan hasil akhir bahwa gelandangan yang direhabilitasi akan mampu mendirikan usaha atas bantuan panti tersebut pada saat proses rehabilitasi sudah dianggap berhasil dilakukan. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2008 jauh sebelum dibentuknya Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis.
Kemudian dalam karya ilmiah yang berjudul “Program rehabilitasi sosial gelandangan dan pengemis : studi kasus di Panti Sosial Bina Karya
"Pangudi Luhur" Bekasi” oleh Sri Waluyo, penelitian tersebut dilakukan didaerah yang berlatar belakang kebudayaan berbeda dan aturan pemerintah daerah yang berbeda pula. Karya ilmiah tersebut berusaha mengevaluasi program rehabilitasi yang telah dilakukan oleh panti sosial yang ada di bekasi. Namun, penelitian ini tidak berpedoman pada kebijakan pemerintah terkait. Karya ilmiah ini memiliki kesamaan dalam penggunaan metode penelitian kualitatif, tetapi secara substansial isi dari karya ilmiah ini tidak mengaitkan dengan sebuah peraturan pemerintah ataupun undang-undang dan kebijakan lainnya yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan rehabilitasi sosial yang dilakukan. Panti
3 Sosial Bina Karya (PSBK) bukan merupakan sebuah panti sementara seperti halnya Camp Assessment. PSBK sudah menangani rehabilitasi sosial lanjutan yang jangka waktu penanganannya cukup panjang jika dibandingkan dengan tahap rehabilitasi sosial awal yang terbentur oleh sempitnya waktu seperti di camp asessment.
Lalu pada karya ilmiah yang lain dengan judul “Evaluasi Pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) Kota Samarinda Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Penertiban dan Penanggulangan Gelandangan Pengemis Di Kota Samarinda” oleh saudari Lisa Yuliyanti Kusuma Anggraini. Dalam karya ilmiah tersebut yang ditekankan oleh penulisnya adalah evaluasi terhadap Perda kota Samarinda tentang penertiban gelandangan dan pengemis. Secara substansial isi dari karya ilmiah tersebut tidak memfokuskan bahasannya mengenai rehabilitasi gelandangan dan pengemis yang berhasil ditertibkan. Fokus penelitian ini hanya pada kebijakan yang telah dibuat, tidak sampai pada tahapan kegiatan lanjutan mengenai proses penanganan gelandangan dan pengemis yang lebis spesifik seperti halnya kegiatan rehabilitasi.
Kemudian ditemukan sebuah penelitian yang berjudul “Penanganan Gelandangan dan Pengemis Dalam Perspektif Siyasah (Studi Pasal 24 PERDA DIY NO. 1 TAHUN 2014” oleh Norika Priyantoro mahasiswa Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini lebih menekankan kepada pasal 24 tentang sanki atau hukuman yang akan didapatkan oleh para pelanggar baik gepeng itu sendiri ataupun aktor yang memberikan uangnya kepada gelandangan dan pengemis di tempat umum. Kemudian peneliti
4 mengkorelasikan mengenai pasal 24 tersebut dengan beberapa pandangan atau hukum Islam sesuai latar belakang pendidikan peneliti. Dengan kata lain, penelitian ini berusaha memberikan pandangan bagaimana kebijakan pemerintah DIY mengenai penanganan gelandangan dan pengemis jika dilihat dari perspektif agama Islam.
Terdapat pula sebuah penelitian yang berjudul “Implementasi Perda Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis (Studi di UPT Panti Karya Kota Yogyakarta)”
oleh Faiz Amrizal Satria Dharma mahasiswa Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini melihat bagaimana harmonisasi penanganan gelandangan dan pengemis di DIY dengan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah DIY. Lokasi penelitian yang dipilih adalah panti sosial lanjutan dimana peserta atau gepeng yang ada menetap dalam jangka waktu yang lama di panti tersebut. Panti Karya Kota Yogyakarta merupakan UPT yang memiliki tugas yang hampir sama dengan camp asessment yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta. Keduanya menggunakan Perda gepeng sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan penanganan gepeng yang mereka lakukan.
Penelitian ini melihat bagaimana implementasi Perda gepeng secara keseluruhan di panti yang menjadi lokasi penelitiannya.
Judul penelitian yang telah dilakukan adalah “Evaluasi Pelaksanaan Program Rehabilitasi Sosial Awal Gelandangan dan Pengemis di Camp Assessment Sebagai Wujud Diberlakukannya Perda no. 1 Tahun 2014 Tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis di Kota Yogyakarta”.
5 Penelitian ini fokus pada evaluasi program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh Camp Assessment berdasarkan peraturan daerah baru mengenai upaya penanganan gelandangan dan pengemis. Penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan proses rehabilitasi awal yang dilakukan di lokasi penelitian, melainkan mengevaluasi kesesuaian proses program dilapangan dengan yang ada dalam kebijakan yang dijadikan pedoman oleh seluruh pekerja sosial dan staff yang ada di camp asessment. Oleh karena itu, secara substansial penelitian ini tidak hanya menceritakan proses rehabilitasi sosial pada umumnya, seperti mulai dari awal penerimaan gelandangan dan pengemis sampai pada pengembalian kepada masyarakat dengan waktu yang cukup lama.
Kemudian lokasi penelitian yang dipilih memiliki keunikan tersendiri, lokasi penelitian bukan berupa panti sosial yang bertugas memberikan pelayanan secara penuh mulai dari penerimaan sampai pengembalian pada masyarakat umum, melainkan sebuah Camp Assessment atau rumah penilaian yang bersifat sementara, berkisar satu atau dua bulan saja. Selanjutnya, beberapa kriteria gelandangan ataupun pengemis yang berhasil dimasukan ke Camp Assessment dan telah melalui serangkaian penilaian dan ditangani lebih lanjut oleh rumah perlindungan sosial lainnya, misalnya bagi anak-anak akan dilimpahkan kepada panti-panti sosial yang fokus membina anak, dan juga rumah sakit ghrasia dan rumah sakit jiwa lainnya bagi gelandangan yang mengalami gangguan jiwa.
Metode ataupun program penanganan gelandangan dan pengemis di Camp Assessment memiliki program penanganan yang berbeda dengan panti-panti sosial pada umumnya. Selain itu, penelitian mengenai evaluasi program rehabilitasi
6 sosial awal gelandangan dan pengemis mengacu pada Perda baru pemerintah DIY yang berlaku pada awal tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh Camp Assessment dengan mengacu pada Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis yang oleh Camp Assessment dijadikan sebagai acuan dan aturan dalam menjalankan berbagai program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belum ada penelitian yang berfokus pada evaluasi program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di sebuah Camp Assessment khususnya yang berlokasi di DIY yang penelitiannya mengacu pada Perda baru no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis. Penelitian ini diharapkan dapat mengevaluasi secara baik dan terperinci program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis yang sudah dipaparkan dalam Perda no. 1 tahun 2014 yang kemudian dapat memberikan pemahaman lebih lanjut apakah program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh pihak Camp Assessment sudah berhasil atau gagal.
2. Aktualitas
Gelandangan dan pengemis dapat dikatakan sebagai golongan yang kalah dan tersingkirkan dalam upaya dan usaha mempertahankan kehidupan ditengah kondisi sosial dan ekonomi yang penuh persaingan. Masyarakat yang menjadi juara dalam persaingan mempertahankan kehidupan sosial dan ekonominya akan tumbuh dan hidup menjadi golongan masyarakat yang kaya, memiliki pekerjaan layak, tempat tinggal atau hunian yang tetap, dan kehidupan yang cukup sesuai
7 standar hidup mereka. Namun, bagi sebagian orang yang kalah dalam persaingan tersebut akan tumbuh dan hidup dalam keadaan yang serba kesusahan dan masuk dalam golongan masyarakat miskin. Kemudian masyarakat miskin yang putus harapannya, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki hunian yang tetap, atau kesulitan dan tidak memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidupnya akan hidup menggelandang berpindah dari satu tempat umum ke tempat umum lain selagi belum ada pihak yang menertibkan mereka. Kemudian sebagian orang yang termasuk dalam golongan masyarakat miskin yang didukung oleh sifat malasnya akan tumbuh dan hidup mengharap belas kasihan orang lain dan memutuskan untuk menjadi pengemis atau pun pengamen jalanan.
Berbagai ilustrasi diatas merupakan beberapa alasan mengapa fenomena gelandangan dan pengemis selalu menjadi fenomena yang menjadi perhatian setiap kota atau setiap daerah di seluruh Indonesia. Semakin ramai dan banyaknya tempat-tempat umum dibangun di suatu kota atau daerah, semakin banyak manusia-manusia yang memanfaatkan kesempatan untuk hidup menggelandang atau pun mengemis dengan memanfaatkan fasilitas umum yang ada dan keramaian yang dihasilkan. Begitu pula yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fenomena gelandangan dan pengemis semakin menjamur dan dengan mudah dapat kita lihat dan kita temukan seiring semakin majunya DIY dan semakin banyaknya fasilitas umum yang dibangun dan juga semakin ramainya dikunjungi banyak wisatawan ataupun pendatang untuk menetap ataupun berwisata saja. Dengan semakin menjamurnya fenomena gelandangan dan pengemis di Yogyakarta, mereka cukup mengganggu ketertiban umum
8 ataupun keindahan kota. Mereka kerap kali mengganggu kenyamanan warga lokal atau pun wisatawan yang berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan berbagai masalah yang ditimbulkan oleh keberadaan gelandangan dan pengemis tersebut kemudian pemerintah DIY mengeluarkan peraturan daerah no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis yang baru berlaku pada 1 januari 2015. Dengan baru diberlakukannya peraturan daerah tentang upaya penanganan gepeng di DIY, hal ini masih sangat hangat, aktual, dan menarik untuk diteliti. Penelitian ini terkonsentrasi pada evaluasi pelaksanaan program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis yang dilakukan di Camp Assessment sebagai Rumah Perlindungan Sosial pertama yang segala
sesuatu yang dilakukan dan dikerjakan di Camp Assessment tersebut mengacu pada Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis yang
baru diberlakukan persatu Januari 2015.
3. Relevansi dengan Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan
Pembentukan Perda baru tentang program penanganan gelandangan dan pengemis merupakan sebuah kebijakan yang diambil oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan maksud agar Yogyakarta terhindar dari kegiatan penggelandangan dan pengemisan yang dapat mengganggu ketertiban umum.
Selain itu, pemerintah DIY berharap agar kebijakan yang diambil tersebut dapat mengembalikan para gelandangan dan pengemis kedalam kehidupan yang lebih layak dan kembali hidup normal ditengah-tengah masyarakat dimana mereka berasal. Pemerindah DIY berupaya untuk memanusiakan kembali para gelandangan dan pengemis yang kerap kali keberadaannya tidak diterima dan
9 tidak diharapkan oleh masyarakat luas. Pada intinya kebijakan yang diambil dan dibentuk tersebut bermaksud baik bagi keberlangsungan ketertiban umum, kenyamanan masyarakat dan pengunjung, dan juga bagi gelandangan dan pengemis itu sendiri.
Kebijakan yang diambil dan dilakukan oleh pemerintah DIY yang tujuannya mencakup peningkatan kesejahteraan masyarakat ataupun suatu golongan adalah salah satu bidang keilmuan yang ada dalam jurusan pembangunan sosial dan kesejahteraan, yaitu bidang kebijakan sosial. Kebijakan sosial menjadi salah satu bagian dari ketiga konsentrasi yang ada di jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan selain pemberdayaan masyarakat dan Corporate Social Responcibility (CSR). Dengan penelitian yang terkonsentrasi pada evaluasi pelaksanaan program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di camp asessment sebagai wujud diberlakukannya Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis di Daerah Istimewa Yogyakarta akan semakin menarik untuk diteliti dikarenakan memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan konsentrasi kebijakan sosial yang ada dalam study Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan.
Penelitian yang dilakukan dikerangkai oleh keilmuan mengenai study kebijakan sosial ketika memahami dan mengkaji mengenai program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di Camp Assessment yang segala penanganan dan kegiatan yang dilakukannya mengacu pada kebijakan yang dibuat oleh pemerindah DIY yaitu pada Perda no. 1 tahun 2014 yang baru berlaku awal tahun 2015. Kemudian segala kegiatan yang dilakukan di lokasi penelitian yang
10 didasarkan pada Perda tersebut dapat berjalan baik sesuai apa yang telah ditetapkan atau ditemukan banyak penemuan baru yang dapat memperkaya pengetahuan dan keluar dari apa yang ada pada aturan yang tersedia. Kebijakan yang telah dibuat dan ditetapkan tersebut dalam penelitian ini mendapatkan sebuah titik tolak ukur berhasil atau tidaknya kebijakan tersebut di jalankan dan tercapai atau tidaknya tujuan awal yang dibuat pada awal pembentukan aturan.
C. Latar Belakang Masalah
Fenomena gelandangan dan pengemis merupakan salah satu masalahan sosial yang kerap mendatangkan kerugian bagi individu, kelompok, atau masyarakat luas. Bukan kerugian secara finansial yang dirasakan oleh seorang individu ataupun kelompok masyarakat dengan hadirnya gelandangan dan pengemis, melainkan kerugian berupa rasa nyaman dan rasa aman yang terganggu. Kehadiran para pengemis ataupun gelandangan dinilai mengganggu ketertiban umum. Kebiasaan mereka yang kerap kali menggunakan tempat umum sebagai tempat tinggal ataupun tempat istirahat menjadi sebuah pemandangan yang tidak elok dipandang. Bukan karena hilangnya nilai estetika dari tempat umum yang sudah ditata sedemikian rupa agar indah dipandang, melainkan terganggunya pemikiran-pemikiran bahwa daerah ini masih kurang mampu untuk menampung dan membantu masyarakat miskin agar memiliki tempat tinggal dan hidup yang “layak” bagi mereka.
Beragam alasan mengapa banyak orang memutuskan untuk menggelandang atau mengemis di kota atau daerah yang dianggap ramai, sudah maju, dan banyak dikunjungi orang atau wisatawan. Faktor utamanya adalah
11 masalah kemiskinan. Kemudian didukung oleh faktor lainnya berupa sikap malas dan putus asa, yang pada akhirnya keseluruhan faktor tersebut menjadi pendorong untuk seseorang memutuskan hidup menggelandang dan mengemis mengharapkan belas kasihan orang lain. Masalah sosial merupakan hal yang terjadi karena adanya kesenjangan antara das sain dan das sollen. Oleh karena itu dibutuhkan suatu pemecahan masalah yang tepat sasaran berdasarkan hasil dari suatu pengenalan dan identifikasi masalah yang cukup signifikan dan telah banyak dipertimbangkan dampak baik dan buruknya.
Dengan dibutuhkannya suatu pemecahan masalah mengenai fenomena atau gejala maraknya gelandangan dan pengemis di DIY, pemerintah DIY khususnya dinas sosial berkewajiban mencarikan jalan keluar atau usaha yang dapat memperkecil skala atau jumlah gelandangan atau pengemis di Yogyakarta ini. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah DIY untuk mewujudkan Yogyakarta yang bebas gelandangan dan pengemis adalah dibuat dan diberlakukannya Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis. Perda tersebut berisi larangan terhadap tindak pengemisan ataupun penggelandangan maupun larangan memberikan uang ataupun barang di tempat umum kepada pengemis ataupun gelandangan. Segala tindak pelanggaran akan aturan yang sudah dibuat dan ditetapkan dalam Perda tersebut akan diberikan sanksi berupa denda ataupun kurungan penjara yang masing-masing sudah ditetapkan pula dalam Perda tersebut.
Kemudian peraturan daerah tersebut telah di sahkan pada awal tahun 2015 yang berarti sudah hampir satu tahun lamanya Perda tersebut berjalan dan
12 diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengingat bahwa Perda tersebut dibuat dengan alasan banyaknya gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di DIY yang perlu ditertibkan dan diberi binaan oleh pemerintah terkait, kemudian dari segala jenis kegiatan sosial yang dibuat oleh dinas sosial DIY, sebuah program yang dikhususkan untuk membina para gelandangan dan pengemis agar berhenti hidup di jalanan pun telah dibuat. Program unggulan yang dikhususkan pada kasus penanganan gelandangan dan pengemis yang dibuat oleh dinas sosial DIY berdasarkan data yang diperoleh dari website resmi dinas sosial DIY seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 1.1 Program Unggulan Dinsos DIY dalam Peningkatan Kesejahteraan PMKS
Sumber : bappeda.jogjaprov.go.id
Tabel di atas merupakan program-program yang di jalankan oleh dinas sosial DIY untuk menangani permasalahan gelandangan dan pengemis. Pengadaan Camp
REHABILITASI SOSIAL DI
PANTI SOSIAL
PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN SAMPAH
PERKOTAAN
PENGEMBANGAN PROGRAM DESAKU
MENANTI
FASILITASI DAN
PENDAMPINGAN SOSIAL PADA HUNIAN RUSUNAWA
CAMP
ASSESSMENT
13 Assessment yang menjadi lokasi penelitian adalah salah satu program dari kelima
program yang ada. Camp Assessment merupakan tempat pembinaan sementara dan diberlakukannya program rehabilitasi sosial awal bagi para gelandangan ataupun pengemis yang berhasil terjaring razia oleh satuan polisi pamong praja dari berbagai kota atau kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dinas sosial DIY lewat berbagai program sosialnya mengharapkan bahwa kehidupan masyarakat yang tergolong dalam kelompok Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dapat berubah ke arah yang lebih baik atau dalam kata lain kesejahteraan mereka dapat meningkat. Pada tahun 2013 menurut data yang dikeluarkan oleh website dinas sosial Daerah Istimewa Yogyakarta jumlah gelandangan dan pengemis yang ada adalah sebagai berikut :
Gambar 1.2 Jumlah PMKS Penduduk Asli DIY
Sumber :bappeda.jogjaprov.go.id
Pada tabel tersebut jumlah gelandangan sebanyak 129 orang dan jumlah pengemis sebanyak 221 orang. Jumlah yang tercantum tersebut, menurut
0 50 100 150 200 250 300
Penyanda
Disabilit Tuna Gelandan Penge Pemulu Kelomp Minorit Bekas
Binaan OD
28.196
158 129 221 126 216
4.168
1.797
14 keterangan dinas sosial DIY merupakan hasil pendataan berdasarkan jumlah penduduk asli DIY. Menurut hasil observasi awal yang dilakukan di lokasi tujuan, jumlah gelandangan dan pengemis baik yang normal ataupun yang mengalami gangguan kejiwaan berdasarkan penuturan salah satu pendamping yang bekerja di Camp Assessment tersebut kurang lebih berkisar dua ratus orang. Gelandangan
dan pengemis tersebut merupakan tanggungan Camp Assessment dibawah pengawasan dan pembinaan dinas sosial DIY.
Pengemis dan gelandangan yang berhasil terjaring oleh razia ditempatkan di Camp Assessment selama kurang lebih dua bulan lamanya. Camp Assessment adalah rumah penilaian sebelum para penyandang masalah kesejahteraan sosial tersebut dikirimkan ke panti sosial atau tempat rehabiitasi lanjutan ataupun dikembalikan ke keluarga yang bersangkutan. Di Camp Assessment tersebut dilakukan upaya rehabilitasi sosial awal bagi para gelandangan dan pengemis yang ada. Berdasarkan penuturan salah satu pendamping pada observasi awal, segala aturan ataupun kegiatan rehabilitasi dan kegiatan lainnya yang dilakukan di Camp Assessment mengacu pada Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan
gelandangan dan pengemis tersebut.
Dengan begitu, penelitian yang saya lakukan berfokus pada evaluasi pelaksanaan program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh Camp Assessment berdasarkan peraturan daerah sebagai pedoman yang mereka
gunakan. Program rehabilitasi sosial adalah salah satu program sosial yang diusung oleh dinas sosial DIY dalam upaya penanganan masalah maraknya gelandangan dan pengemis di DIY. Program rehabilitasi sosial awal yang
15 dimaksud dalam Perda no. 1 tahun 2014 tersebut dilakukan oleh Camp Assessment. Banyak pihak berupa LSM ataupun gerakan-gerakan sosial yang ada
di DIY yang mengatakan bahwa camp asessment tidak berhasil dalam melakukan upaya rehabilitasi sosial awal bagi gelandangan maupun pengemis yang tertangkap. Banyak artikel yang mengatakan bahwa program rehabilitasi sosial yang dilakukan oleh Camp Assessment dianggap tidak manusiawi dan banyak menimbulkan pelecehan ataupun pelanggaran HAM lainnya. Sebagian pihak mengatakan bahwa Camp Assessment tidak layak huni dan seluruh gelandangan mulai dari usia anak, dewasa, sampai pada gelandangan yang mengalami gangguan kejiwaan disatukan dalam lingkungan yang sama. Uraian yang dipaparkan oleh salah satu gerakan sosial yang menolak adanya Perda gepeng tersebut diluar apa yang seharusnya dilakukan dalam Perda yang telah ditetapkan.
Selain itu, dari berbagai proses penanganan gelandangan dan pengemis yang diuraikan pada Perda no. 1 tahun 2014, bagian yang terpenting dan paling memberikan banyak informasi mengenai berbagai alasan dan penyebab gelandangan dan pengemis memutuskan untuk melakukan aksinya adalah pada proses rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh pihak Camp Assessment tersebut. Pihak Camp Assessment adalah pihak yang pertama memegang dan mengetahui berbagai data dan alasan apa yang melatarbelakangi mereka untuk melakukan „pekerjaan‟ mengemis ataupun menggelandang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemudian pihak Camp Assessment pula lah yang menjadi penentu apakah gelandangan ataupun pengemis yang terjaring razia dapat dipulangkan dengan waktu dan syarat yang cepat, harus dirujuk ke panti sosial lanjutan untuk
16 diberikan rehabilitasi sosial lanjutan, ataupun hanya sekedar mendapatkan rehabilitasi sosial awal di Camp Assessment saja. Semua proses rehabilitasi sosial awal akan dilakukan oleh pendamping yang ada di Camp Assessment tersebut.
Berangkat dari hasil observasi langsung di lokasi penelitian dan berbagai artikel di media sosial yang menyoroti banyaknya konflik atau pelanggaran yang terjadi dalam program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh Camp Assessment, juga betapa pentingnya rehabilitasi sosial awal sebagai penentu
penanganan lanjutan dan pendataan alasan yang melatarbelakangi mereka untuk bertindak demikian, membuat penelitian ini sangat menarik untuk diteliti. Apakah konflik dan berbagai macam pelanggaran yang banyak dibicarakan di media online benar begitu adanya atau tidak dan apakah Camp Assessment menjalankan
fungsinya secara baik mengikuti pedoman dan aturan yang ada pada Perda no. 1 tahun 2014 atau tidak. Keseluruhan hal yang dipertanyakan tersebut diuraikan dalam penelitian ini. Berangkat dari hal-hal di atas, penelitian ini fokus untuk mengevaluasi pelaksanaan program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh Camp Assessment tersebut. Kemudian dari hasil penelitian yang telah dilakukan
dapat menentukan dan menilai Camp Assessment dalam melakukan rehabilitasi sosial tingkat awal dengan berpedoman pada Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis sudah berhasil atau gagal.
D. Rumusan Masalah
Bagaimanakah pelaksanaan program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di camp asessment sebagai wujud diberlakukannya Perda no. 1 tahun
17 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis di Daerah Istimewa Yogyakarta?
E. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan substansial dalam penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di camp asessment sebagai wujud diberlakukannya Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis di Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi stakeholders, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan dan bahan pertimbangan atau evaluasi dalam program rehabilirasi tingkat awal dalam upaya penanganan gelandangan dan pengemis di camp assesment ataupun untuk Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gepeng itu sendiri.
b. Bagi jurusan PSDK, Fisipol, UGM diharapkan penelitian ini menjadi tambahan referensi yang dimiliki bagi kepentingan banyak pihak, mulai dari kalangan akademisi jurusan PSDK, akademisi umum, ataupun pihak lain yang berkepentingan terkait penelitian ini.
F. Tinjauan Pustaka
Kegiatan rehabilitasi sosial merupakan suatu proses treatment untuk mengatasi beberapa kasus masalah sosial yang terjadi. Upaya rehabilitasi sosial dilakukan dengan tujuan untuk merubah perilaku penyandang masalah sosial yang
18 dianggap abnormal menjadi individu yang kembali normal. Upaya ini berusaha untuk menghapuskan atau meninggalkan kondisi yang tidak diharapkan.
Rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh camp asessment dianggap sebagai terapi untuk mengobati “pekerjaan” mereka di jalan yang dianggap sebagai penyakit sosial.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Perda no.1 tahun 2014 tentang proses penanganan gelandangan dan pengemis, menyebutkan upaya rehabilitasi sosial sebagai salah satu rangkaian dari beberapa program yang diusungkan untuk mengurangi fenomena gepeng di DIY. Camp asessment sendiri merupakan unit kegiatan dimana rehabilitasi awal tersebut dapat dilaksanakan.
Seluruh gelandangan ataupun pengemis yang diamankan oleh petugas ditampung di camp asessment tersebut. Segala informasi dan bagaimana keadaan para gepeng yang tertangkap dapat diketahui melalui unit kegiatan tersebut. Untuk mengkerangkai penelitian mengenai upaya rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh camp asessment, penelitian ini menggunakan teori patologi sosial.
Menurut Vembriarto (1973) patologi sosial memiliki dua arti. Arti yang pertama bahwa patologi sosial merupakan suatu penyelidikan, disiplin ilmu, atau ilmu pengetahuan tentang disorganisasi sosial dan social maladjusment, yang di dalamnya dibahas mengenai arti, extensi, sebab-sebab, hasil-hasil, dan tindakan (treatment) terhadap faktor-faktor yang mengganggu atau yang mengurangi penyesuaian sosial (social adjusment), seperti misal : kemiskinan, pengangguran, masalah-masalah orang yang telah lanjut usia, penyakit rakyat, feeblemindeedness, insanity, kejahatan, perceraian, prostitusi (pelacuran),
19 ketegangan-ketegangan keluarga, dan sebagainya. Kemudian arti yang kedua adalah patologi sosial berarti keadaan sosial yang “sakit” atau “abnormal” pada suatu masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa arti yang pertama, patologi dipandang sebagai ilmu pengetahuan, sedangkan arti yang kedua bahwa patologi sebagai keadaan atau kondisi seseorang yang “abnormal”.
Dalam literatur lain, patologi sosial berarti suatu gambaran tentang kondisi masyarakat yang sakit dan abnormal yang ditandai dengan gejala-gejala sosial seperti gelandangan, prostitusi dan sejenisnya yang merupakan permasalahan sosial yang selalu ada di kota-kota besar sejak zaman dahulu hingga saat ini (Soedjono, 1970). Patologi sosial tidak memandang masalah sosial sebagai sesuatu dari sudut pandang baik dan jahat. Patologi sosial lebih mengarah pada pencarian faktor-faktor apa sajakah yang melatarbelakangi hadirnya kasus tersebut, bagaimana reaksi masyarakat akan kasus tersebut, apa dampak yang akan dihasilkan dari adanya kasus tersebut, atau bahkan membicarakan mengenai treatment daripada kasus tersebut.
Kemudian menurut Kartini Kartono (2005) mengatakan bahwa Patologi Sosial berasal dari kata pathos yang berarti penderitaan, penyakit. Namun, istilah patologi ini lebih ditunjukan untuk penyebutan terhadap ilmu tentang penyakit.
Kemudian jika hal itu dihubungkan dengan masalah sosial, maka patologi sosial adalah ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap „sakit‟ yang disebabkan oleh faktor-faktor sosial. Dalam hal ini, dari beberapa literatur menyebutkan bahwa fenomena gelandangan dan pengemis merupakan suatu bentuk patologi sosial. Di Indonesia masalah gelandangan dan pengemis merupakan masalah yang
20 serius yang menjadi pemikiran bagi pemerintah baik di pusat ataupun di daerah.
Begitupula di Daerah Istimewa Yogyakarta, kegiatan mengemis dan menggelandang dipandang sebagai masalah yang serius dan perlu dicarikan sebuah pemecahan masalahnya. Pemecahan masalah yang diambil oleh pemerintah DIY salah satunya lewat rehabilitasi sosial awal yang dilakukan di camp asessment.
Gelandangan dan pengemis yang berada di camp asessment yang dijadikan objek dalam program rehabilitasi sosial awal adalah individu-individu yang dianggap patologis oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kebijakan penertiban gelandangan dan pengemis di DIY. Gelandangan dan pengemis di DIY dianggap telah mengganggu stabilitas lokal. Keberadaan mereka cukup mengganggu ketertiban umum. Maka dari itu pemerintah DIY memutuskan bahwa gelandangan dan pengemis adalah individu yang patologis yang dibutuhkan untuk segera di rehabilitasi agar kembali menjadi individu yang normal dan tidak kembali mengganggu stabilitas lokal.
Ada dua perspektif mengenai situasi patologis. Perspektif pertama adalah mengenai patologi sosial lama yang beranggapan bahwa situasi patologis berasal dari individu yang mengalaminya, situasi tersebut tidak dapat dihubungkan dengan masyarakat atau sistem yang ada dalam kehidupannya. Dengan kata lain, sumber masalah ada pada individu penyandang masalah. Sementara, patologi sosial baru menganggap bahwa individu yang patologis berasal atau disebabkan karena adanya suatu sistem yang bermasalah/patologis yang menyebabkan
21 individu itu menjadi individu yang patologis pula. Dengan contoh konkret bahwa lingkungan yang terbiasa dengan kegiatan perjudian akan membentuk individu yang suka berjudi. Dengan kata lain, sumber masalah ada pada sistem, bukan dari individu. (Soetomo, 2008)
Penanganan keduanya pun akan berbeda. Perspektif patologis yang menggap bahwa masalah berasal dari individu akan terkonsentrasi pada penanganan di level individu. Soetomo (2008) mengatakan bahwa untuk melakukan penyembuhan patologi sosial pada level individu menggunakan proses resosialisasi. Proses resosialisasi tersebut dilakukan agar individu yang patologis dapat mempersiapkan dirinya untuk mampu kembali berperilaku dan berperan sesuai dengan aturan dan nilai-nilai sosial yang berlaku secara baik. Kemudian perspektif patologi sosial baru yang menganggap keadaan patologi seseorang disebabkan oleh sistem, dalam penyembuhannya akan terkonsentrasi pada level sistem pula. Bukan individu yang akan di tangani agar mampu kembali berperilaku normal, melainkan masyarakat atau sistem yang ada yang akan dibenahi karena sudah dianggap menimbulkan situasi yang patologis.
Pemerintah DIY beserta pihak Camp Assessment dalam melakukan kegiatan rehabilitasi sosialnya memandang fenomena gelandangan dan pengemis dari perspektif lama, bahwa fenomena gelandangan dan pengemis disebabkan karena individu yang patologis atau masalah berasal dari diri individu yang bersangkutan. Hal tersebut dapat dilihat dari peraturan daerah yang mereka buat.
Dalam program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan di camp asessment, salah
22 satu kegiatannya adalah resosialisasi. Hal tersebut berkaitan dengan apa yang dikemukaan oleh Soetomo mengenai upaya yang diperuntukan menangani situasi patologis pada level individu. Kemudian, rangkaian kegiatan dalam upaya rehabilitasi sosial awal di camp asessment seluruhnya terkonsentrasi pada individu penyandang masalah, tidak ada upaya rehabilitasi sosial awal yang menjadikan masyarakat atau sistem sebagai obyek yang ditangani. Penanganan pada level sistem ada pada tahap penanganan yang lain. Selain teori patologi sosial, penelitian ini dikerangkai dengan dua hal lainnya, yaitu :
1. Konsep Rehabilitasi Sosial
Kerapkali orang-orang menganggap bahwa istilah masalah sosial sama dengan patologi sosial. Dimana keduanya adalah keadaan yang sama-sama dalam kondisi yang tidak diharapkan, melanggar ketetapan yang telah ditentukan, atau mengganggu sebuah ketertiban sosial. Namun, ternyata keduanya memiliki tingkatan yang berbeda. Masalah sosial merupakan objek penyelidikan patologi sosial. Dalam kata lain, bahwa masalah sosial merupakan bagian daripada patologi sosial. Seperti misalnya, masalah gelandangan, masalah pelacuran, masalah pengangguran, masalah lansia, masalah penduduk dan lain sebagainya.
Masalah sosial sendiri adalah suatu kondisi atau proses dalam masyarakat , yang dilihat dari sesuatu sudut tidak diinginkan. Kondisi yang tidak diinginkan itu dipandang salah atau abnormal (Vembriarto, 1973).
Dalam kepribadian setiap orang terdapat kecenderungan pribadi yang normal sekaligus abnormal. Oleh karena itu, bukan hal yang baik jika kita
23 memutuskan kepribadian seseorang normal atau abnormal, karena boleh jadi tingkah laku seseorang yang kita anggap abnormal merupakan sikap yang normal dalam lingkungan ataupun kebiasaannya. Vembriarto (1973) mengatakan bahwa individu disebut normal apabila tingkah lakunya tidak merugikan diri sendiri atau anggota-anggota kelompok dimana dia menjadi anggotanya. Sedangkan yang dimaksudkan abnormal (definisi konotatif) adalah tingkah laku yang sifat merugikannya terhadap diri sendiri atau anggota-anggota kelompok dimana dia menjadi anggota, lebih besar pengaruhnya daripada tingkah lakunya yang bersifat menguntungkan. Atau seseorang disebut abnormal (definisi denotatif) jika setiap proses organik dan proses sosial itu diintegrasikan dalam organisasi kehidupannya dengan suatu cara yang merugikan kesejahteraan sosial, fisik, dan mental individu itu atau kelompok. Untuk memandang gejala seseorang normal ataupun abnormal perlu adanya kesatuan prinsip yang sama antara berbagai pihak terkait.
Gelandangan dan pengemis merupakan gejala yang dipandang sama atau adanya kesatuan prinsip oleh berbagai pihak bahwa gejala tersebut adalah gejala yang abnormal. Menurut Muttalib dan Sudjarwo (1984) mengatakan bahwa masyarakat Yogyakarta biasa menyebut gelandangan dengan sebutan Wong Emis, Kere, Wong Kramatan, dan Kere Tuntang. Wong Emis merupakan sebutan untuk
laki-laki dan perempuan yang kerjaannya meminta-minta. Kere merupakan simbol bagi seseorang yang tidak memiliki pekerjaan, rumah, dan tinggal di sembarang tempat. Wong Kramatan adalah simbol untuk sejumlah orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan tinggal di makam. Sedangkan Kere Tuntang adalah simbol
24 bagi seseorang yang dipandang malas dan tidak mau bekerjasama dalam pekerjaan.
Kemudian Artidjo (1984) mengatakan bahwa gelandangan berbeda dengan pengemis. Seorang gelandangan sudah dipastikan adalah seorang pengemis, tetapi seorang pengemis tidak seluruhnya adalah seorang gelandangan. Banyak kasus yang telah ditemukan, bahwa seorang pengemis di daerah asalnya memiliki tempat tinggal yang sangat layak huni, kendaraan, ataupun sawah yang amat luas.
Bahkan kerap kali pengemis di kota besar mengirimkan uang dari hasil pengemisannya ke desa untuk membiayai keluarganya. Dalam memandang gelandangan ataupun pengemis dapat melalui dua sudut yang berbeda. Dari sudut subyektif yang berasal dari individu yang bersangkutan dapat kita lihat bahwa seseorang yang menggelandang dikarenakan sifatnya yang malas bekerja, suka berfoya-foya atau boros, acuh tak acuh terhadap lingkungan, atau terlalu pasrah terhadap nasib dirinya. Sedangkan dari sudut obyektif atau faktor eksternal, kita dapat melihat bahwa fenomena gelandangan dan pengemis merupakan akibat dari luar dirinya sendiri, seperti faktor geografis, ekologi, ekonomi, sosial, politik, atau budaya.
Dengan banyaknya kesamaan prinsif dari berbagai kalangan bahwa gejala gepeng adalah sesuatu yang abnormal, pemerintah DIY mengambil keputusan untuk mengeluarkan peraturan daerah yang ketat terhadap tindakan penggelandangan ataupun pengemisan. Inti dari peraturan daerah tersebut berisi tahapan-tahapan untuk mengurangi fenomena gepeng di Jogja, salah satunya adalah tahapan rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh camp asessment
25 sebagai unit kerja yang ditunjang oleh Dinas Sosial DIY. Walaupun dibeberapa bagian tindakan pengemisan atau penggelandangan dianggap seperti sebuah tindak kejahatan yang kemudian ditulis sanksi hukum yang jelas dan dapat diajukan sampai ke meja hijau, peraturan daerah tersebut lebih banyak membahas mengenai upaya penanganan atau treatment yang manusiawi atau tidak serta merta mengutamakan sanksi hukum kepada para pelanggarnya.
Dalam penelitian ini, konsep rehabilitasi sosial dilihat dari dua sisi.
Konsep pertama yang digunakan adalah konsep rehabilitasi sosial yang dikemukakan oleh beberapa tokoh. Sedangkan sisi yang kedua menggunakan konsep rehabilitasi sosial menurut Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis di DIY yang digunakan sebagai pedoman Camp Assessment dalam melaksanakan program rehabilitasi sosial awal untuk
gelandangan dan pengemis yang tertangkap oleh razia. Pada dasarnya ada beberapa tahapan dalam rangkaian penanganan gelandangan dan pengemis yang dilakukan oleh dinas sosial DIY. Namun, penelitian ini terkonsentrasi pada proses rehabilitasi sosial awal, dimana dalam proses rehabilitasi sosial awal telah dievaluasi sejauh mana pelaksanaan program rehabilitasi sosial yang dilakukan oleh Camp Assessment dalam mencapai tujuan dari program tersebut. Rehabilitasi sosial awal adalah rangkaian ketiga setelah dilakukannya usaha preventif dan koersif dan sebelum upaya reintegrasi sosial dilakukan dalam penanganan gelandangan dan pengemis menurut Perda no. 1 tahun 2014 tersebut. Camp Assessment sendiri merupakan lembaga yang diperintahkan oleh dinas sosial
26 Yogyakarta untuk melakukan upaya rehabilitasi sosial awal yang dimaksudkan dalam Perda tersebut.
Joewono (1968) memberikan pengertian mengenai kegiatan rehabilitasi bahwa rehabilitasi dapat diartikan sebagai suatu usaha atau gerak, untuk mengembalikan sesuatu hal, yang karena sesuatu hal lain berubah dari keadaan semula, menjadi keadaan yang sebagaimana mestinya sebelum adanya perubahan.
Contoh kasus, seseorang yang menderita sakit dan memutuskan untuk berobat ke dokter, setelah diperiksa secara serius sang dokter akan menentukan penyakitnya.
Atas diagnosa berdasarkan bukti-bukti yang mendukung, kemudian dokter tersebut akan memberikan obat sesuai penyakit yang diderita dan umur pasiennya.
Tujuan dari diberikannya obat tersebut untuk mengembalikan pasiennya menjadi sehat kembali seperti sebelumnya. Seperti itulah hakikatnya sebuah upaya rehabilitasi. Bertujuan untuk mengembalikan ke keadaan semula yang dianggap normal, yang sebelumnya didasari oleh diagnosa yang jelas dan akurat.
Proses rehabilitasi sosial merupakan usaha penanganan gelandangan dan pengemis yang melibatkan langsung mereka dalam rangkaian program yang di jalankan. Pendamping atau pekerja sosial yang melakukan upaya rehabilitasi sosial pun harus memiliki kualifikasi atau pelatihan yang mendukung mengenai proses rehabilitasi yang baik dan benar. Gelandangan maupun pengemis yang terjaring razia dan ditempatkan di Camp Assessment adalah orang-orang atau penyandang masalah kesejahteraan sosial yang dianggap bermasalah dan perlu dilakukannya penanganan untuk membantu mereka keluar dari permasalahan sosial yang mereka miliki. Berbagai alasan mengenai hal yang melatarbelakangi
27 berbagai masalah kesejahteraan sosial yang mereka alami dapat kita ketahui dalam rangkaian proses rehabilitasi sosial yang dilakukan di Camp Assessment.
“LG Brown (dalam Vembriarto, 197: 45) salah seorang penganut perspektif patologi sosial mengemukakan, bahwa perilaku seseorang apakah normal atau patologis ditentukan sebagai hasil empat faktor dalam kehidupan sosial individu yang bersangkutan. Keempat faktor tersebut adalah warisan organis, warisan sosial, pengalaman unik dan human nature. Human nature adalah kondisi yang melekat pada diri seseorang yang potensial termanifestasikan dalam perilaku. Dengan demikian perilaku sesorang baik patologis atau normal tergantung pada human nature yang terbentuk. Human nature ini terbentuk melalui hasil interaksi antara warisan organis dan warisan sosial seseorang melalui pengalaman, khususnya pengalaman unik. Human nature bukan faktor statis melainkan bersifat dinamis dan dapat berubah. Dalam pandangan ini, merehabilitasi perilaku patologis bererti harus mengubah human nature, karena faktor ini merupakan kondisi yang melekat pada individu dan potensial untuk termanifestasikan kedalam perilaku. Untuk mengubah human nature harus mengubah faktor-faktotr interaktif yang membentuknya. Dalam pendekatan sosial, faktor yang mudah dirubah pada diri seseorang adalah warisan sosial dan pengalaman unik. Oleh sebab itu, rehabilitasi perilaku dapat dilakukan dengan memberikan warisan sosial dan pengalaman yang baru pada penyandang masalah”
(Soetomo, 2008: 54).
Kutipan langsung diatas sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Camp Assessment dalam melakukan program rehabilitasi sosial awal untuk para
28 gelandangan dan pengemis sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial.
Gelandangan dan pengemis yang tertangkap adalah manusia-manusia yang memiliki human nature yang membentuk mereka untuk hidup di jalan dan menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang lain. Camp Assessment dalam program rehabilitasi sosialnya berusaha untuk membentuk human nature yang dimaksudkan dalam kutipan diatas agar para gelandangan dan pengemis yang tertangkap tidak kembali lagi ke jalan. Usaha Camp Assessment dalam menjalankan program rehabilitasi sosialnya melalui kegiatan-kegiatan yang terencana dan berpedoman pada Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis berusaha memberikan pengalaman baru kepada para pengemis dan gelandangan yang tertangkap selama berada di Camp Assessment.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian rehabilitasi sosial awal tersebut bertujuan agar para gelandangan maupun pengemis memiliki pengalaman baru yang dapat dijadikan bekal pada saat mereka berhasil keluar dari Camp Assessment. Bekal tersebut dimaksudkan untuk memberikan perubahan ke arah
kemajuan dan perbaikan kehidupan atau keadaan yang tidak diharapkan.
Pekerja sosial yang menangani gelandangan dan pengemis yang berada di Camp Assessment harus memiliki rasa percaya bahwa perilaku mereka mengemis
dan menggelandang adalah perilaku yang dapat dirubah, bukan perilaku yang sifatnya laten dan tidak dapat dirubah melalui upaya rehabilitasi sosial yang telah dilakukan. Karena pada dasarnya, setiap individu tidak dapat memutuskan bahwa kepribadian individu lain normal atau abnormal. Harus ada persamaan persepsi antara banyak pihak untuk memutuskan suatu hal normal atau abnormal. Dengan
29 kepercayaan atau prinsip tersebut, tujuan rehabilitasi sosial yang ingin merubah penyandang masalah kesejahteraan sosial agar dapat kembali hidup secara layak dan bermartabat sebagai warga negara Indonesia akan mudah terealisasikan.
Kegiatan yang dilakukan oleh Camp Assessment dalam program rehabilitasi sosial yang dapat dikaitkan dengan kutipan diatas mengenai perubahan human nature terangkai jelas didalam Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis.
Pada pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa “upaya rehabilitasi sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 7 huruf c dilakukan melalui :
a. motivasi dan diagnosa psikososial;
b. perawatan dan pengasuhan;
c. pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan;
d. bimbingan mental spiritual;
e. bimbingan fisik;
f. bimbingan sosial dan konseling psikososial;
g. pelayanan aksesibilitas;
h. bantuan dan asistensi sosial;
i. bimbingan resosialisasi;
j. bimbingan lanjut; dan
k. rujukan” (Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis).
30 Kesebelas kegiatan di atas adalah seluruh rangkaian yang harus dilakukan dalam upaya rehabilitasi sosial bagi gelandangan dan pengemis di Camp Assessment.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut harus benar-benar dilaksanakan secara baik dan benar demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Mengingat tujuan rehabilitasi sosial dalam Perda no. 1 tahun 2014 adalah untuk menjadikan gelandangan atau pengemis memiliki kemampuan untuk hidup secara layak dan bermartabat sebagai warga negara Indonesia, para pekerja sosial di Camp Assessment haruslah membantu mewujudkan tujuan awal dari upaya rehabilitasi
sosial yang dilakukan tersebut. Cara mewujudkan agar tujuan dari upaya rehabilitasi sosial ini tercapai dengan baik tidak lain adalah dengan menjalankan seluruh kegiatan yang sudah dirangkai dan dirincikan secara jelas dalam Perda yang bersangkutan, karena rangkaian kegiatan yang ditetapkan dalam Perda tersebut atas dasar pertimbangan yang matang demi tercapainya sebuah keberhasilan dari kebijakan yang dibuat dan kemudian disahkan.
Kemudian dalam bab atau bagian penjelasan Perda tersebut dipaparkan seluruh maksud dan pengertian dari kegiatan-kegiatan rehabilitasi sosial awal yang dilakukan di camp asessment. Kegiatan motivasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk menumbuhkan keinginan gelandangan dan pengemis, membangun harapan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik serta mendorong mereka untuk membuat rencana, mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang lebih produktif, sedangkan diagnosa psikososial adalah proses mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan mental sosial untuk merumuskan pemecahannya dan digunakan sebagai dasar dalam menentukan
31 kebutuhan pelayanan. Kemudian perawatan dan pengasuhan adalah pemberian pelayanan dan bimbingan terhadap gelandangan dan pengemis selama menjalani proses rehabilitasi sosial. Perawatan dan pengasuhan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik sesuai dengan hasil diagnosa psiko sosial. Pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan adalah serangkaian usaha yang diarahkan kepada klien gelandangan dan pengemis untuk mengetahui, mendalami dan menguasai suatu bidang ketrampilan kerja tertentu yang memungkinkan mereka memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang layak.
Kemudian bimbingan mental adalah bagian dari kegiatan rehabilitasi sosial yang diarahkan untuk menangani gangguan psiko sosial yang dialami klien gelandangan dan pengemis non psikotik. Gelandangan psikotik mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa dari rumah sakit jiwa. Rehabilitasi sosial bagi gelandangan psikotik yang belum diketahui asal usul keluarganya pasca pemulihan kesehatan jiwa dilakukan Unit Pelaksana Teknis Daerah di bidang sosial. Bimbingan spiritual adalah tindakan pendampingan terhadap klien gelandangan dan pengemis dalam melakukan refleksi atas perjalanan hidup, menggali keyakinan, nilai-nilai, filosofi dan pemaknaan atas kehidupannya pada waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Lalu bimbingan fisik adalah kegiatan bimbingan/tuntunan untuk pengenalan dan pembiasaan praktek cara-cara hidup sehat, secara teratur dan disiplin agar kondisi badan/fisik maupun lingkungan dalam keadaan selalu sehat. Bimbingan fisik dimaksudkan untuk melatih, membina dan memupuk kemampuan dan kemauan klien agar memelihara kesehatan fisik dan lingkungannya. Sedangkan bimbingan sosial adalah kegiatan
32 yang diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab sosial serta meningkatkan ketrampilan sosial klien. Kegiatan ini dapat dilaksanakan melalui pelatihan ketrampilan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, dan berorganisasi. Bimbingan sosial berupaya mendorong klien gelandangan dan pengemis dapat kembali dalam kehidupan masyarakat secara inklusif. Konseling psikososial adalah kegiatan yang ditujukan bagi klien gelandangan dan pengemis untuk membantu mengatasi masalah-masalah emosi dan sosial guna mencapai kesejahteraan hidupnya.
Kegiatan pelayanan aksesibilitas adalah pelayanan yang dimaksudkan untuk memudahkan gelandangan dan pengemis dalam mengakses berbagai pelayanan sosial dari lembaga pemerintah maupun lembaga lainnya. Sedangkan bantuan dan asistensi sosial diberikan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dasar (makanan pokok, pakaian, tempat tinggal (rumah penampungan sementara), perawatan kesehatan dan obat-obatan, akses pelayanan dasar (kesehatan, pendidikan), bimbingan teknis/supervisi, dan penyediaan pemakaman). Kemudian bimbingan resosialisasi adalah serangkaian kegiatan bimbingan yang bersifat dua arah, yaitu pertama, untuk mempersiapkan penerima pelayanan agar dapat berintegrasi penuh ke dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat, dan kedua untuk mempersiapkan masyarakat khususnya masyarakat daerah asal atau lingkungan masyarakat di lokasi penempatan kerja/usaha penerima layanan agar mereka menerima, memperlakukan dan mengajak serta untuk berintegrasi dengan kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan bimbingan lanjut adalah serangkaian kegiatan bimbingan yang diarahkan kepada penerima pelayanan, keluarga dan masyarakat
33 guna lebih dapat memantapkan, meningkatkan dan mengembangkan kemandirian penerima pelayanan dalam kehidupan serta peningkatan kesejahteraan secara layak. Kemudian kegiatan terakhir rujukan adalah proses pengalihan wewenang kepada pihak lain, untuk menangani lebih lanjut kasus yang dialami klien karena dinilai masih membutuhkan pelayanan atau bantuan sosial lanjutan untuk menyelesaikan masalah.
Pemaparan kegiatan-kegiatan rehabilitasi sosial awal diatas cukup memberikan gambaran yang jelas kepada para pekerja sosial di camp assessmnet dalam melakukan upaya rehabilitasi sosial yang dilakukan bagi para gelandangan dan pengemis sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial. Hal tersebut semakin mempermudah para pekerja sosial untuk dapat mendukung keberhasilan dari upaya yang direncanakan oleh para pembuat kebijakan, jika saja pekerja sosial yang bekerja di Camp Assessment benar-benar memahami isi dari Perda tersebut terutama bagian yang membahas upaya rehabilitasi sosial awal sebagai kewajiban tugas mereka. Lain halnya jika pekerja sosialnya saja tidak paham akan konsep kebijakan yang telah dibuat, tujuan dari kebijakan tersebut akan terhalang menuju sebuah titik keberhasilan.
2. Jenis Evaluasi
Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi pelaksanaan program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di Camp Assessment.
34 Rehabilitasi sosial merupakan salah satu program dari beberapa program unggulan yang dicetuskan oleh dinas sosial DIY dalam upaya penanganan kasus gelandangan dan pengemis. Evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis evaluasi program. “program adalah kegiatan atau aktivitas yang dirancang untuk melaksanakan kebijakan dan dilaksanakan untuk waktu yang tidak terbatas.
Kebijakan bersifat umum dan untuk merealisasikan kebijakan disusun berbagai jenis program” (wirawan, 2011: 17). Sejalan dengan kutipan tersebut, upaya rehabilitasi sosial awal yang dilakukan oleh Camp Assessment merupakan kegiatan yang dirancang sedemikian rupa untuk melaksanakan kebijakan yang telah disusun dan diresmikan. Kebijakan tersebut adalah Perda no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis.
Seluruh program atau kegiatan yang dilaksanakan membutuhkan suatu evaluasi. Evaluasi dapat digunakan sebagai ukuran apakah program yang di jalankan berada digaris yang benar atau sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan atau bergerak keluar dari aturan. Kemudian selain itu evaluasi dapat dijadikan acuan apakah program yang di jalankan sudah mencapai tujuan yang diharapkan atau tidak. Dari hasil evaluasi tersebut suatu program dapat diputuskan apakah masih layak untuk di jalankan, harus diperbaiki pada bagian-bagian tertentu atau bahkan diganti oleh kegiatan lain yang sekiranya akan lebih berhasil dari kegiatan yang sudah dievaluasi tersebut.
Wirawan (2011) menjelaskan bahwa evaluasi program adalah metode sistematik untuk mengumpulkan, menganalisis, dan memakai informasi untuk menjawab pertanyaan dasar mengenai program. Sedangkan dari beberapa jenis
35 evaluasi program yang dipaparkan Wirawan, penelitian mengenai evaluasi program rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di Camp Assessment ini lebih tepat menggunakan jenis evaluasi proses (process evaluation). “Evaluasi proses meneliti dan menilai apakah intervensi atau layanan program telah dilaksanakan seperti yang direncanakan; dan apakah target populasi yang direncanakan telah dilayani. Evaluasi ini juga menilai mengenai strategi pelaksanaan program.” (wirawan 2011: 17).
Dengan acuan tersebut, kegiatan penelitian mengevaluasi pelaksanaan program rehabilitasi sosial awal yang dilakukan di Camp Assessment, apakah sudah sesuai dengan rancangan kegiatan yang ada dalam Perda no. 1 tahun 2014 atau tidak, karena keberhasilan suatu program dapat dinilai jika proses pelaksanaannya sesuai dengan apa yang sudah direncanakan dan disusun dengan matang. Kemudian, kegiatan-kegiatan yang dipaparkan dalam Perda tersebut berupa kegiatan motivasi dan diagnosa psikososial; perawatan dan pengasuhan;
pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan; bimbingan mental spiritual;
bimbingan fisik; bimbingan sosial dan konseling psikososial; pelayanan aksesibilitas; bantuan dan asistensi sosial; bimbingan resosialisasi; bimbingan lanjut; dan rujukan ada dalam proses rehabilitasi yang dilakukan di camp asessement atau tidak dan apakah keseluruhan kegiatan tersebut sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya atau tidak.
“Evaluasi proses dimulai ketikan program mulai dilaksanakan. Faktor- faktor yang dinilai antara lain layanan dari program; pelaksanaan layanan;
pemangku kepentingan (stakeholder) yang dilayani; sumber-sumber yang
36 dipergunakan; pelaksanaan program dibandingkan dengan yang diharapkan dalam rencana; dan kinerja pelaksanaan program. Diidentifikasi juga dalam evaluasi proses perkembangan pengaruh dari program terhadap pemangku kepentingan program. Evaluasi proses merupakan evaluasi formatif yang berfungsi mengukur kinerja program untuk mengontrol pelaksanaan program. Salah satu cakupannya adalah mengukur apakah terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan program. Jika terjadi penyimpangan dari yang direncanakan, diputuskan apa yang harus dilakukan untuk mengontrol ketimpangan dan mengembalikan pelaksanaan program ke treknya dalam pengertian: kinerja yang diharapkan, penggunaan man, money, machine, dan methode yang dipergunakan untuk melaksanakan program”
(Wirawan, 2011: 21).
Kutipan tersebut mendukung pendapat peneliti bahwa seluruh kegiatan evaluasi memang harus mencakup berbagai hal. Tidak hanya satu aspek, melainkan berbagai aspek yang mendukung program tersebut terlaksana. Dari evaluasi yang di jalankan kita dapat mengetahui apakah penyimpangan terjadi dalam proses berjalannya program atau program masih berjalan sesuai dengan aturan yang digunakan. Seluruh hasil evaluasi tersebut akan berguna bagi keberlangsungan program dan keberhasilan dari tujuan kebijakan yang ditetapkan.
Evaluasi mengenai rehabilitasi sosial awal gelandangan dan pengemis di Camp Assessment diharapkan dapat memberikan masukan apakah program rehabilitasi
yang di jalankan sudah sesuai prosedur atau tidak, mengingat kebijakan mengenai penanganan gelandangan dan pengemis ini masih sangat baru dan masih banyak menimbulkan berita-berita negatif dari beberapa kalangan yang tidak setuju
37 dengan kebijakan yang telah ditetapkan mengenai peraturan daerah DIY no. 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis.