• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

7 2.1 Kajian Teori

2.1.1 Matematika SD

Definisi matematika sebenarnya itu tidak ada, karena tidak terdapat satu definisipun yang tunggal dan disepakati oleh semua tokoh atau pakar matematika, hal ini dimaksudkan agar para siswa atau orang yang mempelajari matematika dapat menangkap dengan mudah keseluruhan pandangan para ahli matematika, sehingga mereka dapat mengartikan matematika dari sudut pandang manapun (Soedjadi 2000:11). Meskipun demikian ada beberapa definisi mengenai matematika yang diungkapkan Soedjadi (2000:11), sebagai berikut:

1. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematis.

2. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.

3. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.

4. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.

5. Matematikan adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.

6. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.

Dari beberapa definisi yang sudah diungkapakan Soedjadi (2000:11) di atas, maka penulis simpulkan bahwa matematika adalah pengetahuan tentang bilangan, bentuk serta data-data kuantitatif yang tersusun secara sistematis dan logik.

Matematika memiliki beberapa karakteristik seperti; memiliki objek kajian abstrak, bertumpu pada kesepakatan, berpola pikir deduktif, memiliki simbol yang kosong dari arti, memperhatikan semesta pembicaraan, dan konsisten dalam sistemnya (Soedjadi 2000:13). Matematika sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perkembangan IPTEK, sehingga

(2)

perlu dibekalkan dalam semua jenjang pendidikan. Matematika pada hakikatnya merupakan suatu ilmu yang cara penalarannya deduktif formal dan abstrak, harus di berikan pada anak SD yang berfikirnya operasional konkret. Tujuan umum diberikannya matematika dijenjang pendidikan dasar menurut Soedjadi (2000:43) adalah sebagai berikut :

1. Mempersiapkan siswa agar dapat menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.

2. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

Tujuan dan ruang lingkup pembelajaran matematika yang tercantum dalam Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, adalah sebagai berikut:

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan karakteristik antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagaram, atau media lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta ikut ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Ruang lingkup materi atau bahan kajian matematika di SD/MI mencakup: a) bilangan, b) geometri dan pengukuran, c) pengolahan data.

Adapun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika kelas 5 semester II adalah sebagai berikut:

(3)

Tabel 1

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika SD Kelas 5 Semester II

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Bilangan

1. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah

1.1 Mengubah pecahan ke bentuk persen dan desimal serta sebaliknya

1.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan

1.3 Mengalikan dan membagi berbagai bentuk pecahan

1.4 Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala

Geometri dan Pengukuran 2. Memahami sifat-

sifat bangun dan hubungan antar bangun

2.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar 2.2 Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang 2.3 Menentukan jaring-jaring berbagai bangun

ruang sederhana

2.4 Menyelidiki sifat-sifat kesebangunan dan simetri

2.5 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan bangun datar dan bangun ruang sederhana

Sumber: Permendiknas No. 22 Tahun 2006

Berdasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa matematika itu bersifat abstrak dan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk dipelajari. Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar memerlukan strategi yang tepat dan menarik, sehingga matematika harus dirancang sedemikian rupa agar menjadi suatu pembelajaran yang menyenangkan, mudah dimengerti, dan tidak berkesan sulit untuk dipelajari.

2.1.2 Belajar

Permendiknas No 41 Tahun 2007 menyatakan bahwa “belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang diperoleh dan praktik yang dilakukan. Slameto (2010:2) menyatakan bahwa “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

(4)

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Hamdani (2011:20) mengungkapkan bahwa:

Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyesuaian, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuain sosial, bermacam-macam ketrampilan lain, dan cita- cita. Seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.

Selain itu menurut Agus Suprijono (2012:3), ”belajar dalam idealisme berarti kegiatan psiko-fisik-sosio menuju keperkembangan pribadi seutuhnya”. Dave Meier (2002:156), mengungkapkan ”belajar adalah mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kearifan, dan kearifan menjadi tindakan”.

Belajar bukan hanya mengenai mata pelajaran yang ada di sekolah melainkan juga pengalaman yang dapat diperoleh dari lingkungan, dari pengalaman tersebut dapat menambah wawasan/pengetahuan yang bukan hanya sekedar tahu tetapi dapat memahami pengetahuan yang didapat, sehingga memperoleh keselarasan antara pikiran, mental, maupun emosial seseorang, dari hal tersebut akan memunculkan tindakan, kebiasaan, ataupun perubahan tingkah laku.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh Agus Suprijono (2012:3), Dave Meier (2002:156), Hamdani (2011:20), Slameto (2010:2), maupun berdasar Permendiknas disimpulkan bahwa belajar adalah segala usaha yang diperoleh dari kehidupannya sendiri maupun interaksi dengan orang lain untuk merubahan tingkah laku/tindakan, pola pikir, gaya hidup, maupun untuk memperoleh kepuasan hidup yang sifatnya permanen. Belajar bukan hanya apa yang diajarkan disekolah tetapi juga pengalaman hidup masing- masing orang.

Dalam belajar ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor dari dalam diri siswa dan dari luar siswa, faktor dari dalam seperti jasmaniah, psikologis, dan kelelahan. Sedangkan dari luar diri siswa seperti keluarga,

(5)

sekolah, dan masyarakat (Slameto 2010:54-72). Beberapa faktor tersebut sangat mempengaruhi proses belajar mengajar maupun hasil dari belajar.

Kegiatan belajar memiliki beberapa ciri umum yaitu; menunjukkan aktivitas yang disadari, merupakan interaksi individu dengan lingkungannya, dan hasil belajar ditandai dengan tingkah laku (Aunurrahman 2011:36-37). Selain itu, Baharuddin dan Wahyuni (2007:15), juga mengungkapkan ciri-ciri belajar sebagai berikut:

1. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.

2. Perubahan tingkah laku bersifat permanen.

3. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan tersebut bersifat potensial.

4. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengamatan.

5. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.

Baharuddin dan Wahyuni (2007:16), juga mengungkapkan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:

1. Apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu siswalah yang harus bertindak aktif.

2. Setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya.

3. Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.

4. Penguatan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.

5. Motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila ia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya.

Agus Suprijono (2012:5) mengungkapkan “tujuan belajar untuk mencapai instruksional yang berbentuk pengetahuan dan ketrampilan dan sebagai hasil yang menyertai tujuan instruksional yaitu berfikir kritis dan kreatif, sikap terbuka dan demokratis, menerima orang lain, dan sebagainya”.

Definisi dari tujuan belajar itu sendiri adalah deskripsi tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah proses belajar (Oemar Hamalik 2008:73).

(6)

Berdasar tujuan belajar di atas, maka menurut penulis tujuan belajar adalah untuk menjadi pribadi yang berakhlak, cerdas dan berkualitas, serta mampu melakukan tindakan yang bermanfaat. Sehingga dalam suatu proses pembelajaran itu pasti memiliki tujuan yang diharapkan akan dapat tercapai.

2.1.3 Pembelajaran

Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

Pembelajaran dapat pula diartikan sebagai kombinasi yang melibatkan siswa, guru, fasilitas-fasilitas pendukung belajar serta adanya prosedur dalam pelaksanaan belajar, semua kombinasi tersebut saling mempengaruhi untuk pencapaian tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik 2008:57). Pembelajaran merupakan proses, cara, perbuatan mempelajari, dan tindak ajar (Agus Suprijono 2012:13). Selain itu Hamdani (2011:23) juga mengungkapkan hakikat dari pembelajaran, yaitu:

Menurut aliran behavioristik pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus, dan berdasar aliran kognitif pembelajaran adalah sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar mengenal dan memahami sesuatu yang sedang dipelajari. Humanistik mengartikan pembelajaran adalah sebagai memberi kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Berdasar definisi pembelajaran yang dikemukakan oleh Agus Suprijono (2012:13), Hamdani (2011:23), Oemar Hamalik (2008:57), maupun Sisdiknas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha mempelajari sesuatu atau mengajar sesuai dengan prosedur pelaksanaan untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran akan berhasil lebih baik jika pelaksanaanya menekankan pada proses pembelajaran yang mendidik bukan sekedar mendapatkan hasil belajar.

(7)

Hamdani (2011:47) mengungkapkan pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.

2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.

3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan ajar yang menarik perhatian dan menantang siswa.

4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik

5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.

6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis.

7. Pembelajaran menekankan keaktifan siswa.

8. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan sengaja.

Hamdani (2010:47) mengungkapkan “tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman, dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya”.

Tingkah laku itu meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan prilaku siswa. Pembelajaran bertujuan untuk mengubah siswa yang belum terdidik menjadi terdidik, belum tahu menjadi tahu, dan siswa memiliki prilaku dan kebiasaan yang positif (Aunurrahman 2011:34). Komponen-komponen dalam pembelajaran meliputi tujuan, subjek belajar, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur belajar (Oemar Hamalik 2008:57). Hamdani (2010:3) berpendapat bahwa:

Salah satu sasaran pembelajaran adalah membangun gagasan sainstifik setelah siswa berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Pengetahuan dan pengalaman yang ada, siswa menggunakan informasi yang berasal dari lingkungannya dalam rangka mengkonstruksikan interpretasi pribadi serta makna-maknanya. Makna dibangun ketika guru memberikan permasalahan yang relevan degan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada sebelumnya, memberi kesempatan kepada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Untuk membangun makna tersebut, proses belajar mengajar berpusat pada siswa.

(8)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha guru yang dilakukan terhadap siswa untuk memberikan bekal dan pengalaman sehingga memberikan kemudahan serta pembentukan kepribadian yang lebih baik. Oleh karena itu tujuan dari pembelajaran adalah untuk membantu siswa memperoleh berbagai pengalaman, sehingga dapat merubah tingkah laku siswa menjadi lebih baik lagi untuk mengendalikan pola hidup pada dirinya.

2.1.4 SAVI (Somatis, Auditory, Visual, Intelektual)

Dave Meier (2002:91) mengungkapkan bahwa “pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan meyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari. Akan tetapi, menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar dalam pembelajaran, dan hal itu disebut belajar SAVI”. Sehingga pembelajaran SAVI adalah penggabungan fisik, aktivitas, intelektual dan semua indra. Dave Meier (2002:92-99) menjelaskan unsur-unsur SAVI adalah sebagai berikut:

1. Belajar Somatis

Belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis melibatkan fisik dan menggunakan tubuh sewaktu belajar secara berkala. Untuk merangsang hubungan pikiran- tubuh, suasana belajar harus dapat membuat siswa bangkit dan berdiri dari tempat duduknya dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu secara berkala. Peraturan dalam belajar somatis ini adalah siswa harus aktif dan tindak boleh hanya duduk dan diam tetapi melibatkan fisiknya dalam memanipulasi obyek kongkrit yang digunakan sebagai media pembelajaran.

2. Belajar Auditory

Merupakan belajar dengan mendengar dan berbicara. Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang dapat menarik bagi seluruh auditori yang kuat dari dalam diri siswa yaitu dengan mencarikan cara untuk mengajak siswa membicarakan apa yang senang dipelajari. Peraturan dalam belajar auditory ini adalah siswa harus menerjemahkan pengalaman mereka dengan suara, mengajak siswa bicara saat memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi atau kegiatan pembelajaran lainnya.

(9)

3. Belajar Visual

Setiap orang memiliki ketajaman visual yang sangat kuat. Hal ini dikarenakan di dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual dari pada semua indra yang lain. Siswa (terutama pembelajar visual) akan lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang dibicarakan guru atau sebuah buku. Dalam pembelajaran visual meminta siswa untuk mengamati dunia nyata lalu memikirkan serta membicarakan situasi itu, menggambarkan proses, prinsip, atau makna yang dicontohkan.

4. Belajar Intelektual

Kata intelektual menunjukkan apa yang dilakukan siswa dalam pikirannya secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan makna, rencana dan nilai dari pengalaman tersebut. Aspek intelektual akan terlatih jika siswa diajak untuk terlibat dalam aktivitas seperti memecahkan masalah, menganalisis pengalaman, mengerjakan perencanaan, dan lain sebagainya. Dalam belajar intelektual ini dalam memecahkan permasalahan siswa harus mampu saling bekerjasama, karena setiap anak pasti memiliki pemikiran tersendiri dalam memecahkan maslah, sehingga pemikiran tersebut harus diselaraskan agar mendapatkan pemecahan masalah yang tepat.

Dave Meier (2002:106-108), mengungkapkan kerangka perencanaan pembelajaran SAVI, dikelompokkan menjadi empat tahap yaitu:

1. Tahap Persiapan (Pendahuluan)

Tujuannya menimbulkan minat siswa, memberikan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang, dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar.

Tahap ini dapat dilakukan misalnya seperti:

a. Menenangkan rasa takut.

b. Memberikan sugesti positif.

c. Membangkitkan rasa ingin tahu.

d. Merangsang rasa ingin tahu siswa.

e. Memberi tujuan yang jelas dan bermakna.

f. Mengajak siswa terlibat penuh sejak awal g. Menciptakan lingkungan fisik yang positif.

h. Menyingkirkan hambatan-hambatan belajar.

i. Menciptakan lingkungan emosional yang positif.

j. Banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah.

k. Memberikan pernyataan yang memberi manfaat kepada siswa.

(10)

2. Tahap Penyampaian (Kegiatan Inti)

Tujuannya membantu siswa menemukan materi belajar yang baru dengan cara menyenangkan, relevan, melibatkan panca indra, dan cocok untuk semua gaya belajar. Tahap ini dapat dilakukan misalnya seperti:

a. Presentasi interaktif.

b. Pelibatan seluruh otak, seluruh tubuh.

c. Pengamatan fenomena dan dunia nyata.

d. Proyek belajar berdasar kemitraan dan tim.

e. Grafik dan sarana presentasi berwarna-warni.

f. Uji coba kolaboratif dan berbagai pengetahuan.

g. Pengalaman belajar di dunia nyata dan kontekstual.

h. Aneka macam cara untuk disesuaikan dengan gaya belajar.

i. Pelatihan menemukan (sendiri, berpasangan, berkelompok) 3. Tahap Pelatihan (Kegiatan Inti)

Tujuannya adalah membantu siswa mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan ketrampilan baru dengan berbagai cara. Tahap ini dapat dilakukan misalnya seperti:

a. Simulasi dunia nyata b. Permainan dalam belajar.

c. Pelatihan aksi pembelajaran.

d. Aktivitas pemecahan masalah.

e. Aktivitas pemprosesan belajar.

f. Refleksi dan artikulasi individu.

g. Usaha aktif/umpan balik/renungan/usaha kembali 4. Tahap Penampilan Hasil (Kegiatan Penutup)

Tujuannya adalah membantu siswa menerapkan dan memperluas pengetahuan atau ketrampilan baru pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat. Tahap ini dapat dilakukan misalnya seperti:

a. Pelatihan terus menerus.

b. Materi penguatan pasca sesi.

c. Aktivitas penguatan penerapan.

d. Umpan balik dan evaluasi kinerja.

e. Penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi.

Pembelajaran SAVI itu penting untuk diterapkan karena SAVI memiliki keunggulan dibanding pembelajaran yang lain, seperti memperhatikan seluruh gaya belajar siswa, pembelajaran juga didesain dengan permainan- permainan belajar, maka pembelajaran akan mudah diikuti dan terasa menyenangkan bagi siswa, siswa juga belajar dengan kelompok, dengan belajar bersama kelompok maka siswa bisa bertukar pikiran, selain itu

(11)

kelebihan yang lainnya adalah dengan pembelajaran SAVI maka siswa dapat belajar menemukan dan memecahkan masalah serta mengungkapkan pendapat/ide-ide untuk proses belajar, dengan demikian pembelajaran akan dialami sendiri oleh siswa sehingga belajar akan lebih bermakna bagi siswa.

Sesuai dengan ketentuan dalam Permendiknas No 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, pelaksanaan pembelajaran meliputi 3 tahapan, yaitu:

1. Kegiatan Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran

2. Kegiatan Inti

Peleksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang dapat meliputi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

3. Kegiatan Penutup

Kegiatan penutup adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

Sesuai dengan ketentuan dalam Permendiknas No 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang diuraikan di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan SAVI (Somatis, Auditory, Visual, Intelektual) dalam pembelajaran matematika diuraikan pada tabel 2 berikut ini.

(12)

Tabel 2

Kegiatan Pembelajaran Matematika dengan SAVI

Kegiatan Pembelajaran Unsur SAVI

1. Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan guru:

a. Membuka pelajaran dengan salam dan berdo’a.

b. Melakukan sugesti positif dan memotivasi.

c. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang jelas dan bermakna.

Auditory Auditory, Visual 2. Kegiatan Inti

Pelaksanaan pembelajaran:

Membentuk kelompok belajar secara heterogen yang beranggotakan 4-5 siswa.

Dalam kegiatan inti meliputi:

A. Eksplorasi:

a. Siswa mengamati benda-benda berbentuk gambar bangun ruang dan bentuk bangun ruang konkritnya.

b. Uji coba kolaboratif dengan tanya jawab mengenai media yang digunakan dan untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang materi bangun ruang yang akan dipelajari.

c. Siswa mengamati bangun ruang dan jaring- jaring bangun ruang.

B. Elaborasi:

a. Permainan “perburuan harta karun” dengan setiap kelompok mencari bangun ruang (limas, prisma, kerucut, tabung) di dalam kotak benda yang sudah disediakan guru.

b. Dengan bekerja kelompok siswa mendefinisikan nama benda yang didapat, termasuk jenis bangun ruang apa dan ciri-ciri bentuk benda.

c. Siswa melakukan pembelajaran dengan permen dan tusuk gigi untuk mengidentifikasi sifat- sifat bangun ruang.

d. Dengan bekerja kelompok siswa mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dan membuat jaring-jaring bangun ruang.

e. Siswa menggambar bangun ruang.

f. Siswa memanipulasi bangun ruang hingga menemukan bentuk jaring-jaringnya.

g. Siswa menggambar dan membuat jaring-jaring bangun ruang.

Somatis

Visual

Auditory, visual, intelektual Visual

Somatis

Intelektual, visual, auditory Somatis

Intelektual, somatis Somatis, intelektual Somatis, intelektual

(13)

C. Konfirmasi:

a. Siswa mempresentasikan hasil diskusi, dan kelompok lain memberi tanggapan.

b. Memberikan penghargaan berupa tepuk tangan dan pujian pada setiap kelompok yang presentasi.

c. Guru memberikan penjelasan kembali dari yang sudah dipresentasikan siswa ataupun memberi tambahan materi.

Auditory, visual Auditory

Auditory, visual 3. Kegiatan Penutup

a. Tindak lanjut dengan tanya jawab dari materi yang sudah dipelajari

b. Evaluasi diri siswa dengan menceritakan apa yang sudah dikerjakan selama proses pembelajaran berlangsung dan mengungkapkan kesan-kesannya.

c. Siswa bersama guru menyimpulkan hasil pembelajaran.

d. Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

Auditory, intelektual Auditory

Auditory Auditory

2.1.5 Aktivitas Belajar

Kegiatan pembelajaran hendaknya siswa ditempatkan sebagai subjek belajar, oleh karena itu siswa harus memiliki pengalaman belajar secara optimal, sehingga pembelajaran harus berorientasi pada aktivitas belajar siswa (Wina Sanjaya 2009:178). Aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan siswa dalam belajar, seperti; mendengarkan penjelasan guru, mencatat hal-hal yang dianggap penting, berdiskusi, keberanian untuk bertanya, keberanian mengajukan pendapat, kritik, saran, presentasi, mengerjakan latihan, dan kegiatan belajar yang lainnya.

Paul D. Dierich dalam Oemar Hamalik (2008:90-91) mengelompokkan jenis-jenis aktivitas siswa sebagai berikut:

1. Kegiatan visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain.

2. Kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.

(14)

3. Kegiatan mendengarkan seperti: mendengarkan penyajian bahan, percakapan, atau diskusi kelompok, siaran radio, maupun mendengarkan suatu permainan instrumen musik.

4. Kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.

5. Kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.

6. Kegiatan metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.

7. Kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor, menemukan hubungan, membuat keputusan.

8. Kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan sebagainya.

Oemar Hamalik (2008:91) mengungkapkan bahwa manfaat aktivitas dalam pembelajaran diantaranya adalah:

1. Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.

2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa.

3. Memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok.

4. Siswa belajar berdasar minat dan kemampuan sendiri sehingga sangat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual.

5. Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis, kekeluargaan, musyawarah, dan mufakat.

6. Pembelajaran dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme.

7. Pembelajaran dan kegiatan belajar menjadi hidup.

Tanpa ada aktivitas kegiatan belajar tidak mungkin terjadi, sehingga aktivitas belajar merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar, mengingat bahwa belajar merupakan hasil dari pengalaman, maka dibutuhkan aktivitas untuk dapat melakukan pembelajaran. Jadi dapat disimpulkan aktivitas belajar adalah kegiatan yang dilakukan sebagai proses dalam belajar untuk mengembangkan psikologis dan intelektual anak.

(15)

Ngalim Purwanto (2011:107) mengungkapkan dua faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar (proses belajar) siswa, yaitu:

1. Faktor internal, yaitu seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisik maupun psikis. Aspek fisik yaitu sehat tidaknya kondisi tubuh mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Aspek psikis meliputi perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, fikiran, bakat, dan motif.

2. Faktor eksternal, terdiri dari lingkungan alam, sosial, guru dan cara mengajar, bahan pelajaran, sarana dan fasilitas.

Faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar seperti yang sudah diungkapkan diatas terkait dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu SAVI.

Dengan pembelajaran SAVI siswa diajak untuk memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar, pembelajaran juga didesain semenarik mungkin dan menyenangkan agar mampu merangsang semua alat indra anak untuk melakukan aktivitas belajar (Meier 2002:90). Dengan demikian SAVI juga mampu mempengaruhi aktivitas belajar siswa baik dari faktor internal maupun eksternal. Dengan meningkatnya aktivitas belajar yang dialami sendiri oleh siswa dengan kata lain pembelajaran berpusat pada siswa, maka akan meningkatkan kemampuan dan daya ingat siswa, sehingga hasil belajar siswa juga akan meningkat lebih baik.

Aktivitas belajar dalam pembelajaran matematika yang dapat diukur meliputi beberapa aspek, yaitu: kegiatan visual, lisan, mendengarkan, menulis, menggambar, metrik, mental, dan emosional (Oemar Hamalik 2008:90). Pengukuran pelaksanaan/aktivitas dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan evaluasi beracuan kriteria yaitu menentukan apa yang dianggap prestasi yang baik dan nilai akhir apa yang diharapkan, selain itu dapat dilakuklan dengan evaluasi diri pelajar, yaitu memberikan laporan, masukan, atau keluhan terhadap proses pembelajaran yang sudah berlangsung (Dave Meier 2002:165). Selain itu skala penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur suatu proses, misalnya proses belajar pada siswa (Nana Sudjana 2012:79). Berdasar penjelasan tersebut, maka pengukuran aktivitas belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika dengan

(16)

menggunakan skala penilaian. Dengan menggunakan skala penilaian dapat mengetahui aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

2.1.6 Hasil Belajar

Agus Suprijono (2012:5), mengungkapkan bahwa hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap- sikap, apresiasi dan ketrampilan. Hasil belajar merupakan kemampuan siswa dari proses belajar. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku secara keseluruhan, bukan hanya salah satu aspek potensi saja. Berdasarkan pemikiran Gagne dalam (Agus Suprijono 2012:5-6), hasil belajar berupa:

1. Informasi verbal, yaitu mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah, maupun penerapan aturan.

2. Ketrampilan intelektual, yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.

3. Strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya.

4. Ketrampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani.

5. Sikap, yaitu kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

Klasifikasi hasil belajar menurut Bloom dalam (Poerwanti, dkk 2008:1.22), secara garis besar mencakup 3 ranah, yaitu:

1. Ranah kognitif, adalah ranah yang menekankan pada pengembangan kemampuan dan ketrampilan intelektual.

2. Ranah afektif, adalah ranah yang berkaitan dengan pengembangan-pengembangan perasaan, sikap nilai, dan emosi.

3. Ranah psikomotorik, adalah ranah yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan atau ketrampilan motorik.

Dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan siswa yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik yang diperoleh melalui proses belajar. Hail belajar yang diperoleh dapat dijadikan sebagai informasi mengenai kemajuan para siswa dalam proses pembelajaran.

(17)

Hamdani (2010:139-146) mengemukakan faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu:

a. Faktor internal, yaitu faktor dari diri siswa

1. Kecerdasan, yaitu kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.

2. Jasmani atau fisiologis.

3. Sikap, yaitu kecenderungan untuk mereaksi terhadap suatu hal, orang, atau benda dengan suka, atau tidak suka, atau acuh tak acuh.

4. Minat, berkaitan denga perasaan biasanya rasa senang

5. Bakat, yaitu kemampuan potensi yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.

6. Motivasi, yaitu sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

b. Faktor eksternal

Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi belajar adalah keadaan keluarga, keadaan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang dilakukan Riana (2010:7), dengan SAVI dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa karena dengan SAVI selain siswa lebih aktif dalam pembelajaran siswa juga dapat memanipulasi benda kogkrit yang dilakukan secara diskusi serta dapat membuat dugaan-dugaan mengenai hasil yang didiskusikan. Dengan demikian penulis simpulkan bahwa pembelajaran dengan SAVI dapat mengaktifkan siswa untuk menemukan sendiri sebab dari permasalahan dalam matematika, sehingga siswa tidak mudah lupa dengan materi yang dipelajari, dan nilai yang diperoleh saat mengerjakan tes atau tugas juga akan lebih baik, sehingga hasil belajarnya juga baik, dengan demikian SAVI dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.

Depdiknas (2008:9) tentang Rancangan Penilaian Hasil Belajar menyatakan bahwa:

Penilaian pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas penilain hasil belajar oleh; pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Penilaian hasil belajar/prestasi belajar oleh pendidik dilakukan secara berkeseninambungan, yang bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektifitas kegiatan pembelajaran. Pengukuran dalam prestasi belajar ini menggunakan tes tertulis, tugas, maupun presentasi. Penilaian prestasi belajar digunakan untuk menilai

(18)

pencapaian kompetensi, bahan peyusun laporan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.

Mekanisme penilaian berdasar Rancangan Penilaian Hasil Belajar oleh Departemen pendidikan tahun 2008 adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan penilaian, seperti mengembangkan indikator penilaian, kisi-kisi, instrumen penilaian (berupa tes, penugasan, dan yang lainnya) dan pedoman penskoran.

2. Pelaksanaan penilaian, merupakan penyajian penilaian kepada pesarta didik. Kegiatan yang dilakukan berupa melakukan penilaian menggunakan instrumen yang telah dikembangkan, memeriksa hasil pekerjaan peserta didik mengacu pada pedoman penskoran untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik.

3. Analisis hasil penilaian, yang dilakukan adalah menganalisis hasil penilaian menggunakan acuan kriteria yaitu membandingkan hasil penilaian masing-masing peserta didik dengan standar yang sudah ditetapkan.

4. Tindak lanjut hasil analisis, kegiatan yang dilakukan meliputi pelaksanaan progam remidi untuk peserta didik yang belum tuntas, dan mengadministrasikan semua hasil penilaian yang telah dilaksanakan.

Penilaian dalam pembelajaran sangat penting untuk mengetahui keberhasilan progam pembelajaran, dalam penilaian pembelajaran beberapa cara yang dapat dilakukan seperti tes pra pembelajaran dan pasca-sesi pembelajaran yang bertujuan menguji pengetahuan dan mengukur hasilnya dan ujian lisan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari (Dave Meier, 2002:160). Penilaian dalam matematika harus mencakup soal atau tugas yang memerlukan kemampuan berfikir, dengan demikian dapat meningkatkan kemampuan berfikirnya (Depdiknas 2008:10).

Berdasar uraian diatas serta berdasarkan tujuan dan ruang lingkup pembelajaran matematika yang tercantum dalam Permendiknas No 22 Tahun 2006 yang berisikan tentang memahami konsep matematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah matematika, mengkomunikasikan gagasan, dan memiliki sikap menghargai dalam kegunaan matematika, maka pengukuran hasil belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah dengan menggunakan tes dan non tes. Yaitu mencakup tes

(19)

tertulis, dan skala sikap. Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu (Nana Sudjana 2012:80). Dalam penelitian ini pengukuran sikap siswa terhadap pembelajaran matematika.

2.2 Keterkaitan Pembelajaran SAVI dengan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Matematika

Pembelajaran SAVI yang digunakan dalam penelitian ini dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa dan hasil belajar matematika. Melalui pembelajaran SAVI siswa diajak untuk memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar, pembelajaran juga didesain semenarik mungkin dan menyenangkan agar mampu merangsang semua alat indra anak untuk melakukan aktivitas belajar (Meier 2002:90). Berdasar pernyataan tersebut, terlihat bahwa pembelajaran SAVI memiliki karakteristik yang berpusat pada siswa, karena siswa dilibatkan langsung dalam pembelajaran. Dengan demikian penulis simpulkan bahwa pembelajaran SAVI mampu meningkatkani aktivitas belajar siswa. Dalam penelitian ini aktivitas belajar siswa meningkat dengan cara pembelajaran yang dilaksanakan dalam bentuk siswa diajak untuk melakukan pengamatan benda konkrit, permainan, mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang, memanipulasi bangun ruang, menggambar dan membuat jaring-jaring bangun ruang, dan presentasi.

Pembelajaran SAVI juga berpengaruh terhadap hasil belajar matematika.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang dilakukan Riana (2010:7), dengan SAVI dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa, karena dengan pembelajaran SAVI selain siswa lebih aktif dalam belajar, siswa juga dapat memanipulasi benda kogkrit yang dilakukan secara diskusi serta dapat membuat dugaan-dugaan mengenai hasil yang didiskusikan. Dengan demikian penulis simpulkan bahwa pembelajaran dengan SAVI dapat mengaktifkan siswa untuk menemukan sendiri sebab dari permasalahan dalam matematika, sehingga siswa tidak mudah lupa dengan materi yang dipelajari, dengan kondisi tersebut nilai yang diperoleh saat mengerjakan tes

(20)

atau tugas akan lebih baik dengan kata lain hasil belajar siswa juga akan lebih baik. Dengan demikian SAVI dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hasil belajar matematika dapat meningkat karena pengoptimalan aktivitas belajar siswa, yaitu siswa diajak untuk memanipulasi media peraga, mengidentifikasi masalah dalam matematika, presentasi, serta latihan soal.

2.3 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Dian Puspitasari (2011:2), dari hasil penelitiannya setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan penerapan SAVI didapatkan hasil 1) Keaktifan siswa meningkat dari 40,74 pada awal siklus I menjadi 74,81 pada akhir siklus II. 2) Hasil belajar meningkat dari rata-rata 55,83 dan ketuntasan kelas 25,93% sebelum tindakan, meningkat menjadi rata-rata 76,30 dan ketuntasan kelas mencapai 82,14% pada akhir siklus II. Penelitian ini menyimpulkan dengan peneraan SAVI dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Ilman Gunawan (2011:2), hasil penelitiannya menunjukkan dahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan, hal tersebut ditunjukkan dengan 1) Nilai rata-rata aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan, pada siklus I nilai rata-rata sebesar 63,71, siklus II sebesar 69,96, dan siklus III nilai rata-rata 74,40. 2) Hasil belajar meningkat, pada siklus I nilai rata- rata sebesar 65,16, pada siklus II nilai sebesar 75,60, dan pada siklus III nilai sebesar 80,00. 3) Variansi rata-rata nilai menurun, pada siklus I sebesar 197,51, pada siklus II sebesar 111,45 dan pada siklus III nilai sebesar 92,07.

Jadi dengan menggunakan model kooperatif tipe SAVI dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi bangun datar.

Riana Irawati (2010:5) dalam skripsinya menyimpulkan hasil penelitian sebagai berikut: 1) Terdapat peningkatan hasil belajar dalam tiap siklus, sebelumnya semua belum mencapai KKM atau (0%), pada siklus I yang mencapai KKM naik menjadi (46,15%), siklus II (76,92%), dan silkus terakhir menjadi (100%). 2) Terdapat peningkatan peran serta siswa dalam pembelajaran. 3) Siswa lebih senang belajar matematika. 4) Meningkatkan

(21)

kreativitas siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan pembelajaran menggunakan SAVI dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Dian Puspitasari (2011:2), Ilman Gunawan (2011:2), dan Riana Irawati (2010:5) tentang penerapan SAVI dalam kegiatan pembelajaran matematika, yang dilaksanakan dengan menggunakan berbagai media belajar yang konkrit, dilaksanaan diskusi untuk pemecahan masalah, siswa dilatih untuk berbicara atau mengemukakan pendapat, pembelajaran dengan permainan-permainan, sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih mengasyikkan dan terpusat pada siswa. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran matematika dengan SAVI dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar matematika siswa. Peningkatan ini dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata dari tiap siklus pembelajaran. Sehingga SAVI dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika dan terbukti mampu meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar matematika.

2.4 Kerangka Pikir

SAVI yang diterapkan dalam pembelajaran matematika pada penelitian ini dapat meningkatkan aktivitas belajar, karena pembelajaran melibatkan seluruh fisik, indra, dan intelektual anak. Dalam pembelajaran dengan SAVI ini dilakukan permainan, pengamatan media konkrit, diskusi untuk melakukan praktik pembelajaran dan memecahkan permasalahan matematika yang ada, memanipulasi media yang digunakan sehingga pembelajaran mudah dipahami anak, serta mempresentasikan hasil diskusi untuk melatih siswa berbicara didepan orang banyak serta sebagi wujud penghargaan hasil kerja siswa.

Pembelajaran dilakukan dengan kelompok yang heterogen sehingga siswa lebih senang dalam belajar, karena memang diusia anak kelas 5 SD lebih senang belajar dengan teman sebaya. Dengan serangkaian kegiatan pembelajaran tersebut maka aktivitas belajar siswa lebih banyak.

(22)

Pengoptimalan aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat membantu memperkuat ingatan dan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.

Apabila siswa mampu memahami materi dengan baik, maka hasil belajarpun juga akan lebih baik. Peningkatan hasil belajar matematika dilakukan dengan siswa diajak untuk memanipulasi benda peraga, mengidentifikasi masalah dalam matematika, presentasi, serta mengerjakan tugas-tugas matematika.

Proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan serangkaian aktivitas belajar yang maksimal, akan meningkatkan hasil belajar siswa serta menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran dengan SAVI dalam matematika diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar matematika.

2.5 Hipotesis Penelitian

Hipotesis Penelitian Tindakan Kelas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran dengan SAVI dapat meningkatkan aktivitas belajar pada siswa kelas 5 SD Negeri Kumpulrejo 02 Salatiga semester II tahun 2012/2013.

2. Pembelajaran dengan SAVI dapat meningkatkan aktivitas belajar dengan cara; 1) pengamatan benda konkrit, 2) permainan, 3) mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang, 4) memanipulasi bangun ruang , 5) menggambar dan membuat jaring-jaring bangun ruang, 6) presentasi.

3. Pembelajaran dengan SAVI dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas 5 SD Negeri Kumpulrejo 02 Salatiga semester II tahun 2012/2013.

4. Pembelajaran dengan SAVI dapat meningkatkan hasil belajar matematika dengan cara mengoptimalkan aktivitas belajar siswa, seperti: 1), memanipulasi bangun ruang, 2) mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang, 3) presentasi, dan 4) mengerjakan latihan soal.

Referensi

Dokumen terkait

Namun, kenyataannya secara menyeluruh bahwa tidak adanya dicantumkan atau tidak secara rinci menjelaskan ketentuan mengenai pengunduran diri dari organisasi internasional dimana

Perkolasi, adalah proses penyarian simplisia dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar.. Proses perkolasi

Hal ini sesuai dengan pendapat Stein (dalam Yuniarti 2002) kehidupan lajang adalah kehidupan pria dan wanita yang belum menikah, yang tidak terlibat dalam hubungan homoseksual

Sertifikasi Bidang Studi NRG

Dari hasil pengujian dapat diperoleh nilai kalor bahan bakar atas (HHV) meningkat hingga mencapai nilai 11,87 %, untuk nilai kalor bahan bakar bawah (LHV) meningkat hingga 17,18 %,

Ruangan ini berfungsi sebagai ruang pengendali rekaman yang di dalamnya dilengkapi dengan peralatan studio seperti mixer video, TV monitor setiap sumber audio visual satu monitor

Mengingat pentingnya acara ini diminta kepada saudara hadir tepat waktu dan membawa berkas kelengkapan kualifikasi yang terdiri dari :..  Dukungan

PENGADAAN PERALATAN PEMBUATAN BAKSO IKAN Tahun Anggaran 2012, kode. lelang 250282 nilai Total HPS