• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MATERI ATOM MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MATERI ATOM MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MATERI ATOM MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

Triman

SMK Negeri 2 Sukoharjo, Jawa Tengah Email: [email protected]

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan : (1) Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Kimia materi Atom melalui model pembelajaran discovery learning bagi siswa kelas X Kimia Industri B. (2) Hasil belajar kimia materi Atom melalui model pembelajaran discovery learning. (3) Perubahan perilaku positif sebagai dampak hasil belajar melalui model pembelajaran discovery. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, di mana tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Kimia Industri B Semester 1 SMK Negeri 2 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 34 siswa.

Teknik pengumpulan data adalah dengan observasi, wawancara, dan analisis data.

Validitas data menggunakan metode triangulasi. Analisis data menggunakan teknik deskripsi komparatif dan analisis kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan menimbulkan rasa ingin tahu siswa yang berakibat pada meningkatnya hasil belajar Kimia siswa pada materi Atom dari siklus 1 ke siklus 2. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Nilai rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 73,19 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I, menjadi 80,41 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II. Ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 57,78% pada akhir tindakan Siklus I, meningkat menjadi 91,67%

pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia materi Atom bagi siswa kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2016/2017.

Kata Kunci: model discovery learning, materi atom, aktivitas siswa, hasil belajar, pembelajaran kimia

Abstract : This study aims to improve: (1) Student activities in the learning process of Atomic Chemistry through discovery learning learning models for class X students in Industrial Chemistry B. (2) Atomic material chemistry learning outcomes through discovery learning learning models. (3) Changes in positive behavior as an impact of learning outcomes through discovery learning models.

This research is a Classroom Action Research (CAR) conducted in two cycles, in which each cycle consists of planning, implementing actions, observing, and reflecting. The research subjects were class X Industrial Chemistry B Semester 1 SMK Negeri 2 Sukoharjo Academic Year 2016/2017 which amounted to 34 students. Data collection techniques are by observation, interviews, and data analysis. The validity of the data uses the triangulation method. Data analysis uses comparative description techniques and critical analysis. The results showed that the Discovery Learning Learning Model could increase student activity in the

(2)

learning process and lead to curiosity of students which resulted in increased Chemistry learning outcomes of students in Atomic material from cycle 1 to cycle 2. This is indicated by the increase in the average value of learning outcomes obtained by students and the level of mastery of student learning in each cycle of action taken. The average value of student learning outcomes has increased from 73.19 at the end of the Cycle I learning action, to 80.41 at the end of the Cycle II learning action. Student mastery learning has increased from 57.78% at the end of Cycle I action, increasing to 91.67% at the end of Cycle II learning action. This study can be concluded that the Discovery Learning learning model can increase the activity and learning outcomes of Atomic chemistry material for class X students of Industrial Chemistry B SMK Negeri 2 Sukoharjo Academic Year 2016/2017.

Keywords: discovery learning model, atomic material, student activity, learning outcomes, chemistry learning

PENDAHULUAN

Kimia sebagai bagian dari sains terdiri dari tiga aspek yang tidak terpisahkan yaitu Kimia sebagai proses, produk, dan sikap. Proses yang dimaksud di sini adalah proses melalui kerja ilmiah, yaitu: kritis terhadap masalah, mengembangkan hipotesis, merancang percobaan dan melakukan pengamatan untuk menjawab pertanyaan dan menarik kesimpulan. Produk sains berupa konsep-konsep, azas, prinsip, teori, dan hukum. Sikap dan watak ilmiah yang dikembangkan di dalam sains misalnya rasa ingin tahu, kritis, jujur, terbuka, disiplin, teliti, logis, serta antusiasme yang tinggi untuk memecahkan masalah. Membelajarkan Kimia idealnya harus mencakup proses, produk, dan sikap ilmiah. Belajar Kimia bukan hanya sekedar proses transfer ilmu dari guru, tetapi merupakan sebuah proses untuk mencari, menemukan secara aktif, dan berbagi pengetahuan yang telah diperoleh sehingga terjadi peningkatan pemahaman. Proses untuk menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep melalui kegiatan-kegiatan ilmiah seperti observasi dan eksperimen akan membiasakan siswa berpikir tingkat tinggi dan menumbuhkan sikap ilmiah siswa.

Akibat pembelajaran Kimia yang ideal adalah berkembangnya keterampilan proses sains siswa, tumbuhnya sikap ilmiah, serta meningkatnya hasil belajar. Melakukan kegiatan sains dilandasi oleh pengembangan sikap ilmiah akan menjadikan belajar menjadi bermakna.

Konsep-konsep yang diperoleh melalui pengalaman akan mengendap di dalam memori jangka panjang siswa. Salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran Kimia pada siswa sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikan sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu dalam pembelajaran Kimia sebaiknya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran, guru memegang peranan sebagai aktor. Artinya, guru memegang tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajarandi sekolah.

Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dan berbagai pengajaran, kemampuan memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif, dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

Materi Atom merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa kelas X.

Materi ini bersifat abstrak karena materi Atom sendiri dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dilihat menggunakan mata telanjang (bersifat mikroskopis). Selama ini pembelajaran Atom hanya menggunakan bantuan gambar-gambar dan referensi dari buku paket Kimia. Meskipun demikian, karena struktur dan sifat Atom yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya,

(3)

pembelajaran Atom dari tahun ke tahun hasilnya kurang memuaskan. Siswa mengaku kesulitan untuk mempelajari materi Atom karena tidak bisa diamati secara langsung dan keterbatasan referensi yang mereka miliki. Hal ini menyebabkan motivasi belajar siswa menjadi rendah. Akibatnya, siswa jauh dari keberhasilan mempelajari materi Atom dan memiliki nilai prestasi belajar yang rendah. Hal ini juga terjadi pada siswa kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo, dimana kelas ini merupakan salah satu kelas yang pasif dan memiliki input siswa yang rendah dibandingkan dengan kelas X Kimia Industri yang lain.

Berdasarkan pengamatan peneliti motivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran siswa tampak pasif dan kurang antusias, kurang tertarik, dan belum ada kerjasama, dan hasil ulangan harian pada materi-m,ateri sebelumnya tidak maksimal. Persentase tingkat ketuntasan siswa hanya berkisar pada 50-60 %.

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, perlu dilakukan reorientasi pembelajaran Kimia. Pembelajaran yang awalnya hanya berorientasi pada produk harus diubah menjadi berorientasi pada proses. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif model dan metode pembelajaran yang sesuai. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada materi Atom dapat dilakukan dengan penggunaan model pembelajaran yang bisa memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga siswa bisa menemukan sendiri konsep-konsep tentang Atom.

Salah satu model pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa adalah model pembelajaran discovery learning. Model tersebut akan memberikan siswa pengalaman-pengalaman belajar nyata, menemukan sendiri, mengambil inisiatif, memecahkan masalah, membuat keputusan dan bekerjasama mencari solusi terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Dengan discovery learning dan berbuat diharapkan siswa aktif, kreatif dan mampu bekerjasama dalam memecahkan masalah dalam kelompoknya serta meningkat hasil belajarnya.

Berdasarkan masalah di atas perlu adanya penelitian tindakan kelas tentang Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Materi Atom melalui Model Pembelajaran Discovery Learning bagi siswa kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Kimia materi Atom menggunakan model pembelajaran discovery learning pada siswa kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017?

2. Bagaimanakah hasil belajar materi Atom melalui model Discovery Learning bagi siswa kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017?

3. Bagaimana perubahan perilaku siswa sebagai dampak hasil belajar materi atom melalui model pembelajaran discovery learning bagi siswa kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017?

KAJIAN TEORI Pembelajaran Kimia

Kimia sebagai bagian dari ilmu sains merupakan ilmu yang lahir dan berkembang berdasarkan observasi dan eksperimen. Dengan demikian belajar Kimia tidak cukup hanya dengan menghapalkan fakta dan konsep yang sudah jadi, tetapi dituntut pula menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep tersebut melalui observasi dan eksperimen. Melalui pembelajaran Kimia siswa diajak melakukan eksplorasi alam. Melalui proses inilah dapat dikembangkan keterampilan sains (keterampilan proses ilmiah) sehingga pengalaman yang benar tentang sains dapat diperoleh.

(4)

Keterampilan sains yang dimiliki siswa merupakan pintu gerbang untuk menguasai pengetahuan yang lebih tinggi dan akhirnya merupakan kecakapan hidup sehingga siswa secara mental siap menghadapi permasalahan yang terjadi dalam hidupnya. Dengan demikian pembelajaran Kimia tidak sekedar transfer ilmu dari guru kepada siswa tetapi lebih ditekankan adanya interaksi antara siswa dengan materi (objek) dan guru hanya bertindak sebagai pengendali. Kondisi belajar dimana siswa hanya menerima materi dari pengajar, mencatat dan menghapalkannya harus diubah menjadi sharing pengetahuan, mencari (inkuiri), menemukan pengetahuan secara aktif sehingga terjadi peningkatan pemahaman (bukan ingatan). Untuk mencapai tujuan tersebut, pengajar dapat menggunakan pendekatan, teknik, model, atau metode pembelajaran inovatif.

Discovery Learning

Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Proses pembelajaran yang dilakukan siswa dalam model Discovery Learning menurut Veermans (2003) meliputi lima sintaks, yaitu: orientation, hypothesis generation, hypothesis testing, conclution, dan regulation. Semua sintaks pada model Discovery Learning dapat melatihkan ketrampilan proses sains siswa.

Hasil Belajar

Prestasi belajar adalah hasil kegiatan belajar yang telah dicapai siswa setelah terjadi proses pembelajaran melalui suatu proses evaluasi. Menurut Benyamin S. Bloom ada tiga ranah (domain) hasil belajar yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Asesment/penilaian sebagai bagian dari program pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting dalam pencapaian hasil belajar siswa. Asesment adalah proses pengumpulan data yang dapat memberikan gambaran perkembangan siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru untuk memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Tes prestasi belajar bertujuan untuk mengukur prestasi atau hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam belajar. Selain itu, tes prestasi belajar juga dapat digunakan sebagai upaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru menyelenggarakan proses pembelajaran agar dapat melakukan evaluasi program pembelajaran yang sudah disusun dan selanjutnya menjadikan hal tersebut sebagai acuan untuk penyelenggaraan proses pembelajaran selanjutnya.

Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap domain psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa untuk menangkap isi dan pesan belajar maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuan pada ranah- ranah diantaranya ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

METODE

Setting Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 2 Sukoharjo pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017 selama 6 bulan. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Kimia Industri B Semester 1 SMK Negeri 2 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 34 siswa.

(5)

Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa sikap dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Kimia materi “Atom”. Berdasarkan jenis data tersebut, maka data dalam penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber meliputi wawancara dengan siswa dan guru, observasi pada waktu tindakan penelitian, dan dokumen atau arsip yang dimiliki oleh guru.

Analisis Data

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, teknik tes, dan analisis dokumen.

a. Teknik Tes

Tes merupakan alat pengukur data yang berharga dalam penelitian. Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang di berikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban – jawaban yang dijadikan penetapan skor angka (Arikunto, 2010: 176). Adapun jenis tes dalam penelitian adalah tes prestasi belajar, dan tes kecerdasan. Teknik tes dilakukan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa dalam pembelajaran Kimia materi “Atom”.

b. Teknik Observasi

Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian di mana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan denganh kondisi/interaksi belajar mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok. Tipe-tipe pengamatan yaitu, pengamatan berstruktur (dengan pedoman), pengamatan tidak berstruktur (tidak menggunakan pedoman) (Wiriaatmaja, 2006: 66).

c. Teknik Dokumen

Studi dokumen merupakan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh (Arikunto, 2010: 180). Teknik dokumen dilakukan untuk mengkaji kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan buku penilaian yang dilakukan guru dalam pembelajaran Kimia materi “Atom” bagi siswa kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017.

HASIL

Pembelajaran model pembelajaran Discovery learning dapat meningkatkan prestasi belajar Kimia materi “Atom” pada siswa Kelas X Kimia Industri B Semester 1 SMK Negeri 2 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata- rata hasil belajar yang diperoleh siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.

Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kondisi awal adalah sebesar 68,194 atau di bawah KKM yang ditetapkan dengan KKM > 75. Hal tersebut mendorong untuk perlunya dilaksanakan perbaikan pembelajaran, yaitu melalui model pembelajaran Discovery learning.

Perbaikan pembelajaran yang dilakukan guru cukup efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa. Nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa pada akhir tindakan Siklus I mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu meningkat dari 68,194 menjadi 73,194. Tingkat ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 27,78% pada kondisi awal, meningkat menjadi sebesar 52,78% pada akhir tindakan Siklus I.

(6)

Peningkatan hasil belajar yang diperoleh pada tindakan Siklus I belum optimal sehingga guru melakukan perbaikan pada tindakan Siklus II. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan memperbanyak jumlah kelompok sehingga anggota masing-masing kelompok menjadi lebih sedikit. Perubahan tersebut mendorong siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Perbaikan yang dilakukan guru berdampak positif dengan meningkatnya nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus II. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada akhir tindakan Siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai rata-rata pada akhir tindakan Siklus I, yaitu meningkat dari 73,194 menjadi 91,68. Tingkat ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 52,78% pada akhir tindakan Siklus I, meningkat menjadi sebesar 91,62% pada akhir tindakan Siklus II.

Peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan pembelajaran Siklus II selanjutnya dapat disajikan ke dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 1

Hasil Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingga Akhir Tindakan Siklus II No. Nilai Hasil Belajar Kondisi Awal Siklus I Siklus II

1. Nilai Terendah 55 60 65

2. Nilai Tertinggi 80 85 90

3. Nilai Rata-rata 68,194 73,194 80,41

Data peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan Siklus II pada tabel di atas dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut:

Gambar 1. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Atas dasar hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Discovery learning dapat meningkatkan prestasi belajar Kimia materi “Atom” pada siswa Kelas X Kimia Industri B SMK Negeri 2 Sukoharjo Semester 1 pada Tahun Pelajaran 2016/2017.

Peningkatan ketuntasan belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan pembelajaran Siklus II dapat disajikan ke dalam tabel berikut.

Tabel 2

Ketuntasan Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingga Akhir Tindakan Siklus II No. Ketuntasan

Belajar

Kondisi Awal Siklus I Siklus II

Jmlh % Jmlh % Jmlh %

1. Tuntas 10 27,78 19 52,78 33 91,67

2. Belum Tuntas 26 72,22 17 47,22 3 8,33

Jumlah 34 100.00 34 100.00 34 100.00

(7)

Data peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran Kimia materi “Atom”

dari kondisi awal hingga akhir tindakan Siklus II pada tabel di atas selanjutnya dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut:

Gambar 2. Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingga Akhir Tindakan Siklus II

Hasil-hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa model discovery learning yang dilakukan oleh guru dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar tersebut dikaitkan dengan adanya penciptaan suasana belajar yang menyenangkan di mana siswa belajar dengan suasana yang nyaman sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Dengan model pembelajaran discovery learning yang dilakukan tersebut mendorong dilakukannya pembelajaran secara bersama-sama, yaitu siswa secara kelompok mempelajari Atom. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut memungkinkan siswa dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Guru mengupayakan segala cara secara kreatif untuk melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu, siswa juga didorong agar kreatif dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru, materi pelajaran dan segala alat bantu belajar, sehingga hasil pembelajaran dapat meningkat.

SIMPULAN

Berdasarkan temuan-temuan penelitian dan analisis, maka selanjutnya dapat diperoleh kesimpulan bahwa: Hipotesis tindakan yang menyebutkan bahwa “penggunaan model pembelajaran Discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar Kimia materi “Atom”

bagi siswa kelas X Kimia Industri BSMK Negeri 2 Sukoharjo pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017” terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Nilai rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 68,194 pada kondisi awal menjadi 73,194 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I, kemudian meningkat menjadi 80,41 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II. Ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 27,78% pada kondisi awal meningkat menjadi 57,78% pada akhir tindakan Siklus I, kemudian meningkat menjadi 91,67% pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2008. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan: untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas.

Yogyakarta: Aditya Media.

Sardiman. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugihartono.Dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Pers.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Model Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Gambar

Gambar 1. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Gambar 2. Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingga Akhir  Tindakan Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

untuk menopang kehidupan dirinya dan kelaurganya. Kemiskinan seperti ini adalah kemiskinan yang tergolong kronis karena berlangsung secara turun temurun. Berdasarkan

Konsep fungsi terdapat hampir dalam setiap cabang matematika, sehingga fungsi merupakan suatu materi esensial yang sangat penting artinya dan banyak sekali

Pelatihan pembuatan kitosan dari limbah udang sebagai bahan pengawet alami untuk memperlama daya simpan pada makanan di kelurahan pucangsawit.. Proposal

Penanggulangan gelandangan dan pengemis merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Satuan Polisi pamong Praja Kabupaten Tulungagung. Razia terhadap gelandangan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan asam traneksamat pada pasien tuberkulosis dengan hemoptisis meliputi dosis, frekuensi dan lama penggunaan

Jika ditinjau dengan satu hari ephemeris, maka jam 0 selalu berubah-ubah dikarenakan efek gerak rotasi dan revolusi Bumi sehingga menimbulkan selisih antara jam Matahari

Metode gravitasi memiliki kelebihan untuk survei awal eksplorasi geofisika karena menghasilkan informasi yang cukup jelas dan detail tentang struktur geologi dan

Menanam bunga dengan batang biasa disebut dengan stek batang dengan memilih batang yang sehat adapun beberapa nama tanaman Bungan ditanam dengan batang yaitu mawar, kamboja,