Jurnal Penelitian
ISLAM EMPIRIK
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus Jawa Tengah
PEMIMPIN UMUM Ahmad Supriyadi PEMIMPIN REDAKSI M. Saekhan Muchith SEKRETARIS REDAKSI Santoso
DEWAN REDAKSI Mas’udi
Amin Nasir Murtadlo Ridwan PENYUNTING AHLI Muhammad Ivan Alfian Ahmad At tabik Ahmad Zain
Muhammad Mustaqim TAT USAHA
Dwi Sulistiono Ahmad Anif Nur Kholis
Vol 5, Nomor 1, Januari - Juni 2012 ISSN: 1693-6019
Alamat Redaksi P3M STAIN Kudus Jl. Conge Ngembalrejo PO BOX 51 Telp. (0291) 432677,
Fax 441613 Kudus 59322 Email: [email protected]
Jurnal Penelitian ISLAM EMPIRIK diterbitkan oleh
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
STAIN Kudus setiap enam bulan sekali dan menerima setiap karya tulis
sesuai dengan maksud jurnal tersebut diatas.
Naskah diketik rapi sekitar 20 halaman spasi 1.5 beserta biodata penulis dan mencantumkan daftar
pustaka sebagai sumber referensi. redaksi berhak memperbaiki susunan kalimat tanpa merubah isi
tulisan yang dimuat
Jurnal Penelitian
ISLAM EMPIRIK
Meretas Nalar Islam, Mengusung Nalar Terapan
Diterbitkan Oleh
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus Jawa Tengah
Pengantar Redaksi ... v - vi Daftar Isi ... vii - viii
PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT TINJAUAN FIQIHOleh: Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc, M.Si ... 1 - 26
MODEL PENGEMBANGAN KARAKTER MELALUI SISTEM PENDIDIKAN TERPADU INSANTAMA BOGOROleh: Agus Retnanto ... 27 - 76
LEGALITAS LEMBAGA KEUANGAN GADAI SYARIAH DI INDONESIA (Studi Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 tentangPerusahaan Umum ”PERUM” Pegadaian)
Oleh: Ahmad Supriyadi ... 77 - 126
KEUNGGULAN KOMPETITIF BERKELANJUTAN MELALUI RANTAI NILAI DAN STRATEGI BERSAING PADA MINI MARKETOleh:Muhammad Husni Mubarok ... 127 - 152
RELIGIUSITAS ANAK JALANAN DI KAMPUNGARGOPURO DESA HADIPOLO KABUPATEN KUDUS
Oleh: Irzum Farihah, S.Ag., M.Si ... 153 - 176
PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
Oleh: Ismanto ... 177 - 204
EPISTEMOLOGI MULLĀ SADRĀ (Kajian Tentang Ilmu Husu>li> dan Ilmu Hudu>ri>). Oleh:.Fathul.Mufid ... 205 - 234
PERGULATAN PEMIKIRAN ISLAM DI RUANG PUBLIK MAYA (Analisis Terhadap Tiga Website Organisasi Islam di Indonesia)Oleh: Muhamad Mustaqim ... 235 - 258
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI SIMBIOSIS PARASITISMA (Studi Analisis Persoalan Riba dalam Kajian Normatif Filosofis)Oleh: H. Solikhul Hadi, M.Ag. ... 259 - 282
POLA KEBERAGAMAAN KAUM TUNA RUNGU WICARA DAN FAKTOR-FAKTOR YANGMEMPENGARUHINYA
Oleh: Sulthon, M.Ag. ... 283 - 318
MENURUT TINJAUAN FIQIH
Oleh: Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc, M.Si1
Abstrak
Pernikahan beda agama adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang pria dan wanita yang beda agama. Pernikahan ini menjadi salah satu persoalan dalam hubungan antar umat beragama. Persoalan ini menimbulkan perbedaan pendapat dari dua pihak yang pro dan kontra, masing-masing pihak memiliki dasar hukum berupa dalil maupun argumen rasional yang berasal dari penafsiran mereka masing-masing terhadap dalil-dalil Islam tentang pernikahan beda agama. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan kajian deskriptif-komparatif- analitis. Mendiskripsikan tentang pernikahan beda agama, mengkomparasikan pendapat ulama, kemudian menganalisisnya secara kritis. Studi banding (komparasi) dilakukan terhadap beberapa pendapat, baik yang melarang pernikahan beda agama maupun yang memperbolehkannya.
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ulama berbeda pendapat tentang pernikahan beda agama dalam beberapa pendapat: pertama, kelompok yang membolehkan nikah antara pria muslim dengan wanita Ahli Kitab, yakni pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama) baik ulama Salaf maupun ulama Khalaf dari Imam-imam Madzhab Empat; kedua, kelompok yang mengharamkan menikahi wanita Ahli Kitab. Yang terkemuka dari kelompok ini dari kalangan sahabat adalah Ibn Umar, dan pendapat ini diikuti oleh kalangan Syi’ah Imamiyah; ketiga, kelompok yang berpendapat bahwa perempuan Ahli Kitab halal hukumnya, tetapi secara politik tidak diperkenankan.
Kata Kunci: Nikah Beda Agama, Madzhab, Jumhur Ulama, Fiqih
1 Penulis adalah Dosen Tetap STAIN Kudus, alumni Fakultas Syari’ah Universitas al-Azhar dan Doktor Hukum Islam IAIN Walisongo Semarang.
A. Pendahuluan
Dalam pandangan fiqih, pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan pria dan wanita yang sekufu (seimbang), sehingga tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Keluarga yang demikian, akan diselimuti rasa tenteram dan penuh cinta kasih sayang. Pernikahan seperti itu hanya akan terjadi jika suami istri berpegang pada agama yang sama, keduanya beragama Islam dan menjalankan syari’at Islam. Apabila agama keduanya berbeda, maka akan timbul berbagai persoalan dalam keluarga, seperti dalam pelaksanaan ibadah, memilih pendidikan anak, pembinaan karir anak dan permasalahan lainnya.
Kemungkinan terjadinya nikah beda agama biasanya di beberapa negara yang hiterogen dan majemuk, seperti bangsa Indonesia yang dikenal dengan “Bhinneka Tunggal Ika”
(berbeda-beda tetapi tetap satu juga). Ini menunjukkan bahwa masyarakat yang majemuk, terutama bila dilihat dari segi etnis, suku bangsa dan agama mempunyai potensi munculnya nikah beda agama. Konsekuensinya, dalam menjalani kehidupannya masyarakat yang majemuk dihadapkan pada perbedaan–
perbedaan dalam berbagai hal, mulai dari kebudayaan, cara pandang hidup dan interaksi antar sesama warga. Oleh karena itu, masalah hubungan antar umat beragama mendapat perhatian serius dari pemerintah dan warga masyarakatnya.
Fenomena bangsa yang majemuk ini menjadikan pergaulan di masyarakat semakin hiterogen dan beragam. Hal ini telah mengakibatkan pergeseran nilai agama yang lebih dinamis daripada yang terjadi pada masa lampau, seorang Muslim dan Muslimat sekarang ini banyak berinteraksi dan bermuamalah dengan non-Muslim. Seorang Muslim dan Muslimat yang hidup di negara yang majemuk seperti ini hampir dipastikan sulit untuk menghindari pergaulan dengan orang yang beda agama. Permasalahan akan muncul apabila interaksi ini kemudian memunculkan ketertarikan pria atau wanita Muslim dengan orang yang beda agama dengannya
atau sebaliknya, yang berujung pada pernikahan. Dengan kata lain, persoalan pernikahan antar agama menjadi persoalan yang terjadi pada setiap masyarakat yang hiterogen.
Salah satu persoalan dalam hubungan antar umat beragama ini adalah masalah Pernikahan Muslim dengan non- Muslim yang selanjutnya disebut sebagai pernikahan beda agama. Persoalan ini menimbulkan perbedaan pendapat dari dua pihak yang pro dan kontra, masing-masing pihak memiliki dasar hukum berupa dalil maupun argumen rasional yang berasal dari penafsiran mereka masing-masing terhadap dalil- dalil Islam tentang pernikahan beda agama.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan kajian deskriptif-komparatif- analitis. Mendiskripsikan tentang pernikahan beda agama, mengkomparasikan pendapat ulama, kemudian menganalisisnya secara kritis. Studi banding (komparasi) dilakukan terhadap beberapa pendapat, baik yang melarang pernikahan beda agama maupun yang memperbolehkannya.
B. Konsep Pernikahan Beda Agama
Sebelum memaparkan lebih jauh tentang pernikahan beda agama, alangkah baiknya dijelaskan terlebih dulu tentang definisi nikah baik menurut syari’ah maupun menurut undang- undang. Nikah menurut Muhammad Abu Ishrah adalah akad yang memberikan faidah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami-istri) antara pria dan wanita, serta mengadakan tolong menolong dan memberi batas hak bagi pemiliknya, serta pemenuhan kewajiban bagi masing-masing.
Adapun definisi nikah menurut jumhur ulama adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan kelamin dengan lafadz nikah atau ziwaj atau yang semakna dengan keduanya (Darajat, 1995: 37).
Sedangkan pengertian pernikahan menurut Undang- undang No. 1 Tahun 1974 adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami-istri dengan tujuan
untuk membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Bab 1 Pasal 1).
Maksud dari pernikahan beda agama adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang pria dan wanita yang beda agama.
Masalah pernikahan berbeda agama ini sebenarnya terbagi dalam 2 kasus keadaan, antara lain: pertama, pernikahan antara laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslimah, dan kedua, pernikahan antara laki-laki Muslim dengan wanita non-Muslimah.
Yusuf Qardhawi membagi golongan non-Muslim menjadi beberapa golongan, di antaranya: Golongan Musyrik, Mulhid, Murtad, Baha’i, dan Ahli Kitab (Qardhawi, 1978: 402- 406). Musyrik adalah penyembah berhala atau orang yang menyekutukan Allah, Mulhid adalah golongan orang-orang yang menganut ateis, Murtad adalah golongan orang yang keluar dari agama Islam, Baha’i termasuk di antara golongan orang-orang yang Murtad, dan Ahli Kitab adalah kaum Yahudi dan Nashrani (Chuzaimah dan Hafizh Anshary (ed.), 2002: 13).
Sedangkan menurut al-Jaziry dalam bukunya Kitab al- Fiqh `alâ al-Madzâhib al-Arba’ah,, golongan non-Muslim dibagi menjadi tiga golongan: pertama, golongan yang tidak berkitab, baik samawi maupun kitab lainnya. Mereka adalah penyembah berhala, dan orang-orang Murtad disamakan dengan mereka.
Kedua, golongan yang mempunyai kitab semacam samawi.
Mereka adalah orang-orang Majusi yang menyembah api.
Mereka mengubah-ubah kitab yang diturunkan kepada mereka dan membunuh nabi mereka dari Zaradusyta. Ketiga, golongan yang mempunyai kitab suci samawi. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang percaya kepada Taurat dan orang-orang Nashrani yang mempercayai Injil (al-Jazairi, 1986: 11).
Adapun non-Muslim dalam al-Qur’an dibagi menjadi dua bagian di antaranya adalah: pertama, kaum Musyrikin.
Al-Qur’an menyebut tentang golongan Musyrikin, sekaligus menjadi dasar hukum nikah antara kaum Muslimin dan Muslimat dengan mereka yaitu firman Allah SWT.:
ﭻ ﭺ ﭹ ﭸ ﭷﭶ ﭵ ﭴ ﭳ ﭲ ﮅﮄ ﮃ ﮂ ﮁ ﮀ ﭿﭾ ﭽ ﭼ ﮐ ﮏ ﮎ ﮍﮌ ﮋ ﮊ ﮉ ﮈ ﮇ ﮆ ﮛ ﮚ ﮙﮘ ﮗ ﮖ ﮕ ﮔ ﮓ ﮒﮑ ﮞ ﮝ ﮜ
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah:
221)
Kedua, Ahli Kitab. Sebagaimana firman Allah:
ﯤ ﯣ ﯢ ﯡ ﯠ ﯟ ﯞﯝ ﯜ ﯛ ﯚ ﯭ ﯬ ﯫ ﯪ ﯩ ﯨﯧ ﯦ ﯥ ﯵ ﯴ ﯳ ﯲ ﯱ ﯰ ﯯ ﯮ ﯾ ﯽ ﯼﯻ ﯺ ﯹ ﯸ ﯷ ﯶ ﰇ ﰆ ﰅ ﰄ ﰃ ﰂ ﰁ ﰀ ﯿ
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-Mâ’idah: 5)
Ulama sangat bervariasi dan tidak ada kata sepakat (ijma’) dalam menetapkan Musyrik dan Ahli Kitab. Sebagian ulama memasukkan istilah Ahli Kitab ke dalam kategori Musyrik, dan ada pula yang membedakan keduanya secara tegas. Ibn Umar misalnya, ia menganut yang pertama, sebagaimana ditegaskan:
“Saya tidak melihat syirik yang lebih berat dari perkataan wanita itu bahwa tuhannya Isa” (ash-Shabuni, 1972: 536). Sedangkan seperti Syaikh Mahmud Syaltut, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan yang sependapat dengan mereka membedakan dengan jelas antara musyrik dengan ahli kitab (Ridha, 1380 H: 186-187). Qatadah, seorang mufassir dari kalangan tabi’in, sebagaimana dikutip oleh Rasyid Ridha, berpendapat bahwa yang dimaksud musyrik dalam ayat 221 surat al-Baqarah adalah penyembahan berhala pada saat al-Qur’an turun. Karena itu ayat tersebut tidak tegas melarang menikahi dengan orang Musyrik selain bangsa Arab, seperti Cina/Konghucu, Budha, dan lain-lain (Ridha, 1380 H: 190).
Rasyid Ridha lebih tegas lagi, ia menganggap bahwa Majusi (penyembahan api ) Shabi’in (penyembahan bintang) sebenarnya mereka dulunya mempunyai kitab dan nabi, namun karena masanya sudah terlalu lama dan jarak yang terlalu jauh dengan nabi maka kitab yang asli tidak dapat diketahui (Ridha, 1380 H: 186-187). Pendapat inilah yang dijadikan ketentuan oleh negara Pakistan. Rasyid Ridha mendasarkan pendapatnya pada firman Allah SWT.:
ﮄ ﮃ ﮂ ﮁ ﮀ ﭿ ﭾ ﭽﭼ ﭻ ﭺ ﭹ ﭸ
“Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, serta tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Fatir: 24)
Juga firman Allah:
ﭵﭴ ﭳ ﭲ ﭱﭰ ﭯ ﭮ ﭭ ﭬ ﭫ ﭪ ﭩ ﭨ
ﭸ ﭷ ﭶ
“Orang-orang yang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra’d: 7)
Juga firman Allah:
ﯛ ﯚ ﯙ ﯘ ﯗ ﯖ ﯕ ﯔ ﯓ ﮱ ﮰ ﮯ ﯦ ﯥ ﯤ ﯣ ﯢ ﯡ ﯠ ﯟ ﯞ ﯝ ﯜ ﯬ ﯫ ﯪ ﯩﯨ ﯧ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al- Hadîd: 16)
Juga firman Allah:
ﭾ ﭽ ﭼ ﭻﭺ ﭹ ﭸ ﭷ ﭶ ﭵ ﭴ
“Dan dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati, amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al- Mukmin: 78)
Di samping itu, ada pendapat lain dari ulama Syafi’iyah yang menegaskan bahwa yang dimaksud Ahli Kitab yang halal dinikahi adalah mereka yang memeluk agama nenek moyangnya sebelum Nabi Muhammad diutus dan setelah itu tidak dapat dikatakan lagi Ahli Kitab (as-Sayis, 1953: 168).
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Realita masyarakat sekarang ini sangat majemuk, yang terdiri dari berbagai macam suku, golongan, ras dan agama serta kaya akan budaya. Hiterogenitas masyarakat yang majemuk itu sangat memungkinkan terjadinya perkawinan antar suku, antar golongan bahkan antar agama. Namun hal yang terakhir ini bagi umat Islam merupakan hal yang sangat peka, bahkan
sangat merisaukan sebagian umat Muslim di manapun mereka berada (Baidan, 2001: 23). Persoalan sosial yang kompleks tersebut tentunya harus didekati melalui berbagai disiplin ilmu, sehingga persoalan- persoalan tersebut bisa terjawab dengan benar dan jelas serta memberikan kepastian hukum kepada masyarakat.
Pernikahan beda agama antara Muslim dengan non- Muslim dalam perspektif fiqih, tentunya berangkat dari pene- lusuran terhadap sumber pokok ajaran Islam (al-Qur’an dan sunnah) serta pendapat ulama dalam mencermati perkembangan hukum Islam tentang hal tersebut. Untuk mempersingkat pembahasan, paling tidak ada dua golongan yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu golongan Musyrik dan golongan Ahli Kitab yang sekaligus menjadi dasar hukum pernikahan antara Muslim dengan mereka.
C.1. Pernikahan pria Muslim dengan wanita non-Muslimah Dalam konteks fiqih, wanita non-Muslimah yang dimaksud dalam pernikahan ini dibagi menjadi dua:
Pertama, pernikahan pria Muslim dengan wanita Musyrik dan wanita Murtad. Semua ulama sepakat bahwa seorang pria Muslim haram hukumnya menikahi wanita Musyrik dan wanita Murtad. Dasar hukumnya adalah:
1. Tentang keharaman menikahi wanita Musyrik, Allah SWT.
berfirman:
ﭻ ﭺ ﭹ ﭸ ﭷﭶ ﭵ ﭴ ﭳ ﭲ ﮅﮄ ﮃ ﮂ ﮁ ﮀ ﭿﭾ ﭽ ﭼ ﮐ ﮏ ﮎ ﮍﮌ ﮋ ﮊ ﮉ ﮈ ﮇ ﮆ ﮛ ﮚ ﮙﮘ ﮗ ﮖ ﮕ ﮔ ﮓ ﮒﮑ ﮞ ﮝ ﮜ
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik
dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah:
221)
2. Tentang keharaman menikahi wanita Murtad. Seorang wanita yang Murtad dari agama Islam dianggap tidak beragama, sekalipun ia pindah ke agama Samawi (Abu Zahra, t.th.: 114). Apabila seorang pria Muslim menikahi wanita Ahli Kitab, kemudian istrinya pindah ke agama orang kafir yang bukan Ahli Kitab, maka wanita itu boleh dipaksa untuk masuk Islam. Jika tidak mau maka harus ditalak.
Ulama fiqih sepakat bahwa seorang pria Muslim tidak boleh menikah dengan wanita yang tidak beragama Samawi (agama yang mempunyai kitab dan diturunkan oleh Allah melalui Nabi, serta agama Samawi ini namanya disebut dalam al-Qur’an). Wanita yang tidak beragama samawi tidak boleh dinikahi, karena mereka termasuk golongan Musyrikat yang dilarang dinikahi dalam surat Al-Baqarah ayat 221 di atas.
Kedua, pernikahan pria Muslim dengan wanita Ahli Kitab. Ibrahim Hosen mengelompokkan pendapat para ulama’
mengenai pernikahan tersebut, dalam tiga kelompok, yakni ada yang menghalalkan, ada yang mengharamkan dan ada yang menyatakan halal tetapi secara politik tidak diperkenankan (Husen, 1971: 201-204). Secara detil pengelompokan Ibrahim Hosen ini sebagai berikut:
1. Kelompok yang membolehkan nikah antara pria muslim dengan wanita Ahli Kitab, yakni pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama) baik ulama Salaf maupun ulama Khalaf dari Imam-imam Madzhab Empat. Mereka mendasarkan pendapatnya pada:
Pertama, dalil al-Qur’an surat Al-Mâ’idah ayat 5:
ﯰ ﯯ ﯮ ﯭ ﯬ ﯫ ﯪ ﯩ ﯨ ﯸ ﯷ ﯶ ﯵ ﯴ ﯳ ﯲ ﯱ ﯼﯻ ﯺ ﯹ
“(Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik- gundik.” (QS. Al-Mâ’idah: 5)
Kedua,Ahli Kitab tidak termasuk Musyrikin. Surat Al-Baqarah ayat 221 bersifat umum, sedangkan surat Al- Mâ’idah ayat 5 berfungsi mengkhususkan keumuman surat Al-Baqarah ayat 221. Mereka juga mengatakan bahwa surat Al-Mâ’idah ayat 5 merupakan nasikh dari surat Al-Baqarah ayat 221.
Ketiga, sejarah telah menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi pernah menikahi wanita Ahli Kitab. Pada zaman nabi ada beberapa sahabat yang melakukannya (Abu Zahra, 1991: 113). Mayoritas sahabat (kecuali Abdullah bin Umar) telah sepakat bahwa menikahi wanita-wanita Ahli Kitab hukumnya boleh. Dalam praktiknya ada di antara sahabat yang menikahi Ahli Kitab, seperti Thalhah bin Ubaidillah.
Perlu diketahui bahwa menurut Imam Syafi’i, wanita Ahli Kitab yang halal dinikahi oleh seorang pria Muslim adalah wanita yang menganut agama Yahudi dan Nasrani sebagai agama keturunan dari nenek moyang mereka yang menganut agama tersebut sejak masa sebelum Nabi Muhammad Saw. diutus menjadi Rasul, berarti sebelum al-Qur’an diturunkan. Dengan demikian, orang yang baru menganut agama Yahudi dan Nasrani sesudah al-Qur’an diturunkan, tidak dianggap Ahli Kitab. Hal ini karena ada
ungkapan min qablikum (dari sebelum kamu) dalam surat Al-Mâ’idah ayat 5. Ungkapan min qablikum tersebut menjadi qayyid bagi Ahli Kitab yang dimaksud.
2. Kelompok yang mengharamkan menikahi wanita Ahli Kitab. Yang terkemuka dari kelompok ini dari kalangan sahabat adalah Ibn Umar, dan pendapat ini diikuti oleh kalangan Syi’ah Imamiyah. Ketika Ibn Umar ditanya tentang menikahi wanita Yahudi dan Nasrani, ia menjawab,
“Sesungguhnya Allah SWT. mengharamkan wanita-wanita Musyrik bagi kaum Muslimin. Saya tidak tahu, syirik manakah yang lebih besar daripada seorang wanita yang berkata bahwa Tuhannya adalah Nabi Isa, sedangkan Nabi Isa adalah seorang di antara hamba Allah SWT (Ibnu Hazm, t.th.: 445).
Dasar hukum yang digunakan oleh kelompok ini adalah: Pertama, pemahaman terhadap al-Qur’an surat al- Baqarah ayat 221:
ﭻ ﭺ ﭹ ﭸ ﭷﭶ ﭵ ﭴ ﭳ ﭲ ﮅﮄ ﮃ ﮂ ﮁ ﮀ ﭿﭾ ﭽ ﭼ ﮐ ﮏ ﮎ ﮍﮌ ﮋ ﮊ ﮉ ﮈ ﮇ ﮆ ﮛ ﮚ ﮙﮘ ﮗ ﮖ ﮕ ﮔ ﮓ ﮒﮑ ﮞ ﮝ ﮜ
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita Musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita Musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang Musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang Musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah:
221)
Kedua, firman Allah SWT. dalam surat Mumtahanah ayat 10:
ﯴ ﯳ ﯲﯱ ﯰ ﯯ ﯮ ﯭ ﯬ ﯫ ﯪ ﰂ ﰁﰀ ﯿ ﯾ ﯽﯼ ﯻ ﯺ ﯹ ﯸ ﯷ ﯶ ﯵ ﰇ ﰆ ﰅ ﰄﰃ
“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS.
Mumtahanah: 10)
Menurut kelompok ini, kedua ayat di atas melarang seorang pria Muslim menikahi wanita-wanita kafir. Ahli Kitab termasuk golongan orang kafir Musyrik karena orang Yahudi menuhankan Uzer dan orang Nasrani menuhankan Isa bin Maryam, sedangkan dosa syirik tidak diampuni oleh Allah jika mereka tidak mau bertaubat kepada Allah SWT.
Imam Muhammad ar-Razi dalam at-Tafsîr al-Kabîr wa Mafâtih al-Ghaib menyebutkan bahwa ayat tersebut sebagai ayat-ayat permulaan yang secara eksplisit menjelaskan hal-hal yang halal (mâ yuhallu) dan hal-hal yang dilarang (mâ yuhramu).
Menikahi orang Musyrik dan Ahli Kitab merupakan salah satu perintah Allah dalam kategori “haram” dan “dilarang”
(ar-Razi, 1995: 59).
Imam ar-Razi juga berpandangan bahwa dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an memasukkan Kristen dan Yahudi sebagai Musyrik. Kategori Musyrik dalam kedua agama samawi tersebut, dikarenakan orang -orang Yahudi menganggap Uzair sebagai anak Tuhan, sedang orang- orang Kristen menganggap al-Masih sebagai anak Tuhan.
Dapat dilihat bagaimana al-Qur’an secara cermat dan jelas membedakan pengertian antara Musyrik dan Ahli Kitab.
Dalam surat al-Baqarah ayat 5, Allah berfirman, “Orang- orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang Musyrik tidak
menginginkan diturunkan nya suatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu…” Dalam surat al-Bayyinah ayat 1, Allah juga menyebutkan, “Orang-oring kafir dari Ahli Kitab dan orang- orang kafir Musyrik tak akan melepaskan (kepercayaan mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata.”
Ketiga, surat Al-Mâ’idah ayat 5 yang dijadikan dalil bagi kelompok yang membolehkan pria Muslim menikahi wanita Ahli Kitab, menurut kelompok ini hendaknya dipahami sebagai wanita Ahli Kitab yang telah masuk Islam, atau dimungkinkan pengertiannya adalah menikahi Ahli Kitab pada saat wanita masih sedikit.
3. Kelompok yang berpendapat bahwa perempuan Ahli Kitab halal hukumnya, tetapi secara politik tidak diperkenankan.
Pendapat ini didasarkan pada beberapa hal:
Pertama, riwayat Umar ibn Khaththab yang memerintahkan kepada para sahabat yang beristri Ahli Kitab untuk menceraikannya, lalu para sahabat mematuhinya kecuali Hudzaifah. Maka Umar memerintahkan kedua kalinya kepada Hudzaifah, “Ceraikanlah ia.” Lalu Hudzaifah berkata kepada Umar, “Maukah kamu menjadi saksi bahwa menikahi perempuan Ahli Kitab itu adalah haram?” Umar menjawab, “Ia akan menjadi fitnah, ceraikanlah”, kemudian Hudzaifah mengulangi permintaan tersebut, namun jawab Umar, “Ia adalah fitnah.” Akhirnya Hudzaifah berkata,
“Sesungguhnya aku tahu ia adalah fitnah tetapi ia halal bagiku.” Setelah Hudzaifah meninggalkan Umar, barulah ia mentalak istrinya. Kemudian ada sahabat yang bertanya kepadanya, “Mengapa tidak engkau talak istrimu ketika diperintah Umar?” Jawab Hudzaifah, “Karena aku tidak ingin diketahui orang bahwa aku melakukan hal-hal yang tidak layak.” (Ibnu Qudamah, t.th.: 590).
Kedua, menikahi wanita Ahli Kitab berbahaya karena dikhawatirkan si suami akan terikat hatinya, apalagi setelah mereka memperoleh keturunan. Bolehnya pernikahan
wanita Ahli Kitab akan menjadi persoalan karena kebolehan itu tidak mutlaq tetapi muqayyad.
Madzhab Hanafi berpendapat bahwa wanita Ahli Kitab yang berada di Darul Harbi, merupakan pembuka pintu fitnah. Melakukan pernikahan dengan mereka hukumnya makruh tahrim, karena akan mengakibatkan mafasid. Menikahi wanita Ahli Kitab Dzimmi yang tunduk pada undang- undang Islam hukumnya makruh tahrim. Sedangkan ulama Madzhab Maliki terbagi menjadi dua pendapat; pertama, menikahi wanita Ahli Kitab hukumnya makruh mutlak, baik Dzimmi maupun Harbi. Kedua, tidak makruh secara mutlak, karena ada ayat yang membolehkannya.
Adapun menurut ulama kontemporer, ada beberapa pendapat tentang pernikahan pria Muslim dengan wanita Ahli Kitab:
1. Al-Jaziri berpendapat bahwa hukum pernikahan antara pria Muslim dengan wanita Ahli Kitab hukumnya mubah, akan tetapi menjadi persoalan bagi suami (muslim) terlebih setelah punya anak. Sebab kemudahan itu tidak bersifat mutlaq, namun muqayyad (a1-Jazairi, 1986: 76).
2. Menurut Sayyid Sabiq, hukum pernikahan antara pria Muslim dengan wanita Ahli Kitab, meskipun jaiz tetapi makruh karena menurutnya suami tersebut tidak terjamin bebas dari fitnah istri. Terlebih dengan kitabiyah harbiyah (Sabiq, 1973: 101).
3. Demikian juga dengan Yusuf Qardhawi yang berpendapat bahwa kebolehan nikah dengan wanita kitabiyah tidak mutlaq, tetapi terikat dengan qayid-qayid yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. wanita Ahli Kitab itu benar-benar berpegangan pada ajaran Samawi, tidak ateis dan murtad.
b. wanita Ahli Kitab itu muhshanah (memelihara dirinya dari perbuatan zina).
c. Ia tidak kitabiyah harbiyah. Hal ini berarti kitabiyah
dzimmiy hukumnya boleh.
d. Dipastikan tidak terjadi “fitnah”, baik dalam kehidupan rumah tangga terlebih dalam kehidupan sosial masyarakat. Sehingga semakin tinggi kemungkinan terjadi fitnah dan mafsadah, maka semakin besar tingkat larangan dan keharamannya (Qardhawi, 1978: 470).
4. Rasyid Ridha mengemukakan, “Kami telah memperingatkan bahaya pernikahan dengan wanita Ahli Kitab. Suami bisa tertarik mengikuti agama istrinya karena ilmu dan kecantikannya, atau karena kebodohan dan kelemahan akhlak suami. Hal ini banyak terjadi pada pernikahan pria Muslim yang lemah dengan wanita Eropa modern atau wanita Ahli Kitab lainnya. Mereka terpengaruh fitnah istri mereka, sehingga dengan prinsip saddudzdzari’ah seorang pria Muslim haram menikah dengan wanita Ahli Kitab (Ridha, 1380 H: 193).
5. Yusuf Qardhawi juga mengatakan, “Kita mengetahui bahwa nikah dengan wanita non-Muslimah pada masa kita terlarang guna menghindari dzari’ah, karena banyak madharat dan mafsadahnya, di antaranya:
a. Pada abad modern, kekuasaan pria Muslim atas wanita modern semakin berkurang. Padahal pribadi wanita semakin menguat, terutama wanita Barat.
b. Jika pernikahan antara pria Muslim dengan wanita non- Muslimah diperbolehkan, maka hal ini akan berpengaruh pada perimbangan antara wanita Muslimah dengan pria Muslim. Wanita Muslimah yang belum nikah akan semakin banyak dibandingkan dengan pria Muslim yang belum menikah.
c. Pernikahan dengan wanita non-Muslimah akan menimbulkan kesulitan dalam interaksi suami istri dan dalam mengatur pendidikan anak-anak. Terlebih lagi jika pria Muslim dan wanita non-Muslimah berbeda tanah air, bahasa, kebudayaan, dan tradisi, misalnya
seorang pria Muslim Indonesia menikah dengan wanita non-Muslimah dari Eropa atau negara lainnya.
d. Suami mungkin bisa terpengaruh oleh agama istrinya, demikian juga anak-anaknya. Jika hal ini terjadi, maka fitnah yang dikhawatirkan itu benar-benar menjadi kenyataan.
Oleh karena itu, dengan adanya empat madharat dan mafsadah di atas, menurut Yusuf Qardhawi menghindarinya harus didahulukan daripada mendatangkan mashlahat (Qardhawi, 1978: 414). Oleh karena itu, menghindari nikah beda agama harus lebih didahulukan daripada melakukannya.
6. Muhammad Quraish Shihab menyimpulkan bahwa memang surat al-Mâ’idah ayat 5 di atas membolehkan pernikahan antar pria muslim dengan wanita ahl al-kitab, tetapi izin tersebut adalah sebagai jalan keluar karena kebutuhan mendesak ketika itu, di mana kaum muslimin sering berpergian jauh melaksanakan jihad tanpa mampu kembali ke keluarga mereka, sekaligus juga untuk tujuan dakwah (Shihab, 2005: 30).
C.2. Pernikahan wanita Muslimah dengan pria non-Muslim Jumhur ulama sepakat bahwa wanita Muslimah haram hukumnya menikah dengan pria non-Muslim. Hal ini karena al- Qur’an secara tegas menyebutkan keharamannya, sebagaimana firman Allah SWT:
ﭻ ﭺ ﭹ ﭸ ﭷﭶ ﭵ ﭴ ﭳ ﭲ
ﮅﮄ ﮃ ﮂ ﮁ ﮀ ﭿﭾ ﭽ ﭼ
ﮐ ﮏ ﮎ ﮍﮌ ﮋ ﮊ ﮉ ﮈ ﮇ ﮆ
ﮛ ﮚ ﮙﮘ ﮗ ﮖ ﮕ ﮔ ﮓ ﮒﮑ
ﮞ ﮝ ﮜ
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah:
221)
Ayat di atas menjelaskan kepada para wali untuk tidak menikahkan wanita Muslimah dengan pria non-Muslim.
Keharaman tersebut bersifat mutlak, maksudnya wanita Muslimah haram hukumnya secara mutlak menikah dengan pria non-Muslim, baik pria Musyrik maupun Ahli Kitab.
Syaikh al-Maraghi dalam menafsirkan ayat di atas, menjelaskan bahwa menikahkan wanita dengan laki-laki non muslim adalah haram, berdasarkan sunah (hadits) Nabi dan ijma’ ulama. Rahasia larangan ini (menurutnya) adalah karena istri tidak punya wewenang seperti suami, bahkan keyakinan berusaha memaksa istri untuk menukar keimanannya sesuai dengan keyakinan suami, karena lemahnya posisi istri (a1- Maraghi, 1974: 153).
Pendapat senada juga disampaikan ash-Shabuni.
Menurutnya, dalam surat al-Mâ’idah ayat 5 Allah hanya menegaskan “makananmu halal bagi mereka” dan tidak ditegaskannya wanita-wanitamu halal bagi mereka. Penegasan teks tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh ash-Shabuni, dapat dijadikan indikator bahwa hukum kedua kasus itu tidak sama, artinya dalam makanan mereka boleh saling memberi dan menerima serta masing-masing boleh menekan dari keduanya.
Namun dalam kasus menikahkan wanita-wanita Muslimah dengan pria non-Muslim lebih urgen ketimbang dengan masalah “makan” serta memberikan dampak yang lebih luas, sehingga tidak ada hubungan antara keduanya dan tidak bisa diqiyaskan begitu saja (ash-Shabuni, 1972: 536).
C.3.Pernikahan Beda Agama Menurut Undang-undang Perkawinan
Sebagamana telah penulis paparkan pendapat ulama fiqih, mereka sepakat bahwa seorang wanita Muslimah dilarang me nikah dengan pria non-Muslim. Sedangkan seorang pria Muslim dilarang menikah dengan wanita non-Muslimah yang Musyrik, namun para ulama berbeda pendapat ketika mereka menetapkan hukum pernikahan pria Muslim dengan perempuan Ahli Kitab. Adanya perbedaan hukum dalam masalah ini akan ber implikasi pada timbulnya putusan yang berbeda pada kasus yang sama di pengadilan, karena hakimnya mempunyai paham hukum yang berbeda, hal ini akan menimbulkan suatu ketidakpastian hukum.
Untuk keluar dari problem tersebut para pakar hukum Islam di Indonesia telah berupaya menyatukan pendapat yang mereka kumpulkan dalam sebuah Undang-undang dan Kompilasi dengan berbagai metode dalam menyatukan pendapat itu. Usaha tersebut telah menghasilkan Undang- undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam yang kemudian ditetapkan dengan Inpres No.
1/1991. Agar Undang-undang Perkawinan (No. 1 Tahun 1974) dapat dilaksanakan dengan seksama, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1975.
Dengan demikian, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan Undang-undang yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang terkait dengan perkawinan (nikah, talak, cerai, dan rujuk) di Indonesia, yang ditanda tangani pengesahannya pada tanggal 2 Januari 1974 oleh Presiden Soeharto. Undang-undang ini merupakan hasil usaha untuk menciptakan hukum nasional dan merupakan hasil unifikasi hukum yang menghormati adanya variasi berdasarkan agama.
Dalam konteks pernikahan, UU No. 1/1974, PP. No. 9 Tahun 1975 dan Inpres No. 1/1991 merupakan peraturan yang memuat nilai-nilai hukum Islam, bahkan KHI merupakan fiqh
Indo nesia yang sepenuhnya memuat materi hukum keperdataan Islam (perkawinan, kewarisan dan perwakafan). Dalam perkembangan hukum perbedaan agama dan keluarga Islam kontemporer mengalami banyak perkembangan pemikiran, antara lain dalam hal pernikahan beda agama.
Sebelum diundangkannya Undang-undang Perkawin an Nomor 1 Tahun 1974, di Indonesia pernah berlaku peraturan hukum antar golongan tentang pernikahan campur an, yaitu Regeling op de Gemengde Huwelijken (GHR) atau peraturan tentang perkawinan campuran sebagaimana dimuat dalam Staatblad 1898 Nomor 158 (Redaksi, 1989: 744-788). Pasal 1 dari peraturan tentang perkawinan campur (GHR) itu dinyatakan bahwa yang dinamakan perkawinan campuran ialah perkawinan antara orang-orang di Indonesia yang tunduk kepada hukum yang berlainan. Terhadap pasal ini ada tiga pandangan dari para ahli hukum mengenai perkawinan antara agama. Sebagaimana diungkapkan oleh Sudargo Gautama adalah: perkawinan campuran antar agama dan antar tempat termasuk di bawah GHR, perkawinan antar agama dan antartempat tidak ter masuk di bawah GHR, hanya perkawinan antar agama yang termasuk di bawah GHR (Abu Bakar, 1993: 139).
Dengan berlakunya Undang-undang Per kawinan Nomor 1 Tahun 1974, seperti disebut pada pasal 66 UUP, maka semua ketentuan-ketentuan perkawinan terdahulu sepanjang telah diatur dalam Undang-undang tersebut di nyatakan tidak berlaku. Pemahaman tentang Pasal demi Pasal dari UU No.1/1974, khususnya yang berkaitan dengan perkawinan beda agama, di kalangan para ahli dan praktisi hukum, dapat dijumpai tiga pendapat:
Pertama, golongan yang berpendapat bahwa perkawinan beda agama merupakan pelanggaran terhadapUU No. 1/1974.
Hal ini karena dalam pasal 2 ayat (1) disebutkan: “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya kepercayaan itu,” demikian juga pasal 8 huruf (f):
“Perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai
hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.”
Kedua, golongan yang berpendapat bahwa perkawinan beda agama hukumnya sah dan dapat dilangsungkan karena telah tercakup dalam perkawinan campuran, sebagaimana termaktub dalam pasal 57 Undang-undang Perkawinan ini dan pelaksanaannya dilakukan menurut tatacara yang diatur oleh pasal 6 GHR dengan merujuk pasal 66 UU No. 1/1974.
Sedangkan golongan yang ketiga berpendapat bahwa perkawinan antara agama sama sekali tidak diatur dalam UU No. 1/1974, oleh karenanya sesuai dengan pasal 66 UU No.
1/1974, maka peraturan-peraturan lama dapat diberlakukan.
Oleh karena itu, persoalan pernikahan beda agama bisa merujuk pada Peraturan Perkawinan Campuran yang terdapat pada Regeling op de Gemengde Huwelijken (GHR) atau peraturan tentang perkawinan campuran sebagaimana dimuat dalam Staatblad 1898 Nomor 158.
Menanggapi tiga pandangan di atas, menurut Ahmad Sukarja bahwa tidak diaturnya perkawinan antar agama secara tegas dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974, karena perkawinan itu memang tidak dikehendaki pelaksanaannya.
Hal ini mengacu pasal 2 ayat (1) menentukan sah atau tidaknya perkawinan. Jadi bila pasal 66 UU No. 1/1974 yang merujuk pasal 2 dan 7 ayat (2) GHR dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan hukum materiil adalah terlalu dipaksakan, karena mengingat lembaga perkawinan antar agama di Indonesia kurang dikehendaki, sehingga tidak diperlukan adanya pemenuhan hukum materiil.
Sedangkan terhadap pendapat yang cenderung membuka kemungkinan dipaksakannya perkawinan berbeda agama berdasarkan pasal 57 UU No. 1/1974 “…perkawinan antara dua orang di Indonesia tunduk pada hukum yang berbeda…”, tentunya Pasal tersebut tidak dipahami secara parsial dan seharusnya antara pasal-pasal dalam bab itu dipahami secara menyeluruh dalam satu kesatuan dengan konteks perbedaan
kewarganegaraan. Dengan demikian menurut Ahmad Sukarja ketentuan boleh tidaknya perkawinan di Indonesia harus dikembalikan kepada hukum agama (Chuzaimah dan Hafizh Anshary (ed.), 2002: 31-32).
Prof. HM. Rasjidi, menteri agama pertama RI, dalam artikelnya di Harian Abadi edisi 20 Agustus 1973, menyoroti secara tajam RUU Perkawinan yang dalam pasal 10 ayat (2) disebutkan: “Perbedaan karena kebangsaan, suku, bangsa, negara asal, tempat asal, agama, kepercayaan dan keturunan, tidak merupakan penghalang perkawinan.” Pasal dalam RUU tersebut jelas ingin mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang menyatakan: “Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan membentuk satu keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dengan hubungan dengan perkawinan, selama dalam perkawinan dan dalam soal perceraian.”
Adapun dalam Kompilasi Hukum Islam yang ditetapkan dengan Inpres No. 1/1991, dalam pasal 40 huruf c terdapat rumusan yang menetapkan perkawinan seorang pria Muslim dilarang melangsungkan perkawinan dengan wanita yang tidak beragama Islam. Dengan demikian Kompilasi Hukum Islam khususnya dalam pasal tersebut telah menghilangkan wacana perbedaan pendapat dalam masalah nikah beda agama yang sekaligus akan dapat menjaga aqidah agamanya serta mewujudkan kemaslahatan umat. Adapun posisi pemerintah (Inpres) untuk menghilang kan perbedaan dan menjaga kemaslahatan ini adalah merupakan hak yang melekat padanya sehingga mempuyai kewenangan karena dalam kaidah fiqih disebutkan:
ةحلصملاب طونم ةيعرلا ىلع ماملإا فرصت
“Kebijakan Imam terhadap rakyat ini harus disesuaikan dengan kemaslahatan” (Mudjib, 1980: 51)
Larangan pernikahan beda agama ini tujuannya semata- mata untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga serta akidah dan kemaslahatan umat Islam. Hal ini sebagaimana kaidah fiqih yang menyebutkan; “sesuatu yang diharamkan karena saddudzdzariah dapat dibolehkan karena ada maslahat yang lebih kuat” (Syafei, 1999: 256) Dengan beberapa uraian kaidah fiqih di atas maka Presiden selaku Kepala Negara dibenarkan jika menetapkan sesuatu yang tadinya menjadi polemik di masyarakat dengan mengambil salah satu pendapat karena adanya alasan saddudzdzari’ah dan kemaslahatan umat tersebut (asy-Syaukani, t.th.: 246).
Mengenai pengaturan hukum Perkawinan Campuran, terutama perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda dalam Negara Republik Indonesia berdasar Pancasila ada perbedaan pendapat di kalangan para pakar hukum di Indonesia. Ada yang menyatakan bahwa Negara Republik Indonesia berdasar Pancasila menghormati agama-agama dan mendudukkan hukum agama dalam kedudukan fundamental. Dalam negara berdasar Pancasila tidak boleh agama-agama yang ada di Indonesia melarang perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda. Pendapat ini menyatakan bahwa UU Perkawinan tidak mengatur perkawinan (campuran) antar agama. Tiap agama telah ada ketentuan tersendiri yang melarang perkawinan beda agama.
Seorang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Daud Ali (alm.) menjelaskan dalam bukunya yang bejudul Perkawinan Antar Pemeluk Agama Yang Berbeda, bahwa perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama adalah penyimpangan dari pola umum perkawinan yang benar menurut hukum agama dan Undang- undang Perkawinan yang berlaku di tanah air kita. Untuk penyimpangan ini, kendatipun merupakan kenyataan dalam masyarakat, tidak perlu dibuat peraturan tersendiri dan tidak perlu dilindungi oleh negara. Memberi perlindungan hukum pada warga negara yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila sebagai cita hukum bangsa dan
kaidah fundamental negara serta hukum agama yang berlaku di Indonesia, menurutnya selain tidak konstitusional, juga tidak legal.
Lebih lanjut M. Daud Ali menyatakan: sikap negara atau penyelenggara negara dalam me wujudkan perlindungan hukum haruslah sesuai dengan cita hukum bangsa dan kaidah fundamental negara serta hukum agama yang dipeluk oleh bangsa Indonesia. Perkawinan antar orang-orang yang berbeda agama, dengan berbagai cara pengungkapannya sesungguhnya tidaklah sah menurut agama yang diakui keberadaannya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini karena sahnya perkawinan didasarkan pada hukum agama, maka perkawinan yang tidak sah menurut hukum agama tidak sah pula menurut Undang-undang perkawinan Indonesia. Perkawinan antar orang-orang yang berbeda agama adalah penyimpangan dari pola umum perkawinan benar menurut hukum agama dan Undang-undang Perkawinan yang berlaku di Indonesia.
Dengan demikian, larangan pemerintah ini muncul karena dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menciptakan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah dalam keluarga yang merupakan tujuan pernikahan, dan hal ini sesuai sekali dengan isi pasal 3 Kompilasi Hukum Islam. Pasangan yang beda agama akan kesulitan memperoleh sakinah dan mawaddah dalam rumah tanggganya, apalagi rahmat Allah itu juga tidak akan didapatkan. Karena pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
D. Kesimpulan
Ulama sepakat bahwa seorang wanita Muslimah dilarang me nikah dengan pria non-Muslim. Sedangkan seorang pria Muslim dilarang menikah dengan wanita non-Muslimah yang Musyrik dan Murtad, namun para ulama berbeda pendapat ketika mereka menetapkan hukum pernikahan pria Muslim dengan perempuan Ahli Kitab: pertama, kelompok yang
membolehkan nikah antara pria muslim dengan wanita Ahli Kitab, yakni pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama) baik ulama Salaf maupun ulama Khalaf dari Imam-imam Madzhab Empat. Kedua, kelompok yang mengharamkan menikahi wanita Ahli Kitab. Yang terkemuka dari kelompok ini dari kalangan sahabat adalah Ibn Umar, dan pendapat ini diikuti oleh kalangan Syi’ah Imamiyah. Ketiga, kelompok yang berpendapat bahwa perempuan ahli kitab halal hukumnya, tetapi secara politik tidak diperkenankan. Menikahi wanita Ahli Kitab yang berada di Darul Harbi, merupakan pembuka pintu fitnah. Melakukan pernikahan dengan mereka hukumnya makruh tahrim, karena akan mengakibatkan mafasid. Menikahi wanita Ahli Kitab Dzimmi yang tunduk pada undang-undang Islam hukumnya makruh tahrim.
Selain itu, UU No. 1/1974, PP. No. 9 Tahun 1975 dan Inpres No. 1/1991 juga memuat larangan pernikahan beda agama. Larangan itu agaknya dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Perkawinan baru akan langgeng dan tenteram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antar suami dan istri, karen perbedaan agama, perbedaan budaya, atau bahkan perbedaan tingkat pendidikan antara suami dan istri pun tidak jarang mengakibatkan kegagalan perkawinan. Bagaimana mendidik anak-anak mereka jika suami istri beda agama. Karena dalam kasus seperti ini, seorang anak akan kebingungan untuk mengikuti ayahnya atau ibunya.
Larangan pernikahan beda agama ini tujuannya semata- mata untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga serta akidah dan kemaslahatan umat Islam. Hal ini sebagaimana kaidah fiqh yang menyebutkan; “sesuatu yang diharamkan karena saddudzdzari’ah dapat dibolehkan karena ada maslahat yang lebih kuat.” Perkawinan beda agama ini tampaknya banyak madharatnya baik bagi saddudzari’ah maupun untuk kemaslahatan dalam membentuk suatu rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mudjib, 2004, Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qawâ’id Fiqhiyyah), Jakarta: Kalam Mulia, Cet. V.
Abu Bakar, Zainal Abidin, 1993, Kumpulan Peraturan Perundang- undangan dalam Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: al- Hikmah.
Abu Zahrah, Muhammad, t.th., al-Ahwâl asy-Syakhsiyyah, Mesir:
Dâr al-Fikr al-‘Arabi.
Al-Jazairi, Abdurrahman, 1986, Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-
‘Arba’ah, Beirut: Dâr Ihyâ at-Turâts al-‘Araby.
Al-Maraghi, Syaikh Musthafa, 1974, Tafsîr al-Maraghi, Beirut:
Dâr al-Fikr.
Ar-Razi, Muhammad Fakhr ad-Din ibn al-Allamah Dhiya’u ad-Din Umar, 1995, Tafsîr al-Fakhr ar-Razi al-Musytahar bi at-Tafsîr al-Kabîr wa Mafâtih al-Ghaib, dikomentari oleh Syaikh Khalil Muhyiddin al-Mays, Beirut: Dâr al-Fikir.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali, 1972, Rawâi’ul Bayân fi Tafsîr Ayat al-Ahkâm min al-Qurân, Mekah: Dâr al-Qur’an.
As-Sayis, Muhammad Ali, 1953, Tafsîr Ayât al-Ahkâm, Mesir:
Matba’ah Muhammad ‘Ali Sabih wâ Aulâduh.
Asy-Syaukani, t.th., Irsyâd al-Fuhûl ilâ Tahqîq min ‘Ilm al-Ushûl, Surabaya: Maktabah Ahmad ibn Sa’ad ibn Nabhan.
Baidan, Nasrudin, 2001, Tafsîr Maudhû’i; Solusi Qur’ani atas Masalah Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zakiah Darajat, 1995, Ilmu Fiqih, Yogyakarta: Penerbit Dana Bhakti Wakaf, jilid II.
Husen, Ibrahim, 1971, Fiqih Perbandingan, Jakarta: Yayasan Ihya Ulumuddin Indonesia.
Ibnu Hazm, t.th., al-Muhallâ, Beirut: Dâr al-Fikr.
Ibnu Qudamah, t.th., al-Mughni, Riyadh: al-Maktabah ar-Riyadh al-Hadîtsah.
Qardhawi, Yusuf, 1978, Hudâ al-Islâm Fatâwâ Mu’âshirah, Cairo:
Dâr Afaq al-Ghad.
Ridha, Rasyid, 1380 H, Tafsîr al-Manâr, Mesir: Matba’ah al- Qahirah.
Sabiq, Sayyid, 1973, Fiqh as-Sunnah, II , Beirut: Dâr Kitab al-
`Arabi.
Shihab, Muhammad Quraish, 2005, Tafsir al-Mishbah; Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati.
Syafei, Rachmat, 1999, Ilmu Ushul Fiqh, Jakarta: Pustaka Setia.
MELALUI SISTEM PENDIDIKAN TERPADU INSANTAMA BOGOR
Oleh: Agus Retnanto
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam tentang: (1) Mengapa Pendidikan Terpadu Insantama Bogor melakukan model pengembangan karakter melalui pendidikan terpadu? (2) Bagaimanakah model pengembangan karakter siswa pada Pendidikan Terpadu Insantama Bogor? (3) Bagaimanakah Budaya Sekolah yang dikembangkan pada Pendidikan Terpadu Insantama Bogor? (4) Bagaimanakah dampak penerapan model pengembangan karakter yang dilaksanakan di Pendidikan Terpadu Insantama Bogor?
Penelitian difokuskan pada: Bagaimanakah model pengembangan karakter siswa pada Pendidikan Terpadu Insantama Bogor?
Dalam penelitian ini menggunakan penelitian etnografi yaitu metode penelitian kualitatif yang mengkaji perilaku manusia dalam setting alamiah dengan fokus interpretasi budaya terhadap perilaku tersebut. Teknik pengambilan data meliputi pengamatan (untuk sumber data peristiwa), wawancara (untuk sumber data responden), dan analisis dokumen (untuk sumber data dokumen).
Teknik analisis data data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif model Spreadley. Analisis tersebut terdiri atas empat langkah, yaitu analisis domein, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema.
Nilai kegunaan atau urgensi dari penelitian ini diharapkan mempunyai implikasi untuk membantu menyumbangkan pemikiran yang berkaitan pendidikan, dalam rangka pencapaian
Tujuan Pendidikan Nasional dalam Sistem Pendidikan Nasional sehingga dapat menambah khasanah ilmu pendidikan khususnya dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
Membantu memberikan sebuah konsep sistem pendidikan yang dapat digunakan untuk menciptakan manusia cerdas sekaligus berakhlaq mulia yang mampu mengatasi berbagai macam problem yang sedang melanda manusia Indonesia yang sedang membangun.
Kata Kunci: Model Pengembangan Karakter, Sistem Pendidikan Terpadu.
A. Latar Belakang
Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia, baik secara perseorangan maupun kelompok. Membicarakan tujuan pendidikan akan menyangkut sistem nilai dan norma-norma dalam suatu konteks kebudayaan, baik dalam mitos, kepercayaan, religi, filsafat, ideologi dan sebagainya. Oleh karena pendidikan merupakan suatu proses sengaja dari suatu generasi kepada anak didik sebagai generasi penerus yang lebih baik, maka tujuan pendidikan diarahkan oleh perseorangan atau kelompok suatu generasi pada core value yang telah dipikirkan atau disepakati bersama.
Dalam pasal 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk menjadikan manusia yang utuh dari dua kutub:
menuju manusia baik dan menuju manusia cerdas, maka model pendidikan yang dipakai adalah model pendidikan Integrasi (penyatuan) antara pendidikan yang membuat manusia baik
dengan pendidikan yang membuat manusia cerdas, diperlukan model pendidikan yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional dan misi ilmu pendidikan yaitu menciptakan manusia yang being smart dan being good (Armstrong: 2006).
Dunia pendidikan menyimpan kompleksitas masalah yang sangat luas, dari masalah dasar filosofis, gagasan, visi, misi, institusi, program, manajemen, SDM, kependidikan, kurikulum, sarana prasarana, teknologi kependidikan, lingkungan pendidikan, pembiayaan, partisipasi masyarakat, kualitas output pendidikan serta relevansinya dengan dinamika masyarakat dan tuntutan sosio kultural sekitarnya.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya gagasan segar dan kreatif serta upaya dinamis untuk menyelenggarakan model- model pendidikan Islam yang excellent, bermartabat, dan menjadi kebanggaan umat serta mampu memberikan jawaban terhadap kebutuhan pendidikan yang dapat melakukan fungsi penyelamatan fitrah sekaligus pengembangan potensi-potensi fitrah manusiawi secara padu dan berimbang.
Di Indonesia pendidikan diharapkan bersifat humanis–
relegius dimana dalam pengembangan kehidupan (ilmu pengetahuan) tidak terlepas dari nilai keagamaan dan kebudayaan. Masyarakat di negara kita sangat menghargai nilai- nilai keagamaan dan kebudayaan sebagai sumber mambangun kehidupan yang harmonis. Nilai keagamaan dan kebudayaan merupakan nilai inti bagi masyarakat yang dipandang sebagai dasar untuk mewujudkan cita-cita kehidupan yang bersatu, bertoleransi, berkeadilan, dan sejahtera.
Nilai keagamaan bukan dipandang sebagai nilai ritual yang sekedar digunakan untuk menjalankan upacara keagamaan dan tradisi, tetapi diharapkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan kehidupan untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan sosial, intelektual, harga diri, dan aktualisasi diri. Masyarakat mengharapkan kehidupan material dan sosial tidak dipisahkan dari nilai keagamaan sehingga
kemakmuran material yang ingin diwujudkan tidak menjadi pemenuhan keserakahan material yang dapat menghancurkan kemanusiaan manusia.
Masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, kebodohan, pengangguran, kejahatan, dan lain-lain, adalah merupakan keadaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Oleh karenanya pemecahan masalah sosial tersebut harus menggunakan nilai keagamaan dan kemanusiaan sebagai dasar kearifan untuk mencari cara pemecahannya, disamping cara yang bersifat ilmiah pragmatis (Sodiq A. Kuntoro, 2008).
Kehidupan yang didominasi oleh pemenuhan kebutuhan material akan mendorong kehidupan yang penuh dengan konflik, ketidakadilan, kesenjangan sosial yang menghancurkan, dan menjauhkan dari hubungan persaudaraan yang harmonis, dan persamaan. Manusia menjadi dihinggapi dengan karakter kepemilikan (having character) yang membahayakan orang lain juga diri-sendiri. Having character tidak terbatas pada kepuasan menguasai benda material sebagai objek pemuasan, tetapi meluas pada penguasaan atas manusia lain dan alam sebagai bagian dari objek pemuasan (Erich Fromm dalam Sodiq A.
Kuntoro, 2008).
Kehidupan yang penuh persaingan dan konflik antar umat manusia lebih dipicu oleh karakter dan sikap pemilikan material yang berlebihan. Perebutan sumber-sumber alam melampaui batas-batas wilayah, sehingga mendorong untuk terjadi proses ekspansi kekuasaan politik dan ekonomi untuk sekedar memperoleh keuntungan material yang lebih banyak.
Pendidikan yang selama ini berkembang lebih menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang disertai dasar yang kuat pada pengembangan karakter manusia yang memiliki hati nurani mulia.
Penguasaan technical how lebih menonjol daripada pengembangan pengembangan nilai-nilai dan sikap untuk membangun manusia yang arif dan bijak. Pengembangan
sumberdaya manusia sebagai instrumen bagi perolehan kemajuan ekonomi dan persaingan lebih menonjol daripada pengembangan karakter atau akhlak manusia. Pendidikan keagamaan merupakan substansi penting bagi pendidikan di sekolah atau dalam kehidupan sosial agar pendidikan memiliki karakter humanis-relegius. Pendidikan Terpadu Insantama Bogor adalah salah satu lembaga pendidikan yang menggunakan dasar nilai-nilai Islam dalam pengembang-an ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengembangan kepribadian peserta didiknya.
Disadari bahwa di tengah-tengah masyarakat saat ini tengah berlangsung krisis multidimensional dalam segala aspek kehidupan. Kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, penindasan, ketidakadilan di segala bidang, kemerosotan moral, peningkatan tindak kriminal dan berbagai bentuk penyakit sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Mengapa semua ini terjadi?
Dalam keyakinan Islam, krisis multidimensi tadi merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan oleh kemaksiyatan yang dilakukan manusia setelah sekian lama hidup dalam sistem sekuleristik. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.
Sistem pendidikan yang materialistik telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus menguasai iptek sebagaimana yang dimaui oleh pendidikan Islam. Pendidikan yang materialistik lebih memberikan suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material, semisal gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dan diilusikan harus segera dapat menggantikan investasi pendidikan yang telah dikeluarkan. Dalam segi yang lain, disadari atau tidak tengah terjadi proses penghilangan capaian nilai non materi berupa nilai transendental yang seharusnya menjadi nilai paling
utama dalam pendidikan. Atas semua hal di atas, sampailah kepada kita satu kesimpulan yang sangat mengkhawatirkan, yakni terasingkannya manusia dari hakikat visi dan misi penciptaannya.
Satu-satunya cara yang harus dilakukan untuk keluar dari krisis pendidikan itu adalah mengembalikan proses pendidikan kepada konsepsi pendidikan Islam yang benar.
Secara paradigmatis, aqidah Islam harus dijadikan sebagai penentu arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru serta budaya sekolah yang akan dikembangkan. Paradigma baru yang berasaskan pada aqidah Islam ini harus berlangsung secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan yang ada, mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi.
Selain itu, harus dilakukan pula solusi strategis dengan menggagas suatu pola pendidikan alternatif yang bersendikan pada dua cara yang lebih bersifat fungsional, yakni: Pertama, membangun lembaga pendidikan unggulan dengan semua komponen berbasis Islam, yaitu: (1) kurikulum yang paradigmatik, (2) guru yang amanah dan kaffah, (3) proses belajar mengajar secara Islami, dan (4) lingkungan dan budaya sekolah yang optimal. Dengan melakukan optimasi proses belajar mengajar serta melakukan upaya meminimasi pengaruh-pengaruh negatif yang ada dan pada saat yang sama meningkatkan pengaruh positif pada anak didik, diharapkan pengaruh yang diberikan pada pribadi anak didik adalah positif sejalan dengan arahan Islam. Kedua, membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sinergi pengaruh positif dari faktor pendidikan sekolah – keluarga – masyarakat inilah yang akan menjadikan pribadi anak didik yang utuh sesuai dengan kehendak Islam.
Berangkat dari paparan di atas, maka implemetasinya adalah dengan mewujudkan lembaga pendidikan Islam
unggulan secara terpadu dalam bentuk Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Menengah Islam Terpadu (SMPIT), Sekolah Menengah Umum Terpadu (SMUIT), dan Perguruan Tinggi Islam Terpadu.
Dengan latar belakang di atas penulis mengajukan judul Model Pengembangan Karakter Melalui Sistem Pendidikan Terpadu Insantama Bogor.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan akar masalah yang telah dipaparkan di depan, rumusan masalah yang akan diteliti dalam disertasi ini adalah: (1) Mengapa Pendidikan Terpadu Insantama Bogor melakukan model pengembangan karakter melalui pendidikan terpadu? (2) Bagaimanakah model pengembangan karakter siswa pada Pendidikan Terpadu Insantama Bogor? (3) Bagaimanakah Budaya Sekolah yang dikembangkan pada Pendidikan Terpadu Insantama Bogor?
(4) Bagaimanakah dampak penerapan model pengembangan karakter yang dilaksanakan di Pendidikan Terpadu Insantama Bogor?
C. Fokus Penelitian
Penelitian difokuskan pada bagaimanakah model pengembangan karakter siswa pada Pendidikan Terpadu Insantama Bogor.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dari penelitian ini, tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendapatkan jawaban secara konseptual dan empiris tentang mengapa Pendidikan Terpadu Insantama Bogor melakukan model pengembangan karakter melalui pendidikan terpadu, (2) Memperoleh gambaran tentang model pengembangan karakter siswa pada Pendidikan Terpadu Insantama Bogor (3) Mendapatkan jawaban secara empiris tentang Budaya Sekolah yang dikembangkan pada Pendidikan
Terpadu Insantama Bogor, (4) Mendapatkan jawaban secara empiris tentang dampak penerapan model pengembangan karakter yang dilaksanakan di Pendidikan Terpadu Insantama Bogor.
E. Manfaat Penelitian
Nilai kegunaan atau urgensi dari penelitian ini diharapkan mempunyai implikasi untuk: (1) Membantu menyumbangkan pemikiran yang berkaitan pendidikan, dalam rangka pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional dalam Sistem Pendidikan Nasional sehingga dapat menambah khasanah ilmu pendidikan khususnya dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya. (2) Membantu memberikan sebuah konsep sistem pendidikan yang dapat digunakan untuk menciptakan manusia cerdas sekaligus berakhlaq mulia yang mampu mengatasi berbagai macam problem yang sedang melanda manusia Indonesia yang sedang membangun.
F. Kajian Teori 1. Kerangka Teori
a. Pengertian Pendidikan
Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebuda yaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Sementara Carter V. Good berpendapat Pedagogy is the art, practice, or profession of tea ching.