BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI
2.1. Tinjauan Umum Pariwisata 2.1.1 Definisi Pariwisata
Secara etimologi, kata pariwisata berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu, kata “pari” dan “wisata”. “Pari” memiliki arti banyak atau berkeliling dan
“wisata” memiliki arti pergi atau berpergian. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pariwisata berarti yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi, pelancongan, turisme.
Menurut Herman V. Schulalard (1910), kepariwisataan adalah sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan masuk, diam, dan bergeraknya orang-orang asing keluar masuk suatu daerah, kota, atau negara.
Menurut (Meyers, 2009), pariwisata merupakan aktivitas perjalanan yang dilakukan manusia dalam sementara waktu dari tempat tinggalnya ke daerah tujuan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan untuk bersenang-senang, memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu serta tujuan lainnya.
Menurut Bab1 Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan:
1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh Sebagian atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan diri.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang
interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha 5. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan,
keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan
6. Daerah Tujuan Pariwisata yang selanjutnya disebut destinasi pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam suatu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan
7. Usaha pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata
8. Pengusaha pariwisata adalah orang-orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan usaha pariwisata
9. Industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan penyelenggaraan pariwisata 10. Kawasan strategi pariwisata adalah kawasan yang memiliki
fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh dalam suatu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.
2.1.2 Jenis Pariwisata
Jenis pariwisata dapat dibedakan berdasarkan objeknya (Suwena, Widyatmaja, & Atmaja, 2010):
1. Wisata budaya, yaitu jenis pariwisata pada suatu daerah yang memiliki daya tarik seni dan budaya
2. Wisata komersil, yaitu, pariwisata yang berkaitan dengan kegiatan berdagang
3. Wisata olahraga, pariwisata termpat orang melihat dan menyaksikan pesta olahraga
4. Wisata sosial, jenis pariwisata yang memfasilitasi orang untuk bersosialisasi, biasanya pariwisata ini tidak mementingkan kentungan.
5. Wisata religi, pariwisata dengan tujuan menyaksikan upacara keagamaan atau lainnya yang berhubungan dengan keagamaan
2.1.3 Unsur Pariwisata
Terdapat 4 komponen yang mendukung pemenuhan dan kebutuhan layanan pariwisata (Suwena, Widyatmaja, & Atmaja, 2010) , diantaranya:
1. Atraksi (Attraction)
Atraksi merupakan daya tarik yang menjadi salah satu tujuan utama dari Sebagian besar wisatawan. Wisatawan tertarik untuk melihat sesuatu yang tidak biasa seperti pada kesehariannya. Dengan adanya atraksi wisatawan dapat menyaksikan sekaligus mempelajari sejarah kebudayaan dari atraksi yang ditampilkan.
2. Fasilitas (amenities)
Fasilitas sarana dan prasarana menjadi aspek penting untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Jenis sarana prasarana tersebut diantaranya berupa, penginapan, rumah makan, transportasi, dan agen perjalanan.
3. Aksesibilitas (Access)
Daerah tujuan wisata harus memiliki jalan yang bisa di akses dengan mudah oleh wisatawan. Akses tersebut ditunjang oleh konektivitas, kemudahan jenis transportasi, dan lainnya.
4. Pelayanan tambahan (ancillary service)
Pelayanan tambahan berfungsi sebagai pelengkap sarana prasarana daerah wisata. Pelayanan ini biasanya disediakan oleh pemerintah dalam rangka menunjang dan meningkatkan potensi pariwisata pada daerah tersebut. Beberapa contoh pelayanan tambahan tersebut diantaranya adalah pemasaran, pembangunan fisik( seperti pembangunan jalan raya, rel kereta, air minum, listrik, telepon, dan lainnya). Selain itu, wisatawan juga dapat memperoleh pelayanan indormasi melalui Tourist Information Center (TIC) berupa penjelasan langsung maupun media cetak seperti, poster, brosur, buku, peta dan lain-lain.
2.2. Tinjauan Umum Tourist Information Center 2.2.1 Definisi Tourist Information Center
Tourist Information Center sebuah lokasi fisik yang menyediakan informasi seputar pariwisata kepada wisatawan yang ingin berpergian atau mengunjungi daerah tujuan wisata (Ajriyani, 2018). Menurut (Pearce, 2004), Tourist Information Center merupakan sebuah fasilitas wisata yang dirancang dalam rangka membina pariwisata pada suatu daerah setempat yang berkelanjutan. Menurut (Steck, 1999), Tourist Information Center meliputipengadaan fasilitas informasi, pelayanan jasa, ditambah dengan fasilitas rekreasi agar menarik wisatawan datang ke lokasi dan menikmati kawasan tersebut sehingga pengunjung tidak hanya sekadar datang dan pergi, namun juga tinggal lebih lama.
2.2.2 Fungsi Tourist Information Center
Tourist Information center memiliki fungsi dan tujuan yaitu,
1. Dapat meningkatkan pendapatan daerah dengan menyediakan informasi pariwisata sekaligus menjadi media promosi agar daerah tersebut lebih banyak dikenal dan menarik bagi wisatawan.
2. Meningkatkan minat wisawatan untuk datang ke daerah pariwisata yang dituju.
3. Menambah pengetahuan mengenai pariwisata dan budaya di daerah tersebut
Berdasarkan fungsinya, terdapat 4 dan 1 tambahan fungsi dari Tourist Information Center menurut (Pearce, 2004):
1. Fungsi promosi
Fungsi utama Tourist Information Center aadalah sebagai tempat sarana informasi. Informasi yang disampaikan menjadi media terutama bagi daerah setempat, mempromosikan daerah wisatanya. Dengan begitu, pendapatan daerah tersebut juga dapat meningkat karena adanya fungsi promosi.
2. Fungsi Orientasi dan Peningkatan Kunjungan
Desain Tourist Information Center yang menarik dan memberikan pengalaman tersendiri, dapat mengundang lebih banyak pengunjung untuk datang. Selain itu, Tourist Information Center juga perlu memberikan rekomendasi seputar lokasi dan tempat wisata baru yang dapat didatangi pengunjung.
3. Fungsi Kontrol dan Penyaringan
Tourist Information Center berperan dalam menjadi titik gerbang utama pengunjung menuju destinasi wisata lainnya. Fungsi ini membuat Tourist Information Center dapat mengantarkan dan menyebar ratakan pengunjung ke titik-titik daerah wisata pada daerah tersebut.
4. Fungsi Substitusi
Bukan hanya sekadar menjadi pusat informasi sebagai titik masuk pengunjung ke wisata lain, namun Tourist Information Center juga dapat berperan menjadi objek wisata itu sendiri. Tentunya harus dengan pendekatan desain yang menarik.
2.2.3 Tahapan dan unsur dalam merancang Tourist Information Center Menurut (Pearce, 2004), terdapat 4 tahapan dalam merancang sebuah Tourist Information Center yang baik, yaitu:
1. Perencanaan
- Pada tahap perencanaan, perancang perlu mengetahui dan memahami dengan baik daerah tempat membangun Tourist Information Center.
- Fungsi serta peran dari bangunan Tourist Information Center.
Bagaimana dampak bangunan tersebut pada daerah tersebut - Membuat rencana promosi dan juga signage
2. Desain dan Konstruksi Bangunan
- Menentukan akses yang mudah sehingga pengunjung dapat dengan mudah datang dan tidak kesulitan saat menuju bangunan
- Mengidentifikasi pengguna dan aktivitas agar dapat menentukan fasilitas yang dapat disediakan pada bangunan. Identifikasi pengguna seperti, target pengunjung yang datang, apa saja yang dapat dilakukan di bangunan, kebutuhan ruang bagi pengelola gedung, dan juga kebutuhan bagi masyarakat local agar dapat terwadahi pada bangunan.
- Menentukan desain berkelanjutan dan rencana jangka panjangnya 3. Display interior
- Agar dapat menarik pengunjung, desain Tourist Information Center harus memberi kesan yang baik dan memberi pengalaman ruang yang unik
- Pendekatan tema khusus disesuaikan dengan konteks daerah setempat.
- Dapat dengan mudah memberikan informasi bagi wisatawan dari daerah lain
4. Pengelolaan dan Pemeliharaan
- Selain desain bangunan, peran pengelola juga harus memperhatika kualitas pelayanan yang baik
- Memberikan informasi yang up to date
Menurut U.S Department of the Interior Bureau of Reclamation dalam
“Visitor Center: Policy, Directive and Standard, and Guidelines”, terdapat unsur yang dipertimbangkan dalam merancang bangunan Tourist Information Center:
1. First impression
Kesan pertama pengunjung pada bangunan menentukan pengalaman yang akan dirasakan pengunjung terhadap bangunan.
Kesan pertama yang baik akan menarik keinginan pengunjung untuk datang
2. Entry
Desain pintu masuk harus memungkinkan kendaraan melaku dengan lambat sehingga dapat menikmati pemandangan lingkungan sekitar yang ada. Selain itu, signage menjadi unsur penting, agar pengunjung tidak terlewat.
3. Parking
Area parkir harus dengan mudah diakses dan dekat dengan pintu masuk. Sirkulasi parkir untuk kendaraan service sebisa mungkin disembunyikan untuk mengurangi pemandangan yang menggagu.
4. Walkways
Jalan menuju bangunan dari parkir harus dengan mudah diakses, pemandangan dari jalan-jalan utama menuju bangunan harus terlihat jelas.
5. Information Area or Lobby
Area lobby harus memuat kapasitas orang dengan jumlah banyak dan memiliki orientasi terbuka dengan penerangan yang baik.
6. Comfort Areas
Menyediakan kebutuhan kamar mandi, tempat duduk untuk beristirahat, lounge tempat pengunjung bisa makan dan minum 7. Interpretive Media
Interpretive Media atau ruang pameran mengakomodasi kapasitas pengunjung
8. Outdoor areas
Menyediakan fasilitas dimana pengunjung melakuakn aktivitas di outdoor area agar dapat mengeksplorasi lingkungan di sekitar bangunan
2.2.4 Kebutuhan Ruang Tourism Information Center a. Area Lobby
Area Lobby berfungsi sebagai ruang peralihan dari luar dan dalam bangunan. Selain itu, lobby juga berfungsi sebagai area penyambutan pengunjung. Area ini harus memiliki desain yang menarij agar memberikan impresi yang baik pertama kali masuk ke dalam bangunan.
b. Area Galeri Informasi
Ruang utama pada fungsi bangunan tourist information center adalah galeri informasi pariwisata. Ruang ini berfungsi sebagai area pameran wisata berupa gambar, objek miniatur wisata, lukisan, dan informasi lainnya seputar daerah wisata maupun sejarah wisata. Selain itu, ruang ini berfungsi sebagai area edukasi dalam mengembangkan wawasan pengunjung terhadap wisata dan sejarah pada daerah tersebut.
Hal terpenting dari ruang galeri yang berfungsi sebagai ruang pamer adalah penempatan objek yang akan dipamerkan. Sudut pandang normal manusia terhadap tata objek pamer adalah 540 atau 270 pada sisi bagian dinding, diatas mata sekitar 70 cm. Objek pamer yang berdimensi kecil sebaiknya diletakkan pada jarak pandang minimal
76,2 cm. Jarak jangkauan manusia terhadap objek kurang lebih 68,7 cm untuk melindungi objek dari potensi terjadinya kerusakan (Panero
& Zelnik, 1979)
Gambar 2.1 sudut jarak pandang objek pamer Sumber: Data Arsitek jilid 2, Neufert 2002
Gambar 2.2 Jarak pandang objek pamer Sumber: Data Arsitek jilid 2, Neufert 2002
Sirkulasi pada ruang pamer yang baik dan sesuai dengan alur cerita yang ingin disampaikan dapat memberikan gambaran kepada pengunjung secara lebih jelas. Selain itu, pesan yang ingin disampaikan akan tercapai dengan baik. Sirkulasi yang baik juga membantu pengunjung dengan mudah melihat objek yang akan dipamerkan. Sirkulasi pameran dimulai dari area penerimaan kemudian area pendaftaran, dilanjut dengan area pameran atau galeri.
Gambar 2.3 alur sirkulasi ruang pamer Sumber: Data Arsitek jilid 2, Neufert 2002
Sirkulasi bangunan dibuat berdasarkan layout bangunan. Pameran harus memberikan kesan yang menarik dan tidak monoton dengan cara mengatur pola ruang serta sirkulasi pada bangunan.
Gambar 2.4 layout denah museum
Sumber: Time-Saver Standards for Building Types, Joseph De Chiara dan John Callender (1980)
Pencahayaan alami maupun buatan merupakan aspek penting dalam merancang ruang pameran. Pencahayaan alami perlu diolah agar cahaya yang masuk ke ruangan tidak terpancarkan secara langsung.
Sama halnya dengan pencahayaan buatan yang perlu memerhatikan
warna cahaya, iluminasi tingkat penerangan, posisi pencahayaan, dan intensitas cahaya tergantung pada objek yang disorot.
Gambar 2.5 pencahayaan alami pada museum
Sumber: Time-Saver Standards for Building Types, Joseph De Chiara dan John Callender (1980)
Gambar 2.6 penerangan pada museum Sumber: Data Arsitek jilid 2, Neufert 2002
c. Kantor Pengelola
Ruang ini merupakan ruang penunjang pegawai, kepala pengurus bangunan, pengurus administrasi, dan lainnya mengelola bangunan.
Gambar 2.7 standar konfigurasu meja kantor Sumber: Data Arsitek jilid 2, Neufert 2002
Gambar 2.8 standar meja tulis kantor Sumber: Data Arsitek jilid 2, Neufert 2002
d. Lounge
Lounge area berfungsi sebagai area bersantai dan beristirahat untuk para pengunjung tourist information center. Pada area ini pengunjung dapat bersantai dan menikmati hidangan makanan dan minuman yang tersedia pada bar atau kafe yang biasanya terletak berdampingan dengan lounge.
Gambar 2.9 standar tempat duduk lounge Sumber: Human Dimension, Julius Panero 2003
e. Gift Shop
Gift Shop area berfungsi untuk memajang dan menjual barang- barang. Pada area ini biasanya menjadi tempat untuk menjual barang- barang khas daerah tempat bangunan itu berada.
Gambar 2.10 standar peletakkan barang merchandise Sumber: Human Dimension, Julius Panero 2003
f. Multifunction Room
Multifunction room berfungsi sebagai ruangan multifungsi berbentuk hall yang dapat digunakan untuk beraneka ragam acara diantaranya, seminar, rapat, workshop, dan pertemuan lainnya.
Gambar 2.11 standar tempat duduk ruang conference Sumber: Human Dimension, Julius Panero 2003
g. Tempat Parkir
Tempat parkir merupakan salah satu fasilitas public yang diperlukan pada bangunan tourist information center. Tempat parkir dibutuhkan untuk memarkirkan kendaraan pengunjung maupun pengelola di area dekat bangunan.
Gambar 2.12 pola parkir dengan sudut 900
Sumber: Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir Departemen Perhubungan
Gambar 2.13 alur parkir (pintu masuk dan keluar terpisah tidak terletak pada satu ruas) Sumber: Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir
h. Area Service
Area service terdiri dari, pantry, ruang janitor, mushola, ruang mekanikal elektrikal, toilet public, toilet staff, ruang AHU, ruang CCTV, dan lainnya. Runag-ruang ini berfungsi sebagai penunjang bangunan.
Gambar 2.14 standar toilet duduk
Sumber: Human Dimension, Julius Panero 2003
2.3.Studi Preseden
2.3.1. Shanghai Jiabei Country Park West - Visitor Center
Gambar 2.15 Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily
1. Informasi Bangunan
Shanghai Jiabei Courtry Park West yang didirikan pada tahun 2018 dengan luas area 1537 m2 ini merupakan sebuah visitor center yang terletak di Tionghoa. Berada di sebelah sudut barat taman Jiabei, bangunan ini membuat pengunjung dapat melihat langsung lahan pertanian di sebelah bangunan. Tujuan utama didirikannya visitor center ini adalah untuk menyediakan area istirahat dan pemberhentian bagi pengunjung taman. Selain itu, bangunan ini juga menjadi ikon atau wajah Jiabei Country Park sehingga desainnya menyesuaikan lingkungan dan mengangkat karakteristik budaya daerah setempat ditambah dengan pendekatan desain yang modern.
Gambar 2.16 Pintu masuk Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily
2. Massa Bangunan
Berdasarkan bentuk massa, bangunan ini membentuk garis struktur yang membentang melintasi blok tanah dan jalan menghubungkan bagian dalam dan bagian luar taman. Pada sisi utara menjadi pusat tempat bus wisata. Massa bangunan dibagi menjadi 4 strip, sesuai dengan pintu masuk untuk moda transportasi yang berbedai-beda. Atap bangunan menggunakan system double pitched roof yang dikombinasikan dengan atap lengkung menciptakan sebuah gelombang.
Gambar 2.17 massa bangunan Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily
Gambar 2.18 exploded struktur Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily
3. Program Ruang dan Zoning
Area pintu masuk utama berfungsi sebagai meja informasi, kantor dan teahouse. Fungsi lain pada gedung, seperti area pengunjung beristirahat dan berkumpul diberi ruang terbuka tanpa sekat untuk memberi kesan berkelanjutan. Fungsi yang terdapat pada bangunan ini tidaklah banyak karena tujuan utama dirancangnya bangunan ini adalah sebagai tempat pemberhentian dan peristirahatan para wisatawan yang hendak ke Taman Jiabei.
Gambar 2.19 denah Shanghai Jiabei Country Park West
Dari pintu masuk pengunjung disambut dengan area lobby yang luas dan mendapatkan pengalaman menarik melalui elemen kayu dan struktur yang terekspos. Bubungan atap yang disusun membentuk gelombang dengan material kayu dan kaca ini memberikan efek pencahayaan menarik pada area lobby utama. Ketika masuk pengunjung dapat membeli tiket atau bertanya ke area receptionist di sebelah kanan dari pintu masuk.
Gambar 2.20 lobby Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily
Sebelah kiri dan kanan lobby terdapat ruang transisi ke area taman dengan pintu khas tradisional Tionghoa berbentuk lingkaran atau yang biasa disebut dengan moongate.
Gambar 2.21 moongate Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily
Setelah membeli tiket atau ke area informasi pengunjung dapat menggunakan fasilitas yang ada di bangunan seperti toilet, area gathering, teahouse dan lainnya di sebelah kiri atau kanan bangunan. Sedangkan untuk staf, dapat masuk melalui pintu belakang dan menuju area kantor di sebelah ruang receptionist atau ke area dapur tempat melayani pengunjung yang bersantai dan minum di area teahouse. Sirkulasi bangunan tidak begitu rumit karena bangunan yang cukup kecil dan tidak memiliki banyak fungsi ruang.
Gambar 2.22 sirkulasi Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily (telah diolah kembali)
4. Struktur dan Material Bangunan
Seperti bangunan tradisional Tionghoa, bangunan ini menggunakan struktur atap kayu agar menyesuaikan dengan lingkungan dan karakteristik dari traditional watery towns di selatan Sungai Yangtze (Jiangnan). Selain itu karakteristik dinding putih dan ubin hitam juga diaplikasikan pada bangunan ini. Perpaduan batu pada kolam di area tengah lobby, material kayu yang tersusun membentuk gelombang, dan dinding putih ini memberikan kesan bangunan Tionghoa modern yang terinspirasi dari bangunan di Jiangnan.
Gambar 2.23 interior Shanghai Jiabei Country Park West Sumber: Archdaily
Hal yang dipelajari pada studi preseden bangunan Shanghai Jiabei Country Park West ini adalah pendekatan rancangan yang mengikuti kebudayaan setempat. Penggunaan material seperti dinding putih, genteng hitam, kayu, warna netral yang menggambarkan kesederhanaan mencerminkan karakter budaya setempat. Selain itu, impresi pertama ketika masuk bangunan menjadi penting agar pengunjung mendapatkan kesan yang menarik dan ingin menjelajahi bangunan lebih lanjut.
2.3.2. Îles-de-Boucherville National Park – Discovery Center
Gambar 2.24 Îles-de-Boucherville National Park Sumber: Canadian Architect
1. Informasi Bangunan
Îles-de-Boucherville National Park yang didirikan pada tahun 2017 ini terletak di Boucherville, Kanada. Bangunan ini merupakan visitor center untuk sebuah taman nasional di Quebec. Bangunan ini berfungsi sebagai pusat informasi, area tempat peminjaman alat untuk camping, sebagai tempat peristirahatan pengunjung taman, dan lainnya.
Gambar 2.25 Îles-de-Boucherville National Park Sumber: Canadian Architect
2. Bentuk Massa Bangunan
Bangunan ini memiliki 2 bentuk massa yang terpisah, dengan fungsi untuk area informasi dan satunya untuk area peminjaman alat camping. 2 massa bangunan ini membentuk sebuah jalur yang tertuju pada taman nasional Quibec. Jalur ini memberikan pengalaman ruang dan membuat pengunjung tertuju pada area taman. Bentuk bangunan yang melengkung menyesuaikan pepohonan di sana untuk meminimalisir pemotongan pohon. Fasad bangunan menggunakan bahan kayu untuk memberi kesan menyatu pada taman di sekitarnya. Selain itu, penggunakan kaca membuat pengunjung mendapatkan pemandangan langsung dari dalam ke luar bangunan maupun dari luar ke dalam memberi kesan menyatu dengan lingkungan.
Gambar 2.26 fasad Îles-de-Boucherville National Park Sumber: Canadian Architect
Gambar 2.27 interior Îles-de-Boucherville National Park Sumber: Canadian Architect
3. Program Ruang dan Sirkulasi
Main pavilion atau massa bangunan utama memiliki luas area 350m2. Ruang pada main pavilion ini terdiri dari pintu masuk, meja resepsionis, kafetaria, kamar mandi keluarga, kantor staf, boutique, ruang storage, ruang mekanikal elektrikal. Sedangkan untuk massa bangunan sekunder, memiliki area seluas 150m2 dengan fungsi ruang sebagai area rental, tempat catering untuk orang-orang yang hendak camping, menaiki perahu dan menaiki sepeda.
Berdasarkan zoningnya, pengunjung yang datang ke bangunan main pavilion langsung dihadapkan dengan area informasi berupa discovery area dan juga meja resepsionis. Setelah pengunjung melihat atau bertanya seputar info taman tersebut, pengunjung dapat pergi ke area gift shop untuk membeli cinderamata atau bisa langsung ke area dining room atau terrace untuk istirahat dan bersantai. Bagi pengunjung yang ingin menyewa alat- alat keperluan camping atau dayung, mereka dapat langsung menuju area resepsionis di pavilion sekunder.
Gambar 2.28 denah Îles-de-Boucherville National Park dan zoning Sumber: Canadian Architect (telah diolah kembali)
Gambar 2.29 denah Îles-de-Boucherville National Park Sumber: Canadian Architect (telah diolah kembali)
4. Sustainability
Smith Vigeant, sang arsitek, berusaha menerapkan desain yang sustainable pada bangunannya. Desainnya mengikuti pola musim di
daerah tersebut, terlihat dari penggunaan fasad kayu yang berfungsi sebagai brise soleil atau sun blocking pada musim panas dan memasukan sinar matahari yang tembus jauh ke dalam gedung selama musim dingin.
Selain itu, meminimalisir sistem pengudaraan buatan dengan sistem sirkulasi udara silang pada ventilasi udara di atas bangunan.
Gambar 2.30 diagram Îles-de-Boucherville National Park Sumber: Canadian Architect
Hal yang dipelajari pada studi preseden bangunan Îles-de-Boucherville National Park Discovery Center ini adalah penataan program ruang dan sirkulasi banguan. Ruang pada bangunan seperti, resepsionis, discovery area, gift shop, ruang staff, toilet, storage, ruang mekanikal elektrikal dan lainnya merupakan yang ada pada sebuah visitor center. Selain itu, fasad kayu yang digunakan sebagai brise soleil atau sun blocking sebagai fasad bangunan berfungsi menjadi penghalang cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan terlalu banyak.
2.4. Arsitektur Tionghoa 2.5.1 Feng-shui
Feng-shui merupakan sebuah paham konsep yang dipercaya oleh masyarakat Tionghoa yang berkaitan dengan kosmologi, tradisi penghormatan leluhur, kepercayaan rakyat jelata, dan kehidupan politik masyarakat. Kepercayaan ini menjadi prinsip yang dipegang masyarakat Tionghoa dan diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Paham ini juga diterapkan pada penataan ruang, bagi mereka yang masih hidup sampai pemilihan lokasi makam ( Kustedja, Sudikno, & Salura, 2012).
Masyarakat Tionghoa percaya bahwa dalam menciptakan suatu lokasi yang agar dapat berpengaruh baik bagi penghuninya adalah dengan prinsip menyatukan Qi dari bumi “di-iI” dan Qi dari langit, agar dapas daya bumi unsur “yin” dapat bertemu dengan napas daya langit yaitu unsur “yang.
Aliran daya Qi ini dipengaruhi oleh angin dan air. Maka dari itu, angin dan air menjadi elemen yang penting dalam paham Feng Shui. ( Kustedja, Sudikno, & Salura, 2012)
Penerapan Feng-shui pada bangunan vernakular biasanya berbentuk segi empat. Hal ini dipercaya sebagai bentuk ideal pada bangunan. Segi empat dengan keempat sisi tersebut masing-masing melambangkan simbol tertentu. Sisi selatan dilambangkan dengan simbol kehangatan, kehidupan, dan fase api. Sisi Barat yang merupakan arah terbenamnya matahari digambarkan sebagai akhir hari atau akhir dari kehidupan, dan fase logam.
Sisi Timur yang merupakan arah terbitnya matahari digambarkan sebagai awal dari kehidupan dan fase kayu. Sedangkan sisi utara menjadi fase yang digambarkan sebagai yang paling buruk, wilayah kegelapan abadi, dan fase air. ( Kustedja, Sudikno, & Salura, 2012).
2.5.2 Ciri Bangunan Arsitektur Tionghoa
Kebudaayan etnis Tionghoa di Asia memiliki karakter identitas yang khas dari segi arsitektural (Khaliesh, 2014). Perkembangan kebudayaan Tionghoa terlihat dari banyaknya permukiman Tionghoa yang disebut
dengan daerah Pecinan, yang tersebar di wilayah Asia termasuk Indonesia (Khaliesh, 2014).
Menurut Chinese Architecture in the Straits Settlements and Western Malaya : Temples, Kongsis and Houses (Khol, 1987), arsitektur Tionghoa di Asia Tenggara memiliki beberapa ciri khas diantaranya, pengaplikasian courtyard, elemen struktural yang tebuka biasanya dilengkapi dengan ornamen, penggunaan bentuk atap dengan ciri yang khas, dan penggunaan warna khas.
1. Courtyard
Courtyard adalah ruang terbuka ditengah yang terbentuk dari penataan ruang membentuk sebuah ruang privat (Widayati, 2004).
Pendekatan arsitektural courtyard muncul karena adanya prinsip paham konfusianisme, yaitu manusia harus dekat dengan tanah.
Dekatnya manusia dengan tanah dipercaya dapat memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran dalam kehidupan. Lubang tengah atau courtyard pada bangunan dipercaya dapat memasukan dan menyebarkan dengan rata energi (Qi) dari langit (Adhiwignyo &
Handoko, 2014)
Gambar 2.31 contoh pengaplikasian courtyard pada bangunan modern Folk Culture Center
Sumber: Archdaily
2. Elemen Struktural dan Bentuk Atap
Pada arsitektur Tionghoa biasanya menggunakan ukiran-ukiran khas dengan material kayu (Khol, 1987). Selain menjadi elemen penghias, kayu juga digunakan sebagai bagian dari struktur bangunan.
Struktur bangunan yang digunakan diantaranya dengan menggunakan rangka atap saling tumpang bukan kuda-kuda penyangga miring, menggunakan kolom sebagai penyokong beban atap, dinding yang bersifat non-struktural. (Adhiwignyo & Handoko, 2014).
Atap bangunan Tionghoa membentuk sudut miring yang berfungsi untuk memperlambat jatuhnya aliran hujan agar tidak langsung jatuh ke tanah dan merusaknya (Khol, 1987).
Terdapat 5 jenis bentuk atap yang biasa diterapkan pada bangunan Tionghoa, diantaranya adalah atap jurai (Wu Tien), atap pelana dengan tiang kayu (Hsuan Shan), atap pelana dengan dinding tembok (Ngang Shan), kombinasi atap jurai dengan atap pelana, dan atap piramida (Tsuan Tsien) (Adhiwignyo & Handoko, 2014)
Gambar 2.32 ilustrasi atap bangunan Tionghoa Sumber: (Adhiwignyo & Handoko, 2014)
3. Warna
Elemen warna yang biasa ditemukan pada bangunan Tionghoa adalah merah yang merupakan warna api melambangkan keberuntungan kemakmuran, warna kuning yang berarti warna tanah melambangkan kemakmuran dan sikap optimis, warna biru yang berarti elemen air melambangkan jabatan, dan warna hijau menggambarkan simbol kayu yang berarti keberuntungan.
(Adhiwignyo & Handoko, 2014).
4. Organisasi Ruang
Arsitektur Tionghoa biasanya menerapkan bentuk yang simetris orthogonal. Courtyard di tengah bangunan memisahkan massa bangunan pada sumbu utama yang membujur (Jin) dan massa bangunan pada sumbu sekunder yang melintang (Lu).
Gambar 2.13 ilustrasi penerapan Jin dan Lu Sumber: (Adhiwignyo & Handoko, 2014)